...

this PDF file - Tazkia Islamic Finance and Business Review

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

this PDF file - Tazkia Islamic Finance and Business Review
Mukhamad Najib
Perilaku Menabung Ibu Rumah Tangga
Keluarga Miskin Peserta Program Ikhtiar Lembaga Keuangan
Mikro Syariah Berbasis Kelompok Di Bogor, Jawa Barat
Mukhamad Yasid
Staf Pengajar dan Peneliti STEI Tazkia
Abstraksi
Tabungan merupakan salah satu sarana penting untuk meningkatkan
kesejahteraan keluarga. Hubungan antara pendapatan dan tabungan
keluarga digambarkan oleh Sherraden (2006) sebagai sumber/mata air dan
kolam (danau) untuk menyesuaikan pendapatan keluarga dengan kebutuhan
di masa yang akan datang. Penelitian ini mencoba untuk mengungkapkan
perilaku menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin setelah mengikuti
Program Ikhtiar Yayasan Peramu dan Baitul mal Bogor. Tabungan rata-rata
anggota pada Program Ikhtiar cenderung naik, baik dari sisi nominal maupun
rasio tabungan dengan pendapatan walaupun dengan frekuensi menabung
yang masih rendah. Sikap yang paling positif atas kegunaan menabung
adalah untuk biaya pendidikan, berjaga-jaga dalam menghadapi musibah dan
menghadapi hari tua atau saat menganggur. Sedangkan yang paling rendah
adalah untuk hiburan, membeli perabot rumah tangga dan memperbaiki
atau membeli rumah. Norma subyektif yang paling berpengaruh terhadap
keputusan ibu-ibu untuk menabung adalah suami, orang tua, anak dan tenaga
pendamping lapangan (TPL). Norma agama yang paling dipertimbangkan
ibu-ibu untuk menabung adalah agar dapat berinfaq, shodaqah dan
mambayar zakat, dilanjutkan dengan dalam rangka hidup hemat. Keyakinan
atas kemampuannya menabung secara rutin dalam kategori tinggi, namun
kemampuannya untuk tidak segera menarik tabungan sebelumnya jumlahnya
memaai berada pada kategori sedang. Keyakinan kemampuan menabung, niat
dan perilaku menabung dipengaruhi secara nyata oleh sikap menabung, norma
subyektif, norma agama dan Program Ikhtiar. Program Ikhtiar berpengaruh
nyata terhadap keyakinan, niat dan perilaku menabung baik secara langsung
maupun tidak langsung melalui sikap, norma subyektif dan norma agama.
Dengan demikian, Program Ikhtiar berhasil mendorong keyakinan kemampuan
menabung, niat dan perilaku menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin
peserta Program Ikhtiar.
JEL Classification : D91, G21
Kata Kunci:,Ibu rumah tangga keluarga miskin, menabung, sikap, norma
subyektif, norma agama, keyakinan menabung, niat dan perilaku.
90
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
Perilaku Menabung Ibu Rumah Tangga ...
1. Latar Belakang
Menabung merupakan cara untuk meningkatkan standar hidup keluarga di masa
depan. Selain untuk menyiapkan kehidupan yang lebih baik, menabung merupakan
cara untuk menghadapi terjadinya risiko akibat terjadinya musibah-musibah yang
memerlukan dana besar. Islam mengajarkan masyarakat untuk menabung sebagai
salah satu cara untuk: berjaga-jaga saat miskin, berjaga-jaga saat membutuhkan dan
sebagai salah satu bentuk persiapan untuk hari esok. Menabung sebagai implementasi
dari sikap pertengahan juga merupakan cara bagaimana Allah SWT. menjamin agar
seseorang terhindar dari kemiskinan (Q.S. Al Hasyr, 59:18; An Nissa, 4:9; HR. Muslim
dan Ahmad; Muttafaq ‘Alaih).
