...

Menyelamatkan Paus dan Lumba-lumba dari

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Menyelamatkan Paus dan Lumba-lumba dari
WWF-Indonesia
Graha Simatupang
Tower 2C Lt.7-11
Jl. TB Simatupang
Kav.38
Jakarta Selatan 12540
Indonesia
SIARAN PERS
Tel : +62 21 7829461
Fax: +62 21 7829462
www.wwf.or.id
19 Februari 2014
Menyelamatkan Paus dan Lumba-lumba dari Kebisingan di Laut
Jakarta – WWF akhir pekan lalu (14/2) menerbitkan sebuah laporan baru dalam Bahasa Inggris tentang
kebisingan di laut yang berpengaruh terhadap paus dan mamalia laut. Laporan berjudul “Reducing Impacts
of Noise from Human Activities on Cetaceans: Knowledge Gap Analysis and Recommendations" itu
menjelaskan berbagai masalah yang dialami paus dan mamalia laut yang hidup di perairan yang bising.
Masalah yang dihadapi paus dan mamalia laut itu diantaranya kesulitan menemukan pasangan dan mencari
makan. Selain itu, laut yang bising juga berpotensi menjauhkan paus dari habitat utama mereka.
Terdamparnya paus dan mamalia laut di berbagai belahan dunia masih diselimuti misteri. Polusi suara
semakin kuat diduga sebagai salah satu penyebabnya, setelah dilakukan autopsi pada 7 ekor paus yang
terdampar di pantai Kepulauan Bahama. Terjadi gangguan pada indera pendengaran mereka dengan
ditemukannya pendarahan didekat telinga dan didalam cairan otak mamalia laut dari ordo Cetacea tersebut.
Menurut Aimee Leslie, Global Cetacean and Marine Turtle Manager untuk WWF, “Telah ditemukan bukti
peningkatan kebisingan di seluruh perairan di dunia. Lalu lintas kapal berukuran besar, serta gelombang sonar
yang dimanfaatkan untuk eksplorasi minyak lepas pantai dan pelatihan militer menambah kebisingan pada
ekosistem laut.”
Bagi mamalia laut, mendengar sama pentingnya dengan melihat bagi manusia. Mamalia laut menggunakan
berbagai jenis suara untuk komunikasi, dan biosonar untuk mencari makan dan mendapatkan petunjuk arah.
Suara-suara asing yang ditimbulkan dari kegiatan manusia berpotensi besar menggangu komunikasi paus dan
lumba-lumba dalam jangka panjang maupun jangka pendek. Selain menyamarkan suara-suara yang
diproduksi para mamalia laut tersebut, kebisingan di laut juga mengubah perilaku mereka dan membuat
mereka menjauh dari habitat asalnya. Kegiatan eksplorasi dan pengeboran industri minyak dan gas di laut
lepas, terutama yang menggunakan alat echo-sounder, serta pelayaran komersial, memproduksi suara di
kisaran pendengaran paus, lumba-lumba, dan mamalia lautnya, yaitu 10 Hz - 200 kHz. Kisaran suara ini
tumpang tindih dengan kisaran suara mamalia laut sehingga dapat membingungkan atau bahkan berakibat
fatal bagi hewan-hewan tersebut. Mamalia laut terbesar di dunia, paus biru (Balaenoptera musculus),
memproduksi suara dengan frekuensi sekitar 20 Hz. Manusia pada umumnya dapat mendengar percakapan
satu sama lain pada kisaran 100 - 1000 Hz.
Hampir seluruh wilayah laut Indonesia merupakan habitat penting atau jalur migrasi mamalia laut. Sekitar 18
spesies paus, serta 12 spesies lumba-lumba dan porpois ditemukan bermukim atau melintas di laut Indonesia,
khususnya di kawasan Segitiga Terumbu Karang atau Coral Triangle (Mustika et al., 2009). Wilayah ini juga
merupakan salah satu jalur perairan terpadat di dunia, baik oleh aktivitas perikanan artisanal dan perikanan
skala besar, lalu lintas perdagangan dan pengiriman barang, pariwisata dan aktivitas eksplorasi (khususnya
eksploitasi mineral dan gas).
