...

this PDF file - Jurnal Ilmiah Universitas Tadulako

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - Jurnal Ilmiah Universitas Tadulako
Media Litbang Sulteng III No. (1) : 27 – 32, Mei 2010
ISSN : 1979 - 5971
PENGARUH INDEKS HARGA SAHAM REGIONAL
TERHADAP INDEKS HARGA SAHAM GABUNGAN
DI BURSA EFEK INDONESIA
Oleh :
Muh. Yunus Kasim 1)
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis besarnya pengaruh Indeks Harga Saham Regional
terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia dan menganalisis Indeks Harga Saham regional
teridentifikasi yang memiliki pengaruh dominan terhadap IHSG di BEI. Ruang lingkup penelitian ini dilakukan terhadap 5
(lima) Indeks Harga Saham Regional yang merupakan Indeks Harga Saham yang sering di publikasikan dan cukup dikenal
oleh masyarakat Indonesia dan IHSG di BEI. Data yang digunakan adalah data sekunder, yaitu data yang meliputi
perkembangan Indeks Harga Saham Gabungan di BEI dan beberapa Indeks harga Saham pada beberapa Bursa Saham
Regional. Metode penelitian adalah menggunakan Explanatory Research, metode analisis yang digunakan dalam penelitian
ini adalan analisis jalur (Path Analysis) denganmenggunakan program AMOS 5. Kesimpulan dalam penelitian ini adalah
Selama periode 2005–2008, terdapat pengaruh simultan dan parsial Indeks Harga Saham Regional terhadap IHSG di BEI,
yakni melalui Indeks Harga Saham di Kuala Lumpur (KLCI) dan Indeks Harga Saham di Singapur (STI),. STI di Singapur
memiliki pengaruh yang dominan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan pengaruh sebesar 39,83%.
Kata Kunci: Indeks Harga Saham Regional.
I.
setiap hari memberikan gambaran kemajuan
yang dicapai oleh Bursa saham di Indonesia.
Jika Frekuensi transaksi tinggi berarti Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI
meningkat, demikian pula sebaliknya. (Suad
; 1998)
IHSG merupakan hasil perhitungan
dari harga seluruh saham yang tercatat
dengan dipengaruhi oleh faktor besarnya
nilai kapitalisasi pasar suatu saham. Nilai
kapitalisasi pasar itu sendiri adalah nilai
seluruh saham yang dihitung berdasarkan
harga yang terakhir, dan nilai dasar adalah
merupakan nilai yang dihitung berdasarkan
harga perdana masing – masing saham. ( L.
Thian H ; 2001). Salah satu tolok ukur
untuk mengetahui perkembangan suatu
bursa terletak pada perkembangan Indeks
Harga Saham Gabungan / composite
Indeksnya.
Para pemodal asing merupakan
lembaga keuangan yang bermodal besar.
Mereka umumnya akan melakukan investasi
dalam jumlah besar, oleh sebab itu apabila
nilai kapitalisasi suatu pasar rendah, maka
para pemodal asing akan enggan untuk
menanamkan modalnya pada pasar modal
tersebut, (Suad; 1998).
PENDAHULUAN
Pasar modal merupakan sarana
penghimpun modal dari masyarakat melalui
kegiatan
investasi,
yaitu
kegiatan
peminjaman dana untuk mencapai berbagai
tujuan perusahaan yang membutuhkan dana,
dimana masyarakat selaku pemilik modal
mengharapkan
akan
mendapatkan
keuntungan yang lebih dari kegiatan
investasi tersebut dimasa yang akan datang.
Keberadaan pasar modal di Indonesia dinilai
sangat penting, selain dapat memberikan
informasi yang berarti bagi para investor
domestik, pasar modal dapat menarik
perhatian bagi para investor asing untuk
dapat menginvestasikan modalnya di
Indonesia, sehingga dana yang dioperasikan
dalam negeri jauh lebih besar untuk masa
jangka panjang.
Bursa Efek Indonesia mengalami
kemajuan yang cukup membanggakan sejak
diaktifkannya kembali pada tahun 1977,
Banyaknya jumlah perusahaan yang
terdaftar dan besarnya frekuensi transaksi
yang terjadi di Bursa Efek Indonesia (BEI)
1)
Staf Pengajar pada Fakultas Ekonomi Universitas Tadulako
Palu.
