...

Secangkir kopi dan sepotong kenangan

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Secangkir kopi dan sepotong kenangan
Secangkir kopi dan sepotong kenangan
Dwi Indarti
B
agaimana menghadirkan sepotong kenangan?
Ada banyak cara. Setiap orang punya cara yang beda.
Mungkin dengan mendengarkan musik. Sepenggal
lirik lagu seringkali menyimpan sebuah kenangan
bagi seseorang. Mungkin dengan membaca buku.
Sepotong kalimat dari sebuah buku bisa
menghadirkan kembali sebuah kejadian. Atau
mungkin, sebuah tempat khusus. Meja di sudut kafe
temaram. Pantai berpasir putih. Puncak gunung
yang berkabut. Ruang-ruang galeri seni. Taman kota.
Warung pinggir jalan. Semua itu bisa menghidupkan
kembali kenangan.
Bagiku, hanya ada satu hal yang bisa membangkitkan sepotong kenangan tentang dirinya.
Secangkir kopi. Tuangkan air mendidih ke dalam
cangkir yang telah di isi bubuk kopi hitam. Seketika
aroma kopi akan menyebar. Seketika itu pula sepotong kenangan hadir dalam benakku. Jelas.
*
“Siapa itu?”
“Bukan siapa-siapa.”
Aku buru-buru menyuruhnya keluar dari
kamar, sebelum teman-temanku yang lain
mengajukan pertanyaan serupa.
“Ngapain masuk ke sini?” tanyaku setengah
berbisik, setengah membentak.
“Kopi.”
“Tidak perlu! Aku bisa bikin kopi sendiri
untuk teman-temanku. Jangan ganggu. Aku sedang
belajar.”
Aku menutup pintu. Namun, tak sampai dua
menit, pintu itu terbuka lagi.
“Kopi,” ucapnya.
Aku mendengus kesal. Beberapa temanku
yang sedang menekuri laptop sempat menengadah.
Buru-buru aku menggiringnya keluar. Agak
mendorong tubuhnya yang ringkih. Senampan
cangkir kopi yang dibawanya bergoyang. Cairan kopi
meruap tumpah.
“Mau apa lagi?” desisku kesal.
“Antar kopi.”
“Sudah kubilang, aku tidak mau kopi! Teman-temanku juga tidak mau kopi. Jangan
ganggu lagi.” Kututup pintu kamar.
“Siapa sih, Al?” tanya Sonya.
“Bukan siapa-siapa, kok. Cuma salah seorang
penghuni rumah ini yang suka mengganggu. Yuk,
kita lanjutkan. Sori untuk gangguan tadi.” Aku kembali menekuri laptop, berharap agar teman-temanku
melakukan hal yang sama. Tugas kelompok
biologi harus selesai malam ini. Besok adalah
deadline penyerahan tugas untuk nilai tengah
semester.
“Aku gak keberatan kalau disuguhi secangkir
kopi. Mataku mulai berat, nih,” celetuk Ardhi.
“Minum soda saja,” jawabku.
“Soda bikin perutku begah,” jawabnya.
“Iya, Al. Kata orang, kopi bisa bikin mood
bagus. Sudah hampir dua jam kita berkutat dengan
paper. Aku perlu zat yang bisa menyegarkan, seperti
cafein,” tambah Rhino.
“Aku juga mau kopi.” Sonya nimbrung.
Aku menyerah. Sebagai tuan rumah yang baik, aku
harus menjamu teman-temanku yang sedang
bertamu. Padahal, aku sudah menyediakan berbagai
minuman soda dan cemilan untuk mereka.
“Baiklah. Jadi kalian semua mau kopi?”
tanyaku.
Mereka mengangguk kompak.
“Please... kalau tidak merepotkan,” kata Ardhi
sambil nyengir.
“Ok. Four cups of coffee are on the way.”
“Gulanya sedikit saja, ya. Aku suka kopi agak
pahit,” kata Sonya.
“Kalau aku suka kopi manis. Semakin manis,
semakin enak,” sahut Rhino.
“Kopi untukku jangan terlalu cair. Airnya
jangan banyak-banyak. Aku suka kopi kental. Kalau
ada susu, boleh juga tuh.”
“Cream juga boleh.”
“Ditabur sedikit chocogranno pasti tambah
asyik.”
Aku memutar bola mata. “Kalian pikir ini
kedai kopi,” sahutku cemberut. Mereka tertawa.
“Sori, kami cuma bercanda, kok. Kopi apa
pun boleh.”
Aku pergi ke dapur dan mendapati dirinya
sedang duduk di salah satu kursi. Diam mematung.
“Bisa tolong buatkan kopi?” tanyaku.
Dia mengangguk. Seketika wajahnya bersinar
bahagia.
