...

this PDF file - E-Journal Universitas Negeri Malang

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - E-Journal Universitas Negeri Malang
Pendidikan Humaniora untuk
Mengembangkan Wawasan Kemanusiaan
dan Kebangsaan
H. Anwar Saleh Daulay
Abstact: Science and technology have given society many advantages,
despite the fact that they also create certain anxiety. Humanistic education together with religious education could protect society from the
negative effects of science and technology. With humanistic education,
school will produce mature generation as human beings and good
citizens rather than mere robotic workers. More weII 'planned studies
on all aspects of education need to be done to achieve the intended
goal.
Kata kunci: pendidikan humaniora, wawasan kemanusiaan, wawasan
kebangsaan.
Dalam suatu kesempatan di Surabaya, Menteri Pendidikan Nasional mengemukakan bahwa dunia pendidikan selama ini masih kurang memperhatikan masalah pembentukan karakter dan watak (character building)
peserta didik. Akibat persoalan moralitas yang kurang mendapat perhatian
itu, sebagian manusia Indonesia tiba-tiba muncul menjadi pemarah, pendendam, curang, suka membangga-banggakan diri sendiri dan kelompoknya, penuh fitnah, anarkis, provokatif, gila kekuasaan, bahkan biadab,
vulgar, dan menampakkan sejumlah sikap lainnya yang negatif (Depdiknas,
2000:8).
H. Anwar Saleh Daulay adalah dosen Fakultas Tarbiyah lAIN Sumatera
9
Utara, Medan.
10 JURNAL ILMU PENDIDlKAN,
FEBRUARI2002,
JILlD 9, NOMOR 1
Krisis moral dan adab dapat dengan mudah disaksikan melalui media
elektronik dan media cetak. Berita-berita yang dilansir media tersebut
tidak pernah terlepas dari tindak kekerasan yang terjadi di masyarakat
yang dilakukan oleh hampir seluruh tingkat usia, anak-anak, remaja, dewasa, dan orang tua. Pelaku bukan hanya orang-orang yang tidak pernah
"tahu" sekolah, tetapi juga yang sedang dan sudah mengenyam pendidikan
sekolah, tingkat dasar, menengah, menengah atas, dan perguruan tinggi.
Bahkan oleh Mukhtar (2001: 1) dinyatakan bahwa pada 1999/2000 tidak
ada satu universitas lagi yang dapat menyatakan diri bebas dari pengguna
narkotika.
Sebagian pasien ketergantungan obat di Jakarta adalah generasi muda
berusia 15-24 tahun. Jumlah pengidap HIV di Jakarta hingga Januari
2001 sudah mencapai 432 orang dengan 191 sudah berada pada stadium
AIDS dan sebagian penularannya adalah melalui jarum suntik. Peningkatan
pengguna narkotika antara lain disebabkan oleh perubahan gaya hidup,
adanya globalisasi, industrialisasi, dan arus informasi yang mengikis sendisendi religi dan budaya. Ketergantungan terhadap obat-obatan tersebut
menjadi salah satu pokok penyebab melemahnya nilai-nilai moral dan
adab bangsa, karena pengaruh obat-obatan ini memiliki kemampuan mengubah watak si pengguna menjadi pandai bicara, berbohong, dan menodong tanpa merasa diri bersalah.
Sementara itu, tawuran pelajar membawa kerugian material dan menyebabkan jatuhnya korban jiwa di kalangan pelajar dan masyarakat. Hal
ini sudah tergolong sebagai tindak kriminal. Gedung-gedung sekolah seolah-olah sudah berubah fungsinya menjadi basis kejahatan. Bilamana
ditelusuri lebih jauh dapat diterka bahwa hilangnya budi manusia adalah
sebagai sumber utama dari malapetaka tawuran dan narkoba tersebut.
