...

efektivitas ekstrak terong belanda untuk menurunkan kadar glukosa

by user

on
Category: Documents
36

views

Report

Comments

Transcript

efektivitas ekstrak terong belanda untuk menurunkan kadar glukosa
Silvia Mara Asvita dan Khairun Nisa Berawi| Efektivitas Terong Belanda untuk Menurunkan Kadar Glukosa dan Kolesterol
LDL Darah pada Pasien Obesitas
Efektivitas Ekstrak Terong Belanda untuk Menurunkan Kadar Glukosa dan
Kolesterol LDL Darah pada Pasien Obesitas
Silvia Mara Asvita1, Khairun Nisa Berawi2
1Mahasiswa, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
2Bagian Fisiologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Lampung
Abstrak
Obesitas adalah akumulasi lemak berlebihan dalam tubuh yang dapat membahayakan kesehatan. Obesitas disebabkan
karena ketidakseimbangan antara asupan kalori dan keluaran kalori, sehingga terjadi kelebihan kalori yang disimpan dalam
bentuk lemak. Jika obesitas berlangsung dalam jangka waktu yang lama maka dapat menimbulkan hiperglikemia dan
hiperkolesterolemia. Hiperglikemia adalah peningkatan kadar glukosa darah sedangkan hiperkolesterolemia adalah
peningkatan kadar kolesterol total, LDL, dan trigliserida darah dan penurunan dari kadar HDL darah. Terong Belanda
(Cyphomandra betaceae) memiliki efektivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah (hipoglikemik), kadar kolesterol
darah (hipokolesterolemik) dan berat badan. Ekstrak terong belanda, khususnya polifenol, dapat mengembalikan regulasi
adipokin pada pasien obesitas sehingga dapat menurunkan risiko resistensi insulin dan produksi trigliserida di jaringan
adiposa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ekstrak terong belanda dengan dosis 200-300 mg/kgBB
menyebabkan penurunan kadar glukosa darah, kadar kolesterol LDL darah dan berat badan pada tikus putih obesitas yang
diinduksi diet tinggi lemak.
Kata kunci: hiperglikemia, hiperkolesterolemia, obesitas, terong belanda
Effectiveness of Tamarillo Extract for Decreasing Blood Glucose and LDL
Cholesterol Levels in Obese Patient
Abstract
Obesity is excessive fat accumulation in the body. Obesity is caused due to an imbalance between calorie intake and calorie
output so the excess calories are stored as fat. If obesity is taking place in the long term, it can lead to hyperglycemia and
hypercholesterolemia. Hyperglycemia is an increase blood glucose levels while hypercholesterolemia is an increase blood
total cholesterol, LDL, and triglyceride and a decrease of blood HDL levels. Tamarillo (Cyphomandra betaceae) has efficacy
in lowering blood glucose levels (hypoglycemic), blood cholesterol levels (hypocholesterolemic) and body weight. Tamarillo
extract , especially polyphenols, can restore the regulation of adipokines in obese patients so can decrease the risk of
insulin resistance and triglycerides production in adipose tissue. The results showed that Tamarillo extract in 200-300 mg/kg
dose cause a decrease of blood glucose levels, blood LDL cholesterol levels and body weight in adultmale Sprague-Dawley
rats obesity who induced by high fat diet.
