...

Kesesuaian Kegiatan Wisata di Pantai Baru Pandansimo

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Kesesuaian Kegiatan Wisata di Pantai Baru Pandansimo
Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB
Kesesuaian Kegiatan Wisata di Pantai Baru Pandansimo Sebagai
Tujuan Ekowisata
Ignatius Riadi Raharjo
(1)
(2)
(1)
, Arief Rosyidie(2)
Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK),
ITB.
Kelompok Keahlian Pengembangan Wilayah dan Perdesaan, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan
(SAPPK), ITB.
Abstrak
Keberadaan pantai Baru Pandansimo terletak bersebelahan dengan Pantai Pandansimo, yang pada
saat ini dikenal sebagai tempat prostitusi. Dampak negatif dari pariwisata telah dapat terlihat dari
pantai Pandansimo, maka diperlukan pengembangan pariwisata berbasis ekowisata bagi Pantai Baru
Pandansimo agar keberlanjutan kegiatan pariwisata dapat terus berlangsung. Ekowisata diharapkan
dapat menjadi basis utama dalam pengembangan kegiatan pariwisata di pantai Baru Pandansimo,
karena memiliki prinsip-prinsip wisata berbasis alam, memiliki nilai edukasi, melibatkan masyarakat
setempat dalam kegiatan wisata, dapat mencegah dampak negatif dari kegiatan pariwisata dari segi
sosial dan budaya masyarakat lokal, memberikan benefit kepada masyarakat lokal, dan memberikan
perlindungan terhadap lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian kegiatan
wisata yang ada di pantai Baru Pandansimo dengan prinsip-prinsip ekowisata. Hasil dari analisis
memperlihatkan bahwa pantai Baru Pandansimo sebagian besar telah sesuai dengan prinsip-prinsip
ekowisata, namun terdapat aspek ekowisata yang belum terpenuhi, yaitu pada aspek kepedulian
terhadap lingkungan di dalam parameter tidak menimbulkan kerusakan dan pencemaran lingkungan.
Kata-kunci : Ekowisata, Dampak negatif, Kesesuaian, Pantai Baru Pandansimo
Pengantar
Kegiatan
pariwisata
konvensional
(mass
tourism) sering kali memberikan pengaruh
negatif kepada lingkungan dan kepada
masyarakat lokal. Kerusakan dan pencemaran
lingkungan serta adanya degradasi nilai sosial
budaya, kemiskinan dan penggusuran penduduk
merupakan masalah utama yang kerap terjadi di
dalam
pelaksanaan
kegiatan
pariwisata
konvensional. Warpani & Warpani (2007)
menunjukkan bahwa dampak negatif dari
pariwisata dapat terlihat dari sisi ekonomi
(Masyarakat
setempat
tersisihkan
dari
percaturan ekonomi, produk lokal tidak mampu
bersaing dalam kepariwisataan), lingkungan
(ancaman terhadap kelestarian lingkungan,
pencurian plasma nutfah, kerusakan situs-situs
sejarah, dan pembangunan tidak terkendali
yang juga menyebabkan kerusakan lingkungan),
dan sosial-budaya (rusaknya tata nilai dan
norma budaya bangsa, meningkatnya gaya
pergaulan bebas yang melanggar norma-norma
agama dan budaya setempat). Desa Poncosari
yang terletak di Kecamatan Srandakan,
Kabupaten Bantul memiliki tiga destinasi wisata,
yaitu Pantai Pandansimo, Pantai Kuwaru, dan
Pantai Baru Pandansimo. Pantai Pandansimo
dan pantai Kuwaru adalah pantai yang lebih
dulu dibuka sebagai destinasi wisata dan telah
meraih kesuksesan dalam mendatangkan
wisatawan pada masa lalu. Pada saat ini pantai
Pandansimo
dan
pantai
Kuwaru
telah
ditinggalkan oleh wisatawan karena beberapa
sebab, (1) Pada saat ini wisatawan dan
masyarakat telah mengenal pantai Pandansimo
sebagai tempat prostitusi, hal ini menyebabkan
citra buruk terhadap pantai Pandansimo
sehingga tidak lagi diminati oleh para wisatawan.
(2) Pantai Kuwaru saat ini telah mengalami
kerusakan karena abrasi pantai, pembangunan
fasilitas pariwisata yang tidak memperhatikan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1 | 133
Kesesuaian Kegiatan Wisata di Pantai Baru Pandansimo Sebagai Tujuan Ekowisata
keadaan lingkungan membuat beberapa fasilitas
pariwisata mengalami kerusakan karena akibat
dari abrasi air laut. Masyarakat desa Poncosari,
khususnya masyarakat yang tinggal di Dusun
Ngentak sekitar tahun 2010 membuka tempat
wisata baru, yang diberi nama Pantai Baru
Pandansimo, atau yang lebih dikenal dengan
sebutan pantai Baru. Lokasi Pantai Baru berada
di antara pantai Kuwaru (sebelah timur) dan
pantai Pandansimo (sebelah barat). Sebagai
tempat wisata Pantai Baru juga merupakan
pantai yang merupakan salah satu tempat
bertelur dari penyu Lekang, yang merupakan
salah satu penyu yang dilindungi di dunia
international melalui World Wild Foundation.
Pantai Baru juga memiliki fasilitas Pembangkit
Listrik Hybrid dan Biogas yang berpotensi untuk
menjadi daya tarik wisata pendidikan serta
digunakan
dalam
mendukung
kegiatan
pariwisata di pantai Baru. Berdasarkan hal-hal di
atas, maka cukup penting untuk menerapkan
kegiatan wisata berbasis ekowisata di panti Baru
agar dampak negatif dari kegiatan pariwisata
dapat diminimalisir dan agar dapat melindungi
lingkungan serta memanfaatkan potensi-potensi
di pantai Baru sebagai potensi wisata pendidikan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis
kesesuaian kegiatan wisata di pantai Baru
Pandansimo sebagai tujuan ekowisata.
