...

Komunikasi Antar Umat Beragama di Kota Ambon

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Komunikasi Antar Umat Beragama di Kota Ambon
Komunikasi Antar Umat Beragama
di Kota Ambon
Hakis 1
[email protected]
Abstract: Communication is essential in our lives, including
communication for inter-religious harmony. The beauty of
the peaceful life, post-communal conflict in Ambon city is a
dream of the whole society. Through interviews with some
Muslim and Christian religious leaders, this article argues
that in order to establish harmony in Ambon, it would re–
quire the following steps (1) to stop the language of inci–
tement; (2) communicate to always refrain; (3) to commu–
nicate with the language of peace, from bottom to top and
vice versa; (4) engage in dialogue, open networking among
adolescents, and multicultural education; (5) public space as
a meeting space for the socio-cultural level must be consi–
dered; (6) the management of peace itself.
Keywords: Peace, communication, harmony, Ambon
Abstrak: Komunikasi sangat esensial dalam kehidupan, ter–
masuk komunikasi untuk kerukunan antar umat beragama.
Indahnya hidup damai pasca konflik komunal di kota
Ambon merupakan idaman seluruh masyarakat. Melalui
wawancara dengan beberapa tokoh agama Islam dan Kris–
ten, artikel ini berpendapat bahwa untuk membangun
kerukunan umat di Ambon diperlukan langkah berikut (1)
menghentikan bahasa hasutan; (2) mengkomunikasikan un–
tuk selalu menahan diri; (3) melakukan komunikasi dengan
bahasa damai dari bawah ke atas, dan sebaliknya; (4) mela–
kukan dialog, membuka jaringan antar remaja, dan pendi–
dikan multikulturalisme; (5) ruang publik sebagai tempat
perjumpaan level sosio-kultural harus diperhatikan; (6)
manajemen perdamaian itu sendiri.
Kata Kunci: Damai, komunikasi, kerukunan umat, Ambon
1
Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon
Jurnal Komunikasi Islam | ISBN 2088-6314 | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015
Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri
(UIN) Sunan Ampel Surabaya - Asosiasi Profesi Dakwah Islam Indonesia
Komunikasi Antar Umat Beragama
Pendahuluan
Masyarakat Indonesia tidak hanya dihadapkan pada pluralitas
budaya, melainkan pula dengan pluralitas agama. Tentu saja pluralitas
budaya dan agama tersebut sangat mempengaruhi individu atau
seseorang dalam melakukan komunikasi manakala berinteraksi dengan
orang lain yang juga mengusung budaya dan keyakinan agama yang
dianutnya. Tulisan ini memfokuskan bagaimana komunikasi dilakukan
dalam pluralitas keagamaan sebagai upaya merajut perdamaian dan
kerukunan antar umat beragama di Kota Ambon.
Pluralitas keagamaan rentan memunculkan konflik karena agama
dapat dikategorikan sebagai pandangan dunia (world view). Pandangan
dunia seorang muslim tentu saja berbeda dengan pandangan dunia se–
orang Kristen, juga berbeda dengan pandangan dunia orang beragama
Hindu, Budha, dan Konghuchu. Jelas bahwa agama sebagai pandangan
dunia mempengaruhi kepercayaan, nilai, sikap, penggunaan waktu dan
aspek budaya lainnya. (Mulyana 2005: 29) Namun pada umumnya
dalam agama terkandung ajaran mengenai bagaimana seharusnya ma–
nusia berhubungan dengan dirinya sendiri, orang lain, tanah, alam
semesta dan zat yang menciptakannya. (Mulyana 2004: 35)
Pluralitas keagamaan itu tercermin dari kenyakinan teologis yang
berbeda di antara penganut agama. Penganut agama Islam misalnya,
percaya bahwa Tuhan itu Esa, tetapi penganut agama Kristen meyakini
bahwa Tuhan itu Esa dimanifestasikan dalam bentuk trinitas: Sang
Bapak, Anak, dan Roh Kudus. Yesus dipercayai orang kristen sebagai
penjelmaan Tuhan Bapak, tetapi bagi orang Muslim, Yesus itu adalah
nabi Isa. Kematian Yesus dipercayai umat Kristen dengan disalib,
namun bagi Muslim diselamatkan oleh Tuhan, dan yang mati disalib
itu adalah orang yang diserupakan Tuhan sebagai nabi Isa.
Perbedaan tersebut haruslah dipandang sebagai sebuah kenisca–
yaan yang dapat menumbuhkan tenggang rasa atau tepo seliro. Karena
itu individu yang menyadari realitas pluralitas keagamaan pada masya–
rakat Indonesia termasuk pada masyarakat kota Ambon disebut sebagai
orang memiliki tepo seliro atau tenggang rasa tinggi yang merupakan
cermin pribadi yang sangat menghargai perbedaan kenyakinan agama.
Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015 | 99
Hakis
Pada konteks inilah individu yang berinteraksi dengan individu
lain yang berbeda agama akan menghadirkan dirinya atau menam–
pilkan diri sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh individu tertentu,
misalnya, tenggang rasa dalam perbedaan keyakinan beragama. Se–
orang beragama Kristen dalam bulan Ramadhan, misalnya akan me–
nampilkan dirinya dengan cara tidak merokok, minum atau makan di
hadapan Muslim yang berpuasa. Presentasi diri orang Kristen ini ada–
lah bentuk penghormatan terhadap Muslim yang sedang menunaikan
ibadah puasa. Tetapi, menurut Goffman, presentasi diri orang Kristen
tersebut sebetulnya dibentuk oleh orang lain manakala berinteraksi. Di
dalam interaksi inilah orang lain – penganut agama Islam – memberi
warna dan membentuk gambaran dirinya sebagai seorang Kristen yang
hidup dalam pluralitas agama. Sebagaimana dikemukakan Erving
Goffman bahwa diri bukanlah sesuatu yang dimiliki individu, melain–
kan yang dipinjamkan orang lain kepadanya. (Mulyana 2004: 110)
Dengan demikian, tampak bahwa orang Kristen ketika berinte–
raksi dengan Muslim di bulan Ramadhan berusaha menampilkan suatu
gambaran diri yang akan diterima orang lain sebagai orang yang
menghargai atau menghormati Muslim yang sedang menunaikan iba–
dah puasa. Begitu pula halnya dengan pengusaha Tionghoa yang
beragama Budha atau Hindu akan menutup restorannya dengan kain
penutup agar disebut sebagai orang Budha atau Hindu yang meng–
hormati Muslim yang sedang melakukan ibadah puasa. Perilaku orang
Kristen dan pengusaha Tionghoa itu tentu saja merupakan bentuk
komunikasi nonverbal yang bertujuan untuk menampilkan gambaran
diri sebagai orang yang memiliki kesadaran akan pluralitas agama
sehingga dapat diterima oleh umat Islam. Upaya ini disebut oleh
Goffman sebagai “pengelolaan kesan” (impression management), yaitu
teknik-teknik yang digunakan aktor untuk memupuk kesan-kesan
tertentu dalam situasi tertentu guna mencapai tujuan tertentu. (Mul–
yana 2004: 112)
Dalam “pengelolaan kesan, seorang pendeta akan mencitrakan
dirinya sebagai pemimpin umat Khatolik yang sadar akan pluralitas
agama. Karena itu, ia akan menghadirkan “pertunjukan” (performance)
yang dapat memberikan efek bagi orang lain, atau setidaknya bagi
100 | Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015
Komunikasi Antar Umat Beragama
umat Kristiani. Pendek kata, si pendeta tersebut senantiasa berupaya
“mengelola” informasi yang disodorkan kepada orang lain sebagai
orang Kristiani yang sadar akan pluralitas agama. Sebagaimana dika–
takan Goffman: “Apakah seorang performer jujur ingin menyampaikan
kebenaran atau apakah ia tidak jujur yakni ingin menyampaikan
kepalsuan, keduanya harus hati-hati menghiasi pertunjukan mereka
dengan ekspresi yang sesuai, agar khalayak tidak memberikan makna
yang tidak dimaksudkan (yang mungkin mendeskriditkan kesan yang
diperoleh).” (Mulyana 2004: 113)
Demikian halnya dengan seorang muballig, jika memberikan ce–
ramah agama atau khutbah jum’at misalnya seharusnya mengkomuni–
kasikan nilai-nilai agama sebagai rahmat bagi seluruh alam, karena
dalam Al-Qur’an banyak memberi isyarat bahwa di kehidupan,
manusia, senantiasa menyesuaikan diri dengan kehidupan yang serba
majemuk. Dalam sosial kepercayaan (agama), tidak boleh memaksakan
orang lain (agama lain) untuk memeluk suatu agama yang diyakini
kebenarannya (QS. Al-Baqarah: 256). (Sjadzali 1993: 6-7)
Terjadinya konflik sosial seperti terjadi di Ambon yang meng–
atasnamakan kepentingan agama padahal bukan merupakan justifikasi
dari doktrin agama, karena sesungguhnya semua agama mengajarkan
kepada umatnya sikap toleransi dan menghormati agama lain. Konflik
bisa saja dipicu oleh motif tertentu seperti politik, ekonomi, sosial dan
kekuasaan. Kurangnya kejelasan hubungan antara penghayatan agama
sebagai doktrin di satu pihak sengan sikap keagamaan yang mewujud
dalam perilaku kebudayaan di pihak lain, juga bisa memunculkan
konflik. Oleh karena itu peran komunikasi dalam mengajarkan ajaran
agama kepada umatnya sangat diperlukan. Berdasar dari kesemuanya
itu maka dalam karya tulis ini ingin mengkaji bagaimana merajut
perdamaian dalam kerukunan antar umat beragama di kota Ambon?
