...

PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pengelolaan hutan secara lestari dan berkesinambungan sudah
merupakan kebutuhan yang mutlak dan tidak dapat ditawar-tawar lagi,
karena kebutuhan akan kayu dari tahun ke tahun semakin meningkat,
sedangkan persediaan kayu yang ada sudah sangat menipis.
Dengan
pengelolaan hutan yang lestari dapat diatur hasil yang tepat, dimana kayu
yang dipanen merupakan riap tegakan dari hutan tersebut.
Hutan payau adalah merupakan bagian dari hutan produksi yang
luasnya cukup besar.
Luas hutan payau di Idonesia yang tersebar
diberbagai wilayah, dimana setiap wilayah memiliki karakteristik yang
berbeda sehingga setiap wilayah/bagian areal hutan akan memberikan
pengaruh
tersendiri
terhadap
pertumbuhannya.
Untuk
mengetahui
pertumbuhan dan riap tegakan bekas tebangan, perlu dibuat Petak Ukur
Permanen.
Sebagai acuan pelaksanaan pembuatan/pengukuran Petak Ukur
Permanen ( PUP ) adalah keputusan Kepala Badan Penelitian dan
Pengembangan Kehutanan No. 38/Kpts/VIII-HM.3/93 yang bertujuan
untuk mengetahui pertumbuhan tegakan hutan.
Mengingat belum mantapnya sistem silvikultur untuk tiap bagian
areal hutan makan pembuatan dan pengukuran Petak Ukur Permanen
dipandang lebih cocok untuk pengumpulan data pertumbuhan tegakan,
karena melalui pembuatan petak-petak ukur permanen tersebut sekaligus
dapat dilakukan pengkajian perlakuan-perlakuan pembinaan tegakan
hutan mangrove.
Mengingat pula adanya perbedaan yang sangat mencolok antara
pengelolaan hutan tanah kering, rawa dan mangrove, sesuai dengan tipe
hutan yang di kelola oleh PT. Bina Ovivipari Semesta yakni tipe hutan
mangrove maka pembuatan petak ukur permanennya juga akan
disesuaikan, jadi tidak sepenuhnya menggunakan pedoman Keputusan
Halaman - 1
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan No. 38/Kpts/VIIIHM.3/93.
B. Maksud dan Tujuan
1. Maksud dari pembuatan dan pengukuran Petak Ukur Permanen adalah
untuk pemantauan pertumbuhan dan riap pohon hutan mangrove
bekas tebangan agar terkumpul data/informasi tentang pertumbuhan
tegakan dari hutan mangrove yang dikelola/diusahakan.
2. Tujuan dari Pembuatan dan pengukuran Petak Ukur Permanen ini
adalah merupakan informasi yang sangat penting dalam penyusunan
dan penilaian rencana Pengelolaan Hutan.
3. Tujuan selanjutnya adalah untuk pemantauan pertumbuhan dan riap
pohon hutan di areal bekas tebangan (baik yang dipelihara maupun
tidak dipelihara).
C. Letak PUP dan Sistem Pengamatan
Areal yang diperuntukan dalam pembuatan PUP adalah pada petak
97 eks tebangan tahun 2006, yang mana pembuatan PUP-nya setelah dua
tahun penebangan yaitu pada tahun 2008 dan langsung dilakukan
pengukuran tahun I ( tahun 2008 ), II ( tahun 2009 ), III ( tahun 2010 )
dan tahun IV ( tahun 2011 ) dengan data hasil pengukuran seperti pada
lampiran.
Luas areal yang diperuntukan adalah 200m X 200m ( 4 ha ) dengan
plot pengamatan sebanyak 6 plot bertingkat dengan posisi tegak lurus
aliran sungai. Jarak antar plot dibatasi dengan jalur isolasi dengan lebar
25 m antar plot.
Plot-plot yang diperlakukan dengan pemeliharan dengan plot yang tidak
diperlakukan pengamatan dibatasi dengan alur anak sungai sehingga
mudah untuk mengadakan pengamatan selanjutnya.
Adapun plot-plot yang diberi perlakuan dan tanpa perlakuan adalah
sebagai berikut:
Halaman - 2
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
No Plot PUP
A. Plot Perlakuan
Plot 1, 2 dan 3
B. Plot Tanpa Perlakuan
Plot 4, 5 dan 6
Keterangan
1. Tahun pertama tidak dilakukan
perlakuan
2. Tahun kedua, tidak dilakukan
perlakuan
3. Tahun ketiga dilakukan perlakuan
dengan cara disekitar lokasi plot
dibersihkan
dan
dilakukan
penjarangan untuk member ruang
tumbuh yang lebih baik
Tidak diberi perlakuan, dibiarkan
tumbuh secara alami namun untuk
anakan
yang
diamati
dipilih
berdasarkan
letak/penyebaran
pertumbuhannya.
Pohon-pohon yang masuk dalam petak pengamatan diukur keliling
lingkaran pohon dan diberi polet dan label nomor dan data keterangan
pohon agar dapat sebagai
informasi pengamatan tahap berikutnya.
Sedangkan untuk tingkat semai dan pancang diberi label nomor pohon
yang terbuat dari plat almunium tipis yang dililitkan pada batang pohon
tersebut.
Halaman - 3
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. HPH PT. Bina lestari
HPH PT. Bina Lestari terletak di Kabupaten Indragiri Hilir ( Tembilahan )
Provinsi Riau, dan mulai beroprasi sejak tahun 1976, kemudian secara resmi
mendapatkan Izin HPH dari Pemerintah ( d/h Departemen Pertanian ) pada
tahun 1978 untuk HPH PT. Bina Lestari I seluas ±18.000 ha, dan tahun 1980
untuk HPH PT. Bina Lestari II seluas ± 22.000 ha. Kedua areal HPH ini pada
dasarnya menyatu dan hanya dibedakan oleh tahun pemberian ijin saja.
