...

tinjauan sosiolinguistik arsip korespondensi di vorstenlanden pada

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

tinjauan sosiolinguistik arsip korespondensi di vorstenlanden pada
TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK ARSIP KORESPONDENSI DI
VORSTENLANDEN PADA MASA PEMERINTAH HINDIA BELANDA
Suhardo S.Sos
Seksi Arsip Statis
Kantor Arsip Daerah Propinsi DIY
1. Pendahuluan
Arsip merupakan recorded information atau informasi terekam dalam bentuk media
maupun karakteristik informasi yang beraneka ragam. Arsip tercipta sebagai akibat dari
aktivitas dalam menjalankan fungsi organisasi. Dari aktivitas fungsi organisasi
selanjutnya terjadi transaksi dan kemudian menghasilkan arsip sebagai bukti otentik
dalam kehidupan berkebangsaan. Tentu saja pada waktu proses transaksi, bahasa
merupakan sarana komunikasi yang sangat penting untuk melaksanakan aktivitas
kehidupan berkebangsaan dalam rangka mencapai tujuan bersama.
Meskipun arsip terekam dalam bentuk dan karakteristik atau corak apapun, namun
tentusaja arsip tidak akan lepas dari bahasa yang digunakan sebagai sarana komunikasi.
Hampir sebagian besar informasi arsip tidak lepas dari bahasa sebagai sarana
komunikasi. Arsip kartografi merupakan arsip peta atau gambar, meskipun karakteristik
informasi arsip kartografi sebagian besar berbentuk gambar atau simbul-simbul, namun
juga membutuhkan beberapa teks yang juga tidak lepas dari bahasa sebagai alat untuk
mengiformasikan atau mengkomunikasikan gambar tersebut, yaitu berupa judul,
legenda atau keterangan gambar.
Bahasa merupakan perangkat lunak (software) dari pada arsip yang digunakan sebagai
salah satu alat komunikasi, dapat mencerminkan budaya, dan perilaku masyarakat
dalam
melaksanakan kehidupan berkebangsaan. Dalam artian bahwa bahasa yang
digunakan dalam perilaku kehidupan sehari-hari dimasyarakat pada waktu itu, dari
berbagai tingkat masyarakat yang majemuk. Disamping itu juga tingkat keberadaban
manusia yang semakin berkembang, secara alami bahasa akan selalu mengalami
Halaman 1
perkembangan sesuai dengan tingkat kemajuan atau perkembangan jaman. Begitu pula
dalam hal ilmu pengetahuan dan teknoligi, akan mempengaruhi tingkat perkembangan
arsip sehingga menjadikan suatu tantangan bagi para arsiparis.
2. Arsip dalam tinjauan Sosiolinguistik
Arsip merupakan catatan mengenai proses kehidupan berbangsa dan bernegara yang
informasinya terekam dalam berbagai bentuk media dan memiliki keragaman
karakteristik informasi. Informasi arsip terekam melekat pada wujud aslinya, sehingga
arsip syah, otentik, dan kredibel. Arsip dan bahasa merupakan bagian yang tidak dapat
dipisahkan atau Inseparable. Bahasa dalam arsip merupakan salah satu alat yang
digunakan untuk komunikasi atau menginfor-masikan.
Linguistik merupakan ilmu bahasa yang berobyek tentang bahasa baik bahasa lisan
maupun tertulis. Sosiolinguistik ilmu yang berobyek tentang bahasa yang dipakai dalam
komunikasi sehari-hari, baik bahasa yang masih digunakan maupun yang sudah tidak
dipergunakan lagi di masyarakat. Dalam penulisan ini, penulis mencoba untuk meninjau
bahasa keseharian yang digunakan untuk komonikasi tertulis atau korespondensi pada
kalangan pemerintah yang memerintah di Vorstenlanden, yang sekarang ini sudah tidak
digunakan.
