...

Sebab-Sebab Perpecahan Umat dan Cara Penanggulangannya

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Sebab-Sebab Perpecahan Umat dan Cara Penanggulangannya
Sebab-Sebab Perpecahan Umat dan Cara
Penanggulangannya
, , : [ Indonesia – Indonesian – ]
Penyusun : Dr. Nashir bin Abdul Karim Al-'Aql
Terjemah : Abu Ihsan Al-Atsari
Editor : Eko Haryanto Abu Ziyad
2009 - 1430
, , : & "# $% !
4* +,- . / 0 123 : '()
:
:
2009 – 1430
2
MUKADIMAH
Segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala, kami memuji-Nya, memohon pertolongan
dan ampunan serta bertaubat kepada-Nya. Kami berlindung kepada-Nya dari kejahatan jiwajiwa kami dan dari keburukan amal-amal kami. Siapa diberi hidayah oleh Allah, niscaya tiada
seorangpun yang dapat menyesatkannya. Siapa disesatkan-Nya, niscaya tiada seorangpun
yang dapat memberinya hidayah. Saya bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi
dengan benar selain Allah semata yang tiada sekutu bagi-Nya. Yang berfirman dalam kitabNya.
"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia;
dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan
kamu dari jalan-Nya" [Al-An'am : 153]
Saya bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Yang telah memperingatkan
umat dari musibah yang bakal terjadi, yakni bid'ah dan perpecahan, dalam sabda beliau.
"Artinya : Kalian akan mengikuti umat-umat terdahulu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi
sehasta. Sehingga sekiranya mereka masuk lubang biawak, kalian pasti mengikutinya" [Hadits
Riwayat Al-Bukhari dan Muslim]
Wa ba'du
Topik utama yang harus dianggkat dan dibahas oleh para ahli ilmu dan para penuntut ilmu
sekarang ini dalah masalah "perpecahan umat!" Mafhumnya, etiologi serta solusinya. Masalah
ini sangat perlu diketahui segenap kaum muslimin, lebih-lebih bagi para penuntut ilmu. Apalagi
di zaman sekarang ini kelompok-kelompok ahli bid'ah mulai mengembangkan sayapnya. Hawa
nafsu semakin menggila hingga menguasai manusia. Sehingga kejahatan dan kemunafikan
merajalela ke segala penjuru.
Benar! Sekalipun majlis-majlis ilmu menjamur di mana-mana, namun bid'ah-bid'ah juga
semakin berkembang pesat. Memang pada hari ini ilmu banyak disebar, namun banyak yang
tidak mendapat berkah dan faidah dari ilmunya. Barangkali karena ia menuntut ilmu tidak dari
sumber aslinya, yaitu tidak mengacu kepada Al-Qur'an dan As-Sunnah serta atsar para imam
yang dijadikan panutan yang tersebar dalam karya-karya mereka. Atau barangkali mereka
menimbanya bukan dari ahli ilmu, atau tidak mengikuti manhaj ahli ilmu dan ahli fiqih dalam
menuntut ilmu.
Meskipun sarana menuntut ilmu terbuka luas pada hari ini, namun nikmat tersebut justru
berdampak negatif terhadap banyak orang. Mereka menjadi tergesa-gesa dalam menimba ilmu
tidak sebagaimana mestinya! Di samping mereka merasa cukup tanpa harus belajar kepada
para ulama. Tentu saja itu termasuk ilmu yang tidak bermanfaat. Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam telah berlindung diri dari hal semacam itu.[[1]]
Ilmu yang mendatangkan berkah hanyalah ilmu yang direngguk dari ulama. Itulah pedoman
utama yang merupakan jalan orang-orang yang beriman. Adapun hanya mencukupkan
menuntut ilmu melalui sarana-sarana (seperti buku dan kaset) belaka, tentu manfaatnya hanya
sedikit. Hal itu juga bisa menjadi katalisator munculnya bid'ah dan penyimpangan pemikiran
serta perpecahan dan perselisihan dalam agama.
Maka dari itu, topik kita kali ini seputar perpecahan umat, mafhum, etiologi dan solusinya.
Pembahasan kali ini akan kami rangkum dalam lima pokok permasalahan [akan disalin dalam
beberapa nomor -peny]
[1]
Dalam sebuah hadits riwayat, Muslim dari Zaid bin Arqam Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
berkata dalam do'anya : 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat'. Lihat
Shahih Muslim kitab Adz-Dzikr hadits no. 2723
3
PERBEDAAN ANTARA IKHTILAF (PERSELISIHAN) DAN IFTIRAQ
(PERPECAHAN)
Membedakan antara perpecahan dan perselisihan termasuk perkara yang
sangat penting. Para ahli ilmu seyogyanya memperhatikan masalah ini lebih banyak
lagi. Karena mayoritas manusia -terlebih para du'at dan sebagian penuntut ilmu yang
belum matang dalam medalami ilmu agama- tidak dapat membedakan antara
permasalahan khilafiyah dengan perpecahan! Kelirunya, sebagian mereka menerapkan
sanksi hukum akibat perpecahan dalam masalah-masalah ikhtilaf.
Ini merupakan kekeliruan yang sangat fatal. Penyebabnya tidak lain karena tidak tahu
tentang hakikat perpecahan, kapankah perbedaan itu disebut perpecahan? Bagaimana
terjadinya perpecahan? Siapakah yang berhak memvonis bahwa seseorang atau
kelompok tertentu telah memecah dari jama'ah?
Oleh sebab itu, sudah sewajarnya mengetahui perbedaan antara perpecahan dan
perselisihan. Ada lima perbedaan yang kami angkat sebagai contoh.
Pertama : Perpecahan adalah bentuk perselisihan yang sangat tajam. Bahkan dapat
dikatakan sebagai buah dari perselisihan. Banyak sekali kasus yang membawa
perselisihan ke muara perpecahan ! Meski kadang kala perselisihan tidak mesti
berujung kepada perpecahan. Jadi, perpecahan adalah sesuatu yang lebih dari
sekedar perselisihan. Dan sudah barang tentu, tidak semua ikhtilaf (perselisihan)
disebut perpecahan. Maka dapat kita katakan :
Kedua : Tidak semua ikhtilaf disebut perpecahan ! Namun setiap perpecahan sudah
pasti ikhtilaf! Banyak sekali persoalan yang diperdebatkan kaum muslimin termasuk
kategori ikhtilaf, dimana masing-masing pihak yang berbeda pendapat tidak boleh
memvonis kafir atau mengeluarkan salah satu pihak dari Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Ketiga : Perpecahan hanya terjadi pada permasalahan prinsipil, yaitu masalah
ushuluddin yang tidak boleh diperselisihkan. Yakni masalah-masalah ushuluddin yang
ditetapkan oleh nash yang qath'i, ijma atau sesuatu yang telah disepakati sebagai
manhaj (pedoman operasional) Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Siapa saja yang
menyelisihi masalah di atas, maka ia termasuk orang yang berpecah dari Al-Jama'ah.
Adapun selain itu, masih tergolong perkara ikhtilaf.
Jadi, ikhtilaf hanya terjadi dalam masalah-masalah yang secara tabiat boleh berbeda
pendapat dan boleh berijtihad yang mana seseorang memiliki hak berpendapat, atau
masalah-masalah yang mungkin tidak diketahui sebagian orang, atau ada unsur
paksaan dan takwil. Yakni pada masalah-masalah furu' dan ijtihad, bukan masalah
ushuluddin. Bahkan juga sebagian kesalahan dalam persoalan ushuluddin yang masih
bisa ditolerir menurut alim ulama yang terpercaya. Seperti halnya beberapa persoalan
aqidah yang disepakati dasar-dasarnya namun diperselisihkan rincian furu'nya,
misalnya masalah isra' dan mi'raj yang disepakati kebenarannya, namun
diperselisihkan apakah dalam mi'raj tersebut Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
melihat Rabb Ta'ala dengan mata kepala atau mata hati ?
Keempat : Ikhtilaf bersumber dari sebuah iijtihad yang disertai niat yang lurus. Dalam
hal ini, mujtahid yang keliru mendapat satu pahala karena niatnya yang jujur mencari
kebenaran. Sementara mujtahid yang benar mendapat pahala lebih banyak lagi.
Kadang kala pihak yang salah juga pantas dipuji atas ijtihadnya. Adapun bila ikhtilaf
tersebut bermuara kepada perpecahan, tidak syak lagi hal itu tercela.
Sementara perpecahan yang tidak berpangkal dari ijtihad atau niat yang tulus.
Pelakunya sama sekali tidak mendapat pahala bahkan mendapat cela dan dosa. Maka
4
dapat kita katakan bahwa perpecahan itu berpangkal dari bid'ah, menuruti hawa nafsu,
taqlid buta dan kejahilan.
Kelima : Perpecahan tidak terlepas dari ancaman dan siksa serta kebinasaan. Tidak
demikian halnya dengan ikhtilaf walau bagaimanapun bentuk ikhtilaf yang terjadi
diantara kaum muslimin, baik akibat perbedaan dalam masalah-masalah ijtihadiyah,
atau akibat mengambil pendapat keliru yang masih bisa ditolerir, atau akibat memilih
pendapat yang salah karena ketidaktahuannya terhadap dalil-dalil sementara belum
ditegakkan hujjah atasnya, atau karena uzur, seperti dipaksa memilih pendapat yang
salah sementara orang lain tidak mengetahuinya, atau akibat kesalahan takwil yang
hanya dapat diketahui setelah ditegakkan hujjah.
5
MELURUSKAN BEBERAPA KESALAH PAHAMAN
Ada beberapa kekeliruan sebagian orang sekarang ini yang mesti diluruskan, berkaitan
dengan beda antara perpecahan dengan ikhtilaf. Khususnya bagi para penegak amar
ma'ruf nahi mungkar dan para juru dakwah. Yang lebih banyak lagi disebabkan karena
lemahnya ilmu dan pemahaman dalam agama serta minimnya pengalaman, atau
karena ketidakjelian dan salah persepsi. Terlebih lagi bagi para penopang dakwah
islamiyah pada hari ini.
Beberapa kekeliruan itu di dantaranya.
Pertama : Mengingkari terjadinya perpecahan dalam umat ini. yang berakibat sebagian
orang menolak hadits ifftiraq yang telah dinukil secara shahih dari Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ini merupakan kesalahan fatal! Beberapa orang
berasumsi atau mendakwahkan bahwa perpecahan umat tidak mungkin terjadi!
Selintas kelihatannya ia ingin menampakkan keinginan yang tulus bagi umat. Melihat
umat secara lahir saja (yaitu semuanya muslimun), Akibatnya ia menolak hadits iftiraq,
atau mentakwilkannya kepada makna lain, atau beranggapan bahwa perpecahan
hanya terjadi pada kelompok-kelompok yang jelas-jelas di luar Islam atau kelompokkelompok Islam yang secara jelas telah murtad dari Islam. Ini jelas keliru, bahkan jelas
bertentangan dengan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan nashnash dari Al-Qur'an dan As-Sunnah yang menunjukkan terjadinya perpecahan umat.
[[1]]
Umat memang telah dilanda perpecahan, realita itulah yang benar-benar telah terjadi.
Perpecahan termasuk bala', sementara kebenaran tidak akan tampak kecuali dengan
lawannya (kesesatan). Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menuliskannya dalam catatan
takdir bahwa pengikut kebenaran sangat sedikit jumlahnya. Oleh sebab itu, meyakini
terjadinya perpecahan bukan berarti berburuk sangka terhadap umat! Bahkan begitulah
realita yang harus diakui. Berita yang dibawa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
harus dibenarkan. Dan fenomena perpecahan itu sendiri bukan berarti seorang muslim
harus menerimanya tanpa usaha menghindar. Apalagi beranggapan bahwa berpecah
itu dibolehkan, rela berpecah, tidak berusaha mencari kebenaran karena pasrah
menerima takdir. Namun sebaliknya, perpecahan yang pasti terjadi itu justru
mendorongnya mencari dan memegang teguh kebenaran. Memicunya mengenal
keburukan untuk dihindari dan dijauhi. Dan hendaklah ia ketahui bahwa kebenaran
hanya terdapat pada manhaj Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabat
beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam serta manhaj Salafus Shalih.
Kedua : Asumsi bahwa perpecahan pasti terjadi, berarti umat harus menerimanya
dengan rela. Dan para du'at harus menerima kenyataan ini, menerima kesesatan yang
ada tanpa berusaha memperbaikinya. Asumsi seperti ini sering dijadikan alasan
melegitimasi perpecahan. Mereka beranggapan seorang muslim bebas memilih
kelompok manapun! Beralasan dengan realita perpecahan yang pasti terjadi. Sehingga
setiap orang bebas memilih kelompok manapun yang disukainya, meski jelas-jelas
bid'ah dan sesat. Beranggapan boleh bertoleransi dengan kelompok-kelompok tersebut
atau berusaha menyatukan mereka.