Kerangka Teori
Interaksi merajut perdamaian antar umat beragama di kota
Ambon memerlukan proses komunikasi yang intensif dan efektif.
Komunikasi mereka dapat berhasil dengan cepat karena keduanya
(umat Islam dan Kristen) mengalami betapa tragisnya koflik komunal
Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015 | 101
Hakis
tahun 1999 atas nama agama, padahal sesungguhnya mereka ber–
saudara, dengan pengalaman yang sama maka keberhasilan dalam
berkomunikasi akan lebih cepat berhasil.
Wilbur Schramm, seorang ahli komunikasi kenamaan, dalam
karyanya, “Communication Research in the United States”, menyatakan
bahwa komunikasi akan berhasil apabila pesan yang disampaikan oleh
komunikator cocok dengan kerangka acuan (frame of reference), yakni
paduan pengalaman dan pengertian (collection of experences and
meanings) yang pernah diperoleh komunikan. (Effendy 2007: 13).
Menurut Schramm, bidang pengalaman (field of experience) merupakan
faktor yang penting dalam komunikasi. Jika bidang pengalaman
komunikator sama dengan bidang pengalaman komunikan, komu–
nikasi akan berlangsung lancar. Bila pengalaman komunikan tidak
sama dengan pengalaman komunikator, akan timbul kesukaran untuk
mengerti satu sama lain. Di samping itu peranan media sangat penting
sebagai media sekunder, dalam proses komunikasi yang disebabkan
oleh efesiensinya dalam mencapai komunikan. Surat kabar, radio, dan
televisi misalnya merupakan media yang paling efisien dalam mencapai
komunikan dalam jumlah yang amat banyak. Akan tetapi para ahli ko–
munikasi mengakui bahwa keefektifan dan efesiensi komunikasi ber–
media hanya dalam penyebaran pesan-pesan yang bersifat informatif.
Pembahasan
Merajut kerukunan hidup antar umat beragama tidak hanya
menyerahkan seluruh peran dan tanggungjawabnya kepada Negara
atau pemerintah daerah akan tetapi peran seluruh masyarakat,
termasuk para pimpinan, tokoh dan panutan agama secara aktif harus
berusaha untuk mengembalikan hubungan baik antar umat beragama.
Mereka harus berperan dan merasa terbebani tanggungjawab berat di
hadapan Tuhan Yang Maha Esa. Sebagaimana yang dikemukakan oleh
Prof. DR. Tony Pariela, M.A (Direktur Program Studi Pasca Sarjana
Universitas Pattimura Ambon) berikut beberapa sugesti antara lain:
1. Harus bersedia menghentikan bahasa hasutan. Kalau orang bodoh
cepat emosi dan mudah dihasut. Tindakan menghasut selalu
menunjuk pada keadaan emosional yang tidak stabil bahkan tidak
102 | Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015
Komunikasi Antar Umat Beragama
dewasa, namun orang yang menjadi panutan umat tidak boleh
membiarkan diri terbawa oleh emosi, lalu menghasut.
2. Semua pihak harus menahan diri, tidak percaya setiap desas-desus,
dan tidak membalas secara langsung padahal apa yang terjadi
belum pasti. Hal itu berlaku terutama bagi panutan masyarakat,
baik formal maupun informal, tingkat nasional maupun daerah
dan lokal. Bagaimanapun panutan agama harus sendiri menyadari
bahwa mereka ditantang untuk membersihkan hati mereka sendiri
dari emosi yang tidak baik, harus bersedia dengan jujur dan tampa
pamrih menyuarakan pesan-pesan agama mereka yang merupakan
pesan perdamaian, kebaikan dan penolakan kekerasan dan balas
dendam, serta bersedia untuk memaafkan.
3. Masyarakat termasuk tokoh agama harus betul-betul menjalin
komunikasi di semua tingkat kehidupan umat. Dari atas sampai ke
bawah dan dari bawah sampai ke atas. Harus berani bicara satu
sama lain, terutama dialog kehidupan, analisis dan refleksi dengan
etos kontekstual menuju perdamaian. Alangkah baiknya kalau para
pimpinan atau tokoh agama saling mengenal, saling silaturrahmi,
agar dapat menjadi kebiasaan dan bahkan akrab dalam hubungan
nyata. (Wawancara dengan Tony Pariela 14 September 2011)
Selanjutnya perlu terus dikembangkan beberapa hal antara lain:
1. Dialog
Program dialog antar penganut umat beragama merupakan salah
satu cara bagi membentuk suatu masyarakat yang harmonis dan
saling memahami antar satu sama lain. (wawancara dengan Idris
Latuconsina 10 Desember 2011). Pendekatan seperti ini perlu
dilakukan sejak Sekolah Dasar dan dilanjutkan sampai ke per–
guruan tinggi bahkan sampai di tempat kerja. Pendekatan dialog
antarumat beragama perlu dirangcang dengan baik agar tidak
menimbulkan ketegangan dikalangan penganut agama-agama.
