...

MeNjawab TaNTaNgaN ZaMaN

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

MeNjawab TaNTaNgaN ZaMaN
Majalah Internal trIwulan
Volume: 017 | th-IV
Edisi Liputan: Juli - September 2015
MeKaNISaSI
MeNjawab TaNTaNgaN ZaMaN
M. Hanif DakHiri, Menteri tenaga kerja
PTPN X Diharapkan
Menjadi Role Model SMK3
kerapan Sapi
Membawa
Madura ke Italia
2015
VISI
Menjadi perusahaan agroindustri terkemuka
yang berwawasan lingkungan
MISI
Berkomitmen menghasilkan produk berbasis
bahan baku tebu dan tembakau berdaya saing
tinggi di pasar domestik dan internasional, yang
berwawasan lingkungan.
Berkomitmen menjaga pertumbuhan dan
kelangsungan usaha melalui optimalisasi dan
efisiensi di segala bidang.
Mendedikasikan diri untuk selalu meningkatkan
nilai-nilai perusahaan bagi kepuasan pemangku
kepentingan melalui kepemimpinan, inovasi
dan kerjasama tim serta organisasi yang
profesional.
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
emplasemen
[ salam redaksi ]
Mekanisasi Harga Mati
B
ertani dalam benak generasi muda identik dengan bekerja di lahan berlumur lumpur dan bersimbah tanah menggunakan
cara-cara lama seperti mencangkul, mengolah lahan dengan membajak menggunakan bantuan
sapi atau kerbau, memupuk tanaman dengan cara
berjalan menyisir lahan yang begitu luas dan mengairi
secara manual. Tidak heran jika akhirnya banyak anak
muda yang tidak lagi melirik atau menjadikan bertani
sebagai pilihan mata pencaharian.
Pekerjaan bercocok tanam seperti di kebun tebu
yang semestinya menjadi identitas bagi sebuah negara yang menyebut dirinya agraris dianggap tidak
berkelas, tidak bergengsi, dan tidak menarik.
Kalah menarik jika dibandingkan dengan
bekerja sebagai buruh di pabrik. Ironisnya lagi, orang-orang tua yang selama
ini mengerjakan lahan pertanian pun tidak ingin anaknya bekerja di sawah atau
kebun. Walhasil lahan pertanian pun
kekurangan tenaga kerja. Sementara
kebutuhan akan bahan makanan seperti
gula yang berbahan tebu terus meningkat
seiring dengan pertambahan jumlah penduduk. Tidak bisa tidak. Harus ada perubahan.
Untuk mengimbangi hal tersebut, setelah beberapa tahun melakukan uji coba, pada 2015 ini PTPN X
mencanangkan sebagai tahun mekanisasi. Pekerjaan
menggunakan mesin dilakukan di PTPN X mulai tahap pengolahan lahan, pemeliharaan hingga Tebang
Muat dan Angkut (TMA).
Pendekatan mekanisasi membuat budidaya tebu
menjadi lebih efisien dan efektif. Ketika pekerjaan
kebun (onfarm) dilakukan secara manual maka target kualitas dan kuantitas pekerjaan yang diharapkan
akan sulit dicapai. Masing-masing pekerja mempunyai keterampilan dan kemampuan yang berbeda
dalam mengerjakan satu jenis pekerjaan yang sama
sehingga kualitas hasil yang diperoleh pun berbeda.
Dan pada akhirnya memengaruhi pertumbuhan tebu
menjadi sangat berbeda meskipun dalam petak kebun yang sama.
Berbeda jika dikerjakan dengan mesin. Potensi
mencapai target kualitas dan kuantitas –cetiris paribus– sangat mungkin untuk diwujudkan. Dan stigma
negatif tentang bercocok tanam di benak generasi
muda bisa segera tereleminir. Karena itulah, mekanisasi bermanfaat selain untuk mempercepat waktu
pengerjaan juga menjamin keseragaman kualitas
tanaman. Dan dengan kondisi bahan baku yang
berkualitas, mendapatkan gula yang sesuai
dengan harapan agar target swasembada
gula bisa terwujud.
Selain itu, pada edisi ini dipaparkan
juga mengenai rencana perusahaan yang
ingin mengembangkan industri gula di
Madura. Melihat potensi yang ada, Kementerian BUMN bahkan mendorong
PTPN X agar bisa segera membangun
Pabrik Gula (PG) di pulau garam tersebut.
Di rubrik varietas, ditampilkan peristiwa
besar yang terjadi selama periode Juli-Agustus
yaitu perayaan HUT ke-70 Kemerdekaan RI di mana
PTPN X dipercaya menjadi koordinator perayaan di
rayon XI. Berbagai kegiatan dihelat sebagai rangkaian acara 'BUMN Hadir untuk Negeri' di tiga PG PTPN
X di wilayah Karisidenan Kediri.
Dengan semangat ‘Ayo Kerja’ seperti yang menjadi
tema peringatan HUT RI tahun ini, PTPN X juga tidak kenal lelah bekerja keras mengisi kemerdekaan
dengan melakukan usaha terbaik di bidangnya. Semoga semangat tak kenal lelah ini juga dirasakan
pembaca semua. Salam semangat!
redaksi
awarded magazine
penghargaan emas
desain cover majalah
internal magazine award 2014
penghargaan emas
komposisi desain isi majalah
BUmn internal media award 2014
penghargaan emas
Bahasa & sistematika majalah
BUmn internal media award 2014
penghargaan perak
penghargaan perunggu
BUmn internal media award 2014
internal magazine award 2014
sUBstansi, Bahasa & sistematika
desain cover majalah
Penanggung Jawab: Subiyono | Pemimpin umum: Lutfil Hakim | Wakil Pemimpin umum: Adi Santoso | Pemimpin Redaksi: Cipto
Budiono | Redaktur Pelaksana: Siska Prestiwati Wibisono | Dewan Redaksi: Ahmad Zaenal Arifin, Ayu Firdayanti Suraida, Okta Prima
Indahsari, Cindhy Larashati, Veronica Kristi | Sekretaris Redaksi: Okta Prima/Ayu Firda | Redaktur: SAP Jayanti | Reporter: Sekar Arum Catur Murti
| Fotografer: Dery Ardiansyah | Artistik: Demetrius Angger P | Iklan: S Wawan, Iwan Tuasela | Keuangan: Lestariningsih | Alamat Redaksi, Iklan,
Sirkulasi: PTPN X, Jl. Jembatan Merah No. 3-11, Surabaya 60175. Telepon: (031) 3523143 | Fax: (031) 3557574 | email: [email protected]
1
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
sajian
volume. 017
ptpnx-magz
dapat juga diakses dalam bentuk e-magazine di:
http://www.ptpn10.co.id
 emplasemen | 01
 eruPsi GununG raunG
Abu Raung Tak Pengaruhi Kualitas Tembakau PTPN X | 14
varietas
 Media GatHerinG
Manfaatkan Data Satelit untuk Identifikasi Tanaman
Tebu | 04
Pererat Sinergi dengan Jurnalis
dan Media | 16
 Konferensi internasional Green aGro industry
 factory visit, KeloMPoK tani suKa Maju
PTPN X Paparkan IPF dan EBT | 06
Wow! Ternyata Pabrik Gula
Dulu dan Sekarang Berbeda | 18
Ajak Petani Beralih dari Sistem Konvensional ke
Mekanisasi | 07
Tingkatkan Kualitas, PTPN X Lakukan Evaluasi Internal | 20
 M. Hanif daKHiri, Menteri tenaga Kerja
 sosialisasi BPjs KetenaGaKerjaan
 safari raMadan
 csr PG lestari
Berikan Pemahaman Jaminan Sosial ke Karyawan | 21
PTPN X Diharapkan Menjadi Role Model SMK3 | 08
Momentum Jaga Silaturahim Antar Karyawan | 10
Latih Masyarakat Tingkatkan Keterampilan & Kualitas
Hidup | 22
 Halal BiHalal PtPn X
Kuatkan Tali Silaturahmi untuk Menuju Sukses
Produktivitas | 12
sukrosa
 PerinGatan idul adHa PtPn X
Momentum Pengorbanan dan Kepedulian | 23
42
Mekanisasi Menjawab
TanTangan ZaMan
Land Forming Tunjang Kelancaran
Mekanisasi | 56
 tarsisius sutaryanto, Direktur ProDuksi PtPN X
Ubah Paradigma dengan Berikan Contoh | 47
Mudahkan Pengolahan Lahan Tegalan | 58
terbatasnya ketersediaan tenaga kerja membuat mekanisasi menjadi solusi
bagi industri tebu di indonesia. hal ini guna mendongkrak kapasitas produksi
yang ada.
 PG KreMBoonG
 MeKanisasi di PG nGadiredjo
 slaMet raHarjo, PetaNi
Terus Dekati Petani untuk
Pengelompokan Lahan | 48
Terhimpit Industrialisasi, Optimistis
Terapkan Mekanisasi | 59
Berharap Hasil Lebih Baik | 60
 H MaliKan, PetaNi PG GemPolkreP
 PG GeMPolKreP
Edukasi Petani, Berhasil Lakukan
Mekanisasi 1.656 Hektar | 49
 MeKanisasi HGu
Jadi Pilot Project, Produksi
Kebun HGU Tunjukkan Peningkatan | 50
2
Core Sampler Tingkatkan
Kepercayaan Petani | 54
Mekanisasi TMA Meningkatkan Kualitas
Bahan Baku | 52
Biaya Lebih Murah, Hasil Memuaskan | 61
Kembalikan Sinergi Petani-PG
untuk Sukseskan Mekanisasi | 62
Dengan Teknologi CORS,
BPN Jamin Petok Lahan Aman | 63
Mekanisasi adalah Investasi | 64
Mampu Saingi Harga Gula Impor | 65
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Untuk informasi iklan dan berlangganan, hubungi kami di:
Jl. Jembatan merah No. 3-11, Surabaya 60175.
Telepon: (031) 3523143 ext. 123 | Fax: (031) 3557574 | email: [email protected]
 focus GrouP discussion (fGd) PtPn X
Jadi Percontohan SPI oleh PTPN Lain | 24
waring
 iiKB
Beri Apresiasi Siswa Berprestasi | 74
 forMula Baru Poc
Up Grade Kualitas POC Sesuai Harapan Petani | 25
 70 taHun KeMerdeKaan indonesia
’BUMN Hadir untuk Negeri’
Wujud Pengabdian BUMN
untuk Bangsa | 26
 resePsi Hut Ke-70 taHun rePuBliK
indonesia
IIKB Bagikan Bingkisan Lebaran | 75
filter
 MuHaMMad HanuGroHo, Direktur keuaNGaN PtPN X
Dari Perpustakaan, Televisi, Hingga Perkebunan | 76
stetoskop
 sPondylosis cervical
Semakin Tak Mengenal Usia
| 78
Tidak ada Kemerdekaan
Tanpa Perjuangan &
Komitmen | 28
besno
 saMBal BawanG KreMes MBoK MaH
 PerinGataK Hut Ke-70 ri di PtPn X
Nikmati Pedasnya Dapatkan
Sehatnya | 82
Gelar Lomba Olahraga di
Hari Kemerdekaan | 30
dekblad
Siapkan Tenaga Teknis yang Paham Tebu | 31
 PencananGan GeraKan MeKanisasi
Tingkatkan Produktivitas Hingga Tekan Biaya Produksi | 32
 PtPn X raiH PenGHarGaan K3 tinGKat nasional
Tahun 2015, Targetkan Penerapan SMK3 di Tujuh PG | 33
Monumen Cinta di India | 84
nira
Opor, Alternatif Lezat Menyantap Iga Sapi | 87
bagasse
Peminat Tenis Berfluktuasi, PG Pesantren Baru
Beregenerasi | 88
rendemen
 trasH ManaGeMent
Inovasi Baru, Siasati Perubahan Iklim
yang Semakin Ekstrim | 34
trash
tebu
PG Pesantren Baru Produksi
Gula Premium Sekelas Rafinasi | 36
PTPN X Semakin Mantap Bangun
Pabrik Baru di Pamekasan | 38
Menteri BUMN Dukung Pengembangan
Lahan Tebu di Madura | 40
Membawa Madura ke Italia | 90
prof-it
okra
Home Smart Home ! | 92
INvESTASI SDM
SDM Sebagai Aset yang Paling Berharga | 67
Jurus Jitu Gali Potensi Karyawan |
 KeraPan saPi
70
perkembangan teknologi informasi saat ini
telah dirasakan dan dimanfaatkan di setiap lini
kehidupan manusia. kecanggihan teknologi
dapat memermudah pekerjaan, baik itu di dunia
perkantoran, dunia pendidikan, dunia usaha, bahkan
di kalangan ibu rumah tangga.
kristalisasi
 KIAT | 94
lori
98
3
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
varietas
[ variasi kegiatan perusahaan ]
Manfaatkan Data
Satelit untuk
Identifikasi
Tanaman Tebu
Teknologi penginderaan jarak
jauh semakin sering dimanfaatkan
untuk data pertanian. Setelah
padi, Badan Penelitian dan
Pengembangan (Balitbang)
Pertanian Kementerian Pertanian
(Kementan) kini menggunakannya
untuk tanaman lain, termasuk tebu.
 Laporan: SAP JAyAnti
P
4
enggunaan data satelit
untuk mengolah data pertanian semakin dibutuhkan.
Terlebih setelah pemerintah
mencanangkan swasembada untuk
lima komoditas yaitu padi, jagung,
kedelai, tebu dan daging sapi.
”Penggunaan penginderaan jarak
jauh selama ini baru intensif dilakukan ke padi karena bahan makanan
pokok. Baru selama tiga tahun terakhir kami kembangkan untuk tebu,”
ujar Peneliti Utama Balitbang Pertanian Kementan, Rizatus Shofiyati
saat diskusi Sistem Informasi Pemantauan Lahan dan Tanaman Pertanian
(SI- SDLTP/SI-Petani) di Kantor
Direksi PT Perkebunan Nusantara X
awal Agustus lalu. Teknologi remote
sensing bisa menjadi metode alternatif untuk mendukung metode yang
selama ini digunakan untuk menda-
patkan data lebih detil baik secara
spasial dan waktu, real time, cepat
dan akurat serta lebih murah dari sisi
biaya.
Riza menuturkan, untuk jangka
pendek, pemakaian inderaja atau
remote sensing digunakan untuk
mengidentifikasi luas tanaman tebu,
sedangkan data satelit optic multispectral dapat dijadikan parameter
untuk pendugaan produksi tebu.
Selain itu juga, peta sebaran tanaman
varietas
tebu di wilayah penelitian yaitu di
Jawa Barat dan Jawa Timur menggunakan data satelit optik multispectral
dan metode yang diperoleh dari hasil
penelitian.
Sedangkan jangka panjang, pemakaian teknik penginderaan jauh
digunakan untuk metode atau model
pendugaan produksi tebu, sehingga
dapat diketahui produksi pada beberapa bulan sebelum panen. Sistem
informasi tebu juga dapat mendukung
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
adanya langkah-langkah nyata dan
kegiatan terukur menjamin pencapai­
an swasembada gula sesuai target
pemerintah.
Dikatakan Riza, saat ini Balitbang
Pertanian Kementan masih melakukan uji coba inderaja tanaman tebu di
dua wilayah yaitu Cirebon, Jawa Barat
dan wilayah PG Krebet Baru di Jawa
Timur. ”Kesulitannya, semua inderaja
harus time series. Sering kali timbul
kesulitan kalau tidak dari awal saat
tanam. Grafik tanaman tebu meningkat kemudian setelah berusia satu
tahun menjadi grafik lurus mendatar.
Tidak seperti padi yang memiliki
kurva parabolik. Sehingga kalau dilakukan di tengah-tengah (musim ta­
nam), umur tebu sulit diiden­tifikasi,”
tutur Riza. Hasil pengin­deraan jarak
jauh saat ini baru bisa mendapatkan
data mengenai luasan dan umur
tanam­an.
Saat ini, Riza menambahkan dari
beberapa kali diskusi, pihaknya sudah
mendapatkan tantangan apakah bisa
mendeteksi tingkat kemasakan dari
remote sensing. Menjawab tantangan
tersebut, pihaknya menggandeng
PG-PG yang berpengalaman untuk
mengetahui seperti apakah gambar­
an kemasakan dari tanaman tebu,
misalnya dari daun. Dengan mengetahui tingkat kemasakan, petani dan
PG bisa menghitung kapan tebu siap
panen serta estimasi biayanya.
”Selain itu ada masukan juga
apakah bisa mengidentifikasi produktivitas dari tinggi batang. Secara teori,
tinggi tanaman bisa diukur menggunakan radar. Hal ini akan terus kami
kembangkan,” tuturnya. Penghitung­
an menggunakan indikator tinggi batang selama ini sudah bisa digunakan
untuk tanaman padi.
Kepala Divisi Perencanaan dan Pengembangan PTPN X, Dicky Irasmanto mengatakan, PTPN X juga masih
terus mempelajari teknologi informasi
di on farm. ”Kami juga sudah bekerjasama dengan LPP Yogyakarta serta
pihak dari Jepang untuk teknologi ini.
Selain itu, kami juga melakukan studi
lapangan ke Kolombia yang sudah
mengaplikasikan teknologi inderaja
ini dan kami melihat memang besar
manfaatnya,” ujar Dicky.
”Penggunaan penginderaan
jarak jauh selama ini baru
intensif dilakukan ke padi
karena bahan makanan
pokok. Baru selama tiga
tahun terakhir kami
kembangkan untuk tebu,”
 Rizatus Shofiyati
Peneliti Utama Balitbang Pertanian
Kementerian pertanian ri
5
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Konferensi internasional Green aGro industrY
PTPN X Paparkan IPF dan EBT
 Laporan: Ariel HidAyAt
6
Pt Perkebunan Nusantara X memberikan dukungan terhadap upaya pertanian
dan industri agro hijau yang berkelanjutan. Dalam Konferensi Internasional
yang bertajuk International Conference on Green Agro-Industry, Resource
Management for Sustainable Future,
perwakilan PTPN X berkontribusi pada
dua sub-topik yang dibicarakan.
Konferensi yang dilaksanakan 4-6
Agustus 2015 lalu di Sheraton Mustika,
Yogyakarta ini dihadiri berbagai civitas akademisi, profesional, peneliti dan
praktisi dari berbagai negara seperti
Tokyo University Japan, Murray State
University USA, Universiti Malaysia
Sarawak, Cebu Technological University dan lain-lain. Konferensi ini sendiri
sebagai forum yang efektif bagi pembicara, akademisi, profesional, dan praktisi yang berasal dari perguruan tinggi,
institusi penelitian, pemerintahan, dan
industri untuk berbagi ide, pengalaman,
informasi, penelitian dan isu terbaru
mengenai pengembangan green agroindustry. Konferensi ini juga bertujuan
memperkuat jaringan seluruh negara di
dunia.
Sementara Topik konferensi tersebut terbagi menjadi empat sub topik
yakni Economics, Social and Business,
Agronomy, Soil and Land Management
dan Agricultural Engineering. Dalam
kesempatan ini, delegasi dari PTPN X,
Ariel Hidayat (Divisi Renbang, Pabrik
Bioetanol) berkontribusi pada sub topik
di Economics, Social and Business, dengan mempresentasikan Hands of God
in Enhancing Bioethanol Implementation through Pricing Policy, paper
yang mengarah pada rekomendasi bagi
pemerintah berupa kebijakan harga dalam mendorong realisasi bioethanol. Sedangkan Cahyo Hadi dan Suhadi (Divisi
QC, Pengembangan Lahan Tuban - Bojonegoro) berkontribusi pada sub topik
Agronomy, dengan mempresentasikan
Integrated Precision Farming (IPF) as
Future Technology for Performance
Monitoring “Back to Organic Matter
Program” at PT Perkebunan Nusantara
X, paper yang ditujukan pada upaya Integrated Precision Farming (IPF) dalam
meningkatkan upaya gerakan kembali ke
alam yang dicanangkan perusahaan.
Ketua Panitia konferensi, Dr. RR Rukmowati Brotodjojo dalam sambutannya
menyatakan, penyelenggaraan konferensi ini diharapkan mencapai tiga hal
penting. Pertama konferensi ini diharapkan mempercepat dan mendukung pengembangan yang didukung dengan
metode dan teknologi yang produktif
dan aplikatif untuk bermacam-macam
jenis agro industri. ”Kedua, konferensi
ini didesain sebagai forum presentasi,
diskusi dan debat mengenai teknologi
terkini dan isu lain yang terkait pengembangan agro industri yang berkelanjutan, serta yang terakhir, konferensi ini
bertujuan untuk membangun interaksi dan komunikasi diantara peneliti,
praktisi dan kalangan akademisi dalam
mencari dan mendiskusikan solusi yang
berhubungan dengan pengembangan
agro industri dan bagaimana ini dapat
meningkatkan kesejahteraan bersama,”
terang dia.
Disebutkan Rukomowati, agro industri tidak hanya dimaknai sebagai mentransformasikan bahan mentah pertanian
menjadi produk yang mempunyai nilai
tambah yang memberikan pendapatan
dan pekerjaan saja, namun agro industri
berkontribusi pada perkembangan eko-
nomi secara keseluruhan baik di negara
maju dan negara berkembang. Sebagai
contoh upaya dalam sektor perdagangan,
pemerintah menargetkan ekspor produk
agro industri untuk ditingkatkan sampai
29 persen atau setara USD 40 miliar tahun ini dari pencapaian sebelumnya pada
2014 sebesar USD 31 milyar.
Sebagai antisipasi, sumber daya yang
tersedia untuk mendukung pengembangan agro industri adalah tidak terbatas.
”Sehingga penting untuk mengelola
sumber yang tersedia tersebut secara
cermat. Selain itu untuk menciptakan
keberlanjutan usaha di masa mendatang,
pengembangan agro industri tidak hanya
ditujukan pada upaya mencari keuntungan semata namun ramah lingkungan dan
socially sustainable,” ujarnya.
Konferensi ini dihadiri juga ahli-ahli
agro industri seperti Sakae Shibusawa
(Ahli Precision Farming), Iin P. Handayani (Ahli Land Management), Marc
Vanacht (Ahli business strategy) dan
J.J Bhagat (Ahli Industri Gula). Mereka
juga bergabung dalam acara kunjungan
lapang di area pertanian Dieng, Wonosobo bersama partisipan lainnya. Dalam
kunjungan tersebut, para peserta konferensi melihat aktivitas petani carica binaan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran Yogyakarta.
Menurut Indah Widowati, Wakil Dekan di UPN Veteran Yogyakarta, petani
binaan ini adalah bentuk upaya pengabdian masyarakat UPN Veteran Yogyakarta bekerjasama dengan Pemerintah
Daerah Wonosobo. “Bentuk pengabdian
masyarakat ini sebagai upaya konservasi
lingkungan dengan penanaman tanaman
carica untuk mengendalikan erosi serta
memberikan lapangan pekerjaan bagi
masyarakat. Produk olahan ini identik
dengan oleh-oleh khas Wonosobo dan
dipasarkan sampai ke Jawa Barat, Jawa
Tengah dan direncanakan sampai ke Kalimantan,” ujarnya.
Sebagai penutup rangkaian acara,
peserta diajak berkunjung ke Pabrik
Teh Tambi untuk melihat proses pengolahan teh dan wisata ke Telaga Warna
Dieng.
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Ajak Petani Beralih dari
Sistem Konvensional ke Mekanisasi
 BeRFoto bersama para peserta pelatihan dan pemateri.
 Laporan: SekAr Arum
untuk kesekian kalinya, melalui
divisi PKBL (Program Kemitraan dan
Bina Lingkungan), PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X kembali melakukan
pelatihan kepada para petani di lingkungannya terkait penerapan mekanisasi yang saat ini tengah di gencarkan. Bekerjasama dengan dua BUMN
di Indonesia yakni Jasa Raharja dan Jiwasraya, acara yang dilakukan di Hotel
Atria Malang pada Bulan Agustus dan
September lalu mendapatkan animo
yang cukup luar biasa dari para petani.
Sebanyak total 110 petani yang berasal dari beberapa Pabrik Gula (PG)
milik PTPN X, ikut ambil bagian dalam
pelatihan tersebut. Kepala Divisi PKBL
PTPN X, Heru Sinarjanto, mengatakan, bahwa pelatihan ini memang diperuntukkan untuk memerkenalkan
para petani terhadap sistem mekanisasi lahan agar budidaya tebu akan semakin efektif dan efisien.
“Seperti diketahui petani merupakan bagian penting bagi pabrik gula
khususnya di Jawa Timur karena
sebagian besar tebu merupakan tebu
rakyat. Untuk menekan Harga Pokok
Produksi (HPP) khususnya biaya kebun, maka PTPN X mendorong petani
untuk segera menerapkan sistem mekanisasi di kebun mereka,” terangnya.
Dalam pelatihan tersebut, sambung
Heru, dijelaskan mengapa petani di
foto: dok.div pkBl
dalam negeri harus segera beralih dari
sistem perkebunan konvensional ke
sistem perkebunan dengan mekanisasi. Hal itu tidak lain agar produktivitas
kebun bisa naik tanpa harus disertai
dengan kenaikan biaya, khususnya
untuk tenaga kerja. Mengingat, beberapa tahun terakhir, biaya tenaga kerja
menjadi sumber kenaikan biaya kebun
yang cukup besar.
“Selain pemahaman tentang pentingnya beralih ke mekanisasi, dalam
pelatihan tersebut, petani juga dikenalkan dengan alat-alat mekanisasi
dan bagaimana mengoperasikannya,”
papar dia.
Diharapkan dengan pelatihan ini,
peserta pelatihan bisa mulai menerapkan sistem mekanisasi pada musim
tanam meskipun mungkin belum bisa
full mekanisasi. Setidaknya, dengan
penerapan mekanisasi bisa meningkatkan produktivitas kebun.
Sementara itu hadir dalam kesempatan yang sama, Kepala Pusat Penelitian Gula Djengkol PTPN X, Syahrial
Koto, mengungkapkan bahwa beberapa negara sudah menerapkan sistem
mekanisasi untuk mengatasi masalah
sulitnya tenaga kerja. Penerapan sistem
mekanisasi, tidak hanya menjawab masalah tenaga kerja, tetapi kerjanya pun
semakin baik dan sesuai dengan harapan.
“Dengan menerapkan sistem mekanisasi, maka satu mandor cukup meng-
awasi satu traktor yang sama dengan
mengawasi 700 orang,” kata Syahrial.
Menurut perhitungan, satu orang
bekerja selama delapan jam itu sama
dengan 0,05 sampai 0,07 horse power.
Padahal satu traktor bekerja dalam
delapan jam bisa mencapai 35 horse
power atau setara dengan 700 orang.
“Akan sangat sulit satu orang mandor mengawasi 700 orang, namun dengan traktor pekerjaan tersebut akan
cukup mudah,” jelasnya.
Bila perlu, sambung Syahrial, mandor tersebut juga berada di atas traktor
bersama dengan operator. Sehingga selama traktor tersebut bekerja, dia bisa
memberi saran-saran kepada operator
agar mengerjakan sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) untuk mendapatkan hasil yang maksimal.
Tak hanya itu saja, agar bisa bersaing, industri gula di dalam negeri mau
tidak mau harus melakukan perubahan
khususnya di bidang on farm. Selain
masalah tenaga kerja yang semakin
mahal, hasil kerja dengan tenaga manusia pun tidak bisa seragam.
Lantas apa kata petani terkait pelatihan ini? Menurut salah seorang
petani yang mengikuti pelatihan ini
yang berhasil kami temui, Ganif, bahwasanya upaya PTPN X dalam memperkenalkan berbagai penerapan sistem mekanisasi kepada petani sangat
ia apresiasi.
“Mekanisasi adalah salah satu solusi yang dapat diberikan oleh PTPN X
untuk lebih meningkatkan hasil pertanian para petani tebu. Namun, bukan
hal mudah untuk menjalankan mekanisasi ini, karena selain membutuhkan kesadaran yang tinggi dari para
petani untuk membentuk kelompok
petani, mekanisasi pada dasarnya juga
memerlukan investasi yang cukup
tinggi,” terangnya.
Iapun berharap, tak hanya memberi
pelatihan terkait mekanisasi saja tapi
juga faktor penentu tamanan lainnya
yang harus juga diperhatikan antara
lain permasalahan tentang bibit dan
pupuk yang saat ini memang sedang
mengalami kelangkaan.
7
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
M. Hanif daKHiri, Menteri tenaGa Kerja
PTPN X Diharapkan
Menjadi Role Model SMK3
 Laporan: SiSkA PreStiwAti
Pt Perkebunan Nusantara X dinilai
Kementerian Tenaga Kerja mampu
menerapkan aturan ketenagakerjaan
dengan baik. Saat belum banyak Pabrik Gula (PG) BUMN menerapkan
K3, dua pabrik PG PTPN X yaitu PG
Gempolkrep dan PG Modjopanggoong
justru sudah menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan
Kerja (SMK3) secara penuh.
Menteri Tenaga Kerja, M. Hanif
Dakhiri pada acara Diskusi Peningkatan Pelaksanaan K3 dan Hubungan
Industrial yang Harmonis untuk Meningkatkan Produktivitas Tenaga
Kerja dan Kinerja PTPN X di Grha
Djombang Baru mengatakan, dua PG
8
tersebut berhasil meraih sertifikat
SMK3 dengan nilai diatas 94 persen.
Dimana, nilai 94 persen merupakan
nilai yang tinggi dengan kriteria sangat
memuaskan. Mengingat, di Indonesia
belum ada pabrik gula yang telah berhasil menerapkan SMK 3. “Persoalan SMK3 ini tidak boleh dipandang
sebelah mata dan diharapkan PTPN
X bisa dijadikan sebagai role model
bagi BUMN Gula seluruh Indonesia,”
tegasnya.