Ini merupakan anggapan batil, bahkan termasuk memperdayai kaum muslimin. Sudah
barang tentu tidak boleh menjadikan hadits iftiraq tersebut sebagai alasan untuk
berpecah belah! Atau sebagai dalih menerima bid'ah dan menuruti hawa nafsu atau
rela berada di atas kesalahan. Sebab hadits tersebut diucapkan Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam dalam konteks larangan dan peringatan keras terhadap hal itu.
6
Lebih parah lagi, sebagian orang yang mengaku juru dakwah berpendapat, selagi
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam membenarkan terjadinya perpecahan umat,
maka kita terima dan kita benarkan saja bid'ah dan kesesatan yang terjadi sebagai
suatu realita ! Bukankah kita tahu bahwa pasti dalam beragama itu ada cemar dan
kurangnya! Jelas ini pendapat yang batil, bahkan termasuk perangkap setan yang
menjerat umat manusia. Sebab, di samping Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
menghabarkan terjadinya perpecahan, beliau juga mengabarkan bahwa akan tetap ada
satu kelompok yang teguh diatas kebenaran, yaitu Ath-Thaifah Al-Manshurah.
Golongan yang senantiasa memegang teguh kebenaran, menegakkan amar ma'ruf dan
nahi mungkar. Golongan yang menegakkan hujjah yang nyata. Yang membawa panji
hidayah bagi siapa yang menghendakinya. Yang menjadi panutan bagi yang ingin
kebenaran, kebaikan dan sunnah!.
Jadi, hujjah mesti selalu tegak, kebenaran pasti senantiasa tampak, tidak akan
tersamar sedikitpun bagi orang-orang yang memiliki bashirah dan bagi para pencari alhaq yang jujur. Siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberinya jalan
keluar. Selama kebenaran masih tampak jelas dan panji sunnah masih tetap tegak,
siapapun tidak boleh berpaling darinya, meski dengan itu pengikutnya jadi berkurang,
baik ia seorang da'i atau bukan. Dan ia tidak boleh menerima bid'ah dan kesesatan
meski dengan begitu pengikutnya semakin betambah banyak. Golongan yang selamat
(Al-Firqatun Najiyah) hanya satu dari tujuh puluh tiga kelompok umat ini. Camkanlah
hal itu baik-baik.
Maka menerima bid'ah dan kesesatan dengan dalih takdir tidaklah dibolehkan!
Anggapan seperti itu termasuk memperdayai kaum muslimin, termasuk pembenaran
bagi kebatilan serta berpaling dari kebenaran, dan termasuk juga selain jalan orangorang yang beriman. Semoga Allah memberikan keselamatan bagi kita semua.
Ketiga : Menjadikan ikhtilaf sebagai alasan memvonis sesat yang berseberangan
dengannya, atau menghukumi mereka keluar dari agama atau dari Ahlus Sunnah wal
Jama'ah. Serta beberapa sikap kelewat batas lainnya dalam menghukumi pihak yang
berseberangan. Tanpa merujuk kepada kaidah-kaidah syari'at dan metode alim ulama
dalam masalah ini. Perlu diketahui bahwa dalam memvonis kafir ada batasan dan
kaidah yang perlu diperhatikan. Meskipun terhadap ahli bid'ah dan ahli ahwa' (hawa
nafsu). Sebab vonis kafir, bara'ah (berlepas diri), bughdu (kebencian), hajr
(pemboikotan) dan tahdzir (peringatan) tidak boleh dilakukan tanpa meneliti dan
menegakkan hujjah terlebih dahulu. Maksudnya, tidak boleh terburu-buru memvonis
seseorang keluar dari jama'ah karena bid'ah yang ada padanya atau karena menyalahi
syari'at dan menyelisihi sunah. Sebab barangkali ia tidak tahu hukumnya, seorang
yang jahil tentunya mendapat uzur (dimaklumi) hingga ia mengetahui ilmunya. Banyak
sekali kaum muslimin yang terperangkap lingkungan yang mengitarinya, hingga jatuh
kedalam penyelisihan. Hal itu banyak terjadi di beberapa negara-negara Islam. Banyak
orang yang mencukur jenggotnya, meninggalkan shalat berjama'ah, melakukan amalamal yang menyalahi syari'at bahkan mengucapkan kalimat kufur karena lingkungan
memaksanya. Sekiranya tidak melakukannya mereka bisa dibunuh, disiksa, atau
dirusak kehormatannya! Jadi, bilamana ia lakukan itu semua karena 'terpaksa', maka
seorang hakim yang bijaksana hendaknya dapat menggambarkan hukum apa yang
layak diajatuhkannya. Boleh jadi seorang pelaku bid'ah dan seorang yang meyakini
i'tiqad sesat meyakininya karena takwil (anggapan keliru), sementara hujjah belum
ditegakkan atasnya. Dalam kasus ini, hujjah harus ditegakkan atas mereka! Barangkali
diantara kita pernah melihat seorang melakukan sebuah bid'ah yang pada umumnya
dilakukan oleh pengikut kelompok-kelompok sesat, misalnya bid'ah maulid nabi, jika
ternyata dia seorang awam yang tidak tahu, maka kita tidak boleh tergesa-gesa
memvonis ia orang sesat dan tidak boleh pula menghukuminya keluar dari jama'ah
7
sebelum dijelaskan duduk perkara tersebut dan ditegakkan hujjah atasnya. Adapun
perbuatannya dapat kita hukumi sebagai bid'ah. Namun jangan cepat-cepat
memvonisnya keluar dari jama'ah atau menghukumi sebagai pengikut aliran sesat
hanya karena bid'ah yang dilakukannya sebelum ditegakkan hujjah. Kecuali bid'ah
mukaffirah (yang menyebabkan pelakunya kafir), akan tetapi risalah kecil ini tidak
mungkin memuat perinciannya.
Bahkan sebaliknya, terburu-buru memvonis orang lain keluar dari Ahlus Sunnah wal
Jama'ah dalam masalah-masalah furu termasuk bid'ah dan penyimpangan yang tidak
boleh dilakukan. Sikap seperti itu sangat tercela. Bila ia melihat saudaranya jatuh
dalam perbuatan bid'ah, hendaknya mengecek terlebih dahulu, menanyakannya
kepada ahli ilmu, serta menganggap orang yang melakukannya jahil/tidak tahu, atau
melakukannya karena takwil atau ikut-ikutan saja dan butuh nasihat serta bimbingan.
Dan hendaknya ia perlakukan saudaranya itu dengan lemah lembut terlebih dahulu.
Sebab tujuan kita adalah membimbingnya kepada hidayah bukan memojokkannya.
Keempat : Tidak mengetahui perkara mana saja yang dibolehkan berbeda pendapat
dan mana yang tidak boleh. Yaitu tidak dapat membedakan perkara-perkara khilafiyah
dan perkara-perkara yang tidak boleh diperselisihkan. Hal ini banyak menimpa orang
awam, bahkan juga para du'at. Kami akan berikan beberapa contoh.
1.
Sebagian orang menggolongkan beberapa masalah khilafiyah ke dalam
masalah ushul (pokok). Tanpa merujuk kaidah dan arahan ahli ilmu serta tanpa
bimbingan dari ahli fiqih yang dapat membantu mereka dalam hal ini.
2.
Tidak membedakan antara perkara mukaffirah (yang dapat
mengeluarkan pelakunya dari Islam) dan ghairu mukaffirah (yang tidak mengeluarkan
pelakunya dari Islam).
3.
Tidak memperhatikan tingkatan-tingkatan bid'ah, di antara bid'ah ada
yang dapat mengeluarkan pelakunya dari Islam dan ada yang tidak. Banyak sekali
kesalahan yang dilakukan seseorang, sebuah kelompok atau jama'ah di vonis kafir
secara terburu-buru oleh sebagian oknum. Sebenarnya tidak demikian caranya. Sebab
setiap orang yang mengetahui perkara-perkara yang dapat menyebabkan kekafiran,
seperti meyakini bahwa Al-Qur'an makhluk, lalu ia menerapkan hukum kafir itu atas
setiap orang yang meyakini demikian tanpa membedakan antara menghukumi ucapan
dan menghukumi orang yang mengucapkannya, maka ia telah menyelisihi kaidah
Salafus Shalih Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Ahlus Sunnah wal Jama'ah membedakan antara menghukumi kafir, bid'ah atau fasik
terhadap sesuatu secara umum dengan menghukumi orang tertentu. Boleh jadi kita
menghukumi kufur suatu amalan atau sebuah ucapan, namun bukan berarti setiap
orang yang meyakininya, mengucapkannya atau melakukannya jatuh kafir. Banyak
sekali orang yang tidak membedakan hal ini. Mereka menjatuhkan vonis kafir secara
zhahir saja tanpa memperhatikan kaidah-kaidah takfir (pengkafiran). Padahal vonis
kafir tidak boleh dijatuhkan sehingga benar-benar diteliti, ditegakkan hujjah dan dalil,
serta telah diketahui tidak adanya alasan dan uzdur lainnya yang menghalangi vonis
tersebut terhadap seseorang tertentu. Boleh jadi karena ia jahil, dipaksa atau
mentakwil.
Masalah takfir (mengkafirkan), seseorang perlu penelitian lebih dalam dan perlu
mendatangi orang yang bersangkutan serta perlu meneliti kondisinya disamping perlu
diajak diskusi dan diberi nasihat. Janganlah kita memvonis kafir setiap orang yang
melakukan perbuatan kufur, mengucapkan dan meyakini keyakinan kufur. Kecuali
dalam masalah-masalah prinsipil yang sudah dikenal luas oleh segenap kaum
muslimin. Seperti mengingkari syahadat Laa ilaaha illallah, mengingkari nubuwah nabi
8
Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam, mencela Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam dan masalah-masalah prinsip lainnya.
Perlu diketahui, bahwa ada juga beberapa permasalahan usuhuluddin yang tersamar
perinciannya atas sebagian orang awam. Seperti masalah sifat Allah, masalah takdir,
masalah melihat Allah pada hari Kiamat, masalah syafa'at, mensikapi sahabat dan
beberapa permasalahan lain yang tidak diketahui orang awam secara rinci. Bahkan
juga tersamar perinciannya atas sebagian ilmu. Kadang kala mereka mengucapkan
kalimat kufur tanpa mereka sadari, tanpa mereka sengaja dan tanpa mereka ketahui
serta tanpa memperhatikan dengan seksama ucapan yang dilontarkan. Apakah harus
dihukumi kafir ? Jawabannya tentu saja tidak!.
Kesalahan besar yang sering dilakukan oleh beberapa oknum-oknum yang suka
menghukumi orang lain adalah tidak berhati-hati dalam masalah ini sehingga jatuh
dalam bahaya. Khususnya penuntut ilmu yang masih pemula dan masih muda serta
belum matang mendalami ilmu agama melalui para ulama, namun hanya belajar
secara otodidak dari buku-buku dan sarana-sarana lainnya, tanpa dibimbing dan
dituntun para ulama, dan tanpa memperhatikan kaidah-kaidah dalam pengambilan dalil
dan penetapan hukum. Mereka kerap kali keliru dalam menempatkan kaidah umum
dan dalam menerapkan kaidah itu pada perkara-perkara parsial dan kasus-kasus
tertentu.
Hukum kufur dan kafir atas sebuah perkara dan atas jenis orang tertentu, bukan berarti
hukum kafir bagi setiap orang yang melakukan, mengucapkan dan meyakininya.
Demikian pula halnya hukum-hukum yang berkaitan dengan al-wala' (monoloyalitas)
serta al-bara' (berlepas diri), bukan berarti setiap orang divonis kafir lalu diterapkan
padanya hukum-hukum tersebut.
Sehingga perkaranya menjadi jelas. Maksud kami adalah hukum-hukum al-bara',
sementara al-wala', adalah hak bagi setiap muslim. Tidak boleh memutus al-wala',
sebab al-wala' wajib diberikan kepada setiap orang yang menunjukkan identitas dirinya
sebagai muslim sehingga kita mendapatinya menyelisihi identitas tersebut.
Di antara kesalahan mereka juga adalah : Tidak memperhatikan maslahat dan
mafsadat serta tidak mengetahui kaidah-kaidah yang berkaitan dengan maslahat dan
mafsadat. Hal ini juga merupakan salah satu pemicu utamanya.
[1]
Akan kami sebutkan nash-nash qath'i yang menunjukkan terjadinya perpecahan umat pada pasalpasal mendatang
9
REALITA PERPECAHAN UMAT
Apakah perpecahan benar-benar melanda umat Islam ? Benarkah hal itu terjadi ?.
Persoalan ini terangkum dalam sembilan point.
Pertama.
Hadits mutawatir dari Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai perpecahan
yang melanda umat. Di antaranya adalah hadits iftiraq yang berbunyi.
"Artinya : Umat Yahudi telah terpecah-belah menjadi tujuh puluh satu golongan. Dan
umat Nasrani telah terpecah belah menjadi tujuh puluh dua golongan. Sementara umat
ini (Islam) akan terpecah belah menjadi tujuh puluh tiga golongan"
Hadits Nabi ini sangat masyhur, diriwayatkan oleh sejumlah sahabat dan dicantumkan
oleh para imam dan huffazh dalam kitab-kitab sunan, seperti Imam Ahmad, Abu Daud,
At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Al-Hakim, Ibnu Hibban, Abu Ya'la Al-Maushili, Ibnu Abi Ashim,
Ibnu Baththah, Al-Ajurri, Ad-Darimi, Al-Lalikai dan lain-lain. Hadits ini dinyatakan shahih
oleh beberapa ahli ilmu di antaranya ; At-Tirmidzi, Al-Hakim, Adz-Dzahabi, As-Suyuthi,
Asy-Syathibi dan lainnya. Di samping banyak terdapat jalur sanad bagi hadits ini,
secara keseluruhan dapat mencapai derajat hadits shahih.
