...

Internet Untuk Usaha Kecil, Kenapa Tidak

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Internet Untuk Usaha Kecil, Kenapa Tidak
Internet Untuk Usaha Kecil, Kenapa Tidak ?
Oleh
Budi Hermana
Universitas Gunadarma
http://bhermana.staff.gunadarma.ac.id
Kementerian KUKM melaporkan bahwa jumlah usaha kecil di Indonesia pada tahun
2004 tercatat sebesar 43.158.468 unit atau 99,85 persen dari total unit usaha dengan penyerapan
tenaga kerja sebesar 70.919.385 orang atau 89,24 persen dari total tenaga kerja yang bekerja di
industri. Tetapi jumlah unit dan penyerapan tenaga kerja tersebut belum diimbangi dengan
kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan nilai Ekspor. Kontribusi usaha kecil,
menengah, dan besar terhadap PDB berturut-turut adalah 820.491.528 juta (40,36%),
315.372.815 juta (15,51%), dan 896.960.557 juta (44,12%). Sedangkan sumbangan terhadap nilai
ekspor hanya sebesar 23.775.942 juta atau 4,05 persen, jauh lebih rendah dibandingkan dengan
usaha menengah dan besar yang tercatat sebesar 67.904.169 juta (11,57 %) dan 495.173.009 juta
(84,38 %). Perbandingan kontribusi usaha kecil, menengah, dan besar terhadap PDB, nilai
ekspor, dan nilai investasi bisa dilihat pada gambar 1.
Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa usaha
Rp 1795 Triliun Rp 587 Triliun
Rp 440 Triliun
kecil mempunyai potensi yang luar biasa jika
100%
90%
dilihat dari jumlah unit usaha dan tenaga kerja
80%
yang terlibat, yang jika diberdayakan bisa menjadi
70%
60%
faktor pemicu yang signifikan untuk mendorong
50%
40%
pertumbuhan ekonomi Indonesia.
30%
Berbagai kebijakan memang sudah sering
20%
10%
kita dengar mengenai pemberdayaan usaha kecil
0%
di Indonesia, misalnya program kemitraan dengan
PDB
Ekspor
Investasi
pengusaha besar atau bantuan permodalan dari
Gambar 1
BUMN, atau penyaluran kredit perbankan khusus
untuk usaha kecil. Tetapi aspek lain yang belum digarap secara optimal adalah penerapan
teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di kalangan pengusaha kecil. Pemberdayaaan usaha
kecil melalui penerapan TIK mempunyai peluang sangat besar untuk meningkatkan kontribusi
usaha kecil terhadap perekonomian Indonesia. Walaupun relatif klise dan teoritis, alasannya
sederhana saja yaitu pengggunaan internet bisa meningkatkan penyebaran informasi dan
intensitas komunikasi, baik antar pelaku usaha kecil maupun dengan pembeli potential.
Pertimbangan geografis penyebaran unit usaha dan trend penggunaan internet oleh mitra dagang
juga bisa menjadi faktor pendorong terhadap pemanfaatan internet untuk kepentingan usaha kecil
di Indonesia.
Penggunaan Internet oleh Usaha Kecil
Kondisi teknologi informasi di Indonesia sendiri relatif tertinggal dibandingkan dengan
negara lain. Ketertinggalan teknologi itu sendiri bisa dilihat dari ketersediaan infrastruktur
teknologi informasi, jumlah komputer yang dimiliki perusahaan, atau akses internet.
Berdasarkan data dari International Telecommunication Union (ITU), jumlah pengguna internet
di Indonesia untuk tahun 2004 tercatat sekitar 14,5 juta atau hanya 652 per 10.000 penduduk.
1
Penetrasi (per 10000 penduduk)
Perkembangan pengguna internet di Indonesia pada
kurun waktu 2001 sampai 2004 dapat dilihat pada
gambar 2.
2500
2000
1500
Dunia
Bagaimana gambaran umum mengenai penggunaan
ICT oleh pelaku usaha kecil di Indonesia bisa dilihat
500
Asia
dari hasil survey yang dilakukan oleh Asia
0
Foundation dan CastleAsia terhadap 227 usaha kecil
Indonesia
2001
2002
2003
2004
dan menengah pada tahun 2002. Hasil survey
Gambar 1
menunjukkan bahwa 158 usaha atau 69,9 persen
sudah menggunakan internet, dan sebagian besar
memang digunakan oleh usaha kecil untuk berhubungan dengan pembeli dari luar negeri. Ada
fenomena yang cukup menarik yaitu penggunaan TIK oleh pengusaha kecil ternyata bukan
sesuatu yang langka, terutama usaha kecil yang berorientasi ekspor. Bahkan teknologi telpon
seluler sudah digunakan oleh sebagian besar pemilik usaha kecil. Memang tingkat adopsi
penggunaan komputer dan internet relatif lebih rendah dibandingkan telpon seluler. Hasil tersebut
bisa dilihat dari survey yang dilakukan oleh institusi penulis bekerja sama dengan Himpunan
Pengusaha Kecil Indonesia (HIPKI) terhadap pelaku usaha kecil yang belum pernah mengikuti
pelatihan internet, seperti disajikan pada gambar
3.
