...

13 PENDAhuluAN Bunuh diri memang bukan kisah baru dalam

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

13 PENDAhuluAN Bunuh diri memang bukan kisah baru dalam
FENOMENA BUNUH DIRI DI GUNUNG KIDUL:
CATATAN TERSISA DARI LAPANGAN
(Suicide phenomena in Gunung Kidul: Remaining record from the field)
Adi Fahrudin
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas Muhammadiyah Jakarta
Email: [email protected]
Abstrak
Artikel ini merupakan catatan dari lapangan mengenai fenomena bunuh diri di Daerah Gunung Kidul,
Daerah Istimewa Yogyakarta, Indonesia. Tujuan utama penelitian adalah mengkaji keterkaitan antara
faktor-faktor mitos, kemiskinan dan perilaku belajar berpengaruh terhadap fenomena bunuh diri yang
terjadi selama ini. Penelitian ini dijalankan menggunakan data sekunder dari tahun 1990-2006. Data
diperoleh dari Polres Gunung Kidul, Rumah Sakit Umum Daerah, dan Kantor Dinas Sosial. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa fenomena bunuh diri yang terjadi berkaitan dengan perilaku belajar
yang salah mengenai mekanisme mengatasi masalah kehidupan. Pada awalnya perilaku bunuh diri itu
berhubungan dengan mitos palung gantung dan kemiskinan, namun kemudian fenomena bunuh diri ini
begeser dan lebih disebabkan oleh faktor perilaku koping yang dipelajari secara keliru dari satu generasi
ke generasi berikutnya. Bunuh diri dianggap sebagai mekanisme koping dalam mengatasi permasalahan
yang dihadapi. Hasil penelitian ini memberi implikasi terhadap program pencegahan perilaku bunuh diri
berbasis masyarakat lokal.
Kata Kunci: bunuh diri, perilaku bunuh diri, pencegahan, perilaku koping
Abstract
This article is a record of field research on the phenomenon of suicide in Gunung Kidul, Special Region of
Yogyakarta, Indonesia. The main purpose of research is to examine the relationship between myth factors,
poverty and learning behaviors affect the phenomenon of suicide that occurred during this time. The
research was carried out using secondary data from the years 1990-2006. Data obtained from the Gunung
Kidul Police Office, Regional General Hospital, and the Office of Social Service. The results showed that
the phenomenon of suicide is associated with learning the wrong behavior of the mechanism to overcome
the problem of life. At the beginning of suicidal behavior was associated with a trough hanging myths and
poverty, but then the phenomenon of suicide is moving and more are caused by coping behavioral factors
erroneously from one generation to the next. Considered suicide as a coping mechanism in addressing the
problems faced. The results of this study provide implications for suicidal behavior prevention programs
based on local communities.
Keywords: suicide, suicidal behavior, prevention, coping behavior
PENDAHULUAN
Bunuh diri memang bukan kisah baru dalam
masyarakat modern. Kesediaan Socrates untuk
minum racun, misalnya, merupakan tindakan
bunuh diri yang dilakukannya secara sadar;
walau ada hubungan dengan hukuman mati
yang dijatuhkan padanya. Dia pilih mati dengan
cara minum racun daripada mencabut ajaran
kebenaran yang dia diberikan kepada anak-anak
muda. Dalam cerita wayang yang bersumber
dari Kitab Ramayana dan Mahabharata, kita
dapat menemukan tokoh Kumbokarno yang mati
bunuh diri dengan cara nekat berperang. Dalam
tradisi bangsa Jepang, kita juga mengenal tradisi
harakiri, yaitu bunuh diri dengan menusukkan
pisau ke perut dan mengeluarkan seluruh isinya,
Informasi, Vol. 17, No. 01
Tahun 2012
13
Fenomena Bunuh Diri di Gunung Kidul: Catatan Tersisah Dari Lapangan
sebagai bentuk kesatriaan dalam penebusan
dosa.
Pada masyarakat modern sekarang, cara yang
digunakan dan tujuan bunuh diripun beragam.
