...

JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015 328

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015 328
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA DALAM
PEMBELAJARAN MATEMATIKA SEBELUM DAN
SETELAH PENERAPAN PENDEKATAN
MATEMATIKA REALISTIK.
Nurlia,
ABSTRAK:
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan profil kemampuan berpikir kritis
siswa SMA yang memiliki kecenderungan tipe kepribadian Rational dalam
menyelesaikan masalah matematika. Penelitian ini dikategorikan sebagai studi
eksploratif dengan pendekatan kualitatif, dimana peneliti sendiri sebagai instrumen
utama. Teknik pengumpulan data melalui pemberian tes kemampuan berpikir kritis
dan wawancara kepada dua orang subjek berkepribadian Rational. Pemilihan subjek
dilakukan dengan memilih dua orang siswa yang memiliki kecenderungan
kepribadian Rational berdasarkan hasil tes penggolongan kepribadian.Hasil
penelitian menunjukkan bahwa (1) dalam mengidentifikasi asumsi SR mampu
menentukan asumsi secara visual atau melalui gambar. (2) dalam menentukan akibat
dari suatu ketentuan/keputusan, SR memahami dan mampu menggunakan segala
asumsi ataupun ketentuan/keputusan/kesimpulan yang dibuatnya dalam
penyelesaian masalah akan tetapi tidak dapat menjelaskannya secara rinci. (3) dalam
mengungkap data/fakta/teorema yang dibutuhkan dalam penyelesaian masalah (a)
SR merepresentasikan atau memvisualkan informasi yang ada dalam bentuk
gambar. (b) SR tidak menuliskan hal-hal yang ditanyakan secara jelas akan tetapi
memvisualkannya dalam bentuk gambar. (c) dalam menyusun rencana penyelesaian
masalah SR selalu memperhatikan informasi yang ada sehingga penyelesaian
masalah yang dipilihnya selalu berdasarkan informasi tertentu/beralasan bukan
hanya berdasarkan intuisi belaka. (d) dalam menentukan langkah penyelesaian
masalah begitu juga saat melakukan manipulasi matematika, SR selalu
memperhatikan tujuan yang ingin dicapai (hal yang ditanyakan). (e) SR melakukan
pengecekan terhadap hasil pekerjaannya. (4) dalam menganalisis informasi SR
menguraikan, menghubungkan dan menyusun kembali informasi tersebut untuk
digunakan dalam penyelesaian masalah.
Kata Kunci: Kemampuan Berpikir Kritis, Pemecahan Masalah Matematika, Kepribadian
Rational.
328
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
PENDAHULUAN
Salah satu pelajaran dasar yang sangat penting dikuasai oleh siswa mulai
dari tingkat dasar adalah Matematika. Pembelajaran yang berkualitas diharapkan
dapat menjadi saran bagi pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas
pula. Anak-anak Indonesia yang berkualitas merupakan tumpuan bagi masa depan
bangsa. Sebagaimana pendapat kepala Pusat Kurikulum Balitbang Depdiknas
yang menyatakan bahwa: “Sistem persekolahan yang ada sekarang pada
umumnya belum menghasilkan lulusan sesuai yang diharapkan (Siskandar, 2002:
12).”
Hasil pengamatan penulis dan wawancara dengan guru SDN 183 Inpres
Mangngai Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros, diketahui bahwa kemampuan
siswa dalam meyelesaikan soal-soal komunikasi masih rendah. Kemampuan
komunikasi Matematika akan membuat seseorang bisa memanfaatkan Matematika
untuk kepentingan diri sendiri maupun orang lain. Kemampuan siswa
mengilustrasikan dan menginterprestasikan berbagai masalah dalam bahasa dan
pernyataan-pernyataan Matematika serta dapat menyelesaikan masalah tersebut
menurut aturan atau kaedah Matematika, merupakan karakteristik siswa yang
mempunyai kemampuan komunikasi Matematika.