Program dialog antar umat beragama perlu digerakkan oleh semua
pihak dalam masyarakat di Maluku terutama di kota Ambon tanpa
ada perbedaan etnik, suku, dan budaya atau perbedaan politik.
Adapun pihak yang terlibat dalam dialog perlu bersikap terbuka
Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015 | 103
Hakis
untuk mendengar dan menerima perbedaan-perbedaan atau
pandangan-pandangan yang berbeda.
Perlu bagi setiap agama mempunyai program dialog antar umat
beragama di kalangan masyarakat kota Ambon. Dalam usaha
mempromosikan dialog antar umat beragama maka peran tokoh
agama di kota Ambon menjadi signifikan untuk memahami
keinginan atau hasrat penganutnya. Tindakan mengkritik dan
menuduh tanpa suatu penelitian dan pembuktian tidak membantu
ke arah pembentukan sikap toleransi dan kerukunan hidup antar
umat beragama.
Dialog antar agama bukan terjadi pada tokoh-tokoh agama saja
akan tetapi perlu pada tingkat-tingkat bawah, seperti Remaja
Masjid dengan Pemuda Gereja perlu ada kontak dan dialog-dialog
untuk senantiasa menjaga perdamaian. MUI Kota Ambon harus
memberikan fatwa bahwa betapa ruginya bila terjadi permusuhan
antar umat beragama, bukan hanya kerugian dari segi material
akan tetapi menelan korban seperti tergambar pada kejadian pada
tahun 1999 di Maluku yang kejadiannya sangat tragis.
Program dialogis yang melibatkan dua komunitas Salam-Sarane ini
sebenarnya telah gencar dilakukan misalnya pembentukan LAIM
(Lembaga Antar Iman Maluku), salah satu lembaga non peme–
rintah yang beranggotakan para aktivis perdamaian dengan be–
ragam latar agama. Kemudian di bidang pendidikan melalui
program beasiswa pendidikan Magister (S2) antara UKIM (Uni–
versitas Kristen Indonesia Maluku) dengn Universitas Kristen
Satya Wacana (UKSW) Salatiga di bidang Sosiologi Agama yang
juga melibatkan dua komunitas tersebut. (Wawancara dengan Dr.
Abidin Wakano, 15 Desember 2011)
Sebenarnya dialog atau musyawarah antar tokoh agarma sudah
mulai digencarkan sejak orde baru. (Natsir 1988:229). Target
utama musyawarah tersebut ada dua. Pertama, membuat kesepa–
katan untuk tidak menjadikan umat agama lain sebagai sasaran
penyiaran suatu agama. Kedua, adanya kesepakatan untuk mem–
bentuk semacam Badan Konsultasi Antar-Agama.
104 | Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015
Komunikasi Antar Umat Beragama
Menurut Mukti Ali, mantan menteri agama RI, bahwa Mereka
para partisipan dalam dialog harus bergaul dengan kelompok
manusia yang memeluk agama yang lain. Sejumlah bentuk dialog
antar agama pun diperkenalkan misalnya: Dialog Kehidupan, di
mana perjumpaan yang tulus berlangsung dalam keseharian
kehidupan, menanggapi keprihatinan bersama. Dialog Kerja Sosial,
di mana isu-isu sosial yang lebih makro, seperti kemiskinan,
menjadi konteks perjumpaan sekaligus menjadi arah sumbangan
masing-masing agama. Dialog Monastis, di mana terjadi pertukaran
pengalaman religius, misalnya melalui meditasi dan hidup dalam
asrama bersama-sama. Dialog Doa, di mana semua agama berdoa
bersama demi perdamaian yang lebih sejati dan meluas. Dialog
Teologis, di mana terjadi pertukaran informasi mengenai keperca–
yaan dan aqidah, sambil melihat titik temu dan perbedaan. (Mukti
Ali: 1994, Juga Sutanto dan Sinaga 2001:23-24)
Demikian halnya di kota Ambon hendaknya dihidupkan dialogdialog antar umat beragama sehingga terjalin hubungan yang har–
monis antar umat beragama masyarakat kota Ambon.
