...

Document

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

Document
BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Definisi Pemasaran
Pemasaran
berurusan
dengan
pengidentifikasian
dan
pemenuhan
kebutuhan manusia dan kebutuhan sosial. Pemasaran merupakan ujung tombak
Perusahaan dalam mempertahankan hidupnya dan bagi pertumbuhannya. Adapun
pengertian Pemasaran dari beberapa ahli adalah sebagai berikut:
Definisi Pemasaran menurut Kotler dan Amstrong (2006:6) adalah: Pemasaran
adalah suatu proses sosial dan manajerial dimana pribadi atau organisasi
memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan dan
pertukaran nilai dengan yang lain.
Sedangkan pengertian Pemasaran lainnya yang dikemukakan oleh Stanton
dalam Mursid (2010:26) Pemasaran adalah keseluruhan system yang berhubungan
dengan kegiatan-kegiatan usaha, yang bertujuan merencanakan, menentukan
harga, hingga mempromosikan, hingga mendistribusikan barang-barang atau jasa
yang akan memuaskan kebutuhan pembeli, baik yang actual maupun yang
potensial.
Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa Pemasaran
sebagai Ilmu dan Seni untuk memilih pasar sasaran serta mendapatkan, menjaga,
dan menambah jumlah pelanggan melalui penciptaan, penyerahan, dan
pengkomunikasian nilai pelanggan yang unggul. Pemasaran bukan hanya tugas
dari departemen pemasaran saja, tetapi merupakan orientasi dari perusahaan
11
12
secara keseluruhan. Oleh Karena itu, selain adanya kerjasama dari fungsi
pemasaran itu sendiri, pemasaran juga harus dirangkul oleh departemen
departemen lain, mereka juga harus “Memikirkan” pelanggan. Sehingga
organisasi harus melatih dan memotivasi karyawannya untuk bekerja bagi
Pelanggan. Melalui Pemasaran yang terintegrasi, maka akan tercipta suatu laba
melalui kepuasan pelanggan dan organisasi akan mendapatkan pelanggan yang
loyal. Hal ini tentunya tidak hanya menguntungkan bagi perusahaan dalam jangka
pendek saja, tetapi juga dalam jangka panjang.
Definisi manajemen pemasaran menurut Kotler (2009:5) ialah sebagai seni
serta ilmu dalam memilih target market dan mendapatkan, mempertahankan,
maupun
memperbanyak
jumlah
pelanggan
dengan
cara
menciptakan,
menyampaikan, dan mengkomunikasikan nilai yang unggul kepada pelanggan.
2.2 Retailling atau Bisnis Eceran dan Bauran Pemasaran (Ritail Mix)
Definisi Retailling atau Bisnis Eceran
Pengertian retail menurut Hendri Ma’ruf (2006:7) yaitu, “kegiatan usaha
menjual barang atau jasa kepada perorangan untuk keperluan diri sendiri,
keluarga, atau rumah tangga”. Hendri Ma’ruf (2006:7) menambahkan bahwa
“Mereka menjual barang (atau jasa) langsung kepada konsumen”. Bisnis eceran
(retail) adalah penjualan produk dan jasa kepada konsumen akhir, tetapi tidak
jarang dijumpai konsumen pada bisnis retail menjual kembali produk yang dibeli
untuk mendapatkan keuntungan.
13
Sedangkan menurut Tjiptono (2008:191) Retailling merupakan semua
kegiatan penjualan barang dan jasa seacra langsung kepada konsumen akhir untuk
pemakaian pribadi dan rumah tangga , bukan untuk keperluan bisnis.
Dari pengertian diatas, dapat dikemukakan bahwa retailing merupakan
jenis saluran distribusi dimana retailer secara langsung menyalurkan barang dan
jasa kepada konsumen untuk penggunaan pribadi.
2.3 Jenis- Jenis Retailling
Meyer sebagaimana dikutip oleh Tjiptono (2008:192) mengklasifikasikan
jenis- jenis retailing sebagai berikut:
1. Berdasarkan tipe kepemilikan
a. Independen Retail Firm
Yaitu suatu outlet pengecer yang dimiliki dan dioperasikan secara
indepedenden dan tanpa afiliasi (penggabungan).
b. Franchising (Waralaba)
Yaitu suatu sistem pemasaran atau distribusi barang dan jasa, dimana
sebuah Franchisor (Perusahaan induk) memberikan kepada Franchisee
(Individu atau perusahaan lain ) yang berskala kecil atau menengah, hakhak istimewa untuk melakukan suatu sistem usaha tertentu dengan cara
yang sudah ditentukan, selama waktu tertentu, dan ditempat tertentu pula.
14
2. Berdasarkan produk atau jasa yang dijual
a. Service Retailling
1) Rented- Goods Service
Dalam jenis ini, pelanggan menyewa dan mempergunakan produkproduk tertentu.
