...

Print this article

by user

on
Category: Documents
1

views

Report

Comments

Transcript

Print this article
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
PENGEMBANGAN DAN INOVASI UNTUK PENINGKATAN LAYANAN
PERPUSTAKAAN
Oleh: Misdar Piliang
Abstract
Packaging of information is one of development and innovation to
improve library services. Definition of packaging information is a
process to reprocess the existing information from one form to
another better and interesting, The purpose of packaging of
information is to bring information resources to users for easy,
precise and quick. In this paper described the shapes, stages of the
process of packaging activities informasidan also the added value
obtained for the library.
Keyword: Packaging of information
Pendahuluan
Melihat pesatnya perkembangan teknologi informasi saat ini telah
membawa
dampak
yang
luar
biasa
dalam
kehidupan
masyarakat.
Terjadinya banjir informasi baik yang tercetak, noncetak maupun digital
menyebabkan masyarakat kebingungan dan kesulitan dalam memilih
informasi
yang
sesuai
dengan
kebutuhannya.
Banyaknya
informasi
seringkali menjadikan pengguna dihadapkan pada informasi yang tidak
relevan, kandungan informasi yang kurang tepat, bersifat umum atau
kurang spesifik, kadang-kadang hanya sepotong-sepotong bahkan ada
informasi yang tersedia tidak asli atau tidak dapat dipercaya, akibatnya
pemakai
informasi
sulit
memperoleh
informasi
sesuai
dengan
kebutuhannya. Sebuah informasi akan berguna bagi seseorang apabila
memberi nilai pengetahuan baru bagi pemakainya. Oleh karena itu sangat
perlu dan penting sekali untuk mengambil sebuah tindakan yang dapat
mengantisipasi banjirnya informasi.
Perpustakaan sebagai sebuah institusi/lembaga layanan informasi
dituntut untuk lebih cepat mengembangkan diri didalam penyediaan
koleksinya kepada pemakai. Berbagai pengembangan dan inovasi untuk
peningkatan layanan perpustakaan banyak digunakan. Salah satu usaha
pengembangan
dan
inovasidalam
282
mendayagunakan
informasi
bagi
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
kepentingan
pemakai
adalah
membuat
kemasan
Oktober, 2015
informasi.
Untuk
menentukan bentuk kemasan informasi yang akan disusun perlu diketahui
kebutuhan pemakai informasi, target pemakai dan cara pemasarannya.
Pengemasan informasi ini menjadi tantangan bagi petugas informasi seperti
seorang pustakawan untuk melakukan pekerjaan ini sehingga diharapkan
informasi
yang
tersedia
dapatdisesuaikan
dengan
kebutuhan
pemakai.Kegiatan kemas ulang informasi menghasilkan produk yang up to
date karena produk yang dihasilkan memang bertujuan untuk memenuhi
kebutuhan pemakainya. Dengan kata lain, kemas ulang informasi merujuk
pada penyajian informasi dalam bentuk yang lebih dapat mengerti, mudah
dibaca, dan dikemas dalam bentuk yang lebihditerima dan digunakan.
A. Pengertian Pengemasan Informasi
Sebelum membahas
apa itu pengemasan informasi atau kemas
ulang informasi sebaiknya kita harus mengetahui lebih dahulu apa itu
informasi.
Informasi
adalah
berbagai
ucapan
atau
pesan
yang
disampaikan oleh seseorang yang ditujukan kepada orang lain. Secara
konseptual informasi merupakan sebuah pesan baik berbentuk ucapan
atau ekspresi yang disampaikan. Sedangkan pengemasan informasi
adalah kegiatan mngubah kembali bentuk dari satu informasi ke bentuk
lain yang lebih menarik.
Pengertian lain dari pengemasan informasi adalah kegiatan yang
dimulai dari menyeleksi berbagai informasi dari sumber yang berbeda,
mendata dan memilih informasi yang relevan, menganalisis, mensintesa
dan menyajikan informasi yang sesuai dengan kebutuhan pemakai.
Menurut pendapat Alan Bunch (dalam Stilwell, 2004) menggambarkan
pengemasan informasi sebagai sebuah pendekatan untuk membantu
diri sendiri, menekankan pada permasalahan bahwa layanan informasi
adalah memilih informasi yang sesuai, dan memproses ulang informasi
tersebut dalam sebuah bentuk yang benar-benar dapat dipahami,
mengemas informasi, dan merancang semua bahan ini dalam sebuah
media yang tepat bagi pengguna, sehingga mengkombinasikan dua
283
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
konsep yang melekat dalam istilah pengemasan (yakni memproses ulang
dan mengemas). Sedangkam menurut Iwhiwwu, 2008 (dalamRochani,
