...

IDENTIFIKASI PENYEBAB KEMATIAN SAPI POTONG DALAM

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

IDENTIFIKASI PENYEBAB KEMATIAN SAPI POTONG DALAM
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
IDENTIFIKASI PENYEBAB KEMATIAN SAPI POTONG
DALAM PROGRAM PSDS-K DI JAWA TENGAH
(The Etiological Identification of Neonatal Mortality
of Beef Cattle in Central Java)
Indraningsih, Sani Y
Balai Besar Penelitian Veteriner, Jl. RE Martadinata No. 30, Bogor 16114
ABSTRACT
The purpose of this study was to identify the etiologies of mortality in beef cattle and calves in beef self
sufficiency program in Central Java including regencies of Semarang, Kebumen, Klaten and Sragen.The
results show that mortality rate of beef cattle in Central Java was between 0-50% (average rate = 11.7%) in
adult cattle and 0-66.7% (average rate = 17.6%) in calves.The common problems faced in beef cattle
development were: (1) Mortalities of adult cattle and calves; (2) Silent heat; (3) Repeat breeding; (4)
Diarrhoea; (5) Stunting syndrome; and (6) Metabolic diseases. Haematology analysis showed that most
samples contain neutrophyls and eosinophyls above the maximum level. Adult cattle showed an average
value of PCV at 31.9% (22-45%); neutrophyls = 27.6% (14-71%); lymphocytes = 52.9% (35-85%); and
eosinophyls = 20.8% (3-41%). While calves were PCV = 27.3% (14-39%); neutrophyls = 25,3% (15-45%);
lymphocytes = 64.1% (44-85%); and neutrophyls = 11.5% (2-31%). Cattle were suspected being infected by
hyperchromatosia. In calves, the average level of Fe was 580 mg/l and Mg was 400 mg/l higher than the
normal level and Ca was 232.1 mg/l lower than the normal level. Colibacillosis was identified from faecal
samples of beef cattle with the incidence rate at 92.6% from 27 samples analysed. Eschericia coli K99 was a
common serotype identified from the samples. Apart from this, 2 samples was infected by E. coli H7. The
incidence rate of colibacillosis in calves was 87.5% from 8 faecal samples. Based on the isolation and
identification, diarrhoea in beef cattle in Central Java was due to Eschericia coli.
Key Words: Animal Health, Beef Catle, Selfsufficiency, Central Java
ABSTRAK
Tujuan penelitian mengidentifikasi penyebab kematian sapi potong dalam program PSDS-K di 4
kabupaten Provinsi Jawa Tengah. Hasil kunjungan lapang, tingkat mortalitas sapi potong di Jawa Tengah
pada Kelompok Tani Ternak cukup tinggi yakni 0-50% (rataan 11,7%) sapi dewasa dan 0-66,7% (17,6%)
pada anak sapi. Kendala yang dihadapi dalam pengembangan sapi potong: 1) Kematian induk dan anak sapi
potong; 2) Tidak memperlihatkan gejala birahi; 3) Kawin berulang; 4) Diare; 5) Pertumbuhan lamban; 6)
Gangguan metabolisme. Gambaran hematologi menunjukkan sebagian besar sampel memiliki nilai neutrofil
dan eosinofil melebihi batas maksimum. Sapi diduga terinfeksi penyakit bakterial atau parasiter. Pada sapi
dewasa, nilai rata-rata PCV adalah 31,9% (22-45%); neutrophil = 27,6% (14-71%); limfosit = 52,9% (3585%); dan eosinofil=20,8% (3-41%). Pada anak sapi, nilai rata-rata PCV adalah 27,3% (14-39%); neutrophil
= 25,3% (15-45%); limfosit = 64,1% (44-85%); dan neutrophil = 11,5% (2-31%). Analisis mikromineral
darah terlihat nilai rata-rata Fe sebesar 685,6 mg/l dan Mg mencapai 638,8 mg/l lebih tinggi daripada batas
normalnya. Sebaliknya dengan nilai rata-rata lebih tinggi dibandingkan dengan kisaran normal, serta kalsium
mencapai 232,1 mg/l (kalsium) lebih rendah dari kisaran normal. Kolibasilosis terdeteksi pada feses sapi
potong dewasa dengan tingkat kejadian mencapai 92,6% dari 27 sampel yang dianalisis. Eschericia coli K99
merupakan serotipe yang sering teridentifikasi pada sampel. Terdapat 2 sampel yang terinfeksi oleh E. coli
H7. Tingkat kejadian kolibasilosis pada anak sapi mencapai 87,5% dari 8 sampel feses. Hasil isolasi dan
identifikasi penyebab diare pada sapi potong di Jawa Tengah adalah E. coli.
Kata Kunci: Kesehatan, Sapi Potong, PSDS-K, Jawa Tengah
187
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
PENDAHULUAN
Program Swasembada Daging Sapi dan
Kerbau 2014 (PSDS-K 2014) merupakan salah
satu program utama pada Kementerian
Pertanian yang terkait dengan upaya
mewujudkan ketahanan pangan hewani asal
ternak berbasis sumberdaya lokal. Produksi
daging untuk konsumsi diperoleh dari daging
sapi/kerbau, kambing/domba dan ayam.
