...

KELUHAN-KELUHAN LANJUT USIA YANG DATANG KE

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

KELUHAN-KELUHAN LANJUT USIA YANG DATANG KE
KELUHAN-KELUHAN LANJUT USIA YANG DATANG KE
PENGOBATAN GRATIS DI SALAH SATU WILAYAH
PEDESAAN DI BALI
I Gede Putu Darma Suyasa; Ns. AA Istri Wulan Krisnandari; Ni Wayan Umika Onajiati; Ns.
Ida Ayu Ningrat Pangruating Diyu.
Institusi: Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali
Email: [email protected]
ABSTRACT
The number of older population in Indonesia is increasing. The proportions of older Indonesians who
live in rural areas are slightly higher than those living in urban areas. The limited health care services for
older people especially in rural areas results in a high utilisation of free medication program for health
screening and basic medications. The purpose of this study was to identity health problems among older
people visiting a free medication program in one rural area in Bali. This study was conducted by
analysing medical records of older people (aged 60+) of those visiting a free medication program in one
rural area in Bali. The data was analysed using SPSS 17. From the total of 200 visitors, 94 of them (47%)
were older people. Their age ranged from 60-90 years with the highest proportion in range 60-69 years
(47/94, 50%). Most of them (59/94, 63%) were female and never had any formal education (55/94, 59%).
Interestingly, 42 older people (45%) were still active working outside the house. Main health problems of
older people in this study were worsening eyesight (57/94, 61%), wet eye (26/94, 28%) and pain in their
joints (25/94, 27%). For health seeking behaviour, 29 of them (31%) never seek any medical help;
meanwhile the rest of older people visited General Practitioners, Public Health Centres, hospitals,
independent midwifery practices and alternative therapies. Findings of this study are useful as a database of
health status of older people in rural areas and beneficial for policy makers in planning health care system
for older people.
Keywords: Older people, pain, health care service, health seeking behaviour
1. PENDAHULUAN
Menurut sensus penduduk tahun 2010, jumlah penduduk lanjut usia atau lansia (umur 60 tahun ke atas)
di Indonesia adalah 18 juta jiwa atau sekitar 7.6% dari seluruh total populasi (Badan Pusat Statistik, 2011).
Jumlah penduduk lansia di Indonsia diperkirakan terus meningkat dari tahun ke tahun, bahkan Perserikatan
Bangsa-bangsa (PBB) memperkirakan bahwa Indonesia bersama dengan Cina, Amerika Serikat dan India
akan memiliki populasi lansia lebih dari 50 juta jiwa di tahun 2050. Peningkatan jumlah lansia ini dapat
mengakibatkan peningkatan terhadap kebutuhan akan dukungan sosial dan jaminan kesehatan untuk para
lansia (United Nations, 2009).
Semakin meningkatnya usia seorang individu, maka kecenderungan individu tersebut untuk mengalami
penyakit kronis yang kompleks semakin tinggi. Hal ini karena menurunnya struktur anatomi dan fungsi
tubuh manusia akibat proses penuaan (Farley, McLafferty, & Hendry, 2006). Menurut Badan Pusat
Statistik (2013), penduduk lansia masih mengeluhkan batuk dan pilek sebagai keluhan utama kesehatan
mereka di samping keluhan-keluhan lain seperti peningkatan suhu tubuh, asma, diare, sakit kepala
berulang dan sakit gigi. Akan tetapi, dalam data nasional tersebut tidak terungkap keluhan-keluhan lansia
yang mengarah kepada permasalahan penyakit kronik seperti hipertensi dan nyeri pada sendi. Diperlukan
42
upaya-upaya yang lebih komprehensif untuk mengidentifikasi masalah-masalah kesehatan lansia yang
dapat mencerminkan kondisi kesehatan lansia yang menyeluruh, baik dari sudut pandang penyakit akut
maupun kronis.
