...

ketakutan terhadap kematian ditinjau dari kebijaksanaan dan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

ketakutan terhadap kematian ditinjau dari kebijaksanaan dan
JURNAL PSIKOLOGI
2003, NO. 1, 57 - 65
KETAKUTAN TERHADAP KEMATIAN
DITINJAU DARI KEBIJAKSANAAN DAN ORIENTASI
RELIGIUS PADA PERIODE REMAJA AKHIR
YANG BERSTATUS MAHASISWA
Wahyu Wicaksono
Program Pascasarjana Psikologi UGM
Sito Meiyanto
Fakultas Psikologi UGM
ABSTRACT
This research was aimed to examine the correlation between wisdom and
religious orientation with fear of death among late adolescence college students.
Three hypotheses were tested: (a) there was a negative correlation between
wisdom and fear of death, (b) there was a negative correlation between intrinsic
religious orientation and fear of death, (c) there was a positive correlation
between extrinsic religious orientation and fear of death.
The Subjects of this research were 158 undergraduate (S-1) students at
Department of Psychology, Gadjah Mada University. The range of age was
between 17-22 years old.
The regression analysis was used to examine. The results showed that (a)
there was a negative and significant correlation between wisdom and fear of
death r = -0.209, sig. 0.004, partial correlation -0.226, (b) there was a negative
correlation between intrinsic religious orientation and fear of death r = -0.037,
sig. 0.323, partial correlation -0.175, (c) there was a positive and significant
correlation between extrinsic religious orientation and fear of death r = 0.285,
sig. 0.000, partial correlation 0.350. r=0.401, adjusted R2 = 0.145, sig. 0.000.
Keywords: Fear of death, Death fear, Death anxiety, Wisdom, Intrinsic extrinsic
religious orientation
Kematian adalah suatu hal yang niscaya
dan tak terelakkan dalam kehidupan
manusia. Eksistensi manusia bersifat nyata,
konkrit dan absolut. Tapi kematian juga
nyata dan tak terelakkan (Kimmel, 1990).
Dalam pengertian yang umum, kematian
adalah “ketiadaan dari hidup” atau
“antonim dari hidup.” Ia diposisikan
sebagai lawan dan berhadap-hadapan
dengan kehidupan.
Manusia
selalu
dalam
dilema
eksistensial. Di satu sisi ia merindukan
ISSN : 0215 - 8884
58
kebebasan, namun di sisi lain ketika ia
bebas, ia menjadi tak berdaya dan takut
(Fromm, 1997). Akibat dilema eksistensial
ini pula meskipun di satu sisi manusia
merindukan
kebebasannya
sebelum
dipenjara di dalam tubuh untuk kembali ke
dunia idea, namun di sisi lain manusia tetap
takut menghadapi kematian setelah sekian
lama jiwanya hidup di dalam tubuh. Ketika
ia bebas, ia menjadi terasing dan sendirian,
sehingga menjadi takut dan tak berdaya
menghadapinya. Pada dasarnya manusia
selalu mengharapkan adanya kepastian,
adanya pemenuhan dan adanya jaminan
rasa aman. Namun, di dalam masalah
kematian, manusia harus tunduk dalam
ketidakpastian, dan menuntut manusia
untuk belajar menghadapinya (Handayani,
2002).
Banyak faktor yang membuat seseorang
takut mati. Durlak (dalam Bond, 1994)
menyatakan bahwa seseorang yang tidak
menemukan
tujuan
atau
kegunaan
(purpose) dalam kehidupannya, kematian
akan menjadi suatu pengalaman yang
mencemaskan. Schaie dan Willis (1991)
berpendapat bahwa kecemasan tentang
kematian adalah suatu hal yang berkaitan
dengan berbagai faktor seperti usia,
keyakinan religius, dan tingkat di mana
individu mempunyai kehidupan yang
memuaskan. Florian dan Kravetz (1983)
berpendapat bahwa berbagai dimensi
secara bersama-sama akan membentuk
semacam struktur kecemasan terhadap
kematian.