Untuk mencapai proses mengajar yang efektif dan efesien, tidak hanya di
capai dengan metode yang bersifat “teacher center” atau pengajaran satu arah
yang berpusat pada guru. Rendahnya komunikasi siswa tersebut dapat dilihat dari
hasil identifikasi awal penulis sendiri selama mengajar di Kelas V SDN 183
Inpres Mangai Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros, hanya sekitar 46% dari 25
siswa yang mampu mencapai skor rata-rata kemampuan komunikasi Matematika
yakni 2,50 sedangkan yang lainnya hanya berada pada nilai di bawah nilai kriteria
kemampuan komunikasi Matematika minimal yakni 3,00 (Hasil Tes Awal
Kemampuan Komunikasi Matematika, Oktober 2014).
Rendahnya komunikasi Matematika karena siswa kurang memahami setiap
materi dalam pelajaran Matematika. Karena
kurangnya pemahaman konsep
dasar Matematika pada siswa dan kurang aktifnya siswa dalam proses
pembelajaran pelajaran Matematika. Dalam Pendekatan Matematika Realistik
(PMR) lebih menekankan masalah kontekstual, penulis menganggap metode
Pendekatan Matematika Realistik cocok diterapkan di sekolah dasar.
Kemampuan minimal dari komunikasi Matematika yang diharapkan yakni
rata-rata 3,00 atau 75%. Untuk ketuntasan kelas, skor kriteria kemampuan
komunikasi Matematika minimal yakni 80% siswa mencapai skor 3,00-4,00.
(Diadaptasi dari Kemendikbud, 2006). Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis
mengadakan penelitian dengan judul ”Peningkatan Kemampuan Komunikasi
Matematika Melalui Penerapan Pendekatan Matematika Realistik pada siswa
Kelas V di SDN 183 Inpres Mangngai Kecamatan Tanralili Kabupaten
Maros”.Berdasarakan uraian dalam latar belakang, maka masalah pokok yang
dikaji dalam penelitian ini yaitu: (1) Bagaimanakah kemampuan komunikasi
Matematika dalam pembelajaran Matematika sebelum penerapan Pendekatan
Matematika Realistik? (2) Bagaimanakah kemampuan komunikasi Matematika
dalam pembelajaran Matematika setelah penerapan Pendekatan Matematika
Realistik?
329
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
Kriteria keberhasilan dalam penerapan Pendekatan Matematika Realistik ini
adalah: Adanya peningkatan kemampuan komunikasi Matematika siswa yakni
2,50 sebelum pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik menjadi
3,00 setelah pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik.
Berdasarkan permasalahan dalam penelitian berikut: “Rendahnya
kemampuan komunikasi Matematika siswa dapat ditingkatkan melalui
pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik. Maka dalam penelitian
ini diupayakan pemecahan masalah tersebut melalui Pendekatan Matematika
Realistik pada mata pelajaran Matematika konsep komunikasi Matematika pada
siswa Kelas V SDN 183 Inpres Mangai Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros,
semester II tahun pelajaran 2014/2015.
Berdasarkan atas permasalahan yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan
penelitian tindakan ini yaitu: Mengetahui kemampuan komunikasi Matematika
dalam pembelajaran Matematika sebelum dan setelah penerapan Pendekatan
Matematika Realistik.
METODE PENELITIAN
A. Setting, Lokasi, Subjek, dan Prosedur Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action
research) yang merupakan suatu daur atau siklus yang terdiri dari perencanaan,
pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Lokasi penelitian adalah SDN
183 Inpres Mangai Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros. Penelitian ini
direncanakan pada semester I Tahun Pelajaran 2014/2015. Yang menjadi subjek
penelitian ini adalah siswa Kelas V SDN 183 Inpres Mangai dengan Jumlah siswa
36 Orang, yang terdiri dari 20 perempuan dan 16 laki-laki.
Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (classroom action
research) yang merupakan suatu daur atau siklus yang terdiri dari perencanaan,
pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini bersifat deskriptif
dan bertujuan untuk mengungkapkan hasil penelitian sesuai dengan fakta dan data
yang diperoleh di lapangan.
B. Instrumen dan Data Penelitian
1. Tes Kemampuan Komunikasi Matematika
Tes pada penelitian ini berupa soal uraian yang diberikan pada akhir setiap
siklus dan berpedoman pada indikator keberhasilan untuk mengungkap
kemampuan komunikasi Matematika siswa. Jumlah soal tes untuk setiap siklusnya
terdiri dari empat butir soal.
