...

mengembangkan solusi bisnis/ti a. mengembangkan sistem bisnis

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

mengembangkan solusi bisnis/ti a. mengembangkan sistem bisnis
MENGEMBANGKAN SOLUSI BISNIS/TI
A. MENGEMBANGKAN SISTEM BISNIS
Pengembangan Sistem Informasi
Ketika pengembangan sistem untuk penyelesaian masalah diterapkan untuk pengembangan
solusi sistem informasi terhadap masalah bisnis, maka hal ini disebut Information Systems
Development (pengembangan sistem informasi) atau Application Development (pengembangan
aplikasi). Bagian ini akan menunjukkan kepada anda bagaimana pendekatan sistem dapat
digunakan untuk mengembangkan aplikasi dan sistem e-business yang
dapat memenuhi
kebutuhan bisnis perusahan, karyawan, dan pihak-pihak lain yang berkepentingan terhadap
perusahaan (stakeholder).
Pendekatan Sistem
System Approach untuk penyelesaian masalah menggunakan orientasi sistem untukmerumuskan
masalah dan peluang dan mengembangkan solusi. Menganalisis masalah dan memformulasikan
solusi melibatkan aktivitas yang saling berhubungan di bawah ini:
1.
Kenali dan rumuskan Masalah atau Peluang dengan menggunakan pemikiran
2.
Kembangkan dan evaluasi alternatif solusi sistem.
3.
Pilih solusi sistem yang memenuhi persyaratan anda.
4.
Desain solusi sistem yang dipilih.
5.
Implementasikan dan evaluasi kesuksesan sistem yang telah didesain.
sistem.
Pemikiran Sistem
Menggunakan System Thinking untuk memahami masalah atau peluang adalah salah satu aspek
paling penting dari pendekatan sistem. Konsultan manajemen dan penulis, Peter senge menyebut
pemikiran sistem sebagai The Fifth Dicipline (disiplin kelima). Senge mengungkapkan bahwa
menguasai pemikiran sistem bersamaan dengan disiplin penguasaan diri, model mental visi
bersama, dan pembelajaran tim merupakan hal yang vital untuk pemenuhan pribadi dan sukses
berbisnis di dunia yang selalu berubah. Inti dari disiplin pemikiran sistem adalah “melihat hutan
dan pohon-pohonnya” di situasi apa pun dengan:
 Melihat hubungan internal antarsisten ketimbang mata rantai sebab akibat
ketika
sesuatu
terjadi.
 Melihat proses perubahan antarsistem ketimbang memisahkan “potret” perubahan,
perubahan terjadi.
ketika
Siklus Pengembangan Sistem
Menggunakan pendekatan sistem untuk mengembangkan solusi sistem informasi dapat
dipandang sebagai proses multilangkah yang disebut Information Systems Development Cycle (siklus
pengembangan sistem informasi), yang juga dikenal sebagai System Development Life Cycle-SDLC
(siklus hidup pengembangan sistem). Gambar berikut mengilustrasikan apa yang terjadi pada tiap
langkah dari proses ini, yang mencakup langkah:
1.
Investigasi
2.
Analisis
3.
Desain
4.
Implementasi
5.
Pemeliharaan
Akan tetapi, anda harus menyadari bahwa semua aktiviats yang terlibat sangat
berhubungan satu sama lain dan saling terikat. Oleh karena itu, pada prakteknya, beberapa
akivitas pengembangan bisa muncul pada saat yang bersamaan. Jadi bagian yang berbeda dari
proyek pengembangan bisa jadi berada pada tingkat yang berbeda pada siklus pengembangan.
2
Pembuatan Prototipe
Proses pengembangan sistem sering kali mengambil format, atau mencakup pendekatan
pembuatan prototipe. Prototyping (pembuatan prototipe) adalah pengembangan yang cepat dan
pengujian terhadap model kerja, atau prototipe, dari aplikasi baru dalam proses yang interaktif
dan berulang-ulang yang bisa digunakan oleh ahli SI dan praktisi bisnis. Pembuatan prototipe
membuat proses pengembangan lebih cepat dan lebih mudah, khususnya untuk priyek di mana
persyaratan pemakai akhir sulit dirumuskan. Pembuatan prototipe terkadang disebut juga Rapid
Application Design-RAD (desain aplikasi cepat). Pembuatan prototipe juga membuka proses
pengembangan aplikasi untuk pemakai akhir karena pembuatan prototipe menyederhanakan dan
3
memepercepat desain sistem. Jadi, pembuatan prototipe telah memeperluas peran pemilik
kepentingan bisnis yang dipengaruhi oleh sistem yang diusulkan, dan memungkinkan untuk
mempercepat proses pengembangan yang lebih tanggap atau disebut juga Agile Systems
Development-ASD.
Proses Pembuatan Prototipe
Pembuatan prototipe dapat digunakan untuk aplikasi besar dan aplikasi kecil. Umumnya, sistem
bisnis besar masih perlu menggunakan pendekatan pengembangan sistem tradisional, tetapi
sebagian sistem tersebut sering kali dapat dibuatkan prototipenya. Prototipe aplikasi bisnis yang
diperlukan oleh pemakai akhir dikembangkan secara cepat dengan menggunakan berbagai alat
software pengembangan aplikasi. Kemudian sistem prototipe tersebut diperbaiki berkali-kali
hingga dapat diterima. Sebagaimana diilustrasikan padagambar berikut, pembuatan prototipe
merupakan proses yang interaktif dan berulang-ulang, yang menggabungkan langkah-langkah
siklus pengembangan sistem tradisional. Pemakai akhir yang cukup berpengalaman dengan alat
pengembangan aplikasi dapat membuat prototipe sendiri. Atau, anda bisa bekerja sama dengan
ahli SI untuk mengembangkan sistem prototipe dalam rangkaian sesi interaktif. Anda bisa
4
mengembangkan, menguji dan memperbaiki prototipe laporan manajemen, layar entri data, atau
tampilan output.
Biasanya sebuah prototipe dimodifikasi beberapa kali sebelum pemakai akhir menyatakan
bahwa prototipe tersebut dapat diterima. Modul program yang tidak dihasilkan oleh software
pengembangan aplikasi bisa dikodekan oleh programer dengan menggunakan bahasa
pemrograman konvensional. Versi akhir sistem aplikasi kemudian diserahkan kepada pemakai
akhir untuk keperluan operasional. Gambar berikut menyebutkan proses pengembangan sistem
berbasis prototipe untuk aplikasi bisnis.
Memulai Proses Pengembangan Sistem
Langkah pertama dalam proses pengembangan sistem adalah System Investigation Stage
(tahap investigasi sistem). Tahap ini dapa melibatkan pertimbangan proposal yang dihasilkan dari
proses bisnis/TI. Tahap investigasi juga termasuk studi awal solusi sistem informasi yang
diusulkan
untuk
memenuhi
prioritas
bisnis
perusahaan
dan
peluang
seperti
yang
diidentifikasikan dalam proses perencanaan.
Studi Kelayakan
Feasibility Study (studi kelayakan) adalah studi awal untuk merumuskan informasi yang
dibutuhkan oleh pemakai akhir, kebutuhan sumber daya, biaya, manfaat, dan kelayakan proyek
yang diusulkan. Setelah itu tim praktisi bisnis dan ahli SI akan menyajikan temuan dari studi ini
dalam laporan tertulis yang mencakup spesifikasi awal dan rencana pengembangan untuk
5
aplikasi bisnis yang diusulkan. Jika pihak manajemen perusahaan menyetujui rekomendasi studi
kelayakan ini, maka proses pengembangan bisa dilanjutkan.
Jadi, tujuan diadakan studi kelayakan adalah untuk mengevaluasi solusi sistem alternatif
dan mengusulkan aplikasi bisnis yang paling layak dan paling
diinginkan untuk dikembangkan. Kelayakan usulan sistem bisnis dapat dievaluasi dala empat
kategori besar.
6
Organizational Feasibility (kelayakan organisasional) berfokus pada sebaik apakah dukungan
sistem yang diusulkan terhadap prioritas bisnis strategis organisasi. Economic Feasibility (kelayakan
ekonomi)
berhubungan
dengan
apakah
penghematan
biaya,
peningkatan
pendapatan,
peningkatan keuntungan, pengurangan investasi yang diperlukan, dan manfaat lain yang
diharapkan akan melebihi biaya pengembangan dan biaya operasional sistem yang diusulkan.
Sebagai conth, jika usulan sistem sumebr daya manusia tidak bisa menutupi biaya
pengembangannya, maka usulan itu tidak akan disetujui,kecuali dimandatkan oleh peraturan
pemerintah atau pertimbangan bisnis strategi. Yang terakhir adalah Operational Feasibility
(kelayakan operasional) adalah kemauan dan kemampuan manajemen, karyawan, pelanggan,
pemasok, dan pihak lain yang mengoperasikan, menggunakan, dan mendukung sistem yang
diusulkan.
Benefit Analysis (analisis manfaat). Analisis manfaat biasanya termasuk dalam studi kelayakan. Jika
biaya dan manfaat bisa dihitung, hal ini disebut berwujud (tangible), jika tidak bisa dihitung
disebut tak berwujud (intangible). Contoh biaya yang berwujud adalah biaya hardware dan
software, gaji karyawan dan biaya lain yang dapat dihitung dan dibutuhkan untuk
mengembangkan dan menerpkan solusi SI. Intangible Cost (biaya tak berwujud) adalah biaya yang
sulit diukur; biaya itu termasuk hilangnya niat baik pelanggan atau moral karyawan yang
disebabkan oleh kekeliruan dan gangguan instalasi sistem baru.
Tangible Benefit (manfaat berwujud) adalah hasil yang diharapkan; seperti penurunab biaya
gaji yang disebabkan oleh berkurangnya personel atau penurunan biaya persediaan yang
disebabkan oleh berkurangnya persediaan. Intangible Benefit (manfaat tak berwujud) lebih sulit
7
diperkirakan. Manfaat tak berwujud misalnya pelayanan pelanggan yang lebih baik atau lebih
cepat serta lebih akuratnya informasi untuk manajemen.
Analisis Sistem
Analisis sistem merupakan studi mendalam mengenai informasi yang dibutuhkan oleh pemakai
akhir yang menghasilkan Functional Requirement (persyaratan fungsiona) yang digunakan sebagai
dasar untuk desain sistem informasi baru. Analisis sistem secara tradisional melibatkan studi yang
rinci mengenai:

