...

seberapa jauh rupiah melemah?

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

seberapa jauh rupiah melemah?
Edisi Maret 2015
Poin-poin Kunci



Nilai tukar rupiah menembus level psikologis Rp13.000 per dollar AS, terendah
sejak 3 Agustus 1998.
Pelemahan lebih karena ke faktor internal seperti aksi hedging domestik dan
pembiayaan impor. Arus modal asing ke pasar finansial Indonesia tetap tinggi
sepanjang awal tahun 2015 ini.
Rupiah dibiarkan bergerak mengikuti pasar. BI tidak menargetkan rupiah di
level tertentu dan lebih cenderung melakukan sedikit intervensi melalui operasi
pasar terbuka untuk meredam volatilitas.
Implikasi Terhadap Perbankan


BI Rate berpotensi tetap dipertahankan di level 7,50% meskipun ada ruang
untuk turun sebagai antisipasi penguatan harga minyak dunia dan kenaikan
Fed Fund Rate.
Bank belum perlu untuk segera menyesuaikan suku bunganya.
SEBERAPA JAUH RUPIAH MELEMAH?
Pelemahan rupiah menjadi isu ekonomi utama dalam sebulan terakhir. Nilai tukar
rupiah menembus level psikologis Rp13.000 per dolar AS. Pada perdagangan 5 Maret
lalu, rupiah diperdagangkan dikisaran Rp13.022 yang merupakan level terendah sejak
3 Agustus 1998. Hal ini menerbitkan kekhawatiran akan kembalinya krisis moneter jilid
ke-2. Kekhawatiran bertambah dengan terpuruknya rubel Rusia yang juga menandai
SPMD-BTN 2015
1
era krisis moneter 1998. Meskipun begitu, kekhawatiran tersebut sedikit berlebihan
mengingat fundamental ekonomi Indonesia saat ini lebih kuat. Selain itu, pelemahan
rubel lebih karena imbas dari sanksi ekonomi terkait situasi politik Rusia-Ukraina serta
pelemahan harga komoditas tambang terutama minyak mentah.
Pertanyaannya kemudian adalah apakah pelemahan nilai rupiah karena tekanan
eksternal ataukah dorongan faktor internal. Atau mungkin pelemahan yang disengaja,
sebagai bagian dari currency war, untuk mendorong ekspor?
Kinerja rupiah terburuk
ke-2 di bawah ringgit.
Kinerja Mata Uang Asia terhadap Dollar AS
Mata Uang
Ringgit Malaysia
Rupiah Indonesia
Dollar Singapura
Renminbi China
Won Korsel
Rupee India
Yen Jepang
Dollar Hong Kong
Dollar Taiwan
Peso Filipina
Baht Thailand
Sumber: Bloomberg/diolah
Ekonomi AS menjadi
tumpuan global disaat Uni
Eropa, Jepang, dan China
melawan tingkat inflasi
yang rendah.
6-Feb-15
3.5470
12,621.0000
1.3530
119.1200
1,089.7800
61.7025
6.2446
7.7530
31.4490
44.1800
32.6530
6-Mar-15
3.6500
12,976.3000
1.3776
120.8300
1,098.8100
62.1712
6.2631
7.7569
31.4350
44.0850
32.5700
^%
2.90%
2.82%
1.82%
1.44%
0.83%
0.76%
0.30%
0.05%
-0.04%
-0.22%
-0.25%
Mengacu pada kurs tengah Bank
Indonesia, rupiah ditutup di level
Rp12.983 pada perdagangan 6
Maret 2015 atau melemah 2,23%
dibandingkan posisi awal Februari
2015. Dibandingkan mata uang
Asia, nilai rupiah berada di bawah
ringgit Malaysia sebagai mata
uang berkinerja terburuk dalam
sebulan terakhir. (Lihat Tabel.
Kinerja Mata Uang Asia terhadap
Dollar AS).
Perbaikan ekonomi Amerika Serikat berimbas pada penguatan dollar. AS merupakan
satu-satunya kekuatan ekonomi utama yang berhasil keluar dari resesi global yang
dipicu krisis subprime. Bank sentral AS The Fed telah menghentikan program
quantitative easing dan bersiap menaikan suku bunga acuan Fed Fund Rate yang telah
mendekati level nol sejak tahun 2008 silam. The Fed, mengacu pada pernyataan
Gubernur Janet Yellen di depan Kongres pada 25 Feberuari lalu, bisa sewaktu-waktu
menaikan suku bunga yang berpotensi menarik modal dari emerging market termasuk
Indonesia.
Yellen menggaris bawahi beberapa faktor penentu seperti situasi pasar tenaga kerja
AS yang masih sangat rentan meskipun perekonomian membaik, perkembangan
ekonomi negara lain yang dapat menimbulkan risiko atas outlook pertumbuhan
ekonomi AS. Upaya menstimulasi pertumbuhan di zona euro dinilai dapat membantu