2. Lembar Observasi
Lembar observasi ini berbentuk checklist (√) dengan alternatif jawaban
“ya” dan “tidak” untuk menandai terjadi atau tidaknya kegiatan pembelajaran
yang telah direncanakan sesuai dengan karakteristik Pendekatan Matematika
Realistik. Untuk memberikan keterangan mengenai kejadian esensial yang
diamati, lembar observasi ini memuat kolom deskripsi. Lembar observasi
digunakan oleh peneliti sebagai pedoman dalam mengamati secara langsung
selama proses pembelajaran.
C. Teknik Pengumpulan dan Analisis Data
Tes yang digunakan adalah tes awal dan tes akhir. Tes awal digunakan
untuk mengukur kemampuan awal komunikasi matematis pada kelompok kontrol
330
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
dan kelompok eksperimen. Tes akhir digunakan untuk mengetahui kemampuan
komunikasi Matematis setelah mendapat pembelajaran. Guna menghindari
spekulasi dalam menjawab soal tes, serta ditujukan dengan tujuan penelitian,
maka soal-soal tes dibuat dalam bentuk uraian. Soal tes dibuat sendiri oleh penulis
dan diuji validitasnya.
Sebelum dilakukan analisis data, terlebih dahulu dilakukan reduksi data
yaitu merangkum, memfokuskan data pada hal-hal yang penting dan menghapus
data-data yang tidak terpola dari data hasil observasi dan wawancara. Hasil tes
dianalisis untuk mengetahui kemampuan komunikasi Matematika siswa setelah
mengikuti pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Matematika Realistik.
Hasil tes ini dianalisis berdasarkan pedoman penilaian yang telah dibuat oleh
peneliti. Pedoman penilaian hasil tes dibuat berdasarkan aspek-aspek untuk
mengungkap kemampuan komunikasi Matematika yang ada pada indikator
keberhasilan.
Data-data hasil observasi, angket, dan tes disajikan secara deskriptif maupun
dengan tabel agar lebih mudah dianalisis. Langkah selanjutnya yaitu
membandingkan data hasil observasi, data hasil angket, dan data hasil tes untuk
mengecek keabsahan data. Untuk memperkuat data digunakan pula data hasil
wawancara dan dokumen yang berupa foto-foto selama proses pembelajaran
berlangsung. Data-data yang dianalisis kemudian digunakan untuk menarik
kesimpulan.
D. Indikator Keberhasilan
Indikator keberhasilan dalam penelitian tindakan ini adalah bila rata-rata
komunikasi siswa dapat mencapai nilai minimal 3,0 dari standar yang diterapkan
seperti telah dituliskan di atas dan tingkat kesulitan penyerapan pemahaman
siswa melalui Pendekatan Matematika Realistik telah dapat direduksi sebesar
3,5%.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian
1. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus I
Berdasarkan analisis hasil tes pada siklus I diketahui bahwa nilai rata-rata
siswa berdasarkan skor total aspek kemampuan komunikasi Matematika, belum
memenuhi indikator keberhasilan dalam penelitian ini. Nilai rata-rata siswa adalah
61,03 dan berada dalam kategori sedang. Dari hasil reflekasi diketahui bahwa
selama pelaksanaan tindakan pada siklus I terdapat beberapa masalah atau kendala
yang muncul sehingga berpengaruh pada ketercapaian indikator keberhasilan.
Berdasarkan hasil refleksi, akan diadakan perbaikan tindakan untuk mengatasi
kendala-kendala yang menghambat ketercapaian sasaran pada siklus I.
2. Deskripsi Hasil Penelitian Siklus II
Secara umum pelaksanaan tindakan pada siklus II sudah lebih baik daripada
siklus I. Perbaikan yang direncanakan untuk siklus II sudah terlaksana dengan
baik sehingga masalah yang muncul pada siklus I sudah tidak terjadi pada
pelaksanaan tindakan siklus II. Matematika dengan benar. Diskusi yang dilakukan
secara berpasangan lebih efektif karena semua siswa tampak terlibat dalam
aktivitas diskusi. Dari analisis hasil tes diketahui bahwa rara-rata nilai siswa sudah
mencapai pada kategori tinggi yaitu 67,66.