Pada tahun 1982, saat diselenggarakannya seminar ekosistem mangrove
yang diselenggarakan Man and Biosphere (Lipi), banyak pembawa makalah
yang menyatakan bahwa rehabilitasi areal bekas tebangan HPH tidaklah sulit
dan bahkan sudah banyak lokasi yang sudah kembali menjadi hutan
sekunder, namun yang menjadi pertanyaan saat itu adalah tidak adanya
data secara kuantitatif yang membuktikan berapa sebetulnya besar
pertumbuhan pohon mangrove tersebut. Padahal data tersebut sangat
diperlukan sebagai dasar perencanaan hutan yang berbasiskan kelestarian,
terutama dalam menetapkan daur tegakan volume layak tebang setiap
hektarnya.
Berdasarkan permasalahan tersebut di atas,
timbul keinginan untuk
membuat plot permanen, agar diketahui secara pasti berapa sebetulnya riap
pohon mangrove, terutama jenis bakau ( Rhizophora apiculata ) yang
memang paling dominan ( ± 90 %) dari jenis yang dimanfaatkan saat itu.
Pada tahun 1983 dibuatlah plot permanen sebanyak 4 plot dengan ukuran
masing-masing plot 20m x 20 m, dimana masing-masing plot ditanam dengan
jarak tanam yang berbeda-beda yakni 2m x1m; 2m x 2m; 3m x 1m dan 3m x
2m;
Awalnya pengukuran dilakukan setiap bulan, namun pada akhirnya hanya
dilakukan setiap tahun, efektif dilakukan sampai dengan tahun 1994,
kemudian penelitian kurang termonitor lagi karena adanya pergantian
pimpinan, kemudian tahun 1999 sempat diukur kembali bersama tim Jica
mangrove center Bali, dan inilah pengukuran terakhir karena tahun 2000
setelah adanya penggantian manajemen atau pengelola areal mangrove
tersebut, menurut informasi yang diperoleh, lokasi tersebut telah ditebang.
Namun demikian, dari data yang diperoleh sudah dapat dijadikan dasar
untuk perencanaan pengelolaan hutan mangrove di masa akan datang.
Adapun hasil pengukuran pada petak ukur permanen di areal HPH PT. Bina
Lestari, sejak ditanam tahun 1983 sampai dengan tahun 1994 adalah seperti
tabel di bawah ini.
Halaman - 4
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Tabel 2 : hasil pengukuran pertumbuhan diameter jenis bakau ( R.
apiculata) di areal HPH PT. Bina Lestari, Provinsi Riau. Tahun 1983
s/d 1994
Diameter ( cm ), Pada Tahun
Jarak
Tanam
(m)
2
2
3
3
x
x
x
x
1984
1
2
1
2
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
0.96
1.22
0.92
1.26
1.79
2.2
1.97
1.92
2.52
2.94
2.56
2.57
3.48
3.87
3.49
3.55
4.58
4.97
4.61
4.69
5.99
7.34
6.37
7.08
6.82
8.75
7.75
8.35
7.39
10.1
8.54
9.48
0.67
0.63
0.65
0.62
1993
1994
8.07
11.19
9.02
10.37
8.39
11.75
9.53
11.14
Tabel 3 : hasil pengukuran pertumbuhan tinggi jenis bakau ( R. apiculata)
Tinggi ( m ), Pada Tahun
Jarak
Tanam
(m)
2
2
3
3
x
x
x
x
1984
1985
1986
1987
1988
1
2
1
2
1989
1990
1991
1992
1993
4
4
4
4
1994
6
6
6
6
7
7
7
7
Tabel 4: hasil perhitungan volume tegakan dari plot permenen untuk jenis
bakau ( R. apiculata) di areal HPH PT. Bina Lestari, Provinsi Riau.
Tahun 1983 s/d 1994
Jarak Tanam
(m)
2x1(
5.000btg/ha )
2x2(
2.500btg/ha )
3x1(
3.333btg/ha )
3x2(
1.666btg/ha )
1984
1985
1986
1987
Volume ( m3/ha ), Pada Tahun
1988 1989 1990 1991 1992
1993
13.31
107.36
135.38
8.23
103.21
132.76
8.92
89.41
116.44
4.61
59.07
79.53
Tabel 5 : hasil pengukuran riap diameter jenis bakau ( R. Apiculata) di areal
HPH PT. Bina Lestari, Provinsi Riau. Tahun 1983 s/d 1994
Jarak
Tanam
( Meter )
2
2
3
3
x
x
x
x
1
2
1
2
1994
Riap diameter per tahun dalam cm
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
0.29
0.59
0.27
0.64
0.83
0.98
1.05
0.66
0.73
0.74
0.59
0.65
0.96
0.93
0.93
0.98
1.1
1.1
1.12
1.14
1.41
2.37
1.76
2.39
0.83
1.41
1.38
1.27
0.57
1.32
0.79
1.13
0.68
1.12
0.48
0.89
0.32
0.56
0.51
0.77
Halaman - 5
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Riap diameter dengan berbagai jarak tanam di areal HPH PT. Bina Lestari, riau
3
riap diameter (cm)
2.5
2
2x1
2x2
1.5
3x1
3x2
1
0.5
0
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Tahun ke
Gambar 3. Grafik riap diameter dengan berbagai jarak tanam
di areal HPH PT. Bina Lestari, Riau
14.00
12.00
10.00
8.00
MAI
CAI
6.00
4.00
2.00
0.00
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
Gambar 4. Grafik MAI dan CAI pada tanaman R. apiculata di ex HPH PT. Bina Lestari,
Kabupaten Indragiri Hilir, Propinsi Riau.