Informasi yang dibutuhkan oleh perusahaan dan pemakai akhir seperti anda sendiri.

Aktivitas, sumber daya, dan produk dari satu atau lebih sistem informasi yang saat ini
digunakan.

Kemampuan sistem informasi yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan informasi anda,
dan pemilik kepentingan bisnis lainnya yang mungkin menggunakan sistem ini.
Analisis Organisasional
Organizational Analysis (analisis organisasional) merupakan langkah pertama yang penting
dilakukan dalam analisis sistem. Karena itulah anggota tim pengembangan harus engetahui
8
tentang organisasinya, struktur manajemennya, orang-orangnya, aktivitas bisnisnya, sistem
lingkungan yang terkait, dan sistem informasi terbaru. Anggota tim harus mengetahui informasi
ini secara lebih rinci untuk unit bisnis tertentu atau kelompok kerja pemakai akhir yang akan
terpengaruh oleh sistem informasi yan baru atau yang diusulkan lebih baik. Karena itulah
pemakai akhir bisnis sering kali diikutsertakan dalam tim pengembangan sistem.
Analisis Sistem yang Ada
Sebelum anda mendesain sistem baru, anda perlu memepelajari sistem yang akan diingatkan atau
diganti. Anda perlu menganalisis bagaimana sistem ini menggunakan hardware, software,
jaringan, dan sumber daya manusia untuk mengubah sumebr data, seperti data transaksi ke
produk informasi, seperti laporan dan tampilan. Keudia anda harus mendokumentasikan
bagaimana aktivitas sistem informasi input, pemrosesan, output, penyimpanan, dan pengendalian
dilaksanakan.
Misalnya, anda ungkin mengevaluasi format, waktu, volume, dan kualitas aktiviats input dan
output. Aktivitas interface pemakai sangat vital untuk mengefektifkan interaksi antara pemakai
akhir dan sistem berbasis komputer. Kemudian, pada tahap desain sistem, Anda bisa
menspesifikasian sumber daya, produk, dan aktivitas apa yang harus mendukung interface
pemakai di dalam sistem yang sedang anda desain.
Analisis Persyaratan Fungsional
Langkah analisis sistem ini adalah salah satu dari yang paling sulit. Anda mungkin perlu bekerja
sebagai tim dengan analis SI dan pemakai akhir lainnya menentukan kebutuhan jenis informasi
apa yang dibutuhkan oleh setiap aktiviats bisnis; bagaimana formatnya, volumenya, dan
frekuensinya; serta waktu responsnya. Kedua, anda harus mencoba menentukan kemampuan
pemrosesan informasi yang dituhkan untuk setiap aktivitas sistem, seperti input, pemrosesan,
output, penyimpanan, pengendalian untuk memenuhi kebutuhan informasi ini. Tujuan utama
anda adalah menentukan apa yang harus dilakukan, bukan bagaiman melakukannya..
Yang terakhir, anda harus mencoba mengembangkan Functional Requirement (persyaratan
fungsional). Persyaratan fungsional merupakan persyaratan informasi pemakai akhir yang tidak
berkaitan dengan hardware, software, jaringan, data, dan sumber daya manusia yang saat ini
digunakan oleh pemakai akhir atau akan digunakan dalam sistem yang baru. Hal ini harus
ditentukan dalam tahap desain. Gambar berikut menunjukkan conth persyaratan fungsional
untuk susulan aplikasi bisnis e-commerce.
9
Desain Sistem
System Analysis (analisis sistem) mendeskripsikan apa yang harus dilakukan oleh sistem untuk
memenuhi kebutuhan informasi pemakai. System Design (desain sistem) menentukan bagaimana
sistem akan memenuhi tuuan tersebut. Desain sistem terdiri dari aktivitas desain yang
menghasilkan spesifikasi sistem yang memenuhi persyaratan fungsional yang dikembangkan
dalam proses analisis sistem.
Cara yang berguna untuk melihat desain sistem diilustrasikan dalam Gambra berikut. Konsep
ini berfokus pada tiga produk utama, atau deliverables yang harus dihasilkan dari tahap desain.
Dalam kerangka kerja ini, desain sistem terdiri dari tiga aktivitas; interface pemakai, data, dan
desain proses. Hal ini menghasilka spesifikasi yang sesuai dengan produk dan metode interface
pemakai, struktur database, serta pemrosesan dan prosedur pengendalian.
Desain Interface Pemakai
Mari kita lihat lebih dekat tentang desain inetrface pemakai, karena hal ini merupakan
komponen sistem yang terdekat dengan pemakai akhir bisnis, dan hal yang paling dapat
10
membantu desain. Aktivitas desain inetrface pemakai berfokus pada dukungan interaksi antara
pemakai akhir dan aplikasi berbasis komputer. Para perancang memfokuskan pada bentuk desain
yang menarik dan efisien dari input dan output pemakai, seperti halaman Web intranet dan
Internet yang mudah digunakan.
Seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, desain interface pemakai sering kali merupakan
proses pembuatan prototipe (prototyping), di mana model kerja atau prototipe metode interface
pemakai didesain dan dimodifikasi beberapa kali dengan tanggapan dari pemakai akhir. Proses
desain interface pemakai menghasilkan spesifikasi desain yang rinci untuk produk informasi
seperti layar tampilan, pemakai inetraktif/dialog komputer (termasuk juga urutan atau aliran
dialognya), respons audio, formulir, dokumen, dan laporan. Gambar dibawah memberikan contoh
elemen desain interface pemakai dan petunjuk lainnya untuk halaman Web multimedia dari situs
Web e-commerce.
Spesifikasi Sistem
System Spesification memformulasikan desain moe interface pemakai dan produk aplikasi, struktur
database, serta pemrosesan dan prosedur pengendalian. Oleh karena itu, perancang sistem akan
sering mengembangkan hardware, software, jaringan, data, dan spesifikasi personel untuk sistem
yang diusulkan. Gambar berikut menunjukkan contoh spesifikasi sistem yang bisa dikembangkan
untuk sistem e-commerce.
11
Pengembangan Pemakai Akhir
Dalam siklus pengembangan sistem tradisional, anda berperan sebagai pemakai akhir bisnis,
