...

Print this article - UIN Sultan Syarif Kasim Riau

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Print this article - UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Efektifitas Konseling Realitas Untuk Peningkatan Regulasi Diri ..... Reni Susanti
Efektifitas Konseling Realitas Untuk Peningkatan Regulasi Diri
Mahasiswa Dalam Menyelesaikan Skripsi
Reni Susanti
Fakultas Psikologi Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau
email: [email protected]
Abstrak
Salah satu permasalahan yang dihadapi mahasiswa tingkat akhir dalam menyelesaikan skripsinya adalah rendahnya kemampuan untuk meregulasi diri, sehingga sebagian mahasiswa cenderung menunda-nunda proses penyelesaian tugas akhirnya.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas penggunaan konseling realitas
bagi peningkatan regulasi diri mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi. Adapun
disain yang digunakan dalam penelitian ini adalah one group pretest posttest design
. Subjek penelitian terdiri atas 5 orang mahasiswa yang dipilih dengan teknik purposive sampling sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Berdasarkan hasil analisis
menggunakan statistik non parametric Wilcoxon Sign Rank Test disimpulkan bahwa
terdapat peningkatan yang signifikan terhadap regulasi diri mahasiswa dengan taraf
signifikansi p=0.031, Z = -2.023, dan effect size yang tergolong tinggi, yakni -0.90.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa konseling realitas efektif untuk meningkatkan regulasi diri mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi.
Kata Kunci : konseling kelompok, terapi realitas, regulasi diri mahasiswa
Abstract
There are several problems for college student to complete their thesis. One of them is
lower of self-regulation, so they tend to procrastinate the task. This study try to explore
effectiveness of reality counseling incr easing self-regulation on college student. The
design of this research is one group pretest posttest design. Five student involve in the
experiment which get from purposive sampling method. The data from interview and
work sheet that filled during experiment analyzed with Wilcoxon Signed Rank Test.
From data analysis, we can conclude that reality counseling effective to increase selfregulation on college student (p=0.031, Z= -2.023, and effect size = -0.90).
Keywords : group counseling, reality therapy, self regulation on college student
Pendahuluan
Skripsi merupakan suatu bentuk karya
tulis ilmiah yang menggambarkan upaya terpadu penerapan ilmu yang telah diperoleh
mahasiswa di bangku perkuliahan dan dibuat
dalam rangka menjawab suatu permasalahan
atau pertanyaan serta dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah (Garliah dkk, 2008).
Dengan demikian melalui skripsi mahasiswa
mengakumulasikan pengetahuan yang dimilikinya untuk menyelesaikan suatu karya ilmiah serta menjadi tahapan akhir dari proses
pendidikan yang dilalui mahasiswa di perguruan tinggi sebelum akhirnya layak menyandang gelar sarjana.
Rentang waktu yang dibutuhkan oleh
mahasiswa untuk menyelesaikan skripsi beragam. Sebagian besar mahasiswa mampu
menyelesaikannya tepat waktu, namun sebagian lainnya membutuhkan waktu yang lebih
lama. Berdasarkan pedoman penulisan skripsi Fakultas Psikologi USU, mahasiswa diberi
waktu untuk menyelesaikannya maksimal
2 (dua) semester (Garliah dkk, 2008). Meski demikian juga dijumpai mahasiswa yang
menyelesaikan skripsi lebih lama dari waktu
tersebut, baik pada penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif maupun kualitatif.
Ada berbagai faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya mahasiswa
dalam menyelesaikan skripsi baik berasal
dari faktor internal maupun eksternal mahasiswa. Menurut Darmono, Hasan, dan
Slamet (dalam Master, 2012) permasalahan
yang biasanya dihadapi mahasiswa dalam
proses penyelesaian skripsi diantaranya adalah adanya kesulitan dalam mencari literatur, tidak terbiasa menulis karya ilmiah, kemampuan akademis yang kurang memadai,
kurangnya ketertarikan mahasiswa terhadap
penelitian, kurang terbiasa dengan sistem
kerja terjadwal dengan pengaturan waktu
sedemikian ketat, dana yang terbatas dan
masalah dengan dosen pembimbing skripsi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Mujiyah dkk (dalam Januarti, 2009) diperoleh
88
Jurnal Psikologi, Volume 11 Nomor 2, Desember 2015
data bahwa 40% mahasiswa cenderung merasa malas untuk mengerjakan tugas akhirnya
dan 26,7% memiliki motivasi yang rendah.
