...

KOTA ALLAH: SEBUAH INTERPRETASI TEOLOGIS DAN

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

KOTA ALLAH: SEBUAH INTERPRETASI TEOLOGIS DAN
VERITAS 1/2 (Oktober 2000) 159-168
KOTA ALLAH:
SEBUAH INTERPRETASI TEOLOGIS DAN FILOSOFIS
TERHADAP SEJARAH
FERRY Y. MAMAHIT
PENDAHULUAN
Salah satu keunikan kekristenan terletak pada kesadarannya tentang
sejarah. Sejarah hidup manusia dilihat sebagai perjalanan di dalam ruang
dan waktu dan juga dimengerti sebagai lintasan peristiwa-peristiwa yang
memiliki awal dan akhir. Kesadaran semacam ini menjadikan kekristenan
mampu eksis dan hidup secara dinamis, terus bergerak maju menuju
tujuan akhirnya. Ironisnya, pada masa kini nampak banyak gereja yang
tidak mengerti apalagi menekankan kesadaran sejarah yang demikian,
sehingga sering terdengar banyak gereja yang menjadi pasif, tidak
memiliki visi dan misi yang jelas, tidak bertumbuh secara maksimal, tidak
berpengharapan dan tidak sedikit yang menjadi apatis terhadap masalahmasalah dunia yang ada di sekitarnya.
Tulisan ini berusaha menggugah kembali kesadaran gereja Tuhan
terhadap sejarah melalui interpretasi, baik secara teologis maupun
filosofis, yang dilakukan oleh Agustinus, salah satu teolog klasik terbesar
pada abad keempat, dalam karyanya Kota Allah (The City of God).
Karyanya ini telah menjadi pengajaran standar gereja Kristen selama
berabad-abad mengenai sejarah yang dilihat dari perspektif iman Kristen.
Melalui usaha menggugah kesadaran sejarah ini diharapkan gereja dapat
lebih memahami keberadaan, tugas dan tanggung jawabnya dalam
sejarah, serta lebih serius mengisi ruang dan waktu yang melintas ini
dengan kegiatan dan peristiwa pembangunan kerajaan Allah secara
progresif dan konstruktif.
KOTA ALLAH: SEBUAH MAHAKARYA SASTRA AGUSTINUS
Satu dari beberapa tulisan terkenal Agustinus adalah De Civitate
Dei (The City of God) atau Kota Allah. Karyanya ini juga terkenal sebagai
mahakarya di antara para jenius besar Bapa-bapa Gereja Latin (The Latin
Fathers), sekaligus menjadi karya sastra yang paling terkenal dan paling
160
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
banyak dibaca di antara karya-karya Agustinus lainnya di samping
Pengakuan-pengakuan (The Confessions).1 Bukan itu saja, karyanya ini
telah memberikan pengertian dan inspirasi bagi banyak teolog, sejarawan
dan orang Kristen tentang sejarah dan politik dalam perspektif Kristen
selama berabad-abad.
Isi Kota Allah terbagi menjadi dua bagian besar. Bagian pertama (IX) adalah bagian yang menceritakan jatuhnya kota Roma sebagai suatu
bencana (I-III) dan pemaparan konsep-konsep serta diskusi-diskusi
tentang ilah-ilah orang kafir (IV-X). Bagian kedua (XI-XXIII) menjelaskan
tentang asal-usul, perkembangan dan tujuan duniawi dan sorgawi kotakota yang ada di dunia.