27
Perubahan Indeks harga saham yang terjadi
hampir secara serempak di semua bursa
saham regional memberikan gambaran
bahwa antara indeks harga saham yang satu
dengan yang lainnya memiliki keterkaitan
antara suatu bursa dengan bursa lainnya.
Pada tahun 1997, Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) sempat mengalami
penurunan, namun hal tersebut tidak dapat
dikatakan sebagai suatu „prestasi buruk „
bagi BEI, karena hal serupa juga dialami
oleh Negara lain seperti; Malaysia
mengalami penurunan sebesar 48,5%,
Thailand 47,3%, PhiliPina 40,7%, Singapura
23,3%, sementara bursa domestik sendiri
mengalami penurunan sebesar 31,8%.( Suad
; 1998)
Secara teknis, ada beberapa faktor
yang mempengaruhi harga saham suatu
bursa yakni ; (1). Kondisi fundamental
emiten, (2). Hukum permintaan dan
penawaran, (3). Tingkat suku bunga (SBI),
(4). Valuta asing, (5). Dana asing di bursa,
(6). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG),
(7). News dan Rumors. (Ali Arifin ; 2002).
Menurut Suad Husnan (1998) Ada beberapa
faktor yang mempengaruhi para pemodal
asing mau menanamkan sahamnya di bursa
domestik yakni ; (1). Nilai kapitalis
sekuritas yang terdapat di bursa tersebut, (2).
Likuiditas sekuritas yang terdaftar di bursa
tersebut, (3). Peraturan yang melindungi
pemodal dari kecurangan, (4). Mutu dan
penyebaran informasi.
Pergerakan Indeks Harga Saham
diseluruh dunia tidak terjadi serentak dan
tidak memiliki satu korelasi yang pasti, oleh
karena itu jika pada pasar domestik memiliki
Indeks harga saham yang lebih rendah akan
menawarkan keuntungan yang lebih besar
bagi para investor asing dengan jalan
melakukandiversifikasi investasi dibeberapa
. Dengan melakukan diversifikasi investasi
diberbagai, investor dapat mengurangi
resiko fortofolio tanpa adanya penurunan
pengembalian yang diharapkan atau dengan
kata lain, meningkatkan pengembalian yang
diharapkan dari suau fortofolio tanpa adanya
peningkatan risiko, (F.J. Fabozzi , 1995 ; 58)
Penurunan IHSG yang begitu besar dapat
menjadikan bursa domestik sebagai lahan
perburuan oleh para investor asing untuk
mengejar keuntungan yang lebih besar.
Dengan
kata
lain
pemodal
asing
mendapatkan kesempatan untuk melakukan
diversifikasi portofolio yang dianggap
mampu memberikan keuntungan dimasa
yang akan datang.
Hal semacam ini
dimungkinkan
karena
adana
sistem
perdagangan duallisting.
Sistem
perdagangan
duallisting
merupakan salah satu sistem perdagangan
saham yang dianut oleh hampir semua bursa
saham di dunia yang memberi kesempatan
kepada
emiten
untuk
mendaftarkan
sahamnya pada bursa yang berbeda secara
bersamaan, demikian pula dengan para
investor dapat membeli saham yang terdaftar
pada dua atau lebih bursa saham dengan
batasan tertentu.
II.
PENELITIAN TERDAHULU
Pergerakan Indeks Harga Saham
Gabungan di BEI tidak terlepas dari
pengaruh Indeks Harga saham
pada
berbagai bursa saham di dunia, hal ini di
buktikan dengan hasil penelitian yang telah
dilakukan sebelumnya oleh beberapa
peneliti. Pengaruh indeks harga saham asing
terhadap IHSG lebih jelas dapat kita lihat
pada hasil penelitian yang dilakukan oleh
Suad Husnan pada tahun 1997 yang meneliti
tentang pengaruh enam bursa saham di
kawasan Asia – Fasifik, yang secara rinci
memberikan hasil sebagai berikut :
Tabel 2.1
Proporsi kepemilikan Pemodal Asing dan
Pengaruh enam bursa Asing pada tingkat keuntungan di BEI
Periode
Feb. 2005 s/d Nov.
2008
Jan. 2007 s/d Des.
