...

PERANAN PENGETAHUAN, KEYAKINAN DAN SIKAP MENGENAI

by user

on
Category: Documents
3

views

Report

Comments

Transcript

PERANAN PENGETAHUAN, KEYAKINAN DAN SIKAP MENGENAI
PERANAN PENGETAHUAN, KEYAKINAN DAN SIKAP MENGENAI
HIV-AIDS TERHADAP PERILAKU SEKSUAL REMAJA
DI KABUPATEN BUNGO TAHUN 2013
Marya Sofa
NIDN: 1011037901
(Dosen AKBID Amanah Muara Bungo)
ABSTRAK
Tesis ini bertujuan untuk mengetahui peranan pengetahuan, keyakinan dan sikap
remaja tentang HIV-AIDS terhadap perilaku seksual remaja. Metode penelitian kuantitatif
dengan pendekatan cross-sectional.
Sampel sebanyak 233 mahasiswi diambil dari populasi sebanyak 666 mahasiswi.
Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dengan distribusi frekuensi.
Analisis bivariat menggunakan metode chi-square dan regresi logistik ganda untuk
melihat variabel yang paling dominan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan mempunyai hubungan yang
bermakna secara statistik dengan perilaku seksual remaja. Responden yang memiliki
pengetahuan kurang tentang HIV-AIDS cenderung melakukan perilaku seksual berat 10,
286 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik.
Kata Kunci: Pengetahuan, keyakinan, sikap, HIV-AIDS
PENDAHULUAN
Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala penyakit
yang disebabkan oleh menurunnya kekebalan tubuh akibat infeksi HIV (Human
Immunodeficiency Virus). AIDS suatu penyakit yang sangat berbahaya karena
mempunyai Case Fatality Rate 100% dalam lima tahun , artinya dalam waktu lima
1
tahun setelah diagnosis AIDS ditegakkan, semua penderita akan meninggal
(Adisasmito, 2012 : 317).
United Nations Programme On HIV AIDS (UNAIDS) [Badan khusus yang
menangani AIDS dibentuk oleh PBB] melaporkan tahun 2009 jumlah penderita HIVAIDS di dunia sebanyak 33,3 juta orang (Setiawan, 2011). Tahun 2010 sebanyak 34 juta
orang HIV di dunia (meningkat 17% dibanding tahun 2001) (Ervianto, 2012).
Data Kemenkes RI tahun 2013 Kasus HIV di Indonesia tahun 2012 sebanyak
21.031 mengalami peningkatan di tahun 2013 sebanyak 21.51, sedangkan kasus AIDS
menurun. Jumlah kasus HIV di Provinsi Jambi terus meningkat, pada tahun
2011sebanyak 105 dan tahun 2012 sebanyak 203, sedangkan kasus AIDS tahun 2011
sebanyak 47 dan meningkat di tahun 2012 sebanyak 62 kasus.
Data laporan triwulan IV tahun 2012 Ditjen PP & PL Kemenkes RI Jumlah kasus
HIV di Provinsi Jambi dari 11 kabupaten/kota tahun 2012 tertinggi di kota Jambi
sebanyak 165 kasus, diikuti oleh Kabupaten Tanjung Jabung Barat sebanyak 25 kasus
dan Kabupaten Bungo sebanyak 13 kasus. (Kemenkes RI, 2013)
HIV-AIDS perlu mendapat perhatian karena 78,3% yang diserang oleh penyakit ini
adalah sumber daya manusia (SDM) kelompok usia produktif ( usia 15-39 tahun).
(Adisasmito, 2012 : 342 – 343). Remaja termasuk golongan usia produktif yang sangat
rentan tertular HIV-AIDS.
2
KAJIAN TEORI
HIV adalah virus yang merusak sistem kekebalan tubuh manusia. AIDS adalah
sekumpulan gejala penyakit akibat menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia
disebabkan oleh HIV.
Penyebab AIDS adalah Human Immunodeficiency Virus (HIV), Lymphadenopathy
Associated Virus (LAV), Human T-cell Leucemia Virus III (HTLV III), Human T-cell
Lymphotropic Virus.
