...

KELAYAKAN ROTI SISA PASAR SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

KELAYAKAN ROTI SISA PASAR SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2008
KELAYAKAN ROTI SISA PASAR SEBAGAI PAKAN
ALTERNATIF BERDASAR PEMANFAATAN KECERNAAN
ENERGI DAN PARAMETER DARAH PADA SAPI
PERANAKAN ONGOLE
(The Feasibility of Refused Bread as an Alternative Feedstuff Based
on Digestible Energy Utilization and Blood Parameters
in Ongole Crossbred Cattle)
KAYYIS CHALIMI, A. ROCHIM, E. PURBOWATI, SOEDARSONO, E. RIANTO dan A. PURNOMOADI
Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro, Kampus Tembalang, Semarang
ABSTRACT
This study was aimed to determine the feasibility of refused bread as feedstuff based on the utilization of
digestible energy and blood parameters (hematocrit, urea and glucose) in Ongole crossbred (OC) cattle. Eight
OC cattle aged 2 – 3 years, and in average body weight 275 ± 16.4 kg (CV 5.9%) were used. They were
divided into two groups (each containing 4 cattle) based on Completely Randomized Design (CRD) for two
treatments. The first group was given concentrate R-Wb (refused bread 75% and wheat bran 25%), while the
rest was given concentrate D-Wb (rice bran 75% and wheat bran 25%) at a level of 1.5% of body weight.
Both groups were allowed to napier grass (Pennisetum purpureum) ad libitum. The results showed that
energy intake in both groups were not significantly different (98.62 vs 100.48 MJ/day), but the digestible
energy in R-Wb (72.93 MJ/day) was higher (P < 0.05) than that of D-Wb (54.02 MJ/day). However, the
difference in the digestible energy failed to differ the daily weight gain (R-Wb: 408 g vs. D-WB: 307 g) and
energy conversion to body weight gain (R-Wb: 187,19 MJ/kg vs D-WB: 178,71 MJ/kg). The blood
hematocrit in R-WB (36.92%) was higher (P < 0.05) than that in D-WB (33.50%), as well as in blood glucose
(76.63 vs 54.14 mg/dl), but no significantly different was observed in blood urea (7.413 vs 8.628 mg/dl). The
conclusion of this study was the market refused bread could be used as an alternative feedstuff, especially to
replace the rice bran as a source of energy.
Key Words: Ongole Crossbred Cattle, Market Refused Bread, Digestible Energy, Blood Parameters
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan roti sisa pasar sebagai bahan pakan alternatif
berdasar pada pemanfaatan energi tecerna dan parameter darah (kadar hematokrit, urea dan glukosa) pada
sapi Peranakan Ongole (PO). Materi yang digunakan adalah sapi Peranakan Ongole jantan sebanyak 8 ekor
dengan umur 2 – 3 tahun, dan bobot badan sapi PO yang digunakan yaitu 275 ± 16,4 kg (CV 5,9%), yang
dikelompokkan menjadi dua perlakuan menurut Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pakan perlakuan adalah
hijauan berupa rumput gajah (Pennisetum purpureum) yang diberikan secara ad libitum, sedang konsentrat
yang diberikan terdapat dua macam antara lain campuran pertama yaitu R-Wb (roti sisa pasar 75% dengan
wheat bran 25%) dan campuran kedua yaitu D-Wb (dedak padi 75% dengan wheat bran 25%). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa konsumsi energi pada sapi R-Wb dan D-Wb tidak berbeda nyata (100,48 dan
98,62 MJ/hari), namun energi tercerna pada sapi R-Wb (72,93 MJ/hari) lebih tinggi (P < 0,05) daripada DWb (54,02 MJ/hari). Meskipun begitu perbedaan energi tecerna tersebut belum mampu memberikan
perbedaan (P > 0,05) pada pertambahan bobot badan harian (PBBH; R-Wb: 408 g vs D-WB: 307 g) dan
konversi energi tercerna antara R-Wb (187,19 MJ/kgPBBH) dan D-WB (178,71 MJ/kgPBBH). Kadar
hematokrit sapi R-WB (36,92%) lebih tinggi (P < 0,05) daripada sapi D-WB (33,50%), demikian juga pada
glukosa darah (76,63 vs 54,14 mg/dL, P < 0,05), namun urea darah tidak berbeda antara kedua perlakuan.