Pentingnya menabung juga diajarkan oleh agama-agama lain dan menjadi ajaran
bangsa-bangsa maju. Di dunia barat, tabungan dan penghematan telah lama dipandang
sebagai suatu kebajikan (Webley, 1999). Hubungan antara pendapatan dan tabungan
keluarga digambarkan oleh Sherraden (2006) bagaikan mata air dan kolam untuk
menyesuaikan pendapatan keluarga dengan kebutuhan di masa yang akan datang.
Dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat miskin, tabungan sebagai
sarana untuk memupuk aset memiliki beberapa fungsi, yaitu: 1) meningkatkan stabilitas
keluarga; 2) menciptakan orientasi kognitif dan emosional masa depan; 3) menstimuli
perkembangan human capital dan aset lainnya; 4) mampu fokus dan memiliki
spesialisasi; 5) memberikan dasar dalam pengambilan risiko; 6) menambah kemapanan
personal; 7) menambah pengaruh sosial; 8) meningkatkan partisipasi politik; dan 9)
meningkatkan kesejahteraan anak (Sherraden:2006).
Menyadari pentingnya menabung, Yayasan Peramu melalui Program Ikhtiar
menghimpun ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin untuk menabung secara periodik
mingguan dengan pola Grameen Bank yang dikembangkan di Bangladesh. Program
ini telah berhasil mendorong anggota kelompok untuk menabung. Program Ikhtiar
yang diikuti oleh lebih dari 5000 orang per Desember 2008 telah berhasil menghimpun
tabungan anggota. Jumlah tabungan telah meningkat dari rata-rata Rp.119.090 pada
tahun 2007 menjadi Rp.181.209 pada tahun 2008.
Untuk melihat sejauhmana program tersebut berpengaruh terhadap perilaku ibu-ibu
tersebut dalam menabung, penelitian ini dilakukan untuk menjawab rumusan masalah
sebagai berikut: 1) bagaimana perilaku menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin
peserta program ikhtiar ditinjau dari jumlah dan rasionya terhadap pendapatan keluarga,
perkembangan tabungan, jenis tabungan dan frekuensi menabung? 2) bagaimana sikap
menabung, norma subyektif menabung, norma agama dalam menabung dan keyakinan
kemampuan menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin anggota kelompok
Program Ikhtiar? 3) Faktor-faktor apa yang berpengaruh nyata terhadap niat dan perilaku
menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin peserta Program Ikhtiar? Penelitian
ini diharapkan dapat dijadikan sebagai masukan untuk menyusun strategi penyuluhan
untuk meningkatkan niat menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin.
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
91
Mukhamad Yasid
2. Kajian Pustaka
Menabung dapat diartikan dengan dua hal, yaitu: 1) menunda konsumsi dan 2)
mengumpulkan kekayaan yang liquid dalam berbagai bentuk (Kouzina). Artinya,
tabungan atau saving merupakan dana atau kekayaan yang disisihkan untuk kebutuhan
di masa yang akan datang. Dalam penelitian ini menabung merupakan upaya seseorang
untuk menyisihkan uang pada Program Ikhtiar untuk mendapatkan uang dalam jumlah
yang relatif besar. Batasan ini penting mengingat bahwa menabung bukan hanya
dilakukan dalam bentuk uang, tetapi dapat dilakukan dalam bentuk logam mulia
(perhiasan), perlengkapan rumah tangga, tanah maupun aset-aset lain yang mudah
diuangkan apabila dibutuhkan, baik dengan cara dijual atau digadaikan.
Terkait dengan perilaku menabung ini, Mutesasira (1999) menyatakan bahwa
umumnya orang miskin berkeinginan untuk menabung atau mencoba menabung,
namun sering kali tidak bisa atau mengalami kesulitan, bukan karena tidak adanya
keinginan tetapi karena tidak mempunyai dana yang cukup untuk ditabung. Kesulitan
orang miskin untuk menabung ini diungkapkan dalam suatu frase:”too poor to be able
to save much; too poor to do without saving”.