Keywords : hypercholesterolemia, hyperglycemia, obesity, tamarillo
Korespondensi : Silvia Mara Asvita, alamat Jl. Soemantri Brodjonegoro No.1 Unila Bandar Lampung, HP 081369929258,
email [email protected]
Pendahuluan
Obesitas adalah akumulasi lemak
abnormal atau berlebihan dalam tubuh yang
dapat membahayakan kesehatan. Obesitas
merupakan akibat dari ketidakseimbangan
energi karena lebihnya asupan kalori dan
kurangnya keluaran kalori, sehingga kelebihan
kalori tersebut disimpan dalam bentuk lemak.1
Diduga sebagian besar disebabkan oleh faktor
genetik dan faktor lingkungan. Faktor
lingkungan antara lain adalah pola makan
(mengkonsumsi
makanan
porsi
besar,
makanan tinggi energi, tinggi lemak, tinggi
karbohidrat sederhana dan rendah serat),
perilaku makan (memakan junk food, makanan
Majority | Volume 5 | Nomor 1 | Februari 2016 |102
kemasan dan soft drink), dan kurangnya
aktivitas fisik.2
Riskesdas tahun 2013 menyebutkan
bahwa
prevelensi
penderita
obesitas
mengalami peningkatan. Pada tahun 2010,
prevelensi obesitas menurut IMT > 25 pada
laki-laki dewasa (> 18 th) sebesar 7, 8 % dan
pada perempuan dewasa (> 18 th) sebesar 15,5
%. Sedangkan prevelensi obesitas pada tahun
2013 yaitu 19,7 % pada laki-laki dewasa (>18
th) dan 32,9 % pada perempuan dewasa(>18
th).3
Obesitas mempunyai pengaruh yang
jelas terhadap terjadinya diabetes mellitus,
hipertensi dan juga hiperlipoproteinemia.4
Apabila obesitas menetap selama periode
Silvia Mara Asvita dan Khairun Nisa Berawi| Efektivitas Terong Belanda untuk Menurunkan Kadar Glukosa dan Kolesterol
LDL Darah pada Pasien Obesitas
waktu tertentu bisa menyebabkan terjadinya
berbagai gangguan metabolik.5
Kolesterolemia atau bisa disebut juga
dengan hiperkolesterol merupakan fraksi lipid
utama yang ditandai dengan kenaikan kadar
kolesterol total, kolesterol LDL (Low Density
Lipoprotein) dan trigliserida serta penurunan
kadar HDL (High Density Lipoprotein).5
Sedangkan, hiperglikemia adalah peningkatan
kadar glukosa di dalam plasma darah akibat
kekurangan
hormon
insulin
ataupun
ketidakmampuan hormon insulin melakukan
kerjanya. 6
Dampak tingginya kadar kolesterol dan
glukosa ini menyebabkan perlunya cara untuk
menurunkannya yaitu dengan pengobatan.7
Perkumpulan
Endokrinologi
Indonesia
(PERKENI,
2011)
menyarankan
untuk
mempertahankan kadar kolesterol LDL
<100mg/dL serta kadar kolesterol HDL >40
mg/dL pada pria dan >50 mg/dL pada wanita,
sedangkan kadar glukosa puasa (GDPT) <100
mg/dL dan kadar glukosa postpandrial (TGT)
<140 mg/dL.8
Obat-obatan modern telah banyak
digunakan masyarakat sebagai pengobatan.
Namun, harga obat yang mahal dan besarnya
efek samping yang ditimbulkan membuat
masyarakat lebih memilih untuk menggunakan
obat tradisional. Salah satu tanaman buah yang
banyak dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai
pengobatan
adalah
terong
belanda
(Cyphomandra betacea Sendt.) dari suku
Solanaceae.7
Terong belanda mempunyai kandungan
nutrisi dan antioksidan yang tinggi dan
merupakan salah satu jenis buah yang secara
tradisional digunakan sebagai obat untuk
penyakit rematik, memperlancar air seni dan
menurunkan kadar kolesterol.9
Hasil penelitian tikus obesitas yang
diinduksi diet tinggi lemak yang diobati dengan
ekstrak
terong
belanda
menyebabkan
penurunan kadar kolesterol total dan
peningkatan kadar HDL-C ( <0,05) secara
signifikan. Selain itu juga, menyebabkan
penurunan positif kadar glukosa darah, kadar
trigliserida, kadar LDL-C dan berat badan
dengan pemberian dosis menengah (200
mg/kg BB dan tinggi (300 mg/kg BB) terong
belanda.10
Isi
Terong belanda atau di Indonesia dikenal
sebagai terong menen dan dalam bahasa
Inggris disebut Tree tomato atau Tamarillo,
berasal dari Pegunungan Andes di Amerika
Selatan, khususnya di Peru kemudian
menyebar ke berbagai wilayah di dunia. Di
Indonesia, Terong Belanda ini banyak dijumpai
di Sumatera Utara.11
Tanaman terong belanda memiliki
tangkai panjang, satu dengan lainnya tumbuh
sendirian atau ada yang berkelompok sebanyak
3-12 tangkai. Buah terong belanda berbentuk
seperti telur dengan ukuran 5-6 cm dan
lebarnya di atas 5 cm. Warna kulitnya ungu
gelap, merah muda, orange atau kuning dan
ada yang masih mentah berwarna hijau agak
abu-abu. Warna ini akan berubah menjadi
merah kecoklatan apabila sudah matang. Di
bagian dalam nya, buah ini berwarna tebal
kekuningan dibungkus oleh selaput tipis yang
mudah dikelupas. Rasa buah ini seperti tomat
dan teksturnya seperti plum dengan
kandungan gizi yang telatif tinggi karena
banyak mengandung vitamin A, C dan serat.