2007
Selama tahun 2008
n.a
Sumber
Proporsi
pemodal asing
(rata – rata)
n.a
Pengaruh enam
bursa terhadap
BEI
(Adjusted R2)
0.13
21 %
0.23
27 %
0.35
: Tidak ada data
: (Husnan,2008 ; 237)
Hasil penelitian tersebut sejalan
dengan penelitian yang dilakukan oleh
Yunus Kasim (2002) yang mengkaji tentang
Pengaruh variable makro ekonomi Indonesia
dan Indeks harga saham Internatsional
terhadap IHSG di BEI, yang memberikan
28
gambaran tentang keterkaitan anatara suatu
bursa dengan bursa yang lain.
lebih besar bagi para investor asing dengan
jalan melakukan diversifikasi investasi pada
pasar domestik.
Pergerakan indeks harga saham yang
tidak serempak terjadi pada hampir semua
indeks harga saham didunia sebagai contoh,
pada tahun 1997, terjadi penurunan indeks
harga saham Regional tenggara ; IHSG
turun 31,8%, STI turun 23,3%, KLCI turun
48,5%, manila composite Index turun
40,7%, (Suad ; 1998)
Sementara di Australia (ASX)
mengalami kenaikan pada akhir desember
1997. Demikian pula yang terjadi pada
NYSX justru mencapai titik tertingginya
pada tahun 1999. ( Yunus ; 2002).
Keterkaitan antar indeks harga saham
tidak terlepas dari kegiatan diversifikasi
internasional yang dilakukan oleh investor
asing.
Diversifikasi internasional tidak
hanya melputi diversifikasi antar industri,
tetapi juga meliputi antar . Apabila koefisien
korelasi tingkat keuntungan antar (yang
diwakili oleh indeks pasar di bursa-bursa
tersebut) ternyata rendah maka diversifikasi
internasional akan semakin menarik.
Penelitian yang dilakukan terhadap
sebelas bursa di Asia Pasifik selama tahun
1993 menunjukkan bahwa koefisien korelasi
setelah di konversikan kedalam US$
umumnya rendah. Hal ini mengisyaratkan
bahwa diversifikasi pemodal Amerika
terhadap sebelas bursa tersbut sangatlah
efektif untuk mengurangi tingkat resiko
investasi. Tersirat bahwa para pemodal akan
melakukan diversifikasi internasional, yang
menunjukkan pasar modal internasional
terintegrasikan. Mengingat kondisi kegiatan
sektor keuangan yang hampir tidak
mengenal batasan maka bisa diperkirakan
bahwa ada semacam interaksi antar bursa di
dunia ini.
Interaksi ini berarti bahwa
hubungan antara tingkat keuntungan dan
resiko akan dilakukan dalam konteks
internasional dan tidak hanya sebatas dalam
ngeri saja.
Pasar
modal
Indonesia
(BEI)
dikategorikan sebagai pasar modal yang
tersegmentasikan.
Pasar modal yang
tersegmentasikan
ditafsirkan
bahwa
pembentukan harga saham – saham di pasar
modal tersebut dipengaruhi oleh kondisi
Tabel 2.2
Pengaruh Indeks Harga Saham Internasional
Terhadap IHSG. Di BEI.
Indeks Harga Saham
Pengaruh terhadap
Internasional
IHSG
NYSX
n.a
ASX
n.a
LSX (FTSE 100)
-3,86 %
Nikkei 225
42,19 %
Hang Seng Index
-27,30 %
STI
65,79 %
Jumlah
76,32 %
n.a
: Tidak ada pengaruh
Sumber : (Yunus Kasim, 2002, diolah kembali)
Menurut Sawidji (1996 ; 189), Indeks
harga saham merupakan ringkasan dari
dampak simultan atas berbagai faktor yang
berpengaruh
terutama
perubahan
–
perubahan ekonomi, bahkan dewasa ini
indeks harga sahan dijadikan barometer
kinerja ekonomi suatu dan sebagai landasan
analisis statistik atas kondisi pasar terakhir.
Dengan mengkaji mengkaji indeks harga
saham, para investor dapat mengetahui
karakteristik
saham
tertentu
yang
membentuk indeks harga saham tersebut
sehingga dengan muda
para investor
memilih saham – saham yang dianggap
potensial yang mampu memberikan
keutungan dimasa yang akan datang.