Selanjutnya Anggraeni (2012) dalam penelitian kualitatifnya menemukan penyebab
mahasiswa menunda-nunda pengerjaan skripsinya, yakni rendahnya motivasi untuk menyelesaikan skripsi dan disertai oleh adanya
pengaruh dari teman-teman, atau pekerjaan
lain yang lebih diprioritaskan.
Diantara berbagai permasalahan tersebut, sebagian diantaranya berhubungan
dengan kemampuan mahasiswa mengarahkan dirinya untuk mengerjakan berbagai tugas yang berhubungan dengan penyelesaian skripsi atau dengan kata lain kemampuan
regulasi dirinya. Sebagaimana dijelaskan oleh
Zimmerman (dalam Duckwoth dkk, 2009)
bahwa regulasi diri merupakan usaha yang
dilakukan individu secara sistematis dengan
cara berpikir, merasakan, dan melakukan tindakan untuk mencapai tujuan personal yang
diinginkan.
Rendahnya regulasi diri merupakan
salah satu masalah yang dialami oleh mahasiswa yang sedang mengerjakan tugas akhir.
Hal ini diantaranya terlihat dari rendahnya motivasi internal mahasiswa dalam mengerjakan
skripsi. Pada saat yang bersamaan mereka
membutuhkan dorongan yang lebih besar dari
lingkungan. Inisiatif untuk mengatasi masalah
dan mengambil langkah-langkah yang diperlukan juga tergolong lambat. Selain itu tujuan
yang kurang spesifik dan terukur, daya tahan
terhadap situasi yang menekan juga rendah
dan cenderung memilih aktivitas yang tidak
menjadi beban bagi dirinya sendiri. Kondisi ini
diperparah oleh buruknya manajamen waktu
dan skala prioritas mahasiswa, serta ketidakmampuan untuk mengatur lingkungan agar
mendukung pencapaian tujuan.
Schunk dan Ertmer (dalam Duckworth
dkk, (2009) menjelaskan lebih lanjut bahwa
regulasi diri dalam belajar (self-regulated
learning) meliputi penetapan tujuan belajar,
memfokuskan perhatian dan konsentrasi,
menggunakan strategi yang efektif, mengingat informasi secara efektif, menciptakan lingkungan belajar yang produktif, menggunakan
sumber daya secara efektif, memonitor performa, mengatur waktu secara efektif, mencari bantuan jika dibutuhkan, mempertahankan keyakinan positif tentang kemampuan
diri dan nilai dari proses belajar yang dilakukan, mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi belajar dan mengantisipasinya, serta
pengalaman dan kepuasan yang diperoleh
individu setelah berusaha mencapai tujuan.
Salah satu pendekatan yang dapat digunakan
untuk membantu mahasiswa menumbuhkan
kemauannya meregulasi diri dalam menyelesaikan skripsi adalah konseling kelompok
dengan pendekatan terapi realitas (disingkat
89
dengan konseling realitas). Konseling realitas merupakan konseling yang berlandaskan pada control theory dari William Glasser
(dalam Corey, 1996) yang menyatakan bahwa
perilaku manusia itu memiliki tujuan untuk
memenuhi apa yang diinginkan oleh individu
itu sendiri. Konseling realitas berpandangan
bahwa manusia memiliki kebebasan untuk
membuat pilihan dalam kehidupannya dan
harus menerima konsekuensi berupa tanggung jawab yang mengikuti pilihan yang telah
diambilnya.
Pendekatan realitas ini dapat diterapkan pada konseling, pendidikan, intervensi
krisis, koreksi dan rehabilitasi, pengelolaan
lembaga, dan pengembangan komunitas.