Kesimpulan penelitian ini adalah roti sisa pasar dapat menggantikan dedak padi sebagai sumber energi dan
memberikan gambaran fisiologi yang baik terhadap sapi PO.
Kata Kunci: Sapi PO, Roti Sisa Pasar, Kecernaan Energi, Parameter Darah
100
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009
PENDAHULUAN
Faktor
utama
yang
menentukan
produktivitas ternak adalah pakan (BLAKELY
dan BADE, 1994). Nutrisi pakan berguna untuk
mencukupi kebutuhan tubuh dan produksi.
Konsentrat adalah pakan tambahan yang
berguna untuk mencukupi kebutuhan nutrisi
pada ternak yang tidak bisa didapat dari
hijauan saja. Konsentrat untuk ternak dapat
berasal dari limbah pertanian, misalnya dedak
padi. Dedak padi adalah bahan pakan yang
termasuk sumber energi. Dedak padi memiliki
kandungan bahan kering (BK) 92%; protein
kasar (PK) 11,2%; serat kasar (SK) 16,4%;
lemak kasar (LK) 9,9%; BETN 47,6% dan
total digestible nutrient (TDN) 65% (KEARL,
1982). Ketersediaan dedak padi sangat
dipengaruhi oleh perubahan musim, sehingga
diperlukan pakan alternatif sebagai pengganti
yaitu roti sisa pasar.
Peternak sudah memanfaatkan roti sisa
pasar sebagai bahan pakan ternak. Roti sisa
pasar memiliki kandungan BK 91,6%, TDN
82,7%, PK 10,9%, calcium 0,06% dan pospor
0,47% (CULLISON, 1979). Pada wilayah Jepara
terdapat sentra industri roti, dimana dalam satu
wilayah terdapat 50 industri rumah tangga. Jika
tiap industri rumah tangga menghasilkan roti
sisa pasar ± 25 kg/hari, maka dalam satu
wilayah tersebut dapat menghasilkan ± 1 ton
roti sisa pasar tiap harinya. Selain itu harga roti
sisa pasar masih terjangkau dan tidak
terpengaruh secara langsung oleh perubahan
musim. Dijelaskan oleh CHAMPE dan CHRUCH
(1980), roti yang dikeringkan (dried bakery
product) adalah bahan pakan yang didapat dari
beberapa toko roti dan pengolahan bahan
pangan.
Energi sebagian besar disuplai oleh hampir
semua bahan pakan yang dikonsumsi oleh
ternak, oleh karena itu bila ternak
mengkonsumsi suatu bahan pakan yang cukup
mengandung protein dan mineral, maka semua
perhitungan kebutuhan zat pakan akan hanya
diarahkan untuk energi (PARAKKASI, 1999).
Jumlah energi bruto (gross energy) yang
dikonsumsi oleh ternak merupakan jumlah
keseluruhan energi yang berada didalam bahan
pakan (BLAKELY dan BADE, 1994).
ANGGORODI (1994) menyatakan bahwa pada
dasarnya tingkat kecernaan adalah suatu usaha
untuk mengetahui banyaknya zat pakan yang
diserap oleh saluran pencernaan. Menurut
LUBIS (1992) salah satu faktor yang harus
dipenuhi dalam bahan pakan adalah tingginya
daya cerna bahan pakan tersebut, dalam arti
bahwa pakan itu harus mengandung zat pakan
yang dapat diserap dalam saluran pencernaan.
Semakin tinggi suatu bahan pakan mengandung
serat kasar semakin rendah kecernaan bahan
pakan tersebut (ANGGORODI, 1994). Tujuan
dari penelitian adalah mengetahui pengaruh
pemberian roti sisa pasar sebagai campuran
konsentrat sapi Peranakan Ongole (PO)
terhadap efisiensi pemanfaatan energi tercerna.