Ketakutan dan kecemasan terhadap
kematian, dalam penelitian-penelitian
terdahulu digunakan secara bergantian dan
saling dipertukarkan satu sama lain
(Mooney, 1999; Schulz, 1978; Conte dkk,
1982; Bond, 1994; Fortner dan Neimeyer,
ISSN : 0215 - 8884
WICAKSONO & MEIYANTO
1999; Neimeyer, 1997, in press-a, in pressb; dan Abdel-Khalek, 2002). Dalam
penelitian ini digunakan istilah ketakutan
terhadap kematian.
Ilmu sosial dan perilaku sejauh ini
melihat ketakutan akan kematian menjadi
dua perspektif besar, yaitu sebagai suatu
hal yang abnormal, menyedihkan (morbid)
dan patologis (Feifel; Klein; Stekel;
Templer, dalam Florian & Kravetz, 1983),
yang kedua berpendapat bahwa ketakutan
akan kematian sebagai karakteristik
alamiah dan normal dalam pengalaman
hidup
manusia
(Kastenbaum
dan
Aisenberg; Lepp; Zilboorg, dalam Florian
& Kravetz, 1983).
Ketakutan yang berlebihan terhadap
kematian
seringkali
menimbulkan
gangguan fungsi-fungsi emosional normal
manusia.
Penelitian
menunjukkan
keterkaitan positif antara ketakutan
terhadap kematian dengan gangguan
emosional seperti neurotisme, depresi,
gangguan psikosomatis (Feifel dan Nagy,
1981). Pentingnya penelitian terhadap
ketakutan
terhadap
kematian
menyandarkan pada premis bahwa setiap
manusia akan mati. Selain itu, dampak
negatif yang muncul dari ketakutan akan
kematian ini banyak menimbulkan akibat
yang seharusnya tak perlu terjadi.
Strategi yang efektif untuk menghadapi
ketakutan terhadap kematian banyak
dilakukan.
Salah
satunya
adalah
mengembangkan
kebijaksanaan
dan
religiusitas individu. Secara umum, dalam
Webster’s New World College Dictionary
(1997) kebijaksanaan diartikan sebagai
kemampuan untuk memutuskan secara
benar dan mengikuti jalan bertindak
terbaik, berdasarkan pada pengetahuan,
pengalaman, pemahaman, dll. (the power of
KETAKUTAN TERHADAP KEMATIAN
judging rightly and following the soundest
course of action, based on knowledge,
experience, understanding, etc.)
Penelitian yang mencoba menghubungkan kebijaksanaan dengan berbagai
macam faktor dilakukan oleh Ardelt
(1999). Kebijaksanaan di sini diartikan
sebagai suatu kombinasi antara faktor
kognitif, reflektif, dan afektif (Ardelt,
2000a). Kebijaksanaan adalah suatu proses
di mana individu memiliki kemasakan
dalam mengintegrasikan ketiga faktor
diatas. Proses di mana dinamika diantara
ketiganya saling mendukung secara
harmonis yang akhirnya mengejawantah
dalam sikap dan perilaku menghadapi
segala macam masalah di dalam kehidupan
termasuk didalamnya dengan sendirinya
adalah menghadapi kematian. Pengukuran
kebijaksanaan dalam penelitian ini
menggunakan three-dimensional wisdom
scale yang dikembangkan Ardelt (1999;
2000a; 2000b), dengan memasukkan unsurunsur kebijaksanaan versi Timur, seperti
fleksibilitas,
kejujuran,
sensitivitas,
pemahaman, rasa iba, altruisme dan kondisi
pemikiran yang harmonis.
Strategi kedua, yaitu religiusitas hampir
selalu dikaitkan dengan terciptanya kondisi
psikologis yang positif (psychological well
being). Termasuk juga didalamnya adalah
dalam menghadapi ketakutan terhadap
kematian. Spink (1963) berpendapat bahwa
dalam diri setiap individu terdapat suatu
insting atau naluri yang disebut sebagai
religius instink, yaitu suatu naluri untuk
meyakini dan mengadakan penyembahan
terhadap suatu kekuatan yang ada di luar
diri seorang individu. Naluri inilah
kemudian mendorong seorang individu
untuk
mengadakan
kegiatan-kegiatan
religius.