Perdagangan
di
pasar
modal
menunjukan bahwa, jika perdagangan
berakhir untuk sementara waktu di suatu
maka di lain perdagangan mulai berlansung
dan antara bursa yang satu dengan yang lain
saling terkait dalam hal pergerkan harga
saham, hal ini senada dengan apa yang
dikemukakan oleh Sharpe Alexander and
Bailey (dalam Yunus , 2002 ; 11)
“ if all economies were tied together
completely, stock market indefferent
coUntries would move togeher, and little
adventage could be gained trhough
international divesifikation”
Pergerakan indeks harga saham
diseluruh dunia tidak terjadi secara
serempak dan tidak memiliki suatu korelasi
yang pasti, oleh karena itu bila pada bursa
domestik memiliki indeks harga saham yang
lebih rendah menawarkan keuntungan yang
29
ekonomi dan bisnis tersebut, belum banyak
dipengaruhi oleh kondisi bursa – bursa di
luar negeri. Meskipun demikian, dengan
semakin besarnya proporsi dana asing
dibursa domestik, proporsi IHSG makin
banyak yang dijelaskan oleh perubahan
indeks di beberapa bursa di Asia Pasifik,
(Suad ; 1994).
III.
Gambar 3.2
Analisis Jalur / Path Analisis
X1
rX1I X1-j
Pyx1
X2

Pyx2
Py
METODE PENELITIAN
Pyx3
3.1. Objek Penelitian
Objek dalam penelitian ini adalah
Indeks Harga Saham Regional yang
merupakan Indeks Harga Saham yang sering
di publikasikan meliputi Strait Times Index
(STI), Kuala Lumpur Composite Index
(KLCI), Stock Exchange Thailand Index
(SETI), Hang Seng Index (HSI), Philipine
Stock Exchange Index (PSEI) serta Indeks
Harga Saham Gabungan di BEI
Y
X3
Pyx4
X4
Pyx5
X5
Keterangan :
X1
: SSI
X2
: KLSE
X3
: SETI
X4
: HSI
X5
: PSE
Y
: IHSG
rX1.i.X1.j : Besarnya koefesien relasi antara variabel
eksogenus
PyX.1.i
: Besarnya koefesien jalur antara variabel y
dengan X1.i
Py
: Besarnya koefesien jalur antara  dengan y
3.2. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode penelitian
explonatory-Research, metode peneltian
explonatory-Research adalah suatu metode
penelitian yang berusaha untuk mencari
kejelasan
hubungan antara variabel
dependen dan independen dalam penelitian.
IV.
3.3. Jenis dan Sumber data
Data yang digunakan adalah data
sekunder, yaitu data
yang meliputi
perkembangan Indeks Harga Saham
Gabungan di BEI dan beberapa Indeks
harga Sahan pada beberapa Bursa Saham
Regional yang diperoleh dari Bursa Efek
Indonesia melalui berbagai penerbitan.
Penelitian ini menggunakan periode waktu
Tahun 2005 hingga 2008.
PEMBAHASAN
Pembahasan dalam penelitian ini
adalah menguji apakah ada pengaruh Indeks
Harga Saham – Regional terhadap Indeks
Harga Saham Gabungan (IHSG) di BEI,
sebagaimana yang dijelaskan sebelumnya
pada paradigma konseptual
Berdasarkan uji F, maka dapat d
jelaskan bahwa pengaruh variabel X1, X2,
X3, X4. dan X5. secara simultan terhadap Y
adalah sebesar 0,673, ini menggambarkan
bahwa pengaruh Indeks Harga saham
Regional (SETI, STI, KLCI, HSI dan PSEI)
secara bersama-sama mempunyai pengaruh
sebesar 0.429. Sedangkan variabel lain yang
tidak diteliti terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan Bursa Efek Indonesia adalah
sebesar 0,571.
Hasil ini sejalan dengan teori dan
penelitian sebelumnya yang menyatakan
bahwa ada keterkaitan antara pasar modal
3.4. Metode Analisis
Metode analisis yang digunakan
dalam penelitian ini adalan analisis jalur
(Path Analysis) dengan menggunakan
program AMOS 5, Nirwana dalam Yunus
(2002), yaitu untuk menghitung pengaruh
lansung dan tidak langsung Indeks Harga
Saham – Regional terhadap Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) di BEI, dapat
digambarkan sebagai berikut ;
30
antara negara-negara yang terindikasi dari
pergerakan harga saham-saham
pada
periode yang sama.
Selanjtnya karena ada pengaruh
secara simultan, maka dapat di lakukakan
pengujian
secara
parsial
dengan
menggunakan uji t. Berdasarkan uji t, maka
hasil dari uji t yang dapat kita lihat pada
tabel 4.1. di bawah ini.
