...

ARKEOLOGI PULAU KOBROR KEPULAUAN

by user

on
Category: Documents
6

views

Report

Comments

Transcript

ARKEOLOGI PULAU KOBROR KEPULAUAN
ARKEOLOGI PULAU KOBROR KEPULAUAN ARU
The Archaeology of Kobror Island Aru Islands
DDC: 930.1
Andrew Huwae
The Cross at The End of Eastern Nusa Lease: The Ebenhaezer
Church The Colonial Remains in The Village of Sila-Leinitu
Nusalaut District
Kapata Arkeologi, Volume 9 Number 2, November 2013, Hal. 103-88
Not many churches in Indonesia, which still retain the authenticity
of nature since the church was founded. Despite being the oldest
church in Ambon Islands Lease, Ebenhaezer Church in the village
of Sila Leinitu Nusa Laut sub-district which was built in 1715, is
one of the many churches in the Moluccas which still retains the
authenticity of nature, even after repeated experience of building
renovations. This research aims to describe the architecture and
layout of the church. In addition, this paper describes the findings
of worship fixtures in the church hall which is now very rare in other
churches in the Moluccas.
Keywords: The Ebenhaezer Church, Technical Architecture, Layout
of the Church.
Marlon Ririmasse
Balai Arkeologi Ambon
Jl. Namalatu-Latuhalat 97118
[email protected]
Naskah diterima: 21-06-2013; direvisi: 04-08-2013; disetujui: 06-09-2013
Abstract
The Aru islands is one of the key regions in the cultural historical study of Southeast
Asia and Australia. This major role is represented at least by two aspects: firstly,
the paleogeographical character of the Aru Islands as an extension of Sahulland
that included New Guinea and Australia and secondly the role as a resource regio
for exotic commodities such as pearl and bird of paradise. With this specific profile,
Aru islands is potential to be studied archaeologically. Few archaeological studies
had been initiated over last decade but still not balance with the colossal profile of
regoin’s cultural history. This study tries to contribute in improving such condition
by focusing on the archeological potential in the kobror island. As an initial study,
this research has adopted the reconnaissance survey as a key method to collect data.
Referential study also has been adapted to reconigze the historical background of the
region. This study found that two major aspects : firstly, the prehistotic character of
the archaeological profile of the region as represented by the presence of a rock art
sites and secondly, living tradition as reflected by the representation of cave burial
that associated with the application of boat as a symbol and traditional religion.
Keywords: Archaeology, Kobror Island, Rock Art
Abstrak
Kepulauan Aru adalah salah satu kawasan terpenting dalam studi sejarah budaya
di Asia Tenggara dan Australia. Peran penting ini setidaknya diwakili oleh dua
aspek: pertama, karakter paleogeografi Kepulauan Aru yang merupakan bagian dari
perluasan daratan besar Sahul yang mencakup juga Papua dan Australia serta kedua,
peran khas wilayah ini sebagai salah satu kawasan sumber komoditi eksotik seperti
mutiara dan bulu burung cendrawasih. Dengan profil yang sedemikian kepulauan
ini sejatinya memiliki potensi arkeologis yang cukup raya untuk dikaji. Beberapa
penelitian arkeologis pada tahap mula memang telah dilaksanakan. Namun dirasa
belum berbanding lurus dengan luasnya cakupan sejarah budaya wilayah ini. Tulisan
ini mencoba untuk mengisi ruang dimaksud dengan memberi perhatian pada tinjauan
atas potensi arkeologis yang ada di Pulau Kobror Kepulauan Aru. Sebagai sebuah
kajian yang bersifat inisiasi, pendekatan yang digunakan adalah survei penjajakan
guna merekam segenap data arkeologis yang ada di wilayah Kobror. Kajian pustaka
juga dilakukan untuk menemukan kerangka historis wilayah kajian. Hasil penelitian
menemukan aspek penting dalam tinjauan sejarah budaya di Kepulauan Aru: pertama
adalah jejak budaya prasejarah yang teramati lewat situs lukisan cadas dan kedua,
ragam tradisi berlanjut sebagaimana terekam dalam situs penguburan kuno yang tekait
dengan aplikasi perahu sebagai simbol dan religi tradisional.
Kata Kunci: Arkeologi, Pulau Kobror, Seni Cadas
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru, Marlon Ririmasse
59
PENDAHULUAN
Dua ratus lima puluh ribu rupiah adalah
harga yang ditawarkan oleh penduduk untuk
mendapatkan satu ekor bayi burung Kakatua
berjambul kuning langsung dari tangan
pertama. Menurut penduduk harga tersebut
tergolong murah, karena di Dobo, Ibu Kota
Kabupaten Kepulauan Aru, harga ini bisa
melonjak hingga limapuluh persen. Di
Ambon, ibukota Propinsi Maluku, harganya
bisa mencapai lebih dari lima ratus ribu
rupiah. Itupun dengan catatan bahwa burung
ini bisa selamat dibawa melalui perjalanan
jauh dan lolos berbagai pemeriksaan lintas
pelabuhan.
Burung Kakatua (suku cacatuidae)
memang sudah ditetapkan menjadi salah satu
hewan dilindungi. Meski demikian kebutuhan
ekonomi membuat burung ini tetap menjadi
spesies yang diburu dan diperdagangkan oleh
penduduk di beberapa desa di Pulau kobror,
Kepulauan Aru. Biasanya burung ini diburu
dengan cara dipungut dari sarangnya di atas
pohon saat masih bayi, untuk kemudian
dipelihara beberapa waktu sebelum dijual
kepada pembeli. Penduduk di desa-desa Pulau
Kobror biasanya menjual hewan ini ke Kota
Kecamatan Benjina atau langsung ke Ibu Kota
Kabupaten Kepulauan Aru yang terletak di
Dobo. Perjalanan dari Benjina ke Dobo dapat
ditempuh kurang lebih empat jam perjalanan
lewat laut. Profil fisik Kakatua yang indah
dengan perilaku yang lincah membuat hewan
cerdas ini sejak lama dicari sebagai binatang
peliharaan manusia. Disayangkan, aktifitas
perburuan dan penyelundupan hewan khas
ini, membuat populasinya semakin menurun.
Perdagangan gelap burung Kakatua
memang merupakan salah satu gambaran
perdagangan komoditi khas di Kepulauan
Aru yang telah berlangsung berabad-abad.
Selain kakatua, Cendrawasih (Paradisaea
Apoda) juga menjadi spesies burung yang
paling dicari di kawasan ini sebagai komoditi
dagang sejak masa lalu (Swadling, 1996).
Keindahan dan keanggunan bulu burung
cendrawasih membuat hewan ini menjadi
komoditi unggulan yang diekspor keluar dari
60
Kepulauan Aru. Jenis burung ini biasanya
diawetkan sebelum dijual kepada pembeli.
Saat ini cukup sukar untuk menemukan
komoditi mahal ini, Burung Cendrawasih
juga telah ditetapkan sebagai satwa langka
yang dilindungi. Memperjualbelikan spesies
ini adalah tindakan kriminal. Kenyataannya,
selama berada di Kepulauan Aru, beberapa
individu sempat menawarkan jasad burung
Cendrawasih yang sudah diawetkan untuk
dijual.
Aru memang lekat dengan perdagangan
komoditi eksotik yang langka dan mahal. Saat
ini, kepulauan Aru juga dikenal sebagai sentra
produksi mutiara laut yang dikonsumsi pasar
dunia. Demikian halnya dengan beberapa
produk laut unggulan seperti Teripang
dan Telur Ikan Terbang juga diekspor dari
Kepulauan ini. Bukan kebetulan kiranya
bahwa rekam sejarah menunjukan jenisjenis komoditi yang disebut di atas telah
diperdagangkan di wilayah ini, bahkan
hingga awal masehi (Ririmasse, 2010a;
Andaya, 1993a; 1993b). Suatu kenyataan
yang mengagumkan, bahwa setelah lebih dari
dua ribu tahun, semua yang disebut tadi tetap
menjadi komoditi unggulan Kepulauan Aru.
Sejarah Budaya Kepulauan Aru memang
sukar untuk dilepaskan dari dunia luar.
Hakekat sebagai wilayah sumber komoditi
eksotik, membuat kepulauan ini senantiasa
dicari oleh para pendatang dan pedagang
asing. Studi terkait pengetahuan alam
menunjukan betapa Kepulauan Aru memiliki
sejarah yang lebih panjang. Meski kini
menjadi bagian dari Kepulauan Maluku, Aru
sejatinya merupakan bagian dari perluasan
daratan besar yang disebut sebagai Paparan
Sahul yang mencakup Papua dan Australia
sebagai daratan induk. Himpunan wilayah ini
menyatu sebagai daratan besar pada jaman
es. Ketika itu air laut surut hingga lebih dari
150 meter di bawah permukaan laut saat ini.