Tinjauan Pustaka
Aktifitas pariwisata sering memberikan dampak
negatif, namun hal tersebut tidak segera dapat
dirasakan, pendapatan ekonomi yang diterima
dari sektor pariwisata membuat masyarakat dan
pemerintah setempat kurang memperhatikan
dampak negatif tersebut. Dampak negatif sering
ditanggung oleh lingkungan, pengelolaan
pariwisata yang tidak sepenuhnya dikerjakan
dengan baik, sering memberikan kerusakan
lingkungan. Beberapa keadaan bahkan tidak
dapat lagi dikembangkan ke keadaan semula.
Kerusakan fisik lingkungan ada yang dapat
diperbaiki, namun pada umumnya sudah tidak
dapat diperbaiki lagi dan bila itu menyangkut
potensi alam yang justru menjadi daya tarik
wisata, dapat dikatakan bahwa kegiatan
pariwisata telah menurunkan kualitas daya
tariknya sendiri. Pariwisata alternatif mampunyai
dua pengertian mendasar, yaitu (1) Sebagai
134 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1
reaksi atas kegiatan wisata yang konvensional
(mass tourism) yang sering menimbulkan
dampak negatif, (2) Sebagai bentuk pariwisata
yang menunjang kelestarian lingkungan (Gamal,
1997). Salah satu bentuk dari pariwisata
alternatif adalah pariwisata berbasis ekowisata.
Menurut Wood (2002) dalam Warpani &
Warpani
(2007:152)
menjelaskan
bahwa
kegiatan ekowisata merupakan bentuk kegiatan
wisata alam, yang memberikan manfaat kepada
pelestarian lingkungan dan dapat memberikan
manfaat kepada masyarakat lokal. Kegiatan
pelestarian lingkungan dapat dilakukan dengan
konservasi terhadap lingkungan. Kegiatan
konservasi pada saat ini sering menjadi tujuan
utama dari kegiatan ekowisata (Scace, Grifone,
& Usher, 1992). Kegiatan ekowisata memiliki
tujuan sebagai salah satu cara dalam
menumbuhkan ekonomi masyarakat lokal, selain
itu memiliki dampak positif di dalam menjaga
kelestarian lingkungan. Di dalam ekowisata juga
ditekankan adanya prinsip nilai edukasi yang
memberikan ilmu pengetahuan mengenai
lingkungan sekitar dan budaya masyarakat
setempat (Weaver, 2008). Kegiatan konservasi
lingkungan sering digunakan dalam beberapa
prinsip ekowisata yang dikemukakan oleh para
ahli. Kegiatan ekowista sangat mendorong
peran serta masyarakat lokal agar dapat
berpartisipasi secara aktigf di dalam proses
perencanaan hingga pengembangan ekowisata
(Tuwo, 2011), hal tersebut dilakukan agar
masyarakat lokal dapat tumbuh rasa memiliki
terhadap tempat dan kegiatan wisata yang
sudah mereka kembangkan. Dengan rasa
memiliki
yang
tinggi
maka
diharapkan
masyarakat dapat menjaga keberlangsungan
kegiatan wisata, dan menjaga lingkungan agar
tetap lestari. Dampak negatif dari pariwisata
pada aspek sosial-budaya bagi masyarakat lokal,
memerlukan tindakan yang bersifat mencegah
dan mengantisipasi pengaruh-pengaruh negatif
yang dapat memberikan dampak buruk
terhadap
kehidupan
masyarakat
lokal.
Pencegahan dapat dilakukan dengan dua cara,
yaitu dengan memberlakukan aturan-aturan
(A.A. Gde Raka Dalem, 2002) yang sesuai
dengan norma masyarakat setempat, dan
membentuk
lembaga
masyarakat
(Dep.
Kebudayaan & Pariwisata & WWF Indonesia,
2009) yang bertujuan untuk mengelola dan
Ignatius Riadi Raharjo
menjaga ketertiban. Kegiatan ekowisata yang
menekankan agar memiliki daya tarik wisata
alam dan memiliki aktivitas di alam (CeballosLascuráin,
1987)
menimbulkan
prinsip
kepedulian terhadap lingkungan (Australian
National Training Authority, 2001), dengan
adanya aktivitas wisata yang dilakukan di alam,
maka diperlukan tindakan-tindakan agar dapat
mencegah dampak negatif yang berupa
kerusakan lingkungan. Pencegahan kerusakan
lingkungan kawasan ekowisata dapat dilakukan
dengan beberapa hal, yaitu: (1) Pembangunan
fasilitas wisata dengan memperhatikan keadaan
lingkungan (Tuwo, 2011), (2) Terdapat sistem
pengolahan sampah atau limbah dari kegiatan
wisata (Dep. Kebudayaan & Pariwisata & WWF
Indonesia, 2009), (3) Kegiatan wisata dapat
menggunakan teknologi yang terkait dengan
energi ramah lingkungan (Damanik & Weber,
2006).
Metodologi Penelitian
Metode Analisis
Penelitian
ini
menggunakan
pendekatan
kualitatif, yaitu penelitian yang mencoba
memahami fenomena yang terjadi di dalam
lingkungan naturalnya, di mana peneliti tidak
turut campur terhadap fenomena yang sedang
diamati (Sarosa, 2012:7). Pada penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif, karena
akan melihat secara mendalam keadaan dari
kegiatan wisata yang dilaksanakan di pantai
Baru. Penggunaan pendekatan kualitatif juga
diharapkan mampu menangkap fenomena yang
secara khusus terjadi di pantai Baru di dalam
melaksanakan kegiatan wisata.
Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini dibutuhkan data primer dan
data sekunder, oleh sebab pengumpulan data
dilakukan melalui tiga kegiatan, yaitu:
a. Pengumpulan data primer melalui wawancara.