Bahasa merupakan bagian dari budaya yang dapat menggambarkan kehidupan sosial
sehari-hari. Bahasa keseharian tersebut dengan tidak terasa bahwa dalam suatu kurun
waktu lama mengalami perubahan yang sangat cepat. Hal ini menunjukkan tingkat
peradaban kehidupan suatu bangsa yang semakin meningkat. Pada era sekarang ini
dalam kehidupan sosial dikalangan anak-anak muda muncul adanya bahasa gaul, yang
digunakan untuk komunikasi. Selanjutnya sebagai salah satu dampak dari teknologi
muncul adanya bahasa SMS yaitu bahasa tertulis yang digunakan untuk komunikasi
dalam kehidupan sosial kalangan anak-anak muda sebagai akibat adanya teknologi
Hand phone .
Halaman 2
Bahasa sebagai softwarenya arsip, selain menjadi alat komunikasi tertulis yang dapat
memberikan
digunakan
informasi mengenai aktifitas fungsi lembaga penciptanya, juga dapat
untuk
mengetahui
kondisi
sosial
dan
budaya
masyarakat
yang
melatarbelakangi. Misalnya : pada setiap arsip korespondensi pada jaman pemerintah
Hindia Belanda dalam kesehariannya selalu terdapat kalimat “………Ik heb de eer
UhoogEdelGestr beleefd mede te deelen….” yang artinya kurang lebih “dengan segala
hormat paduka yang mulia …(kajeng tuwan Residen Yogyakarta) ….., saya telah
mendapatkan kehormatan untuk menyampaikan…”.
Kalimat ini menunjukkan adanya penghormatan yang berlebihan kepada pejabat yang
lebih tinggi. Hal ini sekaligus mempertegas status Pemerintah Kolonial Belanda yang
demikian kuat seta menunjukkan rendahnya status penduduk pribumi. Dari bahasa, juga
dapat dikaji struktur maupun tata bahasa yang berbeda dengan tata bahasa belanda yang
sekarang. Disamping kalimat penghormatan dalam bahasa Belanda, beberapa kalimat
penghormatan dalam bahasa Indonesia, dari penduduk pribumi yang ditujukan kepada
pejabat yang lebih tinggi, misalnya : “Diaturkan Padoeka Kangjeng Toewan Asisten
Residen Koelon Progo”,
“Dengan segala hormat”, dalam bahasa Belanda selalu
diawali Geachte. Bahasa penghormatan ini, selama beberapa kurun waktu setelah
kemerdekaan masih digunakan, namun pada era sekarang ini bahasa tersebut sudah
tidak digunakan dalam bahasa korespondensi di kalangan pemerintahan.
Pada masa pemerintah Hindia Belanda, Indonesia khususnya Daerah Istimewa
Yogyakarta atau dikenal sebagai Vorstenlanden yaitu daerah kekuasaan raja yang diberi
kekuasaan untuk menjalankan pemerintahannya sendiri (zelfbestuur). Pada masa
tersebut dalam rangka melaksanakan transaksi kegiatan pemerintah, terdapat tiga bahasa
yang digunakan sebagai alat komunikasi tertulis atau surat menyurat. Bahasa dimaksud
diantaranya bahasa Jawa, Belanda, dan Melayu (Indonesia). Bahasa Belanda biasanya
digunakan untuk komunikasi tertulis bagi pemerintah Belanda, sedangkan bahasa Jawa
digunakan untuk sesama orang pribumi khususnya pemerintah otonom atau Zelfbestuur
di Vorstenlanden. Bahasa Indonesia (Melayu) digunakan sebagai bahasa korespondensi
antara orang pribumi dengan pemerintah Gubernemen (Gewestlijk Bestuur). Pada masa
Pemerintah Hindia Belanda, Bahasa Indonesia secara gramatikanya masih belum
sempurna dan masih bercorak bahasa Melayu. Karena adanya keragaman suku bangsa
Halaman 3
dan bahasa serta belum ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai Bahasa Persatuan,
kondisi bahasa Indonesia pada saat itu dipengaruhi oleh berbagai culture. Sebagaimana
contoh dibawah ini bahwa kosa kata bahasa Indonesia pada masa pemerintah Hindia
Belanda banyak dipengaruhi oleh bahasa Belanda dan bahasa Jawa , yakni :
……..atoer periksa jikalau Onderhoudnya dari Leideing Tjlereng diwajibkan pada
Desa tidak ada keberatannya, akan tetapi bolehnya piara melainkan leiding yang
didalamnya desa. (Surat dari Bupati Adikarto kepada Asisten Residen Kulon-progo,
tahun 1921) Artinya
…diberitahukan bahwa seandainya pemeliharaan/ perawatan
saluran air Clereng dibebankan Desa yang membawahinya, tentu saja tidak keberatan.