Untuk mencari solusi berbagai fenomena keruntuhan etika kehidupan
bermasyarakat dan bernegara, pendidikan humaniora ditengarai sebagai
suatu dimensi substansial yang harus dihidupkan kembali sebagai sarana
membangun bangsa dan karakternya (nation and character building) (Harahap, 2001 :2). Jika pemecahannya tidak mendapat perhatian serius dari
semua pihak, maka sebenarnya proses kehancuran suatu bangsa sudah
dimulai,
VIS I HUMANIORA
DAN PROBLEM PERADABAN
MODERN
Perenungan masalah-masalah besar yang dihadapi oleh umat manusia
pada masa sekarang ini mempengaruhi kesadaran manusia modern. Pere-
Daulay, Pendidikan Humaniora untuk Mengembangkan
Wawasan Kemanusiaan
11
nungan itu dapat membantu lebih memahami bagaimana masa depan kemanusiaan, apakah masih dapat dipertahankan martabat kemanusiaan itu
atau akan larut dalam arus besar peradaban industri. Peradaban industri
banyak menyimpan misteri. Kuntowijoyo (1991: 159) menyatakan bahwa
di balik kemajuan ilmu dan teknologi (Iptek) dunia modem sesungguhnya
menyimpan potensi yang dapat menghancurkan martabat manusia. Di
satu sisi umat manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata
struktur politik serta membangun peralatan yang maju untuk dirinya sendiri,
tapi di sisi lain pada saat yang sama kita juga melihat bahwa umat manusia
telah menjadi tawanan dari hasil-hasil ciptaannya itu. Manusia sekarang
ini telah berhasil membebaskan diri dari belenggu pemikiran mistis yang
irasional dan belenggu pemikiran hukum alam yang memang mengikat
kebebasan manusia. Namun temyata di dunia modem ini manusia tak
dapat melepaskan diri dari jenis belenggu lain, yaitu pemberhalaan materi
dan dirinya sendiri.
Dengan melihat sejarah kebudayaan manusia, akan terlihat betapa
pemikiran manusia berkembang dari satu ekstrem ke ekstrem lainnya.
Pada abad sebelum masehi, kebudayaan Yunani Romawi mengalami konflik antara filsafat dan sastra. Di zaman Renaissans pada abad 15-16
humanisme menyerang skolastik (Sunarja, 1984:53). Masalah pembahasan
pemikiran ini lebih dipertegas oleh Kuntowijoyo (1991: 160) yang menyatakan bahwa pada zaman pertengahan alam pikiran Barat pada dasamya
adalah alam pikiran mitologis. Berakar pada mitologi Yunani, pada waktu
itu dunia Barat benar-benar terkungkung di dalam paham keagamaan bahwa
seolah-olah Tuhan itu membelenggu manusia. Menurut paham tersebut,
manusia adalah saingan Tuhan (dewa-dewa). Sekalipun ada perlawanan
manusia terhadap dewa, manusia terus kalah dan berada di bawah pengawasan dewa-dewa.
Paham keagamaan seperti itu semakin ditinggalkan ketika muncul
pemikiran bahwa manusia adalah pusat segala sesuatu. Tuhan (Dewa)
dianggap sebagai mitos karena memang sudah dianggap tidak ada. Paham
yang menyatakan manusialah segalanya tersebut muncul karena adanya
rasionalisme, yakni suatu gerakan rasionalis sebagai kebangunan kembali
manusia dari kungkungan mitologi dan dogma-dogma. Lanjutan dari rasionalisme itu menimbulkan revolusi ilmu pengetahuan. Meskipun demikian, revolusi ilmu pengetahuan itu menimbulkan masalah-masalah baru.
Semangat untuk membebaskan diri dari mitologi temyata menyebabkan
agnostisisme terhadap agama dan pada gilirannya menimbulkan sekularisme.
12 JURNAL ILMU PENDIDIKAN,
FEBRUARI2002,
J/L1D 9, NOMOR I
Masih banyak lagi fakta peradaban dari dunia Barat yang sekarang
timbullagi dalam bentuk konflik antara ilmu eksakta dengan teknik atomnya menghadapi himpunan ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu kemanusiaan.