Kehidupan
religius
atau
59
keagamaan menurut Najati (1984) dapat
membantu manusia dalam menurunkan
kecemasan, kegelisahan, dan ketegangan.
Maududi (1988) menyatakan bahwa salah
satu peran religiusitas adalah dapat
menimbulkan ketenangan kalbu.
Leming
(dalam
Bond,
1994)
berpendapat bahwa religiusitas memiliki
peran penting dalam menghalau kecemasan
dan ketakutan yang terjadi sebagai akibat
dari ketidakpastian dan ketidaktahuan yang
dialami dalam hidup. Lebih jauh ia
berpendapat bahwa keyakinan religius
memiliki hubungan yang negatif terhadap
kecemasan terhadap kematian, di mana
orang yang memiliki motivasi religius yang
tinggi akan memiliki kecemasan terhadap
kematian yang rendah. Lebih luas, Jung
(1969) menyatakan bahwa agama adalah
sistem rumit dalam menghadapi kematian.
Religiusitas menurut Allport dan Ross
(1967) memiliki dua aspek orientasi yaitu
orientasi religius intrinsik (intrinsic
religious) dan orientasi religius ekstrinsik
(extrinsic religious). Orientasi religius
intrinsik menunjuk kepada bagaimana
individu “menghidupkan” agamanya (lives
his/her religion) sedangkan orientasi
religius ekstrinsik menunjuk kepada
bagaimana
individu
“menggunakan”
agamanya
(uses
his/her
religion).
Singkatnya, orientasi religius intrinsik
melihat setiap kejadian melalui kacamata
religius, sehingga tercipta makna (Donahue
dalam Ardelt, 2000a). Sebaliknya orientasi
religius ekstrinsik lebih menekankan pada
konsekuensi
emosional
dan
sosial
(Swanson dan Byrd, 1998).
Kraft dkk (1986) menemukan hubungan
yang negatif antara orientasi religius
intrinsik dengan ketakutan terhadap
kematian dan hubungan positif pada
ISSN : 0215 - 8884
60
orientasi religius ekstrinsik. Kedua
orientasi religius ini merupakan dua konsep
yang berbeda (Fortner dkk, Rasmussen dan
Johnson, Templer, Thorson dan Powell,
Tomer dan Eliason, dalam ardelt, 2000a).
Karena itu, dalam penelitian ini akan
melibatkan dua orientasi religius tersebut
yaitu intrinsik dan ekstrinsik.
Periode remaja akhir merupakan
periode penyesuaian diri terhadap pola-pola
kehidupan baru dan harapan-harapan sosial
baru. Remaja akhir diharapkan memainkan
peran baru (Hurlock, 1980). Penyesuaian
diri ini menjadikan periode ini suatu
periode khusus dan sulit dalam rentang
kehidupan seseorang. Rentang usia 17-22
tahun adalah masa transisi menuju dewasa
(Durkin, 1995) atau menurut Cicirelli
(1998) merupakan titik putar atau poros
(pivotal point). Pada masa transisi ini
mengharapkan individu untuk berubah.
Lebih jauh Hurlock (1980) menguraikan
bahwa pada periode ini memiliki berbagai
macam ciri, yaitu sebagai masa pengaturan,
usia reproduktif, masa bermasalah, masa
ketegangan emosional, masa keterasingan
sosial, masa komitmen, masa ketergantungan, masa perubahan nilai, masa
penyesuaian diri dengan cara hidup baru,
dan masa kreatif. Selain itu, Cicirelli
(2001) menyatakan bahwa penelitian
mengenai ketakutan terhadap kematian
pada periode ini, di mana pada masa ini
dianggap jauh dari usia kematian, masih
sedikit dilakukan.
HIPOTESIS
Berdasarkan uraian di atas, maka
hipotesis yang diajukan untuk diuji dalam
penelitian ini adalah:
ISSN : 0215 - 8884
WICAKSONO & MEIYANTO
1) Terdapat hubungan negatif antara
kebijaksanaan
dengan
ketakutan
terhadap kematian pada remaja akhir.
2) Terdapat hubungan negatif antara
orientasi religius instrinsik dengan
ketakutan terhadap kematian pada
remaja akhir.
3) Terdapat hubungan yang positif antara
orientasi religius ekstrinsik dengan
ketakutan terhadap kematian.