Sedangkan kontribusi daging sapi saat ini
mencapai 23% yang diperkirakan terus
meningkat mengikuti pertumbuhan penduduk
dan perbaikan ekonomi nasional serta
kesejahteraan masyarakat. Sementara itu,
produktivitas sapi lokal nasional masih rendah
yang disebabkan karena tingkat kematian pedet
(neonatal mortality) masih tinggi berkisar
antara 20-40% dan tingkat kematian sapi
dewasa mencapai lebih dari 10-20%. Populasi
sapi potong di Indonesia tumbuh sebesar
1,22% atau sebanyak 10,8 juta ekor (Direktorat
Jenderal Peternakan, 2006). Pertambahan
populasi sapi sebesar ini ternyata belum
mampu mencukupi kebutuhan dalam negeri
yang mengalami defisit sebesar 1,6 juta ekor
(14,5%) dari populasi ideal sebanyak 12,4 juta
ekor.
Kendala
utama
dalam
peningkatan
produksi sapi potong adalah status kesehatan
hewan baik pada induk sapi maupun pedet.
Kasus kematian pedet (neonatal mortality)
sampai umur 6 bulan dapat mencapai 20-30%
(Wudu et al. 2008). Kejadian neonatal
mortality bervariasi tergantung umur anak sapi,
dimana angka kematian pedet mencapai 75%
pada umur 3 hari hingga 1 bulan (Roy, 1980);
10% pada umur 1-3 bulan (Radostits dan
Blood 1985) dan 5-6% terjadi pada umur 6
bulan (Roy 1980; Radostits dan Blood 1985).
Sementara itu, hasil survei lapangan yang
dilakukan oleh BBlitvet pada tahun 2009 di
Kabupaten Semarang (Jawa Tengah) dan
Kabupaten
Sumedang
(Jawa
Barat)
disampaikan bahwa kematian anak sapi
mencapai 33,3 - 36,4% (Kabupaten Semarang)
dan 8,3 -45,5% (Kabupaten Sumedang) (Sani
et al. 2009). Kematian anak sapi umumnya
terjadi pada umur 1-7 hari pertama setelah
lahir, meskipun terdapat beberapa ekor terjadi
pada umur diatas 14 hari. Gejala klinis yang
sering dijumpai sebelum kematian adalah
lemah, tidak mampu berdiri, kekurangan air
188
susu dari induk, gangguan proses kelahiran dan
traumatis. Namun demikian, penyebab kematian
anak sapi belum diketahui dan perlu dipelajari
lebih lanjut.
Neonatal mortality dapat disebabkan oleh
beberapa faktor yang saling berkaitan antara
lain gangguan metabolik (Payne 1989), diare
infeksius dan non-infeksius (Mebuis 1975;
Acres et al. 1977; Athanassious et al. 1994;
Ralston et al. 2003), gangguan nutrisional
(Payne 1989); penyakit infeksius dan noninfeksius serta gangguan reproduksi pada
induk. Resiko kematian anak sapi tertinggi
umumnya terjadi antara umur 1-3 bulan setelah
lahir. Selama periode kritis tersebut perlu
mendapat perhatian khusus dengan melakukan
perawatan, pengobatan dan pencegahan
penyakit secara baik sehingga anak sapi dapat
tumbuh dan berkembang dengan baik pula.
Meskipun kasus kematian anak sapi cukup
tinggi, penanggulangannya belum maksimal,
sehingga mempengaruhi produktivitas ternak
tersebut. Saat ini penanggulangan kematian anak
sapi masih bersifat simptomatis yang hanya
menanggulangi gejala klinis, walaupun
beberapa teknologi penanggulangannya seperti
vaksin, obat-obatan dan antibiotika telah
tersedia secara komersial.
MATERI DAN METODE
Penelitian ini dilakukan pada Kelompok
Peternak dalam lingkup program PSDS-K di
Jawa Tengah yang terdiri dari Kabupaten
Semarang, Sragen, Klaten dan Kebumen.
Kegiatan
lapang
dilakukan
melalui
pengumpulan data informasi mengenai
kesehatan sapi potong, wawancara langsung
dan koleksi sampel analisis. Sampel analisis
terdiri dari darah/serum dan feses.
Gambaran hematologi dilakukan terhadap
sampel darah merah sapi potong yang
dikoleksi dari lapang menggunakan peralatan
hematology analyser dan haemoglobinometer.
Gambaran haematologi dilakukan terhadap
kandungan eritrosit, neutrofil, eosinofil,
limfosit dan packed cells volume (PCV).
Kandungan mineral esensial seperti Ca, P, Fe
dan Mg dianalisis dari sampel serum
menggunakan UV/Vis spectrophotometer.