Berdasarkan Gambar 4. di atas terlihat bahwa pada saat tanaman berumur 7
tahun ( jarak tanam 2m x 2m ) adalah pertumbuhan tertinggi, kemudian
menurun dengan bertambahnya umur tanaman. Hal ini berarti harus ada
perlakuan tanaman pada saat umur tanaman melebihi 7 tahun agar
pertumbuhan tidak menurun. Salah satu yang bisa dilakukan untuk
mempertahankan pertumbuhan tetap tinggi adalah dengan melakukan
penjarangan, supaya setiap pohon mendapatkan pencahayaan yang cukup
yang berasal dari sinar matahari.
Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa satu kali daur
tegakan diperlukan waktu 20 tahun, saat mana pohon sudah dapat
digunakan sebagai bahan baku industri chip dan juga arang kwalitas baik.
Halaman - 6
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
2. HPH PT. Bintuni Utama Murni wood Industries
diameter (mm)
Untuk mendapatkan pembanding pertumbuhan riap pada provinsi lain, pada
tahun 1994 dibuat PUP di areal HPH. PT. Bintuni Utama Murni Wood
Industries
Di HPH PT. BUMWI, dibuat 3 blok petak ukur permanen dengan cara
melakukan tebang habis dan masing –masing blok kemudian ditanam dengan
jarak tanam yang sama dengan di Riau yakni: 2m x1m; 2m x 2m; 3m x 1m
dan 3m x 2m; adapun jenis yang ditanam adalah Bakau (Rhizophora
apiculata), Bakau blukap (Rhizophora mucronata ), Tumu ( Bruguiera
gymnorrhiza),
lenggadai
Pengaruh Jarak Tanam Terhadap Pertumbuhan Diameter
(Bruguiera
jenis bakau ( Rhizophora apiculata )
parviflora)
dan
80
tengar ( Ceriops
tagal ).
60
40
20
0
jarak tanam
th. ke 1
th. ke 2
th. ke 3
th. ke 4
th. ke 5
th. ke 6
th. ke 7
th. ke 8
1m x 2m
7.33
15.54
23.99
31.26
39.21
46.96
54.71
56.99
1m x 3m
7.71
16.97
26.64
36.72
46.71
52.08
57.44
59.21
2m x 2m
7.74
17.5
27.56
38.76
48.03
52.62
57.22
59.39
2m x 3m
7.69
17.51
30.14
41.51
50.7
54.67
58.64
60.78
Gambar 5. Pengaruh jarak
tanam terhadap pertumbuhan
diameter jenis bakau ( R.
apiculata )
Riap diameter Rhizophora apiculata pada berbagai jarak tanam
di HPH PT. Bumwi, Teluk Bintuni, Irian Jaya Barat
riap diameter( mm )
14
12
10
8
6
4
2
-
th. ke 1
th. ke 2
th. ke 3
th. ke 4
th. ke 5
th. ke 6
th. ke 7
1m x 2m
8.21
8.45
7.27
7.95
7.75
7.75
2.28
1m x 3m
9.26
9.67
10.08
9.99
5.37
5.36
1.77
2m x 2m
9.76
10.06
11.2
9.27
4.59
4.6
2.17
2m x 3m
9.82
12.63
11.37
9.19
3.97
3.97
2.14
Gambar 6. Riap diameter R. apiculata pada berbagai jarak tanam di areal HPH PT. BUMWI,
Teluk Bintuni, Provinsi Papua Barat
Halaman - 7
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
3. HPH TTJ PT. Inhutai II ( Persero)
Untuk mendapatkan pembanding pertumbuhan riap pada provinsi lain lagi ,
pada tahun 1996 dibuat PUP di areal HPH TTJ PT. Inhutani II, Kalimantan
Barat.
Kondisi awal lokasi PUP dilokasi ini berbeda dengan lokasi PUP yang lain,
dimana lokasi ini merupakan areal non produktif yang didominasi oleh nipah
(Nypa fruticans) dan pakis-pakisan ( Acrostichum aureum ), setelah di land
clearing kemudian ditanan dengan jenis bakau ( Rhizophora apiculata )
dengan jarak tanam 2m x 2 m, adapun luas penanaman yang sudah
dilakukan seluas 600 ha, sementara plot permanen yang dijadikan tempat
lokasi pengukuran seluas 10m x 10m.
Riap volume tanaman R. apiculata pada areal
non produktif
160.00
148.32
140.00
volume (m3/ha)
120.00
100.00
80.00
63.51
60.00
40.00
20.00
0.00
1.23
Umur 2th
Umur 6 th
Umur 8 th
Gambar 7. Riap volume tanaman R. apiculata pada areal non produktif di HPH PT. Inhutnai
II, Batu Ampar, Kalimantan Barat
Riap volume permudaan alam R. apiculata pada areal eks
Tebangan/Loa
180.00
168.30
160.00
volume (m3/ha )
140.00
120.00
100.00
83.72
80.00
60.00
40.00
20.00
0.00
2.07
ET + 2
ET + 8
ET + 25
Gambar 8. Riap volume permudaan alam jenis bakau ( R. Apiculata ) pada areal eks
tebangan / Loa di Provinsi Kalimantan Barat
Halaman - 8
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Volume (m3/ha )
Perbandingan riap volume tanaman &
permudaan alam
R. apiculata di Batu Ampar, Kalimantan Barat
200.00
100.00
0.00
Umur 2th
Umur 6 th
Umur 8 th
tanaman
1.23
63.51
148.32
alam
2.07
40.00
83.72
umur 25 th
168.30
Gambar 9. Perbandingan riap volume tanaman dan permudaan alam jenis bakau ( R.
Apiculata ) di Provinsi Kalimantan Barat
4. Perbandingan Riap Jenis Bakau Di 3 Provinsi
Berdasarkan hasil pengukuran riap bakau yang telah dilakukan pada 3
Provinsi yakni Riau, Papua Barat dan Kalimantan Barat, didapatkan hasil
sebagaimana pada tabel di bawah ini.
