...

Titik Letusan di Kawah Induk

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Titik Letusan di Kawah Induk
Titik Letusan di Kawah Induk
Rabu, 05 September 2012 | 14:58 WIB
SERANG – Pemprov Banten mengimbau masyarakat Banten tidak perlu khawatir dan panik
dengan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang berada di Selat Sunda. Status waspada II
dinyatakan masih relatif aman. Berdasarkan pemantauan, titik letusan yang terjadi di Gunung
Anak Krakatau terjadi di kawah induk yang berada tepat di puncak gunung tersebut. Sejak
Minggu (2/9) hingga Selasa (4/9) kemarin,
aktivitas Anak Krakatau terus mengalami gempa tremor dan terus mengeluarkan lava pijar.
Namun, kondisi visual gunung sulit terpantau akibat kabut tebal. Kepala Pos Pemantau Gunung
Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan Cinangka, Kabupaten Serang Anton Sigit
Pambudi mengatakan, data aktivitas Anak Krakatau pada pada pukul 13.00 kemarin tercatat
dua kali gempa vulkanik dalam (VA) dan gempa tremor secara terus menerus.“Dalam sehari
gempa tremornya terjadi sekali, namun secara terus menerus atau berulang dengan amplitud
rata-rata 34 mili meter,” terang Anton saat dihubungi Banten Raya, kemarin.
Menurut Anton, titik letusan yang mengeluarkan lava pijar yang terjadi saat ini berada di puncak
gunung. Sehingga, titik letusan gunung ini berbeda dengan titik letusan yang terjadi pada 2007
dan 2010 lalu, yaitu berada di bagian selatan puncak gunung. “Letusannya tepat berada di
kawah induk puncak gunung, namun diameter lebar kawah induk itu tidak diketahui,” terang
Anton. Menurut Anton, lava pijar yang keluar dari gunung mulai terjadi sejak Minggu (2/9)
malam sekitar pukul 18.30. Hingga Senin (3/9) pukul 1.15 dini hari, lava pijar tersebut masih
terjadi. “Namun, sejak pagi hingga Senin malam tidak terlihat aktivitas letusan maupun pijar,”
ujarnya. Sedangkan, lanjut Anton, titik letusan yang terjadi di 2007 dan 2010 lalu, kondisinya
saat ini tidak lagi mengeluarkan letusan. Karena, kondisi dua lubang kawah yang terbentuk itu
telah tertutup bebatuan akibat letusan dari kawah induk. Ia juga mengatakan tidak mampu
memantau visual gunung. Sebab, kondisi gunung tertutup kabut tebal. “Sejak satu bulan lebih
kabut itu sudah ada. Ketebalannya itu dalam istilah kami disebut 0,3 atau tidak terlihat sama
sekali. Biasanya kan masih kelihatan setengah atau seperempatnya,” jelasnya.
Namun, ia menegaskan bahwa hal tersebut tidak mempengaruhi pemantauan. Sebab,
pantauan dengan menggunakan seismograf tetap dilakukan selama 24 jam. Pantauan visual
sifatnya hanya sebagai pelengkap saja. Sedangkan, untuk status Gunung Anak Krakatau,
hingga saat ini masih pada level II atau waspada. Oleh karena itu, pihaknya memberikan
rekomendasi agar warga sekitar GAK terutama sepanjang Pantai Anyer agar menjaga jarak
atau tidak mendekati gunung hingga radius 1 kilometer. “Kalaupun ada debu dari letusan, itu
tergantung dari arah angin. Saat ini anginnya menuju Lampung, jadi masyarakat tidak perlu
khawatir,” terangnya. Anshori (30), salah satu nelayan Kampung Paku, Kecamatan Anyer
mengaku tidak merasa khawatir dengan kondisi Gunung Anak Kratau yang sejak Minggu sudah
mulai terasa getaran. Menurutnya, kondisi tersebut sudah biasa dirasakannya. “Kami sudah
biasa dengan kondisi itu, jadi kami tetap melakukan aktivitas seperti biasa. Ya, melaut seperti
biasa. Tempat kami melaut pun cukup jauh dari gunung,” ungkapnya. Terpisah, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Serang
Sudomo mengatakan, letusan Gunung Anak Krakatau tidak berpengaruh terhadap kondisi
pariwisata di Pantai Anyer. Karena, jarak gunung ke Pantai Anyer cukup jauh yakni sekitar 42
1/2
Titik Letusan di Kawah Induk
Rabu, 05 September 2012 | 14:58 WIB
kilometer. Sedangkan, status tidak aman akibat letusan berjarak 1-2 kilometer. “Kami terus
meminta informasi perkembangan Anak Krakatau ke pos pemantau, dan sejauh ini dinyatakan
aman bagi wisatawan yang berkunjung ke Pantai Anyer,” tuturnya. Bahkan hingga saat ini, aktivitas Anak Krakatau tidak mempengaruhi kunjungan tamu hotel
yang ada di sepanjang Pantai Anyer. “Tidak ada tamu hotel yang membatalkan rencana
menginap. Sebab kondisinya memang aman,” ujarnya. Sementara itu, Wakil Gubernur Rano
Karno didampingi Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten
Suyadi mengunjungi Pos Pemantau Gunung Anak Krakatau di Desa Pasauran, Kecamatan
Cinangka, Kabupaten Serang, kemarin siang. Hal itu dilakukan menyusul adanya informasi
adanya aktivitas Anak Krakatau sejak beberapa hari terakhir.
Dalam kunjungan kerja tersebut, petugas pos pengamatan Gunung Anak Krakatau memberikan
laporannya kepada wagub, terkait aktivitas gunung berapi ini, yang mulai terpantau sejak
Minggu (2/9) lalu. Dari informasi yang diterima, Rano mengimbau kepada masyarakat Banten,
khususnya yang tinggal di sekitar pesisir pantai untuk tidak panik, mengingat status Anak
Krakatau yang masih relatif aman. Namun, meski kondisinya relatif aman dengan status
waspada level II, Rano mengimbau masyarakat Banten untuk tetap mewaspadai berbagai
kemungkinan yang bisa terjadi. “Waspada bukan berarti hati-hati, tapi juga bukan berarti
melepaskan tanggung jawab kita dengan apa yang terjadi. Saya yakin masyarakat Banten di
sekitar sini sudah sangat paham dengan karakter itu. Jadi tidak perlu kita takut, tapi harus tetap
diwaspadai,” ujar wagub. Diketahui sebelumnya, berdasarkan laporan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) Jakarta, sejak Minggu (2/9) terjadi 79 kali gempa vulkanik
dangkal, tujuh gempa vulkanik dalam, dan tremor vulkanik menerus dari pukul 00.00-11.30.
Lontaran material pijar dengan ketinggian 300 meter dari puncak Gunung Anak Krakatau
terlihat. Pada Senin (3/9), Gunung Anak Krakatau masuk dalam fase erupsi strombolian.
(rahmat/mg-ibah)
2/2
Fly UP