Sementara itu, isolasi dan identifikasi agen
penyakit
penyebab
diare
khususnya
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
colibacillosis dan salmonellosis dilakukan pada
sampel feses menggunakan metoda baku
secara kultur dan mikroskopis.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi kesehatan sapi potong pada
kelompok tani ternak
Penelitian ini telah melakukan pengamatan
pada 14 Kelompok Tani Ternak yang tersebar
di Jawa Tengah, yakni: 1) Kabupaten Semarang
(4 Kelompok Tani Ternak); 2) Kabupaten
Kebumen (5 Kelompok Tani Ternak); 3)
Kabupaten Klaten (3 Kelompok Tani Ternak);
dan 4) Kabupaten Sragen (2 Kelompok Tani
Ternak) dengan total populasi sapi sebanyak
722 ekor yang terdiri dari 471 ekor sapi dewasa
dan 251 ekor anak sapi (Tabel 1).
Pada Tabel 2 terlihat bahwa rataan tingkat
mortalitas sapi dewasa pada 14 Kelompok Tani
Ternak di Jawa Tengah mencapai 11,7%
dengan kisaran antara 0-50%. Rataan tingkat
mortalitas sapi potong dewasa tertinggi terjadi
di Kabupaten Sragen (36,5%) yang kemudian
diikuti oleh Kabupaten Semarang (11,7%),
Kabupaten Kebumen (6,8%) dan Kabupaten
Klaten (3,1%). Sementara itu, rataan tingkat
kematian anak sapi potong di Jawa Tengah
mencapai 17,6% dengan kisaran antara 066,7%. Rataan tingkat mortalitas anak sapi
potong yang tertinggi dijumpai di Kabupaten
Semarang (36,5%) dan diikuti secara berurutan
Tabel 1. Populasi sapi potong pada kelompok tani ternak yang dikunjungi selama penelitian di Kabupaten
Semarang, Kebumen, Klaten dan Sragen-Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten/kelompok tani ternak
Jumlah awal (ekor)
Jumlah sekarang (ekor)
Total
Dewasa
Anak
Dewasa
Anak
KT. Ngudi Hasil (SMD)
12
11b
8
4
12
KT. Rahayu II (SMD)
12
11
12
7
19
KT. Sido Rukun (Pembibitan)
44
7
44a
4
48
KT. Ponpes Al Itihad (LM3)
20
0
20
14
34
KT. Bina Usaha (Binaan Dinas)
50
50
44a
43
87
KT. Sido Ayem (Pembibitan)
50
46
46
48a
94
KT. Sumber Makmur (Binaan
Dinas)
50
0
50
0
50
KT. Suka Maju (Dinas)
60
58
61a
46bc
107
KT. Gelora Tani (Pemurnian)
44
NA
44
NA
44
KT. Sedyo Rahayu (Binaan Dinas)
81
77
81
66bc
147
KT. Sido Mukti (Binaan Dinas)
30
30
28
NA
28
KT. Nugraha (Binaan BPTP)
17
0
17
1
18
KT. Salamah wa Barokah (LM3)
13
10
10
8
18
KT. Maju Makmur (SMD)
12
11
Kabupaten Semarang
Kabupaten Kebumen
Kabupaten Klaten
Kabupaten Sragen
Total
NA
X+
Xa
Xb
Xc
6
10
16
471
251
722
: Tidak ada data
: Melahirkan
: Penambahan/penggantian
: Abortus (melahirkan tetapi mati)/mati
: Dijual
189
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
Tabel 2. Tingkat mortalitas sapi potong pada kelompok tani ternak di Kabupaten Semarang, Kebumen,
Klaten dan Sragen-Provinsi Jawa Tengah
Kabupaten/kelompok tani ternak
Jumlah awal
(ekor)
Jumlah sekarang
(ekor)
Mortalitas (ekor/%)
Dewasa
Anak
Dewasa
Anak
Dewasa
11,7
36,5
KT. Ngudi Hasil (SMD)
12
11b
8
4
4 (33,3%)
8 (66,7%)
KT. Rahayu II (SMD)
12
11
12
7
0 (0%)
4 (36,4%)
KT. Sido Rukun (Pembibitan)
44
7
44a
4
6 (13,6%)
3 (42,9%)
KT. Ponpes Al Itihad (LM3)
20
0
20
14
0 (0%)
0+ (0%)
6,8
8,8
KT. Bina Usaha (Binaan Dinas)
50
50
44a
43
13 (26%)
7 (14%)
KT. Sido Ayem (Pembibitan)
50
46
46
48a
4 (8%)
9 (19,7%)
KT. Sumber Makmur (Binaan
Dinas)
50
0
50
0
0 (0%)
0 (0%)
KT. Suka Maju (Dinas)
60
58
61a
46bc
0a (0%)
6 (10,4%)
KT. Gelora Tan (Pemurnian)
44
NA
44
NA
0 (0%)
0 (0%)
3,1
4,6
KT. Sedyo Rahayu (Binaan Dinas)
81
77
81a
66bc
2 (2,5%)
7 (9,1%)
KT. Sido Mukti (Binaan Dinas)
30
30
28
NA
2 (6,7%)
NA
KT. Nugraha (Binaan BPTP)
17
0
17
1
0 (0%)
0+ (0%)
36,5
14,6
Kabupaten Semarang
Kabupaten Kebumen
Kabupaten Klaten
Kabupaten Sragen
Anak
KT. Salamah wa Barokah (LM3)
13
10
10
8
3 (23,1%)
2 (20%)
KT. Maju Makmur (SMD)
12
11
6
10
6 (50%)
1 (9,1%)
11,7%
17,6%
Rata–rata mortalitas (%)
NA
X+
Xa
Xb
Xc
: Tidak ada data
: Melahirkan
: Penambahan/penggantian
: Abortus (melahirkan tetapi mati)/mati.