Wawancara dilakukan dengan menggunakan
metode wawancara semi terstruktur, yaitu
pengumpulan data dengan cara tanya jawab
langsung kepada pihak-pihak yang terkait dan
terlibat guna mendapatkan data dan keterangan
yang terkait dengan penelitian. Daftar topik
pertanyaan dipersiapkan sebagai panduan
wawancara, panduan tersebut hanya berfungsi
untuk memulai wawancara dan sebagai
pedoman awal dalam menggali data/informasi
dari
informan.
Urutan
pertanyaan
dan
pembahasan tidak harus sama seperti pada
panduan, semua tergantung pada jalannya
wawancara. Narasumber dari dalam wawancara
ini terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu
kelompok pemangku kepentingan yang terlibat
dalam pengelolaan kegiatan wisata, yang terdiri
dari Pengurus Sadar Wisata, Perangkat Desa
Poncosari, Pengelola PLTH dan Biogas dan
Kelompok Pemuda Peduli Penyu Pandansimo
(KP4). Untuk Kelompok masyarakat di sekitar
kawasan Pantai Baru Pandansimo terdiri dari
masyarakat yang mewakili masyarakat yang
berprofesi sebagai petani, nelayan dan pelaku
wisata. Untuk kelompok ketiga terdiri dari para
wisatawan yang berkunjung di pantai Baru
Pandansimo.
Pemilihan
narasumber
untuk
kelompok
pemangku kepentingan yang terlibat dalam
pengelolaan kegiatan wisata dan kelompok
masyarakat ditentukan oleh keterlibatannya dan
peran dari masing-masing individu dalam
berpartisipasi di kegiatan wisata di pantai Baru
Pandansimo. Penentuan narasumber untuk
kedua kelompok tersebut dilakukan dengan
metode purposive sampling, yaitu untuk
memilih
informan
yang
benar-benar
mengetahui kondisi Pantai Baru agar dapat
memperoleh
informasi-informasi
yang
mendalam
mengenai
keadaan,
kondisi,
keterlibatan, manfaat dari kegiatan wisata di
pantai Baru dan pengetahuan mengenai
kegiatan wisata di pantai Baru. Proses
wawancara dilakukan dengan menggunakan
strategi snowball sampling, setiap narasumber
diharapkan akan memberikan informasi secara
berantai sehingga didapatkan informasi yang
utuh mengenai keterlibatan dari masing-masing
pihak di dalam kegiatan pariwisata di pantai
Baru.
Penentuan
responden
dari
pengunjung/
wisatawan dilakukan secara accidental, artinya
responden yang diperoleh secara kebetulan,
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1 | 135
Kesesuaian Kegiatan Wisata di Pantai Baru Pandansimo Sebagai Tujuan Ekowisata
dikarenakan kedatangan jumlah pengunjung
tiap hari tidak diketahui secara pasti, terutama
wisatawan yang mengunjungi pantai Baru dan
mengikuti kegiatan-kegiatan wisata, terutama
wisata edukasi energi terbarukan, konservasi
penyu dan wisata budaya.
b. Pengumpulan data primer melalui observasi
Metode
observasi
merupakan
metode
pengumpulan
data
dengan
melakukan
pengamatan dan pencatatan secara langsung
terhadap obyek penelitian yaitu di Pantai Baru,
Kabupaten Bantul untuk mendapat gambaran
langsung mengenai kegiatan wisata yang
sedang berjalan. Menurut Sarosa (2012:57),
cara ini dilakukan agar peneliti mendapatkan
data dan pemahaman yang mendalam dan
lengkap, serta cara ini merupakan cara terbaik
dalam memahami situasi sosial dari sudut
pandang para pelakunya. Data yang dapat
dikumpulkan adalah berupa dokumentasidokumentasi secara visual, audio dan catatan
lapangan. Pelaksanaan observasi dilakukan
dengan menggunakan observasi partitipasi pasif,
hal ini dilakukan dengan datang ke lokasi namun
tidak terlibat dengan kegiatan yang terjadi di
lokasi tersebut. Data yang ingin diperoleh dari
metode observasi adalah, (1) Kondisi lingkungan
kawasan pantai Pandansimo, (2) Pengelolaan
dan pelaksanaan kegiatan wisata, (3) Sarana
dan prasarana penndukung kegiatan wisata, (4)
Aktivitas atraksi wisata, (5) Kegiatan konservasi
yang dilakukan oleh masyarakat.
c. Pengumpulan data sekunder
Selain wawancara dan studi lapangan, data
dapat
diperoleh
dari
dokumen-dokumen
pendukung yang tersedia. Dokumen yang
dimaksud adalah segala catatan baik dalam
bentuk kertas (hardcopy) maupun elektronik
(softcopy)
(Sarosa,
2012:61).
Dokumen
didapatkan
dari
informasi
atau
survey
instansional yang dilakukan dengan cara
menyalin atau mengutip data-data yang
dikeluarkan secara resmi yang berhubungan
dengan objek penelitian, yaitu:
1) Buku, jurnal penelitian, makalah, artikelartikel elektronik yang dapat mendukung
penelitian.
136 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1
2) Dokumen Pemerintah Daerah, yang meliputi:
RTRW Kabupaten Bantul, RIPPDA Kabupaten
Bantul tahun 2004, Data-data Statistik
daerah
Kabupaten
Bantul
dalam
Angka/Kecamatan Srandakan dalam Angka,
dan RIPPDA Provinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta tahun 2012
Hasil dan Pembahasan
Analisa kesesuaian kegiatan wisata di pantai
Baru Pandansimo akan dianalisis dari enam
aspek
ekowisata.
Pembahasan
analisis
kesesuaian akan mencakup dari keenam aspek
yang merupakan hasil dari telaah definisi, dan
prinsip-prinsip ekowisata yang dikemukakan
oleh para ahli atau lembaga yang kompeten di
bidang pariwisata atau ekowisata.
1. Aspek Memiliki Daya Tarik Wisata Berbasis
Alam
Pantai Baru memiliki keunggulan sebagai
destinasi wisata, antara lain pantai ini
menawarkan pantai dengan keteduhan pohon
cemara udang, serta memiliki pantai yang cukup
luas dan landai, dengan panjang pantai + 600
meter dan lebar + 500 meter, sehingga
wisatawan dapat beraktifitas di pinggir pantai.
