...

Hasil Tata Laksana Glaukoma Primer Sudut Tertutup pada Ras

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Hasil Tata Laksana Glaukoma Primer Sudut Tertutup pada Ras
Artikel Penelitian
Hasil Tata Laksana Glaukoma Primer
Sudut Tertutup pada Ras Melayu Indonesia
Widya Artini
Departemen Ilmu Kesehatan Mata Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia,
Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Jakarta
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi tatalaksana glaukoma primer sudut tertutup
(GPSTp) pada pasien etnik melayu di Indonesia. Desain penelitian yang dipakai adalah cross
sectional. Subjek penelitian adalah pasien dengan GPSTp asimptomatik berdasarkan catatan
medis dari Januari 2006 - Agustus 2009 dan dipantau selama enam bulan. Rata-rata subjek
berusia 59 (40-88) tahun dan berjenis kelamin wanita (70%). Hasil akhir tata laksana GPSTp
dinilai melalui pengukuran tekanan intraokular (TIO) pada 117 mata dari 92 subjek. Terdapat
80 mata dengan keadaan glaukoma lanjut dan 37 mata dengan glukoma ringan dan sedang.
Tata laksana yang diberikan adalah laser peripheral iridotomy (LPI) pada 23 mata,
trabekulektomi pada 32 mata, phacoemulsification+IOL pada 24 mata, dan kombinasi
phacoemulsification+IOL-trabekulektomi pada 38 mata sesuai dengan tingkat keparahan
GPSTp. Berdasarkan hasil pemantauan enam bulan setelah operasi pada seluruh subjek,
ditemukan bahwa 43% memiliki TIO <15 mmHg, 76% <21 mmHg, dan 24% >21 mmHg. Terdapat
berbagai metode tatalaksana GPSTp yang dapat diberikan. Pemilihan tindakan dilakukan
berdasarkan tingkat keparahan, ada tidaknya katarak, kondisi medis, dan derajat TIO. J Indon
Med Assoc. 2011;61:280-4.
Kata kunci: glaukoma primer sudut tertutup, trabeculectomy, laser peripheral iridotomy,
phacoemulsification
280
J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 7, Juli 2011
Hasil Tata Laksana Glaukoma Primer Sudut Tertutup pada Ras Melayu Indonesia
Outcome of Primary Angle Closure Glaucoma Management
in Indonesian Population
Widya Artini
Department of Ophthalmology, Faculty of Medicine Universitas Indonesia,
Cipto Mangunkusumo Hospital, Jakarta
Abstract: This study evaluated the result of Primary Angle Closure Glaucoma (PACG) management performed to Malay ethnic in Indonesia. This is a cross sectional study. The data was
collected from medical records starting from January 2006 until August 2009 and observed
during six month period. The subjects’ mean age was 59 (40-88) year and 70% of all subjects
were female. This study assessed final intraocular pressure (IOP) as the result of glaucoma
management in 117 eyes from 92 PACG patients. There are 80 eyes in advanced stage and 37 eyes
in mild to moderate stage of glaucoma. Several forms of glaucoma management had been done
according to subjects’ stages of glaucoma. Laser Peripheral Iridotomy (LPI) was performed in 23
eyes, trabeculectomy in 32 eyes, phacoemulsification+IOL in 24 eyes, and combined phacoemulsification+IOL-trabeculectomy in 38 eyes. The IOP of all subjects six months after surgery
was less than 15 mmHg (43%), less than 21 mmHg (76%) and more than 21 mmHg (24%).
There are various management in PACG eyes. Factors such as the stages of glaucoma, coexist ing
cataract, medical conditions, and degree of IOP all contribute to the selection of procedure. J
Indon Med Assoc. 2011;61:280-4.
Keywords: primary angle closure glaucoma, trabeculectomy, laser peripheral iridotomy,
phacoemulsification.