“Empat cangkir,” kataku sambil
mengacungkan empat jari ke depan wajahnya. Dia
mengangguk lagi.
“Satu kopi kental. Satu kopi pahit. Satu kopi
manis. Satu kopi untukku. Kamu sudah tahu, kan?”
Dia mengangguk lagi.
“Pisang goreng?” Dia bertanya saat aku
membalikkan badan.
“Boleh, kalau ada. Terima kasih.” Aku segera
kembali ke kamar. Tiba-tiba aku ingat satu hal.
“Kalau sudah siap, cukup ketuk pintu
kamarku. Biar aku saja yang menyajikan kopi kepada
teman-temanku. Kamu tidak perlu masuk ke dalam
kamarku. Mengerti?”
Dia mengangguk.
Tak sampai sepuluh menit, pintu kamarku
diketuk halus. Dia tersenyum sambil membawa
nampan yang berisi empat cangkir kopi dan sepiring
pisang goreng yang masih panas.
“Kopi,” katanya.
“Terima kasih.” Aku menerima nampan
darinya.
“Hati-hati. Panas.”
Aku menutup pintu kamar sebelum dia
sempat menyelesaikan kalimatnya. Aku membawa
cangkir-cangkir kopi itu kepada teman-temanku.
Kami berempat rehat sejenak dari kesibukan
menyusun paper tugas, sambil menikmati kopi dan
pisang goreng hangat.
“Enak sekali kopinya, Al! Sedap!” puji Rhino.
“Iya, takaran gulanya pas. Manisnya pas.”
tambah Sonya.
“Setuju. Belum pernah aku minum kopi
seenak ini.” Ardhi ikut mengomentari. Aku hanya
tersenyum.
“Siapa pun yang membuat kopi-kopi ini, dia
berbakat jadi ahli kopi. Bayangkan, meramu empat
cangkir kopi dengan selera berbeda, tapi semuanya
sedap. Siapa sih yang bikin, Al? Cewek yang tadi
masuk ke sini, ya?” tanya Sonya menyelidik.
“Iya,” jawabku singkat. Tolong jangan
tanya-tanya soal dia. Aku membatin.
“Orangtua kamu ke mana, Al?” tanya Ardhi.
Syukurlah. Lega ketika Ardhi mengubah topik
pembicaraan.
“Mereka sedang menghadiri acara di
Kedutaan Turki.”
“Enak, ya punya orangtua diplomat. Bisa
keliling dunia. Kamu lahir di mana, Al?”
“Chicago.”
“Keren! Kalau kamu lahir di mana, Rhino?”
tanya Ardhi.
“JONGGOL!”
Kami semua terbahak.
“Jadi, kamu baru di Jakarta, ya?” tanya Sonya.
“Tidak juga. Begini, aku memang lahir di
Chicago. Sampai umur 4 tahun aku tinggal di sana.
Lalu orangtuaku ditugaskan di Jakarta. Aku sempat
menyelesaikan TK di sini. Kemudian kami pindah
ke Istambul karena papaku ditugaskan di sana. Aku
sempat sekolah SD di Turki selama tiga tahun. Deplu
memanggil papaku kembali di Jakarta dan aku
tinggal di sini sampai lulus SD. Terus, papaku
bertugas di Kairo selama 3 tahun. Aku
menyelesaikan SMP ku di Mesir. Dan sekarang,
Deplu menarik papaku untuk kembali bertugas di
Jakarta. Now, here I am... Jadi anak baru pada
pertengahan semester. Untung aku ketemu kalian.
Gak mudah untuk selalu menyesuaikan diri di
lingkungan yang baru.”
“Tenang saja, Al. Kami malah senang bisa
kenal kamu. Kami bisa dengar cerita menarik tentang
negara-negara yang pernah kamu singgahi.”
“Coba Rhino, kamu cerita tentang masa
kecilmu. Kamu sudah ke mana aja?” tanya Ardhi.
Dengan lantang, Rhino menjawab.
“Gue lahir di Jonggol. TK gue jaraknya dua
rumah di sebelah kanan. SD gue jaraknya 5 menit
jalan kaki dari rumah. SMP gue jaraknya 10 menit
naik angkot dari rumah. SMA gue jaraknya 30 menit
naik motor. Daerah terjauh yang penah gue datangin
adalah Depok, Bogor, Tangerang dan Bekasi. Puas lo
pada?”
Kami semua terpingkal-pingkal.
“Kamu anak tunggal, Al?” tanya Ardhi
setelah kami berhasil berhenti tertawa.
“Hmm... aku punya seorang kakak.”
Tepat saat itu, pintu kamarku kembali
diketuk.
“Tambah kopi?” Dia berdiri diambang pintu.