METODE PENELITIAN
A. Identifikasi Variabel Penelitian
1. Variabel Dependen : Ketakutan Terhadap Kematian
2. Variabel Independen : A. Kebijaksanaan
B. Orientasi Religius
B. Definisi
Operasional
Penelitian
Variabel
Ketakutan terhadap kematian adalah
tingkat ketakutan yang dirasakan subjek
ketika berpikir tentang kematian. Dalam
penelitian ini ketakutan terhadap kematian
diukur dengan skala yang dikembangkan
oleh Lester (1990). Semakin tinggi skor
skala menunjukan tingkat ketakutan
terhadap kematian yang semakin tinggi.
Sementara semakin rendah skor skala
menunjukkan tingkat ketakutan terhadap
kematian rendah.
Orientasi religius adalah motivasi dan
misi psikologis yang berkenaan dengan
kehidupan keagamaan seseorang. Orientasi
religius dalam penelitian ini menggunakan
teori Allport dan Ross (1967), dengan
menggunakan
alat
ukur
yang
dikembangkan oleh Gorsuch dan Friesen
KETAKUTAN TERHADAP KEMATIAN
(1998), yang membedakan
religius menjadi dua, yaitu:
orientasi
a)
Orientasi religius intrinsik, di mana
subjek menganggap agama sebagai
keyakinan dan kehidupan internal
mereka dengan mengesampingkan
kebutuhan lain selain agama itu
sendiri. Mereka menganggap agama
sebagai tujuan hidup.
b) Orientasi
religius
ekstrinsik
mengandung
tiga
aspek
yaitu
esktrinsik personal (EP) dan ekstrinsik
sosial (ES), dan ekstrinsik moralitas
(EM). Subjek berorientasi religius
ekstrinsik adalah mereka yang
menggunakan agama mereka untuk
mendapatkan keuntungan personal
(ekstrinsik
personal,
EP),
dan
penghargaan sosial (ekstrinsik sosial,
ES). Sedangkan orientasi religius
ekstrinsik moralitas (EM), adalah
mereka yang menggunakan agama
sebagai landasan moralitas.
C. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah
remaja berusia 17-22 tahun yang terdaftar
sebagai mahasiswa/i aktif pada Fakultas
Psikologi UGM. Dalam penelitian ini
melibatkan 158 subjek penelitian. Teknik
sampling yang digunakan adalah purposive
sampling.
D. Alat Ukur
Skala ketakutan
dalam penelitian ini
revised Collett-Lester
dying scale. Skala ini
Lester (1990).
terhadap kematian
mengadaptasi dari
fear of death and
dikembangkan oleh
Kebijaksanaan
diukur
dengan
menggunakan three-dimensional wisdom
61
scale, yang dikembangkan oleh Ardelt
(2000a) dengan proses adaptasi. Skala ini
memiliki tiga dimensi, yaitu dimensi
kognitif, dimensi reflektif, dan dimensi
afektif.
Alat ukur orientasi religius dalam
penelitian ini menggunakan konsep yang
dikembangkan oleh Allport dan Ross
(1967), dengan menggunakan alat ukur
yang dikembangkan oleh Gorsuch dan
Friesen (1998) dengan proses adaptasi.
Dalam skala ini terdapat aspek orientasi
religius intrinsik dan aspek orientasi
religius ekstrinsik yang dibedakan menjadi
tiga sub aspek yaitu orientasi religius
ekstrinsik personal, ekstrinsik sosial, dan
ekstrinsik moralitas.
E. Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan
adalah analisis regresi yaitu teknik statistik
untuk mencari korelasi dari beberapa
variabel, serta mencari sumbangan efektif
variabel independen terhadap variabel
dependennya. Sementara teknik anakova
digunakan untuk menguji perbedaan.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebelum dilakukan analisis regresi,
terlebih dalulu dilakukan uji asumsi yang
meliputi uji normalitas, uji linieritas, uji
multikolinieritas, uji autokorelasi, dan uji
heterokedastisitas. Semua variabel lolos
dalam pengujian asumsi, sehingga dapat
dilanjutkan dengan analisis regresi.