Pendekatan ini juga merupakan salah satu
teknik yang populer di sekolah dan dapat digunakan untuk berbagai permasalahan mulai
dari masalah psikologis ringan hingga berat
serta bisa diterapkan baik pada anak-anak,
remaja, dewasa, maupun orang tua. Inti dari
konseling realitas adalah penerimaan tanggung jawab pribadi yang disamakan dengan
kesehatan mental, dimana konselor berfungsi
sebagai guru dan model serta mengkonfrontasi klien dengan cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar tanpa
merugikan dirinya sendiri ataupun orang lain.
Tujuan utama konseling realitas adalah membantu klien untuk menemukan cara
yang lebih efektif untuk memperoleh need for
belonging, power, freedom, and fun (menurut
siapa?). Dalam prosesnya, Glasser (Corey,
1996) membimbing klien untuk mempelajari
cara untuk mengontrol kehidupannya menjadi lebih efektif dan mendorong klien untuk
menilai pikiran, perasaan, dan tindakan yang
mereka miliki untuk menemukan cara terbaik
untuk keberfungsian mereka. Konseling realitas berfokus pada peningkatan kesadaran
klien akan ketidakefektifan perilaku yang
mereka tampilkan, kemudian mengajarkan
mereka perilaku yang lebih efektif dalam
menghadapi dunia. Dengan kata lain klien
dibantu untuk mengevaluasi apakah keinginan mereka realistis dan apakah tindakan
yang mereka ambil membantu untuk mencapai keinginan mereka. Konseling realitas
membantu individu dalam menentukan dan
memperjelas tujuan-tujuan, menjelaskan halhal yang menghambat pencapaian tujuan,
dan membantu klien menemukan alternatifalternatif pemecahan masalah.
Selanjutnya konseling yang dilakukan
secara berkelompok membuat peserta cenderung lebih mudah membicarakan persoalan
mendesak yang mereka hadapi, lebih rela
menerima sumbangan pemikiran, lebih bersedia membuka diri saat menyaksikan anggota kelompok lainnya juga berbicara secara
jujur dan terbuka, lebih terbuka terhadap tun-
Efektifitas Konseling Realitas Untuk Peningkatan Regulasi Diri ..... Reni Susanti
tutan mengatur tingkah lakunya agar terbina
hubungan sosial yang baik, dan merasa lebih
bergembira dan menghayati suasana kebersamaan yang lebih memuaskan (Winkel dan
Hastuti, 2010). Disisi lain konseling realitas
adalah penerimaan tanggung jawab pribadi,
dimana konselor berfungsi sebagai guru dan
model serta mengkonfrontasi klien dengan
cara-cara yang bisa membantu klien menghadapi kenyataan dan memenuhi kebutuhankebutuhan dasar tanpa merugikan dirinya
sendiri ataupun orang lain (Corey, 1996).
Keuntungan dari penggunaan konseling realitas adalah bahwa pendekatan ini
dapat dilakukan dalam waktu relatif singkat
dan mengatasi perilaku yang disadari oleh
klien. Disamping itu dengan konseling realitas, klien tidak hanya mencapai insight
dan kesadaran, akan tetapi juga melakukan
evaluasi diri, membuat rencana tindakan, dan
membangun komitmen selama proses konseling.
Prosedur yang digunakan untuk mengarahkan perubahan didasarkan pada asumsi bahwa manusia termotivasi untuk berubah
ketika mereka diyakinkan bahwa perilaku
mereka sekarang tidak mendukung pencapaian apa yang mereka inginkan dan mereka
dapat memilih alternatif perilaku lain yang dapat mengantarkan mereka pada tujuan yang
diinginkan. Glasser dan Wubbolding (dalam
Corey, 1996) merumuskan prosedur tersebut
dalam sebuah akronim WDEP (wants, direction and doing, evaluation, and planning).
a. Wants (mengeksplorasi keinginan, kebutuhan, dan persepsi)
Pertanyaan yang dilontarkan kepada klien
adalah “apa yang diinginkannya?”. Dalam
prosesnya klien didorong untuk mengenali,
mendefinisikan, dan mendefinisikan ulang
harapan yang diinginkan klien. Eksplorasi
ini berlangsung secara kontinu selama
proses konseling sejalan dengan perubahan yang dialami klien.
b. Direction and doing
Pertanyaan yang dikemukakan terapis
pada tahap ini adalah “apa yang dilakukan
klien”. Meskipun masalah yang dihadapinya sekarang berkaitan dengan kehidupan
sebelumnya, namun klien harus belajar
untuk mengatasi masalah mereka sekarang dengan mempelajari cara terbaik untuk mencapai keinginan mereka. Masa lalu
didiskusikan jika hal itu membantu klien
untuk membuat perencanaan yang lebih
baik dimasa sekarang dan akan datang.