Lapisan luar dari daging buah banyak
mengandung air, sedikit kasar dan sedikit
mengandung rasa manis. Biji buah ini keras,
berwarna coklat muda sampai hitam. Bentuk
biji agak tumpul, bulat dan kecil, tetapi lebih
besar daripada biji tomat yang sebenarnya.11
Terong belanda terbilang sangat bergizi
dikarenakan memiliki kandungan vitamin yang
tinggi.
Terong
belanda
mengandung
phytochemical
termasuk
β-karoten
anthocyanin, flavonol, asam fenolik, dan asam
askorbat.10
Adapun kandungan setiap 100 gram
terong belanda yang dapat dimakan
diperlihatkan dalam tabel 1.
Tabel 1. Kandungan setiap 100 g Terong Belanda.11
Komposisi
Jumlah
Kalori (Kal)
48
Protein (g)
1,5
Lemak (g)
0,3
Karbohidrat (g)
11,30
Kalsium (mg)
0,28-0,38
Besi (mg)
0,3-0,9
Vitamin A (SI)
5600
Vitamin B
0,3-0,14
Vitamin B1 (mg)
0,04
Vitamin C (g)
15-42
Vitamin E (g)
2
Air (gr)
85
Serat (g)
1,4-4,7
Majority | Volume 5 | Nomor 1 | Februari 2016 |103
Silvia Mara Asvita dan Khairun Nisa Berawi| Efektivitas Terong Belanda untuk Menurunkan Kadar Glukosa dan Kolesterol
LDL Darah pada Pasien Obesitas
Disamping itu, telah dilakukan juga
analisis terhadap beberapa komponen buah
terong belanda segar , yaitu kadar air, kadar
pektin, aktivitas antioksidan, kadar fenol, kadar
vitamin C dan kadar antosianin (β-karoten).
Hasil analisis komponen terong belanda
tersebut dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Analisa Terong Belanda segar.12
Komposisi
Jumlah
Kadar Air (%)
82,354
Aktifitas Antioksidan (%)
69,778
Vitamin C (mg/g)
35,313
Antosianin (ppm)
2555,053
Fenol (ppm)
9807,631
Pektin (%)
2,565
Kandungan
polifenol
(misalnya,
antosianin, flavonoid, fenol) dalam terong
belanda berperan penting dalam pencegahan
dan pengendalian komplikasi yang timbul dari
stres oksidatif akibat obesitas. Peran
kandungan terong belanda tersebut adalah
untuk menurunkan kadar glukosa dan
kolesterol LDL darah serta berat badan.10
Pada obesitas,
terjadi peningkatan
massa adiposa yang dapat menyebabkan
perubahan
patologis
hormon
adiposit
(adipokin) dan peningkatan kadar Reaktif
Oxygen Species (ROS) yang menyebabkan
penurunan kadar adipokin. Di hati, fungsi
adipokin adalah meningkatkan sensitivitas
insulin dan mengurangi output glukosa hepatik
sedangkan, di otot, adipokin merangsang
penggunaan glukosa dan oksidasi asam lemak
dengan aktivasi rangsangan bahan bakar
seluler yaitu AMP-activated protein kinase
(AMPK).Selain itu, penderita obesitas memiliki
kecenderungan sering memakan makanan
yang tinggi kadar lipidnya sehingga konsentrasi
asam lemak plasma meningkat dan asam lemak
lalu ditransport ke dalam sel β melalui protein
pengikat asam lemak (fatty acidbinding
protein). Di dalam sitosol, asam lemak diubah
menjadi turunan asam lemak koA, yang ada
gilirannya mengganggu sekresi insulin melalui
berbagai mekanisme.13
Peran terong belanda dalam mengobati
hiperglikemia yaitu
dengan
mencegah
terjadinya resistensi insulin. Polifenol dalam
terong belanda sebagai antioksidan atau
Reaktif Oxygen Species (ROS) Inhibitor dapat
mengembalikan regulasi adipokin di jaringan
adiposa sehingga mengurangi risiko terjadinya
Majority | Volume 5 | Nomor 1 | Februari 2016 |104
resistensi insulin yang merupakan salah satu
komplikasi obesitas yaitu hiperglikemia.10
Ekstrak terong belanda juga berperan
dalam menurunkan konsentrasi Tumor
Necrosis Factor α (TNF – α).10 TNF α adalah
sitokin pertama yang diimplikasikan pada
patogenesis obesitas dan resistensi insulin.