mirip seperti pelanggan atau klien. Biasanya, anda meinta sistem baru atau sistem yang lebih baik,
menjawab pertanyaan tentang kebutuhan informasi spesifik Anda dan masalah pemrosesan
informasi, dan menyediakan informasi mengenai sistem bisnis anda yang ada saat ini. Praktisi SI
bekerja dengan anda untuk menganalisis masalah anda dan menyarankan solusi alternatif. Saat
anda menyetujui elternatif terbaik, maka alternatif, maka alternatif itu didesain dan duterapkan.
Di sini anda mungkin terlibat lagi dalam proses desain prototipe atau menjadi tim
pengimplentasikan bersama dengan para ahli SI.
Akan tetapi, pada End User Development (pengembangan pemakai akhir), praktisi SI
memainkan peran sebagai konsultan, sementar anda melakukan pengembangan aplikasi anda
sendiri. Kadang-kadang staf dari konsultan pemakai siap membantu Anda dan pemakai akhir
lainnya dalam usaha pengembangan aplikasi anda. Bantuan ini mungkin termasuk pelatihan
penggunaan paket aplikasi; pemilihan hardware dan softare; dampingan untuk mendapat akses
ke database organisasi; dan, tentu saja, dampingan dalam menganalisis, mendesain, dan
mengimplementasikan aplikasi bisnis TI yang anda butuhkan.
12
Fokus Aktivitas SI
Perlu diingat bahwa pengembangan pemakai terakhir harus berfokus pada pemakai terakhir
harus berfokus pada aktivitas dasar dari sistem informasi, yaitu: input, pemrosesan, output,
penyimpanan, dan pengendalian.
Dalam menganalisis aplikasi potensial, Anda pertama-tama harus berfokus pada output yang
akan dihasilkan oleh aplikasi. Informasi apakah yang diperlukan dan bagaimana menyajikannya?
Berikut, lihat dan input yang akan dimasukkan ke aplikasi. Data apa yang tersedia? Dari sumebr
apa? Dalam bentuk apa? Kemudian Anda harus memeriksa persyaratan processing. Proses operasi
atau transaksi apa yang akan diperlukan untuk mengubah input yang ada menjadi output yang
diinginkan? Di antara pket software yang bisa digunakan oleh pengembang, paket manakah yang
paling baik dalam melakukan operasi yang dibutuhkan?
Penyesuaian pada output yang diinginkn atau mencari sumber tambahan data input, termasuk
data yang disimpan dalam file dan database dari sumber eksternal. Komponen Storage akan
bervariasi sesuai kepentingan aplikasi pemakai akhir. Misalnya, beberapa aplikasi memerlukan
13
penggunaan penyimpanan data yang sangat luas atau pembuatan data yang harus disimpan
untuk digunakan di masa yang akan datang. Hal ini lebih cocok untuk proyek pengembangan
manajemen database daripada aplikasi spreasheet.
Fungsi pengukuran kontrol untuk aplikasi pemakai akhir sangat bervariasi bergantung pada
ruang lingkup dan durasi aplikasi, jumlah dan sifat alami pemakai aplikasi, dan sifat alami dari
data yang terlibat. Sebagai contoh, pengukuran pengendalian diperlukan agar terlindung dari
hilangnya data secara mendadak atau kerusakan file pemakai akhir. Perlindungan yang paling
dasar untuk menjaga dari hilangnya data ialah dengan embuat salinan dari file aplikasi secara
berturut-turut dan sistematis. Contoh lainnya ialah fitur perlindungan sel spreasheet yang
melindungi sel utama jika pemakai secara tidak sengaja menghapusnya.
Melakukan Pengembangan Pemakai Akhir
Dalam pengembangan pemakai akhir, anda dan praktisi bisnis lainnya daat mengembangkan cara
baru atau cara yang lebih baik untuk melakukan tugas anda tanpa keterlibatan langsung dari ahli
SI. Kemampuan pengembangan aplikasi yang dibangun ada berbagai paket software pemakai
akhir telah menjadikannya lebih mudah digunakan bagi banyak pemakai untuk mengembangkan
solusi berbasis komputer. Gambar berikut mengilustrasikan alat pengembang situs Web yang bisa
digunakan untuk membantu anda mengembangkan, memperbarui, dan mengelola situs Web
intranet untuk unit bisnis Anda. Atau anda bisa menggunakan paket spreasheet elektronik sebagai
alat untuk mengembangkan cara mempermudah analisis hasil penjualan mingguan untuk manajer
penjualan di perusahaan. Atau anda bisa menggunakan paket pengembangan situs Web untuk
mendesain halaman Web untuk toko Web bisnis kecil atau situs Web intranet departemen.
14
B. MENGIMPLEMENTASIKAN SISTEM BISNIS
Mengimplementasikan Sistem Baru
Gambar berikut mengilustrasikan bahwa tahap System Implementation (implementasi sistem)
melibatkan pemerolehan hardware, dan software, pengembangan softare, pengujian program dan
prosedur, konversi sumber data, dan ebrbagai alternatif konversi. Hal ini juga elibatkan
pendidikan dan pelatihn pemakai akhir dan para ahli yang akan menjalankan sistem yang baru
tersebut.
Implemenatsi dapat menjadi proses yang sulit dan memerlukan banyak waktu. Akan tetapi,
hal ini vital dalam memastikan kesuksesan sistem yang baru dikembangkan, karena meskipun
sistem tersebut didesain dengan baik, sistem tersebut akan gagal jika tidak diimplementasikan
dengan baik. Oleh sebab itu, proses implementasi biasanya memerlukan usaha Project Management
15
dari para manajer unit bisnis. Mereka harus mendukung rencana proyek yang mencakup
tanggung jawab kerja, jadwal tahap-tahap utama dari pengembangan, dan anggaran keuangan.
Hal ini pentinguntuk memastikan bahwa proyek diselesaikan tepat waktu dan sesuai dengan
anggaran yang ditetapkan, sambil tetap memenuhi tujuan desain.
Metode Konversi
Operasi awal dari sistem bisnis yang baru, dapat menjadi tugas yang sulit. Hal ini biasanya
memerlukan proses conversion dari penggunaan sistem yng ada saat ini ke operasi aplikasi yang
baru atau yang lebih baik. Metode konversi dapat mempermudah pengenalan teknologi informasi
yang baru ke dalam organisasi.
16
Empat bentuk utama dari konversi sistem diilustrasikan pada Gambar berikut, yang mencakup:

Konversi paralel

Konversi bertahap (phased)

Konversi percontohan (pilot)

Konversi langsung
Konversi langsung dapat dilakukan secara bertahap, di mana hanya bagian-bagian dari aplikasi
yang baru atau hanya beberapa departemen, kantor cabang, atau lokasi pabrik yang dikonversi
terlebih dahulu. Konversi bertahap memungkinkan proses implementasi secara bertahap di
organisasi. Manfaat yang sama diperoleh dari penggunaan konversi percontohan, di mana satu
departemen atau suatu tempat kerja menjadi tempat percobaab. Sistem yang baru dapat
diujicobakan di tempat tersebut hingga para pengembang merasa bahwa sistem tersebut dapat
diimplementasikan di seluruh organisasi.
Pemeliharaan SI
Setelah sistem diimplementasikan secara penuh dan digunakandalam operasional bisnis, fungsi
pemeliharaan dimulai. System Maintenance (pemeliharaan sistem) adalah pengawasan, evaluasi,
dan modifikasi sistem bisnis operasional untuk menghasilkan perbaikan yang lebih diinginkan
17
atau perlu. Mislanya, implementasi sistem yang baru biasanya menghasilkan fenomena yang
disebut Learning Curve (kurva belajar). Personel yang mengoperasikan dan menggunakan sistem
ini akan membuat kesalahan karena mereka tidak terbiasa menggunakannya. Meskipun kesalahan
seperti ini biasanya hilang setelah memperoleh pengalaman dengan sistem yang baru, hal ini
menunjukkan hal-hal yang harus diperbaiki oleh sistem tersebut.
Pemeliharaan juga perlu untuk kegagalan dan masalah lainnya yang muncul selama
operasional sistem. Pemakai akhir dan personel sistem informasi kemudian melakukan fungsi
pemecahan masalah untuk menentukan penyebab dan solusi atas masalah-masalah tersebut.
Aktivitas pemeliharaan mencakup Postimplementation Review (tinjuan pascaimplementasi)
untuk memastikan bahwa sistem yang baru diimplementasikan memenuhi tujuan bisnis yang
ditetapkan. Kesalahan dalam pengembangan atau tinjauan berkala atau audit sistem untuk
memastikan bahwa sistem berjalan dengan benar dan memenuhi tujuannya. Audit ini merupakan
tambahan dari pengawasan terus menerus terhadap sistem untuk melihat masalah potensial atau
perubahan yang diperlukan.
Pemeliharaan juga mencakup modifikasi terhadap sistem yang telah dibentuk karena
perubahan dalam organisasi bisnis atau lingkungan bisnis. Misalnya, peraturan pajak yang baru,
penyusunan ulang organisasi perusahaan, dan inisiatif e-business dan e-commerce yang baru dapat
memerlukan perubahan besar terhadap sistem bisnis yang ada saat ini.
Mengelola Perubahan Organisasional
Implementasi strategi bisnis/TI yang baru memerlukan pengelolaan pengaruh perubahan utama
dalam dimensi organisasi kunci seperti proses bisnis, struktur organisasi, peran manajerial,
penugasan kerja karyawan, dan hubungan di antara pemilik kepentingan yang muncul dari
penyebaran sistem informasi bisnis yang baru. Gambar berikut menekankan jenis-jenis dan
luasnya tantangan yang dilaporkan oleh 100 perusahaan yang mengembangkan dan
mengimplemenatsikan portal informasi perusahaand an sistem ERP yang baru .
18
Keterlibatan dan Resistensi Pemakai Akhir
Salah satu kunci untuk menyelesaikan masalah End User Resistance (resistensi pemakai akhir)
terhadap teknologi informasi yang baru adlaah pendidikan dan pelatihan yang memadai. Bahkan,
yang lebih penting lagi adalah End User Involvement (keterlibatan pemakai akhir) dalam perubahan
organisasi, dan dalam pengembangan sistem informasi yang baru. Organisasi memiliki berbagai
strategi untuk membantu mengelola perubahan bisnis, dan satu persyaratan dasarnya adalah
keterlibatan dan komitmen manajemen puncak dan semua pihak yang berkepentingan dengan
perusahaan yang dipengaruhi oleh aplikasi bisnis yang baru.
Partisipasi pemakai akhir secara langsung dalam perencanaan bisnis dan proyek
pengembangan aplikasi sebelum sistem yang baru diimplemenatsikan penting dalam mengurangi
potensi resistensi pemakai akhir. Oleh sebab itu, pemakai akhir biasanya adalah anggota tim
pengembangan sistem atau melakukan pekrjaan pengembangan mereka sendiri. Gambar berikut
mengilustrasikan beberapa hambatan utama terhadap sistem manajemen pengetahuan dalam
bisnis.
Manajemen Perubahan
Orang adalah fokus utama dari Change Management organisasi. Ini mencakup aktivitas seperti
pengembangan cara yang inovatif untuk mengukur, memotivasi, dan memberi penghargaan atas
kinerja.