2014)
menyebutkan
bahwa
kemasan
informasi
adalah
kegiatan
mengemas suatu produk dan jasa secara khusus untuk disediakan
kepada pengguna.Pendapat lain dari pengertian pengemasan informasi
adalah sebuah proses untuk mengolah kembali informasi yang ada
sehingga mampu ditampilkan kedalam kemasan yang lebih baik dan
siap pakai bagi pengguna dan pencari informasi.
Dari beberapa defenisi diatas dapat dijelaskan bahwa pengemasan
informasi adalah sebuah proses untuk mengolah kembali informasi
yang ada dari satu bentuk ke bentuk lain yang lebih baik dan menarik,
dimana perubahan itu bisa jadi berupa perubahan bentuk, perubahan
bahasa dan perubahan fungsi.
B. Tujuan dan Fungsi
Banyaknya informasi yang muncul didunia ilmu pengetahuan
dan teknologi semakin sulit orang atau pemakai untuk memperoleh
informasi secara tepat, tepat dan mudah. Dengan demikian hal yang
sangat dibutuhkan adalah bagaimana sebuah pusat informasi atau
pengelola informasi seperti halnya perpustakaan dapat mengelola
informasi tersebut dengan baik. Penyajian informasi yang sudah diolah
menjadi suatu kemasan dengan format yang berbeda dan menarik
merupakan suatu alasan yang mendasar untuk dilakukan agar
mempermudah
penyebaran
dan
pengelolaan
informasi
tersebut.
Pengemasan informasi ini dilakukan untuk menyesuaikan informasi
yang
tersedia
dengan
kebutuhan
pemakai.
Melalui
pengemasan
informasi ini pengguna atau pemakai informasi akan berhemat dalam
hal waktu, tenaga dan biaya.
Adapun
tujuan
pengemasan
informasi
adalah
untuk
meningkatkan keterterimaan dan penggunaan dari produk-produk, dan
juga
untuk
membantu
mereka
yang
sibuk
untuk
mengikuti
perkembangan terbaru atas subyek interes mereka. Selain itu tujuan
pengemasan informasi adalah mengumpulkan informasi yang didapat
284
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
dari berbagai bentuk dari berbagai sumber dan menampilkannya dalam
bentuk lain. Informasi dikemas ulang agar dapat secara langsung
dimanfaatkan
pemakai
mengumpulkan,
atau
memilih
pengguna
atau
mengolah
informasi
terlebih
tanpa
harus
dahulu
bagi
pemakainya. Berikut ini tujuan dari kemas ulang informasi adalah:
1. Menyajikan informasi kedalam bentuk kemasan menjadi informasi
yang lebih baik dapat diterima pemakainya dengan caralangsung dan
dapat langsung memberi manfaat serta lebih mudah dimengerti
isinya.
2. Menyediakan informasi dengan cara mensitesa data dan informasi
yang tersedia.
3. Menyediakan sarana dan panduannya.
4. Meringkas dan mensintesa penlitian dan kajian atau evaluasi
berbagai aspek
5. Mengumpulkan informasi mutakhir.
6. Mereview
atau
meninjau
berbagai
literatur
dan
dokumen.Sumber:http://srihartinah.files.wordpress.com/2008/.../k
emas-ulang-informasi.do
Adapun fungsi dari keberadaan pengemasan informasi adalah
sebagai berikut:
1. Sebagai alat untuk menyimpan informasi.
2. Sebagai suatu sistem untuk menyortir secara selektif informasi yang
bermanfaat.
3. Sebagai penyebarluasan informasi ke berbagai komunitas pengguna
4. Sebagai alat penerjemah
5. Sebagai promosi dari hasil penelitian untuk masyarakat.
Sumber:https://www.dropbox.com/s/xhuuklbdqlz/Makalah%20Hotel
%20Cemara%2030%20oktober%202014-20ibu%20nani.doc?dl=0
C. Bentuk Pengemasan Informasi
Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa perubahan bentuk
kemasan informasi ini dapat dikemas atau dirubah dengan beragam
285
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
bentuk,
Oktober, 2015
yaitu mengubah bentuk informasi dari media satu ke media
lain misalnya informasi dalam bentuk kertas diubah menjadi bentuk
gambar, digital, mikrofis, dan sebagainya. Selain itu kemas ulang
informasi bisa berupa perubahan bahasa yaitu dari satu bahasa ke
bahasa lain misalnya terjemahan, penyuntingan, interpretasi, dan bisa
pula berupa perubahan fungsi seperti revisi, ringkasan, analisis dan
lain-lain.
Sebagai salah satu bentuk jasa perpustakaan maka pengemasan
informasi atau kemas ulang informasi merupakan salah satu jasa
layanan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu pelayanan
perpustakaan. Pengemasan informasi dilakukan untuk menyesuaikan
informasi yang tersedia dengan kebutuhan pemakai.
Ada beberapa
bentuk dari kemasan informasi yang masih
relevan digunakan bagi pengguna perpustakaan antara lain adalah:

Publikasi cetak
Kemasan informasi dalam bentuk publikasi tercetak dapat membantu
pemakai dalam menemukan informasi terpilih sesuai dengan bidang
kajian dan kebutuhannya. Dalam hal ini pemakai dapat langsung
menelusur informasi yang diinginkan sehingga banyak menghemat
waktu dan tenaga. Contoh: Brosur, proseding, Newsletter, indeks
artikel, indeks majalah, abstrak, bibliografi, dan lain-lain.
 Media audio-visual
Informasi yang dikemas dalam bentuk media audio visual ini adalah
informasi yang menggunakan gambar dan suara seperti kaset, VCD,
DVD, CD dan sebagainya.
 Pangkalan Data Lokal
Kemasan informasi ini merupakan tempat berpangkalnya semua data
yang ada didalam lembaga informasi atau sistem informasi setempat
atau yang sering disebut server lokal yang berupa file atau CD-ROM.
Contoh:
CD Database ERIC, CD Database Medline, CD Database
Agricola, dan sebagainya.
 Pangkalan data online
286
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
Kemasan informasi dapat juga diwujudkan dalam pangkalan data
online. Kemasan ini bisa di bangun sendiri, bisa juga didapatkan
secara gratis, atau dibeli dengan kemasan yang sudah jadi. Dengan
kemasan
ini
pemakai
akan
memperoleh
kesempatan
untuk
mengakses informasi secara lebih luas tidak hanya terbatas dalam
perpustakaan saja. Beberapa contoh kemasan informasi siap pakai
dalam bentuk pangkalan data online yaitu EBSCOHost, Proquest,
ScienceDirect, JSTOR dan lain-lain.
D. Tahap pengemasan Informasi
Sebelum membuat kemasan informasi perlu disiapkan langkahlangkah yang tepat agar tidak terjadi kesia-siaan. Beberapa langkah
yang secara umum dapat dilakukan oleh perpustakaan dalam rangka
pengemasan informasi antara lain adalah:
1. Orientasi
kebutuhan
dan
tuntutan
pemakai/pengguna
informasi di perpustakaan
2. Seleksi dan penetapan topik yang akan dikemas dan informasi
yang akan dicakup. Penetapan dan seleksi ini biasanya akan
melibatkan ide-ide dan masukan dari staf ahli, produsen
produk
kemasan
informasi,
konsumen
produk
&
jasa
informasi, karyawan dan manajemen puncak.
3. Menentukan bentuk kemasan informasi
4. Penetapan strategi pencarian informasi yang akan dikemas
5. Penetapan lokasi informasi dan cara mengaksesnya.
6. Pengolahan informasi, mengevaluasi dan mensitir informasi
7. Mengemas kembali informasi kedalam bentuk yang telah
ditetapkan sesuai dengan kebutuhan pemakai
8. Menyebarkan informasi dengan cara promosi, pendidikan
pemakai dan memasarkan informasi tersebut.
9. Mengevaluasi
produk
yang
pembuatannya.
287
dikelaurkan
dan
proses
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
Selain menetapkan langkah-langkah dalam proses kegiatan
pengemasan informasi perpustakaan juga perlu mengetahui ciri-ciri dari
informasi itu sendiri yaitu:
 Faktual vs analitik
 Obyektif dan subyektif
 Informasi terkini dan informasi historis
 Informasi ilmiah dan populer
 Informasi primer dan sekunder
E. Infopreneur
Infopreneur merupakan perpaduan dari kata “information”dan
“enterpreneur” yang berarti ”individu yang mengumpulkan informasi dari
berbagai sumber dan mengkombinasikannya dengan cara tertentu untuk
melayani
kebutuhan
pembaca
(Business
