...

Satu Daun yang Berharga

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Satu Daun yang Berharga
Satu Daun
yang Berharga
Belakangan, tampak sekali
geliat kegiatan niaga tanaman hias, di Jakarta
maupun kota besar lain di
Indonesia. Sebelumnya, bidang ini
lebih didominasi oleh kelompok
bunga dengan ujung tombak anggrek. Daun hias hanya menjadi pelengkap. Kondisi lantas berbalik.
Daun hias menjadi bagian bisnis
yang cukup besar dalam bidang ini.
Orang menghargai daun hias karena lebih tahan alias tidak gampang
layu seperti halnya bunga.
Ada banyak jenis daun hias yang
diperdagangkan, namun secara
umum tanaman yang memiliki banyak penggemar dan menguasai pasar adalah aglaonema, philodendron, dan anthurium. Harus diakui
aglaonema muncul secara fenomenal, baik secara jumlah, nilai, maupun kecepatan meninggalkan yang
lain. Untuk itu, kali ini kita akan lebih banyak membahasnya.
Akibat usaha intensif para ahli
dalam usaha pemuliaan jenis tersebut, maka muncul jenis silangan
atau hibrid yang tampil jauh lebih
cantik dari nenek moyangnya. Secara tradisional, teknik penyilangan
sudah dimulai mungkin sekitar lebih dari empat puluh tahun yang silam di Amerika. Namun, saat itu hasil yang dikejar tampaknya lebih
berkisar pada bentuk dan corak daun saja. Tanaman yang di Indonesia
dikenal dengan nama sri rejeki ini
memiliki habitat di daratan dan kepulauan Asia Tenggara. Hampir seluruh spesies yang ada memiliki
warna daun yang terdiri dalam beberapa gradient hijau dan sedikit
putih. Alhasil, jenis silangannya pun
berada dalam rentang warna tersebut. Bahkan, setelah pemulia dari
Thailand terjun dalam usaha ini,
tiga puluh tahun yang lalu, kombinasi warna hijau putih masih tetap
bertahan walaupun mulai muncul
corak gambar dan alur pada permukaan daun yang lebih halus dan menarik.
Kejutan terjadi di pertengahan tahun delapan puluhan datang dari
Bogor, Indonesia. Seorang peneliti
tekun sekaligus penjelajah hutan
tangguh, Greg Hambali, menghasilkan aglaonema dengan batang dan
daun berwarna merah menyala. Silangan tersebut dihasilkan dengan
menggunakan spesies asli Indonesia sebagai salah satu indukan. Spesies ini memiliki panggilan latin, rotundum. Paling tidak sampai saat
ini ia satu-satunya jenis yang memiliki unsur warna merah di daun. Habitatnya berada di kaki gunung daerah Tapanuli Utara sampai ke perbatasan Aceh. Barangkali dalam hubungan itu, tanaman spektakuler
ini diberi nama Pride of Sumatera
oleh beliau. Sungguh luar biasa dan
dunia pun tercengang. Para pemulia di Thailand yang merasa lebih
maju dari Indonesia gundah gulana
Sebagai catatan penting, Pride of
Sumatera berhasil memboyong gelar juara dua (dengan selisih sangat
tipis terhadap peringkat satu) dalam sebuah kontes tanaman hias
dunia melawan beragam jenis di
Belanda pada 2002. Kontes ini diadakan setiap sepuluh tahun.
Sejak itu, daun berwarna merah
menjadi incaran. Tentu tak perlu disebutkan lagi tingginya harga tanaman tersebut. Sementara itu, perlahan kumpulan para penyilang di
Thailand yang tadi sempat kaget,
mulai berhasil menyilangkan jenis
daun merah, dengan indukan dari
Indonesia tentunya.
Harganya dihitung
per helai daun
Perlu diketahui bahwa proses penyilangan yang lewat bunga ini memakan waktu cukup lama Paling tidak perlu tiga tahun sejak menunggu bunga indukan untuk penyerbukan sampai menjadi biji dan siap
untuk disemaikan dan kemudian
tumbuh, sampai akhirnya tampak
Gatot Purwoko,
Penggemar Tanaman Daun Hias
daun indah sebagai hasilnya Belum
lagi seandainya perlu silang ulang
untuk mendapatkan hasil yang optimal. Untuk itu harga tanaman ini
tidaklah murah. Bahkan, beberapa
silangan Greg Hambali harus dihargai per helai daun dalam transaksi.
Ini juga pertama terjadi di dunia.
Perlu diingat bahwa hasil silangan
yang dibeli tersebut tidak dipatenkan, sehingga tidak ada larangan
untuk menjual hasil penangkaran.
Gelagat ini secara alamiah tentu
menggugah naluri bisnis orang.
