...

PERAN GAMBUT TERHADAP NITROGEN TOTAL TANAH DI

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

PERAN GAMBUT TERHADAP NITROGEN TOTAL TANAH DI
Berita Biologi 12(2) - Agustus 2013
PERAN GAMBUT TERHADAP NITROGEN TOTAL TANAH
DI LAHAN RAWA*
[The Role of Peat on Total Nitrogen in The Wetland Soils]
1
Arifin Fahmi1 dan Bostang Radjagukguk2
Badan Litbang Pertanian/BALITTRA, Jl. Kebun Karet, Loktabat Utara, Banjarbaru, 70712, Kalimantan
Selatan, Tlp ; 085330118888, email ; [email protected]
2
Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada
ABSTRACT
Peatland has important role in wetland ecosystem stability. Depletion and disappearance of peat layer lead to loss of potential source of
nutrient and disruption of wetland ecosystem stability. The research aimed to study the influence of peat thickness and land hydrological
condition on the total nitrogen (N) content in soil, the influence of rapidly or naturally the depletion and disappear of peat layer on total N
content in soil, and the influence of hydrological condition on total N content in soil. Total N was observed in June of 2009 and 2010
(transition from wet to dry season), September of 2009 and 2010 (peak of dry season), and January of 2010 and 2011 (peak of wet season).
The research was carried out on potential acid sulphate soil (A), peaty acid sulphate soil (B), shallow peat which all of peat layers were
removed (C), shallow peat which peat layer was partially removed (D), shallow peat (E), moderate peat (F) and deep peat (G). The results
showed that total N content increased with increasing of peat thickness, the depletion and disappearance of peat layer reduced total N
content in soil, and declining in the groundwater level increased total N content in soil.
Key words : Nitrogen, peat, wetland.
ABSTRAK
Lahan gambut memiliki peranan penting terhadap kestabilan ekosistem lahan rawa. Hilang dan menipisnya lapisan gambut menyebabkan
hilangnya sumber hara dan mengganggu kestabilan ekosistem lahan rawa. Penelitian bertujuan mengetahui pengaruh ketebalan lapisan
gambut terhadap kandungan N total tanah, mengetahui pengaruh menipisnya atau hilangnya lapisan gambut akibat penggalian lapisan
gambut ataupun secara alamiah terhadap kandungan N total tanah, serta mengetahui pengaruh kondisi hidrologi lahan terhadap kandungan
N total tanah. Nitrogen total diamati pada kondisi puncak musim hujan (MH) yaitu Januari 2010 dan 2011, kondisi lahan agak jenuh atau
agak kering (T) dilaksanakan Juni 2009 dan 2010 dan kondisi paling kering (puncak MK) dilaksanakan Oktober 2009 dan 2010. Pada tahun
pertama penelitian hanya dilaksanakan pada tanah gambut tipis (E), sedang (F), tebal (G). Sedangkan pada tahun kedua penelitian
dilaksanakan pada tanah E, F, G, tanah sulfat masam bergambut (B), sulfat masam potensial (A), gambut tipis yang lapisan gambutnya di
hilangkan sebagian (D), gambut tipis yang lapisan gambutnya dihilangkan seluruhnya (C). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kandungan
N total meningkat dengan peningkatan ketebalan gambut, hilang dan menipisnya lapisan gambut menyebabkan penurunan kandungan N
total tanah, dan menurunnya permukaan air tanah menyebabkan peningkatan kandungan N total tanah.
Kata kunci : Nitrogen, gambut, lahan rawa
PENDAHULUAN
Sekitar 207.000 km2 lahan gambut berada di
Indonesia yang tersebar di beberapa pulau besar
(Page et al., 2008). Dalam beberapa tahun terakhir
keberadaan ekosistem rawa, terutama lahan lahan
gambut, menjadi salah satu fokus perhatian dunia,
karena dianggap memiliki kontribusi besar terhadap
pemanasan global. Kerusakan lingkungan yang
terjadi tidak hanya berdampak pada pemanasan
global tetapi secara langsung juga terjadi pada lahan
gambut atau lingkungan rawa itu sendiri. Beberapa
peneliti telah melaporkan adanya perubahan kondisi
lingkungan atau kerusakan lahan gambut akibat
kegiatan pembukaan atau konversi lahan, menurut
Adji et al. (2005) dan Anda et al. (2009) terjadi
peningkatan
kemasaman
tanah,
konsentrasi
aluminium dan pelindian unsur hara dari larutan
tanah akibat kegiatan pembukaan atau konversi
lahan. Selain itu, Limin et al. (2007) dan Page et al.
