...

Harmonis Dalam Keragaman

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Harmonis Dalam Keragaman
RadarBangkaOnline | http://www.radarbangka.co.id
_________________________________________________________________________________________________________
Harmonis Dalam Keragaman
Kenapa kita lebih sering memaknai keragaman atau pluralitas sebagai ancaman ketimbang rahmat? Lalu bagaimana mengelola
keragaman agar kehidupan sosial kita tetap harmoni dan menjadi sumber kekuatan di mata dunia? Untuk menjawab pertanyaan
tersebut, ada baiknya kita telusuri akar keragaman dari sudut pandang eksistensial (personal) manusia, sosial dan institusional.
Melalui akar personal itu kita akan melihat sejauh mana keragaman mungkin dan di mana batasannya. Kemudian, keragaman
individu dalam kehidupan sosial mengerucut menjadi identitas kelompok. Dalam konteks inilah diskusi megenai politik identitas
menjadi krusial, untuk menelusuri akar keragaman pada dimensi sosial. Selain itu, keragaman dapat pula kita lihat wujudnya dalam
kerangka institusional.
Dimensi EksistensialKeragaman atau pluralitas, dalam pengertian paling radikal, menyangkut perbedaan antar manusia. Saya dan
Anda berbeda. Bahkan dua saudara kembar sekalipun, tak akan luput dari perbedaan.
Perbedaan ini bermula dari keterbatasan pada diri manusia. Keterbatasan manusia dapat kita telusuri secara empirik dari perangkat
lunak yang menjadi dasar ekspresi manusia. Manusia lahir melalui tiga perangkat ini, panca indra, akal, dan bahasa. Interaksi
manusia atas dasar perangkat lunak yang terbatas melahirkan perbedaan pada saat menyatakan diri di ruang publik.
Pertama, panca indera. Panca indera pada masa pencerahan mula-mula dilirik sebagai sumber pengetahuan. Namun begitu, panca
indera memiliki keterbatasannya sendiri. Keterbatasan panca indera terletak pada keterbatasan organ fisiknya. Keterbatasan panca
indera menyumbangkan banyak perbedaan dalam memahami sesuatu. Contoh paling terkenal adalah analogi tiga orang buta ketika
meraba gajah.
Kedua, akal. Akal lebih luas ketimbang panca indera. Jika indera tidak bisa mengatasi objek yang ia cerap pada ruang dan waktu
yang berbeda, maka akal diyakini dapat mengatasi keterbatasan tersebut. Akal kemudian diyakini sebagai sumber pengatahuan
utama. Rene Descartes, bapak filsafat moderen, melahirkan jargon terkenal: cogeto ergo sum (aku berpikir maka aku ada)
(Descartes, 1977).
Meski akal dapat melengkapi pencerapan panca indera, bukan berarti akal sempurna. Immanuel Kant (filosuf modern), menunjukan
keterbatasannya. Menurut Kant, akal hanya mempu melakukan inferensi manakala ia menggunakan kategori yang tersedia. Tanpa
kategori-kategori, akal tidak berguna. Ia tidak lebih dari gudang data (Kant, 1965).
Pada gilirannya, keterbatasan akal menyumbang perbedaan pendapat dan kepercayaan. Baik itu atas objek fisik atau metafisik.
Keragaman atau Pluralitas lantaran keterbatasan akal niscaya hukumnya. Perdebatan tersebut semata-mata lantaran akal pikir
manusia terbatas. Dalam perkembangannya, muncul gagasan bahwa keterbatasan indera dan akal sebagai akar keragaman
diperuncing oleh bahasa. Bahkan Ferdinand de Saussure, meyakini bahwa tidak ada pengetahuan tanpa bahasa (Saussure, 1974).
Perbedaan agama dengan ribuan keyakinannya adalah bukti betapa masing-masing orang mengambil cara ucap yang berbeda untuk
memahami dan menghayati Sang Ada Absolut. Di sinilah pluralitas eksistensial itu bercokol.
Dengan demikian, akar eksistensial keragaman atau pluralitas manusia terletak keterbatasan panca indera, akal dan bahasa.
Menyeragamkan pikiran, persepsi dan pengetahuan selalu menelan korban. Sebab pada dasarnya, manusia unik dan masing-masing
tampil dalam kesunyiannya masing-masing.
Dimensi SosialNamun begitu, keterbatasan panca indera, akal dan bahasa yang mendasari keragaman tidak berarti memusnahkan
persamaan. Interaksi antar manusia di lingkungan sosial melahirkan sejumlah persamaan dan perbedaan.