Apakah tidak terlalu mahal teknologinya nanti dibayar dengan perongrongan martabat manusia itu sendiri? Siapa yang tidak merasa cemas
kalau kemenangan teknik terjadi tanpa etik alias terjadi penindasan martabat manusia lemah? Keunggulan teknologi semakin membuatjurang kayamiskin di seantero dunia. Keekstreman teknik yang menciptakan perlombaan senjata mengancam dunia dengan kepunahan, karena teknik tanpa
etik menjadi bahaya besar bagi kehidupan.
Patut disadari, tatanan hidup kebudayaan, ekonomi, dan politik ketatanegaraan akan jatuh tak berdaya tanpa mendasarkan diri pada nilai-nilai
yang ada dalam diri manusia dalam mengembangkan.segala yang tinggi
dalam dirinya, yakni yang indah, agung dan benar. Untuk menciptakan
kebudayaan, yang di dalamnya manusia diberi tempat yang layak sesuai
dengan martabatnya, visi pendidikan humaniora yang dikembangkan adalah
kemajuan dan pembangunan dalam keselarasan manusia dengan dunianya.
ISI PENDIDIKAN HUMANIORA
Humaniora bertujuan untuk memajukan manusia sehingga mencapai
kemanusiaan yang sesungguhnya. Pandangan humanitas mengajarkan bahwa ada suatu "kesatuan dan kesamaan" di antara manusia. Perbedaanperbedaan antara ras ataupun bangsa tidak berarti dan akan lenyap tenggelam dalam suatu masyarakat dunia yang tidak men genal perang, kekerasan,
serta kekejaman. Semua manusia adalah sama, tiap jiwa adalah bagian
dari api ketuhanan. Tidak ada perbedaan antara majikan dan buruh, kaya
dan miskin, laki-Iaki dan perempuan. Semua manusia adalah saudara,
karena mereka harus cinta-mencintai (Purbakawatja & Harahap, 1982: 134135). Pendidikan humaniora pada sastra klasik (Latin dan Yunani) dan
kesenian dipandang sebagai pengetahuan yang mengembangkan manusia
sejati. Seni dipandang sebagai sarana pembentukan manusia menjadi pernikir jernih, berbahasa bersih, berbicara fasih, menguasai logika dan kaidah,
bahasa, serta dapat menikmati bahasa dan seninya.
.
Sunarja (1984:57) berpendapat bahwa alam peradaban ditemukan
dalam bahasa dan segala manifestasinya, dan khusus lagi dalam keseniannya. Lewat sastra dan seni terbentuklah manusia dalam kelengkapannya.
Dunia Barat banyak melepaskan tuntutan bahasa klasik mereka karena
Daulay, Pendidikan Humaniora untuk Mengembangkan
Wawasan Kemanusiaan
13
didesak oIeh iImu-ilmu eksakta. Abdullah (2000:218) menyebutkan bahwa
seni memiIiki nilai yang tinggi bagi manusia. Lebih lanjut dijelaskannya
bahwa senilkeindahan lebih bernilai tinggi dari kebenaran. Hal itu dapat
dimengerti karena keindahan seni adalahjoint product dari berbagai unsur
seperti bakat, akal pikiran, perasaan, imajinasi, kreativitas, intuisi, dan
seterusnya, sementara kebenaran hanya terkait dengan logika.
Unsur rasa seni pada manusia terungkap pada budi bahasa dan sopan
santun. Seni itu menunjang penampilan manusia dalam harmoni, keselarasan serta keakraban dan kekaguman terhadap alam dan kehidupan.
Seni tetap terbuka terhadap nilai-nilai lama dan baru, tradisi dan kreativitas
modern.
Humaniora menyiapkan manusia berpikir luwes, lincah dengan segala
visi dan persepsi untuk perkembangan dan penyesuaian. Pemikirannya
adalah pemikiran dengan cara bahasa yang berkembang dari dalam dan
tahu beradaptasi dengan lingkungan dan tuntutan zaman. Kalaupun menghargai perlunya spesialisasi Iptek, humaniora tidak ingin membiarkan
konsepnya dikotak-kotakkan, dipersempit, dan dikeringkan menjadi bidang
tertentu, tapi tetap terbuka dengan segi-segi hidup yang selalu berkembang.
