...

Perubahan iklim yang terjadi di bumi mulai memprihatinkan. Di

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Perubahan iklim yang terjadi di bumi mulai memprihatinkan. Di
Perubahan iklim yang terjadi di
bumi mulai memprihatinkan. Di
Afrika Selatan misalnya, kini
penduduknya mulai merasakan
hujan salju yang lebat. Kerugian
akibat perubahan iklim yang harus
ditanggung masyarakat dunia per
tahunnya US$ 300 miliar.
DA fenomena sangat janggal yang tengah terjadi di Johannesburg, Afrika Selatan. Sejak
kmemasuki bulan Agustus ini, tiba-tiba saja
kota yang bercokol di bagian selatan negeri itu diterjang hujan salju yang lebat. Keruan saja, banyak penduduknya dibuat kalang kabut. Banyak aktivitas rutin di kota ini pun jadi tersendat, bahkan beberapa
di antaranya nyaris berhenti total.
Jika hujan salju itu membuat panik penduduk di
sana, memang ada dasarnya. Pasalnya, secara geografis, negeri yang berada di kawasan tropik dan
subtropik itu termasuk dalam belahan bumi yang
(seharusnya) tak mengenal jenis musim ini. Karena
tak menduga, wajar saja, kebanyakan penduduk di
kota itu dibuatnya kalut.
Gejala alam yang tak lazim itu, menurut kalangan
ahli cuaca, merupakan fenomena alam yang patut diwaspadai. Memang, hujan salju yang hampir serupa
pernah melanda Johannesburg delapan tahun lalu.
Ketika itu, peristiwa tersebut dinilai sebagai siklus
alam yang sangat jarang terjadi.
Berbeda dengan gejala alam yang terakhir tadi,
salju turun lumayan lebat sepanjang malam, bahkan
hingga sepekan kemudian. Karena itu, para ahli pun
sepakat bahwa hal tersebut merupakan salah satu indikasi bahwa iklim di bumi tengah mengalami perubahan tergolong sangat serius. Seiring dengan itu,
suhu udara di seantero Afrika Selatan selama bulan
Agustus ini pun turun drastis. Suhu tertinggi pada
siang hari hanya mencapai sekitar tujuh derajat celsius. Padahal, normalnya mencapai 30 derajat. Jika di
malam hari, akan lebih menggigil lagi, bahkan di beberapa tempat suhu udaranya berada di bawah nol
derajat.
Bisa dibilang, cuaca di Afrika Selatan selama
Agustus ini tak bersahabat. Selain hujan salju, di beberapa tempat di negeri itu juga diserang badai hujan yang lebat. Tak pelak, air bah pun menerjang se-
jumlah kawasan, antara lain Port Elisabeth yang terletak sekitar 800 kilometer sebelah timur Capetown
(ibu kota Afrika Selatan). Di kota itu bahkan curah
hujannya mencapai 270 milimeter hanya dalam tempo semalam.
Yang lebih memilukan, seperti yang dialami penduduk di George. Banjir besar yang menerjang kota
pelabuhan itu bahkan memakan empat korban jiwa.
Hal itu bisa terjadi karena mobil yang mereka tumpangi melintas di atas sebuah jembatan yang tiba-tiba
runtuh tersapu air bah. Begitu pula halnya yang menimpa daerah Kynsa, banjir memaksa ribuan orang di
sana mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Para pejabat badan cuaca di negara tersebut mengatakan, banjir besar yang tengah terjadi di Afrika
Selatan saat ini karena negara itu tengah mengalami
penurunan tekanan udara yang begitu drastis. Akibat kondisi alam seperti itu, akhirnya mendorong
banyak awan berat yang mengandung uap air tergiring masuk kawasan ini.
Perubahan iklim, yang tengah dialami Afrika Selatan, ternyata tak hanya membuat panik penduduknya saja. Juga kalangan pemimpin di sejumlah negara industri dibuatnya waswas. Itu bisa dimaklumi,
lantaran kawasan yang pernah kesohor dengan sebutan Tanjung Harapan ini merupakan pusat perniagaan yang menghubungkan kawasan barat dan timur dunia. Bisa dibayangkan, jika jantung perniagaan dunia itu lumpuh, niscaya akan menyebarkan
dampak perekonomian yang sangat buruk ke banyak
negara.
Dan hal itu bukannya tak
diantisipasi. Nyatanya, dalam
pertemuan kelompok negara-negara industri dunia (lebih dikenal dengan istilah
G8) yang digelar pada Juli
lalu, juga diagendakan masalah perubahan iklim dunia
sebagai salah satu isu yang
dibahas dalam forum itu.
Mereka pun sadar, gejala
alam nan mengerikan ini
merupakan buah dari ulah
menyimpang yang dilakukan
negara-negara industri.