Itulah sebabnya mengapa profil ekologi Aru
menunjukan karakter yang mirip dengan
wilayah tetangganya di timur (Ririmasse,
2010a; Spriggs et.al, 1998; O’Connor,
2005; Belwood, 1997). Di kepulauan ini
Kapata Arkeologi Volume 9 Nomor 2, November 2013: 59-74
kita bisa menemukan Burung Cendrawasih,
sebagaimana umum ditemukan di Papua
danidentik dengan Kangguru sebagai hewan
endemik Australia. Perubahan muka laut
yang menaik sejak akhir jaman es, membuat
Aru menjadi kepulauan yang terpisah dari
benua Induknya. Kondisi masa lalu inilah
yang menciptakan karakter Kepulauan Aru
sebagai sebuah wilayah dengan lingkungan
dan sejarah budaya yang khas selalu menarik
perhatian para penggiat ilmu pengetahuan
dari berbagai bidang,termasuk Arkeologi.
Bukan kali pertama Balai Arkeologi
Ambon melakukan studi di wilayah ini.
Setidaknya dua penelitian oleh Balai Arkeologi
Ambon sebelumnya dengan perhatian pada
wilayah di pulau Wamar dan Wokam. Tinjauan
atas pulau-pulau lain di Kepulauan Aru
belum pernah dilakukan. Isu yang menjadi
titik berat kajian kali itu juga terkait dengan
tema-tema jejak budaya kolonial. Isu spesifik
yang mencoba mengamati jejak budaya yang
lebih awal, seperti ranah prasejarah belum
pernah dilakukan. Bercermin pada kondisi
inilah, Balai Arkeologi Ambon kemudian
memutuskan untuk melakukan studi arkeologi
lanjutan di Kepulauan Aru,kali ini dengan
perhatian pada wilayah pulau Kobror yang
terletak di sebelah tenggara Dobo.
Mengkaji sejarah budaya Kepulauan
Aru berarti menggali kembali pengetahuan
masa lalu yang dalam dan luas dari sebuah
wilayah khas. Kepulauan ini memiliki
dimensi waktu yang menerobos hingga awal
kedatangan manusia serta kompleksitas
dinamika wilayah ini karena kehadiran
mereka. Keberadaan Aru yang senantiasa
melekat dengan kawasan sekitarnya dan
dunia luar.
Sejarah alam memahami keberadaan
Aru sebagai satu kesatuan dengan Australia
dan Papua; serta kontak dengan dunia luas
dalam konteks dagang sebagai kawasan
sumber komoditi eksotik adalah dua hal yang
menggarisbawahi luasnya dimensi sejarah
Kepulauan ini. Suatu kondisi yang menjadi
cermin, bahwa upaya untuk memahami
Kepulauan Aru dengan segenap kompleksitas
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru, Marlon Ririmasse
sejarah budayanya membutuhkan waktu dan
proses secara bertahap. Terkait dengan situasi
tersebut, perhatian studi arkeologi di Aru
kali ini dititikberatkan pada Pulau Kobror
di sebelah tenggara Dobo dengan masalah
pokok yaitu:
1. Bagaimanakah profil potensi arkeologis
yang terdapat dalam lingkup pulau Kobror
Kepulauan Aru?, dan
2. Apakah indikasi jejak budaya prasejarah
atau karakter budaya khas tersebut
menunjukan keberlanjutan budaya
prasejarah sebagai tradisi?
Sejalan dengan apa yang telah
dipaparkan di atas, penelitian ini bertujuan
untuk mendapatkan gambaran profil potensi
arkeologis di pulau Kobror, Kepulauan Aru.
Secara khusus perhatian akan diberikan pada
potensi arkeologis yang dipandang memiliki
indikasi jejak budaya prasejarah termasuk
karakter yang mencerminkan kontinuitas
budaya dalam tradisi masyarakat setempat.
METODE
Berkenaan dengan eksplorasi potensi
arkeologis di wilayah ini, survei penjajakan
dipilih sebagai pendekatan untuk menemukan
data arkeologis. Dalam proses ini pengamatan
atas potensi data di permukaan tanah akan
menjadi prioritas untuk merekam situs-situs
yang dipandang potensial guna kepentingan
penelitian lebih lanjut. Selain deskripsi verbal
dan piktorial, rekam data juga dilakukan
dengan foto dan pengukuran atas temuan
dan situs yang dipandang perlu,serta rekam
astronomis dengan GPS atas titik-titik situs.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kepulauan Aru: Tinjauan Wilayah
Penelitian
a. Administrasi
Kepulauan Aru secara administratif
merupakan Kabupaten yang menjadi bagian
dari Propinsi Maluku. Terletak di bagian
tenggara Maluku sehingga Aru merupakan
61
gugus pulau paling timur dalam kepulauan
Maluku.
b. Geografi
Secara geografis Kepulauan Aru
berbatasan dengan Papua di sebelah utara dan
timur, Kepulauan Kei di sebelah barat dan
laut Arafura di sebelah selatan. Keseluruhan
terdapat sekitar 160 buah pulau yang
membentuk kepulauan ini dengan luas lebih
dari 8,563 km2 (O’Connor, 2005; Hidayat,
1998). Keletakan antara satu pulau dengan
pulau lainnya sangat rapat dan membentuk
total luas daratan mencapai 7050 km2. Satu
pulau dengan pulau lainnya hanya dipisahkan
oleh selat-selat sempit. Pulau terbesar adalah
Wokam yang dikenal juga dengan sebutan
Tanahbesar. Dobo, sebagai kota utama
dalam wilayah terletak di pulau Wamar,
yang berhadapan langsung dengan Wokam.
Pulau-pulau utama lainnya adalah Kobror,
Trangan, Koba, Kola, dan Maikor. Warilau
adalah pulau paling utara, dan Enu adalah
pulau paling selatan. Topografi Kepulauan
Aru relatif datar dengan titik tertinggi 271 m
di pulau Kobror. Di pulau-pulau besar lain
titik tertinggi umumnya hanya mencapai
50-100 m.
c. Geologi
Profil geologis Aru menunjukan bahwa
kepulauan ini merupakan bagian dari satu
landas kontinen dengan Australia dan Papua.
Wilayah-wilayah ini bahkan pernah terhubung
secara langsung sebagai sebuah daratan besar
pada Jaman Es, ketika air laut surut hingga
150 meter dari tinggi muka laut saat ini. Saat
jaman es berakhir, menyusul meningkatnya
suhu bumi, Aru kemudian terpisah dan
menjadi kepulauan yang mandiri. Kawasan
di sekitar Kepulauan Aru hingga Selat Torres
dan bagian utara lepas pantai Australia yang
dulunya merupakan dataran rendah, menjelma
menjadi kawasan laut dangkal. Relung-relung
sempit antar perbukitan, berubah menjadi
selat yang di Aru umum disebut sebagai
sungai meski dilalui oleh air laut (O’Connor,
2005; Spriggs et.al 1998; Spyer, 2000).
62
Gambar 1. Peta Lokasi Penelitian bertanda
lingkaran merah
Papua. Meski juga dapat ditemukan di
beberapa tempat di Maluku, keragaman
flora di Aru memang lebih raya dengan ciri
yang cenderung serupa dengan Australia
dan Papua. Pulau-pulau di sebelah selatan
umumnya didominasi hutan terbuka dan
sabana sebagaimana yang ditemukan di Pulau
Trangan. Di hampir seluruh kawasan pesisir
mudah ditemukan sebaran mangrove. Van
Balgooy (1996) mencatat setidaknya terdapat
tujuhbelas jenis mangrove di Kepulauan Aru
mulai dari Rhizophora apiculata, R. stylosa,
Ceriops tagal, and Bruguiera cylindrica.
Avicennia officinalis, Sonneratiacaseolaris,
Xylocarpus granatum hingga Camptostemon
schultzii. Formasi sabana di Kepulauan Aru
menunjukan karakter yang sama dengan
kawasan serupa di Papua Bagian Selatan dan
Australia Utara, khususnya di sekitar wilayah
Cape York (O’Connor, 2005; van Balgooy,
1996).
e. Fauna
Situasi serupa juga ditemukan
dalam profil fauna di Kepulauan Aru.
