...

Profil Protein Total, Albumin, Globulin dan Rasio Albumin Globulin

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Profil Protein Total, Albumin, Globulin dan Rasio Albumin Globulin
Irfan et al. Profil protein total, albumin, globulin dan rasio albumin globulin sapi pejantan
Profil Protein Total, Albumin, Globulin dan Rasio Albumin Globulin Sapi
Pejantan
Irfan IZ1, Esfandiari A2, Choliq C2
1
Pasca Sarjana Ilmu Biomedis Hewan, IPB
Departemen Klinik, Reproduksi dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB
E-mail: [email protected]
2
(Diterima 29 Maret 2014 ; disetujui 17 Juni 2014)
ABSTRAK
Irfan IZ, Esfandiari A, Choliq C. 2014. Profil protein total, albumin, globulin dan rasio albumin dan globulin sapi pejantan bibit.
JITV 19(2): 123-129. DOI: http://dx.doi.org/10.14334/jitv.v19i2.1040
Penentuan konsentrasi protein serum total dan fraksi utamanya (albumin dan globulin) dapat digunakan sebagai alat
diagnostik yang penting dalam biokimia klinis. Beberapa faktor dapat mempengaruhi konsentrasi total protein, albumin, globulin
dan rasio albumin globulin (A/G). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh profil protein serum, albumin, globulin
dan rasio A/G sapi pejantan berdasarkan bangsa, umur dan BCS (Body Condition Score) yang berbeda. Sampel darah dari 160
sapi pejantan telah dikoleksi. Kimia darah dianalisis dengan prinsip fotometer menggunakan kit komersial. Bangsa berpengaruh
nyata (P<0,001) pada konsentrasi protein total, albumin, globulin dan rasio A/G. Umur berpengaruh nyata (P<0,001) pada
konsentrasi protein total dan albumin, juga berpengaruh nyata (P<0,05) pada konsentrasi globulin dan rasio A/G. BCS
berpengaruh nyata (P<0,05) hanya pada konsentrasi albumin. Konsentrasi protein total, albumin dan globulin dalam serum dari
sapi jantan bibit lebih tinggi bila dibandingkan dengan referensi standar untuk sapi, sedangkan rasio A/G lebih rendah.
Kata Kunci: Profil Protein Serum, Sapi, Bangsa, Umur, Body Condition Score
ABSTRACT
Irfan IZ, Esfandiari A, Choliq C. 2014. Profile of total protein, albumin, globulin, and albumin globulin ratio in bulls. JITV
19(2): 123-129. DOI: http://dx.doi.org/10.14334/jitv.v19i2.1040
Determination of serum total protein concentration and main fractions (albumin and globulin) can be used as an important
diagnostic tool in clinical biochemistry. Several factors can affect the concentration of total protein, albumin, globulin and
albumin globulin ratio (A/G). The aim of this study is to obtain serum protein profiles, albumin, globulin and A/G ratio based on
breed, age and BCS (body condition score). Blood samples from 160 bulls were collected. Blood chemistry were analyzed by
photometer principle using a commercial kit. There were significant (P<0.001) breed variation on total protein, albumin,
globulin and albumin globulin ratio. Significant age differences were observed on total protein and albumin concentration
(P<0.001), while globulin concentration and A/G ratio were also significant (P<0.05). Amongs groups of BCS, significant
difference was verified only in the albumin concentration (P<0.05). The concentration of total proteins, albumins and globulins
in the serum of the bulls are higher than standard values for cattle, while A/G ratio is lower.
Key Words: Serum Protein Profiles, Bulls, Breed, Age, Body Condition Score
PENDAHULUAN
Penggunaan parameter biokimia klinis dalam
kedokteran hewan sangat sering dilakukan untuk
kepentingan diagnosa dan pengobatan suatu penyakit
(Nozad et al. 2012; Lager & Jordan 2012). Beberapa uji
biokimia darah dan cairan tubuh lainnya pada hewan
ternak dapat digunakan untuk menjelaskan mekanisme
terjadinya penyimpangan, memberikan gambaran
kondisi kesehatan, status metabolik dan membantu
menegakkan diagnosa, sehingga dapat diberikan
penanganan yang sesuai (Stojevic et al. 2008).
Menurut Payne & Payne (1987) dan Nozad et al.
(2012), uji profil metabolik (Metabolic Profile
Test/MPT) dapat digunakan untuk memeriksa status
nutrisi dan metabolik ternak secara individu maupun
kelompok. Metabolic Profile Test pertama kali
dilakukan di Compton, Inggris pada dekade 70-an.
Sejak saat itu berbagai peralatan uji otomatis dan kit
enzim untuk pemeriksaan kandungan serum maupun
darah di produksi dan digunakan secara luas di berbagai
tempat. Pemeriksaan darah mempunyai nilai lebih
apabila digunakan secara tepat dalam proses
membantu menegakkan diagnosa atau menjadi bagian
dalam program monitoring penyakit metabolik (Lager
& Jordan 2012).