: Dijual
oleh Kabupaten Sragen (14,6%), Kabupaten
Kebumen (8,8%) dan Kabupaten Klaten (4,6%)
Penyebab kematian sapi potong dewasa dan
anak sapi tidak diketahui secara pasti, namun
berdasarkan wawancara langsung dengan
peternak setempat dilaporkan bahwa gejala
klinis yang terlihat sebelum kematian ternak
meliputi Tabel 3: lemah, paralysis, gejala
hypocalcemia, prolapsus serta mati mendadak
tanpa memperlihatkan gejala klinis. Hasil
pengamatan langsung menunjukkan bahwa
sapi potong dewasa mengalami diare, kurus,
anaemia, kawin berulang dan silent heat.
Sementara gejala klinis sebelum kematian
anak sapi dilaporkan oleh peternak terdiri dari
190
abortus, paralysis dan traumatis karena
tertendang oleh sapi dewasa maupun induknya.
Kejadian kematian anak sapi berlansung
umumnya 1-7 hari setelah lahir. Terdapat
beberapa ekor anak sapi yang mati pada umur
≥1 bulan (2 ekor di Kabupaten Kebumen), ≥2
bulan (1 ekor di Kabupaten Sragen), dan ≥3
bulan (1 ekor di Klaten). Hasil pengamatan
lapang, terlihat bahwa anak sapi mengalami
kekurusan, diare, bulu kusam dan berdiri,
pertumbuhan lamban atau kerdil. Untuk
melakukan diagnosa konfirmasi penyebab
kematian sapi dewasa dan anak sapi tersebut
maka dikoleksi sampel terkait seperti darah,
feses dan susu.
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
Tabel 3. Kondisi kesehatan ternak pada kelompok tani ternak di Kabupaten Semarang, Kebumen, Klaten dan
Sragen-Provinsi Jawa Tengah berdasarkan pengamatan langsung dan wawancara
Kabupaten/kelompok tani ternak
Kabupaten Semarang
KT. Ngudi Hasil (SMD)
KT. Rahayu II (SMD)
KT. Sido Rukun (Pembibitan)
KT. Ponpes Al Itihad (LM3)
Kabupaten Kebumen
KT. Bina Usaha (Binaan Dinas)
KT. Sido Ayem (Pembibitan)
KT. Sumber Makmur
(Binaan Dinas)
KT. Suka Maju (Dinas)
KT. Gelora Tani (Pemurnian)
Kabupaten Klaten
KT. Sedyo Rahayu (Binaan Dinas)
KT. Sido Mukti (Binaan Dinas)
KT. Nugraha (Binaan BPTP)
Kabupaten Sragen
KT. Salamah Wa Barokah (LM3)
KT. Maju Makmur (SMD)
Dewasa
Kondisi kesehatan ternak
Anak
Kurus, Diare
Abortus (1 ekor)
Kawin berulang.
Mati karena sakit (4 ekor)
Sehat
Majir (1 ekor), Kawin berulang
Sehat, Dermatitis,
Abortus (1 ekor)
Hypocalcemia
Mati (6 ekor): prolapsus (2 ekor)
Potong paksa (4 ekor)
Karena lumpuh, lemah dan
Ambruk (hypocalcemia)
Kurus, Diare
Dermatitis
Kurus
Diare
Kerdil (1 ekor)
Mati (7 ekor): umur 1-7 hari
Sehat
Mati (4 ekor): umur 1-7 hari
Sehat
Mati (3 ekor): umur 1-7 hari
Sehat, Abortus (3 ekor)
Mati (13 ekor): hypocalcemia,
Kembung, prolapsus, lemah
Umum dan mati mendadak
Kurus, Dermatitis, Diare
Mati (4 ekor): traumatis,
hyperektasi, dan tympani
Sehat, Endometritis (3 ekor)
Lemah
Kembung.
Abortus.
Mati (7 ekor): umur 1-7 hari
Mati (9 ekor): traumatis dan
lemah
Sehat
Kurus, Diare, Tympani
Diare
Pertumbuhan lambat
Belum ada anak sapi yang
lahir
Mati (6 ekor): umur 1-3 hari
(4 ekor) dan >1 bulan (2
ekor) dan paralysis
NA
Sehat, Kembung
Pneumonia, Paralysis
Kelainan anatomis pada saluran
reproduksi
Endometritis, Birahi panjang
Silent heat
Abortus (2 ekor)
Sehat
Potong paksa (2 ekor) karena
sakit: paralysis dan lemah
Kurus
Diare
Dermatitis (ektoparasit)
Pertumbuhan anak lamban
Abortus
Mati (7 ekor):
Umur 1-7 hari (6 ekor)
≥3 bulan (1 ekor)
Abortus
Lumpuh
Paralysis
Pertumbuhan lamban
(kerdil)
Mati (2 ekor): umur 1-7 hari
Mati (1 ekor): umur ≥2
bulan
Silent heat, Sulit bunting
Mati (6 ekor): lumpuh dan mati
mendadak
NA
Sehat
NA: tidak ada data
191
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
Gambaran haematologi sapi potong pada
kelompok tani ternak
Pada Tabel 4 dan 5 berikut ini terlihat
bahwa gambaran haematologi (PCV, neutrofil,
limfosit dan eosinofil) pada sapi dewasa dan
anak sapi potong di Jawa Tengah masih dalam
kisaran normal. Pada sapi dewasa terlihat
bahwa nilai rata-rata PCV adalah 31,9%
(22-45%); neutrofil = 27,6% (14-71%);
limfosit = 52,9% (35-85%); dan eosinofil =
20,8% (3-41%). Sementara itu, pada anak sapi,
nilai rata-rata PCV adalah 27,3% (14-39%);
neutrofil = 25,3% (15-45%); limfosit = 64,1%
(44-85%); dan neutrofil = 11,5% (2-31%).