“Guys, kopinya mau nambah?”
“Boleh! Kalau tidak merepotkan.”
“Buatkan empat cangkir kopi lagi, ya. Terima
kasih.”
Sebelum Maghrib, kami berhasil
menyelesaikan tugas paper biologi dan siap
dikumpulkan besok pagi. Aku mengantar temanteman baruku sampai di pintu gerbang.
“Thanks, Al! Semoga tugas kita dapat nilai
bagus, ya. Senang bekerja sama denganmu,” ungkap
Sonya.
“Terima kasih untuk kamarmu yang nyaman
dan pisang gorengnya. Terutama untuk kopi yang
sedap itu. Next time, kita kerja kelompok di sini lagi,
boleh?” Kata Ardhi.
“Sama-sama Guys. Senang sekali kalau kalian
mau main ke rumahku lagi. Sampai ketemu besok di
sekolah, ya.”
“Ada yang mengintip, Al,” kata Ardhi. Aku
mengikuti pandangannya ke arah salah satu jendela
di kamar atas. Dia sedang mengintip dari balik tirai.
Dia buru-buru menutup tirai begitu kami
melihatnya.
“Dia yang bikin kopi, bukan? Titip salam,
ya!” bisik Ardhi.
*
“Kawan-kawanmu jadi datang belajar di sini,
Al?” tanya Mama saat makan malam.
“Jadi, Ma. Mereka pulang sebelum Maghrib.”
“Sayang sekali Mama tidak bertemu mereka.
Kamu suguhi mereka apa?”
“Kopi.” Dia yang menjawab. “Minum kopi dua kali.” Dia bercerita kepada
Mama dengan bersemangat.
“Ah, ya! Kamu yang membuatkan kopi,
Alina?” tanya Mama. Dia mengangguk bersemangat.
“Minum kopi dua kali.” Alina mengulang
kalimat. Selalu.
“Siapa pun pasti suka kopi jika kamu yang
membuatnya, Alina. O, iya, Mama diberi hadiah
kopi dari Korea. Bisa tolong buatkan, Alina?” Mama
menyerahkan sebungkus kopi pada Alina yang
menerimanya dengan ekspresi seorang aktris
menerima piala Oscar.
“Alicia mau?” tanya Alina.
“Boleh.”
“Apakah kamu memperkenalkan Alina
kepada teman-temanmu?” tanya Mama setelah Alina
pergi ke dapur.
“Ma...”
“Al, dia kakakmu. Kakak kandungmu. Dia
memang berbeda. Dia spesial...” Aku hanya bisa
tertunduk.
Alina kakak kandungku. Usia kami terpaut
dua tahun. Sampai umur dua tahun,tak ada yang
salah dengan Alina. Semuanya normal. Alina
adalah bayi kecil yang cantik, periang, dan disukai
oleh semua orang. Suatu saat, Alina mulai berubah.
Dia tidak lagi riang, tapi sangat tertutup dan takut
pada banyak hal. Dia takut pada api, takut pada
warna kuning, takut pada balon dan banyak hal
lainnya. Alina menjadi anak yang sulit. Tertutup dan
tak mau bertemu dengan orang. Kemampuan
berbicaranya tak berkembang. Dia sulit merangkai
kalimat lebih dari lima kata. Yang bisa diucapkan,
diulang terus menerus. Kemampuan intelegensia-nya
juga tak berkembang. Sampai umur 7 tahun,
Alina masih bertingkah seperti anak tiga tahun.
Setelah Mama dan Papa membawanya ke
dokter, akhirnya Alina didiagnonsa menderita autisme. Kadang Alina mengamuk, menghancurkan
barang-barang tanpa sebab yang jelas. Aku masih
ingat saat ulang tahunku yang ke sepuluh. Waktu itu,
aku mengundang teman-teman sekolah untuk
merayakan ulang tahun di rumah. Saat hendak
meniup lilin ulang tahun, tiba-tiba saja Alina
menjerit-jerit histeris dan melemparkan semua
barang, termasuk kado-kado ulang tahunku yang
bertumpuk rapih. Alina juga merusak kue ulang
tahunku. Hampir saja terjadi kebakaran, karena lilin
ulang tahun terjatuh di lantai dan membakar
permadani. Kejadian itu membuatku sedih dan
malu. Teman-teman sekolahku bilang aku punya
kakak gila.
Setelah diselidiki, rupanya Alina takut pada
api yang menyala di lilin kue ulang tahun, juga pada
balon warna-warni yang menghiasi dekorasi pestaku.
Sejak itu, aku dilarang untuk membawa balon dalam
bentuk apa pun masuk ke dalam rumah.