Kedua.
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mengabarkan bahwa umat ini
bakal mengikuti tradisi umat-umat terdahulu. Hadits tersebut berbunyi.
"Artinya : Kalian pasti akan mengikuti tradisi umat-umat terdahulu, sejengkal demi
sejengkal, sehasta demi sehasta. Hingga sekalipun mereka masuk lubang biawak,
kalian pasti mengikutinya. "Kami bertanya : 'Wahai Rasulullah, apakah mereka itu
kaum Yahudi dan Nashrani ? Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab :
'Siapa lagi kalau bukan mereka!" [Hadits Riwayat Al-Bukhari, silakan baca Fathul Bari,
8/300 dan Muslim hadits no. 2669] Hadits ini shahih muttafaqun alaihi, tercantum
dalam kitab-kitab shahih dan sunan
Dalam beberapa matan dan lafalnya secara eksplisit hadist ini menjelaskan makna
"menyerupai dan mengikuti" yang dimaksud. Diantaranya sabda Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam.
"Artinya : Ibarat bulu-bulu anak panah yang sama persis"
Dan beberapa lafal lainnya yang sama menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam memperingatkan bahaya perpecahan yang bakal melanda umat ini.
Bahwa hal itu pasti menimpa umat ini. Dan perpecahan yang bakal terjadi itu bukanlah
cela dan cacat atas Islam, atas Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan atas Ahlul Haq, namun
merupakan kecaman terhadap orang-orang yang memisahkan diri dari jama'ah. Orangorang yang memisahkan diri dari jama'ah tentunya bukan termasuk Ahlus Sunnah wal
Jama'ah. Sebab Ahlus Sunnah wal Jama'ah adalah orang-orang yang memegang
teguh Al-Qur'an dan Sunnah, yang tetap berada di atas nilai-nilai ke-Islaman.
Merekalah para penegak kebenaran yang dibangkitkan Allah kepada manusia hingga
hari
Kiamat.
Jadi, perpecahan pasti terjadi berdasarkan berita yang sangat akurat, meskipun relitas
dan logika belum mampu membuktikan kebenarannya!. Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam telah menyampaikannya melalui hadits-hadits beliau yang shahih dengan
beragam lafal. Peringatan terhadap bahayanya juga telah beliau Shallallahu 'alaihi wa
10
sallam sampaikan. Peringatan yang disampaikan berkali-kali itu merupakan sinyalemen
bahwa perpecahan pasti terjadi tanpa bisa dihindari!.
Ketiga.
Adanya nash-nash Al-Qur'an dan As-Sunnah yang mencakup larangan mengikuti jalan-jalan
hawa nafsu dan perpecahan!
Di antaranya adalah.
1. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
!"# "Artinya : Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah
kamu bercerai-berai" [Ali Imran : 103]
2. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
+ , -. (
) * $
"%
#&' "Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar
dan hilang kekuatan" [Al-Anfal : 46]
3. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
8'9 +)6 0 7 /0 "1 / 2*3
4 5, "Artinya : Dan janganlah kamu menyerupai orang-orang yang bercerai-berai dan berselisih
sesudah datang keterangan yang jelas kepada mereka" [Ali Imran : 105]
4. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala
% " / 297 :
; :
"Artinya : Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya" [Asy-Syura :
13]
5. Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
E /# + , D
"%
<= " >
% ?"=
0 @AB
*C) ;3 :
"Artinya : Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalanKu yang lurus, maka
ikutilah dia ; dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya" [Al-An'am : 153]
Secara gamblang Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan ayat di
atas, beliau menarik sebuah garis lurus yang panjang kemudian menarik garis-garis ke
kanan dan ke kiri menyimpang dari garis lurus tadi. Lalu Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam menjelaskan bahwa garis lurus tersebut adalah jalan Allah, sementara garisgaris ke kanan dan ke kiri adalah jalan buntu yang menyimpang dari jalan yang utama
yang lurus tadi [[1]]. Beliau juga menjelaskan bahwa pada jalan-jalan kesesatan tadi
terdapat juru-juru dakwah yang menyeru kepada jalan setan.
Siapa mengikuti mereka, niscaya akan dilemparkan ke dalam jurang kehancuran [[2]]
Keempat.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah melarang kita berbantah-bantahan dalam firmanNya.
"Artinya : Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi
gentar dan hilang kekuatan" [Al-Anfal : 46]
11
Sementara berbantah-bantahan itulah yang terjadi di antara kelompok-kelompok itu
hingga berpecah-belah menjadi bergolong-golongan.
Kelima.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah mengancam siapa saja yang menyimpang dari jalan
orang-orang yang beriman (sahabat) dalam firmanNya.
"Artinya : Dang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min, Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruknya tempat kembali" [An-Nisaa : 115]
Ternyata apa yang disebutkan dalam ayat diatas benar-benar dilakukan oleh
segerombolan orang yang menentang Allah dan RasulNya serta mengikuti selain jalan
orang-orang yang beriman. Mereka itulah kaum munafikin, kaum penentang dan kaum
sempalan. Hanya kepada Allah saja kita memohon keselamatan. Jalan orang-orang
yang beriman itulah jalan Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Keenam.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menetapkan beberapa sanksi atas orang
yang memisahkan diri dari jama'ah, juga menjadi salah satu dalil bahwa hal itu pasti
terjadi! Dengan keras beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam mengancam siapa saja yang
memisahkan diri dari jama'ah, berikut sabda beliau.
"Artinya : Tidak halal darah seorang muslim yang bersaksi tiada ilah yang berhak
diibadahi dengan benar selain Allah dan bersaksi bahwa aku adalah utusa Allah
kecuali dengan tiga alasan :
(1) berzina setelah menikah. (2) Membunuh jiwa tanpa hak (qishash). (3) Murtad dari
Islam yang memisahkan diri dari jama'ah" [Muttafaqun 'alaih, Al-Bukhari IV/317 dan
Muslim V/106]
Ketujuh.
Secara implisit Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memberikan sinyalemen
terjadinya perpecahan ketika beliau menyinggung tentang kelompok Khawarij. Beliau
menyebutkan bahwa kelompok Khawarij ini akan memisahkan diri dari umat, akibatnya
mereka melesat keluar dari agama. Istilah 'keluar dari agama' bukan berarti kafir keluar
dari Islam, akan tetapi maknanya adalah keluar dari asas Islam, keluar dari hukumhukum dan batas-batasnya. Istilah 'keluar dari agama' kadang kala berarti kekafiran
kadang kala tidak sampai kepada batas kafir. Kadang kala bermakna memisahkan diri
dari umat Islam, yaitu dari jama'ah, atau memisahkan diri dari jalur Sunnah Nabi yang
dilalui oleh Ahlus Sunnah, yang merupakan Ahlu Islam sejati.
Kedelapan.
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan untuk memerangi siapa saja yang
memisahkan diri dari jama'ah, sebagaimana yang disinggung dalam hadits di atas tadi.
Sanksi tersebut merupakan sebuah ketetapan bagi sesuatu yang pasti terjadi. Sebab
sangat mustahil ketetapan Nabi itu ngawur dan hanya kira-kira belakan.
Kesembilan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga telah menjelaskan bahwa siapa saja yang
mati dalam keadaan memisahkan diri dari jama'ah, maka ia mati dalam keadaan mati
jahiliyah[[3]]. Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam juga menjelaskan bahwa perpecahan
itu adalah azab, menyempal itu adalah kehancuran dan beberapa perkara lainnya yang
menunjukkan bahwa perpecahan pasti terjadi. Peringatan terhadap bahaya
perpecahan bukanlah gurauan belaka ! Pasti melanda umat sebagai bala'. Perpecahan
tidak akan terjadi bila kaum muslimin berada di atas keterangan ilmu, mengenal
12
kebenaran, mengenal Al-Qur'an dan As-Sunnah serta berpedoman Salafus Shalih,
mencari kebenaran tersebut hingga dapat membedakan antara haq dan batil. Siapa
saja yang mendapat hidayah, maka ia mendapatkannya dengan petunjuk ilmu. Dan
siapa saja yang sesat, maka ia sesat berdasarkan keterangan yang nyata. Hanya
kepada Allah saja kita memohon keselamatan dari kesesatan.
Kesimpulannya.
Berdasarkan dalil-dalil qathi di atas, perpecahan pasti melanda umat ini. Perpecahan
adalah bala' dan adzab yang telah Allah Subhanahu wa Ta'ala tetapkan dan tidak akan
berubah! Perpecahan dengan beragam bentuknya adalah tercela. Setiap muslim harus
mengetahui bentuk-bentuk perpecahan dan para pelakunya sehingga ia dapat
menghindar dari jurang kesesatan!
[1]
Hari ini disebutkan dalam sejumlah hadits, sebagian dari jalaur sanad itu dinyatakan shalih oleh AlHakim, dan disepakati oleh Adz-Dzahabi dan Al-Albani. Silakan lihat kitab As-Sunnah karangan Ibnu Abi
Ashim 1/13-14
[2]
Ibid
[3]
Hal ini telah disebutkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dan lainnya
13
SEJARAH HITAM PERPECAHAN UMAT
Banyak sekali faidah yang dapat dipetik dari pembicaraan seputar sejarah
perpecahan umat. Berbagai peristiwa yang terjadi di awal Islam tersebut sarat dengan
ibrah (pelajaran). Tentunya kami tidak mampu menyuguhkan sejarah perpecahan itu
secara terperinci, akan tetapi ada beberapa point yang dapat kita jadikan pelajaran.
Sembari meluruskan beberapa persepsi keliru sebagian orang sekitar masalah tersebut
dewasa ini.
Pertama.
Sumbu perpecahan yang pertama kali muncul hanyalah berupa i'tiqad dan pemikiran
yang tidak begitu didengar dan diperhatikan. Yang pertama kali di dengar oleh kaum
muslimin dan para sahabat adalah aqidah Saba'iyah yang merupakan cikal bakal
aqidah Syi'ah dan Khawarij. Itulah benih awal perpecahan yang ditaburkan di tengahtengah kaum muslimin. Aqidah ini disebarkan oleh penganutnya secara terselubung
nyaris tanpa suara. Orang pertama yang memunculkan juga asing, nama dan
identitasnya tidak jelas. Orang menyebutnya Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba'. Ia
mengacaukan barisan kaum muslimin dengan aqidah sesat itu. Sehingga aqidah
tersebut diyakini kebenarannya oleh sejumlah kaum munafikin, oknum-oknum yang
merancang makar jahat terhadap Islam, orang-orang jahil dan pemuda-pemuda
ingusan. Begitu pula sekelompok barisan sakit hati yang negeri, agama dan kerajaan
mereka telah ditundukkan oleh kaum muslimin, yaitu orang-orang yang baru memeluk
Islam dari kalangan bangsa Parsi dan Arab Badui. Mereka membenarkan hasutanhasutan Ibnu Saba', membuat makar tersembunyi atas kaum muslimin, hingga
muncullah cikal bakal Syi'ah dan Khawarij dari mereka. Hal ini ditinjau dari sudut
pandang aqidah dan keyakinan sesat yang pertama kali muncul yang menyelisihi asas
Islam dan Sunnah.
Adapun kelompok sempalan yang pertama kali muncul yang memisahkan diri dari
imam kaum muslimin adalah kelompok Khawarij. Benih-benih Khawarij ini sebenarnya
berasal dari aqidah Saba'iyah. Banyak orang yang mengira keduanya berbeda,
padahal sebenarnya cikal bakal Khawarij berasal dari pemikiran kotor Saba'iyah. Perlu
diketahui bahwa Saba'iyah ini terpecah menjadi dua kelompok utama : Khawarij dan
Syi'ah.
Kendati antara keduanya terdapat perbedaan-perbedaan yang mencolok, namun
dasar-dasar pemikirannya setali tiga uang. Baik Khawarij maupun Syi'ah muncul pada
peristiwa fitnah atas diri Amirul Mukminin Utsman bin Affan Radhiyallahu 'anhu. Fitnah
diprakarsai oleh Abdullah bin Saba' lewat ide, keyakinan dan gerakannya. Dari situlah
muncrat
aqidah
sesat,
yaitu
aqidah
Syi'ah
dan
Khawarij.