2. Jaringan Antar Remaja
Dalam memelihara perdamaian di kota Ambon salah satu yang tak
kalah penting adalah membuka Jaringan Antar Remaja (Remaja
Islam dan Kristen), menurut H. Idris Latuconsina (Ketua Forum
Komunikasi Antar Umat Beragama Propinsi Maluku/FKUAB),
Jaringan antar remaja sangat efektif karena remaja cara kerjanya
cepat. Di samping itu remaja juga membentuk pengamanan ber–
sama seperti ketika umat Islam merayakan hari raya maka pemuda
Gereja menjaga keamanan hari raya umat Islam begitu pun
sebaliknya bila umat Kristen merayakan Natal dan Tahun baru
maka remaja Islam menjaga keamanan hari raya umat Kristiani.
Ini adalah salah satu program kerja FKUAB dalam menjaga perda–
maian di kota Ambon.
3. Pendidikan
Hal yang tidak kalah pentingnya selain dialog adalah aspek pen–
didikan dalam artian yang luas yaitu mendidik generasi muda agar
lebih bersikap terbuka dan mendiskusikan mengenai isu-isu
Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015 | 105
Hakis
keagamaan dengan mereka yang beragama dalam pertemuan. Ar–
tinya untuk mencapai tahap tersebut mereka perlu memahami
agama masing-amsing dengan jelas dan sempurna. Dalam konteks
seorang Muslim misalnya, mereka perlu memantapkan pemaha–
mannya mengenai Islam. Pada waktu yang sama mencoba mema–
hami sosio budaya masyarakat non Muslim. Dengan demikian
mereka tidak seharusnya bersikap “fanatik” berlebihan dengan
menganggap orang-orang di luar Islam sebagai musuh mereka dan
patut untuk diperangi. Justru ini ternyata bertentangan dengan apa
yang ditekankan dalam Islam yang berhubungan dengan tatacara
berinteraksi dengan pihak non Islam.
Abidin Wakano, salah seorang aktifis di bidang budaya dan pendi–
dikan agama, mengakui bahwa untuk scope kota Ambon,
sebenarnya telah dibuat Peraturan daerah (Perda) yang mema–
sukkan kurikulum muatan lokal tentang budaya Pela - Gandong
sebagai salah satu mata pelajaran di Sekolah Dasar hingga tamat
sekolah lanjutan atas. Namun kendalanya adalah di tahap imple–
mentasi yang belum dilaksanakan secara optimal dan kompre–
hensif oleh pihak-pihak terkait. Dengan demikian dibutuhkan
upaya bersama antar komponen yang terlibat langsung dalam
proses pengambilan kebijakan hingga ke tahap eksekusi atau im–
plementasi, agar apa yang telah diamanatkan dalam Perda tersebut
bisa dilaksanakan dan diawasi secara baik hingga tujuan pendi–
dikan tersebut dapat tercapai.
4. Ruang Publik sebagai Media Komunikasi Utama
Pluralisme keagamaan di kota Ambon memang sangat terkendala
oleh pemanfaatan media konvensional oleh para tokoh Agama.
Hal ini dapat diamati dari minimnya tulisan maupun acara yang
bertema pluralisme di surat kabar harian maupun media penyiaran
lokal, radio dan televisi. Hambatan tersebut diperparah lagi oleh
minimnya fasilitas publik yang dapat mempertemukan dua komu–
nitas untuk berkomunikasi secara intrapersonal dan interaksional
yang bertujuan untuk membina hubungan sosial menjadi lebih
bermakna.
106 | Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015
Komunikasi Antar Umat Beragama
Pemanfaatan ruang public (public sphere) sebagai medium utama
dalam mengembangkan pluralisme ini dilihat dari esensi dan
tujuan yang ingin dicapai. Melalui pertemuan langsung tersebut
akan terbina hubungan yang jujur dan lebih manusiawi sebagai
pijakan universal dalam dialog tentang pluralisme atau paham
tentang kepelbagaian sebagai suatu keniscayaan. Namun demikian
untuk menciptakan (to create) kerukunan antar umat beragama
yang kokoh dan berkelanjutan maka hubungan emosional yang
intensif juga tetap melibatkan rekayasa sosial (sosial engineering)
melalui media massa seperti surat kabat harian, radio dan televise
lokal yang menunjang medium utama tersebut.
Walaupun pengalaman bertemu adalah suatu kegiatan yang
diusahakan pada awalnya namun jika dilakukan oleh para pemuka
pendapat dalam hal ini tokoh-tokoh agama maka diharapkan
dapat menjadi contoh yang baik dan pada gilirannya akan diikuti
oleh masing-masing pengikutnya. Senada dengan hal tersebut
sebagaimana yang diuraikan oleh Bambang Noorsena bahwa
dialog adalah sebuah pengalaman yang hendaknya mendasari sikap
keagamaan otentik, yang lapang dan toleran terhadap kehadiran
orang lain yang berbeda dalam keyakinan dengan kita sendiri.
(Noorsena: 43). Sehingga agama tidak diyakini sebagai simbol
kelembagaan yang kaku dengan berakidah secara sempit
sebagaimana yang diamanatkan Allah dalam Al-Qur’an tentang
universalitas kepelbagaian yang menjadi kodrat hakiki manusia di
muka bumi ini. (Q.S. Al-Hujurat ayat 13).
