...

khonghucu

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

khonghucu
DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA KE-70
Bhineka Tunggal Ika Harmonis = Dalam Perbedaan
A. Pendahuluan
Bhineka Tunggal Ika adalah sesuatu yang khas dari bangsa
Indonesia, di keragaman suku , agama, golongan diharapkan dapat hidup
bersama secara harmonis.
Berbicara Harmonis otomatis berbicara masalah perbedaan, karena harmoni
dihasilkan ketika hal-hal yang berbeda dibawa bersama untuk membentuk suatu
kesatuan. Harmoni bukanlah peyeragaman atau penyamaan identitas. Harmonis
seperti perpaduan dalam orkestra sedangkan penyeragaman adalah ibarat
sekelompok orang bermain alat musik yang persis sama dengan nada, tempo dan
ritme yang persis sama pula.
Tetapi untuk bisa harmonis, masing-masing hal yang berbeda itu harus hadir
persis dalam proporsinya yang tepat/pas. Segala sesuatu yang pas/tepat baik waktu
dan proporsi inilah yang dimaksud tengah/tepat. Maka berbicara harmonisasi juga
tidak akan lepas dari), pembahasan tentang kondisi tengah (Zhong), karena memang
fungsi Zhong adalah untuk mencapai harmoni, atau Zhong berfungsi mengharmonikan
apa yang seharus bertentangan karena perbedaan-perbedaannya.
PERBEDAAN
TENGAH/ZHONG
HARMONI
B. Perbedaan Yang Mendasari
Banyak hal yang mempengaruhi hingga kita berbeda dengan orang lain, baik
perbedaan biologis (jenis), kecerdasan, emosional bahkan perbedaan kemampuan dan
paham. Yang jelas, bahwa perbedaan-perbedaan itu sendiri timbul karena ada
perbedaan yang mendasarinya. Tuhan Yang Maha Esa menciptakan kehidupan ini
selalu dengan dua unsur yang berbeda (Yin dan Yang): Positif dan negative, laki-laki
dan perempuan, siang dan malam, langit dan bumi, dan seterusnya. Secara sepintas
Yin memang bertentangan dengan Yang, tetapi sebenarnya kedua unsur tersebut
saling melengkapi/menggenapi dan saling membutuhkan satu sama lain.
Dapat kita bayangkan seandainya di dunia ini hanya ada laki-laki tanpa ada
perempuan atau sebaliknya, kehidupan mesti tidak akan berlangsung. Semua yang
hidup pasti mengalami kematian, bila ada kematian mesti ada kelahiran baru untuk
menggantikannya, sebuah kelahiran hanya terjadi bila ada proses perkawinan dan
perkawinan hanya dapat terjadi pada makhluk yang berbeda jenis kelaminnya.
Demikianlah setiap unsur di dunia ini mesti memiliki unsur lain yang berbeda sebagai
pasangannya.
Dari filosofi Yin-Yang dapat diketahui bahwa Tuhan Yang Maha Esa memang
menghendaki adanya perbedaan di dunia ini, karena sesunguhnya penciptaan segala
sesuatu merupakan kerjasama di antara kedua unsur yang berbeda (Yin dan Yang).
Tetapi hal itu bukanlah bermaksud agar kedua hal yang berbeda itu saling
bertentangan dan selanjutnya saling menghancurkan, melainkan menghendaki agar
perbedaan itu hadir untuk saling melengkapi/menggenapi dan mendukung satu sama
lain.
C. Menghadapi Perbedaan
Dari uraian di atas dapat disimpulkan, bahwa di manapun kita berada kapan
waktunya dan dengan siapapun kita bersama, kita pasti menjumpai perbedaan di
dalamnya, dan hal itu tidak dapat dihindari. Kalau kita keliru dalam melihat dan
menilai perbedaan yang ada, maka siapapun dan apapun yang berbeda dengan kita
akan bertentangan dan menjadi musuh kita, sebaliknya, kalau kita mampu menerima
setiap perbedaan yang ada, maka sebenarnya dua hal (dua sifat) yang berbeda itu
dapat menjadi pasangan yang baik yang saling melengkapi.