Libatkan orang sebanyak mungkin dalam perencanaan bisnis/TI dan pengembangan aplikasi.

Buat perubahan konstan menjadi bagian yang diharapkan dari budaya.
19

Beritahukan ke setiap orang sebanyak mungkin mengenai segala sesuatu
mungkin, sebaiknya secara pribadi.

Berikan insentif keuangan dan pengakuan.

Bekerjalah di dalam budaya perusahan, bukan di sekitarnya.
20
sesering
MATERI
TAMBAHAN
21
Sistem Informasi Manajemen
BAB IV
PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI
Tujuan Pemelajaran Khusus:
Setelah mempelajari bab ini, diharapkan peserta diklat mampu untuk :
1. Menjelaskan pendekatan dan model yang digunakan dalam pengembangan sistem
informasi.
2. Menguraikan dan menjabarkan proses pengembangan perangkat keras dan
perangkat lunak untuk merancang sistem informasi.
3. Memahami jangka waktu yang dibutuhkan untuk pengembangan sistem informasi.
A.
Pendahuluan
Pengembangan sistem informasi manajemen dilakukan melalui beberapa
tahap, dimana masing-masing langkah menghasilkan suatu yang lebih rinci
dari tahap sebelumnya. Tahap awal dari pengembangan sistem umumnya
dimulai
dengan
mendeskripsikan
kebutuhan
pengguna
dari
sisi
pendekatan sistem rencana stratejik yang bersifat makro, diikuti dengan
penjabaran rencana stratejik dan kebutuhan organisasi jangka menengah
dan jangka panjang, lazimnya untuk periode 3 sampai 5 tahun. Masukan
(input) utama yang dibutuhkan dalam tahap ini mencakup:
•
Kebutuhan stratejik organisasi
•
Aspek legal pendukung organisasi
•
Masukan kebutuhan dari pengguna
Sistem stratejik dijabarkan dalam:
1. Visi dan Misi; Strategi pengembangan sistem membutuhkan keputusan
politis dari pimpinan tertinggi yang telah dijabarkan dalam strategi
aktivitas organisasi.
Pusdiklatwas BPKP- 2007
49
Sistem Informasi Manajemen
2. Analisis Tugas Pokok dan Fungsi Organisasi dan kompetensi yang
dimiliki. Analisis Tupoksi akan mengarah pada seberapa jauh
pencapaian kinerja organisasi dapat dicapai, dengan menggunakan
trend-trend penting, risiko-risiko yang harus dihadapi dan potensi
peluang yang dimiliki (menggunakan analisis SWOT).
Analisa kompetensi akan memberikan gambaran yang lengkap
mengenai efektivitas organisasi yang dapat dilihat dari 4 hal yaitu:
sumberdaya,
infrastruktur,
produk
layanan/jasa
dan
kepuasan
pelanggan/ masyarakat yang dilayani.
B.
Model-Model Pengembangan Sistem
Pendekatan suatu pengembangan sistem yang sederhana, lebih dikenal
sebagai model air terjun (waterfall model). Model air terjun ini
mendeskripsikan alur proses pengembangan sistem informasi seperti
tampak pada Gambar 4 – 1 di bawah ini.
Gambar 4 - 1
Pusdiklatwas BPKP- 2007
50
Sistem Informasi Manajemen
Pekerjaan pengembangan sistem dengan model air terjun dimulai dengan
pembuatan spesifikasi kebutuhan suatu sistem. Pekerjaan ini biasanya
dilakukan oleh orang yang memesan sistem atau pengembang yang
bekerja sama dengan pemesannya. Setelah spesifikasi kebutuhan ini
selesai, lantas dilakukanlah suatu analisis dan deskripsi logika sistem.
Atau, analisis dan deskripsi logika sistem dibuat secara bersama-sama
dengan spesifikasi kebutuhan.
Rancangan sistem kemudian diselesaikan dan diikuti dengan implementasi
modul yang lebih kecil. Modul-modul ini pertama-tama diuji secara
sendiri-sendiri dan kemudian secara hersama-sama. Ketika pengujian
integrasi terakhir telah diselesaikan, keseluruhan sistem dapat diserahkan
ke pemakai serta dimulailah tahap pemeliharaan.
Model air terjun ini memberi penekanan bahwa seseorang harus
menyelesaikan suatu tahap sebelum masuk ke tahap berikutnya. Model
air terjun ini telah memberikan pengaruh besar pada metode rekayasa
perangkat lunak. Model ini sebenarnya tidak pernah dimaksudkan untuk
dilaksanakan secara kaku pada saat pertama kali diperkenalkan. Akan
tetapi, belakangan disadari bahwa model air terjun ini harus direvisi agar
benar-benar menggambarkan siklus pengembangan sistem.
Problem utama model air terjun ini dalam kebanyakan kasus adalah pada
tahap
pemeliharaan.
Dalam
kenyataannya,
tahap
pemeliharaan
mengandung juga spesifikasi kebutuhan, analisis, dan perancangan baru
berikutnya Karena itu, berbagai model baru dikembangkan untuk
menggambarkan kenyataan tersebut Diantara berbagai model yang ada,
model yang paling populer adalah model spiral. Model spiral dapat
menggambarkan bagaimana suatu versi dapat dikembangkan secara
bertingkat (incremental), seperti tampak pada Gambar 4 – 2.
Pusdiklatwas BPKP- 2007
51
Sistem Informasi Manajemen
Gambar 4 - 2
Di samping itu, R. Eko Indrajit di dalam bukunya “Manajemen Sistem
Informasi dan Teknologi Informasi”, menyatakan bahwa pengembangan
sistem informasi
dapat dikategorikan dalam tiga kelompok besar.
Kelompok pertama adalah proyek yang bersifat pembangunan jaringan
infrastruktur teknologi informasi (mulai dari pengadaan dan instalasi
komputer sampai dengan perencanaan dan pengembangan infrastruktur
jaringan LAN dan WAN).