Agustinus menulis buku ini sebagai refleksi atas kejatuhan kota Roma
pada tahun 410 M, yang sungguh-sungguh mengguncangkan dunia
Mediterania. 2 Sebelum kejatuhan kota ini, bangsa-bangsa Barbar di
bawah komando Alaric dan pasukan orang-orang Visigoth mulai
menyerang daerah-daerah kekuasaan kerajaan Roma. Ketika kerajaan
Roma menjadi lemah karena serangan-serangan ini, orang-orang Roma
yang beragama kafir mulai mempersalahkan kekristenan sebagai
penyebab malapetaka itu. Mereka percaya bahwa dewa-dewa mereka
sedang mengutuk orang-orang Roma karena pengaruh kekristenan yang
sangat kuat di kota itu. Agustinus memberikan sanggahan terhadap
tuduhan itu dengan menuliskan Kota Allah.3
Dalam Kota Allah, Agustinus merefleksikan kejatuhan kota Roma
yang kemudian menjadi bahan pemahamannya, mungkin lebih tepat
penafsirannya, terhadap sejarah dunia secara universal. Penafsirannya
dibuat dengan jalan menelusuri sejarah melalui dua pendekatan:
pendekatan teologis dan filosofis. Jadi, tepatlah jika Kota Allah disebut
sebagai mahakarya Agustinus, karena karyanya ini bukan saja merupakan
karya teologi sejarah pertama, tetapi juga merupakan filsafat sejarah
pertama yang sangat mengagumkan sekaligus merupakan filsafat politik
yang telah berhasil mempengaruhi Eropa selama berabad-abad.4
1
Augustine, “St. Augustine’s City of God and Christian Doctrine” dalam The
Nicene and Post-Nicene Fathers of Christian Church (ed. Philip Schaff; Reprint ed.;
Grand Rapids: Eerdmans, 1983) 2:9.
2
Justo. L. Gonzalez, A History of Christian Thought (Nashville: Abingdon, 1971)
2:52.
3
J. H. Rapar, Filsafat Politik Agustinus (Jakarta: Rajawali, 1989) 41-42.
4
Ibid.
Kota Allah
161
INTERPRETASI TEOLOGIS TERHADAP SEJARAH
Setelah mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen,
Agustinus menjadi orang yang sangat mencintai firman Allah. Dia
percaya bahwa gereja seharusnya menjadi tempat di mana pesta Kitab
Suci “sudah selalu tersedia.”5 Karena itu ketika memahami sejarah dan
peristiwa-peristiwa yang ada di dalamnya, ia tidak pernah menggunakan
pengertiannya sendiri, tetapi ia menggunakan dan kemudian mendasari
tulisannya dengan perspektif Alkitabiah dan teologis yang kuat.
Pemahaman yang demikian menghasilkan konsep-konsep sejarah dunia
yang bermakna teologis. J. V. L. Casserley menekankan bahwa dalam
karyanya ini, Agustinus mencoba menyediakan analisa Alkitabiah dan
teologis tentang sejarah dunia.6
Dari hasil pemikiran tentang sejarah, didapati bahwa sejarah
merupakan misteri Allah. Di satu sisi, Allah adalah Allah yang tidak
terselami dan tidak terjangkau oleh pikiran dan pengetahuan manusia.
Tidak terselami jalan dan pikiran-Nya. Ia tidak di dalam waktu melainkan
pencipta waktu.7 Di sisi yang lain, manusia memiliki keterbatasan untuk
memahami secara keseluruhan ruang dan waktu yang diciptakan Allah
ini, termasuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya. Hal ini
menyebabkan manusia tidak mampu memahami sejarah dengan sejelasjelasnya. Tidak ada seorang pun yang dapat menyingkapkan sejarah,
karena sejarah dunia merupakan suatu misteri yang mengherankan. Allah
hanya menyingkapkan “sebagian” dari sejarah ini di dalam Alkitab, tetapi
tidak ada seorang pun yang dapat menelusuri sejarah tanpa bimbingan
ilahi dari kitab suci dan tanpa Allah yang bekerja di dalam sejarah.8
Sebagian dari sejarah ini dijelaskannya dalam bagian akhir Kota Allah
(XI-XXIII). Dalam bagian ini Agustinus mencoba menelusuri sejarah dunia
melalui sejarah suci dalam Alkitab. Pada mulanya Allah menciptakan
dunia ini. Ia menciptakan ruang dan waktu sebagai elemen-elemen dasar
dari sejarah. Penciptaan sejarah yang demikian berimplikasi bahwa waktu
memiliki awal atau permulaan. Prinsip ini dinyatakan sebagai argumentasi
terhadap pandangan yang keliru, yang muncul pada masa itu, bahwa
waktu tidak memiliki permulaan (XI:4). Pemahaman waktu harus selalu
5
F. Van Der Meer, Augustine of Hippo (New York: Harper and Row,1961) 343.
Toward A Theology of History (New York, Chicago, San Francisco: Holt, Rinehart
and Winston, 1965) 64.