Ada bunuh diri dengan membakar tubuh
sebagai aksi protes, seperti yang dilakukan oleh
Chen Guo, penganut sekte meditasi Falun Gong
di Beijing. Bersama tujuh orang lainnya, dia
membakar tubuhnya di Lapangan Tiananmen
sebagai aksi protes terhadap pelarangan Sekte
Falun Gong. Ada juga yang dengan upacara
ritual karena keyakinan akan kenikmatan abadi,
seperti bunuh diri massal yang dilakukan oleh
sekte Heaven’s Gate (Pintu Surga) di Amerika
Serikat, pada tanggal 28 Maret 1997. Pemimpin
Sekte ini, Marshall Applewhite, percaya
bahwa sebuah UFO (unidentified flying object)
memang ada dan akan membawa anggotanya ke
surga begitu mereka membuang wadah (tubuh)
mereka.
Tujuan penelitian
Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh
informasi mengenai fenomena bunuh diri di
Gunung Kidul. Tujuan selanjutnya adalah untuk
menganalisis keterkaitan fenomena bunuh diri
dengan kemiskinan, mitos dan perilaku koping
yang dipelajari dari lingkungannya.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan memberi
konstribusi positif bagi perkembangan wacana
ilmiah dalam pekerjaan sosial mengenai bunuh
diri dan mekanisme pencegahan bunuh diri
menggunakan pendekatan pekerjaan sosial
berbasis masyarakat lokal.
Metode Penelitian
Penelitian
ini
dilakukan
dengan
menggabungkan hasil penelitian lapangan
dengan analisis data sekunder. Sumber data
bagi penelitian lapangan adalah pihak-pihak
yang memiliki kewenangan dalam memberikan
informasi mengenai perbuatan bunuh diri seperti
Kepolisian, Rumah Sakit, Kepala Wilayah
Kecamatan dan lain-lain. Bagi melengkapi
penelitian lapangan, peneliti mengumpulkan
dan menganalisis data sekunder berupa data
statistik yang bersumber dari Kepolisian.
HASIL dan pembahasan
Kemiskinan Dan Bunuh Diri
Teori ada mengatakan bahwa bunuh diri
berhubungan dengan kemiskinan. Namun
demikian, berbeda dengan bunuh diri yang
terjadi di berbagai negara, seperti di Amerika,
Cina, dan Jepang, di mana penyebabnya lebih
pada persoalan ideologi, keyakinan, atau
sebagai bentuk aksi protes terhadap suatu rezim
yang menindas, maka menurut Darmaningtyas
(2002) bunuh diri di masyarakat Gunung Kidul
disebabkan oleh keputusasaan yang mendalam
dan akut dalam menghadapi sulitnya hidup.
Lanjutnya bahwa bunuh diri di Gunung Kidul
terkait dengan kondisi wilayah tersebut yang
gersang, tandus, serta kemiskinan yang diderita
oleh masyarakatnya.
Menurut analisis saya dalam konteks
bunuh diri di Gunung Kidul, faktor kemiskinan
tidak bisa dijadikan faktor penyebab utama
sehingga seseorang mengambil keputusan
untuk mengakhiri hidupnya. Data dari Polres
Gunung Kidul tahun 2003 sampai tahun 2006
menunjukkan bahwa 85 persen dari jumlah
orang yang bunuh diri bekerja sebagai petani
(data tahun 2000-2002 tidak tersedia). Tidak ada
penjelasan apakah petani tersebut masuk dalam
kategori petani miskin, ambang miskin atau
tidak miskin (lihat tabel 1).
Tabel 1.