Tabungan masyarakat merupakan selisih antara pendapatan (incomes) masyarakat
dengan pengeluaran (expenditures). Besarnya tabungan masyarakat, khususnya
tabungan pribadi (personal saving) cenderung menurun dari tahun ke tahun. Sebagai
contoh tabungan bangsa Amerika mengalami penurunan yang signifikan. Bila pada
abad 18-19 jumlah tabungan personal mencapai 15 persen, pada tahun 2006, jumlah
tersebut telah menjadi minus satu (-1 persen). Artinya, pengeluaran masyarakat Amerika
melebihi pendapatannya. Hal ini disebabkan karena pengaruh penggunaan kartu kredit
yang memberikan kemudahan dalam berhutang.
Dalam nomenklatur keilmuan, perilaku atau behavior merupakan bidang kajian
ilmu psikologi (psychology). Ilmu ini memiliki dua tujuan utama, yaitu: membangun
pengatahuan tentang manusia (to build a body of knowledge abaout people). Di sini
ilmu psikologi mencoba untuk memahami perilaku (behavior), kapan perilaku itu
terjadi (when it happens), menjelaskan mengapa perilaku itu terjadi (explain why it
happens), dan bahkan meramalkan sebelum perilaku itu terjadi (predict it before it
happens). Kedua, tujuan ilmu psikologi adalah menyusun batang tubuh pengetahuan
(a body of knowledge) dan menerapkannya untuk mempengaruhi kehidupan manusia
dengan harapan menjadikan kehidupan yang lebih baik.
Makna behavior menjadi lebih jelas apabila dipasangkan dengan kata yang lain
menjadi kata majemuk, seperti consumer behavior, saving behavior dan organization
behavior. Sebagai contoh, untuk mendapatkan gambaran tentang makna behavior, dapat
digunakan pendapat Kotler (1994) yang menjelaskan makna consumer buying behavior
sebagai jawaban atas beberapa pertanyaan: siapa yang membeli? Bagaimana mereka
membeli? kapan mereka membeli? dimana mereka membeli dan mengapa mereka
membeli? Berdasarkan definisi tersebut maka perilaku menabung dapat diartikan
sebagai tujuan menabung, cara seseorang menabung, frekuensi menabung, jumlah
tabungan dan rasio menabung dibandingkan dengan pendapatannya.
Perilaku seseorang, termasuk perilaku menabung dipengaruhi oleh banyak faktor.
Secara umum, faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perilaku seseorang dapat dilihat
92
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
Perilaku Menabung Ibu Rumah Tangga ...
melalui Theory of Reasoned Actions (TRA) yang dikembangkan oleh Martin Fishbein
tahun 1975. Teori ini digambarkan dalam suatu model sebagai berikut:
Gambar 6: Model Niat Berperilaku Fishbein
Sumber: Diadaptasi dari Fishbein & Ajzen
Berdasarkan teori ini niat untuk berperilaku tertentu dipengaruhi oleh sikap atas
manfaat suatu perilaku, norma subyektif yaitu dorongan orang-orang yang penting dalam
hidupnya untuk berperilaku tertentu dan dan keyakinan akan kemampuannya untuk
melakukan perilaku yang dimaksud. Dalam masyarakat beragama, niat berperilaku
juga dipengaruhi oleh keyakinan masyarakat yang bersangkutan terhadap agamanya.
Atas dasar teori tersebut, maka kerangka berpikir dalam penelitian ini dibangun sebgai
berikut:
Gambar 1 : Alur Pikir Hubungan Antar Peubah Penelitian
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
93
Mukhamad Yasid
2.1. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir tersebut di atas, diduga usia, pendidikan, pengalaman
kerja, lama keanggotaan, ekonomi keluarga, Program Ikhtiar, sikap menabung, norma
subyektif, norma agama dan keyakinan kemampuan menabung berpengaruh nyata
terhadap niat dan perilaku menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin peserta
Program Ikhtiar.
