...

Format PDF

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Format PDF
SIARAN PERS
BADAN PEMERIKSA KEUANGAN
Pembelian 7% Saham Divestasi PT NNT Perlu Persetujuan DPR
Jakarta, Selasa (27 Maret 2012) – Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia (BPK RI) menghadiri Sidang di
Mahkamah Konstitusi (MK) pada hari ini (27/3), dalam rangka Permohonan Penyelesaian Sengketa Lembaga Negara
(SKLN) antara Presiden Republik Indonesia (Pemohon), terhadap Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI)
(Termohon I) dan BPK RI (Termohon II) tentang Pelaksanaan Kekuasaan Pemerintah Menurut UUD 1945.
Pemohon berpendapat pembelian 7% saham divestasi PT Newmont Nusa Tenggara (PT NNT) Tahun 2010 oleh Pusat
Investasi Pemerintah (PIP) untuk dan atas nama Pemerintah RI dilakukan dalam keadaan normal dan bukan dalam
rangka penyelamatan perekonomian nasional sehingga tidak perlu persetujuan DPR dan tidak tunduk pada ketentuan
Pasal 24 ayat (7) UU Nomor 17 Tahun 2003. Dengan demikian, Pemohon berpendapat bahwa DPR dan BPK telah
mengambil, mengurangi, menghalangi, mengabaikan, dan/atau merugikan kewenangan konstitusional Pemohon.
Berdasarkan permintaan DPR melalui surat Nomor: PW.01/5188/DPR RI/VI/2011 tanggal 21 Juni 2011 perihal
Penyampaian Permintaan Komisi XI tentang Audit BPK dengan Tujuan Tertentu Selama 1 (satu) Bulan, BPK telah
melakukan pemeriksaan dengan tujuan tertentu atas proses pembelian 7% saham PT NNT tahun 2010 oleh PIP untuk dan
atas nama pemerintah RI, sesuai dengan ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU Nomor 15 Tahun 2004. Sedangkan pelaksanaan
pemeriksaan BPK dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 4 UU Nomor 15
Tahun 2004, Pasal 6 UU Nomor 15 Tahun 2004, Pasal 16 ayat (3) UU Nomor 15 Tahun 2004 dan Pasal 9 ayat (1) huruf a
UU Nomor 15 Tahun 2006. Hasil pelaksanaan pemeriksaan tersebut, BPK memberikan pendapat bahwa pembelian 7%
saham divestasi PT NNT (perseroan tertutup) tahun 2010 merupakan kegiatan pemisahan keuangan negara dari APBN ke
swasta yang harus mendapat persetujuan DPR terlebih dahulu.
Pemeriksaan BPK atas proses pembelian 7% saham PT NNT (Perusahaan Tertutup) tahun 2010 oleh PIP untuk dan atas
nama Pemerintah RI dilaksanakan secara independen dan profesional sesuai peraturan perundang-undangan dengan
berpedoman pada Standar Pemeriksaan Keuangan Negara (SPKN) dan Metodologi Pemeriksaan. Sesuai dengan
Metodologi Pemeriksaan, BPK menelaah peraturan perundang-undangan yang terkait dengan proses pembelian saham
PT NNT (Perusahaan Tertutup). Selanjutnya BPK membandingkan/menguji pelaksanaan pembelian saham PT NNT
(Perusahaan Tertutup) tersebut dengan hasil penelaahan atas peraturan perundang-undangan.
Dari hasil penelaahan terhadap peraturan perundang-undangan, diketahui bahwa ketentuan Pasal 24 UU Nomor 17
Tahun 2003 antara lain mengatur hubungan antara Pemerintah dengan perusahaan Negara, daerah, dan swasta. Pasal
tersebut pada prinsipnya mengatur bahwa pemerintah dapat memberikan pinjaman/hibah/penyertaan modal pada
perusahaan negara dan daerah setelah terlebih dahulu memperoleh persetujuan DPR. Sementara pada swasta,
pemberian pinjaman/penyertaan modal pada perusahaan swasta hanya dapat dilakukan dalam keadaan tertentu, untuk
penyelamatan perekonomian nasional, setelah memperoleh persetujuan DPR. Dilihat dari hubungan tersebut, maka
penyertaan modal pada perusahaan negara/daerah baik dalam keadaan normal maupun dalam keadaan tertentu harus
memperoleh persetujuan DPR/DPRD.
Secara prinsip, Pemerintah tidak memiliki kepentingan secara langsung terhadap perusahaan swasta. Oleh sebab itu,
Pemerintah tidak berkewajiban memberikan pinjaman/menyertakan modal pada perusahaan-perusahaan swasta. Namun
demikian bila ternyata kondisi yang terjadi akan mengancam perekonomian nasional, Pemerintah tentunya berkepentingan
melakukan penyelamatan perekonomian tersebut dengan cara memberikan pinjaman ataupun menyertakan modal kepada
perusahaan-perusahaan swasta dimaksud. Keputusan seperti ini bukanlah semata-mata merupakan keputusan eksekutif,
akan tetapi harus melibatkan seluruh rakyat melalui persetujuan para wakilnya di lembaga legislatif.
.
BIRO HUMAS DAN LUAR NEGERI
Informasi lebih lanjut:
Rati Dewi Puspita Purba, Kepala Bagian Hubungan Lembaga dan Media.
Telp. 021 25549000 Ext. 1200 Fax. 021 57953198
Email : [email protected]
Fly UP