Mohamed et al. (2004) dan Oetzel (2004)
menyatakan bahwa analisis metabolit darah apabila
123
JITV Vol. 19 No 2 Th. 2014: 123-129
dihubungkan dengan monitoring kesehatan dan nutrisi
dapat mengungkap adanya gangguan yang bersifat
subklinis dan dapat membantu menemukan kausanya.
Uji ini dalam perkembangannya menunjukkan adanya
variasi komposisi kimia darah yang signifikan antar
spesies, bangsa, jenis kelamin dalam satu bangsa ternak
(Stojevic et al. 2008), umur (Addas et al. 2010) dan
dipengaruhi pula oleh faktor-faktor lain seperti asal
hewan, manajemen, geografis, tahap perkembangan
hewan (Ali 2008) dan iklim (Ali 2008; Lager & Jordan
2012).
Salah satu panel pemeriksaan profil metabolik
adalah pemeriksaan protein total beserta fraksi
utamanya (albumin dan globulin). Proteinogram
merupakan uji tambahan yang penting, membantu
untuk biokimia klinis, dan merupakan salah satu metode
yang paling dapat diandalkan untuk identifikasi protein
darah (Franca et al. 2011). Peningkatan atau penurunan
konsentrasi protein total dianggap sebagai suatu
abnormalitas. Peningkatan atau penurunannya dalam
sirkulasi darah dipengaruhi oleh konsentrasi albumin
atau globulin atau keduanya (Lassen 2005). Menurut
Kaneko (1997), penentuan konsentrasi protein total
serum dapat digunakan sebagai alat bantu diagnostik
yang penting dalam biokimia klinis.
Sapi pejantan merupakan aset berharga dengan
biaya pengadaan dan pemeliharaan yang tidak sedikit,
sehingga pemeriksaan biokimia darah sapi pejantan
menjadi penting dilakukan untuk evaluasi status nutrisi
dan metabolik. Apabila ditemukan penyimpangan nilai
parameter kimia darah dapat dilakukan perbaikan dan
tindakan preventif agar tidak muncul gangguan lebih
parah, sehingga kerugian materiil akibat tidak
tertampungnya semen pejantan dapat dihindari.
Kajian profil protein serum pada sapi perah, sapi
potong, kambing dan domba telah banyak dilakukan.
Kajian tersebut pada sapi pejantan bibit yang digunakan
sebagai bibit penghasil semen beku di Indonesia masih
sangat terbatas. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan
untuk mempelajari profil protein serum, albumin,
globulin dan rasio albumin globulin (rasio A/G) sapi
pejantan bibit berdasarkan bangsa, umur dan BCS
(Body Condition Score) dan menentukan data dasar
profil protein serum dan fraksinya pada sapi pejantan
bibit. Diharapkan data dari penelitian ini dapat
digunakan sebagai data dasar protein serum, albumin,
globulin dan rasio A/G sapi pejantan bibit di Indonesia.
MATERI DAN METODE
Pengambilan sampel darah sapi pejantan bibit
dilaksanakan di Balai Inseminasi Buatan Lembang dan
pemeriksaan biokimia serum dilaksanakan di
Laboratorium Patologi Klinik, Pusat Studi Satwa
Primata (PSSP) Institut Pertanian Bogor.
124
Sebanyak 160 ekor sapi pejantan bibit terdiri dari
bangsa Friesian Holstein (FH), Limousin, Simmental,
Ongole dan Brahman yang sehat secara klinis, umur 3-8
tahun digunakan dalam penelitian ini. Sapi
dikelompokkan berdasarkan bangsa, umur dan BCS.
Sapi pejantan di pelihara secara individual, dengan
komposisi ransum perhari seragam berupa Hay rumput
Afrika ±1 kg, konsentrat ±4 kg, Feedmix® 15 g, Se 7 g,
dan rumput Gajah ±50 kg. Air minum disediakan secara
ad libitum.
Pemeriksaan kesehatan
Pemeriksaan klinis kesehatan sapi pejantan
dilakukan oleh Dokter Hewan Balai Inseminasi Buatan
Lembang. Sesuai Form Sistem Manajemen Mutu ISO
9008/2001 Bagian F-07/BIBL/01/Medik Veteriner Log
Sheet Kondisi Perawatan Kesehatan Ternak Harian.
Penentuan Body Condition Score
Pengambilan data untuk menentukan nilai BCS
dilakukan sesuai dengan metode Edmonson et al.
(1989). Evaluasi dilakukan pada 8 titik pengamatan,
yaitu:
1. Tonjolan tegak tulang belakang (processus
spinosus)
2. Antara tonjolan tegak dengan tonjolan datar tulang
belakang (processus spinosus ke processus
transversus)
3. Tonjolan datar tulang belakang (processus
transversus)
4. Legok lapar (flank)
5. Tonjolan tulang pinggul depan (tuber coxae) dan
belakang (tuber ishcii)
6. Daerah antara tonjolan tulang pinggul depan–
belakang (tuber coxae-tuber ischii)
7. Daerah antara tonjolan tulang pinggul depan kiri
dengan depan kanan (tuber coxae kanan dan kiri)
8. Daerah antara tulang ekor (vertebrae coccygea)
dengan tonjolan tulang pinggul belakang (tuber
ischii). Hasil pengamatan berupa skor 1-5 (skor 1 =
sangat kurus, skor 3 = sedang, skor 5 = sangat
gemuk).