Minimnya ruang publik (informal) untuk mempertemukan kedua
komunitas cenderung akan kembali membekukan semangat
pluralisme yang seolah hanya dijadikan bumbu pelengkap saja
dalam hidangan khas dialog tentang pluralisme ini. Lembaga aga–
ma masih menjadi lembaga otoritas yang kemudian pada gili–
rannya dapat dimanfaatkan sebagai senjata untuk membenarkan
penyerangan kepada komunitas lain yang berbeda keyakinan.
Paham puritan yang cenderung militan juga lahir sebagai
konsekuensi logis dari pengunaan otoritas kerohanian oleh para
Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015 | 107
Hakis
pemukanya. Ini pun menjadi dilema tersendiri dari kepelbagaian
universum pluralisme itu sendiri.
Di kota Ambon terdapat beberapa stratifikasi sosial masyarakat
yang dibentuk, dipelihara dan telah berkembang semenjak Kolo–
nialisme. Stratifikasi sosial tersebut kemudian membentuk pola
relasi sosial yang jejaknya masih dapat teramati hingga saat ini di
antaranya Protestan pribumi (Sarane), pedagang keturunan Cina
dan peranakan Arab, Islam pribumi (Salam), dan orang Buton
sebagai pendatang yang dipekerjakan oleh pribumi. Adapun para
pendatang seperti orang Bugis dan Makassar, Jawa dan orang Su–
matera serta daerah lainnya baru masuk ke Ambon belakangan di
akhir masa kolonialisme sehingga tidak termasuk dalam stratifikasi
tersebut. (Wawancara dengan Abidin Wakano, 15 Desember
2011)
5. Aspek Sosio-Kultural
Aspek sosio-kultural adalah salah satu modal penting dalam
memahami relasi sosio-kultural historis antara penduduk pribumi
(Salam-Sarane) di kota Ambon yang telah ada sejak lampau. Pela
dan Gandong adalah nilai local wisdom (kearifan local) masyarakat
Maluku, khususnya orang Ambon. Kedua simbol ikatan persau–
daraan ini adalah wujud pluralisme antara dua kampung (nagri)
atau lebih, antara sarane-sarane, salam-salam maupun salam-sarane.
Pela adalah ikatan persaudaraan yang didasari oleh sumpah di
antara kedua atau ketiga kampung untuk saling menjaga dan
membantu. Sedangkan Gandong adalah ikatan persaudaraan
secara genekologi, satu leluhur biasanya berbeda agama (salamsarane). Seperti yang dicontohkan baru-baru ini acara Panas Pela
yaitu ritual adat untuk mengenang dan dan mempertegas kembali
sumpah atas ikatan persaudaraan yang telah diucapkan leluhur
terdahulu antara tiga kampung, Wakal-Hitu Meseng-Ruma Tiga.
Selanjutnya pranata-pranata budaya yang lahir dari kearifan local
yang dilestarikan itu diharapakan mampu menjembatani modal
sosial (bridging social capital). (Wawancara dengan Tony Pariela
tanggal 24 Nopember 2011)
108 | Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015
Komunikasi Antar Umat Beragama
masyarakat di kota Ambon sehingga perdamaian yang berkelanju–
tan dapat segera terwujud. Sayangnya, relasi sosial yang digunakan
ini masih pada taraf hubungan relasional cultural antara kampung
namun belum ditingkatkan menjadi hubungan antar komunal dan
keagamaan. Relasi sosial antara kedua komunitas yang pernah
terlibat konflik tersebut mengalami kendala juga dari internal
komunitas itu sendiri misalnya terjadi resistensi dari para tokoh
lain yang beraliran ekstrem dan fundamental.
Hal yang hampir sama juga diungkapkan oleh penyanyi berdarah
Ambon, Glenn Fredly. Ia mengatakan, untuk mendamaikan ma–
syarakat Ambon tak perlu menggunakan senjata ataupun
pengamanan. Salah satu jalan keluar untuk mewujudkan perda–
maian itu adalah dengan sebuah alunan musik. Selain itu,
tambahnya, pendekatan budaya bisa mempersatukan masyarakat
Kota Ambon. Karena itu, ia ingin membuat perubahan, khususnya
untuk Ambon, agar daerahnya itu tidak selalu diidentikkan dengan
kekerasan.
6. Manajemen Perdamaian
Sudah saatnya penanganan konflik yang selama ini menggunakan
menajemen konflik ditingkatkan menjadi manajemen perdamaian
di samping untuk mendorong adanya pro-eksistensi di antara kedua
komunitas dengan menegasikan perspektif agama sebagai lembaga
otoritas yang mengatasnamakan Tuhan dalam mencapai kebena–
ran sehingga bias atau disfungsi lembaga agama ke dalam wilayah
politik yang sangat tendensius dapat dieliminir.