Di awal konseling juga sangat penting untuk mendiskusikan arah kehidupan klien
secara keseluruhan, termasuk apa tujuan
mereka di masa yang akan datang dan apa
yang mereka lakukan untuk mencapainya.
c. Evaluation
Selanjutnya klien juga diminta untuk mengevaluasi perilaku mereka dalam kaitannya dengan tujuan yang mereka inginkan.
Hal ini dapat dilakukan dengan menanyakan apakah perilaku mereka sekarang dapat membantu untuk mencapai harapan
atau tujuan yang diinginkannya, apakah
perilaku yang ditampilkan cukup realistis,
atau apakah pikiran, perasaan, dan tindakan mereka sejalan atau tidak. Dalam hal
ini terapis melakukan konfrontasi antara
perilaku yang ditampilkan dengan konsekuensi yang diperoleh, kemudian menilai
kualitas tindakan mereka. Melalui proses
ini klien melakukan self-assessment yang
membantu mereka untuk bersedia melakukan perubahan.
d. Planning and commitment
Ketika klien sudah menentukan apa yang
harus mereka rubah, maka umumnya
mereka lebih siap untuk mengeksplorasi
alternatif perilaku lain yang dapat dilakukan dan membuat perencanaan. Dengan
membuat perencanaan bersama dengan
konselor, maka diharapkan klien dapat
memiliki komitmen untuk melaksanakan
rencana yang telah dibuatnya. Meski demikian ketika klien belum menunjukkan
komitmennya maka konselor mengingatkan akan tanggung jawab terhadap tindakan dan pilihannya.
Beberapa riset terdahulu yang telah
menggunakan konseling realitas untuk mengatasi berbagai masalah diantaranya adalah
Surozaq (2010) menggunakan konseling realitas untuk meningkatkan motivasi belajar
siswa SMA yang mengalami underachiever.
Selain itu Sutatminingsih (2008) menguji efektivitas terapi realitas secara kelompok untuk
meningkatkan konsep diri penyandang cacat
fisik usia dewasa awal. Masril (2011) melakukan telaahan teoritis praktis terhadap teori
realitas dan implementasinya untuk meningkatkan regulasi diri siswa dalam kaitannya
dengan pemilihan karir di sekolah.
Berdasarkan uraian fenomena dan
kerangka konseptual di atas maka hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini adalah
konseling realitas efektif untuk meningkatkan
regulasi diri mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi.
Metode
Rancangan
Penelitian ini menggunakan one group
pretest posttest design. Adapun variabel terikat dalam penelitian ini adalah regulasi diri
mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi, sedangkan variabel bebasnya adalah konseling
90
Jurnal Psikologi, Volume 11 Nomor 2, Desember 2015
realitas.
Subjek
Pada awalnya subjek penelitian berjumlah 7 orang, namun selama proses pelak-
sanaan terjadi mortality, sehingga jumlah
subjek yang mengikuti eksperimen sampai
selesai menjadi 5 orang. Adapun gambaran
umum subjek sebagaimana terdapat pada tabel 1. berikut.
Tabel 1. Deskripsi Umum Subjek Penelitian
No
Nama
Jenis
Kelamin
Seminar
Skripsi
1
2
3
4
5
P
P
P
L
P
3 semester
3 semester
1 semester
2 semester
1 semester
2 semester
1 semester
2 semester
Subjek 1
Subjek 2
Subjek 3
Subjek 4
Subjek 5
Semester
IX
IX
IX
XI
IX
Instrumen dan Prosedur
Pengumpulan data pada penelitian
ini menggunakan 4 (empat) instrumen yaitu
wawancara, lembar kerja, dan observasi.
Wawancara digunakan sebagai data pretest
setelah dikuantifikasi. Wawancaran dan observasi selama pelaksanaan eksperimen,
serta lembar kerja digunakan digunakan untuk data posttest setelah di kuantifikasi.
Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yakni tahap persiapan dan pelaksanaan.
1. Tahap persiapan
Pada tahap ini dilakukan screening
subjek dan modul pelaksanaan eksperimen.
Screening dilakukan dengan menggunakan
wawancara. Panduan wawancara disusun
berdasarkan aspek-aspek regulasi diri dalam
belajar menurut Pintrich (2004) yang terdiri
atas 3 aspek yaitu kognisi, motivasi, dan perilaku. Data yang diperoleh digunakan sebagai
data pretest setelah dilakukan proses kuantifikasi. Dari 18 orang yang mengikuti screening diperoleh 7 orang mahasiswa yang memenuhi kriteria penelitian. Selanjutnya modul
pelaksanaan eksperimen dirancang oleh
peneliti dan divalidasi oleh seorang professional judgement yang merupakan seorang
psikolog. Rancangan disusun berdasarkan
tahapan konseling realitas yang dikemukakan
oleh Glasser & Wubbolding (dalam Corey,
1996). Adapun tujuan intervensi adalah membantu subjek agar menyadari tanggung jawab
personal dalam menyelesaikan tugas akhir
dan berinisiatif untuk melakukan perubahan
perilaku ke arah yang lebih efektif dalam
kaitannya dengan penyelesaian skripsi, serta
Waktu yang Digunakan
berkomitmen untuk menjalankan rencana perubahan tersebut.
2. Tahap pelaksanaan
Eksperimen dilaksanakan selama 4
kali pertemuan selama 4 minggu. Satu sesi
pertemuan berlangsung dalam waktu 75-120
menit dan difasilitasi oleh peneliti dan seorang
psikolog. Dalam setiap sesi disiapkan lembar
kerja yang berguna dalam membantu partisipan mengevaluasi performa mereka sebelumnya dan membuat perencaan baru. Pada
sesi pertama dan kedua diberikan lembar kerja “My Goal” yang bertujuan untuk mengeksplorasi tujuan dan usaha yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan. Lembar kerja
kedua adalah “My Planning”, diberikan pada
sesi ketiga dan keempat untuk memandu
partisipan membuat rencana tindakan, identifikasi hambatan dan cara mengatasinya
yang diberikan setelah partisipan menyadari
kekurangefektifan usaha yang telah dilakukan
sebelumnya dan bersedia untuk membuat
rencana baru.
Analisis Data
Data yang diperoleh melalui wawancara,
observasi, dan lembar kerja dikuantifikasi.
Proses kuantifikasi diawali dengan pembuatan panduan penilaian sesuai dengan indikator pada masing-masing aspek. Selanjutnya
pemberian skor dilakukan dengan melibatkan
inter-rater yang berjumlah 2 (dua) orang. Selanjutnya data dianalisis dengan menggunakan Wilcoxon Signed-Rank Test.
Hasil
Tabel 2. Statistik Deskriptif
91
N
Mean
Std. Deviation
Minimum
Maximum
Pretest
Postest
5
5
18.00
32.80
3.082
3.114
15
29
22
36
Efektifitas Konseling Realitas Untuk Peningkatan Regulasi Diri ..... Reni Susanti
Berdasarkan table 2 dan 3 di atas dapat disimpulkan bahwa peningkatan regulasi
diri mahasiswa dalam menyelesaikan skripsi
setelah mendapatkan konseling kelompok
tergolong signifikan (p<0.05). Adapun rerata
peningkatan skor regulasi diri antara sebelum
dengan sesudah mendapatkan konseling re-
alitas adalah sebesar 14.8 poin. Selanjutnya
besarnya effect size adalah r = -0.90, hal ini
berarti bahwa konseling kelompok memberikan dampak yang besar terhadap peningkatan regulasi diri mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsi.
Tabel 3. Hasil Uji Hipotesis
Postest – Pretest
Z
Exact. Sig. (2-tailed)
Exact. Sig. (1-tailed)
Pembahasan
Konseling kelompok dengan menggunakan pendekatan control theory yang digunakan pada penelitian ini dilakukan untuk
membantu subjek menyadari tanggung jawab
personal dalam menyelesaikan tugas akhir.
