...

Nyoman Mandra, Lukisan Klasik dan Anak

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Nyoman Mandra, Lukisan Klasik dan Anak
'Me ia
Tangga
J{a{aman
pA
•
•
~
Kecuali usia yang bertambah, nyaris tak
ada yang berubah dalam kehidupan
•
I Nyoman Mandra (67).
OLEH PUTU FAJAR ARCANA
•
ore i~, eli anggar Lukis Wayang
Tradlslonal Waswndari yang didirikannya, dengan abar ia melatih
puluhan an~
wayang.
Mandra memmta anak-anak membagi
k~ rtas kuarto menjadi enam bidang. Pada
bldang pertama, ia biasanya menggambar anatomi wayang yang harus ditiru
anak-anak pada bidang-bidang kerta
berikutnya. Begitu te
bcrulang-u1ang.
ederhana
Aktivitas mengajar
tanpa bayaran itu
dilakukan Mandra sejak tahun 1970-an. "Mulanya saya
melatih 10 murid, dan emuajaeli pelukis.
Kini. tetap saya yang m engajar meluki
anak-anak mereka, he-h e-he," tutur
Mandra sembari tertawa keci!. Mandra
bahkan mencari anak-anak yang pada'
masa itu putus sekolah sampai ke
rumah-rumah. Sebagian be ar dari me reka kemuelian tidur di rumah Mandra
"Sampai balai-balai
patah karena
mereka tidur ber ama," katanya
Tak ada kata pensiun bagi seorang
guru
Sesungguhnya misi pengajaran melukis wayang klasik gaya Kamasan ini tidak
yang kita
bayangkan. Lelaki bertubuh kurus ini'
sedang melakukan upaya pewarisan agar
gaya melukis yang konon udah berkembang sejak masa pemerintahan Sri
Aji Dalem Waturenggong eli Gelgel,
Klungkung, tahun 1686. Keturunan dalem adalah satu dinasti yang me mimpin
Bali setelah ditaklukkan Majapahit.
Sepuluh anak yang dilatih Mandra
melukis pernah memp roleh
urnlah
penghargaan tingkat internas ional. Jtulah yang kemudian mendorong GubernUT Bali JB Mantra memberi penghargaan Dharma Kusuma Madya pada ]979.
" aya menolak karcna guru saya, yoman Dogol, blum dapat pcnghargaan.
Saya baru terim:. . wlah Dugol juga
da, . t pcnghargaan Dharma Kusuma penuh," ujar Mandra.
Kini, memang di Banjar
Kamasan, Klungkung, ekitar 40 kilometer ke arah timur Denpasar, telah
tumbuh puluhan bahkan ratusan
yang ebagian besar hasi! didikan yoman Mandra. "Profe i mereka memang
~~cam-ma~. Ada. yang jadi guru, polisl, pegawru negen, tetapi umumnya
tetap melukis," tutur Mandra.
Di sela-sela perbincangan kami, Mandra selalu menyempatkan diri membe ri
contoh membuat garis dasar anatomi
atau ornamen-ornamen yang dibutuhkan dlilam menggamt>ar wayang. Belum
selesru atu anak, anak lain sudah bertanya, "Apa sudah benar gini, Kak," tanya
eorang anak. Maksud panggilan "kak"
adalah "pekak" atau "kakek". Lalu, Mandra dengan sabar memberi petunjuk.
Kacamata tuanya enantiasa seperti melorot
ke batang hidungnya.
. "Eh, inget, ya. Be ok hari
pagi
kita enam," kata Mandra Puluhan anak
itu serempak menjawab, "Ya, Kak." Sebagian dari anak-anak itu kemudian berlari ke
bangunan berbentuk los.
Bocah-bocah u ia 7-12 tahun itu tanpa
banyak kicau lalu memainkan gending di
atas bilall-bilah grunelan. Mereka menabuh ganlelan dengan fasih.
.
"Gamelan itu sumbangan Ibu Edi edyawati
beliau masih jaeli Dirjen
Kebudayaan," ujar Mandra. Jadi, elain
mengajari anak-anak itu meluki , Mandra juga melatih mereka memukul gamelan. "Semua saya sendiri yang mengajari mereka," katanya.
•
•
•
Jvte ia
•
Tangga[ : II -...:1
:Hafaman : r/l.3 .
•
Pola kombina i pengajaran membuat
garis dan enam ia temukan en diri )ewat
pengalamannya membimbing ratusan
calon pelukis. "Senanl 1tu kita foku&kan
pada pernapasan agar m ereka . mengatur n apas saat membtlat garis. tidak
gemetaran, juga dibutuhkan untuk kon" kata guru dan perupa yang dulu
bercita-citajadi polisi ini. Sen am, tambah
Mandra, berguna untuk mempertajam
perasaan, Dalam senam, para murid b:rlatih dengan mata tertutup, lalu belaJru'
membuat garis dan bulatan. "Ujung gabaru sampai ketemu," kata Mandra.
Obsesi apa yang membuat Anda ma ih
tahan bersama anak-anak ampai setua
ini?