Ekspresi jaringan adiposa dari TNF α meningkat
pada obesitas dan secara positif berkorelasi
dengan adiposit dan resistensi insulin.13
Selain itu, pemberian terong belanda
pada percobaan tikus putih obesitas yang
diinduksi diet tinggi lemak menunjukkan
peningkatan aktivitas enzim antioksidan yaitu
superoxide dismutase (SOD) dan glutathione
peroxidase (GPx).10 Superoxide dismutase
(SOD) dan glutathione peroxidase (GPx)
merupakan antioksidan endogen tubuh yang
dapat meredam radikal bebas pada keadaan
stress oksidatif.14
Hiperkolesterolemia
pada
obesitas
disebabkan oleh tingginya kadar FFA ( Free
Fatty Acid ) pada orang yang memiliki jaringan
adiposa yang lebih tebal (kadar adipokin
menurun) sehingga meningkatkan kadar
produksi trigliserida akibat aliran FFA yang
meningkat pada hati, dimana trigliserida akan
memicu pembentukan VLDL yang berlebihan
dimana dapat menyebabkan tingginya jumlah
LDL di aliran darah, hingga dapat meningkatkan
kadar kolesterol secara keseluruhan.15 Fungsi
adipokin adalah menurunkan influks asam
lemak dan meningkatkan oksidasi asam
lemak.13
Terong belanda dapat menurunkan
kadar
kolesterol
LDL
darah
dengan
menurunkan produksi trigliserida di jaringan
adiposa. Polifenol dalam terong belanda
sebagai
antioksidan atau Reaktif Oxygen
Species (ROS) Inhibitor dapat mengembalikan
regulasi adipokin sehingga dapat mengurangi
risiko
komplikasi
obesitas
seperti
hiperkolesterolemia.10
Hasil penelitian dengan memberikan
ekstrak terong belanda terhadap tikus putih
obesitas yang diinduksi diet tinggi lemak
menyebabkan penurunan kadar kolesterol
total dan peningkatan kadar HDL-C ( <0,05)
secara signifikan. Selain itu juga menyebabkan
penurunan positif kadar glukosa darah,
trigliserida, LDL-C dan berat badan dengan
dosis paling optimal 200-300 mg/kg BB terong
belanda.10
Silvia Mara Asvita dan Khairun Nisa Berawi| Efektivitas Terong Belanda untuk Menurunkan Kadar Glukosa dan Kolesterol
LDL Darah pada Pasien Obesitas
Hasil penelitian yang lain juga
menunjukan bahwa sari buah terong belanda
pada konsentrasi 10 mg/ml, 25 mg/ml, 75
mg/ml, 150 mg/ml dan 250 mg/ml memiliki
efek penurunan kadar kolesterol total darah
dimana rentang konsentrasi yang terbaik
adalah 150-250 mg/ml.7
Ringkasan
Obesitas adalah akumulasi lemak
abnormal atau berlebihan dalam tubuh yang
dapat membahayakan kesehatan.1 Ekstrak
terong belanda, terutama polifenol, dapat
mencegah dan mengendalikan komplikasi dari
obesitas
yaitu
hiperglikemia
dan
hiperkolesterolemia. Mekanisme nya dengan
cara mengembalikan regulasi adipokin yang
dalam hal ini kadarnya sedikit pada pasien
obesitas
sehingga
menurunkan
risiko
terjadinya resistensi insulin (penyebab
hiperglikemia) dan peningkatan produksi
trigliserida oleh jaringan adiposa (penyebab
hiperkolesterolemia). Efek terbaik terong
belanda dalam menurunkan kadar glukosa dan
kolesterol darah adalah pada dosis 200-300
mg/kgBB.10
Simpulan
Ekstrak Terong Belanda, terutama
polifenol, memiliki efektivitas menurunkan
kadar glukosa darah, kadar kolesterol darah
dan berat badan.
Daftar pustaka
1. World Health Organization. Overweight
and obesity. Geneva: World Health
Organization; 2011.
2. Kementrian
Kesehatan
Republik
Indonesia. Pedoman pencegahan dan
penanggulangan kegemukan dan obesitas
pada anak sekolah. Jakarta: Kemenkes RI;
2012.
3. Kementrian
Kesehatan
Republik
Indonesia. Riset kesehatan dasar. Jakarta:
Bagian Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Kemenkes RI; 2013. hlm. 224-5.
4. Olefsky JM. Obesitas. Dalam: Asdie AH,
editor. Harrison prinsip-prinsip ilmu
penyakit dalam. Edisi ke-13. Jakarta: EGC;
2014. Hlm. 497-505.
5.