Data bunuh diri berdasarkan pekerjaan
Pekerjaan
Petani
Swasta
Pensiunan
PNS
Supir
Pelajar
Polisi
Buruh
Eks Dukuh/
Pamong desa
Jumlah
2003
24
3
1
1
1
0
0
0
2004
21
2
0
0
0
1
1
0
2005
27
3
0
0
0
0
0
0
2006
27
1
0
0
0
0
0
1
0
1
0
0
30
26
30
29
Sumber: Kasatreskrim Polres Gunung Kidul, 2007
14
Informasi, Vol. 17, No. 01
Tahun 2012
Fenomena Bunuh Diri di Gunung Kidul: Catatan Tersisah Dari Lapangan
Hasil pengamatan saya menunjukkan bahwa
benar jika majoritas petani Gunung Kidul hanya
mengusahakan budidaya tanaman semusim
(padi dan palawija). Namun menyalahkan faktor
alam yang gersang sehingga masyarakatnya
menjadi miskin sebagai penyebab bunuh diri
agak sukar diterima. Gunung Kidul sekarang ini
tidak lagi gersang seperti dahulu, dan kehidupan
sosio-ekonomi masyarakat Gunung Kidul sudah
jauh lebih baik dari era tahun-tahun sebelumnya.
Fakta memang menunjukkan bahwa hingga
akhir dekade 1960-an masyarakat Gunung Kidul
masih banyak yang mengalami kekurangan
makan. Bahkan, pada tahun 1963-1964 pernah
terjadi kelaparan massal dan wabah penyakit
HO yang mematikan. Namun kondisi sekarang
sudah mengalami perubahan dan kelaparan
bukan masalah lagi bagi masyarakat Gunung
Kidul. Masyarakat Gunung Kidul sudah mulai
mengalami masa perbaikan ekonomi terutama
menyangkut kecukupan kebutuhan bahan
makan, sekitar tahun 1978, bersamaan dengan
mulai berhasilnya program penghijauan yang
digalakkan pemerintah pusat maupun daerah.
Persoalannya adalah mengapa fenomena bunuh
diri masih tetap bahkan cenderung meningkat
dari tahun ke tahun sebagaimana terlihat pada
tabel 2 berikut ini.
Tabel 2.
Data bunuh diri di Gunungkidul dari
Tahun 2000-2006
Tahun/
Bulan
Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember
Jumlah
2
2
2
1
3
2
1
2
1
1
1
0
18
3
0
0
0
2
3
9
3
3
2
1
0
26
2
0
3
6
2
0
2
2
4
3
2
3
29
2
0
2
4
3
1
1
7
1
3
6
1
29
Tabel 3.
Data bunuh diri berdasarkan jenis kelamin
Tahun
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Jumlah
2003
2004
2005
2006
25
4
29
22
9
31
17
10
27
20
10
30
Sumber: Kasatreskrim Polres Gunung Kidul, 2007
Bunuh Diri dan Isu Gender
Data hasil penelitian menunjukkan bahwa
laki-laki merupakan jumlah terbanyak yang
melakukan bunuh diri. Darmaningtyas (2002)
menyinggung soal korelasi laki-laki dengan
masyarakat patriarkal, di mana kaum laki-laki
berperan penting dan punya tanggung jawab
besar dalam keluarga dan masyarakat.
Berdasarkan data pada tabel 3 di atas terlihat
kecenderunga dari tahun ke tahun pelaku bunuh
diri terbanyak adalah laki-laki. Jika isu peran
gender yang dimunculkan maka persoalannya
adalah mengapa di daerah lain di mana laki-laki
dituntut dengan peranan dan tanggungjawab
yang besar namun fenomena bunuh diri tidak
sefenomenal seperti yang terjadi di Gunung
Kidul.
Bunuh Diri dan Lanjut Usia
2000 2001 2002 2003 2004 2005 2006
1
3
2
4
1
2
3
2
1
1
3
5
28
Berdasarkan data pada tabel 2 di atas tentu
menyangkal sinyalemen banyak pihak bahwa
kemiskinan sebagai faktor utama penyebab
bunuh diri di Gunung Kidul.