Selain memiliki ekosistem alam pantai, kawasan
pantai baru juga menjadi salah satu tempat
pendaratan penyu lekang, yang merupakan
salah satu biota laut yang dilindungi oleh dunia
internasional. Pendaratan penyu lekang di
pantai Baru sering terjadi pada bulan JuniSeptember di setiap tahun.
Aktivitas wisata juga dilakukan di sepanjang tepi
pantai. Aktivitas wisatawan di pantai Baru cukup
beragam dari, melakukan pengujian kincir angin,
wisata kuliner, hingga bermain layang-layang
dapat dilakukan oleh para wisatawan. Tepi
pantai Baru yang cukup luas memungkinkan
dilaksanakannya pertunjukkan seni. Kesenian
yang dilakukan di pantai Baru terdiri dari dari
dua kegiatan, yaitu upacara adat Labuhan yang
diselenggarakan oleh kelompok nelayan dan
pertunjukkan
kesenian
Reog
yang
diselenggarakan oleh Reog Samodro Budoyo
Ngentak Pantai Baru.
Ignatius Riadi Raharjo
2. Aspek Penerapan Nilai-nilai Edukasi
Pantai Baru telah ditetapkan sebagai destinasi
wisata edukasi di dalam RIPPD DIY tahun 2012.
Saat ini kegiatan edukasi yang berlangsung di
pantai Baru terdiri dari tiga kegiatan, yaitu
edukasi energi terbarukan, edukasi konservasi
penyu dan edukasi seni-budaya masyarakat
setempat.
Fasilitas Keberadaan Pembangkit Listrik Tenaga
Hibrid
dan
fasilitas
Biogas
mampu
mendatangkan pangunjung yang berminat
untuk mempelajari energi terbarukan yang
ramah lingkungan. Pada umumnya para pelajar
mempelajari atau mengadakan riset tentang
implementasi energi terbarukan. Beberapa
pelajar mencoba untuk mengimplementasi
pembuatan turbin angin, seperti yang telah
diadakan pada Lomba Kincir Angin tingkat
Nasional yang dimulai pada tahun 2012.
Wisata edukasi di pantai Baru juga mempelajari
mengenai konservasi biota laut, dalam hal ini
dilakukan kegiatan penetasan telur-telur penyu
lekang dan pelepasan tukik-tukik. Kegiatan yang
dilaksanakan para pemuda dusun Ngentak juga
memiliki tujuan untuk memberikan pengetahuan
mengenai satwa penyu, serta mengajak para
pengunjung untuk berinteraksi dengan satwa
tersebut. Kegiatan ini sangat mengutamakan
keterlibatan wisatawan di usia-usia muda. Para
pemuda yang tergabung di KP4 sering
melakukan promosi kegiatan pelepasan penyu di
sekolah-sekolah, dari jenjang Playgroup hingga
jenjang Sekolah Dasar.
Kegiatan wisata di kawasan pantai Baru juga
melakukan kegiatan wisata kesenian budaya
tradisional. Hal tersebut dilakukan dengan
menyelenggarakan upacara Labuhan yang
sangat berkaitan dengan tradisi budaya
masyarakat nelayan dan penyelenggaraan
kesenian reog. Upacara tradisi Labuhan memiliki
nilai budaya spiritual yang sangat tinggi.
Upacara adat ini diadakan pada setiap hari
minggu pertama, di minggu pertama pada bulan
Syawal. Upacara Labuhan merupakan suatu
ritual yang dipercaya dapat memelihara
hubungan yang harmonis antar masyarakat, dan
masyarakat dengan alam sekitar. Upacara
Labuhan merupakan salah satu wisata budaya
yang dapat mengajarkan kearifan lokal yang ada
di masyarakat dusun Ngentak, khususnya bagi
masyarakat yang berprofesi sebagai nelayan.
Kegiatan kesenian masyarakat dusun Ngentak
yang tergabung dalam Reog Samodro Budoyo
Ngentak Pantai Baru, muncul ketika pantai Baru
dibangun
menjadi
tempat
wisata.
Penyelenggaraan
atraksi
kesenian
reog
dilakukan khususnya ketika musim-musim
liburan sekolah, yang biasanya pantai Baru
memiliki peluang untuk menarik lebih banyak
jumlah wisatawan yang datang.
3. Aspek
Lokal
Melibatkan
Partisipasi
Masyarakat
Pantai Baru merupakan pantai wisata di
kabupaten Bantul yang proses pendiriannya
dilaksanakan
oleh
masyarakat
setempat.
Masyarakat pantai Baru mulai menata kawasan
tersebut dimulai pada tahun 2010. Pada
awalnya
masyarakat
bersama-sama
mensepakati area yang akan digunakan sebagai
bangunan warung kuliner, toilet, serta
bangunan lainnya. Masyarakat menentukan
jarak yang aman dari pinggir pantai sejauh +
200 meter, dan dibagi menjadi tiga zonasi, yaitu
(1). Terdiri dari lahan yang berukuran kecil yang
digunakan untuk warung kuliner ukuran kecil,
berjarak + 200 meter dari pinggir pantai,
dengan ukuran 3x6 m2, (2) Lahan yang
berukuran sedang, digunakan untuk warungwarung kuliner ukuran sedang yang dapat
menampung lebih banyak pengunjung berjarak
+ 250 meter, dengan ukuran 7x9 m2, (3) Terdiri
dari rumah makan berukuran besar, dan
beberapa kolam renang anak, berjarak + 270
meter dari pinggir pantai, dengan ukuran 12x20
m2.
Di dalam pemanfaatan lahan, masyarakat juga
bersepakat di dalam penentuan lokasi.