Pendahuluan
Glaukoma adalah kelainan mata yang ditandai dengan
adanya neuropati optik glaukomatosa dan hilangnya lapang
pandang yang khas, dengan peningkatan TIO sebagai salah
satu faktor risiko utama. GPSTp kronik ditandai dengan
menempelnya pangkal iris di anyaman trabekulum sehingga
terjadi penutupan anyaman trabekulum dan peningkatan TIO
secara perlahan-lahan.1
Glaukoma dikenal sebagai penyebab kebutaan kedua
terbanyak setelah katarak.2 Pada tahun 2010 diperkirakan
terdapat 60,7 juta penderita glaukoma, 44,7 juta di antaranya
adalah glaukoma primer sudut terbuka dan 15,7 juta GPSTp.3
GPSTp merupakan bentuk glaukoma yang banyak terdapat
di Asia Timur. Di Cina terdapat 3,1 juta penderita GPSTp
dengan angka kebutaan kedua mata sebanyak 18,1%.4
Berdasarkan data dari tahun 2001 sampai tahun 2008 di
Poliklinik Ilmu Kesehatan Mata RS Cipto Mangunkusumo,
terdapat 2544 pasien baru glaukoma. Data tersebut juga
memperlihatkan terdapat 348 penderita GPSTp. Sebanyak
20,7% buta pada kedua mata dan 42,9% pada satu mata.5
Faktor risiko GPSTp adalah usia di atas 40 tahun, jenis
kelamin wanita, adanya riwayat keluarga menderita glaukoma
sudut tertutup, dan ras Asia. Faktor predisposisi yang
berpengaruh terhadap berkembangnya GPSTp adalah sudut
J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 7, Juli 2011
bilik mata depan sempit, bilik mata depan yang dangkal, lensa
tebal, meningkatnya kurvatura anterior lensa, aksis bola mata
pendek, hipermetropia, diameter kornea kecil, dan kecilnya
kurvatura radius kornea. Diagnosis GPSTp ditegakkan
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan oftalmologis, dan
lapang pandang.6-8
Prinsip tatalaksana GPSTp adalah membuka sudut bilik
mata depan, menurunkan TIO, mempertahankan struktur serta
fungsi diskus optikus dan sel ganglion retina. Terapi definitif
GPSTp adalah iridektomi perifer (laser maupun bedah),
dilanjutkan dengan medikamentosa. Tindakan bedah lain
yang dapat dilakukan pada pasien GPSTp meliputi trabekulektomi, ekstraksi katarak, kombinasi ekstraksi katarak dan
trabekulektomi, implantasi drainase, dan bedah siklodestruktif.7-10 Penderita GPSTp yang berumur lebih dari 40
tahun umumnya juga menderita katarak. Pada tingkat awal
glaukoma, tindakan ekstraksi katarak primer tanpa iridektomi
dapat menurunkan TIO, namun pada stadium lanjut dengan
TIO sangat tinggi, kombinasi ekstraksi katarak dan trabekulektomi memberikan hasil yang lebih memuaskan.
Belum ada kesepakatan mengenai tatalaksana GPSTp
sehingga setiap institusi memiliki prosedur yang berbeda.
Hasil-hasil penelitian yang dilaporkan masih sangat bervariasi
281
Hasil Tata Laksana Glaukoma Primer Sudut Tertutup pada Ras Melayu Indonesia
dan masih sedikit penelitian mengenai efektivitas masingmasing prosedur penatalaksanaan GPSTp. Perbedaan etnis
juga turut mempengaruhi tingkat keberhasilan tindakan.
Tatalaksana GPSTp dan tingkat keberhasilan yang sangat
bervariasi merupakan latar belakang dilakukannya penelitian
ini. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui hasil
tatalaksana pasien etnik melayu dengan GPSTp yang datang
ke Poliklinik Ilmu Kesehatan Mata FKUI-RSCM dalam
periode waktu 2006-2009.
Metode
Desain penelitian yang digunakan adalah potong
lintang. Penelitian ini dilakukan di Divisi Glaukoma Poliklinik
Ilmu Kesehatan Mata FKUI-RSCM. Sampel yang digunakan
adalah semua pasien baru GPSTp yang tercatat pada buku
registrasi sejak bulan Januari 2006 hingga Agustus 2009.
Semua penderita baru GPSTp asimptomatik dengan usia
lebih dari 40 tahun yang belum pernah menjalani tindakan
laser maupun operasi glaukoma diikutsertakan dalam
penelitian. Selanjutnya pada subjek penelitian dilakukan
tindakan penatalaksanaan GSTp dan dipantau selama minimal 6 bulan. Pasien dengan GPSTp simptomatik, glaukoma
sekunder, glaukoma absolut tidak diikutsertakan dalam
penelitian.