Meskipun membosankan, kebenaran dan ketelitian sangat diperlukan
di dalam pendidikan bahasa dan seni agar dapat mencapai nilai tinggi.
Kesenian seperti drama harus dimainkan dengan cermat untuk memenuhi
segala tuntutan, dan dinikmati secaratenang. Para siswa aktif memainkan
peran, berlatih gigih, dan mau mengorbankan waktu untuk berlatih. Semua
memegang peran sebelum tampil di pentas dan masing-masing berlatih.
Itu semua merupakan pembentukan pribadi dan budi pekerti bernilai tinggi.
Itu berbeda dengan "kesantaian pasif' memutar kaset, mendengar radio,
men on ton TV. Orang dengan gampang dapat menikmati sesuatu tanpa
susah payah dan tanpa latihan. Namun berapa banyak segi edukatif dalam
kesantaian pasif terlepas lewat begitu saja. Itu sebabnya kesantaian pasif
seperti di atas kurang berdaya dalam memanusiakan manusia. Maksudnya,
isi pendidikan humaniora itu adalah melatih orang untuk mempunyai keahlian meningkat sampai puncak kemampuan dalam segala hal, yang berguna nyata dalam hidup manusia (Sunarja, 1984:63).
DIMENSI YANG DITUMBUHKAN DENGAN HUMANIORA
Sekolah kini banyak dijadikan tempat untuk menuntut ilmu saja.
Sekolah sudah cenderung digunakan sebagai lahan bisnis yang menggi-
14 JURNAL ILMU PENDIDIKAN, FEBRUARI2002,
J/L1D 9, NOMOR I
urkan. Seharusnya sekolah adalah tempat untuk pendidikan humaniora
dan budi pekerti (Mukhtar, 2001:5). Harus ·diakui dengan jujur bahwa
untuk meneiptakan suasana humaniora dalam sekolah diperlukan pemimpin sekolah yang yakin akan kegunaan pendidikan humaniora, dapat menangkap inti dan jiwanya, dan sanggup memberi waktu, biaya, tenaga,
dan ruang gerak untuk aktivitasnya. Bila pendidikan humaniora merupakan
sesuatu yang dipaksa, digencet waktu, tanpa tenaga, dan biaya, ia tidak
akan berguna ban yak. Diperlukan pula adanya sekelompok guru yang
berjiwa humaniora dalam pengajaran. Guru di sekolah bukanlah hanya
pengajar bel aka, tetapi juga pembimbing dan pendidik yang menaruh
einta terhadap perkembangan orang mud a atau peserta didik.
Melalui manifestasi kelompok, bersama dari satu sekolah dengan
yang lain, humaniora dapat mempererat kekeluargaan. Orkes dan drama
mendorong se1uruh potensi orang mud a dalam rasa kemanusiaannya. Sekolah merupakan wahana yang telah teruji untuk implementasi nilai-nilai
masyarakat yang berubah dan masyarakat yang muncul yang menimbulkan
nilai-nilai baru. Sekolah ibarat kaca yang dapat merefleksikan keadaan
masyarakat dan berguna menyiapkan anak -anak untuk mendapatkan jalan
hidup yang lebih baik serta manusia yang terpandang dalam kehidupannya.
Pendidikan seni (sastra, musik, tari, dan drama) dimaksudkan menyiapkan •.peserta didik sebagai orang dewasa; terpandang dalam menghadapi
tantangan, pergaulan di luar lingkungan, dan di masyarakat luas; persiapan
untuk hidup harmonis dalam keluarga, menyumbang jasa saat diperlukan,
memberi uluran tangan saat diharapkan. Secara lebih rinei, Sunarja (1984:
67) menyebutkan bahwa pendidikan humaniora berguna untuk selalu tahu
memandang dan menimbang keseluruhannya, tetap menghargai semua
dalam keutuhannya, setelah memilih dan meneintai bagiannya. Dengan
keluasan pandangan, terbuka terhadap segala yang bernilai, manusia bahkan
sanggup belajar sesuatu yang baru bilamana perlu. la tidak merasa minder
atau super dalam keadaan bagaimanapun karena sebagai anggota masyarakat ia tahu adanya kegagalan dan atau keberhasilan diri dalam menempuh perjalanan hidup.