Kelompok kedua adalah implementasi dari paket program aplikasi yang
dibeli di pasaran dan diterapkan di perusahaan, mulai dari perangkat
lunak kecil seperti produk-produk ritel Microsoft sampai dengan aplikasi
terintegrasi yang berbasis teknologi tinggi.
Kelompok ketiga adalah perencanaan dan pengembangan aplikasi yang
dibuat sendiri secara khusus (customized software), baik oleh internal
organisasi maupun kerja sama dengan pihak luar, seperti konsultan dan
software house.
Pusdiklatwas BPKP- 2007
52
Sistem Informasi Manajemen
C.
Tahap-tahap Pengembangan Sistem
Lepas dari perbedaan karakteristik yang melatarbelakangi ketiga jenis
pengembangan tersebut, secara garis besar ada enam tahap yang biasa
dijadikan sebagal batu pijakan atau model dalam melaksanakan aktivitas
pengembangan tersebut, yaitu: perencanaan, analisis, desain, konstruksi,
implementasi, dan pascaimplementasi seperti digambarkan pada diagram
Gambar 4 – 3 di bawah ini.
Gambar 4 - 3
Pusdiklatwas BPKP- 2007
53
Sistem Informasi Manajemen
1. Tahap Perencanaan
Tahap ini merupakan suatu rangkaian kegiatan sejak ide pertama yang
melatarbelakangi
pelaksanaan
pengembangan
sistem
tersebut
dilontarkan. Dalam tahap perencanaan pengembangan sistem harus
mendapatkan perhatian yang sama besarnya dengan merencanakan
proyek-proyek
besar
lainnya,
seperti
perencanaan
pengadaan
perangkat jaringan teknologi informasi (TI), rencana membangun
gedung kantor 15 tingkat.
Keuntungan-keuntungan yang diperoleh jika proyek pengembangan
sistem informasi direncanakan secara matang, mencakup:
-
Ruang lingkup proyek dapat ditentukan secara jelas dan tegas. Unit
organisasi, kegiatan ataun sistem yang mana yang akan dilibatkan
dalam pengembangan ini? unit mana yang tidak dilibatkan?
Informasi ini memberikan perkiraan awal besarnya sumber daya
yang diperlukan.
-
Dapat mengidentifikasi wilayah/area permasalahan potensial.
Perencanaan akan menunjukkan hal-hal yang mungkin bisa terjadi
suatu kesalahan, sehingga hal-hal demikian dapat dicegah sejak
awal.
-
Dapat mengatur urutan kegiatan. Banyak sekali tugas-tugas
terpisah dan harus berjalan secara bersamaan/paralel yang
diperlukan untuk pengembangan sistem. Tugas-tugas ini diatur
dalam urutan logis berdasarkan prioritas informasi dan kebutuhan
untuk efisiensi.
-
Tersedianya sarana pengendalian. Tingkat pengukuran kinerja
harus dipertegas sejak awal.
Pusdiklatwas BPKP- 2007
54
Sistem Informasi Manajemen
Komite Pengarah
7.
Manajer
1.
Timbul Masalah
2.
Identifikasi
Masalah
3.
Menetapkan
tujuan sistem
4.
Identifikasi
kendala sistem
Sistem Analis
Konsultasi
5.
Membuat Studi
Kelayakan
6.
Merancang usulan
penelitian sistem
Menyetujui atau menolak proyek
pengembangan sistem
8.
Menetapkan mekanisme pengendalian
Gambar 4 - 3 merupakan model grafik pada tahap perencanaan
pengembangan sistem, sedangkan gambar diatas ini memperlihatkan
tiap langkah yang harus ditempuh dan mengidentifikasikan tanggung
jawab pihak-pihak yang terlibat dalam pengembangan sistem, mulai
dari Komite Pengarah SIM, para manajer pengguna dan para sistem
analis. Pada tahap awal pengembangan sistem, sistem analis bertindak
sebagai spesialis informasi yang bertanggungjawab untuk bekerja
sama dengan pengguna. Anggota tim lainnya, seperti pengelola
Pusdiklatwas BPKP- 2007
55
Sistem Informasi Manajemen
database dan spesialis jaringan, berperan sebagai pendukung.
Kegiatan-kegiatan dalam tahap perencanaan di sini, meliputi antara
lain:
a. Perumusan awal terhadap kebutuhan rinci atau target yang harus
dicapai dari proyek pengembangan sistem yang akan dilakukan.
b. Penyusunan proposal.
c. Penentuan metodologi dan sistem informasi yang digunakan.
d. Penunjukan tim untuk proyek yang akan dilaksanakan.
e. Instruksi untuk mengeksekusi (memulai) proyek yang bersangkutan
f. Identifikasi kendala-kendala sistem.
Ada dua pihak yang terlibat langsung dalam perencanaan ini, yaitu
pihak yang membutuhkan sistem informasi dan pihak yang akan
melakukan perancangan atau penyusunan sistem informasi.
Keluaran (output) yang harus dihasilkan dalam tahap ini adalah jadwal
detail dari kelima tahapan berikutnya (khusunya yang menyangkut
masalah waktu untuk penyelesaian), target yang dapat disampaikan,
personil yang bertanggung jawab, aspek-aspek keuangan, dan hal-hal
lain yang berkaitan dengan pendayagunaan sumber daya yang
dipergunakan dalam proyek.
2. Tahap Analisis
Ada dua aspek yang menjadi fokus tahap ini, yaitu aspek bisnis atau
manajemen dan aspek teknologi. Analisis aspek bisnis mempelajari
karakteristik organisasi yang bersangkutan. Tujuan dilakukannya
langkah ini adalah untuk mengetahui posisi atau peranan teknologi
informasi
yang
paling
sesuai
dan
relevan
di
organisasi
dan
mempelajari fungsi-fungsi manajemen dan aspek-aspek bisnis terkait
Pusdiklatwas BPKP- 2007
56
Sistem Informasi Manajemen
yang akan berpengaruh atau memiliki dampak tertentu terhadap
proses desain, konstruksi, dan implementasi.
