...

I N D O N E S I A I N D O N E S I A

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

I N D O N E S I A I N D O N E S I A
1
| Majalah Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda | No. 1 - 17 Agustus 2009 |
JONG
I N D O N E S I A
Suka Duka
Kuliah di
Belanda
No. 1 - 17 Agustus 2009
- Tahun
- JONG(Wageningen)
INDONESIA
Foto:
Jimmy IPerdana
2
Salam
“Apalah arti sebuah nama?” kata
Shakespeare. “Bukankah mawar
akan tetap harum, meski kita sebut
dengan nama lain?” Mungkin, bagi
Shakespeare nama hanya sekedar
nama. Berbeda ketika Indische
Vereeniging atau Perhimpunan
Hindia yang berdiri tahun 1908
diubah
namanya
menjadi
Indonesische Vereeniging atau
Perhimpunan Indonesia. Nama
buletinnya pun diubah dari Hindia
Poetera menjadi Indonesia Merdeka
tahun 1924. Perubahan nama itu dan
pencantuman nama Indonesia
membawa pengaruh yang luar biasa.
Setelah 101 tahun berlalu,
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI)
Belanda, yang punya kaitan historis
dan semantis dengan Indische
Vereeniging dan Perhimpunan Indonesia, menerbitkan sebuah majalah
online, untuk menghidupkan kembali
semangat perjuangan lewat media.
Ada sekitar 1500 pelajar Indonesia di
Belanda. Mereka adalah anak
bangsa yang cerdas dan militan.
“Masa untuk menerbitkan sebuah
majalah, tidak bisa?” Itulah yang
menggerakkan penerbitan majalah
ini.
Proses inisiasi dan perekrutan
dimulai sejak Maret 2009. Namun,
memilih dan menentukan nama media itu tidak selesai dalam semalam.
Sebelumnya ada beberapa nama
yang muncul: Jembatan, Indonesia
Muda, Agora, van Indonesie, Tinta
Ilmu, Penggiat Indonesia, dan Indonesia Maju. Dari nama-nama itu
akhirnya mengerucut menjadi dua:
Indonesia Muda dan van Indonesie.
Perdebatan di redaksi cukup alot.
Ketika di-voting, hasilnya 50:50.
Akhirnya, kami meminta warga PPI
Belanda untuk menentukan nama
majalah ini lewat poling online.
Sebanyak 208 voters berpartisipasi.
Ketika deadline ternnyata hasilnya
masih sama 50: 50. Lalu dalam rapat
online redaksi, muncul usulan nama
Jong Indonesia
Indonesia. Nama itulah yang
akhirnya dipilih dan disepakati.
Kenapa Jong Indonesia? Seperti
kita tahu, menjelang Sumpah
Pemuda 1928, banyak muncul
perkumpulan seperti Jong Java, Jong
Sumateranen Bond, Jong Celebes,
dan lain-lain. Jong Indonesia atau
Jong Indonesie adalah nama
Redaksi
organisasi yang didirikan di Bandung
1927. Mereka menggunakan warna
merah putih dan kepala banteng
sebagai simbol. Nama organisasi ini
kemudian diubah menjadi Pemuda
Indonesia untuk yang berjenis
kelamin laki-laki dan Putri Indonesia
bagi yang perempuan.
Pemuda Indonesia membuat
kongres di mana pada kongres yang
kedua menghasilkan Sumpah
Pemuda, 28 Oktober 1928. Dengan
semangat Sumpah Pemuda 1928,
JONG Indonesia ingin mengajak
para pemuda, khususnya pelajar Indonesia di Belanda, untuk
menyumbangkan pemikirannya
untuk Indonesia yang lebih baik.
Majalah ini diharapkan menjadi
media pembelajaran, transfer
informasi dan pengetahuan; mempererat-memperluas persaudaran
antarmahasiswa Indonesia di
Belanda; dan memberikan masukan
terhadap perubahan menuju Indonesia yang lebih baik.
Penerbitan majalah versi online
dipilih karena pertimbangan: lebih
murah dan hemat kertas; dan pelajar
Indonesia di Belanda sebagian besar
bisa mengakses internet. Majalah
online ini berbasis web di http://
majalah.ppibelanda.org. Format web
juga memungkinkan untuk meng-update informasi-informasi penting dan
aktual dalam bentuk berita (straight
news). Versi majalah dengan format
PDF juga kami sediakan, sehingga
bisa diunduh dan dicetak.
Jong Indonesia mengajak kawankawan PPI Belanda dan siapa saja
untuk menulis dan berbagi. Sebab,
seperti kata Pramoedya Ananta Toer,
“Orang boleh pandai setinggi langit,
tapi selama ia tak menulis, ia akan
hilang di dalam masyarakat dan dari
sejarah.”
Yohanes ’Masboi’ Widodo
Pemimpin Umum/
Sekjen PPI Belanda
JONG INDONESIA - Majalah online PPI Belanda. Pemimpin Umum: Yohanes
Widodo (Wageningen) Pemimpin Redaksi: Yon Daryono (Denhaag) Sekretaris
Redaksi: Yessie Widya Sari (Wageningen) Staf Redaksi: Asti Rastiya (Denhaag)
Sujadi (Leiden) Dian Kusumawati (Amsterdam) Amar Ma’ruf (Amsterdam)
Rahma Saiyed (Denhaag) Henky Widjaja (Denhaag) Prita Wardani (Denhaag)
Meditya Wasesa (Rotterdam) Hosea Sapto Handoyo. Fotografer: Qonita S
(Eindhoven) Jimmy Perdana (Wageningen)
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
3
Utama
“Wah enaknya, ya, bisa kuliah di
Belanda.” Demikian komentar yang
seringkali dilontarkan oleh teman
atau kerabat terhadap orang yang
belajar di luar negeri, khususnya di
Belanda. Kuliah di Belanda itu enak,
menyenangkan, bisa jalan-jalan,
dan lain-lain. Benarkah demikian?
Qonita S, Yessie Widya Sari, dan
Asti Rastiya dari Jong Indonesia
mengumpulkan kisah, pengalaman,
dan komentar anggota PPI Belanda
tentang suka, duka, perjuangan
mereka selama belajar dan hidup di
Belanda. Laporan dirangkum oleh
Yohanes ‘Masboi’ Widodo. Redaksi
Suka Duka
Kuliah di
Belanda
Picture is taken from http://www.readerbookpatch.com
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
4
Sukanya kuliah di Belanda
J
ika ditanya apa enaknya
belajar di Belanda, yang
mesti disebutkan pertama
adalah bahasa. Ini harus diakui.
NESO Indonesia, penyelenggara
beasiswa Stuned, bahkan punya
tagline: “In English, for sure!” Ya,
meskipun kita belajar di Belanda
namun kita ‘cukup’ menguasai
Bahasa Inggris. Di Belanda, Bahasa
Inggris bisa dibilang bahasa kedua.
Hampir 80 persen orang Belanda
bisa berbahasa Inggris. Dimanapun
kita berada, setiap kali ketemu orang,
mereka bisa berbahasa Inggris.
Ini diakui oleh Arya Adriansyah
dari TU Eindhoven, bidang Computer
Science
and
Engineering,
spesialisasi Architecture of Information System. “Sebagian besar orang
Belanda bisa berbahasa Inggris,
sehingga tidak terlalu sulit
berkomunikasi, termasuk ketika
kuliah,” ujar Arya. “Dibandingkan
dengan negara tetangga seperti
Jerman, Italia, dan Perancis, orang
Belanda lebih lebih foreigner friendly,
relatif lebih rapi atau teratur,” ujar
Renaldi, mahasiswa TU Eindhoven
jurusan Sustainable Energy Technology.
Kedua, banyaknya mahasiswa
yang belajar di Belanda. Menurut
catatan Nuffic, ada sekitar 1.500
pelajar Indonesia di Belanda.
“Banyaknya teman-teman dari Indonesia memungkinkan proses
adaptasi dengan lingkungan relatif
cepat dan meminimalisir culture
shock,” tambah Arya. Satu hal yang
sangat
menyenangkan
bisa
memasak dan makan bareng, pergi
jalan-jalan bareng, dan nongkrongnongkrong bareng dengan temanteman Indonesia.
Ketiga, kualitas universitas,
perkuliahan dan pendidikan. “Dilihat
dari semua sisi universitas di
Belanda. Setidaknya, ia melihatnya
dari tiga hal: human resource,
fasilitas, dan support center universitas. Perkuliahan di kampus Belanda
merupakan sistem yang lebih banyak
diskusi dan berbagi pengalaman
dengan sesama mahasiswa dari
berbagai Negara, tidak melulu fokus
pada buku teks,” ujar Dilli Sagala,
alumni ICHD KIT Amsterdam 2008.
Dosen di Belanda berkompeten
dan egaliter. “Para dosen terbuka
untuk diskusi diluar jam kuliah dan
melek teknologi. Dosen juga punya
riset yang sejalan dengan kuliah,
sehingga ilmu-ilmunya benar-benar
up to date, bahkan kadang-kadang
punya tools sendiri,” papar Arya.
“Dosen
tidak
pernah
memaksakan idenya kepada
mahasiswa. Dengan kata lain
tersedia ruang untuk kebebasan
dalam berfikir dan memaksimalkan
potensi diri,” jelas Hustarna, master
Dr
.Ir
o, M.Sc.
Dr.Ir
.Ir.. Gembong Baskor
Baskoro,
Belajar Kehidupan
Technische Universiteit
Eindhoven Jurusan
Technologie Management
(PhD 2001-2006).
Saat ini Rektor Universitas
Widya Kartika Surabaya
Kuliah tidak hanya belajar
selama di kampus saja tapi juga
dari faktor eksternal lingkungan,
masyarakat, pergaulan, persoalan
hidup, dan lain-lain. Selama saya di
Belanda, kuliah sebagai AiO (PhD)
dengan anak tiga orang, tentu saja
merupakan perjuangan yang
sangat berat. Namun pelajaran,
hikmah, yang saya petik tiada
bandingnya.
Saya tidak hanya kuliah untuk
diri saya sendiri, tapi kami
sekeluarga dapat belajar banyak
dari kehidupan selama di Belanda
dan daratan Eropa. Selama kurun
itu saya aktif bersama mahasiswa
Indonesia (PPI) di seluruh Eropa
dalam berbagai kegiatan PPI di
berbagai kota Eropa. Tentu saja
kegiatan lain yang berhubungan
dengan kuliah saya juga berjalan
paralel.
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Pengalaman tersebut telah
menempa kemandirian,
kemampuan mengorganisir,
mengambil keputusan, dan
bersikap fokus seperti gaya
managemen Belanda pada
umumnya. Saya selama di kampus
juga aktif mengikuti Phd Council
dengan rekan-rekan dari berbagai
negara untuk memperjuangkan
kami di fakultas. Interaksi itulah
yang memberikan pelajaran di luar
akademis terhadap budaya
managemen Belanda. Selain itu
interaksi kami dengan keluarga asli
Belanda juga merupakan
pengalaman indah buat kami
sekeluarga. Rasa gotong royong
rakyat Belanda kami rasakan
melebihi rakyat Indonesia pada
umumnya. Empati akan sesama
jauh lebih kuat, dan rasa sosial dan
kesetia kawanan juga menonjol.
Hal ini kami rasakan bukan sebagai
teori namun kenyataan hidup kami
sekeluarga.
Saat ini dalam pekerjaan dan
jabatan saya di tanah air,
pengalaman tersebut dan jaringan
yang ada sangat membantu
kehidupan kami ditanah air. Kami
tetap melanjutkan hubungan
tersebut hingga saat ini.***
5
Irene Panuju, jurusan ICT, Fontys
University of Applied Sciences,
Eindhoven.
Aprilianto Eddy Wiria, Immunology
Department of Parasitology, LUMC
Leiden.
Arya Adriansyah, jurusan Computer
Science and Engineering, TU
Eindhoven
Linguistics di Radboud University
Nijmegen menyoroti hubungan dosen
dan mahasiswa yang setara.
Mahasiswa bisa menyampaikan
pendapat meski bertentangan
dengan dosen atau fasilitator.
“Fasilitatornya kebanyakan para
pakar di bidangnya masing-masing
yang berasal dari berbagai negara
dan organisasi internasional,
termasuk dari WHO, sehingga
merupakan pengalaman yang sangat
berharga,” tambah Dilli yang
mengambil program internasional
pembangunan kesehatan.
“Dosen lebih berdedikasi.
Mengajarnya jelas. Mata kuliah
dikupas sampe sebiji-bijinya. Kalau
kita ada komplain ke dosen, misalnya
dia absen tanpa keterangan atau
mengajar kurang jelas, bisa dilaporin
ke universitas,” ujar Irene Panuju,
mahasiswa tahun kedua jurusan ICT,
Fontys University of Applied Sciences, Eindhoven.
“Kita ditantang untuk berpikir
secara kritis dan mandiri, bukan
hanya menerima dan menelan
mentah-mentah. Saya ingat pesan
dosen saya: kita boleh saja lupa
dengan semua rumus, toh itu bisa
dilihat di banyak buku. Yang
terpenting justru bagaimana kita
mampu berpikir sistematis untuk
menyelesaikan masalah dengan
baik. Mulai dari mencari penyebab
sampai melakukan evaluasi dampak
dari hasil kerja kita,” ujar Margaetha
Siregar atau Margie, alumni
UNESCO-IHE 2007-2009, Delft.
“Dosen bisa dipanggil langsung
dengan namanya. Meski awalnya
kurang sreg, tapi itu cukup efektif
untuk menghilangkan jarak guru
dengan murid dan menghindari
feodalisme dalam dunia pendidikan,”
ujar Selamet Hidayat, mahasiswa
Royal Tropical Institute (KIT)
Amsterdam, Jurusan Public Health.
“Perbedaan strata antara dosenmahasiswa tidak keliatan. Jadinya,
mahasiswa
lebih
berani
berpendapat, berkreasi, nyari-nyari
ide tanpa takut dapet nilai jelek
karena dosennya tidak suka,” kata
Renaldi.
Fasilitas yang mendukung ilmu
pengetahuan tersedia dengan
melimpah ruah. “Universitas punya
akses ke jurnal-jurnal aktual,
kecepatan internetnya kencang
tanpa batas. Di sini komputer
diperbarui terus. Mahasiswa juga
mendapat jatah printer gratis,” kata
Arya.
“Akses jurnal kedokteran yang
lebih lengkap, seminar-simposiadiskusi melimpah ruah merupakan
kemewahan bagi orang yang ingin
menjadi ilmuwan,” kata Aprilianto
Eddy Wiria, mahsiswa PhD jurusan
Immunology Department of Parasitology, LUMC Leiden.
Perpustakaan juga melayani
mahasiswa secara penuh. “Rata-rata
perpustakan dibuka hingga malam
hari, terutama pada musim exam.
Perpustakaan juga sedia buku-buku
terbaru, langganan majalah-majalah
yang memang menunjang,” tambah
Arya.
Support center kampus juga
diakui bagus. “Segala bisa diurus/
ditanyain ke Support Center, mulai
dari cara apply residence permit, ijin
kerja, nanya-nanya arti surat-surat
berbahasa
belanda,
dan
ngebantunya tidak pakai sinissinisan,” kata Arya. Arya pernah
menanyakan tentang Internet ke Support Center dan mereka langsung
telpon provider Internetnya. “Jika
memerlukan surat keterangan juga
relatif cepet. Mintanya pagi, dapatnya
siang atau sore,” tambahnya.
Selain itu, ada satu lagi yang
penting menurut Arya. “Sekolah di
Belanda kerjasama sama industrinya
oke.” Menurutnya, riset-riset yang
dikerjain banyak yang memang
dibutuhkan oleh industri. Bahkan
tools yang dikembangkan bisa jadi
“dicontek” oleh produk-produk
komersil. Disini juga disupport software-software komersil yang up to
date. “Kemarin tutorku memesan satu
software simulasi buat ngajar, dan
berhasil dapet lisensi untuk 60 orang
dalam waktu kurang dari tiga bulan.
Padahal
harga
softwarenya
lumayan,” katanya.
Selain tentang kampus dan
perkuliahan, beberapa anggota PPI
menyoroti tentang transportasi dan
lalu lintas di Belanda yang tertib dan
teratur. “Sistem transportasi massal
‘luar biasa’. Tidak bisa diungkapkan
dengan kata-kata. Istilah dia
‘mendekatkan yang jauh dan
merapatkan yang sudah dekat’
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
6
Rezki Lestari Arief, Institute of
Social Studies The Hague Jurusan
Economic of Development 2007.
karena mudahnya koneksi. Di
Belanda itu tidak ada kota yang jauh,
semuanya dekat, “ ujar Selamet .
“Jalanan di sini juga pedestrianfriendly. Trotoarnya lebar-lebar dan
tidak dibajak PKL. Benar-benar
melengkapi lingkungannya yang juga
minim polusi, baik polusi udara, air,
tanah, maupun suara,” ujar Irene
Panuju.
Di Belanda jalur pejalan kaki, jalur
sepeda dan jalur mobil/bus/tram
yang terpisah dengan baik. Tidak
rebutan kayak di Indonesia. Mobil
mengalah dengan sepeda, sepeda
mengalah dengan pejalan kaki. “Apa
tidak terharu lihat Mercedes atau Audi
kinclong tiba-tiba mengerem
mendadak karena ada sepeda
bututku mau lewat? Di mana lagi bisa
begini?” tanya Selamet.
Belanda juga menjadi surga bagi
pengendara sepeda. “Meski ada
yang pernah bilang, Jogja juga kota
sepeda, tapi kenyamana naik sepeda
baru saya rasakan di Belanda. Tak
perlu takut keserempet kendaraan
seperti motor dan mobil. Keadaan di
Belanda, membuat saya tahan
meninggalkan tanah kelahiran demi
cita-cita,” ujar Rezki Lestari Arief atau
Kiki, lulusan Institute of Social Studies The Hague Jurusan Economic of
Development 2007.
Urusan makan juga tidak ada
masalah. Hampir semua bahan
makanan Indonesia tersedia di
Belanda. “Bagi yang kangen
makanan Indonesia, ada Toko Asia
“Buat saya hal paling worth it atau
menyenangkan
selama hidup di
Belanda adalah
adanya kartu
“pathe”. Dengan
kartu ini kita nonton
bioskop sepuasnya
dalam sebulan
cuma dengan 18
Euro.”
Wah Nam Hong di Centrum Den
Haag. Tempat ini menjadi surga
belanja bagi penikmat masakan Indonesia: ada daun salam, terasi,
hingga tempe. Jadi, tidak usah takut
kangen masakan Indonesia selama
kuliah di Belanda,” tambah Kiki.
Makanan apa yang paling
disukai? “Durum kebab met
knoflooksaus,” kata Rezon B. Jovian,
Stenden Hogeschool, Jurusan
Informatics.
Menurut Dilli, kondisi lingkungan
Belanda juga kondusif untuk
berinteraksi dengan masyarakat, baik
lokal maupun pendatang. Secara
sosial, masyarakat Belanda juga
menghargai perbedaan dan
pluralisme.
Kehidupan beragama dapat
berjalan dengan baik. Bagi orang
muslim terdapat fasilitas ibadah yang
relatif baik untuk ukuran Eropa. “Buat
yang muslim ada mushola
(stillteruimte), ada mesjid, dan orangorang juga mengerti kalau muslim
harus ibadah lima kali sehari,” ujar
Arya.
“Masyarakat Belanda terbuka,
egaliter terus terang, namun tidak
pendendam, “tambah Selamet. “Di
sini kita bebas mengutarakan
pendapat, menyatakan yang benar
itu benar dan yang salah itu salah,”
ujar Aditya Tri Hernowo, PhD program
Ophthalmology, UMC Groningen.
Orang-orang Belanda juga dinilai
disiplin dan respek dengan waktu.
“Disini semuanya terjadwal, jadi
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Aditya Tri Hernowo, PhD program
Ophthalmology, UMC Groningen.
gampang buat bikin personal schedule.” Orang Belanda juga tidak terlalu
workaholic dibandingkan orang Asia.
“Pada saat kerja ya kerja, pada saat
libur ya libur,” tutur Renaldi.
Belanda juga bisa dibilang surga
untuk hiburan. Letak geografisnya
yang dekat dengan negara-negara
tetangga, sehingga dapat sekedar
plesir walaupun cuma di akhir pekan.
Bangunan tua atau bersejarah
dirawat dengan baik. Itulah nilai plus
kota-kota di Eropa mempertahankan
ciri dan karakter mereka. Jadinya
banyak obyek wisata bangunan tua
yang menarik, serasa hidup di golden
period di era 1800-an.
“Buat saya hal paling worth it atau
menyenangkan selama hidup di
Belanda adalah adanya kartu
“pathe”. Dengan kartu ini kita nonton
bioskop sepuasnya dalam sebulan
cuma dengan 18 Euro,” ujar
Mackenzie Hadi, mahasiswa di
Groningen.
Hal paling sederhana yang bisa
dipelajari dari orang Belanda? “On
time. Disinilah saya belajar on time
dan alhamdulillah sekarang saya
sudah lumayan tidak ngaret seperti
dulu lagi,” kata Selamet.
“Manajemen dan ketepatan waktu
yang mengagumkan, hidup hemat
ala Belanda, perbedaan status sosial
yang tidak mencolok, bersikap apa
adanya tanpa menghakimi orang
lain,” tambah Margie.***
7
Dukanya kuliah di Belanda
B
erbagai fasilitas dan
kemudahan
yang
ditawarkan oleh kampus
serta keunikan alam yang ditawarkan
negeri Kincir Angin menjadi magnet
tersendiri bagi pelajar Indonesia
untuk belajar di Belanda. Sehingga
bisa dimaklumi histeria para calon
pelajar Indonesia, manakala angin
segar tersebut berubah menjadi
kenyataan: kepastian bahwa dirinya
akan berangkat ke Belanda, sebuah
negera yang memiliki hubungan
historis kuat dengan Indonesia.
Berbeda dengan apa yang
dialami Rara Diantari, penerima
beasiswa Stuned yang belajar di
Wageningen University. Keraguan
akan segala kemampuan dirinya
untuk bisa menyelesaikan studi justru
mulai membayangi dirinya. Ketakutan
Rara cukup beralasan, mengingat
banyak aspek harus diadaptasi.
Wajar jika histeria tersebut meluruh
seiring berjalannya waktu. Bahkan,
kebahagiaan tersebut mulai pudar
sejak awal kedatangan.
Tingginya
minat
pelajar
Internasional untuk melanjutkan studi
di Wageningen University membuat
pihak universitas kesulitan untuk
menyediakan apartemen. Beberapa
pelajar
Indonesia
sempat
mendapatkan imbasnya. Mereka
harus mengungsi ke bungalow yang
jaraknya sekitar 25 km dari kampus.
Selain harus berjuang dengan
masalah waktu dan jarak tempuh,
mereka harus berjuang untuk
bertahan hidup dengan kondisi bungalow yang kurang kondusif.
Fase kesulitan hidup sangat kental
mewarnai
bulan-bulan
awal
kehidupan pelajar Indonesia. Rindu
kampung halaman alias home sick
dapat dipastikan terjadi. Terutama
bagi sang bunda yang meninggalkan
ananda tersayang nun jauh di sana.
Perbedaan gaya dan pola hidup
adat ketimuran dan kebaratan, juga
menjadi kendala, setidaknya dari
pola makan dan adat istiadat di
kamar mandi. Orang Indonesia bisa
dibilang belum makan kalau belum
menyantap nasi. Beruntunglah bagi
mereka
yang
bisa
segera
Rara Diantari, penerima beaiswa
Stuned, Wageningen University
menyesuaikan
diri
dengan
mengonsumsi roti.
Bagamana nasib rekan-rekan
yang sistem metabolismenya belum
bisa menyesuikan diri? Jangan
khawatir. Beras dan bumbu-bumbu
masak khas Indonesia tersedia di sini.
Namun, jika tidak bisa masak, mau
diapakan bumbu-bumbu tersebut?
Urusan makanan juga terkait
dengan harga-harga yang mahal,
meski kita tahu kalau tdiak tepat
membandingkan harga makanan di
Eropa dengan di Indonesia. Hal lain,
bagi teman-teman Muslim, adalah
susahnya cari makanan ‘halal’. “Ini
paling repot, jalan keluarnya kalau
ndak dapet resto Turki ya terpaksa
Patat lagi patat lagi…” kata Selamet
Hidayat, mahasiswa KIT Amsterdam.
Perilaku di kamar mandi juga
mendatangkan derita tersendiri.
Jangan berharap mendapatkan
gayung untuk membersihkan diri
sehabis buang air. Jangankan
gayung, airpun tak ada. Yang bisa
ditemukan di kamar mandi hanya
satu: tissue. Toilet di Belanda, dan
juga di negara-negara lainnya di
Eropa, adalah toilet kering, alias tidak
pakai air. Beruntunglah bagi mereka
yang sudah terbiasa dengan toilet
kering sejak di Indonesia. Untuk
masalah tatakrama di toilet, beberapa
teman mengakalinya dengan
membawa air dalam botol.
Perbedaan cara penyampaian
pendapat juga bisa memicu cultural
shock terutama bagi mereka yang
terbiasa basa-basi. Memang, ada
juga beberapa golongan masyarakat
di Belanda yang memelihara pola
basa-basi. Namun, mayoritas dari
mereka lebih cenderung straight to
the point. Kondisi ini bisa jadi masalah
bagi mahasiswa Indonesia yang
belum terbiasa menerima kritik
secara terbuka.
Selain masalah sosial, untuk bisa
bertahan hidup di Belanda
diperlukan kemampuan beradaptasi
terhadap iklim. Pola hidup di negara
yang memiliki empat musim pasti
berbeda dengan pola hidup di Indonesia yang hanya memiliki musim
hujan dan panas. Kenikmatan
berganti jenis kostum antar musim
serta kenikmatan melihat salju hampir
dapat dipastikan menjadi imajinasi
sebagian besar calon pelajar Indonesia, terutama mereka yang belum
pernah tinggal di negeri empat
musim.
Selamet Hidayat,
mahasiswa KIT Amsterdam.
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
8
Kenyataannya? Kenikmatankenikmatan tersebut ternyata hanya
sepersekian dari penderitaan yang
dirasakan. Belanda dikenal sebagai
negara yang memiliki tingkat
ketidakteraturan cuaca. Jika pagi hari
suhu sekitar 4 derajat Celcius, siang
hari bisa berubah menjadi 20 derajat
Celcius.