NonPadahal dilihat dari sisi teknologi, penggunaan
Adopter
telpon seluler secara umum relatif sama dengan
13%
Adopter
penggunaan komputer dan internet. Apalagi
34%
perkembangan teknologi sekarang menunjukkan
bahwa komputer dan internet sudah semakin userfriendly atau relatif tidak memerlukan keahlian
tinggi untuk sekedar sebagai pengguna akhir (end
Potential
users) saja. Tetapi fenomena lain yang menarik
Adopter
53%
adalah pelaku usaha kecil yang tidak
Gambar 2
menggunakan internet sebelumnya, mempunyai
keinginan untuk menggunakan internet pada 6
bulan ke depan, atau tergolong sebagai potential adopter seperti terlihat pada Gambar 4.
Hasil survey tersebut memberikan gambaran
bahwa penetrasi internet di kalangan pelaku
Nonusaha kecil masih bisa ditingkatkan di masa
Adopter
yang akan datang. Salah satu tahap awal yang
13%
perlu dilakukan adalah mengidentifikasi
Adopter
34%
kebutuhan penggunaan intenet dilihat dari
perspektif para pelaku usaha kecil, termasuk
mengetahui berbagai persepsi atau prilaku
Potential
penggunaan internet. Identifikasi kebutuhan
Adopter
tersebut menjadi pondasi dalam menyusun
53%
kebijakan atau tindakan pemberdayaan usaha
kecil melalui penerapan internet yang sesuai
dengan kebutuhan dan karakteristik usaha kecil di Indonesia .
1000
2
Merubah Persepsi tentang Internet
Mengacu ke rencana induk pengembangan industri kecil dan menengah 2002-2004, salah satu
kelemahan utama pengusaha kecil di Indonesia adalah kemampuan dan agresivitas mengakses
pasar para pengusaha kecil masih terbatas serta masih terbatasnya penggunaan teknologi
informasi untuk mendinamisasi dan memajukan usaha kecil (Deperindag, 2002). Pemanfaatan
internet oleh pelaku usaha kecil memang bukan pekerjaan yang mudah- tetapi bukan berarti tidak
mungkin, terutama jika kelemahan atau persepsi yang ada pada usaha kecil di Indonesia bisa
dicarikan solusinya melalui usaha-usaha peningkatan laju penetrasi internet. Masalah utamanya
adalah masih adanya persepsi bahwa internet adalah mahal, relatif sulit, dan perlu fasilitas
pendukung yang memadai. Persepsi tersebut lebih dikarenakan pelaku usaha kecil belum
memperoleh informasi yang lengkap dan benar tentang internet, atau terjadi fenomena asymetric
information sehingga terjadi kesenjangan digital diantara kelompok pengusaha. Jadi persepsi
tersebut masih mungkin dirubah melalui kebijakan dan tindakan yang tepat. Berbagai studi
menunjukkan bahwa persepsi dan prilaku penggunaan internet lebih banyak dipengaruhi
ketidaktahuan para pelaku usaha kecil mengenai fungsi dan manfaat internet. Jika ketidaktahuan
atau kekurangan informasi tersebut bisa diatasi maka masih terbuka peluang pemanfaatan internet
oleh pelaku usaha kecil. Disinilah peranan sosialisasi dan pelatihan internet terhadap pelaku
usaha kecil sangat diperlukan di Indonesia. Kebijakan penerapan teknologi informasi dan
komunikasi, khususnya internet harus bersifat sistematis, integratif, dan menyeluruh. Sistematis
dalam artian didukung dengan kerangka kerja yang menitikberatkan pada proses berorientasi
pada kebutuhan dan karakteristik usaha serta penetapan target keberhasilan kegiatan yang
dilakukan. Selama ini berbagai pelatihan sudah dilakukan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat
atau institusi pendidikan, yang lebih didorong inisitif penyelenggara pelatihan. Untuk
menghindari program-program yang tumpang-tindih atau untuk lebih mensinergiskan kegiatankegiatan tersebut, memang diperlukan peningkatan koordinasi, komunikasi, dan pembagian peran
antar pihak-pihak yang berkepentingan dalam pemberdayaan usaha kecil di Indonesia.
Penyusunan program yang integratif dan menyeluruh tersebut diharapkan bisa menghasilkan
pemetaan atau basis data mengenai profil penggunaan teknologi informasi oleh usaha kecil. Peta
tersebut selanjutnya bisa dijadikan landasan dalam strategi dan prioritas pengembangan lebih
lanjut sehingga internet bisa dimanfaatkan oleh usaha kecil di Indonesia.
Disampaikan pada Seminar Nasional di Universitas Gunadarma
3
Fly UP