Hasil analisis statistik deskriptif yaitu
rerata ketakutan terhadap kematian adalah
131.73, simpang baku sebesar (SD) 21.72.
Variabel kebijaksanaan dengan rerata (X)
97.16, simpang baku (SD) sebesar 17.59.
Variabel orientasi religius intrinsik dengan
ISSN : 0215 - 8884
WICAKSONO & MEIYANTO
62
rerata (X) 51.77, simpang baku (SD) 6.36.
Variabel orientasi religius ekstrinsik
dengan rerata (X) 78.92, simpang baku
(SD)9.24. Jumlah N sebesar 158.
Matrik interkorelasi antara variabel
kebijaksanaan dengan ketakutan terhadap
kematian menggunakan Pearson product
moment,
diperoleh
angka
-0.209.
Signifikansi sebesar 0.004. Korelasi parsial
dengan mengontrol variabel orientasi
religius intrinsik dan orientasi religius
ekstrinsik diperoleh angka -0.226. Maka
hipotesis I diterima, yang berarti semakin
bijaksana, maka tingkat ketakutan akan
kematian semakin rendah.
Pada matrik interkorelasi antara
variabel orientasi religius intrinsik dengan
ketakutan terhadap kematian diperoleh
angka -0.037. Signifikansi sebesar 0.323.
Korelasi parsial dengan mengontrol
variabel kebijaksanaan dan variabel
orientasi religius ekstrinsik diperoleh angka
-0.175. Maka hipotesis II diterima.
Matrik interkorelasi antara variabel
orientasi religius ekstrinsik dengan
ketakutan terhadap kematian diperoleh
angka 0.285. Signifikansi sebesar 0.000.
Korelasi parsial dengan mengontrol
variabel kebijaksanaan dan variabel
orientasi religius intrinsik diperoleh angka
0.350. Maka hipotesis III diterima.
Korelasi ganda (R), yaitu antara
variabel kebijaksanaan, orientasi religius
intrinsik, dan orientasi religius ekstrinsik
secara bersama-sama terhadap ketakutan
terhadap kematian sebesar 0.401. R2
sebesar 0.161. Untuk jumlah variabel
independen lebih dari dua, lebih baik
digunakan adjusted R2 yaitu sebesar 0.145.
Hal ini berarti 14.5% variasi dari ketakutan
terhadap kematian dapat dijelaskan oleh
ISSN : 0215 - 8884
variasi dari ketiga variabel independen.
Sisanya dipengaruhi oleh variabel lain.
Standar kesalahan estimasi adalah 20.09.
Hasil uji anova atau F test, di dapat F
hitung 9.858 dengan tingkat signifikansi
0.000. Karena probabilitasnya lebih kecil
dari 0.05, maka model regresi dapat dipakai
untuk memprediksi ketakutan terhadap
kematian, atau bisa dikatakan bahwa
kebijaksanaan, orientasi religius intrinsik,
dan orientasi religius ekstrinsik secara
bersama-sama
berpengaruh
terhadap
ketakutan terhadap kematian.
Persamaan
adalah:
regresi
yang
diperoleh
Y= 118.591 – 0.265 X1 – 0.625 X2 +
0.903 X3
Standar kesalahan koefisien regresi sebesar
17.300 untuk beta 0. Untuk kebijaksanaan
sebesar 0.092, untuk orientasi religius
intrinsik sebesar 0.284, dan untuk orientasi
religius ekstrinsik sebesar 0.195. Nilai ttest untuk kebijaksanaan sebesar -2.885,
nilai t-test untuk orientasi religius intrinsik
sebesar -2.201, nilai t-test untuk orientasi
religius ekstrinsik sebesar 4.640. Nilai-nilai
t-test ini digunakan dalam pengujian
terhadap seluruh variabel independen
apakah berpengaruh secara signifikan
terhadap perubahan variabel dependen
secara individu. Berdasarkan signifikansinya berturut-turut diperoleh angka 0.004,
0.029, dan 0.000. Karena seluruh variabel
independen mempunyai angka di bawah
0.05, maka ketiga variabel independen
tersebut mempengaruhi ketakutan terhadap
kematian.