Produktivitas dan fisiologis (kesehatan dan
normalitas) merupakan gambaran respon ternak
terhadap bahan pakan yang diberikan pada
ternak. Darah adalah jaringan yang beredar
dalam pembuluh darah (MAYES et al., 1983).
Darah merupakan salah satu parameter
fisiologis yang mencerminkan kondisi fisik
ternak (FRANDSON, 1992). Nilai Hematokrit
atau packed cell volume adalah persentase sel
darah merah berdasarkan volume darah
(FRANDSON, 1992). Menurut ETTINGGER
(1996), untuk mendapatkan kadar hematokrit
melalui perhitungan jumlah sel darah merah
(berdasarkan ukuran partikel) dan perhitungan
volume darah. Pada penelitian LANE dan
CAMPBELL (1969), hematokrit digunakan
untuk mengetahui kondisi fisiologis dan untuk
menyeleksi sapi perah. Menurut ARTHAUD et
al. dan ALEXANDER et al. yang dikutip oleh
BHANNASHIR et al. (1961), pada sapi potong
berkisar antara 31 – 48%. Apabila eritrosit di
bawah kisaran normal, ternak mengalami
anemia yaitu jumlah sel-sel merah dan
hemoglobin berkurang jauh dibawah keadaan
normal. Hal tersebut disebabkan nutrisi yang
kurang memadai sehingga pembentukan darah
kurang baik. Parameter glukosa pada darah
digunakan untuk mengetahui pemanfaatan
karbohidrat dalam pakan dan metabolisme
energi dalam tubuh sapi PO. Glukosa pada
ruminansia selain sebagai sumber energi juga
penting dalam pemeliharaan sel-sel tubuh
terutama darah dan otot (PARAKKASI, 1999).
Parameter urea pada darah berfungsi untuk
mengetahui metabolisme protein tubuh. Urea
adalah suatu komponen normal pada darah
yang mengalir dalam tubuh dari hasil
sampingan metabolisme protein (CULLISON,
1979). Jalan utama ekskresi nitrogen adalah
dalam bentuk urea, yang disintesis dalam hati,
101
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009
dilepas dalam darah dan dialirkan ke ginjal
(MAYES et al., 1983). Hal tersebut didukung
juga oleh KOHN et al. (2005) bahwa urea darah
mempunyai korelasi yang tinggi terhadap
ekskresi nitrogen melalui urin dan urea darah
pada sapi potong berkisar antara 4 – 25 mg/dL.
Menurut VASCONCELOS et al. (2006), kadar
protein kasar yang diberikan mempunyai
korelasi yang tinggi terhadap kadar urea dalam
darah, yaitu semakin tinggi level protein kasar
yang diberikan maka semakin tinggi pula kadar
urea dalam darah. Tujuan dari penelitian
tersebut adalah untuk mengetahui perbedaan
kecernaan energi, kadar hematokrit, glukosa
dan urea darah sapi PO yang diberi perlakuan
konsentrat yang berbeda (R-Wb vs D-Wb).
MATERI DAN METODE
Materi yang digunakan dalam penelitian ini
adalah sapi Peranakan Ongole sebanyak 8 ekor
dengan jenis kelamin jantan dan berumur 2 – 3
tahun. Bobot badan sapi PO yang digunakan
dalam penelitian yaitu 275 ± 16,4 kg (CV
5,9%).
Bahan pakan yang digunakan dalam
penelitian adalah hijauan dan konsentrat.
Hijauan yang digunakan adalah rumput Gajah
(Pennisetum purpureum) yang diberikan secara
ad libitum. Konsentrat yang diberikan pada
penelitian ini terdapat dua macam yaitu
campuran pertama wheat bran (25%) dengan
roti sisa pasar (75%) dan campuran kedua
wheat bran (25%) dengan dedak padi (75%).
Pemberian konsentrat tersebut adalah 1,5%
dari bobot badan sapi PO.