3. Metodologi Penelitian
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Bogor, yaitu tempat diselenggarakannya Program Ikhtiar
sebagai salah satu bentuk lembaga keuangan mikro syariah berbasis kelompok. Daerah
penelitian mencakup 12 kecamatan dan 28 desa atau kelurahan yang tersebar di wilayah
kabupaten dan wilayah kota. Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2008 sd
Februari 2009.
3.2.Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin peserta Program
Ikhtiar yang dibentuk oleh Baitul Maal Bogor dan Yayasan Peramu Bogor. Sampai
dengan akhir 2008, ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin yang tergabung dalam
program ikhtiar kurang lebih 5118 orang.
Dalam menentukan jumlah sampel, digunakan sampel minimal sebagai patokan.
Sampel minimal ditentukan melalui proses iterasi dengan proses sebagai berikut:
Besarnya kuasa uji (power test 0 = 0,99 (β = 0,01); Besarnya α = 0,01; Besarnya
ρ atau korelasi minimal = 0,4 (diambil berdasarkan 31 penelitian sebelumnya dengan
rata-rata korelasi = 0,374)3
Berdasarkan perhitungan perolehan sampel minimum (n) sebesar 104,6141454.
Karena proses pengambilan sampel majelis dilakukan secara kluster berdasarkan
wilayah yaitu kabupaten dan kota maka jumlah sampel dikalikan dua. Dengan demikian
jumlah sampel minimal adalah 209,2283 atau 209 orang.
3.3.Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei baik deskriptif,
konfirmatory maupun eksplanatori. Survei deskriptif digunakan untuk mengungkapkan
perilaku ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin yang tergabung dalam program
ikhtiar, terutama menyangkut perilaku menabung, sikap menabung, norma subyektif,
norma agama dan keyakinan kemampuan menabung. Sedangkan survei konfirmatory
digunakan untuk menguji hipotesis dan mengetahui hubungan antar peubah sesuai
dengan model yang disusun. Sedangkan eksplanatory digunakan untuk merancang
strategi baru berdasarkan temuan-temuan penelitian. Analisis hubungan atas peubah
dilakukan dengan metode SEM dengan LISREL 8.51.
94
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
Perilaku Menabung Ibu Rumah Tangga ...
4. Hasil Dan Pembahasan
4.1. Karakteristik Individu
Usia rata-rata ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin peserta Program khtiar
adalah 37,4 tahun; menyelesaikan pendidikan formal rata-rata 7,23 tahun umumnya
berpendidikan SD; 73,7% ibu-ibu peserta Program Ikhtiar tidak bekerja, yang bekerja
rata-rata mempunyai pengalaman kerja selama 6,7 tahun. Mereka telah menjadi anggota
rata-rata selama 1,85 tahun.
4.2. Ekonomi Keluarga
Keluarga ibu-ibu peserta Program Ikhtiar rata-rata berpendapatan Rp.1.393.458 per
bulan. Sumber pendapatan berasal dari 1,41 sumber, hari-hari penting yang dihadapi
dalam waktu dekat sebanyak 1,01 hari penting, tanggung keluarga rata-rata 4,62 orang
dengan pengeluaran rata-rata sebesar Rp.1.106.213.
4.3.Program Ikhtiar
Program Ikhtiar yang diukur dari peran anggota dalam kelompok, manfaat program
bagi anggota, kinerja tenaga pendamping lapangan (TPL), layanan keuangan dan peran
anggota lain dalam kelompok. Diantara kinerja tersebut yang kinerjanya paling baik
adalah manfaat program dengan skor 21,51 dilanjutkan dengan tenaga pendamping
lapangan (TPL) dengan skor sebesar 21,15. Sedangkan kinerjanya yang paling rendah
skornya adalah peran anggota itu sendiri dalam kelompok dengan skor sebesar 11,71.