Dictionary,
2011).Istilah
infopreneur terdaftar sebagai trademark dari H. Skip Weitzen yang
mendeskripsikan infopreneur sebagai “seseorang yang mengumpulkan,
mengorganisasikan dan menyebarkan informasi sebagai usaha bisnis
atau jasa (service) yang memiliki nilai tambah” (Business Dictionary,
2011).
Sedangkan
pada
Wikipedia
(2010)
seorang
infopreneur
didefinisikan sebagai seorang entrepreneur yang mendapatkan uang dari
penjualan informasi di internet.
Sumber:
http://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/.../analisis-peluang-
dan-tantang.
Jadi infopreneur adalah orang yang bisnis utamanya adalah
berbagi
dan
menjual
informasi
elektronik.
Pengertian
lain
dari
infopreneur adalah seseorang yang kreatif menggunakan data dan
informasi yang tersedia untuk menghasilkan informasi baru, mengelola
dan menyebarluskan informasi yang dapat memberikan manfaat bagi
pemakainya.
Ledakan informasi yang terjadi saat ini tidak akan memberi
manfaat bila tidak dikemas kembali dan dikomunikasikan kepada
pengguna potensial. Untuk mengemas informasi perlu didukung oleh
tenaga yang mempunyai keahlian dibidangnya atau bekerjasama dengan
288
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
ahli dibidangnya, oleh karena itu peran spesialis informasi seperti
infopreneur sangat penting didalam kegiatan ini. Bisnis infopreneur
sangat menguntungkan dan proses pengembangan produk informasi
sangat relatif murah. Ia juga mempunyai visi, dapat mengembangkan
kandungan
informasi
secara
inventif
dengan
menggunakanmedia
teknologi informasi.
Peningkatan aktivitas informasi yang cepat disektor jasa
didorong oleh 3 (tiga) hal yaitu:
 Komputer
untuk mengembangkan pangkalan data yang memuat data dan
informasi mulai dari nama dan alamat, harga, produk, inventaris,
literatur, dan spesifikasi. Kandungan informasi mudah disimpan,
diperbaharui, dan dicari kembali.
 Telepon
Digunakan untuk akses Internet, pengiriman informasi, pemasaran
langsung, dan faksimili.
 Pembayaran jasa secara elektronik
Dengan
mengintegrasikan
komputer,
telepon,
dan
pembayaran jasa secara elektronik, telah tercipta model usaha baru,
dan membuka peluang bagi infopreneur untuk menciptakan dan
menghasilkan informasi baru dengan profit lebih besar. Informasi baru
dapat disebarluaskan kepada lebih banyak pengguna, lebih cepat dan
lebih murah dibandingkan dengan sebelumnya.
Sumber:
https://igit.files.wordpress.com/2007/05/pengemasan-dan-
pemasaran-informasi-pengalaman-pdii-lipi.pdf
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa bentuk kemasan
informasi
beragam
bentuknya.
Sama
halnya
dengan
bisnis
infopreneur, menurut Oetomo (2011) seorang infopreneur dapat
menggeluti profesi sebagai penulis berita, artikel ilmiah, artikel
populer,
redaktur,
penyunting
(editor),
penerjemah,
dan
lain
sebagainya yang dapat dikirim ke berbagai media cetak maupun
elektronik dalam bentuk fisik maupun digital kedalam situs dan
aplikasi
internet.
(Website,
Webblog,
289
e-news,
e-journal,
dan
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
sebagainya). Sedangkan produk informasi dapat ditawarkan kedalam
berbagai format seperti (Chandler, 2007)