331
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
B. Hasil Tes dan Observasi
1. Hasil Tes Siklus I dan Siklus II
Hasil tes pada siklus I dan siklus II digunakan untuk mengetahui ada
tidaknya peningkatan kemampuan komunikasi Matematika siswa setelah
mengikuti pembelajaran dengan pendekatan inkuiri dari siklus I ke siklus II. Ber
dasarkan analisis hasil tes siklus I dan siklus II diperoleh data sebanyak 26 siswa
atau 74,28 % dari jumlah siswa mengalami peningkatan kemampuan komunikasi
Matematika berdasarkan skor total aspek kemampuan komunikasi Matematika
siswa.
Tabel 2. Banyaknya Siswa yang Mengalami Peningkatan Skor
untuk Setiap Aspek Kemampuan Komunikasi Matematika
Banyaknya
Persentase
Peningkatan
Kemampuan memberikan alasan rasional 18 siswa
51,42 %
terhadap suatu pernyataan
Kemampuan mengubah
16 siswa
45,71 %
bentuk uraian ke dalam
model Matematika
Kemampuan
25 siswa
71,43 %
mengilustrasikan ide-ide
Matematika dalam bentuk
uraian yang relevan
Peningkatan kemampuan komunikasi Matematika siswa juga dapat ilihat
dari hasil rata-rata nila i tes pada siklus I dan siklus II. Berikut adalah diagram
yang menunjukkan perbandingan hasil rata-rata nilai tes pada si klus I dan siklus
II:
Aspek
Gambar 1. Diagram Perbandingan Rata-Rata Nilai Tes Siklus I dan Siklus II
Dari diagram 1, dapat dike tahui bahwa rata-rata nilai tes meningkat dari
siklus I ke siklus II. Nilai rata-rata pada siklus I adalah 61,03 dalam kategori
sedang, dan pada siklus II meningkat menjadi 67,66 dalam kategori tinggi
sehingga peningkatan rata-rata nilai tes sebesar 10,86 %.
2. Hasil Observasi
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran dalam 2 siklus. Pada
siklus I observasi dilakukan sebanyak 3 kali, yaitu pada pertemuan ke-1,
332
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
pertemuan ke-2 , dan pertemuan ke-3. Sedangkan pada siklus II observasi
dilakukan sebanyak 2 kali, yaitu pada pertemuan ke-1 dan pertemuan ke-2.
Berikut adalah data hasil observasi pelaksanaan pembelajaran dengan Pendekatan
Matematika Realistik pada siklus I dan siklus II:
Tabel 3. Data Hasil Observasi Siklus I dan Siklus II
Rata-Rata
Siklus
Pertemuan KeSkor
Keterlaksanaan
I
1
18
80%
2
20
3
22
II
1
24
94%
2
23
Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa rata-rata keterlaksanaan
pembelajaran Matematika dengan Pendekatan Matematika Realistik pada siklus I
adalah 80 % meningkat menjadi 94 % pada siklus II dan keduanya berada dalam
kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran sudah
sesuai dengan karakteristik Pendekatan Matematika Realistik.
C. Pembahasan Hasil Penelitian
Berdasarkan indikator keberhasilan penelitian ini, kemampuan komunikasi
Matematika siswa kelas V SDN 183 Inpres Mangai Kecamatan Tanralili
Kabupaten Maros dikatakan mengalami peningkatan setelah mengikuti
pembelajaran dengan menggunakan Pendekatan Matematika Realistik.
Peningkatan kemampuan komunikasi Matematika tersebut merupakan dampak
dari penerapan Pendekatan Matematika Realistik dalam pembelajaran yang secara
umum sudah sesuai dengan karakteristik dan sintaks dari Pendekatan Matematika
Realistik.
Karakteristik Pendekatan Matematika Realistik menurut Sanjaya (2008: 55)
meliputi berorientasi pada pengembangan intelekt ual, interaksi, bertanya, belajar
untuk berpikir (learning how to think), dan keterbukaan.