(2009) melaporkan bahwa pembukaan lahan gambut
untuk proyek pertanian satu juta hektar telah
menyebabkan penurunan tinggi muka air tanah
sampai 176 cm pada musim kemarau sedangkan
pada musim hujan terjadi penggenangan atau banjir
sampai 100 cm di atas permukaan tanah.
Sekitar 1 juta ha lahan gambut di Kalimantan
Tengah pada tahun 1995 telah dibuka untuk tujuan
pengembangan pertanian, tetapi karena berdampak
negatif terhadap lingkungan maka akhirnya proyek
ini dihentikan. Menurut Rieley et al. (2008) luasan
daerah yang mendapat dampak negatif langsung
akibat proyek ini mencapai 1,5 juta ha. Sementara itu
gambut dikenal sebagai sumberdaya alam yang
sangat sulit untuk diperbaharui. Dikatakan oleh
*Diterima: 20 Januari 2013 - Disetujui: 28 Maret 2013
223
Fahmi dan Radjagugkguk – Peran Gambut Terhadap Nitrogen Total Tanah di Lahan Rawa
Chimner dan Ewel (2005) bahwa laju penimbunan
gambut di daerah tropika relatif lebih cepat dari pada
daerah beriklim sedang. Akan tetapi karena gambut
di daerah tropika tersusun dari bahan berkayu yang
kaya lignin maka pembaharuannya berjalan lambat,
sehingga jika terjadi degradasi maka kerusakan yang
terjadi hampir tidak dapat terpulihkan.
Luas lahan gambut di Indonesia setiap
tahunnya semakin berkurang karena kebakaran dan
adanya praktek pembukaan lahan. Menurut
Wahyunto et al. (2005) sekitar 355.000 ha lahan
gambut telah hilang dalam kurun waktu 1990 – 2002.
Riley dan Page (2008) memprediksi lahan gambut
dengan ketebalan 50 – 300 cm di Indonesia dan
Malaysia akan hilang dalam rentang waktu sampai
20 tahun kedepan akibat adanya pembukaan lahan
gambut untuk perkebunan. Dengan kata lain, luas
tanah sulfat masam yang memiliki sifat marginal
akan semakin bertambah.
Upaya reklamasi dan restorasi sistem
hidrologi lahan gambut menyebabkan perubahan
sifat tanah gambut (McCormick et al., 2011).
Perubahan sifat alamiah ini berpotensi memacu
terjadinya kebakaran dan percepatan mineralisasi
gambut sehingga mengganggu kestabilan ekosistem.
Menurut Harvey dan McCormick (2009) oksidasi
gambut memiliki kontribusi besar terhadap
perubahan kualitas air dan mineral yang sensitif
terhadap perubahan tersebut. Selain itu, hilangnya
lapisan gambut dapat menyebabkan penurunan
kualitas tanah, dilain pihak menurut Kurnain (2005)
dan Sapek (2008) bahwa gambut dapat berperan
sebagai sumber hara seperti Nitrogen (N), fosfor (P)
dan kalium (K) bagi tanah gambut itu sendiri melalui
proses dekomposisi.
Tergaganggunya keseimbangan ekosistem
rawa akibat pembukaan lahan gambut dapat
dikurangi dengan melakukan pengelolaan sistem
hidrologi lahan yang tepat. Mempertahankan
kedalaman muka air tanah sampai pada batasan
tertentu serta menerapkan upaya pemanfaatan lahan
gambut secara terbatas telah terbukti mampu
memperlambat atau mengurangi potensi kerusakan
224
ekosistem lahan rawa dan lingkungan dalam arti
yang lebih luas.