Buku

E-book (buku elektronik)

Laporan khusus

Produk audio, seperti CD

Produk video, seperti VCD dan DVD

Teleseminar dan web seminar

Workshops

Worbooks

booklet
Dari beberapa uraian diatas jelas bahwa banyak peluang yang
bisa diperoleh infopreneur di era globalisasi dan informasi saat ini.
Tidak hanya sekedar menerima informasi atau browsing dan
searching , melainkan mengolah informasi menjadi berbagai ragam
bentuk informasi untuk diperdagangkan .Infopreneur tidak akan
membiarkan informasi yang di perolehnya hanya sekedar untuk
memenuhi ruang arsip di dalam harddisknya, atau menjadi bahan
obrolan yang berlalu begitu saja . Seorang infopreneur akan memiliki
daya untuk mengolah dan menjadikan informasi sebagai komoditas
yang penting untuk mengembangkan kehidupannya, demikian juga
halnya dengan perpustakaan, kemas ulang informasi memerlukan
pengelolaan yang tepat oleh semua pustakawan agar informasi yang
tersaji memiliki nilai yang tinggi.
F. Aspek Komersial Pengemasan Informasi
Seperti diketahui bahwa tujuan pengemasan
informasi yang
dikemas dengan bentuk atau format yang menarik agar dapat diterima
dan digunakan sesuai dengan kebutuhan pemakainya. Bukan hal yang
mustahil bahwa perpustakaan mulai menyentuh aspek-aspek komersial
bidang
layanan
perpustakaan.
Perubahan
paradigma
bahwa
perpustakaan saat ini bukan hanya sebagai tempat penyimpann koleksi
yang pasif, namun juga bisa menjadi pusat informasi yang aktif dan
290
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
dinamis
serta
mampu
menghasilkan
produk
Oktober, 2015
yang
menjual
/menjanjikan.
Perlu disadari bahwa perpustakaan merupakan unit kerja yang
banyak membutuhkan biaya (cost centre). Namun kucuran dana untuk
perpustakaan
nyaris
tidak
ada.
Atas
dasar
hal
tersebut
maka
perpustakaan harus mengubah posisinya dari cost centre menjadi profit
centre. Perubahan paradigma tersebut memacu dan menjadi tantangan
perpustakaan untuk lebih kreatif dan inovatif dalam upaya menjadi
profit centre. Salah satu jasa yang bisa dilakukan oleh perpustakaan/
penyedia informasi adalah dengan membuat kemas ulang informasi.
Berbagai bentuk kemasan tidak saja memudahkan pengguna dalam
memperoleh
infromasi
tetapi
juga
menjadi
nilai
tambah
bagi
perpustakaan.Berikut ini beberapa aspek komersial atau dampak
ekonomis yang dapat diperoleh oleh perpustakaan atau penyedia
informasi dan juga masyarakat dari adanya pengemasan informasi
diantaranya adalah:
1. Perpustakaan
informasi
mampu
yang
menyediakan
menarik
dan
kemasan-kemasan
dapat
dijual
kepada
masyarakat/pengguna yang sudah ditentukan sebelumnya.
Contoh: bidang hukum akan sangat bermanfaat bagi para
praktisi dan pemerhati bidang hukum.
2. Informasi
yang
melimpah
dapat
dilakukan
oleh
perpustakaan dengan pengelolaan dan kemasansiap pakai
dalam bentuk yang dapat di terima, mudah dimengerti