Hasil ini selaras dengan pendapat
Ardelt (1999; 2000a), yang menyatakan
bahwa kebijaksanaan sebagai kombinasi
harmonis dari dimensi kognitif, dimensi
KETAKUTAN TERHADAP KEMATIAN
reflektif, dan dimensi afektif pada
kepribadian seseorang dapat digunakan
sebagai suatu strategi untuk menghadapi
ketakutan
terhadap
kematian
dan
membuktikan
bahwa
kebijaksanaan
memiliki hubungan negatif dengan
ketakutan terhadap kematian. Selain itu,
penelitian ini juga konsisten dengan
penelitian Kraft dkk (1986).
KESIMPULAN
Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa terdapat hubungan negatif antara
kebijaksanaan dengan ketakutan terhadap
kematian.
Hipotesis
kedua
yang
menyatakan terdapat hubungan negatif
antara orientasi religius intrinsik dengan
ketakutan terhadap kematian diterima.
Hipotesis ketiga yang menyatakan terdapat
hubungan yang positif antara orientasi
religius ekstrinsik dengan ketakutan
terhadap kematian diterima.
SARAN
1. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa
kebijaksanaan berhubungan negatif
dengan ketakutan terhadap kematian.
Karena itu, penanaman kebijaksanaan
sebagai salah satu bagian dari
kematangan individu perlu untuk
dilaksanakan. Tidak hanya untuk
kepentingan
mengatasi
ketakutan
terhadap kematian, namun kebijaksanaan dapat digunakan sebagai suatu
strategi yang dapat digunakan individu
dalam menjalani kehidupan.
2. Berdasarkan hasil penelitian ini,
orientasi religius intrinsik diketahui
memiliki hubungan negatif dengan
ketakutan terhadap kematian. Dengan
demikian, perlu diupayakan sistem
63
pendidikan agama yang berorientasi
pada aspek intrinsik. Orientasi religius
intrinsik ini tidak hanya bermanfaat
untuk mengatasi ketakutan terhadap
kematian, namun juga untuk hal-hal
lain.
3. Penelitian ini juga menemukan bahwa
orientasi religius ekstrinsik memiliki
hubungan positif dengan ketakutan
terhadap kematian. Maka orientasi
keagamaan perlu diupayakan untuk
tidak menjadikan aspek ekstrinsik
sebagai dasar pemahaman. Karena
orientasi religius ekstrinsik ini lebih
mendasarkan agama sebagai alat, maka
jika aspek ekstrinsik ini tidak berangsur
ditinggalkan, kepribadian yang religius
yang ideal sulit untuk terwujud.
4. Karena rentang subjek yang sempit,
jumlah sampel yang relatif kecil, maka
bagi
peneliti
selanjutnya
perlu
memperlebar dan memperbanyak subjek
penelitian dan juga menggunakan
random sampling.
DAFTAR PUSTAKA
Abdel-Khalek, A.M. 2002. Why Do We
Fear Death? The Construction and
Validation of the Reasons For Death
Fear Scale. Death Studies; 26: 669680.
Allport, G.W., & Ross, J.M. 1967. Personal
Religious Orientation and Prejudice.
Dalam H.N. Malony (Ed.) Current
Perspectivesi In the Psychology Of
Religion: 117-137. Michigan: William
B. Erdmans Publishing Company.
Ardelt, M. 1999. Empirical Assessment of
A Three-dimensional Wisdom Scale.
Annual Meetings of the Gerontological
ISSN : 0215 - 8884
64
Society of America in San Francisco,
Califonia. (Tanpa tanggal).
Ardelt, M. 2000a. Wisdom, Religiosity,
Purpose in Life, and Attitude Toward
Death. International Conference on
Searching for meaning in the New
Millennium: 13-16, 2000, Vancouver,
B.C. Canada.
Ardelt, M. 2000b. Intellectual Versus
Wisdom-Related Knowledge: The
Case for a Different Kind of Learning
in the Later Years of Life. Educational
Gerontology; 26; 771-789.
Bond, C. 1994. Religiosity, Age, Gender,
and Death Anxiety. Tesis Master
(unpublished). ISU Main Library,
Thesis No. 1760, Idaho: Idaho State
University.