Dari Koefesien jalar diatas, maka sub
struktur dapat di gambarkan pada gambar
4.1 sebagai berikut :
Gambar 4.1
Koefesien Jalur Sub Struktur
εY
X
0,566
Tabel 4.1
Hasil Pengujian Koefesien Jalur Pyx1, Pyx2, Pyx3, Pyx4, P5x0
No
KETERANGAN
KOEFESIEN
JALUR
1
SETI di
Bangkok
Berpengaruh
terhadap IHSG
(Pyx3)
KLCI di Kuala
lumpur
Berpengaruh
terhadap IHSG
(Pyx2)
STI di
Singapura
berpengaruh
terhadap IHSG
(Pyx1)
HSI di Hong
Kong
Berpengaruh
terhadap IHSG
(Pyx4)
PSIE di Manila
Berpengaruh
terhadap IHSG
(Pyx5)
0,0375
2
2
4
5
T
hitung
T tabel
KESIMPU
LAN
0,0375
2,0189
Ho di
terima
0,330
2
0,353
Y
0,483
0,330
5,194
2,0189
X
Ho di
Tolak
0,483
9,762
2,0189
Ho di
Tolak
0,0018
-0,374
2,0189
Ho di
terima
0,076
1,529
2,0189
Ho di
terima
3
Besarnya pengaruh Indeks Harga
Saham - Regional terhadap IHSG di BEI,
baik pengaruh langsung, pengaruh yang
melalui hubungan korelatif, dan pegaruh
total setelah dilakukan traiming theory
dilihat pada tabel 4.3 sebagai berikut :
Tabel 4.3
Pengaruh X2 dan X3 terhadap Y
Sumber : Hasil Analisis Jalur (diolah kembali)
Pengaruh Langsung
SIMBOL
NILAI
ARAH
1
Koefesien Jalur X2 terhadap Y
Pyx2
0,330
Positif
2
Koefesien Jalur X3 terhadap Y
Pyx3
0,483
Positif
3
Koefesien Determinasi
Multiple
Koefesien Determinasi
Variabel luar
Koefesien Jalur variabel luar
terhadap Y
R2 y(xi.j)
0,679
P2y.Є
0,320
Py . Є
0,566
4
5
KETERANGAN
X1.2 16,654%
+
X1.3 39,816%
+ 0,0207%
X1.3
0,049%
Total
Sub Total
0,049%
16,704%
0,0207%
39,839%
Pengaruh Variabel X2-x3
56,54
Pengaruh Variabel luar ( ε )
43,46
Total
100.000%
Berdasarkan tabel 4.3. di atas, peneliti
dapat mengemukakan beberapa hal sebagai
berikut :
1. Pengaruh KLCI (X2) yang secara
langsung
menentukan
perubahanperubahan IHSG (Y) adalah 16,654 %
(0,1665), dan melalui hubungan dengan
SETI (X3) sebesar 0,049729 % (0,0049).
Dengan demikian KLSE secara total
mempengaruhi IHSG sebesar 16,704 %.
2. Pengaruh STI (X3) yang secara langsung
menentukan perubahan-perubahan IHSG
(Y) adalah 39,8161 % (0,398), dan
melalui hubungan dengan KLSE (X2)
Tabel 4.2.
Koefesien Jalur dan Determinasi X2 dan X3 terhadap Y
No
Pengaruh tidak langsung, melalui
X1.2
Berdasarkan hasil pengujian koefesien
jalur di atas dapat diketahui bahwa KLCI di
Kuala Lumpur (X2) dan STI di Singapura
(X3) berpengaruh nyata terhadap IHSG di
BEI, ini tercermin dari besarnya T-hitung
dari pada T-tabel yang bermakna ada
pengaruh yang signifikan. Sedangkan STI,
HSI, PSEI tidak berengaruh terhadap IHSG
di BEI. Hal ini tercermin dari besarnya Ttabel dari pada T-hitung yang bermakna
bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan
Secara rinci dapat di jelaskan bahwa
pengaruh X2 dan X3 tehadap Y berdasarkan
hasil olah data didapatkan hasil, seperti
tampak pada tabel 4.2 sebagai berikut :
31
sebesar 0,020736 % (0,002). Dengan
demikian
KLCI
secara
total
mempengaruhi IHSG sebesar 39,8368 %
3. KLCI (X2) dan STI (X3) secara bersama
–sama mempengaruhi IHSG (Y) sebesar
(16.704 %) + (39,8368%) = 56,5408 %,
atau (R2y(X2-X3) = 56,5408 % (0,564).