Pro-eksistensi akan terwujud melalui dialog intensif para tokoh
agama (imam dan pendeta) yang dibangun di atas dasar hubungan
manusiawi dalam prinsip kejujuran dan keadilan. Dengan demi–
kian manajemen perdamaian perlu terus diupayakan melalui
pendidikan informal seperti workshop, training of trainer dan
lokakarya. Selanjutnya manajemen perdamaian juga harus terus
disosialisasikan dan dipublikasikan melalui media massa, spanduk
hingga billboard untuk mengingatkan masyarakat tentang arti
pentingnya hidup berdampingan secara damai dan saling meng–
hormati satu sama lain.
Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015 | 109
Hakis
Memang dibutuhkan berbagai prasyarat yang memungkinkan
dialog antar agama ini dapat berjalan secara efektif. Misalnya
tersedianya ruang-ruang publik informal yang dapat memperte–
mukan kedua belah pihak antara Islam dan Kristen agar terjadi
pembauran antara keduanya sehingga merenggangkan otot-otot
ketegangan yang pernah terjadi di masa lalu.
Bagi umat beragama, dalam dialog antar agama akan terasa
terjaminnya serta dihormatinya iman dan indentitasnya pihak lain,
serta terbukanya peluang untuk membuktikan keagungan aga–
manya. Dialog antar agama yang didasarkan pada tindakan komu–
nikatif ini diarahkan untuk mencapai pemahaman dan pengertian
timbal-balik, tanpa adanya dominasi dari suatu pihak kepada pihak
lainnya. Francis Cardinal Arinze mengungkapkan bahwa:
“Dialogue is not an academic debate, which each side trying to
prove that it has the truth an that the other is in error. It is the
comparative study of religious, nor the placing of beliefs and
practices of one alongside those of another religion as one
might place two exhibits, on a museum shelf, inter religious
dialogue is not a tea party with all making small talk and
avoiding any issues which might be uncomfortable or
conflictual. Dialogue is nine of these things. What we mean by
dialogue, rather, is meeting other believers in opener, in a
willingness to listen, to understand, to walk together and to
work together. It is the willingness to open oneself to God a
section in us, which can also come through contact with others.
Since the term “dialogue” too often carries implications of
simply talking or discussing, it might since these speak about
inter religious relations, might speak of inter religious harmony,
include in the concept of the dialogue are relations at the level
of daily life, discussion and study session among scholars,
cooperation in social projects, and the exchange of religious
experience”. (Arinze, tt: 224)
Multi-agama dan kepercayaan dalam masyarakat kota Ambon
menjelaskan bahwa pluralitas agama merupakan suatu fakta universal
yang terdapat di dunia yang kita tinggali ini. Segenap faktor kehidupan
modern seperti komunikasi, kemudahan transportasi, kesaling-tergan–
110 | Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015
Komunikasi Antar Umat Beragama
tungan sistem ekonomi, organisasi internasional, memerlihatkan ter–
jadinya pertemuan antar masyarakat, budaya dan agama yang semakin
pesat dan memerlukan pemahaman, saling pengertian. Lebih sebagai
suatu fakta, pluralitas juga merupakan kekuatan yang memerkaya
kehidupan manusia, terjadinya kontak dengan yang lain, memung–
kinkan manusia di mana saja dapat saling belajar tentang berbagai
kepercayaan agama dan meluaskan wawasan terbuka pada pandanganpandangan baru, dan cara yang bermanfaat, membantu untuk kritis
terhadap diri sendiri, terbuka dan menghargai perbedaan yang lain.
Dalam mencapai kehidupan beragama yang dinamis itu, para
penganut agama harus menapaki jalan menuju yang Satu dengan
menghormati perbedaan-perbedaan agama, pluralitas agama lewat
keterbukaan terhadap agama yang lain untuk bisa saling mengenal dan
saling memahami timbal balik, seperti melalui proses dialog antar
agama. Dialog antar agama merupakan titik pertemuan para penganut
berbagai agama. Karena itu, tidak terelakkan jika fakta pluralitas agama
akan berujung pada dialog antar agama.
Dialog antar agama sebagai bentuk komunikasi bukan hanya
terbatas kepada diskusi rasional tentang agama termasuk diskusi
tentang etika atau teologi agama-agama, namun juga bisa mengambil
berbagai macam bentuk, seperti dialog kehidupan sehari, karya sosial
bersama, maupun dialog pengalaman beragama. Terdapat berbagai
macam bentuk dialog, begitu pula berbagai macam kesulitannya.
Namun bagaimana pun bentuk dialog antar agama tersebut, maupun
macam kesulitan yang menyertainya, dialog antar agama merupakan
suatu bentuk komunikasi manusia.