Vertebrata kontemporer di wilayah ini cukup
beragam dan didominasi hewan-hewan
berciri Austrolo-Papua seperti marsupial,
burung cendrawasih dan kasuari. Kondisi
ini cukup kontras jika dibandingkan dengan
kepulauan tetangga seperti Kei. Di wilayah
ini jenis hewan tidak terlalu beragam dengan
tipikal yang semakin berbeda dengan hewan
Austrolo-Papua. Perbedaan ini menunjukan
bahwa Aru memang merupakan bagian dari
perluasan Papua dan Australia sepanjang
Jaman Es. Jenis mamalia, burung dan reptil
yang terdapat di Kepulauan Aru saat ini juga
ditemukan di wilayah selatan Papua.
g. Ekonomi
Ekonomi Kepulauan Aru saat ini
didominasi oleh usaha budidaya mutiara laut
yang tentu saja dijalankan oleh para pemilik
modal besar. Hasil budidaya komoditi mahal
ini biasanya ditujukan untuk pasar ekspor.
Perdagangan mutiara pada skala lokal
juga umum ditemukan, namun kualitasnya
dibawah mutiara yang diekspor. Penduduk
setempat juga banyak yang bekerja untuk
perusahaan-perusahaan ini.
Meski saat ini penduduk lebih
menempatkan beras sebagai pilihan substensi,
sagu masih menjadi alternatif utama di
berbagai desa. Tanaman ini masih umum
ditemukan dimana-mana dan dimanfaatkan
oleh sebagian besar penduduk. Pisang, ubi
dan jagung juga menjadi pilihan. Pengalaman
selama tinggal di Kobror menunjukan sayuran
cukup sukar ditemukan sehingga jarang
dikonsumsi dengan berbagai variasi dalam
menu sehari-hari. Bagi mereka yang menetap
di kawasan pesisir terbuka (bukan sepanjang
selat-selat kecil yang disebut sungai) melaut
dan mencari ikan adalah sumber ekonomi
utama (Healey, 1995). Perairan sekitar
Aru yang kaya sumber daya laut, membuat
wilayah ini juga menjadi sentra industri
perikanan baik oleh kapal nasional pun asing.
Benjina menjadi kota pelabuhan utama untuk
penangkapan ikan. Pengolahan hasil hutan
juga menjadi pilihan bagi ekonomi tradisional
maupun korporasi. Beberapa perusahaan
mendapatkan kosesi untuk melakukan
penebangan kayu-kayu pilihan.
f. Penduduk
Saat ini penduduk Kepulauan Aru
berjumlah 83.977 jiwa dengan presentase
laki-laki sejumlah 43.565 dan perempuan
sejumlah 40.412. Angka ini tersebar di
lebih dari 120 desa dan kota Dobo. Hasil
pengamatan selama di Aru menunjukan
h. Sejarah
Data sejarah paling awal yang secara
langsung menyebutkan mengenai Kepulauan
Aru berasal dari naskah Suma Oriental
oleh Tomme Pires dari tahun 1512-1515
(Spyer, 2000; O’Connor, 2005). Catatan ini
kemungkinan berasal dari sumber sekunder
(Sumber: Wikipedia)
d. Flora
Dengan latar sejarah lingkungan yang
sedemikian, karakter sebagai bagian dari
Australia-Papua tetap teramati melalui profil
ekologi Aru yang mirip dengan daratan
induknya. Vegetasi di Kepulauan Aru
dibentuk oleh formasi kombinasi hutan tropis
yang lebat dengan hutan terbuka dan sabana.
Setidaknya terdapat 2,000 spesies tanaman di
wilayah ini. Tanaman dengan karakter batang
yang menjulang hingga 40-60 m umumnya
ditemui di pulau-pulau sebelah utara meliputi
Wokam, Kobror dan Koba. Jenis pohon
tinggi yang dapat ditemukan adalah Pometia
pinnata (Sapindaceae), Alstonia scholaris
(Apocynaceae), and Syzygium (Myrtaceae)
and Ficus species(Moraceae). Beberapa
spesies lain yang penting dicatat oleh
van Balgooy meliputi spesies Canarium
spp., Flindersia amboinensis, Dillenia
pteropoda, Instia bijuga (merbau), Maranthes
corymbosa, dan Podocarpus spp. Jenis
spesies tanaman di Aru memang tergolong
kaya dan memiliki kemiripan morfologi
dengan spesies-spesies yang terdapat di
Kapata Arkeologi Volume 9 Nomor 2, November 2013: 59-74
bahwa populasi terbesar terkonsentrasi di
dan Benjina, sebuah kota kecil pelabuhan
ikan di sisi barat pulau Kobror. Umumnya
para pendatang terkonsentrasi di dua kota ini.
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru, Marlon Ririmasse
63
selama Portugis berada di Malaka. Rekam
resmi Portugis atas kawasan ini baru muncul
pada tahun 1530 sebagaimana nampak dari
peta pada masa itu. Meski Belanda telah tiba
dan membangun benteng di Kepulauan ini
sejak setidaknya abad ke-17, kehadiran dan
pengaruh Belanda baru benar-benar dirasakan
semenjak abad ke-19. Beberapa jejak budaya
kolonial seperti sisa struktur benteng di
Wokam masih dapat diamati hingga saat ini.
i. Rekam Penelitian Arkeologi
Kontribusi terbesar terkait pengetahuan
arkeologi di Kepulauan Aru disumbangkan
oleh kompilasi penelitian bersama selama
tiga musim antara tahun 1995-1997 oleh
gabungan kelompok peneliti Indonesia dan
Australia. Archaeology of Aru Islands terbit
pada tahun 2005 dan memuat aspek-aspek
jejak budaya di Kepulauan Aru dari aspek
potensi hingga kronologi dari sudut pandang
arkeologi. Empat isu utama dibahas melalui
penelitian ini yaitu mencakup 1). Ihwal awal
hunian pada masa Plestosen 2). Perubahan
Ekonomi pada Masa Plestosen hingga
Holosen 3). Peran wilayah ini dalam proses
penyebaran pemukiman penutur Bahasa
Austronesia dalam kawasan 4). Interaksi
antara penutur Bahasa Austronesia dan NonAustronesia 5). Peran wilayah ini dalam kaitan
sebagai salah satu kawasan sumber komoditi
eksotik. Kontribusi terbesar dari penelitian ini
agaknya disumbangkan oleh data kronologi
yang mencapai angka setidaknya 26,000
tahun yang lalu. Pengetahuan lain yang
penting disumbangkan oleh ragam informasi
terkait kondisi lingkungan masa lalu dan
perubahannya terkait menaiknya muka laut
pada akhir masa Plestosen.
Penelitian oleh Balai Arkeologi Ambon
di wilayah ini telah dilakukan oleh Sudarmika
bersama tim pada tahun 2009 dengan upaya
untuk mengamati jejak budaya kolonial di
Pulau Wokam. Penelitian kali ini secara
spesifik diarahkan untuk melakukan eksplorasi
terhadap wilayah selatan Kepulauan Aru,
dengan perhatian pada Pulau Kobror.
64
Hasil Survei Arkeologis di Pulau Kobror
Desa Sila Bata-Bata
Desa Sila Bata-Bata adalah salah satu
desa utama dalam himpunan pemukiman
yang terdapat sepanjang sungai Manumbai
yang memisahkan Pulau Wokam dengan
Pulau Kobror. Dibanding desa lain, Sila
Bata Bata memiliki populasi yang jauh
lebih padat, pemukiman yang lebih luas
dan yang terpenting, pelabuhan yang lebih
ramai. Pelabuhan di desa ini agaknya
menjadi titik transit bagi desa-desa di bagian
pedalaman. Dari Benjina, kota kecamatan
terdekat, desa ini dapat dicapai dengan
perjalanan menggunakan motor laut dengan
waktu tempuh sekitar 2 jam melalui sungai
Manumbai. Survei yang dilakukan oleh tim
penelitian dalam lingkungan desa, mendata
keberadaan keramat desa, yang dipandang
sebagai pusat kosmologi desa yaitu berupa
rumah kecil dengan aneka piring putih
sebagai sesajen. Objek ini terletak tepat
setelah dermaga di pintu masuk desa Sila
Bata Bata. Di samping struktur dikibarkan
bendera putih. Komunikasi dengan kepala
desa menyebutkan bahwa adalah umum bagi
penduduk menyimpan aneka artefak kuna
sebagai pusaka keluarga.
dari Desa Sila Bata Bata sebelum melewati
daerah bakau yang berlumpur.Pengamatan
pada lingkungan situs menunjukan, ceruk
rendah ini agaknya dibentuk oleh potongan
aliran sungai. Saat pasang naik, ketinggian
situs berada sekitar 2 meter dari permukaan
sungai.