Perbedaan antara Khawarij dan Syi'ah direkayasa sedemikian rupa oleh tokohtokohnya supaya dapat memecah belah umat. Ibnu Saba' dan konco-konconya
menabur beragam benih untuk menyuburkan kelompok-kelompok pengikut hawa nafsu
itu. Kemudian membuat trik seolah-olah antara kelompok-kelompok itu terjadi
permusuhan guna memecah belah umat sebagaimana yang terjadi dewasa ini. Itulah
yang diterapkan oleh musuh-musuh Islam untuk mengadu domba kaum muslimin,
yakni dengan istilah yang mereka namakan blok kanan dan blok kiri. Mereka
mengkotak-kotakan kaum muslimin menjadi berpartai-partai, partai sayap kanan dan
partai sayap kiri. Begitu berhasil melaksanakan program, mereka munculkan babak
permainan baru dengan istilah sekularisme, fundamentalisme, modernisme, primitif,
14
ekstrimisme, radikalisme dan lain-lain. Semuanya adalah permainan yang sama, dari
sumber yang sama pula. Para pencetusnya juga itu-itu juga demikian pula tujuannya,
hanya saja corak ragamnya berbeda-beda. Jadi secara keseluruhan ini mencerminkan
kuatnya kebatilan, kendati satu sama lain saling bermusuhan.
Kedua.
Ada satu point penting yang perlu diperhatikan, yakni dalam sejarah tidak kita temui
para sahabat saling berpecah belah satu sama lain. Yang terjadi diantara mereka
hanyalah perbedaan pendapat yang kadang kala diselesaikan dengan ijma'
(kesepakatan), atau salah satu pihak tunduk kepada pendapat jama'ah serta tetap
komitment terhadap imam. Itulah yang terjadi dikalangan sahabat.
Tidak ada seorang sahabat-pun yang memisahkan diri dari jama'ah. Tidak ada satupun
diantara mereka yang melontarkan ucapan bid'ah atau mengada-ada perkara baru
dalam agama. Sungguh, para sahabat merupakan imam dalam agama yang mesti
diteladani oleh kaum muslimin. Tidak satupun dari kalangan sahabat yang memecah
dari jama'ah. Dan tak satupun ucapan mereka yang menjadi sumber bid'ah dan sumber
perpecahan. Adapun beberapa ucapan dan kelompok sempalan yang dinisbatkan oleh
sejumlah oknum kepada para sahabat adalah tidak benar! Hanyalah dusta dan
kebohongan besar yang mereka tujukan terhadap para sahabat. Sangat keliru bila Ali
bin Abi Thalib disebut sebagai sumber Syi'ah, Abu Dzar Al-Ghifari sebagai sumber
sosialisme, para sahabat Ahlus Suffah sebagai cikal bakal kaum sufi, Mua'wiyah
diklaim sebagai sumber Jabariyah, Abu Darda' dituduh sebagai sumber Qadariyah,
atau sahabat lain menjadi sumber pemikiran sesat ini dan itu, mengada-adakan bid'ah
dan perkara baru, atau punya pendirian yang menyempal! Jelas itu semua merupakan
kebatilan murni! [[1]]
Iftiraq (perpecahan) itu sendiri mulai terjadi setelah Utsman bin Affan Radhiyallahu
'anhu terbunuh. Pada masa kekhalifahan Utsman, belum terjadi perpecahan yang
serius. Namun ketika meletus fitnah di antara kaum muslimin pada masa kekhalifahan
Ali bin Abi Thalib, barulah muncul kelompok Khawarij dan Syi'ah. Sementara pada
masa kekhalifahan Abu Bakar Radhiyallahu 'anhu dan Umar Radhiyallahu 'anhu,
bahkan pada masa kekhalifahan Utsman Radhiyallahu 'anhu, belum terjadi sama sekali
perpecahan yang sebenarnya. Selanjutnya, para sahabat justru melakukan
penentangan terhadap perpecahan yang timbul. Janganlah dikira para sahabat
mengabaikan atau tidak tahu menahu tentang fenomena negatif ini. Dan jangan pula
disangka mereka kurang tanggap terhadap masalah perpecahan ini, baik seputar
masalah pemikiran, keyakinan, pendirian maupun perbuatan. Bahkan mereka tampil
terdepan menentang perpecahan dengan gigih. Mereka telah teruji dengan baik dalam
sepak terjang menghadapi perpecahan tersebut dengan segala tekad dan kekuatan.
Akan tetapi ketentuan Allah pasti terjadi!
[1]
Termasuk di antara kebatilan tersebut ialah klaim sebagian kaum sufi bahwa asal-usul bid'ah mereka
adalah para shabat Ahlu Suffah Radhiyallahu anhu ajma'in. Sekali-kali tidak demikian ! Bahkan
sebaliknya, kita katakan kepada mereka, "Teladanilah sunnah sahabat Ahlus Suffah tersebut jika kalian
orang-orang yang benar!".
15
TOKOH-TOKOH AHLI BID'AH
Setelah berbicara tentang sejarah perpecahan umat, ada baiknya kita lanjutkan
pembicaraan tentang asal usul bid'ah. Guna mengetahui tokoh-tokoh pencetus kelompokkelompok sesat yang merupakan biang perpecahan. Yaitu oknum-oknum yang mengusung
bid'ah tersebut hingga menjadi pemimpin-pemimpin sesat sampai hari Kiamat. Hingga
sepeninggal mereka, terbuka lebarlah pintu perpecahan, semakin bertambahlah orang-orang
yang menyesatkan. Di antara oknum-oknum tersebut ialah.
1. Pelopor perpecahan : Ibnu Sauda' Abdullah bin Saba' Al-Yahudi, seorang Yahudi
yang mengaku-ngaku beragama Islam. berikut pengikut dan konco-konconya. Ide
kotornya pertama kali muncul sekitar tahun 34H. Ibnu Sauda' ini memadukan antara
bid'ah Khawarij dan Syi'ah.
2. Setelah itu Ma'bad Al-Juhani (meninggal dunia tahun 80H) meluncurkan pemikiran
bid'ah seputar masalah takdir sekitar tahun 64H. Ia menggugat ilmu Allah dan takdirNya. Ia mempromosikan pemikiran sesat itu terang-terangan sehingga banyak
meninggalkan ekses. Disamping orang-orang yang mengikutinya juga banyak. Namun
bid'ahnya ini mendapat penentangan yang sangat keras dari kaum Salaf, termasuk di
dalamnya para sahabat yang masih hidup ketika itu, seperti Ibnu Umar Radhiyallahu
'anhuma.
3. Kemudian muncullah Ghailan Ad-Dimasyqi yang mengibarkan pengaruh cukup besar
seputar masalah-masalah takdir sekitar tahun 98H. Dan juga dalam masalah ta'wil,
ta'thil (mengingkari sebagian siaft-sifat Allah) dan masalah irja[[1]] Para salaf pun
menentang pemikirannya itu. Termasuk diantara yang menentangnya adalah Khalifah
Umar bin Abdul Aziz. Beliau menegakkan hujjah atasnya, sehingga Ghailan
menghentikan celotehannya sampai Umar bin Abdul Aziz wafat. Namun setelah itu,
Ghailan kembali meneruskan aksinya. Ini merupakan ciri yang sangat dominan bagi ahli
bid'ah, yaitu mereka tidak akan bertaubat dari bid'ah. Sekalipun hujjahnya telah
dipatahkan, mereka tetap kembali menentang dan kembali kepada bid'ahnya. Ghailan
ini akhirnya dibunuh setelah dimintai taubat namun menolak bertaubat pada tahun
105H.
4. Setelah itu muncullah Al-Ja'd bin Dirham (yang terbunuh tahun 124H). Ia
mengembangkan pendapat-pendapat sesat itu. Dan meracik antara bid'ah Qadariyah
dengan bid'ah Mu'aththilah[[2]] dan ahli ta'wil. Kemudian ia menyebarkan pemikiran
rancu (syubhat) di tengah-tengah kaum muslimin. Sehingga para ulama Salaf memberi
peringatan kepadanya dan menghimbaunya untuk segera bertaubat. Namun ia menolak
bertaubat. Para ulama membantah pendapat-pendapat Al-Ja'd ini dan menegakkan
hujjah atasnya, namun ia tetap bersikeras. Maka semakin banyak kaum muslimin yang
terkena racun pemikirannya, para ulama memutuskan hukuman mati atasnya demi
tercegahnya fitnah (kesesatan). Ia pun dibunuh oleh Khalid bin Abullah Al-Qasri. Kisah
terbunuhnya Al-Ja'd ini sangat mashur, Khalid berpidato seusai menunaikan shalat 'Idul
Adha :
"Sembelihlah hewan kurban kalian, semoga Allah menerima sembelihan kalian, sementara aku
akan menyembelih Al-Ja'd bin Dirham, karena telah mendakwahkan bahwa Allah Subhanahu
wa Ta'ala tidak menjadikan Ibrahim sebagai khalil-Nya dan Allah tidak mengajak Nabi Musa
berbicara ...... dan seterusnya". Kemudian beliau turun dari mimbar dam menyembelihnya.
Peristiwa ini terjadi pada tahun 124H.
5. Sesudah peristiwa itu, api kesesatan sempat padam beberapa waktu. Hingga kemudian
marak kembali melalui tangan Al-Jahm bin Shafwan. Yang mengoleksi bid'ah dan
kesesatan generasi pendahulunya serta menambah bid'ah baru. Akibat ulahnya
muncullah bid'ah Jahmiyah serta kesesatan dan penyimpangan kufur lainnya yang
ditularkannya. Al-Jahm bin Shafwan ini banyak mengambil ucapan-ucapan Ghailan dan
Al-Ja'd, bahkan ia menambah lagi dengan bid'ah ta'thil (penolakan sifat-sifat Allah),
16
bid'ah ta'wil, bid'ah irja', bid'ah Jabariyah[[3]], bid'ah Kalam[[4]], tidak meyakini Allah
bersemayam di atas Arsy, menolak sifat Al-'Uluw (yang maha tinggi) bagi Allah,
menolak ru'yah[[5]]. Al-Jahm dihukum mati pada tahun 128H
6. Dalam waktu yang bersamaan, munculah pula Washil bin Atha' dan Amr bin Ubeid.
Mereka berdua meletakkan dasar-dasar pemikiran Mu'tazilah Qadariyah.
Setelah itu terbukalah pintu perpecahan. Kelompok Rafidhah mulai berani menyatakan
terang-terangan aqidah dan keyakinannya. Kemudian sekte Syi'ah ini terpecah belah
menjadi beberapa golongan. Lalu muncullah kaum Musyabbihah[[6]] dari kalangan
Syi'ah melalui tokoh-tokohnya seperti Daud Al-Jawaribi, Hisyam bin Al-Hakam,
Hisyam bin Al-Jawaliqi dan lain-lain. Mereka itulah peletak dasar ajaran Musyabbihah
dan pelopornya. Mereka juga termasuk pengikut ajaran Syi'ah. Kemudian muncullah AlMutakallimun (Ahli Kalam) seperti Al-Kullabiyah[[7]], Al-Asy'ariyah[[8]] dan Al-Maturidiyah.
Lalu muncul pula aliran-aliran sufi dan ahli-ahli filsafat. dengan demikian, pintu
perpecahan terbuka luas bagi setiap orang sesat, ahli bid'ah dan pengiku hawa nafsu.
Sehingga tertancaplah dasar-dasar perpecahan di antara kaum muslimin sekarang ini.
Sampai hari ini, ekses-ekses perpecahan masih terlihat di antara kaum muslimin.
Bahkan terus bertambah dengan muculnya bid'ah-bid'ah dan penyimpanganpenyimpangan baru di samping perpecahan yang sudah ada, sejalan dengan hawa
nafsu manusia yang sudah begitu akrab dengan bid'ah kesesatan.
Sebagian orang mengira bahwa kelompok-kelompok bid'ah ini sudah sirna dan sudah menjadi
koleksi sejarah masa lalu. Entah karena kejahilan mereka atau karena pura-pura tidak tahu!
Asumsi seperti itu jelas keliru. Setiap golongan sesat yang besar dan berbahaya di masa lalu
masih tetap ada sampai sekarang di tengah-tengah kaum muslimin. Bahkan semakin banyak,
semakin berbahaya dan semakin menyimpang. Rafidhah dengan sekte-sektenya yang batil
serta golongan Syi'ah lainnya, Khawarij, Qadariyah, Mu'tazilah, Jahmiyah, Ahli Kalam, Kaum
Sufi dan Ahli Filsafat, masih berusaha menyesatkan umat. Bahkan mereka mulai berani
menampakkan taring, mempromosikan aqidah mereka dengan cara yang lebih keji dari pada
sebelumnya. Karena pada hari ini mereka mengklaim ajaran mereka sebagai ilmu pengetahun,
wawasan dan pemikiran. Disamping minimnya pemaham kaum muslimin tentang agama
mereka dan kejahilan mereka tentang aqidah yang benar. Cukuplah Allah sebagai pelindung
kita, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.
[1]
Pemikiran bahwa Iman itu statis, tidak bertambah dan tidak berkurang
[2]
Orang-orang yang menolak sifat-sifat Allah
[3]
Radikal dalam penetapan takdir hingga meyakini bahwa manusia tidak ikhtiar dalam amal
perbuatannya
[4]
Yaitu meyakini bahwa Al-Qur'an adalah mahluk bukan Kalamullah
[5]
Yaitu menolak meyakini Allah dapat dilihat kaum mukminin di Surga pada hari Kiamat
[6]
Musyabbihah adalah orang-orang yang menyerupakan sifat Allah dengan sifat makhluknya
[7]
Pengikut Ibnu Kullab. Inti aqidah mereka ialah hanya menetapkan beberapa sifat Allah saja yang
menurut mereka dapat diterima falsafah akal mereka.