D. Naluri Menolak Perbedaan
Pemikiran manusia selama ini sudah terpaku untuk sulit menerima sebuah
perbedaan. Sesuatu yang berbeda dianggap tabu, perbedaan mengakibatkan
permusuhan/pertentangan dan bentrokan-bentrokan. Satu hal yang mungkin
membuat kita menjadi sangat takut akan sebuah perbedaan yaitu, karena naluri kita
membuat kita takut sesuatu yang berbeda itu akan mengancam posisi kita, dapat
menghimpit dan bahkan memusnahkan kita.
Selama ini manusia sangat takut untuk menjadi individu yang berbeda dari
kelompok lingkungannya di mana ia tinggal. Ketakutan itu timbul karena ia merasa
menjadi sesuatu yang berbeda berarti masuk ke dalam kelompok yang minoritas dan
hal yang selama ini terjadi, bahwa kelompok minoritas selalu ditekan dan selalu
terancam.
E. Menuju Keharmonisan Sebuah Hubungan
Kesadaran akan adanya perbedaan di antara sesama manusia adalah langkah
awal untuk dapat menciptakan hubungan yang harmonis. Suatu kenyataan yang tidak
dapat dipungkiri bahwa manusia dalam hidupnya sebagai makhluk sosial tidak dapat
tidak berhubungan dengan orang lain. Berhubungan dengan orang lain berarti
berinteraksi baik itu secara sepintas maupun berkesinambungan.
Setiap hari kita berhadapan dan berinteraksi dengan anggota keluarga dan
lingkungan sebagai individu yang paling dekat dengan kita. Yang jelas, bahwa dari
setiap interaksi kita dengan orang lain menghadirkan suatu kenyataan ada perbedaan
di dalamnya.
Berusaha memahami apa yang diinginkan orang lain dari kita, dan apa yang
kita harapkan dari orang lain untuk kita terima. Memang bukanlah hal yang mudah
untuk dapat memahami keinginan orang lain, tetapi bukan juga hal yang terlalu sulit
untuk dilakukan. Banyak kesalahpahaman yang terjadi dalam setiap jalinan hubungan
karena kedua belah pihak sama-sama tidak bisa (tidak berusaha) untuk mengerti dan
memahami satu sama lain.
Nabi Kongzi bersabda:
“Yang dapat diajak belajar bersama belum tentu dapat diajak bersama menempuh
jalan suci (beragama), yang dapat diajak bersama menempuh jalan suci belum tentu
dapat diajak bersama berteguh, dan yang dapat diajak bersama berteguh belum tentu
dapat bersesuaian paham”. (Lunyu. IX: 30)
F. Toleransi Dalam Perbedaan
Sumber konflik terbesar satu-satunya adalah seseorang atau satu group yang
memaksakan nilai-nilai dan harapan atas orang lain/group lain.
Toleransi antar umat beragama berarti: Sikap sabar membiarkan orang lain
memiliki keyakinan lain dan melakukan yang lain sehubungan dengan
agama/kepercayaan yang diyakininya itu.
Kita harus memiliki sikap sabar/menahan diri melihat orang lain melakukan
sesuatu yang berbeda dengan kita dalam segala hal. Memaksakan kehendak kita
kepada orang lain untuk melakukan hal yang sama dengan kita, hal ini menunjukan
bahwa kita tidak tidak memiliki sikap sabar/menahan diri (toleran) kepada pihak lain
yang berbeda dengan kita.
Setiap orang memang memiliki hak untuk menilai bahwa dirinya lebih baik dari
orang lain (paling tidak dalam hal-hal tertentu). Setiap bangsa berhak menyatakan
bahwa bangsanya lebih hebat dari bangsa lain, dan setiap penganut suatu agama
berhak menyakini bahwa agamanya lebih lebih baik dari agama yang lainnya. Semua
itu wajar dan memang semua memiliki hak untuk menyatakan hal itu. Tetapi menjadi
tidak etis bila kemudian mereka menyatakan bahwa yang lain adalah buruk.
Nabi Kongzi bersabda:
“Sesungguhnya kemuliaan seseorang itu tergantung dari usaha orang itu sendiri”.
“Jangan menilai orang dari apa agama yang dianutnya, dan jangan menilai agama dari
orang yang menganutnya”.
G.
Kerukunan Dalam Perbedaan
Nabi Kongzi bersabda:
“Seorang Junzi/susilawan dapat rukun meski tidak dapat sama, seorang rendah budi
dapat sama meski tidak dapat rukun”. (Lunyu. XIII: 23)
Kerukunan adalah dambaan setiap manusia, hal ini pulalah yang menjadi salah
satu tujuan dari pengajaran agama, maka menjadi ironis jika dengan dalih untuk
menegakkan ajaran agama justru malah merusak kerukunan itu sendiri. Kerukunan
dapat tercipta bukan hanya dalam ruang yang serba sama, maka biarkanlah perbedaan
itu hadir apa adanya.