Permasalahan kesehatan yang kompleks pada lansia menyebabkan kebutuhan akan pelayanan
kesehatan semakin meningkat. Pada dasarnya, sistem kesehatan di Indonesia sudah cukup baik dalam
upaya meningkatkan derajat kesehatan lansia dengan adanya rumah sakit-rumah sakit yang tersebar
setidaknya di setiap kabupaten/kota, Puskesmas di setiap kecamatan, Puskesmas pembantu di tingkat desa
serta adanya Posyandu lansia di tingkat yang lebih kecil. Akan tetapi, karena beragamnya tingkat sosial
ekonomi penduduk, kondisi geografis yang tersebar luas dan rendahnya pengetahuan masyarakat tentang
kesehatan, mengakibatkan pelaksanaan sistem kesehatan tersebut belum berjalan dengan optimal (Kadar,
Francis, & Sellick, 2012). Hal ini menuntut kerjasama yang lebih baik antara masyarakat, pemerintah dan
pihak-pihak swasta untuk meningkatkan peran serta dalam upaya meningkatkan status kesehatan lansia.
Salah satu wujud kerjasama antara masyarakat dengan pihak swasta dalam upaya meningkatkan derajat
kesehatan lansia adalah pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis. Melalui upaya ini, para lansia
mendapatkan screening kesehatan untuk mengetahui secara dini penyakit-penyakit yang dihadapi.
Screening kesehatan untuk para lansia termasuk dalam upaya menjaga kesehatan lansia dan mengupayakan
lansia agar tetap aktif di masyarakat (Trihandini, 2007). Di samping itu, melalui kegiatan ini para lansia
juga mendapatkan pengobatan gratis sesuai dengan penyakit yang diderita serta rujukan ke pelayananpelayanan kesehatan yang sesuai. Rujukan tersebut penting dilakukan agar para lansia yang mempunyai
permasalahan kesehatan mendapatkan pelayanan yang berkelanjutan. Khususnya di daerah pedesaan,
proporsi rumah tangga lansia yang mendapatkan pelayanan kesehatan gratis termasuk mereka yang
menggunakan Kartu Sehat, Kartu Miskin dan Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas) masih
tergolong tinggi mencapai angka 30,69% (Badan Pusat Statistik, 2013).
Proporsi lansia yang tinggal di daerah pedesaan lebih tinggi (57,4%) dibandingkan dengan proporsi
lansia yang tinggal di daerah perkotaan. Sementara itu, sekitar setengah dari jumlah seluruh lansia tidak
pernah menjalani pendidikan formal dengan tingkat buta huruf mencapai 32,6% (Badan Pusat Statistik,
2011). Pemahaman terhadap area tempat tinggal (desa-kota) dan tingkat pendidikan penting bagi tenaga
kesehatan untuk dapat melakukan intervensi kesehatan yang tepat untuk meningkatkan derajat kesehatan
lansia.
Perlu pembenahan sistem kesehatan yang berfokus pada para lansia khususnya di daerah pedesaan.
Dalam rangka pembenahan tersebut, data-data penunjang yang terkait dengan karakteristik lansia serta
keluhan-keluhan kesehatan lansia yang dialami sangatlah penting. Untuk itulah penelitian ini dilakukan,
dengan tujuan menganalisa karakteristik dan keluhan-keluhan kesehatan yang dialami oleh lansia yang
datang ke pengobatan gratis di salah satu wilayah pedesaan di Bali.
2. METODE
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa catatan medis para pasien yang berkunjung ke
tempat pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis di salah satu Desa di Bali. Kegiatan pemeriksaan
kesehatan dan pengobatan gratis tersebut dilaksanakan 1 hari dengan mengambil lokasi di salah satu
43
gedung yang berlokasi di tengah-tengah desa agar lebih mudah terjangkau oleh seluruh penduduk utamanya
lansia.