Koleksi, preparasi dan analisis sampel darah
Sapi Pejantan ditempatkan dalam kandang jepit atau
bull crush. Sampel darah diambil dari vena coccygea
menggunakan jarum nomor 18-G. Sampel darah yang
diperoleh segera dimasukkan ke dalam tabung
vacutainer tanpa antikoagulan yang sudah diberi label
kode sampel. Sampel kemudian disimpan pada suhu
ruang (25oC) selama 1-2 jam supaya membeku
sempurna. Serum yang terbentuk dipisahkan dari clot
(bekuan darah) dan disimpan dalam tabung mikro,
ditutup rapat dan diberi identitas. Sampel dikemas
Irfan et al. Profil protein total, albumin, globulin dan rasio albumin globulin sapi pejantan
sesuai standar dan dikirim ke laboratorium untuk
dianalisis.
Sampel darah dianalisis terhadap konsentrasi protein
total dan albumin dengan prinsip fotometer (Photometer
5010®) menggunakan kit komersial. Prinsip dasar
fotometri adalah pengukuran penyerapan sinar akibat
interaksi sinar yang mempunyai panjang gelombang
tertentu dengan larutan atau zat warna yang
dilewatinya. Penggunaan fotometer lebih sering
digunakan untuk kebutuhan laboratorium klinis (analisa
darah).
Konsentrasi
globulin
diperoleh
dari
pengurangan konsentrasi protein total dengan
konsentrasi albumin. Dihitung pula rasio albumin
terhadap globulin (rasio A/G).
Analisis data
Data disajikan dalam bentuk rerata dan standar
deviasinya. Data diuji secara statistik menggunakan
metode analisis model linier untuk mengetahui
pengaruh bangsa, umur dan BCS terhadap konsentrasi
protein total, albumin, globulin dan rasio A/G,
dilanjutkan dengan Uji Duncan’s. Data dianalisis
menggunakan software Minitab® versi 16.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Profil protein total, albumin, globulin dan rasio A/G
berdasarkan bangsa
Hasil analisis statistik, memperlihatkan bahwa
bangsa sapi berpengaruh terhadap konsentrasi protein
total, albumin, globulin dan rasio A/G. Hal ini sejalan
dengan hasil penelitian pada sapi jantan (bukan bibit)
(Addass et al. 2012; Madziga et al. 2013), pada
kambing (Kasumu 2011), dan pada pedet Holstein dan
Jersey (Villarroel et al. 2013).
Data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa rerata
konsentrasi protein total pada sapi FH (9,36±1,08 g/dL)
tertinggi dan berbeda nyata bila dibandingkan dengan
bangsa sapi lainnya (P<0,001). Rerata konsentrasi
protein total pada sapi Limousin (8,51±0,68 g/dL) tidak
berbeda nyata dengan rerata konsentrasi protein total
sapi Simmental (8,41±0,57 g/dL), sedangkan rerata
konsentrasi protein total pada sapi Brahman (8,13±0,43
g/dL) tidak berbeda nyata bila dibandingkan dengan
rerata protein total pada sapi Simmental dan Ongole
(7,84±0,82 g/dL). Sapi Limousin dan Simmental
merupakan sub spesies Bos taurus yaitu bangsa sapi
potong yang berasal dari kawasan beriklim subtropis
sedangkan sapi Brahman dan Ongole merupakan sub
spesies Bos indicus yaitu bangsa sapi potong berpunuk
dari daerah tropis di Asia (Sudarmono & Sugeng 2008).
Konsentrasi protein total sapi pejantan pada
penelitian ini rata-rata 22,49% lebih tinggi apabila
dibandingkan dengan referensi standar pada sapi potong
(Tabel 1). Namun demikian, apabila didasarkan pada
masing-masing bangsa sapi, bangsa sapi FH, Limousin,
Simmental, Brahman dan Ongole memiliki konsentrasi
protein berturut-turut 35,65%, 23%, 22,02%, 17,83%
dan 13,62% lebih tinggi dari referensi standar pada sapi
potong. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang
telah dilakukan oleh Stojevic et al. (2008) pada sapi
pejantan Simmental, dimana rerata konsentrasi protein
total pada sapi pejantan Simmental lebih tinggi 19,94%
bila dibandingkan dengan referensi standar pada sapi
perah.
Hati mensintesis dan melepaskan lebih dari 90%
protein plasma (Martini et al. 1992). Menurut Kaneko et
al. (1997) terdapat tiga fraksi utama protein dalam
darah, yaitu albumin, globulin dan fibrinogen. Albumin,
fibrinogen, dan globulin (50-80% globulin) disintesis di
organ hati, sedangkan sisa globulin lainnya dibentuk di
jaringan limfoid. Secara fisiologis, konsentrasi protein
serum dipengaruhi oleh umur, pertumbuhan, hormonal,
jenis kelamin, kebuntingan, laktasi, nutrisi, stres dan
kehilangan cairan (Kaneko 1997). Menurut Stojevic et
al. (2008), massa tubuh dan anabolisme hormon
testosteron memiliki peran yang cukup besar dalam
metabolisme protein dan mempengaruhi konsentrasi
protein total dalam darah pada pejantan.