Ia mengungkapkan, hingga Agustus
2015, masih banyak perusahaan yang
belum menerapkan SMK3. Pasalnya,
mayoritas perusahaan menilai bahwa
penerapan SMK3 ini sebagai beban
bagi perusahaan.
Menaker menambahkan, Kemente-
rian Tenaga Kerja sendiri terus mendorong peningkatan kualitas manajemen Kesehatan dan Keselamatan
Kerja (K3) di lingkungan PG. Karena,
dengan kualitas K3 yang baik, kesejahteraan secara bertahap akan meningkat dan jaminan sosial menyeluruh
lewat BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS
Kesehatan akan membuat para buruh
bisa konsentrasi penuh pada upaya
memacu produktivitas. “Buruh jangan
hanya kuat di jalan (untuk demonstrasi, red), tapi juga harus tangguh
dengan bekerja giat di pabrik. Bagun
dialog yang bagus bersama manajemen
untuk hasilkan kinerja optimal, sehingga yang teriak-teriak di luar pabrik
diminimalkan,” tuturnya. Penerapan
manajemen K3 sangat penting agar
foto-foto: dery ardiansyah
 meNAKeRtRANS, Hanif Dzakiri mencicipi gula produksi PG Djombang Baru.
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 DIRut PTPN X Subiyono bersama Menakertrans
Hanif saat mengunjungi PG Djombang Baru.
 meNAKeRtRANS Hanif Dzakiri menandatangi
karung gula produksi PG Djombang Baru.
para pekerja terhindar dari kecelakan
kerja serta merasa nyaman dan aman
saat bekerja, sehingga akhirnya dapat
memacu produktivitasnya dalam mencapai target perusahaan.
“Berdasarkan laporan yang saya
terima, PTPN X merupakan perusahaan yang mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang
berlaku,” ujarnya. Hanif
menjelaskan PTPN X sudah menerapkan SMK3
ini dengan baik. Tentunya, sebagai salah satu
perusahaan perkebunan
di Indonesia, menerapkan hal ini sangatlah tidak
mudah. Di satu sisi, PTPN
X harus menjalankan fungsi sosial dan
di sisi lain PTPN X tetap harus mendapatkan keuntungan.
PG Djombang Baru berhasil mengubah stigmanya terhadap kondisi
pabrik yang kumuh, kotor dan bau.
Penampilan PG Djombang Baru jus-
tru bersih dan nyaman. “Selain itu,
PG Djombang Baru telah menorehkan
prestasi yaitu selama dua tahun terakhir, bisa menekan angka kecelakaan
kerja hingga angka nol,” kata Hanif
yang disambut dengan tepuk tangan
para undangan.
Lebih lanjut Hanif mengungkapkan,
Kepatuhan perusahaan terhadap perundang-undangan sangatlah penting.
Direktur Utama PTPN X Subiyono
menambahkan, pihaknya berupaya
meningkatkan kualitas pengelolaan
K3 melalui berbagai upaya. Misalnya
mengontrol permesinan, memastikan Alat Pelindung Diri (APD) yang
memadai, meningkatkan
in-house keeping, bebas
pencemaran lingkungan
dan terus melakukan edukasi ke seluruh tenaga
kerja.
Saat ini PTPN X mempunyai 427 tenaga kerja
yang berkompetensi K3
dan mereka terdiri dari
ahli K3 kimia, K3 listrik, K3 umum, K3
kebakaran, K3 spesialis, operator dan
pesawat uap serta beberapa posisi lain.
”Kami juga telah membentuk Lembaga Panitia Pembina K3 di semua unit
usaha dan anak perusahaan,” tutur
Subiyono.
“buruh jangan hanya kuat di jalan (untuk
demonstrasi, Red), tapi juga harus tangguh
dengan bekerja giat di pabrik. bangun dialog
yang bagus bersama manajemen untuk
hasilkan kinerja optimal, sehingga yang
teriak-teriak di luar pabrik diminimalkan,”
selain bisa menerapkan SMK3, sambung dia, PTPN X juga mematuhi perundang-undangan yang berlaku baik
mengenai sistem pengupahan hingga
ke kesehatan karyawan dimana pada
2014 PTPN X merupakan BUMN pertama yang bergabung dengan BPJS.
9
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
safari raMadan
Momentum Jaga
Silaturahim Antar Karyawan
ramadan, bulan mulia umat Islam menjadi momen yang tepat untuk
memaknai rasa syukur. pada saat ini juga sering dimanfaatkan untuk menjalin
kembali tali silaturahim dan berbagi dengan sesama.
 Laporan : SekAr Arum & dery ArdiAnSyAH
B
10
ulan Ramadan tahun ini
kembali disongsong dengan gembira oleh seluruh
karyawan PT Perkebunan
Nusantara X. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk menghangatkan
kembali silaturahim antar karyawan.
Tahun ini kegiatan safari Ramadan dilangsungkan di dua unit yaitu PG Pesantren Baru, Kediri dan Kebun Tembakau Ajong Gayasan, Jember.
”Ramadan merupakan momen
yang tepat untuk kita kembali merasakan syukur atas pencapaian yang kita
dapatkan hingga saat ini, sekaligus
kesempatan untuk bersilahturahim
sesama karyawan,” ungkap Direktur
Utama PTPN X Subiyono. Bahkan di
Islam juga diajarkan untuk menjaga
silaturahmi supaya terbangun komunikasi yang baik antar karyawan. Dengan terbangunnya komunikasi maka
akan mudah dalam bekerjasama, kerjasama itulah yang dibutuhkan oleh
perusahaan. Kerjasama yang baik dapat meringankan pekerjaan.
Pada tanggal 17 Ramadan, di mushola Kantor Direksi PTPN X yang berlokasi di Jalan Jembatan Merah 3-11
Surabaya juga peringatan Nuzulul
Quran atau hari turunnya Al Quran
dengan tema ‘Dengan Peringatan Nu-
zulul Quran 1436 H Kita Tingkatkan
Ukhuwah Antar Karyawan Menuju
Sukses Produktivitas’. Direktur SDM
dan Umum PTPN X, Djoko Santoso
mengatakan sebagai umat Islam tidak
cukup hanya membaca dan mengerti
isi Al Quran. Namun yang lebih penting
lagi adalah bagaimana mengamalkannya. Sesuai dengan tema peringatan,
pengamalan ajaran Al Quran yang perlu
senantiasa diterapkan adalah rasa cinta
kasih di antara sesama, khususnya diantara karyawan PTPN X.
Ustad Suudi Sulaiman dalam tauziyahnya menyampaikan, ayat pertama
Al Quran yang diterima Nabi Muhammad memberikan perintah ‘Iqra’ atau
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 Safari Ramadan di PG Pesantren Baru
 Safari Ramadan di Jember
 Safari Ramadan di Jember  Membagikan takjil di depan Kantor Direksi.
foto-foto: dery ardiansyah
‘baca’. Ini menunjukkan pentingnya
SDM yang bagus.
Dalam hubungannya menciptakan
ukhuwah, selain pentingnya menerapkan kejujuran, terdapat beberapa
penyakit hati yang harus kita hindari
salah satunya yaitu Hasad (Perasaan
tidak senang ketika melihat orang lain
mendapatkan kesenangan). Adapun
obat dari penyakit ini yaitu dengan
menerapkan Tombo Ati (Obat Hati)
dalam kehidupan sehari-hari, yang
terdiri dari memegang teguh Al Quran,
mendirikan sholat malam, berkumpul
dengan orang–orang sholeh, perba­
nyak berpuasa dan berdzikir.
Tidak ingin ketinggalan untuk bisa
berbagi, karyawan PTPN X selama tiga
hari berturut-turut membagikan ta’jil
dibagikan dengan varian menu berbuka yang berbeda. Untuk tahun ini
pembagian takjil dilaksanakan mulai
tanggal 13 – 15 Juli 2015 dengan waktu
10 menit sebelum berbuka. Pembagian
takjil diberikan kepada para penggu­na
jalan roda empat, roda dua dan masyarakat di sekitar kantor direksi. Tahun
ini tersedia 500 takjil yang dibagikan
per harinya, sehingga total terdapat 1.500 takjil selama 3 hari dengan
menu seperti seperti teh kotak, nasi,
dan roti.
 Safari Ramadan di PG Pesantren Baru
 Safari Ramadan di rumah dinas Dirut PTPNX
11
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Halal BiHalal PtPn X
Kuatkan Tali Silaturahmi untuk
Menuju Sukses Produktivitas
nilai kekeluargaan menjadi salah satu modal untuk
memajukan perusahaan. Dan halal bihalal yang
diselenggarakan pTpn X merupakan saranan
yang tepat untuk terus menjalin tali silaturahim.
 Laporan : SekAr Arum
12
foto-foto: dery ardiansyah
SeBagai rangkaian peringatan Hari
Raya Idul Fitri 1436 H, PT Perkebunan
Nusantara (PTPN) X menggelar Halal bihalal yang diadakan pada Kamis
(23/07) di Hall Kantor Direksi PTPN X.
Acara yang dihadiri oleh segenap jajaran
komisaris, direksi , pejabat puncak, purnatugas dan para karyawan tersebut berlangsung khidmat dan berbalut dengan
nuansa fitri yang kental.
Direktur Utama PTPN X, Subiyono
dalam sambutannya menyampaikan
permohonan maaf kepada seluruh kar-
yawan yang dipimpinnya sekaligus
mengungkapkan rasa terima kasih sebanyak-banyaknya atas kerja sama yang
baik selama masa kepemimpinannya.
Terkhusus selama bulan Ramadhan,
para karyawan tetap menunjukkan semangat dan produktivitas kerja yang
terjaga.
Lebih lanjut, kata Subiyono, nilai
kekeluargaan yang dibangun di PTPN X
merupakan modal besar untuk memajukan perusahaan ini. “Maju tidaknya
PTPN X tergantung dari kinerja kita
semua, termasuk dukungan dan doa
keluarganya. Oleh karena itu, semua
memiliki peran yang sangat besar bagi
kemajuan perusahaan kita ke depan.
Dan halal bihalal ini merupakan sarana
yang tepat untuk terus menjalin tali silaturahim,” tandasnya.
Kepada seluruh yang hadir, Subiyono
mengingatkan bahwa PTPN X baru saja
menerima Penyertaan Modal Negara
(PMN) sebesar Rp 975 miliar yang ditujukan untuk menunjang aktivitas perusahaan. Tentunya ada sasaran yang dicapai dengan memanfaatkan kucuran dana
tersebut. Dan karyawan menjadi aset
berharga perlu terus melakukan sinergi
dan meningkatkan produktivitas agar
target yang ditetapkan bisa tercapai.
Selama ini PTPN X telah meraih beragam prestasi. Diantaranya menjadi
benchmarking untuk kategori Rumah
Sakit BUMN Gula terbaik. Penghargaan
ini justru menuntut untuk lebih berani
dalam menghadapi persaingan global
 DIRut PTPN X, Subiyono dan Ibu Nastiti Subiyono bersalam-salaman dengan seluruh tamu, karyawan, pensiunan yang hadir dalam acara Halal Bihalal PTPN X.
varietas
 Ibu-Ibu istri mantan Direksi PTPN X, bernyanyi bersama Dirut PTPN X, Subiyono.
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 Ustad Su'udi Sulaiman memberikan ceramah
agama saat Halal Bihahal PTPN X di Hall Kantor Direksi.
memotivasi karyawan untuk terus bemah mengungkapkan, merayakan Idul
dan menjaga sinergi kebersamaan untuk
lajar dan belajar. Kata inovasi memang
Fitri dengan bersenang hati merupakan
melihat adanya peluang terbaik dengan
sangat mudah untuk diucapkan tetapi
salah satu sunnah Rasul. Seorang yang
terus melakukan inovasi. Evaluasi dan
sangat sulit dilakukan. Sebab, inovasi
telah berhasil melewati ujian di bupembenahan diri harus dilakukan baik
mensyaratkan riset dan itu semua adalan Ramadhan pantas bersenang hati.
di unit maupun anak perusahaan, terOrang yang tak bersenang hati
lebih mengingat keadaan industri
justru merasa terpenjara dan
gula dalam kurun waktu lima tatidak memiliki kebebasan, terhun belakangan yang terus mengalami fluktuasi.
masuk yang tidak berhasil mele“Yang membanggakan di tawati ujian Ramadhan.
hun ini, termasuk anak perusaMeski demikian, Su’udi menghaan lainnya seperti tembakau,
ingatkan agar nilai-nilai RamaPT Mitratani Duatujuh, PT Dasa­
dhan terus dijaga walau sudah
plast dan PT ENERO saat ini telah
berlalu. Sebab, orang yang baik
menunjukkan progress positif.
adalah orang yang bisa menjaga
Namun kita tidak boleh berpuas
perilakunya yang sudah baik yang
hati. Tantangan yang semakin
dibentuk selama bulan Ramakompetitif ke depan terlebih perdhan.
saingan global harus diantisipasi
“Ramadhan telah banyak mensedini mungkin agar PTPN X tetap
didik umat manusia untuk bisa
menjadi perusahaan BUMN gula
mencapai derajat tertinggi yaitu
terdepan di Indonesia,” jelasnya.
taqwa. Banyak pelajaran yang bisa
Selanjutnya, Rudi Wibowo se­
diambil dari puasa selama bulan
laku Komisaris Utama PTPN X
Ramadhan antara lain yang permenuturkan, era modernisasi
tama adalah menghadirkan Allah.
meng­haruskan seluruh keluarga
Ketika Ramadhan, kita merabesar PTPN X mengubah mindsa Allah dekat dengan kita, seset dalam memandang pasar gula
hingga kita merasa diawasi sedengan menggunakan perspektif
tiap saat, Allah seperti berada di
global. “Penggunaan teknologimana saja kita berada,” tegas Direktur Keuangan PTPN X, Muhammad Hanugroho
bersama istri menyumbangkan lagu saat acara halal bihalal di
teknologi baru yang lebih muta­
nya. Kedua,yakni sikap sabar.
Hall Kantor Direksi PTPN X.
Selanjut­nya berani dan yang terkhir dan senantiasa melakukan
akhir adalah kepedulian. Di budiversifikasi produk diharapkan
lah buah dari cara kita belajar.
lan Ramadhan, kepedulian umat Islam
dapat mencapai tujuan yang diharapkan
perusahaan”, ujarnya.
meningkat. Kepedulian untuk saling
berbagi dengan sesama juga meningkat.
Lanjut Rudi, agar bisa menghasilkan
Nilai Ramadhan Harus terus Dijaga
Hal ini perlu terus dilanjutkan di bulaninovasi dalam rangka mengembangSementara itu, Ustad Su’udi Sulaibulan setelah Ramadhan.
kan usaha, perseroan milik negara ini
man yang didaulat sebagai pencera-
13
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
eruPsi GununG raunG
Abu Raung Tak
Pengaruhi Kualitas
Tembakau PTPN X
Erupsi Gunung Raung membawa dampak kurang baik
pada pertanian, termasuk tanaman tembakau. Tidak
tinggal diam, Divisi Tembakau PTPN X melakukan upaya
agar abu Raung tidak menurunkan kualitas tembakau.
foto: antara
 Laporan: SAP JAyAnti & SiSkA
PreStiwAti
lahan tembakau PT Perkebunan
Nusantara X yang berada di Jember
juga tidak bisa menghindar dari abu
yang disemburkan dari gunung yang
berlokasi di Banyuwangi ini. Meski demikian, target produksi diyakini tetap
akan tercapai karena sudah dilakukan
penanganan sesuai dengan kondisi
tembakau.
Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN X, Moh Sulton
mengungkapkan saat erupsi Gunung
Raung, sejumlah langkah penanganan telah dilakukan oleh karyawan
14
Kebun Ajong dan Kebun Kertosari.
Langkah-langkah tersebut, sambung
Sulton, mulai dari masih berupa tanaman hingga ke tahap pengolahan.
“Di pengolahan, ada 7 treatment
yang dilakukan. Mulai dari penyiraman untuk membersihkan abu yang menempel, penyiraman dengan mesin
maupun manual. Sedangkan untuk
daun tembakau yang sudah dipanen
dan berada di gudang pengering
dikibas-kibaskan atau digerbai untuk
membersihkan daun dari sisa-sisa
abu. Karyawan juga berinovasi memodifikasi kipas angin untuk dijadikan
semacam vacuum untuk menyedot
sisa-sisa abu yang masih menempel,”
 Menyiram daun tembakau salah satu cara menghilangkan abu vulkanik.
jelasnya. Langkah terakhir, ungkap
Sulton, dilakukan pembersihan kembali daun tembakau dengan menggunakan sarung tangan dari kain.
“Untuk memastikan, kami juga
melakukan pengamatan dengan mikroskop untuk membandingkan tembakau yang terkena abu vulkanis sesudah di treatment dengan tembakau
yang tidak kena. Hasilnya sama, itu artinya tembakau yang terkena abu vulkanis sudah bersih,” paparnya. Mantan GM PG Pesantren Baru ini juga
menjelaskan tidak hanya melakukan
uji mikroskopis, pihaknya juga sudah
melakukan uji kandungan kimianya.
“Hasilnya juga sudah bagus dan tidak
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
ALUR PEMBERSIHAN ABU VULKANIK PADA DAUN TEMBAKAU
 Pencucian Tembakau di Tanaman
 Gerbay Turun Gudang Pengering Sebelum
Dikirim ke Gudang Pengolah
 Gerbay Setelah Turun Truck
 Gerbay Sebelum Saring Rompos
 Gerbay Sebelum Stapel-A
 Gerbay Sebelum Stapel-B
 Gerbay Sebelum Buka Daun
 Gosok Abu Pada Pelaksanaan Buka Daun
dengan Sarung Tangan
foto: dok. divisi tembakau
ada pengaruhnya,” tegasnya.
Sulton menambahkan pihaknya
ju­ga sudah memperlihatkan rekaman video tentang tahapan-tahapan
treatment hujan abu Gunung Raung
kepada pembeli lengkap dengan hasil
uji mikroskopis dan uji hasil kimianya.
“Alhamdulillah pedagang bisa menerima dan kami berharap penjualan tembakau tetap bagus dan tinggi,” ujarnya
Kepala Divisi Tembakau PTPN X,
Toto Guranto menambahkan, abu
yang jatuh ke daun akan mengganggu
proses respirasi dan fotosintesa daun.
”Tapi dengan upaya yang sudah kami
lakukan, kami optimistis bisa mengeli­
minir dampak negatif abu vulkanis
tersebut,” ujar Toto.
Dituturkan Toto, lebih dari 40 persen tanaman Tembakau Bawah Naung­
an (TBN) PTPN X sudah dipetik sebelum turunnya abu vulkanik 15 Juli lalu.
Di Kebun Ajong Gayasan pemetik­an
sudah dilakukan sebanyak 40 persen
dari total 346 ha lahan. Sedangkan di
Kebun Kertosari sudah mencapai 60
persen dari luasan 326 ha.
Perlu diketahui, abu vulkanis me­
ngan­dung silica, magnesium dan partikel lain yang bisa membahayakan kesehatan manusia. Dan bagi tembakau,
abu dari semburan gunung berapi yang
menempel bisa berpengaruh ke rasa
dan tentunya berbahaya jika terhisap.
Dengan adanya langkah-langkah
antisipasi yang dilakukan, Toto opti­
mistis tidak akan mempengaruhi produksi tembakau PTPN X tahun ini.
Di 2015, Kebun Kertosari ditargetkan
bisa menghasilkan 5.800 ton dan sudah tercapai 2.600 ton. Sedangkan di
Ajong dari target 6.500 ton, hingga
15 Juli lalu sudah tercapai 1.500 ton.
”Kami yakin target produksi bisa tercapai,” kata Toto optimistis. Target
produksi tahun ini meningkat sekitar
10 persen dari tahun lalu.
Mengenai pasar tembakau dunia,
dikatakan Toto tetap terbuka. ”Selama
ini suplai yang ada tetap kurang. Belum bisa memenuhi permintaan pasar
tembakau dunia yang setiap tahunnya
selalu naik 10-20 persen. Harga pun
tidak pernah turun, terus meningkat,
minimal sama dibandingkan tahun
sebelumnya,” paparnya. Permintaan
tembakau saat ini lebih banyak untuk
kategori top grade dan low grade. Sedangkan permintaan daun tembakau
medium grade cenderung berkurang.
 Gosok Abu dengan Kuas Setelah Tahap-I
 Membersihkan Abu dengan Sistem Vacuum
15
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Media GatHerinG
Pererat Sinergi dengan
Jurnalis dan Media
 Laporan : SiSkA PreStiwAti
16
kehadiran media memiliki peran
penting dalam image suatu perusahaan. Sinergi yang baik antara perusahaan dengan media diharapkan bisa
memberikan informasi kepada publik
mengenai kinerja korporasi.
Sekretaris Perusahaan Adi Santoso
dalam sambutannya mengatakan, pihaknya ingin menjalin hubungan kerja
yang harmonis dengan media agar masyarakat bisa mendapatkan informasi
mengenai PT Perkebunan Nusantara
(PTPN) X secara akurat. ”Seperti diketahui bersama, peran media sangatlah
penting dalam membangun PTPN X.
Rekan-rekan media telah berkontribusi menyebarluaskan pemberitaan
mengenai perusahaan kepada masyarakat. Kegiatan ini dilangsungkan
sebagai bentuk kebersamaan antara
PTPN X dengan rekan-rekan media.
Semoga sinergitas yang selalu terjaga
ini dapat mendukung kemajuan perusahaan ke depan,” tuturnya saat membuka Media Gathering di Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya, awal
Agustus lalu.
Acara tahunan ini selain berisi penjelasan singkat mengenai pencapaian
dan rencana kerja PTPN X, disampaikan pula pemaparan dari beberapa
anak perusahaan seperti PT Nusantara
Medika Utama (NMU) dan PT Energi
Agro Nusantara (Enero). Lebih dari
20 jurnalis dari berbagai media baik
cetak maupun online di Surabaya juga
bisa bertanya jawab langsung dengan
direksi PTPN X, maupun dua anak perusahaan lainnya secara langsung.
Dalam sambutannya, Direktur
Utama PTPN X, Subiyono menuturkan, kinerja PTPN X terus meningkat.
Dengan menyiapkan dana investasi
sebesar Rp 1,125 Trilliun, perusahaan
yang bergerak di bidang perkebunan
ini kembali mempersiapkan diri untuk menambah diversifikasinya yaitu
cogeneration dan menambah pabrik
bioethanol.
Investasi sebesar Rp 1,125 Triliun
yang sebagian besar berasal dari dana
Penyertaan Modal Negara (PMN)
tersebut dialokasikan untuk tiga tujuan. Pertama, peningkatan kapasitas
giling dan rendemen dengan nilai investasi sebesar Rp 250 milliar. PTPN
X menilai penting untuk berinvestasi
di bidang ini tidak lain untuk menekan tingkat kehilangan gula (sugar
losses), memperpendek masa giling
dengan tanpa mengurangi produksi
gula, dan efisiensi Sumber Daya Manusia (SDM). Proses produksi bisa
dijalankan dengan sistem first in first
out (FIFO) sehingga kualitas tebu dan
produksi gula bisa terjaga.
“Yang kedua, kami akan membangun diversifikasi yaitu cogeneration
yang tidak lain adalah pembangkit listrik berbasis limbah padat tebu atau
ampas tebu,” ungkapnya. Subiyono
menyebutkan proyek cogeneration ini
berkapasitas 50 MW dengan nilai investasi sebesar Rp 296 Milliar. Secara
terbatas, program ini sudah dijalankan
di Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo. Dengan tambahan investasi diharapkan
bisa lebih optimal. Selain itu, proyek
cogeneration juga akan dibangun di
tiga pabrik yaitu PG Ngadiredjo berkapasitas 20 MW, PG Tjoekir dengan
kapasitas 10 MW, dan PG Gempolkrep
dengan kapasitas 20 MW.
Dengan kapasitas ini, jelas Subiyono, berarti bisa menghasilkan 360
GWH dalam waktu 300 hari. Jika harga listrik biomassa seperti yang telah
ditetapkan pemerintah dipenuhi, yaitu
seharga Rp 1.150 per kWh, maka potensi pendapatan dari cogeneration
ini sebesar Rp 414 milliar.
“Investasi lainnya adalah kami ingin
membangun lagi pabrik bioethanol,”
ungkapnya. Pria asal Banyuwangi ini
menjelaskan investasi untuk pengembangan proyek bioethanol sebesar Rp
597 milliar. Satu pabrik sudah terintegrasi dengan pabrik bioethanol yaitu
PG Gempolkrep dengan kapasitas
30.000 kiloliter (KL)/tahun. PTPN X
akan membangun satu lagi pabrik bioethanol di PG Ngadiredjo dengan kapasitas 30.000 KL/tahun dan diharapkan akan tuntas akhir tahun 2017 atau
awal 2018.
Masih menurut Subiyono, bila harga
bioethanol per liter adalah Rp 9.200,
maka potensi pendapatannya sebesar
Rp 276 milliar/tahun. Dengan perhitungan di atas, sudah jelas bahwa arah
investasi dan program PTPN X adalah
mewujudkan industri gula berbasis
tebu yang terintegrasi.“Jika kami hanya memproduksi gula saja, maka kami
bisa tutup, dan tidak bisa memberikan
nilai tambah ke petani,” tegasnya.
Ia juga menambahkan saat ini ada
trend perubahan selera konsumen.
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Dirut PTPN X, Ir. Subiyono,
MM didampingi jajaran direksi
menjelaskan target dan pencapaian
PTPN X saat acara Media Gathering di
Hotel Mercure Surabaya.
foto: dery ardiansyah
Konsumen menginginkan gula yang
kualitasnya bagus. PTPN X merespon
selera konsumen dengan mulai memproduksi superior quality sulphur-free
sugar atau gula premuim di PG Pesantren Baru Kediri tahun ini. Dengan
proses tersebut, kadar keputihan atau
ICUMSA gula produksi PG Pesantren
Baru mendekati gula rafinasi yaitu
dibawah 50.
Rencana Kerja Anak Perusahaan
Dalam pemaparannya, Direktur
Utama PT Nusantara Medika Utama,
Ibnu Gunawan mengungkapkan, PT
NMU sudah melakukan pengembang­
an. Antara lain akuisisi RSIA Cendana
di Blitar pada tanggal 10 Februa­ri
2015, penambahan beberapa klinik
pratama, peningkatan Klinik Pratama
Rawat Jalan menjadi Kriyandas, serta
telah dilakukan penambahan kapasi-
tas dan fasilitas rumah sakit yaitu di
RS Gatoel. “Ke depan, kami pun sudah
menyusun beberapa rencana untuk
pengembanga bisnis,” ungkapnya.
Rencana tersebut, sambung Ibnu,
antara lain pembangunan rumah
sakit di Klaten dengan menggandeng
investor, pembangunan rumah sakit
khusus Onkologi di Surabaya, menjalin kerjasama dengan investor dari
Jepang untuk membentuk perusahaan Joint Venture, pembangunan
dan penambahan gedung rawat inap
di RSIA Cendana, pembangunan Gedung Rawat Inap dan kamar operasi di
RS Toeloengredjo, pengoperasionalan
Klinik Pratama Puri dan HVA Pare,
pembangunan shelter home di Jember, pembangunan Klinik Pratama
di sekitar rumah sakit PT NMU, dan
pembangunan sekolah berkebutuhan
khusus di Jember.
"peran media sangatlah
penting dalam
membangun citra PTPN
X. Rekan-rekan media
telah berkontribusi
menyebarluaskan
pemberitaan mengenai
perusahaan kepada
masyarakat."
Adi Santoso
Sekretaris Perusahaan
PT Perkebunan Nusantara X
17
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
varietas
foto: ist
18
KL. Pihaknya juga mempunyai kondari kebutuhan, yang diproduksi oleh
Sementara itu, Direktur Utama
trak kerjasama dengan pembeli lokal
PT. Indonesia Ethanol Industry sebaPT Energi Agro Nusantara, Misbahul
lain, PT. Total Oil Indonesia sebesar
nyak 60.000 KL/tahun, PT. Molindo
Huda menjelaskan penggunaan bio135 KL pada 3 Juli 2015.