sesuai dengan kebutuhan pemakai sehingga hasilnya akan
bisa dijual kepada masyarakat.
3. Adanya kemasan informasi ini akan terjadi penghematan
biaya, waktu dan tenaga bagi pengguna dalam mencari,
memilih dan memperoleh informasi yang dibutuhkannya.
Hal
ini
dikarenakan
perpustakan
telah
menyediakan
kemasan informasi dari berbagai bidang ilmu diantaranya
291
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
adalah dalam bentuk digital sehingga pengguna cukup
mengakses database perpustakaan melalui internet.
G. Penutup
Pengemasan
informasi
merupakan
salah
satu
bentuk
pengembangan dan inovasi dalam meningkatkan layanan perpustakaan.
Pengemasan informasi merupakan jalan untuk berinteraksi dengan
banyak pihak terutama masyarakat pengguna pada umumnya. Hal ini di
karenakan kegiatan ini dapat mendekatkan pengguna kepada sumbersumber informasi yang relevan, akurat, mudah dan terakses secara
cepat. Namun informasi yang dikemas ini tidak selesai pada proses
pengemasan saja tetapi memerlukanperan pustakawan untuk dapat
mensosialisasikan dan melakukan pendidikan pemakai sehingga hasil
dari kemasan ini dapat dimanfaatkan sebaik mungkin oleh pengguna.
Disisi lain pengemasan informasi berpotensi mendatangkan fulus yaitu
memiliki nilai komersial bagi perpustakaan. Berbagai bentuk kemasan
tidak saja memudahkan pengguna dalam memperoleh informasi tetapi
juga menjadi nilai tambah untuk dijadikan alternatif
usaha atau
menjadi sumber pendapatan /pemasukan bagi perpustakaan. Pengguna
akan semakin di mudahkan, hemat waktu dan hemat biaya dalam
memperoleh informasi siap pakai dan segera dibutuhkan oleh mereka.
Jadi intinya adalah pengemasan informasi yang menghasilkan produk
“instant” akan menjadi bisnis informasi bagi pustakawan di era
globalisasi ini.
DAFTAR PUSTAKA
Basuki, Sulistyo. (1992). Teknik dan jasa dokumentasi. Jakarta: Gramedia.
http//pustaka.uns.ac.id/?menu=news&option=detail&nid=47
28-10-2015
292
diakses
tgl
Jurnal Iqra’ Volume 09 No.02
Oktober, 2015
http://openlibrary.telkomuniversity.ac.id/.../analisis-peluang-dan-tantang
diakses tgl 28-10-2015
http://srihartinah.files.wordpress.com/2008/.../kemas-ulang-informasi.do
di akses tgl 28-10-2015
https://en.wikipedia.org/wiki/Infopreneur
https://igit.files.wordpress.com/2007/05/pengemasan-dan-pemasaraninformasi-pengalaman-pdii-lipi.pdf diakses tgl 26-10-2015
https://www.dropbox.com/s/xhuuklbdqlz/Makalah%20Hotel%20Cemara%
2030%20oktober%202014-20ibu%20nani.doc?dl=0 diakses tgl 3010-2015
Stilwell, Christine (2004). Repackaging information: a review,
Stilwell,
Christine
(2004).
Repackaging
information:
a
review,
www.hs.unp.ac.za/infs/kiad/04stilw.doc diakses tgl 23-10-2015
www.hs.unp.ac.za/infs/kiad/04stilw.doc diakses tgl 23-10-2015
Yusup, Pawit M. (2012). Perspektif manajemen pengetahuan informasi,
komunikasi, pendidikan, dan perpustakaan. Jakarta: Rajawali
Press.
293
Fly UP