Penelitian tersebut membandingkan dua
kelompok yang mendapat perlakuan berbeda
secara acak. Perlakuan pertama (R-WB) yaitu
empat ekor diberi konsentrat roti sisa pasar dan
wheat bran (R-Wb). Perlakuan kedua (D-WB)
yaitu empat ekor diberi konsentrat dedak padi
dan wheat bran (D-Wb).
Pengambilan sampel feses untuk analisis
energi pada masing-masing sapi dilakukan
selama satu minggu. Feses yang terkumpul
disemprot dengan H2SO4 secara merata untuk
mencegah penguapan N kemudian ditimbang,
setelah 24 jam feses dicampur hingga homogen
kemudian diambil sampel harian secara
proporsional (% terhadap total feses yang
keluar) dan disimpan dalam kulkas.
Pengukuran energi yang keluar melalui feses
hasil total koleksi selama 7 hari dikeringkan
kemudian ditumbuk dan dicampur hingga
homogen, kemudian diambil sampel sebanyak
1 kg untuk dianalisis. Nilai energi feses diukur
dengan menggunakan bom kalorimeter.
Pengambilan sampel darah melalui
pembuluh darah (vena jugularis). Pengukuaran
kadar hematrokit dilakukan pada tengah masa
perlakuan serta dilakukan analisis dengan
metode mikrohematokrit. Plasma darah
dianalisis dengan menggunakan glukosa dan
urea komersial kit, masing-masing reagen
berfungsi untuk mengetahui kadar glukosa dan
urea pada plasma darah sapi PO yang
dianalisis. Data hasil penelitian diolah dengan
menggunakan analisis varians dan diuji dengan
t-student atau uji t (GASPERSZ, 1995).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil penelitian tentang tentang evaluasi
kelayakan roti sisa pasar sebagai pakan
alternatif berdasar parameter darah pada sapi
PO ditunjukan pada Tabel 2.
Tabel 1. Komposisi bahan pakan
Bahan pakan
BK
PK
LK
SK
Abu
BETN
-----------------------------(%)-------------------------
GE
(kal/g)
R-Wb
85,37
9,81
10,74
3,04
2,41
74,00
4182
D-Wb
88,59
9,23
1,55
29,57
16,66
43,00
3512
Rumput Gajah
50,57
7,73
1,19
29,62
11,26
50,21
2484
R-Wb: roti dan wheat bran; D-Wb: dedak padi dan wheat bran
102
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009
Kecernaan energi
Tabel 2; tampak bahwa konsumsi energi
pada sapi R-WB dengan D-WB tidak berbeda
nyata, namun sapi R-WB dapat mencerna
energi lebih besar (P < 0,05) daripada sapi DWB, yaitu 72,58% pada sapi R-WB dan D-WB
yaitu 55,34%. Hal tersebut dikarenakan roti
lebih mudah dicerna daripada dedak padi
sesuai dengan hasil analisis bahwa roti
mempunyai serat kasar 2,6% jauh lebih rendah
daripada dedak padi yang mempunyai serat
kasar 26,2%. Kondisi tersebut juga selaras
dengan pendapat ANGGORODI (1994) bahwa
semakin tinggi kandungan serat kasar suatu
bahan pakan maka kecernaan bahan pakan
tersebut semakin rendah. Sebagai konsekuensi
maka energi yang dikeluarkan melalui feses
pada sapi D-WB lebih besar (P < 0,01)
daripada R-WB. Keluaran energi melalui feses
Tabel 2. Penampilan konsumsi pakan, kecernaan dan parameter darah
Parameter
Perlakuan
Keterangan
R-WB
D-WB
408
307
ns
BK (kg)
7,023
7,618
ns
BO (kg)
6,568
6,517
ns
Energi (MJ/hari)
100,48
98,62
ns
Energi Feses (MJ/hari)
27,55
44,54
**
Energi Feses (%GE)
27,42
45,19
**
Pertambahan BB Harian (g)
Konsumsi
Keluaran
Tercerna
BK (%)
75,87
53,78
**
Karbohidrat (%)
79,55
62,35
**
Energi (%)
72,58
55,34
**
Energi (MJ/hari)
72,93
54,02
*
Energi (%)
48,20
24,32
**
Energi (MJ/hari)
48,43
23,75
**
Protein (%)
28,33
29,16
ns
191
185
ns
Terkonsumsi (MJ/kg PBBH)
340,20
246,57
ns
Tercerna (MJ/kg PBBH)
187,19
178,47
ns
Hematokrit (%)
36,92
33,50
*
Glukosa darah (mg/dL)
74,63
54,14
*
Urea darah (mg/dL)
7,413
8,628
ns
Terdeposisi
Protein (g/hari)
Konversi energi
Parameter darah
*: berbeda nyata pada taraf 5%; **: berbeda sangat nyata pada taraf 1%, dan ns (non signifikan): tidak
berbeda nyata pada taraf 5%
103
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009
ini berarti ketidak-efisienan ternak dalam
memanfaatkan energi pakan. Kecernaan energi
yang tinggi mengakibatkan nilai energi feses
terhadap konsumsi energi total lebih kecil
(27,42%GE), sedangkan kecernaan yang kecil
mengakibatkan nilai energi feses terhadap
konsumsi energi total lebih besar (45,19%GE).