Raya Industrial sebanyak 30.000 KL/
etanol di Indonesia sebenarnya sudah
Misbahul mengungkapkan, kesa­
tahun, dan PT. Energi Agro Nusantara
diatur melalui regulasi pemerintah sedaran pemerintah akan pentingnya
sebanyak 30.000 KL/tahun. “Kontrak
jak 2006. ”Namun implementasinya
BBN bioetanol sebagai bahan bakar
pembelian bioethanol oleh Pertamina
masih jauh dari harapan,” ungkapnya.
alternatif pengganti fosil atau misaat ini hanya sebagai konsumsi non
Misbahul Huda mengungkapkan,
nyak bumi didukung regulasi yang
PSO sebesar 60 KL/bulan selama tiga
berdasarkan peraturan Menteri ESDM
lengkap, mulai UU, PP,
No.25 Tahun 2013 tentang
Permen, Kepmen, yang
Penyediaan, Pemanfaatan
mengharus­kan ‘pemain’
dan Tata Niaga Bahan
minyak mencampurkan
Bakar Nabati (Bioethabio­ethanol produksi lokal
nol) Sebagai Bahan Bakar
pada BBM secara bertaLain, untuk tiga sektor
hap, lengkap dengan anyaitu, sektor transportasi
caman sanksinya pun suPSO sebesar satu persen
dah ada. Bahkan, patokan
untuk tahun 2015 dan
Harga Indeks Pasar (HIP)
meningkat menjadi dua
yang ditetapkan oleh kepersen pada tahun 2016,
menterian ESDM, setelah
sedang untuk trasportasi
melalui audit seksama
Non PSO sebesar dua perterkait struktur harga susen pada tahun 2015 dan
dah ada.
menjadi lima persen unYang diperlukan tingtuk tahun 2016. Bioethagal konsistensi pemihakan
nol juga diperuntukan
foto: dery ardiansyah
pemerintah untuk implebagi industri dan kommentasi regulasi yang ada.
ersial dengan prosentase  Dirut PTPN X, Ir. Subiyono, MM didampingi jajaran direksi menjelaskan target
Perlambatan ekonomi dan
dua persen untuk 2015 dan pencapaian PTPN X saat acara Media Gathering di Hotel Mercure Surabaya.
pelemahan rupiah mesdan lima persen untuk
tinya menjadi momentum yang tepat
bulan atau sebesar 0,006 persen dari
2016.
untuk implementasi bioethanol, yang
total mandatory tahun 2014. Namun,
“Konsumsi BBM Nasional saat ini
diharapkan bisa menghemat cadangan
realisasi sampai dengan Mei 2015
±30.000.000 KL/tahun. Bila mandadevisa dan menggerakkan industri
hanya sebesar 25 KL atau 13,8 persen
tory campuran Bioethanol dipenuhi
etanol serta petani pendukungnya.
dari kontrak,” jelasnya.
sebesar satu persen saja, maka dibu“Disinilah peran penting media
Berdasarkan kondisi tersebut, samtuhkan 300.000 KL Bioethanol per
untuk mengawal dan terus memberibungnya, bioetanol yang diproduksi PT
tahun, “ sebutnya.
takan agar regulasi yang sudah ada
Enero terpaksa diekspor ke Filipina.
Ia menyebutkan total kapasitas probenar-benar diterapkan,” kata Huda
Realisasi ekspor sampai saat ini 4000
duksi fuel grade ethanol saat ini mencaberharap.
KL dan rencana ekspor lanjutan 2000
pai 120.000 KL/Tahun atau 40 persen
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 GM PG Ngadiredjo, Glen AT Sorongan didampingi Manajer QC
Sonhaji dan Manajer Tanaman, Bambang Hari Nugroho memberikan
cinderamata kepada Kelompok Tani Sukamaju.
 mANAJeR QC PG Ngadiredjo, Sonhaji menjelaskan proses produksi gula kepada ibu-ibu
Kelompok Tani Sukamaju saat kunjungan di PG Ngadiredjo.
foto- foto: dery ardiansyah
factorY visit, KeloMPoK tani suKa Maju
Wow! Ternyata Pabrik Gula
Dulu dan Sekarang Berbeda
Kediri ini mengatakan bahwa pabrik gula
dulu dan sekarang sudah jauh sangat berbeda. Terlebih setelah mengunjungi seada suasana berbeda yang terlihat
cara langsung Pabrik Gula Ngadiredjo.
di Pabrik Gula Ngadiredjo pada Senin
“Dari kecil saya sudah tidak asing
(14/9), pabrik yang berbasis di Kediri ini
dengan pabrik gula. Kebetulan rumah
mendapatkan tamu istimewa dari Kesaya dekat dengan Pabrik Gula Pesanlompok Tani Suka Maju. Yang menarik,
tren Baru yang juga berlokasi di Kedisemua anggota kelompok tani yang berri. Menurut saya dulu pabrik gula itu
asal dari kelurahan Jemur Wonosari,
menyeramkan dan begitu kotor, limbahSurabaya tersebut merupakan para ibu
nya dimana-dimana. Namun sekarang
yang memiliki ketertarikan mengetahui
setelah melihat dari dekat
lebih dalam tentang induspandangan saya berubah,”
tri gula.
“rombongan kami berasal dari surabaya sebanyak 40
ujarnya bersemangat.
“Rombongan kami berorang, dan semua memang ibu-ibu. tujuan kami ingin
PG sekarang, tambahnya,
asal dari Surabaya sebamengetahui
lebih dalam tentang industri gula. bagaimana jauh sangat berbeda. Kebernyak 40 orang, dan semua
gula itu diproduksi dan dipasarkan sehingga kita sebagai sihannya terjaga dengan
memang ibu-ibu. Tujuan
konsumen akhirnya dapat menikmatinya sebagai bahan
baik mulai dari proses prokami pada hari ini ingin
baku makanan.”
duksi hingga pengemasan.
mengetahui lebih dalam
Semua tata letaknya sepertentang industri gula. Batinya diatur sedemikian rupa sehingga
lontarkan. Kamipun berharap bahwa degaimana sebenarnya gula itu diproduksi
sangat bersih dan dapat mempermudah
ngan adanya kunjungan ini masyarakat
dan dipasarkan sehingga kita sebagai
karyawan. “Hari ini saya mendapatkan
menjadi lebih tahu mengenai industri
konsumen akhirnya dapat menikmatpengalaman yang luar biasa karena dapat
gula dan kesan pabrik gula yang duluinya sebagai bahan baku makanan,” urai
melihat langsung proses produksi gula.
nya menyeramkan dapat terkikis setelah
Ketua Kelompok Tani Suka Maju, Latifah
Bagaimana gula itu diproses dari yang
kunjungan ini,” paparnya.
kepada PTPN X Magz.
masih batangan tebu hingga menjadi gula
Sementara itu, salah satu anggota KeDisambut langsung oleh GM PG Ngayang siap dikemas dan dipasarkan. Kunlompok Tani Suka Maju, Ismi, mengudiredjo, Glen AT Sorongan, rombongan
jungan ini tentu sangat bermanfaat bagi
tarakan ketakjubannya melihat kebersihini diperkenalkan terlebih dahulu tensaya,” pungkasnya.
an di dalam pabrik. Wanita asli Papar,
tang sejarah PG Ngadiredjo hingga ke-
 Laporan: SekAr Arum
mudian mendapat penjelasan tentang
bagaimana produksi gula berlangsung
sehingga menjadi gula yang bisa dikonsumsi. Glen juga menuturkan bagaimana sistem budidaya tebu yang baik dan
bagi hasil yang diperoleh petani.
“Kunjungan ini tentu sangat bernilai positif bagi kami. Terlebih melihat
animo para anggota kelompok tani ini
sangat luar biasa. Banyak pertanyaan terkait pergulaan yang juga mereka
19
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Tingkatkan Kualitas, PTPN X
Lakukan Evaluasi Internal
pepatah mengatakan pembeli adalah raja. Untuk itu, pT perkebunan
nusantara (pTpn) X terus mendengarkan suara pembeli agar bisa
menghasilkan Gula Kristal putih (GKp) yang sesuai dengan keinginan pasar.
 Laporan : SiSkA PreStiwAti
20
MeMaSuki musim giling tahun 2015,
Divisi Pemasaran PTPN X menggelar rapat koordinasi penerapan wajib SNI yang
melibatkan seluruh Manager Pengolahan, Manager Keuangan, dan Manager
Akuntansi, Keuangan dan Umum dari 11
Pabrik Gula (PG) milik PTPN X. Direktur
Perencanaan dan Pengembangan PTPN
X, Mochamad Sulton mengatakan, Divisi
Pemasaran PTPN X sengaja mengumpulkan manager dari 11 PG untuk melakukan evaluasi tentang kualitas produksi.
Sekarang ini, produk yang dihasilkan
harus sesuai dengan keinginan dan selera pasar. “Peta persaingan di pasar selalu
menuntut kita untuk terus meningkatkan kualitas produk,” kata Sulton.
Mantan General Manager PG Pesantren Baru ini mengungkapkan, sebulan
sebelum Hari Raya Idul Fitri, Menteri
Perdagangan Rahmat Gobel menegaskan GKP harus bagus. Sebab gula sebagai
salah satu dari sembilan bahan pokok
harus memenuhi SNI yang sudah ditentukan. Dan jika ditemui ada gula tidak
memenuhi SNI, akan dikenakan sanksi.
Selain untuk mematuhi perundangundangan yang berlaku, sambung Sulton, yang tidak kalah penting adalah memenuhi tuntutan pasar. Sebab, kondisi
pasar saat ini dengan beberapa tahun
yang lalu sudah jauh berbeda. Seiring
dengan meningkatnya tingkat pendidikan dan tingkat perekonomian masyarakat, kebutuhan pasar akan produk gula
pun ikut berubah. “Selama giling 2015
ini, semua gula produksi pabrik gula kita
sudah baik dan memenuhi SNI. Tapi
kita tidak boleh lengah dan harus terus
memantau agar tidak sampai menurun
kualitas gula kita,” tegasnya.
Untuk itu, rapat koordinasi yang digagas oleh Divisi Pemasaran sangatlah
penting agar semua manager di 11 PG
memiliki kesamaan visi tentang ba-
siska prestiwati
 DIReKtuR Perencanaan dan Pengembangan PTPN X, Mochamad Sulton (kanan) saat memimpin
rapat kordinasi bersama dengan para manager dari 11 pabrik gula.
gaimana memahami keinginan pasar.
Sehingga, gula yang sudah diproduksi
bisa diminati oleh pembeli.
Dalam rapat ini juga dihadirkan perwakilan pembeli gula yang diharapkan
bisa menyampaikan keinginannya akan
gula yang diharapkan. Sulton meminta
kepada para pembeli yang hadir untuk
mengeluarkan semua keluh kesahnya
tentang pelayanan pabrik gula milik
PTPN X selama ini, termasuk tentang
Delivery Order (DO) ataupun tentang
pembayaran.
Masih menurut Sulton, beberapa
waktu yang lalu, dirinya diundang dalam
rapat kordinasi pabrik gula yang intinya
meminta penundaaan penerapan SNI
wajib GKP yang seharusnya mulai diberlakukan Juni 2015 lalu. Beberapa pabrik
gula minta bahwa penerapan SNI Wajib GKP ditunda enam bulan ke depan
karena satu dan lain hal. “Namun pada
intinya, gula produksi PTPN X sudah
memenuhi SNI Wajib GKP pada musim
giling tahun ini. Dengan penundaan ini,
kita harus tetap berproduksi sesuai dengan GKP yang sudah disyarakan dalam
SNI,” paparnya.
Sulton menambahkan seluruh PG
wajib melaporkan jumlah produksi gula
yang tidak memenuhi standar SNI ke Di-
visi Pemasaran PTPN X. Data ini sangat
penting, agar nanti gula yang kualitasnya
dibawah SNI akan diproses kembali di
akhir masa giling. “Kalau tidak ada laporan, itu artinya tidak ada gula yang tidak
memenuhi standar GKP. Bila nantinya di
pasar ditemukan gula produksi PG X kualitasnya dibawa standar, maka PG harus
menanggungnya sendiri,” tegasnya.
Sulton mengungkapkan selama ini
banyak ditemukan kecurangan di pasar.
Tidak sedikit karung gula bertuliskan
nama salah satu PG milik PTPN X namun gulanya berasal dari PG lain yang
kualitasnya jauh dibawah PTPN X. Dengan adanya data tentang produksi yang
jelek, maka akan didapatkan data untuk
re-processing pada akhir musim giling.
Sehingga Divisi Pemasaran bisa memastikan bahwa tidak ada satu pun karung
gula produksi PTPN X yang kualitasnya
di bawah SNI. Kalau nanti di pasaran
ditemukan gula dengan kualitas rendah,
yang menggunakan karung salah satu
pabrik gula milik PTPN X maka bisa dipastikan ada oknum yang mencoba untuk mencari keuntungan lebih dengan
menggunakan nama PTPN X. Hal ini
bisa diproses lebih lanjut agar di tahuntahun mendatang, praktik nakal seperti
ini tidak ada lagi.
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
sosialisasi BPjs KetenaGaKerjaan
Berikan Pemahaman
Jaminan Sosial ke Karyawan
puluhan orang yang terdiri dari Ketua dan Sekretaris
Serikat pekerja, perwakilan karyawan serta manajer
SDM dan manajer keuangan di lingkungan pT
perkebunan nusantara (pTpn) X mendapat sosialisasi
mengenai jaminan sosial bagi pekerja. Selain jaminan
kesehatan, karyawan perlu diberi pemahaman
mengenai jaminan pensiun dan Jaminan Hari Tua (JHT).
 Laporan : SAP JAyAnti
kePala Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Jawa Timur,
Sunaryo memaparkan BPJS Ketenagakerjaan bertujuan memberikan bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat dapat memenuhi
perlindungan dasar hidupnya yang
layak dengan meningkatkan kesejahteraan tenaga kerja dan keluarganya
serta melanjutkan terputusnya penghasilan karena resiko sosial. ”BPJS
Ketenagakerjaan meliputi jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, jaminan pensiun dan jaminan hari tua,”
kata Sunaryo.
Jaminan kecelakaan kerja berdasarkan PP no 44 tahun 2015 mengatur biaya transportasi darat sebesar
Rp 1.000.000, laut Rp 1.500.000 dan
udara Rp 2.500.000. Pelayanan kesehatan dilakukan di fasilitas kesehatan
yang ditunjuk sesuai dengan kebutuhan medisnya atau di RS yang sudah
bekerjasama. Sedangkan biaya pemakaman diatur sebesar Rp 3.000.000.
Sunaryo mengingatkan batas waktu
klaim adalah dua tahun sejak tanggal kecelakaan. Dan pada kasus yang
mengakibatkan cacat total tetap atau
meninggal dunia mendapat manfaat
beasiswa bagi satu anak tenaga kerja
sebesar Rp 12.000.000.
Untuk jaminan kematian, santunan kematian diberikan sebesar Rp
16.200.000, santunan berkala Rp
4.800.000 dan biaya pemakaman
sebesar Rp 3.000.000. ”Manfaat tambahan yang diberikan yaitu mening-
 KePAlA Pelayanan BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Jawa Timur, Sunaryo dalam
sosialisasinya di depan karyawan PT Perkebunan Nusantara X.
foto: sap jayanti
gal dunia pada kepesertaan aktif dan
memenuhi masa iur minimal 5 tahun
atau 60 bulan mendapat beasiswa bagi
1 orang anak tenaga kerja sebesar Rp
12.000.000. Ini jika berdasar aturan
terdahulu yaitu PP no 14 tahun 1993 tidak ada manfaat beasiswa,” tuturnya.
Kemudian untuk Jaminan Hari
Tua (HJT), klaim bisa dilakukan pada
saat mencapai usia pensiun 56 tahun,
peserta mengundurkan diri, peserta
terkena PHK dan peserta meninggalkan Indonesia untuk selama-lamanya.
Peserta aktif minimal kepesertaan 10
tahun dapat mengambil JHT sebagian
yakni pengambilan JHT maksimal 10
persen untuk persiapan hari tua atau
pengambilan JHT maksimal 30 persen
untuk bantuan perumahan.
Dan yang terakhir adalah Jaminan
Pensiun (JP). Dijelaskan Sunaryo, Jaminan Pensiun adalah jaminan sosial
yang bertujuan untuk mempertahankan derajat kehidupan yang layak bagi
peserta dan atau ahli warisnya dengan
memberikan penghasilan setelah peserta memasuki usia pensiun, mengalami cacat total tetap, atau meninggal
dunia. Manfaat Pensiun adalah sejumlah uang yang dibayarkan setiap bulan
kepada peserta yang memasuki usia
pensiun, mengalami cacat total tetap,
atau kepada ahli waris bagi peserta
yang meninggal dunia.
Ia menuturkan, iuran JP sebesar 3
persen di mana 2 persen ditanggung
pemberi kerja selain penyelenggara
negara dan 1 persen ditanggung peserta. Besaran iuran akan dievaluasi paling singkat 3 tahun mempertimbangkan kondisi ekonomi nasional sebagai
dasar penyesaian bertahap menuju 8
persen.
”Masa iur program jaminan pensiun minimal 15 tahun dengan manfaat
minium Rp 300.000 dan maksimal
Rp 3,6 juta,” ujarnya. Dalam kesempatan tersebut juga diberikan simulasi
jaminan pensiun. 
21
tebu
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
csr PG lestari
Latih Masyarakat Tingkatkan
Keterampilan & Kualitas Hidup
foto: dery ardiansyah
 BANtuAN kepada masyarakat diberikan oleh Pjs. General Manager PG Lestari, Soekamto
Partowijoyo
 Laporan : SekAr Arum
22
SeBagai bentuk kepedulian Pabrik
Gula (PG) Lestari terhadap warga sekitar, pabrik gula yang berada di kota
Nganjuk tersebut menyerahkan bantuan kepada warga sekitar. Tak hanya
bantuan berupa uang, PG Lestari juga
membuka kesempatan bagi warga untuk meningkatkan keterampilan dan
kualitas hidup melalui kursus singkat.
Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk “
Tumbuh dan Berkembang bersama
Masyarakat, dengan Meningkatkan
Keterampilan dan Kualitas Hidup Masyarakat”, kursus keterampilan yang
diberikan antara lain pelatihan bengkel,
pelatihan dinamo, dan pelatihan pembuatan aneka kue dan minuman. Selain itu diserahkan pula beasiswa untuk
pelajar SMP dan SMA, normalisasi pipa
saluran air, plengsengan saluran limbah, pembuatan beton plat ledeng, dan
pembuatan Pos polisi di desa Jenar.
Pjs. General Manager PG Lestari,
Soekamto Partowijoyo, saat ditemui
mengutarakan bahwa CSR memang
setiap tahun dilakukan. Hal tersebut
diperuntukkan menjalin kemitraan
yang baik dengan warga sekitar di lingkungan PG Lestari. ”Upaya ini akan
kami lakukan secara berkelanjutan. Seperti diketahui, program CSR ini merupakan komitmen dari PT Perkebunan
Nusantara (PTPN) X untuk mendukung terciptanya pembangunan secara
berkelanjutan (sustainable development),” terang pria berkacamata itu.
Tak hanya itu saja, lanjut pria yang
kerap disapa Kamto tersebut, CSR ini
merupakan sarana untuk mengembangkan masyarakat yang sifatnya
produktif dan melibatkan mereka di
dalam dan di luar perusahaan baik secara langsung maupun tidak langsung.
Kontribusi perusahaan ini diharapkan
mampu mengembangkan dan membangun masyarakat dari berbagai bidang
yang ada.
“Total ada enam desa yang mendapat perhatian kami untuk mendapatkan
bantuan baik berupa sarana infrastruktur ataupun pelatihan keterampilan
yaitu Desa Ngrombot, Patianrowo,
Pakuncen, Pecuk, Lestari, dan Tirtobinangun. Tentunya kamipun bekerjasama dengan dinas terkait antara lain
Disnakertrans dan Dinas Koperasi agar
lebih memudahkan mengakomodir ke-
giatan ini,” tandasnya kembali.
Sebelumnya di bulan Januari, terlebih dahulu PG Lestari telah melakukan CSR berupa pengobatan gratis kepada warga sembilan desa yang ada di
sekitar pabrik.
Sementara itu hadir dalam kesempatan yang sama, Kepala Dinas Indagkoptamben Daerah Kabupaten Nganjuk, Rr.Heni Rochtanti menyambut
baik adanya kegiatan tersebut. Bantuan kepedulian sosial perusahaan
(CSR) yang disalurkan PG Lestari
tentu sangat diharapkan sebab akan
mempercepat peningkatan kesejahteran masyarakat di sekitar perusahaan.
Menurut dia, adanya bantuan CSR
dari PG Lestari akan dapat membantu program pemerintah dalam pengentasan kemiskinan, penyelesaian
masalah lingkungan, membuka ruang
kerja dan kesempatan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Apalagi dasar pendekatannya bukan sekedar
apa yang diinginkan masyarakat tapi
sesuatu yang dibutuhkan dan disesuaikan dengan kemampuan masyarakat,
sehingga arah bantuan tepat sasaran.
“Manfaat CSR antara lain masyarakat
dapat mengembangkan diri dan usahanya, sehingga sasaran untuk mencapai kesejahteraan tercapai,” katanya.
Tak hanya itu saja, Lurah desa Pakuncen, Renny Roslina, yang mendapat
bantuan berupa plengsengan saluran
limbah mengucapkan rasa terima kasih
kepada PG Lestari atas bantuan yang
telah diberikan. Ia berharap ke depan
perusahaan tetap konsisten membantu warga lewat program tersebut.
“Pembangunan infrastruktur sangat dirasakan manfaatnya oleh warga. Apalagi Desa Pakuncen ini mempunyai obyek wisata religi yang banyak
didatangi peziarah. Adanya plengsengan ini tentu akan ikut memperindah
dan membantu desa meminimalisir
kemungkinan penumpukan sampah
saat hujan mulai datang,” urai wanita
berhijab tersebut.
tebu
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto: dery ardiansyah
 DIRut PTPN X, Subiyono bersama Nastiti Subiyono
menyerahkan sapi kepada salah satu pengelola yayasan
panti asuhan.
foto: dery ardiansyah
 DIRPRoD PTPN X, Tarsisius Sutaryanto menyerahkan kambing kurban kepada salah satu
pengurus panti asuhan.
foto: dery ardiansyah
 KADIv Pemasaran sekaligus Ketua Panitia Acara,
Soetjahjo Widjaja menyerahkan kambing kurban.
PerinGatan idul adHa PtPn X
Momentum Pengorbanan
dan Kepedulian
benchmark industri gula di Indonesia. “Beberapa waktu lalu Ibu Menteri
sendiri telah meninjau wilayah yang
MeMPeringati hari raya Idul
prospektif untuk pembangunan pabrik
Adha 1436 H tahun 2015, PT Perkebugula baru di Madura. Ke depan ini tennan Nusantara (PTPN) X kembali metu menjadi tugas yang berat bagi kita,
nyalurkan daging hewan qurban kepaterlebih dengan target produksi yang
da masyarakat yang membutuhkan di
sudah ditentukan yakni 171 ribu ton,”
lingkungan sekitar. Penyerahan hewan
terangnya.
Qurban dilakukan pada 21 September
Sementara itu, salah
2015 yang lalu, bertempat
satu penerima hewan Qurdi Kantor Direksi PTPN X.
”dalam mencapai rasa cinta kepada allah, kita
Sebanyak dua ekor sapi
harus siap mengorbankan segala yang kita cintai, ban, Ali Nur yang mewakili
Yayasan Al Ikhlas mengudan 16 ekor kambing diseentah itu uang, harta, ataupun keluarga,”
tarakan, pihaknya sangat
rahkan kepada 17 yayasan
berterima kasih dengan
yang telah ditunjuk sebe Subiyono
direktUr Utama ptpn X
bantuan hewan Qurban
lumnya. Dalam sambutanyang diberikan oleh PTPN
nya, Direktur Utama PTPN
X. Ia berharap bantuan semacam ini
setiap hari memakan daging. Bahkan
X Subiyono, mengutarakan bahwa Idul
tidak hanya berhenti pada saat momen
bagi kelompok tertentu, makan daging
Adha menjadi momentum dalam mengitu saja tetapi bisa terus berkelanjutan.
bisa jadi hanya setahun sekali, ketika
abadikan pengorbanan Nabi Ibrahim
“Alhamdulillah, kami sangat berIdul Qurban saja.
yang bersedia melaksanakan perintah
terima kasih atas pemberian hewan
Dari sisi pekerjaan, ia meminta keAllah untuk menyembelih putera satuqurban yang telah diberikan. Semoga
pada para karyawan untuk terus bersatunya yang beliau cintai, Ismail.
bermanfaat dan dapat berguna terutausaha optimal guna kemajuan dan
“Pelajarannya, dalam mencapai
ma bagi mereka yang membutuhkan,”
kesuksesan perusahaan ke depan. Serasa cinta kepada Allah, kita harus
pungkas pria yang menerima satu ekor
perti diketahui bahwa PTPN X telah
siap mengorbankan segala yang kita
sapi tersebut.
ditunjuk pemegang saham sebagai
cintai, entah itu uang, harta, ataupun
 Laporan: SekAr Arum
keluarga,” kata dia. Bukti perjuangan,
ujarnya, adalah pengorbanan. Maka
momen Idul Adha memberikan pelajaran untuk melatih umat senantiasa
berkorban secara ikhlas kepada Allah
semata.
Sementara, efek sosial dari praktik qurban di Idul Adha ialah berbagi.
Sebab tidak semua masyarakat dapat
23
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 KANtoR DIReKSI PtPN X
foto: dery ardiansyah
focus GrouP discussion (fGd) PtPn X
Jadi Percontohan
SPI oleh PTPN Lain
 Laporan: SekAr Arum
24
keBerhaSilan PT Perkebunan
Nusantara (PTPN) X mengelola risiko
usaha dalam setiap pengambilan keputusan di era perubahan lingkungan bisnis yang sangat cepat, rupanya
menarik perhatian PTPN lain.
Pasar yang kian kompetitif menuntut pelaku usaha untuk mampu bersaing baik di dalam negeri maupun di
pasar internasional. Oleh karena itu,
PTPN X merancang dan menerapkan
Sistem Pengendalian Intern (SPI) yang
efektif serta mengelola risiko perusahaan secara terpadu, yang merupakan bagian dari pelaksanaan program
Good Corporate Governance (GCG).
Selain itu, pemahaman terhadap
rancangan dan efektivitas penerapan
SPI serta pengelolaan risiko perusahaan menjadi suatu keharusan bagi
para auditor internal dan auditor eksternal. Apalagi dengan penggunaan
risk based audit, di mana auditor diharuskan melakukan pengujian yang
 Samuel tuasela
kepala UrUsan pengawasan keUangan
dan non prodUksi - spi ptpn X
lebih mendalam terhadap area-area
yang mempunyai risiko terjadinya penyimpangan yang tinggi.
Langkah-langkah yang sudah dilakukan PTPN X membuat PTPN lain
ingin menerapkan hal tersebut. Dibuktikan melalui Forum Group Discussion
(FGD) tanggal 15 September 2015 lalu,
yang dihadiri oleh Perwakilan dari PTPN-PTPN seperti PTPN III, PTPN VII,
PTPN XI, PTPN XII, dan yang lainnya.
Seperti yang diutarakan oleh Samuel Tuasela, Kepala Urusan Pengawasan Keuangan dan Non Produksi - SPI
PTPN X, bahwa sebagai sebuah perusahaan BUMN dimana seluruh atau
sebagian besar modalnya berasal dari
kekayaan negara yang dipisahkan,
PTPN X mempunyai kewajiban untuk
menetapkan suatu sistem pengendalian intern yang efektif untuk mengamankan investasi dan aset perusahaan. “Penerapan sistem pengendalian
intern yang efektif dan pengelolaan
risiko perusahaan secara terpadu menjadi sangat penting, mengingat jumlah
aset negara yang dikelola oleh BUMN
sangat signifikan,” terangnya.
Untuk PTPN X sendiri, lanjutnya,
penerapan SPI sudah dilakukan sejak
lama, tak hanya di Kantor Direksi tapi
juga Unit Usaha lainnya. Proses inipun harus dilakukan secara obyektif,
sistematis, serta independen, dimana
manajemen dan karyawan berperan
aktif dalam kegiatan perusahaan.
Peran aktif tersebut misalnya dalam hal menilai risiko dan mengevaluasi pengendalian atas kegiatan, serta
merumuskan penyempurnaan perbaikan guna membantu mencapai target
perusahaan. Untuk itu, iapun berharap
dengan penerapan SPI ini, semua lini
yang ada mampu melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan
untuk mencapai pengelolaan efektif,
efisien, transparan dan akuntabel.
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
forMula Baru Poc
Up Grade Kualitas POC
Sesuai Harapan Petani
 Laporan: SekAr Arum & SAP JAyAnti
Penggunaan Pupuk Organik Cair
(POC) diharapkan bisa memperbaiki
fisik, sifat kimia maupun biologi tanah. Meskipun sudah diaplikasikan,
namun penyempurnaan terus dilakukan agar hasil tanaman bisa sesuai
dengan harapan.
POC yang sekarang digunakan berasal dari hasil samping pengolahan bioetanol yang berupa vinasse, kemudian
diperkaya dengan mikroba-mikroba
organik sebagai agen hayati budidaya
tebu. Tidak seperti pupuk kimia pada
umumnya yang hanya menambahkan
nutrisi, pupuk hayati menambahkan
nutrisi melalui proses alami memperbaiki atmosfer tanah, melarutkan
fosfor, dan merangsang pertumbuhan
tanaman dengan memicu sintesis zat
tertentu yang dibutuhkan. Salah satu
fungsi POC ialah meningkatkan pH
tanah dan meningkatkan KTK (Kapasitas Tukar Kation).
Baru-baru ini, dilakukan up grade
pada formula POC yang selama ini
diaplikasikan. ”Sebelumnya manfaat
dari POC belum dapat dirasakan secara cepat. Padahal itu hanya secara
visual saja,” kata Direktur Produksi PT
Rajawali Usaha Nabati (RUN), Sigit.
PT RUN merupakan produsen POC.
Dari hasil tes menunjukkan bahwa kepadatan klorofil pada tanaman yang
menggunakan POC lebih tinggi.
Dituturkan Sigit, karakter pupuk
organik adalah slow release dan warna
daun tidak segelap pada tanaman yang
menggunakan pupuk nitrogen. Karena sifatnya yang slow release, maka
dampak pada tanaman secara visual
akan terlihat pada umur 6-7 bulan, karena unsur-unsur yang ada di dalam-
nya digunakan untuk pertumbuhan
termasuk pembentukan sukrosa.
Pupuk organik juga mengikuti
cuaca. Pada saat panas tinggi dan air
bawah tanah berkurang, maka tanaman yang dipupuk menggunakan POC
akan memiliki keseimbangan hormonal. “Tetapi bagi petani, kalau tidak hijau, kurang puas. Jadi sekarang kami
tambahkan sedikit urea agar sesuai
dengan selera petani,” tambahnya.