Perjalanan infeksi HIV melalui 3 fase antara lain (Nasronudin, 2012 : 20 -21):
1. Fase infeksi akut
Diperkirakan 50 -70 % orang HIV mengalami infeksi akut selama 3-6 minggu
dengan gejala: demam, faringitis, limfadenopati, artralgia, mialgia, letargi, malaise,
nyeri kepala, mual, muntah, diare, anoreksia, penurunan berat badan, meningitis,
ensefalitis, neuropati perifer, dan mielopati, ruam makropapuler eritematosa dan
ulkus mukokutan.
2. Fase infeksi laten
Berlangsung 8 – 10 tahun setelah terinfeksi HIV dengan gejala: demam, keringat
malam hari, berat badan kurang dari 10%, diare, lesi pada mukosa dan kulit
berulang, Sarcoma kaposi’s, Herpes simpleks, Sinusitis bakterial, Herpes zoster dan
Pneumonia.
3. Fase infeksi kronis
Pada fase ini ditemui gejala pneumonia yang disebabkan Pneumocytis carinii,
tuberkulosis, sepsis, toksoplasmosis ensefalitis, diare akibat kriptosporidiasis,
infeksi virus sitomegalo, infeksi virus herpes, kandidiasis esofagus, kandidiasis
3
trakhea, kandidiasis bronchus atau paru, histoplamosis, koksidiodomikosis, kanker
kelenjar getah bening, dan kanker sarcoma kaposi’s.
Sumber penularan HIV dari cairan darah dan air mani (semen). Penularan
terjadi melalui (Pinem, 2009 ; Djoerban, 2000) :
1. Hubungan seksual (homoseksual, biseksual, dan heteroseksual). Diperkirakan 95%
penularan karena hubungan seksual melalui vagina, dubur maupun mulut.
Hubungan seks menyebabkan luka karena gesekan dan melalui luka virus
ditularkan.
2. Parentral
Penggunaan jarum suntik, transfusi darah, alat tindik, pisau cukur, alat tato, dan alat
khitan yang terinfeksi HIV.
a. Transfusi darah yang tercemar HIV.
Resiko tertular HIV lebih dari 90% bila pengambilan darah donor tanpa melalui
skrining terhadap HIV-AIDS.
b. Penularan melalui jarum suntik atau alat kedokteran yang tidak steril.
Resiko hanya 1 % dapat ditularkan melalui jarum suntik bekas pengidap HIV,
speculum, alat pemeriksaan gigi, pisau bedah, alat khitan dan alat lain yang
terkontaminasi darah, air mani/cairan vagina pengidap HIV.
c. Penularan melalui alat-alat tusuk lainnya.
Alat tindik/tato, dan pisau cukur yang terkontaminasi HIV-AIDS.
d. Transfusi organ tubuh.
4
3. Perinatal
Penularan dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayi yang dilahirkannya yang
dapat terjadi selama kehamilan berkisar 5 – 10%, pada saat persalinan sekitar 10 –
20% dan pada masa nifas (saat menyusui) sekitar 10 – 20%. Bila Ibunya pengidap
HIV dan sudah menunjukkan gejala AIDS sekitar 50% bayi yang dilahirkan tertular
HIV.
Bayi dalam kandungan mendapat zat makanan dan O2 dari darah ibu yang
dipompakan ke darah bayi, darah bayi tidak bercampur dengan darah ibu sehingga
tidak semua bayi yang dikandung ibu dengan HIV positif tertular HIV saat dalam
kandungan. HIV tidak dapat menular melalui plasenta. Plasenta melindungi janin
dari HIV, tetapi perlindungan dapat rusak bila ada infeksi virus, bakteri ataupun
parasit pada plasenta atau pada keadaan di mana daya tahan tubuh ibu sangat
rendah. Pada persalinan penularan terjadi karena kontak antara darah ibu maupun
lender ibu yang mengandung virus masuk ke dalam darah bayi. Makin lama proses
persalinan berlangsung, makin lama kontak antara bayi dengan cairan tubuh ibu,
maka semakin tinggi resiko bayi untuk tertular HIV. Penularan HIV melalui ASI
relatif kecil. 10 -20% bayi akan terinfeksi HIV bila disusui sampai 18 bulan atau
lebih.
Kelompok yang beresiko tertular HIV-AIDS yaitu pasangan seksual (homo dan
heteroseksual) seperti wanita/pria tuna susila dan pelanggannya, mucikari, kelompok
homoseks, biseks dan waria, penderita hemophilia dan penerima transfusi darah, bayi/
anak yang dilahirkan dari ibu pengidap HIV-AIDS, pengguna narkotika suntik/IDU,
5
perempuan yang memiliki pasangan pengidap HIV-AIDS, laki-laki atau perempuan
penganut seks bebas. (Maryunani dan Aeman, 2009).