Gambar 3. Fragmen Tengkorak dan Tulang
dalam asosiasi dengan gerabah lokal, keramik
asing, gelang kerang dan fragmen logam
(Sumber: Dokumen Balai Arkeologi Ambon)
Tepat di salah satu sisi sungai inilah
terdapat teras yang melintang dari utara ke
selatan. Di sinilah ditemukan situs penguburan
terbuka. Tengkorak dan tulang beserta
aneka bekal kubur tersebar di permukaan
sepanjang teras ceruk. Melalui kalkukasi
yang dilakukan, setidaknya terdapat lebih dari
tigapuluh tengkorak. Selain tengkorak orang
dewasa terlihat juga tengkorak anak-anak.
Tengkorak dan tulang ini tersebar secara acak
dan saling bercampur satu sama lain.
Gambar 2. Suasana di Desa Sila Bata-Bata
(Sumber: Dokumen Balai Arkeologi Ambon)
• Penguburan Ceruk Terbuka di Sila Batabata
Situs penting dalam lingkup Sila BataBata adalah keberadaan situs Penguburan
Ceruk yang terletak di kawasan seberang
desa. Situs ini tepat berada pada ujung dinding
formasi karst di bagian pulau Kobror. Untuk
mencapainya kita harus menggunakan perahu
Kapata Arkeologi Volume 9 Nomor 2, November 2013: 59-74
Jumlah besar temuan artefaktual
yang agaknya merupakan bekal kubur
umumnya didominasi oleh fragmen keramik
cina, keramik voc, perunggu, piring, juga
gerabah lokal. Temuan terpenting di situs ini
barangkali diwakili oleh keberadaan fragmen
perahu yang digunakan sebagai wadah bagi
si mati. Saat tim melakukan pengamatan
terdapat dua fragmen bangkai perahu yang
agaknya merupakan satu kesatuan. Informasi
penduduk menyebutkan dulu terdapat lebih
banyak perahu arwah serupa sebagaimana
yang ditemukan. Panjang fragmen pertama
adalah 1,4 m dan panjang fragmen kedua
adalah 1,2 m. Lantai yang berbatu dengan
lapisan sedimen yang tipis membuat situs ini
kurang potensial untuk dilakukan ekskavasi.
Gambar 4. Fragmen Bagian Haluan Bangkai
Perahu Arwah.
(Sumber: Dokumen Balai Arkeologi Ambon)
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru, Marlon Ririmasse
Gambar 5. Tim melakukan Survei di Situs
Penguburan Terbuka di Ceruk Desa Sila Bata-Bata
(Sumber: Dokumen Balai Arkeologi Ambon)
• Gua Lisaibam:
Lisaibam merupakan gua yang menjadi
bagian dari wilayah (petuanan) desa Jirlay di
pulau Kobror. Meski merupakan bagian dari
desa, jarak tempuh menuju gua ini cukup
jauh. Perjalanan menuju gua dapat dicapai
dengan menempuh perjalanan menggunakan
kapal motor melalui sungai Manumbai
selama 1 jam dari desa Jirlay. Gua ini terletak
sekitar 500 meter dari sungai terdekat. Untuk
mencapainya harus melewati kawasan hutan
bakau yang berawa.
Karakter fisik gua ini menunjukan
bentuk terowongan tembus dari dua sisi.
Panjang gua mencapai 18,7 meter dengan
lebar dan tinggi depan pintu 6,6 meter dan
1,9 meter; sementara pintu belakang memiliki
65
lebar 7,4 meter dan tinggi 2,4 meter. Arah
hadap gua sendiri melintang dari timur
ke barat dengan posisi 110 derajat untuk
sisi timur dan 240 derajat untuk sisi barat.
Pencahayaan dalam gua cukup baik karena
berasal dari dua pintu.
Gambar 8. Pahatan Sepasang Telapak Kaki di Situs
Gua Lisaibam Kepulauan Aru
(Sumber: Dokumen Balai Arkeologi Ambon)
Gambar 6. Pintu Gua Lisa Ibam dari Sisi Utara
(Sumber: Dokumen Balai Arkeologi Ambon)
Gambar 7. Motif Vulva yang tertutup Patina
(Sumber: Dokumen Balai Arkeologi Ambon)
Gua ini dibentuk oleh aliran air yang
agaknya merupakan perluasan dari sungai
terdekat yang meluap. Lantai gua yang
berbatu ditutupi oleh lapisan sedimen yang
membentuk parit dengan lebar sekitar dua
meter. Pada kedua sisi parit ini tinggi sedimen
mencapai sekitar satu meter.
Temuan permukaan didominasi oleh
sebaran moluska yang menumpuk di bagian
pintu masuk dan berasal dari jenis Gelonia
sp; Terebralia sp.; Anadara sp. Terdapat
juga beberapa fragmen gerabah dan fragmen
keramik asing dari Cina. Fragmen tulang
hewan juga dapat nampak. Temuan terpenting
di situs ini diwakili oleh keberadaan himpunan
goresan dalam berbagai motif pada dinding
gua. Bentuk geometris, abstrak, manusia,
organ tubuh (tangan dan kaki), pohon,
manusia dan motif perahu ditampilkan pada
dinding gua. Terlihat memang adanya distorsi
dengan goresan-goresan yang lebih modern
seperti bentuk alfabet, namun secara umum
sebagian besar menunjukan karakter motif
yang cukup tua.
Salah satu motif yang memiliki
kenampakan cukup tua adalah motif vulva.
Motif ini ditemukan di sisi timur dari pintu
utara gua. Ditampilkan dengan goresan tipis
namun dalam, motif ini sudah terlihat berusia
lebih tua karena lapisan patina yang hampir
menutupi lukisan ini. Panjang motif adalah
25 cm dan lebar 6 cm. Motif kedua yang
ditampilkan adalah konstruksi geometris
dengan bentuk yang mirip dengan ‘pohon
kehidupan’ sebagaimana ditemukan juga di
situs Dudumahan, Kepulauan Kei dan pola
hias nekara Dong Son. Motif ini memiliki
panjang 30 cm dan lebar 15 cm. Terdapat
juga dua motif geometris berupa mata panah.
Satu dalam posisi menghadap ke atas dan satu
dalam posisi menghadap ke bawah. Dimensi
motif ini adalah memiliki panjang 10 cm dan
lebar sekitar 4 cm. Motif antromorfik juga
ditampilkan dalam asosiasi dengan beberapa
motif geometris lain. Motif yang paling
menarik barangkali diwakili oleh keberadaan
bentuk telapak kaki manusia. Satu motif
diterakan secara sepasang dan satu motif
ditampilkan hanya salah satu telapak kaki.
Terdapat juga motif fauna yang diwakili oleh
bentuk buaya atau cecak.
66
Kapata Arkeologi Volume 9 Nomor 2, November 2013: 59-74
Keberadaan aneka lukisan cadas di Gua
Lisa Ibam ini memperluas geografi sebaran
situs-situs lukisan cadas. Jika sebelumnya
situs lukisan cadas di pulau-pulau selatan
di Maluku hanya ditemukan di Kepulauan
Kei, kini meluas ke timur hingga ke Aru.
Mengamati karakter situs-situs lukisan cadas
lain di Maluku, Lisa Ibam adalah satu-satunya
situs dengan seluruh motif yang diterakan
dengan teknik gores.
Pembahasan
Nilai penting Aru sebagai sebuah
kawasan dalam kaitan dengan wilayah
sekitarnya dan dunia luar setidaknya dapat
ditinjau dari dua aspek. Pertama, terkait
dengan kondisi paleogeografi bahwa
Kepulauan Aru merupakan satu kesatuan
landas kontinen dengan Papua dan Australia.
Dalam konteks ini sejarah lingkungan
Aru senantiasa melekat dengan daratan
induknya di sebelah timur dan selatan. Kedua,
keberadaan Aru sebagai salah satu kawasan
sumber komoditi eksotik, membuat wilayah
ini terhubung dengan pasar regional dan
global. Implikasi atas kondisi khas ini adalah
Aru berkembang sebagai wilayah terbuka
melalui kontak dan interaksi serta berdampak
langsung bagi keragaman demografi di
wilayah ini pada masa lalu.