Masyarakat memiliki tiga pilihan tempat, yang
tergantung dari dimensi bangunan yang
diinginkan. Pemilihan disepakati agar dilakukan
dengan cara “lotere” atau diundi, hal itu
dilakukan karena dianggap adil bagi setiap
masyarakat. Untuk lahan ukuran kecil diberi
nomor “3”, untuk lahan ukuran sedang diberi
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1 | 137
Kesesuaian Kegiatan Wisata di Pantai Baru Pandansimo Sebagai Tujuan Ekowisata
nomor “2”, dan untuk lahan ukuran besar diberi
nomo
“1”.
Masyarakat
juga
membuat
kesepakatan mengenai desain warung-warung
kuliner, mereka setuju agar desain warungwarung kuliner diseragamkan, agar lingkungan
dapat tertata rapi.
Di dalam pengelolaannya, masyarakat dusun
Ngentak
bersama-sama
menjalankan
pengelolaan kegiatan pariwisata di pantai Baru,
seperti melakukan kesepakatan bersama untuk
harga barang dan jasa yang dijual. Harga dan
tarif atas jasa dan barang yang diperjualbelikan
di kawasan Pantai Baru disepakati bersama,
seperti tarif parkir, jasa persewaan ATV, toilet
umum, dan untuk harga makanan dan minuman.
Agar hal tersebut dapat berlangsung, maka
masyarakat melakukan pertemuan rutin seperti
yang sering dilakukan oleh pemilik warungwarung kuliner
yang tergabung dalam
paguyuban
kuliner,
untuk
membahas
permasalahan di dalam penyelenggaraan
kegiatan
usaha
warung
kuliner.
Untuk
mengatasi masalah sampah, ketertiban, dan
keamanan lingkungan wisata, masyarakat juga
mengadakan pertemuan antar warga yang
terdiri dari pengurus Pokdarwis, pemilik warung
kuliner, petugas parkir, operator jasa ATV,
petugas
kebersihan,
dan
pihak-pihak
masyarakat lain yang terkait.
4. Aspek Tidak Merusak Keadaan Sosial dan
Budaya Masyarakat Lokal
Aspek ini akan menganalisa mengenai antisipasi
yang dilakukan oleh masyarakat setempat dalam
mencegah dampak negatif dari kegiatan
pariwisata bagi keadaan sosial dan budaya bagi
masyarakat setempat. Dalam aspek ini
menggunakan dua tolak ukur yaitu terdapat
aturan-aturan dari masyarakat dalam mencegah
dampak negatif dari pariwisata dan terdapat
organisasi masyarakat yang berperan dalam
menjaga ketertiban.
Aturan-aturan yang ditetapkan oleh masyarakat
setempat merupakan aturan-aturan yang
diadopsi dari norma yang ada di masyarakat,
seperti kegiatan Mo limo (madat, madon, minum,
main dan maling), sangatlah dilarang. Jika ada
pelanggaran maka akan diberikan peringatan
dari
petugas
masyarakat,
namun
jika
138 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1
masyarakat setempat sendiri yang melanggar
peraturan maka akan diadakan pertemuan
tokoh-tokoh
masyarakat
dengan
cara
mengadakan
rembug
dusun,
untuk
mempertimbangkan sanksi yang akan diberikan
kepada anggota masyarakat yang melanggar
ketertiban. Untuk mengantisipasi kegiatan
prostitusi seperti yang ada di yang ada di pantai
Pandansimo, dan tidak terjadi kembali di pantai
Baru Pandansimo, maka masyarakat bersepakat
dan membuat aturan bersama agar tidak
mendirikan penginapan atau hotel di kawasan
pantai Baru. Masyarakat juga mengantisipasi
terjadinya konflik antar masyarakat, salah
satunya dilakukan dengan membuat aturan
mengenai kesepakatan harga untuk setiap
masakan yang disediakan di warung-warung
kuliner. Hal ini dilakukan karena masyarakat
tidak ingin ada “perang harga” yang
menyebabkan konflik antar masyarakat pemilik
warung.
Pada tanggal 7 Maret 2010 dibentuk Kelompok
Sadar Wisata (POKDARWIS) Pantai Baru dengan
dikeluarkannya surat keputusan Lurah Desa
Poncosari, Nomor. 89/E/III 2010, tentang
Pengukuhan Kelompok Sadar Wisata Pantai Baru
Pandansimo. Dengan dibentuknya Kelompok
Sadar
Wisata
pengelolaan
pantai
Baru
dilaksanakan dengan nilai-nilai Sapta Pesona,
dimana tugasnya juga meliputi menajaga
ketertiban dan keamanan kawasan wisata.
Kelompok Sadar Wisata Pantai Baru juga
mengupayakan ketertiban dan keamanan pantai
Baru dengan bekerja sama dengan instansi
pemerintah, dalam hal ini kepolisian agar dapat
menciptakan lingkungan pantai Baru yang tertib
dan aman. Kegiatan kerja sama dilakukan
dengan
menyelenggarakan
pembinaanpembinaan kepada petugas-petugas/juru parkir,
yang bertujuan agar para petugas/juru parkir
dapat juga menjalani tugas sebagai petugas
keamanan di pantai Baru.
5. Aspek Menciptakan Lapangan Kerja dan
Memberikan Pendapatan Bagi Masyarakat
Lokal
Pantai Baru didirikan oleh warga dusun Ngentak
dengan salah satu tujuan untuk menciptakan
lapangan pekerjaan bagi masyarakat dusun
Ngentak. Aktivitas masyarakat di dalam
Ignatius Riadi Raharjo
mendapatkan penghasilan di pantai Baru cukup
beragam, dari membuka warung kuliner, toilet
umum, depot ikan, kolam renang anak, jasa
sewa ATV, dan petugas parkir. Masyarakat
dusun Ngentak bebas dalam memilih jenis
usaha atau pekerjaan yang diinginkan.