Paus, lumba-lumba, juga ikan terbesar yaitu hiu paus, sering ditemukan terdampar di pantai-pantai di
Indonesia. Sejumlah ilmuwan dan pegiat lingkungan sering menanggapi kejadian terdampar ini dengan upaya
penyelamatan hewan tersebut. Namun masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai penyebab hewan
tersebut terdampar dan bagaimana pencegahannya. Bila diketahui tingginya polusi suara didalam air sebagai
penyebabnya, maka pemerintah perlu mengubah beberapa regulasi terkait lintasan kapal, termasuk penetapan
Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), penataan wilayah eksplorasi dan aktivitas perikanan.
Beberapa metode yang direkomendasikan untuk menurunkan dampak kebisingan pada mamalia laut, antara
lain: tindakan langsung untuk segera mengurangi sumber kebisingan di laut (seperti kapal), penelitian lebih
lanjut tentang teknologi untuk mengurangi kebisingan dari eksplorasi dan pengeboran industri minyak di laut
lepas serta pelayaran komersial, membatasi perairan-perairan habitat paus dari kegiatan yang menimbulkan
polusi suara (khususnya selama periode-periode sensitif bagi paus seperti kelahiran anak), implementasi dan
pengaturan yang cepat dan efektif berdasarkan panduan dari International Maritime Organization (IMO)
dalam menurunkan kebisingan di laut dari pelayaran kapal.
Selain polusi suara, paus dan lumba-lumba juga terancam mati sebagai tangkapan sampingan (bycatch) dari
praktik penangkapan ikan. Sangat diperlukan kerjasama yang penting dalam menangani dampak dari kegiatan
antropogenik pada mamalia laut. Hal tersebut tidak hanya untuk mencegah penurunan populasi satwa-satwa
tersebut, tetapi juga memberikan informasi kepada publik terkait pengelolaan kegiatan manusia dan
konsekuensinya.
-o0o-
Catatan Editor:
 Laporan “Reducing Impacts of Noise from Human Activities on Cetaceans: Knowledge Gap
Analysis and Recommendations” dapat diunduh di http://bit.ly/1h4yNDf.
 Panduan kerja penanganan mamalia laut terdampat dapat diunduh di http://bit.ly/1ePvZXi.
 Foto-foto mamalia laut dapat diakses di http://bit.ly/1dKIJ63 dan digunakan dengan mencantumkan
copyright yang terdapat di lembar photo caption.
 Paus bergigi (Odontoceti) dan lumba-lumba memproduksi suara “klik” (echolocation) untuk
dipantulkan ke benda-benda di sekitar mereka – dengan tujuan mendapatkan informasi untuk sumber
makanan dan lingkungan (Richardson et al., 1995). Sementara itu, gelombang suara dari “klik” yang
diproduksi paus sperma (Physeter macrocephalus) dan jenis paus lainnya digunakan untuk
berkomunikasi satu sama lain (Watkins & Schevill, 1977). Selain suara “klik”, mamalia laut juga
memproduksi suara lain, seperti siulan, nyanyian, dan erangan.
 Salah satu kawasan yang menjadi perhatian WWF terkait polusi suara di laut adalah perairan Kutub
Utara (Artik). Kawasan perairan yang dikenal sebagai habitat paus beluga (Delphinapterus leucas),
narwhal (Monodon monoceros) serta paus kepala busur (Balaena mysticetus) ini, dulu merupakan
perairan yang bebas dari kegiatan industri.
Untuk informasi lebih lanjut dan pelaporan ditemukannya paus/mamalia laut yang terdampar di
perairan Indonesia, silakan hubungi:
 Dwi Suprapti, WWF-Indonesia, [email protected], +62 812 3655906
 Putu Liza Mustika, Whale Stranding Indonesia, [email protected], +62 811 386798
Tentang WWF Indonesia
WWF Indonesia merupakan organisasi konservasi alam terbesar di Indonesia dan telah memulai kegiatannya
sejak tahun 1962. Telah berbadan hukum Yayasan sejak tahun 1998, saat ini, WWF-Indonesia bekerja di 28
kantor wilayah dari Aceh hingga Papua dan didukung oleh lebih dari 400 karyawan. Sejak tahun 2006, WWF
Indonesia mendapatkan dukungan lebih dari 54,000 supporter yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara.
Silakan kunjungi www.wwf.or.id.
2
Fly UP