Dulu, hampir tidak ada yang peduli
pada gaya melukis klasik Kamasan. Saya
belajar dari dua guru. Pertama, pada
Nyoman Dogol (1875-1963), dan Nengah
Numbreg. Dari Nyoman Dogo), saya bel ~
ajar membuat sketsa, edangkan dar1
Nengah Numbreg belajar memberi warna
Nyoman Dogol dulu ikut sert-a dalam
pembuatan lukisan di langit-langit Kertagosa yang pertama kali dibuat ayahnya,
I Ramug. (Kertagosa adalah sebuah bangunan yang didirikan tahun ~910 dan
dipercaya sebagai gedung pera?ilan. pa~a
masa Bali diperintah oleh dmastl raja
Dalem Kepakisan). Dan, lukisan di Keritulah pertama-tama menjadi pedoman kita untuk belajar seni lukisan
klasik Kruuasan.
Setelah gagal jadi polisi, he-he-he, karena beberapa sebab, saya memu tuskan
melukis terus. Dan, tahun 1970-an mal~
menerima 10 mw-id. Sejak itulah, sem
lukis Kamasan terus diwru'iskan.
Apa yang Anda pikirkan saat luk~sa~
ini hanya digeluti oleh beberapa gelmtlr
orang?
.
Saya hanya t ergerak untuk melu~
saja. Kalau ada yang m au belaJar, 1lakan ....
-
Mengapa pula anak-anak modern ini
masih mau belajar lukisan klasik?
Umumnya mereka diantar orangtua
ke sini. Anak sekarang lebill ulit ngajar-nya karena gangguan televisi. Tetapi,
umurnnya anak KaITIasan tahu bahwa
keterampilan melukis bisa bel'lIlanfaat di
sini. Bisa saja membantu memberi war na
di sanggar-sanggar lukis. dan itu bia anya
diberi upah. (Asal tahu, dalaITI menurunkan ilmunya, Mandra membimbing
. la memberi
anak-anak atu per
contoh garis, lalu anak-anak menirukannya berulang-ulang) .
Banyak juga anak-anak asing yang
belajru' kemrui. Tapi, umumnya dalam
waktu singkat, dua hari sampai seminggu. Dan, mereka mengharapkan sudah
membawa lukisan klasik Kamasan ke
negerinya. Susah....
Karena lema lukisan ini mengambil
kisah-kisah dalam epos besar Mahabharata dan Ramayana, apakah anak-anak
juga harus belajar sastra?
Dulu. saya belajar dari menonton wayang. Sekarang, tidak banyak dalang di
Kamasan. Semen tara mungkin mereka
cukup hanya membuat sketsa tokoh-tokoh wayang, belum SaITIpai kisahnya.
Pada saamya, mereka harus baca sastranya.
Menurut penutW"an Mandra, ayahnya,
r Kepeg, meninggal dunia saat ia berusia
tiga bulan,
ibunya, i Kireg,
menyusul meninggal saat Mandra duduk
•
•
~i(lia
:K
7'angga{ : 11 , :J - r/1..011
J{a{aman
•
di kelas I MP. "Saya akhirnya tingg31
bibi dan bekcrja di sawah. Di
sela-sela kerja
itulah,
belajar
melukis dari Nyoman Dogo!. Hanya
membuat eoretan-eoretan di tanah ...,"
kenang Mandra.
Natural
•
Lukisan Kamasan hampir el31u bersumber dan epos k1asik Mahabharata
dan Ramayana atau kisahd31am
Tanhi dan eerita Panji. Lukisan ini tidak
saja k1asik dari
tema, tetapi juga
warna-warna alami. Untuk warn a putih digunakan tanduk atau
tulang menjangan, bim dad pohon taum,
hitam dan jelaga, kuning dan karang
pere, dan merah dan batuan karang. Alat
p rekatnya dan aneur, kuasnya dibentuk
dan bambu dan erat tebu. Lantaran
menggunakan warna-warna 31ami inilah,
wayang Kamasan terlihat sangat
natur31.
I NYO MAN MANDRA
• Lahir: diperkirakan tahun 1944
• Istri: Ni Nyoman Normi (60)
• Anak-anak:
- Ni Wayan Sri Wedari (35)
- Ni Made Sri Rahayu (33)
- I Nyoman Adi Perbawa (27)
• Pendidikan: SLTP
• Penghargaan:
- Dharma Kusuma Madya dari Provinsi
Bali, 1979
- Dharma Kusuma dari Provinsi Bali
1993
'
- Penghargaan dari Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, 2005
- Penghargaan sebagai peserta pameran KIAS 1990-1991
- Bali Age Award 2003
- Beberapa penghargaan dari kedutaan
aSing, seperti Rusia dan Belgia
-
•
"Tetapi, kini udah banyak yang gunakrul akrilik. Sudah wit meneari pewarna 31ami karena sumber karangnya di
Pulau erangan udah direklamasi," kata
Mruldra. Kini, memang sebagian besar
luki an Krunasrul sudah dibuat dengan
warna-warna akrilik yang mudah didapat
di toko cat dan harganya jau11 lebih
murah daripada bahan pewarna 31ruru.