Peningkatan konsentrasi protein total dalam darah
dapat disebabkan oleh infeksi kronis, hipofungsi
kelenjar adrenal, kegagalan fungsi hati, penyakit
kolagen pada pembuluh darah, hipersensitif (alergi),
Tabel 1. Konsentrasi protein total, albumin, globulin dan rasio A/G berdasarkan bangsa
Parameter
Bangsa
Protein Total (g/dL)
Albumin (g/dL)
Globulin (g/dL)
Rasio A/G
FH (n=16)
Limousin (n=62)
Simmental (n=63)
Brahman (n=12)
Ongole (n=7)
9,36a±1,08
8,51b±0,68
8,42b±0,57
8,13bc±0,43
7,84c±0,82
2,62a±0,33
2,78ab±0,27
2,85b±0,29
3,16c±0,32
3,10c±0,42
6,74a±1,07
5,70b±0,99
5,57b±0,64
4,97c±0,42
4,74c±0,42
0,40a±0,08
0,52b±0,16
0,52b±0,10
0,63c±0,11
0,64c±0,05
Referensi standar
5,7-8,1*
2,1-3,6*
2,9-4,9*
0,84-0,94**
Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,001)
*) = Referensi standar pada sapi potong (bukan bibit) (Radostits et al. 2007)
**) = Referensi standar pada sapi perah (Latimer et al. 2011)
125
JITV Vol. 19 No 2 Th. 2014: 123-129
dehidrasi, penyakit saluran pernafasan (sesak nafas),
hemolisis dan leukemia (Kaslow 2010). Konsentrasi
protein total dan nilai hematokrit meningkat pada kasus
dehidrasi, diikuti dengan peningkatan konsentrasi
albumin dan globulin (Jackson 2007).
Penurunan konsentrasi protein total disebabkan oleh
malnutrisi dan malabsorbsi, penyakit hati, diare kronis
maupun akut, terbakar, ketidakseimbangan hormon,
penyakit ginjal (proteinuria), rendahnya konsentrasi
albumin, rendahnya konsentrasi globulin dan
kebuntingan (Kaslow 2010).
Konsentrasi protein total serum pada hewan
tersusun oleh albumin, yaitu sebesar 35-50% (Kaneko
et al. 1997). Rerata konsentrasi albumin tertinggi pada
penelitian ini terdapat pada sapi Brahman (3,16±0,31
g/dL) diikuti sapi Ongole (3,10±0,42 g/dL), Simmental
(2,85±0,89 g/dL), Limousin (2,78±0,27 g/dL) dan FH
(2,62±0,33 g/dL). Apabila dibandingkan dengan
referensi standar yang digunakan (Tabel 1), rerata
konsentrasi albumin pada sapi FH 8% lebih rendah,
Limousin 2,5% lebih rendah, Brahman 10,8% lebih
tinggi, Ongole 8,8% lebih tinggi dan Simmental sama
dengan referensi standar. Rerata konsentrasi albumin
pada sub spesies Bos indicus berbeda nyata (P<0,001)
bila dibandingkan dengan sub spesies Bos taurus
maupun FH. Menurut Jackson (2007), secara fisiologis
tidak ada faktor yang dapat meningkatkan sintesis
albumin. Peningkatan konsentrasi albumin umumnya
disebabkan oleh naik-turunnya volume darah.
Penurunan konsentrasi albumin dalam darah tidah
hanya disebabkan oleh penurunan sistesisnya, namun
melibatkan proses multifaktor yang meliputi sintesis,
kerusakan albumin, kebocoran ke ekstravaskuler dan
asupan protein (Ballmer 2001). Menurut Kaslow (2010)
konsentrasi albumin dapat mengalami penurunan pada
dehidrasi kronis, penyakit hipotiroid, malnutrisi
(defisiensi protein), polidipsi, gejala kerusakan ginjal,
protein loosing enterophaty, terbakar, kegagalan fungsi
hati dan ketidakcukupan hormon anabolik (hormon
pertumbuhan).
Konsentrasi globulin pada semua bangsa sapi pada
penelitian ini rata-rata 42,15% lebih tinggi bila
dibandingkan dengan referensi standar yang digunakan
(Tabel 1). Berdasarkan masing-masing bangsa sapi, sapi
Brahman lebih tinggi 72,82%, Limousin 46,15%,
Simmental 42,82%, Brahman 27,43% dan Ongole
21,54%. Profil konsentrasi globulin pada masingmasing bangsa sapi pada penelitian ini memiliki
kecenderungan yang sama dengan profil protein total
dalam darah. Hal ini menunjukkan bahwa konsentrasi
globulin mempengaruhi konsentrasi protein total dalam
darah. Sapi FH memiliki konsentrasi globulin tertinggi
(6,74±1,07 g/dL) dan berbeda nyata (P<0,001) bila
dibandingkan dengan rerata konsentrasi protein total
pada bangsa sapi pejantan bibit lainnya. Rerata
konsentrasi globulin pada sapi sub spesies Bos taurus
126
(Limousin dan Simmental) berbeda nyata (P<0,001)
bila dibandingkan dengan konsentrasi globulin pada
sapi FH dan sapi sub spesies Bos indicus (Brahman dan
Ongole).