Penularan melalui darah dapat dicegah dengan menghindari transfusi darah yang
tidak melalui pemeriksaan, mengunakan jarum suntik sekali pakai, jarum tato dan pisau
cukur harus disterilisasi dengan cara yang benar sebelum digunakan, sedangkan vaksin
masih dalam tahap penelitian.
Untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi yang dikenal dengan Prevention of
Mother to Child Transmission (PMTCT) atau Pencegahan Penularan dari Ibu ke Anak
(PPIA). WHO membuat 4 pilar untuk mencegah penularan HIV-AIDS yaitu: 1)
Mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan usia produktif, 2) Mencegah
kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif, 3) Mencegah terjadinya
penularan HIV dari ibu hamil HIV positif ke bayi yang dikandungnya, 4) Memberikan
dukungan psikologis, sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif beserta bayi dan
keluarganya.
Perilaku adalah semua kegiatan manusia baik yang dapat diamati langsung maupun
tidak dapat diamati oleh orang lain (Nurdin, 2011). Perilaku beresiko yang berhubungan
dengan HIV-AIDS, contohnya: hubungan sek melalui vagina, dubur, dan mulut tanpa
mengunakan kondom; berhubungan sek dengan orang lain tanpa kondom; mengunakan
kondom dengan orang lain tapi tidak dengan istri atau pasangan; berhubungan seks
dengan penjaga seks komersial tanpa kondom; memakai jarum suntik, alat medis dan
alat tatto yang tidak steril yang mungkin sudah tercemar HIV; menerima transfusi darah
yang telah terinfeksi HIV; bergantian jarum suntik pada penguna narkotika suntik
(Penasun).
6
Perilaku seksual adalah tingkah laku karena dorongan hasrat seksual dengan lawan
jenis maupun sesama jenis. Menurut Kinsey et.al dalam Fedyani et.al 1997 perilaku
seksual terdiri dari empat tahapan, antara lain: 1) Bersentuhan (touching) yaitu
berpegangan tangan sampai berpelukan, 2) Berciuman (Kissing) yaitu ciuman singkat
sampai ciuman bibir dengan mengunakan lidah, 3) Bercumbu (petting) yaitu menyentuh
bagian sensitif tubuh pasangan sehingga membangkitkan gairah seksual, 4)
Berhubungan kelamin (sexual intercourse).
Perilaku seksual yang ringan antara lain: sentuhan, pegangan tangan, berpelukan,
ciuman bibir, ciuman leher, sedangkan perilaku seksual yang berat yaitu petting dan
sexual intercourse.
Perilaku seksual remaja dipengaruhi oleh faktor pengetahuan, komunikasi di
keluarga, sekolah, teman sebaya, Adat kebiasaan, pergaulan dan perkembangan
teknologi, dorongan seksual, psikis, pengalaman seksual sebelumnya.
Pengetahuan adalah pemahaman, persepsi, fakta/kebenaran yang jelas dan pasti
yang diketahui seseorang tentang sesuatu yang mengarah pada keyakinan dan dapat
dievaluasi benar salahnya . (Greene et al., 1990).
Sikap adalah reaksi yang muncul dalam diri seseorang terhadap sesuatu baik suka
atau tidak suka. Sikap dapat bersifat positif dan negatif:
a. Positif: Mendekati, menyenangi, mengharapkan obyek tertentu.
b. Negatif: Menjauhi, menghindari, membenci, tidak menyukai obyek tertentu.
Faktor yang mempengaruhi pembentukan sikap: 1) Pengalaman pribadi, 2)
Kebudayaan, contoh: orang kota dan orang desa terhadap kebebasan dalam pergaulan,
3) Orang lain yang dianggap penting (Significant Others) misalnya: orangtua, pacar,
7
suami/isteri, teman dekat, guru, pemimpin, 4) Media massa (media cetak dan
elektronik), 5) Institusi/Lembaga pendidikan dan Agama, 6) Faktor emosional.
Keyakinan Green (1980) adalah perasaan dalam diri seseorang tentang sesuatu bisa
benar dan bisa juga salah. Keyakinan bisa menjadi motivasi dan bisa juga membuat
seseorang berperilaku.
METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional.