0
2
6
3
5
1
1
0
3
2
2
2
27
Sumber: Kasatreskrim Polres Gunung Kidul, 2007
5
2
4
2
2
0
2
3
5
1
4
0
30
Data memang menunjukkan usia rata-rata
pelaku bunuh diri di atas 40 tahun dan majoritas
mereka berjenis kelamin laki-laki (lihat tabel
3 dan 4). Laki-laki pada usia seperti ini sudah
kurang produktif lagi apalagi majoritas dari
mereka bekerja sebagai petani yang memerlukan
tenaga dan ketahanan fisik yang kuat. Banyak
juga diantara mereka ini yang melakukan
bunuh diri karena sebab penyakit kronis yang
diderita. Namun mengkaitkan usia di atas 40
tahun dan jenis kelamin laki-laki dalam konteks
kemiskinan sebagai faktor penyebab bunuh diri
juga dirasakan kurang tepat.
Informasi, Vol. 17, No. 01
Tahun 2012
15
Fenomena Bunuh Diri di Gunung Kidul: Catatan Tersisah Dari Lapangan
Tabel 4
Data bunuh diri di Gunungkidul berdasarkan usia
Kategori Usia
< 50 tahun
51-55 tahun
56-60 tahun
61-65 tahun
Jumlah
Jumlah
45
8
30
34
117
%
38,5
6,8
25,6
29,1
100
Sumber: Kasatreskrim Polres Gunung Kidul, 2007
Namun demikian jika mencermati secara
mendalam data pada tabel 4 di atas, dalam isu
bunuh diri di Gunung Kidul perlu dicatat bahwa
pelaku bunuh diri masuk kategori lanjut usia.
Dengan demikian hasil penelitian ini sejalan
dengan berbagai penelitian dalam bidang
gerontologi yang menunjukkan orang lanjut
usia memiliki kecenderungan untuk bunuh
diri karena berbagai penyebab diantaranya
depresi, kesepian, putus asa karena penyakit
dan ketiadaan dukungan sosial dari keluarga
(Fahrudin, 2000).
Bunuh Diri Dan Mitos Pulung Gantung
Di Gunung Kidul ada keyakinan bahwa
bunuh diri terjadi disebabkan oleh adanya Pulung
Gantung. Menurut penduduk setempat, pulung
gantung merupakan isyarat langit tentang akan
terjadinya bunuh diri dengan cara menggantung.
Mereka menggambarkan pulung gantung itu
sebagai sinar merah kebiru-biruan di waktu
malam yang melintas di langit dengan cepat.
Bila suatu saat benda itu muncul dan jatuh di
suatu tempat, tak lama di tempat itu akan terjadi
peristiwa bunuh diri. Mitos semacam itu hingga
kini masih diyakini oleh sebagian masyarakat
Gunung Kidul. Munculnya mitos ini sebetulnya
bermula dari perjalanan orang-orang Majapahit
melawan Demak pada abad ke-15, banyak
putra Majapahit yang lari menyelamatkan diri
ke Gunungkidul yang ketika itu masih hutan
belantara. Ada yang mampu bertahan dan
ada juga yang tidak mampu bertahan. Mereka
yang tidak mampu bertahan di hutan belantara
memilih mengakhiri hidupnya dengan bunuh
diri (Hadisumarto, dipetik dari Darmaningtyas,
2002). Kisah bunuh diri ini masih melekat dan
16
Informasi, Vol. 17, No. 01
Tahun 2012
diyakini orang-orang tua sambil mengkaitkannya
dengan mitos Pulung Gantung. Mitos ini sampai
hari ini masih diyakini oleh sebagian masyarakat
Gunungkidul yang kental dengan cerita-cerita
mistis. Berdasarkan wawancara dengan pihak
terkait mereka tidak pernah tahu secara pasti
sejak kapan kisah tentang Pulung Gantung itu
muncul dan dalam waktu kapan ia muncul,
meskipun bunuh diri di Gunungkidul selalu
dikaitkan dengan mitos Pulung Gantung. Hal ini
mungkin karena angka bunuh diri cukup tinggi
juga modus bunuh diri hampir semua dengan
cara menggantung sehingga bunuh diri dalam
masyarakat dikaitkan dengan Pulung Gantung
(lihat tabel 3). Data dari tahun 2003 sampai
tahun 2006 menunjukkan modus bunuh diri yang
paling banyak adalah dengan cara gantung diri.