Awalnya memang hanya terbatas
pada jenis yang sudah dibiakkan
dalam jumlah massal seperti Donna Carmen kemudian Pride of Sumatera. Sementara itu, untuk jenis
yang lebih langka, transaksi masih
terjadi antara kolektor. Seiring waktu, mereka mulai melepas anakan
dari koleksi mereka seperti adelia
dan lainnya ke pasar akar rumput.
Beberapa nursery besar juga mulai
mengambil silangan dari Thailand
untuk dipasarkan di dalam negeri.
Porsi pemberitaan di media juga
terus meningkatkan kesadaran publik. Belum lagi dalam dua tahun
belakangan ini, di Jakarta saja, tercatat paling tidak ada tiga pameran
kecil yang melibatkan tanaman hias, sebelum yang akbar di Lapangan Banteng setiap bulan Agustus.
Dengan sendirinya, jumlah penggemar tumbuh dengan pesat. Ini ber-
dampak pada meningkatnya permintaan tanaman sampai melampaui jumlah yang tersedia. Harga
pun dengan sendirinya mengalami
apresiasi sesuai dengan hukum
ekonomi. Banyak pemain baru
yang tertarik atau mendapat inspirasi untuk terjun dalam bisnis ini.
Dalam pengamatan umum bolehlah kita bagi pemain bisnis ini dalam dua kelompok besar. Pertama,
yang mumi pedagang. Mereka memang memiliki nursery, bahkan
mungkin berukuran besar, namun
konsentrasi kegiatan adalah lebih
sebagai pengepul untuk kemudian
menjual kembali, langsung atau setelah mengalami proses pertumbuhan. Akibat dari ukuran kue pasar yang besar saat ini, walaupun
margin yang didapat mungkin tidak
terlalu tebal, jumlah tanaman yang
berhasil dijual tampaknya mampu
menghasilkan keuntungan yang
berarti. Untuk mengejar jumlah
penjualan, mereka berani belanja
besar ke Thailand yang secara skala
industri adalah pemimpin dunia.
Kelompok kedua memiliki passion yang lebih besar terhadap tanaman. Selain melakukan jual beli,
anggotanya adalah penggemar dan
kolektor. Kadang mereka menyebut
dirinya sebagai petani. Ada kebanggaan bila mereka berhasil membesarkan dan membudidayakan tanaman yang disukainya. Biasanya
mereka menjual anakan atau hasil
penangkaran dari koleksinya. Memang teknik perbanyakan saat ini
sudah maju dan beragam.
Di pasar, tampak jika pasokan
aglaonema dari Thailand sangatlah
banyak. Mereka melakukan pelbagai cara untuk memaksa tanaman
tersebut menghasilkan anakan. Mulai dari cangkok, cacah batang, potong pangkal, bahkan kabarnya kultur jaringan pun mereka lakukan dengan sukses. Jenis silangan baru
bermunculan setiap bulan. Kualitasnya juga membaik. Hal ini harus diakui karena dukungan pemerintah
di sana yang lebih baik dan jauh lebih mudah untuk belajar meryadi
penyilang. Kabarnya pula, ada lebih
dari tiga puluh orang yang mampu
melakukan penyilangan aglaonema
dengan baik di sana Bagaimana di
Indonesia? Walaupun pernah ada
satu dua orang lainnya, tapi yang
berhasil hanyalah Greg Hambali.
Sebetulnya negeri ini tidak boleh
kalah dengan tetangga. Dilihat dari
bahan baku, hutan kita menyediakan tanaman dan punya jumlah
spesies yang banyak. Rotundum
adalah salah satu kekayaan kita
yang memberikan warna darah merah bagi beragam jenis hibrid silangan. Iklim kita juga sangat menunjang untuk pembudidayaan tanaman ini secara optimum. Pasar
dalam negeri memiliki ukuran yang
lebih dari cukup sebagai fondasi sebelum melangkah ke pasar internasional. Nah, yang diperlukan adalah
kemampuan dan kemauan pemerintah untuk melihat dan mengerti
ini semua. Harus ada perintah politik agar institusi akademi menerapkan ilmunya pada pelaku industri,
khususnya mencetak para penyilang baru. Perlu dicatat bahwa maestro kita, Greg Hambali, tidak pernah segan berbagi ilmu, namun ia
hanya sendirian. Dukungan fasilitas
juga sangat diperlukan. Kita membutuhkan puluhan, bahkan ratusan
indukan untuk bisa mendapatkan
dua bunga dari spesies berbeda
yang masak bersamaan, guna disilang. Kemudian perlu tersedia beragam jenis spesies maupun silangan
untuk bisa mendapatkan jenis baru
yang lebih unggul. Alangkah idealnya bila ada beberapa sentra di kota besar yang menyediakan spesies
calon indukan untuk pemuliaan
dan bisa diakses secara komersial
oleh penyilang bermodal lemah.
Kalau kita semua tanggap, sebenarnya industri ini dengan mudah
bisa menjadi sumber devisa, dan
menjadi solusi masalah ekonomi
negeri ini.
Fly UP