Tujuan ini dapat dicapai oleh seluruh subjek
penelitian. Hal ini dibarengi pula oleh kesadaran belum efektifnya usaha yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan yang diinginkan. Sebagaimana dinyatakan oleh Corey
(1996) bahwa dalam prosesnya konseling
realitas membantu klien mengevaluasi apakah keinginan mereka tergolong realistis dan
usaha yang mereka ambil membantu dalam
mencapai keinginan tersebut.
Kesadaran akan belum efektifnya
usaha ini dilanjutkan dengan kesediaan untuk merubah atau menyempurnakan tujuan,
mengidentifikasi situasi yang dapat menghambat pencapaian tujuan, dan menemukan
strategi untuk mengatasi masalah atau hambatan tersebut. Hal ini sejalan dengan fokus
konseling realitas untuk membantu individu
menentukan dan memperjelas tujuan, menjelaskan hal-hal yang menghambat pencapaian
tujuan, dan membantu individu menemukan
alternatif pemecahan masalah (Corey, 1996).
Prosedur konseling realitas yang meliputi 4
(empat) tahap yakni wants, direction and doing, evaluation, plannning and commitment
juga menfasilitasi tercapainya tujuan ini.
Penggunaan konseling realitas yang
dapat meningkatkan kesadaran subjek akan
ketidakefektifan perilakunya dan kemudian
bersedia merubahnya merupakan salah
satu strategi untuk meningkatkan regulasi
diri yang tergolong ke dalam individual volition strategies. Target dari volition strategy
adalah tercapainya volitional competence
yang dapat meningkatkan usaha yang dibutuhkan individu dan kemampuan mengelola
hambatan atau rintangan dalam pencapaian
tujuan. Individu yang memiliki volitional competence memiliki kecenderungan untuk meningkatkan usahanya secara individual dan
-2.023a
.043
.031
mampu menjaga usaha dan keinginannya
tersebut dari hambatan-hambatan yang muncul (Boekaerts, dalam Duckworth dkk, 2009).
Dengan kata lain volitional strategies meliputi
kemampuan mengatur diri agar senantiasa
dapat menjaga fokus dan usaha dari berbagai
masalah yang mungkin terjadi. Hal inilah yang
dilakukan dalam penelitian ini yaitu dengan
membuat perencanaan serta mengidentifikasi hambatan dan strategi untuk mengatasinya
setelah subjek menyadari ketidakefektifan
perilakunya masing-masing.
Volitional strategies merupakan hal
yang penting dalam kegiatan akademik maupun kehidupan secara umum. Hal ini karena
seorang mahasiswa yang memiliki kemauan
dalam belajar akan berusaha melakukan
manajemen waktu dan sumber dayanya,
membuat tujuan yang menjadi prioritas, dan
menyelesaikan tugas-tugasnya dengan lebih baik. Sebagaimana paparan Boekaerts
& Corno (2005) bahwa terdapat bukti yang
kuat bagaimana volitional strategies mempengaruhi kemampuan siswa dalam mengatur pekerjaannya selama proses belajar, dan
membantu mereka kembali pada orbitnya
untuk mencapai tujuan utama, mengatasi
rintangan, menjaga sense of value terhadap
tugas, dan kemampuannya dalam memelihara niat dan daya tahan menghadapi berbagai
kesulitan dalam tugas-tugas akademik.
Selanjutnya Boekaerts & Corno
(dalam Duckworth dkk, 2009) menyatakan
bahwa kondisi optimal bagi perkembangan
regulasi diri terjadi ketika anak-anak dan pemuda memiliki peluang untuk mengembangkan tujuan yang bermakna bagi dirinya sendiri, serta didorong untuk mengembangkan
kemampuan untuk memilih aktivitas, inisiatif,
menghadapi tantangan, belajar dari pengalaman, dan membuat keputusan bagi diri mereka sendiri. Hal ini sejalan dengan pandangan
control theory bahwa perilaku manusia memiliki tujuan untuk memenuhi apa yang diinginkan oleh individu itu sendiri (Glasser dalam
Corey, 1996).