Populasi sebanyak 666 mahasiswi. sampel sebanyak 233 Mahasiswi. Pengambilan
sampel dilakukan dengan cara proporsional stratified random sampling. Penelitian ini
mengunakan kuesioner sebagai alat untuk pengumpulan data.
Analisa data sebagai berikut: 1) Analisa univariat untuk mendeskripsikan
karakteristik variabel yang diteliti dengan distribusi frekuensi atau persentase,
sedangkan variabel numerik dengan mean, median dan standar deviasi. Hasilnya
ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. 2) Analisa Bivariat untuk menguji
hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen menggunakan chi
square karena kedua data bersifat kategori. Batas kemaknaan adalah 0,05, jika uji
statistik < 0,05 maka variabel tersebut berhubungan signifikan dan jika hasilnya ≥ 0,05
maka tidak berhubungan signifikan. 3) Analisis multivariat digunakan untuk
mengetahui variabel bebas yang paling berhubungan dengan variabel terikat. Analisis
multivariat dilakukan dengan mengunakan uji regresi logistik ganda.
8
HASIL PENELITIAN
Tabel 13
Distribusi Responden Berdasarkan Usia dengan Perilaku Seksual
Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013
Usia
Remaja
Pemuda
Perilaku Seksual
Berat
Ringan
n
%
N
%
2
2,8
70
97,2
7
4,3
154
95,7
Total
n
72
161
%
100,0
100,0
P value 0,725
Pada tabel diatas terlihat bahwa responden yang memiliki perilaku
seksual berat lebih banyak terdapat pada responden pemuda (4,3%)
dibandingkan dengan responden remaja (2,8%). Hasil uji Chi Square
menunjukkan P value = 0,725 yang berarti tidak ada hubungan yang
bermakna antara usia dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten
Bungo.
Tabel 14
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Ayah dengan Perilaku
Seksual Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013
Pendidikan
Ayah
Tinggi
Rendah
Berat
n
3
6
Perilaku Seksual
Ringan
%
n
%
4,3
67
95,7
3,7
157
96,3
Total
n
70
163
%
100,0
100,0
P value 1,000
Responden yang memiliki perilaku seksual berat lebih banyak terdapat
pada responden yang memiliki ayah dengan pendidikan tinggi (4,3%)
dibandingkan dengan responden yang memiliki ayah dengan pendidikan rendah
(3,7%). Hasil uji Chi Square menunjukkan P value = 1,000 yang berarti tidak
ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ayah dengan perilaku seksual
9
pada remaja di Kabupaten Bungo.
Tabel 15
Distribusi Responden Berdasarkan Pendidikan Ibu dengan Perilaku
Seksual Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013
Pendidikan Ibu
Tinggi
Rendah
Berat
n
2
7
Perilaku Seksual
Ringan
%
n
%
3,8
51
96,2
3,9
173
96,1
Total
n
53
180
%
100,0
100,0
P value 1,000
Berdasarkan Tabel 15 memperlihatkan responden yang memiliki
perilaku seksual berat dan memiliki ibu dengan pendidikan tinggi (3,8%) hampir
sama dengan responden yang memiliki ibu dengan pendidikan rendah (3,9%).
Hasil uji Chi Square menunjukkan P value = 1,000 yang berarti tidak ada
hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan perilaku seksual pada
remaja di Kabupaten Bungo.
Tabel 16
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ayah dengan Perilaku
Seksual Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013
Pekerjaan Ayah
PNS
Non PNS
Berat
n
0
9
Perilaku Seksual
Ringan
%
n
%
0,0
40
100,0
4,7
184
95,3
Total
n
40
193
%
100,0
100,0
P value 0,364
Perilaku seksual berat lebih banyak terdapat pada responden yang
memiliki ayah dengan pekerjaan non PNS (4,7%) dibandingkan dengan
responden yang memiliki ayah dengan pekerjaan sebagai PNS (0,0%). Hasil uji
Chi Square menunjukkan Pvalue = 0,364 yang berarti tidak ada hubungan
yang bermakna antara pekerjaan ayah dengan perilaku seksual pada remaja di
10
Kabupaten Bungo.
