...

Klik disini - Yayasan Dinamika Umat

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Klik disini - Yayasan Dinamika Umat
Mukaddimah
Bismillahirrahmanirrahim. Salah satu karunia Allah yang paling berharga
adalah waktu. Waktu itu memang unik. Ia datang sesuai masanya dan tidak pernah
berhenti. Jika ia lewat tak akan pernah kembali. Awal dan akhir segala sesuatu
selalu berdasar waktu. Semua ibadah berkaitan dengan waktu, bahkan sah tidaknya
tergantung waktu. Begitu pentingnya, Allah SWT. berulangkali bersumpah atas
nama waktu. Pada setiap pergantian waktu, kita dituntut untuk ingat kembali kepadaNya. Tahun Hijriyah 1436 sudah berjalan dan Bulan kelahiran Nabi SAW yakni
Rabiul Awal pun tiba. Tahun Miladiyah segera berganti ke Tahun Baru 2015.
Sepatutnya, disetiap pergantian waktu ada refleksi dan introsfeksi diri. Seberapakah
amal saleh dan amal buruk yang dilakukan ? Sebab, semua itu akan dihitung dan
dibalas di Hari Perhitungan (Yaumul Hisaab). Semoga tulisan ini mengingatkan kita
agar menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain. Amiin.
Masuk Surga Tanpa Hisab
Ketika kita melakukan perjalanan dan melewati tempat pemeriksaan, mulai dari
yang sederhana hingga yang besar (antar negara), lalu tidak dilakukan pemeriksaan,
bahkan disambut dengan kehormatan, sungguh sebuah penghargaan luar biasa.
Biasanya, hal ini hanya berlaku untuk orang-orang yang sangat penting (VVIP),
yakni kepala negara, pemerintahan atau tamu negara. Mengapa mendapat privillage
(keistimewaan) itu ? Mereka dipandang layak menerimanya atas kedudukan,
prestasi dan karyanya.
Gambaran di atas juga berlaku di Hari Akhir kelak. Sebelum memasuki tempat
abadi, semua manusia yang sudah melalui perjalanan hidup di dunia akan melalui
pintu pemeriksaan dokumen perjalanan (catatan amal). Apakah dokumennya
lengkap dan sempurna atau tidak (angka merah), sehingga patut masuk ke surga
atau ke neraka dengan segala konsekwensinya (QS.75:13-15,22-25,88:2-10). Selain
itu, ada rombongan khusus dengan gagah dan wajah berseri. Mereka tidak diperiksa
dokumennya bahkan sudah dinanti kedatangannya yakni orang-orang yang berjasa
dalam menegakkan agama dengan jiwa, raga, harta dan kehormatanya di masa
awal kenabian (as-saabiqunal awwalun) dan orang yang sesudahnya dalam
keridhaan Ilahi (QS.9:100).
Rasulullah SAW pernah menyebutkan 10 nama shahabat yang masuk surga
tanpa hisab. Mereka antara lain Abu Bakar ra, Umar ibnu Khattab ra, Utsman bin
Affan ra, Ali bin Abi Thalib ra, Zubair bin Awwam ra, Thalhah ra, Saad bin Abi
Waqas. (HR. At-Turmudzi). Dalam riwayat lain, Nabi SAW. menyebut jumlahnya.
“layadkhulanna min ummatii sab’uuna alfan aw sab’umiati alfin laa yadkhulu
awwaluhum hatta yadkhula aakhiruhum, wujuhuhum ‘ala shurotil qomari lailatal
badri”. Artinya : tujuh puluh ribu atau tujuh ratus ribu dari ummatuku akan masuk
surga dengan tidak dihisab, mereka masuk berturut-turut, sedang rupa mereka
seperti cahaya bulan purnama. (HR. Bukhari). Dalam Al-Qur’anil Karim, paling tidak
ditemukan kata bi ghairi hisaab (tanpa perhitungan) dalam tiga ayat yang maknanya
sama meski konteksnya berbeda, yakni rezki tanpa batas diberikan kepada siapa
yang dikehendaki-Nya (QS.3:27), hidangan dari Allah untuk Siti Maryam ibunda Nabi
Isa al-Masih (QS.3:37), dan rezki yang tak terhingga bagi penghuni surga kelak
(QS.40:40).