Menurut Direktur Produksi PTPN X,
Tarsisius Sutaryanto, pupuk ini merupakan penyeimbang pupuk anorganik.
Dan tentunya produksi dan rendemen
tebu dapat meningkat secara signifikan. Selain di tanaman tebu, POC dapat diaplikasikan pada tanaman lain
seperti padi dan lain sebagainya.
Ditambahkannya bahwa dengan adanya pupuk organik cair ini dapat membantu menjawab keresahan petani akan
kebutuhan pupuk yang semakin sulit
akhir-akhir ini. Dengan uji coba formula yang baru tersebut, efektivitas pupuk akan nyata terlihat. Pasalnya yang
dulu satu hektar lahan membutuhkan
pupuk hingga 15 kiloliter kini hanya 5-8
kiloliter per hektar. “Hasil penyelesaian
uji coba POC dengan formula baru ini
diharapkan akan selesai pada produksi
giling tahun 2017,” lanjutnya.
 PeNgguNAAN Pupuk Organik Cair (POC) diharapkan bisa memperbaiki fisik, sifat kimia maupun biologi tanah.
foto: dery ardiansyah
25
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto- foto: dery ardiansyah
 DIReKtuR Perencanaan dan Pengembangan PTPN X, M.Sulthon ditengah Ratusan warga sekitar PG
Lestari membuka acara Jalan Sehat Bersama dengan Tema BUMN Untuk Negeri.
70 taHun KeMerdeKaan indonesia
’BUMN Hadir untuk Negeri’
Wujud Pengabdian BUMN untuk Bangsa
 Laporan : SekAr Arum & SAP JAyAnti
26
dalaM rangka memperingati ke-70
tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, seluruh Badan Usaha Milik Negara
(BUMN) dibawah komando Menteri
BUMN, Rini M. Soemarno menggelar
berbagai kegiatan guna merayakan hari
kemerdekaan RI.
Kegiatan BUMN yang diselenggarakan sebelum dan sesudah atau bertepatan dengan perayaan 17 Agustus 2015
mengusung tema “BUMN Hadir Untuk
Negeri”. Hal ini merupakan wujud terima kasih seluruh Badan Usaha Milik
Negara (BUMN) kepada negeri karena
kehadiran dan peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tidak bisa lepas dari
Sejarah Bangsa Indonesia.
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X
dalam hal ini Pabrik Gula (PG) Lestari,
Meritjan dan Pesantren Baru, dipercaya
Kementerian BUMN untuk menjadi
ketua kegiatan untuk wilayah Provinsi
Jawa Timur Rayon XI bersama BUMN
lainnya seperti Bank BNI 46, BRI, Bank
Mandiri, Jiwasraya, PT Pos Indonesia,
Telkom, Petrokimia Gresik, PLN dan
Perhutani. Salah satu rangkaian kegiatan guna memperingati hari kemerdekaan RI yakni Jalan Sehat bersama
sepanjang 5 km dan rangkaian lombalomba lainnya.
“PTPN X bersama-sama BUMN lain
mendapat mandat dari Kementerian
BUMN untuk menyelenggarakan acara khusus BUMN Hadir untuk Negeri
di Rayon XI. Ini merupakan bentuk
pengabdian dan persembahan BUMN
bagi bangsa Indonesia untuk menyemarakkan HUT RI yang telah memasuki
usia ke-70 tahun,” ujar Direktur Perencanaan dan Pengembangan PTPN X,
M.Sulthon kala membuka jalan santai di
PG Meritjan yang diikuti hampir kurang
lebih 3000 masyarakat Kediri dan sekitarnya.
Sementara itu, General Manager
(GM) PG Meritjan, Alan Purwandiarto,
yang ditemui pada acara yang sama
mengutarakan bahwa pihaknya sangat
menyambut baik adanya kegiatan seperti ini. Tidak hanya dapat menyinergikan BUMN yang ada di lingkungan Karisidenan Kediri dan sekitarnya, namun
kegiatan ini juga mampu mendekatkan
masyarakat dengan instansi BUMN
yang ada. “HUT Kemerdekaan RI merupakan momen yang sangat penting bagi
bangsa Indonesia. Diharapkan dengan
adanya program BUMN Hadir untuk
Negeri ini dapat memberikan manfaat
bagi masyarakat dan menyemarakkan
semangat kemerdekaan,” tuturnya.
Kegiatan serupa dilakukan pula di
PG Lestari yang berlokasi di Kabupaten
Nganjuk. Mengambil start di Lapangan
tetes PG Lestari, sekitar 3000 peserta
menempuh rute sepanjang 8 km. Seusai jalan sehat, peserta sudah disediakan nasi bungkus serta hiburan sembari
menunggu pengundian 70 sepeda yang
dibagikan panitia.
uPAcARA BeNDeRA
Tepat pada tanggal 17 Agustus upacara bendera diselenggarakan di dua
lokasi yaitu PG Pesantren Baru dan PG
Lestari. Di Kabupaten Nganjuk, upacara
yang diikuti insan BUMN dilaksanakan
di lapangan PG Lestari dan dipimpin
oleh GM PG Lestari Soekamto Partowijoyo.
Membacakan sambutan Menteri
BUMN, Soekamto menyebutkan bahwa
kemerdekaan bisa terwujud berkat komitmen kuat seluruh bangsa Indonesia
agar bisa lepas dari penjajahan. Dalam
konteks masa kini, dibutuhkan pula
komiten bersama untuk berubah, untuk
memerdekakan diri dari zona nyaman.
Di era kemerdekaan, peran dan kontribusi BUMN terus meningkat baik
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 semakin meriah dengan acara
panjat pinang.
bagi APBN melalui dividen maupun pajak, serta bagi kesejahteraan masyarakat
melalui produk dan penciptaan lapangan kerja. Total aset BUMN kini telah
mencapai Rp 4.600 Triliun, tentunya
dengan aset sebesar ini kontribusi terhadap perekonomian nasional semakin
besar.
Sukamto menyebutkan, peran nyata
BUMN diwujudkan dalam pembangun­
an proyek-proyek strategis yang nilainya
cukup besar. Pada tahun 2015 terdapat
sekitar 86 proyek yang dikerjakan oleh
25 BUMN dengan total nilai proyek mencapai Rp 318,5 Triliun dan 5,1 Miliar dollar AS. Proyek-proyek tersebut antara
lain pembangunan jalan tol, pembangkit listrik tenaga uap, kepelabuhanan
dan kebandaraan serta eksplorasi dan
produksi minyak dan gas.
Lebih lanjut disebutkan bahwa perayaan 70 tahun Indonesia Merdeka
harus dijadikan tonggak BUMN memberikan kontribusi yang optimal bagi
masyarakat. BUMN harus hadir langsung di tengah-tengah masyarakat. Oleh
karena itu, BUMN menginisiasi program
ini yang diselenggarakan secara serentak
di 34 provinsi di Indonesia, yang menjadi pertanda pula BUMN mampu bersinergi untuk membangun negeri. Serangkaian kegiatan yang akan dilaksanakan
antara lain program sembako murah,
bedah rumah veteran, bantuan penambahan fasilitas laboratorium SMK, jalan
sehat dan berbagai perlombaan serta
program lainnya seperti pemutaran film
yang bertema nasionalisme.
Sementara itu di Kediri, upacara di
PG Pesantren Baru, dipimpin langsung
oleh GM PG Pesantren Baru, Dwi Djoto
Poerwantono. Mengutip pernyataan
Gubernur Jawa Timur, Soekarwo, Dwi
Djoto Poerwantono dalam sambutannya
menerangkan bahwasanya Pemerintah
Provinsi Jawa Timur mendukung tema
Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke70 tahun, ‘Ayo Kerja’ yang dicanangkan
pemerintahan Presiden Joko Widodo
(Jokowi).
Implementasinya di Jatim yakni
dengan memperkuat perdagangan dalam negeri dan memperkuat industri
sebagai backbone dari ekonomi. Ditambahkannya, melalui gerakan ‘Ayo Kerja’
pemerintah bersama seluruh lapisan
masyarakat mengisi kemerdekaan dengan kerja. “Untuk mengisi kemerdekaan dapat dilakukan melalui peningkatan kesejahteraan dengan tetap menjaga
stabilitas politik dan kemasyarakatan
guna mewujudkan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia,” katanya.
Selain itu, tema ‘Ayo Kerja’ juga dinilai bukanlah sekedar kerja biasa. Ini
karena dengan kerja cerdas dan nyata,
bangsa Indonesia akan bisa membangun jiwa dan raganya untuk kejayaan
Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI) dan mampu mewujudkan semua cita-cita yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945.
Di bagian lain, pria yang kerap disapa
DD ini mengungkapkan, nilai transaksi
perdagangan di Jatim khususnya di
dalam negeri tahun 2014 mencapai Rp
90,33 Triliun naik Rp 19,91 Triliun (28,2
persen) dibanding dengan tahun 2013.
Tren perdagangan dalam negeri tahun
2009-2014 surplus meningkat 936 persen dan rata-rata tumbuh 187 persen per
tahun. Bahkan, yang lebih menggembirakan lagi nilai transaksi perdagangan
dalam negeri sampai dengan semester
satu tahun 2015 sudah mencapai Rp
56,59 triliun.
“Meski sudah memasuki era MEA di
akhir 2015 nanti, kita akan tetap menjaga dan mengoptimalkan potensi perdagangan antar pulau karena ekspor
dalam negeri ini tak kalah pentingnya
dengan ekspor ke luar negeri,” pungkasnya.
Pemutaran Film & Lomba-lomba
Seusai upacara, PG Lestari juga menyerahkan bantuan berupa paket sembako dan bantuan laptop untuk dua SMK
yaitu SMKN 1 Kertosono dan SMKN 1
Tanjung Anom. Selain upacara bendera, sebelumnya juga diselenggarakan
pemutaran film bertema nasionalisme
di PG Pesantren Baru dan PG Lestari.
Setelah upacara bendera, acara dilanjutkan dengan beragam lomba di
kedua PG tersebut. Seperti di PG Pesantren Baru yang mengadakan lombalomba khas 17 Agustusan seperti lomba
makan krupuk dan memindahkan kelerang dengan sumpit bagi ibu-ibu IIKB.
Untuk warga umum beragam lombapun
disediakan dengan beragam hadiah menarik antara lain balap karung dan lomba panjat pinang.
Suasana di PG Lestari pun tidak kalah meriah. Diiringi kesenian jaranan,
warga dan karyawan PG lebur dalam
kemeriahan lomba. Meskipun digelar di
bawah terik matahari, semua lomba seperti panjat pinang, balap karung, bakiak berkelompok, dan balon berpasangan ramai diikuti peserta yang terdiri dari
warga sekitar PG, karyawan serta IIKB.
Tidak ketinggalan pula anak-anak yang
mengikuti lomba memindahkan kelereng menggunakan sendok. 
27
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
resePsi Hut Ke-70 taHun rePuBliK indonesia
Tidak ada Kemerdekaan
Tanpa Perjuangan & Komitmen
 Laporan : SiSkA PreStiwAti
keMerdekaan Bangsa Indonesia bukanlah sebuah hadiah melainkan
perjuangan dari seluruh rakyat Indonesia yang mengorbankan harta, jiwa dan
raga. Bangsa Indonesia tidak akan pernah merdeka, bila para pendahulu tidak
memiliki komitmen yang tinggi untuk
bebas dari penjajah apapun pengorbanannya.
Direktur Utama PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Subiyono mengungkapkan apabila dibandingkan dengan
masa penjajahan Belanda di Indonesia
yang selama 350 tahun, maka 70 tahun
masa kemerdekaan ini adalah waktu
yang sangat pendek. Namun bila dikaitkan dengan pembangunan, maka 70
tahun adalah waktu yang cukup untuk
mengabdi kepada negara.
“Kita harus bersyukur dan menyampaikan terima kasih kepada para pendahulu. Tugas kita sebagai penerus
perjuangan adalah mengisi kemerdekaan dengan membangun bangsa ini
menjadi bangsa yang semakin maju,”
kata Subiyono dalam sambutannya pada
acara Resepsi Peringatan HUT ke 70 Ke-
28
merdekaan RI - Pemberian Penghargaan
Masa Pengabdian 25,30,35 Tahun dan
Pelepasan Calon Jamaah Haji Tahun
2015 PTPN X, Kantor Direksi, Selasa
(18/08/2015).
Dalam resepsi dengan tema : Ayo
Kerja untuk Bangsa!, Ayo Kerja untuk
Negara!, Ayo Kerja untuk Rakyat! tersebut, Subiyono menjelaskan untuk merebut kemerdekaan membutuhkan perjuangan, komitmen, dan tekad yang sangat
kuat. Ini adalah nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu bangsa ini.
“Kita telah diajari oleh pendahulu
kita bahwa tidak akan ada kemerdekaan
dan kebahagiaan yang turun dari langit
tanpa perjuangan dan komitmen yang
keras. Begitu pula dengan perusahaan
ini, setiap karyawan harus mempunyai
komitmen yang kuat,” ujar mantan
Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Jawa
Timur ini.
Masih menurut Subiyono, Presiden
pertama RI sekaligus Bapak Proklamator, Bung Karno memiliki slogan yang
sudah sangat dikenal yaitu ‘Jas Merah’
atau Jangan Melupakan Sejarah. Sebelum menyatakan kemerdekaan RI, dalam pidatonya Bung Karno selalu me-
ngatakan bahwa Bangsa Indonesia akan
segera merdeka. Saat ditanya kapan,
maka Bung Karno akan menjawab kelak
saat perang Asia Afrika. Hal itu oleh ahli
sejarah disebutkan bahwa Bung Karno
telah mempelajari fenomenalogi atau
ilmu fenomena dan memanfaatkan fenomena tersebut untuk meraih kemerdekaan. ”Begitu pula dengan perusahaan ini,
dengan selalu melihat dan mempelajari
fenomena-fenomena yang ada, kita akan
bisa mengantisipasi hal-hal yang ada di
depan,” paparnya.
Subiyono mengungkapkan bahwa
tanggal 17 Agustus 2015, dirinya mengikuti upacara kemerdekaan di Palu, begitu sampai di Surabaya, pada 17 Agustus
malam, dirinya langsung menginstruksikan agar resepsi perayaan HUT RI ke-70
tahun digelar tanggal 18 Agustus 2015.
“Itu artinya panitia memiliki waktu yang
singkat untuk mempersiapkan acara dan
bisa dilihat acara ini berjalan dengan
lancar dan sukses. Cara seperti ini yang
saya terapkan di PTPN X yaitu gerak cepat,” tegasnya.
Dalam dialog Presiden RI Joko Widodo dengan seorang petani tebu di salah
satu TV swasta, petani tebu tersebut
foto: dery ardiansyah
 DIRut PTPN X, Subiyono di hadapan Direksi PTPN X memotong tumpeng yang akan diserahkan kepada Komisaris Utama PTPN X, Prof. Rudi Wibowo.
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Penerima Penghargaan
Masa Pengabdian
PTPN X Tahun 2015
foto: dery ardiansyah
 Dirut PTPN X, Subiyono menyerahkan penghargaan kepada karyawan dengan masa bakti 25, 30
dan 35 tahun.
mengeluh rendemennya tidak pernah lebih dari lima persen, karena itu dia akan
segera meninggalkan tebu dan beralih ke
komoditas lain yang lebih menguntungkan. “Jokowi menjawab jangan menyerah karena di Jawa Timur saat ini sedang
dibangun pabrik gula yang terintegrasi
dan saya sudah menginstruksikan untuk
seluruh pabrik gula agar berbenah,” kata
Subiyono menirukan pernyataan Jokowi
Presiden.
Menurutnya, semua ini tidak akan
mungkin terjadi tanpa kerja keras dan
komitmen yang kuat dari seluruh Sumber Daya manusia (SDM) yang ada di
PTPN X. Begitu pula dengan pencapaian Sistem Manajemen Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (SMK3) yang berhasil
diterapkan di PG Gempolkrep dan PG
Modjopanggoong dan menjadi pabrik
gula terbaik yang berhasil menerapkan
SMK3. “Tanggal 15 September nanti,
kita akan menerima penghargaan SMK3
dari Presiden,” ungkapnya dengan senyum bangga.
Subiyono menjelaskan PTPN X sudah
selesai melakukan revitalisasi pabrik
gula dan sudah melakukan deversifikasi
produk. Bahkan, alat-alat di pabrik gula
milik PTPN X sudah relatif modern. Selanjutnya, perhatian akan diarahkan ke
Sumber Daya Manusia (SDM). ”Saya
akan seleksi talenta-talenta terbaik.
Karena di ‘atas’ sana dibutuhkan SDM
dengan daya tahan tinggi karena suhu di
‘atas’ sana semakin dingin,” ungkapnya.
Maka, hukum lama perusahaan akan
berlaku. Siapa yang mempunyai talenta
terbaik dan memahami tantangan-tantangan perusahaan ke depanlah yang
akan ikut bersama-sama membangun
perusahaan ini.
Di tempat yang sama, Komisaris
Utama PTPN X, Prof Rudi Wibowo
membacakan renungan kemerdekaan
bahwa merdeka itu bukan sekedar bebas. Tidak mudah memang memaknai
arti kemerdekaan karena setiap orang
bisa memiliki persepsi berbeda tentang
kata merdeka. “Sayangnya, ini semakin
mereduksi arti kemerdekaan, anak cucu
kita tidak akan memahami arti kemerdekaan seperti orang tua kita dan jangan
kaget bila suatu saat hari kemedekaan
hanya dimaknai seperti hari libur biasa
atau hari minggu,” imbuhnya.
Berdasarkan kamus, merdeka diartikan sama dengan kata kebebasan. “Tapi
saya tidak puas. Kata merdeka punya
akar kata dari sanksekerta yaitu mahadika yang artinya arif, berakal, berpendidikan, luhur, mulia dan berbudi,”
ungkapnya. Berangkat dari kata ini, kemerdekaan punya arti lebih dalam bukan hanya sebatas bebas.
Merdeka bukan hanya sebagai pribadi yang bebas, tetapi pribadi yang utuh
punya keseimbangan budi pekerti dan
ilmu, menjadi pribadi yang dengan sadar
memiliki kemampuan yang dimiliki untuk membangun bangsa ini. Situasi bangsa yang merdeka tidak membuat warga
negara langsung menjadi pribadi yang
merdeka karena masih banyak korupsi,
masih banyak orang yang bingung mencari sesuap nasi.
Dalam kesempatan tersebut, Rudi
menyampaikan terima kasih atas pengabdian kepada karyawan-karyawati yang
mendapatkan penghargaan untuk masa
pengabdian 25 tahun, 30 tahun, dan 35
tahun. Sebab, dengan kerja keras mereka, perusahaan ini bisa berkembang
sampai saat ini. “Kita semua punya tugas masing-masing kesana. Pengabdian
tidak sederhana dan bukan waktu yang
sempit. Namun mereka telah mendarmabaktikan waktunya untuk perusahaan,
sekali lagi saya ucapkan terima kasih,”
ujarnya.
Penghargaan
Masa Pengabdian 25 Tahun
Ir. Priyono Utomo, Administratur PG Camming
(saat ini menjalani pensiun)
Ir. Totok Sarwo Edi, Kepala Divisi Teknik
Ir. H. Totok Hindrawan, Kaur. Teknik Wilayah
1 – Divisi Teknik
Ir. Djoko Purwo Setyohadi, Kaur. QC Bahan
Baku – Divisi QC & Pengembangan Lahan
Ir. Rochmad Purwanto, Asisten Muda 1 – Divisi
Perencanaan dan Pengembangan
Sri Juliastuti, SH, Asisten Muda 1 – Biro Hukum
Supriyadi, Asisten Muda 1 – Divisi Pengadaan
Barang dan Jasa
Penghargaan
Masa Pengabdian 30 Tahun
Drs. Budianto Dwi Nugroho, Kepala Divisi
SDM & HI
Swasono, SE, Kepala Divisi Keuangan
Eko Budhi Djuniarto, ST, Kepala Divisi
Pengolahan
Ir. Budi Adi Prabowo, MM, GM PG
Gempolkrep (menjalani pensiun & saat ini
menjabat Direktur Produksi PTPN XI)
Drs. H.Arifin, MM, Kuasa Direksi di Makassar
Drs. Dwi Djoto Poerwantono, MM, GM. PG
Pesantren Baru
Ir. H. Abdul Munib, MM, GM PG Tjoekir
Zaenal Arifin, SP, GM PG Watoetoelis
Mochamad Rochmat, SP, Kaur Pengawasan
Produksi – SPI
Rudy Asmono, Kaur Pengolahan Wilayah II –
Divisi Pengolahan
Rudhy Kadriyo Putranto, SE, Kaur
Perencanaan Anggaran – Divisi Keuangan
Sriwardhani Kuswolowati, Kaur
Pengembangan SDM – Divisi SDM &HI (dalam
Masa Bebas Tugas/MBT)
M.E. Gristianti, SH,CN,M.KN, Kaur
Administrasi & Pemeliharaan Aset – Divisi
Umum (dalam Masa Bebas Tugas MBT)
Ir. H. Mohammad Makrub, MM, Peneliti
Madya – Litbang Djengkol – Divisi Renbang
Benyamin Saptoadi, Auditor Pertama
Pengawasan Produksi – SPI (saat ini menjalani
pensiun)
H. Nurcahyono, ST, Auditor Pertama
Pengawasan Produksi – SPI
Harsi Dwi Tjahjani, SE, Auditor Pertama
Pengawasan Keuangan & Non Produksi – SPI
Drs. Legimin, Ass.Ur. Teknik – Divisi Teknik
Hj. Sri Rahayuningtyas H, SH, MM, Ass. Ur.
Perkreditan, Saprodi & TR – Divisi Budidaya
Tebu
Humphrey Oscard B. Tanasela, ST, Ass. Ur.
Pemberdayaan Aset – Divisi Renbang
Sri Rejeki Suyanto, Asisten Muda 1 – Divisi
Budidaya Tebu
Suroso, Asisten Muda 1 – Divisi Akuntansi
Soeyanto, Asisten Muda 1 – Divisi Umum
Penghargaan
Masa Pengabdian 35 Tahun
Al Maarif, Kepala Urusan Pemasaran
Tembakau – Divisi Tembakau
Tri Wahyuningsih, SP, Kepala Penelitian
Tembakau Jember-Divisi Renbang (saat ini
menjalani pensiun)
29
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
PerinGatan Hut Ke-70 ri di PtPn X
Gelar Lomba Olahraga
di Hari Kemerdekaan
Hari kemerdekaan rI yang diperingati setiap tanggal 17 agustus sudah lekat dengan
berbagai perlombaan. Di pT perkebunan nasional (pTpn) X pun tidak ketinggalan.
 RANgKAIAN kegiatan karyawan PTPN X dalam perlombaan bola volly memperingati HUT ke-70 Kemerdekaan RI di Kantor Direksi.
 Laporan : SAP JAyAnti
30
keMeriahan sudah terdengar sejak pagi di Hari Jumat (14/8) di lapangan voli yang berlokasi di dekat Kantor Direksi PTPN X, Jalan Jembatan
Merah Surabaya. Dua tim yang terdiri
dari karyawati Kantor Direksi dan Ikatan Istri Keluarga Besar (IIKB) sudah
siap berhadap-hadapan.
Pertandingan dua set berlangsung seru
meskipun tim karyawati harus mengakui
keunggulan IIKB dengan kemenangan
telak 25-7 dan 25-5. ”Kami berlatih setiap Jumat. Ibu-ibu yang awalnya tidak
bisa service, sekarang bisa. Yang dulunya takut bola, sekarang sudah berani,”
kata kapten tim IIKB, Yuni Santoso yang
walaupun mengaku sedang kurang sehat
namun tetap mampu tampil apik.
Setelah pertandingan pembuka
tersebut, pertandingan antar karyawan
Kantor Direksi yang terbagi dalam empat tim dari empat direktorat berlangsung lebih seru. Masing-masing tim
terdiri dari dua karyawati dan empat
karyawan gabungan dari beberapa divisi dalam satu direktorat. Beberapa
karyawan tampak sudah terbiasa bermain dan menguasai lapangan. Namun
tidak sedikit juga yang masih tampak
kikuk memegang bola. Namun semuanya tetap bersemangat.
Susul menyusul skor dan teriakan
dukungan dari suporter mewarnai sepanjang pertandingan. Setelah melalui
pertandingan ketat, tim ungu dari Direktorat Renbang yang diperkuat personil
foto- foto: dery ardiansyah
dari keamanan berhasil menumbangkan tim ungu dari Direktorat Produksi
meski harus menjalani pertandingan
hingga tiga set. Sementara pemenang
ketiga diraih tim kuning dari Direktorat
SDM yang mengalahkan tim hijau dari
Direktorat Keuangan.
Setelah lelah berolahraga, kegiatan
dilanjutkan dengan donor darah yang
bekerjasama dengan PMI Surabaya.
Sekitar 40 karyawan turut berpartisipasi dalam kegiatan sosial ini.
Selang beberapa hari kemudian perlombaan olahraga kembali dilanjutkan
dengan menggelar lomba tenis meja dan
bulu tangkis. Tidak kalah dengan pertandingan sebelumnya, karyawan pun
bersemangat mengikuti kedua lomba
tersebut.
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto- foto: dery ardiansyah
 PeSeRtA pelatihan memperhatikan penjelasan tentang pengolahan tanah di Kebun Puslit
Djengkol Kediri.
ditjenBun KeMentan
Siapkan Tenaga Teknis
yang Paham Tebu
 Laporan: SiSkA PreStiwAti
untuk menyukseskan program pemerintah membangun swasembada
gula di Indonesia, dibutuhkan SDM
yang memahami budidaya tebu, mulai
dari teknis hingga manajemen.
Kasubdit Pemberdayaan dan Kelembagaan Tanaman Semusim Direktorat
Jenderal Perkebunan Kementerian
Pertanian, Demitria Dewi mengatakan,
untuk bisa mewujudkan swasembada
gula maka kendala yang ada harus diselesaikan terlebih dahulu. Kendala
yang ada tidak lain adalah pemenuhan
produk dan produktivitas, kesulitan lahan, varietas, serta Sumber Daya Manusia (SDM). “Untuk itu, kami melakukan pelatihan peningkatan kapabilitas
petugas teknis dalam budidaya tebu
baik di tingkat pusat, provinsi, maupun kebupaten/kota,” kata Demitria
disela-sela acara Praktek Lapang Pelatihan Peningkatan Kapabilitas Petugas
Teknis dalam Budidaya Tebu di Puslit
Gula Jengkol-Kediri, September lalu.
Demitria menjelaskan, petugas
teknis harus bisa membantu petani merencanakan budidaya tebu mulai dari
kebutuhan bibit, pupuk, hingga waktu
Tebang Muat Angkutnya (TMA). Selain
pengetahuan teknis, petugas juga harus
memahami manajemennya sehingga
bisa mengetahui kapan waktu yang te-
pat untuk melakukan tahapan-tahapan
budidaya tebu hingga proses TMA-nya.
Sehingga angka rendemen yang dihasilkan tinggi.
Ia menuturkan, tanaman tebu sudah ada di Indonesia lebih dari seabad, bahkan banyak orang yang bilang
bahwa menanam tebu sangatlah mudah, cukup dilemparkan saja akan tumbuh. Namun, untuk bisa mendapatkan
tebu berkualitas dan memiliki rendemen yang tinggi tidaklah semudah itu.
Dibutuhkan ilmu tentang budidaya
tebu yang mengikuti karakter tebu itu
sendiri agar tebu bisa tumbuh dengan
maksimal. “Rendemen itu ada di tebu,
sementara pabrik gula mengukur dan
memroses tebu menjadi gula kristal
putih,” ungkapnya.
Di tempat yang sama, Kasubdit Budidaya Tanaman Semusim, Direktorat
Tanaman Semusim Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Gede Wirasuta menjelaskan, untuk
memenuhi kebutuhan gula di dalam
negeri dibutuhkan kurang lebih sepuluh pabrik gula. Untuk itu, pemerintah
membantu dengan menyiapkan bahan
bakunya yaitu tebu.
“Sayangnya, di era otonomi daerah
ini banyak petugas teknis di kabupaten/
kota bukan orang dari pertanian atau
perkebunan. Bahkan ada yang ekstrim
di satu kota, petugas teknis dari orang
pekerjaan umum dan bidang lainnya,”
ungkapnya. Hal ini, jelas Gede Wirasuta, akan membuat pemerintah kesulitan mewujudkan program swasembada
gula. Apalagi kegiatan-kegiatan yang
selama ini dilakukan dinilai kurang tepat dan cenderung copy paste dari kegiatan tahun-tahun sebelumnya.
Pelatihan diikuti 100 orang peserta
dengan rincian 20 orang dari pusat
dan 80 orang dari tingkat provinsi dan
kabupaten/kota. Selain melakukan peningkatan kapabilitas petugas teknis,
pihaknya juga akan menjalin kerjasama
untuk mencari investor di beberapa pulau untuk mendirikan pabrik gula baru.
Tentunya, Kementerian Pertanian juga
melakukan perluasan areal tebu di pulau-pulau tersebut.
Pimpinan Pelatihan dari LPP Yogyakarta, Oni Apriyanto mengungkapkan,
bahwa sebelum dimulai pelatihan, 100
peserta telah mengikuti pre-test yang
hasilnya mayoritas peserta tidak memahami budidaya tebu. Dari hasil pretest, mayoritas peserta tidak memahami budidaya tebu. Khususnya petugas
teknis dari daerah pengembangan karena memang di sana sebelumnya tidak
ada tanaman tebu.