“Cuaca sering tak jelas. Walaupun
secara umum baik, cuman
pergantian cuaca dari menit-ke-menit
yang bisa drastis cukup membuat
payah dan pusing tujuh keliling
lapangan sepak bola. Jadi ketar-ketir
kadang mau keluar pake kaos oblong
sama celana pendek, entar tahu-tahu
hujan bisa menggigil di jalan kan
ndak lucu,” ujar Selamet Hidayat,
mahasiswa KIT Amsterdam.
Belum lagi perbedaan durasi
siang dan malam yang berbeda,
terutama memasuki musim panas.
Siang yang lebih panjang
dibandingkan malam menjadi
kendala tersendiri bagi rekan-rekan
muslim dalam menjalankan ibadah
sholat lima waktu. Sebagai
gambaran, memasuki musim panas,
jarak antara Maghrib, Isya, dan
Subuh sangat pendek. Maghrib
sekitar pukul 22.00, Isya pukul 24.00,
dan subuh pukul 03.00. Bisa
dibayangkan bagaimana mereka
harus berpandai-pandai mengatur
waktu dan stamina.
Bicara
masalah
moda
transportasi, sebenarnya tinggal di
Belanda jauh lebih menyenangkan.
Namun hal ini bisa berbalik 180
derajat bagi rekan-rekan yang tidak
bisa mengendarai sepeda. Kenapa
begitu?
Sepeda menjadi alat transportasi
utama di Belanda tanpa memandang
usia dan gender, tua-muda, laki-laki
atau
perempuan.
Belanda
merupakan negara dengan densitas
sepeda terbesar di dunia.
Transportasi publik seperti bus dan
tram menjadi solusi bagi mereka
yang tidak bisa bersepeda ria.
Konsekuensinya, biaya hidup
menjadi meningkat dan fleksibilitas
waktu berkurang karena harus
menyesuaikan diri dengan jadwal
bus atau tram tersebut.
Transportasi menjadi kendala
utama bagi Yusdiana, penerima
beasiswa Ford Foundation di
Wageningen University yang seharihari menggunakan kursi roda. “Jika
dibandingkan dengan negara Eropa
Yusdiana, penerima beasiswa
Ford Foundation, Wageningen
University
Siang lebih
panjang
dibandingkan
malam. Ini
menjadi kendala
tersendiri bagi
rekan-rekan
muslim.
Memasuki musim
panas, jarak
antara Maghrib,
Isya, dan Subuh
sangat pendek.
Maghrib sekitar
22.00, Isya 24.00,
dan subuh 03.00.
lainnya, Inggris misalnya, fasilitas
transportasi untuk tuna daksa di
Belanda masih kurang memadai” ujar
Diana. Sebagai contoh, beberapa
universitas di Inggris menyediakan
fasilitas antar jemput bagi mereka
yang memiliki keterbatasan seperti
Diana. Namun hal itu tidak terjadi di
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Belanda. Konsekuensinya biaya
transportasi menjadi meningkat
dikarenakan dia harus menggunakan
fasilitas taksi untuk menunjang
aktivitas kesehariannya yang
menuntut mobilitas dari satu kampus
ke kampus lainnya.
Kehidupan
akademik,
penguasaan bahasa Inggris serta
kemampuan manajerial waktu
menjadi kendala tersendiri. Tak
dipungkiri, penguasaan bahasa
Inggris menjadi salah satu
persyaratan untuk melanjutkan studi
di Belanda. Nilai TOEFL atau IELTS
yang tinggi seolah-olah menjadi
penjamin
kualifikasi
calon
mahasiswa.
Kenyataannya, tidak demikian. Uji
kualifikasi tersebut lebih bersifat
normatif. Realitanya banyak aspek
lain
yang
harus
dikuasai.
Kemampuan
untuk
bisa
berkomunikasi verbal menjadi salah
satu kendala tersendiri bagi pelajar
Indonesia. Terutama bagi rekanrekan yang menggeluti bidang sosial
yang dicirikan dengan tuntutan
memiliki
kemampuan
mengemukakan pendapat.
Minimnya penguasaan kosa kata,
terutama kosa kata yang spesifik
pada bidang ilmu tertentu juga ikut
berkontribusi dalam memperlambat
kemajuan studi. Sistem pendidikan di
Belanda menuntut pelajarnya siap
tempur sebelum turun ke medan
perang. Mau tidak mau, bertumpuk
artikel dan reader wajib dibaca
sebelum aktivitas kelas dimulai.
Belum lagi bertumpuk laporan
menanti untuk diselesaikan dalam
waktu singkat.
Hal lain yang sering bikin pusing
dan ribet adalah berurusan dengan
Asuransi. “Pengalaman beberapa
teman, harus pake ribut dan minta
bantuan kampus baru masalah
beres. Pesan saya, be prepared
dengan obat-obatan darurat dari
rumah,” ujar Selamat Hidayat.
Banyak pelajar Indonesia yang
ingin mengisi waktunya dengan
berbagai aktivitas ekstrakurikuler
bahkan menjadi aktivis LSM. Di
sinilah kemampuan manajerial waktu
menjadi kunci keberhasilan studi.
Kendala-kendala akademis itulah
yang mengantarkan resit menjadi
fenomena tersendiri di kalangan
pelajar Indonesia. ***
9
Resit alias re-exam
A
yo kita bikin milis alumni
resit. Yang belum pernah
dapat resit, gak boleh jadi
member!” Itulah usulan bermuatan
canda seorang mahasiswa master
saat berkumpul dengan temantemannya, sesama mahasiswa master dari berbagai kota di Belanda.
Mereka berkumpul di kamar Diana
Chaidir, mahasiswa Erasmus
Universiteit Rotterdam, untuk
bersama-sama melihat pesta
kembang api dalam rangka
pergantian tahun 2008-2009 di
jembatan Erasmus, Rotterdam.
Usulan tersebut timbul setelah
mereka saling bertukar cerita dan
menemukan kesamaan nasib:
berkenalan dengan RESIT alias REEXAM.
Pada dasarnya, tentu tak ada
yang ingin berteman dengan resit.
Tapi kenyataannya, cukup banyak
mahasiswa Indonesia di Belanda
yang mendapat resit. Apakah karena
mereka bodoh? Tentu saja, bukan.
Tak sedikit dari mereka yang
termasuk siswa outstanding di
jenjang studi sebelumnya. Lalu, apa
sesungguhnya yang menjadi
penyebab mereka mendapat resit?
Rata-rata, mahasiswa Indonesia
mendapat resit di masa-masa awal
kuliah. Seperti dialami mayoritas
mahasiswa Indonesia di program
Master of International Communication Management (MICM), The Hague
University of Applied Sciences.
Di program ini tak ada ujian di
dalam kelas, tapi berupa assignments (paper) dan empat penelitian.
Hampir semua courses menugaskan
mahasiswanya membuat empat assignments selama kurang lebih dua
bulan masing-masing course
berlangsung.
Pada assignment pertama dan
kedua, di MICM grup B, hanya satu
dari delapan mahasiswa Indonesia
yang lulus (mendapatkan nilai 5.5 ke
atas). Berhubung total mahasiswa di
kelas tersebut hanya 20 orang, maka
jumlah mahasiswa Indonesia yang
mendapatkan resit terlihat cukup
menonjol.
Tiadanya masa penyesuaian diri
terhadap sistem belajar-mengajar di
Belanda yang relatif berbeda dengan
sistem belajar-mengajar di Indonesia,
memaksa para mahasiswa Indonesia
harus siap dengan dengan proses
belajar mandiri. Saat bersamaan,
mereka harus beradaptasi dengan
lingkungan dan budaya baru.
Kendala ini tentu tak hanya dirasakan
oleh mahasiswa MICM, tapi juga
mahasiswa di program dan universitas lainnya di Belanda.
Selain kendala di atas, sejumlah
mahasiswa Indonesia dari beberapa
universitas di Belanda mengatakan
perbedaan siklus ujian pun ikut
penjadi penyebab mereka mendapat
resit. Mahasiswa Indonesia terbiasa
dengan sistem semester, dimana
ujian dilakukan dalam siklus enam
bulanan. Sementara di Belanda,
siklus ujian berlangsung sekitar dua
bulan sekali untuk beberapa courses
sekaligus, sehingga waktu yang
dimiliki untuk mempersiapkan diri
sebelum ujian, terasa sangat minim.
Kendala lainnya adalah bahasa.
Bagi sebagian besar mahasiswa Indonesia, inilah kali pertama mereka
harus mengikuti ujian dan membuat
paper dalam bahasa Inggris, yang
tentu saja menuntut kemampuan aca-
demic writing yang cukup baik.
Amanda Coady dan Barr
y
Barry
Verbeek
erbeek, keduanya dosen di program
MICM,
memandang
tingkat
kemampuan bahasa Inggris sebagai
penyebab utama cukup banyaknya
mahasiswa mereka yang mendapat
resit. Amanda menuturkan, lemahnya
kemampuan bahasa Inggris dalam
academic level menyebabkan para
mahasiswa Indonesia membutuhkan
lebih banyak waktu untuk membaca
dan memahami literatur, yang
otomatis mengurangi alokasi waktu
untuk mengerjakan assignments (paper).
Amanda menambahkan, kendala
bahasa juga menyebabkan tulisan
para mahasiswanya sulit dipahami
dan rentan menyebabkan dosen
salah interpretasi. Ia melihat banyak
mahasiswa Indonesia yang pada
akhirnya hanya menuliskan atau
mengungkapkan apa yang mampu
mereka katakan, bukan apa yang
sesungguhnya ingin mereka katakan.
Selain itu, Amanda juga melihat
faktor budaya mempengaruhi
sistematika dan logika berpikir
mahasiswa Indonesia, yang sedikit
banyak berpengaruh terhadap
kualitas tulisan mereka.
“We require a very linear approach, a
clear rationale with one point leading to
another and building up an argument
with a clear conclusion. We expect
points to make explicitly. There are other
cultures which prefer a different approach: less direct, greater use of imagery or story telling, implying things rather
than stating them explicitly etc. This
means that work which might have been
considered very high quality in their own
country receives a low grade here,” ujar
Amanda.
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
10
Mandirikreatif
Elsa Risfadona,
mahsiswa Rijkuniversiteit Groningen
Amar Ma’ruf,
mahasiswa VU Amsterdam
Kendala-kendala di atas relatif
bersifat umum. Ada pula hal-hal lain,
yang lebih bersifat personal, yang
membuat sejumlah mahasiswa Indonesia terpaksa berkenalan dengan
resit. Seperti yang dialami Amar
Ma’ruf, seorang master student di VU
Amsterdam.
Di masa awal perkuliahan, ia
menjalani jadwal kuliah yang padat
dan mengerjakan setumpuk tugas di
tengah bulan Ramadhan dengan
waktu berpuasa yang lebih panjang
dari Indonesia. Hal ini menyebabkan
staminanya drop dan sulit konsentrasi
belajar, sehingga ia gagal pada ujian
course pertama.
Kegagalan di ujian pertama, tak
lantas membuat Amar patah
semangat. Ia berusaha bangkit
dengan
mengubah
strategi
belajarnya, dari belajar sendiri
menjadi belajar kelompok.
Ia mengaku strategi ini sangat
efektif, karena terbukti ia berhasil lulus
di ujian ke-2, ke-3, dan ke-4. Selain
itu, ia pun mengalokasikan hari
tertentu, khusus untuk belajar di
tengah-tengah kesibukannya bekerja
part-time dan mengerjakan tesis,
agar ia tak kembali berjumpa dengan
resit.
Meski tak sedikit mahasiswa Indonesia yang mendapat resit, tak sedikit
pula mahasiswa Indonesia yang
hingga saat ini sama sekali belum
pernah berkenalan dengan resit.
Salah satunya adalah Elsa Risfadona,
mahasiswa master di Rijkuniversiteit
Groningen. Ia melakukan sejumlah
jurus-jurus yang membuat resit
enggan mendekat.
Pertama, ia berusaha memahami
sistem ujian setiap course, salah satu
caranya dengan mempelajari soalsoal ujian tahun sebelumnya. Kedua,
menanyakan sumber bahan ujian
pada dosen yang bersangkutan.
Ketiga, mendengarkan diskusi
teman-teman sebelum ujian
berlangsung. Keempat, ia tidak
pernah meninggalkan jawaban
kosong meski sebetulnya ia tak ada
ide harus menjawab apa. Jurus ini
perlu dilakukan karena terkadang
dosen memberi nilai 0.1 sebagai
“upah” menulis. Kelima, berdiskusi
dengan teman sekelas, khususnya
untuk membahas soal-soal. Keenam,
selalu membaca literatur sebelum
dan setelah kuliah. Ketujuh, berdoa
sebelum ujian dan berusaha rileks.
Menurutnya, jurus ini sangatlah
penting agar hapalan yang sudah
ada di kepala tak lantas menguap
gara-gara rasa tegang. Sebagai jurus
pamungkas, Elsa menambahkan
managemen waktu, yaitu pandaipandai membagi waktu antara jalanjalan, chatting, fesbukan, dan belajar.
Menyelesaikan study tanpa resit,
tentu saja menjadi keinginan semua
mahasiswa Indonesia. Tapi jika pun
harus bersua dengannya, Aufarul
Faroh, mahasiswa master di VU
Amsterdam, menegaskan bahwa
resit bukanlah hal yang memalukan.
Senada dengan Aufarul, Amar
memandang resit sebagai proses
untuk menjadikannya seorang
manusia yang lebih berkualitas: “Bagi
saya nilai tidak begitu penting, tapi
pengalaman belajar di sini yang
alhamdulillah bisa membuat saya
lebih tegar dalam menjalani hidup”.
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Kemandirian dan kreativitas
menjadi kunci keberhasilan.
Seperti diungkapkan oleh
Aprilianto Eddy Wiria: “Tahun 2006
saya merasakan suasana berbeda
hidup di negara lain, bertemu
teman-teman seperantauan baik
kawan baru maupun sahabatsahabat yang lama tidak
berjumpa. Mengawali pendidikan
sebagai mahasiswa S3, banyak
nilai-nilai kemandirian yang makin
terbentuk. Semakin dijalani, saya
makin menyadari bahwa yang
terpenting dalam memajukan ilmu
pengetahuan bangsa Indonesia
adalah kreativitas. Hal-hal yang
terasa berat di awal, terasa lebih
menyenangkan di saat hasil yang
kita harapkan sedikit demi sedikit
bisa dianalisa, dan didapatkan halhal baru yang membuka mata
pengetahuan saya.”
Menurutnya, fasilitas hanya
nomor sekian walau memang
menjadi penunjang. “Bila kita
kreatif, baik dalam menggali ideide maupun menjalin kerja sama,
membuka diri, dan selalu belajar,
anak-anak Indonesia tidak ada
bedanya dengan siapa pun dari
belahan dunia manapun,”
tambahnya.
“Dari sini saya merasakan
harus lebih banyak lagi anak-anak
Indonesia
mendapatkan
kesempatan seperti saya, dan
juga bagaimana saya dan juga
teman-teman yang sudah
mendapatkan
kesempatan
berharga ini memanfaatkannya
dengan baik sebagai duta
bangsa, dan mengamalkan ilmu
dengan lebih kreatif lagi, serta
menjadi jembatan dan pembuka
jalan bagi rekan-rekan lainnya,”
tegasnya lagi.
Segala suka, duka, dan
dinamika perjuangan selama
belajar dan hidup di Belanda
membekali kita, bahwa kita belajar
bukan untuk nilai, namun untuk
hidup. Non scholae sed vitae
discimus.
11
Hatta, Teladan Bangsa
Oleh Meditya Wasesa
“Pada umumnya, biografi
hanya
ditulis
untuk
mengidolakan seorang tokoh.
Semakin inferior penulisan
sebuah biografi, semakin
besar tendensi pengidolaan
terhadap tokoh tersebut.
Dalam pandangan saya, saya
lebih
menyukai
untuk
mendengar atau membaca
pernyataan-pernyataan yang
mengulas kegagalan dan
kejadian-kejadian memalukan
dalam hidup saya daripada
yang mengulas pujian dan
pujaan.” (Moehammad Hatta)
Dr.
(H.C.)
Drs.
H.
Muhammad Athar, yang lebih
kita kenal sebagai Bung Hatta, lahir
di Bukittinggi, Sumatera Barat, 12
Agustus 1902. Sejak bayi, Bung Hatta
kecil sudah harus menjadi seorang
yatim. Ayah Bung Hatta, Haji
Mohammad Djamil, seorang ulama
yang sangat disegani dari
Batuhampar,
Payakumbuh,
meninggal dunia saat umur Bung
Hatta masih kurang dari 8 bulan.
Sepeninggal ayahnya, Bung Hatta
dibesarkan oleh keluarga dari pihak
ibunya.
Dengan latar belakang keluarga
yang kental akan nilai religi, Bung
Hatta tumbuh dengan pemahaman
akan kitab suci yang sangat baik. Di
balik profil keagamaannya yang
sangat kuat, beliau juga dikenal
sebagai seorang dengan kombinasi
kecakapan yang sangat revolusioner
pada zamannya. Kecakapan agama
warisan didikan keluarganya
dikombinasikan dengan kecakapan
dan pengetahuan formal barat
bersatu serasi dalam seseorang
pribadi
sederhana
yang
mendedikasikan seluruh hidupnya
untuk kesejahteraan rakyatnya.
Pemikiran-pemikiran ekonomi
Bung Hatta yang selalu berorientasi
pada kesejahteraan masyarakat kecil
secara kolektif tidak bisa lepas dari
pendidikan dan pencerahanpencerahannya yang didapatnya
selama hidup di Belanda. Bung Hatta
menghabiskan hidupnya di Belanda
sekitar 11 tahun (1921-1932). Dalam
periode hidupnya di Belanda, Bung
Hatta berhasil meraih gelar
doktorandus (Drs.) dalam bidang
ekonomi dari Rotterdam aan de
Handelshogeschool (sekarang Universitas Erasmus Rotterdam). Karena
pencapaian akademis Bung Hatta
yang tinggi, Hatta berkesempatan
mengejar program doktoralnya di universitas yang sama. Walaupun
sempat mengerjakan disertasi
doktoralnya, namun kesibukan dan
dedikasinya dalam pergerakan pra
kemerdekaan
menyebabkan
disertasinya
tidak
sempat
terselesaikan.
Dari awal hidupnya di Belanda,
Bung Hatta sangat aktif dalam
organisasi Indische Vereeniging,
sebuah
pergerakan
yang
memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Pada tanggal 19 Februari
1922, Bung Hatta ditunjuk sebagai
bendahara dari Indische Vereeniging.
Tanggal ini juga sekaligus menjadi
momentum bersejarah, karena pada
tanggal ini pulalah Indische
Vereeniging berubah nama menjadi
Indonesische Vereeniging. Sejak saat
itu, para tokoh pergerakan setuju
untuk mengganti penggunaan nama
Hindia Belanda menjadi Indonesia.
Sebuah
pergantian
yang
mengandung muatan politik yang
sangat besar, dan sangat riskan
tentunya.
Selain aktif melakukan
pergerakan kemerdekaan
melalui organisasi Indonesische
Vereeniging, Bung Hatta juga
aktif terlibat dalam pergerakan
menentang penjajahan secara
global. Tahun 1927, bersama
Jawaharlal Nehru, seorang
tokoh pergerakan kemerdekaan
India, Bung Hatta aktif dalam
pergerakan Liga Menentang
Imperialisme dan Kolonialisme
di Belanda. Aktivitasnya di Liga
sempat mengantarkannya
menikmati hotel prodeo di
Belanda ini, meskipun melalui
pidato pembelaannya yang
bejudul Indonesia Free Bung Hatta
akhirnya dibebaskan kembali. Tahun
1932 Bung Hatta kembali ke Indonesia dan meneruskan pergerakannya
hingga akhir hayatnya.
Bung Hatta adalah seorang
teladan dengan kecakapan lengkap
bagi masyarakat Indonesia. Profilnya
sebagai seseorang yang taat dan
menguasai agama dan seorang
cendekia yang menguasai ilmu
ekonomi
barat
dan
mengaplikasikannya
dalam
pemikiran dan kebijakan ekonomi
yang
berorientasi
pada
kesejahteraan rakyat. Walaupun
berasal dari keluarga priyayi berada,
hal ini tidak membuatnya enggan
untuk hidup dalam stigma anti
kemapanan yang sederhana.
Bung
Hatta
tidak
suka
menonjolkan diri. Meski bergelimang
dengan nilai kebaikan tidak
membuatnya ingin dikenal dan
diapresiasi. Dialah teladan bangsa
kita, seseorang yang lebih memilih
untuk diingatkan kesalahannya dari
pada dipuji kebaikannya. Dialah
Mohammad Athar, Bung Hatta,
seorang Indonesische Jongere yang
riwayatnya hidupnya nyaris tanpa
cacat. Dialah Bung Hatta, sang
teladan bangsa.
Meditya W
asesa
asesa,
Wasesa
RSM-Erasmus University Rotterdam
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
12
Cukup beralasan jika
mereferensikan Negeri Van
Oranje sebagai buku wajib
bagi para calon pencari cita di
negeri yang terkenal dengan
kincir angin dan bunga tulip.
Gaya bahasanya yang ringan
cenderung ngebanyol serta
detail pendeskripsian life style
mahasiswa Indonesia di
Belanda setidaknya menjadi
daya tarik tersendiri untuk
menggugah keingintahuan
apa dan bagaimana bertahan
hidup di sana. Tidak hanya itu,
buku inipun bisa jadi acuan
bagi petualang berbekal tas
punggung, backpacker istilah
kerennya. Lihat saja, banyak
ilustrasi yang diberikan untuk
menggambarkan suasana
kota yang mereka angkat
sebagai setting tiap bab.
Keunikan buku ini tidak hanya
terletak pada spirit menuntut
ilmu dan traveling, alur cerita
yang dimainkannya pun
menjadi tantangan bagi para
pembaca.
Bacaan ringan namun
menuntut konsentrasi yang
cukup tinggi dikarenakan
aneka ragam setting waktu
dan suasana serta lima
karakter tokoh yang berbeda
menghiasi jalan cerita.
Kecerdikan penulis mengatur alur
juga patut diacungi jempol.
Memasuki bab De Waarheid,
pembaca baru menyadari bahwa
mereka ternyata telah melintasi waktu
dan kembali ke situasi cerita bab
Prolog. Scientific research pastilah
dilakukan oleh penulis. Hal ini
tercermin dari beberapa data historis
serta isu-isu masa kini yang mereka
sajikan, seperti sejarah perjalanan
Belanda di masa keemasan era
kolonialisme hingga isu illegal logging. Keterkaitan historis BelandaIndonesia pun tidak lupa mereka
sajikan.
Cerita kocak yang membungkus
potret kehidupan lima pelajar Indonesia ini mulai terlihat sejak halaman
2, saat Banjar dengan tenangnya
meninggalkan pramusaji yang
terbengong-bengong melihat lembar
uang yang diterimanya bertuliskan rupiah. Nuansa humoris yang diangkat
penulis semakin muncul di lembarlembar berikutnya. Perut pembaca
semakin
terkocok
saat
berbagai akses dunia maya,
mulai dari messenger,
berbagai jenis blog, hingga
mailing list, kelima tokoh
perlahan-lahan
saling
mengerti dunia keempat
sahabat lainnya. Berderet
kalimat dalam forum conference dan berkali-kali
Oleh Yessie Widya Sari
kesempatan hang out
bersama ternyata tidak
mampu menyembunyikan
ketertarikan Banjar, Wicak,
Daus, dan Geri terhadap
sosok Lintang. Konflik sosial
pun tak terhindarkan. Lagi,
penulis lihai mengasah rasa
keingintahuan
dan
keterkejutan pembaca
dengan caranya yang apik
dalam
menuntaskan
pertengkaran diantara
mereka. Siapakah yang
berhasil memikat hati
Lintang? Banjar, Wicak,
Daus, Geri? Atau bahkan
ada tokoh lain?
Pola hidup mahasiswa
Indonesia di Belanda pun
direpresentasikan dengan
Judul Buku : Negeri van Oranje
baik melalui lima tokoh
Penulis : Wahyuningrat, Adept Widiarsa,
AAGABAN. Tergambar jelas
Nisa Riyadi, Rizki Pandu Permana
beberapa
aktifitas
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
keseharian
mereka,
ISBN : 978-979-1227-58-2
diantaranya bersepeda ria,
masak dan makan massal,
membayangkan bagaimana Wicak titip menitip barang bagi mereka yang
dengan mulusnya mengecoh Tyas, mau datang dari tanah air tercinta,
mahasiswa baru yang perlente, untuk penjemputan mahasiswa baru,
lapor diri serta menunjukkan hingga berburu bumbu-bumbu khas
paspornya ke supir tram. Sayang, Indonesia. Tak ketinggalan pula
beberapa banyolan terkesan digambarkan euforia kelima tokoh
dipaksakan. Gaya penulisan bab saat temu kangen dengan jajanan
Koopen en Koken dan Leiden yang pasar, seperti nasi kuning, perkedel,
lebih formil dan kaku dibandingkan risol, hingga klepon. Tersirat bahwa
bab lainnya seolah tidak memberikan penulis ingin memberikan gambaran
ruang bagi joke segar.
kemudahan hidup di Belanda,
Kepiawaian penulis menyajikan terutama urusan selera nusantara.
cerita juga terlihat dari kesan
Penulis
seolah-olah
juga
naturalisme perjumpaan tak menyadari bahwa mereka harus
disengaja kelima tokoh—Banjar, menghindarkan diri dari janji-janji
Wicak, Daus, Geri, serta Lintang—di muluk dengan hanya memberikan
sebuah stasiun kereta yang terletak cerita-cerita indahnya hidup di
di kota Amersfoort. Bertolak dari Belanda. Oleh karena itu, mereka
perjumpaan yang dipicu oleh petaka juga menyajikan cerita beberapa
cuaca di Belanda inilah kemudian permasalahan yang dialami kelima
lahir aliansi yang diberi nama tokoh, seperti kesusahan yang
AAGABAN: Aliansi Amersfoort GAra- dialami Lintang saat kehilangan
gara BAdai Netherlands. Jarak dompetnya
ditengah-tengah
tempat tinggal yang memisahkan kerumunan masal—ternyata tidak
kelima tokoh ternyata tidak cukup jauh berbeda dengan kondisi tanah
membendung kekompakan dan air—dan bagaimana Banjar harus
keeratan AAGABAN. Terfasilitasi oleh bersusah
payah
merelakan
Spirit Negeri
van Oranje
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
13
kehilangan masa-masa indahnya di
akhir pekan demi mengejar
penghasilan tambahan dengan
bekerja paruh waktu pada salah satu
restoran milik warga Indonesia. Tak
lupa, mereka mengajak pembaca
untuk tenggelam dalam pergulatan
penyelesaian tesis di hari-hari akhir
penyelesaian studi mereka dan suka
cita saat mereka dinyatakan layak
menyandang gelar master.