Nilai PCV dan neutrofil pada anak sapi lebih
rendah dibandingkan dengan sapi dewasa dan
sebaliknya untuk nilai limfosit dan eosinofil.
Namun demikian pada kedua kelompok umur
sapi ini terdapat beberapa sampel analisis yang
memiliki nilai neutrofil dan eosinofil lebih
besar daripada kisaran maksimum normal. Hal
ini menunjukkan terdapat infeksi penyakit
bakterial dan parasiter seperti kolibasilosis
maupun parasit intestinal yang digambarkan
dengan gejala diare pada ternak.
Analisis mineral esensial darah pada sapi
potong di Jawa Tengah
Tabel 6 dan 7 memperlihatkan gambaran
mineral esensial darah untuk mempelajari
kemungkinan adanya gangguan metabolisme
pada sapi potong. Pada Tabel 6 terlihat bahwa
nilai rata-rata zat besi (685,6 mg/l) dan
magnesium (638,8 mg/l) lebih tinggi daripada
batas normalnya, sebaliknya dengan nilai ratarata kalsium dalam darah sapi (369,8 mg/l)
lebih rendah dari batas normal. Sedangkan
posfor masih berada dalam batas normal.
Rendahnya nilai kalsium dalam darah sering
disebut hypokalsemia yang sering dialami oleh
induk sapi dan sapi perah akibat adanya
Tabel 4. Status hematologi pada sapi potong dewasa di Jawa Tengah
Kabupaten
Jenis
Rataan
PCV (%)
Rataan diferensial leukosit (%)
Neu.
Lim.
Eos.
Keterangan
Semarang
(n = 5)
Bx
31,6
(27-39)
22
(14-29)
67,4
(46-85)
13,3
(3-25)
Sehat (5)
Kebumen
(n = 11)
Bx/PO
29,4
(22-36)
24,5
(11-41)
51,3
(31-81)
24,3
(3-40)
Sehat (5) dan
diare (6)
Klaten
(n = 11)
Bx/PO
33,0
(23-43)
30,5
(16-71)
51,4
(36-80)
19,9
(4-40)
Sehat (8) dan
diare (3)
Sragen
(n = 6)
Bx
30,2
(27-34)
33,6
(23-39)
45,4
(36-60)
21,0
(7-41)
Sehat (3) dan
Diare (3)
Rata-rata
31,9
27,6
52,9
20,8
Batas normal: PCV = 24-46%; Limfosit = 45-75%; Neutrofil = 15-45%; Eosinofil = 2-20%
Tabel 5. Status hematologi pada anak sapi potong di Jawa Tengah
Kabupaten
Semarang
(n = 4)
Kebumen
(n = 3)
Klaten
(n = 0)
Sragen
(n = 0)
Rata-rata
Jenis
Bx
Bx
-
Rataan
PCV (%)
31,5
(24-39)
21,7
(14-29)
-
Rataan diferensial leukosit (%)
Neu.
Lim.
Eos.
22,8
73,3
3,7
(15-33)
(64-85)
(2-6)
28,7
52,0
19,3
(19-45)
44-65)
11-31)
-
-
-
-
-
31,9
27,6
52,9
20,8
- = Tidak dapat dianalisis
Batas normal: PCV = 24-46%; Limfosit = 45-75%; Neutrofil
192
Keterangan
Kerdil dan diare (4)
Sehat (3)
Tidak ada sampel
Tidak ada sampel
= 15-45%Eosinofil = 2-20%
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
gangguan keseimbangan mineral esensial
dalam darah. Hypokalsemia dapat menimbulkan
diare, paralisis dan kematian maupun abortus
pada ternak sapi. Sementara itu, tingginya
kadar zat besi dalam darah dapat menimbulkan
keracunan dan mengakibat hyperkromatosia
yang ditandai dengan lisisnya sel darah merah
Demikian pula halnya dengan magnesium, bila
terjadi gangguan keseimbangan magnesium
dalam darah akan diikuti dengan rendahnya
kadar kobalt yang dapat mempengaruhi
produktivitas ternak. Ketiga mineral esensial
tersebut (Fe, Mg dan Ca) dapat menimbulkan
gangguan reproduksi pada ternak bila terjadi
ketidak seimbangannya di dalam tubuh.