Populasi penelitian ini adalah seluruh catatan medis lansia (penduduk umur 60 tahun ke atas) yang
datang ke pengobatan gratis di salah satu desa di Bali. Catatan medis tersebut diisi oleh perawat dan
dokter yang bertugas. Catatan mengenai umur, jenis kelamin, riwayat penyakit, keluhan dan fasiltias
kesehatan yang digunakan diisi oleh perawat, sedangkan dokter mengisi pada kolom pemeriksaan fisik,
diagnose medis, terapi dan rujukan. Jumlah total catatan medis yang dianalisa adalah 94 berkas. Adapun
variabel yang diukur dalam penelitian ini adalah umur, jenis kelamin, pekerjaan, tingkat pendidikan, alasan
berkunjung, diagnosa medis dan perilaku mencari pertolongan kesehatan.
Data dianalisa berdasarkan
analisa deskriptif dengan menggunakan SPSS 17 (SPSS Inc, 2008).
3. Hasil dan Pembahasan
3.1 Karakteristik lansia
Dari total 200 jumlah kunjungan pasien ke tempat pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis,
94 orang di antaranya (47%) adalah lansia. Rentang umur lansia tersebut adalah 60-90 tahun dengan
proporsi terbanyak (47/94, 50%) berada pada rentang umur 60-69 tahun. Sebagian besar dari mereka
(59/94, 63%) adalah perempuan dan tidak pernah bersekolah (55/94, 59%). Menariknya, 42 orang lansia
tersebut (45%) masih aktif bekerja (Tabel 1).
Besarnya proporsi lansia wanita dibandingkan dengan proporsi lansia laki-laki khususnya pada
lansia pertengahan (75-90 tahun) dan lansia akhir (di atas 90 tahun) sudah menjadi perbincangan dunia
semenjak
2 dekade lalu (Beard et al., 2011). Menurut Beard et al. (2011), tantangan terbesar yang
dihadapi oleh wanita dalam usia tuanya adalah menurunnya tingkat kesehatan, tidak terjaminnya kondisi
ekonomi dan beban merawat pasangan hidupnya. Mengingat tingginya beban wanita lansia dalam
perawatan lansia itu sendiri, maka perhatian spesisik perlu diberikan terkait dengan derajat kesehatannya.
Dengan proporsi 45% lansia yang masih aktif bekerja sebagai petani, pedagang, wiraswasta
dan
pegawai swasta, memberikan arti bahwa asumsi lansia sebagai beban ekonomi masyarakat perlu
dipertanyakan kembali. Hal ini didukung oleh hasil sebuah penelitian antropologi longitudinal dimana para
lansia dalam penelitian tersebut sebisa mungkin menghindari ketergantungan kepada generasi di
bawahnya, kecuali jika para lansia tersbut dalam keadaan sakit atau tidak mampu bekerja lagi (Kreager &
Schroder-Butterfill, 2008).
44
Tabel 1. Karakteristik lansia yang berkunjung ke pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis di
salah satu desa di Bali (n = 94)
Jenis Kelamin
Total
Laki-laki
Perempuan
n (%)
n (%)
n (%)
Umur
Lansia muda (60-74 tahun)
26 (27,7%)
46 (48,9%)
72 (76,6%)
Lansia pertengahan (75-90 tahun)
9 (9,6%)
13 (13,8%)
22 (23,4%)
Jenis pekerjaan
Tidak Bekerja
21 (22,3%)
31 (33,0%)
52 (55,3%)
Petani
5 (5,3%)
4 (4,3%)
9 (9,6%)
Pedagang
0 (0,0%)
12 (12,8%)
12 (12,8%)
Wiraswasta
5 (5,3%)
5 (5,3%)
10 (10,6%)
Pegawai swasta
4 (4,3%)
7 (7,4%)
11 (11,7%)
Tingkat pendidikan
Tidak Sekolah
17 (18,1%)
38 (40,4%)
55 (58,5%)
SD
16 (17,0%)
20 (21,3%)
36 (38,3%)
SMP
0 (0,0%)
1 (1,1%)
1 (1,1%)
Sarjana
2 (2,1%)
0 (0,0%)
2 (2,1%)
3.2 Keluhan-keluhan kesehatan lansia
Dilihat dari keluhan-keluhan kesehatan para lansia (Gambar 1), 57 dari mereka (61%) mengeluh
penglihatan kabur, disusul dengan mata keluar air (26/94, 28%) dan nyeri di daerah persendian (25/94,
27%). Dengan meningkatnya usia maka struktur luar dan dalam dari mata mengalami perubahan. Lensa
mata menjadi semakin kaku dan pandangan menjadi kabur (Meiner & Lueckenotte, 2006). Menurut
Meiner dan Luecknotte (2006), meningkatnya usia pada lansia menyebabkan mata semakin kering. Akan
tetapi pada penelitian ini, 28% lansia mengeluhkan mata keluar air. Mencari penyebab mata berair yang
dikeluhkan oleh para lansia berada di luar lingkup penelitian ini, sehingga penelitian berikutnya
disarankan untuk berfokus pada factor-faktor risiko dan penyebab mata berair pada lansia.