Oni menjelaskan, pelatihan dilakukan di Yogyakarta selama tiga hari
dengan materi di kelas. Materi tersebut mulai pengenalan sejarah tebu,
penataan varietas, pengolahan lahan,
pembibitan, pengenalan mekanisasi,
penanaman, tebang muat angkut,
penghitungan rendemen hingga pengenalan pengolahan tebu menjadi gula.
Pelatihan ini kemudian dilanjutkan sesi
praktik di lapangan dengan melihat
langsung tahap-tahapan budidaya tebu
di Puslit Gula Jengkol, serta melihat
proses produksi dari tebu menjadi gula
ke Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo.
“Pelatihan diberikan dengan pemberian materi di kelas, diskusi di kelas
hingga praktek di Puslit Jengkol dan
PG Ngadiredjo,” ungkapnya. Di hari
terakhir pelatihan, setiap peserta juga
harus mengikuti post test untuk melihat sejauh mana para peserta ini menyerap dan memahami setiap materi yang
diberikan selama pelatihan. “Terakhir,
setiap peserta kami minta untuk membuat action plan. Dari action plan yang
dibuat peserta inilah kami bisa melihat
seberapa dalam peserta dalam menyerap semua materi yang telah diberikan,”
tandasnya.
31
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
PencananGan GeraKan MeKanisasi
Tingkatkan Produktivitas
Hingga Tekan Biaya Produksi
pT perkebunan nusantara (pTpn) X terus mendorong
peningkatan produktivitas tebu nasional melalui
mekanisasi. pendekatan mekanisasi membuat budidaya
tebu menjadi lebih efisien dan efektif.
foto- foto: dery ardiansyah
 Dirut PTPN X, Subiyono bersama Bupati Mojokerto Mustafa Kemal Pasha menekan tombol sebagai
tanda dimulainya gerakan mekanisasi di wilayah PG Gempolkrep.
 Laporan: SekAr Arum
32
hal tersebut dibuktikan oleh Pabrik
Gula (PG) Gempolkrep. Dengan dibantu
dukungan Pemerintah Kabupaten Mojokerto, pencanangan mekanisasi dapat meningkatkan produktivitas sehingga dapat
menekan biaya produksi. Direktur Utama
PTPN X, Subiyono mengatakan bahwa
penerapan pertanian dengan peralatan
modern di wilayah kerja PTPN X sejauh
ini masih terganjal ketakutan para petani
tebu akan kehilangan batas lahan mereka.
Pasalnya, untuk menerapkan mekanisasi
dibutuhkan lahan seluas 10 ha.
“Kendalanya, provider masih kesulitan
untuk membuat hamparan (lahan) sebagai syarat mekanisasi. Mengubah mindset para petani tidak gampang, Kekhawatiran kehilangan batas tanah dan lain
sebagainya memengaruhi hal tersebut,”
kata Subiyono ketika memberikan sambutan dalam Pencanangan Gerakan Mekanisasi di Lapangan Sidonganti, Desa
Ngingasrembyong, Sooko, Mojokerto,
Kamis (3/9) pagi. Acara tersebut sekaligus dalam rangka tasyakuran ‘Tutup Tanam Tebu Hamparan Full Mekanisasi’.
Subiyono menggarisbawahi bahwa
PTPN X telah berusaha dalam Efisiensi,
Diversifikasi, dan Optimalisasi dalam
menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Pihaknya terus melakukan
riset dan inovasi demi menggenjot produksi gula menjadi lebih baik dan peningkatan kesejahteraan petani sebagai salah
satu target utamanya. “PG Gempokrep
secara statistik bisa dikatakan sangat
baik dalam produksi gulanya. Kita berharap mekanisme tanam tebu yang lebih
baik, bisa melesatkan laju produksi gula
dengan biaya yang lebih kecil”, ujarnya.
Bupati Mojokerto Mustofa Kamal Pasa
yang juga hadir meresmikan acara, secara simbolis membuka jalannya kegiatan
pencanangan didampingi Dirut PTPN X,
Subiyono. Pembukaan tersebut ditandai
prosesi penekanan tombol dan penyerahan satu unit mesin traktor kepada Ketua
Kelompok Petani Tebu Rakyat (KPTR)
Mitra Sejahtera Kecamatan Sooko, Abdul
Muin, mewakili para petani tebu se-Kabupaten Mojokerto.
“Saya harap mekanisme penanaman
tebu yang terus diperbaiki akan berpengaruh terhadap hasil produksi yang melimpah dan meningkatkan kesejahteraan
petani”, ujar Bupati di acara yang juga dihadiri oleh seluruh Kades se-Kabupaten
Mojokerto tersebut.
Di lain pihak, General Manajer PG
Gempolkrep, Hubertus Koes Darmawanto menyampaikan pandangan dan menyelipkan harapan pada pemerintah
untuk memikirkan stok gula yang cukup
banyak menumpuk di pabrik. “Kita berharap produksi gula tebu terus meningkat, bahkan surplus sehingga tidak usah
impor. Namun PR besarnya adalah bagaiman cara mengatasi penjualan yang
lambat, ditambah dengan harga yang
juga murah. Saya menyampaikan apresiasi dan terimakasih sebesar-besarnya
kepada Pemkab Mojokerto dan Bupati
Mustofa Kamal Pasa, karena turut memikirkan solusi dan perhatiannya terhadap nasib petani tebu Kabupaten Mojokerto. Semoga dengan perubahan sistem
manual ke mekanisme produksi, akan
meningkatkan hasil produksi tebu”,
harap pria berkacamata tersebut.
Kabupaten Mojokerto patut berbangga,
pasalnya PG Gempolkrep yang berlokasi
di Kecamatan Gedeg sempat disebut sebagai salah satu PG terbaik. Presiden RI,
Joko Widodo yang berkunjung beberapa
waktu lalu menilai bahwa PG Gempolkrep
punya sistem produksi dan pengolahan
tebu yang baik. Ia juga menyatakan bahwa
PG Gempolkrep termasuk dalam empat
PG terbaik yang ia singgahi. Bupati menyisipkan harapan besar kepada PG tersebut agar mampu memproduksi gula tebu
kualitas terbaik, namun juga dengan tidak
melupakan target untuk terus menyejahterakan petani tebu Kabupaten Mojokerto. Dalam acara tersebut juga disertai
penyerahan secara simbolis CSR berupa
bantuan normalisasi drainase kebun.
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
PtPn X raiH PenGHarGaan K3 tinGKat nasional
Tahun 2015, Targetkan
Penerapan SMK3 di Tujuh PG
 Laporan: cindHy lArASHAti
Pt Perkebunan Nusantara (PTPN) X
berhasil meraih penghargaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) tingkat nasional. Penghargaan K3 Tingkat
Nasional ini diserahkan secara langsung oleh Menteri Ketenagakerjaan RI,
M. Hanif Dhakiri, Kamis (10/09/2015),
di Hotel Bidakara Jakarta.
Pemerintah Republik Indonesia (RI)
memberikan apresiasi kepada perusahaan yang telah menerapkan Sistem
Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) melalui Penghargaan K3 Tingkat Nasional Tahun 2015.
Penghargaan ini diserahkan kepada
perusahaan yang berhasil menerapkan
lebih dari 90 persen kriteria SMK3, sesuai dengan Surat Edaran Dirjen Pembinaan Pengawasan Ketenagakerjaan
Tahun 2014.
Dua Pabrik Gula (PG) milik PT
Perkebunan Nusantara (PTPN) X,
yakni PG Gempolkrep (Mojokerto) dan
PG Modjopanggoong (Tulungagung)
berhasil meraih Penghargaan K3 terse-
but. Selain Penghargaan K3, M. Hanif
Dhakiri juga menyerahkan Penghargaan Zero Accident dan Penghargaan
Pencegahan Penanggulangan HIV/
AIDS.
Penghargaan K3 Tingkat Nasional
berhasil diraih oleh PG Gempolkrep
dan PG Modjopanggoong berdasarkan
hasil audit pada tahun 2014 oleh PT.
Jatim Aspek Nusantara (JAN), Perusahaan Jasa K3 (PJK3) di Bidang Audit SMK3. Hasil audit menunjukkan
bahwa PG Gempolkrep berhasil menerapkan 93,6 persen kriteria SMK3,
sedangkan PG Modjopanggoong menerapkan 94 persen dari seluruh kriteria SMK3. Hasil audit ini membuat PG
Gempolkrep dan PG Modjopanggoong
meraih penghargaan dengan kriteria
emas (memuaskan).
Penerapan SMK3 di PG PTPN X sudah dimulai sejak tahun 2014. PTPN
X diminta oleh Kementerian Tenaga
Kerja RI sebagai benchmark penerapan SMK3 di lingkungan PTPN,
khususnya PTPN dengan komoditas
gula. Pada tahun 2015, PTPN X telah
mengadakan empat kali pelatihan untuk sertifikasi ahli SMK3, yaitu Ahli
K3 Umum, Operator Boiler/Bejana
Tekan, Pesawat Uap, dan Perpanjangan Surat Izin Operator. Hingga tahun
2015, PTPN X memiliki 15 orang Auditor SMK3, 92 orang Ahli K3, 80 orang
Petugas K3, dan 192 orang operator.
Ke depannya, PTPN X akan terus
meningkatkan penerapan SMK3 di beberapa PG lainnya. PTPN X juga akan
mengikuti beberapa sertifikasi, seperti
sertifikasi Petugas K3 dan sertifikasi
Teknisi Listrik, guna memenuhi 166
kriteria penerapan SMK3. “Tahun ini
kami targetkan ada lima PG lagi yang
menerapkan SMK3 dan lolos audit
SMK3, yaitu PG Kremboong (Sidoarjo), PG Lestari (Nganjuk), PG Meritjan, PG Pesantren Baru, dan PG Ngadiredjo (Kediri). Jadi tahun ini kami
targetkan tujuh PG kami yang sudah
menerapkan SMK3. Tahun depan, semua PG kami yang berjumlah 11 PG
sudah menerapkan dan lolos audit
SMK3,” ujar Djoko Santoso, Direktur
SDM dan Umum PTPN X.
33
varietas
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
rendemen
[ rencana dan pengembangan manajemen ]
trasH ManaGeMent
Inovasi Baru, Siasati Perubahan
Iklim yang Semakin Ekstrim
foto- foto: dery ardiansyah
 lAhAN Trash Management, Puslit Djengkol.
 Laporan: SekAr Arum
34
ProduktivitaS tanaman tebu
tidak bisa dilepaskan dari kecukupan
air. Pendayagunaan air secara optimal perlu dilakukan agar kualitas dan
produktivitas tanaman tebu bisa dijaga, terutama saat musim kemarau.
Perubahan iklim telah menjadi fenomena global yang tak bisa dihindari lagi. Teori evolusi mengajarkan,
hanya makhluk hidup yang mampu
beradaptasi terhadap perubahan lingkungan lah yang dapat bertahan dan
melangsungkan kehidupannya. Sebagai makhluk hidup yang diharapkan mampu menghasilkan gula berlimpah melalui aktivitas fotosintesis,
keberadaan varietas tebu yang unggul
dan adaptif terhadap perubahan iklim
sangat diperlukan.
Ya, seperti diketahui peningkatan
produksi gula pada tanaman tebu da-
pat tercapai apabila ditunjang antara
lain dengan penerapan teknologi budidaya yang tepat, yang memperhatikan
sifat lahan dan kebutuhan air. Namun
teknik budidaya tebu lahan kering
menghendaki adanya pendayagunaan
air secara optimal, agar kebutuhan air
tanaman tebu dapat terpenuhi.
Untuk itu Pusat Penelitian Gula
Djengkol PTPN X, mencoba melakukan inovasi baru dengan melakukan
sistem Trash Management yang telah
dimulai per 1 Juni yang lalu. Kepala
Pusat Penelitian Gula Djengkol PTPN
X, Syahrial Koto, mengungkapkan,
upaya ini memang ditujukan untuk
menampung air sebagai cadangan
guna keperluan di kala musim kemarau. Hal ini telah diterapkan di Kolombia dan hasilnya sangat memuaskan.
Inovasi yang dimaksud adalah
dengan mengembalikan seluruh sisa
panen (crop residue) atau dengan kata
lain tidak melakukan pembakaran
trash (pucukan dan daduk) setelah
panen. “Pada dasarnya metode yang
diterapkan sangatlah mudah. Trash
yang terkumpul kemudian ditata secara selang seling 2 x 1 yakni dua baris
dikosongkan untuk digemburkan dan
satu baris berisi tumpukan trash. Baris
tumpukan trash ini pada tahun berikutnya dikosongkan agar secara bergilir semua baris bisa digemburkan,”
ujar pria berkacamata ini. Dengan cara
ini pekerjaan mekanisasi tidak akan
terhalang.
Ditambahkan Syahrial, untuk mempercepat proses dekomposisi bisa digunakan trash shredder dan teknologi
bioactivator. Pada kebun yang ditebang secara full mechanization dengan
combine harvester (chopper) maka
trash sudah terpotong-potong berukuran kecil sehingga sudah tidak diperlukan lagi trash shredder. Tinggal di-
rendemen
lakukan penataan saja menggunakan
peralatan wheel trash rake, sehingga
mempercepat proses dekomposisinya.
Dengan perlakuan trash management akan diperoleh manfaat yakni
meningkatnya kandungan bahan organik dan daya pegang air (water holding capacity), meningkatnya porositas
tanah atau mengeliminir efek pemadatan alsintan (alat mesin pertanian)
atau truk angkutan tebu, dan memberikan peluang memajukan masa
tanam termasuk tanam bibit budchip
dari pola B (awal musim hujan) ke
pola A dengan sistem trash mulching. ”Dari sisi lingkungan, sistem ini
membantu terbangunnya biodiversity
dan stimulan pengembalian predator
alami, berkurangnya emisi gas rumah
kaca (CO2) yang dilepaskan ke atmosfer sehingga dapat mengurangi efek
pemasanan global (climate change),”
urainya.
Selaras dengan maksud tersebut,
Puslit Gula Djengkol terus menggalakkan berbagai percobaan terkait konservasi tanah dan air guna perbaikan
produktivitas dan mutu bahan baku
tebu yang saat ini stagnan pada level
kurang lebih 6 ton gula per hectare
(ha). Sebagai perbandingan, Thailand
sudah mampu menghasilkan 8,5 ton
gula per ha, Brazil, Australia, dan Kolombia bahkan sudah mampu mencapai lebih dari 11 ton gula per ha. ”Kami
sangat yakin bahwa upaya mendongkrak level Bahan Organik (BO) tanah
secara kontinyu akan berpengaruh sangat signifikan pada perbaikan kualitas bahan baku tebu,” ujar Syahrial.
Data kandungan BO tanah hasil
analisis Puslit Gula Djengkol selama
sembilan tahun terakhir yaitu 2007
sampai dengan Agustus 2015 menunjukkan bahwa 61 persen tergolong sangat rendah dan 36 persen rendah. Ini
berarti upaya percepatan peningkatan BO tanah merupakan salah
satu langkah strategis.
Dengan melakukan langkahlangkah strategis yang inovatif
diharapkan proses peningkatan
kesuburan tanah dan produktivitas tanaman dapat dipercepat. Disamping itu pemakaian pupuk kimia
bisa direduksi yang pada gilirannya
akan membantu petani menurunkan
HPP gula yang pada gilirannya meningkatnya daya saing.
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Kendati demikian, jelas Syahrial,
butuh waktu yang tidak sebentar. Kendala yang harus segera dipecahkan
antara lain belum adanya hasil riset
yang bisa meyakinkan petani pada
hasil penggunaan metode ini, kedua
adalah efisiensi, ketiga yakni biaya
tambahan pekerjaan mekanisasi, dan
terakhir adalah temperatur di kawasan
tropis yang memang cenderung tinggi
sehingga memicu laju terlepasnya karbon atau bahan organik dari dalam tanah.
Guna mengeliminir keengganan
petani untuk mau menerapkan inovasi
tersebut, saat ini Puslit Gula Djengkol terus mengkaji dan menguji coba
peralatan mekanisasi yang relevan.
Menurut data hingga 10 Agustus 2015,
percobaan Puslit Gula Djengkol di kebun HGU dengan menggunakan Trash
Shredder yang berfungsi mencacah
trash berhasil mengurangi besaran
trash dari sebelumnya rata-rata 63
cm menjadi 14 cm. Kemudian Wheel
Trash Rake yang berfungsi mengumpulkan trash ke dalam barisan tumpukan secara selang-seling sesuai yang
diinginkan.
Berdasarkan kebutuhan air pada setiap fase pertumbuhannya, pada masa
pertumbuhan, tanaman tebu banyak
memerlukan air sedangkan menjelang tua dan panen tidak memerlukan banyak air. Curah hujan tahunan rata-rata sebesar
1.500 mm secara matematis
sudah memadai kebutuhan
air ideal yang diperlukan oleh
tanaman tebu dengan distribusi 200 mm per bulan selama
5 – 6 bulan berturutan, 2 bulan
transisi dengan curah hujan
125 mm per bulan, dan 4
– 5 bulan berturutan
dengan curah hu-
jan kurang dari 75 mm tiap bulannya.
Tingkat ketersediaan air dalam tanah
bagi tanaman tebu pada umur 1 sampai dengan 12 bulan, besarnya antara
14.82 mm (minimum) sampai 140.5
mm (maksimum). Namun pada kenyataannya, pola distribusi curah hujan
ideal seperti yang diharapkan pada setiap bulannya adalah uncontrollable.
Maka disinilah letak pentingnya fungsi
pemanenan dan penyimpanan surplus
air hujan melalui teknologi trash management yang dapat dipergunakan
pada bulan-bulan defisit (curah hujan
lebih kecil dibanding laju penguapan)
sehingga diharapkan dapat meminimalkan terjadinya resiko kekeringan
atau stagnasi pertumbuhan.
“Namun saya yakin dan optimis
upaya ini akan berhasil dan sangat
bermanfaat, terlebih pada pertanaman tebu yang sekarang semakin luas
dikembangkan di daerah up land eks
perkebunan tanaman keras dengan elevasi lebih dari 300 m di atas permukaan air laut yang merupakan daerah
hulu atau pintu gerbang tangkapan air
hujan dan secara otomatis akan menurunkan laju air limpasan dan mencegah
erosi. Meski harus telaten
dalam penerapannya,
inovasi ini diharap
mampu membawa
visi yang jauh lebih konservatif dan
ramah
terhadap
alam serta sustainabilitas usaha tani
tebu di tanah air,”
pungkasnya.
 Syahrial Koto
kepala pUsat penelitian gUla djengkol
35
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
tebu
[ potensi badan usaha ]
PG Pesantren Baru Produksi
Gula Premium Sekelas Rafinasi
 Laporan : SiSkA PreStiwAti
Pt Perkebunan Nusantara (PTPN) X
terus berinovasi dan cepat menangkap
peluang. Pada musim giling tahun 2015
ini, PTPN X melalui Pabrik Gula (PG)
Pesantren Baru berhasil memroduksi
gula premium setara kualitas gula rafinasi dengan International Commission
For Uniform Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) atau kualitas warna gula
36
dalam larutan 45 hingga 70.
Seperti diketahui saat ini ada pergeseran selera dalam mengonsumsi
gula seiring dengan peningkatan ekonomi masyarakat Indonesia. Kini,
konsumen Indonesia lebih menyukai
gula kristal putih yang berwarna putih
bersih. Untuk itu, pada musim giling
2015 ini, perusahaan yang bergerak
di bidang perkebunan ini melakukan
investasi alat di PG Pesantren Baru
agar bisa memproduksi gula premium
sekelas gula rafinasi.
General Manager PG Pesantren Baru, Dwi Djoto Poerwantono mengatakan PG Pesantren Baru merupakan
pilot project PTPN X dalam upayanya
untuk menghasilkan gula premium.
Untuk itu, sebelum memasuki musim
giling, PTPN X telah melakukan investasi berupa satu unit mesin fosfatasi dan satu unit grader di PG Pesan-
tebu
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto: dery ardiansyah
 Pabrik Gula (PG) Pesantren Baru berhasil memroduksi gula premium setara kualitas gula rafinasi dengan International Commission For Uniform
Methods of Sugar Analysis (ICUMSA) atau kualitas warna gula dalam larutan 45 hingga 70.
tren Baru.
“Pada musim giling tahun ini merupakan tahun commisioning. Artinya,
PG Pesantren Baru terus berproduksi
GKP 1 sekaligus berupaya menghasilkan gula premium. Alhamdulillah,
kami sudah berhasil menghasilkan
gula premium dengan ICUMSA 45
hingga 70, yang artinya sudah hampir
sama dengan gula rafinasi,” jelasnya.
Mantan General Manager PG Meritjan ini mengungkapkan untuk bisa
menghasilkan gula kristal putih dengan ICUMSA antara 45 hingga 70,
dibutuhkan alat yang mengunakan
teknologi fosfatasi di stasiun puteran. Teknologi fosfatasi ini, sambung
Dede-sapaan akrab Dwi Djoto Poerwantono, tergolong teknologi baru di
Indonesia, sebab di industri gula tanah air khususnya BUMN gula, baru
PG Pesantren Baru yang menggunakan teknologi tersebut. Sebelumnya
salah satu pabrik gula yang juga memproduksi gula premium menggunakan
teknologi karbonatasi.
“Alhamdulillah, SDM di PG Pesantren Baru sudah menguasai dan bisa
mengoperasikan teknologi fosfatasi
tersebut dengan baik. Sehingga, PG Pesantren Baru sudah bisa memproduksi
gula premium,” ungkapnya.
Dede menambahkan gula premium
yang dihasilkan oleh PG Pesantren
Baru memiliki tiga ukuran yang berbeda, yaitu large (L), medium (M) dan
small (S). Untuk memisahkan gula
sesuai dengan ukurannya, PG Pesantren Baru memasang satu unit mesin
grader (ayakan).
Masih menurut Dede, meskipun PG
Pesantren Baru sudah bisa memroduksi secara maksimal namun masih ada
ganjalan yaitu mesin-mesin lama yang
ada di pabrik tidak bisa menyesuaikan
dengan mesin fosfatasi yang baru. Sehingga untuk mesin-mesin yang lama
perlu dilakukan modifikasi atau perubahan.
“Teknologi fosfatasi membutuhkan
raw sugar dengan ICUMSA antara
700 sampai 800, namun mesin yang
lama mampunya memproduksi raw
sugar dengan ICUMSA masih di atas
2000. Sehingga terjadi inefisiensi,” tegasnya.
Untuk itu, sambung Dede untuk
musim giling tahun 2016 mendatang,
pihaknya mengajukan penggantian
dan penambahan alat, khususnya untuk High Grade Fugal (HGF) Centrifugal di stasiun puteran sebanyak dua
unit dan penambahan satu unit vacuum pan di stasiun masakan. “Dengan
penambahan alat tersebut, PG Pesantren Baru yakin akan mampu memproduksi gula premium dengan lebih
lancar dan optimal,” tandasnya. 
“Pada musim giling
tahun ini merupakan
tahun commisioning.
Artinya, PG Pesantren
Baru terus berproduksi
GKP 1 sekaligus
berupaya menghasilkan
gula premium.
Alhamdulillah,
kami sudah berhasil
menghasilkan gula
premium dengan ICUMSA
45 hingga 70, yang
artinya sudah hampir
sama dengan gula
rafinasi,”
37
tebu
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
PTPN X Semakin
Mantap Bangun Pabrik
Baru di Pamekasan
 Laporan : SiSkA PreStiwAti
38
Mendirikan Pabrik Gula (PG) di
Pulau Madura dalam waktu dekat bukan lagi hanya sekedar mimpi. Melihat
perkembangan saat ini, akhir Agustus
2015 lalu, jajaran direksi dan pejabat
puncak PT Perkebunan Nusantara
(PTPN) X telah melakukan survey
lokasi agar rencana pembangunan PG
bisa segera terealisasi.
Direktur Utama PTPN X, Subiyono
mengatakan, Menteri BUMN Rini
Soemarno sudah memutuskan akan
segera membangun pabrik gula baru
di Madura yang sudah terintegrasi
dengan biethanol dan co generation.
Keputusan Menteri BUMN tersebut,
sambung Subiyono, tidak lain karena
saat ini tanaman tebu telah memberikan keyakinan bisa dikembangkan
lebih luas lagi dan mempunyai keunggulan jika dibandingkan dengan
komoditas lainnya, seperti tembakau
yang saat ini dinilai kurang memberikan keuntungan.
Ketua Umum Ikatan Ahli Gula In-
donesia (IKAGI) ini menjelaskan,
PTPN X sudah melakukan survey dan
Kabupaten Pamekasan dinilai potensial untuk didirikan PG baru, mengingat
lokasi geografisnya yang berada di
tengah-tengah Pulau Madura, sehingga mudah terjangkau dari Kabupaten
Sampang, Kabupaten Bangkalan, dan
Kabupaten Sumenep. Pembangunan PG di Pulau Madura diharapkan
mampu menggerakkan perekonomian
apalagi pasca dibangunnya Jembatan
Suramadu, hampir tidak ada industri
yang berkembang secara signifikan di
Pulau Madura.
Sejarah bangsa mencatat, wilayah
yang di daerahnya terdapat industri
gula, tingkat perekonomiannya akan
meningkat bila dibandingkan dengan
daerah yang tidak ada industri gulanya. “Karena dengan adanya industri gula, maka akan ada penyerapan
tenaga kerja baik di on maupun off
farm-nya. Banyak pelaku usaha transportasi yang akan berkembang karena
saat giling akan banyak dibutuhkan.
Pada intinya industri gula mempunyai
multiplier effect yang sangat besar,”
paparnya.
Saat disinggung soal investasi, Subiyono mengungkapkan, dana berasal
dari Pemerintah Pusat. “Setelah nanti
dananya pasti, PTPN X segera membangun. Saat ini PTPN X mempersiapkan dengan melakukan survei lokasi,”
jelasnya. PG yang akan dibangun, diungkapkan Subiyono, pada tahap awal
akan berkapasitas 3.500 ton cane per
day (TCD), yang nantinya bisa ditingkatkan menjadi 5.000 TCD kemudian
7.000 TCD.
Mantan Kepala Dinas Perkebunan
Provinsi Jawa Timur ini menjelaskan,
pembangunan PG diperkirakan akan
memakan waktu dua tahun. Sembari
menunggu pendanaan dan proses
pembangunan pabrik gula, PTPN X
akan terus melakukan pendekatan ke
pemerintah daerah dan para tokoh
masyarakat. Masih menurut Subiyono, tujuan PTPN X ingin mendirikan pabrik gula di Madura tidak lain
untuk pemenuhan kebutuhan gula di
dalam negeri yang selama ini masih
tebu
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 Lahan yang ada di Kecamatan Pasean Pamekasan Madura
foto: dery ardiansyah
tergantung pada impor.
Selain mempersiapkan lokasi PG
baru, PTPN X juga terus melakukan
persiapan dari sisi on farm. Saat ini
sudah ada 1.500 hektar lahan pertanaman tebu dan minimal dua tahun
mendatang ditargetkan bisa bertambah menjadi 10.000 hektar. “Untuk on
farm, kami sedang mencari varietas
baru yang cocok untuk tanah berkadar garam tinggi. Untuk itu, kami akan
bekerjasama baik dengan pihak di dalam negeri maupun luar negeri karena
varietas di Jawa sudah lama dan tua,”
paparnya.
Respon Pemerintah Daerah
Gayung bersambut, keinginan PTPN
X untuk mendirikan pabrik gula di
Madura mendapatkan sambutan yang
sangat positif dari Pemerintah Kabupaten Pamekasan. Bupati Pamekasan,
Achmad Syafii mengatakan, keberhasilan PTPN X dalam membudidayakan komoditas tebu di Pulau Madura
khususnya Pemekasan merupakan
sebuah harapan baru. Sebab, beberapa
terakhir komoditas tembakau yang
selama ini menjadi satu-satunya sumber pendapatan para petani tidak lagi
menjanjikan.
“Kami sangat ingin PTPN X segera
membangun pabrik gula baru disini
(Pamekasan, red),” kata Achmad Syafii
ditemui di rumah dinasnya. Ia bahkan
langsung menyampaikan ke Menteri
BUMN Rini Soemarno untuk mendukung dan mendorong agar PTPN X secepatnya membangun pabrik gula.
Achmad Syafii mengungkapkan,
selama ini tebu yang berhasil dibudidayakan di Pamekasan dan Madura
pada umumnya harus dibawa ke Sidoarjo untuk digiling disana. Maka alangkah baiknya kalau ada pabrik gula
di Pamekasan ini, sehingga tebu-tebu
yang ada di Madura tidak perlu dibawa
jauh-jauh untuk digiling.
“Kalau harus dibawa keluar Pulau
Madura, tebu terlalu lama di jalan dan
akhirnya sampai di pabrik tebunya sudah tidak segar lagi. Itu akan mempengaruhi tingkat rendemennya,” ungkapnya.
Ditemui di tempat yang sama,
Kepala Dinas Perkebunan Pamekasan,
Ajib Abdullah mengatakan, berdasarkan hasil penelitian P3GI, potensi lahan yang cocok untuk budidaya tebu
di Kabupaten Pamekasan ada 22 ribu
hektar. ”Angka tersebut ada perbedaan
dengan perhitungan kami, menurut
perhitungan kami ada 30 ribu hektar lahan yang cocok untuk budidaya
tebu,” sebut Ajib.
Ajib menjelaskan di Kabupaten Pamekasan budidaya tebu mulai dilakukan pada musim tanam 2013-2014
dengan target 1.500 hektar namun
realisasinya hanya 781 hektar. Tidak
tercapainya luasan tersebut tidak lain
karena petani di Pamekasan masih
menunggu apakah komiditas tebu benar-benar bisa memberikan nilai tambah lebih bagi mereka.