ekonomi AS. Selain itu, penurunan harga minyak dunia dapat mendorong nilai
produksi minyak AS.
Saat ini, perekonomian AS menjadi tumpuan dari pertumbuhan global. Proses
pemulihan ekonomi global yang masih tidak merata berpotensi menimbulkan
volatilitas di pasar finansial. Tiga kekuatan ekonomi lainnya, yakni Uni Eropa, Jepang,
dan China masih berjuang melawan tingkat inflasi yang rendah. European Central Bank
dan Bank of Japan memperbesar program QE sementara People Bank of China terus
memangkas suku bunga acuan. Hal tersebut berpotensi mendorong aliran modal
masuk ke emerging market.
Jika melihat aktivitas investor asing, pelemahan rupiah saat ini bisa dibilang bukan
karena tekanan eksternal. Portfolio asing di pasar finansial Indonesia masih positif.
SPMD-BTN 2015
2
Arus modal asing ke pasar
finansial Indonesia tetap
tinggi sepanjang awal
tahun 2015 ini.
Meskipun sempat terjadi
capital flight pada Oktober
2014 terkait kepastian
tapering off The Fed,
investor asing cenderung
menambah
portofolio
investasinya.
Sepanjang
Januari-Februari
2015,
total penambahan dana
asing tercatat Rp151,75
triliun,
naik
14,78%
dibandingkan periode yang
sama tahun lalu. Data
minggu pertama Maret 2015 juga menunjukan adanya aktivitas positif. Memang
terjadi penurunan di obligasi pemerintah sebesar Rp118,03 miliar namun ada kenaikan
Rp893,40 miliar di saham.
Potensi imbal hasil investasi yang tinggi dalam kinerja ekonomi yang relatif stabil masih
menarik bagi investor asing. Aktivitas domestik justru terlihat menekan nilai rupiah.
Terus membaiknya indikator ekonomi AS yang berimbas pada penguatan dollar AS
secara umum dan rencana The Fed untuk menaikan suku bunga acuan yang siap
dieksekusi kapan saja menerbitkan kekhawatiran domestik. Investor lokal berburu
dollar untuk melindungi asetnya dari pelemahan rupiah yang lebih dalam. Selain itu,
kebutuhan untuk pembiayaan impor juga menambah tekanan.
Nilai perputaran transaksi
dollar AS di bank domestik
naik signifikan pada 5 Maret
2015
yang
mencapai
US$1,01 miliar dari hari
sebelumnya yang sebesar
US$663 juta sementara di
bank asing relatif stabil di
kisaran US$400 juta. Lebih
jauh, transaksi penduduk
tercatat US$1,04 miliar
pada hari yang sama, lebih
tinggi dari 4 Maret yang
sebesar US$743 juta. Sepanjang Januari-Februari 2015, perputaran transaksi
penduduk mencapai US$37,56 miliar sementara non-penduduk tercatat US$298 juta.
Transaksi dari warga negara asing tercatat US$10,89 miliar, naik 59,29% dibandingkan
periode yang sama tahun lalu.
Selain tekanan domestik tersebut, kemungkinan lain yang menarik adalah Indonesia
sengaja mendevaluasi rupiah demi menggenjot impor. Strategi ini cukup berhasil
menahan ekonomi Jepang dan China dari perlambatan lebih dalam. Tak
SPMD-BTN 2015
3
Mendorong ekspor dan
meredam impor bisa
menjadi solusi
mengurangi defisit
transaksi berjalan. Studi
BI menunjukan setiap
depresiasi rupiah 1%
terhadap dollar AS akan
meningkatkan ekspor
Indonesia sebesar 0,1%
dan mengurangi impor
0,3%.
mengherankan jika aksi currency war tersebut membuat gerah Amerika Serikat. Dalam
pertemuan menteri keuangan dan gubernur bank sentral G-20 di Istanbul Turki awal
Feberuari lalu, AS mendesak anggota G-20 untuk tidak menggunakan strategi
devaluasi mata uang dalam mendorong ekspor.
Sebagaimana kita ketahui bersama, masalah defisit transaksi berjalan masih
menghantui perekonomian Indonesia. Defisit neraca perdagangan menjadi salah satu
sebabnya. Mendorong ekspor di satu sisi dan meredam impor di sisi lain bisa menjadi
solusi. Mengutip hasil studi BI, setiap depresiasi rupiah 1% terhadap dollar AS akan
meningkatkan ekspor Indonesia sebesar 0,1% dan mengurangi impor 0,3%.
Sepanjang tahun 2014, defisit neraca perdagangan berhasil diredam. Defisit tercatat