92
Jurnal Psikologi, Volume 11 Nomor 2, Desember 2015
Kesimpulan
Regulasi diri merupakan hal yang sangat penting dimiliki oleh mahasiswa dalam
rangka memenuhi tugas-tugas akademik
dengan baik termasuk dalam proses penyelesaian skripsi sebagai tahap akhir dari penyelesaian pendidikannya pada program sarjana.
Meningkatnya kesadaran mahasiswa untuk
meregulasi dirinya akan mendorong mahasiwa melakukan berbagai upaya dalam rangka
mencapai target penyelesaian skripsinya dan
mengatasi berbagai hambatan yang dihadapi
dengan memaksimalkan sumber daya yang
ada pada dirinya sendiri dan lingkungan.
Kesadaran dan tanggung jawab ini dapat
dikembangkan melalui konseling kelompok
dengan pendekatan realitas yang memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
mengevaluasi tujuan dan usaha-usaha yang
telah mereka lakukan serta menyempurnakan tujuan dan usaha yang lebih adaptif untuk mencapai tujuan tersebut sesuai dengan
keinginan mereka masing-masing.
Daftar Pustaka
Anggraini, P.D & Widyarini, M.M.N. (2012).
Prokrastinasi pada mahasiswa dalam
menyelesaikan
skripsi.
Skripsi.
Diakses pada tanggal 14 Oktober
2012, dari
http://repository.guna
darma.ac.id/bitstream/123456789/
1941/1/ Artikel_10504135.pdf
Boekaerts, Monique & Corno, Lyn. (2005)
Self-regulation in the classroom:
A perspective on assessment and
intervention. Applied psychology : An
intenational review. 54 (2), 199-231
Catrunada, Lidya. (2012). Perbedaan
kecenderungan prokrastinasi tugas
skripsi berdasarkan tipe kepribadian
intovert dan ekstrovert. Skripsi. Di
akses pada tanggal 14 Oktober
2012, dari http://repository.guna
darma.ac.id/ bitstream/ 123456789/
1889/1/Artikel_10503104.pdf
Corey, Gerald. (1996). Theory and practice of
counseling and psychoterapy (5th
ed). USA : Brooks/Cole Publishing
Company
93
____________. (2007). Teori dan praktek
konseling dan psikoterapi (terjema
han). Bandung : Refika Aditama
Devina, Sarah. (2012). Hubungan antara
kecerdasan emosional dan prokrasti
nasi pada mahasiswa yang menyu
sun skripsi di fakultas psikologi
universitas
gunadarma.
Skripsi.
Diakses pada tanggal 14 Oktober
2012, dari http://repository.guna
darma.ac.id/bitstream/123456789/
1150/1/10506208.pdf
Duckworth, dkk. (2009). Self-regulated learn
ing : A literature review. Centre for
Research on the Wider Benefit of
Learning. Institue of Education
University of London.
Garliah, Dkk. (2008). Pedoman penulisan
skripsi (edisi revisi). Fakultas Psikologi
Universitas Sumatera Utara
Januarti, R. (2009). Hubungan antara
persepsi terhadap dosen pembimbing
dengan tingkat stres dalam menulis
skripsi. Universitas Muhammadiyah
Surakarta
Johnson, B & Christensen, L. (2004).
Educational research, quantitative,
qualitative, and mixed approach (2nd
Ed). USA : Pearson Education Inc.
Master, Jani (2012). Artikel “Kendala
mahasiswa dalam menulis skripsi”
diakses pada tanggal 14 Oktober
2012 dari http://staff.unila.ac.id/janter/
2012/05/30/kendala-mahasiswa
dalam-menulis-skripsi/
Pintrich, Paul R. (2004). A conseptual
framework for assessing motivation
and self-regulated learning in college
students. Educational Psychology
Review, 16/4, 390-400
Panduan Perkuliahan Program Studi Strata 1
(S-1) Fakultas Psikologi Universitas
Sumatera Utara (2010)
Schunk, D.H & Zimmerman, B.J. (1998).
Self-regulared learning, from teaching
to self-reflective practise. London :
The Guilford Press
Winkel,W.S & Hastuti, M.M Sri. (2010).
Bimbingan dan Konseling di Institusi
Pendidikan, edisi ketujuh. Yogyakarta :
Penerbit Media Abadi
Fly UP