Namun yang dirawat saluran yang ada di dalam desa.
……hal pekerjaan bikin baik tempat pemandian di Tjlereng yang ongkosnya ditaksir
banyaknya f. 3.000,- …. (Surat terjemahan dari Residen Yogya kepada Rijksbestuurder
(Patih) Yogyakarta, tahun 1927)
……akan membikin gampang dan tambah sregep baik sekali oempama mantri Irigatie
ditetepi moest tinggal berumah di Pengasih ……… (surat dari Bupati Kulonprogo pada
tahun 1921). Artinya ….akan mempermudah dan meningkatkan semangat kerja yang
sangat baik, seandainya Mantri Irigasi ditetapkan harus bertempat tinggal di
Pengasih…..
Kutipan tersebut di atas adalah bahasa tertulis yang dipergunakan dalam surat menyurat
di tahun 1921 dan 1927 yang terdiri dari surat Bupati Adikarto yang ditujukan pada
Asisten Residen Kulonprogo, surat dari Bupati Pengasih yang ditujukan kepada Asisten
Residen Kulonprogo, dan surat dari Residen Yogyakarta ditujukan kepada Patih
Danurejo. Patih adalah Kepala Pemerintah Pangreh Praja bangsa Indonesia yang
bertugas menjalankan Pemerintahannya di wilayah Vorstenlanden. Bupati adalah
pemerintah pangreh projo bangsa Indonesia, yaitu Kepala Pemerintah Pangreh Praja di
tingkat Kabupaten. Sedangkan Residen adalah Kepala Pemerintah Pangreh Praja bangsa
Belanda di tingkat Karesidenan dan Asisten Residen adalah pemerintah pangreh projo
bangsa Belanda paling bawah yang berkedudukan di bawah Residen. Asisten Residen
ini mempunyai tugas menyelenggarakan pemerintahannya di daerah Afdeling
atau
Halaman 4
tingkat Kabupaten yang memiliki fungsi pengawasan terhadap jalannya pemerintahan
otonom (zelfbestuur) di tingkat Kabupaten.
Dari kutipan surat dimaksud, terdapat dua kosa kata yang berasal dari bahasa Belanda
dan Bahasa Jawa. Kosa kata yang berasal dari Bahasa Belanda antara lain Onderhoud,
Irigatie, moest, sedangkan kosa kata yang berasal dari bahasa jawa yaitu tambah sregep,
ditetepi, gampang, atur. Kata membikin pada bahasa surat tersebut di atas yang artinya
membuat, selama beberapa tahun setelah kemerdekaan masih sering digunakan
sedangkan pada era sekarang (sejak adanya Ejaan yang disempurnakan) kata dimaksud
tidak digunakan dalam bahasa korespondensi, akan tetapi masih sering digunakan dalam
bahasa percakapan.
Keragaman kosa kata yang terdiri dari beberapa bahasa sebagaimana kalimat dimaksud,
karena adanya dua Bangsa yang memerintah di Vorstenlanden pada waktu itu yang
terdiri dari pertama, Pemerintah Gubernemen dengan sebutan kepala pemerintahan
adalah Gubernur yaitu Kepala Pemerintahan Pangreh Praja bangsa Belanda yang
berkedudukan di bawah Gubernur Jenderal dengan tugas memimpin pemerintahan serta
melakukan fungsi pengawasan terhadap jalannya pemerintah otonom (Zelfbestuur) di
Vorstenlanden. Kedua, Pemerintah otonom (Zelfbestuur). Di Vorstenlanden pemerintah
otonom terdiri dari Sultanat dan Pakualamshe Bestuur. Penyelenggaraan pemerintah
otonom di Vorstenlanden, dipimpin oleh Patih yaitu Kepala Pemerintahan Pangreh
Praja bangsa Indonesia yang bertugas memimpin jalannya pemerintahan di
Vorstenlanden.