Mengingat peran vital keberadaan gambut
bagi keseimbangan ekosistem di lingkungan
sekitarnya khususnya di lahan rawa maka dipandang
perlu untuk melakukan suatu penelitian tentang
peranan lapisan gambut terhadap kandungan N di
lahan rawa dengan mempertimbangkan pengaruh
ketebalan lapisan gambut dan kondisi hidrologi
lahan. Tujuan penelitian ini mencakup 3 aspek yaitu:
1. Mengetahui pengaruh ketebalan lapisan gambut
terhadap kandungan N total tanah. 2. Mengetahui
pengaruh menipisnya atau hilangnya lapisan gambut
akibat penggalian lapisan gambut ataupun secara
alamiah terhadap kandungan N total tanah dan 3.
Mengetahui pengaruh kondisi hidrologi lahan
terhadap kandungan N total tanah.
BAHAN DAN CARA KERJA
Penelitian dilaksanakan selama dua tahun,
tahun pertama (2009 – 2010) penelitian hanya
dilaksanakan pada tanah gambut tipis (E), sedang
(F), tebal (G). Sedangkan pada tahun kedua (2010 –
2011) penelitian dilaksanakan pada tanah E, F, G,
tanah sulfat masam bergambut (B), sulfat masam
potensial (A), gambut tipis yang lapisan gambutnya
di hilangkan sebagian (D), gambut tipis yang lapisan
gambutnya dihilangkan seluruhnya (C) (Gambar 1).
Penambahan lahan penelitian (A, B, C dan D) di
tahun kedua ditujukan untuk melihat kandungan N
total tanah pada kondisi tanah gambut yang telah
mengalami kehilangan ataupun penipisan lapisan
gambut secara alamiah ataupun akibat aktifitas
manusia.
Tanah gambut yang menjadi lokasi penelitian
adalah tanah gambut yang memiliki lapisan bahan
sulfidik berada di bawahnya, pada lahan gambut
sedang (F) dan tebal (G) ditemukan dua lapisan
gambut dengan derajat dekomposisi (kematangan)
yang berbeda yaitu lapisan sapris berada di lapisan
teratas dan lapisan hemis yang berada di bawahnya,
sedangkan pada gambut tipis (E) hanya ditemukan
lapisan sapris (Tabel 1 dan Gambar 1). Seluruh lahan
Berita Biologi 12(2) - Agustus 2013
penelitian berada dalam suatu hamparan wilayah
yang saling berdekatan dan berasosiasi, wilayah ini
adalah lahan tidur dengan vegetasi campuran yang
didominasi oleh tumbuhan semak, perdu dan karet
yang tumbuh secara liar. Lokasi penelitian berada di
Pangkoh IX, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan
Tengah.
Titik contoh tanah dalam satu profil tanah
diambil berdasarkan keberadaan lapisan interlayer
(lapisan perbatasan antara bahan gambut dan bahan
mineral berupa campuran kedua bahan tersebut) dan
kondisi profil tanah (Gambar 1), sehingga jumlah
titik contoh adalah tidak sama untuk setiap tanahnya.
Titik contoh tersebut adalah 25, 50, 70, 90, 110 dan
135 cm untuk tanah E; 47, 100, 120, 135 dan 155 cm
untuk tanah F; 50, 150, 200, 220, 245 dan 260 cm
untuk tanah G. Sedangkan untuk tanah A contoh
tanah diambil dari kedalaman 20 dan 55 cm; 15, 50
dan 85 cm untuk tanah B; 85 dan 120 cm untuk tanah
C dan 45, 70 dan 120 cm untuk tanah D.
Contoh tanah pada tanah A, B, D, E dan F
diambil menggunakan bor tanah, sedangkan pada
tanah C dan D diambil melalui penggalian sebuah
pipa yang telah ditanamkan dalam sebuah minipit
beberapa bulan sebelumnya. Teknis pengambilan
contoh tanah pada C dan D adalah dengan membuat
sebuah lubang (minipit) berukuran sekitar 1 x 2 m,
kedalaman lubang dibuat sekitar 70 cm untuk tanah
C dan 35 cm untuk tanah D (Gambar 1). Pada bagian
tengah minipit dipasang pipa paralon ukuran 5 inch
yang pada dindingnya diberi lubang kecil untuk
sirkulasi air tanah. Pipa ini ditancapkan ke dalam
tanah sampai kedalaman 150 cm dari permukaan
tanah. Pembuatan minipit dan pemasangan pipa
dilakukan tiga bulan sebelum contoh tanah diambil.