7
N. L. Geisler, “Augustine of Hippo,” Evangelical Dictionary of Theology (ed.
Walter E. Elwell; Grand Rapids: Baker, 1984) 106.
8
William B. Placher, A History of Christian Theology (Philadelphia: Westminster,
1983) 119.
6
162
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
ada pada kerangka “pada awalnya.” Hal ini berarti bahwa dunia tidak
berada di dalam waktu melainkan secara simultan berada bersama-sama
dengan waktu, sesudahnya berarti masa lalu dan sebelumnya berarti
masa depan (XI:6).
Pengaruh dosa di dalam ruang dan waktu sangat fatal. Dosa telah
memisahkan dua kota, kota manusia dan kota Allah.9 Kejatuhan malaikat
menjadi awal atau permulaan terbaginya kedua kota ini. Tragisnya,
pola kejatuhan ini terulang lagi dalam kejatuhan manusia pertama. Kedua
kejatuhan ini adalah kejatuhan bukan karena keadaan alamiah mereka
tetapi karena keinginan (XIII:3). Agustinus menjelaskan bahwa kota
manusia telah dibangun oleh Kain pada awal sejarah ras manusia dan ini
berkembang sampai ke masa kerajaan Romawi. Sementara itu, pada sisi
yang lain, Habel telah membangun kota Allah, yang kemudian diteruskan
kepada Abraham dan keturunannya. Ditekankan juga bahwa orangorang yang hidup di kota Allah telah dipredestinasikan oleh anugerah
untuk berada di tempat itu (XV-XVIII).
Kota manusia dan kota Allah memiliki bentuk dan karakteristiknya
sendiri-sendiri. Bentuk dan karakter ini berakar pada kondisi manusia
sejak awalnya, manusia yang berdosa dan manusia yang walaupun
berdosa tetapi telah memperoleh anugerah pengampunan dari Allah.
Kondisi inilah yang telah membedakan keduanya. Kota manusia
bercirikan kehidupan yang sangat mengasihi dan memuliakan diri
sendiri, sedangkan kota Allah, di sisi lain, bercirikan hidup yang
mengasihi dan memuliakan Allah.10 Kedua perbedaan ini terus ada dan
berkembang dalam lintasan sejarah, dan semua perbedaan yang
berkembang ini akan menjadi sangat jelas pada akhir zaman.
Pada Abad Pertengahan muncul masalah mengenai hubungan antara
kota Allah dan gereja; apakah persamaan antara kota Allah dan gereja,
apakah keduanya mengacu kepada Kerajaan Roma dan Gereja Roma
Katolik atau lembaga-lembaga dunia? Menurut tradisi kelompok
Agustinian, yang menggunakan metode eksegesis yang khas Abad
Pertengahan terhadap Kitab Wahyu, gereja secara eksplisit identik
dengan kota Allah.11 Pendapat ini agak bertentangan dengan apa yang
9
Agustinus juga menggunakan istilah lain, yang didasarinya atas analogi tradisionil
untuk kedua kota ini, Yerusalem dan Babilonia. Lihat penjelasan W. H. C. Frend,
“Augustinianism” dalam The Westminster Dictionary of Christian Theology (ed.
Alan Richardson dan John Bowden; Grand Rapids: Westminster, 1983) 56-57.
10
Gonzalez, A History 52.
11
Jaroslav Pelikan, The Growth of Medieval Theology (Chicago: University of
Chicago Press, 1978) 3: 42.