Dalam rangka melaksanakan fungsi pemerintahan, kedua pemerintah dimaksud didalam
melakukan transaksi, bahasa yang digunakan dalam komunikasi tertulis atau
korespondensi dengan menggunakan bahasa ibu sendiri-sendiri yaitu bahasa Belanda
dan bahasa Jawa, sehingga kedua bahasa tersebut mempengaruhi kondisi sosial dan
budaya bangsa Indonesia yang dapat merubah struktur bahasa Indonesia (pada waktu itu
bahasa melayu) yang kosa katanya sangat terbatas. Sebagaimana contoh …. atoer
periksa jikalau Onderhoudnya dari Leideing Tjlereng….kalimat ini adalah ungkapan
dari pemerintah zelfbestuur (Bupati Adikarta) pada atasannya yaitu Asisten Residen atau
kepala pemerintahan pangreh praja bangsa Belanda yang berkedudukan di bawah
Halaman 5
Residen yang terdiri dari bahasa Belanda, Jawa dan Melayu. Kata atoer priksa tersebut
merupakan bahasa Jawa yang halus sebagai bahasa penghormatan kepada pejabat di
tingkat atasnya.
Bahasa Belanda dan Jawa memiliki posisi kuat, bahasa Indonesia pada masa itu banyak
dipengaruhi oleh budaya Belanda dan Jawa, sehingga banyak kosa kata yang
membudaya sampai sekarang, seperti misalnya spirituil, operasionil, verleng, Bensin,
Ordonantie, Begroting, Bureau, Kantoor, Governour, Provincie dsb. Sedangkan dari
bahasa jawa
Bupati, aku, menghaturkan dsb. Bupati merupakan sebutan jabatan
pemerintahan pangreh praja bangsa Indonesia dalam hal ini suku Jawa di wilayah
Vorstenlanden. Jabatan Bupati ini terdiri dari jabatan Bupati dalam Kraton dan Bupati
di luar Kraton. Bupati di luar Kraton adalah Kepala Pemerintahan pangreh praja bangsa
Indonesia yang bertugas memimpin pemerintahan pangreh praja di Kabupaten. Sebutan
Bupati di luar Vorstenlanden dikenal sebagai Regent atau Regentschap yaitu sebutan
Bupati dalam istilah bahasa Belanda. Sebutan Bupati tersebut pada saat sekarang ini
digunakan sebagai sebutan kepala pemerin-tahan di Kabupaten untuk seluruh Indonesia.
Kata Provinsi berdasarkan ejaan sebelumnya ditulis Propinsi, namun sekarang ini ejaan
kembali pada provinsi. Kata tersebut memiliki kesamaan pengucapan dengan Provincie
dalam bahasa belandanya, namun ejaan penulisannya berbeda si dan cie.
Pada jaman Hindia Belanda Propinsi ini terdiri dari Provincie Midden Java, Provincie
Oost Java dan Provincie West Java. Selanjutnya kata Kantor yang berasal dari bahasa
Belanda yaitu Kantoor, kata dimaksud masih sering digunakan hingga sekarang ini.
Kata Kantoor memiliki 2 (dua) arti kata yaitu makna untuk kalangan pemerintah dalam
sebutan lembaga dan makna kantor bagi masyarakat dalam bahasa percakapan.
Dikalangan Pemerintah baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat, pada era
sekarang ini kata Kantor memiliki makna yang berbeda. Kata Kantor saat ini
mempunyai makna sebuah Lembaga/Instansi yang memiliki kedudukan dalam struktur
tingkat eselon III. Sedangkan makna kantor dalam bahasa percakapan adalah sebuah
gedung untuk beraktivitas melakukan pekerjaan, sebagai contoh : Hij is naar het
kantoor gaan yang artinya Dia pergi ke kantor. Kata ini memiliki makna tempat
bekerja, tidak memperdulikan apakah tempat kerjanya dengan sebutan Badan, Dinas
atau mungkin lembaga swasta.