Melalui sudut pandang dalam aspek
pertama, perubahan lingkungan regional
yang terjadi secara gradual pada masa
Plestosen Akhir, membawa implikasi besar
bagi profil Paparan Sahul yang mencakup
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru, Marlon Ririmasse
Kepulauan Aru, Papua dan Australia. Naiknya
muka air laut hingga mencapai ketinggian
saat ini pada sekitar 11,500 tahun yang lalu,
telah menenggelamkan kawasan luas dataran
rendah di sekitar Kepulauan Aru, Papua dan
Australia bagian utara yang kini menjadi
Laut Arafura. Himpunan massa daratan
yang membentuk Kepulauan Aru saat ini,
merupakan wilayah dataran tinggi dalam
kawasan setempat yang oleh karena itu menjadi
semacam ‘kapal penyelamat’ bagi spesiesspesies yang berdiam di dalamnya. Sebagai
wilayah perluasan Papua dan Australia,
Kepulauan baru ini tetap menampilkan profil
ekologi yang mencerminkan daratan induk
di seberang lautan. Karakter flora dan fauna
Kepulauan Aru menjadi refleksi profil flora
dan fauna yang ada di wilayah Papua dan
Australia. Variasi-variasi yang bersifat lokal
muncul seiring berjalannya waktu, namun
hakekat sebagai bagian Austrolo-Papua
tetap nampak di wilayah ini. Hewan kecil
berkantung (marsupial); Kangguru, Kasuari
dan Cendrawasih menjadi fauna ikonik yang
membuktikan kedekatan ekologis tersebut.
Salah satu implikasi geografis atas
perubahan lingkungan yang drastis ini adalah
muncul selat-selat sempit dan panjang yang
memisahkan satu daratan dengan daratan
lainnya di Kepulauan Aru. Karakter geografis
ini kemudian menjadi salah satu penanda
lingkungan yang khas. Beberapa selat utama
tersebut adalah Sungai Manumbai yang
memisahkan Pulau Wokam dan Kobror;
Sungai Wokai yang memisahkan pulau
Kobror dan Maikoor; Sungai Maikor yang
memisahkan pulau Maikor dan Trangan
serta Sungai Sisir yang memisahkan pulau
Kola dan Wokam. Selain di kawasan pesisir,
sepanjang sungai-sungai inilah muncul
dan berkembang pemukiman tradisional ke
arah pedalaman. Sungai Manumbai adalah
salah satu yang terkenal. Di sepanjang
sungai Manumbai inilah, naturalis terkenal
Alfred Russel Wallace tinggal selama enam
minggu untuk mengumpulkan spesies-spesies
hewan sebagai dasar kajian ilmiahnya yang
kemudian menjadi salah satu rujukan utama
67
dalam studi evolusi dan biogeografi. Secara
total ilmuwan dunia ini mengumpulkan lebih
dari sembilan ribu spesimen objek-objek
alam dari sekitar seribu enam ratus spesies
(Wallace, 1857; O’Connor, 2005).
Hasil penelitian Wallace di Aru
kemudian disatukan sebagai sebuah karya
ilmiah bersama kajiannya yang juga mencakup
wilayah lain di Asia Tenggara. Dalam buku
berjudul The Malay Archipelago ini, Wallace
mengemukakan teorinya, dengan mengacu
pada distribusi hewan dan burung, bahwa
Kepulauan Aru pernah bergabung dengan
Papua sebagai satu wilayah. Meski dalam
tulisannya, Wallace tidak menyebutkan
mengenai turun-naiknya muka air laut
sebagai penjelasan atas fenomena ini. Dalam
catatannya Wallace juga menyebutkan tentang
bagaimana ragam spesies ini berperan dalam
ekonomi masyarakat Aru pada masa itu.
Termasuk bagaimana hewan khas Australia
Kangguru, masih umum ditemukan dan
menjadi bagian dari konsumsi masyarakat
setempat.
Kejelian pengamatan antropomorfik
khas Wallace yang juga membuat dia mampu
mengamati keragaman fisikal di antara para
penduduk Kepulauan Aru. Meski merupakan
wilayah yang memiliki kedekatan lingkungan
dengan Papua, penduduk asli Aru memiliki
kenampakan fisik yang berbeda dengan
penduduk asli Papua maupun Orang Aborigin
di Australia. Fenomena ini direkam oleh
Wallace dalam catatannya:
Many of the natives, though equally dark
with the others, have little of the
Papuan physiognomy, but have mored
elicate features of the European type,
with more glossy, curling hair. These at first
quite puzzled me, for they have
no more resemblance to Malay than to
Papuan, and the darkness of skin
and hair would forbid the idea of Dutch
admixture. Listening to their
conversation, however, I detected some
words that were familiar to me … This
cleared up the difficulty. I at once
understood that some early Portuguese
68
traders had penetrated to these islands, and
mixed with the natives …(O’Connor, 2005)
Catatan-catatan Wallace di atas terkait
kondisi alam dan masyarakat di Kepulauan
Aru memang telah menjadi salah satu
sumber klasik. Ragam referensi yang lebih
kini, sebagai hasil penelitian yang lebih
kontemporer, memberikan kepada kita
pengetahuan yang lebih jelas dan mendalam
terkait karakter Kepulauan Aru sebagai sebuah
wilayah. Karya akademis Spyer (2000) dan
O’Connor et.al (2005) banyak memberikan
koreksi dan meluaskan pandangan kita
terhadap rekam perjalanan Wallace di wilayah
ini. Lepas dari semua kondisi tersebut, buah
karya Wallace dan beberapa ilmuwan lain
yang sejaman menjadi dokumen penting
bagi kontribusi terkait pengetahuan sejarah
budaya masa lalu di Kepulauan Aru. Aspekaspek yang dibahas dibawah ini, sebagai
tinjauan atas data yang dikumpulkan selama
survey arkeologi di Pulau Kobror oleh
Balai Arkeologi Ambon pada tahun 2011,
juga dikemukakan dengan mengacu pada
himpunan karya akademis atas Kepulauan
Aru yang telah diterbitkan.
a. Seni Cadas di Lisa Ibam: Lingkungan Gua
dan Tradisi Prasejarah
Kawasan Wallacea dan sekitarnya
dikenal sebagai wilayah yang kaya dengan
situs-situs seni cadas. Ragam bentuk seni
khas ini tersebar mulai dari Sulawesi hingga
Maluku. Bahkan jika bergerak lebih ke
selatan, ratusan situs seni cadas ditemukan
juga di wilayah tetangga yaitu Papua dan
Australia. Di Australia, salah satu wilayah
yang terkenal dengan sebaran situs lukisan
cadas adalah himpunan gua-gua di Kimberly
Region, Australia Barat. Model seni serupa
juga ditemukan secara luas di wilayah Papua.
Situs-situs ini umumnya tersebar di daerah
Kokas, Kaimana, Sentani hingga Jayawijaya.
Di dalam kawasan Wallacea, jejak
aktivitas seni cadas masa lalu dapat ditemukan
dibeberapa situs utama di Sulawesi, umumnya
di Sulawesi Bagian Selatan dan sekitarnya.
Kapata Arkeologi Volume 9 Nomor 2, November 2013: 59-74
Di sini situs lukisan cadas teridentifikasi di
Kawasan Maros dan Kawasan Pangkajene.
Pada kawasan kedua ini terdapat sebaran
situs yang luas antara lain Garunggung,
Lasitae, Bulu Ballang, Lompoa, Kassi,
Sapiria, Sakapao, Akarasaka, Sumpangbita,
Bulusumi, Bulu Sipong, Camingkana,
Patenungan, Bulu Ribba, Salluka, dan Cumi
Lantang. Selain di dua kompleks besar ini,
situs lukisan cadas juga ditemukan di Pulau
Muna. Motif-motif bertema maritim dalam
bentuk perahu ditemukan pada lukisan cadas
di situs Lene Hara, Timor-Timur (O’Connor,
et.al, 2002).
Di Kepulauan Maluku situs seni cadas
ditemukan setidaknya di empat titik di pulau
berbeda. Mulai dari Pulau Buru hingga
Kepulauan Kei. Rekam perdana atas situs
lukisan cadas disampaikan oleh J. Roder
yang ketika itu melakukan survei sebagai
bagian dari ekspedisi Fronebius tahun 1937
(Ririmasse, 2005). Dalam catatannya Roder
menyebutkan mengenai keberadaan lukisan
cadas di aliran sungai Tala dan teluk Saleman.
Dalam lingkup situs ini ditemukan motif
geometris yang diterakan dalam asosiasi
dengan motif zoomorfik dan antromorfik.
Teknik yang digunakan berupa stensil, poles
hingga gores. Lukisan cadas yang ditemukan
di Teluk Saleman, diterakan dengan variasi
warna berupa merah, putih dan hitam. Situs
lukisan cadas di Wamkana, pesisir selatan
Pulau Buru didata oleh tim Balai Arkeologi
Ambon pada tahun 1997 (Ririmasse, 2005).
Di situs ini ditemukan lukisan dengan motif
geometris dan antromorfik yang diterakan
pada dinding cadas di kawasan pesisir.