Nyeri di daerah persendian yang dialami oleh para lansia dalam penelitian ini sejalan dengan hasil
penelitian sebelumnya. Sebuah penelitian cross-sectional melibatkan 225 lansia menemukan bahwa 41%
lansia mengeluhkan nyeri di daerah lutut
dan berkorelasi dengan kemampuan fungsional fisik seperti
berpindah dari tempat tidur, kursi, kursi roda dan bergerak ke kamar mandi (Rachmawati, Samara, Tjhin,
dan Wartono, 2006). Tingginya angka nyeri di daerah persendian terkait dengan diagnose medis
rheumathoid arthritis dan osteoarthritis yang dipresentasikan di Tabel 2.
Data tentang keluhan-keluhan kesehatan para lansia dalam penelitian ini dapat dijadikan dasar
pengembangan pelayanan kesehatan lansia dan penelitian selanjutnya. Pertanyaan-pertanyaan terkait
dengan keluhan mata kabur, mata berair, nyeri sendi dan seterusnya sesuai dengan yang tercantum dalam
Gambar 1, semestinya dimasukkan dalam screening kesehatan yang dilakukan oleh petugas kesehatan
atau tercantum dalam kuesioner yang dipakai di dalam sebuah penelitian.
45
60
57
Jumlah
50
40
30
26
25
20
20
16
16
12
10
10
7
7
0
Penglihatan Mata berair
kabur
Nyeri
persendian
Nyeri
tangan/kaki
Kesemutan
Pusing
Nyeri
pinggang
Gatal di kulit Mata keluar Lelah/lemas
kotoran
Keluhan lansia
Gambar 1. Distribusi 10 keluhan utama lansia yang berkunjung ke pemeriksaan kesehatan dan
pengobatan gratis di salah satu desa di Bali (n = 94)
3.3 Perilaku mencari pertolongan kesehatan
Hipertensi, rheumatoid arthritis dan katarak adalah 3 dari 10 diagnose medis utama para lansia yang
berkunjung ke tempat pemeriksaan kesehatan dan pengobatan gratis (Tabel 2). Dengan pengecualian pada
lansia yang menderita katarak dan osteoarthritis dimana sebagian besar dari mereka berobat ke
Puskesmas, lansia dengan penyakit lainnya sebagian besar berkunjung ke dokter praktek swasta untuk
mendapatkan pertolongan kesehatan. Hal ini mungkin terjadi karena jam berkunjung Puskesmas
khususnya di daerah pedesaan terbatas pada hari dan jam kerja, sementara jam berkunjung dokter praktek
swasta biasanya sore hari di luar jam kerja. Hal tersebut membuat keluarga yang merawat lansia dapat
lebih meluangkan waktu mengantar para lansia untuk berobat ke dokter praktek swasta.
Hasil penelitian ini menemukan bahwa sebelas di antara para lansia yang menderita hipertensi
memeriksakan kesehatan secara rutin ke dokter praktek swasta (11,7%), sementara 8 orang dari mereka
(8,5%) tidak berobat sama sekali. Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskuler yang sering
dialami oleh para lansia dengan angka prevalensi berkisar antara 46,4-52% (Baliga, Praveen S.