Interaksi yang melahirkan perbedaan dan persamaan pada gilirannya membentuk kelompok-kelompok. Kelompok tersebut mulai dari
sekala kecil ‘keluarga’ hingga terbesar ‘bangsa’. Persamaan-persamaan yang teridentifikasi dalam
kelompok inilah yang kini kita kenal dengan identitas.
Keragaman identitas di ruang publik tidak tumbuh berkembang dengan mulus. Acap kali ada gesekan antara satu identitas dengan
identitas lainnya. Gesekan tersebut didorong oleh faktor kekuasaan. Kehendak berkuasa tak terelakan pada diri manusia, manakala
ia tampail ruang publik. Terlebih dia tampail mewakili identitas tertentu. Dia akan merasa paling berhak menentukan aturan main
ketimbang indetitas lainnya. Sehingga identitas tertentu bisa menghakimi atau meminggirkan identitas lainnya.
Di sinilah jarak antara pengetahuan akan keragaman artifisial tidak berbanding lurus dengan harmoni di lingkungan sosial kita. Alihalih harmoni, perbedaan identitas lebih sering tampil dengan berbagai konflik dan bahkan berakhir menjadi aksi kekerasan.
Dimensi Institusional Keragaman eksistensial yang mengambil wujud sosialnya dalam politik identitas, akan menjadi rahmat atau
musibat, bergantung pada bagaimana institusi negara mengelolanya. Rezim ikut menentukan apakah keragaman identitas bisa
dipertahankan sebagai sumber kekuatan atau sumber kelamahan suatu bangsa.
Keragaman sebagai sumber kekuatan bangsa tidak tumbuh dari kesadaran warga. Gotong royong yang selalu kita banggakan
sebagai jati diri bangsa, nyatanya bentukan rezim. Pada masa transisi, negara memang agak lemah. Pemerintahan lebih fokus pada
upaya memantapkan struktur politik yang lebih adil dan demokratis.
Selain itu, kemampuan negara di bidang keamanan juga melemah. Lembaga keamanan tidak lagi percaya diri sebagaimana pada
masa sebelumnya. Kelemahan negara pada masa transisi inilah yang membuat politik identitas antar masyarakat tidak jarang
berakhir dengan kekerasan.
Politik identitas di Indonesia pada masa transisi ini makin mengerikan. Gerakan sosial atas nama identitas keagamaan, khususnya
Islam seringkali berakhir dengan menelan korban. Mulai dari isu aliran sesat, rumah ibadah tak berizin, dan menegakkan negara
Islam dengan teror sebagai jalan. FPI adalah salah satu organsiasi sosial yang sering tampail di muka publik dengan wajah beringas.
Sementara Jamaah Islamiyah menyalurkan aspirasinya melalui jalur kekerasan melaui sejumlah aksi teror.
Harmonisasi KeragamanJika keragaman identitas mengakar dalam setiap diri kita, maka keharmonisan sosial harus kita ciptakan
sendiri. Untuk itu perlu kesadaran masing-masing kita bahwa keragaman tidak bisa kita tolak. Sebab, hakikat kemanusiaan adalah
perbedaan dan keragaman akibat panca indera, akal dan bahasa kita yang terbatas.
Namun apakah kesadaran saja cukup? Tentu saja tidak. Dalam survei LSI bersama Lazuardi Birru tahun 2010 terungkap, enam dari
10 orang Indonesia tidak bisa menerima jika disekitarnya dibangun rumah ibadah agama lain.
Untuk mengatasinya adalah komitmen pemerintah terhadap penegakan hukum. Agenda pengakan hukum harus menjadi prioritas
mempercepat masa transisi menuju konsolidasi demokrasi.
Menekan warga untuk tidak menyalurkan aspirasinya melalui cara kekerasan saja tidak cukup. Upaya ini harus dibarengi dengan
membuka ruang kontestasi yang selebar-lebarnya. Sehingga, aspirasi tersalurkan dengan baik dan melalui mekanisme yang adil,
transparan dan bertangung jawab. Dengan begitu, keragaman bisa kita rayakan melalui kontestasi yang sehat.
Dengan demikian, keragaman memiliki akar terdalam dalam diri kita. Yakni keterbatasan sumber pengetahuan kita; panca indera,
akal, dan bahasa. Oleh karena itu, agar keragaman menjadi kekuatan ketimbang malapetaka, kita memerlukan harmonisasi.
Harmonisasi keragaman harus datang dari dalam diri, bukan dari luar. Kesadaran tersebut adalah kesadaran eksistensial. Yakni,
perbedaan dan keragaman tidak bisa kita tolak. Sekaligus kita juga tidak bisa memaksakan keragaman menjadi keseragaman. (**)
Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial Keagamaan
_________________________________________________________________________________________________________
Dibuat pada :06 July 2016 03:18:56
Fly UP