Tabel 6: pertumbuhan diameter tanaman bakau ( R. Apiculata) dengan
jarak tanam 1m x 2m di Provinsi Riau dan Papua Barat
th. ke 1
0.67
0.73
Riau
Papua barat
th. ke 2
0.96
1.56
th. ke 3
1.79
2.40
diameter ( cm )
th. ke 4 th. ke 5
2.52
3.48
3.13
3.92
th. ke 6
4.58
4.70
th. ke 7
5.99
5.47
th. ke 8
6.82
5.70
Perbandingan pertumbuhan Diameter R. apiculata Riau & Irian
pada jarak tanam 1m x 2m
8
pertumbuhan ( cm )
7
6
5
4
3
2
1
0
th. ke 1
th. ke 2
th. ke 3
th. ke 4
th. ke 5
th. ke 6
th. ke 7
riau
0.67
0.96
1.79
2.52
3.48
4.58
5.99
th. ke 8
6.82
papua barat
0.73
1.56
2.40
3.13
3.92
4.70
5.47
5.70
Gambar 10. perbandingan pertumbuhan diameter R. apiculata di Riau
dan Papua Barat pada jarak tanam 1m x 2m
Halaman - 9
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
riap/th ( cm )
Perbandingan Riap R. apiculata di Riau & Irian
Pada jarak tanam 1m x 2m
1.60
1.20
0.80
papua barat
riau
0.40
-
th. ke 1 th. ke 2 th. ke 3 th. ke 4 th. ke 5 th. ke 6 th. ke 7
riau
0.29
0.83
0.73
0.96
1.10
1.41
0.83
papua barat
0.82
0.84
0.73
0.79
0.78
0.77
0.23
Gambar 11. Perbandingan riap R. apiculata di Riau dan papua Barat
( d/h Irian) pada jarak tanam 1m x 2m
DIAMETER ( cm )
PERBANDINGAN PERTUMBUHAN DIAMETER TANAMAN
Rhizophora apiculata
10
5
0
2 th
6 th
8 th
Riau
0.96
4.58
6.82
Irian
1.56
4.70
5.70
KalBar
1.75
5.03
6.39
Gambar 12. Perbandingan pertumbuhan diameter tanaman bakau
( R. Apiculta ) di Riau, Papua Barat (d/h Irian) dan Kalimantan Barat.
5. HTI Mangrove PT. Ciptamas Bumi Subur
HTI mangrove PT. Ciptamas Bumi Subur terdapat di Sei Sugihan, Provinsi
Sumatera Selatan. Pembangunan HTI dilaksanakan tahun 1990 dengan jenis
bakau ( Rhiziphora apiculata ), dan sampai tahun 1995 sudah berhasil
ditanam seluas ± 3.000 ha. Namun lokasi ini tidak terdapat plot permanen
untuk mengukur riap tanaman. Berdasarkan informasi tahun 2009 yang
diperoleh, areal hutan tanaman ini sudah mulai dipanen untuk bahan baku
industri arang.
6. Kondisi Hutan bakau primer
Pada tahun 1999, Tim Jica Pilot proyek mangrove center Bali membuat Plot
permanen di areal HPH TTJ PT. Inhutani II, sungai Keluang, Desa Batu
Ampar, Kecamatan Padang Tikar, kabupaten Kubu Raya ( d/h Pontianak),
Provinsi Kalimantan Barat, untuk mengetahui hubungan antara diameter
dengan tinggi akar, hubungan antara tinggi pohon dengan tinggi akar dan
hubungan antara tinggi pohon dengan persentase tinggi akar terhadap tinggi
akar seperti terlihat pada gambar di bawah ini.
Halaman - 10
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
hubungan antara tinggi pohon dengan tinggi akar
hubungan antara diam eter dengan tinggi akar
3.5
3
3
2.5
2.5
tinggi akar ( m )
tinggi akar ( m)
3.5
2
1.5
1
0.5
0
0.00
2
1.5
1
0.5
10.00
20.00
30.00
40.00
50.00
tinggi pohon ( m )
0
diam eter ( cm )
0
5
10
15
20
25
30
35
Gambar 14. Hubungan antara tnggi pohon
Gambar 13. hubungan antara diameter
dengan tingi akar
dengan tinggi akar hubungan antara tinggi dengan persentase tinggi
akar
% tinggi akar terhadap
tinggi pohon
terhadap tinggi pohon
20.00%
15.00%
10.00%
5.00%
0.00%
0
10
20
30
40
tinggi ( m )
Gambar 15. hubungan antara tinggi dengan
persentase tinggi akar terhadap tinggi
pohon
Yasuko Inoue, Tahun 2004 ( mahasiswi kandidat master dari USA )
melakukan pengukuran kondisi areal bekas tebangan ( hutan sekunder ) di
areal IUPHHK-HA PT. Bina Ovivipari Semesta, Sei Bunbun, Kecamatan
padang Tikar, Kabupaten Kubu Raya ( d/h Kabupaten Pontianak), provnsi
Kalimantan Barat, dengan hasil hasil sebagai berikut:
Lokasi
Tanggal pengukuran
Kondisi Areal
1980-an )
Ukuran Plot sampling
: Sei Bunbun
: 27 Juni 2004
: Bekas tebangan HPH PT. Bumi Indonesia Jaya( diperkirakan tahun
: 10 m x 10 m
Tabel 7. hasil pengukuran diameter dan tinggi pohon di areal bekas tebangan tahun 1980an, S. Pasut Bunbun
No
Nomor Pohon
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
Diameter
(cm)
31.210
18.153
31.529
11.465
28.662
13.694
13.057
18.790
19.427
12.102
28.025
12.420
Tinggi
(m)
14
16
16
12
14
15
10
15
13
10
8
9
Volume
(m³)
0.509
0.148
0.509
0.049
0.399
0.071
0.071
0.148
0.167
0.056
0.399
0.056
Halaman - 11
40
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
13
13
13.694
14
Jumlah
Volume Per Ha
Volume efektif ( 60% )
0.071
2.653
265.3
159.18
7. Matang, Malaysia
The matang mangrove forest reserve telah dikelola sejak tahun 1950, dimana
dengan daur 30 tahun, sampai dengan tahun 2010 nanti sudah memasuki
daur ketiga pada sepuluh tahun pertama ( daur I tahun 1950 s/d 1979; daur
II tahun 1980 s/d 2009 dan daur III tahun 2010 s/d 2029 ). Hal ini berarti,
hutan mangrove ini sudah dimanfaatkan secara lestari apabila ditinjau dari
aspek produksi.
