...

Document

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

Document
I.
PENDAHULUAN
Lingkungan di sekitar manusia mengandung berbagai jenis organisme patogen,
misalnya bakteri, virus, jamur, protozoa, dan parasit yang dapat menyebabkan
penyakit pada manusia. Manusia memiliki sistem pertahanan tubuh yang lengkap
untuk menghadapi serangan organisme patogen. Akan tetapi, munculnya
manifestasi penyakit pada individu tidak hanya dipengaruhi oleh organisme
patogen tersebut. Proses munculnya manifestasi penyakit juga dipengaruhi oleh
sistem pertahanan tubuh yang lemah. Adakalanya ketika sistem pertahanan tubuh
berfungsi secara maksimal, paparan unsur patogen tidak sampai menimbulkan
penyakit. Sebaliknya, dengan melemahnya sistem pertahanan tubuh, paparan
ringan sekalipun akan menimbulkan penyakit yang sangat mengganggu, terlebih
jika terjadi serangan agen infeksi yang ganas. Upaya untuk meningkatkan sistem
pertahanan tubuh menjadi penting dilakukan dalam rangka mempertahankan sistem
pertahanan tubuh agar tetap maksimal (Kresno, 2001).
Imunomodulator adalah senyawa tertentu yang dapat mempengaruhi kualitas
dan intensitas respon imun. Fungsi imunomodulator adalah memperbaiki sistem
imun dengan cara mengembalikan fungsi sistem imun yang terganggu
(imunorestorasi), stimulasi (imunostimulan) atau dengan menekan/menormalkan
reaksi imun yang abnormal (imunosupresan) (Subowo, 2009). Imunorestorasi
bekerja mengembalikan sistem imun yang terganggu dengan memberikan
komponen sistem imun. Saat fungsi dan jumlah sel imun kurang memadai, maka
upaya peningkatan melalui pemberian imunostimulan menjadi sangat penting.
Imunostimulan digunakan sebagai terapi tambahan untuk penyakit yang disebabkan
oleh organisme patogen, membantu meringankan gejala penyakit infeksi, serta
mempercepat proses penyembuhan. Jika belum terkena penyakit, imunostimulan
bisa dipakai sebagai tindakan preventif untuk mencegah penyakit, serta untuk
meningkatkan daya tahan tubuh. Adapun imunosupresan merupakan senyawa yang
bertujuan untuk menekan respon imun (Bellanti, 1993).
Indonesia merupakan negara terbesar kedua di dunia setelah Brazil yang
mempunyai biodiversitas (keanekaragaman hayati). Termasuk dalam biodiversitas
jenis adalah keanekaragaman tanaman di Indonesia yang sangat besar, termasuk
tanaman yang berpotensi sebagai obat. Upaya pemanfaatan tanaman sebagai
sumber suatu obat menjadi pilihan utama saat ini bagi para peneliti obat di
Indonesia. Salah satu tanaman Indonesia yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan
tersebut adalah buah manggis (Garcinia mangostana L.), terutama pemanfaatan
kulit buahnya. Menurut Kaihena (2015), ekstrak kulit buah manggis diketahui
mengandung senyawa aktif yang disebut xanton (α, β dan γ-mangostin) yang
merupakan derivat terbesar dan memiliki efek antioksidan. Selain itu senyawa ini
juga memiliki efek antiinflamasi, antikanker, antibakteri dan antituberkulosis.
Senyawa-senyawa xanton diketahui memiliki bioaktivitas, antara lain antioksidan,
antijamur, antibakteri, sitotoksik, antiinflamasi, antihistamin, dan anti-HIV
(Obolsky et al.,2009). Akan tetapi, mekanisme aksinya masih belum jelas dan
memerlukan penelitian yang lebih lanjut (Jindarat, 2014). Telah diisolasi lebih dari
50 senyawa xanton yang diperoleh dari kulit buah manggis (Pedraza, 2008).
Beberapa
diantaranya
adalah
α-mangostin,
β-mangostin,
γ-mangostin,
isomangostin, garcinone B, garcinone D, garcinone E, mangostanin, mangostenol,
mangostenon, tovophylin A, tovophylin B (Obolskiy et al., 2009).
Gambaran sistem imun non-spesifik dapat diketahui dengan melakukan
beberapa pengujian imunologik seperti perhitungan jumlah sel leukosit, monosit,
eosinofil serta uji aktivitas fagositosis. Uji aktivitas fagositosis menggunakan
metode Carbon Clearance. Sistem imun non-spesifik adalah sistem imun tubuh
terdepan dalam menghadapi organisme patogen dan dapat memberikan respon
langsung terhadap organisme patogen. Metode carbon clearance digunakan untuk
mengukur aktivitas sel-sel fagosit untuk membunuh organisme patogen yang
masuk ke dalam tubuh.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas imunomodulator ekstrak
etanol kulit buah manggis dan α-mangostin terhadap mencit putih jantan dengan
metoda carbon clearance, mengetahui aktivitas imunomodulator ekstrak etanol
kulit buah manggis dan α-mangostin terhadap mencit putih jantan dengan cara
perhitungan
jumlah sel leukosit total, dan membandingkan aktivitas
imunomodulator antara ekstrak etanol kulit buah manggis dengan α-mangostin.
Fly UP