Kehadiran situs Wamkana mewakili sisi paling
barat sebaran situs lukisan cadas di Kepulauan
Maluku. Situs seni cadas di Maluku yang
paling kompleks sejauh ini diwakili oleh situs
Dudumahan di Ohoidertawun, Kepulauan
Kei. Di situs ini terdapat lebih dari 200 motif
lukisan yang diterakan dalam aneka warna
(Ririmasse, 2005). Motif yang ditampilkan
meliputi motif geometris, motif manusia,
perahu dan benda-benda alam. Ballard
(1988), dalam tinjauannya mengenai situs ini
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru, Marlon Ririmasse
menyebutkan bahwa situs ini diperkirakan
muncul sekitar awal abad masehi, ketika
persebaran penutur bahasa Austronesia
mencapai wilayah Tenggara Kepulauan
Maluku (Ballard, 1988).
Identifikasi atas Gua Lisa Ibam telah
memperkaya himpunan situs seni cadas yang
terdapat di Kepulauan Maluku. Dengan lebih
dari duapuluh motif, Lisa Ibam merupakan
situs seni cadas dengan teknik gores yang
paling kaya di Kepulauan ini. Situs dengan
teknik serupa dalam kawasan ditemukan oleh
Roder di Aliran Sungai Tala dengan motif
yang ditampilkan adalah geometris.
Mengamati motif-motif yang diterakan
di Lisa Ibam beberapa eksplanasi awal dapat
dikemukakan. Motif Vulva adalah motif
khas yang merupakan representasi simbol
genetalia. Kehadiran vulva sebagai simbol
secara luas dikenal di Asia Tenggara dan
belahan lain di dunia. Kehadiran motif ini
umumnya dikaitkan dengan simbol kesuburan
dan kelahiran kembali. Di Kepulauan Maluku
Tenggara sendiri, model representasi simbolsimbol reproduksi cukup umum dikenal.
Kehadiran elemen-elemen simbolik yang
mewakili figur fungsi reproduksi laki-laki
dan perempuan senantiasa hadir bersamaan
dan mencerminkan prasyarat suatu bentuk
penciptaan kehidupan baru (De Jonge dan
van Dijk, 1995; Ririmasse, 2011a). Motif
pohon yang diterakan pada sisi pintu gua
menunjukan bentuk yang selaras dengan
motif pohon yang digunakan pada pola hias
nekara Dong-Son dan juga umum ditemukan
pada berbagai produk tenun tradisional di
Nusantara. Demikian halnya dengan motif
bintang yang ditampilkan dengan garis-garis
radiasi di sekelilingnya. Model representasi
benda-benda langit ini cukup dikenal di
beberapa situs lukisan cadas di Kepulauan Asia
Tenggara. Di situs Dudumahan, Kepulauan
Kei, motif serupa ditampilkan dalam asosiasi
dengan motif matahari. Kehadiran motif
perahu barangkali menjadi bentuk yang
paling menarik. Utamanya menimbang
luasnya aplikasi tema perahu sebagai simbol
di Kepulauan Maluku Tenggara. Motif
69
perahu dalam berbagai variasinya juga
diidentifikasi di situs Dudumahan Kepulauan
Kei. Penggunaan tema perahu sebagai
simbol dalam lingkup Kepulauan Maluku
Tenggara kiranya mencakup aspek yang
kompleks. Perahu diadopsi sebagai sumber
untuk ragam nilai filosofis untuk religi,
sistem struktur sosial, kosmologi, hingga
representasi material atas nilai-nilai simbolik
itu sendiri. Bukan kebetulan kiranya jika
dalam penelitian ini, juga teridentifikasi,
bangkai perahu arwah di situs Sila Bata-Bata
yang digunakan sebagai wadah simbolik bagi
si mati di Kepulauan Aru.
Terkait kapan goresan-goresan ini
diterakan, kiranya masih memerlukan
pengamatan lebih jauh. Model komparasi
morfologi motif dengan situs-situs seni
cadas lain dalam kawasan dapat menjadi
opsi untuk memperkirakan kronologi situs
ini. Selain tentunya upaya untuk menemukan
penanggalan absolute melalui ekskavasi.
Aspek terpenting yang perlu ditindaklanjuti
memang adalah upaya menemukan profil
budaya dalam konteks arkeologis di situs ini.
Saat melakukan survei tim masih terkendala
perijinan dari pemilik lahan, yaitu pihak
keluarga yang masih memandang situs sebagai
pusaka keluarga yang dikeramatkan. Dengan
alasan tersebut, meski upaya negosiasi telah
dilakukan, tim tidak mendapat ijin untuk
melakukan ekskavasi di Gua Lisa Ibam.
b. Woma di Sila Bata-Bata: Religi dan
Ekonomi dalam Tradisi
Saat pertama kali mengamati keramat
di Desa Sila Bata-Bata hampir tidak ada
kesan khusus di sana. Sekilas profil struktur
yang sederhana dengan gaya bangunan
yang kelihatan sangat baru, membuat nilai
‘kuno’ dari objek ini seakan lenyap. Ukuran
struktur yang relatif kecil membuat objek
ini tenggelam di antara himpunan rumah
penduduk. Keletakannya yang berada
setelah dermaga, tidak memberi kesan peran
penting objek ini dalam ruang desa. Dalam
kenyataannya, objek ini adalah penanda
70
utama pusat religi tradisional pemukiman
di masa lalu. Bagian dari tradisi yang sudah
berjalan lintas generasi dalam kawasan ini.
Model keramat seperti yang ditemukan
di Sila Bata-Bata ini memang umum
ditemukan di Kepulauan Maluku Tenggara
(Ririmasse, 2007). Di Kepulauan Kei,
objek dengan karakter khas seperti ini
biasanya disebut sebagai Woma. Bentuk
Woma biasanya diwakili oleh struktur yang
dibentuk oleh batu bersusun atau dolmen.
Di sekitar woma biasanya diletakan aneka
artefak mulai dari keramik hingga meriam.
Di Kepulauan Tanimbar, khususnya di Pulau
Yamdena, istilah yang digunakan keramat
sejenis adalah natar. Bentuk paling terkenal
dari natar adalah struktur berupa monumenmonumen tradisional yang direkayasa
menyerupai bentuk sebuah perahu artifisial.
Meski memiliki istilah dan morfologi yang
berbeda-beda, namun sejatinya tujuan
keramat antara satu wilayah dengan wilayah
lainnya dalam kepulauan ini memiliki benang
merah. Yaitu sebagai representasi material
atas ikatan sosial bagi komunitas.
Di Kepulauan Aru keramat seperti
ini disebut sebagai momosin. Istilah yang
berasosiasi dengan sebutan untuk para leluhur
yang diyakini berasal dari hewan. Momosin
kiranya dapat dipandang setara dengan
istilah Pamali yang umum digunakan dalam
bahasa melayu pasar di Maluku. Biasanya
bangunan kecil ini difungsikan sebagai pusat
ritual desa. Dimana secara spasial menandai
tempat kehadiran leluhur dalam pemukiman.
Penduduk biasanya meletakan aneka sesaji
dan persembahan di tempat ini. Dulu,
umumnya persembahan diletakan sebelum
penduduk mulai menyelam pada saat musim
mencari mutiara. Demikian halnya dengan
mereka yang akan melakukan pelayaran.
Dengan memberikan sesaji, para penyelam
dan mereka yang berlayar mengharapkan
mendapat perlindungan dan keselamatan dari
para leluhur. Bendera putih yang dipajang
di sisi keramat, biasanya juga disematkan
di perahu pada saat pelayaran. Kehadiran
leluhur, juga dipandang mampu memberikan
Kapata Arkeologi Volume 9 Nomor 2, November 2013: 59-74
nasib baik sehingga hasil yang dicapai oleh
para penyelam juga berlimpah.
c. Penguburan Terbuka: Antara Fakta
Sejarah dan Tradisi
Data etnohistori dari sumber-sumber
kolonial menyebutkan mengenai eksistensi
tradisi ini di Kepulauan Maluku Tenggara.
Catatan terkait fenomena spesifik ini direkam
oleh Drabbe, seorang rohaniwan katolik yang
bertugas di Kepulauan Tanimbar, pada paruh
pertama abad ke-20. Dalam catatannya Drabbe
menjelaskan mengenai tradisi penguburan
khas penduduk Tanimbar. Dalam tradisi
masyarakat ini di masa lalu, jasad si mati
biasanya akan diletakannya di alam terbuka di
atas balai-balai hingga mengering. Setelah itu,
bagian tengkorak (cranium) dan tulang leher
akan diletakan di tempat-tempat tertentu.
Sementara bagian kerangka lainnya akan
dikuburkan. Tempat yang biasanya digunakan
untuk menyimpan tengkorak dan tulang leher
si mati adalah di pusat ritual perkampungan
atau di altar keluarga di dalam rumah yang
disebut sebagai tafu. Tahun 2006 saat tim
Balai Arkeologi Ambon melakukan survei
ke salah satu situs bekas pemukiman kuna
di Tanimbar, jejak fenomena khas ini masih
terlihat. Dimana pada relung-relung dinding
cadas yang disekitar pemukiman, diletakan
tengkorak leluhur yang telah meninggal.