Selama tahap analisis, sistem analis terus bekerjasama dengan
manajer, dan komite pengarah SIM terlibat dalam titik-titik yang
penting mencakup kegiatan sebagai berikut:
a. Menetapkan rencana penelitian sistem
b. Mengorganisasikan tim proyek
c. Mendefinisikan kebutuhan informasi
d. Mendefinisikan kriteria kinerja sistem
e. Menyiapkan usulan rancangan sistem
f. Menyetujui atau menolak rancangan proyek pengembangan sistem
Keluaran dari proses analisis di kedua aspek ini adalah masalahmasalah penting yang harus segera ditangani, analisis penyebab dan
dampak
permasalahan
bagi
organisasi,
beberapa
kemungkinan
skenario pemecahan masalah dengan kemungkinan dan dampak risiko
serta potensinya, dan pilihan alternatif solusi yang direkomendasikan.
3. Tahap Perancangan/Desain
Pada tahap ini, tim teknologi informasi bekerja sama dengan tim
bisnis atau manajemen melakukan perancangan komponen-komponen
sistem terkait. Tim teknologi informasi akan melakukan perancangan
teknis dari teknologi informasi yang akan dibangun, seperti sistem
basis data, jaringan komputer, teknik koversi data, metode migrasi
sistem, dan sebagainya.
Sementara itu, secara paralel dan bersama-sama tim bisnis atau
manajemen, dan tim teknologi informasi akan melakukan perancangan
terhadap komponen-komponen organisasi yang terkait, seperti:
Pusdiklatwas BPKP- 2007
57
Sistem Informasi Manajemen
standard operating procedures (SOP), struktur organisasi, kebijakankebijakan, teknik pelatihan, pendekatan SDM, dan sebagainya.
Langkah-langkah tahap rancangan sistem mencakup:
a. Menyiapkan detail rancangan sistem
b. Mengidentifikasi berbagai alternatif konfigurasi/rancang banun
sistem
c. Mengevaluasi berbagai alternatif konfigurasi sistem
d. Memilih konfigurasi terbaik
e. Menyiapkan usulan penerapan/aplikasi
f. Menyetujui atau menolak aplikasi sistem
4. Tahap Pembangunan Fisik/Konstruksi
Berdasarkan desain yang telah dibuat, konstruksi atau pengembangan
sistem yang sesungguhnya (secara fisik) dibangun. Tim teknis
merupakan tulang punggung pelaksanaan tahap ini, mengingat semua
hal yang bersifat konseptual harus diwujudkan dalam suatu konstruksi
teknologi informasi dalam skala yang lebih detail.
Dari semua tahapan yang ada, tahap konstruksi inilah yang biasanya
paling banyak melihatkan sumber daya terbesar, terutama dalam hal
penggunaan
SDM,
biaya,
dan
waktu.
Pengendalian
terhadap
manajemen proyek pada tahap konstruksi harus diperketat agar
penggunaan sumber daya dapat efektif dan efisien. Bagaimanapun,
hal ini akan berdampak terhadap keberhasilan proyek sistem informasi
yang diselesaikan secara tepat waktu. Akhir dari tahap konstruksi
biasanya
berupa
uji
coba
atas
sistem
informasi
yang
baru
dikembangkan.
Pusdiklatwas BPKP- 2007
58
Sistem Informasi Manajemen
5. Tahap Implementasi
Tahap implementasi merupakan tahap yang paling kritis karena untuk
pertarna kalinya sistem informasi akan dipergunakan di dalam
organisasi. Ada berbagai pendekatan untuk implementasi sistem yang
baru didesain. Pekerjaan utama dalam implementasi sistem biasanya
mencakup hal-hal sebagai berikut:
a. Merencanakan waktu yang tepat untuk implementasi
b. Mengumumkan rencana implementasi
c. Mendapatkan sumberdaya perangkat keras dan lunak
d. Menyiapkan database
e. Menyiapkan fasilitas fisik
f. Memberikan pelatihan dan workshop
g. Menyiapkan saat yang tepat untuk cutover (peralihan sistem)
h. Penggunaan sistem baru
Pemberian pelatihan (training) harus diberikan kepada semua pihak
yang terlibat sebelum tahap implementasi dimulai. Selain untuk
mengurangi risiko kegagalan, pemberian pelatihan juga berguna untuk
menanamkan
rasa
memiliki
terhadap
sistem
baru
yang
akan
diterapkan. Dengan cara ini, seluruh jajaran pengguna akan dengan
mudah menerima sistem tersebut dan memeliharanya dengan balk di
masa-masa mendatang
6. Tahap Pasca Implementasi
Pengembangan sistem informasi biasanya diakhiri setelah tahap
implementasi dilakukan. Namun, ada satu tahapan lagi yang harus
dijaga
dan diperhatikan oleh manajemen, yaitu tahap pasca
Pusdiklatwas BPKP- 2007
59
Sistem Informasi Manajemen
implementasi. Kegiatan yang dilakukan di tahap pasca implementasi
adalah bagaimana pemeliharaan sistem akan dikelola.
Seperti halnya sumber daya yang lain, sistem informasi akan
mengalami perkembangan di kemudian hari. Hal-hal seperti modifikasi
sistem, berpedoman ke sistem lain, perubahan hak akses sistem,
penanganan terhadap fasilitas pada sistem yang rusak, merupakan
contoh dari kasus-kasus yang biasanya timbul dalam pemeliharaan
sistem.
Disinilah
diperlukan
dokumentasi
yang
memadai
dan
pemindahan pengetahuan dari pihak penyusun sistem ke pengguna
untuk menjamin terkelolanya dengan baik proses-proses pemeliharaan
sistem.
Dari perspektif manajemen, tahap pasca-implementasi adalah berupa
suatu aktivitas di mana harus ada personil atau divisi yang dapat
melakukan perubahan atau modifikasi terhadap sistem informasi