Data diambil dari rekam medis pasien berupa riwayat
perjalanan penyakit, tajam penglihatan dengan proyektor
huruf Snellen, hasil pemeriksaan biomikroskopik dengan
lampu celah, statik-dinamik gonioskopi dengan lensa kontak
Sussman 4 cermin, TIO aplanasi tonometri Goldmann, hasil
evaluasi papil nervus optikus dengan lensa non kontak Volk,
serabut saraf retina dengan Optical Coherent Tomography
(Carl Zeiss) dan lapang pandang dengan perimeter
Humphrey (Carl Zeiss).
Tingkat keparahan glaukoma yang digunakan pada
penelitian ini menggunakan kesepakatan dari closed angle
glaucoma group. Sukses lengkap adalah keadaan apabila
setelah tata laksana, TIO akhir mencapai <21 mmHg tanpa
medikamentosa. Sukses terkontrol adalah keadaan ketika
TIO akhir setelah tatalaksana mencapai <21 mmHg dengan
medikamentosa obat tetes mata antiglaukoma. Gagal adalah
keadaan setelah tata laksana saat TIO akhir tetap di atas 21
mmHg walaupun dengan pemberian medikamentosa. Tajam
penglihatan diubah menjadi kesetaraan logmar. Gradasi
penutupan sudut sesuai dengan metode klasifikasi modifikasi Shaeffer.9,10
Hasil
Terdapat 117 mata pasien GPSTp yang masuk kedalam
kriteria inklusi dengan 80 mata sudah mengalami glaukoma
stadium lanjut sedangkan 37 mata masih pada stadium awal
dan sedang. Sebanyak 62 mata menderita katarak dengan
rata-rata tajam penglihatan 0,74 ± 0,6. Karakteristik subjek
penelitian dapat dilihat pada tabel 1.
282
Tabel 1. Data Karakteristik Pasien GPSTp
Data Karakteristik
Jumlah
Jenis kelamin
Laki-laki
Perempuan
Rata-rata
Rentang
Rata-rata
Rentang
Rata-rata
Rata-rata
<0,7
>0,7
Dengan katarak
Tanpa katarak
Umur (tahun)
TIO (mmHg)
Visus
Rasio Cup/Disk
Katarak
32
85
60,6±8,03
40-88
29,4±11,7
20-68
0,74±0,6
0,72±0,2
37
80
62
55
Tabel 2. Tata Laksana Pasien GPSTp
Tata laksana (n)
Rasio C/D TIO awal
x±SD
mmHg±SD
TIO akhir
mmHg±SD
Iridektomi perifer (23)
Fakoemulsifikasi+IOL (24)
Trabekulektomi (32)
Bedah kombinasi (38)
0,55±0,1
0,63±0,1
0,71±0,05
0,72±0,1
15,47±1,9
14,35±2,8
14,09±1,6
14,70±1,7
18,64±5,3
22,11±5,1
34,75±6,2
35,27±5,08
Pada 23 mata dengan GPSTp stadium awal (rasio C/D
0,55±0,1) dilakukan Laser Iridektomi Perifer (LIP). Setelah
dilakukan LIP 19 mata tetap memerlukan obat tetes mata anti
glaukoma, dan tiga mata memerlukan tindakan bedah
trabekulektomi. Hanya enam mata yang mempunyai TIO
dibawah 15 mmHg dan 20 mata di bawah 21 mmHg.
Tabel 3. Tingkat Keberhasilan Tata Laksana GPSTp
Sukses
Lengkap
Iridektomi Perifer
Fakoemulsifikasi+IOL
Trabekulektomi
Bedah kombinasi
1/23
6/24
6/32
1/38
Sukses
terkontrol
(4,3%) 19/23 (82,6%)
(25%)
16/24 (66,7%)
(18,8%) 22/32 (68,8%)
(2,6%) 20/38 (52,6%)
Gagal
3/23
2/24
4/32
2/38
(13,0%)
(8,3%)
(12,5%)
(5,3%)
Pada 32 mata GPSTp stadium sedang dan lanjut (rasio
C/D: 0,71±0,05) dilakukan trabekulektomi. Pada 22 dari 32 mata
tersebut tetap diberikan obat tetes mata anti glaukoma untuk
menjaga TIO di bawah 21 mmHg, sedangkan TIO 4 mata lain
tetap di atas 21 mmHg.
Katarak pada GPSTp turut mempengaruhi tata laksana.