4.4.Perilaku Menabung
Perilaku menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin peserta Program
Ikhtiar dapat dilihat dari empat aspek, yaitu: Jumlah tabungan, rasio tabungan dengan
pendapatan, pertumbuhan tabungan dan frekuensi menabung. Jumlah tabungan ratarata
anggota pada Program Ikhtiar cenderung naik. Pada tahun 2007 sebesar Rp.119.090
sedangkan pada tahun 2008 naik menjadi Rp. 181.209. Pada saat penelitian ini dilakukan
rata-rata tabungan mereka sebesar Rp.174.078 per orang. Ditinjau dari rasio tabungan
terhadap pendapatannya, 71,3% anggota menyatakan bahwa mereka menabung kurang
dari 10% dari total pendapatan, sebanyak 13,6% menabung sekitar 10%; sebanyak 8%
menabung sekitar 20% dan sisanya di atas 20% dari total pendapatan. Berkenaan dengan
pertumbuhan jumlah tabungan, 11,6% anggota menyatakan sangat setuju tabungannya
selalu meningkat, 38,9 % setuju. Dengan demikian, lebih dari 50% anggota menyatakan
tabungannya pada Program Ikhtiar selalu meningkat.
Dari frekuensi menabung, 19,3% anggota menyatakan sangat setuju selalu
menabung pada setiap pertemuan, 40,9% menyatakan setuju bahwa mereka menabung
setiap pertemuan. Selain dalam bentuk uang pada Program Ikhtiar atau dalam bentuk
uang, 4,3% anggota mempunyai tabungan dalam bentuk tanah, 0,3% dalam bentuk
perabot, 13,6% dalam bentuk emas.
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
95
Mukhamad Yasid
4.4.1. Sikap Menabung
Sikap menabung diukur dari persepsinya terhadap kegunaan menabung dan evaluasi
atas manfaat tabungan yang pernah diperoleh. Persepsi mereka terhadap tabungan
termasuk kategori tinggi dengan skor sebesar 3,89. Sedangkan dari sisi manfaat yang
diperoleh, mereka menyatakan sedang dengan skor sebesar 2,80. Berdasarkan persepsi
dan evaluasi tersebut, sikap peserta Program Ikhtiar berada pada kategori sedang dengan
skor 11,12.
Berdasarkan analisis SEM diperoleh gambaran bahwa sikap menabung ini
dipengaruhi secara nyata oleh umur sebesar 0,34, tingkat pendidikan sebesar 0,22;
ekonomi keluarga sebesar 0,013 dan Program Ikhtiar sebesar 0,76 atau dengan
persamaan sebagai berikut:
Sikap = 0,34*Usia + 0,22* Pendidikan + 0,013*Ekonomi Keluarga +0,76*Program
Ikhtiar + ε
4.4.2. Norma Subyektif
Norma subyektif menabung diukur dari persepsinya atas harapan orang-orang/
pihak yang penting dalam hidupnya untuk menabung dan komitmen anggota yang
bersangkutan untuk memenuhi harapan-harapan tersebut. Ibu-ibu rumah tangga keluarga
miskin peserta Program Ikhtiar menempatkan suami pada posisi tertinggi pengaruhnya
dengan skor sebesar 4,14, dilanjutkan dengan orang tua dengan skor 3,95, anak dengan
skor 3,78 dan tenaga pendamping lapangan (TPL) dengan skor sebesar 3,75. Sedangkan
yang pengaruhnya yang paling rendah adalah tetangga dengan skor 3,02 dan pemerintah
dengan skor 3,16.
Berdasarkan analisis SEM, norma subyektif terhadap menabung ini dipengaruhi
secara nyata oleh Program Ikhtiar.