Gopakumaran, Katti, & Mallapur, 2013; Ejim et al., 2011) dan berkontribusi terhadap 80% dari kematian
akibat penyakit kardiovaskular (Deaton et al., 2011). Sebuah penelitian cross-sectional yang dilakukan di
India menemukan bahwa 72% dari penderita hipertensi tidak mencari pertolongan kesehatan (Baliga, et
al., 2013). Beberapa alasan terkait dengan tidak berobatnya penderita hipertensi yang ditemukan oleh
Baliga et al. (2013) antara lain karena keterbatasan ekonomi, kurangnya fasilitas kesehatan yang dapat
dijangkau dan rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang fasiltias pelayanan kesehatan. Hal
tersebut mungkin merupakan cerminan dari apa yang terjadi di Indonesia, namun tidak dapat dibuktikan
dalam penelitian ini karena terbatasnya data terkait.
46
Sementara itu, semua lansia yang menderita kencing manis sudah rutin kontrol dan berobat ke
Puskesmas, rumah sakit atau dokter praktek swasta. Perilaku ini dipandang sudah cukup baik karena salah
satu perawatan penting dari kencing manis adalah kontrol rutin ke fasiltias pelayanan kesehatan untuk
pemantauan gula darah dan komplikasi, penyesuaian dosis obat (bagi yang memerlukan) dan
penatalaksanaan diet yang optimal (Kurniawan, 2010).
Tabel 2. Perilaku lansia dalam mencari pertolongan kesehatan berdasarkan 10 diagnose medis
terbanyak (n = 94)
Perilaku Mencari Pertolongan Kesehatan
Bidan
Dokter
Diagnose
Total
PuskesRumah
Tidak
Pengobatan
Praktek
Praktek
Alternatif
medis*
mas
Sakit
Berobat
Swasta
Mandiri
Hipertensi
RA
Katarak
Ggn. refraksi**
Osteoarthritis
Kencing manis
Pteregium
Gastritis
Hiperkolesterol
Dislipidemia
n (%)
4 (4,3%)
3 (3,2%)
5 (5,3%)
0 (0,0%)
2 (2,1%)
3 (3,2%)
1 (1,1%)
0 (0,0%)
3 (3,2%)
1 (1,1%)
n (%)
4 (4,3%)
2 (2,1%)
3 (3,2%)
0 (0,0%)
2 (2,1%)
1 (1,1%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
2 (2,1%)
n (%)
11 (11,7%)
9 (9,6%)
2 (2,1%)
3 (3,2%)
1 (1,1%)
3 (3,2%)
2 (2,1%)
1 (1,1%)
3 (3,2%)
2 (2,1%)
n (%)
2 (2,1%)
3 (3,2%)
2 (2,1%)
0 (0,0%)
1 (1,1%)
0 (0,0%)
2 (2,1%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
1 (1,1%)
n (%)
1 (1,1%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
1 (1,1%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
0 (0,0%)
n (%)
8 (8,5%)
8 (8,5%)
5 (5,3%)
5 (5.3%)
3 (3,2%)
0 (0,0%)
1 (1,1%)
5 (5,3%)
0 (0,0%)
1 (1,1%)
n (%)
30 (31,9%)
25 (26,6%)
17 (18,1%)
9 (9,6%)
9 (9,6%)
7 (7,4%)
6 (6,4%)
6 (6,4%)
6 (6,4%)
6 (6,4%)
*Pada variable diagnose medis terdapat kemungkinan 1 responden memiliki lebih dari 1 diagnose medis;
**Gangguan refraksi; RA, Rheumatoid arthritis
3.4 Keterbatasan penelitian
Penelitian ini terbatas pada analisa catatan medis para lansia yang berkunjung ke tempat pemeriksaan
kesehatan dan pengobatan gratis. Hasil dari penelitian ini tidak dapat digeneralisasi ke populasi lansia
yang lebih luas. Akan tetapi, penelitian ini memberikan informasi tambahan tentang karakteristik 94
lansia terkait dengan sosio-demografi, keluhan-keluhan kesehatan, diagnose medis dan perilaku mencari
pertolongan kesehatan. Keterbatasan lain dari penelitian ini adalah tidak diidentifiaksinya penyebab atau
faktor-faktor risiko terjadinya masalah-masalah kesehatan pada para lansia tetapi hanya berfokus
mendeskripsikan karakteristik dan keluhan-keluhan kesehatan para lansia.