Minipit untuk pengamatan transisi musim hujan ke
musim kemarau (T) yaitu Juni 2010 dibuat dalam
bulan Pebruari, sedangkan untuk pengamatan musim
kemarau (MK) pada September 2010 minipit dibuat
dalam bulan Juni 2010, dan untuk pengamatan
musim hujan (MH) pada Januari 2011 minipit dibuat
dalam bulan September 2010. Setiap tapak penelitian
dibuat tiga minipit (sebagai ulangan) yang masingmasing dipasang satu pipa.
Waktu pengambilan contoh tanah ditentukan
berdasarkan kondisi hidrologi lahan, waktu-waktu
terpilih tersebut dianggap mewakili kondisi lahan
yang paling jenuh air (puncak MH) dilaksanakan
Januari 2010 dan 2011, kondisi lahan agak jenuh
atau agak kering (T) dilaksanakan Juni 2009 dan
2010 dan kondisi paling kering (puncak MK)
dilaksanakan Oktober 2009 dan 2010. Kandungan N
total tanah dianalisis menggunakan metode Kjeldahl
(Bremner, 1996). Derajat dekomposisi gambut
ditetapkan dengan metode von Post (Tabel 1). Data
rata-rata hasil pengukuran setiap ulangan contoh
Gambar 1. Profil tanah pada lokasi penelitian dan posisi titik contoh tanah pada tanah sulfat masam potensial
(A), sulfat masam bergambut (B), gambut tipis yang seluruh lapisan gambutnya dihilangkan (C),
gambut tipis yang sebagian lapisan gambutnya di hilangkan (D), gambut tipis (E), gambut sedang
(F) dan gambut tebal (G).
225
Fahmi dan Radjagugkguk – Peran Gambut Terhadap Nitrogen Total Tanah di Lahan Rawa
Tabel 1. Derajat dekomposisi gambut yang ditetapkan berdasarkan metode von Post pada lahan gambut E, F
dan G.
Asal gambut
Derajat dekomposisi
Gambut tipis
Sapris
Gambut sedang
Sapris
Lapisan atas gambut tebal
Sapris
Lapisan bawah gambut tebal
Hemis
Gambar 2. Kandungan N total tanah sulfat masam potensial (A), sulfat masam bergambut (B), gambut tipis
yang seluruh lapisan gambutnya dihilangkan (C), gambut tipis yang sebagian lapisan gambutnya
di hilangkan (D), gambut tipis (E), gambut sedang (F) dan gambut tebal (G). 1; Pengamatan
musim hujan (MH). 2 ; Pengamatan saat transisi musim hujan ke musim kemarau (T).
disajikan dalam sebuah diagram scatter yang disusun
sedemikian rupa agar lebih mudah untuk
dibandingkan.
HASIL
Berdasarkan pengamatan yang dilakukan
pada tanah gambut (tanah E, F dan G) diketahui
kandungan N total berkisar antara 0,10 sampai 1,97
%, dengan rata-rata 0,83 % dalam lapisan gambut,
nilai ini lebih tinggi dari pada kandungan N lapisan
bahan sulfidik yang hanya mengandung rata-rata
226
0,22 %. Sedangkan kandungan N rata-rata 0,17 %
pada tanah A; 0,44 % pada tanah B; 0,17 % pada
tanah C dan 0,21 % pada tanah D (Gambar 2 dan 3).
Berdasarkan kondisi hidrologi lahan yang
diamati berdasarkan musim diketahui bahwa
kandungan N total tanah (khususnya lapisan atas
pada pengamatan MH dan MK) cenderung lebih
tinggi pada saat muka air tanah yang lebih rendah.
Hal ini dapat dilihat dari data kandungan N total
pada tanah E, F dan G (Gambar 2 dan 3).
Kandungan N total di lapisan gambut pada MH
Berita Biologi 12(2) - Agustus 2013
Gambar 3. Kandungan N total tanah sulfat masam potensial (A), sulfat masam bergambut (B), gambut tipis
yang seluruh lapisan gambutnya dihilangkan (C), gambut tipis yang sebagian lapisan gambutnya
di hilangkan (D), gambut tipis (E), gambut sedang (F) dan gambut tebal (G) yang diamati waktu
musim kemarau (MK).