Kota Allah
163
dikatakan oleh J. W. Montgomery bahwa kedua kota tidak pernah identik
dengan lembaga-lembaga dunia. 12 Jika pendapat pertama disetujui,
ini berarti bahwa lembaga-lembaga ini akan membatasi cakupan kota
Allah. E. A. Cairns berkata bahwa cakupan kota Allah seharusnya lebih
luas dari pada hanya sebatas lembaga-lembaga.13 Jika dipikirkan secara
lebih dalam, seharusnya ada cara yang tepat untuk mengatasi polemik
ini. Pada dasarnya, gereja harus didasari atas kasih, sehingga kasih dapat
diaktualisasikan. Jika kasih ada di dalam gereja, argumen-argumen ini
tidak sah, karena dengan kasih gereja akan dikenal sebagai kota Allah
dan meskipun gereja adalah institusi dunia, dengan kasih gereja akan
berarti lain. P. Tillich memberikan jalan keluar dengan menempatkan
Kristus di tengah masalah dengan mengatakan bahwa gereja dapat
menjadi kota Allah jika Kristus, dengan kasih-Nya, memerintah gereja.14
Karena itu dapatlah dikatakan bahwa pendekatan teologis Agustinus
terhadap sejarah dimulai dari atas; 15 Allah telah menciptakan dan
memulai sejarah dunia ini. Dalam perjalanannya, sejarah dunia telah
terbagi menjadi dua, sejarah sekuler dan sejarah sakral. Walaupun
demikian, Allah di dalam Kristus tetap bekerja dan berkuasa di dalam
kedua sejarah itu. Ia berkuasa atas kota surgawi dan datang ke kota
duniawi untuk menyelamatkan orang-orang berdosa. Karena itu, orang berdosa dapat masuk dan hidup di dalam kota Allah. Jadi, kedua
sejarah itu berada dalam kekuasaan ilahi. Gereja, sebagai alat di tangan
Tuhan untuk membawa manusia menjadi warga kota Allah, adalah
“bayangan” dari kota surgawi di dalam sejarah dunia, selama ia
memanifestasikan kasih Allah.16
INTERPRETASI FILOSOFIS TERHADAP SEJARAH
Dalam hal tertentu, filsafat dan sejarah agak bertentangan. Di tangan
para filsuf sebuah fakta dicari universalitasnya sementara di tangan
sejarawan sebuah fakta dicari partikularitasnya. Tetapi di tangan
Agustinus, keduanya tidak dipertentangkan, sebab baik pendekatan
filsafat maupun pendekatan sejarah, keduanya dapat diintegrasikan
dalam satu kesatuan. Melalui integrasi keduanya, kerangka yang komplit
12
The Shape of the Past (Minneapolis: Bethany, 1975) 20.
God and Man in Time (Grand Rapids: Baker, 1979) 137.
14
A History of Christian Thought (New York: Simon and Schuster, 1967) 121.
15
Cairns, God 136.
16
Peter Brown, Augustine of Hippo (Berkeley and Los Angeles: University of
California Press, 1969) 323.
13
164
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
tentang filsafat “sejarah universal” dapat disusun. 17 Kemampuan
menyusun filsafat sejarah seperti ini sedikit banyak berasal dari latar
belakang pendidikannya. Sebelum menjadi Kristen ia adalah seorang
filsuf Platonik yang sangat berminat pada sejarah. Di samping itu, ia
juga telah mempelajari sejarah di sekolah yang juga menamatkan
sejarawan Theopompus dan Ephorus.18
Selain mampu mengintegrasikan filsafat dan sejarah, Agustinus juga
mampu mengintegrasikan pemikiran-pemikiran filosofis dan pemikiranpemikiran teologisnya.19 Sejarah universal yang dikemukakan Agustinus
adalah sebuah produk yang dihasilkan lewat formulasi konsep-konsep
teologis dan filosofis berdasarkan ajaran Alkitab. Dalam Alkitab,
ditemukan bahwa garis sejarah dunia sedang terus bergerak. Garis ini
ditelusurinya mulai dari penciptaan dunia sampai ke masa di mana
Agustinus hidup. Ditemukan juga bahwa sepanjang lintasan itu, Allah
terus mengontrol jalannya sejarah dunia ini. Allah sedang berkarya di
dalam sejarah, dan bukan hanya itu, fakta membuktikan bahwa sejarah
universal dunia ini akan berakhir di satu titik klimaks. Karena
pemahamannya yang universal terhadap sejarah ini, Agustinus mampu,
sekaligus menjadi orang yang pertama kali, menelusuri secara bersamasama sejarah bangsa-bangsa seperti Israel, Babel, Yunani dan Roma.20
Kota Allah adalah karya filsafat yang positif dan komprehensif
tentang sejarah, suatu interpretasi terhadap drama hidup manusia.21
Pandangan sejarah sebagai sebuah “drama” di sini dimengerti sebagai
sesuatu yang berawal dan berakhir. Konsep yang demikian sangat
berbeda dengan pandangan Yunani atau ide klasik. Menurut pandangan
ini, waktu atau sejarah dipahami sebagai suatu rentetan siklus yang
berulang-ulang berputar dengan sendirinya di dalam dunia ini.