Terdapat 24 mata yang mempunyai rasio C/D 0,63 ± 0,1 (stadium awal-sedang) dan dilakukan tindakan fakoemulsifikasi
(tanpa melalui LIP). Hasil TIO akhir rata-rata adalah sebesar
14,35 ± 2,8 mmHg. Walaupun demikian, 16 dari 24 mata tetap
memerlukan obat tetes mata antiglaukoma untuk mempertahankan TIO di bawah 21 mmHg dan dua mata mengalami
kegagalan.
J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 7, Juli 2011
Hasil Tata Laksana Glaukoma Primer Sudut Tertutup pada Ras Melayu Indonesia
Penelitian ini juga memperlihatkan bahwa 38 mata GPSTp
yang sudah dalam stadium lanjut dengan rasio C/D 0,72±0,1;
disertai adanya katarak, maka tindakan yang dipilih adalah
bedah kombinasi trabekulektomi-fakoemulsifikasi. Walaupun
telah dilakukan tindakan kombinasi, 20 mata tetap
memerlukan obat tetes mata anti glaukoma, dan 11 mata
memiliki rata-rata TIO di bawah 15 mmHg sesuai yang ditargetkan. Terdapat dua mata yang mengalami kegagalan.
Diskusi
Tata laksana glaukoma primer sudut tertutup sampai
saat ini masih dalam perdebatan karena patogenesisnya yang
multifaktorial. Disepakati bahwa blokade pupil masih
merupakan faktor penyebab utama (50%) dan disusul oleh
faktor lensa serta plateau iris. Tindakan LIP adalah tindakan
definitif pertama untuk semua kasus GPSTp kronik,6-8
khususnya pada pasien GPSTp stadium awal dengan TIO
berkisar di bawah 30 mmHg disertai luas sinekia anterior
perifer dibawah 2700. LIP berguna untuk menghilangkan
faktor blokade pupil dengan menyeimbangkan tekanan di
bilik mata anterior dan posterior. Dengan meminimalkan
perbedaan tekanan, pangkal iris tidak terdorong ke depan
dan diharapkan tidak menutup anyaman trabekulum.6-8 Nolan
et al11 mengungkapkan bahwa seiring berjalannya waktu,
pada ras Mongoloid yang telah dilakukan LIP sebanyak 47%
mata mengalami peningkatan TIO kembali sehingga besar
kemungkinan bahwa blokade pupil bukan merupakan satusatunya penyebab tertutup anyaman trabekulum oleh
pangkal iris. Rosman et al12 membandingkan hasil LIP pada
mata ras Kaukasia dan Asia. Dari hasil penelitiannya
didapatkan pada ras Kaukasia terdapat 41,3% mata yang
membutuhkan pemberian obat anti glaukoma dan 31% mata
lainnya membutuhkan tindakan bedah trabekulektomi,
sementara 27,5% mata cukup dilakukan laser trabekuloplasti.
Pada pasien Singapura dengan etnis Cina terdapat 41% mata
yang membutuhkan pemberian obat dan 51% mata
membutuhkan tindakan bedah trabekulektomi.
Pada penelitian ini, dari 23 mata yang dilakukan LIP
terdapat 19 mata yang tetap membutuhkan pemberian obat
antiglaukoma dan 3 mata yang memerlukan tindakan lanjutan.
Keadaan tersebut menunjukkan bahwa proses penutupan
sudut tetap berlangsung dan faktor blokade pupil bukan
satu-satunya patogenesis sehingga pasien tersebut tetap
memerlukan kontrol teratur. Bila pasien tinggal jauh dari
fasilitas kesehatan, tindakan lebih agresif perlu dipertimbangkan, contohnya bedah trabekulektomi dengan tidak
melakukan LIP sebelumnya.
Pada pasien dengan TIO yang kembali naik, faktor plateau iris perlu diperhitungkan. Keadaan tersebut dapat diatasi
250
bp
dengan melakukan laser gonioplasti, dengan membuka
sudut
dan mengurangi SAP, namun diperlukan pengamatan
perjalanan penyakit ini.13 Pada pasien GPSTp dengan TIO
diatas 21 mmHg setelah diberikan obat anti glaukoma dan
dilakukan LIP, perlu dilakukan trabekulektomi.