Pada zaman sekarang timbul gejala baru, yakni melejitnya pandangan
tinggi terhadap ilmu eksakta, sehingga ilmu ketuhanan dan kemanusiaan
digeser oleh ilmu teknik, dan nilai-nilai hakiki manusia kurang mendapat
penghargaan. Padahal ilmu ketuhanan memiliki kaidah sendiri yang tidak
dapat diambil oleh ilmu manusia. Pengukuran dan perhitungan teknik
-
Daulay, Pendidikan Humaniora untuk Mengembangkan
Wawasan Kemanusiaan
15
tidak akan dapat mengganti lahan kejiwaan dan budaya yang ada pada
diri manusia. Pendidikan humaniora juga berguna untuk selalu menyisihkan
waktu untuk menata nilai-nilai khas manusia dalam kehidupannya. Termasuk dalam bidang ini adalah menikmati seni, membaca sastra, pergaulan,
dan rekreasi. la tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh perhitungan materi
dan kerja semata-mata untuk mencapai materi, ia menjaga keseimbangan
dengan aspek rohaninya.
Akhimya, pendidikan humaniora berguna untuk mencintai keselarasan
yang terdapat dalam alam, dirasakan dalam dirinya, jiwa, hati, dan budinya,
menuju jalan harmoni. Untuk itu perlu ada harmoni dengan alam semesta,
manusia dengan Tuhan Yang Maha Pencipta. Adhes (20Q1: 11) mengatakan
bahwa prinsip dalam kehidupan sekarang tidak ada kawan ataupun lawan
abadi, yang ada hanya kepentingan abadi. Prinsip semacam ini tentu sudah
bertolak belakang dengan prinsip humaniora. Cara pandang tidak serasi
bilamana prinsip berkawan diukur dari materi yang dihasilkan semata.
PENTINGNYA
BERNEGARA
HUMANIORA
DALAM HIDUP BERBANGSA
DAN
Seorang penyair, Syauki Bey mengatakan bahwa sesungguhnya suatu
masyarakat (bangsa) akan tegak jika moral akhlaknya tegak, tapi jika
moral budi pekerti sudah tercerabut dari masyarakat, maka akan hancurlah ,
masyarakat itu. Hal ini memberi pelajaran bahwa nilai humaniora harus
dijaga tetap hidup, bila suatu negara ingin tetap tegak. Mukhtar (2001 :5)
menjelaskan bahwa di Malaysia dan Singapura perbaikan moral merupakan
tujuan nasional yang ditonjolkan. Mereka mengadakan kontrol yang ketat
terhadap tempat hiburan, hotel, dan restoran. Di Indonesia, itu terserah
pada penilaian masing-masing. Namun di masa lalu, Indonesia mengutamakan pembangunan ekonomi, sehingga aspek moral budaya kemanusiaan
terabaikan begitu saja. Padahal pengalaman menunjukkan bahwa kemajuan
ekonomi juga sangat berkait dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat
negara bersangkutan. Kalaupun ekonomi beranjak baik, jika sendi moral
tidak kokoh, ekonomi akan kembali ambruk, korupsi-kolusi-nepotisme
akan tetap membudaya.
Ilmu dan teknologi dapat didatangkan dari luar negeri, tetapi jiwa
budaya hanya dapat dibina dari dalam. Untuk itu, pusaka tiga keselarasan
bangsa harus kita jaga, yaitu selaras dengan Tuhan, selaras dengan sesama,
dan selaras dengan alam sekitar. Falsafah negara Pancasila memesankan,
16 JURNAL ILMU PENDIDIKAN,
FEBRUARl2002,
J/LlD 9, NOMOR I
jangan kita meninggalkan Tuhan Yang Maha Esa, jangan kita melepaskan
kemanusiaan yang adil dan beradab, hendaknya kita bertindak adil, merata
kepada sesama, termasuk kepada alam yang diberikan kepada kita yang
begitu agung, indah, dan kaya (Sunarja, 1984:71). Kekosongan dalam
mengisi pendidikan humaniora akan merongrong kemanusiaan, kebudayaan, dan keselarasan hidup.