“Kami sangat membutuhkan bantuan dan pendampingan dari PTPN X
untuk mengajarkan kepada petani di
Pamekasan bagaimana budidaya tebu
yang tepat, agar produktivitas di Pamekasan bisa tinggi,” ungkapnya. 
39
tebu
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto: sap jayanti
 Dirut PTPN X, Subiyono melakukan panen perdana tebu lahan kering di Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan disaksikan Menteri BUMN Rini M.
Soemarno.
Menteri BUMN
Dukung Pengembangan
Lahan Tebu di Madura
potensi Madura sebagai tempat pengembangan industri gula kian
mendapatkan pengakuan. Kementerian Badan Usaha Milik negara
(BUMn) mendorong agar potensi tersebut dimanfaatkan guna
mendukung program swasembada gula yang dicanangkan pemerintah.
 Laporan: SAP JAyAnti
40
Menteri BUMN Rini Soemarno
sendiri telah meninjau secara langsung pengembangan lahan tebu di
Madura khususnya di Kabupaten Pamekasan, Sabtu (12/9). Rini Soemarno
mengatakan, dari hasil uji coba yang
dilakukan beberapa BUMN di antaranya PT Perkebunan Nusantara (PTPN)
X, diketahui bahwa Pulau Madura sangat potensial sebagai lahan pengem-
bangan baru tanaman tebu. Bahkan
menurutnya, untuk mendukung program swasembada gula, diharapkan
bisa segera dibangun pabrik gula di
Madura.
“Seperti kita tahu, lahan di wilayah
Pulau Jawa sudah cukup sulit untuk
dikembangkan menjadi areal pertanian tebu karena berbagai faktor, seperti
konversi lahan ke sektor properti. Potensi Pulau Madura masih tinggi untuk lahan tebu karena banyak lahan ti-
dur yang bisa dikembangkan menjadi
areal perkebunan tebu. Diharapkan
nantinya dengan pengembangan lahan
tebu di Pulau Madura ini swasembada
gula bisa terwujud,” kata Rini.
Seusai melakukan panen tebu lahan
kering ratoon 1 ke Kecamatan Tlanakan, Rini mengatakan, saat ini butuh
kerja keras khususnya untuk meyakinkan masyarakat petani agar mau
menanam tebu, mengingat komoditas
tebu di Pulau Madura cenderung baru
tebu
dibandingkan komoditas lain yang sudah cukup lama dikembangkan seperti
jagung dan tembakau. Petani perlu diyakinkan bahwa tebu mempunyai daya
saing dan keuntungan ekonomis yang
menjanjikan dibanding komoditas
lain. Karena itu, dia meminta BUMN
terus melakukan sinergi untuk menjadikan Pulau Madura sebagai salah
satu daerah penghasil tebu terbesar di
Indonesia.
Di antaranya dengan mengajak para
petani tebu di Madura melihat kesuksesan petani tebu di daerah lain di Pulau Jawa. ”Saya harap agar masyarakat
Madura yang sekarang di kota-kota
besar bisa berpartipasi memakmurkan
rakyatnya,” tuturnya.
Saat ini rata-rata produksi lahan
tebu di Pulau Madura baru sekitar
55 ton per ha, karena masih ada kendala dalam pengairan. Jika nantinya BUMN mau berinvestasi untuk
mengembangkan sumur dalam untuk
pengairan, maka produksi bisa ditingkatkan menjadi 80 sampai 100 ton
tebu per hektar sebagaimana produktivitas di Jawa. Jika itu sudah terjadi
maka secara otomatis, tanpa bantuan
dana pemerintah pun petani akan bisa
mendapatkan pendanaan. Kementerian BUMN juga akan memberikan
dukungan melalui mekanisme Kredit
Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE)
dari bank-bank BUMN. Mengetahui
kesulitan pengairan yang dialami di
lahan pengembangan tebu, Rini secara
spontan menjanjikan akan memberikan bantuan dari dana pribadi sebesar
Rp 350 juta untuk pembuatan sumur
bor di lokasi tersebut.
Direktur Utama PTPN X Subiyono
mengatakan, PTPN X sudah mulai
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto: SAP Jayanti
 Dirut PTPN X, Subiyono bersama Menteri BUMN Rini M. Soemarno optimistis pengembangan lahan tebu di
Madura akan disambut warga Madura terutama dengan dukungan pemerintah daerah dan tokoh masyarakat.
mengembangkan lahan tebu di Pulau Madura sejak 2011, yang hasilnya
dikirimkan ke PG Watoetoelis dan PG
Kremboong di Sidoarjo untuk diolah.
Meski masih banyak permasalahan
dalam pengembangan lahan tebu di
wilayah Pulau Madura, pihaknya akan
terus menjalankan rencana pengembangan pabrik gula di Pulau Madura.
Apalagi, rendemen tebu dari Madura
sudah bisa menyentuh level yang cukup bagus, yaitu 7-8 persen.
Dalam 2 tahun kedepan rencananya
PTPN X akan mengembangkan pabrik
gula dengan kapasitas 5.000 ton cane
per day (TCD) yang bisa diekspansi
hingga 7.500 TCD. Pabrik gula tersebut ditargetkan bisa memproduksi
75.000 ton gula kristal putih per tahun
atau 70.000 ton gula rafiansi. Selain
itu, produk sampingan seperti listrik
cogeneration sebesar 154 GWH dan
Fuel Grade Etanol dengan kapasitas
18 ribu kilo liter per tahun.
Saat ini rata-rata
produksi lahan tebu
di Pulau Madura baru
sekitar 55 ton per ha,
karena masih ada kendala
dalam pengairan. Jika
nantinya BUMN mau
berinvestasi untuk
mengembangkan sumur
dalam untuk pengairan,
maka produksi bisa
ditingkatkan menjadi
80 sampai 100 ton tebu
per hektar sebagaimana
produktivitas di Jawa.
foto: SAP Jayanti
 Menteri BUMN Rini Soemarno Berharap Madura bisa menjadi salah satu daerah penghasil tebu terbesar di Indonesia. dalam dua tahun ke depan
diharapkan satu Pabrik Gula (PG) bisa beroperasi di Madura.
41
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
sukrosa
[ sajian utama ]
MEKANISASI
Menjawab Tantangan Zaman
42
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
T
erBataSnya ketersedian tenaga kerja menjadikan mekanisasi sebagai solusi bagi industri
tebu di Indonesia yang
selama beberapa waktu
terakhir menghadapi berbagai permasalahan. Diantaranya masalah kelangkaan
tenaga kerja terampil dan terlatih untuk
kegiatan pekerjaan di on farm yang semakin dirasakan beberapa tahun terakhir.
Sulitnya mencari tenaga kerja untuk
bekerja di lahan disebabkan karena bekerja di sektor pertanian sudah tidak lagi
menjadi pilihan generasi muda karena
dianggap tidak bergengsi. Mereka lebih
memilih bekerja di pabrik yang dipandang lebih nyaman dan berkelas dibandingkan bekerja berpanas-panas dan
berkotor-kotor di sawah atau kebun.
Selain semakin surutnya tenaga kerja
manual untuk bekerja di kebun, masalah
lain yang juga dihadapi adalah menyempitnya areal tanam akibat tergerus
perkembangan industri serta properti.
Sementara di sisi lain kebutuhan akan
bahan makanan, termasuk gula terus
meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk.
Menghadapi persoalan tersebut, cepat atau lambat suka atau tidak suka,
pergantian sistem kerja dari manual
ke mekanisasi harus dilaksanakan dalam waktu secepat mungkin. Pertimbangan utamanya adalah karena masa
tanam optimal merupakan salah satu
faktor penentu untuk mencapai tingkat
produktivitas yang diharapkan. Masa
tanam optimal akan mudah dicapai bila
pengelolaan budidaya tebu dilaksanakan
secara mekanis
Ketika pekerjaan kebun dilakukan secara manual maka kualitas dan
kuantitas pekerjaan akan sulit dicapai.
Masing-masing pekerja mempunyai
keterampilan dan kemampuan yang sangat berbeda dalam mengerjakan satu
macam jenis pekerjaan yang sama sehingga kualitas hasil yang diperolehpun
akan sangat berbeda. Dan pada akhirnya
akan memeengaruhi pertumbuhan tebu
menjadi sangat berbeda meskipun dalam petak kebun yang sama.
Demikian pula dengan kuantitas
atau jumlah luasan yang akan dicapai.
Akan sangat banyak tenaga kerja yang
diperlukan untuk mengerjakan setiap
tahapan pekerjaan kebun untuk setiap
luasan yang dikerjakan. Sebagai pembanding, untuk pengolahan tanah bajak
I saja, satu unit traktor bisa mengerjakan
3-4 hektare (Ha) per hari sedangkan
dengan tenaga manual, di lahan seluas
1 ha diperlukan 70-80 orang per hari
atau sekitar 300 orang untuk mengerjakan tanah seluas 3-4 ha setara kapasitas
kerja traktor dalam 1 hari.
Begitu juga dengan hasil kerja. Ketika digarap secara manual akan sangat
bervariasi, heterogen dan tidak rata. Hal
ini dengan sendirinya akan berpengaruh
pada produktivitas dan selanjutnya akan
menurunkan profit. Hasil kerja yang seragam atau homogen akan menghasilkan media tumbuh yang homogen pula
dan diharapkan pertumbuhan tanaman
tebu optimal .
Soeparmin, pengamat mekanisasi
juga menambahkan bahwa dengan
mekanisasi tingkat kehilangan dapat
dikurangi semaksimal mungkin. Sebagai contoh pekerjaan pemupukan, bila
menggunakan tenaga manual yang cukup banyak, pengawasan akan sangat
sulit apalagi bila tanaman tebu sudah
cukup tinggi. Dari segi kualitas maupun
dosis pupuk yang seharusnya diberikan
ke tanaman tebu sangat diragukan karena pengawasan menjadi sangat sulit.
Hal ini sangat berbeda jika pekerjaan
tersebut dilaksanakan mekanis. Pengawas atau supervisor hanya mengatur dan
mengawasi sekitar 3-5 orang saja untuk
melaksanakan pekerjaan pemupukan.
Semua dikerjakan oleh mesin, supervisor hanya mengawasi operasional oleh
operator traktor saja.
Namun yang perlu diperhatikan adalah prinsip dasar dalam melaksanakan
pekerjaan mekanisasi, setiap tindakan
operasional harus selalu mempertimbangkan dan dievaluasi tentang spesifikasi alat dan jenis tanah yang akan
diolah. Perlu suatu pemahaman kepada
petani tebu bahwa dengan sistem mekanisasi akan membawa pengaruh terhadap keberhasilan penanaman tebu. Namun demikian diperlukan manajeman
mekanisasi untuk bisa menekan biaya
operasional alat. Manajemen mekanisasi
pertanaman tebu yang tepat akan membuat penggunaan alat mekanisasi menjadi efektif dan efisien.
Untuk bisa dikelola secara mekanis,
ada syarat yang harus dipenuhi. Lahan
luas berupa hamparan agar pekerjaan
mekanisasi berjalan efektif dan efisien
43
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 Backhoe untuk membuka jaringan irigasi
44
tidak banyak waktu terbuang atau idle.
Topografi relatif datar agar manuver
dan aktivitas traktor berjalan lancar dan
sedikit mungkin terjadinya hambatan.
Pola bukaan kebun disesuaikan dengan
kaidah mekanisasi untuk membantu
kelancaran operasional pekerjaan mekanisasi sejak awal pekerjaan tanam
sampai kelancaran tebang dan angkut.
Minimum luasan 10 ha dimaksudkan
agar Alsintan (Alat Mesin Pertanian)
bisa bekerja efektif dan efisien
Kendala lain yang dihadapi adalah
shock di masyarakat. Mekanisasi bisa
membawa banyak perubahan budaya di
masyarakat petani. Di sinilah pentingnya peran tokoh masyarakat. ”Pabrik
gula harus secara persuasif melakukan
pendekatan ke tokoh masyarakat, kyai,
atau siapa pun yang menjadi panutan di
masyarakat bahwa mekanisasi ini bermanfaat,” ujar akademisi di bidang mekanisasi pertanian, Ary Mustofa.
Direktur Produksi PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X, Tarsisius
Sutaryanto menekankan, salah satu
permasalahan yang dihadapi industri gula Indonesia saat ini yakni masih
besarnya ketergantungan pada tenaga
kerja manual. Padahal semua itu dapat
diatasi dengan teknik penanaman, pemeliharaan, dan penanganan panen yang
lebih efektif dan efisien. Untuk itulah di
tahun 2014 lalu, di PTPN X dicanangkan
sebagai tahun mekanisasi.
Penerapan mekanisasi bukan persoalan yang mudah. Perlu ada pemahaman
kepada para petani tebu bahwa dengan
sistem mekanisasi akan membawa pengaruh terhadap keberhasilan penanaman tebu. Namun demikian diperlukan
manajeman mekanisasi untuk bisa me-
 Harrow, untuk meratakan tanah
nekan biaya operasional alat. Manajemen mekanisasi pertanaman tebu yang
tepat akan membuat penggunaan alat
mekanisasi menjadi efektif dan efisien.
Di PTPN X, pengerjaan lahan menggunakan alat pertanian dikerjasamakan
dengan pihak provider. Kendati demikian bukan berarti PTPN X lantas hanya
berpangku tangan begitu saja. ”Tugas
kita disini adalah untuk mengawasi apakah kinerja yang diberikan telah sesuai
dengan standar yang telah kita berikan,”
terangnya.
Untuk menyukseskan program mekanisasi tersebut, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X juga telah mengadakan
berbagai pelatihan bagi para petugas
on farm. Petugas on farm sangat memerlukan pelatihan dan pembekalan
dalam rangka implementasi sistem mekanisasi yang efektif. Hal itu tidak lain
karena pelatihan merupakan suatu alat
dan metode untuk menyatukan niat dan
keinginan tanpa memandang latar belakang keahlian.
Sebelum implementasi, PTPN X sudah melakukan persiapan berupa pembuatan sistem perencanaan kebun yang
baik dan ramah untuk alat-alat mekanisasi, alur tanam yang panjang atau
long furrow dengan ukuran 100, 150,
hingga 200 meter serta memiliki kapasitas lapang sehingga bisa dimasuiki
alat-alat mekanis. Selain itu tidak boleh
terdapat guludan di lahan karena akan
menyulitkan peralatan mekanis.
Agar mekanisasi bisa berjalan dengan
maksimal dan efisien, dibutuhkan syarat
luasan kebun dengan sistem hamparan
minimal 10 Ha dengan PKP minimal
135 centimeter. Untuk itu, PTPN X telah
mencanangkan mekanisasi baik Tebu
Sendiri (TS) maupun di Tebu Rakyat
dengan HGU sebagai pilot project mekanisasi. Dengan mekanisasi, rendemen
di lahan HGU berhasil meningkat dari
8,23 persen pada tahun 2013 meningkat menjadi 8,87 pada tahun 2014. Dari
sisi luasan, perkembangan luasan kebun
mekanisasi di PTPN X ditargetkan mencapai 13.379, 9 Ha hingga musim tanam
2017/2018.
HGU PG Pesantren Baru merupakan
kebun pilot project MT 2013/2014 di lahan tegal dengan luas 1.982 hektar, sedangkan di lahan sawah kebun TSS-IPL
PG Kremboong seluas 25 Ha dan kebun
Tebu Rakyat seluas 75 Ha di PG Watoetoelis dan PG Toelangan.
Tahun 2014 luas lahan dengan mekanisasi semakin luas. Luas areal kebun tersebut mencapai 2.700 Ha, terinci HGU Jengkol Sumberlumbu seluas
1.944 Ha, TS-IPL seluas 220 Ha dan TR
 Cane Planter
sukrosa
kelompok kebun hamparan lebih 10 Ha
ada 536 Ha. Di tahun 2014 ini ada diskusi yang muncul bagaimana mengajak
petani dan provider agar mau melaksanakan sistem mekanisasi. 2014 juga
merupakan tahun pertama dilaksanakan
muat tebu ke atas truk dengan menggunakan grab loader. Banyak kendala
teknis dan non teknis yang muncul dan
harus diselesaikan.
Pada tahun 2015, luas areal kebun
mekanisasi telah mulai berkembang
dicanangkan mencapai 14.645 Ha atau
22,5 persen dari luas areal. Dengan rincian, lahan HGU seluas 1.965 Ha, TS-IPL
seluas 658 Ha, dan sisanya TR kelompok
hamparan dengan luas lebih dari 10 Ha.
Untuk mendukung program ini, lanjutnya mekanisasi pada budidaya juga
dilakukan untuk memenuhi pasok, di
mana kapasitas tebang biasanya terkendala pada masalah jumlah penebang.
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Maka mulai pertengahan tahun 2013
mulai dicanangkan gerakan tebang muat
tebu secara semi mekanis yaitu muat
dengan menggunakan dengan grab
loader.
Beberapa kebun TR hamparan ada
yang diatas 30 Ha. Pada tahun ini selain
muat dengan grab loader juga dilaksanakan tebang dengan harvester whole
stalk yang menghasilkan batang lonjoran dan chopped cane harvester (hasil
tebu terpotong-potong kurang lebih 20
cm). Diskusi yang muncul bagaimana
agar produktivitas harvester bisa mencapai kapasitas desainnya.
Untuk mekanisasi di tahap TMA,
pada masa tanam 2013/2014, TMA
semi mekanis dengan grab loader yang
beroperasi sebanyak 16 unit grab loader dengan realisasi muat grab loader
pada musim tanam 2013/2014 adalah
1.302.133 kuintal. Sedang untuk masa
tanam 2014/2015, PTPN X menerapkan
dua sistem, yaitu semi mekamis grab
loader dan TMA mekanis dengan Chopper Harvester.
Berdasarkan data Divisi Pengolahan PTPN X, untuk TMA semi mekanis
dengan grab loader yang beroperasi sebanyak 11 unit realisasi sampai dengan
Juli 2015 adalah 550.500 Kuintal sedang
TMA mekanis dengan dua unit Chopper
Harvester realisasi sampai dengan bulan Juli 2015 adalah 8.592 Kuintal.
Seperti diketahui, salah satu kunci
sukses mekanisasi adalah melakukan
re-grouping atau pengelompokan lahan. Sayangnya tidak sedikit petani yang
masih enggan berkelompok dengan
alasan takut kalau luasan kebunnya
berkurang. Padahal hal itu tidak perlu
ditakutkan karena sudah ada teknologi
untuk mengukur bidang tanah secara
ekonomis dan efisien dengan pemanfaatan sistem GPS CORS (Global Positioning System Continuously Operating
Reference Stations). Salah satu manfaat
penggunaan sistem GPS CORS adalah
bisa mewujudkan perkebunan dengan
sistem hamparan atau re-grouping karena batas-batas kebun bisa diketahui
dan bisa dikembalikan seperti sediakala.
Dengan teknologi CORS, batas-batas
kebun atau patok setiap kebun milik
petani bisa didata secara presisi dengan
tingkat keakuratan sangat tinggi. Dengan demikian nantinya bisa dilakukan
rekonstruksi kembali atau mengembalikan patok-patok itu sama persis seperti
di awal karena pergeserannya kurang
dari 2 cm.
Bagi petani sendiri, mekanisasi diharapkan bisa menghasilkan tanaman
tebu yang lebih berkualitas. Selain itu,
mekanisasi juga bisa menjadi solusi dari
kesulitan yang selama ini dirasakan dalam pengolahan lahan. Bagi petani seperti Slamet Raharjo, mekanisasi yang
mulai dijalankan pada musim tanam tahun ini seolah menjadi jawaban dari kesulitan yang dialaminya sejak sekitar dua
tahun terakhir. “Tenaga kasar mulai dua
tahun lalu sulit dicari. Sekarang dengan
mekanisasi, dikerjakan alat-alat, saya
sudah tidak terlalu bingung lagi mencari
orang untuk mengerjakan lahan,” kata
petani asal Desa Tales, Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri ini.
foto-foto: dery ardiansyah
45
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 Wholestalk
 Grabloader
ngan batas-batas kasat mata dan praktis
berkapur dan bercadas yang kurang subIa mengakui, agar bisa didarati mesin
rata tanpa perbukitan.
ur, namun mampu menghasilkan karet
pertanian ada perubahan yang musti diSistem kepemilikan tanah, lahan yang
dan cassava terbesar di dunia. Bangsa
lakukan. Salah satunya yaitu mengubah
rata dan hak waris menciptakan lahan
yang ulet ditempa kerasnya alam ini
jarak tanam dari yang sebelumnya 130
luas sehingga efisien dalam mekanisasi
justru sukses melakukan budidaya percm menjadi 180 cm. Ini dilakukan untuk
pertanian yang pada gilirannya meningtanian yang pada gilirannya menerusmempermudah jalannya traktor pada
katkan produktivitas lahan. Hak waris
kan cerita sukses kepada sektor industri
saat pemupukan dan menyingkap tanah.
dilaksanakan dengan pembagian saham
yang mengolah hasil pertanian.
Sebelumnya di lahannya masih ada gudan dikelola oleh salah satu anggota keLahan pertanian yang terbatas ini diludan dan galengan yang menyebabkan
luarga dengan digaji dan labanya dibagikelola dengan baik oleh sistem kepemialat sulit untuk masuk ke lahan. Namun
kan sebagai dividen para ahli
sekarang, setelah mendapat
waris.
sosialisasi, dirinya melakuPada tahun 2015, luas areal kebun mekanisasi
Bandingkan dengan Indokan penyesuaian agar alat
tidak kesulitan untuk mengo- telah mulai berkembang dicanangkan mencapai nesia yang lahannya rata-rata
0,2 hektar dengan petak pelah tanah.
14.645 Ha atau 22,5 persen dari luas areal.
matang sempit dan teraserDari negara manca, NegeDengan rincian, lahan HGU seluas 1.965 Ha,
ri gajah putih Thailand suTS-IPL seluas 658 Ha, dan sisanya TR kelompok ing seperti anak tangga. Lahan dengan geografi seperti
dah dikenal sebagai baromhamparan dengan luas lebih dari 10 Ha.
Indonesia sedap dipandang
eter produksi gula di ASEAN.
mata namun hampir tidak
Thailand memiliki tanah
mungkin dikelola dengan mekanisasi
likan tanah dan pemanfaatan yang
hanya sebesar pulau Sumatera, itupun
pertanian yang efisien. Lahan luas dan
efisien. Hampir seluruh lahan pertanian
tidak semuanya subur. Lahan pertanian
rata seperti di Thailand memungkinkan
Thailand berukuran besar sebagai unit
yang menghasilkan padi mutu tinggi detraktor pengolah tanah, mesin penyemai
produksi yang memenuhi skala ekonongan tingkat kesuburan memadai hanya
bibit, mesin penebar pupuk dan mesin
mi. Apabila dilihat dari dalam pesawat
wilayah disekitar ibukota Bangkok. Lahpemetik hasil tanaman, dapat bekerja
udara yang akan mendarat akan terlihat
an ini juga dialiri oleh banyak kanal dan
dengan efisien.
hamparan lahan pertanian yang luas deirigasi teknis. Lahan sisanya hanya tanah
46
 Fertilizer Applicator, alat untuk memupuk tanaman tebu
foto-foto: dery ardiansyah
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
tarsisius sutarYanto, direKtur ProduKsi PtPn X
Ubah Paradigma
dengan Berikan Contoh
Terbatasnya ketersediaan tenaga kerja membuat
mekanisasi menjadi solusi bagi industri tebu di Indonesia.
Hal ini guna mendongkrak kapasitas produksi yang ada.
 Laporan: SekAr Arum
Salah satu permasalahan yang dihadapi industri gula Indonesia saat ini yakni masih besarnya ketergantungan pada
tenaga kerja manual. Padahal semua itu
dapat diatasi dengan teknik penanaman,
pemeliharaan, dan penanganan panen
yang lebih efektif dan efisien. Untuk itulah di tahun 2014 lalu, dicanangkan sebagai tahun mekanisasi.
Seperti yang diutarakan oleh Direktur
Produksi PTPN X, Tarsisius Sutaryanto
saat ditemui tim PTPN X Magz, penerapan mekanisasi bukan persoalan yang
mudah. Perlu ada pemahaman kepada
para petani tebu bahwa dengan sistem
mekanisasi akan membawa pengaruh
terhadap keberhasilan penanaman tebu.
Namun demikian diperlukan manajeman mekanisasi untuk bisa menekan biaya operasional alat. Manajemen mekanisasi pertanaman tebu yang tepat akan
membuat penggunaan alat mekanisasi
menjadi efektif dan efisien.
“Sejauh ini memang kita berikan pengelolaan hal tersebut dengan pihak
provider, kendati demikian kita tidak
berpangku tangan begitu saja, tugas kita
disini adalah untuk mengawasi apakah
kinerja yang diberikan telah sesuai dengan standar yang telah kita berikan,”
terang pria berkacamata tersebut.
Untuk menyukseskan program mekanisasi tersebut, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X juga telah mengadakan
berbagai pelatihan bagi para petugas on
farm. Bahwa mekanisasi memang merupakan upaya dan solusi meningkatkan
produktivitas lahan serta menekan biaya
produksi.
Petugas on farm sangat memerlukan
pelatihan dan pembekalan dalam rangka
 tarsisius Sutaryanto
direktUr prodUksi ptpn X
implementasi sistem mekanisasi yang
efektif. Hal itu tidak lain karena pelatihan merupakan suatu alat dan metode
untuk menyatukan niat dan keinginan
tanpa memandang latar belakang keahlian.
Tarsisius menambahkan, selama ini
mungkin sudah ada petugas on farm
yang paham sistem mekanisasi. Namun
pemahaman sistem mekanisasi tersebut mungkin tidak seperti yang telah
disusun dan diprogram oleh manajemen. Agar program mekanisasi ini bisa
berjalan dengan baik dan sesuai harapan, maka perlu dilakukan pelatihan
dan pembekalan agar semua petugas on
farm memahami dan mampu mengim-
plementasikan dengan baik dan benar.
“Kita sudah memperbaiki pabrik dan
kini saatnya memperbaiki on farm-nya
agar on farm bisa menyuplai pabrik yang
sudah bagus,”paparnya.
Dengan menguasai dan memahami
mekanisasi diharapkan petugas on farm
akan mampu mengajak petani untuk
menerapkannya. Bila setiap petugas on
farm mampu menjalankan sistem mekanisasi dengan baik maka hasil di kebun
akan sangat tampak perbedaannya bila
dibandingkan dengan sistem tradisional.
Diharapkan dengan hasil yang maksimal
dan lebih menguntungkan, para petani
akan tertarik untuk menerapkan mekanisasi di kebun mulai dari buka lahan
hingga tebang angkutnya.
“Dengan memberikan contoh yang
baik seperti ini, saya yakin untuk mengubah paradigma yang ada tidaklah sulit.
Petani juga akan merasa bahwsa mekanisasi ini merupakan jawaban yang tepat untuk menjawab tantangan global
yang kian mencekam. Terbukti petani
tebu yang ada di wilayah PTPN X sudah
banyak yang menerapkan program mekanisasi. Hal ini tentu sangat membanggakan. Dan perubahan paradigma ini
sudah mulai banyak terlihat,” tandasnya
penuh semangat.
Dikatakan Tarsisius, semua tergantung kemauan dan semangat dari petani
tebu untuk menggunakannya. Untuk
mengawali mekanisasi ini memang tidak
mudah namun dengan semangat maka
semua itu akan bisa diwujudkan. Citacita PTPN X adalah bagaimana petani
bisa nyaman dan produktif dengan
mekanisasi. Tak hanya itu saja, ia pun
berharap kedepan dengan penerapan
mekanisasi mampu memberikan sebuah
kebanggaan pada setiap orang yang bekerja di kebun tebu. ”Lihat saja di negara
yang industri tebunya cukup baik, seperti Thailand atau Australia para kawula
mudanya yang justru duduk di belakang
kemudi alat- alat tersebut untuk mengoperasionalkan alat,” tuturnya.
47
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
MeKanisasi di PG nGadiredjo
Terus Dekati Petani untuk
Pengelompokan Lahan
 Laporan : SAP JAyAnti
Salah satu kunci dalam aplikasi mekanisasi adalah mengumpulkan area
menjadi satu hamparan. Agar bisa mekanisasi bisa efisien, ada minimal luas
lahan yang musti dipenuhi.
Di PG Ngadiredjo, di tahun pertama
penerapan mekanisasi luas lahan yang
sudah digarap secara mekanis adalah
164 hektare (ha). Luasan tersebut terbagi
menjadi 124 ha di Kediri dan 40 ha sisanya di Blitar. Berbagai strategi dilakukan
agar luas lahan yang dikerjakan secara
mekanisasi bisa terus bertambah. ”Di
tahun pertama ini fokus kami mengumpulkan area menjadi satu hamparan,”
kata Manajer Tanaman PG Ngadiredjo,
Bambang Hari Nugroho. Di Kediri,
pemilikan lahan petani umumnya besar
namun lokasinya terpisah-pisah.
Ia mengakui masih sering menerima
penolakan dari petani untuk mengelompokkan lahan. Langkah-langkah yang
dilakukan agar proses pengelompokkan lahan berjalan mulus antara lain
dengan terus melakukan pendekatan
kepada tokoh-tokoh petani, pemberian
motivasi hingga fasilitas bantuan sosial. Dan yang lebih penting lagi adalah
penyamaan persepsi soal mekanisasi.
”Butuh berkali-kali pertemuan agar ada
kesamaan persepsi ini karena kondisi di
lapangan berbeda-beda. Kami juga berjanji, dengan mekanisasi makan tanam
dan tebang akan bisa sesuai dengan usia
tanaman,” tutur Bambang.