Matang mangrove forest reserve di Malaysia merupakan pengelolaan hutan
mangrove lestari yang diakui oleh dunia, walaupun pada kenyataannya tidak
ada sertifikat yang dikeluarkan oleh lembaga penilai yang independen, namun
fakta lapangan membuktikan bahwa areal tersebut sudah dimanfaatkan
secara lestari dan tahun 2010 ini memasuki daur ke tiga, dan kondisi ini
diakui secara “de facto” oleh dunia tanpa sertifikat.
Pengakuan ini terjadi karena “ the matang mangrove forest reserve” berhasil
memadukan konsep pemanfaatan hutan lestari dengan ekowisata, dimana
seluruh kegiatan pemanfaatan, mulai dari perencanaan, penebangan,
pemulihan areal bekas tebangan dijadikan obyek wisata, sementara dengan
kelompok nelayan setempat terdapat lokasi untuk budidaya keramba jaring
apung dan tempat mencari kerang, dan di dalam areal kerja dilarang
melakukan aktivitas pembuatan tambak ataupun penebangan pohon tanpa
adanya ijin dari yang berwenang.
Sistem penebangan yang diberlakukan mengalami beberapa kali perubahan,
mulai dari sistem pohon induk, dengan cara meninggalkan pohon induk
sebanyak 7 pohon per hektar sampai dengan tebang habis dengan
permudaan alam dan buatan yang diberlakukan sejak daur kedua ( tahun
1980 ).
Sesuai
dengan
data
dalam
buku.........tahun...yang
dikeluarkan
oleh.........disampaikan pertumbuhan riap tegakan sebagai tabel.....berikut.
Halaman - 12
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Tabel 8. Riap volume pohon bakau di Matang, Malaysia.
Umur
Jumlah Pohon
Diameter
Volume
( tahun )
( batang/ha )
( cm )
( m3/ha )
10
15
20
25
30
35
40
3.190
2.200
1.560
1.180
940
740
660
8
11
14
16
18
20
22
23
129
156
220
247
267
284
hubungan umur dan jumlah pohon bakau
hubungan umur dan diameter pohon bakau (
R.apic ulata) di Matang, Malay sia
25
4,000
Diameter ( cm)
jumlah pohon
(R.apiculata) per hektar di Matang, Malaysia
3,000
Jumlah Pohon
(batang/ha)
2,000
1,000
-
20
15
10
Diameter ( cm
)
5
0
10
15
20
25
30
35
40
10
Um ur (tahun)
Gambar 16. hubungan umur dan jumlah pohon
bakau per ha di Matang, Malaysia
15
20
25
30
Um ur ( tahun)
35
40
Gambar 17. Hubungan umur dan diameter
pohon bakau di Matang,
Malaysia
volume (m3/ha)
hubungan um ur dan volum e pohon bakau (R. apiculata)
per hektar di Matang, Malaysia
300
250
200
150
100
50
0
Volume
10
15
20
25
umur (tahun)
30
35
( m³ /ha)
40
Gambar 18. Hubungan umur dan volume
pohon bakau di Matang,
Malaysia
Kondisi areal petak per petak yang sudah selesai di tebang, yang terlihat
seperti botak-botak, yang kalau dilihat oleh orang yang awam pasti sudah
berpikiran bahwa hutan tersebut rusak berat, namun bagi pengelola ataupun
bagi praktisi yang sudah berpengalaman dilapangan menganggap kondisi
seperti ini suatu hal yang sudah seharusnya terjadi dan bersifat sementara
(temporary). Melalui proses rehabilitasi dari tahun ke tahun kondisi areal
tersebut secara perlahan akan terjadi regenerasi, baik secara alami maupun
buatan ( melalui proses penanaman pada bagian-bagian yang kurang
permudaannya ).
Halaman - 13
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Kondisi areal matang mangrove forest reserve sesaat setelah dilakukan
penebangan dengan clear cutting ( tebang habis ) dapat dilihat pada gambar
18. dibawah ini.
Gambar 19: Foto udara ini diambil
pada ketinggian 3.000 m dpl di atas
Kuala Sepetang, kampung nelayan
mangrove matang. Banyak tempat
yang terbuka yang juga disebabkan
sambaran petir. Daratan
utamaterletak dibagian kanan dan
pulau-pulau di bagian kiri. Foto
diambil tahun 1989.
Urutan berdasarkan alphabet berikut adalah: A: F.D. housing quarter; B. F.D. Office Complex;
C: F.D. Jetty; D: Charcoal Processing Site; E: Pole Landing and Stacking site; F: RF 2; G: EDU
1; H: RF 1 (SS2); I: The Village Housing and Jetties; J: Kg. Menteri; K: Dryland Forest (
landward side); L: RF 3 (SS4); M: VJR 4 ( first designed VJR ); N: One Year After Clear Felling;
O: New Forest ( riverine type); P: Mature Forest; Q: Unthinned Forest.