Sebagaimana telah dikemukakan di atas, bahwa sejarah terbagi dua,
yakni sejarah sakral dan sejarah sekuler. Sejarah sekuler berjalan
berputar-putar, tetapi sejarah sakral berjalan maju searah.22 Dengan kata
lain, waktu yang ada di dalam sejarah sekuler bergerak secara sirkular,
sementara waktu dalam sejarah sakral bergerak secara linear. Pendapat
ini didasari atas pemahaman tentang sejarah dari perspektif Alkitab yang
kuat, yaitu waktu memiliki awal dan sedang bergerak menuju akhir.
17
John. H. S. Burleigh, The City of God (London: Nisbe and Co., 1949) 185.
Ibid. 188. Theopompus dan Ephorus adalah sejarawan terkenal pada abad
sebelum Augustinus.
19
Rapar, Filsafat 43.
20
Frend, “Augustinianism” 26.
21
K. S. Latourette, A History of Christianity (San Francisco: Harper and Row,
1975), 1:176.
22
Casserley, Toward 65.
18
Kota Allah
165
Hubungan antara keduanya sangat unik sebab sementara sejarah sekuler
berputar terus, sejarah sekuler ini menjadi ruang bagi sejarah sakral untuk
bergerak ke depan. Sejarah sekuler menjadi milik waktu dan tidak dapat
menghindar atau bangkit dari batasan-batasan kesementaraannya.23
Menurut Agustinus waktu sama sekali berbeda dengan kekekalan.
Untuk membedakan waktu dan kekekalan, Agustinus menjelaskan
bahwa tidak mungkin sesuatu eksis tanpa pergerakan dan transisi (XI:6).
Jika penafsiran pernyataannya ini benar, bahwa “pergerakan dan transisi”
ini dimengerti sebagai peristiwa-peristiwa sejarah, maka sejarah hanya
ada di dalam dunia atau di dalam ruang dan waktu. Sejarah dibatasi
oleh ruang dan waktu. Sedangkan kekekalan tidak dapat dipengaruhi
oleh pergerakan atau perubahan. Kekekalan selalu berada di luar
pengaruh ruang dan waktu.
Dalam Kota Allah, sejarah dipandang sebagai sebuah cerita tentang
dua kota, kota duniawi dan surgawi.24 Konsep-konsep seperti kejahatan
dan kebaikan, duniawi dan surgawi, sementara dan kekal (IX) yang ada
di sepanjang cerita itu sering dicurigai sebagai pengaruh dari filsafat
dan pemikiran yang bersifat Platonistik, khususnya dualisme Platonik.