4.4.3 Norma Agama
Norma agama merupakan pengaruh ajaran agama terhadap keputusan untuk
menabung. Diantara kegunaan menabung yang terkait dengan keyakinan agama adalah
agar mereka dapat berinfaq, shodaqoh dan berzakat dengan skor sebesar 18,27 serta
hidup hemat dengan skor sebesar 16,76. Sedangkan yang paling rendah adalah untuk
berhaji dengan skor sebesar 14,34 dan menyiapkan masa depan dengan skor 14,75.
Semua skor tersebut berada pada kategori tinggi. Berdasarkan analisis SEM, norma
agama ini dipengaruhi secara nyata oleh Program Iktiar.
4.4.4 Keyakinan Kemampuan Menabung
Umumnya anggota program ikhtiar merasa yakin mampu menabung setiap
pertemuan kelompok dan tidak akan segera menarik tabungan sebelum jumlahnya
memadai. Namun demikian, keyakinan kemampuan menabung setiap pertemuan lebih
tinggi dibandingkan dengan kemampuannya untuk tidak segera menarik tabungannya
sebelum jumlahnya memadai. Skor keyakinan kemampuan menabung secara rutin
sebesar 14,93 atau berada pada kategori tinggi. Sedangkan keyakinan kemampuan
96
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
Perilaku Menabung Ibu Rumah Tangga ...
untuk tidak segera menarik tabungan sebesar 10,98 atau berada pada kategori sedang.
Keyakinan menabung ini dipengaruhi secara nyata oleh usia sebesar 0,65, pendidikan
sebesar 0,47 dan program sebesar 0,60 atau dengan persamaan:
Keyakinan = 0,65*Usia + 0,47*Pendidikan + 0,60*Program + ε
4.4.5 Niat Menabung
Niat menabung diukur dari tiga hal, yaitu manfaat menabung, pengaruh orang-orang
yang penting dalam hidupnya dan pengaruh agama dalam menabung. Dari sisi manfaat,
niat menabung yang paling utama adalah untuk biaya pendidikan dengan skor sebesar
4,19; selanjutnya untuk berjaga-jaga dalam menghadapi musibah dengan skor sebesar
4,03 dan untuk persiapan mengahadapi hari-hari besar dengan skor sebesar 3,98. Dari
sisi memenuhi harapan orang lain, niat menabung yang utama adalah untuk memenuhi
harapan suami dengan skor sebesar 4,05, memenuhi harapan orang tua dengan skor 3,89
dan memenuhi harapan anak dengan skor sebesar 3,82. Dari sisi menjalankan agama, niat
menabung yang paling utama adalah agar dapat membayar infaq dengan skor sebesar
4,14, untuk membayar zakat dengan skor sebesar untuk membayar zakat dengan skor
sebesar 4,10. Niat menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin peserta Program
Ikhtiar ini dipengaruhi secara nyata oleh sikap sebesar 0,17, norma agama sebesar 0,28
dan keyakinan sebesar 0,35 atau dirumuskan dalam suatu persamaan :
Niat Menabung = 0,17*Sikap+0,28* Norma Agama + 0,35 Keyakinan +ε
4.4.6 Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Perilaku Menabung
Perilaku ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin peserta Program Ikhtiar diukur
dari jumlah tabungannya pada Program Ikhtiar, rasio tabungan terhadap pendapatan,
pertumbuhan dan frekuensi menabung dalam kelompok. Secara konsep, selain
dipengaruhi oleh karakteristik individu dan kondisi ekonomi keluarga, perilaku
menabung ini dibangun atas niat menabung, keyakinan kemampuan menabung, norma
agama dalam menabung, norma subyektif dan sikap menabung. Untuk menanamkan
sikap positif terhadap menabung, norma subyektif, norma agama dan keyakinan
kemampuan menabung, dilakukan penyuluhan atau pendidikan yang dikemas dalam
Program Ikhtiar.
Berdasarkan analisis SEM dengan menggunakan LISREL diperoleh koefisien
korelasi antara peubah penelitian sebagaimana Tabel 1.