Karakteristik Pendekatan Matematika Realistik yang berorientasi pada
pengembangan intelektual berpengaruh positif terhadap proses berpikir siswa.
Keberhasilan belajar siswa dilihat dari sejauh mana siswa beraktivitas untuk
mencari dan menemukan. Pada pertemuan ke-1 siklus I siswa membutuhkan
waktu yang cukup lama dalam mengidentifikasi masalah, mengumpulkan serta
memproses data. Siswa masih kesulitan dalam memahami permasalahan dan soalsoal yang disajikan di LKS 1 sehingga pembelajaran masih sangat tampak
dibimbing oleh guru. Guru berpendapat bahwa hal ini wajar karena merupakan
sesuatu yang baru bagi siswa untuk mencari dan menemukan sendiri suatu rumus,
yang sebelumnya siswa terbiasa langsung menggunakan rumus dalam
memecahkan masalah, bukan melakukan penyelidikan untuk mencari dan
menemukan rumus itu sendiri. Namun pada pertemuan-pertemuan berikutnya
siswa sudah mulai terbiasa dan merasa tertantang melakukan penyelidikan untuk
mencari dan menemukan rumusnya terlebih dahulu yang kemudian
menggunakannya dalam memecahkan masalah.
Secara umum adanya interaksi antara siswa dengan siswa, siswa dengan
guru, maupun siswa dengan lingkungan selama proses pembelajaran sudah cukup
333
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
baik. Pada siklus II sebagian besa r siswa sudah berani bertanya kepada guru,
peneliti, atau siswa lainnya ketika mengalami kesulitan dalam menyelesaikan
masalah di LKS. Meskipun pada siklus I sebagian besar siswa masih belum
terbuka untuk menyampaikan ide atau gagasannya secara lisan, namun guru
memaklumi hal ini dan selalu berusaha memotivasi siswa untuk bisa lebih terbuka
dalam menyampaikan pendapatnya, berani, dan percaya diri karena salah satu
tujuan pembelajaran dengan Pendekatan Matematika Realistik adalah membentuk
rasa percaya diri pada siswa.
Berdasarkan hasil observasi dan catatan lapangan, diketahui bahwa pada
siklus I kegiatan diskusi siswa yang dilakukan dalam kelompok 4-5 siswa tiap
kelompoknya berjalan kurang efektif. Hal ini terlihat pada setiap kelompok pasti
ada 1 atau 2 siswa hanya mengobrol, bahkan ada yang jalan-jalan ke meja
kelompok lain. Namun demikian, adanya kegiatan diskusi dalam pembelajaran ini
secara umun mempunyai andil yang cukup besar dalam membantu meningkatkan
kemampuan siswa mengkomunikasikan ide dan pendapat Matematika mereka.
Pada tes siklus I siswa belum terbiasa untuk menuliskan informasi-informasi
yang ada dalam soal, meskipun ada tetapi siswa tidak menuliskannya pada setiap
soal sehingga tidak lengkap. Ber dasarkan hasil tes siklus II diketahui bahwa
siswa sudah terbiasa menuliskan informasi-informasi yang ada pada soal. Mereka
menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanyakan dari soal sebelum
akhirnya mereka menyelesaikan soal tersebut, sehingga ada 25 siswa atau 71,43 %
dari jumlah siswa mengalami peningkatan kemampuan komunikasi Matematika
secara signifikan pada aspek kemampuan mengilustrasikan ide-ide Matematika
dalam bentuk uraian yang relevan.
D. Keterbatasan Penelitian
Penelitian tindakan kelas yang dila ksanakan di kelas V SDN 183 Inpres
Mangngai Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros ini memiliki keterbatasan
penelitian, antara lain: (1) Peneliti yang dibantu oleh 2 rekan peneliti sebagai
pengamat, masih merasa kesulitan dalam melakukan obeservasi terhadap hal-hal
yang dilakukan dan yang dibicarakan siswa dalam diskusi mereka. Hal ini terjadi
karena ketika peneliti dan pengamat lain berusaha melakukan pengamatan,
beberapa siswa justru memanfaatkan kesempatan itu untuk bertanya tentang soal
yang dianggap sulit dan meminta peneliti untuk mengecek apakah jawabannya
sudah benar atau belum. (2) Ada beberapa siswa yang tidak mengikuti
pelaksanaan tindakan secara lengkap karena tidak masuk sekolah, sehingga hal ini
memungkinkan berpengaruh terhadap hasil tes siswa yang bersangkutan.