Globulin merupakan salah satu fraksi utama protein
dalam darah. Berguna untuk sirkulasi ion, hormon dan
asam lemak. Beberapa jenis globulin mengikat
hemoglobin, beberapa lainnya mengikat zat besi,
berfungsi untuk melawan infeksi, dan bertindak sebagai
faktor koagulasi (Kaslow 2010). Tingginya konsentrasi
globulin mengakibatkan rendahnya rasio A/G pada
semua bangsa sapi pejantan bibit yang diuji pada
penelitian ini. Rerata rasio A/G pada bangsa sapi yang
digunakan pada penelitian ini lebih rendah bila
dibandingkan dengan referensi standar yang digunakan
(Tabel 1), dimana rasio A/G sapi FH lebih rendah 46%,
Limousin 30%, Simmental 30%, Brahman 16% dan
Ongole 14%. Rerata rasio A/G pada sapi FH berbeda
nyata (P<0,001) bila dibandingkan dengan rerata rasio
A/G pada sapi sub spesies Bos Taurus (Limousin dan
Simmental) dan sub spesies Bos Indicus (Brahman dan
Ongole). Rasio A/G dapat memberikan gambaran
imbangan komposisi antara albumin dan globulin.
Semakin tinggi konsentrasi globulin, maka rasio A/G
akan semakin rendah (Jackson 2007).
Profil protein total, albumin, globulin dan rasio A/G
berdasarkan umur
Tabel 2 menunjukkan bahwa umur berpengaruh
nyata (P<0,001) terhadap rerata konsentrasi protein
total. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang telah
dilakukan pada domba (Otesile & Kasali 1992), pedet
(Piccione et al. 2009; Villaroel et al. 2013; Tothova et
al. 2014), unta (Ahmadi-Hamedani et al. 2014), kerbau
(Khan & Younus 2009) dan anjing (Mundim et al.
2006). Namun demikian, hasil ini berbeda dengan hasil
penelitian pada ayam (Silva et al. 2007), tikus
(Sihombing & Tuminah 2011) dan kalkun (Ibrahim et
al. 2012).
Rerata konsentrasi protein total pada penelitian ini
semakin meningkat seiring dengan bertambahnya umur.
Menurut Kaneko et al. (1997) dan Ahmadi-Hamedani et
al. (2014), secara umum konsentrasi protein total serum
meningkat sesuai dengan pertambahan umur hewan.
Peningkatan konsentrasi protein total
tersebut
disebabkan oleh penurunan konsentrasi albumin dan
peningkatan konsentrasi globulin secara progresif
(Kaneko et al. 1997). Peningkatan atau penurunan
konsentrasi protein total dipengaruhi oleh konsentrasi
albumin atau globulin atau keduanya dalam sirkulasi
darah (Lassen 2005).
Rerata konsentrasi protein total pada semua umur
sapi yang digunakan pada penelitian ini, lebih tinggi
bila dibandingkan dengan referensi standar pada sapi
(bukan bibit) yang digunakan. Persentase perbedaan
Irfan et al. Profil protein total, albumin, globulin dan rasio albumin globulin sapi pejantan
dari umur 3 tahun hingga 8 tahun (Tabel 2) berturutturut sebesar 10,87%, 19,71%, 23,91%, 26,96%,
29,13% dan 26,38%.
Tabel 2 memperlihatkan bahwa rerata konsentrasi
albumin pada masing-masing umur sapi berbeda nyata
(P<0,001). Konsentrasi albumin semakin menurun
seiring dengan bertambahnya umur sapi. Hasil yang
serupa dilaporkan oleh Franca et al. (2011) pada kerbau
dan Sakha et al. (2008) pada kambing.
Faktor utama yang mempengaruhi sintesis albumin
adalah asupan pakan yang mengandung protein,
tekanan osmotik koloid, aksi hormon tertentu
(misalnya; hormon tiroid dan hormon glukokortikoid),
dan kejadian penyakit (Busher 1990). Menurut Jackson
(2007) peningkatan albumin umumnya disebabkan
karena naik-turunnya volume darah.
Rerata konsentrasi globulin pada masing-masing
umur sapi berbeda nyata (P<0,05). Semakin tua umur
sapi, rerata konsentrasi globulin semakin meningkat.
Hasil yang serupa dilaporkan oleh Villarroel et al.
(2013) pada pedet FH dan Jersey. Bila dibandingkan
dengan referensi standar yang digunakan, rerata
konsentrasi globulin lebih tinggi pada semua umur sapi
pada penelitian ini. Persentase perbedaan tersebut pada
sapi umur 3 hingga 8 tahun (Tabel 2) berturut-turut
adalah 19,74; 37,43; 45,38; 53,33; 54,87 dan 63,59%
lebih tinggi dari referensi standar. Ahmadi-Hamedani et
al. (2014) melaporkan bahwa peningkatan rerata
konsentrasi globulin pada umur yang lebih tua diduga
karena sistem imun yang semakin matang.
