...

Upaya Mendapatkan Pelajaran Berharga dari Redemption Reksa

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Upaya Mendapatkan Pelajaran Berharga dari Redemption Reksa
Upaya Mendapatkan Pelajaran Berharga dari Redemption Reksa Dana
Pendapatan Tetap
Oleh : Parto Kawito – Manajer Investasi PT Indo Premier Securities
Wawan Hendrayana – Technical Support PT Infovesta Utama
Gelombang redemption (penjualan kembali) reksa dana jenis pendapatan tetap yang
terjadi beberapa bulan terakhir sungguh memprihatinkan bagi Manajer Investasi (MI)
ataupun investor. Yang jelas peristiwa ini telah terjadi dan yang dapat kita lakukan
sekarang adalah mencoba memetik pelajaran, sehingga peristiwa dengan ongkos yang
mahal ini tidak mubazir.
Sebelum melakukan pembahasan lebih lanjut, akan disinggung sedikit mengenai jenis
investor dan latar belakang mengapa investor berinvestasi di reksa dana jenis pendapatan
tetap serta apa saja upaya investor untuk melindungi investasinya.
Mayoritas investor reksa dana di Indonesia relatif belum mengenal reksa dana dengan
baik. Memang pernyataan ini tidak didukung oleh studi atau angka, dan hanya didasarkan
pada pengalaman pribadi penulis dan kenyataan bahwa pada awalnya reksa dana yang
laku adalah yang dijual oleh bank dan di-package seperti deposito yaitu mempunyai jatuh
tempo dan indikasi return (yang sering diplesetkan menjadi guaranteed return atau
bunga). Investor yang masih awam ini biasanya investor ritel. Tentu saja ada sebagian
investor yang sudah memahami tipe investasi ini. Biasanya mereka adalah investor
institusi atau investor individu yang berpengalaman. Investor jenis ini hampir selalu
mendapatkan diskon biaya pembelian (entry fee) dan/atau biaya penjualan kembali. Hal
ini membuat mereka lebih leluasa menarik dananya dan memindahkan ke reksa dana atau
instrumen investasi lain.
Adapun alasan investor mau berinvestasi di reksa dana jenis pendapatan tetap, umumnya
untuk mendapatkan hasil investasi yang relatif lebih tinggi dibanding bunga deposito atau
Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan resiko yang minimal. Dua hal mendasar yang
dilupakan investor awam yaitu mereka kurang menyadari bahwa reksa dana jenis
pendapatan tetap lebih cocok untuk investasi jangka menengah-panjang ( > 1 tahun) dan
adanya resiko investasi berupa penurunan Nilai Aktiva Bersih per Unit Penyertaan
(NAB/UP).
Untuk melindungi investasinya investor memantau perkembangan NAB/UP via koran
setiap hari yang juga memuat return 30 hari terakhir dan return 1 tahun terakhir sebagai
indikator jangka pendek dan jangka panjang.
Dalam upaya mendapatkan pelajaran berharga dari redemption besar-besaran ini, penulis
berangkat dari sudut pandang investor, dengan mengaitkan faktor-faktor diatas yaitu i)
tipe investor yang umumnya adalah investor awam sehingga cenderung kagetan/panik,
sedangkan di sisi lain ada investor canggih yang sangat mudah memindahkan dananya
tanpa biaya, ii) jangka waktu investasi relatif pendek, iii) informasi yang didapat dari
koran yang memuat data NAB/UP dan return. Ketiga faktor ini memunculkan kebiasaan
investor untuk berinvestasi dengan melihat kinerja “instant” yaitu return 30 hari terakhir.
Pertanyaannya adalah apakah ada pengaruh dari return 30 hari terakhir sebagai indikator
jangka pendek terhadap redemption reksa dana pada periode 1 Feb – 6 Mei, saat terjadi
rush ?
Dimulai dengan membuat peringkat dari 20 reksa dana jenis pendapatan tetap yang
mengalami redemption paling besar dalam nilai rupiah absolut seperti terlihat ditabel 1,
maka akan didapat reksa dana yang mengalami rush dari kisaran Rp. 261.06 miliar
hingga Rp.8.94 triliun dengan total penurunan NAB Rp. 29.07 triliun.
Penurunan tertinggi dalam prosentase diderita reksa dana B yang anjlok hingga 97.82%
atau Rp. 3.15 triliun. Jadi per tanggal 6 Mei 2005 dana kelolaannya tinggal 2.18%.
Sedangkan penurunan terkecil dalam prosentase dialami reksa dana P yang “hanya” turun
11.59% atau Rp. 471.85 miliar.
Tabel 1.
Tanggal
Mulai
Penurunan
%
Penurunan
Return 30
hari
No.
Reksa Dana
Total NAB
Penurunan
Total NAB
terakhir
t=0
t = -1
Total NAB
(Rp.)