Karena Alina pula, aku harus
menyembunyikan banyak hal yang aku suka. Aku
tidak boleh memilik benda yang berwarna kuning
karena Alina akan histeris jika melihat warna
kuning. Padahal, aku suka sekali Spongebob dan
ingin punya boneka Spongebob yang besar. Aku
harus mengalah pada banyak hal karena ketakukan
Alina yang tak masuk akal pada benda-benda itu.
Di antara semua keterbatasan Alina, dia
mempunyai minat yang aneh pada kopi. Dia
selalu suka pada semua jenis kopi. Dan harus kuakui,
semua kopi racikannya luar biasa. Papa dan Mama
senang sekali mengetahui hal ini. Mereka berusaha
memfasilitasi Alina untuk terus mengembangkan
minatnya terhadap kopi. Harapan mereka akan masa
depan yang lebih baik bagi Alina kembali merekah.
Mereka yakin, Alina bisa menjadi orang sukses di
masa depan. Kalau saja...
*
Pagi itu, Alina membuntutiku. Membuatku
kesal.
“Ikut,” pintanya.
“Ikut ke mana? Aku mau
berangkat ke sekolah.”
“Ikut. Ardhi.”
“Kamu ingin ketemu
Ardhi? Kamu suka
Ardhi?” Aku kaget sekaligus
geli. Orang dengan kondisi
seperti Alina ternyata juga
mempunyai ketertarikan terhadap lawan jenis.
Alina mengangguk.
“Gak boleh! Kamu gak boleh ikut ke sekolah!
Lagipula, Ardhi tak akan suka denganmu!”
Alina seolah tidak mendengar. Dia tetap mengekor
di belakangku. Aku menyayangkan Papa dan Mama
sedang bertugas ke luar kota selama seminggu, jadi
di rumah ini hanya ada aku dan Alina serta seorang
pengasuh yang sedang di kamar mandi.
“Jangan mengikuti aku terus, Alina! Aku mau
berangkat ke sekolah!”
“Ikut.”
“Tidak boleh!”
“Ikut. Ardhi suka kopi. Ardhi suka kopi.”
Alina menyorongkan sebotol termos berisi kopi
kepadaku.
“Kamu membuatkan kopi untuk Ardhi?”
Alina mengangguk.
“Sini aku yang kasih ke dia.”
Alina menggeleng keras.
“Ikut.”
“Tidak boleh, Alina! Sekolah bukan tempat
bermain-main. Sekolah bukan tempat untuk minum
kopi! Masuk ke kamarmu, sana!”
Tapi dia adalah Alina. Jika dia sudah ingin
sesuatu, maka dia akan terus merangsek. Dia akan
menjerit-jerit histeris untuk mendapatkan apa yang
dia mau. Kata “MAU! MAU! MAU! MAU! MAU!
MAU! MAU!” Akan terus dilontarkannya,
membuat setiap orang sakit kepala, sampai akhirnya
dia mendapat apa yang dia mau. Dan dia melakukan
hal itu sekarang. Sambil mengikuti kemana aku
pergi, dia terus berteriak “IKUT! IKUT! IKUT!
IKUT! IKUT!”
“Oke, Alina. Kamu boleh ikut.” Kataku putus
asa. Seketika Alina terdiam. Bola matanya melebar.
“Tapi, kamu mandi dulu, ganti baju, dan
dandan yang cantik, biar Ardhi senang bertemu
denganmu. Oke?”
Alina mengangguk. Dia bergegas ke kamar.
Inilah kesempatanku untuk pergi ke sekolah. Akhirnya...
Tepat pukul sepuluh pagi, ibu kepala sekolah
memanggilku ke kantornya.
“Alicia, ada kabar duka dari rumah...”
*
Pemakaman Alina telah usai. Para tamu
penyelawat telah pulang. Tinggal aku, Mama dan
Papa duduk di ruang keluarga. Mama dan aku terus
menangis. Terutama aku, yang merasa sangat
bersalah. You don’t know what you’ve got till it has
gone. Kepergian Alina menyadarkan apa yang selama
ini aku miliki.
Pagi itu, setelah aku berhasil membebaskan
diri dari Alina, rupanya Alina terus mencariku. Kata
salah seorang asisten rumah tangga, Alina
mengejarku ke jalan raya, tanpa bisa dicegah, sambil
berteriak memanggil namaku. Tiba-tiba saja, sebuah
truk besar dengan kecepatan tinggi menghantam
tubuhnya yang mungil hinggal terhempas di trotoar
dan nyawanya tak dapat diselamatkan. Botol termos
berisi kopi pecah berantakan. Cairan kopi
membasahi tubuhnya yang berlumur darah. Alina
pergi untuk selamanya. Meninggalkan aku
dengan sepotong kenangan tentang dirinya dan
aroma kopi.... ***
Fly UP