Tabel 17
Distribusi Responden Berdasarkan Pekerjaan Ibu dengan Perilaku
Seksual Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013
Pekerjaan Ibu
Bekerja
Tidak Bekerja
Berat
n
6
3
Perilaku Seksual
Ringan
%
n
%
3,6
159
96,4
4,4
65
95,6
Total
n
165
68
%
100,0
100,0
P value 0,723
Berdasarkan Tabel 17 memperlihatkan responden yang memiliki
perilaku seksual berat dan ibu yang tidak bekerja (4,4%) hampir sama dengan
responden yang memiliki ibu bekerja (3,6%). Hasil uji Chi Square menunjukkan
P value = 0,723 yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara
pekerjaan ibu dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten Bungo.
Tabel 18
Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku
Seksual Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013
Tingkat
Pengetahuan
Kurang
Baik
Berat
n
8
1
Perilaku Seksual
Ringan
%
N
%
7,5
98
92,5
0,8
126
99,2
Total
n
106
127
%
100,0
100,0
P value 0,012
Pada tabel 18 terlihat bahwa responden yang memiliki perilaku seksual
berat lebih banyak terdapat pada responden yang memiliki pengetahuan kurang
(7,5%) dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik
(0,8%).
Hasil uji Chi Square menunjukkan Pvalue = 0,012 yang berarti ada
hubungan yang bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku seksual
11
pada remaja di Kabupaten Bungo. Hasil perhitungan Prevalence Ratio (PR)
menunjukkan responden yang memiliki pengetahuan kurang cenderung
melakukan perilaku seksual berat 10, 286 kali dibandingkan dengan responden
yang memiliki pengetahuan baik (95% CI 1,265- 83,622).
Tabel 19
Distribusi Responden Berdasarkan Keyakinan dengan Perilaku
Seksual Remaja di Kabupaten Bungo Tahun 2013
Keyakinan
Rendah
Tinggi
Berat
n
7
2
Perilaku Seksual
Ringan
%
n
%
5,9
112
94,1
1,8
112
98,2
Total
n
119
114
%
100,0
100,0
Pvalue 0,172
Hasil analisis bivariat pada tabel 19 memperlihatkan responden yang
memiliki perilaku seksual berat lebih banyak terdapat pada responden yang
memiliki keyakinan rendah (5,9%) dibandingkan dengan responden yang
memiliki keyakinan tinggi (1,8%). Hasil uji Chi Square menunjukkan P value =
0,172 yang berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara keyakinan
dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten Bungo.
Tabel 20
Distribusi Responden Berdasarkan Sikap dengan Perilaku Seksual Remaja
di Kabupaten Bungo Tahun 2013
Sikap
Negatif
Positif
Berat
n
7
2
Perilaku Seksual
Ringan
%
N
%
6,0
110
94,0
1,7
114
98,3
Total
N
117
116
%
100,0
100,0
P value 0,171
Berdasarkan Tabel 20 memperlihatkan responden yang memiliki
12
perilaku seksual berat lebih banyak terdapat pada responden yang memiliki
sikap negatif terhadap seksual (6,0%) dibandingkan dengan responden yang
memiliki sikap positif terhadap seksual (1,7%). Hasil uji Chi Square
menunjukkan P value = 0,171 yang berarti tidak ada hubungan yang
bermakna antara sikap dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten
Bungo.
Tabel 23
Hasil Akhir Analisis Multivariat
B
P value
OR
2,331
Tingkat
Pengetahuan
0,175
Constant
a Variabel (s) : Pengetahuan
0,029
10,286
0,888
1,191
95% CI
Min
Max
1,265
83,622
Hasil analisis statistik dapat diketahui model regresi logistik ganda
melalui 4 tahapan seleksi kandidat menghasilkan satu variabel yang bermakna
yaitu tingkat pengetahuan responden terhadap perilaku seksual (P value 0,029)
Hasil analisis tersebut dapat diinterpretasikan bahwa setelah dikontrol
variabel lainnya, responden yang memiliki pengetahuan kurang sangat
berpeluang dalam berperilaku seksual berat sebanyak 10,286 kali (95% CI:
1,265-83,622) dibandingkan responden yang memliki pengetahuan baik.
PEMBAHASAN
1. Perilaku Seksual
Perilaku seksual remaja di bungo masuk kategori ringan hal ini mungkin
disebabkan kabupaten bungo merupakan kabupaten yang baru mau berkembang
dan norma budaya masyarakat yang masih dijunjung.