[8]
Pengikut Abul Hasan Al-Asy'ari yang inti aqidah mereka sama dengan Al-Kullabiyah dengan sedikit
perbedaan-perbedaan
17
SEBAB-SEBAB PERPECAHAN
Seandainya kita berusaha menelusuri sebab-sebab perpecahan sejak awal mula
perpecahan itu terjadi sampai pada hari ini niscaya kita dapati banyak sekali faktorfaktor yang memicu terjadinya perpecahan. Bahkan hampir-hampir tidak terhitung
banyaknya. Setiap mecuatnya sebuah pemikiran, tradisi dan bid'ah baru, pasti
menimbulkan sebuah perpecahan baru pula. Namun dalam hal ini, ada beberapa faktor
dominan yang juga merupakan sumber utama penyebab terjadinya perpecahan dari
dulu hingga sekarang. Kami akan meringkasnya sebagai berikut.
1.
Perpecahan Adalah Bentuk Perselisihan Yang Lebih Tajam
Faktor terpenting yang memicu terjadinya perpecahan dan yang terdahsyat efeknya
terhadap umat adalah konspirasi dan makar yang dilancarkan oleh berbagai kaum
pemeluk agama, seperti kaum Yahudi, Nashrani, Shabi'un (penyembah binatang dan
dewa-dewa), Majusi dan Dahriyun (atheis).
Demikian pula barisan sakit hati yang masih menyimpan dendam terhadap Islam dan
kaum muslimin. Karena jihad Islam telah menyudahi kekuasaan mereka dan
menghapus kejayaan mereka dari muka bumi. Seperti kerajaan Persia dan Romawi. Di
antara mereka masih tersisa segelintir oknum yang bertahan di atas kekafirannya serta
masih menyimpan dendam kesumat terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka lebih
memilih jalan kemunafikan dan zindiq, yaitu menampakkan ke-Islaman secara lahiriyah
saja. Atau lebih memilih tetap memeluk agama mereka yang lama dengan membayar
jizyah (upeti) sebagai jaminan keselamatan dan keamanan supaya dapat hidup
berdampingan dengan kaum muslimin. Merekalah faktor paling dominan yang
menciptakan perpecahan dengan menebar tipu daya melalui pemikiran, prinsip-prinsip,
bid'ah-bid'ah dan hawa nafsu di tengah-tengah kaum muslimin.
2.
Tidak Semua Perselisihan Merupakan Perpecahan
Pentolan-pentolan ahli ahwa (pengikut hawa nafsu) yang berusaha mengeruk
keuntungan pribadi atau kelompok di balik awan hitam perpecahan. berikut para
pengikutnya yang senantiasa menebar huru hara. Banyak kita dapati di antara
pengikut-pengikut golongan sesat yang berusaha meraih keuntungan pribadi dibalik
perpecahan tersebut demi memuaskan syahwat dan hawa nafsu atau demi
kepentingan golongan, suku, kabilah dan lainnya. Bahkan mereka acap kali berperang
demi membela kepentingan hawa nafsu atau karena fanatisme golongan. Merekalah
yang berperan sebagai katalisator perpecahan. Dan mereka pula yang memperbanyak
jumlah pengikut-pengikut kelompok sesat yang memang punya kepentingan sama,
yaitu sama-sama mencari keuntungan.
Kelompok ini akan selalu ada kapan dan di mana saja. Setiap kali muncul pemikiran
nyeleneh, bid'ah atau pengikut hawa nafsu, pasti selalu saja ada orang yang
mengikutinya, baik dari kalangan pengikut hawa nafsu ataupun orang yang punya
kepentingan pribadi. Orang-orang model begini pasti selalu ada di sepanjang zaman,
semoga Allah tidak memperbanyak jumlah mereka.
3.
Perpecahan Hanya Terjadi Dalam Masalah Prinsipil
Kebodohan adalah salah satu faktor pemicu terjadinya perepecahan. Kebodohan
merupakan penyakit akut yang sangat sulit disembuhkan, yang pada waktu bersamaan
menciptakan atmosfir-atmosfir perpecahan. Kebodohan yang dimaksud adalah
kebodohan dalam bidang agama, baik kebodohan dalam aspek aqidah maupun aspek
syari'at. Jahil terhadap sunnah serta kaidah-kaidah dan metodologinya. Bukan hanya
buta tentang beberapa disiplin ilmu saja, sebab seperangkat ilmu yang menjadi
18
pelindung diri dan pedoman operasional agama sudah cukup bagi mereka untuk
disebut alim terhadap masalah agama sekalipun tidak menguasai seluruh disiplin ilmu.
Akan tetapi ada juga sebagian orang yang memiliki maklumat yang lumayan banyak,
namun jahil tentang kaidah-kaidah dasar agama. Ia tidak mengerti kaidah-kaidah dasar
aqidah, etika-etika dalam berbeda pendapat, kaidah-kiadah dalam menghadapi
perpecahan dan menyikapinya serta etika-etika mu'amalah dengan orang lain. Ini
sungguh musibah yang sangat besar yang sangat banyak menimpa umat manusia
sekarang ini.
Misalnya seseorang yang memiliki sejumlah maklumat agama atau seorang yang
banyak menimba ilmu dari berbagai sumber, namun ternyata ia jahil tentang masalah
aqidah dan fiqih. Tidak mengerti etika bermu'amalah, prosedur memvonis orang lain.
Tidak memahami kaidah-kaidah dakwah dan amar ma'ruf nahi mungkar, sehingga
tanpa disadari ia telah berbuat kerusakan. Jelaslah, kejahilan merupakan musibah dan
penyebab utama terjadinya sebuah perpecahan, orang-orang jahil merupakan aktor
utama sekaligus pemicu terjadinya perpecahan.
4.
Perselisihan Kadang Kala Timbul Karena Perbedaan Ijtihad Tidak
Demikian Halnya Perpecahan.
Kerancuan dalam metodologi memahami agama. Berapa banyak kita temukan orang
yang memiliki ilmu pengetahuan dan banyak menelaah buku-buku, namun menempuh
metodologi memahami agama yang rancu. Sebab memahami agama memiliki metode
tersendiri yang sudah diwarisi sejak zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam,
para sahabat, tabi'in serta generasi Salafus Shalih dan orang-orang yang mengikuti
jejak mereka hingga hari ini.
Metodologi tersebut ialah menuntut ilmu, mengamalkan, ihtida' (mengikuti petunjuk),
iqtida' (meneladani kaum salaf), suluk (adab dan akhlak) dan mu'amalah. Yaitu
menguasai kaidah-kaidah dasar syari'at lebih banyak daripada mengenal hukumhukum furu' dan sejumlah nash-nash tertentu saja. Dengan begitu kita dapat
memahami agama secara sempurna dari para pemimpin teladan, yaitu para imamimam dan para penuntut ilmu yang terpercaya dan mapan ilmunya. Yaitu menuntut
ilmu sesuai dengan tahapan-tahapannya, baik secara kuantitas maupun jenis, sesuai
dengan perkembangan dan kesiapan. Ilmu yang menghasilkan pemahaman agama
yang baik ialah ilmu syar'i yang ditimba dari Al-Qur'an dan As-Sunnah serta atsar-atsar
para imam yang shahih. Buku-buku tsaqafah (pengetahuan umum), pemikiran, sastra,
sejarah dan sejenisnya tidaklah dapat menghasilkan pemahaman agama. Hanyalah
sebagai ilmu sampingan dan alat bantu bagi yang dapat memetik faidah darinya.
Fenomena Kerancuan Dalam Metodologi Memahami Agama
Beberapa Fenomena Kerancuan Dalam Metodologi Memahami Agama Yang
Dimaksud Adalah.
1.
Mengambil ilmu tidak dari ahlinya.
Maksudnya ialah sebagian orang mengambil ilmu dari setiap orang yang
mengajak mereka belajar. Dan dari setiap orang yang mengibarkan bendera
dakwah serta mengaku: "Aku adalah seorang juru dakwah". Akhirnya mereka
jadikan juru dakwah itu sebagai imam panutan dalam masalah agama. Merekapun menimba ilmu darinya, padahal juru dakwah itu tidak paham Islam sama
sekali. Oleh sebab itu, kita temui sekarang ini slogan-slogan mentereng yang
dikibarkan panji-panjinya oleh sekumpulan umat manusia, terutama para
pemuda.
19
Kita dapati pemimpin dan ketuanya jahil tentang dasar-dasar agama. Lalu mereka
berfatwa tanpa ilmu, akhirnya mereka sesat lagi menyesatkan.
Sebabnya ialah juru-juru dakwah tersebut melihat dirinya banyak diikuti orang yang
mengambil ilmu agama darinya tanpa hati-hati dan mencari kejelasan serta tanpa
metodologi yang benar. Mereka tidak melihat apakah pemimpinnya itu layak diambil
ilmunya ataukah tidak !?
Pada umumnya mereka lebih terbawa perasaan daripada dituntun oleh ilmu. Ini jelas
sebuah kesalahan fatal, artinya setiap muncul juru dakwah yang kondang dan
kharismatik mereka langsung menjadikannya sebagai imam dalam agama. Meskipun
juru dakwah tersebut tidak punya ilmu pengetahuan tentang sunnah nabi dan fiqih
sedikitpun. Sungguh benar sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
"Artinya : Sesungguhnya Allah tidak mencabut suatu ilmu secara sekaligus setelah
dianugrahkan kepadamu. Namun Allah Subhanahu wa Ta'ala akan mencabutnya dari
manusia dengan mewafatkan para ulama berserta ilmunya. Maka yang tersisa
hanyalah orang-orang jahil. Apabila mereka dimintai fatwa maka mereka memberi
fatwa menurut pendapat mereka sendiri. Maka mereka sesat dan menyesatkan"
[Hadits Riwayat Al-Bukhari dalam Kitab Al-I'tisham bil Kitab was Sunnah 8/282. Hadits
ini diriwayatkan juga dengan lafal yang berbeda oleh Imam Muslim, Ahmad, AtTirmidzi, Ibnu Majah dan Abu Daud]
Dakwah kepada agama Allah dan amar ma'ruf nahi mungkar hanya pantas dicetuskan
oleh para ulama yang mulia lagi paham tentang masalah agama dan menimba ilmunya
dari sumber yang asli dengan berlandaskan metode yang benar. Jika demikian, tidak
semua orang yang akalnya dipenuhi pengetahuan, wawasan dan pemikiran-pemikiran
boleh dijadikan imam dalam agama. Sebab banyak sekali dijumpai orang fasik bahkan
orang kafir yang mengetahui banyak persoalan agama Islam, dan banyak pula dijumpai
dari kalangan orientalis yang menghafal sejumlah buku-buku induk dalam ilmu fiqih.
Bahkan mereka hafal Al-Qur'an, Shahih Bukhari, kitab-kitab Sunan dan lain-lainnya.
Orang-orang seperti itu hanyalah hafal ilmu namun tidak memahami agama sama
sekali. Begitu pula banyak orang yang mengaku dirinya muslim, dan memiliki sejumlah
maklumat, namun tidak memahami metodologi memahami agama, tidak memahami
kaidah-kaidah amal, mu'amalah dam iltizam (komitmen) terhadap As-Sunnah. Tidak
mengambil dienul Islam dengan metodologi yang benar. Tidak mengambilnya dari
ulama rabbani, sehingga mereka berfatwa tanpa ilmu, mengarahkan dan
mengumpulkan orang tanpa dasar ilmu dan aqidah yang benar.
2.
Salah satu fenomena kerancuan dalam metodologi memahami agama yang
merupakan sebab perpecahan umat ialah memisahkan diri dari para ulama.
Yaitu sebagian penuntut ilmu, juru dakwah dan pemuda memisahkan diri dari
ulama. Mereka merasa cukup menimba ilmu agama melalui buku, kaset,
majalah dan media-media lainnya. Mereka enggan menuntut ilmu dari para
ulama. Hal ini jelas merupakan gejala yang berbahaya bahkan merupakan benih
perpecahan umat. Jika kita kembali melihat sejarah awal perpecahan umat
Islam, seperti menyempalnya kelompok Khawarij dan Rafidhah, niscaya kita
dapati bahwa diantara faktor utama terjadinya bencana perpecahan di kalangan
orang-orang yang mengaku Islam -selain orang-orang munafik dan zindiqadalah memisahkan diri dari sahabat. Melecehkan sahabat dan menolak
mengambil ilmu dari sahabat. Orang-orang itu lebih memilih menimba ilmu
secara otodidak atau dari rekannya. Mereka berkata : "Kami sudah menguasai
Al-Qur'an, kami sudah memahami As-Sunnah, kami tidak butuh bimbingan
orang lain, maksud mereka, tidak butuh bimbingan para sahabat dan ulama dari
kalangan tabi'in. Dari situlah mereka menyempal dan keluar dari metodologi
20
memahami agama yang benar. Menyimpang dari jalan orang-orang yang
beriman (para sahabat), jalan (metode) yang diambil dari Nabi Shallallahu 'alaihi
wa sallam. Dan metode yang diambil para tabi'in dari para sahabat, kemudian
diambil oleh generasi salaf dari para imam-imam terpercaya generasi demi
generasi. Dalam hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Ilmu ini akan diambil oleh para imam yang adil dari setiap generasi" [Hadits
Riwayat Al-Khatib Al-Baghdadi dalam buku Syarah Ashhabul Hadits hal. 28-29, Ibnu
Adi dalam buku Al-Kamil I/152-153 dan III/902 dan dinyatakan hasan oleh beliau. Dan
dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam buku Bughyatul Multamis hal. 34-35]
Para imam yang adil adalah para penghafal hadits yang tsiqah (kuat hafalannya), yaitu
yang mengambil ajaran agama ini dari para ulama lalu mereka menyampaikannya
kepada orang lain.