Namun demikian, meskipun Agustinus sangat memahami dualisme
Platonik, ia tidak mendasari konsepnya pada dualisme yang nyata,
sebagaimana Plato mengajarkannya. Ini dibuktikan ketika ia mendasari
filsafat sejarahnya--sebagaimana umumnya filsafat sejarah--pada dualisme
sejarah bukan pada dualisme secara ontologis.25
Walaupun Agustinus telah mempelajari filsafat Plato secara mendalam
dan pernah menjadi seorang Neo-Platonik sebelum menjadi seorang
Kristen, namun idenya tentang sejarah masih tetap banyak dan sangat
dipengaruhi oleh pandangan Alkitabiah. Dalam pemikiran tentang filsafat
sejarah ini, ia tetap memakai pandangan yang terbaik dari zaman klasik
untuk memahami sejarah dalam terang Injil Yesus Kristus. Meskipun ia
sering dikritik karena alasan mengkorupsikan iman Alkitabiah dengan
cara menggabungkan unsur-unsur asing dalam pikiran-pikirannya, tetapi
sebenarnya ia sedang berusaha untuk membuat kekristenan relevan bagi
kehidupan intelektual pada masanya.26
KLIMAKS SEJARAH
Dalam bagian akhir Kota Allah (XX-XXIII), Agustinus menjelaskan
keadaan akhir sejarah dunia ini. Sebelum menjelaskan bagian ini, ia telah
23
Ibid.
Frend, “Augustinianism” 26.
Tillich, A History 121.
26
Montgomery, The Shape 46.
24
25
166
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
membagi sejarah dunia menjadi tiga era: pertama, masa sebelum hukum
(masa anak-anak); kedua, masa di bawah hukum (dewasa); dan ketiga,
masa anugerah atau sesudah hukum (masa tua). 27 Pembagian ini
menjelaskan bagaimana sejarah berkembang dari waktu ke waktu. Ini
juga berimplikasi bahwa waktu sedang dan akan bergerak menuju ke
titik akhir. Sekarang ini gereja ada pada era ketiga, ketika anugerah
telah datang di dalam Yesus Kristus. Setelah itu, ada waktu di mana
segalanya akan berakhir. Kota manusia akan berakhir, tetapi kota Allah, di mana gereja sesungguhnya ada dan hidup di dalamnya, akan
masuk ke dalam kekekalan.
Konsep “berakhirnya kota manusia atau kota duniawi ( civitate
terrena )” ini sangat bertentangan dengan mitos “ Roma Aeterna ,”
kekekalan kekaisaran Romawi, khususnya kota Roma.28 Orang-orang
Roma percaya kepada mitos bahwa kota Roma, yang dipimpin oleh
seorang kaisar sebagai Dominus et Deus (Tuhan dan Allah), tidak akan
dapat binasa. Kota Roma adalah kota yang kekal di mana dewa-dewa
bersemayam di dalamnya dan memberi kejayaan baginya. Tetapi bagi
Agustinus, kejatuhan kota Roma adalah bukti yang konkret bahwa
pandangan atau mitos ini penuh dengan kesalahan. Kekekalan kekaisaran
Roma adalah pandangan yang salah dan keliru, karena kota Roma adalah
civitate terrena, dan dengan cukup keras disebut juga sebagai civitate
diaboli, sebuah kota yang telah dikorupsikan oleh dosa asali, hawa nafsu,
peperangan, haus kekuasaan dan telah terikat kuat oleh belenggubelenggu Iblis (kejahatan).29
Sejarah universal akan mencapai klimaksnya di dalam Yesus Kristus.
Ia adalah konsumasi seluruh sejarah manusia. Pada klimaksnya, sejarah
dunia akan dikontrol dan dikuasai oleh Yesus Kristus sendiri, apakah
itu kota duniawi atau kota surgawi. Perbedaan kedua kota ini akan
terlihat jelas nantinya. Walaupun demikian, tidak terlalu mudah untuk
melihat dan mengerti secara nyata, sebab fakta sering membuktikan
bahwa “gereja” yang mengaku sebagai bagian dari kota surgawi tidak
dapat memperlihatkan kontrol dan kuasa Kristus itu atas dirinya. Di
akhir zaman, kedua kota akan terus hidup dan berada dalam karakteristik
mereka masing-masing, dan karena keduanya ada dan hidup
berdampingan, maka keduanya akan saling mempengaruhi satu dengan
yang lainnya.
27
Ibid. 47.
Frend, “Augustinianism” 57.
29
Meer, Augustine 163.