2) Owns- Goods Service
Pada jenis ini, barang- barang yang dimiliki konsumen direparasi,
ditingkatkan, dikembangkan untuk kerjanya, atau dipelihara. OwnedGoods Service juga mencakup perubahan bentuk pada produk yang kelak
dimiliki oleh pelanggan.
b. Product Retailling
1) Department Store (Toko Serba Ada)
Departemen Perdagangan Amerika Serikat mendefinisikan Departemen
Store sebagai suatu perusahaan yang memperkerjakan paling sedikit 25
orang dan memiliki penjualan pakaian dan peralatan rumah tangga
sejumlah 25% atau lebih dari penjualan totalnya
2) Specialty Stores
Ciri khas dari specilty stores adalah konsentrasinya pada jenis barang
dagangan yang terbatas.
3) Catalog Showroom
Cataog Showroom menawarkan harga rendah, merk nasional, dan daerah
perbelanjaan yang kecil yang berdekatan dengan display (tempat
pajangan) ecerannya.
15
4) Food and Drug Retailler
Ada tiga jenis utama Food and Drug Retailler, yaitu Supermarket (Pasar
Swalayan) and Superdrug Store, Convenience Store ,dan Combination
Store. Pasar Swalayan dan superdrug store adalah toko- toko besar yang
menjual makanan atau obat- obatan dalam jumlah besar dengan harga
yang rendah. Convenience Store adalah toko swalayan mini, yang
menjual barang kebutuhan sehari- hari dan berlokasi disekitar
pemukiman penduduk, dan biasanya buka dua puluh empat jam.
Combination Store lebih besar daripada pasar swalayan konvensional
maupun superdrug store, tetapi serupa dalam hal penetapan harga dan
praktek- praktek operasinya
3. Non- Store Retailling
Non- Store Retailling menjual produk dan jasa dengan menggunakan
metode- metode seperti direct selling, vending machines, mail- order retailing,
dan tehnik- tehnik elektronik.
a. Telephone and Media Retaillers
Dalam
kategori
ini,
pengecer
menggunakan
via
telepon
(Telemarketing) dan media periklanan seperti TV, radio, surat kabar, dan
majalah untuk menginformasikan dan membujuk konsumen untuk membeli
produk- produknya.
b. Vending Machines
Mesin ini banyak dijumpai dibank, pasar swalayan, hotel- hotel dan
kantor- kantor tertentu.
16
c. Mail order
Dalam metode ini, penjualan dilakukan melalui pemesanan dengan
menggunakan catalog- catalog tertentu via pos.
d. Direct Selling
Direct Selling merupakan penjualan barang- barang konsumsi
langsung ke perorangan, dirumah- rumah maupun ditempat kerja mereka,
melalui transaksi- transaksi yang diawali dan diselesaikan oleh tenaga
penjualnya.
e. Electronic Shopping
Ada dua bentuk electronic shopping. Bentuk pertama menggunakan
videotext, yaitu sistem dua arah, dimana perangkat TV pelanggan dan bank
data computer dihubungkan dengan kabel atau jalur telepon. Pelayanan
videotext berisikan catalog computer tentang produk yang ditawarkan
produsen, pengecer, bank, dan organisasi perjalanan. Konsumen dapat
menggunakan perangkat TV biasa yang dilengkapi keyboard khusus yang
dihubungkan
dengan
kabel
sistem
zarah.
Bentuk
kedua
adalah
memanfaatkan jaringan internet (Cybermarketing) dengan seperangkat
peralatan computer personal (PC) dan modem.
4. Retailling berdasarkan strategi penetapan harga
Untuk merek barang yang sama, harga yang ditetapkan dapat berbeda
antara retailer yang satu dengan yang lain. Ada pengecer yang menawarkan
harga tinggi, karena mereka juga menawarkan pelayanan tertentu seperti
suasana toko yang menarik dan nyaman. Biasanya department store dan
17
specialty store termasuk dalam kategori ini. Dilain pihak, ada pula retailer
yang menetapkan harga lebih rendah. Yang termasuk dalam kelompok ini
adalah discount store, yaitu toko-toko yang menjual barang-barang yang
dibutuhkan konsumen rumah tangga dengan harga yang serba di diskon.
5. Lokasi
Retailer juga dapat dikelompokan berdasarkan lokasinya, yaitu down
town
central
businessdistricts,
strip
development,
dan
pusat-pusat
pembelanjaan.
2.4 Bauran Ritail (Retail Mix)
Berman dan Evans dalam Foster (2008:51) menyatakan bahwa, Bauran
Ritail adalah kombinasi dari beberapa komponen yang merupakan inti dari sistem
pemasaran perusahaan ritel. Komponen retail mix meliputi: Lokasi toko, Prosedur
operasi, Barang dan Jasa yang ditawarkan, Harga, Suasana Toko, Pelayanan dan
Promosi.