Gambut tipis
Gambut sedang
Gambut tebal
Waktu pengamatan
Gambar 4. Fluktuasi kandungan nitrogen total tanah gambut tipis (E), sedang (F) dan tebal (G) yang diamati
pada musim hujan (MH), transisi musim hujan ke musim kemarau (T) dan musim kemarau (MK)
selama dua tahun penelitian.
tahun pertama lebih rendah dari pada MH tahun
kedua dan pada MK tahun pertama lebih besar dari
pada MK tahun kedua. Sedangkan kondisi
sebaliknya terjadi pada pengamatan T, yaitu
kandungan N total di lapisan gambut tahun pertama
lebih besar dari pada tahun kedua.
Berdasarkan ketebalan gambut diketahui
bahwa pengaruh ketebalan gambut terlihat secara
jelas hanya pada MK tahun pertama atau hanya
terjadi pada saat muka air tanah berada pada posisi
sangat rendah (Gambar 4). Selain itu, gambar
tersebut juga menunjukkan bahwa konsentrasi N
tertinggi terdapat dalam tanah G dibandingkan tanah
A, B, C, D, E dan F.
Menipisnya lapisan gambut secara cepat
ataupun secara alamiah menyebabkan penurunan
kandungan N total tanah. Terbukti dalam penelitian
ini kandungan N dalam tanah A, B, C dan D adalah
227
Fahmi dan Radjagugkguk – Peran Gambut Terhadap Nitrogen Total Tanah di Lahan Rawa
lebih rendah dari pada gambut E, F dan G, baik pada
lapisan teratas ataupun pada posisi titik contoh yang
sama (Gambar 2 dan 3). Kandungan N total dalam
lapisan atas tanah E (1,07 - 1,10 %), tanah F (1,04 1,21 %) dan tanah G ( 0,99 – 1,06 %) adalah lebih
tinggi dari pada tanah D (0,51 - 0,76 %), tanah C
(0,13 - 0,36 %), tanah B (0,87 - 0,92 %) dan tanah A
(0,15 - 0,22 %).
PEMBAHASAN
Nitrogen adalah unsur yang sebagian besar
bersumber dari proses dekomposisi bahan organik,
dimana besarnya pasokan N dari proses dekomposisi
sangat tergantung pada kualitas dan kuantitas bahan
organik (Vahdat et al., 2012). Gambut sebagai bahan
organik memiliki kandungan N yang cukup tinggi,
sehingga keberadaan gambut dan material organik di
atasnya menjadi sumber N bagi tanah.
Rata-rata kandungan N total 0,83 % dalam
lapisan gambut pada penelitian ini sedikit lebih
tinggi dari pada hasil penelitian Maas et al. (1997)
yang melaporkan bahwa kadar N tanah gambut di
daerah Pangkoh sebesar 0,75 %. Perbedaan ini
dimungkinkan mengingat sifat asli N dalam tanah
gambut yang dapat memiliki keragaman tinggi dan
dapat dipengaruhi oleh banyak proses seperti
translokasi maupun volatisasi, serta jenis vegetasi
yang tumbuh di atasnya. Selanjutnya Suhardjo dan
Widjaja-Adhi (1977), Lambert (1995), Sajarwan
(1998) dan Dohong (1999) melaporkan bahwa
kandungan N total dalam tanah gambut pada
beberapa daerah di Indonesia berkisar antara 0,3 dan
2,1 %.
Berdasarkan Gambar 2 dan 3 khususnya tanah
gambut E, F dan G diketahui kadar N total tanah
cenderung lebih tinggi pada saat permukaan air tanah
yang lebih rendah. Rendanya permukaan air tanah
menyebabkan kondisi tanah yang lebih aerob
sehingga meningkatkan laju dekomposisi dan
menurunkan tingkat kehilangan N karena pelindian.
Bentuk N dalam tanah yang tergenang biasanya
berbentuk NH4 dan bentuk ini relatif lebih mudah
hilang karena pelindian. Proses dekomposisi akan
228
lebih intensif pada kondisi aerasi yang lebih baik
(Breemen dan Buurman, 2002) seperti kondisi
terjadinya penurunan permukaan air tanah (Strakova
et al., 2011). Menurut Banach et al. (2009) dan
Sapek et al. (2009) terjadinya peningkatan
kandungan N tanah karena penurunan tinggi
permukaan air tanah, N dapat hilang karena bergerak
bersama air tanah pada kondisi yang tergenang atau
lapisan tanah yang jenuh dengan air. Sedangkan
tingginya kandungan N total pada pengamatan T
tahun kedua dibandingkan tahun pertama diduga
berhubungan dengan peningkatan pH tanah yang
sangat drastis pada saat tersebut (Data pH tidak
ditunjukkan). Hal ini sesuai dengan pendapat Reddy
dan DeLaune (2008) salah satu faktor yang
mempengaruhi laju dekomposisi adalah peningkatan
pH tanah.