48
 Bambang hari Nugroho
manajer tanaman pg ngadiredjo
Dikatakan Bambang, mekanisasi di
PG Ngadiredjo sudah bisa dilakukan
sejak pembukaan lahan, tanam, pemupukan sampai dengan tebang dan muat.
Dari pengalaman di lapangan, pekerjaan
tanam menggunakan mesin cane planter bisa mempercepat waktu pengerjaan.
Dari yang sebelumnya menggunakan
tenaga manual hanya bisa mengerjakan 0,3-0,5 ha per hari, sekarang sudah
bisa menyelesaikan 2 ha tanaman dalam
waktu yang sama.
Pengairan dilakukan menggunakan
sprinkler irrigation dan memecah tanah
menggunakan sub soiler. Sedangkan di
musim panen, di Ngadiredjo menggunakan alat tebang whole stalk dan grab
loader. Dikatakan Bambang, meskipun
sudah melakukan mekanisasi, namun
masih ada pekerjaan yang dilakukan
secara manual yaitu saat klentek. ”Sebenarnya bisa juga dikerjakan dengan
mesin tapi petani merasa kurang bersih. Kami tidak bisa memaksa karena di
Jawa, tebu adalah tanaman sawangan
(untuk dilihat-lihat),” ujarnya.
Dengan pengerjaan secara mekanis
pasokan pabrik gula bisa dipastikan. ”PG
akan tebang berapa bisa dipastikan karena kapasitas tebang sama dengan kapasitas tanam, pabrik tidak perlu bingung
cari pasokan,” kata Bambang.
Muryadi, Sinder PG Ngadiredjo menambahkan mekanisasi juga bisa memberikan jaminan homogenitas tanaman,
kemasakan tanaman juga akan sama dan
tentunya kecepatan tebang bisa dikejar.
Ia mencontohkan, dulu sebelum tebang
menggunakan mesin dibutuhkan waktu
hingga delapan hari untuk setengah ha
lahan. Sekarang, dengan mesin sudah
bisa diselesaikan hanya dalam waktu
satu hari saja. Bahkan jika mekanisasi
sudah berjalan lancar ditargetkan satu
hari bisa tebang di lahan seluas 1,5 ha.
Dengan kecepatan dan hasil yang
diperoleh, sekarang semakin banyak
petani yang tertarik untuk menggarap
lahan secara mekanis. Hanya saja luasan lahan masih menjadi kendala karena
belum sesuai dengan batasan minimal.
”Masih butuh motivasi. Namun melihat
kelangkaan tenaga kerja sekarang, dalam waktu lima tahun lagi petani sudah
tidak bisa lagi tidak menggunakan mekanisasi,” ujar Muryadi.
SAlAh satu kunci dalam
aplikasi mekanisasi
adalah mengumpulkan
area menjadi satu
hamparan. agar bisa
mekanisasi bisa efisien,
ada minimal luas lahan
yang musti dipenuhi.
foto-foto: dery ardiansyah
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto: dery ardiansyah
PG GeMPolKreP
Edukasi Petani, Berhasil Lakukan
Mekanisasi 1.656 Hektar
 Laporan : SiSkA PreStiwAti
untuk menyukseskan gerakan mekanisasi, Pabrik Gula (PG) Gempolkrep
terus melakukan pendekatan kepada
petani. Untuk meyakinkan petani, beberapa diantaranya diajak untuk melihat
langsung pelaksanaan mekanisasi baik
di Indonesia maupun ke luar negeri.
Berdasarkan data dari Bagian Tanaman PG Gempolkrep, hingga 3 September
2015, total sudah ada 1.656 hektar lahan
mekanisasi dengan rincian 1.264 hektar
lahan ratoon mekanisasi dan 392 hektar
lahan plant cane mekanisasi. Manager
Tanaman PG Gempolkrep, Bambang Suprijanto mengatakan, program budidaya
tebu dengan sistem mekanisasi di PG
Gempolkrep mulai dilakukan pada masa
tanam 2014/2015 dengan 443 hektar untuk lahan ratoon mekanisasi dan 87 hektar untuk lahan plant cane mekanisasi .
Bambang menjelaskan lahan ratoon
adalah penananam awal dilakukan dengan sistem manual atau sistem renoso,
namun setelah tebang proses selanjutnya dilakukan dengan mekanisasi. Mekanisasi di lahan ratoon adalah penerapan pekerjaan pada tanaman ratoon
yaitu putus akar dengan alat terratyne.
Sedang untuk plant cane mechanisation adalah penerapan kebun hamparan
plant cane yang dikerjakan dengan full
mekanisasi, mulai dari bukaan lahan
hingga tebang muat angkut.
“Hingga 3 September, dari ratoon
mekanisasi seluas 443 Ha yang sudah
digiling ada 276 hektar, sedang untuk
plant cane mekanisasi dari 87 hektar
yang sudah digiling ada 21 hektar,” sebut
Bambang.
Bila dilihat dari produktivitasnya,
mekanisasi di lahan ratoon adalah 76
ton per hektar sedang untuk lahan plant
cane produktivitasnya adalah 92 ton per
hektar. Dengan rendemen 8,2 persen
untuk ratoon mekanisasi dan 8,6 persen
untuk mekanisasi plant cane. Bila dibandingkan dengan masa tanam 2013/2014
yang masih sistem manual, terlihat peningkatan yang cukup signifikan, antara
lain dari sisi rendemen untuk ratoon
meningkat 0.5 poin dari 7,7 persen, sedang untuk plant cane naik 0.7 poin dari
sebelumnya dari 7,9 persen. Begitu pula
dengan produktivitas, untuk ratoon naik
22 ton/hektar dan plant cane naik 38
ton/hektar.
Untuk menarik minat petani, PG juga
terus menunjukkan keunggulan mekanisasi. Misalnya saja dalam hal efisiensi
tenaga kerja. Pada budidaya tanaman
tebu, kalau menggunakan sistem reynoso, maka untuk mengerjakan pekerjaan
buka lahan 1 hektar saja membutuhkan
waktu sampai dengan satu bulan, sedang
dengan mekanisasi kegiatan buka lahan
bisa dikerjakan kurang dari dua minggu.
Selain itu untuk kegiatan tebang
muat, menebang di lahan seluas satu
hektar dengan produktivitas 1.000 kuintal tebu dibutuhkan tenaga tebang sebanyak 20 orang dengan lama pengerjaan
empat hari. Sedang dengan satu unit
harvester, untuk menebang tebu dalam
volume yang sama hanya membutuhkan
waktu 12 jam saja. Begitu pula untuk ratoon mekanisasi.
Bambang menambahkan, budidaya
tebu dengan mekanisasi merupakan
jawaban dari peliknya permasalahan
yang selama ini dihadapi oleh petani.
Agar mekanisasi lebih efektif dan efisien
sehingga bisa menekan biaya pokok produksi, dibutuhkan kebun dengan hamparan minimal sepuluh hektar atau regrouping.
49
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
MeKanisasi HGu
Jadi Pilot Project,
Produksi Kebun HGU
Tunjukkan Peningkatan
 Laporan : SiSkA PreStiwAti
50
haSil mekanisasi telah dapat dirasakan. Menjadi percontohan, kebun
HGU yang sudah menerapkan mekanisasi berhasil menunjukkan peningkatan rendemen secara signifikan.
Tugas pokok on farm adalah menyiapkan bahan baku tebu sesuai dengan
kapasitas giling baik dari sisi jumlah
yaitu kapasitas giling harian maupun
kapasitas giling total. Tentunya bahan
baku yang disiapkan harus berkualitas
yaitu tebu masak dengan usia 12 hingga 13 bulan. Untuk memberikan jaminan tersebut, maka pola tanam harus
sama dengan pola giling.
Kepala Divisi Budidaya PTPN X,
Mochamad Abdul Khamid menjelaskan, hampir 97 persen pasokan tebu
berasal tebu rakyat. Namun, beberapa
tahun terakhir produktivitas tebu tampak stagnan bahkan cenderung menurun. Masa tanam, kepras hingga panen
tidak tepat waktu dan terlambat. Melihat kondisi tersebut, Direksi PTPN
X memutuskan untuk menggerakkan
Mekanisasi On Farm mulai dari persiapan buka kebun hingga panen.
Untuk menyukseskan gerakan mekanisasi, Khamid mengatakan, dukungan manajemen PTPN X sangat
besar. Hal ini dapat dilihat dari dukungan Program Kemitraan dan Bina
Lingkungan serta Corporate Social
Responsibility (CSR) PTPN X yang
cukup besar. Misalnya pada awal tahun 2013 dilaksanakan bantuan CSR
PKBL untuk normalisasi
patusan
utama yang melintasi wilayah kerja
PG Kremboong, PG Toelangan dan PG
Watoetoelis. Selain itu pelatihan – pelatihan tentang mekanisasi dan juga
studi banding ke perusahaan perkebunan gula di lampung bahkan sampai
mengirim beberapa wakil petani ke
 mochamad Abdul Khamid
kepala divisi BUdidaya ptpn X
negeri gajah putih.
Agar mekanisasi bisa berjalan
dengan maksimal dan efisien, dibutuhkan syarat luasan kebun dengan
sistem hamparan minimal 10 hektar
dengan PKP minimal 135 centimeter.
“Untuk itu, PTPN X telah mencanangkan mekanisasi baik Tebu Sendiri (TS)
maupun di Tebu Rakyat. Dengan HGU
sebagai pilot project mekanisasi,” kata
Khamid. Dengan mekanisasi, rendemen di lahan HGU berhasil meningkat dari 8,23 persen pada tahun 2013
meningkat menjadi 8,87 pada tahun
2014. Dari sisi luasan, perkembangan
luasan kebun mekanisasi di PTPN X
ditargetkan mencapai 13.379, 9 hektar
hingga musim tanam 2017/2018.
HGU PG Pesantren Baru merupakan kebun pilot project MT 2013/2014
di lahan tegal dengan luas 1.982 hektar, sedangkan di lahan sawah kebun
TSS-IPL PG Kremboong seluas 25
hektar dan kebun Tebu Rakyat seluas 75 hektar di PG Watoetoelis dan
PG Toelangan. Diskusi yang muncul
antara lain bagaimana desain got pada
lahan sawah, berapa jarak antar baris
tanaman, berapa panjang baris tanaman dan lain-lain.
Tahun 2014 luas lahan dengan mekanisasi semakin luas. Luas areal kebun tersebut mencapai 2.700 hektar,
terinci HGU Jengkol Sumberlumbu
seluas 1.944 hektar, TS-IPL seluas 220
hektar dan TR kelompok kebun hamparan lebih 10 hektar ada 536 hektar.
Di tahun 2014 ini ada diskusi yang
muncul bagaimana mengajak petani
dan provider agar mau melaksanakan
sistem mekanisasi. 2014 juga merupakan tahun pertama dilaksanakan muat
tebu ke atas truk dengan menggunakan
grab loader. Banyak kendala teknis
dan non teknis yang muncul dan harus
diselesaikan.
Pada tahun 2015, luas areal kebun
mekanisasi telah mulai berkembang
dicanangkan mencapai 14.645 hektar
atau 22,5 persen dari luas areal. Dengan rincian, lahan HGU seluas 1.965
hektar, TS-IPL seluas 658 hektar , TR
kelompok hamparan lebih 10 hektar
sudah mencapai 1.282 hektar dan sisa
12.022 hektar adalah kebun-kebun
TR yang dikerjakan dengan mekanisasi tetapi luas hamparan per kebun
kurang dari 10 hektar.
Untuk mendukung program ini,
lanjutnya mekanisasi pada budidaya
juga dilakukan untuk memenuhi pasok, dimana kapasitas tebang biasanya
terkendala di jumlah penebang. Maka
mulai pertengahan tahun 2013 mulai
dicanangkan gerakan tebang muat
tebu secara semi mekanisasi yaitu
muat dengan menggunakan dengan
grab loader.
Beberapa kebun TR hamparan ada
yang diatas 30 ha. Pada tahun ini selain muat dengan grab loader juga dilaksanakan tebang dengan harvester
whole stalk yang menghasilkan batang
lonjoran dan chopped cane harvester
sukrosa
(hasil tebu terpotong-potong kurang
lebih 20 cm). Diskusi yang muncul bagaimana agar produktivitas harvester
bisa mencapai kapasitas desainnya.
Khamid juga mengungkapkan mekanisasi tebang muat angkut (TMA) di
PTPN X. Pada masa tanam 2013/2014,
TMA semi mekanis dengan grab
loader yang
beroperasi sebanyak
16 unit grab loader dengan realisasi
muat grab loader pada musim tanam
2013/2014 adalah 1.302.133 kuintal.
Sedang untuk masa tanam 2014/2015,
PTPN X menerapkan dua sistem, yaitu
semi mekamis grab loader dan TMA
mekanis dengan Chopper Harvester.
Berdasarkan data Divisi Pengolahan
PTPN X, untuk TMA semi mekanis
dengan grab loader yang beroperasi
sebanyak 11 unit realisasi sampai dengan Juli 2015 adalah 550.500 Kuintal
sedang TMA mekanis dengan dua unit
Chopper Harvester realisasi sampai
dengan bulan Juli 2015 adalah 8.592
Kuintal.
SuPPoRtINg mANAgemeNt SyStem
PTPN X menerapkan supporting
management sistem mekanisasi dengan skema segitiga dua arah. Pabrik
gula menerima pengajuan lahan
petani dan melakukan kontrak dengan
provider. Sedang provider melakukan kontrak dengan pabrik gula dan
melaksanakan pekerjaan pada lahan
petani. Di sisi petani, mereka mendaftarkan dan menyerahkan lahan ke
pabrik gula dengan luas minimumnya
10 hektar.
Lebih lanjut Khamid menjelaskan
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
dalam implementasinya sistem Mekanisasi di PTPN X terdiri dari pilar-pilar
pokok sebagai berikut. Yang pertama
adalah sistem regrouping areal petani
agar tercipta efisiensi kerja. Seperti
yang diketahui bahwa peralatan mekanisasi on farm adalah alat berat yang
bisa bekerja lebih efisien pada hamparan yang luas dan kadar lengas tanah tertentu.
Kapasitas kerja alat per hari ratarata lebih dari satu hektar dan bahkan
ada yang mencapai 5 ha. Jika kebun
yang digarap sempit maka akan sering putar, banyak tanaman rusak,
iddle capacity dan boros biaya karena
harus sering pindah kebun bahkan ada
beberapa alat seperti harvester harus
dipindah dengan truk khusus. Disini
setiap petugas tanaman harus melakukan penyuluhan atau pendekatan kepada para petani hamparan agar mau
regrouping arealnya dan membentuk
kebun kelompok hamparan dengan
luasan minimum 10 hektar. Selain
pembentukan kelompok hamparan,
beberapa hal yang perlu dibahas dan
disusun adalah rencana yang disebut
R1-R7 yang meliputi desain letak dan
arah got, rencana kebutuhan bibit dan
tanam dan seterusnya.
“Yang kedua adalah membangun
kerjasama dengan para provider mekanisasi,” ujar mantan General Manager PG Watoetoelis ini. Provider
mekanisasi bisa berasal dari kalangan
petani, Koperasi, KUD/KPTR dan
Swasta, yang terpenting bekerja profesional dengan memiliki beberapa traktor dan berbagai macam implemen se-
hingga mampu memberikan layanan
kepada beberapa kebun hamparan
dan sangat dianjurkan mampu mengelola 300 hektar. Syarat kapasitas kerja
provider seluas 300 ha juga sebagai jaminan bagi petani agar proses budidaya tanaman tebu bisa terlayan dengan
baik.
Khamid juga mengungkapkan alasan mengapa PTPN X melibatkan provider dalam mekanisasi, hal itu karena
ada beberapa alasan. Salah satunya
adalah bisnis PTPN X ada di bidang industi gula sehingga PTPN X lebih fokus
kepada perbaikan alat-alat mesin di
pabrik bukan di alat-alat mekanisasi.
“Kalau kita mengerjakan sendiri mekanisasi di kebun maka kurang fokus,
dana investasi besar dan tenaga SDMnya juga cukup tinggi,” urainya.
Yang terakhir dan juga sangat penting adalah supporting management.
Gerakan mekanisasi dikatakan sukses
bila berhasil membumikan sistem mekanisasi menjadi budaya petani dalam
mengelola kebun tebu. Para petani
akan sadar pentingnya membentuk
kelompok hamparan dan bekerjasama
dengan para provider mekanisasi,
bahkan kelak bekerjasama dengan
provider bibit dan sumber-sumber
pendanaan bagi kebunnya. Rekayasa
agar sistem mekanisasi menjadi budaya adalah proses panjang yang senantiasa membutuhkan dukungan dari
semua lapisan manajemen. “Dengan
skema yang sudah dibuat tersebut,
yang paling penting adalah support
manegement agar mekanisasi sukses
dijalankan,” ujarnya.
KeBuN meKANISASI teRteBANg
PeR SePtemBeR 2015
pabrik gula
tertebang
luas
kuintal
protas
Watoetoelis
70,26
59.519,00
847,17
Kremboong
60,67
49.344,00
813,38
Gempolkrep
10,53
7.852,00
745,54
Tjoekir
15,88
15.067,00
948,86
7,30
5.000,00
685,03
Pesantren Baru
41,48
35.420,00
853,91
Ngadiredjo
17,60
19.174,00
1.089,28
Meritjan
PtPN X
223,71
191.376,00
855,45
51
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Mekanisasi TMA
Meningkatkan
Kualitas Bahan Baku
 Laporan: SAP JAyAnti
52
MekaniSaSi lahan yang tahun ini
dilakukan PT Perkebunan Nusantara
(PTPN) X memiliki manfaat besar dalam budidaya tebu. Di tahap Tebang
Muat Angkut (TMA), penggunaan
mesin pertanian bisa menjawab kesulitan soal tenaga kerja dan meningkatkan
kualitas bahan baku tebu.
Sesuai kebijakan direksi, tahun 2015
ini ditetapkan untuk pendaratan atau
aplikasi mekanisasi di lapangan sesuai
dengan perencanaan yang ditetapkan
sebelumnya. Mekanisasi dibutuhkan
dengan pertimbangan tenaga kerja yang
semakin sulit. Tidak ada penebang manual yang bercita-cita anaknya menjadi
tukang tebang. Anak muda sekarang
pun semakin enggan turun menggarap
lahan pertanian dengan cara manual.
Dikatakan Kepala Urusan Bahan
Baku Divisi QC dan Pengembangan Lahan, Djoko Purwo Setyohadi, dengan
mekanisasi, akuntabilitas pekerjaan
bisa dijamin, kepastian selesainya
pekerjaan bisa dihitung, kualitas pekerjaan terjaga, harga transparan dan
 Djoko Purwo Setyohadi
kepala UrUsan Bahan BakU divisi Qc
dan pengemBangan lahan
efisien waktu pengerjaan. Djoko mencontohkan, pekerjaan di lahan seluas
1 ha dengan mesin bisa selesai dalam
waktu 1 hari, dengan manual baru bisa
selesai dalam waktu 3 hari.
Sebelum implementasi, PTPN X sudah melakukan persiapan berupa pembuatan sistem perencanaan kebun yang
baik dan ramah untuk alat-alat mekanisasi, alur tanam yang panjang atau
long furrow dengan ukuran 100, 150,
hingga 200 meter serta memiliki kapasitas lapang sehingga bisa dimasuki
alat-alat mekanis. Selain itu tidak boleh
terdapat guludan di lahan karena akan
menyulitkan peralatan mekanis.
Di tahun ini, yang sudah mulai diimplementasikan untuk tebang mekanis
adalah penggunaan harvester chopper.
Alat ini hanya membutuhkan dua tenaga kerja yaitu operator alat harvester
chopper dan truk. Dalam satu waktu,
tebu langsung ditebang, dipotong dengan ukuran kurang lebih 30 cm dan
sekaligus dinaikkan ke truk. Semuanya dilakukan otomatis tanpa tenaga
manual lagi. Sebelumnya TMA masih
dilakukan semi manual yaitu tebang
secara manual kemudian dinaikkan ke
truk menggunakan grab loader.
TMA mekanis maupun semi mekanis menggunakan harvester chopper
dan grab loader sudah dilakukan di sebagian lahan. Diantaranya di lahan PG
Watoetoelis, PG Kremboong dan PG
Gempolkrep. ”Mengapa di Delta? Karena lahannya paling sulit tenaga kerja.
Keberhasilan mekanisasi di Delta bisa
dijadikan ukuran untuk tanah-tanah
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
supporting management
sistem mekanisasi
Menerima pengajuan lahan
petani dan melakukan
kontrak dengan provider
PABRIK
gulA
PetANI/
KoPeRASI
Mendaftarkan &
menyerahkan lahan ke
PG minimum luas 10 ha
(regrouping) dan min
PKP 135 sebagai syarat
fasilitas kredit
PRovIDeR
Melakukan kontrak
dengan PG dan
melaksanakan pekerjaan
pada lahan petani
foto-foto: dery ardiansyah
pasiran seperti Kediri,” tutur Djoko. Diakuinya, pelaksanaan mekanisasi saat
ini belum ideal dari sisi luasan lahan karena masih kurang dari 10 hektare (ha).
Ke depan diharapkan semakin banyak
petani yang mau mengelompokkan lahannya sehingga penggunaan alat mekanis lebih efisien. ”Sekarang bisa dibilang
masih percobaan. Kalau banyak yang
sudah berhasil, petani lain juga akan tertarik menggunakan alat,” kata Djoko.
Penggunaan alat seperti harvester
chopper untuk TMA juga bisa menjaga
ketepatan FIFO (First In First Out) untuk mengawal potensi rendemen tebu.
”Untuk tebu yang ditebang langsung
digiling, potensinya bisa 100 persen
karena belum ada proses fermentasi
dalam tebu. Kalau tebu itu potensinya
8, akan jadi gula rendemen 8. Semakin
lama waktu tunggu, semakin jauh dari
potensi sebenarnya,” kata Djoko. Tebu
yang terluka oleh tebangan akan terinfeksi bakteri leuconostoc yang merusak
ImPlemeNtASI meKANISASI DAN SemI meKANIS tmA DI PtPN X
loKASI
luAS
AlAt
KEBUN NGEMBEH, KEC DLANGGU
5
HA
HARVESTER CHOPPER
KEBUN MOJOJAJAR, KEC KEMLAGI
5 HA
HARVESTER CHOPPER
KEBUN DUNGUS, KEC PURI
3
HARVESTER CHOPPER
TS GEMPOL, PG WATOETOELIS
9 HA
GRAB LOADER + MANUAL
TR KALIMATI, PG WATOETOELIS
3
HARVESTER CHOPPER 1 HA, SISANyA GRAB LOADER
TRKS JEDONGCANGKRING
HA
HA
6,23 HA
HARVESTER CHOPPER
TS WATESSARI
18
HA
HARVESTER CHOPPER
TS PEJAGALAN
10 HA
HARVESTER CHOPPER
TR WOTANSARI, BALONGPANGGANG
10
HARVESTER CHOPPER
HA
ikatan kimia disakarida menjadi monosakarida sehingga tidak bisa diproses
menjadi gula. Oleh karena itu rendemen tidak pernah sesuai target meskipun varietas tebu yang ditanam memiliki potensi rendemen yang tinggi.
Proses TMA menggunakan alat menjawab hambatan itu karena tenaga manual sulit jika harus bekerja sewaktuwaktu. ”Tenaga manusia tidak bisa kalau
sehari kerja sehari berhenti. Sedangkan
dengan mesin bisa libur atau tebang sesuai dengan kebutuhan sehingga tebu
yang ditebang hari itu bisa langsung digiling saat itu juga. Ketepatan FIFO bisa
dijaga dan waktu tunggu ditekan hingga
di bawah 24 jam,” tuturnya.
Djoko mengakui mengubah budaya
dari model lama berupa lahan dengan
guludan, alur tanam pendek hanya 10
meter, terdapat got pecahan, menjadi
sesuai dengan yang disyaratkan untuk
mekanisasi tidak mudah. ”Sejak 2010
kami terus memberikan sosialisasi.
Termasuk bekerjasama dengan PKBL
memberikan pelatihan mekanisasi ke
petani. Edukasi juga diberikan kepada petugas tanaman. Termasuk juga
mengikuti short course dan belajar mekanisasi ke luar negeri mulai Thailand
hingga Mauritius,” papar Djoko. Tidak
berlebihan hingga akhirnya PTPN X
dijadikan benchmark mekanisasi oleh
PTPN-PTPN lain di Pulau Jawa.
Sudah dipersiapkan sejak lima tahun
lalu bukan berarti aplikasi mekanisasi
berjalan mulus. Masih ada lahan yang
belum ideal karena belum semua petani
yakin tanaman tebu bisa ditanam tanpa
guludan. Djoko mencontohkan, ada
lahan yang sudah long furrow namun
tetap tidak bisa tebang mekanis karena
lahannya masih ada guludan sehingga
tidak layak dilewati truk maupun alat
tebang mekanis.
Persiapan lain yang dilakukan termasuk juga menyiapkan organisasi
mekanisasi yang terdiri dari provider
– Pabrik Gula (PG) serta koperasi.
Provider bertugas mengelola alat-alat
mekanis. Joko menuturkan, PTPN X
memilih menggunakan provider karena lebih menguntungkan. “Mereka
orientasinya keuntungan, jangan sampai alatnya idle atau mandeg,” ujarnya.
Koperasi dibutuhkan karena 90 persen
lahan PTPN X adalah tebu rakyat sehingga pembiayaannya harus melibatkan koperasi.
53
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Core Sampler Tingkatkan
Kepercayaan Petani
 Laporan: SiSkA PreStiwAti
Sejak 2013, PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X mulai mengoperasikan
core sampler di Pabrik Gula (PG) Ngadiredjo. Penggunaan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan petani kepada pabrik gula.
Setelah melalui masa percobaan
sejak dua tahun lalu dengan pendampingan dari Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI), hasil
kajian menunjukkan bahwa pengujian
rendemen secara teknis dan secara legal dengan core sampler sudah bisa dilakukan. Kepala Divisi Quality Control
PTPN X, Miftakhul Munir menjelaskan, selama ini rendemen merupakan
masalah yang sangat sensitif.
Tidak jarang muncul masalah ka-
 miftakhul munir
kepala divisi QUality control ptpn X
rena petani kurang puas. Untuk mengatasi masalah tersebut, sejak 20132014, PTPN X bekerjasama dengan
P3GI melakukan kajian untuk bisa
mendapatkan nilai rendemen dari setiap truk pengangkut tebu sebelum
sampai di meja tebu. “Dengan teknologi core sampler berapa nilai rendemen
bisa diketahui dengan cepat. Core
sampler akan mengambil sample nira
dari atas truk dan langsung dianalisa di
laboratorium core sampler. Hasil rendemennya akan keluar dalam waktu
lima menit saja,” jelas Munir ditemui
di ruang kerjanya. Core Sampler ini
diharapkan bisa meningkatkan kepercayaan petani karena lebih transparan
dan petani bisa mengetahui kualitas
tebunya dengan cepat.
Mantan GM PG Watoetoelis ini menuturkan, selama ini proses penghitungan rendemen menggunakan sistem Analisa Rendemen Individu Nira
Perahan Pertama (ARI NPP). Dimana,
54
foto: dok. pUslit djengkol
sukrosa
rendemen baru bisa didapatkan setelah tebu digiling pada gilingan satu
untuk mendapatkan contoh niranya.
Penghitungan rendemen dengan sis­
tem ARI NPP hasilnya baru akan diumumkan pada hari berikutnya. Selama
ini, sambung Munir, sudah dilakukan
sampling tebu di pos penerimaan
atau pintu masuk secara acak, dengan
mengambil dua atau tiga batang tebu
untuk mengetahui pH dan brix-nya
namun belum bisa mengetahui rendemennya.
Munir menambahkan, penggunaan
teknologi memberikan keuntungan
baik bagi pabrik gula maupun bagi
petani. Dari pabrik gula, keuntungan
yang didapat adalah bisa mengetahui potensi kebun dalam waktu singkat. Bila ternyata nilai rendemennya
kurang memenuhi standar, maka
pabrik gula bisa mengembalikan tebu
tersebut. Seandainya pun tebu tersebut diterima maka pabrik gula bisa
mengetahui potensi rendemen kebun
tersebut, sehingga nantinya tidak perlu khawatir terjadi kesalahpahaman
akibat nilai rendemen yang rendah.
Sementara bagi petani, jelasnya,
petani bisa lebih cepat mengetahui
kualitas tebunya. Sehingga, petani bisa
segera memutuskan apakah tebu akan
tetap digiling di pabrik gula tersebut atau ditarik bila rendemennya di
bawah standar. “Dengan core sampler
ini, petani pun memiliki bargaining
position,” tegasnya.
Menurutnya, dengan adanya data
sebelum proses produksi, maka baik
petani maupun pabrik gula bisa instropeksi diri dan terus meningkatkan
kinerja. Dari petani, bila rendemennya kurang maka petani bisa segera
melakukan upaya-upaya peningkatan
kualitas bahan baku tebu. Sementara
bagi pabrik gula, maka harus meningkatkan kinerja agar rendemen yang
sudah tinggi tetap bisa tinggi. Jangan
sampai hasil bahan baku tebu yang
berkualitas menjadi kurang optimal
karena performa pabrik yang kurang
bagus.
Melihat manfaatnya, PTPN X pada
musim giling 2016 berencana menerapkan full core sampler mulai awal
hingga akhir giling di PG Ngadiredjo.
”Pada musim giling tahun ini masih
menggunakan ARI NPP sedang data
core sampler hanya sebagai pendu-
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
kung saja,” ujarnya.