4. Besarnya pengaruh variabel luar adalah
sebesar 100,00 % -56,5408% =
43,4592%. Variabel lain yang diduga
adalah kondisi fundamental emiten di
BEI, bidang politik, hukum di Indonesia,
dan variabel ekonomi makro, sebagai
mana yang dikatakan oleh Elton dan
Guber; dalam Yunus :2002).
V.
KESIMPULAN
Dari uraian di atas penulis dapat
merumuskan beberapa kesimpulan :
Selama periode 2005–2008, terdapat
pengaruh simultan dan persial Indeks harga
Saham Regional terhadap IHSG di BEI,
yakni melalui Indeks Harga Saham
Gabungan di Kuala Lumpur (KLCI) dan
Indeks Harga Saham Gabungan di Singapur
(STI),
yang
secara
bersama-sama
mempengaruhi Indeks Harga Saham
Gabungan di BEI, sebesar 56,5408 %,
sedangkan sisanya adalah merupakan
pengaruh variabel luar. KLCI (X2) memberi
pngaruh langsung sebesar 16,704 % dan
melalui pengaruh korelatif dengan X3
mampu memberi pengaruh sebesar 0,048729
% sehingga secara
Langsung sebesar
39,8368 % dan pengaruh yang melewati
hubunga korelatif dengan KLCI (X2) sebesar
0,20736 %, sehigga secara total X3
mempengaruhi IHSG di BEI sebesar
36,8368.
STI di Singapur memiliki pengaruh yang
lebih dominan terhadap Indeks Harga Saham
Gabungan (IHSG) yang memiliki pengaruh
total sebesar 39,8368 %.
Berdasarkan tabel koefesien guilsford,
dapat di jelakan bahwa KLSE (X2) memiliki
pengaruh nyata terhadap IHSG di BEI
sebesar 28,4292 % atau R2 = 28 % dan nilai
R sebesar 0,533, pengaruh tersebut
dikategorikan sebagai Moderat Correlation
atau Sedang. Sedangkan STI (X3) memiliki
pengaruh nyata terhadap IHSG di BEI
sebesar 29,0853 % atau R2 = 29 % dan nilai
R sebesa 0,5393, pengaruh tersebut di
kategorikan sebagai Modert Correlation
atau Sedang.
DAFTAR PUSTAKA
Ali Arifin, 2002, Analisa Bursa Efek, Cetakan kedua, PT. Gramedia Pustaka Utama. Indonesia
Bambang, 1994, “ Dasar – dasar Pembelajaran Perusahaan “, edisi kedua, cetakan ketujuh belas, Yayasan Badan
Penerbit Gajah Mada, Yogyakarta.
Elton Edwin. J, Grubber, 1997, Financial Manajemen Theory and Practice, Jhon Wiles And Sons Inc, Edisi Bahasa
Indonesia.
Frank, J. Fabossi, 1995, Investasi Manajemen, Pearson Education Asia Pte Ltd.
Jogi Yanto, 1998, Teori Portofolio dan Analisis Investasi, UPP, AMP, YKPN, Yogyakarta.
Med Press Team Work, 1998, Kiat Investasi dan Penyelamatan Asset, Elex Maedia, Komputindo
Panji, A. dan Widiyanati, 1995, Pasar Modal ; Keberadaan dan manfaatnya bagi Pembangunan, Edisi kedua,
Rineka Cipta, Indonesia.
Suad Husnan, 1994, Dasar – Dasar Manajemen Investasi, UPP, AMP, YKPN, Yogyakarta.
----------------, 1998, Teori Portolio dan Analisis Sekuritas, UPP, AMP, YKPN, Yogyakarta.
Subana M. dan Sudrajat, 2001, Dasar – dasar Penelitian Ilmiah, Cetakan pertama, CV. Pustaka Setia, Bandung.
Sjarir, 1995, Analisis Bursa Efek, Cetakan kedua, PT. Gramedia Pustaka Utama, Indonesia.
Yunus Kasim, 2002, Pengaruh Variabel Ekonomi Makro dan Indeks Harga Saham Internasional terhadap Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) di BEI, Tesis Pasca Sarjana Universitas Padjajaran Bandung, Bandung.
32
Fly UP