Cicirelli, V.G. 1998. Personal Meanings of
Death in Relation To Fear Of Death.
Death Studies, 22; 713-734.
Cicirelli, V.G. 2001. Personal Meanings of
Death in Older Adults and Young
Adults in Relation to Their Fears Of
Death. Death Studies, 25; 663-683.
Conte, H.R., Plutchik, R., & Weiner, M.B.
1982. Measuring Death Anxiety:
Conceptual, Psychometric, and FactorAnalytic
Aspects.
Journal
of
Personality and Social Psychology,
43(4); 775-785.
Durkin, K. 1995. Developmental Social
Psychology: From Infancy to Old Age.
Massachusetts: Blackwell Publisher
Inc.
Feifel, H., & Nagy, T. 1981. Another Look
at Fear of Death. Journal of Consulting
and Clinical Psychology, 49(2); 278286.
ISSN : 0215 - 8884
WICAKSONO & MEIYANTO
Florian, V., & Kravetz, S. 1983. Fear of
Personal Death: Attribution, Structure,
and Relation to Religious Belief.
Journal of Personality and Social
Psychology, 44(3); 600-607.
Fortner, B.V., & Neimeyer, R.A. 1999.
Death Anxiety in Older Adults: A
Quantitative Review. Death Studies,
23; 387-411.
Fromm, E. 1997. Lari dari Kebebasan.
Diterjemahkan
oleh
Kamdani.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Gorsuch, R.L., & Friesen, D. 1998. Use Of
The Religious Motivation Scale.
(Diberikan langsung oleh pembuat,
tanpa keterangan publikasi).
Handayani, C.S. 2002. Menghadapi Maut,
Siapa Takut?! Retorik-Journal Ilmu
Humaniora Baru, 1(3); 37-50.
Hurlock,
E.B.
1999.
Psikologi
Perkembangan: Suatu Pendekatan
Sepanjang
Rentang
Kehidupan.
Diterjemahkan oleh Istiwidayanti &
Soedjarwo. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Jung, C.G. 1969. The Soul and Death.
dalam the Collected Works of C.G.
Jung (2nd ed., Vol. 8). Princeton, New
York: Princeton University Press.
Kimmel, D. 1990. Adulthood and Aging.
New York: John Willy & Sons, Inc.
Kraft, W.A., Litwin, W.J., & Barber, S.E.
1986. Religious Orientation and
Assertiveness: Relationship to Death
Anxiety. The Journal of Social
Psychology, 127(1); 93-95.
Maududi, A. 1988. Prinsip-prinsip Islam.
Bandung: PT. Alma’arif.
Mooney, D.C. 1999. Construct Validity of
the Revised Collett-Lester Fear of
Death and Dying Scale. Tesis Master
KETAKUTAN TERHADAP KEMATIAN
(unpublished). Queensland: Griffith
University.
Najati, M.U. 1984. Al Qur’an dan Ilmu
Jiwa. Bandung: Penerbit Pustaka.
Neimeyer, R.A. 1997. Special Article:
Death Anxiety Research: The State of
the Art. Omega-Journal of Death and
Dying, 36(2); 97-120.
Neimeyer, R.A., Moser, R.P., &
Wittkowski, J. (In Press). Assessing
Attitudes Toward Dying and Death:
Psychometric Considerations.
Neimeyer, R.A., Wittkowski, J., & Moser,
R.P. (In press-b). Psychological
Research on Death Attitude: An
Overview and Evaluation.
Schaie, K.W., & Willis, C.L., 1991. Adult
Development and Aging. (3rd edition).
Harper Collins Publishing.
65
Schulz, R. 1978. The Psychology Of Death,
Dying, and Bereavement. Philippines:
Addison-Wesley Publishing Company,
Inc.
Spink, G.S. 1963. Psychology and
Religion.
London:
Methuen &
Company Ltd.
Swanson, J.L., & Byrd, K.R. 1998. Death
Anxiety in Young Adults as A
Function of Religious Orientation.
Guilt, and Separation-Individuation
Conflict. Death Studies, 22; 257-268.
Webster’s New World College Dictionary
(3rd edition). 1997. New York: Simon
& Schuster.
.
ISSN : 0215 - 8884
Fly UP