Berdasarkan kenyataan ini, maka perlu dipertegas kembali bahwa menilai
kegiatan pemanfaatan hasil hutan kayu tidak bisa hanya dilakukan pada lokasi
yang baru saja ditebang, akan tetapi harus dilihat, apa yang terjadi minimal 5
tahun setelah penebangan dilakukan.
Berdasarkan pengalaman pribadi dalam mengelola hutan mangrove selama
lebih kurang 27 tahun, pada kenyataannya kondisi lokasi bekas tebangan HPH
sama saja dengan yang ada di matang mangrove malaysia, yakni siap dipanen
pada daur berikutnya. Hanya saja perbedaannya adalah masalah kepastian luas
areal yang dikelola. Kalau di Matang mangrove, areal kerja sudah dikukuhkan
sejak tahun 1950 dan sampai sekarang tidak ada perubahan, sehingga register
petak per petak dapat dilacak secara baik, sementara di Indonesia sering
berubah-rubah peruntukannya dan pengelolanya. Namun dengan
diberlakukannya aturan baru, dimana masa kepengelolaan bisa lebih lama ( ±
45 tahun ), maka kepastian pengelolaan hutan secara lestari akan dapat
diwujudkan.
Halaman - 14
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
III. PROSEDUR DAN METODOLOGI
A. Prosedur
1. Tenaga Kerja
Tenaga kerja yang dibutuhkan untuk pembuatan dan pengamatan PUP
adalah sebanyak 7 orang, dengan perincian sebagai berikut :
a. 1(satu) orang team leader, bertugas untuk mengkoordinir team
dalam pelaksanaan kerja, mencatat (hasil pengamatan) dan
mengontrol regu kerja saat melakukan pengamatan/pengukuran.
b. 1(satu) orang kompassman yang bertugas sebagai pemandu arah
dalam pembuatan rintisan jalur dan memegang tali ukur depan
(front chainman).
c. 2(dua) orang perintis/brusher yang bertugas memperjelas rintisan
jalur.
d. 1(satu) orang pemegang tali ukur belakang (back chainman) yang
bertugas mengukur jarak lapang serta memasang patok Hm dalam
jalur pengamatan.
e. 2(dua) orang timber maker yang bertugas sebagai pengenal jenis
dan cacat pohon, mengukur diameter dan tinggi pohon, penomoran
dan penempelan tag plate/ecoin serta memegang stick ukur dan
meteran (alat ukur diameter pohon).
2. Peralatan dan Perlengkapan Kerja
Peralatan dan perlengkapan kerja yang dibutuhkan meliputi :
a. GPS
b. Kompass
c. Calipper
d. Phi Band
e. Meteran 30 m
f. Stick Ukur tinggi pohon.
g. Cat merah, kuning, hijau dan hitam.
h. Tambang plastic dan tali raffia.
i.
Alat tulis dan Tally Sheet.
B. Metodologi
1. Areal yang digunakan untuk pembuatan 1 (satu) buah seri – PUP
adalah areal hutan bekas tebangan 2 tahun setelah tebangan (et + 2 ),
yang mana pada pembuatan PUP di Areal PT. Bina Ovivipari Semesta
adalah merupakan areal bekas tebangan tahun 2006.
2. Areal hutan bekas tebangan yang dipilih untuk pembuatan seri – PUP
adalah areal bekas tebangan dengan Kreteria :
- Betul-betul terkena eksploitasi hutan
- Relatif mudah dikunjungi
- Mempunyai konfigurasi lapangan yang relative ringan
Halaman - 15
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
-
Mewakili Zona pertumbuhan mangrove yang dieksploitasi dengan
perbedaan kelas genangan saat terjadi pasang surut air.
3. Sebuah seri – PUP minimal mencakup luasan 1,04 ha ( 160 m X 65 m
).
4. Sebuah seri – PUP terdiri dari 6 plot, yang masing-masing berukuran
20m X 20m. dimana 3 plot dilakukan pemeliharaan dan 3 plot
lagi tanpa perlakuan pemeliharaan dan setiap jarak antar plot
dibuat jalur isolasi selebar 25 meter.
5. Pembuatan plot dimulai pada jarak 50 meter dari alur sungai dengan
arah tegak lurus alur sungai.
6. Petak pengamatan dibuat disetiap plot dengan ukuran 10 m X 10 m,
dimana lebih kurang 25 anakan permudaan alamnya diukur diameter
dan tingginya.
7. Pada setiap plot ukuran 20m X 20m dicatat dan dihitung jumlah pohon
induk, hal ini untuk mengetahui pengaruh diadakannya pohon induk
terhadap percepatan permudaan yang terjadi secara alami.
8. Cara-cara pembuatan, pengukuran, penerapan perlakukan tegakan dan
observasi PUP – PUP dilaksanakan sesuai dengan ketentuan yang
sudah ada.
9. PUP – PUP yang sudah dibuat harus dijaga dari segala gangguan yang
dapat merusak tegakan, seperti penebangan, perladangan, kebakaran
dan lain sebagainya.
Halaman - 16
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
IV. PEMBUATAN DAN HASIL PENGUKURAN
A. Pembuatan Petak Ukur Permanen
Hasil pembuatan PUP adalah sebagai berikut:
Plot 3 ( P )
Plot 4 ( TP )
Plot
pengamatan
Plot
pengamatan
Jalur isolasi
Plot 2 ( P )
Jalur isolasi
Plot 5 ( TP )
Plot
pengamatan
Plot
pengamatan
Jalur isolasi
Plot 6 ( TP )
Plot 1 ( P )
Plot
pengamatan
Plot
pengamatan
Jalur hijau
Alur sungai
1.1. Ukuran setiap plot 20m X 20m
1.2. Setiap plot terdapat petak pengamatan (pp) dengan ukuran 10 m X
10m
1.3. P = plot yang diperlakukan dengan pemeliharaan
1.4. TP = plot tanpa perlakuan pemeliharaan
1.5. Pada setiap plot 20m X 20m dihitung jumlah tingkat pohon yang
ditinggalkan
1.6. Pada setiap petak pengamatan diukur diameter dan tinggi permudaan
alam tingkat pancang dan semai.