Lompatan-lompatan waktu yang
dinamis, ide cerita yang mengalir
dengan smooth, kekuatan karakter
AAGABAN, dan tentu saja tips-trik
bertahan hidup di Belanda seolah
Untuk lebih mengetahui kisah
dibalik novel Negeri Van Oranje
(NvO), Yessie Widya Sari dari Jong
Indonesia mewawancarai Rizki
Pandu Permana, salah satu penulis
yang kini sedang menyelesaikan
studi doktoral di Utrecht University.
Berikut kutipannya:
Bisa diceritakan asal muasal novel
ini?
Sebenarnya ide ini muncul saat
kami berempat nongkrong sambil
ngopi. Kami tidak muluk-muluk,
hanya ingin sekedar berbagi
pengalaman dengan teman-teman
yang ada di Indonesia. Sayang
kalau pengalaman itu hanya
menjadi kenangan kami sendiri. Dari
situlah kami kepikiran untuk
melahirkan novel ini.
Penulis NvO ada empat orang,
lalu kenapa memunculkan lima
tokoh? Kenapa menciptakan tokoh
baru, bukan mengangkat diri kalian
masing-masing sebagai tokoh?
Alasannya sederhana saja,
supaya kami bisa bebas
berekspresi. Kalau diri kami yang
diangkat sebagai tokoh, wah bisa
ketahuan nanti aib-aib kami.
Dari mana mendapatkan
inspirasi pembentukan masingmasing karakter AAGABAN?
Tiap penulis mengusulkan satu
karakter, karakter tokoh kelima kami
tentukan
bersama.
Dalam
menentukan satu tokoh AAGABAN,
kami berusaha mengamati karakter
teman-teman yang ada di sekitar
kami dan kami coba campurkan
berbagai macam karakter dalam
satu karakter. Walaupun banyak
teman-teman kami yang sudah
membaca novel ini akhirnya bisa
menebak di tokoh yang mana
karakter masing-masing penulis
muncul.
Bagaimana
cara
kalian
mengatur kemunculan karakter di
tiap bab yang kalian tulis?
Penulisan bab di novel ini kami
bagi berempat. Tiap penulis diberi
Rizki Pandu Permana
kesempatan menjadikan tokoh
ciptaanya sebagai central character
di bab yang dia tulis. Tentu, untuk
menciptakan keharmonisan jalan
cerita, tiap penulis diwajibkan
mengerti empat karakter lainnya.
Novel ini kalian tulis justru saat
sebagian besar penulisnya sudah
kembali ke Indonesia. Lalu
bagaimana cara kalian supaya
menjaga kesinambungan antar bab
yang kalian tulis?
Nggak beda dengan cara tokoh
AAGABAN berkomunikasi: internet.
Kami biasanya memanfaatkan messenger dan mailing list untuk
berdiskusi dan saling berbagi.
Naskah yang ditulis tiap penulis akan
dikritisi oleh penulis lainnya. Dengan
cara ini diharapkan watak tokoh
AAGABAN
ciptaan
yang
bersangkutan tetap terjaga. Selain itu,
tentu, kami bisa saling mengisi
kekurangan yang ada di tiap bab.
Ada hambatan saat menyelesaikan novel ini?
Tentu ada. Kesulitan awal kami
adalah perbedaan gaya penulisan
masing-masing penulis. Ada yang
bisa dengan mudahnya ngebanyol,
ada
yang
tidak.
Masalah
ketidakseragaman mood masingmasing penulis juga berkontribusi
dalam lamanya waktu yang kami
butuhkan untuk menyelesaikan novel
ini, sejak Anis (Nisa Riyadi-red) belum
menjadi magnet bagi mereka yang
sedang mencari semangat baru
untuk melanjutkan studi dan juga
bagi mereka yang ingin berkelana
menjelajah benua eropa. Sayang,
beberapa kalimat yang disampaikan
dalam bahasa Belanda tidak disertai
translasinya. ***
hamil, hamil,
b a h k a n
melahirkan.
Kalau ditotal,
sekitar satu
tahun.
K a l a u
dibaca lebih
teliti,
masih
banyak aspek
kehidupan
mahasiswa Indonesia
di
Belanda yang
belum diangkat
di
NvO.
Sengaja untuk
memunculkan
sequel berikutnya atau memang
terlewat?
Betul, masih banyak aspek yang
belum kami tulis. Kami hanya
khawatir kalau ditulis semua, bisabisa nanti bukunya setebal karya
J.K. Rowling.
Puas tidak dengan hasil karya
kalian?
Sejauh ini kami merasa puas.
Bahkan kami tidak menyangka
kalau penerbit hanya membutuhkan
waktu tiga bulan untuk memasuki
cetakan keempat. Total buku yang
sudah tercetak hingga cetakan
ketiga sudah mencapai 10.000
buah. Pangsa pasar pembaca kami
juga cukup luas.
Berbicara pesan moral yang
ingin kalian sampaikan, yaitu spirit
dan travelling, apakah kalian
merasa sudah sampai ke sasaran?
Boleh dikatakan iya. Ada
beberapa pembaca menghubungi
kami dan bertanya mengenai studi
di Belanda. Tidak hanya mereka
yang mau ambil gelar master atau
doktor bahkan banyak juga lulusan
SMA yang ingin ambil bachelor di
Belanda. Untuk travelling, kami juga
sudah dihubungi beberapa
pembaca, bahkan ada yang
berkeinginan menjadi backpacker
setelah membaca novel kami.
(yws)
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
14
T
asem Atmareja merentang
tangan seperti hendak
menari. Lensa kamera
digital yang semula hendak
dipasang untuk mengambil close up
wajah pun diundurkan. Akhirnya
seluruh badan yang diambil. Ini
kesempatan langka karena pada
awalnya untuk bertutur mengenai
riwayat hidupnya pun Tasem terkesan
menghindar. “Ternyata masih cantik.
Masih ada kasihe,” katanya ketika
melihat hasil jepretan. Kasihe adalah
daya tarik pada yang memandang.
Tasem yang telah berumur 60-an
masih melihat aura kecantikan pada
wajahnya di kamera. Ia mengenakan
baju tipis lengan panjang warna
coklat
muda.
Rambutnya
berselubung kain penutup. Daya tarik
itu pertanda bahwa Indang Kastinem
masih menemani dan melindungi
dirinya.
Indang adalah roh yang oleh para
ronggeng dan masyarakat setempat
diyakini mampu merasuk ke dalam
diri seseorang yang ‘meminta’ atau
mendapatkan ‘anugerah’.
Kastinem adalah nama seorang
ronggeng yang entah hidup pada
tahun berapa dan rohnya tinggal di
sekitar Desa Gerduren Kecamatan
Purwojati, Kabupaten Banyumas,
Jawa Tengah. Sehingga perpaduan
Indang Kastinem menjadi daya
dukung spiritual bagi para ronggeng
di desa tersebut.
“Waktu saya kecil, saya tinggal di
pinggir desa dekat hutan. Saya
sering mendengar suara tetabuhan
lesung di Bukit Garut. Tetapi kalau
didekati ya, tidak ada orangnya,” tutur
Tasem.
Desa Gerduren dilingkupi bukit
pada sisi utara, timur dan barat. Sisi
selatan dipisahkan oleh Sungai
Tajum, dekat dengan jalan raya
Purwokerto-Bandung. Di salah satu
titik ruas jalan Purwokerto-Bandung
itulah budayawan Ahmad Tohari
tingal yang dari tangannya lahir novel
trilogi Ronggeng Dukuh Paruk dan
diterjemahkan lebih dari lima bahasa.
Tempat tinggal Ahmad Tohari
hanya terpisahkan oleh Sungai Tajum
dengan Desa Gerduren, sebuah
desa yang menyimpan dinamika
kehidupan Ronggeng tua di wilayah
Kabupaten Banyumas.
“Samben Kemis ngadeg. Meja itu
tingginya sedada saya,” papar
Tasem. Ia bertutur mengenai masa
kecilnya ketika mulai berkenalan
Dunia
Batin
Seorang
Ronggeng
Oleh: Sutriyono ([email protected])
dengan dunia ronggeng. Kala itu
dirinya sedikit lebih tinggi dari meja
80 centimeter. Usianya sekitar 8
tahun. Setiap Kamis malam, tatkala
kelompok ronggeng di desanya
latihan, ia ikut serta ditengah-tengah
mereka. Sekedar membantu
persiapan atau bersih-bersih selepas
latihan. Sebagai seniman, Tasem
ditempa oleh alam desa dan
lingkungan sosialnya.
Inisiasi itu dimulai ketika teman
dan orang-orang dewasa menilai
suara Tasem bagus. Ia bisa
menirukan lagu-lagu seorang
ronggeng. Seorang ronggeng tua
lantas datang dari belakang sambil
memegang kusan, alat menanak nasi
berupa anyaman bambu berbentuk
kerucut. “Krep, krep, krep, ping telu,”
kata sang ronggeng tua seraya
menangkupkan kusan ke kepala
Tasem. Tiga kali kusan itu
ditangkupkan ke kepala gadis kecil
Tasem. “Itu biar tidak malu,” katanya.
Dalam keseharian, kusan hanya
ada di dapur. Ruang yang menjadi
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
tempat keseharian perempuanperempuan Jawa. Ketika tidak
terpakai, kusan yang sudah bersih
dicuci itu akan diletakkan dalam
posisi menelungkup. Ujung runcing
di bagian atas. Tetapi ketika kusan itu
dipakai, ujung runcing di bawah, di
dalam dandang, dan bertugas
menyelesaikan pekerjaan panci atau
kuali yang menanak beras menjadi
nasi setengah matang. Di kusan di
dalam dandang dengan diuapi air
mendidih itulah nasi setengah
matang selanjutnya dituntaskan
menjadi nasi – atau kadang menjadi
tumpeng.
Di dalam tradisi ronggeng Desa
Gerduren, kusan yang hanya di
dapur itu dibawah ke ruang publik.
Dalam posisi telungkup, kusan
menangkup kepala gadis kecil calon
ronggeng. Kusan sebagai alat
menanak nasi makanan pokok untuk
kehidupan, digunakan untuk srana
atau alat antara membangkitkan
kepercayaan diri. Itulah sarana untuk
menjadikan seorang perawan desa
15
Ronggeng sekarang di sebuah perayaan Kabupaten Banyumas. Mereka tidak menjalani laku
matiraga seperti Tasem.
yang barangkali hanya mengenal
dapur dan tanah lahan-lahan bukit
serta sawah menjadi berani tampil di
depan publik, keluar dari Desa
Gerduren yang terpencil. Keliling
desa-desa, menari dan menyanyi.
Tidak malu.
Laku matiraga dijalani Tasem.
Pada malam-malam tertentu ia mandi
di tujuh sumur tua. Laku itu dimulai
selepas tengah malam, ketika tamutamu pemuda dari desa-desa
tetangga yang hendak melihat
pesona lengger Desa Gerduren
sudah pulang.
Beranjak dari satu sumur, di situ
ia mandi. Lantas, ketika sudah kering,
berangkat lagi ke sumur berikutnya.
Demikian seterusnya, menyusuri
jalanan setapak desa. Meskipun
dingin, terus dijalani. Meskipun lelah,
kaki terus melangkah. Biasanya
subuh baru tuntas. Ketika mandi,
disertai juga dengan doa-doa. Laku
mandi tujuh sumur tersebut disertai
juga laku puasa atau pantang.
Demikianlah, adakah yang lebih
berharga bagi kehidupan selain air?
Air adalah sumber kehidupan. Tujuh
sumur tua itu menjadi sumber
pengharapan bagi Tasem.
“Bot-bote pengin dikasihi Mas,”
kata Tasem dengan maksud
menjelaskan daya pesona seorang
ronggeng terpancar karena laku
mandi dini hari hingga subuh itu
dijalani.
Dengan daya pesonanya, Tasem
dan kelompok ronggeng Desa
Gerduren menerima permintaan
pentas tiada henti. Itu juga berarti
Tasem mendapatkan sejumlah rupiah.
Sumur tua adalah mata air di
sudut-sudut pekarangan atau di
ujung bawah bukit yang dirimbuni
pohon bambu. Tak ada pasangan
bata-semen di situ, hanya cekungan
tanah yang digenangi air yang tak
pernah habis. Diameternya antara 12 meter. Beberapa mata air mengalir
persis di bawah pohon beringin atau
pohon bulu besar. Tasem dan
ronggeng lain mengatakan, mata air
itu telah ada sebelum dirinya lahir.
Beberapa sumur bahkan sebenarnya
juga sumber air keseharian beberapa
keluarga di sekitarnya. Ketika
kemarau panjang, sumur-sumur itu
menjadi rujukan masyarakat
setempat untuk mendapatkan air.
Bersama penghargaan akan
sumur-sumur tua, Tasem dan
masyarakat
Desa
Gerduren
menghargai pohon. Di bukit Garut,
sisi utara desa setempat, dulu
masyarakat mengenali dua pohon
bulu besar. Pohon tersebut mirip
pohon beringin. Pada pohon yang di
puncak bukit, diyakini berdiam roh
Kakek Garut. Sementara satu lagi
yang terletak sedikit lebih ke bawah
dari bukit tersebut, diyakini menjadi
rumah tinggal roh Indang Kastinem.
Kakek Garut diyakini semacam
kamitua ronggeng dan Kastinem
adalah ronggengnya.
Seseorang telah membakar
pohon bulu tersebut. Belakangan,
seniman ronggeng generasi selepas
Tasem menanam pohon bulu kembali
di dua titik bekas pohon terdahulu.
Alam dan pohon adalah berkat
bagi para ronggeng seperti Tasem.
Menjelang pentas Selasa Kliwon,
Tasem minum air kelapa muda.
Bukan sembarang kelapa muda
tetapi jenis kelapa hijau. Buahnya
dipilih dari tangkai yang menjulur ke
timur. Seekor cacing gelang
direndam terlebih dahulu dalam air
kelapa muda itu. Sehari kemudian
baru diminum.
Dua cucu Tasem di Sumur Sepi, salah satu mata air yang digunakan untuk mandi ronggeng.
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
16
Akses keluar masuk Desa Gerduren
“Rekasa, ora sugih seprene kur
nggo riwayat thok,” kata Tasem. Laku
dan tirakat seorang ronggeng bagi
Tasem tidaklah ringan, juga tidak
membuatnya menjadi kaya secara
materi. Tetapi ia tidak mengelak ketika
ditanya bahwa hal itu membuat
dirinya gembira. Ia dipuja ketika
pentas.
Keterangan Warsun, penduduk
setempat yang segenerasi dengan
Tasem menggambarkan bagaimana
gairah kaum muda memuja para
ronggeng. Ketika para ronggeng
pentas di satu desa tetangga, maka
dalam beberapa hari berikutnya
anak-anak muda di desa tersebut
berduyun-duyun ke Desa Gerduren.
Bertamu ke tempat para ronggeng
tersebut dan mencoba meraih
hatinya. “Saya biasanya diminta
teman saya mengawasi tamu,” kata
Warsun.
Tasem sendiri menikah dengan
Atmareja pada tahun 1953. Pemuda
desa setempat, anggota Organisasi
Perlawanan Rakyat (OPR) yang kelak
pada tahun 1979 menjabat sebagai
polisi desa. Sebelum menikah,
Atmareja menyusul kemanapun
Tasem pentas.
Ia heran dengan keberanian
Atmareja. Tidak takut dimusuhi anakanak muda setempat. Walau dirinya
tahu Atmareja menyukainya, waktu itu
ia belum mau menanggapi. Atmareja
terus saja mengikuti kemana ia
pentas.
“Ya hanya ikut di antara penonton.
Ketika saya sudah melihat sosoknya,
lantas menyingkir.” tambah Tasem.
Selain menari sambil menyanyi,
dalam pementasan seorang
ronggeng juga melayani tayub.
Dalam tayub, seorang pria akan
menari berpasangan dengan
ronggeng. Tarian ini dimulai dengan
tawaran ronggeng.
Ia membawa soder atau
selendang untuk menari. Soder
tersebut diletakkan di atas piring.
Sang ronggeng berjalan ke arah pria
sasaran. Kepadanya diberikan soder,
sementara si pria menaruh sejumlah
uang ke dalam piring tersebut.
Urutan para pria yang menari
mengikuti derajat kepangkatan
mereka. Bila di situ ada camat, maka
camatlah yang ditawari terlebih
dahulu, baru perangkat-perangkat di
bawahnya. Bila yang hadir di situ
paling tinggi lurah, maka lurahlah
yang ditawari untuk tayub lebih dulu.
“Mereka tidak menolak, karena hadir
di situ artinya bersedia ikut nayub,”
kata Tasem.
Biasanya para istri pejabat desa
juga hadir di situ. Tidak ada yang
cemburu dengan tayuban suaminya.
Beberapa ronggeng Desa Gerduren
diperistri pejabat perkebunan atau
aparat kepolisian, pria-pria yang
memiliki derajat dan pangkat lebih
tinggi dari pada umumnya penduduk
Gerduren. Maka ronggeng sekaligus
menjadi jalan kenaikan strata sosial.
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Seorang ronggeng akan berhenti
menjadi ronggeng ketika menikah.
“Tetapi kalau ada permintaan nadar
ya harus dituruti,” kata Tasem. Ia
pernah tampil kembali meronggeng
sesudah menikah. Salah seorang
teman mantan ronggeng sakit.
Matanya buta. Dan ia ber-nadar,
ketika sembuh akan mengundang
Ronggeng Tasem pentas. Dan Tasem
memenuhinya.
Masa menjadi ronggeng bagi
Tasem sendiri telah lewat sekitar
setengah abad yang lalu. Tetapi
suaranya masih bening ketika
menembang.
Dalam wangsalannya:
Jampang amben,dlika kapitan galar
Adoh katon wis perek durung
kelakon. Jampang amben, dlika
kapitan galar maksudnya adalah
bambu kerangka dipan. Adoh katon
wis perek durung kelakon artinya jauh
terlihat, sudah dekat belum juga
menjadi pasangan.
Wangsalan ini menggambarkan
saat dimana Atmareja mengejarngejar dirinya. Suara yang indah itu
pula yang telah meruntuhkan hati
Atmareja. Seorang pekerja keras
yang kini meninggali rumah besar
hanya berdua dengan Tasem.
Sementara anak-anak mereka telah
memiliki rumah sendiri-sendiri. ***
Sutriyono
Sutriyono,
penulis lepas
tinggal Jalan Gereja No 3
Purwokerto.
17
Pemilih Pemula dan
Terobosan Politik
Bangsa Indonesia telah selesai
menyelenggarakan Pemilu legislatif
dan Pemilu Presiden 2009 sebagai
satu sarana konstitusional dalam
menentukan arah kehidupan
berbangsa bernegara. Bagaimana
menyikapi apatisme pemilih pemula,
dan melakukan terobosan untuk
menampung aspirasi poltik mereka?
Pengamat sosial politik dari Universitas Paramadina Eka Wenats
mengatakan, pendidikan kewarganegaraan yang berlaku saat ini belum
memberikan pengetahuan yang
cukup, khususnya bagi para pemilih
pemula dalam memahami sistem dan
budaya demorasi seperti mengenai
Pemilu.
“Pemahaman pendidikan kewarganegaraan yang masuk ke
ranah politik sebaiknya dimulai
masyarakat dari keluarga dan di
sekolah, seperti budaya memilih
ketua
kelas
atau
budaya
membiasakan anak mengekspresikan pendapat dan ide-idenya,” ujar
Eka.
Kelemahan di Indonesia, tambah
Eka, budaya sosial politik dalam
lingkup keluarga dan sekolah
umumnya masih diwarnai budaya
otorisme dan diktator, seperti ‘Ayo, ini
gurumu jadi turuti apa kata gurumu’,
atau ‘Ayo,ini orang tuamu yang lebih
tahu mana yang benar dan yang
salah, jadi turuti saja.’ Masyarakat
pun menjadi terbiasa dengan budaya
otoriter seperti itu.
Menurut Eka, pemilih pemula di Indonesia berjumlah sekitar 20-30%
dari 170 juta pemilih di Indonesia.
“Merekalah yang turut menentukan
arah jalannya kehidupan berbangsa
bernegara, dalam jangka pendek
melalui pilihan mereka dalam Pemilu
dan dalam jangka panjang melalui
partisipasinya dalam setiap proses
politik. Mereka bisa menjadi
simpatisan aktif/pasif dalam partai
politik atau merupakan swing voter,”
ujar Eka.
Ada tiga kecenderungan perilaku
swing voter dalam momen Pemilu.
Pertama, memiliki antusiasme yang
tinggi disebabkan faktor pengalaman
pertama memilih tapi belum memiliki
Oleh C.T Adhikara
([email protected])
pilihan partai politik dan calon
legislatif. Kedua, pilihan akan
dipengaruhi oleh pilihan keluarga (orang tua, kerabat, pasangan hidup).
Nilai-nilai yang dianut keluarga akan
menjadi panduan dalam memilih.
Ketiga, pilihan juga turut dipengaruhi
oleh peer group (kelompok di
lingkungan yang menjadi sarana
berkumpul dan bergaul) seperti
kelompok motor, grup/individu ”A”
fans club dan lain-lain.
Yuke Yurike, calon legislatif dari
PDI-P mengalami budaya tidak
demokratis di lingkungan masyarakat
seperti yang diutarakan Eka Wenats.
Tapi, menurutnya, budaya yang
menjurus kurang baik ini sebaiknya
diubah. Salah satu caranya adalah
dengan masuk ke dalam sistem
seperti menjadi anggota partai politik
yang aktif dalam arti ikut serta dalam
proses pengambilan keputusan
jalannya parpol.
Menurutnya, generasi muda
sebaiknya ikut serta dalam proses
politik, seperti dahulu ketika Sukarno,
Hatta, Sutan Syahrir, yang usianya
antara 26-35 tahunan tapi telah turut
mewarnai perpolitikan di nusantara
dan kecenderungan di dunia saat ini
adalah tampilnya tokoh-tokoh politik
usia muda yang berkwalitas.
Dalam Pemilu, pemilih pemula
disayangkan bila hanya mengikuti
euforia atau kemeriahannya saja.
Idealnya turut dicarilah informasi
tentang partai politik dan individu-
individu yang ikut dalam pencalonan
sebagai anggota legislatif. Pemilu
adalah
salah
satu
sarana
pembelajaran politik dan partai politik
sebaiknya mengambil momen ini
sehingga selain menghindarkan
masyarakat dari pilihan Golput juga
akan menjadikan pemilih pemula
menjadi smart voter (pemilih cerdas).
Golput adalah fenomena yang
terkadang menjadi simbolisasi
pemilih pemula. Andaikan parpol
senantiasa menjadi sarana yang
mumpuni dalam menampung
ekspresi politik dan juga menjadi
sarana pusat pengetahuan tentang
Pemilu dan Demokrasi secara
keseluruhan,
Golput
dapat
diminimalkan.
Ralie M.S, calon anggota DPD
(Dewan Perwakilan Daerah) 20092014 menambahkan, keapatisan
terhadap kondisi dan situasi bangsa
negara, khususnya bila mengenai
sosial
politik,
tampaknya
menghinggapi generasi muda Indonesia. Padahal Indonesia terwujud
karena pemuda.
Kebangkitan Nasional dipelopori
dengan berdirinya organisasi Trikoro
Darmo oleh pemuda Sutomo,
Wahidin dan Multatuli. Sumpah
Pemuda yang menjadi tonggak
persatuan bangsa diadakan para
pemuda yang rata-rata berusia 20
tahunan. Kemerdekaan Indonesia
diwujudkan para pemuda yang ratarata berusia 30 tahunan. Berbagai
peristiwa yang menjadi momentum
nasional juga digerakan oleh kaum
muda seperti Peristiwa Malari,
Gerakan Reformasi 1998 dll.
Bagaimana supaya apatisme
dapat
tergantikan
menjadi
optimisme? ”Melihat kondisi saat ini,
wajar bila generasi muda menjadi
pesimis dan apatis. Kondisi sosial
politik tidaklah menunjukkan
kepanutan dan keidealismean.
Tindak kriminal dilakukan oleh para
individu-individu yang seharusnya
menjadi pemimpin, seperti terlibat
dalam tindak korupsi, suap,malas dll.
Kondisi lingkungan juga sudah
diwarnai oleh iklim globalisme yang
cenderung menjadikan generasi
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
18
muda hanya objek pasar belaka
bahkan pola yang terjadi adalah
membawa bangsa ini menjadi
”terjajah” oleh iklim globalisme
budaya, ekonomi dan sosial.
Globalisme mungkin tidak salah,
namun masyarakat, khususnya
generasi muda belum disiapkan
dengan baik untuk menghadapi ini
semua. Akibatnya, berimbas pada
apatisme dalam memperhatikan
sosial politik,” ujar Ralie.
Karena itu, diperlukan peran
parpol yang dapat memberikan
panutan dan pengetahuan mengenai
kewarganegaraan. Salah satu fungsi
parpol yaitu memberikan pendidikan
politik. Sayangnya, parpol di Indonesia belum maksimal menjalankan
fungsinya. Tapi diharapkan,
masyarakat janganlah pesimis.
Kondisi ini sebaiknya diminimalkan
dan yang melakukannya adalah dari
masyarakat itu sendiri juga.
Pendidikan politik khususnya
tentang demokrasi disaat ini sangat
kurang dibanding dengan masa lalu.
Pada masa lalu, pemuda termotivasi
untuk ikut serta dalam proses politik
oleh adanya kolonialisme Belanda.
Ada baiknya pendidikan politik dan
demorasi diperbanyak kapasitasnya.
Puisi-Puisi
Bagus Kumara
Bagus Kumara adalah ‘nama pena’
Bambang S. Santoso, kini tinggal di
Abu Dhabi. Kumpulan puisinya
A DI NEGERI
berjudul ANGIN CIT
CITA
BELANDA: Suntingan Sajak dan
Sanjakelana Dari masa studi
studi,
pernah ‘diperbanyak’ oleh PPI Delft,
1985. Berikut dua buah puisinya.
Schiphol Airport di Awal Cerita
DC10 “Irian Jaya” merapat di pier A
pada ujung perjalanan yang panjang
meninggalkan pertiwi, kampus
Ganesha dan Si Dia tercinta:
tak kan kulupa desahmu kemarin
malam,
dalam haru perpisahan
antara cinta dan padang
pengembaraan,
mengungkap misteri
di belakang sejuta tanda tanya
Semangat
adalah
yang
membedakan pemuda di era 1920an dengan pemuda di era saat ini.