J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 7, Juli 2011
Trabekulektomi adalah pilihan bedah yang utama pada
pasien dengan stadium sedang dan lanjut saat TIO yang
diinginkan menjadi berkisar 10 mmHg. Penelitian ini
memperlihatkan bahwa walaupun telah dilakukan trabekulektomi pada 32 mata GPSTp, 22 mata tetap memerlukan
obat tetes mata antiglaukoma dan empat mata lainnya TIO
tidak terkontrol dengan obat. Terlihat jelas bahwa faktor lain
selain blokade pupil seperti tebal lensa, plateau iris, serta
rusaknya struktur anyaman trabekulum memegang peranan.
Efusi koroidal, letak posisi insersi pangkal iris yang lebih ke
depan, dan iris yang tebal adalah faktor lain menyebabkan
14
penyakit
250 bp tersebut tetap berlanjut.
Terdapat dua pemilihan tindakan bedah pada penderita
GPSTp yang disertai katarak, yakni bedah dua tahap (bedah
filtrasi lalu dilanjutkan dengan bedah katarak atau sebaliknya)
dan bedah satu tahap (bedah katarak saja atau bedah
kombinasi: trabekulektomi dengan fakoemulsifikasi disertai
lensa tanam/ IOL).15 Pada pasien dengan GPSTp stadium awal
dan sedang yang disertai katarak dan TIO masih di atas 30
mmHg setelah pemberian infus manitol (cairan hiperosmotik
yang menurunkan TIO) lebih dianjurkan untuk melakukan
bedah 2 tahap, yakni trabekulektomi yang dilanjutkan dengan
tindakan ekstraksi katarak di waktu yang berbeda. Bila TIO
di bawah 30 mmHg, maka tindakan bedah 1 tahap (fakoemulsifikasi saja) memberikan hasil yang memuaskan. Hal
tersebut ditunjukkan pada penelitian ini. Sebanyak 24 mata
pasien GPSTp stadium awal dengan TIO di bawah 30 mmHg
dilakukan fakoemulsifikasi dan penurunan TIO yang terjadi
cukup memuaskan. Tindakan bedah fakoemulsifikasi lebih
mudah, cepat dan jarang disertai komplikasi. Akan tetapi,
pada pasien yang mempunyai TIO di atas 30 mmHg prosedur
ini sering menimbulkan komplikasi seperti glaukoma maligna,
prolap vitreous, dan koroidal hemoragik. Zang et al 16
melaporkan bahwa dengan hanya melakukan tindakan
fakoemulsifikasi pada pasien GPSTp yang disertai adanya
katarak dengan luas sinekia anterior perifer (SAP) kurang
dari 1800 keberhasilan yang dicapai sebanyak 81,5%. Pada
pasien dengan luas SAP telah mencapai lebih dari 1800 lebih
baik dilakukan tindakan bedah kombinasi.
Tham et al17 melakukan penelitian uji klinis dengan
randomisasi pada pasien GPSTp yang TIO nya terkontrol.
Penelitian tersebut memperlihatkan bahwa bedah kombinasi
lebih memperlihatkan keberhasilan bila dibandingkan dengan
fakoemulsifikasi saja. Hanya saja bedah kombinasi lebih sulit
dilakukan, lebih lama, serta memiliki kemungkinan komplikasi
yang lebih besar. Penelitian serupa juga dilakukan pada pasien
GPSTp yang tidak terkontrol dengan obat antiglaukoma dan
memperlihatkan hasil yang tidak berbeda.18
Secara keseluruhan, penanganan pasien dengan GPSTp
adalah poses yang sulit dan sangat individual. Umumnya
GPSTp disertai dengan TIO awal yang tinggi sehingga
membuat pasien lebih cepat mengalami kebutaan dibandingkan dengan glaukoma sudut terbuka. Setiap kasus
membutuhkan perhatian yang seksama, walaupun tindakan
283
Hasil Tata Laksana Glaukoma Primer Sudut Tertutup pada Ras Melayu Indonesia
pertama yang dipilih adalah iridektomi perifer. Pada setiap
pemilihan tindakan perlu diperhatikan dan dipertimbangkan
luas sinekia anterior perifer, TIO awal, stadium glaukoma,
ada tidaknya katarak, serta jauh dekatnya tempat tinggal
pasien dari fasilitas kesehatan mata.