13
2. Usia Responden
Sebagian besar responden yang memiliki perilaku seksual berat yaitu
responden pada usia 20 tahun keatas. Hasil uji Chi Square tidak ada hubungan
yang bermakna antara usia dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten
Bungo. Pada penelitian ini tidak dicari kapan responden pertama kali melakukan
hubungan seksual, apakah pada saat masih remaja atau setelah masuk dalam
tahap pemuda. Hal ini mungkin karena Jarak usia yang terlalu dekat dan
pengaruh lokasi kabupaten Bungo yang baru berkembang dan sarana yang belum
memadai. Pada analisis multivariat usia responden dimasukan pada kandidat
permodelan karena substansinya sangat penting sehingga dipertahankan dalam
kandidat permodelan, namun untuk hasil akhir multivariat variabel usia bukan
termasuk dalam variabel paling dominan yang mempengaruhi perilaku seksual.
3. Pendidikan Orang tua
Sebagian besar pendidikan penduduk di Kabupaten Bungo tidak tamat SMP,
ini disebabkan karena faktor ekonomi yang rendah sehingga rata-rata penduduk
di Kabupaten Bungo tidak bisa melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi. Hasil
uji Chi Square tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ayah
dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten Bungo. Hasil uji Chi Square
menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pendidikan ibu dengan
perilaku seksual pada remaja di Kabupaten Bungo.
4. Pekerjaan Orang tua
14
Rata-rata pekerjaan kepala keluarga adalah sebagai petani. Adanya para istri
yang membantu para suami untuk bekerja sebagai petani untuk memenuhi
kebutuhan hidup mereka.
Hasil uji Chi Square tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan
ayah dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten Bungo. Hasil uji Chi
Square menunjukkan tidak ada hubungan yang bermakna antara pekerjaan ibu
dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten Bungo. Ibu yang bekerja
biasanya memiliki pengetahuan yang lebih luas dan lebih banyak mendapatkan
informasi mengenai perilaku seksual sehingga dapat disampaikan kepada anak
untuk dapat lebih memahami perilaku seksual. Namun dari segi waktu dan
kesempatan, ibu yang bekerja lebih sedikit memiliki kesempatan untuk bertemu
dengan anak sehingga perilaku anak tidak terawasi. Hasil multivariat
menunjukkan p value dari variabel pekerjaan orang tua lebih dari 0,25 sehingga
tidak dimasukkan dalam kandidat pemodelan analisis regresi logistik.
5. Tingkat Pengetahuan Mengenai HIV-AIDS
Tingkat pengetahuan responden tentang HIV-AIDS cukup bervariasi
sehingga dapat mempresentasikan hasil dengan baik. Proporsi responden dengan
tingkat pengetahuan baik tentang HIV-AIDS terlihat cukup tinggi. Hal ini dapat
disebabkan oleh banyaknya kemudahan bagi responden dalam mendapatkan
informasi tentang HIV-AIDS diantaranya informasi melalui televisi dan media
massa.
Hasil analisis bivariat juga
memperlihatkan responden yang memiliki
perilaku seksual berat lebih banyak terdapat pada responden yang memiliki
15
pengetahuan kurang (7,5%) dibandingkan dengan responden yang memiliki
pengetahuan baik (0,8%). Hasil uji Chi Square menunjukkan ada hubungan yang
bermakna antara tingkat pengetahuan dengan perilaku seksual pada remaja di
Kabupaten Bungo. Hasil analisis multivariat memperlihatkan responden yang
memiliki pengetahuan kurang cenderung melakukan perilaku seksual berat 10,
286 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik (95%
CI 1,265- 83,622).
6.
Keyakinan Terhadap Perilaku Seksual
Analisis bivariat menunjukkan responden yang memiliki perilaku seksual
berat lebih banyak terdapat pada responden yang memiliki keyakinan rendah
(5,9%) dibandingkan dengan responden yang memiliki keyakinan tinggi (1,8%).
Hasil uji Chi Square tidak ada hubungan yang bermakna antara keyakinan
dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten Bungo. Keyakinan sangat
berhubungan erat dengan norma agama, jika agama yang dianut responden dan
lingkungan tidak kuat maka keyakinan responden juga tinggi terhadap perilaku
seksual. Analisis multivariat regresi logistik ganda menunjukkan bahwa variabel
keyakinan terhadap perilaku seksual dimasukan pada kandidat model karena
substasinya sangat penting sehingga dipertahankan dalam kandidat permodelan
namun tidak berpengaruh secara bermakna terhadap perilaku seksual.
7.