Bagaimana
menumbuhkan
semangat itu kembali, itulah salah
satu tugas parpol dan politikus. Para
caleg dan politisi seharusnya
melakukan perubahan sehingga
dapat memotivasi rakyat untuk turut
melakukan perubahan. Di sisi lain,
pemilih belum menjadi prioritas
karena politisi sekarang memberikan
panutan negatif, sehigga ada
kekhawatiran bahwa politikus
berikutnya dan bila yang saat ini
terpilih kembali, maka mereka tetap
melakukan kenegatifan tersebut.
Ralie M.S. mengatakan, suasana
saat itu adalah suasana terjajah, saat
ini adalah dalam kondisi globalisasi.
Seharusnya semangat tetap ada
karena globalisasi juga bisa
menjadikan bangsa ini terjajah
kembali khususnya secara ekonomi.
Parpol adalah salah satu institusi
yang seharusnya memotivasi dan
memberikan edukasi politik.Pihakpihak lain yang berkompeten pun
sebaiknya juga dapat memberikan
pendidikan politik. Sedangkan DPD
bertugas mengawasi penggunaan
dana, pembuatan kebijakan dan
pemekaran wilayah.
Yuke menambahkan, edukasi
politik sekarang secara bertahap
mulai diperhatikan, khususnya oleh
parpol. Paling penting adalah
pendidikan politik harus dilakukan
dari lingkungan terdekat seperti
keluarga dan sekolah. Eka Wenats
mengatakan, salah satu sarana
edukasi politik adalah melalui media
masa dan internet. Situasi sosial dan
budaya juga berpengaruh dalam
edukasi politik tapi yang berpengaruh
besar adalah tingkah wakil rakyat
atau politisi itu sendiri.
Edukasi politk akan menyebabkan
masyarakat mempelajari pilihanpilihan yang diutarakan politisi
sekaligus mencari tahu jejak
pemikiran dan aktivitas para politisi.
Edukasi juga menyebabkan
masyarakat tahu dan bisa menuntut
kewajiban pemimpinnya.
Generasi muda sebaiknya ikut
berperan, minimal memperhatikan
proses politik (proses Pemilu).
Memilih dan terlibat secara aktif
dalam proses politik adalah wujud
keterlibatan dalam proses perbaikan
politik Indonesia. ***
C.T
C.T.. Adihikara
Adihikara,
JejakLangkah Study Club (JLSC).
pulau seribu melambai di luar jendela
kaca,
Singapura, Bangkok lalu Abu Dhabi,
terlintas begitu saja
diiringi irama Get Away yang parau
tertelan kepak sayap Sang Garuda
perkasa
meninggalkan padang pengembaraan
tercinta
mengulang perjalanan larut
penuh kisah rakyat raya
dengan kegilaan nestapa
dan gelandangan pemabuknya
tersentak kuterjaga di atas Roma
bagai mimpi dalam lompatan yang
hilang
angkasa Eropa
penuh garis-garis putih halus
menggurat langit biru muda
tegas membekas
stempel imigrasi di pasporku
dan kumelangkah tak berpaling lagi.Mei 1976
Kereta Terakhir ke Rijswijk
tiga kereta
antara Leeuven dan Rijswijk
(selepas ikut sepotong kecil dari
penjelajahan antar benua, rekan FM
dan EI bersama Mazda 323 nya)
berlari menggeram
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
kuacuh terhenyak di kabin kelas dua
dekat WC bau pesing
ketak ketik
kaca tebal disisiku
menyambut butiran salju muda
berirama roman perburuan
kerap
dan kencang
sementara dingin menyelinap
lewat dua helai lapis tipis
menyentuh dadaku nan pepat
kala si karcis dilubangi
tanpa senyum
terlampau banyak tanya
dalam denyut hari-hari terakhir
hingga suatu "selamat jalan kawan ...."
tanpa kuperinci
kemana mauku
dan apa yang terbuang.12 Nopember 1978
19
Nyong Ambon Pung Gaya
Imajinasi Gaya dan Identitas Tubuh Anak Muda Kota Ambon
Oleh Hatib Abdul Kadir
Kota Ambon yang sempit dan
padat, menyebabkan pola interaksi
anak muda menjadi lebih intensif.
Pasca konflik, ruang publik anak
muda secara garis besar hanya
terpusat pada dua tempat yakni Ambon Plaza dan Lapangan Merdeka.
Karena sempitnya ruang publik ini,
persebaran gosip, isu dan
perkembangan anak muda sangat
cepat. Gaya atau pola tingkah anak
muda Ambon yang penuh sensasi,
luar
biasa
atau
bahkan
menjengkelkan dengan cepatnya
terkabarkan ke segala pelosok. Anak
muda akan segera tahu, jika si A
sebagai pelaku sesuatu, maka
pendengar kabar atau saksi mata
akan mengetahui, si A anak muda
dari wilayah mana, siapa saudara
yang dikenalnya, dan tempat ia
sering duduk-duduk. (1)
Pakaian, selera makanan dan
minuman, dan pilihan musik
menggambarkan pengalaman sosio
kultural. Demikian pula, pengalaman
anak
muda
Ambon
dalam
menerjemahkan pilihan gaya hidup
dan selera tubuh mengacu kepada
benang historis dan nilai kultural.
Kemampuan menjalankan gaya
secara bergengsi pada sebagian
anak muda Ambon, dianggap bagian
dari transfer gaya kaum kolonial yang
diadaptasi kembali dan terus
diartikulasikan hingga pasca konlik
tahun 2002. Pencuatan gaya
dikalangan anak muda disinyalir
karena dua hal yakni: anak muda
yang memasuki masa usia transisi
dan perlu menyampaikan ekspresi
tubuh dengan mencolok; dan anak
muda yang memiliki kesensitifan
terhadap rasa keterasingan diri ketika
berada di tengah modernitas sebuah
kota (Ewen, 47-54: 1988).
(Pemuda
Indonesia),
Jong
Islamietenbond (Liga Pemuda Islam),
Jong Minahasa (Pemuda Minahasa),
dan lainnya mengindikasikan
pemuda identik dengan orientasi
yang peduli dengan konstruksi
Negara Bangsa. Setiap individu
pemuda diharuskan mempunyai
loyalitas kepatuhan terhadap negara
sekaligus pelaku utama perubahan
dan mempunyai berbagai potensi
yang masih tertanam (Ryter, 47, 58:
1998). Salah satu karakter pemuda
Indonesia seperti yang digambarkan
Anderson tidak merujuk pada jenjang
usia tertentu, dan memang pemuda
di Indonesia dalam rentangan rejim
tidak terbatas pada waktu tertentu
(timeless) (Anderson 3: 1999).
Antropolog James T Siegel
melihat bahwa karakterisasi pemuda
yang dianggap sangat politik pada
masa Orde Baru, dibengkokkan ke
istilah “remaja”. Ini sebuah istilah
yang diidentikkan dengan anak-anak
muda apolitis, dekat dengan perilaku
konsumtif dan hasrat-hasrat
ketubuhan
yang
bertingkah
hedonistik.(2) Kata remaja juga
mengacu kepada anak muda kelas
menengah dengan pilihan-pilihan
konsumsi yang telah selesai
mengurusi permasalahan tubuh
secara primer, seperti masalah gizi,
kesehatan hingga pendidikan.
Konsep remaja ataupun anak muda
mempunyai satu kesamaan, yakni
sangat peduli dengan selera (taste)
dan tingkat konsumtivitas yang tinggi
(Ryter, 58: 1998; Siegel, 203-4: 1986;
Shiraishi, 1997: 149).
Pada masa Orde Baru beberapa
konsep sengaja dikaburkan. (3)
Sebagai misal konsep remaja yang
berkelindan dengan makna anak
muda. Meski sebuah organisasi
negara bernama BKKBN (Badan
Koordinasi Keluarga Berencana)
mendefinisikan remaja sebagai
mereka yang baru mengalami transisi
fisik dari anak-anak menuju dewasa,
yakni mereka yang berusia antara 10
hingga 21 tahun. Namun, terdapat
kesepakatan struktural dan kultural
yang mengakui bahwa anak muda
dewasa adalah mereka yang telah
menginjak usia 17 tahun. Karena itu,
mereka berhak mendapatkan surat
ijin mengemudi, mendapatkan kartu
tanda penduduk, menghisap rokok,
meminum minuman keras, melihat
sinema dewasa di bioskop, hingga
mencoblos dikala pemilihan umum
yang diadakan dalam lima tahun
sekali. Kartu-kartu yang diproduksi
oleh negara menentukan identitas
tubuh seseorang untuk menjadi
dewasa atau tidak.
Mengenai konsep tentang anak
muda yang dihadirkan oleh negara,
berikut adalah bagan yang dibuat
buat berdasarkan hasil pembacaan
terhadap beberapa literatur
mengenai anak muda di Indonesia.
Bagan di kolom pertama adalah
anak muda yang berhasil ditaklukkan
oleh negara. Sepanjang rejim Orde
Baru, tampak pada NKK/BKK yang
disahkan oleh Menteri Dalam Negeri
(1982-1983) bahwa mahasiswa
dijadikan seperti macan kehilangan
taring. Demikian pula istilah remaja
seperti yang telah saya bahas di atas.
Pada kolom kedua di tahun yang
sama ribuan pemuda jalanan
diberangus
melalui
Petrus
(penembakan misterius sepanjang
1983-1985) dan juga dicap sebagai
Konstruksi Anak Muda versi Negara
Anak muda digambarkan sebagai
orang-orang paling bergelora, radikal
dan heroik terhadap wacana anti
kolonial. Munculnya Jong Java
(Pemuda Jawa), Indonesia Muda
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
20
musuh negara karena dianggap
mengancam
stabilitas
pembangunan. Semua anak muda
harus dikerahkan untuk selalu
mendukung pembangunan negara.
Sedangkan anak muda yang tak
dapat dipetakan oleh negara,
terkonstruk dengan istilah anak
jalanan, Gali atau geng jalanan.
Bagan di kolom ketiga adalah
sekelompok anak muda yang mau
dan mampu diklasifikasikan sebagai
perangkat negara yang dimasukkan
seperti ke dalam kelompok PP
(Pemuda Pancasila). Ini adalah
sebuah kelompok legal resmi yang
mendukung satu partai dominan
pada waktu itu yakni Golkar
(Golongan Karya) (Ryter, 63: 1998).
Negara menyebut anak muda ini
sebagai ”preman sadar”, karena
terdiri dari preman yang dibina
negara
(4),
dipupuk
rasa
nasionalismenya, namun pada saat
yang sama menjadi backing
perjudian, perlontean dan berbagai
hiburan malam. Jika salah satu
anggotanya kedapatan berbuat
diluar hukum, akan disebut sebagai
”oknum”, sehingga tetap selamatlah
organisasi di bawah negara tersebut
(Ryter, 63-8: 1998).
Terdapat pula organisasi yang
disebut dengan Angkatan Muda
Golkar (AMG) yang kategorisasi usia
anggotanya diperlebar hingga
mereka yang menginjak usia 40
tahun. Begitu juga dengan Pemuda
Pancamarga dan Angkatan Muda
Pembaharuan Indonesia (AMPI).
Pragmatisme terhadap konsep anak
muda pada kolom ketiga dikenakan
demi berbagai suksesi yang
diinginkan oleh negara. Konsep
mengenai anak muda Indonesia
pada kolom ketiga ini berkesan timeless, tak mempunyai batasan pada
tingkatan umur tertentu. Karena
konstruksi politik Orde Baru yang
memasukkan institusi-institusi
dengan kata ”muda” seperti diatas.
nitas Kolonial dalam T
ubuh
Moder
Tubuh
Modernitas
Anak Muda Ambon
Harus diakui bahwa agama
Kristen menjadi salah satu faktor
penentu yang paling penting dalam
membentuk perkembangan gaya (5)
dan identitas modern pada anak
muda di Ambon, karena agama ini
identik dengan pihak koloni. Karena
kondisi ini, identitas gaya tubuh telah
terbagi ke dalam beberapa kluster,
antara Islam dan Kristen; kluster etnis
seperti China, Ambon itu sendiri,
Jawa, serta orang-orang dari ujung
Sulawesi seperti Buton, Bugis dan
Makasar. Tubuh dan segala gayanya
merupakan konstruksi dari dunia
politik kolonial.
Pada pertengahan abad XVII,
awal dari kepercayaan baru terhadap
agama Kristen bukan didapat dari
masyarakat Ambon sejak lahir.
Menjadi
Kristen
merupakan
transformasi tubuh di usia muda,
yang terjadi melalui tatanan
pemerintahan koloni.
Kekuasaan
koloni
membahasakan teologi dengan
menciptakan ketergantungan personal melalui dominasi pekerjaan
birokrasi, pakaian, pola makan
hingga pola mandi dan mencuci.
Kepercayaan dikreasikan melalui
konversi doktrin baru, seperti
mengubah makna tubuh telanjang
seperti yang biasa oleh kepercayaan
sebelumnya, menjadi tidak boleh.
Kekuasaan juga mengkonstruksi
landscape kota yang menegaskan
hadirnya penguasa Kristen. Terjadi
pula konversi pemaknaan terhadap
Tuhan. Karena itu permasalahan
memilih agama tidak terlepas dari
unsur kepentingan politik.
Jika merujuk pada asumsi bahwa
agama dan keimanan adalah sistem
yang dibentuk semenjak lahir, maka
pengorbanan orang Ambon untuk
mengubah kepercayaan dari
Shamanisme ke bentuk agama
Abrahamik merupakan suatu
transfromasi
yang
patut
dipertanyakan karena memeluk
agama lebih didasarkan pada posisi
tawar politik dan gengsi tubuh
(Bartels, 4-5: 1976; 3-4: 1990).
Di sinilah saya memperkirakan
bahwa
koloni
(modernitas)
memunculkan kesetaraan urgensi
antara keimanan terhadap suatu
agama dan gengsi. Demi gengsi
dapat memasuki tataran birokrasi
modern,
warga
Ambon
mentransformasikan keimanan
sebagai salah satu strateginya.
Seruan gaya tubuh dengan
datangnya abad modern tidak dapat
dipisahkan dari kondisi subjektif
manusia. Ketakutan terhadap
kecemasan, keluhan, terasing,
ratapan terhadap kesendirian,
terombang-ambing, terisolasi, rasa
putus asa, tak terlihat dan tak
dianggap, distrategikan dengan
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
semangat demi menumbuhkan gaya
sebagai
“keangkuhan”
dan
kehormatan dalam identitas modern.
Anak-anak muda Ambon tak
hendak melepas identitas keetnisan
di manapun kaki diinjak (Bartels,
1990: 5-6). Dengan bangganya
mereka menyebut bahwa Maluku
adalah propinsi kedua belas dari
Belanda, kemanapun mereka
berdiaspora. Kebanggaan tersebut
muncul karena Belanda dianggap
sebagai koloni yang berhasil
memodernkan dan memperadabkan
anak muda Ambon.
Salah satu modernitas yang
dihasilkan adalah sistem sistem
pendidikan, yang dikenal dengan
istilah “sekolah madras” sekolah
diasuh oleh gereja, terutama yang
menunjang untuk pendidikan agama.
Pelajaran yang disampaikan adalah
berhitung, membaca dan tentu saja
menyanyi (lagu-lagu rohani) (Leirizza,
2004: 76).
Saya
mensinyalir
bahwa
munculnya sekolah di jaman koloni,
bertujuan untuk mengubah tiga hal,
kecerdasan intelektual, keimanan
dan gengsi. Perluasan reformasi
pendidikan tidak semata mengubah
ketersediaan manusia untuk menjadi
pegawai negeri dan tentara, namun
juga menciptakan relasi di antara orang-orang Ambon itu sendiri dengan
pihak Koloni dan relasi horizontal
dengan penduduk pribumi sendiri.
Anak-anak burger (pegawai)
menolak menjadi pekerja kasar, dan
karena ingin menjadi pekerja
kantoran mulai memasuki sekolah
umum. Di berlakukannya sistem
politik etik, mengubah sistem
pendidikan
yang
berbasis
keagamaan dan berorientasi pada
keuntungan koloni, ke arah
pendidikan yang humanis dan
progresif. Maka berdirilah ABS (Ambon Burger School) pada tahun 1856.
Bahasa Belanda digunakan
sebagai pengantarnya. Sekolah tidak
dipungut biaya, sehingga siapapun
dapat menuntut ilmu di dalamnya.
Dari sinilah kemudian anak muda
kota
Ambon
benar-benar
berperadaban dan semakin tercipta
jarak dengan masyarakat di
sekitarnya yang bukan orang kota
dan bukan orang terdidik.
Di sisi lain anak muda Ambon Islam juga banyak yang mengapropriasi [membenarkan] budaya
kolonial, hal ini tampak pada
21
banyaknya mereka yang direkrut the native child in general would
menjadi tentara KNIL. Demikian pula rather associate have with native than
ketika ide mengenai Nasionalisme with the European and prefers to
menyebar hingga ke Ambon, anak- speak Malay than Dutch, with the
anak muda terpelajar Islam juga Ambonese its just the reverse, as
menjadi penggerak utama dalam much as possible the ambonese want
menentang sistem kolonialisme to be Dutchmen and it is their good
(Chauvel, 1990: 198). Namun fortune than in Ambon a certain indemikian, tetap bersatunya orang termingling between European and
Kristen dan Islam modern ke dalam native axists” (Historisch overzicht
identitas “Orang Ambon” tak lain 1930-31; 1: 54-5, via Chauvel 1990:
karena kepercayaan terhadap 31).
satunya
tradisi
kepercayaan
Nunusaku
dan
tunggalnya adat
serta nenek moyang
mereka. (6)
Pasca
tahun
1930,
pendirian
sekolah tak lepas
dari
ide-ide
Nasionalisme seperti
yang diusung anakanak
muda
di
Syarekat Ambon.
Salah satu idenya
a d a l a h
memunculkan
Mode pakaian anak muda keturunan Buton yang dianggap
pendidikan untuk
tidak memenuhi syarat bergaya anak muda Ambon
mencegah anak
muda melakukan
migrasi ke kota-kota di Jawa. Sekolah
Van Chijs mengobservasi sistem
diharapkan mampu menjadi pra- gaya bersekolah pada sekelompok
syarat mencerdaskan anak muda di kecil anak muda Kristen yang terdidik
kota Ambon sendiri.
dalam kota. Di dalam komunitas
Kaum
Nasionalis
juga sekolah, kesempatan pendidikan
menganggap bahwa belajar Bahasa lebih
diperluas
dibanding
Belanda adalah bentuk alienasi, kesempatan yang didapat elit agama
karena itu perlu pendidikan dengan lokal dan elit adat.
bahasa Ambon sendiri, yang di
Beberapa penyebab “deman
dalamnya juga belajar tentang kultur sekolah” tak lepas dari adanya MalAmbon (Chauvel, 1990: 152-3).
aise pada tahun 1930. Tak sedikit orIde mengenai “Nasionalisme ke- ang-orang Ambon keluar dari wilayah
Ambonan” mulai digulirkan melalui Maluku untuk menjadi tentara. Jaman
pendidikan. Sekolah menempati Malaise menyebabkan anjloknya
posisi pengalaman penting dalam harga cengkeh di pasaran dunia dan
upaya “Pembaratan”. Ajaran dan merosotnya lowongan untuk bekerja
lingkungan pendidikan dianggap di kantor-kantor pemerintahan.
sebagai momen terjadinya transfer
Sekitar 61% dari anak muda
kekuasaan dari pemerintah Belanda, Kristen Ambon yang terdidik mulai
yang oleh Bartels menyebutnya bekerja di luar Maluku, seperti di
sebagai “White Power”.
birokrasi kolonial, guru, misionaris
Sebagaimana ketika inspektur dan tentara. Anak-anak mereka
pendidikan J.A. van Chijs, yang mendapat standar posisi yang lebih
mengunjungi Ambon pada tahun tinggi, kemakmuran materi, fasilitas
1869 melaporkan:
yang lebih lengkap dan mobilitas
“Among the pupils the knowledge sosial yang lebih luas, dibandingkan
of our language is much more devel- dengan mereka yang tinggal di
oped than among for example the dalam kota Ambon.
Javanese or Malays. In many reHal ini menunjukkan bahwa,
spects our manners and customs “nasionalisme ke-Ambonan” lebih
have become theirs. While in Java, mengacu kepada produk sistem
pendidikan Belanda yang didukung
sepenuhnya dalam komunitas Kristen
urban. Demikian pula ”nasionalisme
ke-Ambonan” ini juga melanda di
kalangan anak muda urban Islam
(Chauvel, 1990, 205-8).
Konstruksi Image Anak Muda Ambon
Paska Kolonial
Kiblat gaya anak muda beralih
paska kolonial. Dekolonisasi besarbesaran yang dilakukan negara Indonesia hingga tahun 1950
menjadikan anak muda Ambon berdiaspora ke kota-kota yang mulai
pesat membangun, yakni kota-kota di
Jawa. Image “pergi lihat“ atau tinggal
di kota-kota besar di Jawa mengacu
kepada kesuksesan ekonomi atau
sekedar berbelanja, belajar bahkan
bekerja.
Karena sepulang dari sana ada
narasi yang diceritakan di sesama
anak muda Ambon. Migrasi anak
muda Ambon yang dilakukan paska
kolonial, seperti tertera dalam tulisan
M Fauzi yang menceritakan kembali
pengalaman Maun Sarifin, yang
pernah bekerja sebagai petugas
kebersihan di stasiun Jatinegara:
“Yang namanya calo dari dulu ada
di bioskop. Tapi kita bukan ngituin
suku ya. Yang banyakan tuh anakanak yang dari Ambon. Dulu, waktu
itu anak-anak itu kan masih apa sih
anak emas gitu ya ama Belanda kan.
Jadi seolah-olah dia tuh paling tinggi
di situ. Jadi dikuasai oleh orang-orang
itu,
anak-anak
itu.”
(Sebagaimana diungkapkan oleh
pelaku sejarah Sarifin, dalam Fauzi,
2004: 21).
Bahkan penduduk di Batavia pun
punya bayangan terhadap gaya anak
muda Ambon. Diaspora mereka di
kota-kota
besar
di
Jawa
mengkonstruksi image tersendiri bagi
penduduk di Jawa. Identitas anak
muda yang hanya lahir di kota Ambon atau orang tua mereka berasal
dari Ambon, disebut sebagai Ambon
Card. Ambon Card ini menempati
posisi gengsi tertinggi dalam image
anak muda di Kota Ambon. Karena
generasi Ambon Card dianggap
mempunyai nilai lebih untuk
mengetahui tentang dunia kota-kota
besar di luar kota Ambon, dan dalam
hidupnya, mereka kemudian menjadi
sukses secara ekonomi. (7)
Suku bangsa yang tidak
mempunyai pengalaman pertemuan
dengan koloni adalah Buton. Anak
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
22
muda Buton nyaris tidak mempunyai
tempat khusus di mata Belanda dan
birokrasi modern. Selama melakukan
migrasi ke kota Ambon, anak muda
Buton hidup dari membuat makanan,
menjadi tukang becak dan di
beberapa sektor jasa informal
lainnya.
Dibanding anak-anak muda Ambon, mereka jauh lebih tidak terdidik.
Sehingga dalam penentuan dan
kebijakan politik kota, anak muda
Buton nyaris tak masuk dalam
perhitungan. Dimata anak muda Ambon Kristen maupun Islam, anak
muda Buton dianggap backward
Persepsi asal-usul mereka ditolak dari
dua arah, di Ambon dan Buton
sekaligus. Salah satu sebab
termasuknya orang Buton ke dalam
kategori polutif, sebagaimana
dilaporkan oleh Palmer:
“Migrants often recall how
Ambonese people swear at friends
when they meet them, spend what
they have immediately, and live to be
fashionable (bergaya), in contrast to
the migrants being polite, saving their
money, and not being as interested
in looking trendy. When the discussion turns to life in Buton, the returnees often mention how people here
are stingy with
money, not helping
each other like how it
is done in Ambon.”
(Palmer, 2004: 92).
“Kesederhanaan”
bergaya anak muda
Buton justru dianggap sebagai bagian
dari kepelitan mereka
untuk tidak mengalokasikan uang
untuk berdandan
dan bergaya. Dalam
pandangan anak
muda Ambon, gaya
berpakaian trendi
yang merepresentasikan solidaritas
Paska kerusuhan (1999-2003), dominasi gaya klas menengah
antarteman tidak
Cina Ambon sirna, dan kini gaya anak muda Islam dominan.
diterapkan dalam
people. Namun inferioritas ini tetap kultur lokalitas anak muda Buton.
tidak menutup kemungkinan anak
Gaya berpakaian kemudian
muda muslim Ambon untuk menikah menciptakan batas antara “kita” dan
dengan orang-orang Buton. Anak ”mereka” dalam struktur kekuasaan
muda Islam Ambon menganggap anak muda Ambon. Di sisi lain gaya
bahwa perempuan Buton adalah dandan
tubuh
menciptakan
pekerja keras, hemat dan mempunyai seperangkat kecemburuan sosial
jiwa pengusaha.
diantara anak-anak muda Buton yang
Hal terpenting bahwa mereka tak melihat
itu
hanya
rekaan
gengsi untuk memilih berbagai “kesombongan” yang dikonstruksi
pekerjaan apapun yang dapat anak-anak muda .
dilakoninya. Rendahnya tingkat
pendidikan dan sempitnya lapangan Konstruksi Image Anak Muda Ambon
kerja membuat anak-anak muda Paska Konflik Agama (1999-2002)
Konflik selama lebih dari tiga
Buton sering dianggap menjadi
pelaku kriminal di kota. Juga, mereka tahun di Ambon telah menyebabkan
berangasan dalam bertetangga. tajamnya disparitas identitas anak
Rusuh-rusuh kecil pada malam hari muda hingga saat ini. Identitas tidak
menjadi biasa di kampung-kampung lagi terbelah antara anak muda urban
dengan
non-urban,
kumuh yang ditempati rata-rata ambon
migran Buton, seperti di wilayah melainkan antara anak muda Ambon
yang beragama Kristen dengan anak
Silale, Soabali dan Abdulali’e.
Di kota Ambon, orang-orang muda Ambon yang beragama Islam.
Buton ini tidak diterima sepenuh hati Anak-anak muda migran yang
sebagai orang Ambon kota. Mereka selama ini inferior, seperti anak muda
tidak memiliki identitas yang pasti. Buton, Jawa dan Makasar berafiliasi
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
ke anak muda Islam Ambon.
Meski telah damai, kota Ambon
masih menyisakan batas-batas
kultural yang semakin menguat
perbedaannya antara Kristen dan Islam. Pada bentuk pilihan musik
misalnya. Anak-anak muda Islam
lebih menyukai Pasha dan Band
Ungunya, dikarenakan dua hal.