Masyarakat dapat membuka berbagai jenis
usaha yang diinginkan, dan dapat disesuaikan
dengan kemampuannya masing-masing, untuk
masyarakat yang memiliki modal besar dapat
membuka usaha di lahan yang besar,
sedangkan unutk masyarakat yang memiliki
modal yang relatif kecil, dapat membuka usaha
di lahan yang kecil. Fasilitas PLTH juga
memberikan
lapangan
pekerjaan
bagi
masyarakat dusun Ngentak. Untuk fasilitas PLTH
dan Biogas dibawah pengelolaan Dinas Sumber
Daya Air kabupaten Bantul, sebanyak 11 orang
bekerja di fasilitas tersebut, 2 pegawai
merupakan pegawai LAPAN yang diperbantukan
untuk menjalankan fasilitas tersebut, namun
sebanyak 9 orang merupakan pegawai kontrak
yang berasal dari masyarakat dusun Ngentak.
Fasilitas PLTH yang berfungsi selama 24 jam
membutuhkan pegawai yang cukup agar dapat
bertugas secara bergiliran.
Pantai Baru sebagai tempat wisata juga
berperan di dalam meningkatkan pendapatan
bagi
masyarakat
setempat,
khususnya
masyarakat
Dusun
Ngentak.
Lapangan
pekerjaan dan peluang bekerja di pantai Baru
cukup terbuka luas, sehingga masyarakat yang
mencari penghasilan tidak dibatasi oleh umur.
Para remaja hingga orang lanjut usia dapat
bekerja mencari penghasilan. Bagi masyarakat
muda Dusun Ngentak, pantai Baru dilihat
sebagai peluang untuk mencari tambahan
penghasilan, seperti yang dilakukan oleh para
pemuda dari Kelompok Pemuda Peduli Penyu
(KP4), mereka menyelenggarakan kegiatan
adposi penyu bukan hanya bertujuan untuk
kegiatan konservasi dan kegiatan edukasi saja,
namun
mereka
juga
berupaya
untuk
mendapatkan penghasilan dari kegiatan adopsi
penyu. Untuk warung kuliner, banyak yang
dikelola oleh ibu-ibu rumah tangga, sehingga
keluarga mendapatkan penghasilan tambahan.
Dengan dibukanya pantai Baru sebagai tempat
wisata, maka dapat membantu warga yang
berprofesi sebagai nelayan dan petani.
Keberadaan pantai Baru sebagai tempat wisata
membantu para nelayan dalam menjual hasil
tangkapannya, dan untuk para petani mereka
dapat menjual hasil pertanian kepada warungwarung kuliner atau langsung kepada para
wisatawan, hal itu memperlihatkan bahwa
keberadaan pantai Baru Pandansimo sebagai
tempat wisata juga dapat berperan dalam
mendekatkan
masyarakat
dengan
pasar
(konsumen).
6. Aspek Kepedulian Terhadap Lingkungan
Pelestarian ekosistem menjadi salah satu fokus
dalam
mengembangkan
destinasi
wisata
berbasis ekowisata. Di dalam penelitian ini
aspek
kepedulian
terhadap
lingkungan
menggunakan dua indikator, yaitu (a) Tidak
Menyebabkan Kerusakan Lingkungan, dan (b)
Terdapat kegiatan konservasi lingkungan.
a. Tidak
Menimbulkan
Pencemaran Lingkungan
Kerusakan
dan
Pantai Baru yang terletak di Kecamatan
Srandakan memiliki ancaman terhadap kenaikan
permukaan air laut yang cukup tinggi bila
dibandingkan dengan kecamatan lainnya di
Kabupaten
Bantul
(Hastuti,
2012:47).
Pembangunan fasilitas wisata yang dilakukan
bersama-sama oleh warga, disepakati agar jarak
+ 200 meter dari pinggir laut merupakan jarak
aman untuk mendirikan bangunan fasilitasfasilitas wisata. Dengan menyediakan jarak
sebesar + 200 meter dari pinggir laut maka
pantai Baru tidak hanya menyediakan jarak
aman bagi fasilitas-fasilitas wisata, namun juga
menyediakan ruang untuk aktivitas publik,
mempertahankan area penghijauan tanaman
cemara udang, dan menyediakan area untuk
tempat penyu-penyu mendarat dan bertelur di
tepi-tepi pantai. Selain hal itu pembangunan
fasilitas
wisata
di
pantai
Baru
yang
mencerminkan kepedulain terhadap lingkungan
adalah pembangunan fasilitas wisata yang tidak
diperbolehkan untuk mengganggu ekosistem
tanaman cemara udang.
Kusumawanto & Sabono & Astuti (2013)
mengungkapkan bahwa kawasan pantai Baru
Pandansimo menghasilkan sampah yang terdiri
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1 | 139
Kesesuaian Kegiatan Wisata di Pantai Baru Pandansimo Sebagai Tujuan Ekowisata
dari sampah daun cemara udang sebanyak 264
liter/hari, sampah plastik 128.7 liter/hari, dan
sampah organik dari warung-warung kuliner
sebanyak 105 liter/hari. Limbah dengan volume
cukup banyak akan menimbulkan dampak
negatif terhadap lingkungan, karena limbah
yang berupa tulang, kepala dan jeroan ikan
dapat menyebakan meningkatnya Biological
Oxygen Demand (BOD) dan Chemical Oxygen
Demand (COD). Sampah-sampah yang belum
dikelola dan hanya ditimbun dapat menimbulkan
bau busuk sehingga mengganggu aktivitas
masyarakat
dan
kenyaman
wisatawan,
sedangkan sampah plastik yang hanyut di laut
dikhawatirkan mengganggu aktivitas penyu
yang akan mendarat di pantai untuk bertelur.
Pantai Baru telah memiliki fasilitas-fasilitas
energi terbarukan ramah lingkungan dan
dimanfaatkan di dalam kegiatan wisata. Listrik
yang berasal dari PLTH digunakan untuk
warung-warung kuliner dan untuk prasarana
wisata lainnya. Listrik yang dihasilkan oleh
fasilitas PLTH dikenakan tarif/iuran sebesar Rp.
10.000/bulan, dan untuk penyediaan air pompa
dikenakan iuran sebesar Rp. 5.000 /minggu.