TOPAN KALI INI,
BUKANLAH YANG
TERAKHIR
Fenomena yang tengah
terjadi di Afrika Selatan itu,
menurut banyak pakar lingkungan merupakan dampak
dari pemanasan global. Dan
yang memberikan kontribu-
si terbesar hingga bumi menjadi rentan terhadap perubahan iklim adalah kalangan negara industri. Mereka memang begitu bernafsu mengeksploitasi kawasan sumber daya alam serta penggunaan minyak
bumi secara jorjoran.
Nyatanya pula, masih ada sejumlah kawasan lain
di bumi yang mengalami gejala perubahan iklim tergolong sangat kritis. Di saat yang bersamaan, untuk
kesekian kalinya Cina diserang topan Prapiroon. Kawasan yang mengalami dampak terburuk adalah Provinsi Guangdong. Gara-gara serangan badai ini, 38
orang penduduk di sana tewas dan 14 orang lainnya
dinyatakan hilang.
Selama setahun ini, Negeri Tirai Bambu itu telah
diterjang enam topan yang cukup besar. Dan pemerintah setempat telah mengantisipasi akan datangnya topan lain yang berkecepatan sekitar 118 kilometer per jam di kawasan Cina selatan. Karena itu
pemerintah setempat telah mengevakuasi 65 ribu
penduduk di Pulau Hainan dan Provinsi Guangdong,
dan sekitar 53.200 kapal laut diperintahkan kembali
ke pelabuhan. Selain itu, dihentikan juga seluruh kegiatan operasi kereta api, terutama jalur yang menghubungkan Pulau Hainan dengan daratan Cina.
Ikhtiar jaga-jaga itu memang patut dilakukan.
Soalnya, sejak awal tahun ini sudah lebih dari 200
orang di Cina yang meninggal akibat serangan topan. Bulan Juli lalu, topan Kaemi menyerang kawasan di sebelah timur dan selatan Cina. Selain tiupan
angin kencang, topan ini juga menimbulkan hujan
lebat hingga mengakibatkan banjir dan tanah long-
sor. Serangan Prapiroon kali ini diperkirakan bukanlah yang terakhir. Badan pemantau cuaca di Cina telah memperingatkan pemerintah dan penduduknya
bahwa September nanti masih ada lagi badai besar
yang akan menghantam Cina.
Ironisnya, provinsi yang terletak di sebelah barat
dan utara Cina malah dilanda kekeringan. Di kawasan itu sedikitnya ada lima juta orang yang kekurangan air minum. Sejak bulan Juli lalu, sekitar 1,3 juta
orang di Provinsi Guizhou, yang terletak di sebelah
barat daya Cina, tak lagi menikmati pasokan air bersih. Selain itu, sekitar 270 ribu hektare pertanian kering kerontang karena tak bisa ditanami. Lebih dari
900 ribu hewan ternak harus menderita kehausan.
Untuk memperoleh pasokan air, penduduk di daerah ini harus menempuh jarak sepanjang 50 kilometer.
SERANGAN
TOPAN PRAPIROON
Tak hanya di Cina, banjir besar juga tengah melanda India. Kantor berita AFP menyatakan, sejak tibanya musim hujan pada bulan Mei lalu, bencana
banjir seakan tak pernah berhenti melanda seantero
negeri ini. Sejak Mei hingga pekan silam, korban jiwa yang melayang akibat banjir di India mencapai lebih dari 400 orang. Selain itu, ribuan orang lainnya
juga telantar karena kehilangan tempat tinggal.
Perubahan iklim juga dialami sejumlah kawasan di
belahan Eropa dan Amerika. Dalam beberapa tahun
belakangan ini, saat tibanya musim panas di kawasan
itu, kerap dibarengi gelombang udara panas yang sangat ekstrem—bahkan lebih panas jika dibandingkan
dengan suhu udara saat musim panas di Asia.
Seiring dengan menurunnya kualitas lingkungan
di planet ini, masyarakat dunia pun harus menanggung kerugian yang tak kecil. Awal Februari lalu, badan PBB untuk program lingkungan (UNEP), menyebutkan kerugian masyarakat dunia akibat dampak perubahan
iklim yang terjadi selama ini,
per tahunnya mencapai sekitar USS 300 miliar.
Menurut Jose Manuel
Barroso, Ketua Eksekutif Uni
Eropa, dalam pertemuan G8
kali ini juga penting dibicarakan masalah mengenai keamanan energi. "Para pemimpin G8 akhirnya sepakat
untuk mencari alternatif
sumber energi baru yang lebih murah dan ramah lingkungan," ujar Barroso. Mudah-mudahan sih, bukan cuma omong doang.
Fly UP