Pertama, band ini menjadi salah satu
pengiklan utama pakaian distro
bernama Black Id. Sebuah
perusahaan pakaian independen
yang bermarkas di Bandung. Kaos
dari Black Id ini sering dipakai oleh
Pasha. Paska konflik, aspirasi
terhadap pakaian independen (baca:
Indie) semacam Black Id ini justeru
lebih banyak menyebar di anak muda
komunitas Islam, mengingat barang
yang masuk melalui pelabuhan
dagang diakses terlebih dahulu oleh
pedagang di pesisir yang notabene
Muslim. Kedua, Band Ungu
mengkonstruksi dirinya sebagai band
Muslim ketika pada bulan puasa/
ramadhan 2006 mengeluarkan
sebuah album rohani Islam. (8)
Sedangkan pada ruang kota
dapat dilihat pada satu-satunya mall
di Ambon, yakni Ambon Plasa,
menjadi saksi transformasi kelas
menengah keturunan Cina yang
menghilang paska konflik dan
tergantikan dengan gaya anak muda
Islam yang sangat dominatif. Tatkala
saya memasuki lantai dasar Ambon
Plasa, para pedagang di stan-stan
tak berhentinya mengajukan
pertanyaan “cari apa abang?” (9)
Begitu memasuki plasa, nuansa
keislaman langsung dapat dirasakan.
Dua pintu utama yang berada di
dalam mall ini menjual perangkat
busana muslim dan kopyah. Pada
busana muslim di depan etalase
didominasi oleh warna merah muda
dan putih. Terdapat sebuah patung
kepala perempuan berwajah putih
beralis tebal yang diberi kerudung.
Sedangkan penjualan tasbih, kopyah
dan sajadah berada pada mulut pintu
utama di bagian timur.
Beberapa penjual berjenggot
lebat dan mengenakan celana
hingga di atas mata kaki. Sesekali
mereka bersalaman tatkala menemui
beberapa rekan yang ternyata juga
tengah berbelanja. (10) Karena
terletak di pesisir yang dikuasai oleh
komunitas Islam, Ambon Plasa
otomatis menjadi milik kekuasaan
anak muda Islam. Tak sedikit anak
23
muda Kristen yang merasa was-was
untuk datang ke tempat ini.
Pada tingkatan imajinasi,
disparitas konstruksi ruang perkotaan
paska konflik ditindaklanjuti dengan
perbedaan-perbedaan superficial
seperti makna kecantikan. Di
kalangan anak muda Kristen, image
ketampanan, kecantikan dan
kegagahan lebih mengacu kepada
anak muda keturunan AmbonBelanda. Sedangkan pada anak
muda Ambon Islam, kecantikan dan
kegagahan lebih mengacu kepada
anak muda keturunan Ambon-Arab.
Dua model keturunan ini terdapat di
kota Ambon, dan dianggap sebagai
manusia yagn berfisik ideal, pada
masing-masing komunitas Kristen
maupun Islam. Kesamaan konstruksi
tubuh ideal di antara komunitas anak
muda Kristen dan Islam adalah,
sama-sama berhidung tinggi alias
mancung, baik dari keturunan Ambon-Arab dan Ambon-Belanda. Inilah
mengapa kemudian anak muda Ambon tak begitu mengidealkan
kecantikan ala perempuan Jawa
ataupun Sunda yang secara fisik
dianggap berkulit pucat, berhidung
idealitas fisik anak
muda pasca konflik
menunjukkan pasca
konflik di Ambon,
perbedaan masih
tetap terpelihara, dan
pengusung penting
dari perbedaan ini
adalah anak muda.
Penutup
Konstruksi gaya
yang dibangun pada
masa kolonial adalah
anak muda dan
kedekatannya dengan Dua anak muda Belanda berketurunan Ambon. Syarat dari
Belanda.
Paska kegagahan dan ketampanan ideal yang diinginkan perempuan
kolonial, perbedaan Ambon.
lebih ditekankan pada
berdasarkan ketegangan Kristen-Isinteraksi antar etnis dibanding agama
lam. (11)
- anak muda Ambon (baik Kristen
Gaya dan identitas tubuh
maupun Islam) lebih menganggap
dikosntruksi berdasarkan replikasi
bahwa anak muda migran Buton,
dari kekuasaan kaum kulit putih,
Jawa dan Makasar lebih inferior
dijalankan masyarakat pribumi
dibanding mereka. Sedangkan
dengan melakukan inkorporasi ke
konstruksi identitas ketiga adalah,
dalam
berbagai
variasi
terjadinya disparitas ruang dan
kehidupannya. Gaya tubuh menjadi
imajinasi identitas antar agama yang
strategi unifikasi masyarakat pribumi
baru saja berkonflik, yakni Islamterhadap masyarakat koloni.
Kristen.
Dengan
demikian,
saya
berkesimpulan bahwa gaya tubuh
bukan hanya milik koloni Belanda,
melainkan juga dinarasikan kembali
oleh pemiliknya, yakni masyarakat
pribumi Ambon yang mengolahnya
kembali pada masa paska kolonial.
Bahkan gaya itu ditransformasikan
kembali pada periode pasca
kerusuhan 1999-2002.
Transformasi kemodernan yang
memunculkan kesadaran akan gaya
tubuh dikonstruksi melalui empat
interaksi: pengalaman militer,
pendidikan, pakaian dan agama.
“Ila Fadila…Nona manis arab ambon..e..” Adalah “image” kecantikan yang direkonstruksi pada Pada tahun 1895, di kalangan anak
komunitas urban Islam. Ini adalah sebuah judul lagu yang dibawakan Oleh Doddy Latuharhari, muda keinginan untuk menjadi
vokalis Nanaku, dengan Judul “Lampu Lima”
tentara dan pegawai negeri semakin
marak, ini dikarenakan menurunnya
pesek dan mempunyai karakter yang
Nasionalitas yang dibangun oleh
harga cengkeh di pasaran
terlalu lembek. Prasyarat fisik sangat anak muda Ambon selama masa
internasional. Juga dikarenakan
penting, mengingat kebagusan tubuh Orde Baru, adalah dengan
adanya monopoli harga yang
pada pasangan kekasih berperan membedakan konsep antara “negeri”
dilakukan koloni Belanda.
penting untuk menaikkan gengsi laki- dengan
“negara“.
Dalam
Abad
ke-19
merupakan
laki yang berada di jalanan kota.
mengkonstruksi negara, anak muda
transformasi besar-besaran; orang
Tujuan dari keinginan untuk Ambon secara ambigu menyatakan
Ambon mulai mereorientasi atribut
mendapatkan perempuan, oleh anak iri sekaligus terkagum terhadap
apa yang hendak dijadikan sebagai
muda Ambon karena nantinya akan kemajuan yang terjadi di pusat
gaya tubuhnya. Ambisi yang
di pamerkan ke wilayah publik. Ia pemerintahan negara, yakni Jawa.
dilakukan tidak hanya memeluk
dijadikan kebanggaan di depan Berbeda halnya dengan “negeri“,
agama Kristen, namun juga mencari
teman-teman, hingga kemudian akan mengacu kepada tanah Maluku dan
sekolah alternatif yang lebih
menciptakan perbincangan yang kota Ambon khususnya yang
prestisius,
demi
mendapat
mengandung nilai salut di kota yang bermuatan emosional, penuh dengan
kedudukan sebagai pegawai
berukuran kecil ini. Lebih dari itu, tangis kerinduan yang tidak
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
24
pemerintahan sipil atau menjadi
tentara di tangsi-tangsi. Munculnya
gengsi dan gaya orang Ambon,
karena posisi politik, pendidikan,
ekonomi dan kedudukan militer yang
cukup
istimewa.
Perasaan
superioritas terisi di antara orang
Ambon yang menjadi tentara KNIL.
Pada masa paska kolonial,
konstruksi image terhadap kota di
luar Ambon lebih ditentukan oleh dua
hal. Pertama, pola perpindahan anak
muda Ambon justeru bukan
dihadirkan dari ruang-ruang televisi,
melainkan melalui tingkat narasi yang
dilakukan dengan cara pengkomparasian ruang kota. Untuk
menyamakan dengan ibukota,
sebuah ruang publik di Jakarta selalu
dibandingkan dengan ruang publik
di Ambon yang berkali-kali lipat
ukurannya, sehingga anak muda
mempunyai rasa ingin tahu dan
segera ingin membuktikannya.
Begitu anak muda berada di luar dari
kota Ambon, koreksi dan repetisi
tubuh bukan berarti akan gugur.
Gaya dan identitas tubuh justru tetap
Catatan:
1. Duduk-duduk diidentifikasikan
sebagai kekuasaan anak muda. Menempati
suatu wilayah yang diduduki dengan
serombongan anggota mengakibatkan
diketahuinya oleh orang lain, bahwa si A
sering berdomisili di suatu tempat.
Sehingga jika kita mempunyai
permasalahan dengan si A, atau minimal
merasa segan, tak jarang harus memutar
haluan mencari jalan alternatif untuk tak
berpapasan atau diketahui oleh si A.
Dengan sendirinya, duduk-duduk
menghasilkan selektifitas orang-orang
yang melewati di depannya. Duduk-duduk
mempunyai konsep yang serupa dengan
Hanging Out; Kongkow; Nongkrong.
Dalam bahasa Jawa Timur istilah ini
disebut Cangkruk, sedangkan dalam
bahasa Jawa Yogyakarta disebut Tete’.
Chua Beng Huat menyebutnya sebagai
“Nothing is Happening”, yakni kegiatan
menghabiskan waktu luang oleh anak
muda. Tak terjadi apa-apa, hanya dudukduduk semata, sembari menggosip dan
melihat-lihat makhluk hidup yang
berkeliaran. Lebih jauh periksa Beng Huat
(41-55:2003).
2. Momentum struktural adalah
ketika dilakukan depolitisasi anak muda
dengan diberlakukannya NKK/BKK oleh
menteri pendidikan dan kebudayaan Daud
Jusuf di tahun 1983. Keputusan itu
ditujukan untuk memberangus semua
gerakan anak muda yang dianggap
merongrong stabilitas pembangunan.
Seperti dalam peristiwa Malari dan gerakan
dipertahankan karena inginnya
menunjukkan identitas ke-Ambonan.
Mengetahui anak muda Ambon di
kota-kota di Jawa bahkan di Belanda
misalnya, cukup memerlukan radar
yang sangat mudah. Bukan hanya
dari air muka dan rambut, namun
juga dalam bentuk gaya jalan dan
penampilan. (12)
Kedua,
gaya
sebagai
kebudayaan generik. Gengsi dan
gaya sebagai kebudayaan generatif
membuat anak-anak pada usia
sebelum remaja, dikonstruksi seperti
anak muda. Anak muda Ambon
mencoba mempertahankan masa
kebebasan selama mungkin. Cara
yang dilakukan tidak harus dengan
menunda pernikahan, melainkan
meski menikah namun tetap
mempunyai kebebasan seperti ketika
sebelum
menikah.
Untuk
mempresentasikan tubuh di ruang
publik, anak muda urban Ambon
terus dipantau secara reguler dan
diatur agar selalu tetap muda.
Strategi mempertahankan gaya
muda dilakukan seperti meluruskan
rambut, mengenakan topi dan
bertindak dijalanan secara maskulin.
Agar tampak muda, maka dilakukan
pembalikan terhadap konsep sejarah
nasib tubuh yang dipandang selalu
bermuatan linear. Dari kecil sampai
besar, dari muda sampai tua dan dari
lahir sampai mati, termanipulasi ke
dalam bentuk tubuh yang
dikondisikan agar selalu dalam
keadaan muda. Dukungan yang
begitu kuat dari berbagai elemen
masyarakat, membuat gaya pada
anak
muda
Ambon
tidak
mengandung resistensi yang berarti,
melainkan hanya mengandung nilainilai mimikri. Tubuh hanya melakukan
peniruan dan adaptasi dari gaya luar
yang kemudian dikritisi dan
dikreasikan kembali ketika memasuki
kancah pergaulan di kota Ambon.***
anak muda dan mahasiswa tahun 1978
merupakan gerakan yang telah digagalkan
oleh negara. Secara garis besar, saya
membagi anak muda urban yang berbasis
pada universitas di Indonesia ke dalam tiga
tipe, yakni mereka yang tegabung dalam
aktivitas politik kekirian yang
terepresentasi oleh PRD (Partai Republik
Demokrat). Anak muda ini rata-rata berbaju
seadanya, seperti kaum hippies di negara
dunia ketiga, dan para perempuannya tak
jarang yang menghembuskan asap rokok
disela-sela diskusi. Gerakan anak muda ini
mulai muncul pasca tahun 1996. Tipe
kedua adalah anak muda modernis,
berafiliasi pada organisasi keagamaan yang
telah mapan dan aman semenjak awal Orde
Baru, seperti HMI (Himpunan Mahasiswa
Islam), PMII (Persatuan Mahasiswa Islam
Indonesia) dan GMKI (Gerakan
Mahasiswa Kristen Indonesia). Tipe
mahasiswa ketiga adalah mereka yang
bersifat apolitis, yakni anak muda yang
hanya mementingkan nilai kuliah. Mereka
mempunyai jalur yang sama ketika
berangkat dan pulang kuliah. Hari-hari
hanya diisi dengan pembicaraan ringan
seperti diskusi tentang pacaran, menggosip
dan berbelanja.
3. Pembelokkan makna kata pada Orde
Baru, juga dilakukan pada kata rakyat yang
digantikan maknanya degan massa. Kata
ini dialamatkan untuk mengeluarkan
masyarakat dari berbagai partisipasi dan
kepentingan politik parsial. Dan kata massa
mengacu pada masyarakat yang tidak
alami, jika ia menumpuk pada satu titik dan
melakukan demonstrasi maka dianggap
membahayakan
bagi
stabilitas
pembangunan. Saya Shiraishi dalam karya
etnografisnya menganalogikan bahwa
mahasiswa yang melakukan demonstrasi di
jalanan sama seperti anak kecil yang
membuat kegaduhan (noise) di dalam
kelas. Karena itu mereka pantas
diperingatkan, jika perlu digebug
(Shiraishi, 123-30: 1997).
4. Anak muda Ambon masuk dalam
kategorisasi tersebut patuh pada Negara.
Tidak ada resistensi berarti dari komunitas
anak muda Ambon, kecuali membentuk
gank yang juga secara tidak langsung
merupakan representasi dari gejolak politik
buatan Negara Seperti ketika anak-anak
Ambon di Jakarta, menjadi perhatian
publik tatkala dipulangkannya mereka
kembali ke Ambon. Paska rusuh Ketapang
di Jakarta Utara, 1998 ratusan preman
muda Ambon yang terkenal dengan
berbagai bisnis narkotika, prostitusi,
perjudian hingga penagih hutang, harus
rela kembali ke kota asalnya (Human
Rights Watch. March 1999, Vol. 11, No.1
(C) 3; Timer, 2002: 15). Gerakan anak
muda ini sangat mudah “diombangambingkan” oleh gelombang politik yang
terjadi pada saat itu. Sebagai misal, hingga
menjelang konflik di Ambon pada tahun
1999, terdapat dua gangster terkemuka di
Jakarta yang berasal dari Ambon. Gangster yang rata-rata berisi anak muda Ambon ini berlatar belakang Islam yang
dipimpin oleh Ongen Sangadji dan gangster berlatar belakang Kristen dipimpin
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Hatib Abdul Kadir
Kadir,,
antropolog muda.
Tulisan ini dipresentasikan
dalam Forum Interseksi 2008,
Yogyakarta 17 Juni 2008
25
oleh Milton Tua Kota. Rivalitas keduanya
tak berhenti karena mantan isteri dari
Ongen adalah perempuan yang kemudian
dinikahi oleh Milton. Di satu sisi Ongen
merupakan peliharaan dari Geng Cendana
berpayung Bambang Trihatmodjo,
sedangkan Milton mengaku berteduh pada
Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut).
Kabar tentang perseteruan mereka di
Jakarta terdengar hingga oleh anak-anak
muda di kota Ambon yang membawa
kebanggaan masing-masing. Hingga pada
akhirnya peperangan dan pengiriman
besar-besaran kembali kedua geng ini ke
kota Ambon dianggap sebagai salah satu
pemicu kerusuhan kota pada tahun 1999.
Dari pihak geng Ongen Sangadji saja
mereka memulangkan 604 preman.
5. Pembahasan mengenai “gaya”
mengacu kepada beberapa hal berikut.
Pertama, gaya mengacu kepada kebagusan
fisik, perangkat yang tengah dikenakan
tubuh dan kepemilikan barang lainnya.
Misalnya seorang anak muda yang tidak
ganteng sekalipun akan dikatakan gagah
jika ia mengenakan sepatu Adidas seharga
600 -800 ribu, atau mempunyai gadget
keluaran terbaru dari Creative dan I-Pod.
Kedua, mengacu pada kekuatan mabuk
pada laki-laki. Ketiga, di kalangan anak
mudanya, minuman keras telah dikenal
semenjak abad 17 ini (Knaap, Gerit J, 1991:
116-7). Laki-laki yang dianggap gagah
bukan hanya berani bertempur dalam
konflik, namun di sisi lain ia mempunyai
daya tahan untuk menahan tubuhnya ketika
mabuk bersama rekan-rekannya. Bahkan
konstruksi gagah akan semakin tidak
terbantahkan jika dalam keadaan mabuk
justru terlihat semakin bijak dan
berwawasan luas. Keempat, makna gagah
juga ditambah dengan kekuatan oral dan
pembicaraan yang ekspresif. Untuk
mencapainya, maka strategi yang
dilakukan adalah dengan melakukan
ancaman yang sifatnya hiperbolis, seperti:
“Beta pukul se satu kali, ose marayap“;
“Beta pukul se satu kali, ose tuli“; “Beta
pukul se satu kali, ose mulu bengkok
mangkali ka apa?“; “Balah dia!“ (Sembelih
dia!); “Racun dia di tengah hutan“; “Buang
dia di air masing“ (Air laut). Kata
hiperbolik dan superlatif bukan hanya
dilakukan pada nada ancaman seperti di
atas, melainkan juga ditujukan pada
gerakan di ranah keromantisan. “Biar kata
ose gagah“, dalam artian gagah secara fisik,
tapi sebagai pelengkap memainkan katakata juga harus bagus. Orang lain bisa
memakan kita punya gagah, karena “pihak
lawan“ bermain lebih halus dan romantis.
Kepandaian dalam berkata-kata ini
merupakan senjata untuk menaklukkan
perempuan yang diinginkan dalam jangka
waktu yang lebih singkat, dan
menimbulkan kesan gaya bagi anak muda
yang berhasil menaklukkan perempuan
dalam waktu singkat.
6. Agama Nunusaku digabungkan
dengan agama modern ketika masuknya
jaman koloni. Superioritas kekuasaan yang
ditancapkan pada tubuh orang Ambon
dengan menekankan bentuk sinkretisme.
Bartels mensinyalir bahwa konsepsi dan
gagasan mengenai kekuasaan yang
disampaikan oleh Ben Anderson pada
masyarakat Jawa, menjadi perkecualian di
wilayah Maluku Tengah ini. Konsep ini
mengacu kepada kekuatan sakral dan magis
yang dikerahkan oleh salah satu pemimpin
supranatural dan dapat ditemukan dimana
mana, seperti pada laporan RR. Marrett
pada masyarakat Iroquis di Amerika hingga
Melanesia di sepanjang Pasifik. Lebih
lanjut lihat: Bartels 1979: 283.
7. Keberadaan Ambon Card juga dapat
ditemui di kota Makassar, istilah yang
mirip dengan Ambon Card ini adalah ATL
singkatan dari Ambon Tembak Langsung,
dalam artian mereka yang lahir di Ambon
dan ketika menginjak usia remaja mulai
menjajaki kota lain. Ambon Card di
Makassar tepatnya berada di dua wilayah,
yakni di Jalan Gunung Nona dan di Jalan
Cendrawasih, sekitar Stadion Mattoangin.
Kedua wilayah ini disebut juga sebagai
”Ambon Kamp”. Sebagian lainnya tersebar
di daerah Pantai Losari, meski tidak
sedominan dua tempat sebelumnya. Ciri
khas dari komunitas Ambon Card ini
berbicara dalam dialek Melayu Ambon,
dengan beberapa campuran kosakata
Belanda di dalamnya. Komunitas yang
sebenarnya juga merindukan suasana
kotaAmbon ini juga menjaga identitasnya
dengan menggunakan konsep “kampong
dalam mulu” atau kampung yang hanya ada
di dalam mulut. Mulut juga menjadi bagian
dari identitas gaya dalam pergaulan, karena
dialek Melayu Ambon yang digunakan
sangat mudah dilafalkan dengan
menggunakan gerak seperti seorang rapper yang mempunyai percaya diri demikian
tinggi dalam setiap ucapan yang
dikeluarkannya. Selain itu, di titik-titik
wilayah Ambon Card tentunya banyak
ditemui nama fam atau marga Ambon
seperti Pattiasina; Pattinaya; Pattipelohi;
Siahaya; Wattimena; Manusama;
Picanussa; Reuwpassa; Tapilattu; Karuwal
hingga marga Paays. Marga di Makassar
sekaligus menunjukkan identitas negeri
asal mereka, seperti marga Paays dari
Lateri; marga Picanussa dan Karuwal
datang dari kampung Aboeboe di Nusalaut;
marga Pattisiana dari kampung Boi di
Saparua, Pattipelohi dari kampung Itawaka
yang juga di Saparua dan marga Latuheru
dari Kilang.
8. Band Ungu pada bulan Puasa 2006
atau yang dikenal oleh umat Islam dengan
Bulan Ramadhan mengeluarkan sebuah album rohani, dengan judul “Surgamu“. Album yang berisikan 10 track ini terdiri dari
5 buah track versi audio dan 5 buah track
versi karaoke. Beberapa lagunya berupa
pujaan kepada Nabi Islam bernama
Muhammad, dan beberapa judul lagu yang
menunjukkan keislaman seperti “ Selamat
Lebaran“.
9. Istilah abang adalah panggilan untuk
anak muda Islam, sedangkan panggilan Bu
yang merupakan singkatan darri Bung
adalah panggilan untuk anak muda Kristen.
10. Nuansa Islami semakin kental
tatkala berada di lantai dua Ambon Plasa.
Di sisi barat lantai dua, merupakan wilayah
yang tak terlalu riuh untuk dilewati dan
dikunjungi. Terdapat sebuah masjid, salon,
dan warung makan. Beberapa laki-laki
berjenggot, berpakaian ala pasukan
Taliban, keluar dari tempat ibadah ini.
Mereka usai melakukan peribadatan di
siang hari, yang dinamakan “sholat
dhuhur”. Di samping masjid terdapat
tempat wudlu dan toilet perempuan.
Beberapa orang tua di dalam menempatkan
masjid di dalam plasa ini layaknya masjid
di tengah-tengah kampung. Mereka duduk
berlama-lama untuk berdo’a kemudian
mengobrol dengan beberapa rekan hingga
waktu yang tidak ditentukan. Wilayah barat
di sudut plasa lantai 2 ini sangat bernuansa
islami. Lantainya sangat basah dan licin,
karena beberapa orang menghambur keluar
dari tempat wudlu dan membawa air yang
terserap di dalam sandal-sandal karetnya.
Hampir tak ada anak muda dan para gadis
yang berada di sekitar area ini. Kaum muda
tersebut hanya melewati sebuah rumah
makan disamping masjid, kemudian
berbelok kembali menuju bagian tengah
lantai dua plasa, sebagai titik yang paling
padat.
11. Di Silale, tempat pengungsian yang
telah berdiri rumah-rumah permanen, saya
mengunjungi seorang ibu kepala sekolah,
Sausei Tualisa. Ia mempunyai empat orang anak yang telah beranjak dewasa. Anak
sulungnya lahir di tahun 1980, nomer dua
terlahir tahun 1983, anak nomer tiga
terlahir tahun 1988 yang kini duduk di
bangku SMA. Sedangkan bungsu duduk
kelas dua di bangku SMP. Mama Yenny
menempatkan empat pot berukir indah, di
ruang bagian tamu. Empat pot tersebut
dibuat demi menandai kelahiran masingmasing anak Mama Tualisa. Masingmasing pot tertera kata “semoga berguna
bagi negeri“. Kata negeri disini mengacu
kepada konsep Ambon, yang diharapkan
untuk dibangun oleh anak-anak yang
terlahir dan besar di kotanya sendiri.
12. Beberapa orang Ambon di Belanda
diakui masih mempunyai gaya berjalan
yang khas. Cara berjalan digambarkan
Hulsboch dalam wawancara mendalamnya
dengan orang Ambon di Belanda, cirik khas
mereka adalah variasi gaya berjalannya
yang terkesan sempoyongan, terhuyung,
memandang dengan tajam, bergerak
dengan sesekali sedikit lompatan,
mengayun pasti, namun seakan-akan
tersorong atau tergelincir dan pinggul yang
bergoyang dnegan cepat penuh
keangkuhan (Hulsboch, 173, 182: 2004)
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
26
Pelajar Indonesia di Belanda
Suka Jalan-Jalan Kemana?
Oleh Qonita S
Satu hal yang menyenangkan
selama belajar di Belanda adalah
bisa jalan-jalan ke luar Belanda.
Lantas, negara mana saja yang
menarik untuk dikunjungi oleh pelajar
Indonesia? Untuk mengetahui hal itu,
Jong Indonesia mengadakan survei
atau jajak pendapat online melalui
milis PPI Belanda. Survei ini diikuti 85
orang responden.
Mayoritas responden memilih
Jerman, Belgia dan Prancis sebagai
negara-negara yang paling diminati
untuk dikunjungi. Sebanyak 56 %
responden memiliki pemasukan
sebesar 900-1.200 euro per bulan.
Dengan uang segitu, dapat dipahami
bahwa responden yang memiliki
uang extra memiliki kesempatan lebih
untuk mengunjungi dan menikmati
negara-negara di Eropa. Ya,
mumpung di Eropa!
Mayoritas responden berusia 2730 tahun. Sebanyak 77 % responden
menyebutkan, mereka berada di
Belanda untuk mengikuti pendidikan
S2. Sebanyak 53 % dari responden
‘baru’ tinggal di Belanda (kurang dari
satu tahun).
Dengan mayorias usia yang
cukup muda, penghasilan yang
memadai, didukung oleh visa
Schengen yang memudahkan untuk
travelling, besarnya animo untuk
meng-eksplore benua Eropa dapat
dipahami. Lantas, negara mana yang
paling ingin dikunjungi, dan kenapa?