Dialog Sufistik di Depan Surga
Seorang ulama dan penulis besar, alm. KH. Abdurrahman Arrosi dalam buku
kecil 30 Kisah Teladan (jilid 5), terinspirasi oleh Hadits Rasulullah SAW tentang
mereka yang masuk surga tanpa hisab. Syahdan, kelak di pintu surga ada empat
manusia yang hendak masuk surga lebih dahulu. Mereka adalah Pahlawan yang
syahid, Hartawan yang dermawan, Haji mabrur dan Alim yang shaleh. Malaikat Jibril
turun tangan membantu Malaikat Ridwan untuk mengatasinya.
Orang pertama dipanggil kedepan lalu ditanya : “Dengan sebab apa engkau
pantas masuk surga tanpa dihisab” ? “Saya seorang pahlawan yang mati syahid di
medan perang karena membela agama”. Jibril bertanya lagi : “Darimana kau tahu
bahwa pahlawan yang mati syahid bakal masuk surga tanpa dihisab” ? Ia menjawab
: “Dari orang alim”. “Kalau begitu, jagalah akhlak yang baik. Biarkan orang alim
masuk surga lebih dahulu”, kata Jibril. Ia pun menyadari ketidaksopanannya.
Orang kedua dipanggil dan ditanya : “Siapa engkau, dan apa amal baikmu di
dunia sehingga merasa pantas masuk surga lebih dulu” ? “Saya haji mabrur. Sesuai
janji Rasulullah, bahwa balasannya adalah surga”. “Darimana kau tahu bahwa
Rasulullah berjanji seperti itu”? “Dari guru saya, orang alim”, sahut si Haji Mabrur.
“Mengapa engkau tidak menjaga adab dengan membiarkan orang alim yang masuk
surga dulu” ? ujar Jibril. Ia pun sadar atas kelancangannya. Selanjutnya, orang
ketiga pun ditanya hal serupa. “Saya adalah orang kaya yang dermawan. Kekayaan
saya dapat dari jalan yang halal lalu diinfakkan di jalan Allah”. Jawab si Hartawan.
“Dari man kau tahu bahwa itu layak dapat ganjaran surga”. Tanya Jibril. “Dari orang
alim, guru saya”. “Lalu, kenapa orang alim yang mengajarimu kebaikan tidak kau
biarkan masuk duluan sebagai tanda terima kasihmu” ? Ia pun mempersilahkan
orang alim itu masuk duluan.
Namun, orang alim (ulama) yang saleh itu berkata : “Maaf tuan-tuan. Saya
tidak akan dapat belajar dan mengajar dengan tenang apabila tidak ada pahlawan
yang rela mati syahid. Saya tidak akan mendapat pahala terus menerus, jika murid
saya yang haji tidak mengamalkan ilmu saya dengan benar. Kami tidak akan dapat
keleluasaan mengajar, berjuang, beramal jika tidak ada orang kaya dermawan. Dia
yang membangun madrasah, menyantuni anak yatim dan dhuafa, membangun
masjid dan lainnya. Oleh karena itu, biarlah orang kaya yang masuk surga duluan,
disusul pahlawan, haji mabrur dan saya belakangan”. Akhirnya Jibril memutuskan
dan menerima usulan orang alim itu.
Khatimah
Dialog sufistik itu memberi banyak pelajaran. Pertama, orang-orang baik dan
penting itu diukur dari ketaatan dan kemanfaatannya bagi orang lain. Keempat
orang itu adalah orang-orang hebat yang berbuat untuk umat, bukan untuk dirinya
sendiri. Pejuang itu banyak, tapi yang syahid sedikit. Orang haji itu banyak, tapi yang
mabrur sedikit. Orang kaya banyak, tapi yang dermawan sedikit. Orang berlimu
banyak, tapi yang saleh sedikit. Kedua, rasa egois (anaiyah) bisa menerpa siapa
saja. Merasa paling patut dihargai, dihormati dan paling benar. Penilaian subjektif itu
pertanda dangkalnya ilmu sebagai cahaya yang menyinari, sehingga sempit dan
kerdil dalam melihat realitas kehidupan. Ketiga, Alim Ulama adalah pewaris para
Nabi yang sepatutnya membimbing, menyejukkan dan menyatukan umat. Ulama
adalah orang mulia dan dimuliakan, tapi sikapnya memuliakan orang lain jauh lebih
mulia. Allahu a’lam bish-shawab.
Fly UP