Sedangkan menurut Levy dan Witz dalam jurnal Formas (2008:30)
Retailing mix merupakan suatu kombinasi dari faktor-faktor yang digunakan retail
untuk memuaskan kebutuhan pelanggan dan mempengaruhi keputusan pembelian.
Peran Retailing mix (bauran eceran) sangatlah penting dan berpengaruh
sekali, tanpa adanya Retailing mix yang tepat bagi perusahaan eceran akan
mengalami kesulitan dalam pemasarannya, oleh karena itu ada enam bauran
eceran (Retailing mix) yang benar-benar harus diperhatikan diantaranya: keluasan
dan kedalaman keragaman produk (Product), keputusan penetapan harga dalam
setiap produk (Price), penempatan lokasi yang startegis dalam bersaing (place),
18
memperkenalkan merek dalam benak konsumen (Promotion), suasana atau
atmosfer dalam gerai yang sekiranya menentukan konsumen dalam pengambilan
keputusan membeli atau tidak (Presentation), pelayanan pelanggan dan penjualan
pribadi (Personnel). Lamb dalam whidya utami (2010: 90)
2.4.1 Produk (Product)
Produk-produk
yang
dijual
pengecer
didalam
gerainya
disebut
merchandise. Merchandise ialah salah satu unsur dari bauran pemasaran ritel
(retail marketing mix). Merchandising adalah proses penyediaan barang-barang
yang sesuai dengan bisnis yang dijalani oleh pengecer (produk berbasis makanan,
pakaian, barang kebutuhan rumah tangga, produk umum, dan lain-lain ataupun
kombinasi dari aneka ragam jenis produk) untuk disediakan dalam toko pada
jumlah, waktu, dan harga yang sesuai untuk mencapai sasaran toko atau
perusahaan ritel Hendri Ma’ruf (2006:135)
Sedangkan menurut Widya Utami dalam Deni Nurahman (2007:10),
bahwa produk adalah keseluruhan dari penawaran yang dilakukan secara normal
oleh perusahaan kepada konsumen dalam memberikan pelayanan, letak toko dan
nama barang dagangannya. Konsumen akan memberikan kesan yang baikterhadap
suatu toko apabila toko tersebut dapat menyediakan barang yang dibutuhkan dan
diinginkan oleh konsumen.
Berdasarkan definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa unsur produk
(merchandise) merupakan salah satu faktor penting atau harus diberikan prioritas.
Dimana para pelanggan selalu berharap untuk memenuhi apa yang dibutuhkan
19
dan diinginkannya di setiap toko, kebutuhan dan keinginan pelanggan sangat
beragam dan toko diharapkan dapat memenuhi fungsinya.
Produk terdiri dari beberapa bagian diantaranya ialah:
a. Assortment (Keragaman) Produk
Keragaman produk terdiri atas dua hal yaitu wide/lebar dan deep/dalam.
Wide berarti banyaknya variasi kategori produk yang dijual, sedangkan deep
berarti banyaknya item pilihan dalam masing-masing kategori produk.
b. Brand (Merek)
Merek produk yang dijual di dalam gerai membantu memperkuat nama
gerai dimata konsumen. Merek produk yang mempunyai nilai tinggi dan sudah
dikenal baik di masyarakat akan membantu meningkatkan citra gerai. Orang
akan berpandangan bahwa gerai tersebut menjual barang ”ber-merek” dengan
kualitas yang sudah dikenal masyarakat, sehingga kepercayaan konsumen
terhadap gerai pun meningkat. Dengan kepercayaan tersebut kredibilitas gerai
akan meningkat dan membuat hubungan gerai dengan pelanggan terjalin
semakin baik.
c. Timing dan Alokasi
Persediaan barang di dalam gerai harus disiapkan secara terencana agar
dapat disajikan dengan cepat setiap harinya. Rencana yang disusun berdasarkan
perkiraan penjualan mencakup waktupemesanan, pemilihan pemasok, kategori
produk yang dipesan dari masing-masing pemasok, jumlah masing-masing
kategori dan masing-masing item produk yang dipesan, waktu penerimaan
20
barang dari masing-masing pemasok, tempat penyimpanan barang, cara
penyimpanan barang, dan sebagainya. Ma’ruf (2006:135-153).
2.4.2 Harga (price)
Penetapan harga adalah yang paling krusial dan sulit diantara unsur-unsur
dalam bauran pemasaran ritel (merchandise, promosi, atmosfir dalam gerai, harga,
dan retailservice). Harga adalah satusatunya unsur dalam berbagai unsur bauran
pemasaran ritel itu yang bakal mendatangkan laba bagi peritel. Sedangkan unsurunsur lain dalam bauran pemasaran menghabiskan biaya.