Menariknya lagi modus gantung diri tersebut
menggunakan peralatan yang sederhana seperti
kain kemban, tali dan tempat menggantung diri
di pohon dan palang rumah.
Tabel 5
Modus bunuh diri di Gunung Kidul
Tahun 2000-2006
Tahun
Modus
2003
2004
2005
2006
Gantung diri
Bakar diri
Minum racun
Jebur sumur
Menyayat urat nadi
Jatuh luweng
Jumlah
28
0
0
0
0
0
28
30
0
0
0
0
1
31
26
0
1
0
0
0
27
26
1
1
1
0
0
30
Sumber: Kasatreskrim Polres Gunung Kidul, 2007
Bunuh Diri dan Perilaku Koping yang
Dipelajari
Fungsi sosialisasi, tata nilai, dan relasi-relasi
personal tak lagi mendalam. Manusia dihargai
bukan oleh nilai-nilai kemanusiaan, melainkan
oleh kedudukan, kekayaan, martabat dan status
sosial. Lunturnya penghargan individu menjadi
pemicu orang tidak lagi berharga di mata orang
lain. Selain itu, tatanan sosial dalam tingkatan
yang lebih global dianggap sangat kacau dan
malahan cenderung tanpa moralitas, yang
mendorong tindakan bunuh diri sebagai pilihan
terbaik dalam penyelesaian masalah kehidupan.
Fenomena Bunuh Diri di Gunung Kidul: Catatan Tersisah Dari Lapangan
Dalam bahasa yang lain, corak kapitalisme
global yang memarjinalkan mereka yang lemah
dan terus memperkaya mereka yang berdaya
agaknya semakin membuat mereka menjadi
kelompok sosial yang termarjinalisasikan.
Nilai-nilai kejujuran dan keutamaan etis seolaholah mengalami peminggiran.
Dalam keadaan begini hidup dirasakan
begitu absurd, mustahil, dan tak masuk akal,
Bahkan realitas absurd itu pada akhirnya
menjadi semacam irasionalitas. Sebabnya
adalah keputusan yang dianggap terbaik justru
tidak mempunyai kesesuaian dengan tuntutan
serta situasi yang tersedia. Apa yang dipikirkan
serta dinilai secara moral sebagai kebaikan
justru tidak ditemukan dalam ketidakteraturan
sosial semacam ini.
Tekanan hidup bersumber dari banyaknya
beban hidup. Hal ini karena hidup sebagian
besar orang kian berorientasi pada materi.
Malangnya, individu dan masyarakat tidak
pernah dididik emotional intelligence, padahal
dari pendidikan kecerdasan emosi itulah
diharapkan tumbuh dan berkembangnya life
skills, tahan dari rapuh jiwanya, sehingga tidak
mudah terguncang. Di sisi lain, masyarakat
mestinya mempunyai katup pengaman masalah
sosial, yakni keluarga. Akan tetapi, konsep ini
tidak berjalan maksimal karena keluarga sudah
tidak lagi dapat berfungsi sebagai tempat yang
aman. Penderitaan hidup sepertinya ditanggung
sendiri. Fungsi sosialisasi dengan masyarakat
dan tetangga juga mengalami kemacetan.
Mestinya, jika ada orang dewasa yang yang
mengalami problem psikologis, tetanggatetangganyalah yang menolong. Namun,
pola inipun macet. Baik di perkotaan dengan
masyarakat individualis maupun pedesaan yang
sama-sama orang miskin, solidaritas semacam
ini sudah menghilang. Ketidakpedualian sosial
bisa disebabkan; takut dianggap mencampuri
masalah rumah tangga orang lain, atau mereka
sendiri bermasalah. Terbatasnya ruang publik
yang dapat menjadi sarana hiburan murah,
membuat masalah ini makin kronis karena jarang
ada keluarga yang dapat mengonsolidasikan
kehidupan keluarganya.