Praktek penguburan dengan meletakan
si mati di alam terbuka juga ditemukan di
Kepulauan Kei. Di sini, jenasah diletakan di
dalam relung-relung dinding cadas dan gua
sebagaimana ditemukan di situs Dudumahan,
di Desa Ohoidertawun. Himpunan kerangka
dan fragmen tengkorak ditemukan bersama
dengan fragmen gerabah, logam dan keramik
asing yang agaknya digunakan sebagai bekal
kubur. Tidak ditemukan indikasi pencuplikan
bagian-bagian tubuh tertentu dari jasad si mati
sebagaimana yang ditemukan di Kepulauan
Tanimbar. Praktek penguburan ini berasosiasi
dalam satu lingkungan situs dengan sebaran
lebih dari dua ratus motif lukisan cadas yang
diterakan sepanjang dinding cadas di bibir
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru, Marlon Ririmasse
pantai.
Hasil pengamatan di situs penguburan
desa Sila Bata-Bata menunjukan fenomena
serupa. Jasad si mati diletakan di atas lantai
dinding gamping bersama dengan aneka bekal
kubur. Himpunan tengkorak dan kerangka
orang dewasa dan anak-anak ditemukan
bersama dengan bekal kubur mulai dari
gerabah lokal, keramik asing, artefak logam,
manik-manik, koin mata uang asing, Terdapat
juga beberapa gelang kerang. Temuan
yang paling penting agaknya diwakili oleh
keberadaan fragmen bangkai perahu yang
agaknya digunakan sebagai perahu arwah
(boat coffin) bagi si mati. Informasi yang
diberikan oleh penduduk menyebutkan bahwa
dahulu, lebih banyak lagi bangkai perahu
arwah serupa yang terdapat di situs ini.
Model penguburan dengan
menggunakan wadah perahu kiranya bukan
merupakan halasing dalam profil sejarah
budaya di Kepulauan Asia Tenggara. Di
Situs-situs arkeologi di Asia Tenggara
Daratan seperti di Vietnam, telah ditemukan
penguburan dengan menggunakan wadah
perahu. Fenomena serupa juga ditemukandi
Vietnam (Bellwood et.al, 2006). Data
Etnohistori juga mneyebutkan mengenai
fenomena serupa di kepulauan Maluku
Tenggara sebagai ditemukan di Kepulauan
Tanimbar. Meski demikian rekam studi
arkeologis yang dilakukan oleh Balai
Arkeologi Ambon belum pernah menemukan
adanya jasad perahu yang dimanfaatkan
sebagai wahana penguburan. Temuan di
Sila Bata-bata adalah temuan jasad perahu
pertama yang ditemukan oleh Balai Arkeologi
Ambon di Kepulauan Maluku.
Aplikasi perahu sebagai wahana
penguburan bagi individu yang meninggal
kiranya terkait erat dengan hakekat perahu
sebagai simbol dalam struktur budaya
masyarakat di Kepulauan Asia Tenggara
(Ririmasse, 2008, 2010b; 2011b). Fenomena
ini ditemukan secara luas dalam rekam
sejarah budaya kawasan ini. Bahkan hingga
saat ini aplikasi perahu sebagai simbol
merupakan bagian yang masih lestari dalam
71
profil budaya berbagai komunitas tradisional
di Asia Tenggara. Perahu dipandang memiliki
nilai filosofis yang kemudian diadopsi sebagai
inspirasi bagi kosmologi tradisional. Perahu
dan tata pelayarannya juga diadopsi sebagai
sumber bagi model struktur sosial tradisional.
Dimana peran para pemimpin adat direka
sedemikian rupa sehingga dipandang setara
dengan peran-peran spesifik pada sebuah
perahu.
Nilai religi melekat dengan ragam
kepercayaan yang mengaitkan perahu sebagai
wahana menuju dunia orang mati. Umum
dikenal pada masyarakat kepulauan di Asia
Tenggara bahwa dunia sesudah mati terletak
di seberang kaki langit. Di pulau jauh yang
melewati batas-batas transedental. Perahu
kemudian digunakan sebagai wahana untuk
mengantar si mati menuju dunia baru dan
tempat peristirahatannya yang terakhir.
Sebagai masyarakat yang mendiami
wilayah kepulauan, penduduk Aru juga
akrab dengan tema-tema perahu sebagai
simbol. Perahu tidak hanya dipandang semata
sebagai wahana bagi si mati dalam aktivitas
penguburan. Namun perahu juga , sebagaimana
ditemukan di wilayah lain, digunakan sebagai
sumber bagi konstruksi sistem tata-sosial.
Masyarakat tradisional di Kepulauan Aru
umumnya juga mengenal model tata-sosial
yang mengacu pada perahu sebagai simbol.
Masyarakat dan pemukimannya dipandang
sebagai sebuah perahu dengan segala
kompleksitasnya. Para tetua adat dianggap
memiliki peran yang serupa dengan fungsifungsi spesifik di sebuah perahu. Anggota
keluarga dan masyarakat lain merupakan
para penumpang. Kehidupan bersama sebagai
sebuah komunitas, dipandang setara dengan
pelayaran sebuah perahu,dimana keberhasilan
mencapai tujuan bergantung pada harmonisasi
ragam fungsi di dalam sebuah perahu.
Eksistensi penguburan terbuka dan
bangkai perahu arwah ini kiranya layak untuk
kelak ditinjau lebih jauh. Identifikasi atas situs
sejenis dapat dilakukan dengan meluaskan
survey dan pengamatan lebih ke selatan dan
timur Kepulauan Aru. Rekam atas situs-situs
72
khas ini dapat memberi gambaran yang lebih
jelas terkait praktek-praktek penguburan
tradisional di wilayah ini. Demikian halnya
upaya untuk menemukan jejak material
lain perahu arwah, akan mempertegas
eksplanasi aplikasi perahu sebagai simbol
dalam konsturksi sejarah budaya Kepulauan
Maluku Tenggara. Pemahaman atas kedua
fenomena khas ini akan memberi pengetahuan
yang lebih mendalam terkait dinamika sosial
masa lalu di Kepulauan Aru.
PENUTUP
Kepulauan Aru merupakan salah satu
kawasan penting dalam studiarkeologi di
Maluku. Geografi Kepulauan Aru yang berada
pada kawasan tapal batas Asia-Australia
memberi nilai penting bagi studi sejarah
budaya di kawasan ini. Fakta paleogeografi
sebagai bagian dari perluasan Papua-Australia
di masa lalu, sebagaimana dicirikan dengan
kedekatan profil flora dan fauna, merupakan
indikator utama bagi potensi Aru dalam studi
arkeologi kawasan.
Pulau Kobror merupakan salah satu
pulau utama dalam gugus Kepulauan Aru.
Pulau ini juga pernah menjadi lokus penelitian
bagi naturalis legendaris Alfred Russel
Wallace. Rekam penelitian Wallace seabad
silam, bersama beberapa hasil penelitian
yang lebih kini, menjadi dasar bagi Balai
Arkeologi Ambon untuk melakukan survei
awal, mengamati potensi arkeologis dan
sejarah budaya di wilayah ini.
Penelitian kali ini berhasil
mengidentifikasi beberapa situs yang
mewakili gambar besar sejarah budaya di
Pulau Kobror dan Kepulauan Aru meliputi:
Situs Lukisan Cadas di Gua Lisa Ibam dan
Situs Penguburan Terbuka di Sila BataBata. Di Lisa Ibam, teridentifikasi lebih
dari tigapuluh motif lukisan cadas, yang
diterakan dengan teknik gores. Motif yang
ditampilkan bervariasi antara lain motif
geometrik, vulva, bintang, antromorfik
dan bagian tubuh hingga zoomorfik. Hasil
pengamatan menunjukan Lisa Ibam potensial
untuk ditinjau lebih jauh, dengan rekam
Kapata Arkeologi Volume 9 Nomor 2, November 2013: 59-74
data yang lebih detail dan ekskavasi untuk
rekam kronologis. Penguburan terbuka di
Sila Bata-Bata mencerminkan praktekpraktek tradisi setempat yang mewakili
kompleksitas dinamika sosial masa lalu
di Kepulauan Aru. Salah satu aspek yang
terekam adalah eksistensi bangkai perahu
arwah yang digunakan sebagai wahana bagi
mereka yang mati. Keberadaan fenomena ini
mempertegas aplikasi tema perahu sebagai
simbol yang umum dikenal di Kepulauan
Maluku Tenggara.