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut: (1) Pelaksanaan pembelajaran Matematika dengan
PMR sebagai upaya meningkatkan kemampuan komunikasi Matematika siswa
kelas V SDN 183 Inpres Mangai Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros, meliputi
5 tahapan yaitu: (a) Masalah. Pembelajaran dimulai dengan masalah yang
disajikan dalam LKS sebagai media penggerak pembelajaran. LKS dibagikan
kepada setiap siswa, kemudian siswa berdiskusi untuk menyelesaikan masalah
yang ada di LKS tersebut. (b) Merumuskan jawaban sementara (hipotesis) Setelah
334
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
siswa dihadapkan pada masalah yang disajikan di LKS, kemudian siswa
dibimbing untuk merumuskan hipotesis yang relevan dengan permasalahan
tersebut. Guru meminta siswa untuk menyampaikan ide Matematikanya secara
lisan tentang hipotesisnya tersebut. (c) Mengumpulkan data. Siswa melakukan
pengumpulan data dengan melakukan suatu demonstrasi secara kelompok
menggunakan media-media yang telah disediakan untuk menemukan rumusrumus keliling dan luas bangun trapesium dan laying-layang. Siswa bertanya baik
kepada guru, peneliti, maupun temannya serta menggunakan buku referensi yang
relevan untuk mendapatkan informasi ketika mengalami kesulitan dalam
menyelesaikan LKS. Siswa menganalisis data yang diperoleh secara terbuka
menggunakan cara-cara mereka sendiri yang dianggap mudah. (d) Menguji
hipotesis. Siswa mempresentasikan hasil inkuirinya untuk membuktikan
kebenaran hipotesis berdasarkan data yang telah dikumpulkan dan dianalisis.
Siswa mampu mengungkapkan ide Matematikanya secara tertulis menggunakan
gambar dan lambang Matematika serta memberikan penjelasan secara lisan
dengan menggunakan kalimat mereka sendiri tentang apa yang mereka tulis. (e)
Menarik kesimpulan. Siswa memberikan kesimpulan tentang apa yang mereka
temukan dari serangkaian kegiatan yang mereka kerjakan di LKS. Siswa
menyampaikan inti dari hasil penyelidikannya tentang rumus-rumus untuk
mencari keliling dan luas bangun trapesium dan laying-layang. (2) Setelah
diterapkan pembelajaran Matematika melalui PMR dengan tahap-tahap seperti di
atas, terjadi peningkatan kemampuan komunikasi Matematika siswa kelas V di
SDN 183 Inpres Mangngai Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros. Peningkatan
tersebut didukung dari nilai tes rata-rata kelas V SDN 183 Inpres Mangai
Kecamatan Tanralili Kabupaten Maros pada siklus I berdasarkan skor total aspek
kemampuan komunikasi Matematika adalah 61,03 dalam kategori sedang dan
pada siklus II meningkat menjadi 67,66 dalam kategori tinggi, sehingga
persentase peningkatannya sebesar 10,86 %.
Saran
Berdasarkan penelitian ini, beberapa saran sebagai pertimbangan dalam
melaksanakan pembelajaran Matematika dengan PMR, yakni: (1) Pembelajaran
dengan PMR membutuhkan waktu yang relatif banyak, sehingga penggunaan
alokasi waktu harus benar-benar diperhitungkan agar pelaksanaan pembelajaran
dapat berjalan secara optimal. (2) PMR dapat digunakan sebagai salah satu
variasi dalam pembelajaran Matematika kerena dengan menggunakan Pendekatan
Matematika Realistik ini siswa dapat terlibat secara aktif dan dapat menimbulkan
motivasi belajar sehingga siswa dapat lebih memahami konsep Matematika.