Memisahkan diri dari ulama merupakan bahaya yang sangat besar. Sebab ilmu hanya
akan membuahkan berkah bila diambil secara benar dari alim ulama. Dan eksistensi
ulama tidak akan pernah terputus sampai akhir zaman.
Propaganda segelintir orang bahwa ulama juga punya kekurangan dan kekeliruan
adalah propaganda yang menyesatkan. Memang benar, ulama juga manusia biasa
yang tidak terlepas dari kekurangan dan kekeliruan, namun jangan lupa, secara umum
mereka merupakan teladan dan panutan. Mereka adalah hujjah, melalui merekalah
Allah Subhanahu wa Ta'ala menyalurkan agama ini. Merekalah ahli dzikir dan rasikhun
(dalam ilmunya). Merekalah para imam yang mendapat petunjuk dan siapa saja yang
menyimpang dari jalan mereka pasti binasa. Merekalah jama'ah, siapa saja yang keluar
darinya pasti sesat. Menimba ilmu dari selain ahlinya (ulama) merupakan tindakan
yang sangat berbahaya, baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.
3.
Di antara gejala salah kaprah dalam memahami agama adalah pelecehan
kepada ulama yang dilakukan oleh sebagian orang yang sok tahu dan sejumlah
oknum juru dakwah.
Sangat disayangkan, gejala tidak sehat ini kita lihat mulai merebak. Tentu saja ini
sangat mengkhawatirkan. Kita wajib saling menasihati guna mencegahnya.
Sebab setiap perkara yang tidak segera ditanggulangi para penuntut ilmu dan
alim ulama bisa menjadi bahaya besar.
4.
Sebagian pemuda yang berguru kepada sesama mereka, atau kepada
pelajar-pelajar yang tidak lebih pandai daripada mereka.
Yaitu belajar secara penuh serta meninggalkan ulama-ulama besar dan
memutuskan hubungan dengan mereka. Bukan maksudnya tidak boleh belajar
dari para penuntut ilmu, bahkan siapa saja yang menguasai salah satu disiplin
ilmu syari'at, di samping itu ia juga seorang yang shalih, tentu boleh saja
menimba ilmu darinya. Namun juga bukan berarti meninggalkan orang yang
lebih alim daripadanya. Atau merasa cukup dengan penuntut ilmu itu serta
memutuskan hubungan dengan para ulama besar. Sebab bisa jadi hal itu
menjadi salah satu faktor munculnya perpecahan. Yaitu bilamana para pemuda
tersebut sudah merasa cukup mengambil ilmu, teladan, panutan, etika dan
petunjuk dari sebagian penuntut ilmu serta meninggalkan para ulama yang lebih
alim, lebih terhormat dan lebih senior.
Sudah barang tentu hal ini sangat berbahaya. Dan lebih bahaya lagi bila sebagian
pemuda tersebut dianggap syaikh dalam hal ilmu oleh sebagian yang lain.
Namun hal itu jangan disalah tafsirkan sebagai larangan menyelenggarakan majelis
ilmu (selain majles ulama), bergaul dan bekerja sama dalam dakwah dan amar ma'ruf
21
nahi mungkar. Bahkan majelis-majelis dan kerja sama dalam hal itu sangat dianjurkan.
Akan tetapi yang dimaksud di sini adalah menimba ilmu dengan metode yang keliru,
yaitu menolak mengambil ilmu dari para ulama. Sikap seperti itu merupakan ciri ahli
bid'ah dan ahwa', sikap yang sangat berbahaya dan merupakan faktor utama
meletusnya perpecahan. Sebab metode seperti itu akan membatasi pengambilan ilmu
dari orang-orang tertentu saja. Hal itu bisa menggiring kepada hizbiyyah (bergolonggolongan) dan ashabiyah (fanatik golongan). Apalagi karakter ulama tidak tampak pada
diri pemuda-pemuda itu. Dari sinilah bibit perepecahan akan tumbuh.
5.
Perpecahan
Perselisihan
Mesti
Diiringi
Dengan
Ancaman,
Berbeda
Halnya
Di antara sebab-sebab perpecahan adalah asumsi yang berkembang bahwa mengikuti
para imam-imam yang berada di atas hidayah dan ilmu sebagai sikap taqlid
(membebek) yang dilarang. Kerancuan seperti ini sering kita dengar dari sebagian
orang yang sok tahu. Mereka berkata :
"Mengikuti syaikh-syaikh adalah taqlid". Sementara taqlid tidak dibolehkan dalam
agama, mereka manusia dan kita juga manusia, kita berijtihad sebagaimana mereka
berijtihad, kita memiliki sarana berupa buku-buku, zaman sekarang sarana ilmu
tersedia lengkap, mengapa kita harus mengambil ilmu dari ulama ? Bahkan mengambil
ilmu dari ulama termasuk taqlid, sementara taqlid itu sendiri adalah batil!
Kita jawab : 'Benar, taqlid memang batil, namun apa pengertian taqlid itu? Ada
beberapa perbedaan mencolok antara taqlid dengan mengikuti petunjuk para imam.
Secara syar'i, mengikuti para imam hukumnya wajib. Sementara mayoritas kaum
muslimin, bahkan banyak dari kalangan penuntut ilmu, tidak mampu berijtihad dengan
benar dan tidak mampu mengambil dasar-dasar ilmu dengan cara yang benar. Lalu
dari mana mereka mengambil ilmu? Dan bagaimana mereka mempelajari metodologi
memahami agama dengan benar, kaidah-kaidah sunnah nabi dan pedoman-pedoman
Salafus Shalih dan para imam ?
Tidak ada jalan lain kecuali mengikuti alim ulama. Jelaslah hal itu bukan taqlid. Bila
tidak demikian, maka setiap orang akan menjadi imam bagi dirinya sendiri dan setiap
orang akan memecah menjadi kelompok tersendiri. Konsekwensinya, kelompokkelompok tersebut akan berpecah sebanyak jumlah manusia. Hal itu tentu saja batil.
Jadi jelaslah bahwa mengikuti para imam yang berada di atas petunjuk dan ilmu
bukanlah termasuk taqlid. Hanya mengikuti secara membabi buta sajalah yang layak
dikatakan taqlid!
Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman.
"Artinya : Maka tanyakanlah olehmu kepada orang-orang yang berilmu, jika kamu tidak
mengetahui" [Al-Anbiya' : 7]
Salah satu gejala yang berbahaya adalah belajar hanya dengan mengandalkan
sarana-sarana ilmu (seperti buku dan sejenisnya). Misalnya seorang penuntut ilmu
merasa cukup mengambil ilmu melalui buku-buku lalu menyingkir dari manusia,
menjauhkan diri dari ulama, mengabaikan orang-orang shalih, orang-orang yang
berjasa terhadap Islam yang menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar, serta
memisahkan diri dari ulama, ia berkata : 'Saya cukup belajar dari buku-buku, kasetkaset, radio dan lain-lain'. Kemudian ia bekata lagi : 'Saya mampu belajar melalui
sarana-sarana ini!'.
Jawaban kami : 'Tentu saja, sarana-sarana ini merupakan nikmat, tetapi juga
merupakan senjata bermata dua. Merasa cukup belajar ilmu-ilmu syar'i melalui saranasarana itu merupakan kekeliruan dan merupakan salah satu sebab timbulnya
22
perpecahan umat. Karena hal itu akan mendorongnya untuk beruzlah (menyendiri)
yang dilarang. Atau akan memunculkan sosok ahli ilmu yang tidak baik, karena mereka
mengambil ilmu tidak sebagaimana mestinya, tidak berdasarkan kaidah dan tanpa
petunjuk dan bimbingan alim ulama. Mereka mengambil ilmu menurut cara mereka
sendiri, dengan hawa nafsu, perasaan dan perhitungan pribadi mereka sendiri. Apabila
terjadi pertikaian, mereka menyimpang dan menolak pendapat ulama. Padahal
meskipun seseorang mempunyai kepandaian dan kemampuan serta memiliki keahlian
khusus seperti apapun, ia tidak akan mungkin dengan sendirinya akan sampai kepada
kebenaran selama ia tidak mengenal pedoman-pedoman salaf dan ahli ilmu pada
zamannya.
Namun, para pemuda bersama para ulama harus bahu-membahu menanggulangi
persoalan ilmiah atau problematika umat. Jika para pemuda itu tidak melakukan hal itu,
mereka akan binasa dan membinasakan orang lain.
Bahkan sarana-sarana tersebut memberikan gambaran sosok orang-orang yang
disebut para intelektual kepada kita. Mereka mengetahui sejumlah maklumat yang
membuat orang-orang takjub. Namun mereka tidak mengerti kaidah-kaidah dasar
agama, tidak mengerti pedoman Salafus Shalih, mereka dapati orang-orang mengikuti
mereka tanpa ilmu. Fenomena seperti ini banyak kita dapati sekarang ini dalam
beragam bentuk dan modelnya. Bahkan ada juga di antara orang-orang model begitu
yang menjadi juru dakwah dan pembina para pemuda hanya karena memiliki maklumat
dan pengetahuan umum yang membuat orang-orang awam tercengang.
Kadangkala mereka juga mengetahui sejumlah masalah-masalah syari'at, namun tidak
menguasai kaidah-kaidahnya, tidak mengerti tata cara memahaminya, tidak mengerti
cara penerapan dan operasionalnya serta tidak mengerti metode ahli ilmu dalam
mengupas persoalan-persoalan ilmiah berikut penerapannya di lapangan.
6.
Kurang Memahami Kaidah-Kaidah Berselisih Pendapat
Di antara sebab-sebab perpecahan adalah kurang memahami kaidah-kaidah berselisih
pendapat. Yang saya maksud di sini adalah mengenal hukum-hukum berbeda
pendapat antara dua orang muslim dan efek yang timbul di balik itu. Mana saja yang
boleh diperselisihkan dan mana yang tidak. Jika ada seseorang menyelisihi, bilakah
penyelisihannya itu dapat ditolerir ? Bilakah kita boleh memvonisnya kafir atau fasik ?
Apakah vonis seperti itu boleh dijatuhkan oleh siapa saja ?
Banyak sekali orang yang tidak mengetahui perincian masalah tersebut. Terkadang
dari sinilah muncul perpecahan yang seharusnya tidak terjadi ! Demikian pula
dangkalnya pemahaman tentang kaidah-kaidah ijma' dan jama'ah. Memahami kaidahkaidah tersebut sangat penting sekali yang dewasa ini banyak diabaikan oleh
mayoritas penuntut ilmu syar'i. Di samping mereka juga tidak memahami tujuan dan
makna persatuan umat, kaidah-kaidah jama'ah, bahkan banyak di antara mereka yang
tidak mengerti titik-titik rawan perpecahan dan sebab terjadinya, titik rawan fitnah dan
sebab pecahnya fitnah. Mereka tidak memahami mana saja hukum-hukum dan kaidahkaidah yang tetap dan yang dapat berubah-ubah.
Ciri mereka adalah jahil terhadap kaidah-kaidah umum syari'at dan hikmah-hikmah
umum syari'at, seperti kaidah-kaidah yang berkaitan 'mengambil maslahat dan menolak
mafsadah', kaidah 'kesulitan mendatangkan kemudahan', kaidah penetapan bilakah
seseorang mendapat dispensasi, bilakah kaidah 'darurat' dapat diterapkan, dan
bagaimana caranya menerapkan seperangkat kaidah tentang 'darurat', hukum-hukum
pada masa fitnah, perdamaian. Mereka juga tidak mengetahui kaidah dan etika
bermu'amalah terhadap orang yang beselisih pendapat dengannya, etika terhadap
ulama dan penguasa. Oleh karena itu kita dapati banyak di antara mereka yang tidak
23
dapat membedakan antara kondisi gawat dan fitnah dengan kondisi aman dan damai,
akibatnya keliru dalam berkomentar dan menetapkan hukum. Ini jelas merupakan
kekeliruan besar dan salah satu sebab perpecahan.