Iuran yang dibebankan kepada masyarakat
untuk penggunaan listrik dan air relatif murah
dan terjangkau, sehingga semua pemilik warung
kuliner, dan fasilitas wisata lainnya memilih
untuk menggunakan listrik dan air yang berasal
dari PLTH.
tahun. Kegiatan pemupukan dilakukan pada saat
musim hujan dan hari-hari sepi pengunjung,
yang biasanya dipilih pada bulan SeptemberNovember, dan dilakukan pada saat hari kerja
(Senin-Kamis) bukan pada saat hari libur, hal
tersebut dilakukan agar tidak mengganggu
kegiatan wisata yang berlangsung.
Penyu lekang meupakan salah satu jenis penyu
yang dilindungi oleh dunia internasional, melalui
World Wild Life (WWF), pemerintah Indonesia
juga telah mengeluarkan peraturan yang
bertujuan untuk melindungi sumber daya hayati,
dengan dikeluarkannya Undang-undang No. 5
tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya
Alam Hayati dan Ekosistemnya, sehingga lokasilokasi tempat bertelur penyu dapat dijaga
kelestariannya. Dalam menanggapi hal tersebut,
kelompok pemuda dusun Ngentak membentuk
organisasi pemuda Kelompok Pemuda Peduli
Penyu Pandansimo (KP4) yang memiliki tujuan
untuk penetasan telur-telur penyu, dan
kemudian dilepaskan kembali ke laut. Kegiatan
ini telah berlangsung sejak tahun 2012 hingga
sekarang. Kegiatan yang dilaksanakan oleh KP4
juga bertujuan untuk melindungi satwa penyu
kebiasaan warga masyarakat, khususnya warga
yang memiliki kebiasaan mengkonsumsi penyupenyu yang mendarat beserta dengan telurtelurnya.
Kesimpulan dan Rekomendasi
b. Terdapat Kegiatan Konservasi Lingkungan
Kesimpulan
Program penghijauan di kawasan pantai Baru
telah dilaksanakan pada tahun 2006-2009, yang
bertujuan untuk mencegah ancaman gelombang,
erosi pantai, dan juga berfungsi sebagai wind
barrier yang berguna bagi lahan pertanian.
Penghijauan dilaksanakan oleh kerjasama
pemerintah daerah dan masyarakat setempat.
Penghijauan pantai di pesisir pantai selatan
Yogyakarta
didominasi
oleh
penanaman
tumbuhan cemara udang (casuarina equisetifolia
l), tanaman ini dipilih karena memiliki daya
tahan terhadap air laut dan angin kencang yang
berasal dari laut. Pada saat ini masyarakat
dusun Ngentak berupaya untuk menjaga
kelestarian ekosistem tanaman cemara udang
dengan
cara
pemupukan
berkala
dan
peremajaan tanaman yang diadakan setiap
Setelah melakukan proses analisis yang melihat
kesesuaian ekowisata dari enam aspek. maka
dapat disimpulkan bahwa beberapa kegiatan
yang berlangsung di pantai Baru diindikasikan
telah sesuai dengan apsek-aspek ekowisata,
namun
masih
ditemukan
beberapa
ketidaksesuaian.
Ketidaksesuaian
masih
ditemukan dari aspek Kepedulian Terhadap
Lingkungan, yang muncul dari indikator Tidak
Menimbulkan Kerusakan Lingkungan dimana
tolak ukur terdapat pengelolaan limbah atau
sampah tidak terpenuhi. Dengan adanya
ketidaksesuaian dari indikator tersebut maka
pelaksanaan kegiatan wisata di pantai Baru akan
terancam keberlangsungannya. Hasil analisis
juga memperlihatkan adanya kekurangan yang
ditemukan dalam penyelenggaraan wisata
140 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1
Ignatius Riadi Raharjo
edukasi dan pengelolaan fasilitas PLTH dan
biogas
Rekomendasi
3)
Dari ketidaksesuaian yang ada maka terdapat
beberapa upaya yang dapat direkomendasikan
dalam menagatasi masalah-masalah yang ada.
Untuk masalah ketidaksesuaian dalam tolak ukur
tolak ukur terdapat pengelolaan limbah atau
sampah, maka dapat dilakukan beberapa hal,
yaitu:
1)
2)
Untuk
membangun
semangat
dari
masyarakat untuk menglola sampah dengan
cara memilah, maka Pemerintah Daerah
dapat menggunakan Peraturan Daerah
No.15 Tahun 2011 tentang Pengelolaan
Sampah. Pada pasal 45 pemerintah daerah
memiliki kewajiban dalam hal pengawasan
dan
pengendalian
sampah,
peran
pengawasan sangat penting dijalankan agar
kedisiplinan masyarakat dalam mengelola
sampah dapat terlaksana. Pada pasal 29
dalam Perda No.15 Tahun 2011 juga diatur
perihal pemberian insentif (pemberian
penghargaan, pemberian subsidi, dan
pemberian kemudahan perizinan dalam
pengelolaan sampah) dan disinsentif
(penghentian subsidi, dan denda dalam
bentuk barang atau uang).
Pengelolaan limbah yang berasal dari
warung-warung kuliner, yang berupa tulang
ikan, kepala ikan dan jeroan ikan dapat
dikelola dengan diolah menjadi menjadi
pakan ikan (Kusumawanto, dkk, 2013).
Kandungan protein yang terdapat dari
tulang ikan, kapala ikan dan jeroan ikan
dapat dimanfaatkan sebagai sumber nutrisi
untuk ikan. Pakan ikan sangat dibutuhkan
bagi para peternak ikan air tawar, dan
harga pakan ikan di pasaran pada saat ini
relatif mahal, maka diperlukan pakan ikan
alternatif dengan memanfaatkan sumber
daya yang ada. Pada saat ini di daerahdaerah di Provinsi DIY cukup banyak
ditemukan peternak ikan air tawar, dan
salah satunya banyak ditemukan di daerah
Sleman, yang beberapa waktu lalu
ditetapakan sebaga salah satu kawasan
minapolitan oleh Kementerian Kelautan dan
Perikanan.