Meningkatnya rerata konsentrasi globulin dan
menurunnya rerata konsentrasi albumin sejalan dengan
bertambahnya umur sapi, mengakibatkan menurunnya
rerata rasio A/G seiring dengan pertambahan umur.
Profil Protein Total, Albumin, Globulin dan Rasio
A/G berdasarkan BCS
Tabel 3 menunjukkan bahwa BCS tidak
berpengaruh nyata terhadap rerata konsentrasi protein
total. Rerata konsentrasi protein total pada pada masingmasing BCS berada diatas referensi standar yang
digunakan dan cenderung mengalami kenaikan pada
BCS yang lebih tinggi. Bila dibandingkan dengan
referensi standar yang digunakan, persentase perbedaan
protein total pada sapi dengan BCS 3, BCS 4 dan BCS
5 berturut-turut sebesar 20,43%, 23,92% dan 24,78%.
Villarroel et al. (2013) melaporkan bahwa berat badan
tidak mempengaruhi konsentrasi protein total pada
pedet FH dan Jersey.
Tabel 2. Konsentrasi protein total, albumin, globulin dan rasio A/G berdasarkan umur
Umur
Parameter
Protein Total (g/dL)
Albumin (g/dL)
Globulin (g/dL)
Rasio A/G
7,65a±0,78
8,26b±0,59
8,55bc±0,73
8,76bc±0,74
8,91c±0,87
8,72bc±0,45
2,98a±0,36
2,93a±0,30
2,89a±0,21
2,78ab±0,30
2,64b±0,34
2,33c±0,36
4,67a±0,44
5,36b±0,74
5,67bc±0,80
5,98bcd±0,81
6,04cd±1,46
6,38d±0,71
0,63a±0,05
0,56ab±0,10
0,52b±0,10
0,48b±0,11
0,50b±0,27
0,48c±0,10
5,7-8,1*
2,1-3,6*
2,9-4,9*
0,84-0,94**
3 tahun (n=6)
4 tahun (n=60)
5 tahun (n=33)
6 tahun (n=37)
7 tahun (n=18)
8 tahun (n=6)
Referensi standar
Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,005)
*) Referensi standar pada sapi (bukan bibit) (Radostits et al. 2007)
**) Referensi standar pada sapi perah (Latimer et al. 2011)
Tabel 3. Konsentrasi protein total, albumin, globulin dan rasio A/G berdasarkan BCS
BCS
3 (n=16)
4 (n=62)
5 (n=63)
Referensi standar
Parameter
Protein Total (g/dL)
a
Albumin (g/dL)
a
Globulin (g/dL)
a
Rasio A/G
8,31 ±0,84
8,55a±0,72
8,61a±0,71
2,73 ±0,37
2,86ab±0,31
2,96b±0,13
5,65 ±1,02
5,66a±0,92
5,66a±0,78
0,50a±0,11
0,53a±0,14
0,52a±0,11
5,7-8,1*
2,1-3,6*
2,9-4,9*
0,84-0,94**
Huruf superscript yang berbeda pada kolom yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05)
*) Referensi standar pada sapi (bukan bibit) (Radostits et al. 2007)
**) Referensi standar pada sapi perah (Latimer et al. 2011)
127
JITV Vol. 19 No 2 Th. 2014: 123-129
Tabel 3 memperlihatkan adanya kecenderungan
kenaikan rerata konsentrasi albumin pada sapi dengan
BCS yang lebih tinggi. Namun demikian, rerata
konsentrasi albumin pada masing-masing BCS masih
berada dalam range referensi standar yang digunakan.
Konsentrasi albumin berbeda nyata (P<0,05) diantara
sapi yang memiliki BCS 3 dan BCS 5, sedangkan sapi
dengan BCS 3 dan 4 serta sapi dengan BCS 4 dan 5
tidak berbeda nyata. Manurut Busher (1990) hati
meningkatkan sintesis albumin sebagai respon terhadap
adanya peningkatan ketersediaan asam amino dari
pakan yang mengandung protein. Dapat diduga bahwa
kenaikan rerata konsentrasi protein total pada BCS yang
lebih tinggi terjadi karena kenaikan rerata konsentrasi
albumin.
Konsentrasi albumin dapat meningkat karena
dehidrasi ringan, gagal jantung (Cronic Hearth
Failure), gagal dalam penggunaan perombakan protein,
kelebihan hormon glukokortikoid, dan turunan (Kaslow
2010). Stercova et al. (2005) melaporkan bahwa
pemberian pakan dengan kandungan biji-bijian tinggi
pada sapi yang digemukkan secara intensif dapat
meningkatkan konsentrasi protein total serum secara
nyata.
Rerata konsentrasi globulin tidak berbeda nyata
antar BCS. Namun demikian rerata konsentrasi globulin
pada semua BCS yang diuji rata-rata 45% lebih tinggi
bila dibandingkan dengan referensi standar (Tabel 3).