Menurut Ma’ruf dalam Sulistiyawan (2008:40-41) strategi harga dapat
digolongkan pada tiga orientasi yaitu:
a. Orientasi permintaan (demand)
Harga ditetapkan berdasarkan permintaan konsumen, yaitu dengan cara
melihat pada perubahan belanja mereka pada harga-harga yang berbeda
kemudian dipilih harga yang merujuk pada tingkat belanja yang ingin dicapai
peritel.
b. Orientasi biaya
Penetapan harga berdasarkan biaya yang paling banyak dianut oleh
peritel adalah markup pricing. Peritel menetapkan harga dengan cara
menambahkan biaya perolehan produk (harga pokok produk) per unitnya
dengan semua biaya operasional, dan besaran laba yang diinginkan.
c. Orientasi persaingan
Penetapan harga berdasarkan pesaing dilakukan peritel dengan
mengikuti harga yang ditetapkan oleh para pesaing.
21
2.4.3 Lokasi (place)
Salah satu faktor penting dalam mendirikan toko adalah lokasi toko
tersebut. Untuk retailer yang berbasis pada toko, maka harus diputuskan suatu
lokasi umum dan lokasi spesifik. Menurut Lamb, dkk Dalam Sulistiyawan
(2008:41) juga berpendapat serupa bahwa tersedianya transportasi publik, jarak
pertokoan lain, tersedianya tempat atau area parkir, serta keamanan dari lokasi
merupakan variabel-variabel yang membentuk pemilihan lokasi. Lokasi
perusahaan yang tepat akan menentukan:
1. Keunggulan pelayanan dan servis terhadap pelanggan.
2. Menghemat biaya dan akan menurunkan harga jual.
3. Mempunyai keunggulan dalam persaingan.
4. Mudah dalam mendapatkan suplai barang secara continue.
5. Mudah dalam memperluas area bila memerlukan perluasan.
Satu keputusan akhir tentang lokasi yang dihadapi pengecer adalah apakah
mereka akan menjadi freestanding unit (unit yang berdiri sendiri) atau menjadi
penyewa sebuah pusat perbelanjaan atau mall Lamb, dkk. dalam Sulistiyawan
(2008:42) alasan terbesar untuk mengembangkan sebuah unit lokasi yang berdiri
sendiri adalah kemungkinan terlihat baik karena mereka dapat mengembangkan
suatu identitas untuk para pembelanja, selain itu karena pengecer sering merasa
mereka hilang diantara pusatpusat belanja dan mall besar.
22
2.4.4 Promosi (promotion)
Bisnis ritel berkenaan dengan pemasaran barang-barang (atau jasa) yang
dibutuhkan perorangan dan rumah tangga. Pembahasan mengenai orang banyak
berarti berbicara tentang pikiran dan emosi mereka. Dengan demikian, kualitas
perusahaan eceran secara umum akan berpengaruh pada konsumen. Komunikasi
sebagai dasar promosi bertujuan mendorong target market untuk mau menjadi
pembeli atau bahkan menjadi pelanggan setia. Promotion mix merupakan
kombinasi dari beberapa unsur promosi, yang lazimnya adalah iklan, sales
promotion, personalselling, publisitas, dan atmosfer dalam gerai. Iklan dijalankan
melalui media cetak seperti koran dan majalah, media elektronik seperti televisi,
radio, bioskop, internet. Salespromotion dilaksanakan dengan memilih kombinasi
dari beberapa alternatif berikut:
discount, coupon, sampling,premium, bonus
pack, stamps, contest, dan bazaar/tradepromotion. Personal selling adalah upaya
penjualan atau penawaran oleh pramuniaga (salesperson) langsung kepada
konsumen. Publisitas adalah berita, press release, atau lainnya yang mengandung
newsinterest. Penciptaan atmosfer di gerai adalah juga termasuk promotion mix.
Ma’ruf dalam Sulistiyawan (2008:45-46)
Menurut Buchari (2004:179) Promosi adalah sejenis komunikasi yang
memberi penjelasan yang menyakinkan calon konsumen tentang barang dan jasa.
Sedangkan menurut Tjiptono (2008:219) Promosi adalah suatu aktifitas
komunikasi pemasaran yang berusaha menyebarkan informasi, mempengaruhi/
membujuk, dan atau mengingatkan pasar sasaran atas Perusahaan dan produknya
23
agar bisa menerima, membeli, dan loyal pada produk yang ditawarkan Perusahaan
yang bersangkutan.
Ada tiga unsur pokok dalam struktur proses komunikasi pemasaran yaitu ;
1. Pelaku Komunikasi
2. Material Komunikasi
3. Proses Komunikasi
Menurut Kotler dalam Foster (2008:67) Startegi promosi eceran
mempunyai lima perangkat utama yaitu : iklan (advertising), promosi penjualan
(sales promotion), penjualan langsung (direct selling), hubungn masyarakat
(public relation), dan penjualan tatap muka (personal selling). Kombinasi dari
aktivitas tersebut di sebut bauran promosi.