Dari 10 negara yang paling
banyak dikunjungi merupakan
bagian dari daerah Schengen. Wajar,
karena paspor Garuda memang
sering kepentok persyaratan bikin
visa. Tentu saja responden memilih
yang jauh seperti Spanyol tapi tidak
butuh visa, daripada Inggeris Raya
yang dekat.
Negara-negara yang belum
pernah dikunjungi oleh ke-85
responden ini adalah: negara-negara
Uni Europa yang belum masuk
Schengen (Bulgaria, Cyprus, Romania), negara-negara ex-Yugoslavia
(Bosnia, Croatia, Macedonia,
Usia responden (tahun)
Beasiswa/penghasilan responden
(Euro)
Sudah berapa lama di
Belanda?
Sedang apa di Belanda?
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Montenegro), negara-negara Afrika
utara (Algeria, Tunisia), dan negaranegara ex-Uni Soviet (Albania, Armenia, Azerbaijan,Usia responden
(tahun)
Belarus,
Georgia,
Kazakhstan, Moldova, Russia,
Ukraine). Negara Schengen pun ada
yang belum pernah dikunjungi oleh
responden (Malta). Walaupun
demikian, ada perkecualian seperti
Serbia (ex-Yugoslavia), Morocco
(Afrika utara), Turkey (perbatasan
Eropa-Asia), Monaco, Liechtenstein,
San Marino (negara-negara kerajaan
yang punya open border dengan
negara Schengen terdekat).
Dilihat dari alasan yang paling
banyak dikemukakan “Dekat dengan
Belanda”,
tampaknya
ada
korelasinya
dengan
belum
dikunjunginya negara-negara ex-Uni
Soviet dan negara-negara ex-Yugoslavia yang tergolong jauh dari
Belanda. Alasan kedua yang
umumnya dipilih responden adalah
ketertarikan responden akan
kehidupan di kota-kotanya.
Uniknya, alasan ketiga adalah
adanya promo tiket transportasi.
Ongkos transportasi di Eropa
memang cukup tinggi, sehingga
promo-promo tiket transportasi harus
dipergunakan sebaik mungkin.
Terlebih dengan adanya internet,
akses untuk melihat tiket-tiket promo
cukup mudah dan website-website
seperti
www.ryanair.com,
www.wizzair.com
atau
www.nshispeed.nl mungkin tidaklah
asing bagi pencari tiket murah.
Alasan
lain-lain
untuk
mengunjungi sebuah negara, adalah
“Tertarik pada sejarahnya”, dan
“Tertarik pada makanannya” (wow).
Ada juga alasan sekedar jalan-jalan,
diajak oleh teman, bahkan karena
sepakbola. Memang, beberapa
negara-negara di Eropa seperti
Spanyol dikenal sepakbolanya. Bagi
para mania bola, walau tidak
menonton bola secara langsung,
setidaknya menginjakkan kaki ke
kandang klub idola, mengunjungi sta-
27
dium, berfoto-foto atau membeli souvenir asli dari official store bisa
membawa kenikmatan tersendiri.
Disisi lain, ketertarikan akan teknologi
bukanlah hal yang menarik untuk
dipelajari dan menjadi alasan tertentu
untuk berwisata ke suatu negara.
Kesimpulan lainnya, tampak
bahwa para pelajar Indonesia yang
tinggal di Belanda telah cukup
banyak menjelajah Eropa. Dari
peserta jajak pendapat yang
sebagian besar baru kurang dari satu
tahun tinggal di Belanda, ternyata
sudah banyak negara yang
dikunjungi. Ini belum termasuk
liburan musim panas tahun ini, karena
liburan kuliah baru dimulai akhir Juni
atau awal Juli 2009.
Dengan melihat kelompok
penerima beasiswa terbesar adalah
900-1200 Euro per bulan, maka fakta
ini cukup masuk akal. Hidup di
Belanda bisa cukup dengan 600 Euro
per bulan, sehingga masih ada
cukup banyak sisa untuk ditabung
dan jalan-jalan. Walaupun demikian,
perlu dilakukan uji statistik lebih lanjut,
apakah benar mereka yang jalanjalan adalah mereka yang
berpenghasilan besar? ****
Selain asyik untuk jalanjaan, Eropa juga menjadi
‘surga’ bagi ‘tukang foto’.
Foto: Jimmy Perdana (Wageningen)
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
28
Diplomasi Pelajar
Indonesia di Belanda
Oleh Yohanes Widodo dan Rahmadi Trimananda
Era ini ditandai adanya perubahan maka diplomasi publik lebih dilakukan wakil-wakil pemerintah,
paradigma: peran masyarakat ditekankan
pada
hubungan sekaligus dapat memberikan
menguat, sementara peran negara pemerintah ke masyarakat atau masukan dan cara pandang yang
berkurang. Perubahan itu juga terjadi bahkan hubungan masyarakat ke berbeda dalam memandang suatu
di ranah diplomasi. Globalisasi masyarakat. Tujuannya, agar masalah. Diplomasi publik menjadi
membuka ruang keterlibatan publik masyarakat internasional mempunyai penting dalam menciptakan citra
dalam diplomasi. Diplomasi bukan persepsi baik tentang negara, bangsa Indonesia, berperan aktif
lagi melulu urusan pemerintah. sebagai landasan sosial bagi menciptakan perdamaian dunia, dan
Hubungan internasional tidak lagi hubungan
dan
pencapaian merajut persaudaraan antarbangsa.
semata-mata dipandang sebagai kepentingan yang lebih luas (Benny
Diplomasi publik menekankan
h u b u n g a n
pada cara-cara
antarnegara, tapi juga
berkomunikasi
meliputi hubungan
dengan publik
antar masyarakat
negara
lain.
internasional (Benny
Pelakunya, selain
Susetyo, 2008).
d i p l o m a t
D i p l o m a s i
profesional, bisa
tradisional (first track
juga individudiplomacy)
ala
individu atau
pemerintah
kini
lembaga swasta.
berkembang menjadi
Tujuan diplomasi
diplomasi publik atau
publik adalah
bisa juga disebut
untuk ”menjual”
diplomasi informal
pada masyarakat
(second track diplonegara lain halmacy). Isu diplomasi
hal yang menarik
publik ini mengemuka
dari negara dan
karena pemerintah—
bangsa pelaku.
jika
berjalan
Sarananya
sendirian—tidak lagi
antara
lain,
mampu secara efektif
k e g i a t a n
Tarian Yospan (Papua) oleh PPI Wageningen dalam perayaan 17 Agustus 2009
menyampaikan
kebudayaan,
pesan-pesan diplomasi dalam situasi Susetyo, 2008).
pertukaran mahasiswa, pemutaran
dan isu-isu yang semakin kompleks.
Diplomasi publik adalah suatu film, pertunjukan teater dan lain-lain.
upaya memerjuangkan kepentingan Diplomasi publik bisa dikatakan mirip
Diplomasi Publik
nasional melalui penyebaran tugas hubungan masyarakat
Diplomasi didefinisikan sebagai informasi atau memengaruhi (Susanto Pudjomartono, 2008).
seni dan praktek bernegosiasi di pendapat umum yang dilakukan
Seperti halnya fungsi hubungan
antara perwakilan-perwakilan dari dengan memanfaatkan sarana masyarakat, diplomasi publik adalah
kelompok-kelompok atau negara budaya dan komunikasi: menjelaskan proses komunikasi yang bertujuan
(Susanto Pudjomartono, 2008). dan mengadvokasi kebijakan Indone- membangun citra positif terhadap
Sementara itu, Pamela H. Smith sia, memberikan informasi tentang gambaran mengenai kehidupan dan
(2008) mendefinisikan diplomasi Indonesia, dan masyarakatnya, nilai- dinamika politik Indonesia.
publik sebagai upaya mencapai nilainya,
lembaganya;
dan
Gambaran positif ini sangat
kepentingan nasional suatu negara membangun hubungan yang saling penting
bagi
dunia
untuk
untuk memahami, menginformasikan, memahami melalui pertukaran meningkatkan
kerja
sama
dan memengaruhi masyarakat luar informasi dan wacana.
antarnegara, sehingga tercipta
negeri
dalam
rangka
Diplomasi publik menjadi upaya sebuah kepercayaan bahwa bangsa
mempromosikan
kepentingan alternatif agar diplomasi berjalan Indonesia memiliki potensi untuk
nasional dan memerluas dialog lebih efektif dan memberikan dampak mengembangkan kerja sama semua
dengan relasi di luar negeri.
yang lebih luas dan besar pada aspek politik, ekonomi, budaya, dan
Jika proses diplomasi tradisional masyarakat
internasional. pendidikan. Misi ini pada gilirannya
dikembangkan melalui mekanisme Keterlibatan publik ini dapat akan membawa efek kesejahteran
hubungan pemerintah ke pemerintah, membuka jalan bagi negosiasi yang bagi masyarakat.
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
29
Pelajar Indonesia dan Diplomasi sia karena beberapa hal. Pertama,
Di era perjuangan kemerdekaan,
dari segi sejarah dan sosial budaya, peran diplomasi PPI Belanda menjadi
Publik
Eksistensi pelajar Indonesia di luar Belanda punya tempat yang khusus bagian tak terpisahkan dari upaya
negeri—salah satunya tergabung karena memiliki hubungan yang khas konfrontasi melawan Belanda. Bung
dalam Perhimpunan Pelajar Indone- dengan Indonesia. Hubungan Indo- Hatta dan kawan-kawan menjalankan
sia (PPI)—sangat strategis untuk nesia Belanda juga khas karena sejak aksi
dan
diplomasi
untuk
memainkan peran diplomasi publik tahun 1900-an, ada puluhan ribu mewujudkan Indonesia merdeka.
dan menjadi duta bangsa orang ke pelajar Indonesia yang belajar dan Paska
kemerdekaan,
peran
orang (person-to-person ambassa- menimba ilmu di Belanda. Kedua, diplomatik PPI Belanda juga tetap
dor) dalam membangun opini positif dari sisi ekonomi, Belanda penting. Misalnya, ketika terjadi
guna meningkatkan manfaat merupakan pintu gerbang Eropa. konfrontasi Irian Barat tahun 1960-an,
hubungan Indonesia dan dunia Pelabuhan Rotterdam menjadi mahasiswa Indonesia, salah satunya
internasional. Dengan kemampuan, pelabuhan tempat masuknya barang diwakili oleh Kwik Kian Gie, secara
keterampilan, dan pergaulannya dagangan Indonesia ke Belanda dan langsung maupun tidak langsung
dengan masyarakat di mana ia Eropa. Ketiga, secara politik saat ini mendapat imbas dari perubahan
belajar, PPI bisa membangun hubungan Indonesia dan Belanda politik itu. Kwik, sebagai salah satu
semangat kerja sama abtarbangsa sedang dalam kondisi yang sangat aktivis PPI Belanda, bahkan
dengan dasar ikatan saling harmonis. Untuk pertama kalinya melibatkan diri untuk memperjuangmenghargai, menghormati,
kan kepentingan Indonedan memiliki.
sia.
Dengan memanfaatkan
Kini, dalam situasi
jalur kampus serta langkahhubungan diplomatik Indolangkah akademis, peran PPI
nesia-Belanda
yang
sangat menguntungkan
sedang dalam tahap
dalam menciptakan wacana
“kemesraan”, PPI Belanda
yang
kondusif
serta
turut ambil bagian dalam
mengklarifikasi pernyataandiplomasi publik. PPI
pernyataan media yang
Belanda
berupaya
seringkali berat sebelah.
membangun citra dan
Seminar-seminar kampus
kesan yang baik tentang
serta tulisan-tulisan para
Indonesia. Di sisi lain PPI
pelajar
yang
bernilai
Belanda tetap menjunjung
akademis mengenai Indonesikap kritis terhadap
sia akan sangat membantu
dinamika pembangunan
memberikan acuan dalam Diplomasi lewat ‘makanan’: Rector Magnificus Wageningen Univ. dan pemerintahan Indonekancah adu pendapat dan
sia.
opini publik. PPI bisa mengadakan Perdana Menteri Belanda Jan
Ada beberapa peran diplomatik
kegiatan-kegiatan seminar yang Balmemende hadir dalam perayaan yang secara aktual dimainkan oleh
melibatkan institusi pemerintah dari hari kemerdekaan Indonesia 2008. PPI Belanda. Pertama, PPI Belanda
dua negara serta merancang Setelah itu disusul kunjungan Wakil berperan aktif memainkan fungsinya
kegiatan-kegiatan yang menarik bagi Presiden Indonesia Jusuf Kalla ke dalam diplomasi budaya. Keragaman
media,
untuk
menyuarakan Belanda.
budaya, tradisi, kesenian dan barang
kepentingan dan pembangunan citra
PPI Belanda sebagai organisasi kerajinan merupakan daya tarik yang
Indonesia.
pelajar Indonesia di Belanda telah dapat menunjang promosi wisata InPeran
PPI
tidak
hanya berperan aktif dalam diplomasi publik donesia, sebagai bagian dari
berdiplomasi ke luar tetapi juga ke dan mengkomunikasikan Indonesia diplomasi budaya di luar negeri. PPI
dalam. Dengan kapasitas dan ke masyarakat Belanda dan Belanda menjadi ikon Indonesia yang
kritisismenya, PPI bisa memberikan masyarakat Indonesia di Belanda. memperkenalkan Indonesia lewat
masukan dan umpan balik kepada PPI Belanda membangun hubungan kegiatan-kegiatan kebudayaan,
pemerintah dan masyarkat, sehingga yang baik dengan mereka lewat seperti Malam Indonesia (Indonesian
pembangunan dan stabilitas nasional transfer informasi dan kebudayaan.
Night) dan keterlibatan PPI dalam
yang dinamis bisa berjalan. PPI juga
Peran diplomatik PPI Belanda kegiatan-kegiatan yang bersifat lintas
bisa menjadi aktor diplomasi telah mengalami perjalanan yang negara dan lintas budaya.
kebudayaan. Kebudayaan ini panjang dan mengalami mengalami
Kedua, dalam bidang sosial
menjadi sangat penting karena pasang surut. Karena sejarahnya politik, PPI Belanda juga turut ambil
memainkan peranan yang penting yang panjang, peran PPI Belanda bagian. Ketika kasus film Fitna yang
sebagai identitas kita dalam juga memiliki kekhasan dan diproduksi oleh Geert Wilders, PPI
hubungan dengan pihak lain.
dinamikanya sendiri. Peran itu sudah Belanda membuat pernyataan yang
dimulai sejak berdirinya Perhimpunan mengedepankan bahwa muslim InPeran Diplomasi Pelajar Indonesia di Indonesia (Indische Vereniging) donesia adalah pro perdamaian dan
Belanda
tahun 1908, yang menjadi cikal bakal anti kekerasan, tidak seperti yang
Belanda memiliki arti yang penting Perhimpunan Pelajar Indonesia di digambarkan oleh Geert Wilders
dalam hubungan diplomatik Indone- Belanda.
lewat filmnya.
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
30
Ketiga, PPI Belanda turut
menginisiasi terbentuknya Jaringan
Kerja Diaspora Indonesia (JKI)
sebagai rumah bersama dan ruang
dialog antara pelajar Indonesia di
Belanda, pemuda Indonesia yang
lahir dan besar di Belanda, serta orang-orang Indonesia yang hidup dan
menetap di Belanda. Salah satu
kepedulian JKI adalah menjalin
kontak, memberi bantuan hukum,
dan melindungi para pekerja tak
tercatat (undocumented workers)
asal Indonesia yang tinggal di
Belanda. Hal ini ditujukan agar
mereka mendapatkan hak-haknya.
Keempat, PPI Belanda mewakili
para pelajar dan pemuda Indonesia
untuk berhubungan dengan
komunitas-komunitas di Belanda dan
juga komunitas Internasional di
Belanda. Posisi PPI Belanda sangat
strategis dalam proses diplomasi ini,
mengingat komposisi masyarakat di
Belanda yang sangat beragam
(multinasional dan multikultural).
Didukung oleh hubungan sejarah
yang panjang antara Indonesia dan
Belanda, PPI bisa belajar dari para
pendahulu
yang
mengawali
pergerakan pemuda Indonesia di
Belanda, sebagai cikal bakal
pergerakan pemuda Indonesia
melalui PPI di seluruh dunia. Proses
pembelajaran tersebut akan sangat
bermanfaat bagi kemajuan PPI dan
peranan pemuda Indonesia di luar
negeri untuk masa yang akan datang.
Tantangan ke Depan
Dirjen Informasi dan Diplomasi
Publik Deplu Andri Hadi menjelaskan,
kebijakan diplomasi publik luar negeri
Indonesia memiliki dua sasaran.
Pertama, menampilkan wajah Indonesia baru yang moderat, demokratis
dan progresif. Kedua, membangun
konstituen diplomasi dengan
bekerjasama dan merangkul semua
kalangan
seperti
ulama,
cendekiawan dan masyarakat umum
(Antaranews, 6 September 2008).
Dua sasaran ini sekaligus menjadi
tantangan bagi peran diplomasi
publik PPI di luar negeri sebagai
upaya konkret peran diplomasi PPI ke
depan. Pertama, penerapan
teknologi komunikasi modern untuk
diplomasi publik. Penyebaran
informasi di era digital ini begitu
cepat, demikian pula dengan proses
terbangunnya opini publik bisa
tercipta dalam hitungan detik.
Diplomasi
lewat
Internet
merupakan alternatif mudah dan
murah. PPI bisa memainkan peran
penting dalam revolusi informasi ini.
Melalui internet, para pelajar bisa
membangun
jaringan
dan
menampilkan substansi yang kreatif
dan inovatif sehingga bisa menjadi
sumber informasi bagi publik di luar
negeri serta melakukan kampanye
diplomasi publik secara efektif.
Kedua, aktif mempromosikan
karya-karya dan prestasi anak negeri.
Kemajuan yang diraih Indonsia dan
keberhasilan putera-puteri Indonesia
dalam berbagai ajang lomba
internasional perlu diapresiasi dan
dipublikasikan, misalnya lewat situs
Internet tersebut. Karya-karya musik
sejumlah grup musik Indonesia
ternyata mempunyai penggemar di
banyak negara.
Ketiga, kontribusi positif bagi
upaya pemulihan citra Indonesia.
Misalnya, lewat diskusi atau dialog
tentang kehidupan demokrasi dan
kehidupan beragama di Indonesia.
Sebagai negara demokrasi yang
sebagian besar penduduknya
beragama Muslim kehidupan
beragama di Indonesia penuh
dengan toleransi dan kebersamaan
perlu disosialisasikan kepada
masyarakat Internasional.
Keempat, kerjasama aktif dengan
pemerintah. Mengingat begitu luas
jangkauan jenis budaya yang ingin
kita ‘jual’, kita harus mempunyai
strategi yang menjangkau jauh ke
depan. Pemerintah harus menjaga
kerjasama dan hubungan baik
dengan para pelajar Indonesia dan
harus lebih aktif mempromosikan dan
memerkenalkan Indonesia kepada
masyarakat dan komunitas di luar
negeri.
Diplomasi publik dan diplomasi
praktis diperlukan untuk menjaga
hubungan antara Indonesia dan luar
negeri ke arah yang semakin positif.
Jika diplomasi praktis dilaksanakan
secara menyeluruh oleh setiap
elemen masyarakat Indonesia di luar
ngeri,
ini
akan
membantu
meringankan dan mendukung tugas
para diplomat berkerah putih.
Pemikiran seperti ini perlu disadari
dan ditekankan kepada pelajar Indonesia yang ada di luar negeri. ***
Yohanes Widodo,
Widodo Sekjen PPI
rimananda
Belanda; Rahmadi T
Trimananda
rimananda,
Wakil Sekjen PPI Belanda
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Yuk, Nulis!
Perhimpunan Pelajar Indonesia
(PPI) di Belanda pernah menorehkan
sejarahnya lewat perjuangan media.
Indische
Vereeniging
atau
Perhimpunan Hindia yang berdiri
tahun 1908 pernah menerbitkan
buletin Hindia Poetera. Pada September 1922, organisasi ini berubah
menjadi Indonesische Vereeniging.
Mereka kembali menerbitkan majalah
Hindia Poetra dengan Hatta sebagai
pengasuhnya.
Hindia Poetra ini menjadi sarana
untuk
menyebarkan
ide-ide
antikolonial. Pada dua edisi pertama,
Hatta menyumbangkan tulisan kritik
mengenai praktek sewa tanah industri
gula Hindia Belanda yang merugikan
petani. Tahun 1924, nama majalah
Hindia Poetra berubah menjadi Indonesia Merdeka. Tahun 1925 nama
organisasi Indionesische Vereeniging
resmi berubah menjadi Perhimpunan
Indonesia (PI).
Untuk menghidupkan kembali
semangat perjuangan lewat media ini,
PPI Belanda bermaksud menerbitkan
majalah online sebagai jembatan
informasi dan aktualisasi idealisme
pelajar Indonesia dengan nama JONG
INDONESIA .
“Jong” (Bahasa Belanda) artinya
PEMUDA. Menjelang Sumpah Pemuda
1928, banyak muncul perkumpulan
seperti Jong Java, Jong Sumateranen
Bond, Jong Celebes, dan lain-lain.
Dengan semangat Sumpah Pemuda
1928, majalah JONG INDONESIA ingin
mengajak para pelajar di negeri untuk
menyumbangkan pemikirannya untuk
Indonesia yang lebih baik.
JONG INDONESIA diharapkan
menjadi media pembelajaran, transfer
informasi-pengetahuan; mempererat
dan memperluas persaudaran serta
memberikan masukan menuju Indonesia yang lebih baik.
Kami mengundang Anda, untuk
mengirimkan tulisan berupa artikel,
opini, dan lain-lain untuk mengisi
rubrik-rubrik: SURAT PEMBACA; SAINS
dan TEKNOLOGI; LINGKUNGAN;
SOSIAL POLITIK; BUDAYA; JALANJALAN; RESENSI BUKU; dan lain-lain.
Kirimkan tulisan Anda melalui email:
[email protected]
Redaksi JONG INDONESIA
31
Kincir Angin, Riwayatmu Dulu
Oleh Dian Kusumawati dan Meditya Wasesa
Di balik keindahannya, kincir
angin memiliki peran dalam
era kolonialisasi.
Pernah ke Kinderdijk atau
Zaansche Schans? Dua tempat
tersebut sangat populer untuk melihat
kincir angin yang masih tersisa di
Belanda. Jika dulu setiap dua ribu
orang terdapat satu kincir angin,
sekarang di Belanda hanya tersisa
sekitar 100 kincir angin yang sengaja
dilestarikan. Mari kita melihat sejarah
kincir angin ini dan hubungannya
dengan penjajahan di negara kita.
Kincir angin secara umum bisa
dikategorikan berdasarkan tampilan
dan fungsinya. Berdasarkan
fungsinya, kincir angin dibagi tiga
kategori: kincir angin penggiling
jagung, kincir angin pengeringan air/
lahan, dan kincir angin industri. Kincir
angin yang terdapat di Kinderdijk
adalah untuk pengeringan air/lahan,
sedangkan yang di Zaanse Schans
untuk keperluan industri.
Berdasarkan tampilan luarnya,
kincir angin dibagi menjadi lima.
Pertama, Kincir Angin Standar
(Standaardmolen/ Post Mill). Kincir
angin jenis ini adalah jenis kincir
angin tertua dan merupakan cikal
bakal dari pengembangan kincir
angin jenis lainnya. Kincir angin
standar
digunakan
untuk
pengeringan air/lahan. Saat ini
terdapat tidak lebih dari 40 buah
kincir angin standar di seluruh
Belanda.
Ketiga, Kincir Angin Pengeringan
Besar (Kloeke Poldermolen/Large
Drainage or Polder Mill). Seiring
dengan kebutuhan akan kincir angin
berdaya besar, sekitar pertengahan
abad ke-16, kincir angin pengeringan
berdaya besar atau large polder mill
dikembangkan di daerah perairan
Belanda utara.
Dibandingkan dengan wipmolen,
bagian atas polder mill dibuat lebih
kecil dan bagian badannya dibuat
lebih besar sehingga dapat
menghasilkan daya yang lebih besar.
Sebagai konsekuensi dari modifikasi
konstruksinya, ruangan yang tersedia
untuk sarana tempat tinggal pun
menjadi lebih besar.
Kedua, Hollow Post Mill
(Wipmolen). Ditemukan terutama di
Belanda selatan dan Friesland,
wipmolen hampir selalu digunakan
untuk pengeringan air/lahan.
Wipmolen
merupakan
pengembangan dari kincir angin
standar. Kincir angin jenis ini
biasanya dicat dengan warna yang
sangat cerah sehingga terlihat
mencolok, mengingat lokasi dari
wipmolen yang biasa terdapat di
dataran rendah. Pada awal abad ke15, wipmolen berukuran kecil namun
dalam perkembangannya wipmolen
dibuat semakin besar. Pada
umumnya, wipmolen ini juga
dilengkapi dengan sarana tempat
tinggal kecil di dalamnya.
Keempat, Kincir Angin Bertingkat
(Stellingmolen/ Tower Mill with a
Stage). Kincir angin jenis ini adalah
yang paling mudah dikenali dari
ukuran dan tingginya. Jenis ini
dikembangkan sekitar awal abad ke17 dan digunakan untuk industri
penggilingan jagung.
Stellingmolen biasanya terdiri dari
6 atau 7 tingkat dan setiap tingkat
digunakan
untuk
proses
penggilingan jagung yang berbeda.
Lantai pertama dan kedua biasanya
digunakan untuk tempat tinggal.
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
32
Kelima,
Paltrok
Molen.
Paltrokmolen dikembangkan di
daerah Zaan yang dikenal sebagai
tempat pembuatan rumah kayu dan
kapal. Oleh karena itu, kincir angin
ini umumnya digunakan untuk
industri penggergajian kayu. Kincir
angin serupa juga biasa digunakan
untuk jenis industri lain, misalnya
untuk industri kertas atau minyak.
Biasanya perbedaan terletak pada
konstruksi interiornya.
Matinya Kincir Angin di Belanda
Kincir angin pertama mulai
dikembangkan sekitar tahun 1200–
khusus kincir angin untuk
pengeringan air dikembangkan
pertama kali tahun 1414. Tahun 1850,
penggunaan kincir angin berada di
puncak kejayaannya, jumlahnya
mencapai 9000 buah saat itu. Setelah
1850, jumlah kincir angin semakin
berkurang
seiring
dengan
berkembangnya teknologi.
