...

Jakarta, 11 Januari 2010

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Jakarta, 11 Januari 2010
Jakarta, 23 November 2015
2015 Year of The Great Rotation
Mungkin ada investor yang menanyakan mengapa berbagai stimulus yang digelar pemerintah seolah tidak
mampu memperkuat rupiah, harga saham dan obligasi? Paling tidak ke posisi akhir tahun. Apa yang
sesungguhnya terjadi selama tahun 2015 ini?
Saat ini kami sedang menyiapkan Catatan Akhir Tahun 2015 yang memuat evaluasi terhadap lingkungan
ekonomi makroekonomi dan strategi investasi tahun ini. Selain itu tentunya, kami sampaikan proyeksi
makroekonomi dan strategi investasi untuk tahun depan. Kami harap menjadi dokumentasi yang terpadu
sebagai acuan berinvetasi.
Melalui Catatan Akhir Tahun
sebelumnya, kami menjuluki 2014
sebagai “The Year of Crowding-out
Effect” dimana dinamika politik dan
ekonomi dalam negeri lebih ‘bunyi”
mempengaruhi pasar modal dan
nilai tukar. Suku bunga domestik
naik ditengah penurunan suku
bunga
internasional.
Cermati
peraga dimana suku bunga
deposito
domestik
berwarna
merah. Biru berbintik untuk suku
bunga internasional (LIBOR).
Namun, seperti terlihat pada peraga, hal yang berbeda terjadi tahun ini. Suku bunga internasional yang malah
bergerak naik, sementara suku bunga domestik cenderung menurun. Apa terjadi?
Bila suku bunga dihayati sebagai harga dari likuiditas, maka dapat dimengerti bahwa terjadi kelebihan
permintaan untuk valuta asing. Ada semacam kekurangan likuiditas yang banyak diperebutkan. Hal ini
disebabkan oleh rotasi arus modal asing yang keluar dari negara berkembang menuju negara maju. Dalam
istilah populer, “dollar pulang kampung”.
Itu sebabnya kami lebih condong menjuluki 2015 sebagai “The Year of The Great Rotation”. Sebab pertama
kali dalam 27 tahun terakhir, arus modal asing keluar dari negara berkembang. Laporan JP Morgan yang
mengutip informasi dari lembaga EPFR Global menaksir sepanjang tahun berjalan ketika publikasi ini disiapkan
equity capital outflow itu mencapai $50 milyar dollar. Angka capital outflows dari negara berkembang ini
melesat dibanding tahun 2013 dan 2014 yang masing-masing berkisar $18 milyar dollar.
Lalu kemana dana tersebut mengalir? Nampaknya hijrah kembali menuju negara maju. Namun bukan menuju
asset class yang sama yakni equity. Tetapi pindah ke asset class yang less risky seperti menjadi cash atau
1
obligasi negara di negara maju. Itu sebabnya kita mencermati yield obligasi di negara maju cenderung sangat
rendah, bahkan ada yang negatif.
Mengapa bisa terjadi rotasi “akbar” ini? Singkatnya investor asing kehilangan kepercayaan terhadap peluang
pemulihan ekonomi di negara berkembang seperti yang dinikmati selama tiga dekade terakhir. Banyak
penyebab. Pertama, pemulihan ekonomi global ternyata melemah dan tidak berimbang. Dimana Amerika
Serikat tampil sebagai the only bright spot sehingga memicu penguatan dolalr. Negara maju lain seperti Eropa
dan Jepang sedang berjuang mengatasi deflasi.
Itu sebabnya kita melihat pola the Fed akan memimpin pengetatan likuiditas baik secara quantitative maupun
qualitative dengan menaikkan suku bunga. Peluang Fed menaikkan suku bunga pada akhir tahun ini menguat
bila mencermati tingkat upah sudah meningkat sejalan dengan terus membaiknya angka pengangguran.
Peraga dibawah ini menunjukkan rata-rata upah per jam (warna biru berbintik) naik 2,5% dibandingkan tahun
lalu. Angka ini lebih tinggi ketimbang inflasi. Terlihat juga tingkat pengangguran turun menjadi 5%.
Sementara itu bank sentral Jepand dan Eropa kemungkinan melanjutkan kebijakan moneter longgar. Investor
asing kuatir terhadap dampak pengetatan the Fed yang berisiko mengurangi pasokan dana bagi negara
berkembang untuk pembiayaan defisit.
Yang kedua, ada pendapat yang menilai model pertumbuhan ekonomi yang selama ini dianut oleh banyak
negara berkembang sudah usang, malah breakdown. Mereka umumnya mengekspor barang mentah menuju
China yang lalu diolah menjadi barang jadi yang diekspor ke Amerika Serikat, Eropa dan Jepang.
Global economic rebalancing yang terjadi sejak krisis keuangan global 2015 ternyata kurang berpihak kepada
negara berkembang. Becoming less inclusive for emerging economies. China yang beralih dari investmentexport led growth menuju domestic consumption jelas tidak membutuhkan lebih banyak input bahan mentah
dari negara berkembang. Sementara Amerika Serikat, dollar yang secara teoreris cenderung melemah,
mereka ingin jadi eksportir. Pertumbuhan ekonomi AS yang lebih gegas seperti sekarang ternyata tidak
menyebabkan permintaan energi melalui impor yang lebih besar. Malahan dengan revolusi shale-gas, AS
diproyeksikan menjadi negara eksportir energi yang melebihi Saudi Arabia dalam waktu 10 tahun mendatang.
Saya menilai kebijakan yang ditempuh pemerintah sudah baik. APBN kita sudah diarahkan untuk hal yang
lebih produktif. Singkat kata, kita melangkah ke arah yang tepat. Namun tentunya membutuhkan waktu.
Memang kita tidak dapat melawan arus keluar asing yang demikian besar. Kondisi lebih buruk terjadi bila kita
tidak menunjukkan komitmen untuk melakukan reformasi.
2
Market pada dasarnya melihat hal ini bila memperhatikan perkembangan credit default swap (CDS) yang
sering digunakan untuk mengukur sentimen. Silakan cermati peraga dibawah ini yang membandingkan lima
negara.
Saya selalu mengingatkan prinsip “Acuan untuk Cuan”. Sekira investor asing terus menjual SUN sehingga yield
jauh melebih inflasi, malah hal tersebut memberikan kesempatan beli bagi investor domestik. Kenyataan
sebulan ini investor asing tetap meningkatkan kepemilikan dalam SUN. Memang hal yang berbeda pada pasar
saham yang masih menunjukkan outflow. Model real M1 growth kami dibawah ini tetap mengindikasikan
kesempatan masuk bagi investor domestik. Berani?
Salam
Budi Hikmat
Chief Economist and Director for Investor Relation
3
Fly UP