2.4.5 Presentasi (Lay Ouy)
Penampilan toko eceran membantu menentukan citra toko dan
memposisikan toko eceran dalam benak konsumen. Sebagai contoh, sebuah
pengecer yang ingin memposisikan dirinya sebagai toko berskala atas akan
menggunakan penampilan yang mewah dan canggih. Seperti yang dikemukakan
oleh Thoyib dalam Sulistiyawan (2008:46) bahwa atribut-atribut fisik atau
suasana dari sebuah toko serta kawasan sekelilingnya sangat mempengaruhi
persepsi konsumen tentang sebuah retailer. Pengaruh bagian depan toko (eksterior
bangunan) hendaknya tidak diremehkan, karena ini merupakan bagian pertama
dari toko yang dilihat oleh pelanggan. Di dalam toko, penataan serta tampilan,
susunan serta penempatan posisi barang dagangan, warna dinding dan warna
24
lantai, gaya pencahayaan yang digunakan, wewangian, musik, dan rupa personalia
penjualan juga memberikan kontribusi atau sumbangan bagi citra sebuah toko.
2.4.6 Pelayanan (personal)
Retail service (pelayanan eceran) bertujuan memfasilitasi para pembeli
saat mereka berbelanja di gerai. Hal-hal yang dapat memfasilitasi para pembeli
terdiri atas layanan pelanggan, personal selling, layanan transaksi berupa cara
pembayaran yang mudah, layanan keuangan berupa penjualan dengan kredit, dan
fasilitas-fasilitas seperti contoh: toilet, tempat mengganti pakaian bayi, food court,
telepon umum, dan sarana parkir. Ada tiga unsur yang terdapat dalam suatu
barang atau jasa yang dibeli, yaitu unsur inti, unsur tangible, dan unsur augmental
(fasilitas yang mendukung). Dalam diagram berikut ini dijelaskan unsur tersebut.
Ma’ruf dalam Sulistiyawan (2008:42-43)
Menurut Ma’ruf dalam Sulistiyawan (2008:43) ada beberapa jenis
pelayanan diantaranya:
Customer service
1. Pramuniaga dan staf lain (seperti kasir dan SPG/sales promotion girl)
yang terampil dengan cara pelayanan dan kesigapan membantu.
2. Personal shopper, yaitu staf perusahaan ritel yang melayani pembeli
melalui telepon dan menyiapkan barang pesanan yang nantinya tinggal
diambil oleh pelanggan.
a. Terkait fasilitas gerai:
1) Jasa pengantaran (delivery).
2) Gift wrapping.
25
3) Gift certificates (voucher).
4) Jasa pemotongan pakaian jadi (atau perbaikan).
5) Cara pembayaran dengan credit card atau debit card.
6) Fasilitas tempat makan (food corner).
7) Fasilitas kredit.
8) Fasilitas kenyamanan dan keamanan berupa tangga jalan dan
tangga darurat.
9) Fasilitas telepon dan mail orders.
b. Terkait jam operasional toko:
1. Jam buka yang panjang atau buka 24 jam.
c. Fasilitas-fasilitas lain:
1. Ruang/lahan parkir.
2. Gerai laundry.
3. Gerai cuci cetak film.
2.5 Perilaku Konsumen
Menurut Schiffman dan Kanuk dalam Sumarwan (2004:25) Perilaku
konsumen adalah perilaku yang di perlihatkan konsumen dalam mencari,
membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan menghabiskan produk dan jasa yang
mereka harapkan akan memuaskan kebutuhan mereka.
2.6 Keputusan Pembelian
Keputusan pembelian mengenai apa yang dibeli, apakah membeli atau
tidak, kapan membeli, dimana membeli, dan bagaimana cara pembayaranya
26
Sumarwan, (2004:310). Sedangkan keputusan pembelian konsumen adalah proses
yang mengkombinasikan pengetahuan untuk mengevaluasi dua atau lebih perilaku
alternatif dan memilih salah satu diantaranya. Setiadi, (2010:415).
Proses keputusan konsumen merupakan intervensi setara strategi pasar.
Artinya strategi pemasaran perusahaan ditentukan oleh interaksi dengan proses
keputusan konsumen. Faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan konsumen
untuk membeli atau tidak membeli, meliputi faktor eksternal dan internal.
Supranto, (2007:13).
Untuk memahami pembuatan keputusan konsumen, terlebih dahulu harus
dipahami sifat-sifat keterlibatan kosumen dengan produk atau jasa Sutisna,
(2004:11). Memahami tingkat keterlibatan kosumen terhadap produk atau jasa
berarti pemasar berusaha mengidentifikasi hal-hal yang menyebabkan seseorang
merasa terlibat atau tidak dalam pembelian suatu produk atau jasa. Tingkat
keterlibatan konsumen dalam pembelian dipengaruhi stimulus (rangsangan). Oleh
karena itu, biasa dikatakan bahwa ada konsumen yang mempunyai keterlibatan
tinggi dalam pembelian suatu produk atau jasa, dan ada juga konsumen yang
mempunyai keterlibatan yang rendah atas pembelian suatu barang atau jasa.