Sikap Terhadap Perilaku Seksual
Sebagian besar responden memiliki sikap tidak mendukung terhadap
perilaku seksual yang terjadi di kalangannya, ini terjadi karena adanya faktor
yang mempengaruhi dalam pembentukan sikap tersebut. Faktor tersebut dapat
16
berupa pengalaman pribadi yang dialami secara langsung. Analisis bivariat
menunjukkan bahwa responden yang memiliki perilaku seksual berat lebih
banyak terdapat pada responden yang memiliki sikap negatif terhadap seksual
(6,0%) dibandingkan dengan responden yang memiliki sikap positif terhadap
seksual (1,7%). Hasil uji Chi Square menunjukkan tidak ada hubungan yang
bermakna antara sikap dengan perilaku seksual pada remaja di Kabupaten
Bungo. Hasil uji regresi logistik ganda yaitu sikap terhadap perilaku seksual
bukan merupakan variabel yang paling dominan yang mempengaruhi perilaku
seksual.
KESIMPULAN
1. Karakteristik responden yaitu hampir seluruh responden memiliki perilaku
seksual ringan, sebagian besar berada pada usia pemuda, pendidikan ayah lebih
banyak terdapat pada kategori rendah, pendidikan ibu lebih banyak terdapat
pada kategori rendah, sebagian besar pekerjaan ayah yaitu non PNS dan ibu
yang bekerja, pengetahuan responden cukup, responden yang memiliki
keyakinan rendah hampir sama dengan yang memiliki keyakinan tinggi terhadap
perilaku seksual begitu juga dengan responden yang memiliki sikap negatif
hampir sebanding dengan responden yang memiliki sikap positif terhadap
perilaku seksual.
2. Faktor tingkat pengetahuan mempunyai hubungan yang bermakna secara
statistik dengan perilaku seksual remaja di Kabupaten Bungo.
17
3. Faktor usia, pendidikan orang tua, pekerjaan orang tua, sikap, dan keyakinan
tidak mempunyai hubungan yang bermakna secara statistik dengan perilaku
seksual remaja.
4. Variabel tingkat pengetahuan merupakan variabel yang sangat berpengaruh
secara bermakna terhadap perilaku seksual remaja yaitu responden yang
memiliki pengetahuan kurang cenderung melakukan perilaku seksual berat
dibandingkan dengan responden yang memiliki pengetahuan baik
DAFTAR PUSTAKA
Adisasmito, W. 2012. Sistem Kesehatan Cetakan ke 4. Jakarta: Rajawali Pers.
Agustiani, H. 2009. Psikologi Perkembangan Cetakan ke 2. Bandung: PT. Refika
Aditama.
Alto, W. A. 2012. Buku Saku Hitam: Kedokteran Internasional Cetakan I. Terjemahan
Rizqi Akbarini. Jakarta: Indeks.
Azwar, S. 2011. Sikap Manusia Teori dan Pengukurannya. Yogyakarta: Pustaka pelajar.
Departemen Kesehatan RI. 2008. Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas)
Indonesia Tahun 2007. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan
Kesehatan Depkes RI.
_______________________. 2009. Survey Kesehatan Nasional (Suekesnas). Jakarta:
Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Depkes RI.
Djoerban, Z. 2000. Membidik AIDS Ikhtiar Memahami HIV Dan ODHA. Yogyakarta:
Yayasan Galang.
Elfindri et al. 2011. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Baduose Media.
Ekawahyuni. Bab 2. http://sunan-ampel.ac.id
Erik Erikson. 2012. http://bananacakez.blogspot.com/2012/03/teori-perkembanganmenurut-erick.html
18
Hastono, S.P. 2007. Analisis Data Kesehatan.Depok: FKM UI.
Kumalasari, I & Andhyantoro, I. 2012. Kesehatan Reproduksi: untuk Mahasiswa
Kebidanan dan Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Kusmiran, E. 2012. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta: salemba
Medika.
Machfoedz, I. 2010. Metodologi Penelitian. Yogyakarta: Fitramaya.
Malonda.
2011.
http://statistik-kesehatan.blogspot.com/2011/03/uji-korelasi-danregresi-linear.html
Mamdy, Z. 2001. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jurnal Ilmu Kesehatan
UHAMKA vol.01. No. 01. Maret 2001.
Manuaba, I. A. C., Manuaba, I. B. G. F. & Manuaba, I. B. G. 2009. Memahami
Kesehatan Reproduksi Wanita. Jakarta: EGC.