Gangguan keseimbangan mikromineral ini
terlihat pula pada anak sapi (Tabel 7) dimana
nilai rata–rata zat besi mencapai 580,0 mg/l
dan 400,0 mg/l (Mg) lebih tinggi dibandingkan
dengan kisaran normal, dan 232,1 mg/l
(kalsium) lebih rendah dari kisaran normal.
Identifikasi mikrobiologis penyebab
gangguan kesehatan pada sapi potong di
Jawa Tengah
Diare merupakan gejala klinis yang sering
dijumpai pada peternakan sapi potong baik
pada induk, jantan maupun pedet. Gejala klinis
dapat mengakibatkan turunnya produktivitas
ternak dan bahkan menimbulkan kematian
khususnya pada anak sapi karena usia muda
merupakan tingkat umur yang paling sensitif
pada ternak. Oleh karena itu, agen penyebab
diare dipelajari dalam penelitian ini. Isolasi dan
identifikasi agen penyebab diare dilakukan
pada penelitian ini khususnya untuk penyakit
Tabel 6. Gambaran mineral esensial darah pada sapi potong dewasa di Jawa Tengah
Konsentrasi mineral esensial (mg/l)
Lokasi
Jenis
Ket
Fe+2
Semarang
(n = 5)
Kebumen
(n = 11)
Klaten
(n = 11)
Sragen
(n = 6)
Rata-rata
Bx
Bx/PO
Bx/PO
Bx
641,2
(60-2000)
601,8
(60-1000)
606,0
(500-1000)
1000
685,6
Ca
225,0
(166,7-250)
279,2
(166,7-333,3)
397,7
(291,7-583,3)
590,3
(375-750)
369,8
Mg
P
408,0
(240-720)
552,0
(120-1000)
643,6
(280-1120)
966,7
(400-1440)
638,8
390
(350-450)
509,1
(450-600)
436,4
(250-500)
566,7
(550-600)
468,3
Sehat (5)
Sehat (5)
diare (6)
Sehat (8)
diare (3)
Sehat (3)
diare (3)
Batas normal: Fe+2 = 10-21 mg/l; Mg = 200-350 mg/l; Ca = 800-1100 mg/l; P= 400-700 mg/l
Tabel 7. Status mineral esensial darah pada anak sapi potong di Jawa Tengah
Lokasi
Jenis
Semarang
(n = 5)
Kebumen
(n = 11)
Klaten
(n = 0)
Sragen
(n = 0)
Rata-rata
Bx
Bx/PO
Bx/PO
Bx
Fe+2
750,0
(500-1000)
353,3
(60-500)
-
Konsentrasi mineral esensial (mg/l)
Ca
Mg
170,7
420
(166,7-333,3)
(40-640)
236,1
373,3
(166.7-333,3)
(160-480)
-
P
487,5
(450-500)
450,0
(400-500)
-
-
-
-
-
580,0
232,1
400,0
475
Ket.
Sehat (5)
Sehat (5)
diare (6)
-
- = Tidak dapat dianalisis
Batas normal: Fe+2 = 10-21 mg/l; Mg = 200-350 mg/l; Ca = 800-1100 mg/l; P = 400-700 mg/l
193
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
diare infeksius yang disebabkan oleh penyakit
bakterial (kolibasilosis dan salmonellosis).
Pada Tabel 8 dan 9 diatas terlihat bahwa
kolibasilosis dapat terdeteksi dari sapi potong
dewasa (induk) dengan tingkat kejadian.
mencapai 92,6% dari 27 sampel yang
dianalisis. Eschericia coli K99 merupakan
mayoritas serotipe yang dapat diidentifikasi
dari sampel tersebut. Selain itu terdapat 2
sampel yang terinfeksi oleh E. coli H7.
Sementara itu, hanya 1 dari 27 sampel
(3,7%) yang terdeteksi mengalami infeksi oleh
Salmonella sp. Begitupula pada anak sapi,
87,5% dari 8 sampel anak sapi terinfeksi oleh
kolibasilosis
dan
tidak
ditemukan
salmonellosis. Berdasarkan data isolasi dan
identifikasi penyebab diare pada sapi potong di
Jawa Tengah disimpulkan dapat disebabkan
oleh Eschericia coli.
Diare akut sering berakibat kematian pada
anak sapi yang dapat mencapai 75% pada anak
sapi umur kurang dari 3 minggu. Penyebab
utama diare pada anak sapi adalah
enterotoksigenik Escherichia coli yang
menyerang anak sapi umur 3-5 hari (Acres
1985; Mason dan Caldow, 2005; Supar dan Hirst
1985; Supar et al. 1998), rotavirus pada umur
7-10 hari, coronavirus pada umur 7-15 hari
(Mason dan Caldow 2005; Saepulloh dan Sendow
2006) dan Salmonella spp pada umur beberapa
minggu (Lance et al. 1992; Berge et al. 2006).