Konversi energi yang terkonsumsi untuk
membentuk 1 kg bobot badan pada sapi R-WB
dan D-WB masing-masing sebesar 246,57 dan
340,20 MJ/kg PBBH. Konversi energi yang
tercerna pada sapi R-WB dan D-WB masingmasing adalah 178,71 dan 187,19 MJ/kg
PBBH. Hal tersebut menunjukkan bahwa roti
lebih mudah dapat dimanfaatkan untuk
produksi dari pada dedak padi, terbukti PBBH
pada sapi yang diberi roti (408 g/hari) secara
deskriptif lebih besar 101 g/hari dibandingkan
dengan sapi yang diberi dedak padi (307
g/hari).
PARAMETER DARAH
Kadar hematokrit sapi R-WB (36,92%)
lebih tinggi (P < 0,05) daripada sapi D-WB
(33,50%) dan kedua kelompok sapi PO
menunjukkan nilai hematokrit yang normal.
Menurut ARTHAUD et al. dan ALEXANDER et
al. yang dikutip oleh BHANNASHIR et al.
(1961), kadar hematokrit sapi potong berkisar
antara 31 – 48%. Kadar hematokrit pada sapi
R-WB memiliki kadar hematokrit yang lebih
tinggi karena daya cerna atau kecernaan bahan
kering sapi R-WB (75,87%) lebih tinggi (P <
0,05) daripada sapi D-WB (53,78%) dan
deposisi energi (48,20 vs 23,75%) yang
berbeda sangat nyata (P < 0,01) juga
memberikan
pengaruh
terhadap
kadar
hematokrit. Meskipun deposisi protein sapi RWB (29,16%) tidak berbeda nyata (P > 0,05)
dengan D-WB (28,33%), namun protein
digunakan untuk pembentukan eritrosit.
Menurut MAYES et al. (1983), eritrosit
mengandung hemoglobin yang tersusun oleh
protein. Kadar hematokrit pada ternak maupun
hewan dipengaruhi oleh asupan nutrisi atau
gizi yang terkandung pada bahan pakan
(FRANDSON, 1992). Energi pada ruminansia
berfungsi untuk pemeliharaan sel dan otot
(PARAKKASI, 1999). Hasil penelitian ARIFIN
(1992) menunjukkan bahwa, ternak kerbau
yang mengkonsumsi lebih banyak bahan
104
kering kadar hematokritnya juga lebih tinggi.
Serat kasar pada R-Wb lebih rendah daripada
D-Wb (3,04 vs 29,57%). Pakan dengan
kandungan serat kasar rendah, mudah dicerna
dan memerlukan waktu yang lebih pendek per
satuan berat (ARORA, 1995). Eritrosit
mengandung hemoglobin yang berikatan
dengan ion besi dan berfungsi mengikat
oksigen (FRANDSON, 1992). Sapi P R-WB
memiliki fisiologi yang lebih baik karena sel
darah merahnya mengikat lebih banyak
oksigen daripada sapi D-WB. Konsentrat roti
sisa pasar mampu memberikan kadar
hematokrit sapi PO yang lebih baik daripada
dedak padi, karena sapi PO yang mendapat roti
sisa pasar mendapat asupan nutrisi yang lebih
baik daripada dedak padi.