Maryunani, A & Aeman, U. 2009. Pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi:
penatalaksanaan di pelayanan kebidanan. Jakarta: TIM
Monika. 2009. Sifat, Kepribadian, Tujuan Hidup Mahasiswa, dan Kaitannya dengan
Persepsi Tentang Pergaulan Lawan Jenis dan Perilaku Seksual. Yogyakarta:
Tesis Universitas Gadjah Mada.
Mutiara, W. et.al. 2010. Gambaran Perilaku Seksual dengan Orientasi Heteroseksual
Mahasiswa Kos di Kecamatan Jatinangor-Sumedang.http://pustaka.unpad.ac.id
Nasronudin. 2012. HIV & AIDS: Pendekatan Biologi Molekuler, Klinis dan Social
Cetakan ke 3. Surabaya: Airlangga University Press.
Notoatmodjo, S. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.
Palinggi, D. L. 2009. Pengetahuan dan Sikap Mengenai HIV/AIDS Siswa dengan Pusat
Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) dan Siswa
Tanpa PIK-KRR Di Kota Palu. PPS FK UGM.
Pinem, S. 2009. Kesehatan Reproduksi & Kontrasepsi Cetakan 1. Jakarta: TIM
Puspitadesi, D. I. 2013. Hubungan Antara Figur Kelekatan Orang Tua dan Kontol Diri
dengan Perilaku Seksual Remaja SMA Negeri 11 Yogyakarta.
http://candrajiwa.psikologi.fk.uns.ac.id
Ridwan. 2011. Dasar-Dasar Statistika Cetakan Ke 9. Bandung: Alfabeta.
19
Rodiyah, 2009. Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Sikap Perilaku Seksual di
Asrama Kalimantan Timur . Tesis. Kalimantan Timur
Setiawan. 2008. Hubungan Antara Pengetahuan Kesehatan Reproduksi dengan Perilaku
Seks Pranikah. Skripsi. Depok: Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Indonesia.
Shaluhiyah, Z. 2013. Dampak Keluarga dengan HIV-AIDS Pada Anak di Jawa Tengah.
Jurnal Ilmu Kesehatan UHAMKA vol.8.No.1. Maret 2013.
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta: Sagung
Seto.
Sudirman N. 2007. Ilmu Pendidikan Edisi 1 Cetakan ke Sebelas. Bandung: PT. Remaja
Rosdakarya.
Sumiati et.al. 2009. Kesehatan Jiwa Remaja dan Konseling. Jakarta: TIM.
Teguh, A. 2013.
Hubungan Pengetahuan, Sikap Terhadap Perilaku Seksual pada
Mahasiswi Kebidanan Di Politeknik Kesehatan Semarang. Skripsi.
Teruna, Y. P. 2009. Perbedaan Tingkat Konformitas Terhadap Seks Pranikah Antara
Pria Dan Wanita. http://gunadarma.ac.id /library/articles/graduate/psychology
Wawan, A & M, D. 2010. Teori & Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku
Manusia. Yogyakarta: Nuha medika.
Widyastuti, Y; Rahmawati, A. & Purnamanigrum, Y. E. 2012. Kesehatan Reproduksi
cetakan ke 3. Yogyakarta: Fitramaya.
Yahya, M; Widyandana. 2008. Manajemen Penelitian. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Yuliantini, H. 2012. Hubungan Tingkat Pengetahuan tentang HIV/AIDS dengan Sikap
Remaja Terhadap Perilaku Seksual Pranikah di SMA ”X” di Jakarta Timur.
Kemenkes RI. 2013.
4,2012(2).pdf
http://aidsindonesia.or.id/laporan
HIV-AIDS
triwulan
Komisi Penanggulangan AIDS Mengenal dan Menanggulangi HIV-AIDS Infeksi
Menular Seksual dan Narkoba.
20
Studi
Evaluasi Program Genre Melalui Pusat Informasi dan Konseling
Remaja/Mahasiswa. 2012. Kelompok Studi Kesehatan Reproduksi FKM UI
dan BKKBN
Spiritia. 2013. Statistik Kasus AIDS di Indonesia, http://spiritia.or.id/Stats/Statcurr.php.
Manajemen Data. http://www.eprints.undip.ac.id
Bun. Belajar Sosial (Bandura Theory). http://www.psikologmalang.com.
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/121/jtptunimus-gdl-yuliaekani-6042-2-babii.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/Chapter II.pdf
21
Fly UP