US$1,89 miliar atau lebih rendah 53,73% dibandingkan tahun sebelumnya yang
mencapai US$4,08 miliar. Nilai ekspor melambat 3,43% ke posisi US$176,29 miliar
sementara impor melambat 4,53% menjadi US$178,18 miliar.
Data terbaru menunjukan
neraca
perdagangan
membukukan surplus US$709
juta pada Januari 2015, lebih
baik dibandingkan Desember
2014 yang surplus US$187
miliar.
Ekspor
nonmigas
mencapai US$11,22 miliar,
turun 8,51% (MoM) atau 6,24% (YoY). Penurunan terbesar ekspor nonmigas terjadi
pada lemak dan minyak hewan/nabati sebesar US$162,6 juta (9,55%), sedangkan
peningkatan terbesar pada perhiasan/permata sebesar US$293,4 juta (61,77%). Impor
nonmigas mencapai US$10,48 miliar, turun 5,15% (MoM) atau 7,83% (YoY). Nilai impor
nonmigas terbesar adalah golongan barang mesin dan peralatan mekanik dengan nilai
US$2,01 miliar yang turun 0,52% (MoM). Kita perlu menunggu data perdagangan
terbaru untuk melihat apakah depresiasi rupiah saat ini berimbas positif pada kinerja
perdagangan.
BI tidak menargetkan
rupiah di level tertentu
dan lebih cenderung
meredam volatilitas.
Intervensi cukup melalui
operasi pasar terbuka.
Hal lain yang perlu dicermati dari pelemahan rupiah adalah kebijakan lanjutan BI, salah
satunya apakah BI Rate akan tetap dipertahankan di level 7,50%, diturunkan, atau
dinaikan? Stabilitas rupiah, sebagaimana diamanatkan undang-undang, merupakan
tugas BI. Mengutip BI, kestabilan nilai rupiah ini mengandung dua aspek, yaitu
kestabilan nilai mata uang terhadap barang dan jasa, serta kestabilan terhadap mata
uang negara lain. Aspek pertama tercermin pada perkembangan laju inflasi, sementara
aspek kedua tercermin pada perkembangan nilai tukar rupiah terhadap mata uang
negara lain.
BI telah mengintervensi pasar sehingga rupiah kembali menguat di bawah Rp13.000.
Menurut Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara, BI tidak menargetkan rupiah
di level tertentu dan lebih cenderung meredam volatilitas (Jakarta Post, 05/03).
Volatilitas rupiah tercatat 0,44% sepanjang Januari-Februari 2015, lebih rendah
dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 0,55%. BI tampaknya
memang membiarkan rupiah bergerak mengikuti pasar dengan sedikit intervensi
SPMD-BTN 2015
4
untuk menjaga pergerakan tidak terlalu fluktuatif. Rupiah akan dibiarkan bergerak di
kisaran Rp12.500-13.000 per dollar AS. BI memilih memupuk cadangan devisa. Posisi
cadangan devisa Indonesia akhir Februari 2015 tercatat sebesar US$115,5 miliar,
meningkat US$1,3 miliar dari posisi akhir Januari 2015 sebesar US$114,2 miliar. BI
belum merasa perlu menggunakan BI Rate untuk menyerap kelebihan likuiditas di
pasar.
Persoalannya, pelaku usaha dan (juga) pemerintah menuntut penurunan BI Rate
dengan alasan memobilisasi kredit untuk menggerakan sektor riil. Momennya dinilai
pas di saat harga minyak dunia melemah yang berimbas pada penurunan nilai impor
migas. Selain itu, tingkat inflasi yang juga menjadi target BI sedang rendah. Indeks
Harga Konsumen Indonesia tercatat 118,28% atau deflasi 0,36% pada Februari 2015.
Deflasi tersebut merupakan kedua tertinggi dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.
Namun BI bisa berkilah kalau deflasi lebih didorong faktor musiman dan imbas
penyesuaian harga BBM bersubsidi. Pada Februari, Kelompok pengeluaran yang
mengalami deflasi adalah kelompok bahan makanan (1,47%) dan kelompok
Transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan (1,53%). Selain itu, harga minyak juga
berpotensi segera menguat kembali setelah Arab Saudi akhirnya setuju untuk
menaikan harga minyaknya. BI kemungkinan akan menahan level BI Rate pada level
sekarang meskipun ada ruang untuk turun sebagai antisipasi atas penguatan harga
minyak dunia dan kenaikan Fed Fund Rate.***
SPMD-BTN 2015
5
Fly UP