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
97
Mukhamad Yasid
Tabel 1.: Koefisien Korelasi Faktor-faktor Yang Berpengaruh
Terhadap Perilaku Menabung
Tabel 1 menunjukkan bahwa perilaku menabung dipengaruhi secara langsung oleh
niat sebesar 0.74, keyakinan kemampuan menabung sebesar 0.26, norma agama sebesar
0,21, sikap menabung sebesar 0,12, program sebesar 0,04 dan umur serta tingkat
pendidikan masing-masing sebesar 0,04 dan 0,006.
Dalam persamaan struktural, hubungan antara perilaku menabung dengan
faktorfaktor tersebut dapat digambarkan dalam notasi sebagai berikut:
Perilaku Menabung = 0,74 Niat + 0,26 Kayakinan + 0,21 Norma Agama + 0,13
Sikap + 0,04 Program+0,006 tingkat pendidikan + 0,04 Usia + ε
Gambar 1: Model Hubungan antara Peubah Laten dan Peubah
Teramati dalam Penelitian
Berdasarkan kriteria kecocokan (goodness of fit) suatu model, secara umum model
tersebut di atas telah memenuhi tingkat kecocokan yang baik. Kriteria yang digunakan
untuk menguji tingkat kecocokan yaitu: nilai t, loading factor, Chi-square (x2); Root
98
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
Perilaku Menabung Ibu Rumah Tangga ...
Mean Square Error of Approximation (RMSEA); Good of Fit Index (GFI); Adjusted
Goodness of Fit Index (AGFI); Normed Fit Index (NFI) dan Comparative Fit Index
(CFI). Standard an uji kecocokan terlampir.
Berdasarkan model tersebut, usia dan tingat pendidikan mempunyai pengaruh
nyata positif terhadap sikap dan keyakinan menabung. Dengan kata lain, semakin tinggi
usia dan tingkat pendidikan, sikap menabung mereka semakin positif dan keyakinan
kemampuan menabung mereka semakin kuat, baik kemampuan menabung secara rutin
maupun kemampuan untuk menahan diri untuk tidak segera menarik tabungan sebelum
jumlahnya memadai sebagaimana tujuan menabung.
Berkenaan dengan kondisi ekonomi keluarga, tidak ada pengaruh nyata antara
ekonomi keluarga dengan sikap menabung maupun keyakinan menabung. Hal ini dapat
merupakan kriteria seleksi untuk menjadi anggota Program Ikhtiar. Sejalan dengan
tujuan diselenggarakan Program Ikhtiar, dari analisis tersebut diperoleh gambaran
bahwa Program Ikhtiar berpengaruh nyata terhadap perilaku
menabung yaitu melalui pembentukan sikap, norma agama dan keyakinan
kemampuan menabung. Ketiga faktor ini sangat penting dalam membangkitkan niat
menabung. Dengan demikian, pelaksanaan Program Ikhtiar ini dapat dikatakan sebagai
ssalah satu model penyuluhan yang dapat digunakan untuk mendorong ibu-ibu rumah
tangga keluarga miskin untuk menabung.
5. Kesimpulan Dan Saran
5.1Kesimpulan
1. Ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin anggota Program Ikhtiar menabung dalam
jumlah yang semakin meningkat, rasio terhadap pendapatan yang semakin besar
namun dengan frekuensi sedang.
2. Sikap menabung umumnya positif walaupun masih dalam kategori sedang.
Sikap menabung yang paling positif adalah menabung untuk biaya pendidikan,
berjagajaga dalam menghadapi musibah dan menyiapkan hari tua atau saat
menganggur. Sikap menabung dipengaruhi secara nyata oleh umur, pendidikan
dan Program Ikhtiar. Norma subyektif ibu-ibu rumah tangga umumnya tinggi dan
menempatkan suami, orang tua, anak dan TPL sebagai orang yang mempengaruhi
mereka dalam menabung. Norma agama yang mendorong untuk menabung adalah
agar dapat berinfaq, shodaqoh dan membayar zakat serta dalam rangka hidup
hemat. Keyakinan kemampuan menabung umumnya tinggi, namun kemampuan
untuk tidak segera menarik tabungannya adalah rendah. Keyakinan menabung
dipengaruhi secara nyata oleh usia, pendidikan dan Program Ikhtiar.