Kandungan N total lapisan gambut yang lebih
tinggi dibandingkan lapisan bahan sulfidik
merupakan indikasi bahwa lapisan gambut sebagai
bahan organik masih mengandung N yang cukup
besar. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa
lapisan gambut di atas bahan sulfidik merupakan
sumber N utama bagi tanah. Hal ini sesuai pendapat
Xing et al. (2011) bahwa biomassa gambut adalah
cadangan N terbesar di lahan gambut. Lapisan
permukaan gambut yang selalu mendapatkan
pasokan bahan organik dari sisa-sisa organisme di
atasnya menyebabkan kandungan N total tanah
secara konsisten lebih tinggi pada lapisan permukaan
dibandingkan lapisan di bawahnya.
Nitrogen dalam tanah utamanya berasal dari
proses perombakan bahan organik, pola sebaran
kandungan N yang terbentuk menunjukkan bahwa
kandungan N total hanya dipasok dari lapisan
gambut atau bahan organik di atasnya, sehingga
keberadaan bahan sulfidik yang berada di bawah
lapisan gambut dalam penelitian ini dapat dinyatakan
tidak berpengaruh terkait kemungkinan perannya
sebagai sumber hara terhadap kandungan N total
tanah gambut. Hal ini dapat diperhatikan pada tanah
A ataupun titik contoh yang berasal dari lapisan
bahan sulfidik pada tanah B, C, D, E, F dan G
Berita Biologi 12(2) - Agustus 2013
(Gambar 1, 2 dan 3) yang memiliki kandungan N
sangat rendah dengan kisaran 0,06 – 0,43 %.
Pengaruh ketebalan gambut terlihat secara
jelas hanya pada MK tahun pertama atau hanya
terjadi pada saat permukaan air tanah berada pada
posisi sangat rendah (Gambar 4). Gambar tersebut
menunjukkan bahwa kandngan N tertinggi terdapat
dalam lapisan gambut tebal (1,97 % pada gambut
tebal, 1,47 % pada gambut sedang dan 1,08 pada
gambut tipis). Hal ini disebabkan gambut tebal
memiliki derajat dekomposisi lebih rendah dari pada
gambut sedang dan tipis yang ditunjukkan dari hasil
uji derajat dekomposisi gambut berdasarkan metode
von Post (Tabel 1 dan Gambar 1). Berdasarkan data
tersebut dapat dinyatakan bahwa adanya perbedaan
kandungan N total berdasarkan ketebalan gambut
berhubungan erat dengan keberadaan lapisan gambut
yang memiliki derajat dekomposisi berbeda, dimana
semakin rendah derajat dekomposisi gambut maka
kandungan haranya cenderung makin tinggi.
Menurut Kurnain (2005) kandungan N total gambut
menurun dengan meningkatnya derajat dekomposisi
gambut, dan menurut Cabezas et al. (2012) derajat
dekomposisi gambut sangat berpengaruh pada
pengembalian N bagi tanah.
Menipisnya lapisan gambut secara cepat
akibat dilakukan penggalian ataupun secara alamiah
menyebabkan penurunan kandungan N total tanah.
Gambar 2 dan 3 menunjukkan kandungan N dalam
tanah A, B, C dan D adalah lebih rendah dari pada
tanah E, F dan G, baik pada lapisan teratas ataupun
pada posisi titik contoh yang sama dari permukaan
tanah. Ini dapat dipahami karena hilangnya lapisan
atas gambut berarti hilangnya bahan organik yang
merupakan sumber N utama (Reddy dan DeLaune,
2008). Dengan demikian transfortasi hasil
perombakan bahan organik ke lapisan bawah (Kaiser
dan Kalbitz, 2012) tidak terjadi sehingga kandungan
N baik pada lapisan atas maupun lapisan bawah
menjadi menurun. Selain itu jumlah N dalam tanah
gambut yang berasal dari proses fiksasi dari udara
hanya sekitar 1,5 – 2,0 kg ha-1 tahun-1 (Houle et al.,
2006).