Pemasar harus mampu mengidentifikasikan hal-hal yang menyebabkan
seseorang merasa terlibat atau tidak terhadap suatu produk. Ada konsumen yang
terlibat tinggi (high involvement) dalam pembelian suatu produk, dan ada juga
yang mempunyai keterlibatan yang rendah (low involvement) atas pembelian
suatu produk.
27
2.7 Hubungan Bauran Eceran (Retailing mix) dengan Keputusan Pembelian
Para pengecer mengembangkan strategi-strategi pemasaran dengan
mempertimbangkan sasaran dan rencana strategi perusahaan secara menyeluruh.
Hal ini merupakan tujuan dari pengecer untuk mencakup lebih banyak orang
datang, penjualan produk tertentu yang lebih tinggi, citra yang lebih berskala
tinggi, atau kesadaran public yang ditingkatkan tentang operasi eceran. Lamb dkk
dalam sulistiyawan (2008:56)
Levy and Kraviz (dalam Mishbakul Munir, 2011:44) menyatakan bahwa
”The retail mixis the combination of factors retailers use to satisfy customer
needs and influence their purchase decisions”. Yang artinya bahwa bauran eceran
merupakan suatu kombinasi dari faktor-faktor yang digunakan retail untuk
memuaskan kebutuhan pelanggan dan mempengaruhi keputusan pembelian.
Pengecer memakai unsur-unsur bauran eceran (Retailing mix) untuk
mencapai tujuan perusahaan berkaitan dengan orientasi perusahaan dan asumsinya
mengenai perilaku konsumen serta bagaimana konsumen membuat keputusan
pembelian.
Dengan demikian strategi yang dapat digunakan oleh pengecer adalah
unsur-unsur bauran eceran (Retailing mix). Dengan memahami perilaku
konsumen serta bagaimana konsumen membuat keputusan pembelian maka
pengkombinasian unsur-unsur bauran eceran (Retailing mix) yang tepat oleh
pengecer diharapkan akan dapat menarik pasar sasaran melalui pembelian oleh
konsumen.
28
2.8 Penelitian Terdahulu
Penelitian yang dilakukan olehM. Misbakhul Munir dengan judul Analisis
pengaruh retailing mix terhadap keputusan pembelian pada Mini Market Permata
di Kecamatan Balapulang. Teknik pengumpulan data yaitu dengan metode
kuesioner.Untuk pengujianinstrumen menggunakan uji Validitas, Reliabilitas, dan
Uji Asumsi Klasik. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan metode
analisis regresi linear berganda karena variabel yang digunakan lebih dari dua
variabel, dengan uji F danuji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel
produk (X1), harga (X2), lokasi (X3), promosi (X4), presentasi (X5), personalia
(X6) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada
mini market Permata di Kecamatan Balapulang (Y). Dari perhitungan uji F
diperoleh Fhitung =24,489 dengan signifikansi sebesar 0,000<0,05. Selain itu
nilai Adjusted R2 sebesar 0,587 yang berarti besarnya pengaruh variabel bebas
terhadap variabel terikat adalah 58,7%. Dan uji t diketahui bahwa secara parsial
produk, harga, lokasi, promosi, presentasi, personalia mempunyai pengaruh secara
signifikan terhadap variable terikat. Variabel yang paling dominan pengaruhnya
secara berurutan adalah variabel produk, personalia, promosi, presentasi, harga,
lokasi.
Penelitian yang dilakukan oleh Arief Rahmat dengan judul Pengaruh
Bauran Eceran (Rital Mix) Terhadap Keputusan Pembelian Pada Konsumen
Carrefour Palembang Square.Teknis analisis data yang digunakan adalah teknik
regresi berganda yang digunakan untuk mencari bentuk pengaruh secara bersamasama maupun sendiri-sendiri antara variabel bebas (X) dan variabel terikat (Y).
29
Untuk uji secara parsial dilakukan uji t (individual test) untuk mengetahui
pengaruh dari tiap-tiap variable bebas terhadap variabel terikat. Uji pengaruh
secara simultan digunakan uji F, untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel
bebas secara bersama-sama terhadap variabel terikat. Adapun untuk menarik
kesimpulan apakah hasil hipotesis ketigadapat dieterima atau ditolak adalah
membandingkan peluang F dengan tarafsignifikansi 5%. Untuk mengetahui
variabel retail mix yang dominan adalah dengan mencari nilai β yang paling besar.