FUNGSI KRITIS PENDIDlKAN HUMANIORA
Manusia budaya pasti dapat melihat keseluruhan dan bagian-bagian
detail keselarasan. la dapat merasakan ketidakberesan dalam tata hidup,
tata hukum, dan tata kerja (Sunarja, 1984:72). Budaya yang baik dapat
bicara sebelum hukum bicara dan dapat protes bila keputusan hukum
tidak menggambarkan keadilan dan kejujuran. Pendidikan humaniora menimbulkan sifat kritis. Sekalipun ikut kritis berunjuk rasa di era reformasi
ini, ia tidak melakukannya secara anarkis tetapi san tun dan bertanggung
jawab dalam membela kebenaran. la mempunyai pendirian kokoh, tidak
berubah arah setiap waktu, karena ia kritis berlandaskan pada nilai ketuhanan yang menjamin keselamatan hidup masyarakat. Manusia kritis tidak
dapat dikelabui oleh suara, iklan, dan iming-iming materi untuk sesuatu
maksud perorangan atau golongan tertentu.
Jelasnya, apabila sikap kritis ini dimiliki oleh sebagian besar generasi
muda, maka masyarakat akan selamat dari melapetaka kehancuran. Sikap
kritis mampu menimbang dan memilih, berani memeriksa apa yang perlu
diperiksa untuk menegakkan kebenaran sesuai dengan semangat reformasi.
PENUTUP
Masyarakat Indonesia sekarang ini sedang mengalami krisis, terutama
krisis moral dan budaya yang dapat mengancam nilai kemanusiaan dan
kebangsaan. Perbaikan terhadap berbagai krisis tersebut harns dimulai
dari perbaikan lembaga pendidikan serta pengelolanya dengan mempertimbangkan pengalaman-pengalaman kemanusiaan masa lalu, mengkaji
tantangan masa kini dan masa depan, dan memperhatikan pengalaman
dari negara lain seperti Singapura dan Malaysia.
Pendidikan humaniora bertujuan untuk melestarikan nilai-nilai sastra,
seni bangunan, seni pahat, seni tari, drama, dan musik bagi keselarasan .
hidup manusia dan ketinggian budayanya serta mendewasakan orang menjadi pribadi sebagai manusia budaya dan warga negara. Keberhasilan pen-
Daulay, Pendidikan Humaniora untuk Mengembangkan Wawasan Kemanusiaan 17
didikan humaniora tergantung pada sejauh mana sekolah dan masyarakat
menumbuhkan suasana yang kondusif dan berkelanjutan bagi terwujudnya
kehidupan yang berbudaya tersebut.
DAFTAR RUJUKAN
Abdullah, M.A. 2000. Dinamika Islam Kultural. Bandung: Mizan.
Adhess, S.S. 2001. Kenapa Sentimen Kedaerahan Muncul. Tabloid Jum'at, No.
469, Maret 2001.
Depdiknas. 2000. Pedoman Umum dan Nilai-Nilai Budi Pekerti untuk Pendidikan
Dasar dan Menengah. Jakarta: Depdiknas.
Harahap, S. 2001. Strategi Pengembangan Nilai-Nilai Budi Pekerti Luhur ke dalam
Mata Pelajaran yang Relevan. Makalah Seminar Budi Pekerti, Medan, Maret
2001.
Kuntowijoyo. 1991. Paradigma Islam, Interpretasi untuk Aksi. Bandung: Mizan.
Mukhtar, M. 2001. Pendidikan Budi Pekerti dan Urgensinya dalam Kehidupan
Berbangsa dan Bernegara. Makalah Seminar Budi Pekerti, Medan, Maret
2001.
Poerbakawatja, S. & Harahap, A.N. 1982. Ensiklopedi Pendidikan. Jakarta: Gunung
Agung.
Sunarja, A.SJ. 1984. Memanusiakan Manusia: Tinjauan Pendidikan Humaniora:
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Fly UP