Hasrulsah B, M Muhartono. Hubungan
obesitas dengan tingkat kolesterolemia
pada pasien usia > 30 th di puskesmas
kiara
pandak
kecamatan
sukaraja
kabupaten bogor jawa barat. Fakultas
Kedokteran
Universitas
Lampung
[internet]. 2012 [diakses 24 Oktober
2015]; 1(1): 111-20. Tersedia dari:
http://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.p
hp/majority/article/view/30
6. Diabetes Association. Standards of
medical care in diabetes. USA: American
Diabetes Association; 2015.
7. Idris IW, Usmar, Taebe B. Uji efek
hipokolesterolemik sari buah terong
belanda (Cyphomandra betacea Sendt.)
pada tikus putih (Rattus norvegicus).
Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin
[internet]. Juli 2011 [diakses 24 Oktober
2015]; 2(2): 105-10. Tersedia dari:
http://journal.unhas.ac.id/index.php/mfdf
/article/view/489
8. Persatuan
Endokrinologi
Indonesia.
Konsensus
pengendalian
dan
penanggulangan diabetes tipe 2 di
indonesia. Jakarta: Perkeni; 2011.
9. Syariah WO, Usmar, Syukur R. Pengaruh
jus buah terong belanda (Cyphomandra
betaceae) terhadap kadar kolesterol tikus
putih (Rattus norvegicus) jantan. Fakultas
Farmasi Universitas Hasanuddin [internet].
Juli 2011 [diakses 24 Oktober 2015]; 15(2):
95-8.
Tersedia
dari:
http://download.portalgaruda.org/article.
php?article=29855&val=2174
10. Kadir NAAA, Rahmat A, Jaafar HZE.
Protective
effects
of
tamarillo
(Cyphomandra betacea) extract against
high fat diet induced obesity in spraguedawley
rats.
Hindawi
Publishing
Corporation [internet]. 2015 [diakses 24
Oktober 2015]; 2015 [sekitar 8 hlm].
Tersedia
dari:
http://www.hindawi.com/journals/jobe/2
015/846041/
11. Situmorang DR. Kualitas serbuk instan
buah terong belanda (Solanum betaceum
Cav.) dengan variasi kadar maltodekstrin
[skripsi]. Yogyakarta: Universitas Atmajaya
Yogyakarta; 2012.
12. Latifah, Nuriswanto R, Agniya C.
Pembuatan selai lembaran terong
belanda. Staf Pengajar Progdi Teknik
Pangan
Fakultas
Teknik
Industri
Majority | Volume 5 | Nomor 1 | Februari 2016 |105
Silvia Mara Asvita dan Khairun Nisa Berawi| Efektivitas Terong Belanda untuk Menurunkan Kadar Glukosa dan Kolesterol
LDL Darah pada Pasien Obesitas
Universitas
Pembangunan
Nasional
Veteran Jawa Timur [internet]. 2013
[diakses 25 Oktober 2015]: 101-13.
Tersedia
dari:
http://ejournal.upnjatim.ac.id/index.php/r
ekapangan/article/download/409/310
13. Dewi M. Resistensi insulin terkait obesitas:
mekanisme endokrin dan intrinsik sel. IPB
Scientific Repository [internet]. Juli 2007
[diakses 27 Oktober 2015]; 2(2): 49-54.
Tersedia
dari:
http://repository.ipb.ac.id/handle/123456
789/36062
14. Bansal M, Kaushal N. Oxidative stress
mechanisms and their modulation
[internet]. New Delhi. Springer; 2014
[diakses 27 Oktober 2015]. Tersedia dari:
Majority | Volume 5 | Nomor 1 | Februari 2016 |106
https://books.google.co.id/books?id=6p_c
BAAAQBAJ&dq=Mohora,+et+al.,+2007%2
9&hl=id&source=gbs_navlinks_s
15. Rantung AA, Umboh A, Mantik MFJ.
Hubungan hiperkolesterolemia dengan
obesitas pada siswa smp eben haezar
manado. Bagian Ilmu Kesehatan Anak
Fakultas Kedokteran Universtitas Sam
Ratulangi Manado [internet]. Juli 2014
[diakses 24 Oktober 2015]; 2(2) [sekitar 4
hlm].
Tersedia
dari:
http://download.portalgaruda.org/article.
php?article=172342&val=1001&title=hub
ungan%20hiperkolesterolemia%20dengan
%20obesitas%20pada%20siswa%20smp%
20eben%20haezar%20manado.
Fly UP