Diduga bahwa tingginya rerata konsentrasi protein total
pada semua BCS bila dibandingkan dengan referensi
standar diakibatkan oleh tingginya rerata konsentrasi
globulin. Lassen (2005) melaporkan bahwa peningkatan
atau penurunan konsentrasi protein total dalam sirkulasi
darah dipengaruhi oleh konsentrasi albumin atau
globulin atau keduanya. Konsentrasi protein total dan
nilai hematokrit meningkat pada kasus dehidrasi,
disertai dengan konsentrasi albumin dan globulin yang
meningkat pula (Jackson 2007). Selain itu konsentrasi
globulin dapat meningkat akibat infeksi kronis (parasit,
bakteri, atau virus), penyakit hati (sirosis, penyumbatan
saluran empedu), sindrom karsinoid, radang sendi atau
reumatik, ulkus pada kolon, myeloma dan leukemia,
penyakit autoimun dan gagal ginjal (Kaslow 2010).
KESIMPULAN
Bangsa dan umur sapi berpengaruh nyata terhadap
rerata konsentrasi protein total, albumin, globulin dan
rasio A/G, sedangkan BCS sapi berpengaruh nyata
terhadap rerata konsentrasi albumin. Hasil penelitian ini
dapat digunakan untuk pemeriksaan profil protein
beserta fraksinya pada sapi pejantanyang berada di UPT
Perbibitan lain untuk standardisasi data.
128
UCAPAN TERIMA KASIH
Ucapan terima kasih diberikan kepada Badan SDM
Kementerian Pertanian dan Balai Inseminasi Buatan
Lembang yang telah memberikan bantuan dana
penelitian sehingga penelitian ini dapat terlaksana
dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
Addass PA, Midau A, Muktar YM, Mshelia ZB. 2012.
Assessment of breed, age and body condition score on
hematology, blood chemistry and fecal parasitic load of
indigenous bulls in Adamawa State. Intern J of Agric
Sci. 2:087- 089. ISSN: 2167-0447.
Ahmadi-Hamedani M, Ghazvinian K, Kokhaei P, Barati M,
Mahdavi A. 2014. Comparison of effects of age and sex
on serum protein electrophoretic pattern in one-humped
camels (Camelus dromedarius) in Semnan, Iran. Open
Vet J. 4:4-8. ISSN: 2218-6050.
Ali MA. 2008. Studies on calving related disorders (dystocia,
uterine prolapse and retention of fetal membranes) of
the river buffalo (Bubalus Bubalis), in different
agroecological zones of Punjab Province, Pakistan
[Tesis]. Pakistan (PK). University of Agriculture.
Diunduh pada tanggal 24/1/2014. Tersedia di
http://prr.hec.gov.pk/thesis/203s.pdf
pada
tanggal
24/1/2014 09:21.
Ballmer PE. 2001 Causes and mechanisms of
hypoalbuminaemia. Clin Nut. 20:271-273. Harcourt
Publishers Ltd. doi:10.1054/clnu.2001.043
Busher JT. 1990. Serum Albumin and Globulin Clinical
Methods. Didalam H Kenneth Walker HK, Dallas MD,
Hurst JW, editor: The History, Physical, and Laboratory
Examinations. Edisi ke 3. Editor. Butterworth Publisher
Emory University School of Medicine, Atlanta,
Georgia, Boston.
Edmonson AJ, Lean IJ, Weaver LD, Loid JW, Farver T,
Webster G. 1989. A body condition scoring chart for
holstein dairy cows. J Dairy Sci. 72:68-70
Franca RT, Costa MM, Martins DB, Pagnoncelli M, Leal ML,
Mazzanti CM, Palma HE. Kunert CP, Paim FC, Lopes
STA. 2011. Protein profile of buffaloes of different
ages. Act Sci Vet. 39:995. ISSN: 1679-9216.
Ibrahim AA, Aliyu J, Abdu MI, Hassan AM. 2012. Effects of
age and sex on serum biochemistry values of turkeys
(Meleagris gallopavo) reared in the semi-arid
environment of Nigeria. World Appl Sci J. 16:433-436.
ISSN: 1818-4952.
Jackson ML. 2007. Veterinary Clinical Pathology: An
Introduction. Blackwell Publishing Iowa. hlm. 25:127.
Irfan et al. Profil protein total, albumin, globulin dan rasio albumin globulin sapi pejantan
Kaneko JJ. 1997. Serum proteins and the dysproteinemias.
Didalam Kaneko JJ, JW. Harvey, ML Bruss, editor.
Clinical Biochemistry of Domestic Animals. Edisi 5.
Academic press. London, New York, Tokyo.
Otesile EB, Kasali OB. 1992. Effects of age and sex on serum
proteins, urea nitrogen and transaminase concentrations
in Ethiopian highland sheep. Bull Anim Health Prod
Afr. 40:181-184.
Kaslow JE. 2010. Analysis of Serum Protein. Santa Ana : 720
North Tustin Avenue Suite 104, CA.
Payne JM, Payne S. 1987. The Metabolic Profile Test. New
York (US): Oxford University Press, Oxford.