Manajemen
hidup
bermasyarakat
seharusnya dapat dan perlu dikelola lebih
baik. Pada sisi ini, juga lunturnya keteladanan
sosial dalam masyarakat merupakan salah satu
penyebab mengapa bunuh diri kian marak
termasuk apa yang terjadi di Gunungkidul.
Disamping itu, terjadi kemerosotan lembaga
keluarga. Sebagai unit sosial terkecil, lembaga
keluarga tak bisa memberikan rasa aman.
Masyarakat tak memiliki tempat berlabuh dalam
menghadapi himpitan sosial. Pada sisi lain,
fungsi sosialisasi dalam keluarga tak berjalan
efektif. Banyak orang kehilangan pegangan tata
nilai. Juga terjadi anomali dalam lingkungan
sosial. individualisme, korupsi, hedonisme,
materialisme, dan merosotnya keteladanan
hidup semakin menyuburkan bunuh diri.
Dewasa ini, bunuh diri dipandang oleh
sebagian masyarakat sebagai salah satu jalan
keluar mengatasi masalah yang dihadapinya.
Berdasarkan analisis terhadap fenomena bunuh
diri di Gunungkidul, saya percaya bahwa akar
masalah bunuh diri boleh jadi kemiskinan dan
kepercayaan pada mitos palung gantung, namun
perilaku bunuh diri dengan cara menggantung
menurut saya lebih di sebabkan perilaku
belajar dari persekitaran mereka. Seseorang
bunuh diri karena mereka telah mempelajari
cara atau mekanisme penyelesaian masalah
yang diwariskan secara tidak langsung oleh
lingkungan sosial mereka bahwa bunuh diri
dengan cara gantung diri merupakan solusi atas
setiap masalah yang mereka hadapi. Pengalamanpengalaman sebelumnya membuktikan bahwa
bunuh diri merupakan mekanisme yang efektif
untuk terbebas dari masalah yang membelit
pelakunya. Sebagai contoh, seseorang yang
terjerat hutang mengambil jalan pintas dengan
cara menggantung diri dan karena pelaku sudah
mati maka hutangnya dianggap impas oleh
pihak yang memberi hutang.
Dalam teori psikologi dikenali teori
belajar sosial dimana manusia bertingkah
laku karena pembelajaran dari lingkungan
sosialnya. Kebanyakan tingkah laku manusia
sama ada positif atau negatif diperoleh dengan
cara memperhatikan tingkah laku orang lain.
Sistem sosial yang termasuk dalam ruang
Informasi, Vol. 17, No. 01
Tahun 2012
17
Fenomena Bunuh Diri di Gunung Kidul: Catatan Tersisah Dari Lapangan
hidup seseorang senantiasa memberi kesan
ke atas tingkah lakunya (Habibah Elias &
Noran Fauziah Yaakub, 2002). Oleh sebab
itu, mekanisme penyelesaian masalah melalui
bunuh diri dengan cara menggantung diri yang
terjadi pada masyarakat Gunungkidul menurut
hemat saya lebih disebabkan perilaku yang
dipelajari melalui pengamatan dan peniruan,
bukan karena mitos Palung Gantung atau
karena kemiskinan. Sebaliknya mitos Palung
Gantung yang berkembang dalam masyarakat
atau faktor kemiskinan boleh jadi hanya sebagai
precipitating factors.
KESIMPULAN
Dalam menangani kasus bunuh diri, banyak
intervensi krisis yang bisa digunakan tergantung
kasus per kasus. Dalam hal pencegahan terutama
pencegahan primer, tentu harus memahami
lebih dulu faktor-faktor umum apa saja yang
dapat memperkecil risiko tindak bunuh diri.