DAFTAR PUSTAKA
Ahmad Fauzan. 2002. Applying Realistic Mathematics Education (RME) in
Teaching Geometry in Indonesian Primary Schools. Enschede: Print
Partners Ipskamp.
Asmawi Z., 2006. Penilaian Hasil Belajar. Jakarta: Depdiknas.
Darto. 2008. „‟Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematika Siswa
Melalui Pendekatan Realistic Mathematic Education di SMPN 3
Pangkalan Kuras.’’ Tesis, Tidak Diterbitkan. Padang: Universitas Negeri
Padang.
335
JURNAL DAYA MATEMATIS, Volume 3 No. 3 November 2015
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2013. Kompetensi
Dasar Mata
Pelajaran Matematika Sekolah Dasar dan Madrasah Ibtidaiyah. Jakarta:
Depdikbud.
Depdiknas. 2006. Penyusunan Butir Soal dan Istrumen Penelitian. Jakarta:
Dikdasmen.
Dimyati dan Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rinneka Cipta .
Fadjar, Shadiq, 2006. Penalaran, Komunikasi, dan Pemecahan Masalah.
Jogjakarta: PPPG Matematika.
Herdian.
Kemampuan
Komunikasi
Matematika,
(online),
(http://herdy07_wordpress.com ) diakses 22 Oktober 2014.
John, A. 2008 . Matematika Sekolah Dasar dan Menengah. Jakarta: Erlangga.
LACOE (Los Angeles County Office of Education). Communication.
http://teams.lacoe.edu. 2004. diakses 22 Oktober 2014.
Marpaung, Y. 2000. Meningkatkan Kualitas Pembelajaran Maatematika di SD.
Proceeding Konperensi Nasional X Matematika. ITB, 17-20 Juli 2000.
NCTM. 2000. Principles and Standards for School Mathematics. Reston: NCTM .
Nurlaelah, E. 2009. Pencapaian daya dan Kreativitas Matematik Mahasiswa
Calon Guru Melalui Pembelajaran Berdasarkan Teori Apos. Disertasi
Doktor Pada SPS UPI. Bandung: Tidak Diterbitkan.
Purwanto dkk. 2013. Pintar Matematika Jilid 5B. Jakarta: Grasindo.
Rachmat. 2006. Belajar Matematika dengan Orientasi Penemuan dan Pemecahan
Masalah untuk SD/MI. Bandung: PT Sarana Panca karya Nusa.
Rachmadi Widdiharto, 2006, Model-Model Pembelajaran Matematika SD.
Yogyakarta. PPPG Matematika.
Sahidin, Latif. Membangun komunikasi Matematika siswa. (online) Blog Latif
Sahidin, diakses 9 Juli 2010.
Shadiq, fajar. 2004. Pemecahan Masalah, Penalaran, dan Komunikasi. Makalah
disampaikan pada Diklat Instruktur/Pengembang Matematika SMA
Jenjang Dasar di PPPG Matematika. Yogyakarta.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta:
Rinneka Cipta.
Sugiyono. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Suharsimi Arikunto. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi
Aksara.
Suherman, Erman, dkk. 2006. Strategi Pembelajaran Matematikan Kontemporer.
Bandung: FMIPA UPI.
Supinah. 2008. Pembelajaran Matematika SD dengan Pendekatan Kontekstual
dalam Melaksanakan KTSP. Yogyakarta: Pusat Pengembangan dan
Pemberdayaan Pendidik Tenaga Kependidikan Matematika.
Sutarto Hadi. 2005. Pendidikan Matematika Realisitk dan Implementasinya.
Banjarmsin: Tulip.
Syaban, Mumun. Menumbuhkembangkan Daya Matematika Siswa. Pendidikan
dan Budaya, (online), (http://educare,e-fkipunla.net, diakses (9 Juli 2014).
Utari Sumarno. 2002. Pengukuran Evaluasi dalam Pendidikan. UPI Bandung.
Wardani. 2006a. Pembelajaran dan Penilaian Kemahiran Matematika SD,
Jogjakarta: PPPG Matematika.
336
Fly UP