Penemuan mesin uap oleh James
Watt memicu punahnya kincir angin
di Belanda. Stasiun pompa (pumping station) bertenaga mesin uap
pertama di Belanda terdapat di tahun
1825, yang digunakan untuk
pengeringan Zuidplaspolder. Meski
masyarakat Belanda awalnya ragu
akan keamanan penggunaan stasiun
pemompa air bermesin uap sebagai
pengganti kincir angin pengeringan
(poldermolen), kebutuhan untuk
mengeringkan dan mereklamasi
danau besar Harleem tidak memberikan pilihan lain. Menggunakan tiga
buah mesin uap, Danau Harleem
berhasil dikeringkan dalam jangka
waktu empat tahun (1848-1852).
Seiring berjalannya waktu,
popularitas mesin uap meningkat.
Lambat laun masyarakat mulai
merasa ketinggalan zaman jika tidak
menggunakan mesin uap. Akhirnya
penggunaan stasiun pemompa air
bertenaga mesin uap berhasil
menggantikan penggunaan kincir
angin tradisional. Hal serupa terjadi
juga pada kincir angin industri.
Banyak pabrik bertenaga mesin uap
didirikan sehingga penggunaan
kincir angin semakin ditinggalkan,
bahkan beberapa kincir angin
industri juga dialih fungsikan menjadi
pabrik bermesin uap. Akibat dari
kondisi ini, pada akhir abad ke-19
hanya tersisa tidak lebih dari 2500
kincir angin di Belanda.
Schelmerpolder dihancurkan dan
diganti dengan metode pengeringan
mekanis.
Semakin lama semakin banyak
kincir angin yang tidak lagi berfungsi,
bahkan dihancurkan. Hal ini
menginisiasi berdirinya asosiasi
preservasi kincir angin, pergerakan
Dutch Windmill Society atau De
Hollandsche molen, Vereeniging tot
Behoud van Molens in Nederland, di
tahun 1923 oleh warga Belanda yang
peduli akan kelestarian kincir angina.
Asosiasi inilah yang memperjuangkan kelestarian kincir angin sehingga
saat ini kita masih bisa menyaksikan
beberapa kincir angin sebagai
peninggalan sejarah.
Kincir angin bisa dianggap
sebagai
monumen
simbol
peperangan Belanda terhadap
musuh utamanya, yaitu air. Jika 1000
tahun sebelum Masehi Belanda tidak
bisa ditinggali karena terbatasnya
daratan kering, maka atas
perkembangan kincir angin pada
tahun 1400, Belanda mulai berhasil
dalam usahanya mereklamasi lahan.
D.F Wouda Pumping Station di Lemmer, provinsi Friesland, dengan cerobong uapnya,
yang didirikan tahun 1920 dan merupakan pumping station bermesin uap terbesar dan
masih beroperasi hingga sekarang.
Penemuan motor listrik pada awal
abad ke-20 semakin mematikan
keberadaan kincir angin, baik kincir
angin pengeringan maupun industri.
Dataran rendah yang belum
menggunakan mesin uap (pumping
station) menggantikan fungsi kincir
angin pengeringan dengan stasiun
pemompa bertenaga listrik.
Misalnya, proyek pengeringan
Hazerswoude (1913) menggunakan
tiga stasiun pemompa bertenaga
listrik dan mematikan 15 kincir angin
di kompleks tersebut. Tahun 1927,
sebanyak
50
kincir
angin
pengeringan yang digunakan di
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Seiring dengan waktu, kincir angin
pun ikut berevolusi meyesuaikan diri
dengan tuntutan zamannya.
Hingga puncak kejayaannya
sekitar pertengahan abad ke-19,
kincir angin memiliki peran sangat
penting dalam perkembangan
industri, termasuk industri-industri
pengolah bahan bahan mentah hasil
pendudukan negara-negara jajahan
Belanda.
Dengan berkembangnya waktu
dan teknologi, penggunaan kincir
angin pun menyurut karena tidak lagi
mampu
memenuhi
tuntutan
kebutuhan warga Belanda.***
33
Islamisasi Sains
Oleh: M. Ihsan Dacholfany
Sains
merupakan
tubuh
pengetahuan (body of knowledge).
Dari penger tian ini muncul
penemuan
ilmiah
yang
dikelompokkan secara sistematis.
Sains juga dapat berupa produk.
Produk yang dimaksud adalah faktafakta, prinsip-prinsip, model-model,
hukum-hukum alam, dll. Sains juga
dapat berarti suatu metoda khusus
untuk memecahkan masalah, atau
biasa disebut sains sebagai proses.
Sains sebagai proses dapat berupa
metoda ilmiah yang merupakan hal
yang sangat menentukan pembuktian suatu kebenaran yang objektif.
Sains sebagai proses yang
dilakukan melalu metoda ilmiah ini,
terbukti ampuh memecahkan
masalah ilmiah sehingga membuat
sains terus berkembang dan
merevisi berbagai pengetahuan
yang sudah ada. Selain itu sains juga
bisa berarti suatu penemuan baru
atau hal baru yang dapat
menghasilkan suatu produk. Produk
tersebut biasa disebut dengan
teknologi. Teknologi merupakan
suatu sifat nyata dari aplikasi sains,
suatu konsekwensi logis dari sains
yang mempunyai kekuatan untuk
melakukan sesuatu.
Sumbangan konsep dan ide
dalam sains terbukti telah banyak
mengubah pandangan manusia
terhadap alam sekitarnya. Contohcontoh sumbangan konsep dan ide
sains diantaranya: 1.. “Teori
Relativitas Einstein”, yang telah
mengubah pandangan orang secara
drastis akan sifat kepastian waktu
serta sifat massa yang dianggap
tetap; 2. “Pengamatan bintangbintang oleh Edwin Hubble melalui
teleskop di gunung Wilson” pada
tahun 1920-an misalnya,, yang telah
membawa beberapa implikasi
seperti adanya galaksi lain selain
Bimasakti dan adanya penciptaan
alam semesta secara ilmiah dengan
makin populernya teori ledakan
besar (Big Bang); 3. “Teori Grafitasi
Newton”, yang dapat membuktikan
bahwa planet berputar pada
porosnya dan bergerak mengelilingi
matahari pada lintasan tertentu..
http://www.gregladen.com
Dari ketiga contoh di atas kadang
manusia lupa, siapa yang
menciptakan ruang, masa dan waktu
yang disampaikan Einstein tersebut?
Siapa yang menciptakan bintang
dan benda-benda langit lainnya
yang diamati Hubble? Dan siapakan
yang menciptakan grafitasi dengan
bumi planet lainnya yang diamati
Newton? Melupakan yang causal
itulah yang membuat orang sekuler!
Jadi untuk menghindari sekulerisme
tersebut dalam sains diperlukan
suatu bimbingan, yang berupa
agama diantaranya Islam.
Islamisasi Sains
“ Islamisasi sains”” tidak hanya
berarti menyisipkan ayat-ayat suci AlQuran yang sesuai dengan konsep
tertentu dalam sains tetapi terfokus
pada bagaimana Islam sebagai
pondamen nilai yang mengikat sains
(value bound ). Bisa juga diartikan
bagaimana pemahaman sains dapat
meningkatkan kadar iman dan takwa
terhadap Sang Khâliq. Jadi penulis
membuat istilah Islamisasi Sains ke
dalam dua katagori: “Islam to Sains”
dan “Sains to Islam”.
Dasar pemikiran tersebut
berangkat dari lima ayat dalam Surat
Al-Alaq: “bacalah dengan nama
Tuhanmu yang menciptakan;
menciptakan manusia dari segumpal
darah; bacalah! dan Tuhanmu Yang
Maha Pemurah yang mengajarkan
dengan pena; mengajar manusia
hal-hal yang belum diketahuinya,”
(Q. S. Al-‘Alaq:1-5) . Lima ayat ini
bukan sekadar perintah untuk
membaca ayat quraniyah (firmanfirman Tuhan). Terkandung di
dalamnya dorongan untuk membaca
ayat-ayat kauniyah (alam semesta).
Manusia
pun
dianugerahi
kemampuan analisis untuk mengurai
rahasia di balik semua fenomena
alam. Kompilasi pengetahuan itu
kemudian didokumentasi dan
disebarkan melalui tulisan yang
disimbolkan
dengan
pena.
Pembacaan ayat-ayat kauniyah ini
akhirnya melahirkan sains. Ada
astronomi, fisika, kimia, biologi,
geologi, dan sebagainya.
Mari kita kaji kedua katagori
tersebut ke dalam contoh berikut:
teori klasik menyatakan alam ini
terdiri dari empat unsur yaitu tanah,
udara, api dan air. Mari kita analisa,
disadari atau tidak oleh kita, isyarat
itu mewarnai apa yang kita pelajari
tetang alam ini; mengapa daratan
dibuat dengan ketinggian yang
berbeda, tentunya agar air dapat
mengalir melewati sungai, sehingga
memberi kehidupan pada makhluk
yang dilewatinya. Demikian juga
dengan tekanan dan suhu udara.
Tekanan dan suhu udara dibuat
berbeda-beda di setiap lapisan
(atmosfer) dan di setiap tempat. Hal
itu menyebabkan timbulnya angin.
Dan angin dapat menimbulkan
perubahan cuaca, salah satunya
dapat menimbulkan hujan. Hujan
dapat menyuplai air ke permukaan
bumi, dimana air merupakan sumber
kebutuhan utama bagi kehidupan
manusia.
Marilah kita renungkan, baik
fenomena alam yang terjadi disekitar
kita, maupun aktivitas yang kita
lakukan sehari-hari. Berapakah
ketinggian gunung, kedalaman laut,
tekanan udara, kelajuan angin dan
banyak lagi penomena alam lainya.
Demikian juga keadaan fisik dan
aktivitas yang kita lakukan.
Berapakah berat badan kita, tinggi
badan kita, suhu badan kita, lama
hidup kita di dunia, dan banyak hal
lain lagi yang dapat dianalisa
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
34
sebagai bahan renungan kita
terhadap kebesaran yang maha
kuasa.
Oleh karena itu, kita “wajib”
meyakini bahwa bukan manusia,
hewan atau tumbuhan yang telah
menciptakan benda dengan
berbagai ukuran, tetapi “Allahlah”
yang telah menciptakannya seperti
apa yang diisyaratkan oleh Allah
dalam Quran Surat Al-Qomar ayat
49, yang artinya: “Sesungguhnya
kami menciptakan segala sesuatu
menurut ukuran”. Besaran-besaran
yang dapat diukur itu merupakan
besaran fisika atau biasa disebut
dengan besaran fisis. Allah telah
menciptakan ketinggian, suhu,
tekanan, kelajuan, berat, waktu dan
banyak lagi besaran fisika lainnya.
Semuanya diciptakan Allah memiliki
ukuran tertentu yang dinyatakan
dalam satuan ukur. Dari salah satu
contoh sains di atas, maka dari
esensinya, sains sudah Islami.
Hukum hukum yang digali dan
dirumuskan sains seluruhnya tunduk
pada hukum Allah. Pembuktian teoriteori sains pun dilandasi pencarian
kebenaran, bukan pembenaran
nafsu manusia. Dalam sains,
kesalahan analisis dimaklumi, tetapi
kebohongan adalah bencana.
Contoh lain adalah kekeliruan
analisis terhadap hukum kekekalan
massa dan energi. Massa tidak
dapat diciptakan dan tidak dapat
dimusnahkan, tetapi dapat berubah
ke dalam bentuk lain. Hukum
konservasi massa dan energi ini
dinilai menentang “tauhid”. Padahal,
hukum ini adalah hukum Allah yang
dirumuskan manusia, bahwa massa
dan energi tidak bisa diciptakan dari
ketiadaan dan tidak bisa dimusnahkan, alam dan manusia hanya bisa
mengalihkannya menjadi wujud yang
lain. Hanya Allah yang kuasa
menciptakan dan memusnahkan.
Bukankah itu sangat Islami?
Jadi,, “Islamisasi Sains” bukan
menempatkan Ayat Alquran sebagai
alat analisis sains. Dalam sains,
rujukan yang dipakai mesti dapat
dipahami siapa pun tanpa
memandang sistem nilai atau
agamanya. Tidak ada “sains Islam”
dan “sains non-Islam”, yang ada
“saintis Muslim” dan “saintis nonMuslim”. Pada merekalah sistem nilai
tidak mungkin dilepaskan. Memang
tidak tampak dalam makalah
ilmiahnya, tetapi sistem nilai yang
dianut seorang saintis kadang
tercermin dalam tulisan populer atau
semi-ilmiah. “Bacalah dengan nama
Tuhanmu yang menciptakan”. Maka,
riset saintis Muslim berangkat dari
keyakinan bahwa Allah pencipta dan
pemelihara alam serta hanya karenaNya pangkal segala niat. Atas dasar
itu, setiap tahapan riset yang
menyingkap mata rantai rahasia
alam disyukuri bukan dengan
berbangga diri, melainkan dengan
ungkapan: “Tuhan kami, tidaklah
Engkau ciptakan semua ini siasia,”(Q. S. 3:191). Uraian di atas
http://www.dunyabulteni.net
menunjukan Islam to sains, yaitu riset
saintis muslim yang berangkat dari
keyakinan bahwa Allah pencipta dan
pemelihara alam semesta, dan
keyakinan itu bersumber dari Al
Quran dan Al Hadits.
Sekarang bagaimana memahami
“Sains to Islam”?. Marilah kita mulai
dengan sebuah contoh. Apa yang
ada dalam benak pikiran kita tentang
api? Api adalah panas; api adalah
terang atau berwarna. Api adalah
panas dan panas adalah kalor serta
kalor berhubungan dengan suhu/
temperature (T). Warna apa sajakah
yang kita lihat dari api ? merah,
kuning, hijau, biru, dll. Warna adalah
gelombang dan gelombang
berhubungan dengan panjang
gelombang/lamda (ë). Mana yang
lebih panas api merah atau api biru?
Besar manakah panjang gelombang
merah atau panjang gelombang
biru? Hubungan antara panjang
gelombang dengan suhu merupakan
sebuah teori dan fakta yang biasa
disebut dengan konsep. Dan konsep
merupakan sains. Lalu apa yang
merupakan sumber dari api ?
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Mengapa api panas ? Dan siapa
yang menciptakan warna?
Dari pemahaman konsep sains
tersebut dapat menggiring manusia
kepada keyakinan bahwa segala
sesuatu ada yang menciptakan yaitu
Allah SWT. Jadi “Sains to Islam”
adalah suatu keyakinan terhadap
Tuhan berdasarkan analisis terhadap
bukti yang diciptakan-Nya. Dan
analisis terhadap bukti yang
diciptakaNya dapat dilakukan
dengan suatu metode, yaitu metode
ilmiah. Dalam tulisan ini diajukan
sebuah paradigma sains alternatif.
Untuk tujuan ini harus dikatakan,
bahwa kata “iman” dan ragam
bentuk turunannya amat banyak
dibicarakan dalam al Qur’an,
sehingga sesungguhnya lebih layak
dipakai sebagai basis sains daripada
kata “tauhid” yang sama sekali tidak
dipakai dalam Al Qur’an. Bahkan jibril
seolah membagi Al Qur’an ke dalam
sebuah sistematika tertentu, yaitu
iman, islam, ihsan, dan sâ‘ah.
Al Qur’an harus dipandang
sebagai
kerangka
sistem
aksiomatika ilmu -terutama ilmu
sosial- karena tidak ada keraguan di
dalamnya ( la rayba f î hi ), bahkan
memberi penjelasan atas segala
sesuatu (tibyânan li kulli shay’in). Al
Quran tersusun oleh kerangka
teoretik ilmu-ilmu sosial (ayat-ayat
muhkamat ) sedangkan lainnya
merupakan penjelasan kerangka
teori ilmu-ilmu sosial tersebut yang
disajikan melalui perumpamaanperumpamaan astronomi, biologi,
fisika,
dsb.
(ayat-ayat
mutahyabbihat ). Jadi, perbedaan
antara
muhkamat
dan
mutashabbihat adalah perbedaan
antara isi/kandungan dengan
bungkus/kandang, bukan anatara
ayat yang jelas dan yang tidak jelas.
Sebab jika hal ini menyangkut ayatayat yang jelas dan tidak jelas,
kedudukan Al Quran sebagai
petunjuk dan pedoman hidup tidak
bisa lagi dipertahankan.
Al Qur’an sendiri mengajukan
definisi sains, sebagaimana
dinyatakan dalam Surat Al-Rahmân.
Lima ayat pertama surat Al-Rahmân
memberi definisi sains alternatif, yaitu
saat mendefinisikan al-bayy â n
sebagai rangkaian informasi dari
Allah SWT. tentang astronomi,
biologi, dan kehidupan sosial. Model
kognitif atau metodologi sains
alternatif bisa dirumuskan dengan
35
memperhatikan surat Yunus: 5 yang
menggambarkan metodologi sains
ini melalui perumpaman astronomi.
Jika realisme dan naturalisme dapat
diibaratkan sebagai sebuah metode
gerhana bulan (moon eclipse), dan
idealisme sebagai gerhana matahari
(sun eclipse ), maka metodologi
alternatif ini adalah metode nongerhana. Jika bulan melambangkan
manusia, bumi melambangkan alam,
dan matahari melambangkan Sang
Pencipta, maka gerhana bulan
menggambarkan penyembahan
manusia atas alam semesta,
sedangkan gerhana matahari
menggambarkan
penuhanan
manusia atas dirinya sendiri.
Penuhanan diri sendiri yang
sering dilakukan oleh para pemimpin
agama gadungan digambarkan
Qur’an melalui upaya-upaya
kadzdzaba , yaitu “ yaktub û na alkitâba bi aydîhim, thumma yaqûlûna
hâdzâ min ‘indillâh, liyashtaruu bihî
thamanan qal î lan ”. Sementara
penuhanan pada alam dilakukan
oleh para saintis melalui prosesproses “pencurian” ilmu (tawallay),
dengan mengatakan penemuanku
daripada mengatakan “sunnatullah”.
Perlukah Islamisasi Sains?
Untuk menjawaban pertanyaan
diatas, kita kaji lima ayat Al-Quran
berikut: bacalah dengan nama
Tuhanmu yang menciptakan;
menciptakan manusia dari segumpal
darah; bacalah, dan Tuhanmu yang
Maha Pemurah yang mengajarkan
dengan pena; Mengajar manusia
hal-hal yang belum diketahuinya (Q.
S. Al-‘Alaq:1-5) . Lima ayat ini bukan
sekadar perintah untuk membaca
ayat quraniyah . Terkandung di
dalamnya dorongan untuk membaca
ayat-ayat kauniyah . Manusia pun
dianugerahi kemampuan analisis
untuk mengurai rahasia di balik
semua fenomena alam. Kompilasi
pengetahuan
itu
kemudian
didokumentasi dan disebarkan
melalui tulisan yang disimbolkan
dengan pena. Pembacaan ayat-ayat
kauniyah ini akhirnya melahirkan
sains. Ada astronomi, fisika, kimia,
biologi, geologi, dan sebagainya.
Maka dari esensinya, sains sudah
Islami, hukum-hukum yang digali dan
dirumuskan sains seluruhnya tunduk
pada hukum Allah. Pembuktian teoriteori sains pun dilandasi pencarian
kebenaran, bukan pembenaran
nafsu manusia. Dalam sains,
kesalahan analisis dimaklumi, tetapi
kebohongan adalah bencana. Al
Faruqi menetapkan lima sasaran dari
rencana kerja “Islamisasi Sains atau
Ilmu”, yaitu: menguasai disiplindisiplin modern, menguasai
khazanah Islam, menentukan
relevansi Islam yang spesifik pada
setiap bidang ilmu pengetahuan
modern, mencari cara-cara untuk
melakukan sintesa kreatif antara
khazanah Islam dengan Khazanah
ilmu pengetahuan modern, dan
mengarahkan pemikiran Islam ke
lintasan-lintasan yang mengarah
pada pemenuhan pola rancangan
Allah.
Hukum konservasi massa dan
energi yang secara keliru sering
disebut sebagai hukum kekekalan
massa dan energi sering dikira
bertentangan dengan prinsip tauhîd.
Padahal itu hukum Allah yang
dirumuskan manusia, bahwa massa
dan energi tidak bisa diciptakan dari
ketiadaan
dan
tidak
bisa
dimusnahkan. Alam hanya bisa
mengalihkannya menjadi wujud yang
lain. Hanya Allah yang kuasa
menciptakan dan memusnahkan.
Bukankah itu sangat Islami?
Demikian juga tetap Islami sains
yang menghasilkan teknologi
kloning, rekayasa biologi yang
memungkinkan binatang atau
manusia memperoleh keturunan
yang benar-benar identik dengan
sumber gennya. “Teori evolusi”
dalam konteks tinjauan aslinya dalam
sains juga Islami bila didukung bukti
saintifik. Semua prosesnya mengikuti
sunnatullah, yang tanpa kekuasaan
Allah semuanya tak mungkin
terwujud.
Ide Islamisasi Sains Mendesak ?
Untuk menjawab pertanyaan di
atas, ungkapan di bawah ini mungkin
bias membantu menemukan
jawabannya. Sebab ilmu yang rusak,
adalah sumber dari kerusakan, dari
ilmu yang rusak, lahir pula ilmuwan
atau saintis yang rusak, bahkan
ulama yang rusak, padahal tujuan
ilmu mengantarkan manusia tidak
syirik, melahirkan kebahagiaan dan
peradaban yang maju. Coba
renungkan juga ungkapan Imam AlGhazali dalam Ihy â ’ ‘Ul û mudd î n :
“Rakyat yang rusak gara-gara
penguasa/pemimpin yang rusak,
dan penguasa rusak gara-gara
ulama yang rusak, dan ulama rusak
terjangkit penyakit “hubbu al-dunyâ”
).
(Cinta Dunia).
Penutup
Dalam rangka keluar dari krisis
manusia modern sebagai krisis ilmu
ini, ummat Islam perlu bekerja keras
untuk membangun kerangka
paradigmatik sains alternatif, dengan
ciri pokok sebagai berikut: 1.
Menjadikan Al Qur’an sebagai
sebuah sistem aksiomatika sains
sosial (sunnaturrasûl); 2. Sains alam
(ayat-ayat
mutashabbih â t )
menyediakan data-data penjelasan
bagi sains sosial (ayat-ayat
muhkam â t ) –sosiologi, ekonomi,
politik, sejarah. Sains sosial berada
dalam hirarki ilmu yang lebih tinggi
daripada sains alam; 3. Ilmu
dikembangkan dengan model
kognitif atau metodologi nongerhana, sebut saja metode “ibda’
bismillah wa akhkhirha bil
hamdulillah di mana Allah swt
sebagai wakil, manusia sebagai
mutawakkil, dan alam sebagai
ladang pengabdian manusia pada
Allah swt yang senantiasa dilakukan
“dengan asma Allah, dan diakhiri
dengan alhamdulillah.
Terlepas dari perdebatan tentang
perlu tidaknya Islamisasi Sains atau
bagi yang mengganggap perlu
kemudian juga berdebat tentang
pengertian dan metode Islamisasi
tersebut, adalah sungguh menarik
kita
melihat
perkembangan
pemikiran tersebut. Tradisi berfikir
ilmiah, realistis sekaligus idealis,
namun tidak ‘jauh’jauh’ dari wahyu ini
tentu saja perlu untuk menjadi contoh
bagi perkembangan intelektualitas
ummat selanjutnya. Gambaran
tokoh-tokoh di atas yang dalam kurun
dua
dasawarsa
telah
menyumbangkan sebuah ‘pentas’
perdebatan yang tak jarang
meninggalkan dokumen otektik
berupa buku, makalah atau
dokumentasi lainnya kemudian
mungkin meninggalkan sebuah
pertanyaan. Mungkinkah upaya ini
masih banyak dibaca oleh generasi
selanjutnya? Apakah upaya yang
menghabiskan waktu, tenaga dan
fikiran itu bisa menjadi dasar untuk
bangkitnya ilmuan Islam selanjutnya?
M.Ihsan Dacholfany
Dacholfany,, M.Ed.,
Sekretaris PPI UKM 2001-2002 dan
Mahasiswa S3 UNINUS Bandung
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
36
Sam Ratulangi
Bapak Bangsa dari Timur
Oleh Basri Amin
Si Tou Timou Tumou Tou.
Prinsip hidup Minahasa ini
artinya ‘manusia hidup untuk
menghidupi manusia lainnya’.
Ungkapan ini mendapatkan
bukti hidupnya lewat Sam
Ratulangi.
Setelah hidup dengan prinsip ini
Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob
Ratulangie meninggalkan bangsa ini
untuk selamanya pada usia 59 tahun
(1890-1949). Sebelumnya, dari
tempat pembuangannya di Serui,
Papua Barat, Sam Ratulangi
diterbangkan tentara Sekutu ke
Yogyakarta pada tanggal 5 April
1948. Setahun kemudian pada
tanggal 30 Juni 1949 ia wafat di
Jakarta karena kesehatannya
memburuk . Jenasah Sam Ratulangi
dibawa ke Manado dengn kapal laut,
kemudian di makamkan di Tondano,
Minahasa (2 Agustus 1949).
Sam Ratulangi adalah sosok
pribadi yang kaya dengan karya
kehidupan. Semangat sumekolah
(baca: bersekolah) telah ia capai
‘puncak’ formalnya. Patriotisme dan
nasionalismenya telah ia buktikan
dalam kiprah perjuangannya sejak di
Persatuan Minahasa, volksraad
(Dewan Rakyat) dan Gubernur
Sulawesi (1945-1949).
Hidup Lewat T
ulisan
Tulisan
Intelektualitasnya
bagi
pencerdasan bangsa yang lebih luas
dipersembahkannya melalui majalah
Nationale Commentaren dan
Penindjauan. Ia juga rajin menulis di
Mingguan Menara (1933), dan
menulis buku Indonesia in den Pacific, kernproblemen van den
Aziatischen Pacific (Batavia, 1937,
151 halaman).
Mieke Schouten (1981) dalam
Minahasa and Bolaang Mongondow,
an Annotated Bibbliography 18001942 (KITLV, bibliographical series
10, editied by I. Farjon) telah
mendaftarkan 17 tulisan Sam
Ratulangi yang dilengkapi ringkasan
singkat pada masing-masing
karangan tersebut. Dari daftar ini
cukup jelas bahwa karya tulis Sam
Ratulangi lebih banyak terdaftar
antara tahun 1913-1938. Dalam
periode inilah intensitas tulisan Bung
Sam demikian mengagumkan. Dialah
”Doktor” pribumi pertama ilmu pasti
alam (natuur philosophie) di negeri
ini yang piawai menulis beragam
topik dengan kredibilitas analisis.
Ia membahas berbagai topik
penting antara lain: stagnasi
kependudukan di Minahasa,
perkembangan asal-usul kata
‘Manado’, legenda-legenda bulan
bintang di Minahasa, sebuah novel
tentang kehidupan di Minahasa,
karakter budaya Minahasa, tingginya
status wanita di Minahasa dan
kebiasaan-kebiasaan di Minahasa.