4. KESIMPULAN
Peningkatan jumlah lansia di Indonesia harus diimbangi dengan peningkatan kualitas pelayanan
kesehatan. Upaya-upaya yang sistematis, komprehensif dan berkelanjutan sangat diperlukan untuk
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan tersebut. Hasil penelitian ini dapat dipergunakan untuk
dijadikan acuan perencanaan dan pengembangan pelayanan kesehatan para lansia khususnya di daerah
pedesaan.
47
5. Ucapan Terima Kasih
Ucapan terima kasih disampaikan kepada Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bali atas dana hibah internal
penelitian yang diberikan untuk studi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2011). Statistik penduduk lanjut usia 2010: hasil sensus penduduk 2010. Jakarta:
Badan Pusat Statistik.
Badan Pusat Statistik. (2013). Statistik penduduk lanjut usia 2012: hasil survey sosial ekonomi nasional.
Jakarta: Badan Pusat Statistik.
Baliga, S. S., Praveen S. Gopakumaran, P. S., Katti, S. M., & Mallapur, M. D. (2013). Treatment seeking
behaviour and health care expenditure incurred for hypertension among elderly in urban slums of
Belgaum City. Community Medecine, 4(2), 227-230.
Beard, J. R., Biggs, S., Bloom, D. E., Fried, L. P., Hogan, P., Kalache, A., & Olshansky, S. A. (2011).
Global Population Ageing: Peril or Promise. Geneva: World Economic Forum.
Deaton, C., Froelicher, E. S., Wu, L. H., Ho, C., Shishani, K., & Jaarsma, T. (2011). The global burden of
cardiovascular disease. European Journal of Cardiovascular Nursing, 10(2 suppl), S5-S13.
Ejim, E. C., Okafor, C. I., Emehel, A., Mbah, A. U., Onyia, U., Egwuonwu, T., . . . Onwubere, B. J.
(2011). Prevalence of cardiovascular risk factors in the middle-aged and elderly population of a
Nigerian rural community. Journal of Tropical Medicine, 2011.
Farley, A., McLafferty, E., & Hendry, C. (2006). The physiological effects of ageing on the activities of
living. Nursing Standard, 20(45), 46-48.
Kadar, K. S., Francis, K., & Sellick, K. (2012). Ageing in Indonesia – health status and challenges for the
future. Ageing International, 1-10. doi: 10.1007/s12126-012-9159-y
Kreager, P., & Schroder-Butterfill, E. (2008). Indonesia against the trend? Ageing and inter-generational
wealth flows in two Indonesian communities. Demographic Research, 19(52), 1781.
Kurniawan, I. (2010). Diabetes melitus tipe 2 pada usia lanjut. Majalah Kedokteran Indonesia, 60(12),
576-584.
Meiner, S. E., & Lueckenotte, A. G. (2006). Gerontologic Nursing (3rd ed.). St. Louis: Mosby Elsevier.
Rachmawati, M. R., Samara, D., Tjhin, P., & Wartono, N. (2006). Nyeri musculoskeletal
dan hubungannya dengan kammapuan fungsional fisik pada lanjut usia. Universa Medicina, 25(4),
179-186.
SPSS Inc. (2008). Rel. 17.0. Chicago: SPSS Inc.
Trihandini, I. (2007). Peran medical check-up terhadap aktifitas fisik dasar lansia: studi panel kelompok
lanjut usia 1993-2000. Makara Kesehatan, 11(2), 90.
United Nations. (2009). World Population Ageing 2009. New York: United Nations.
48
Fly UP