KESIMPULAN
Gambut sebagai bahan organik adalah deposit
N bagi tanah gambut, semakin tebal gambut maka
depositnya juga semakin besar. Menipisnya ataupun
hilangnya lapisan gambut secara cepat akibat
dilakukan penggalian ataupun secara alamiah
menyebabkan penurunan kandungan N total tanah.
Turunnya muka air tanah memacu mineralisasi
bahan organik yang ada di lapisan atas gambut serta
mineralisasi
gambut
itu
sendiri
sehingga
meningkatkan kandungan N total tanah.
DAFTAR PUSTAKA
Adji FF, BD Kertonegoro and A Maas. 2005. Relationship
between the depth of ground water table dynamics and
peats degradation in Kalampangan Central Kalimantan.
Proceeding of the Session on The Role of Tropical
Peatlands In Global Change Processes. Yogyakarta,
Indonesia. H Wosten and B Radjagukguk. (Eds.). 21–30.
ALTERRA-EU INCO-STRAPEAT and RESTROPEAT.
Anda M, AB Siswanto and RE Subandiono. 2009. Properties of
organic and acid sulfate soils and water of a ‘reclaimed’
tidal backswamp in Central Kalimantan, Indonesia.
Geoderma 149, 54–65.
Banach AM, K Banach, EJW Visser, Z Stepniewska, AJM
Smits, JGM Roelofs and LPM Lamers. 2009. Effects
of summer flooding on floodplain biogeochemistry in
Poland; implications for increased flooding frequency.
Biogeochemistry 92, 247–262.
Breemen NV and P Buurman. 2002. Soil Formation, 2nd edition,
404. Kluwer Academic Publisher. Dordrecht, USA.
Bremner JM. 1996. Total nitrogen. In : C.A. Black, D.D. Evans,
J.L. White, L.E. Ensminger and F.E. Clark. (Eds.),
Methods of Soil Analysis. Part 2. Chemical and
microbiological properties. USA. Agronomy 9, 1149–
1178. ASA.
Cabezas A, J Gelbrecht, E Zwirnmann, M Barth and D Zak.
2012. Effects of degree of peat decomposition, loading
rate and temperature on dissolved nitrogen turnover in
rewetted fens. Soil Biology and Biochemistry 48, 182–
191.
Chimner RA and KC Ewel. 2005. A tropical freshwater
wetland : II. Production, decomposition, and peat
formation. Wetland Ecology and Management 13, 671–
684.
Dohong S. 1999. Peningkatan Produktivitas Tanah Gambut yang
Disawahkan dengan Pemberian Bahan Amelioran Tanah
Mineral Berkadar Besi Tinggi. Disertasi. 171, Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Harvey JW and PV McCormick. 2009. Groundwater’s
significance to changing hydrology, water chemistry, and
biological communities of a floodplain ecosystem,
everglades, South Florida, USA. Hydrogeology Journal
17, 185–201.
Houle D, SB Gauthier, S Plaquet, D Planas and A Warren.
2006. Identification of two genera of N2–fixing
cyanobacteria growing on the three feather moss species
in boreal forests of Quebec, Canada. Canadian Journal of
Botany 84, 1025–1029.
229
Fahmi dan Radjagugkguk – Peran Gambut Terhadap Nitrogen Total Tanah di Lahan Rawa
Kaiser, K. and K. Kalbitz. 2012. Cycling downwards – dissolved
organic matter in soils. Soil Biology and Biochemistry 52,
29–32.
Kurnain A. 2005. Dampak Kegiatan Pertanian dan Kebakaran
Atas Watak Gambut Ombrogen. Dissertasi, 315.
Pascasarjana Fakultas Pertanian UGM. Yogyakarta.
Lambert K. 1995. Physico-Chemical Characterisation of
Lowland Tropical Peat Soil, PhD Thesis, 161. RUG,
Gent, Belgium.
Limin SH, E Yunsiska, K Kusin and S Alim. 2007. Restoration
of hydrological status as the key to rehabilitation of
damaged peatland in Central Kalimantan. Proceedings of
the International Symposium and Workshop on Tropical
Peatland, Carbon–Climate–Human Interactions on
Tropical Peatland: Carbon pools, fire, mitigation,
restoration and wise use. JO Rieley, C Banks and B
Radjagukguk
(Eds.),
217–223.