Halaman 6
Kalimat dimaksud digunakan dalam bahasa percakapan sehari-hari sampai sekarang.
Kata kantor pada masa pemerintah Hindia Belanda juga digunakan dalam sebutan
lembaga, sebagaimana contoh : Central Watershcap Kantoor voor Vorstenlanden yang
artinya Kantor Pusat Waterschap untuk Vorstenlanden adalah lembaga pusat pengairan
untuk wilayah Vorstenlanden. Lembaga tersebut merupakan lembaga dibawah
Departemen van Verkeer en Waterstaat yang berada di daerah dengan tidak ada batasan
struktur eselonisasi kelembagaan. Kata kantoor dimaksud memiliki makna sebuah
gedung untuk tempat bekerja yang digunakan sebagai pusat beraktivitas dalam
menangani masalah pengairan di wilayah Vorstenlanden. Dengan demikian makna
Kantor yang sebenarnya adalah Gedung yang digunakan sebagai tempat melakukan
aktivitas transaksi.
3. Penutup
Demikian uraian tentang tinjauan sosiolinguistik arsip korespondensi di Vorstenlanden
pada masa pemerintah Hindia Belanda. Dengan demikian ketika arsip itu diciptakan
bertujuan sebagai bukti administrasi dalam pelaksanaan kegiatan instansi, namun ketika
arsip tersebut sudah habis kegu-naannya dengan secara tidak tersengaja arsip memiliki
nilai yang sangat berharga bagi “Sejarah”. Sejarah dalam artian luas yaitu ilmu
pengetahuan dan teknologi serta dari berbagai aspek baik politik, sosial, ekonomi,
budaya yang dalam hal ini termasuk bahasa. Arsip merupakan catatan bukti-bukti
penye-lenggaraan kehidupan berkebangsaan yang mencerminkan tingkat keberadab-an
suatu bangsa, sehingga dengan melalui arsip, kita dapat melihat berbagai aspek
kehidupan di masa lalu yang dapat digunakan sebagai bahan perencanaan yang akan
datang.
Bahasa sebagai perangkat lunak arsip, tidak dapat dipisahkan dimana hampir sebagian
besar arsip menggunakan bahasa sebagai sarana komunikasi meskipun ada beberapa
arsip yang menggunakan gambar atau simbul-simbul untuk mengkomunikasikan atau
menginformasikan. Namun bahasa merupakan salah satu unsur yang dominan dalam
informasi arsip. Oleh karena itu bahasa merupakan salah satu bagian yang paling
penting bagi arsiparis dalam melaksanakan pengelolaan arsip. Menata arsip bukanlah
Halaman 7
sekedar melakukan penataan terhadap fisik arsip, melainkan mengatur (arrange)
informasi arsip sehingga informasi dapat digunakan secara lengkap dan akurat bagi
pengguna. Tentu saja dalam merekonstruksi informasi arsip harus memperhatikan
bagaimana informasi arsip tersebut tercipta, dan untuk memahami informasi arsip
dimaksud harus memahami bahasa yang dikomunikasikan arsip. Dengan demikian
bahasa merupakan salah satu unsur yang sangat penting bagi arsiparis dalam mengelola
arsipnya. Agar kita dapat menguasai informasi di dunia maka kita harus menguasai
bahasa. Oleh karena itu seorang arsiparis sebagai pengelola informasi arsip yang
bertugas antara lain mengolah, menyimpan dan menyajikan arsip sebagai referensi atau
sumber penelitian, harus faham terhadap bahasa yang terdapat pada khasanah arsip yang
dimiliki. Sehingga arsiparis dapat memahami informasi serta sejarah dari arsip-arsip
yang dimiliki.
© 2008. Kantor Arsip Daerah Provinsi DIY
Halaman 8
Fly UP