3. Perilaku menabung ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin dipengaruhi secara nyata
oleh niat menabung. Niat ini dipengaruhi secara nyata oleh sikap, norma agama dan
keyakinan.
4. Program Ikhtiar yang dilaksanakan oleh Yayasan Peramu dan Baitul Maal Bogor
telah berhasil mempengaruhi niat menabung anggotanya yaitu melalui pembentukan
sikap, norma agama dan keyakinan kemampuan menabung.
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
TAZKIA Islamic Finance & Business Review
99
Mukhamad Yasid
5.2 Saran
Berdasarkan analisis, pembahasan dan kesimpulan tersebut di atas maka dalam
rangka mendorong ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin untuk menabung, program
penyuluhan perlu ditingkatkan kinerjanya dengan cara:
1. Menanamkan sikap positif terhadap menabung melalui penjelasan tentang manfaat
menabung dan akibatnya apabila tidak memiliki tabungan;
2. Mendorong suami, orang tua dan anak untuk mendukung ibu-ibu rumah tangga
keluarga miskin untuk menabung;
3. Meningkatkan keyakinan kemampuan menabung secara rutin dan tidak segera
menarik tabungan walaupun jumlahnya sedikit.
4. Meningkatkan kompetensi TPL (penyuluh) dalam bidang keuangan keluarga dan
usaha mikro kecil sehingga mampu memberikan solusi atas berbagai masalah yang
dihadapi ibu-ibu rumah tangga keluarga miskin dalam mengelola keuangan dan
usaha keluarga.
5. Memperbaiki produk-produk keuangan mikro yang dibutuhkan oleh masyarakat
miskin untuk memenuhi kebutuhan biaya pendidikan, berjaga-jaga dalam menghapi
musibah (risiko) dan menghadapi hari tua atau saat menganggur. Produk-produk ini
dapat dikemas dalam bentuk asuransi mikro.
Daftar Pustaka
Ajzen, Icek. 1991. Psychology of Persuasion Interventions: Theory of Planned Behavior,
Psych 585:
Ajzen, Icek. 2001. Nature and Operation of Attitude, Department of Psychology,
University of Massachusetts, Amherst, Massachusetts.
Gozali, Iman, Fuad. 2005. Structral Equation Modeling, Teori, Konsep & Aplikasi
dengan Program Lisrel 8.54, Bada Penerbit Universitas Diponegoro.
Kouzina, O dan Roschina Y, Modelling the saving behavior of Household ini Rusia,
EERC Final Report, No. 98-041
Mowen, John C. 1990. Consumer Behavior, Maxwell Macmillan International Editions
Mutesaresa, Leonar at all. 1999. Saving And The Poor: The Methods, Use And Impact
of Savings By The Poor of East Africa, MicroSave
Sherreden, Michael. 2006. Aset untuk Orang Miskin, Perspektif Baru Usaha Pengentasan
Kemiskinan, Rajawali Press Jakarta.
Wijanto, Setyo Hari. 2008. Syructural Equation Medeling. Konsep & Tutorial. Graha
Ilmu Jogyakarta.
Wismanto, Y. Bagus.200?. Pengaruh Sikap Terhadap Perilaku, Kajian Meta Analisis
Korelasi, http://www.unika.ac.id/fakultas/psikologi/artikel/bw-1.pdf
100 TAZKIA Islamic Finance & Business Review
Vol. 4 No.1 Januari – Juli 2009
Fly UP