Pencegahan primer dalam aspek psychoeducation amat penting karena merupakan
sarana meletakkan dasar-dasar perkembangan
kognitif, kemampuan penalaran, mekanisme
adaptasi, melalui pola pendidikan yang terkait
nilai-nilai kehidupan, falsafah hidup, dan ajaran
agama. Berbagai hal itu yang disertai bimbingan
budi pekerti serta disiplin, seharusnya menjadi
bagian strategi dari pendidikan dasar. Contoh
peran dalam kehidupan sosial (termasuk di
sini budaya, agama, lingkungan hidup baik
lingkungan fisik maupun lingkungan sosial
lain baik yang bersifat keluarga, kehidupan
masyarakat, kehidupan sosial-politik-ekonomi),
tentunya merupakan bagian penting yang tak
terpisahkan dari pendidikan itu.
Perbaikan kehidupan masyarakat (ekonomi,
keamanan, perbaikan jaminan, dan pelayanan
sosial) langsung atau tidak, merupakan
pencegahan primer untuk bunuh diri (terutama
tipe anomik). Cukup banyak dan luas hal yang
dapat dilakukan untuk membantu mencegah
peningkatan bunuh diri. Dalam hal pencegahan
sekunder, pengadaan pelayanan melalui pusat
krisis (crisis center), merupakan hal yang amat
bermanfaat untuk menampung kondisi-kondisi
18
Informasi, Vol. 17, No. 01
Tahun 2012
kritis, termasuk masalah bunuh diri. Data
menunjukkan angka bunuh diri di Gunungkidul
menunjukkan peningkatan dari waktu ke waktu.
Kenaikan angka bunuh diri ini mengingatkan
adanya kemunduran dalam kualitas kehidupan
sosial. Angka bunuh diri yang akurat penting
untuk menentukan strategi yang lebih realistis
dalam menyusun prioritas berbagai program
pencegahan bunuh diri yang berdasarkan potensi
dan sumber-sumber masyarakat setempat.
***
DAFTAR PUSTAKA
Canine. J. D. (1996). The Psychosocial aspects
of death and dying. United States: Apleton
and Lange.
Corr, C. A., Nabe, C. M. , Corr, D. M. (1996).
Death and dying, life and living (3rd ed.).
Wadworth, California: Brook and Cole
Publishing.
Darmaningtyas. (2002). Pulung Gantung:
Menyingkap tragedi bunuh diri di
Gunungkidul. Yogyakarta. Salwa Press.
Fahrudin.A. (2007). Bunuh diri di pedesaan
Jawa: Kemiskinan dan perilaku belajar.
Dalam
Proceeding
of
International
Conference on Social and Humanities
(ICOSH). Bangi, Universiti Kebangsaan
Malaysia.
Fahrudin.A. (2002). Sikap dan kebimbangan
terhadap kematian. Buletin Psikologi Bil.07.
Kota Kinabalu: Sekolah Psikologi dan Kerja
Sosial, Universiti Malaysia Sabah.
Fahrudin.A. (2000). Gerontologi; Perkhidmatan
sosial kepada warga tua. Laporan Skim
Penyelidik Muda. Kota Kinabalu: Sekolah
Psikologi dan Kerja Sosial, Universiti
Malaysia Sabah
Fulton, G. B & Metress, E. K. (1995).
Perspectives on Death and Dying. Boston:
Jones and Bartlett Publishers.
Kepolisian Resor Gunungkidul. (2006). Data
kasus bunuh diri di Wilayah Gunungkidul.
Wonosari: Kasatreskrim.
Fenomena Bunuh Diri di Gunung Kidul: Catatan Tersisah Dari Lapangan
Kubler-Ross, E. (1998). On death and dying:
Kematian sebagai bagian kehidupan
(terjemahan
Wanti
Anugrahani)
Jakarta:Gramedia.
Rando, T. A. (1994). Grief, Dying, and Death:
Clinical Interventions for Caregivers.
Research Publisher.
Zastrow, C. (2000). Social problems: Issues
and solutions (Fifth Edition). Belmont, CA:
Wadsworth/Thompson Learning
Informasi, Vol. 17, No. 01
Tahun 2012
19
Fly UP