Hasil penelitian ini membuktikan bahwa produk dan presentasi mempunyai
pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian. Sedangkan variable
retail mix yang lainnya yaitu harga, lokasi, pelayanan eceran, dan promosi
tidakmempengaruhi
keputusan
pembelian
pada
Carrefour
Palembang
Square.Penelitian ini juga membuktikan bahwa secara simultan variabel retail
mixmempunyai pengaruh yang signifikan terhadap keputusan pembelian dengan
nilaiF = 10,304, nilai signifikansi 0,00. Variabel presentasi merupakan variabel
yangdominan dalam mempengaruhi keputusan pembelian dengan nilaiβ= 0,314.
Penelitian yang dilakukan oleh Muhammad ikhwan dengan judul Analisis
pengaruh retailing mix terhadap keputusan pembelian pada kunsumen circle-k di
jalan sultan hasnuddin makasar. Teknik pengumpulan data yaitu dengan metode
kuesioner.Untuk pengujianinstrumen menggunakan uji Validitas, Reliabilitas, dan
Uji Asumsi Klasik. Sedangkan untuk teknik analisis data menggunakan metode
analisis regresi linear berganda karena variabel yang digunakan lebih dari dua
variabel, dengan uji F danuji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel
produk (X1), harga (X2), lokasi (X3), promosi (X4), presentasi (X5), personalia
30
(X6) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada
mini market Permata di Kecamatan Balapulang (Y). Dari perhitungan uji F
diperoleh Fhitung = 24,489 dengan signifikansi sebesar 0,000<0,05. Selain itu
nilai Adjusted R2 sebesar 0,401 yang berarti besarnya pengaruh variabel bebas
terhadap variabel terikat adalah 40,1%. Dan uji t diketahui bahwa secara parsial
produk, harga, lokasi, promosi, presentasi, personalia mempunyai pengaruh secara
signifikan terhadap variable terikat. Variabel yang paling dominan pengaruhnya
secara berurutan adalah variabel produk, personalia, promosi, presentasi, harga,
lokasi.
2.9 Bisnis Bauran Ritel (retailing mix) dalam Perspektif Islam
Islam bersikap moderat terhadap pasar atau perdagangan antara dua faham
atau kelompok. Orang bersikap terhadap perdagangan dengan berbagai sikap.
Diantara mereka ada yang mengecam dan ada yang memprotes orang yang
melakukannya dan menganggapnya suatu usaha yang tidak boleh dan serta
memakan harta orang lain dengan cara bathil. Sebagaian dari mereka melihat dari
visi moral. Ia memandangnya sebagai suatu pekerjaan yang tidak luput dari
keserakahan, monopoli, penipuan dan keuntungan diatas kerugian orang lain dari
para produsen dan konsumen. Demikianlah persepsi gereja Eropa pada abad
pertengahan tentang perdagangan. Qardhawi dalam sulistiyawan (2008:287)
Lebih lanjut bahwa Qardhawi dalam sulistiyawan (2008:287) menjelaskan
bahwa sikap Islam dalam persoalan ini seperti sikapnya terhadap persoalan yaitu
sikap pertengahan dan moderat. Tidak ekstrim, tidak meremehkan, tidak
melampaui batas, dan merugikan. Sesungguhnya Islam tidak mengkultuskan
31
kebebasan berdagan seperti penyeru paham individualisme atau liberalism yang
mengkultuskannya. Ia tidak membiarkan para pedagang berbuat semena-mena
untuk menguasai produsen agar dapat menjual untuknya dengan harga yang
paling mahal, seperti perangai orang-orang yang curang. Firman Allah SWT:
Artinya: Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang. (yaitu) orang-orang
yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi.
Dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka
mengurangi. (Al-Muthaffifii: 083 ayat 1-3)
Dan sebagaimana yang disebutkan dalam hadist di bawah ini,
Artinya: Dari Jarir berkata, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda:
barang siapa tidak mendapatkan sifat ramah dia tidak akan mendapatkan
bagian kebaikan. (Ringkasan shahih Muslim: 2004,8:22-S.M.)
Artinya:“Dan telah diharamkan untuk perdagangan khamer (minuman
keras). (HR. Muslim: 2074)
Islam sesungguhnya hanya mengakui “kebebasan yang terkendali”, yaitu
kebebasan yang terikat dengan keadilan dan prinsip-prinsip agama dan moral.
Dengan demikian kita melihat bahwa sesuatu yang paling menonjol, yang
membedakan sistem “sirkulasi”, transaksi atau perdagangan Islam adalah
sejumlah prinsip dan nilai-nilai moral religious dan humanis yang merupakan
unsur pokok untuk membangun pasar islami yang bersih, yang komitmen dengan
norma-norma luhur dan disiplin kepada peraturan Allah SWT, menghalalkan apa
yang dihalalkan-Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya.
32
2.10 Hipotesis
Hipotesis dari penelitian ini adalah :
1. Diduga Produk, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada
konsumen Toserba dan Swalayan Fajri Mart Pekanbru.