Pengalokasian
anggaran
pengelolaan
sampah di kabupaten Bantul dapat menjadi
prioritas, hal tersebut dilakukan mengingat
Pandapatan Asli Daerah di Kabupaten
Bantul banyak yang berasal dari sektor
pariwisata, terutama dari retribusi-retibusi
tiket masuk kawasan wisata.
Untuk mengatasi kekurangan yang ditemukan
dalam penyelenggaraan wisata edukasi dan
pengelolaan fasilitas PLTH dan biogas maka
dapat dilakukan beberapa hal, yaitu:
1)
2)
3)
Pengembangan fasilitas wisata edukasi
yang terkait dengan wisata edukasi energi
terbarukan dan konservasi penyu. Untuk
wisata
edukasi
energi
terbarukan
diperlukan pembangunan fasilitas seperti
ruang kelas yang dilengkapi oleh alat-alat
peraga dan prensentasi. Untuk kegiatan
konservasi penyu dibutuhkan fasilitas
unutk penangkaran dan penetasan telurtelur penyu, sehingga pengunjung dapat
diperlihatkan atau dipresentasikan prosesproses bertelur hingga penetasan telurtelur penyu
Untuk menjaga keberlangsungan upacara
adat dan atraksi kesenian yang dilakukan
oleh
masyarakat
dusun
Ngentak,
diperlukan regenerasi pelaku seni dan
budaya yang dapat dimulai pada tingkat
remaja, sehingga para remaja juga dapat
berperan dalam melestarikan kekayaan
seni dan budaya yang dimiliki oleh
masyarakat dusun Ngentak. Pemerintah
daerah khususnya pemerintah provinsi DIY,
yang pada saat ini melaksanakan Undangundang Keistimewaan, yang mengatur
mengenai pelestarian bentuk kebudayaan
dan kearifan lokal, diharapkan lebih dapat
berperan dalam memberikan dorongan
dengan cara memberikan insentif atau
pelatihan kesenian bagi masyarakat yang
telah melestarikan keberadaan kesenian
dan budaya.
Wisata edukasi di pantai Baru memerlukan
pusat informasi yang dapat digunakan oleh
wisatawan sebagai memperoleh informasi
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1 | 141
Kesesuaian Kegiatan Wisata di Pantai Baru Pandansimo Sebagai Tujuan Ekowisata
4)
5)
yang lengkap tentang lokasi atau kawasan
dari segi budaya, sejarah, alam, dan
menyaksikan acara seni, kerajinan, dan
produk budaya lainnya
Pantai
Baru
juga
membutuhkan
koordinator khusus yang dapat melakukan
koordinasi setiap kegiatan wisata edukasi
yang ada, sehingga pelaksanaan wisata
edukasi tidak dilakukan secara terpisah,
namun dapat menjadi satu paket wisata
edukasi yang lengkap
Melakukan pelatihan energi terbarukan
kepada staf/pegawai yang bertugas di
Dinas Sumber Daya Air, hal ini diperlukan
agar
dapat
dilakukan
penguatan
kelembagaan di lingkungan Dinas Sumber
Daya Air. Selain itu hal yang dapat
dilakukan adalah mentransfer pegawaipegawai LAPAN yang saaat ini bertugas
sebagai pengelola fasilitas PLTH dan
Biogas untuk menjadi pegawai pemerintah
daerah kabupaten Bantul. Tenaga kerja
kontrak yang berasal dari masyarakat,
diusulkan agar dapat diangkat menjadi
pegawai tetap, dengan pertimbangan
pengelolaan fasilitas PLTH dan biogas jika
dilakukan dari elemen masyarakat lokal,
maka pemanfaatan fasilitas PLTH dan
Biogas akan terus berkelanjutan.
Ucapan Terima Kasih
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof.
Rosyidie selaku pembimbing atas
bimbingannya dalam menyusun penelitian ini
Arief
Daftar Pustaka
Ceballos-Lascuráin, Hector. (1987). The Future
of Ecotourism. In Mexico Journal: January 17:
13-14.
Damanik, Janianton dan Helmut F. Weber.
(2006). Perencanaan Ekowisata. Yogyakarta:
Penerbit Andi
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, WWFIndonesia. (2009). Prinsip dan Kriteria
Ekowisata Berbasis Masyarakat. Jakarta:
Departemen Kebudayaan dan Pariwisata.
Hastuti, Amandangi Wahyuning. (2012). Analisis
Kerentanan Pesisir Terhadap Ancaman
Kenaikan Muka Laut di Selatan Yogyakarta.
Bogor: Institut Pertanian Bogor.
142 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V4N1
Kusumawanto, A., Ferdy Sabono dan Zulaikha
Budi Astuti. (2013). Zero Waste Pandansimo
Mater Plan, a Green Urban Design Approach.
Paper presented at the Fifth Artepolis
International Conference and Workshop.
Bandung, 8-9 August 2014
Raka Dalem, Anak Agung Gde. (2002).
Merumuskan Prinsiop-prinsip dan Kriteria
Ekowisata Daerah Bali. Bumi Lesdtari Vo. 4,
No.2
Sarosa, Samiaji. (2012). Dasar-dasar Penelitian
Kualitatif. Jakarta: PT. Indeks.
Scace, R.C., E. Grifone, and R. Usher. (1992).
Ecotourism in Canada. Quebec: Canadian
Environmental Advisory Council.
Suwantoro,
Gamal.
(1997).
Dasar-dasar
Pariwisata. Yogyakarta: Penerbit Andi.
Tuwo, Ambo. (2011). Pengelolaan Ekowisata
Pesisir
Dan
Laut.
Surabaya:
Brilian
Internasional.
Warpani, Suwardjoko P. & Warpani, Indira P.
(2007). Pariwisata Dalam Tata Ruang Wliayah.
Bandung: Penerbit ITB.
Weaver, David. (2008). Ecotourism, 2nd ed.
Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.
Fly UP