Kasumu AA. 2011. Effects of Breed, Sex and Age on Serum
Biochemistry in Nigerian Goats [Internet]. Nigeria
(NG). Diakses 30 April 2014 16:42. Tersedia pada
www.unaab.edu.ng/ugprojects/2011bsckasumuaa.pdf
Piccione G, Stefania C, Claudia G, Irene V, Niutta PP,
Elisabetta G. 2009. Influence of age on profile of serum
protein in the calf. Act Vet. 59:413-422. doi:
10.2298/AVB0904413P. ISSN 2225-093X.
Khan AM, Younus M. 2009. A profile of serum proteins,
albumin globulin ratio and total leucocytic count in 6-10
months old healthy and diseased buffalo calves.
IJAVMS. 3:73-75.
Radostits OM, Gay CC, Hinchcliff KW, Constable PD. 2007.
Veterinary Medicine: A textbook of the diseases of
cattle, sheep, pigs, goats, and horses. Edisi 10, Elsevier
Health Sciences, Philadelphia, PA, USA.
Lager K, Jordan E. 2012. The metabolic profile for the modern
transition dairy cow. The Mid-South Ruminant
Nutrition Conference. Texas Agrilife Extension
Service, Texas.
Sakha M, Shamesdini M, Mohamad-zadeh F. 2008. Serum
Biochemistry Values in Raini Goat of Iran. The Internet
J Vet Med. 6. [diakses pada 24 April 2014].
http://ispub.com/IJVM/6/1/9889
Lassen ED. 2004. Laboratory evaluation of plasma and serum
protein. Di dalam: Thrall MA, editor. Veterinary
Hematology and Clinical Chemistry. Lippincott
Williams & Wilkins. Maryland. hlm. 401-402:405.
Sihombing M, Tuminah S. 2011. Perubahan nilai hematologi,
biokimia darah, bobot organ dan bobot badan tikus
putih pada umur berbeda. J Vet. 12:58-64. ISSN:
1411-8327
Latimer KS, Duncan JR, Mahafrey EA, Phrasse KW. 2011.
Duncan and Prasse’s Veterinary Laboratory Medicine:
Clinical Pathology. Edisi 5. Iowa State Press. Wiley
Blackwell. Iowa. hlm. 374.
Silva RL, Neto OCF, Laurentiz AC, OM Junqueira, Fagliari
JJ. 2007. Blood serum components and serum protein
test of Hybro-PG broilers of different ages.
Brazilian J of Poul Sci. 9:229-232. ISSN: 1806-9061
Madziga II, Alawa CBI, Lamidi OS, Goska DY. 2013.
Assessing the nutritional status of four indigenous
breeds of cattle using some blood metabolites in
Nigeria. J Biol Agric Healthcare. 3.
Stercova E, Pazout V, Strakova E, Suchy P. 2005. Effects of
intensive fattening of bulls based on a high-grain diet on
growth intensity and biochemical and acid-base
parameters of blood. Czech J Anim Sci. 50:355-361.
Martini FH, Ober WC, Garrison C, Weleh K. 1992.
Fundamentals of Anatomy and Physiology. Edisi 2.
New Jersey: Prentice Hall, Englewood Cliffs.
Stojevic Z, Filipovic N, Bozic P, Tucek Z, Daud J. 2008. The
metabolic profile of Simmental service bulls. Vet
Arhiv. 78:123-129.
Mohamed T, Oikawa S, Iwasaki Y, Mizunuma Y, Takehana
K, Endoh D, Kurosawa T, Sato H. 2004. Metabolic
profiles and bile acid extraction rate in the liver of cows
with fasting-induced hepatic lipidosis. J Vet Med
Physiol Pathol Clin Med. 51:113-118.
Sudarmono AS, Sugeng YB. 2008. Sapi Potong
Pemeliharaan, Perbaikan Produksi, Prospek Bisnis,
Analisis Penggemukan. Edisi revisi. Jakarta (Indones):
PT Penebar Swadaya.
Mundim AC, Coelho AO, Hortencio SM, Guimaraes EC,
Espindola FS. 2007. Influence of age and sex on the
serum biochemical profile of doberman dogs in the
growth phase. Comp Clin Pathol. 16:41-46. doi:
10.1007/s00580-006-0653-z.
Nozad S, Ramin AG, Moghadam G, Asri-Rezaei S, Babapour
A, Ramin S. 2012. Relationship between blood urea,
protein, creatinine, triglycerides and macro-mineral
concentrations with the quality and quantity of milk in
dairy holstein cows. Vet Res For. 3:55-59.
Tothova C, Nagy O, Kovac G. 2014. Changes in the
concentrations of serum protein fractions in calves with
age and nutrition. Italian J of Anim Sci. 13. [diakses
pada 23 April 2014] http://www.aspajournal.it/
index.php.
Villarroel A, Miller TB, Johnson ED, Noyes KR, Ward JK.
2013. Factors affecting serum total protein and
immunoglobulin G concentration in replacement dairy
calves. Adv Dairy Res. 1:106. doi: 10.4172/2329888X.1000106.
Oetzel GR. 2004. Monitoring and testing dairy herds for
metabolic diseases. Vet Clin North Am Food Anim
Pract. 20:651-74.
129
Fly UP