Yogyakarta.
CARBOPEAT-Liecester University, United Kingdom.
Maas A, R Sutanto, A Supriyo dan Hairunsyah. 1997.
Perbaikan kualitas gambut tebal, dampaknya pada
pertumbuhan dan produksi padi sawah. Laporan Hasil
Penelitian. Lembaga Penelitian UGM Bekerjasama
dengan Agricultural Research Management Project.
McCormick PV, JW Harvey and ES Crawford. 2011.
Influence of changing water sources and mineral
chemistry on the everglades ecosystem. Environmental
Science and Technology 41(1), 28–63.
Page SE, CJ Banks, JO Rieley and R Wust. 2008. Extent,
significance and vulnerability of the tropical peatlands
carbon pools ; past, present and the future prospects.
Proceedings of the 13th International Peat Congress.
After Wise Use – The Future of Peatlands. Vol. 1.
Tullamore, Ireland. C Farrel and J Feehan (Eds.). 233–
236. International Peat Society.
Page SE, A Hosciło, H Wosten, J Jauhiainen, M Silvius, JO
Rieley, H Ritzema, K Tansey, L Graham, H Vasander
and SH Limin. 2009. Restoration ecology of lowland
tropical peatlands in Southeast Asia : Current knowledge
and future research directions. Ecosystems 12, 888–905.
Reddy KR and RD DeLaune. 2008. The Biogeochemistry of
Wetlands; Science and applications, 779. CRC Press.
New York, USA.
Rieley JO, T Notohadiprawiro, B Setiadi and SH Limin. 2008.
Restoration of tropical peatland in Indonesia ; why, where
230
and how ? Proceedings of the 13th International Peat
Congress, After Wise Use – The Future of Peatlands.
Vol. 1. Tullamore, Ireland. C Farrel and J Feehan (Eds.).
240–244. International Peat Society.
Rieley JO and SE Page. 2008. Carbon budgets under different
land uses on tropical peatland. Proceedings of the 13th
International Peat Congress, After Wise Use – The
Future of Peatlands. Vol. 1. Tullamore, Ireland.Dalam :
C Farrel and J Feehan (Eds.). 245–249. International Peat
Society.
Sajarwan A. 1998. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang
Terhadap Laju Dekomposisi dan Perubahan Sifat Kimia
Tanah Gambut Fibrist. Tesis. 133. Universitas Brawijaya.
Malang.
Sapek A. 2008. Phosphate and ammonium concentrations in
groundwater from peat soils in relation to the water table.
Polish Journal of Soil Science 41, 139–148.
Sapek A, B Sapek, S Chrzanowski and M Urbaniak. 2009.
Nutrient mobilisation and losses related to the
groundwater level in low peat soils. International Journal
of Environment and Pollution 37(4),398–408.
Strakova P, RM Niemi, C Freeman, K Peltoniemi, H
Toberman, I Heiskanen, H Fritze and R Laiho. 2011.
Litter type affects the activity of aerobic decomposers in
a boreal peatland more than site nutrient and water table
regimes. Biogeosciences 8, 2741–2755.
Suhardjo H and IPG Widjaja-Adhi. 1977. Chemical
characteristics of the upper 30 cm of peat soils from Riau.
Proceedings ATA 106 Midterm Seminar. Peat and
Podzolics Soils and Their Potential for Agriculture in
Indonesia. Bogor. 74–92. Soil Research Institute.
Vahdat E, F Nourbakhsh and M Basiri. 2012. Lignin content of
range plant residues controls N mineralization in soil. Soil
Biology and Biochemistry 47, 243–246.
Wahyunto, S Ritung, Suparto dan S Hardjo. 2005. Sebaran
Gambut dan Kandungan Karbon di Sumatera dan
Kalimantan. 254. Wetlands International – Indonesia
Programme. Bogor, Indonesia.
Xing Y, J Bubier, T Moore, M Murphy, N Basiliko, S Wendel
and C Blodau. 2011. The fate of 15N–nitrate in a
northern peatland impacted by long term experimental
nitrogen, phosphorus and potassium fertilization.
Biogeochemistry 103, 281–296.
Fly UP