Selain itu ia juga menulis tentang
pendidikan perempuan di Minahasa,
kondisi pamong praja, konflik antara
kerja paksa dan nilai mapalus (kultur
‘gotong royong’ di Minahasa),
reformasi administrasi desa (walak)
di Minahasa, pengaruh Kristen dan
peradaban Barat dalam identitas individual di Minahasa, asal usul dan
metode-metode kerja asosiasi Kristen
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
di Minahasa dan dinamika
perkembangan pendidikan, anti tesis
antara pemerintahan Belanda dan
Indonesia dan pengaruh Perserikatan
Minahasa di Sulawesi, hukum
agraria/adat, tanah Kalakeran
Minahasa dan perkembangan
wilayah urban di Manado (Schouten,
1981).
Meskipun demikian sampai saat
ini relatif terbatas studi-studi yang
mendalam tentang Sam Ratulangi.
Diantaranya: (1) Nationalism and Regionalism in a Colonial Indonesia:
Minahasa in the Dutch East Indies
karya David E.F. Hanley (Australia
National University, 1996). (2) Migrant
Moralities: Christians and Nationalist
Politics in Emerging Indonesia, a biographical approach karya Gerry van
Klinken, (University of Griffith,
Brisbane-Australia, 1996). Karya
Gerry van Klinken secara khusus
mengulas pergumulan perjuangan
dan gagasan Sam Ratulangi lewat
tinjauan biografis.
Selain itu sampai kini, kita bisa
mengakses kurang lebih 13 tulisan–
dalam Bahasa Indonesia–, berupa
paper dan artikel yang meninjau
tentang sosok Sam Ratulangi,
tentang kiprah perjuangan dan
gagasan-gagasannya,
serta
beberapa buku kecil dalam format
biografis.
Karena keluasan wawasan
pengetahuan dan visi hidup yang
dipatrikannya selama ini sebagian
besar dalam bentuk tertulis, maka kita
dapat ‘membacanya’ setiap saat, dan
tak akan menemui kesulitan berarti
dalam mengeksplorasinya lebih
dalam. Tak pernah tampak ‘citra
mitologis’ dalam sosok pribadi Sam
Ratulangi. Semuanya ‘terbuka’ untuk
dipelajari dari generasi ke generasi,
lembar demi lembar dari seluruh
tulisan dan pidato-pidatonya.
Nasionalisme futuristik
Sam Ratulangi adalah sosok yang
berhasil
mensintesa
dan
mentransformasi aspek lokalitas (primordial)
dalam
bangunan
37
nasionalisme Indonesia moderen.
Membaca semangat ini, Dr. Th.
Sumartana (1997) menulis: “…visi
nasional harus benar-benar berakar
dari kepentingan dan visi daerah.
Berawal dari daerah, maka visi
nasional dibangun.”
Visi nasionalisme futuristik yang
dikembangkan Sam Ratulangi
disebut George Aditjondro (1985)
sebagai ‘Burung Manguni yang
Rindukan Deburan Ombak Pasifik’.
Atau dalam bahasa Dr. Daniel
Dhakidae dalam 1000 Tahun
Nusantara (2000, hal. 631), ia
menyebut Sam Ratulangi sebagai
‘Pijar-Pijar Bintang Kejora dari Timur”.
Ditinjau dari aspek praktisnya,
gagasan-gagasan Sam Ratulangi
dalam Nationale Urgentie Program
hingga kini masih relevan.
Menurutnya, Indonesia memiliki
keharusan dan kemampuan untuk
membangun
kesejahteraan
ekonominya melalui: konsolidasi
demokrasi
daerah
otonom,
perimbangan anggaran belanja dan
pendapatan negara, nasionalisasi
pengembangan dan konsolidasi
sistem pendidikan, pengembangan
pertanian rakyat, perikanan dan
modernisasi industri rakyat dengan
dasar koperasi. Semua ini bisa
dicapai karena adanya keunggulan
khas ekonomi Indonesia dalam
percaturan
ekonomi
dunia.
Menurutnya posisi geografis Indonesia yang terletak ‘di tengah-tengah
kawasan konsumsi dan produksi bagi
dunia’, kaya sumberdaya alam,
luasnya tenaga kerja, iklim yang
mendukung dan adanya modal
keuangan yang cukup (Adwin
Ratulangi, 1999).
Salah satu idealisme politiknya
yang mendasar tentang orientasi
politik bernegara di Indonesia
tercatat dalam Risalah sidang
BPUPKI (terbitan Mensetneg R.I,
1992) mengenai konstitusi, dan
sistem ketatanegaraan Indonesia.
Salah satu hal eksplisit tentang posisi
daerah dalam sistem pemerintahan
diungkapkannya sebagai berikut:
“…Supaya daerah pemerintahan di
beberapa pulau-pulau besar diberi
hak seluas-luasnya untuk mengurusi
keperluannya menurut pikirannya
sendiri, menurut kehendaknya
sendiri, tentu dengan memakai
pikiran persetujuan, bahwa daerahdaerah itu adalah daerah daripada
Indonesia, dari satu negara…”
Pandangan ini, lebih lanjut sering
dikutip oleh tokoh LSM Bert Andrian
Supit (2001) berdasarkan dokumen
Nini Sugandi-Ratulangi bahwa dalam
suatu wawancara di tahun 1949 Sam
Ratulangi berkata: ”…bahwa dalam
Kongres
Pasoendan
yang
diselenggarakan di Buitenzorg
(Bogor), di tahun 1930 saya diundang
untuk memberikan suatu pandangan
pemikiran saya tentang bentuk
ketatanegaraan Indonesia atas dasar
prinsip federalistik. Saya ini adalah
seorang penganut bentuk struktur
federalistik bagi Indonesia merdeka
yang mengusung satuan-satuan territorial federasi, agar satuan-satuan
ini secara politis-psychologis dan
ekonomis memiliki suatu daya hidup
yang kokoh…”
Substansi kutipan di atas akan
lebih dimengerti kalau merujuk pada
tulisan-tulisan Sam Ratulangi sejak
tahun 1929 yang secara luas dapat
dibaca dalam studi David Hanley
(1996:
117-140).
Ia
telah
menggunakan kata “desentralisasi”
(decentralisatie dalam Staatblad 64
tahun 1919) dan “wilayah otonom”
yang diinginkannya untuk wilayah
Minahasa. Hal ini didasarkan pada
alasan-alasan historis, etnik dan
demarkasi sosial budaya, serta
dengan memperhitungkan kapasitas
partisipasi penduduk Minahasa
dalam pemilihan pimpinan pada
setiap perkumpulan yang ada.
Federasi politik berdasarkan unit-unit
teritorial sebagai kerangka awal yang
penting dirumuskan karena adanya
bangsa-bangsa yang beragam
(pidato Sam Ratulangi 1928).
Jadi, argumentasi tentang
“federalisme” tidaklah pantas dilihat
sebelah mata, sebagai sebuah
ekspresi minor dalam sejarah
pertumbuhan gagasan politikkenegaraan di Indonesia. Meskipun
tidak pernah sepenuhnya menjadi
mainstream politik Indonesia, tetapi
perspektif federalistik perlu dipahami
konteks
historisnya,
dan
mempertimbangkan dimensi-dimensi
masa depannya, setidak-tidaknya
kalau kita menggali kembali
pemikiran Sam Ratulangi dan Bung
Hatta. Kedua tokoh ini dalam narasi
utama (grand narration) Indonesia
cenderung dikesankan sebagai
tokoh ‘luar’ tanah Jawa yang
menggunakan
argumen
‘kedaerahan’ secara ilmiah dalam
perdebatan politik.
‘Wawasan kedaerahan’ yang
cerdas dijelaskan Sam Ratulangi
dalam
dinamika
gerakan
nasionalisme Indonesia sebelum
kemerdekaan. David Hanley (1996)
menyebut kondisi ini sebagai ‘regional nationalism’. Sebuah
nasionalisme ideal yang dibangun di
atas keteguhan sikap ‘nasionalisme
bangsa Minahasa’ (demikian tulisan
Sam Ratulangi dan F. Laoh tahun
1917). Seluruh gagasan Sam
Ratulangi bila dimengerti secara
mendalam sesungguhnya bukanlah
ekspresi radikal bagi bangsa Indonesia, sebab keaslian ide-idenya
didasarkan pada kenyataan objektif
yang ada dan kondisi-kondisi masa
depan yang dibutuhkan. Atas pijakan
itulah maka gagasan dan praktik
nasionalisme yang dikembangkan
Sam Ratulangi tidak pernah
dilakukan dalam sebuah bentuk
kekerasan
dan
militansi
sebagaimana ditampilkan oleh
Perserikatan Minahasa. Adalah
menarik pula untuk mempelajari lebih
lanjut wawasan-wawasan Sam
Ratulangi yang lain, misalnya tentang
posisi dan kontribusi agama-agama
dalam pergumulan kebangsaan,
tentang gerakan komunitas Islam
misalnya (baca: Titik Balik Sejarah,
Th. Sumartana, 1997).
Sam Ratulangi benar-benar
menjadi personifikasi bangsa
Minahasa sejak 1924 sebagai sosok
manusia ultra modern yang sangat
sukses sebagai intelektual dan
pemimpin. Singkat kata, dialah yang
dikenal sebagai ‘Bapak Minahasa’.
Dialah simbol kunci dari sebuah
‘moral komunitas’ dari sebuah
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
38
bangsa yang hendak mengukuhkan
harga diri dan jati dirinya.
Peran keaktoran Sam Ratulangi
dan ekspresi gagasan-gagasan dia
tentang ke-Minahasa-an dalam
konstruksi kebangsaan Indonesia
amat mendasar untuk dipelajari dan
dipahami. Dalam hemat saya, hanya
dengan membaca naskah-naskah
tulisan Sam Ratulangi sendiri secara
langsung (antara lain: Ratulangie,
1920-1924, Tjahaja Sijang, 1923,
Fikiran, 1930 dan Nationale
Commentaren 1937-1942), barulah
kita benar-benar bisa merasakan dan
memahami
maksud-maksud
substantifnya, karena aspek-aspek
tekstual ini bukanlah sekedar retorika
tulisan, atau sekedar rangkaian
pidato yang ditranskripsi.
Peran penting tokoh-tokoh
Minahasa dan kekuatan diaspora
sosial-politiknya sejak 1920-an dalam
wacana dan pergerakan kebangsaan
Indonesia hanya mungkin muncul
karena
adanya
prasyarat
intelektualitas, organisasi, publikasi,
idealisme
komunitas,
kosmopolitanisme
dan
kepemimpinan yang mumpuni.
Pr
ediksi Perang Pasifik
Prediksi
Di tahun 1937 Sam Ratulangi
hidup di penjara selama empat bulan,
dan setelah itu di-skors tiga tahun dari
Volksraad. Dalam suasana inilah,
Sam Ratulagi menulis buku Indonesia in den Pacific dan terbit selepas
dari penjara. Penting dicatat bahwa
walaupun tradisi menulis memang
intensif dilakukan banyak tokoh Indonesia, apalagi seorang Sam
Ratulangi yang memang adalah
penulis (jurnalis), tetapi Indonesia in
den Pacific itu agak beda dengan
yang lainnya, yakni pada pendekatan
akademiknya. Ini terasa pada fokus
masalah yang ditulis, sistematika
penulisan, penggunaan data dan
referensi, analisis dan kesimpulankesimpulan akhir yang dicapainya.
Sam Ratulangi menggunakan
sebanyak 26 pustaka dengan kutipan
yang sangat ketat.
Sam Ratulangi telah dengan
konsisten
sedemikian
rupa
menggunakan data yang memadai
dalam membangun argumentasinya
tentang kondisi dunia pada saat itu,
khususnya posisi Asia Pasifik dan
peranan Jepang yang signifikan
secara politik dan ekonomi.
Pandangan-pandangan politik
Secara teknis maupun
substansinya, sangat
jelas bahwa majalah ini
mengukuhkan integritas
keintelektualan, komitmen
kebangsaan dan visi
perjuangan Sam
Ratulangi mempersiapkan Indonesia merdeka.
internasional Sam Ratulangi
tergolong visioner dibandingkan
dengan tokoh-tokoh lainnya saat itu.
Ia dengan mengagumkan
menjadikan tema-tema internasional,
tentang kemungkinan Perang Pasifik
dan pergeseran gerakan ekonomi
dunia terutama, dalam berbagai
tulisan dan pidatonya sejak 1928.
Karya ini mengabsahkan wawasan
Pasifik dalam pendekatan ilmiah di Indonesia. Kita nyaris melupakan
bahwa kajian ekonomi dan politik
internasional juga dimulai dari
seorang Sam Ratulangi.
Artefak intelektual Sam Ratulangi
lainnya yang tak bisa dilupakan
adalah bahasan-bahasan dia pada
majalah mingguan yang didirikan di
Bandung, Nationale Commentaren, 8
Desember 1937. Secara teknis
maupun substansinya, sangat jelas
bahwa majalah ini mengukuhkan
integritas keintelektualan, komitmen
kebangsaan dan visi perjuangan
Sam Ratulangi mempersiapkan Indonesia
merdeka;
sekaligus
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
menjelaskan arah dan gagasangagasan yang kokoh tentang
bagaimana seharusnya sebuah
bangsa merdeka membangun
martabat diri dan kesejahteraan bagi
rakyatnya. Sejak 1937 sampai 1942
Nationale Commentaren menjadi
‘corong suara’ yang penting bagi
gerakan kalangan nasionalis Indonesia (Hanley, 1996:123). Ini sangat
terlihat bagaimana peran Nationale
dalam mempublikasi kritikan dan
perdebatan antara Volksraad dengan
pihak Kolonial (Mrazek, 2002: 183184).
Gerakan ‘pencerdasan’ yang
dilakukan Sam Ratulangi patut diulas
ulang. Betapa tidak, Nationale
Commentaren sangat sarat dengan
analisa politik, ekonomi dan
kebudayaan dengan sengaja ia
peruntukkan sebagai sarana
pertukaran gagasan para pemikir
dan pejuang ketika itu. Hampir tak
bisa diragukan bahwa majalah ini
telah sukses menjembatani peran
seluruh cendekiawan Indonesia dari
berbagai kalangan dengan mutu
bahasa yang tinggi dan ulasanulasan yang cerdas.
Nationale Commentaren dapat
terbit sebanyak 215 edisi selama 5
tahun dengan total seluruh halaman
sampai akhir terbitan tahun ke-5
nomor 7 sebanyak 4.185, dan dicetak
1500 eksemplar setiap terbitannya.
Setelah itu, majalah ini tidak terbit lagi
karena dibubarkan penguasa
Jepang (Sigarlaki & Manus, 1981;
Dhakidae, 2000).
Lewat tulisan dan hidupnya Sam
Ratulangi menulis ulang Si Tou Timou
Tumou Tou . Dalam hidup tak ada
yang begitu ia khawatirkan, termasuk
hidupnya sendiri, tetapi ada satu
yang ia jelas khawatirkan sebagai
bangsa. ‘Sebuah bangsa jangan
sampai kehilangan cita-cita’. Antara
hidup dan cita-cita seorang manusia
tergambar jelas cita-cita bersama.
Ketika sebuah bangsa kehilangan
cita-cita, maka manusia atau individu
di dalamnya menjadi individu yang
tercerai berai. Atau dalam bahasa
yang lain, Si Tou Timou Tumou Tou
kehilangan konteks atau kerangka
bergerak.
Basri Amin,
alumnus Universitas Sam Ratulangi,
Manado; Mahasiswa Antropologi
Sosial di Universitas Leiden
Malaikat maut sibuk hari ini. Mbah
Surip meninggal dunia dan harus
digendong ke surga. Tak hanya Mbah
Surip, masih ada sekian korban yang
harus digendong akibat tabrakan
kereta Ekspres Pakuan di Bogor tadi
pagi (4/8), sebelumnya Merpati jatuh
di Papua. Malaikat maut pasti tak
akan mengeluh, ia tahu Mbah Surip
pernah menggendong jutaan rakyat
Indonesia saat mereka sepi dan
sendiri dalam Pemilu 2009.
Jauh sebelum dia ngetop, ’Bob
Marley Indonesia’ ini berseliweran di
berbagai acara. Saya paling sering
melihatnya di Kenduri Cinta Emha
Ainun Nadjib di Taman Ismail
Marzuki, Jakarta.
Mbah Surip bobok di mana?
Sekalinya manggung untuk acara
Kenduri Cinta, gitar bolongnya putus
senar. Ia hanya tertawa. Tawanya
menguat ketika anak band lain
meminjaminya
gitar
listrik.
”Ha..ha…ha…Cakep tho gitarnya,
kayak saya…ha…ha…ha…..” Kami
pun hanya tersenyum simpul. Cukup
jauh jarak antara gitar listrik dan Mbah
Surip. Tetapi ’entah bagaimana
genjrengannya masuk. Bukan Tak
Gendong yang dinyanyikannya. Tapi,
Balonku.
Karya lagu Mbah Surip jumlahnya
200-an. Ijo Royo-royo, Siti Maelan,
Indonesia Satu, Bonek, Barang Baru
dan Bangun Tidur, merupakan karyakarya ciptaannya. Dibuat ketika ia
menggelandang dari satu tempat ke
tempat lainnya. Kawasan Bulungan
di Jakarta Selatan, Taman Ismail
Marzuki (TIM) hingga Pasar Seni
Ancol pernah jadi bagian dari daerah
jelajahnya. Kubilang pernah, karena
Mbah Surip sudah tidak terlihat lagi.
Dulu sekali, hidupnya tergantung
dengan hasil ngamen dan siapa saja
yang ada di dekatnya. Tapi sejak Tak
Gendong yang jadi Ring Back Tone
(RBT) membuatnya tak lagi perlu
menggelandang. Mbah Surip jadi
pengamen elit. Siang di TV anu, sore
di Bali, malam pulang ke Jakarta lagi.
Bhumy, anakku, ketawa ngakak
ketika presenter TV menayangkan
Mbah Surip yang dibonceng motor
kemana-mana oleh asistennya.
Jutawan baru ini memang
’boncengers sejati’. Mbonceng motor
kemana-mana.
Rambut
gimbalnya pun hanya ditutup dengan
helem ala kadarnya. ”Tidak ada helm
yang muat,” ujar Mbah Surip. ”Mosok
disebut boncengers, Bunda?” tanya
http://riskan.deviantart.com
39
Mbah Surip
Marhaen 2009
Oleh Emmy Kuswandari
Bhumy. Ia heran dengan istilah presenter TV itu. Anakku baru lima tahun,
masih banyak kata yang baginya
asing. Terbukti Mbah Surip tak hanya
disenangi orang dewasa, anak kecil
yang belum mengerti kata ’sedih’ pun
juga merasa kawan Mbah Surip.
Simak dialog kami, ketika tahu
Mbah Surip pergi.
”Bhumy sedih?” tanyaku.
”Kalau Bunda?”
”Sedih karena Mbah Surip ndak
bisa bisa menyanyi lagi.”
”Kenapa kalo meninggal harus
sedih?”
”Kenapa kalau meninggal tidak
bisa menyanyi lagi?”
”Kalo meninggal Mbah Surip
bobok di mana?”
Pertanyaan-pertanyaan Bhumy
membuatku belajar menjadi manusia.
Tak hanya itu, butuh beberapa tahun
lagi bagi Bhumy untuk mengerti
meskipun Mbah Surip ’masih ada’ di
TV, tetapi di saat yang sama Mbah
Surip juga sudah tiada.
Marhaen 2009
Urip Ariyanto, ini nama asli Mbah
Surip. Ia mendadak ngetop di Bulan
Mei lalu. Ketika lagu Tak Gendong
laris manis bak kacang. Status di
Facebook pun banyak mencupliknya.
Di hari kematiannya, lagi-lagi Mbah
Surip merajai Twitter. Setiap detik
microblogging ini di-refresh,
jumlahnya makin banyak tentang
Mbah Surip.
Meski dandan ala Bob Marley,
Mbah Surip mengaku tak tahu kalau
musiknya digolongkan dalam genre
tersebut. Meski begitu ia pernah
berpesan, “Reggae itu kan musik
perdamaian, jadi damai terus.”
Sebelum ia ’pergi’, Mbah Surip
masih punya keinginan untuk duet
dengan Manohara. Lagunya sudah
disiapkan. Judulnya Thank You very
Much. Bukan karena Mano sedang
ngetop, tapi menurut Mbah Surip,
suara Mano reggae sekali. Aku tidak
tahu apa yang ia maksud.
Ayah empat anak dan kakek
empat cucu ini lahir di ”Jerman” alias
Jejer Kauman, Magersari, Mojokerto,
Jawa Timur. Mbah Surip tertutup soal
keluarga. Ia pun tak mempermasalahkan kekayaan yang dimilikinya
kini.
Mbah Surip memang jadi
fenomena tersendiri. Di tengah dunia
hiburan yang serba bling-bling alias
banyak polesan dan tempelan, Mbah
Surip tampil apa adanya. Tak risih
bonceng motor kemana-mana. Jadi
penyanyi tidak perlu nyogok kanankiri atau tidur dengan produsernya.
Tak perlu baju mewah dan mobil
terbaru. Buatku, ia proletar. Mungkin
juga Marhaen versi 2009.
Sulitnya politikus Indonesia
membahasakan hidup orang biasa
malah dijawab tepat oleh Mbah Surip.
Bu Mega, anaknya Bung Karno pun
juga sulit meraba ’rasa Marhaen’,
buktinya Bu Mega tak menang. Tapi
lain dengan Mbah Surip, ya karena
Mbah Surip hidup dengan itu, ia
tampil apa adanya dan ’kena’. Mbah
Surip juga tidak seperti SBY yang
pakai tim sukses untuk terjemahkan
rakyat. SBY masih terlalu jauh untuk
’menggendong’ rakyat. Padahal
perkara ’menggendong’ itu perkara
biasa.
Kaya mendadak, matipun
mendadak itu kan kata orang. Hidup
dan kaya seperti bangun pagi dan
melihat cahaya dari bingkai jendela.
Amat biasa. Mbah Surip, hidup
bagimu ’hanya mampir ngamen’.
Mungkin benar juga kata-kata
Chairil Anwar, ’Sekali berarti sesudah
itu mati’. Di saat rakyat galau melihat
politikus yang gemar bergincu dan
menyembunyikan kebenaran dalam
kata-kata aneh, Mbah Surip ada dan
menjawab santai untuk rakyat yang
tak mendapat tempat dalam Pemilu,
”Ta gendong aja, jangan susah.”
Kemunculan dan popularitasnya
seolah menegaskan pilihan rakyat
terhadap Mbah Surip.
Ah, lelaki itu membuatku
tersenyum. ”Mbah, malaikat siapa
yang nggendong kamu ke surga?”***
Jakarta, 4 Agustus 2009
No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I - JONG INDONESIA
40
Indria Sari dan Widyoseno
Juara Kompetisi Foto dan Video Neso-Ikaned
Indria Sari (Amsterdam) dan Widyoseno (Groningen)
memenangkan kompetisi foto dan video yang
diselenggarakan oleh Nuffic Neso Indonesia dan Ikaned
2009, yang berakhir 20 Juli 2009 lalu.
Tim juri kompetisi foto terdiri dari Arbain Rambe,
wartawan foto koran Kompas, Marrik Bellen, Direktur Nuffic
Neso Indonesia dan Irma R. Damayanti, wartawan The
Jakarta Post, lulusan Universitas Utrecht, mewakili alumni
Belanda.
Jumlah total foto yang diterima oleh panitia melalui email sebanyak 211 buah dari 50 peserta yang sedang
melanjutkan studi dan tinggal di beberapa kota di Belanda.
Untuk kompetisi video, panitia menerima 18 karya yang
dikirimkan oleh 10 mahasiswa Indonesia.
Seleksi dilakukan berdasarkan kriteria foto dan video
yang telah diberikan. Pertama dari segi orisinalitas,
kemudian kreativitas dan ketiga kesesuaian tema, yakni
studi dan tinggal di Belanda.
Setelah melalui diskusi dan argumentasi, tim juri
berhasil memilih sejumlah foto untuk akhirnya terpilih 3
terbaik yakni:
* Juara ke-1 (300 Euro): Indria Sari, program master,
KIT (Royal Tropical Institute) Ámsterdam.
* Juara ke-2 (250 Euro): Taufikurrahman Pua Note, program master, Institute for Housing and Urban Studies,
Erasmus University Rótterdam.
* Juara ke-3 200 Euro): Iwan Fauzi, program master,
Radboud Universiteit Nijmegen.
Pemenang kompetisi video studi di Belanda, sebagai
berikut:
* Juara ke-1 (300 Euro): Widyoseno E Muchsin, program bachelor, Hanze University of Applied Science. Link:
http://www.youtube.com/watch?v=sqjFw1mNZzs
* Juara ke-2 (250 Euro): Rikrik Gantina, program master, TU Delft, Link: http://www.youtube.com/
watch?v=45tY0tCrKbY
* Juara ke-3 (200 Euro): Sukasa Ahmad, program master, IHS Erasmus University of Rotterdam. Link: http://
www.youtube.com/watch?v=SeviAqxm7TA
Mengenai foto juara pertama, Arbain Rambei
berkomentar, “Foto pemenang pertama berhasil
menangkap suasana keseharian mahasiswa Indonesia
dan menggambarkan kondisi penegakan hukum di
Belanda dalam cara yang ‘fun’. Foto ini unik karena terlihat
spontan, ekspresif dan idenya orisinall”
Sedangkan untuk video pemenang pertama, Marrik
Bellen mengatakan, ”video karya Widyoseno E Muchsin
memenuhi kriteria yakni kreatifitas, teknik yang baik dan
berhasil menyampaikan pesan untuk memberikan
informasi yang lengkap tentang studi di Belanda.”
Seluruh pemenang akan dihubungi oleh Nuffic-Neso
Indonesia untuk pengiriman hadiahnya. Selamat kepada
para pemenang dan teruslah berkarya! ****
Info tentang Nuffic NESO Indonesia bisa dilihat di:
http://www
.nesoindonesia.or
.id
http://www.nesoindonesia.or
.nesoindonesia.or.id
JONG INDONESIA - No. 1 - 17 Agustus 2009 - Tahun I
Juara I: ” Bersepeda pun bisa kena TILANG!!”
(Indria Sari-Amsterdam)
Juara II: “I am from Indonesia”
(Taufikurrahman Note-Rotterdam)
Juara III: “Perpustakaan universitas (Commeniuslan)”
(Iwan Fauzi-Nijmegen)
Fly UP