Dengan demikian, dialog antar umat Islam dan Kristen di kota
Ambon hendaknya terus menjadi rutinitas, seringkali terlaksana
formal, dan jatuh dalam formalisme. Sehingga yang terjadi, dialog
antar agama yang berfungsi menciptakan kerukunan hidup beragama,
malah menciptakan kerukunan yang semu, kerukunan yang hanya
terbatas pada dialog yang seremonial formalistik. Sebagai akibatnya
komunikasi di antara kehidupan manusia yang berbeda agama tersebut
tetap tidak tercipta. Masing-masing komunitas agama tetap tinggal
pada prasangka dan klaim komunitasnya masing-masing, yang besar
Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015 | 111
Hakis
kemungkinan menimbulkan problem besar dalam kehidupan sosial,
mengandung potensi konflik.
Pola tindakan komunikasi Habermas, dengan rasionalitas
komunikatifnya bisa mencairkan kebekuan yang terjadi di dalam
dialog antar agama yang demikian itu. Berbagai aspek dan gagasan
yang terkandung dalam teori tindakan komunikatif Habermas,
diharapkan dapat menjadi kerangka atau titik pihak bagi terseleng–
garanya dialog antar agama yang komunikatif.
Simpulan
Peran masyarakat para tokoh agamawan tidak hanya
menyerahkan seluruh peran dan tanggungjawabnya kepada negara atau
pemerintah daerah, akan tetapi ia harus; (1) bersedia untuk meng–
hentikan bahasa hasutan, (2) selalu mengkomunikasikan agar umatnya
selalu tahan diri, jangan terus percaya setiap desas-desus, jangan terus
langsung dan mau membalas padahal apa yang terjadi belum pasti. (3)
menjalin komunikasi disemua tingkat kehidupan umat. Dari atas
sampai ke bawah dan dari bawah sampai ke atas. Harus berani bicara
satu sama lain, terutama dialog kehidupan, analisis dan refleksi etos
kontekstual menuju perdamaian.
Disamping itu yang terpenting dalam merajut perdamain antar
umat beragama antara lain; mengadakan dialog, membuka jaringan
antar remaja, pendidikan mulitikulturalisme, membuka ruang public
sebagai tempat perjumpaan, sosio-kultural harus diperhatikan dan yang
terakhir adalah manajemen perdamaian itu sendiri.
Referensi
Ali, Mukti. 1994, “Dialog dan kerjasama Agama-Agama Dalam
Menaggulangi Kemiskinan”, dalam Wainata Sairin, Dialog
Antar Umat Bearagam: Membangun Pilar-Pilar Keindonesiaan
yang Kukuh, BPK Gunun Mulia, Jakarta.
112 | Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015
Komunikasi Antar Umat Beragama
Effendy, Onong Uchjana. 2007, Komunikasi Teori dan Praktek,
Remaja Rosdakarya, Bandung.
Goffman, Erving. 1959, The Presentation of Self Indonesia Everyday
Life, N.Y. Double Day, Garden City.
Mulyana, Deddy. 2004, Metode Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru
Ilmu Komunikasi dan Ilmu Sosial Lainnya, Rosdakarya,
Bandung.
________, Deddy, dan Jalaluddin Rahmat. 2005, Komunikasi
Antarbudaya, Panduan Berkomunikasi dengan Orang-Orang
Berbeda Budaya,Rosdakarya, Bandung.
_______. Deddy. 2004, Komunikasi Efektif: Suatu Pendekatan
Lintasbudaya, Rosdakarya, Bandung:.
Natsir, M. 1988, Islam dan Kristen di Indonesia, Media Dakwah,
Jakarta.
Noorsena, Bambang. 2004, Menuju Dialog Teologis Kristen-Islam (Edisi
Revisi), Penerbit ANDI, Yogyakarta.
Sjadzali, Munawir, 1993. Islam dan Tata Negara, Ajaran Sejaran dan
Pemikiran, (Edisi V), UI, Jakarta.
Sutanto, Trisno S. dan Martin L. Sinaga (ed). 2001, Meretas HorisonDialog: Catatan dari Empat Daerah, MEDIA-ISAI-The Asia
Foundation, Jakarta.
Wawancara dengan Dr. Abidin Wakano, M.Ag. tanggal 15 Desember
2011
Wawancara dengan Tony Pariela, Ketua Program Pasca Sarjana
Universitas Pattimura Ambon) pada tanggal 24 Nopember 2011
Wawancara, H. Idris Latuconsina, (Sekertaris Umum MUI Provensi
Maluku dan Ketua Forum Komunikasi Antar Umat Beragama
FKAUB Provensi Maluku) pada tanggal 10 Desember 2011
Jurnal Komunikasi Islam | Volume 05, Nomor 01, Juni 2015 | 113
Fly UP