(1 Feb – 6 Mei)
1
Reksa Dana A
8,939,755,856,076
-78.15%
28-Feb-05
0.60%
2
Reksa Dana B
3,145,143,489,540
-97.82%
15-Feb-05
0.62%
3
Reksa Dana C
2,779,670,102,119
-91.29%
15-Feb-05
0.47%
4
Reksa Dana D
1,902,204,016,150
-76.88%
14-Mar-05
0.39%
5
Reksa Dana E
1,773,962,365,235
-57.70%
28-Mar-05
0.56%
6
Reksa Dana F
1,625,832,779,832
-79.91%
1-Mar-05
1.72%
7
Reksa Dana G
1,340,227,179,470
-38.31%
6-Apr-05
0.26%
8
Reksa Dana H
993,780,723,858
-90.31%
22-Feb-05
0.40%
9
Reksa Dana I
948,217,404,935
-94.97%
8-Feb-05
0.61%
10
Reksa Dana J
721,457,227,134
-17.61%
14-Mar-05
0.49%
11
Reksa Dana K
654,267,495,473
-90.57%
17-Feb-05
0.56%
12
Reksa Dana L
634,881,446,039
-51.65%
21-Feb-05
0.64%
13
Reksa Dana M
764,345,470,666
-62.71%
18-Feb-05
0.93%
14
Reksa Dana N
547,184,375,408
-58.95%
22-Feb-05
0.32%
15
Reksa Dana O
520,513,194,731
-32.78%
2-Mar-05
0.14%
16
Reksa Dana P
471,847,211,512
-11.59%
1-Apr-05
0.68%
17
Reksa Dana Q
394,256,262,985
-92.52%
22-Feb-05
0.56%
18
Reksa Dana R
317,849,432,161
-33.78%
17-Feb-05
0.53%
19
Reksa Dana S
329,299,291,060
-58.25%
1-Mar-05
0.53%
20
Reksa Dana T
261,061,363,342
-71.78%
1-Mar-05
0.86%
Median
0.56%
Average
0.59%
Kolom berikutnya adalah tanggal mulai terjadi redemption yang memicu penurunan
konsisten dari Total NAB. Tanggal paling awal terjadinya gelombang “tsunami” adalah 8
Februari yang dialami reksa dana I, disusul redemption tanggal 15 Februari sebagai
“kado valentine” dari investor kepada reksa dana B dan C. Sedangkan investor reksa dana
G termasuk “paling sabar” karena mereka baru mulai me-redempt paling akhir yaitu pada
tanggal 6 April.
Pada kolom disebelahnya dicantumkan return 30 hari terakhir berdasar NAB/UP yang
dimundurkan satu hari kerja sebelum tanggal mulainya redemption. Dimundurkan 1 hari
kerja karena NAB/UP baru dipublikasikan pada hari berikutnya sehingga apabila return
30 hari terakhir mengecewakan maka investor baru akan me-redempt paling cepat
keesokan hari kerja berikutnya.
Return 30 hari kerja yang memicu redemption berada pada kisaran 0.14% (tanggal 2
Maret 2005) hingga 1.72% (1 Maret 2005). Nilai Median adalah 0.56% dan rata-rata
0.59%. Jadi, investor tidak menunggu hingga return 30 hari terakhir mereka menjadi
negatif lantas me-redempt reksa dana mereka secara besar-besaran. Bahkan, reksa dana F
yang memberikan return historis cukup besar, juga ikut-ikutan di-redempt saat nilai 30hari return nya masih 1.72%, hingga kumulatif redemption mencapai 79.91% dari Total
NAB.
Pada periode pengamatan 1 Feb – 6 Mei 2005, SBI 1 bulan berkisar antara 7.42% (2 Feb
2005) hingga 7.81% (4 Mei 2005) dengan SBI rata-rata sebesar 7.44% atau 0.50% per
bulan nett.. Jelaslah bahwa median return 30 hari terakhir di tabel 1, sebesar 0.56% dan
rata-rata return 30 hari terakhir sebesar 0.59% masih diatas SBI rate. Bahkan reksa dana
F yang memberikan return 30 hari terakhir sebesar lebih dari 3 kali lipat dari SBI juga
tidak luput dari gelombang redemption. Penulis tidak mengetahui apa yang menyebabkan
terjadinya penjualan kembali reksa dana F, apakah karena imbas reksa dana lain atau
karena ada sponsor yang menarik dananya.
Redemption terbesar dalam nilai absolut sebesar Rp. 8.94 triliun dialami reksa dana A.
Redemption dimulai pada tanggal 28 Maret 2005 dan per tanggal 6 Mei hanya 21.9%
dana kelolaan yang tersisa (Grafik 1). Penurunan drastis terjadi sejak 7 April hingga 13
April 2005 atau dalam periode satu minggu saja.
Gelombang redemption besar-besaran paling awal tercatat mulai tanggal 8 Februari di
reksa dana I. Semenjak itu, total NAB-nya tidak pernah naik barang seharipun sehingga
jumlah dana kelolaannya hanya tersisa 5.03% dari nilai sebelumnya (6 Mei 2005) .
Selanjutnya, pada tanggal 15 Februari 2005 redemption menyerang reksa dana B dan C
secara berbarengan, meskipun return 30 hari terakhir mereka masih 0.47% dan 0.62%
yang hanya terpaut sedikit dengan nilai return SBI 0.5%. Kedua reksa dana tersebut (dan
juga reksa dana A) dikelola oleh MI yang sama, sehingga penulis bertanya-tanya apakah
investor reksa dana B sama seperti reksa dana C? ataukah agen penjual yang
menyarankan agar investor menjual reksa dana B dan C ? Akibat dari redemption yang
terus terjadi, jumlah dana kelolaan reksa dana B hanya tersisa 2.18% (Grafik 2) dan
8.71% untuk reksa dana C
Fly UP