Sedangkan diare kronik disebabkan karena
rendahnya mutu susu pengganti (replacer)
sehingga dapat menimbulkan emasiasi dan
kematian pada anak sapi. Pada penelitian ini
dilaporkan bahwa hasil E. coli dapat diisolasi
dari sampel feses yang dikoleksi dari sapi
potong pada kelompok peternak SMD di
Kabupaten Semarang (Jawa Tengah). Dari 21
sampel feses yang dikoleksi dari Kabupaten
Semarang (Jawa Tengah), telah diisolasi
sebanyak 14 isolat E. coli yang mencapai
66,7% positip E. coli. Oleh karena itu, diare
yang terjadi di empat kabupaten di Provinsi
Jawa
Tengah
tersebut
kemungkinan
disebabkan karena infeksi E. coli, meskipun
beberapa jenis parasit intestinal terdeteksi pula
dalam penelitian ini seperti Strongylus sp dan
Fasciola sp tetapi belum menimbulkan gejala
klinis infeksi parasit.
Berdasarkan pengamatan langsung di
lapangan (Kabupaten Semarang), bahwa gejala
klinis yang dilaporkan seperti lumpuh dan
lemas setelah melahirkan, diare pada induk dan
Tabel 8. Isolasi dan identifikasi mikrobiologi penyebab diare pada sapi potong dewasa di Jawa Tengah
Lokasi
Jenis
Isolasi
E. coli
Salmonella sp.
Serotipe
Keterangan
Semarang (n = 5)
Bx
4/5 (80%)
0/5 (0%)
E.coli K99 (3)
Sehat
Kebumen (n = 10)
Bx/PO
9/10 (90%)
1/10 (10%)
E.coli H7 (2)
Sehat (4), diare (6)
Klaten (n = 9)
Bx
9/9 (100%)
0/9 (0%)
E.coli K99 (5)
Sehat (8), diare (1)
Sragen (n = 3)
Bx
3/3 (100%)
0/3 (0%)
E.coli K99 (2)
Diare (3)
25/27 (92,6%)
1/27 (3,7%)
Rata-rata
Tabel 9. Isolasi dan identifikasi mikrobiologi penyebab diare pada anak sapi potong di Jawa Tengah
Lokasi
Jenis
Isolasi
E. coli
Salmonella sp.
Serotipe
Bx
2/2 (100%)
0/2 (0%)
E.coli K99 (1);
E.coli H7 (1)
E.coli H7 (2)
Klaten (n = 0)
-
-
-
-
Sragen (n = 4)
Bx
3/4 (75%)
0/4 (0%)
E.coli K99 (1)
7/8 (87,5%)
0/8 (0%)
Semarang (n = 2)
Bx
2/2 (100%)
0/2 (0%)
Kebumen (n = 2)
Rata-rata
194
Keterangan
Sehat
Sehat (4), diare (6)
Diare (3)
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
anak serta kematian anak sapi mengindikasikan
bahwa gangguan metabolisme dan defisiensi
mungkin saja terjadi pada induk dan anak sapi.
Gangguan metabolisme ini juga diindikasikan
pada penelitian ini dimana sebagian besar
sampel darah yang dianalisis mengandung
kadar kalsium yang lebih rendah dibandingkan
dengan batas normalnya setelah melahirkan
maupun pada anak sapi potong. Meskipun
kasus kematian anak sapi cukup tinggi di Jawa
Tengah, penanggulangannya belum optimal.
Penanggulangan kematian anak sapi umumnya
bersifat simptomatis yang hanya menanggulangi
gejala klinis saja, walaupun bebeberapa
teknologi penanggulangannya seperti vaksin,
obat-obatan dan antibiotika telah tersedia
secara komersial.
Pada anak sapi, nilai rata-rata zat besi
mencapai 580,0 mg/l dan 400,0 mg/l (Mg)
lebih tinggi dibandingkan dengan kisaran
normal, dan 232,1 mg/l (kalsium) lebih rendah
dari kisaran normal.
Kolibasilosis dapat terdeteksi dari feses
sapi potong dewasa (induk) dengan tingkat
kejadian mencapai 92,6% dari 27 sampel yang
dianalisis. Eschericia coli K99 merupakan
mayoritas serotipe yang dapat diidentifikasi
dari sampel tersebut. Selain itu, terdapat 2
sampel yang terinfeksi oleh E. coli H7.
Begitupula pada anak sapi, 87,5% dari 8
sampel anak sapi terinfeksi oleh kolibasilosis.
Berdasarkan hasil isolasi dan identifikasi
penyebab diare pada sapi potong di Jawa
Tengah adalah Eschericia coli.
KESIMPULAN
UCAPAN TERIMA KASIH
Berdasarkan studi lapang diketahui
mortalitas sapi potong di Jawa Tengah
khususnya pada Kelompok Tani Ternak
penerima bantuan program PSDS 2014
diketahui masih tinggi yakni 0-50% (rataan
11,7%) pada sapi dewasa dan 0-66,7% (17,6%)
pada anak sapi. Kendala yang sering dihadapi
dalam pengembangan sapi potong tersebut
terdiri dari: kematian induk sapi, kematian
anak sapi (neonatal mortality), induk tidak
memperlihatan gejala birahi, induk tidak bisa
bunting; kawin berulang; diare; pertumbuhan
lamban (kekerdilan); gangguan metabolisme
(mikromineral).