Kelemahan penelitian yang kami lakukan adalah sifatnya
yang retrospektif sehingga banyak data penting seperti luas
SAP, defek lapang penglihatan, banyaknya obat yang
diberikan tidak dapat diperoleh. Padahal, faktor-faktor
tersebut sangat menentukan prognosis hasil tatalaksana.
Penelitian prospektif disertai uji klinik dengan waktu
pengamatan yang lebih panjang sangat diperlukan untuk
melihat pola penyakit GPSTp.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
Kesimpulan
Pemilihan tindakan bedah pada GPSTp bermacammacam dan tergantung dengan kondisi saat pasien datang,
seperti tingkat keparahan glaukoma, TIO awal, respons
terhadap banyaknya obat anti glaukoma yang diberikan, ada
tidaknya katarak, serta kondisi finansial dan tempat tinggal.
14.
Daftar Pustaka
15.
1.
16.
2.
3.
4.
5.
284
American Academy of Ophthalmology. Glaucoma. In: American
Academy of Ophthalmology Staff, editors. Fundamentals and
principles of ophthalmology. Section 10. AAO: San Fransisco;
2009-2010.
Thylefors B, Négrel AD. The global impact of glaucoma. Bull
World Health Organ. 1994;72:323-6.
Quigley HA, Broman AT. The number of persons with glaucoma
worldwide in 2010 and 2020. Br J Ophthalmol. 2006; 90:262-7.
Foster PJ, Johnson GJ. Glaucoma in China: how big is the problem? Br J Ophthalmol. 2001;85:1277-82.
Syukri M, Virna S. Insiden kebutaan akibat glaukoma pada
penderita baru glaukoma di poliklinik mata sub divisi glaukoma di
13.
17.
18.
RS Cipto Mangunkusumo. Presentasi di APAO 2009. Bagian Ilmu
Penyakit Mata FKUI: Jakarta; 2009.
Stamper RL, Lieberman MF, Drako MV. Primary angle closure
glaucoma. In: Becker-Shaffer’s diagnosis and therapy of the glaucoma. 8th ed. St. Louis: Mosby; 2009. p. 188-207.
Kanski JJ. Clinical ophthalmology. 6th ed. Edinburg: Elsevier Ltd;
2007.
Yanoff M, Duker JS. Ophthalmology. 3rd ed. UK: Mosby; 2009.
Boyd BF. Highlights of ophthalmology. Vol. 1 part 3. World atlas
series of ophthalmic surgery: Highlight of Ophthalmology International; 1994.
South East Asia Glaucoma Interest Group. Asia Pacific glaucoma
guidelines. Sydney: SEAGIG; 2004.
Nolan WP, Foster PJ, Devereux JG, Uranchimeg D, Johnson W,
Baasanhu J. YAG laser iridotomy treatment for primary angle
closure in east Asian eyes. Br J Ophthalmol. 2000;84:1255-9.
Rosman M, Aung T, Ang LP, Chew PT, Liebmann JM, Ritch R.
Chronic angle closure with glaucomatous damage: long-term clinical course in a North American population and comparison with
an Asian population. Ophthalmology. 2002;109:2227-31.
Sun X, Liang YB, Wang NL, Fan SJ, Sun LP, Li SZ, et al. Laser
peripheral iridotomy with and without iridoplasty for primary
angle-closure glaucoma: 1 year results of a randomized pilot
study. Am J Ophthalmol. 2010;150:68-73.
Ming AL, Ritch R, Seah S, Lam DSC. Lowe-Lim’s primary closed
angle angle glaucoma. 2nd Ed. Singapore: Elsevier; 2004.
Coleman AL, Morrison JC. Management of cataracts and glaucoma. Taylor and Francis; 2005.
Zhang W, Wu JH, Zhou ZH. Management of primary angle
closure glaucoma by phacoemulsification with foldable intra ocular lens. Yan ke Xue Buo. 2007;23(2):65-74.
Tham CC, Kwong YY, Lam SW, Lam DS, Lei JS. Phaco-emulsification vs Phacotrabeculectomy with controlled chronic angle
closure glaucoma. Ophthalmology. 2008;115:2167-73.
Tham CC, Kwong YY, Lam SW, Lam DS, Lei JS. Phacoemulsification vs Phacotrabeculectomy with uncontrolled chronic
angle closure glaucoma. Ophthalmology. 2009;116:725-31.
MH
J Indon Med Assoc, Volum: 61, Nomor: 7, Juli 2011
Fly UP