Halaman - 17
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
B. HASIL PENGUKURAN
Hasil pengukuran pada plot pengamatan PUP selama 4 kali pengukuran (
tahun 2008; 2009; 2010 dan 2011 ) di areal bekas tebangan tahun 2006
( 5 tahun setelah tebangan ), blok Gunung Bongkok/Selat Sekh adalah
sebagai berikut:
1. PLOT PERLAKUAN
plot 1
umur
diameter
Tinggi
(tahun)
(cm)
(cm)
2
1.52
83.28
3
1.65
108.28
4
1.73
128.24
5
2.73
224.56
plot 2
diameter Tinggi
(cm)
(cm)
1.19
85.56
1.58 108.16
1.88 128.72
2.88 225.04
plot 3
diameter
Tinggi
(cm)
(cm)
1.05
76.33
1.21
91.50
1.42
111.67
2.44
208.17
rerata (cm)
diameter
1.25
1.48
1.68
2.68
tinggi
riap ( cm )
diameter
81.72
102.65
122.88
219.26
tinggi
0.23
0.20
1.00
20.92
20.23
96.38
2. PLOT TANPA PERLAKUAN
umur
(tahun)
2
3
4
5
plot 4
diameter
Tinggi
(cm)
(cm)
4.02
338.94
4.53
456.11
5.16
489.72
5.77
596.47
plot 5
plot 6
diameter
Tinggi
diameter
Tinggi
(cm)
(cm)
(cm)
(cm)
0.68
96.64
0.54
91.80
1.28
106.64
1.18
109.48
1.44
124.04
1.30
125.56
2.75
238.63
2.63
189.31
rerata (cm)
diameter
1.75
2.33
2.63
3.72
tinggi
175.79
224.08
246.44
341.47
riap ( cm )
diameter
tinggi
0.58
0.30
1.08
48.28
22.36
95.03
Halaman - 18
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
V. PEMBAHASAN
Petak Ukur Permanen (PUP) merupakan petak ukur yang dibuat
permanen pada suatu lokasi yang digunakan sebagai kontrol untuk
mengetahui seberapa besar akibat yang ditimbulkan dari eksploitasi hutan
pada permudaan di areal bekas tebangan.
Akibat yang dimaksud adalah berkaitan dengan riap volume tegakan
per hektar pertahun sebagai daya dukung kawasan hutan, hal mana sebagai
dasar penentuan jatah produksi tahunan ( annual allowable cut) yang tidak
diperkenankan melebihi riap volume tegakan.
Berdasarkan hasil pengukuran dan pengamatan pada Petak Ukur
Permanen (PUP) di areal eks tebangan tahun 2006 dapat diketahui beberapa
informasi sebagai berikut :
1. Kondisi Pohon Induk Pada Tahun ke 4
Jumlah rata-rata pohon induk dilokasi pengaamatan tidak mengalami
perubahan, dari tahun pertama pengamatan namun pertambahan tinggi
dan diameter cukup signifikan.
2. Growth, MAI dan CAI
Pertumbuhan tegakan ( growth) sangat penting diketahui untuk
menetapkan potensi tegakan perhektar pertahun pada umur masak
tebang.
Riap tahunan rata-rata ( Mean Annual Increment) dan Riap Tahunan
Berjalan ( Current Annual Increment ) sangat penting diketahui untuk
menentukan umur daur ekonomis suatu tegakan, yang ditentukan saat
perpotongan grafik MAI dan CAI.
Pengukuran pada tahun keempat atau pada bekas tebangan 6 tahun lalu
seperti tabel dan grafik di bawah ini, belum dapat menentukan potensi
tegakan masak tebangan dan daur tebangan karena grafik MAI dan CAI
belum saling berpotongan.
Oleh sebab itu, pengamatan dari tahun tahun ke tahun perlu dilakukan
secara cermat dan teratur, agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan
secara akademis.
Halaman - 19
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Hasil pengukuran pohon pada PUP beserta perhitungan growth, MAI dan
CAI pada plot perlakuan dan tanpa perlakuan dapat dilihat pada tabel dan
grafik dibawah ini.
PLOT PERLAKUAN
CAI
umur Growth
MAI
(tahun) ( m³/ha) (m³/ha/th) (m³/ha/th)
2
0.176
0.09
0.09
3
0.308
0.10
0.13
4
0.476
0.12
0.17
5
2.165
0.43
1.69
PLOT TANPA PERLAKUAN
umur Growth MAI
(
CAI
(tahun) ( m³/ha) m³/ha/th) (m³/ha/th)
2
0.74
0.37
0.37
3
1.67
0.56
0.94
4
2.35
0.59
0.68
5
6.48
1.30
4.13
Perbedaan yang cukup signifikan pada growth, mai dan cai
antara plot perlakuan dan plot tanpa perlakuan, dimana growth, mai dan
cai pada plot perlakuan lebih kecil dari pada plot tanpa perlakuan,
berkemungkinan disebabkan karena pada plot tanpa perlakuan pada saat
pengukuran awal lebih banyak didominasi oleh permudaan alam tingkat
pancang.
Hal ini mungkin saja terjadi karena pada saat dilakukan
penebangan, sudah terdapat permudaan tingkat semai atau mungkin
pancang pada plot tanpa perlakuan yang berasal dari pohon induknya,
sementara pada plot perlakuan, permudaan alam baru terjadi setelah
penebangan yang mungkin berasal dari pohon induk yang ditinggalkan
atau propagule yang hanyut terbawa oleh arus pasang air laut dan masuk
kedalam hutan.