28
Kota Allah
167
Pada “hari terakhir” itu, ketika Yesus Kristus menyelesaikan segala
pekerjaan-Nya, Ia akan membuat perbedaan antara kedua kota dengan
jelas dalam hal karakter-karakter dan tujuan-tujuan mereka. P. Ricoeur
mengatakan bahwa pada “hari terakhir” semua sejarah, kerajaan,
peperangan, revolusi, penemuan, seni, moralitas dan filsafat, di dalam
segala kebesaran dan kesalahan mereka akan bersama-sama
direkapitulasikan dalam Kristus.30 Pada akhir sejarah dunia ini, Allah di
dalam Yesus Kristus juga akan menghakimi dan menghukum yang jahat,
dan sebaliknya, Ia akan membangkitkan orang-orang suci dan
memberikan kebahagiaan kekal kepada mereka (XX-XXII).
KESIMPULAN
Kejatuhan kekaisaran Roma yang besar dan agung membuat
Agustinus berpikir tentang ketidakabadian dan di sisi lain pengharapan
akan sesuatu yang lebih abadi atau kekal. Inilah yang menginspirasikan
penulisan Kota Allah, sebagai sebuah interpretasi teologis dan filosofis
terhadap sejarah. Sejarah dunia ada di dalam ruang dan waktu dan
sejarah ini sedang bergerak secara simultan menuju ke satu titik akhir.
Ia memiliki awal dan akhir. Sejak awal semua manusia hidup di dalam
sejarah yang demikian, dan pada saat yang sama mereka juga hidup di
kota-kota dalam kedua sejarah itu, entah itu di dalam kota surgawi dalam
sejarah sakral atau di dalam kota duniawi dalam sejarah sekuler. Allah
menciptakan dan mengontrol sejarah bersama unsur-unsurnya (waktu,
ruang dan peristiwa-peristiwa). Allah berkuasa atas sejarah dan hidup
manusia. Melalui Yesus Kristus, Ia bekerja untuk menyelamatkan orang
berdosa dalam kota manusia dan membuat mereka menjadi warga negara
kota Allah. Sejarah, sebagaimana ia bergerak secara linear, akan sampai
pada klimaksnya di dalam Yesus Kristus. Pada saat konsumasi sejarah
itu, perbedaan antara kedua kota menjadi jelas, kemudian Ia akan
menghakimi yang jahat dan memberi kebahagiaan kepada orang-orang
yang saleh.
Mengingat sejarah sangat bermakna secara teologis dan filosofis,
maka gereja harus sadar tentang pentingnya memahami dan bagaimana
hidup dalam sejarah itu. Ruang dan waktu adalah anugerah yang
diciptakan dan diberikan Tuhan baginya di mana di dalamnya gereja
ada, hidup dan berkarya. Karena waktu dan ruang bergerak terus ke
depan menuju titik klimaksnya, gereja pada masa kini harus mengikuti
30
History and Truth (Evanston: Nortwestern University Press, 1965) 94.
168
Veritas: Jurnal Teologi dan Pelayanan
pergerakan itu. Ia harus mengisi ruang dan waktu dengan aktivitas dan
kualitas hidup yang sesuai dengan karakteristik Kota Allah, kota sorgawi.
Aktivitas atau peristiwa ini dapat diwujudkan dengan cara bekerja keras,
karena waktunya singkat dan gereja berpacu dengan waktu, untuk
membangun dan memperluas kerajaan Allah di muka bumi ini dengan
cara membawa sebanyak mungkin “warga-negara kota manusia” ke
dalam kerajaan Allah, sehingga mereka dapat hidup dan terus hidup di
dalam kekekalan kota surgawi. Di samping itu, gereja harus memiliki
kualitas hidup yang didasari atas karakteristik warga negara kerajaan
Allah. Gereja terpanggil untuk merealisasikan hidup yang penuh kasih,
kekudusan dan kebajikan secara nyata di tengah dunia ini. Dengan cara
hidup yang demikian Kota Allah akan dikenal dan diharapkan
kehadirannya oleh dunia ini. Walaupun gereja hidup dan melayani di
dunia yang tidak kekal, tetapi gereja masih perlu hidup dengan
pengharapan yang pasti sambil mengerjakan hal-hal yang bernilai kekal,
selama masih ada waktu dan ruang yang tersisa.
Fly UP