Hasil penelitian ini merupakan cermin
bahwa wilayah pedalaman Kobror dan
pulau-pulau lain di selatan Aru layak untuk
ditinjau lebih jauh dalam studi arkeologis.
Rekam data arkeologis di Kobror kiranya
baru merupakan sebagian kecil gambar dari
profil kompleks sejarah budaya di Kepulauan
Aru. Pengamatan ke depan dapat difokuskan
pada wilayah-wilayah pemukiman tradisional
terutama kawasan yang terletak di sepanjang
selat-selat kecil yang membelah kepulauan
Aru beserta segenap potensi sejarah budaya
di dalamnya.
*****
DAFTAR PUSTAKA
Andaya, L. 1993a. Centers and peripheries
in Maluku. Cakalele: Maluku Studies
Research Journal 4:1–21.
Andaya, L. 1993b. The World of Maluku: Eastern
Indonesia in the Early Modern Period.
Honolulu: University of Hawai’I Press.
van Balgooy, M.M.J. 1996. Vegetation sketch of
the Aru Islands. In H.P. Nooteboom (ed.),
The Aru Archipelago: Plants, Animals,
People and Conservation, pp. 1–14.
Amsterdam: Nederlandse Commissie
Voor InternationaleNatuurbescherming.
Mededelingan 30.
Ballard, C. 1988. Dudumahan: a rock art
site on Kai Kecil, southeast
Moluccas. Bulletin of the Indo-Pacific
PrehistoryAssociation8:139–61.
Arkeologi Pulau Kobror Kepulauan Aru, Marlon Ririmasse
Bellwood, P. 1997. Prehistory of the IndoMalaysian Archipelago. 2nd Edition.
Honolulu: University of Hawaii Press.
De Jonge, N and van Dijk, T. 1995. Forgotten
Islands of Indonesia: The Art and Culture
of the Southeast Mollucas. Singapore:
Periplus.
Healey, C. 1995. Traps and trapping in the Aru
Islands. Cakalele: Maluku Research
Journal 6:51–65.
Hidayat, H. 1998. Forest management by the
local peoples in Aru District, southeast
Maluku, in A Step Toward Forest
Conservation Strategy(1) — Interim
Report. Unpublished report to IGES,
Forest Conservation Project. URL: http://
www.iges.or.jp/en/fc/phase1/ir98-3-9.
PDF
O’Connor, S., M. Spriggs, and P. Veth. 2002.
Excavation at Lene Hara cave establishes
occupation in East Timor at least 30,000
to 35,000 years ago. Antiquity 76:45–50
O’Connor, S., M. Spriggs, and P. Veth. 2005. The
Archaeology of the Aru Islands, Eastern
Indonesia. The Australian National
University.
Ririmasse, M. 2005. Jejak dan Prospek Penelitian
Arkeologi di Maluku. Dalam Kapata
Arkeologi Volume 1 No. 1. Ambon: Balai
Arkeologi Ambon. pp. 35-55
Ririmasse, M. 2007. Ruang Sebagai Wahana
Makna: Aspek Simbolik dalam Rekayasa
Pemukiman Kuna di Maluku. Dalam
Kapata Arkeologi Vol. 3 No. 6. Ambon:
Balai Arkeologi Ambon. pp.84.110
Ririmasse, M. 2008. Visualisasi tema perahu
dalam rekayasa situs arkeologi di
Maluku. Dalam Naditira Widya Volume
2 No. 1. Banjarmasin: Balai Arkeologi
Banjarmasin. pp. 142-157
Ririmasse, M. 2010a. Arkeologi Pulau-Pulau
Terdepan di Maluku: Sebuah Tinjauan
Awal. Dalam Kapata Arkeologi Vol. 6
No. 10. Ambon: Balai Arkeologi Ambon.
pp. 71-89
Ririmasse, M. 2010b. Boat Symbolism and
Identity in the Insular Southeast Asia: A
Case Study from the Southeast Moluccas.
M.A Thesis. Leiden: Rijkuniversiteit
Leiden. Unpublished
73
Ririmasse, M. 2011a. Arkeologi Kawasan Tapal
Batas: Koneksitas Kepulauan Maluku dan
Papua. Papua Vol. 3 No.1 Jayapura: Balai
Arkeologi Jayapura. pp. 23-38.
Ririmasse, M. 2011b. Laut untuk Semua.
Makalah disampaikan dalam
Evaluasi Hasil Penelitian Arkeologi
2011,Banjarmasin.
Spriggs, M., P. Veth, and S. O’Connor. 1998. In
the footsteps of Wallace: the first two
seasons of archaeological research in the
Aru Islands, Maluku. Cakalele: Maluku
Studies Research Journal9(2):63–80.
Spyer, P. 2000. The Memory of Trade: Modernity’s
Entanglements on an Eastern Indonesian
Island.Durham and London:Duke
University Press.
Swadling, P. 1996. Plumes From Paradise:
Trade Cycles in Outer Southeast Asia
and Their Impact on New Guinea and
Nearby Islands Until 1920.Port Moresby:
Papua New Guinean National Museum
in association with RobertBrown and
Associates (Queensland).
Wallace, A.R. 1857. On the natural history of
the Aru Islands. Annals and Magazine
of Natural History(Series 2) 20:473–85.
InternationaleNatuurbescherming.
Mededelingan 30.
STRATEGI SUBSISTENSI DAN PEMILIHAN LOKASI HUNIAN PRASEJARAH
DI SITUS YOMOKHO, SENTANI
The Subsistence Strategy and Prehistoric Settlement Location
Consideration at Yomokho, Sentani
Hari Suroto
Balai Arkeologi Jayapura
Jl. Isele, Waena Kampung 99358
[email protected]
Naskah diterima: 27-05-2013; direvisi: 10-08-2013; disetujui: 06-09-2013
Abstract
The research in the Sentani was concucted in the Yomokho site to understand the
strategy of human occupation and subsistence. Reconesaince survey and excavation
was adopted in this research. Focus group discussion was also adopted in this
research to test the most adoptable heritage socialication for the school students.
Pottery is the main artifacts found in this research. The analysis also found that the
past communities in the Yomokho site lived the traditional house. The main factor to
consider this site as the place to live in the past was based on the location that nearby
the lake and sago forest.
Keywords: Yomokho Site, Settlement, Subsistence
Abstrak
Penelitian di Kawasan Danau Sentani dilakukan di Situs Yomokho untuk mengetahui
strategi pemilihan tempat tinggal manusia pendukung budaya Situs Yomokho, dan
pola subsistensi. Untuk itu dalam penelitian ini dilakukan survei permukaan tanah
dan ekskavasi. Hasil ekskavasi di Situs Yomokho diperoleh temuan berupa fragmen
gerabah polos maupun hias. Berdasarkan analisis data diketahui bahwa fragmen
gerabah hanya ditemukan di lapisan tanah bagian atas yang berwarna hitam. Kondisi
Bukit Yomokho berupa lereng bukit yang miring. Diasumsikan manusia pendukung
Situs Yomokho tinggal di rumah panggung, tidak semua bagian bukit dipilih untuk
mendirikan tempat tinggal, tetapi disesuaikan dengan kondisi lereng bukit dan kondisi
tanah. Pemilihan Situs Yomokho sebagai hunian masa lalu didasarkan pada lokasinya
yang dekat dengan danau dan didukung oleh keberadaan hutan sagu.
Kata kunci: Situs Yomokho, Hunian, Subsistensi
PENDAHULUAN
Danau Sentani terletak di Kabupaten
Jayapura, Papua. Letak posisi geografis 20 33’
– 20 41’ LS dan 100 38’ BT. Merupakan danau
vulkanik, diantara pegunungan Cycloop.
Danau Sentani memiliki luas 9.360 ha, dengan
kedalaman rata-rata 24,5 m. Perkampungan
penduduk tersebar di tepi danau dan pulaupulau kecil di tengah danau.
Berdasarkan cerita rakyat Sentani,
74
Kapata Arkeologi Volume 9 Nomor 2, November 2013: 59-74
menyatakan bahwa nenek moyang mereka
berasal dari Papua New Guinea yang
bermigrasi untuk mencari wilayah baru.
Terdapat tiga tempat di wilayah Sentani
sebagai kampung tua atau kampung awal
yang ditempati leluhur mereka sebelum
menyebar lebih luas yaitu:
1. Bukit Yomokho, dalam perkembangannya
kemudian mereka pindah ke Pulau Ohei
(Kampung Asei), Ayopo Kecil, Waena,
Strategi Subsistensi dan Pemilihan Lokasi Hunian Prasejarah di Situs ....., Hari Suroto
75
Fly UP