Halaman - 20
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Namun dilihat dari riap diameter dan tinggi tidak berbeda jauh
saat pengukuran keempat yakni:
Plot Perlakuan
: riap diameter : 1.00 cm dan tinggi : 96.38 cm
Plot Tanpa Perlakuan : riap diameter : 1.08 cm dan tinggi : 95.03 cm
Hal ini membuktikan bahwa riap pada plot perlakuan dan tanpa perlakuan
pada pengukuran keempat atau pada permudaan bekas tebangan 5
tahun lalu masih sama dan belum terlihat perbedaan perumbuhan / riap
yang signifikan antara plot perlakuan dan tanpa perlakuan.
Apabila dibandingkan dengan riap diameter dan tinggi pada
lokasi mangrove di daerah lain, seperti Riau dan Papua dengan kegiatan
yang sama yakni pemanfaatan hutan mangrove, boleh dikatakan tidak
berbeda secara signifikan. Hal ini memungkinkan karena factor
substratnya hampir sama yakni dengan kadar lumpur ( glei humus ) yang
cukup dominan dibandingkan substrat lain, seperti lumpur campur pasir.
Halaman - 21
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
VI. KESIMPULAN
1. Petak Ukur Permanen (PUP) dibagi menjadi dua perlakuan yaitu, PUP
yang dilakukan perlakuan berupa pemeliharaan dan penjarangan disebut
PUP perlakuan dan PUP yang dibiarkan tumbuh secara alami disebut PUP
tanpa perlakuan
2. Berdasarkan hasil pengukuran dan perhitungan, pada pengamatan ke
empat atau pada areal bekas tebangan 5 tahun lalu, adalah sebagai
berikut:
 Plot perlakuan : growth = 2.165 m³/ha; MAI= 0.43 m³/ha/tahun
dan CAI= 1.69 m³/ha/tahun
 Plot tanpa perlakuan : growth = 6.48 m³/ha; MAI= 1.30
m³/ha/tahun dan CAI= 4.13 m³/ha/tahun
3. Jumlah tingkat pohon dilokasi pengamatan PUP tidak mengalami
perubahan, dari tahun pertama pengamatan namun pertambahan tinggi
dan diameter cukup signifikan.
Halaman - 22
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
VII. DAFTAR BACAAN
Atmosoedardjo,S, Pramoedibyo, R.I.S, Ranoeprawiro, S, Suseno O.H,
Supriyo, H, Soekotjo, Na’im, M, Iskandar,U, 2004: Dari Bukit-Bukit
Gundul Sampai ke Wanagama I.
Adam,J, 1995. Risk
Direktorat Bina Pesisir, Direktorat Jenseral Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil,
Departemen Kelautan dan Perikanan, 2004. Pedoman Pengelolaan
Ekosistem Mangrove.
Deutche Geselischaft for Technische (GTZ) GmbH, 2003: Guidelines Capacity
Building Needs Assesment ( CBNA ) In The Regions.
Hasan, H,H,A. A Working Plan For The Second 30-year Rotation Of the
Matang Mangrove Forest Reserve Perak ( he First 10 – year period
1980-1989 ). Deputy Director of Forestry of Perak, Malaysia
Inoue, Y, Hadiyati, O, Affendi, A, Sudarma, K,R. Budiana, I,N. 1999.
Sustainable Management Model for Mangrove Forests. The
Development of Sustainable Mangrove Forest Management Project,
The Ministry of Forestry and Estate Crops i Indonesia and japan
International Cooperation Agency.
Keong, G,B, 1995. A Working Plan For The Matang Mangrove Forest Reserve
Perak ( Fourth Revision ). State Forestry Departemen of Perak
Darul Ridzuan, Malaysia
Lembaga Pengkajian dan Pengebangan Mangrove, 1997. Penyusunan
Rancangan Proyek Pengelolaan Hutan Alam Produksi oleh
Masyarakat Tradisional Di Kabupaten Pontianak – Provinsi
Kalimantan Barat. Departemen Kehutanan, Direktorat Jenderal
Pengusahaan Hutan, Direktorat Bina Pengusahaan Hutan.
Mulia, F. 2006. Pedoman Rehabilitasi Hutan Mangrove.
Mulia, F. 1993. Saran Penyempurnaan Pedoman Sistem Silvikultur Hutan
Mangrove
Mulia, F, Bachtijar, A, Resvandri, R. Effendi, 1991. Tinjauan Tentang
Struktur, Potensi dan Peremajaan Hutan Payau.
Mulia, F, 1993. Laporan Hasil Penelitian Riap Diamater Bakau Pada Areal
HPH PT. Bina Lestari, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau.
Mulia, F. 1993. Implementasi Pengelolaan Hutan Mangrove Berkelanjutan
Halaman - 23
PT. BINA OVIVIPARI SEMESTA, KALIMANTAN BARAT
Mulia, F. 2007. Review Metode Silvuktur Mangrove Yang Digunakan Saat ini
Di Batu Ampar
Mulia, F. 2009. Daur Kedua Pengelolaan Mangrove Batu Ampar
Sumardjani, L, Mulia, F. 1993. Some Experience on the Rehabilition of
mangrove Forest ( Industrial Forest Plantation ) in Palembang.
Setyadi, G, Kailola, P, Rahayu, DL, Kastoro, W,W, Dwiono, S,A,P, Haris, A.
2002. Biota Akuatik di Perairan Mimika, Papua. Pt. Freeport
Indonesia.
Porter, M, 2006: Pola Berpikir Harus Diubah. Koran Kompas 30 November
2006.
Prabhu Rafi, Colfer, Carol.J.P and Dudley Richard G. Guideline for
developing, testing and selecting criteria and indicator for
sustainanble forest management. Center for International Forestry
Research ( Cifor ).
Halaman - 24
Fly UP