Gambaran hematologi sapi potong di Jawa
Tengah menunjukkan terdapat sebagian besar
sapi memiliki nilai neutrofil dan eosinofil yang
melebihi batas maksimum kondisi normal.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sapi terinfeksi
oleh penyakit bakterial dan/atau parasiter.
Analisis mineral esensial darah terlihat nilai
rata-rata zat besi (685,6 mg/l) dan magnesium
(638,8 mg/l) lebih tinggi daripada batas
normalnya, sebaliknya dengan nilai rata-rata
kalsium dalam darah sapi (369,8 mg/l) lebih
rendah dari batas normal. Hypokalsemia dapat
menimbulkan diare, paralisis dan kematian
maupun abortus pada ternak sapi. Sementara
itu tingginya kadar zat besi dalam darah dapat
menimbulkan keracunan dan mengakibat
hyperkromatosia yang ditandai dengan lisisnya
sel darah merah.
Penulis menyampaikam terima kasih
kepada Badan Penelitian dan Pengembangan
Pertanian dan Balai Besar Penelitian Veteriner
atas pendanaan penelitian ini melalui Anggaran
APBN T.A. 2010 dan 2011 sehingga
terlaksanaya penelitian ini. Kepada BPTP-Jawa
Tengah dan Dinas Peternakan dan Perikanan
Provinsi Jawa Tengah dalam koordinasi
kegiatan lapang serta Seluruh Ketua Kelompok
Tani Ternak yang tercantum dalam penelitian
ini atas diizinkannya penggunaan ternaknya
sebagai obyek pengamatan.
DAFTAR PUSTAKA
Acres SD. 1985. Enterotoxigenic Escherichia coli
infections in newborn calves: a review. J
Dairy Sci. 68:229-256.
Acres SD, Saundersand JR, Radostits OM. 1977.
Acute undifferentiated neonatal diarrhea in
beef calves: the prevalence of enterotoxigenic
E. coli, reo-like (rota) virus and other
enteropathogens in cow-calf herd. Can Vet J.
18: 274-280.
Athanassious R., Marsollais G, Assaf R, Dea S,
Descoteaus IP, Dulude S, Monpetit C. 1994.
Detection of bovine corona virus and type A
rotavirus in neonatal calf diarrhea and winter
dysentery of cattle in Quebec: Evaluation of
three diagnostic methods. Can Vet J. 35:163169.
195
Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner 2013
Berge, AC, Moore DA, Sischo WM. 2006.
Prevalence and antimicrobial resistance
patterns of Salmonella enteritica calves from
dairies and calf ranches. Am J Vet Res. 67(9):
1580-1588.
Ralston BJ, Mcallister TA, Olson. 2003. Prevalence
and infections pattern of naturally acquired
giardiasis and cryptosporidiosis in range beef
calves and their dams. Vet Parasitol. 114: 113122.
Direktorat Jenderal Peternakan. 2006. Statistik
Peternakan
2006.
Direktorat
Jenderal
Peternakan-Departemen Pertanian.
Roy JHB. 1980. The calf: studies in agriculture and
food science. 4th Edition. Butterworth. pp.
369-372.
Lance SE, Miller GJ, Hancock DD, Bartlett PC,
Heider LE. 1992. Salmonella infections in
neonatal dairy calves. JAVMA. 201(6): 864868.
Sani Y, Indraningsih, Setiadji R, Ariyanti T. 2009.
Teknologi veteriner mendukung penanganan
penyakit hewan. Laporan Akhir Tahun
Anggaran 2009. Balai Besar Penelitian
Veteriner.
Mason C, Caldow G. 2005. The control and
management of calf diarrhea in beef herds.
Technical Note (TN) 576. Supporting the
land-based industries for over a century
(SAC). West Mains Road, Edinburgh EH9
3JG. SAC resaves support from the Scottish
Executive Environment and Rural Affairs
Department.
Mebuis CA. 1975. Viral calf enteritis. Journal Series.
Nebraska Agricultural Experiment Station.
Payne JM. 1989. Metabolic and nutritional diseases
of cattle. Blackwell Scientific Publications. p.
1-40.
Radostits OM, Blood DC, 1985. Herd health: a
textbook
of
health
and
production
management of agricultural animals. W.B.
Saunder Company. p. 116-132.
196
Supar, Hirst R. 1985. Detection of enteropathogenic
Escherichia coli in calves and pigs. In:
Proceedings of the fourth national congress of
Indonesian Society for Mycrobiology and the
first meeting of Asean Microbiology, 2-4
December 1985, Jakarta Indonesia.
Supar, Kusmiyati, Poerwadikarta MB. 1998.
Aplikasi vaksin enterotoksigenik Echerichia
coli (ETEC) K-99, F41 polivalen pada induk
sapi perah bunting dalam upaya pengendalian
kolibasilosis dan kematian pedet neonatal.
Wudu T, Kelay B, Mekonnen HM, Tesfu K. 2008.
Calf Morbidity and mortality in smallholder
dairy farm in Ada`a Liben district of Oromia,
Ethiophia. Trop Anim Health Prod. 40(5):
369-376.
Fly UP