Perbedaan memang dapat menjadi pemicu timbulnya perpecahan, tetapi juga
dapat menjadi pendorong terciptanya keharmonisan, maka semua tergantung dari
bagaimana manusia mengolahnya.
Kongzi tidak pernah mengajarkan umatnya untuk mengungguli pihak manapun
juga, tidak ada satu ayatpun dari kitab suci Si Shu yang memerintahkan umatnya unutk
berlomba-lonba menambah pengikut, terlebih dengan cara merebut umat dari agama
lain. Bila setiap agama ingin selalu mengungguli pihak lain, menaifkan satu sama lain
dan merasa ditunjuk Tuhan sebagai agen tunggal kebenaran, maka hasilnya, energi
yang seharusnya digunakan untuk membina diri malah digunakan untuk saling
mengalahkan, selalu siap menerkam, menjadi beringas dan kehilangan nilai luhur dari
ajaran agama itu sendiri.
Nabi Kongzi bersabda, “Bila berlainan jalan suci (agama) jangan berdebat”. (Lunyu. XV:
40)
“Orang yang mengaku dirinya baik sesungguhnya belum masuk hitungan sebagai
orang baik”.
Orang baik/orang yang memiliki kebenaran idealnya tidak menganggap bahwa
kebenarannya yang paling benar. Tidak ada guna memperdebatkan tentang kebenaran
yang kita yakini dengan kebenaran yang diyakini oleh orang lain dan memang adalah
perbuatan yang sangat sia-sia.
Keyakinan merupakan sesuatu yang sangat azasi, terlebih lagi menyangkut
keyakinan beragama. Sesungguhnya kebenaran yang dibawakan oleh tiap-tiap agama
bukan sesuatu untuk diperdebatkan atau hanya jadi bahan omongan belaka.
“Kalau beda, tidak perlu disama-samakan, kalau sama tidak perlu dibeda-bedakan”.
Bicara mengenai perbedaan, tiap hal tentu memiliki perbedaan. Bicara
mengenai persamaan, tiap hal tentu juga memiliki persamaan. Masalahnya adalah,
banyak dari kita menjadi sibuk mempersamakan sesuatu yang beda, dan
membedakan-bedakan sesuatu yang adalah sama.
Tiap agama tentu memiliki cara yang berbeda dalam menangkap kebenaran
Tuhan, atau memandang kebenaran Tuhan dari sisi yang berbeda. Maka, rasanya kita
tidak perlu menjadi heran, bila ada perbedaan dalam menyembah Tuhan yang sama
itu, dan yang lebih penting lagi untuk tidak berusaha terus membanding-bandingkan
perbedaan cara tersebut, karena usaha tersebut hanya akan menghadirkan satu
kesimpulan sepihak (subyektif), bahwa cara kita lebih baik dari cara orang lain.
Kita tidak memungkiri kesadaran yang menyatakan bahwa, “sebenarnya tujuan
kita sama, hanya jalannya saja yang berbeda”. Tetapi, kita juga tidak dapat menutup
mata dan telinga, bahwa di dalam perjalannya menuju ke tempat yang sama itu,
masing-masing kita berbangga diri, karena merasa bahwa jalan kitalah yang paling
baik/tepat. Rasa berbangga diri memiliki jalan yang paling benar dan paling baik terjadi
karena ada hal mendasar yang terlupakan. Seringkali orang (umat penganut suatu
agama) tidak menyadari bahwa hal baik/benar bagi kita belum tentu baik/benar bagi
orang/pihak lain.
“Seorang Kuncu dapat rukun meski tidak sama. Seorang rendah budi dapat sama meski
tidak rukun”.
Pertanyaannya adalah: Mana yang lebih penting? “Rukun meskipun tidak sama,
atau sama meskipun tidak rukun?”
“Tetaplah rukun di dalam persamaan, dengan tidak berusaha membeda-bedakan
persamaan itu,dan tetap rukun di dalam perbedaan dengan tidak menyamanyamakan perbedaan itu”.
” Disadur dari berbagai sumber oleh Dq. James, SH”
Fly UP