Hasil penelitian menunjukkan sapi R-WB
(74,63 mg/dl) memiliki kadar glukosa darah
yang lebih tinggi (P < 0,05) daripada sapi DWB (54,14 mg/dl), namun kedua kelompok
sapi yang mendapat perlakuan berbeda
memiliki kadar glukosa darah pada kisaran
normal. Hasil penelitian RUMSEY et al. (1999),
menunjukkan kisaran kadar glukosa darah pada
sapi potong antara 60 mg/dl. Menurut
pengamatan POTTER dan PERRY (1993) yang
dikutip oleh POND et al. (1995), sapi memiliki
kadar glukosa darah 40 – 70 mg/dl. Glukosa
pada ruminansia selain sebagai sumber energi
setelah VFA juga penting dalam pemeliharaan
sel-sel tubuh terutama darah dan otot
(PARAKKASI, 1999). Sapi R-WB memiliki
kandungan glukosa darah yang lebih tinggi
daripada sapi D-WB, karena deposisi energi
sapi R-WB(48,43 MJ) lebih tinggi (P < 0,01)
daripada sapi D-WB (23,75 MJ) selain itu daya
cerna karbohidrat sapi R-WB (79,55%) lebih
tinggi (P < 0,05) daripada sapi D-WB
(62,35%). Hal ini menunjukkan energi yang
tercerna dan termetabolis pada roti sisa pasar
lebih baik daripada dedak padi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa urea
darah sapi R-WB (7,413 mg/dl) tidak berbeda
nyata (P > 0,05) dengan sapi D-WB (8,628
mg/dl). Menurut pengamatan KOHN et al.
(2005), kadar urea darah pada sapi potong
berkisar antara 4 – 25 mg/dl. Urea darah pada
kedua kelompok sapi (R-WB vs D-WB) berada
pada kisaran normal. Konsentrat R-Wb
maupun D-Wb memiliki kandungan PK yang
relatif sama (9,81 dan 9,23%), sehingga kadar
urea dalam darah menunjukkan non signifikan
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009
atau
tidak
berbeda
nyata.
Menurut
VASCONCELOS et al. (2006), kadar protein
kasar yang diberikan mempunyai korelasi yang
tinggi terhadap kadar urea dalam darah, yaitu
semakin tinggi level protein kasar yang
diberikan maka semakin tinggi pula kadar urea
dalam darah. Protein yang terkandung pada
pakan di dalam rumen mengalami katabolisme/
hidrolisa menjadi asam amino yang diikuti oleh
proses deaminasi menjadi amonia (FRANDSON,
1992). Amonia dibebaskan dan diabsorbsi oleh
dinding rumen, dialirkan ke pembuluh darah,
kemudian disimpan dihati dan di dalam hati
amonia dimetabolis menjadi urea (ARORA,
1995). Karena urea adalah hasil dari
pencernaan dan metabolisme protein, maka
kedua perlakuan sesuai dengan hasil kecernaan
protein sapi R-WB (65,65%) yang tidak
berbeda nyata (P > 0,05) dengan sapi D-WB
(71,97%) dan deposisi protein (29,16 vs
28,33%) yang tidak berbeda nyata(P > 0,05).
Protein termetabolis roti sisa pasar mempunyai
nilai yang sama baiknya dengan dedak padi.
KESIMPULAN
Simpulan yang diperoleh dari penelitian
tentang evaluasi kelayakan roti sisa pasar
sebagai pakan alternatif berdasar kecernaan
energi dan parameter darah pada sapi PO
adalah roti sisa pasar lebih baik daripada dedak
padi dan layak diberikan sebagai pakan untuk
sapi PO.