2. Diduga Harga, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada
konsumen Toserba dan Swalayan Fajri Mart Pekanbru.
3. Diduga Promosi, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian
pada konsumen Toserba dan Swalayan Fajri Mart Pekanbru.
4. Diduga Lokasi, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada
konsumen Toserba dan Swalayan Fajri Mart Pekanbru.
5. Diduga Presentasi, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian
pada konsumen Toserba dan Swalayan Fajri Mart Pekanbru.
6. Diduga Pelayanan, berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian
pada konsumen Toserba dan Swalayan Fajri Mart Pekanbru
7. Diduga Produk, Harga, Promosi, Lokasi, Persentasi, dan Personalia,
berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian pada konsumen
Toserba dan Swalayan Fajri Mart Pekanbru
2.11 Kerangka Pemikiran
Hipotesis tersebut didukung dengan adanya kerangka berfikir dan diduga
terdapat hubungan yang positif antara Variabel Bauran Ritail (Ritail Mix)
terhadap keputusan pembelian pada konsumen Toserba dan Swalayan Fajri Mart
Pekanbaru.
33
Gambar 2.1 Bagan Kerangka Pemikiran
Produk X 1
Harga X 2
Promosi X 3
Keputusan Pembelian
(Y)
Lokasi X 4
Presentasi X 5
Pelayanan X 6
2.12 Operasional Variabel Penelitian
Untuk menjawab hipotesis yang penulis kemukakan diatas, maka variablevariabel yang digunakan sebagai berikut:
a. Variabel terikat (dependent variabel)
Keputusan pembelian (Y)
b. Variabel bebas (indevendent variabel)
1. Produk (X1)
2. Harga (X2)
3. Promosi (X3)
4. Lokasi(X4)
5. Presentasi (X5)
6. Personal (X6)
34
Tabel 2.1 Operasional Variabel
No
Variabel
Defenisi
Indikator
1. Keputusan
Pembelian(Y)
Proses
perintegrasian
yang mengkombinasikan
pengetahuan
untuk
mengevaluasi dua atau
lebih perilaku alternative
dan memilih salah satu
diantaranya.
(Setiadi,
2010:415)
2. Produk (X1)
Produk adalah barang
yang ditawarkan atau
dijual di gerai swalayan,
Ma’aruf (2006:135)
3. Price(X2)
Adalah
jumlah
dari
seluruh nilai yang ditukar
konsumen atas manfaat
manfaat
memilih
/
menggunakan
produk
atau jasa tersebut.
Kepuasan
melakukan
pembelian di toko
Memperoleh informasi toko
dari keluarga,teman atau
orang lain.
Kepuasan terhadap pelayanan
saat melakukan pembelian
Kepuasan terhadap harga
yang diberikan pada setiap
produk
Jenis produk yang ditawarkan
Produk yang di jual selalu
tersedia
Jenis merek yang berbeda
pada setiap produk
Perbedaan harga yang cukup
kompetitif di bandingkan
pesaing
Harga produk sesuai yang
diharapkan
Harga sesuai kualitaas produk
4. Lokasi (X3)
Lokasi adalah tempat
atau letak gerai dimana
produk
yang
ditawarkantersebut
berada.
Lamb
dkk
(2004:101).
Promosi
ialah
komunikasi
yang
dilakukan oleh swalayan
kepadakonsumen untuk
menawarkan
produk
yang
dijual
dalam
gerainya. Ma’ruf
(2006:179)
Presentasi
berarti
atmosfer dan ambience
yang
tercipta
dari
gabunganunsur-unsur
desain
toko/gerai,
perencanaan
toko,
komunikasi
visual,
danmerchandising.
Ma’ruf (2006:201).
5. Promosi (X4)
6. Presentasi
(X5)
Sarana tempat parkir yang
memadai
Lokasi
keamanan
yang
terjamin Lokasi yang mudah
di jangkau
Melakukan promosi lewat
media periklanan
Adanya
program
undian/kupon berhadiah
Adanya harga khusus pada
waktu
tertentu
seperti
lebaran,natal,
Penempatan barang mudah
dicari
Sirkulasi dalam toko yang
memudahkan bergerak
Atmosfer yang membuat
betah berlama-lama (tata
warna, music,pencahayan)
Eksterior toko menarik
35
No
Variabel
7. Personal (X6)
Defenisi
Indikator
Personalia dan pelayanan
konsumen ialah orangorang
yang
terlibat
langsung
dalam
penjualan eceran dan
fasilitas yang diberikan
oleh
geraiuntuk
memudahkan konsumen
dalam berbelanja. Lamb
dkk (2003:110).
Pelayanan yang diberikan
pramuniaga cekatan
Proses pelayanan di kasir
yang cepat.
Jam buka-tutup operasional
toko
Fly UP