Saya beri contoh tentang pertikaian yang terjadi antara saudara-saudara kita di
Afghanistan. yaitu pertikaian yang terjadi di wilayah Kunar. Orang yang punya bashirah
akan mengetahui bahwa pertikaian yang terjadi bukan antara haq dan batil secara
mutlak. Atau bukanlah pertikaian dalam masalah aqidah secara mutlak. Tidak ada dalih
qath'i yang menunjukkan bahwa kebenaran ada pada salah satu dari dua pihak yang
bersengketa. Hanya saja menurut sebagian orang, kebenaran lebih condong pada
salah satu dari dua pihak tersebut. Sementara menurut orang lain justru sebaliknya.
Maka cara yang paling tepat adalah mencari kejelasan lalu berusaha menciptakan
perdamaian dan memadamkan api pertikaian dan mengembalikan permasalahan
kepada
ahli
ilmu[[1]]
Akan tetapi yang berkomentar tentang fitnah itu adalah orang-orang yang tidak
mengerti hukum seputar fitnah, dan kapan waktunya harus angkat bicara dan kapan
waktunya harus diam. Kapan kita boleh mengomentari seseorang dan menjatuhkan
vonis atasnya dan kapan hal itu tidak dibolehkan. Sementara ia tidak punya
pengetahuan tentang kemaslahatan umat Islam yang besar. Kemaslahatan yang
berlaku bagi terciptanya persatuan umat Islam. Bagaimana menyatukan persepsi dan
mengadakan perdamaian. Serat keharusan menahan diri berbicara apabila dengannya
api fitnah akan berkobar. Dan menjauh dari pertikaian yang tengah terjadi antara dua
kelompok muslim di tengah-tengah situasi fitnah, mencegah kerusakan dan tindakantindakan
lainnya.
Sungguh banyak sekali orang yang tidak memiliki bashirah dan ilmu pengetahuan
mencampuri persoalan ini. Mereka tidak mengambil petunjuk dari ucapan ahli ilmu dan
tidak meminta pengarahan dari para syaikh yang ada di tengah-tengah mereka.
Mereka justru berambisi agar para ulama menerima pendapat-pendapat mereka. Akan
tetapi mereka sendiri tidak mau mendengar arahan para ulama
7.
Sikap Ekstrim Dalam Agama
Ekstrim dan berlebih-lebihan dalam melaksanakan agama adalah faktor terbesar
mencuatnya perpecahan. Yang dimaksud berlebih-lebihan di sini adalah mempersulit
diri sendiri dan orang lain dalam melaksanakan hukum-hukum syari'at, atau dalam
bersikap terhadap orang lain atau bermua'amalah tanpa mengindahkan etika-etika
syariat dan kaidah-kaidah agama. Karena sesunguhnya Islam tegak di atas
pelaksanaan hukum-hukum Islam secara menyeluruh dengan memperhatikan sisi
kemudahan dan menolak kesulitan, memberikan keluasaan, mengambil dispensasi
secara proposional, berbaik sangka kepada orang lain, ramah, pema'af dan halus
dalam memberi peringatan. inilah dia prinsip-prinsip dasar. Keluar dari prinsip-prinsip
tersebut tanpa maslahat yang pasti dan dibenarkan oleh ahli ilmu termasuk sikap
ekstrim yang dilarang.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda.
"Artinya : Sesungguhnya agama ini mudah, tidaklah seseorang berlebih-lebihan dalam
menjalankan agama kecuali ia akan keberatan sendiri. Tepatillah kebenaran atau yang
mendekatinya, berilah kabar gembira, dan pergunakanlah waktu pagi, waktu sore dan
malam hari untuk memudahkan perjalananmu" [Hadits Riwayat Al-Bukhari kitab AlIman hadits no. 39, Lihat Fathul Bari I/93]
Apabila ada yang bertanya : "Bagaimana kita membedakan antara sikap berlebihlebihan yang tercela dengan sikap berpegang pada ajaran agama yang disyariatkan ?"
24
Jawabnya : "Yang menjadi standard adalah petunjuk Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam yang merupakan contoh terbaik. Di atas petunjuk itulah para sahabat, tabi'in,
para imam dalam agama berjalan. Dan itulah karakter ulama yang patut diteladani."
Pada hari ini, hal tersebut dapat kita ukur dengan ketentuan-ketentuan sebagai berikut
:
a.
Ulama yang mengamalkan ilmunya merupakan teladan dan panutan teragung.
Siapa melangkahi petunjuk dan arahan mereka dalam menetapkan hukum dan
bersikap, dalam berbuat dan ber-etika, maka terhitung sebagai sikap ekstrim jika
ia tergolong orang yang berlebih-lebihan. Dan terhitung apatis bila ia termasuk
orang yang suka meremehkan.
b.
Keluar dari batas-batas kemudahan dan menjerumuskan kaum muslimin ke
dalam kesulitan dan kesempitan untuk melaksanakan Islam. Yang dimaksud
kaum muslimin di sini adalah kaum muslimin yang berada di atas sunnah, sebab
orang fasik dan fajir tidak masuk dalam konteks pembicaraan. Siapa saja yang
menjerumuskan kaum mukminin ke dalam kesulitan dalam melaksanakan
agama atau menyempitkan mereka serta tidak memberi kemudahan dalam halhal di mana mengambil dispensasi syari'at menjadi sebuah keharusan, maka ia
tergolong ekstrim.
c.
Di antara tanda-tanda ekstrim adalah tergesa-gesa dalam menjatuhkan vonis
hukum. Yaitu hanya dengan mendengar suatu masalah, peristiwa, berita atau
suatu pendapat tertentu, dia langsung menghukumi yang bersangkutan dengan
masalah tersebut tanpa dasar. Atau menghukumi sebelum perkara tersebut
jelas baginya. Atau menghukumi seseorang di belakangnya atau menghukumi
hanya dengan sekedar indikasi-indikasi belaka. Seperti mengatakan : "Bila si
Fulan telah mengatakan begini berarti ia kafir! Tanpa ada dialog terlebih dahulu
dengan yang bersangkutan. dan seperti ucapan : "Siapa tidak mengkafirkan si
Fulan berarti ia kafir!" Padahal belum jelas baginya kekafiran si Fulan tersebut.
Sebagaimana ucapan mereka juga: "Fulan melihat bid'ah tetapi ia tidak
mencegahnya, atau bid'ah tersebar di tengah-tengah kaumnya namun ia tidak
merubahnya, dengan demikian berarti si Fulan termasuk ahli bid'ah!". Begitulah,
sikap tergesa-gesa dalam menjatuhkan vonis hukum, menghukumi sepihak
ucapan orang lain, royal mengobral takfir (vonis kafir) tanpa arahan dan
bimbingan ulama merupakan salah satu fenomena sikap ekstrim dalam agama.
d.
Di antara sikap ekstrim yang tidak disukai adalah menghukumi batin orang,
berburuk sangka, tidak memberikan kesaksian baik terhadap saudara muslim
yang tidak dikenalnya dan menancapkan bara' (berlepas diri) terhadap masalahmasalah khilafiyah. Begitulah, sikap ekstrim dalam melaksanakan agama
merupakan faktor utama terjadinya perpecahan. Faktor ini pulalah yang
menyebabkan kaum Khawarij memisahkan diri dari kaum muslimin. Lalu diikuti
oleh golongan-golongan dan pengikut hawa nafsu lainnya.
8.
Bid'ah Dalam Agama
Salah satu sebab perpecahan adalah bid'ah. Baik bid'ah dalam masalah aqidah,
ibadah, hukum dan lain-lain. Yang intinya adalah meyakini sesuatu yang tidak terdapat
dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah. Atau beribadah dengan cara yang tidak disyariatkan
Allah dan Rasul-Nya, baik berupa keyakinan, amalan maupun ucapan. Hal ini sudah
sama-sama dimaklumi tidak perlu diulas lebih rinci.
25
9.
Fanatik Golongan
Fanatik Golongan dengan segala macam jenisnya. Baik fanatik madzhab, hubungan
darah, nasionalisme, suku, partai, warna kulit, maupun yang lainnya. Yang paling parah
adalah fanatik yang terjadi di medan dakwah. Hal ini dapat membuat samar orang
banyak karena biasanya oknum pelakunya mengatas namakan agama. Ciri inilah yang
paling menonjol pada gerakan-gerakan dakwah Islamiyah dewasa ini yang pemimpin
gerakan dakwah ini minim pengetahuan agama. Mereka lebih menyandarkan
dakwahnya kepada pemikiran, wawasan dan harakah (gerakan) daripada bersandar
kepada ilmu syar'i dan para ulama.
10. Filsafat dan Ideologi-ideologi Impor
Di antara sebab perpecahan paling dominan sejak dulu sampai sekarang adalah
banyaknya umat Islam yang terpengaruh ideologi serta filsafat yang datang dari negerinegeri kafir. Apapun jenis pemikiran, ideologi dan filsafat tersebut, tetap dinyatakan
berbahaya selama berkaitan dengan masalah agama, kebudayaan, hukum dan etika.
Dan menerima barang-barang impor tersebut termasuk mengikuti tradisi orang-orang
sebelum kita sebagaimana yang disitir Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
hadits beliau.
"Artinya : Kalian bakal mengikuti tradisi orang-orang sebelum kamu" [Al-Hadits]
Oleh sebab itul pula setiap firqah (kelompok) dalam Islam membuat-buat sebagian
besar prinsip-prinsipnya dari sekte-sekte terdahulu, Kelompok Rafidhah mengambil
prinsip mereka dari Yahudi dan Majusi, kelompok Jahmiyah dan Mu'tazilah mengambil
prinsip-prinsip ajaran mereka dari Ash-Sha'ibah dan filsafat Yunani. Kelompok
Qadariyah mengambil prinsip ajaran mereka dari Nasrani. Begitulah seterusnya.
11. Propaganda Tajdid [Pembaharuan Agama]
Di antara sebab perpecahan yang terjadi setelah tiga kurun utama ialah propagandapropaganda tajdid (pembaharuan agama). Memang benar Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda dalam sebuah hadits.
"Artinya : Sesungguhnya Allah akan mengutus kepada umat ini pada tiap-tiap seratus
tahun orang yang memperbaharui agama mereka" [[2]]
Pengertian yang benar tentang tajdid adalah menghidupkan kembali ajaran agama,
baik dalam ruang lingkup aqidah, amalan ataupun menghidupkan kembali sunnahsunnah nabi yang terhapus, menghentikan perbuatan-perbuatan bid'ah dan perkaraperkara baru, sebagaimana yang dilakukan oleh para mujaddid dari kalangan imamimam agama sepanjang sejarah kaum muslimin hingga hari ini. Merekalah yang
memperbaharui kembali amalan-amalan sunnah dan petunjuk-petujuk Salafus Shalih
dalam bidang ilmu dan amal. Seperti yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Abdul
Aziz, Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Syaikh Muhammad bin Abdul
Wahhab dan lain-lain.
Tajdid bukanlah berarti membuat-buat landasan, kaidah dan prinsip-prinsip baru.
Sebagaimana yang dikira sebagian pemikir dan penulis. Dari waktu ke waktu selalu
saja muncul musibah yang dipropagandakan beberapa orang dari kalangan kaum
muslimin sebagai tajdid dalam agama. Bahkan bisa jadi mujaddid seperti ini
merobohkan kaidah-kaidah ahli ilmu dan prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jama'ah
dengan propaganda tajdidnya itu!
Akhir-akhir ini, propaganda-propaganda yang dapat bermuara kepada perpecahan
tersebut banyak menyebar di arena dakwah. Banyak sekali kita dapati orang-orang
yang mengaku mujaddid. Andai kata yang mereka maksud adalah pembaharuan dalam
26
bidang-bidang kehidupan, sarana-sarana, sistem-sistem dan faktor-faktor yang bisa
meningkatkan taraf hidup, tentu saja hal itu wajar dan sudah menjadi sunatullah atas
para makhluk. Akan tetapi yang mereka maksud adalah pembaharuan kaidah-kaidah
dasar dan prinsip-prinsip agama! Pembaharuan kaidah-kaidah ilmu syar'i, dan
ketetapan-ketetapan yang sudah disepakati oleh para imam dan alim ulama.
Pembaharuan metodologi memahami fiqh dalam agama dan metodologi pengambilan
hukum dari nash-nash dan lain sebagainya yang termasuk prinsip dasar Sabilul
Mukminin (Ahlus Sunnah wal Jama'ah), yang mana tidak seorangpun boleh
menyimpang darinya ! Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala.
"Artinya : Dan siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya dan
mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu'min. Kami biarkan ia leluasa
terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam
Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali" [An-Nisaa : 115]
Sudah barang tentu hal ini sangat berbahaya, karena dapat menghapus kaidah-kaidah
dasar Ahlus Sunnah wal Jama'ah, kaidah yang menjamin keberadaan mereka berada
di atas petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan sahabat dan para tabi'in. Jadi
jelaslah bahwa tajdid model begitu identik dengan mengikuti selain Sabilul Mukminin
yang telah diperingatkan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
12. Menganggap Remeh Usaha Memerangi Bid'ah
Meremehkan upaya melawan dan memerangai bid'ah di tengah-tengah kaum
muslimin. Maksudnya kadang kala muncul sejumlah bid'ah yang tidak diketahui oleh
sebagian manusia. Akibatnya mereka meremehkan bid'ah-bid'ah tersebut yang
akhirnya menyebabkan bid'ah tersebut makin lama makin subur dan berkembang.