DAFTAR PUSTAKA
ANGGORODI, R. 1994. Ilmu Makanan Ternak Umum.
PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
ARIFIN, M. 1992. Phisiologyc and Metabolic
Responses of Phil- Murrah Buffaloes to
Concentrate Suplementation and Thermal
Protection. Thesis. Master of Science.
University of The Philippines, Los Banos.
ARORA, S.P. 1995. Pencernaan Mikroba pada
Ruminansia. Diterjemahkan oleh: MURWANI,
R. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
BHANNASIR, T., R. BOGART and H. KRUEGER. 1961.
Hemoglobin and blood cell of growing beef
cattle. J. Anim. Sci. 20: 18 – 21.
CAMPHE, K.A. and D.C. CHRUCH. 1980. Digestibility
of dried bakery product by sheep. J. Anim.
Sci. 51: 25 – 27.
CULLISON, A.E. 1979. Feeds and Feeding. 2nd.
Reston Publishing Company. Inc, Virginia.
ETTINGGER, S.J. 1996. Textbook of Veterinary
Internal Medicine, Diseases of the Dog and
Cat Volume 2. Press of W. B. Saunders
Company, United States of America.
FRANDSON, R.D. 1992. Anatomi dan Fisiologi
Ternak, edisi keempat. Diterjemahkan oleh:
SRIGANDONO, B. dan K. PRASENO. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
GASPERSZ, V. 1995. Teknik Analisis dalam
Penelitian Percobaan. Tarsito, Bandung.
KEARL, L.C. 1982. Nutrient Requirement of
Ruminants
in
Developing
Countries.
International Feedstuffs Institute, Utah
Agriculture Experiment Station, Utah State
University, Logan, Utah.
KOHN, R.A., M.M. DINNEEN and E. RUSSEK-COHEN.
2005. Using blood urea nitrogen excretion and
efficiency of nitrogen utilization in cattle,
sheep, goats, horses, pigs, and rats. J. Anim.
Sci. 83: 879 – 889.
LANE, A.G and J.R. CAMPBELL. 1969. Relationship
of hematocrit values to selected physiological
condition in dairy cattle. J. Anim. Sci. 28: 508
– 511.
LUBIS. D.A. 1992. Ilmu Makanan Ternak. PT
Pembangunan Jakarta.
MAYES, P.A., D.K. GRANER., V.W. RODWELL, dan
D.W.
MARTIN.
1983.
Biokimia.
Diterjemahkan oleh: DARMAWAN, I. Lange
Medical Publications, Los Atlos, California.
PARAKKASI, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan
Ternak Ruminan. University of Indonesia
Press, Jakarta.
POND, W.G., D.C. CHRUCH and K.R. POND. 1995.
Basic Animal Nutrition and Feeding. 4th. Jhon
Wiley and Son, United States of America.
RUMSEY, T.S., S. KAHL and T.H. ELSASSER. 1999.
Field method for monitoring blood glucose in
beef cattle. J. Anim. Sci. 77: 2194 – 2200.
VASCONCELOS, J.T., L.W. GREENE., N.A. COLE.,
M.S. BROWN., F.T. MCCOLLUM III and L.O.
TEDESCHI. 2006. Effect of phase of protein on
performance,
blood
urea
nitrogen
concentration, manure nitrogen: phosphorus
ratio, and carcass characteristic of feedlot
cattle. J. Anim. Sci. 84: 3032 – 3038.
BLAKELY, J dan D. H. BADE. 1994. Ilmu Peternakan.
Diterjemahkan oleh: B. SRIGANDONO. Gadjah
Mada University Press, Yogyakarta.
105
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2009
DISKUSI
Pertanyaan:
1. Roti afkir yang bagaimana yang dgunakan sebagai pakan?
2. Adakah kriterianya, misal umur berapa hari?
Jawaban:
1. Umur roti tidak dilihat. Roti sisa yang digunakan jamurnya tidak lebih dari setengah bagian.
2. Roti sisa sebelumnya diolah yakni dikeringkan dan digiling.
106
Fly UP