sejalan dengan perubahan kebutuhan bisnis yang dinamis.
D.
Durasi untuk Pengembangan Sistem
Sebagaimana sudah dijelaskan, pengembangan sistem informasi meliputi
tahap-tahap yang telah diuraikan sebelum ini, dimana pengembangan
sistem selalu terjadi secara inkremental. Pengembangan sistem baru
biasanya diawali dari suatu ketidakjelasan. Dari berbagai model
pengembangan yang ada, kita harus menggunakan model pengembangan
yang dapat membantu kita untuk mencapai proses pengembangan yang
mantap. ldealnya, untuk mencapai maksud tersebut, kita seharusnya
bekerja cukup lama dalam tahap analisis, untuk memahami sistem secara
keseluruhan. Akan tetapi, di tahap ini kita tidak boleh terlalu lama
membahas hal-hal rinci yang sebenarnya akan dimodifikasi dalam tahap
berikutnya, yaitu perancangan. Dengan kata lain, sebenarnya, secara
Pusdiklatwas BPKP- 2007
60
Sistem Informasi Manajemen
relatif sebagian besar waktu yang kita curahkan dalam pengembangan
sistem adalah pada tahap analisis.
Gambar 4 - 4
Dalam pengembangan sistem, pada awalnya hanya sedikit saja SDM yang
terlibat, yaitu dalam tahap analisis dan perancangan. Aktivitas ini
biasanya dilakukan secara berulang. Ketika struktur sistem semakin
mantap, semakin banyak SDM dilihatkan dalam implementasi dan
pengujian. Namun, sering kali terjadi, aktivitas analisis dan perancangan
terjadi juga ketika pengujian dilakukan. Pada tahap ini, perubahan
penting dalam analisis dan perancangan harus dilakukan.
E.
Metode Pengembangan Perangkat Lunak
Metode-metode pengembangan perangkat lunak yang ada pada dasarnya
dapat dibagi menjadi dua, yaitu metode fungsi/data (function data
methods) dan metode berorientasi objek (object-oriented methods).
Pada intinya, metode fungsi/data memberlakukan fungsi dan data secara
terpisah. Motode berorientasi objek memberlakukan fungsi dan data
secara ketat sebagai satu kesatuan.
Pusdiklatwas BPKP- 2007
61
Sistem Informasi Manajemen
Metode fungsi/data membedakan fungsi dan data. Fungsi, pada
prinsipnya, adalah aktif dan memiliki perilaku, sedangkan data adalah
pemegang informasi pasif yang dipengaruhi oleh fungsi. Sistem biasanya
dipilah menurut fungsi, di mana data dikirim di antara fungsi-fungsi
tersebut. Fungsi kemudian dipilah lebih lanjut dan akhirnya diubah
menjadi kode sumber (program komputer).
Sistem yang dikembangkan dengan metode fungsi/data sering sulit
pemeliharaannya. Problem utama dengan metode fungsi/data adalah
bahwa seluruh fungsi harus paham bagaimana data disimpan. Dengan kata
lain, fungsi harus paham struktur datanya. Seringkali, dalam hal-hal
tertentu, tipe data yang berbeda memiliki format data yang sangat
berbeda. Problem lain dalam metode fungsi/data adalah bahwa manusia
secara alami tidak berfikir secara terstruktur. Dalam kenyataannya,
spesifikasi kebutuhan biasanya diformulasikan dalam bahasa manusia.
Metode berorientasi-objek mencoba menstrukturkan sistem dari itemitem yang ada dalam domain masalah. Metode ini biasanya sangat stabil
dan perubahannya sangat sedikit Perubahan yang terjadi biasanya
mempengaruhi hanya satu atau sedikit hal tertentu, yang artinya
perubahan yang dibuat hanya terjadi secara lokal di sistem.
Pusdiklatwas BPKP- 2007
62
Sistem Informasi Manajemen
Soal Latihan
1.
Uraikanlah model-model pengembangan sistem informasi yang ada?
2.
Uraikanlah tahap-tahap pengembangan sistem informasi tradisional!
3.
Jelaskanlah apa yang biasanya dikerjakan dalam tahap konstruksi!
4.
Ditahap apakah biasanya dilakukan kegiatan pemrograman (coding)?
5.
Pada tahap apa paling banyak waktu dibutuhkan untuk pengembangan
sistem?
6.
Apakah
yang
membedakan
pendekatan
metode
fungsi/data
bila
dibandingkan dengan metode yang berorientasi objek?
Diskusi Kasus
Guna memperlancar proses Pengolahan Data Elektronik (PDE ) Kabupaten Kota
Idaman
telah mengidentifikasi dan menginventarisir sistim informasi yang
bernilai strategis yang dibutuhkan oleh Pemerintah Kabupaten Kota Idaman,
yang
nantinya
digunakan
untuk
mempelancar
dan
mempermudah
pengaksesasan data yang cepat, akurat, tepat dan up to date. Adapun sistem
informasi yang telah dikembangkan dan digunakan Kantor Pengolahan Data,
untuk Pemerintahan Kabupaten Kota Idaman adalah sebagai berikut:
1 Simpeg ( Sistem Informasi Manajemen Pegawai )
Pusdiklatwas BPKP- 2007
63
Sistem Informasi Manajemen
Sistem Informasi Manajemen Pegawai merupakan program yang berguna untuk
mendukung pengarsipan data-data bidang kepegawaian, saat ini Kantor
Pengolahan Data Elektronik Kabupaten Kota Idaman sejak bulan Januari
sampai dengan Desember 20X7 telah menghimpun ±2.765 data pegawai di
Lingkungan Pemerintah Kabupaten Kota Idaman.
Berdasarkan informasi di atas jika Saudara diminta untuk merancang
pengembangan Simpeg di lingkungan instansi Saudara, susunlah informasi dan
kebutuhan apa saja yang harus ada dan perlu dikembangkan dalam
pengembangan Simpeg tersebut.
Pusdiklatwas BPKP- 2007
64
Fly UP