Pada mulanya barangkali sebuah bid'ah muncul dalam bentuk yang samar. Muncul
dalam bentuk adat dan kondisi tertentu. Lalu adat-adat tersebut mencatut bentuk dan
nama lain selain nama bid'ah hingga dapat diterima. Setelah berlalu beberapa waktu
berubah menjadi bid'ah. Setelah itu para penganut bid'ah tersebut terseret kepada
perpecahan atau memisahkan diri dari Islam dan kaum muslimin. Pada umumnya,
benih-benih bid'ah dan perpecahan tumbuh melalui tahapan tersebut. Dan hal itu
merupakan tipu daya setan terhadap umat manusia.
13. Meninggalkan Amar Ma'ruf Nahi Mungkar
Salah satu faktor yang menggiring umat ke dalam jurang perpecahan adalah
meninggalkan amar ma'ruf nahi mungkar. Meninggalkan budaya memberi nasihat
kepada para penguasa yang mengatur urusan umat dan para imam yang berkompeten
di tengah-tengah umat. Dan mewabahnya sifat hipokrit dalam agama, atau berputus
asa dan pesimis terhadap usaha-usaha perbaikan umat, atau sengaja tidak menasihati
para penguasa dan menjadikan hal itu sebagai ibadah. Sebagaimana yang dilakukan
oleh sebagian kelompok pengikut hawa nafsu dan kaum hizbiyah. Tidak adanya satu
kelompok umat yang menunaikan tugas memberi nasihat, mencegah kerusakan dan
perpecahan menyebabkan umat ini terpuruk dalam kehinaan, pertikaian dan
perpecahan. Saling menasihati merupakan perkara agung yang termasuk salah satu
bentuk amar ma'ruf nahi mungkar dan jihad. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
telah mewasiatkan hal itu dalam sebuah hadits beliau.
"Artinya : Dan agar kalian saling memberi nasihat kepada orang-orang yang Allah beri
kekuasaan atasnya untuk mengatur urusan kamu" [[3]]
Nasihat akan menghilangkan dengki dalam hati. Nasihat juga merupakan kekuatan
untuk menegakkan kebaikan dan dapat menjadi hujjah di hadapan Allah, atau dapat
mencegah turunnya bala' dan murka atas umat.
27
[1]
Komentar Dr. Nashir bin Abdul Karim menanggapi pertikaian di wilayah Kunar sangat keliru.
Kelihatannya Dr. Nashir menyandarkan komentarnya ini kepada informasi oknum-oknum yang tidak
bertanggung jawab. Oleh karena itu hendaklah Dr. Nashir mencari kejelasan -sebagaimana yang
dikatakannya di atas tadi- dari sumber yang terpercaya dan kalangan Salafiyin yang hadir dan
menyaksikan dari dekat hakikat pertikaian yang terjadi di sana, agar tidak menzhalimi dakwah tauhid dan
ahli tauhid di wilayah Kunar As-Salafiyah.
Perlu pembaca ketahui, bahwa pertikaian di wilayah Kunar adalah pertikaian antara haq dan bathil,
pertikaian antara Muwahhidin (ahli tauhid) yang dipimpin oleh tokoh Salafi wilayah Kunar Syaikh
Jamilurrahman dengan kaum Quburiyyin. Jelas pertikaian di sana adalah pertikaian dalam masalah
prinsipil, yaitu masalah aqidah. Jadi dalam pertikaian tersebut kebenaran tidaklah samar sebagaimana
yang digambarkan oleh Dr. Nashir -semoga Allah memaafkannya- Sungguh sangat menyayat hati kita
bila pembantaian para Muwahhidn yang dilakukan kaum Quburiyin itu dianggap bukan merupakan
perseteruan antara haq dan batil.
Dipicu kegerahan kaum Quburiyin melihat perkembangan dakwah tauhid yang marak di wilayah Kunar.
Kebencian kaum Quburiyin terhadap kaum Muwahhidin yang mereka juluki Wahhabiyah ini memuncak
hingga sebagai klimaksnya adalah pengepungan wilayah Kunar dan pembantaian penduduknya yang
mayoritas adalah para Muwahhidin. Hingga beredarlah semboyan di tengah-tengah mereka bahwa
membunuh seorang wahabi lebih baik daripada membunuh sepuluh orang komunis!. Hingga akhirnya
Syaikh Jamilurrahman Rahimahullah juga terbunuh tidak lama setelah itu. Setelah peristiwa berdarah itu,
kaum Quburiyin yang dipimpin oleh Hikmatyar menggelar tabligh akbar menyatakan berlepas diri dari
peristiwa tersebut, ironinya hal ini disambut gegap gempita oleh Ikhwaniyin (pengikut Ikhwanul
–pent
Muslimin)! Inna Lillahi wa inna Ilaihi raji'un
.
[2]
Hadits Riwayat Abu Daud, Al-Hakim dalam Mustadrak, Al-Baihaqi dalam buku Ma'rifah dari Abu
Haurairah Radhiyallahu 'anhu dan hadits itu shahih. Silakan lihat Shahih Jami' Shagir no. 1870.
[3]
Hadits Riwayat Malik dalam kitab Al-Muwaththa' no. 20, Ahmad dalam kitab Al-Musnad II/327 dan 360
Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengingatkan : 'Memberi nasihat kepada penguasa yang
mengatur urusan umat termasuk satu dari tiga perkara yang tidak akan menjadi dengki hati seorang
muslim dengannya" Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam kitab Shahih beliau dan dinyatakan shahih
oleh Al-Albani dalam shahih At-Targhib wat Tarhib I/40
28
CARA PENANGGULANGAN PERPECAHAN UMAT
Sudah barang tentu, mewaspadai perpecahan dan mencegahnya sebelum terjadi lebih
baik daripada menyelesaikannya setelah terjadi. Seyogyanya kita mengetahui bahwa
mewaspadai perpecahan adalah dengan mewaspadai sebab-sebab yang telah kami
sebutkan terdahulu.
Namun di sini terdapat beberapa faktor lain yang dapat menangkal terjadinya
perpecahan, baik faktor yang bersifat umum maupun yang bersifat khusus. Di antara
faktor-faktor umum ialah berpegang teguh dengan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Hal ini
merupakan kaidah agung yang melahirkan wasiat-wasiat serta banyak perkara lainnya.
Dan perkara yang terakhir dari kaidah besar itulah yang merupakan faktor khusus,
yaitu :
Mengenal petunjuk Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dan berpegang teguh dengannya.
Siapa mengikuti petunjuk Nabi, dia pasti mendapat petunjuk insya Allah, dan dapat
melaksanakan agama berdasarkan pengetahuan. Dengan begitu ia akan terhindar dari
perpecahan atau pertikaian yang menjurus kepada perpecahan tanpa disadari.
Di antara faktor-faktor khusus dalam penanggulangan perpecahan adalah menerapkan
pedoman Salafus Shalih, para sahabat, tabi'in dan imam-imam Ahlus Sunnah wal
Jama'ah. Memperdalam ilmu agama dengan mempelajarinya dari para ulama dan
dengan metodologi yang shahih berdasarkan petunjuk ahli ilmu.
Bergaul dengan para ulama dan imam-imam yang berjalan di atas petunjuk yang
terpercaya agama, ilmu dan amanahnya. Ahamdulillah mereka masih banyak dan tidak
mungkin umat Islam akan kehabisan ulama pewaris Nabi. Siapa berasumsi bahwa
mereka akan habis, berarti ia berasumsi bahwa agama Islam akan berakhir. Asumsi
seperti ini jelas tidak benar, sebab Allah telah berjanji akan mejaga agama Islam
sampai hari Kiamat. Karena umat Islam merupakan perwujudan para ulama Ahlus
Sunnah wal Jama'ah yang merupakan perwujudan para ahli ilmu dan ahli fiqih akan
tetap ada sampai hari Kiamat. Maka siapa menyangka bahwa ahli ilmu akan habis atau
tidak ada lagi keteladanan ulama yang menjadi tempat bertanya bagi umat, berarti ia
telah menyangka bahwa tidak akan ada lagi Thaifah Manshurah (Kelompok yang
mendapatkan petolongan dari Allah) dan tidak ada pula Firqatun Najiyah (golongan
yang selamat). Dan ini berarti kebenaran akan hapus dan sirna dari tengah-tengah
manusia. Ini jelas menyelisihi nash-nash yang qath'i dan prinsip-prinsip dasar agama.
Menjauhi sikap meremehkan alim ulama atau menyimpang dari mereka dengan segala
model dan bentuknya yang dapat menimbulkan fitnah dan perpecahan. Keharusan
mengantisifasi fenomena-fenomena perpecahan terutama yang terjadi pada sebagian
pemuda, orang-orang yang suka tergesa-gesa, serta orang-orang yang belum
memahami cara hikmah dalam berdakwah, belum berpengalaman dan belum
memahami Islam.
Semangat memelihara keutuhan jama'ah, persatuan dan perdamaian dalam arti umum
dengan prinsip-prinsipnya. Setiap muslim, khususnya para penuntut ilmu dan juru
dakwah, wajib berusaha memelihara keutuhan jama'ah, persatuan dan perdamaian
antar sesama juru dakwah serta penyeru kebaikan dan antara rakyat dan penguasa.
Dan menyatukan kalimat untuk menyeru kepada kebaikan dan takwa.
Siapa ingin berpegang teguh kepada Ahlus Sunnah wal Jama'ah dan selamat dari
perpecahan -insya Allah- dia harus menetapi ahli ilmu dan menetapi kaum yang shalih
dari kalangan orang-orang yang takwa, orang-orang yang baik dan istiqamah. Mereka
29
adalah orang-orang yang tidak mencelakakan teman duduknya dan tidak menyesatkan
rekan sejawatnya. Siapa menginginkan bagian tengah Surga, hendaklah ia komitmen
terhadap jama'ah, karena jama'ah adalah sunnah Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
dan sahabatnya.
Untuk menanggulangi terjadinya perpecahan kita harus menjauhi hizbiyah (bergolonggolongan) sekalipun untuk tujuan dakwah. Dan juga menjauhi sikap fanatik golongan,
apapun bentuk dan sumbernya. Karena hal itu merupakan benih-benih perpecahan.
Memberi nasihat kepada penguasa, baik penguasa itu shalih maupun fajir. Begitu pula
menasihati khalayak umum. Karena nasihat kepada para penguasa dapat mewujudkan
maslahat yang besar bagi umat, dan akan menjadi hujjah di hadapan Allah, atau
menjadi penolak bala', penghapus rasa dengki dan dengannya pula akan tegak hujjah.
Menasihati penguasa termasuk salah satu wasiat Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam
yang terbesar, beliau memerintahkan umatnya supaya bersabar dalam
menjalankannya dan berpegang kepada wasiat tersebut. Dan juga merupakan
pedoman Salafus Shalih yang membedakan mereka dengan ahlul ahwa' dan ahlul
iftiraq. Menahan diri dari menasihati penguasa berarti mengabaikan hak Islam dan
kaum muslimin. Dan berarti pula memperturutkan hawa nafsu yang akan melahirkan
keburukan dan bencana. Menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar dengan kaidahkaidah ilmu
PENUTUP
Sebelum berpisah, saya ingin menyampaikan sebuah wasiat khususnya bagi
para pemuda:
Hendaklah para pemuda banyak berhubungan dengan para ulama. Demikian pula
hendaklah mereka banyak bergaul dengan para penuntut ilmu yang terpercaya.
Hendaklah para pemuda menimba ilmu agama dan mendalaminya dari mereka.
Hormati dan hargailah mereka serta ambillah pendapat mereka dalam perkara-perkara
penting yang dihadapi umat. Komitmenlah kepada ketetapan-ketetapan ulama dalam
mewujudkan maslahat umat dan dalam menghadapi problematika utama kaum
muslimin. Mereka wajib berpegang dengan arahan-arahan ahli ilmu, ahli fiqih, dan
ulama berpengalaman demi mewujudkan kemaslahatan umat, memelihara persatuan
dan menjaga umat dari ancaman perpecahan. Demikian pedoman Salafus Shalih,
petunjuk yang dapat dipakai untuk meneladani para imam Ahlus Sunnah wal Jama'ah,
dan itulah jalan kaum mukminin, petunjuk kaum shalihin dan shiratul mustaqim.
Saya memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi semoga Dia menyatukan kaum
muslimin di atas kebenaran, kebaikan dan hidayah. Mempersatukan barisan kaum
muslimin dan menolong mereka dalam mengalahkan musuh-musuh mereka. Saya juga
memohon kepada Allah Yang Maha Tinggi semoga kita terhindar dari kejinya fitnah
baik yang lahir maupun yang batin. Kita berlindung kepada-Nya dari perpecahan, hawa
nafsu dan bid'ah. Semoga shalawat dan salam tercurah atas Nabi Muhammad
Shallallahu 'alaihi wa sallam, atas keluarga beliau dan seluruh sahabat-sahabatnya.
30
Fly UP