Sore benar-benar menutup hari menjadi petang. Anak-anak
pamit ejak
setengah jam l31u. Sanggar di mana Mandra mengajar anak-anak melukis tak dipasangi lampu. Ia meminta anak perempuan tertuanya, i Wayan Sri Wedari
(35), yang edang mengaturkan esaji
untuk memasang lanlpu. amun, kami
memutuskrul pindah ke studio melukis
yomrul Mandra, di mana terdapat empat ibu
melukis sejak sore tadi.
tudio ini terJetak di gang yrulg sama,
hanya berjarak ekitar 50 meter dari
Mruldra b rgcga minta diri ebentru·.
"Maafkan, saya harus makan malam.
Kalau terlambat, sakit mag . aya bisa
kambuh," katanya. ejak bcberapa tahun
lerakhir, Mandra memang sara rutin
mendapatkan pcrawalan tli Denpasar karena Rakit mag dan hronkitis.
Sep ninggal Mandra, cmpat percl11-
:Mecfia
Tangga[
J{afaman
:1/,
,
•
•
•
puan, termasuk Ni Nyoman ormi (60),
istrinya, meneruskan pekerjaan mereka
memberi warna
luki an. Sketitu, kata ormi, umumnya dibuat oleh Ni Made ri Rahayu (33), anak
kedua Mandra Lukisan-lukisan yang diperlakukan sebagai cendera mata ini
umumnya dijual antara Rp 200.000 dan
Rp 5 juta Saat malam benar-benar merarnbat, di luar studio yang terbuka itu
mulai terdengar jerit belalang. Karnasan
tua yang epi.
bagai
Tak lama, Mandra muncul membawa
bungkusan. "Coba tolong dibuka ...," ujarnya Itulah alah satu karya I
Rarnug yang ia simpan. Luki an yang
berfungsi bagai penghias sesaji itu berukuran lebih dari 2 meter dengan tema
kiSal1-'
Malat (panji). Lukisan itu
be.rangka tahun 1810. "Pasti tidak akan
saya jua! karena sudah banyak lukisan
Karnasan tua dijual pemiliknya untuk
memperbaiki pUl"a. Sayang... ," tutUl"
Mandra.
Apa, sih yang Anda pikirkan ten tang
anak-anak ini?
Saya mengerjakan semuanya atas
panggilan rohani. Tak apa saya diganggu
seperti tadi daripada saya memikirkan
esok hari akan mati. anti kalau saya tak
ada, biarlah murid-murid pertarna saya
sukareJa
yang meneruskan ini
seperti saya
Anda punya harapan terhadap mereka?
Jangan arnpai kekayaan ini hilang.
Tugas saya hanya mengajarkan dan
pai kini anakcanak itu masih mau belajar.
Dan, ini muatan lokal. Sarna dengan
pandangan, orang Bali pasti bisa menari,
eperti itu. SebeJum saya hilang dari
bumi.
. '
Selain mengajar, Mandra juga tetap
membuat ketsa W1tuk pesanan-pe anan
lukisan interior hotel atau kantor. Ia
bal1kan mengaku sedang mengerjakan
Gubernur Bali I Made
lukisan
l'4angku Pastika serta beberapa hotel.
"Saya hanya ket a saja, nanti pewarnaannya dikerjakan oleh ibu-ibu. Mereka
lebih abar," kata Mandra. Di luar itu,
Mandra juga tetap mengerjakan karya-karya pribadi yang ia sket dan warnai
sendiri dengan pewarna alami. Karya-karya itu di impan da!arn biliknya
tersendiri.
Dua puluh karya lamanya pernah ia
agunkan ke bank, yang diJlargai Rp 10
juta pada tahun 1992. " aya tidak punya
cuma punya luki an. Kebetulan bank bersedia, dan selmuh pinjaman itu saya pakai untuk pengembangan anggar di mana anak-anak belajar melukis sekarang," ujar Mandra.
Akhirnya, atas kebaikan bank, Mandra
hanya mencicil separuh dari nilai pinjamannya. "Jadi, Rp 5 juta saya dibantu
bank," katanya
Luki an-lukisan Mandra sudah dikoJeksi oleh sejumJah kolektor dan museum di dunia. Bal1kan, seorang antropolog asa! Inggris sudah mengoleksi
sekitar 45 lukisannya. "Setiap tahun, dia
datang ke Kamasan dan selalu membeli,"
kata Mandra.
Nyoman Mandra memang bukan sekadar sel1ln1an bagi dirinya sendiri. Ia
hadir ke dunia seQlah membawa misi
"penyelamatan" terhadap pencapaian satu masa dari peradaban bangsa ini. Akan
tetapi, sampai kini, hidupnya tetap sederhana dan etia mewariskan ilmunya
kepada anak-anak....
•
•
:Me ia
: k. .
«anaaar : 11J{afaman:
~,--==------
Fly UP