Dikatakan Munir, penggunaan
teknologi core sampler seperti yang
dilakukan PTPN X juga sudah mendapatkan dukungan dari pemerintah
dengan keluarnya Peraturan Gubernur
(Pergub) nomor 87 tahun 2014 tentang petunjuk pelaksanaan peraturan
daerah Provinsi Jawa Timur nomor 17
tahun 2012 tentang peningkatan rendemen dan hablur tanaman tebu, pada
Bab V Pasal 11 yang berbunyi nilai
faktor kristal (FKr) hanya digunakan
untuk pabrik gula yang menggunakan
sistem core sampler dengan nilai minimal FKr 1,0. ”Sehingga apa yang dilakukan PTPN X ini sudah ada payung
hukumnya,” imbuhnya.
Disinggung tentang edukasi kepada
petani dan pemerintah daerah, Munir
menyebutkan pada musim giling ini
sosialiasi dan edukasi sudah dilakukan sebanyak dua kali yaitu pada Bulan April dan Mei di PG Ngadiredjo
yang dihadiri oleh Dinas Perkebunan,
APTR, KPTR, Petugas PG, dan petani.
Diharapkan dengan sosialisasi ini, ada
pemahaman dari pihak terkait dan pemerintah bisa berperan sebagai penengah antara petani dan pabrik gula jika
ada permasalahan.
Munir juga menyebutkan di PG
Ngadiredjo sudah memiliki empat unit
core sampler yang rencananya akan
beroperasi sejak pukul 06.00 WIB
hingga 22.00 WIB. Dua alat core sampler adalah milik sendiri, sedang dua
lainnya adalah milik rekanan. Dengan
menggandeng PT Teknik Bina Usaha
(TBU), PTPN X bisa menekan biaya,
sebab rekanan hanya akan dibayar sesuai kinerja alat core samplernya saja.
Ke depan, teknologi core sampler
ini direncanakan juga bisa diterapkan
di enam pabrik gula lainnya yaitu PG
Meritjan, PG Pesantren Baru, PG Lestari, PG Tjoekir, PG Djombang Baru
dan PG Gempolkrep.
Selain memiliki kelebihan, ungkap
Munir, Core Sampler juga memiliki
kelemahan karena tidak bisa diterapkan pada tebu terbakar. Sebab, pada
tebu terbakar ada poll semu yang terbaca tinggi pada sistem namun kandungan niranya sudah rusak. Selain itu,
yang harus diantisipasi adalah kerusakaan alat core sampler yang dikhawatirkan akan mempengaruhi kapasitas
giling pabrik. 
“Dengan teknologi
core sampler berapa
nilai rendemen bisa
diketahui dengan
cepat. Core sampler
akan mengambil
sample nira dari
atas truk dan
langsung dianalisa
di laboratorium
core sampler. Hasil
rendemennya akan
keluar dalam waktu
lima menit saja,”
Miftakhul Munir
Kepala Divisi Quality Control PTPN X
55
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Land Forming
Tunjang
Kelancaran
Mekanisasi
 Laporan: SekAr Arum
MekaniSaSi yang diaplikasikan
di lingkungan PT Perkebunan Nusantara X tak akan pernah berhasil tanpa
penerapan land forming yang tepat.
Penerapan land forming ditujukan
untuk kelancaran operasional mekanisasi menuju Fully Mechanised Era
di PTPN X.
Yang dimaksudkan dengan land
forming adalah membentuk atau
membuat design kebun atau lahan
agar operasional Alsintan (alat dan
mesin pertanian) berjalan lancar tanpa hambatan mulai Land Preparation
sampai Harvest and Transportation
Process. Pekerjaan landforming ter-
56
 Dozer, untuk membuka lahan
masuk pembuatan headland untuk
putaran Alsintan.
Pengamat mekanisasi, Soeparmin
kepada PTPN X Magz menuturkan,
ada beberapa tahapan yang harus dilakukan agar penerapan mekanisasi
dapat berjalan dengan tepat. Yang pertama, untuk lahan kering seperti lahan
HGU yang dimiliki oleh PTPN X harus
ddibentuk hamparan sesuai ukuran
minimal 10 hektare (ha) sehingga lebih efektif dan efisien.
Ukuran ideal di masing-masing PG
baik di dalam maupun di luar negeri
sangat bervariasi. Ukuran 600 X 400
meter atau seluas 24 Ha bisa dianggap ideal dengan catatan tiap 200 meter pada sisi panjang dibuat fieldroad
atau jalan kebun pembagi. Namun ada
PG yang membuat layout kebun tiap
petak seluas 200 x 400 meter atau 8
ha. ”Semuanya tergantung pada situasi dan kondisi lahan,” ujarnya.
Kedua yakni untuk lahan tegal atau
tebu rakyat. Karena kepemilikan lahan
pada umumnya tidak terlalu luas , maka
diperlukan pendekatan serta kesepakatan untuk bergabung menjadi satu hamparan secara kolektif agar mekanisasi
pertanian bisa berjalan efektif. Semua
tahapan pekerjaan serta beban biaya
ditanggung secara kolektif. Demikian
pula sisa hasil usaha akhir diterima secara kolektif dan kemudian dibagi masing-masing pemilik lahan sesuai luasan yang dimiliki. Untuk ukuran ideal
TR kolektif ditetapkan minimal 10 ha
untuk efektivitas operasional.
Ketiga yakni pengaturan layout kebun. Setelah ukuran kebun ditetapkan
minimal 10 ha, dilakukan pembuatan
atau pembentukan jalan keliling kebun sebagai batas dengan menggunakan bulldozer untuk meratakan jalan
keliling maupun infield road atau
jalan pembatas. Pembuatan atau pembentukan jalan kebun tersebut juga
berfungsi mempermudah operasional
traktor untuk putaran. Pembuatan
headland selebar 3-4 meter juga dibutuhkan untuk perputaran traktor pada
saat operasional.
”Tahap berikutnya setelah layout
kebun dan jalan kebun selesai dibuat,
sukrosa
“Landsmoothing and grading berfungsi dan bertujuan untuk meratakan
dan “menghaluskan“ permukaan tanah
agar operasional Alsintan berjalan lancar
sejak awal sampai panen serta menghindari terjadinya erosi permukaan atau
run off . Sedangkan Landlevelling berfungsi dan bertujuan agar per­mukaan
tanah rata dengan kriteria rata permukaan air, karena memang salah satu tujuan landlevelling adalah agar tanaman
tebu dapat diairi dengan sistem aliran
permukaan,” tandasnya kembali.
Perlu diingat, pekerjaan landlevelling memerlukan biaya sangat besar
serta peralatan yang canggih. Untuk
akurasi pengukuran serta ketinggian
agar benar-benar rata permukaan air
atau level diperlukan traktor berkekuatan besar > 250 HP serta Laser Equipment agar diperoleh hasil yang akurat
dan tepat.
Soeparmin menegaskan, yang diperlukan agar operasional Alsintan dapat
bekerja lancar tanpa hambatan di areal HGU PT Perkebunan Nusantara
X adalah membentuk kebun dengan
Landsmoothing and grading. ”Tidak
perlu landlevelling karena tidak dilakukan sistem pengairan dengan metode
aliran permukaan. Kalaupun dilakukan
pemberian air dengan menggunakan
Big gun atau sprinkler ataupun Drip irrigation tetap tidak diperlukan landlevelling namun cukup landsmoothing
and grading,” jelasnya.
prinsip utama
landsmoothing and
grading adalah
menciptakan atau
membentuk permukaan
lahan agar ideal dan
memenuhi syarat
untuk operasional
Alsintan sejak
pelaksanaan pekerjaan
Land Preparation
sampai Harvest and
Transportation Process.
foto-foto: dok. TS madura
dilakukan pekerjaan land smoothing
dan grading juga menggunakan bulldozer atau implementasi landgrader
yang ditarik tractor berkekuatan lebih
dari 150 HP. Dalam operasional dilapangan sering pekerjaan pembentukan
layout kebun dikerjakan bersamaan
dengan landsmoothing dan grading,”
tutur Soeparmin.
Yang sangat penting, lanjutnya, dalam pelaksanaan landsmoothig and
grading adalah gundukan tanah, tanggul-tanggul kecil baik di pinggir jalan
atau di tengah kebun dihancurkan dan
diratakan serta didorong kearah tengah kebun. Kadang–kadang diperlukan pekerjaan cut and fill apabila ada
cekungan-cekungan di tengah kebun
yang berpotensi terjadinya waterlock .
Ia menegaskan, prinsip utama
landsmoothing and grading adalah
menciptakan atau membentuk permukaan lahan agar ideal dan memenuhi
syarat untuk operasional Alsintan sejak pelaksanaan pekerjaan Land Preparation sampai Harvest and Transportation Process.
Satu hal penting yang harus mendapat perhatian serius dari para pelaksana
di lapangan serta manajer yakni pada
saat smoothing and grading lapisan
atas jangan sampai memindahkan
lapisan topsoil atau solum tanah dan
area perakaran tanaman. Karena ada
dasarnya Landsmoothing and grading
berbeda dengan Landlevelling.
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
57
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Mudahkan Pengolahan
Lahan Tegalan
 Laporan: SekAr Arum
58
MaSing-masing lahan memiliki karakteristik yang berbeda. Tentunya membutuhkan penanganan dan pola mekanisasi
yang tidak sama agar bisa menghasilkan
tebu yang berkualitas.
Mekanisasi sudah diketahui adalah
jalan keluar dari belitan masalah sulitnya
tenaga di kebun. Proses regenerasi sulit
dilakukan sebab kerja di bidang perkebunan menjadi bidang yang tak lagi dilirik
dan dianggap tidak menjanjikan masa
depan di kalangan generasi muda.
Manfaat yang dapat diambil dari
program ini adalah meningkatkan produksi dan menurunkan biaya. Dengan
mekanisasi maka perkebunan tebu akan
mengarah ke budidaya precision agriculture, di mana semua bisa terukur
dengan baik, sehingga biaya yang kita
keluarkan tergantikan dengan produksi
yang meningkat. Khusus untuk lahan
HGU, Asisten Manager Distrik HGU I
&II Martinus Surya mengatakan punya
karakteristik. Untuk itu penerapan mekanisasipun juga punya cara tersendiri.
Seperti diketahui karakterisistik tanah
yang terdapat di HGU adalah tegalan.
Di mana di dalam tanah tersebut masih
terdapat kandungan airnya jika musim
hujan namun sangat kering pada musim
kemarau.
Budidaya tebu pada lahan kering atau
tegal, pengolahan lahan diawali dengan
pembajakan I yang bertujuan untuk
membalik tanah dan memotong sisa-sisa
vegetasi awal yang masih tertinggal. Setelah tiga minggu dilakukan pembajakan
tahap II dengan arah tegak lurus hasil
pembajakan I. Setelah itu lahan dilakukan penggaruan (harrow) yang bertujuan untuk menghancurkan bongkahanbongkahan tanah hasil pembajakan dan
meratakan permukaan tanah. Sisa-sisa
vegetasi awal yang muncul saat pengolahan lahan diambil secara manual.
Setelah lahan siap maka dilakukan
proses tanam dengan menggunakan alat
(Cane Planter). Pada alat ini berfungsi
beberpa pekerjaan sekaligus yaitu membuat alur tanam, menabur pupuk, memotong bibit dan menata di alur tanam
serta menutup bibit tanaman. Menurut
martinus Surya
asisten manager distrik hgU i & ii
Martin di awal pekerjaan tanam ini kegiatan mekanisasi sudah menunjukkan perbedaan yang sangat mencolok
perihal tenaga kerja. ”Kalau kami dulu
tanam 1 Ha lahan memerlukan banyak
orang hingga 40 orang dalam satu hari
per ha, sekarang ini kami hanya butuh
sekitar 15 orang per ha dan lebih cepat.
Kemampuan alat ini sekitar 1,5 ha per
hari,”tutur Martin.
Langkah selanjutnya setelah pekerjaan tanam yang tidak kalah pentingnya
adalah kegiatan pengendalian gulma. Kegiatan ini menggunakan Boom Sprayer
dengan kemampuan alat bisa mencapai
10 Ha per hari dan kerataan penyemprotan yang bagus karena tekanan yang digunakan untuk menyemprotkan herbisida berasal dari mesin, kalau dulu kami
melakukan semprot gulma dengan alat
semprot manual yang tergantung dari
kekuatan manusia yang tidak stabil dan
mungkin tidak rata serta memmbutuhkan waktu dan tenaga yang banyak, sekarang dengan tiga orang cukup dengan hasil yang lebih baik, terang martin.
“Lahan yang dimiliki HGU yakni
3200 ha, dibagi untuk tebu giling sekitar 1.900 Ha, kebun bibit 280 ha, dan
sisanya untuk rotasi tanaman, biasanya
kami tanami tanaman dari keluarga leguminoceae untuk perbaikan kondisi
tanah. Sebagian besar merupakan lahan
kering dan tegal. Untuk itu pengolahan
tanah yang intensif dengan kedalaman
olah tanah sekitar 40 cm merupakan keharusan agar produktivitas yang dihasil-
kan tinggi. Untuk kegiatan pemupukan
sendiri kami menggunakan alat fertilizer
applicator yang bertujuan memberikan
pupuk dengan jarak 25 cm dari tanaman
dan kedalaman 25 cm , hal ini dilakukan
agar nantinya pupuk tidak mengalami
penguapan,” urainya.
Fungsi lain pemupukan seperti itu
adalah agar perakaran menembus ke
bawah dan menjadikan tanaman tak
mudah roboh. Bisa diilustrasikan, akar
akan mengejar pupuk yang ada di dalam
tanah sehingga akar jadi panjang dan
dalam. Setelah pekerjaan pemupukan
Sedangkan tebu yang akarnya pendek
dan dangkal akan mudah roboh. Efek
selanjutnya, tebu yang roboh tidak akan
memiliki rendemen tinggi karena sukrosa yang ada di dalam batang tebu akan
digunakan sebagai energi untuk berdiri.
Dengan pemupukan model ini tanaman
keprasan pada tahun-tahun berikutnya
akan lebih stabil kondisinya.
Kegiatan selanjutnya adalah pemeliharaan tanaman dengan menggunakan
Subsoiler, kegiatan ini berfungsi untuk
memberikan ruang gerak akar yang lebih
dalam. Alat yang kami gunakan adalah
Subsoiler Parabolic, alat ini kami tarik
menggunakan traktor dengan kapasitas
minimal 150 HP. fungsi alat ini adalah
untuk memecah Hardpan yang biasanya terdapat pada kedalaman 50-60 cm.
Dengan memecah lapisan kedap (hardpan) maka daya jelajah akar akan lebih
dalam sehingga dengan akar yang dalam
maka akan mampu menopang tanaman
agar tidak roboh.
Sejauh ini terang Martin, dengan
menerapkan sistem mekanisasi banyak
manfaat yang dapat diperoleh. Antara
lain keragaman tanaman lebih homogen
dikarenakan waktu tanam lebih cepat,
lebih efisien, waktu musim kering tanaman masih kelihatan hijau, kadar sukrosa yang tersimpan akan jauh lebih besar,
pengawasan jauh lebih mudah dan mutu
pekerjaan jauh lebih terjamin.
HGU sendiri mempunyai 24 operator
yang dikelola oleh pihak provider untuk
menjalankan sistem mekanisasi. Terbagi
atas bukaan kebun sebanyak 6 orang,
tanam 8 orang, pemeliharaan 10 orang
dan tebang angkut sebanyak 10 orang.
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
PG KreMBoonG
Terhimpit Industrialisasi,
Optimistis Terapkan Mekanisasi
Tenaga kerja merupakan salah satu aspek yang berpengaruh besar pada hasil akhir
suatu proses produksi terutama pada sektor perkebunan, khususnya perkebunan tebu.
foto: dok. ts madUra
 Laporan : SekAr Arum
naMun saat ini tenaga kerja terampil di
bidang perkebunan semakin sulit diperoleh, karena jumlahnya yang semakin
berkurang dan rata-rata sudah memasuki usia non produktif. Tenaga kerja muda
yang berarti memiliki usia produktif,
sudah jarang mau bekerja di daerahnya
di bidang pertanian atau perkebunan,
mereka lebih memilih bekerja di bidang
lain yang menurutnya lebih ringan. Semakin menurunnya jumlah tenaga di bidang perkebunan ini menjadi tantangan
tersendiri bagi perusahaan.
Setidaknya hal tersebutlah yang juga
dirasakan oleh PG Kremboong dalam
mengelola on farm. Terlebih kondisi
lahan tebu yang dimiliki berada di areal pusat industri dan pengembangan
pemukiman warga. Asisten Tanaman PG
Kremboong, Tri Wahju Rahardjo mengutarakan permasalahan tersebut memang
membuat polemik tersendiri, untuk itu
jalan keluar yang benar dalam menyelesaikan permasalahan ini adalah dengan
menerapkan sistem mekanisasi.
“Mekanisasi kebun membuat lebih
efisien. Selain itu, bahan baku tebu bisa
lebih terkontrol baik dari sisi kualitas
maupun kuantitasnya,” terang Tri.
Kendati demikian, dia menjelaskan
penerapan mekanisasi di PG Kremboong
bukan tanpa kendala. Spesifikasi tanah
pada lahan yang dimiliki adalah jenis
tanah sawah di mana muka air tanah
cukup dangkal pada saat musim hujan,
sedang pada musim kemarau lahan yang
ada menjadi lahan tegal yang minim air,
namun jika musim hujan menjadi lahan
yang basah penuh dengan genangan air.
Untuk itu pengolahan tanah yang tepat
merupakan tahapan awal yang yang tak
boleh dianggap enteng.
Pengolahan tanah merupakan kegiatan awal dan berperanan pada tahap
awal pertumbuhan tebu dan perkembangannya. Pengolahan tanah yang tidak memadai mengakibatkan akar tidak
berkembang optimal, zona perakarannya
sedikit dan tidak mampu menyerap unsur hara yang mengakibatkan tebu tumbuh tidak optimal.
Pengolahan tanah yang optimal akan
menghasilkan mutu olah tanah yang
memadai untuk pertumbuhan tebu, tidak hanya untuk pertumbuhan tanaman
pertamanya, tapi hingga pertumbuhan
ratoonnya. “Struktur tanah akan dibangun seiring dengan pekerjaan kebun dan
perkembangan tanaman tebu. Perkembangan akar yang terjadi pada saat tanaman
bermanfaat untuk mendukung pertumbuhan tebu ratoonnya. Jika struktur tanah
sudah terbentuk, maka tanah tersebut
akan layak diolah minimum,” urainya.
Dikatakan Tri, biaya pengolahan tanahnya memang akan lebih tinggi jika
dibandingkan dengan perlakuan pengolahan tanah minimum. Tapi jika dipertimbangkan potensi hasilnya, maka akan
menghemat lebih banyak lagi karena
mutu olah tanahnya mampu mendukung
pertumbuhan tebu dengan baik hingga
ratoonnya. Artinya dengan satu periode
pengolahan tanah bisa melakukan panen
tebu lebih dari satu kali bahkan hingga
3-4 kali, tanpa harus mengeluarkan biaya
pengolahan tanah dan bibit pada tahap
ratoonnya.
Selain itu , jelas Tri , dalam mengatasi
permasalahan lahan pihaknya telah menerapkan pembuatan got panjang dengan
menggunakan excavator. Dimana, tipikal
lahan sawah yang dimiliki PG Kremboong
diubah menjadi lahan yang cocok untuk
tanaman tebu.
“ Sejauh ini sistem tersebut berhasil diterapkan untuk mengurangi debit
air yang tersimpan di dalam tanah jika
musim hujan datang, sementara itu jika
musim kemarau got yang ada bisa digunakan seperti lebung untuk pengairan,
sehingga permasalahan utama bagi para
petani dalam hal pendistribusian pengairan tanaman dapat diatasi,” tegasnya.
Iapun berharap jika petani bisa jauh
lebih peduli lagi terhadap jaringan pengairan yang ada di lahan masing-masing
karena sejauh ini memang tidak terurus
secara baik.
“Kami targetkan 1 hingga 2 tahun lagi
penerapan mekanisasi dapat terakomodir
oleh para petani. Perluasan TS juga terus
kami upayakan dari yang saat ini 350
ha tahun depan dapat mencapai 500
ha, tentunya ini dapat menjadi proyek
percontohan bagi para petani lainnya
bahwa banyak kemudahan dan kelebihan jika menerapkan sistem mekanisasi,”
pungkasnya.
59
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
slaMet raHarjo, Petani PG nGadiredjo
Berharap Hasil Lebih Baik
Semenjak digulirkan, program mekanisasi semakin diminati petani. Mereka berharap,
dengan mekanisasi bisa menghasilkan tanaman tebu yang lebih berkualitas.
 Laporan: SAP JAyAnti
Selain itu, mekanisasi juga bisa
menjadi solusi dari kesulitan yang
selama ini dirasakan dalam pengolahan lahan. Bagi Slamet Raharjo,
mekanisasi yang mulai dijalankan
pada musim tanam tahun ini seolah
menjadi jawaban dari kesulitan
yang dialaminya sejak sekitar dua
tahun terakhir. “Tenaga kasar mulai
dua tahun lalu sulit dicari. Sekarang dengan mekanisasi, dikerjakan alat-alat, saya sudah tidak
terlalu bingung lagi mencari
orang untuk mengerjakan
lahan,” kata petani asal
Desa Tales, Kecamatan
Ngadiluwih, Kabupaten Kediri ini.
Slamet bisa jadi
adalah satu diantara
banyak petani yang
lebih dulu bersedia
mengaplikasikan mekanisasi di
lahannya seluas 10 hektare (ha).
Mulai dari tanam hingga tebang,
hampir semua pekerjaan di lahannya dilakukan secara mekanis alias
menggunakan mesin. Ia juga masih
memiliki lahan seluas 4 ha yang
letaknya terpisah dan berharap juga
bisa dikerjakan secara mekanisasi
agar bisa mendapatkan hasil rendemen yang tinggi.
Ia mengakui, agar bisa didarati
mesin pertanian ada perubahan yang musti dilakukan. Salah
satunya yaitu mengubah jarak
tanam dari yang sebelumnya 130
cm menjadi 180 cm. Ini dilakukan
untuk mempermudah jalannya
traktor pada saat pemupukan dan
menyingkap tanah. Sebelumnya di
lahannya masih ada guludan dan
galengan yang menyebabkan alat
sulit untuk masuk ke lahan. Namun
sekarang, setelah mendapat sosialisasi, dirinya melakukan penyesuaian agar alat tidak kesulitan untuk
mengolah tanah.
Meskipun sudah menggunakan
mesin namun Slamet mengaku
masih ada sedikit pekerjaan yang
mengandalkan tenaga manual.
”Misalnya tahap klentek, itu tetap
menggunakan tenaga
manusia,” jelasnya.
Menggunakan mesin
dikatakan Slamet
juga memungkinkan
dilakukan penghematan. ”Tapi biayanya tentu
berbeda-beda, tergantung
petaninya. Kalau bagus pupuknya diperbanyak. Itu juga
mempengaruhi biaya. Jadi tidak
bisa disamaratakan,” ujar Slamet.
Setelah tebang, Slamet mengakui sudah ada perbaikan hasil yang
tampak setelah satu musim tanam
menggarap lahan secara mekanis.
Rendemen harian di kebunnya sudah mencapai rata-rata 8. Melihat
hasil ini, ia optimistis produktivitas
maupun rendemen tanaman tebunya akan terus meningkat di tahun
depan. Apalagi jika terus ada perbaikan mengenai alat yang digunakan.
Dikatakan Slamet, menggunakan
mesin yang sekarang penebangan
tidak bisa sampai ke bagian pangkal
tebu paling bawah. ”Tunggaknya
masih ada 1 kil (jengkal tangan)
“Tenaga kasar mulai dua tahun lalu sulit dicari. Sekarang
dengan mekanisasi, dikerjakan alat-alat, saya sudah tidak
terlalu bingung lagi mencari orang untuk mengerjakan lahan,”
 Slamet Raharjo
60
petani asal desa tales, kecamatan ngadilUwih, kaBUpaten kediri
lebih. Gak bisa sampai bawah. Ini
rugi karena paling bawah rendemennya paling tinggi. Akhirnya
masih butuh tebang manual. Kami
berharap PG bisa mencarikan alat
yang lebih sesuai lagi,” kata Slamet
berharap. 
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
H MaliKan, Petani PG GeMPolKreP
Biaya Lebih Murah,
Hasil Memuaskan
pengerjaan kebun menggunakan tenaga manusia
dirasa semakin tidak memuaskan. Sulit dan mahalnya
tenaga kerja di kebun tidak diimbangi dengan
peningkatan produktivitas.
 Laporan: SiSkA PreStiwAti
Sejak tahun 1976, H. Malikan
sudah bergelut dengan komoditas tebu. Pria asal Mojokerto ini
mengaku awalnya dia menjadi
buruh kebun atau yang dikenal
dengan istilah mreman tebu.
Dengan semangat, kerja keras dan
terus belajar, saat ini dirinya sudah
memiliki kebun tebu sendiri seluas
22 hektar.
“Saya itu sangat paham dengan
budidaya tebu. Karena saya dulu
lama mreman tebu. Pekerja sekarang berbeda, bekerjanya kurang
maksimal sehingga banyak pekerjaan kebun yang hasilnya tidak
memuaskan,” ungkap ayah dari
satu orang putra ini. Padahal,
sambungnya, biaya ongkos
penggarapan atau pemeliharaan
kebun tidaklah murah dan setiap tahun selalu ada kenaikan.
Malikan mencontohkan
pekerjaan lahan sebelum masuk
ke pekerjaan gulut itu harus
dicemplong dulu sedalam 30 centimeter. Tapi sekarang banyak
pekerja yang dalam mengerjakannya tidak sampai 30
cm. Paling bagian depan saja yang dalam,
namun semakin ke
belakang semakin
dangkal. “Apalagi
kalau kena batu
atau tanah yang
keras. Mereka
akan bilang,
’’atos (keras,red)
mbah,” kata Malikan menirukan
kalimat pekerja
kebunnya.
Mendapati kondisi tersebut, Malikan
tidak bisa berbuat
banyak. Dirinya
hanya bisa meminta pekerjanya untuk
bekerja dengan tepat
dan benar menggunakan bahasa
yang tidak menyinggung. Pasalnya,
dirinya takut para pekerja tersinggung dan enggan mengerjakan
kebun tebunya.
Karena itu begitu PTPN X menggulirkan program mekanisasi,
Malikan mengaku bersyukur. Pria yang
didapuk sebagai
Ketua Kelompok Petani
Tebu yang
sudah menerapkan sistem
re-grouping
dengan luas
lahan 36 hektar
ini menjelaskan
dengan mekanisasi, banyak
keuntungan yang dirasakan oleh
petani. Meskipun tidak besar
selisihnya, namun dengan mekanisasi, biaya garap kebun lebih murah. Contohnya, untuk pengerjaan
ratoon, yaitu cabut oyot (cabut
akar), dengan mekanisasi biaya
perhektarnya hanya Rp 700.000/
hektar sementara bila dikerjakan
dengan tenaga manusia biayanya
sebesar Rp 1 juta/hektar.
Selain dari sisi biaya, dengan
menggunakan mesin, hasil pekerjaan mulai dari bagian depan
hingga bagian paling
belakang kebun akan
seragam. Sementara bila dikerjakan
dengan tenaga manusia, hasil pekerjaan tidak sama dan
bisa dipastikan bahwa
di bagian tengah atau belakang hasil kerjanya kurang
maksimal.
“Kalau dikerjakan dengan
mesin, cukup satu mesin saja dan
selesai hanya setengah hari kerja.
Sedang kalau dikerjakan dengan
manusia, butuh lima orang dan
pekerjaan baru selesai selama satu
minggu,” sebutnya.
Masih menurut Malikan, dengan pengerjaan yang cepat maka
tahapan demi tahapan pekerjaan
kebun bisa dilakukan dengan tepat
waktu. Tentunya, bila pekerjaan
dilakukan dengan tepat waktu, tepat urutan dan tepat ukuran maka
hasilnya pun tidak perlu diragukan
lagi. “Selain produktivitas, kualitas
tebu pun meningkat tajam bila
dibandingkan dengan pengerjaan
dengan tenaga manusia,” ujarnya.
Malikan juga mengungkapkan
dengan sistem mekanisasi, petani
lebih diuntungkan. Sebab, pekerjaan mekanisasi dilakukan oleh
pihak ketiga yang dimediasi oleh
pabrik gula. Dengan begitu, biaya
semua dibayar oleh pabrik gula
dengan uang kredit petani. “Kalau
dulu, petani harus bayar tenaga
kebun pakai uang sendiri dulu
karena kredit dari pabrik belum
turun. Kalau sekarang dengan mekanisasi, kami tidak perlu cari-cari
uang dulu untuk membayar tenaga
kebun lagi,” tandasnya.
61
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto:ist
Kembalikan Sinergi Petani-PG
untuk Sukseskan Mekanisasi
Mekanisasi akan sulit berjalan efektif tanpa adanya kemitraan antara petani
dengan pabrik Gula (pG). Dirasa sempat kurang harmonis, petani berharap
sinergi dengan pG bisa ditingkatkan.
 Laporan: SekAr Arum
62
dari kacamata petani tebu, adanya
mekanisasi merupakan harapan bagi
peningkatan kualitas tanaman yang
tengah mereka garap saat ini. Mekanisasi juga dinilai sebagai upaya untuk
meneruskan tradisi menanam tebu
mengingat saat ini petani mulai kekurangan minat menanam karena ada
anggapan menanam tebu sudah tidak
lagi memberikan prosentasi keuntungan yang menggiurkan.
Setidaknya itulah yang diutarakan
oleh salah seorang petani tebu di kawasan PG Kremboong, Asmunasik. Agar
mekanisasi bisa berjalan, dikatakan
Asmunasik, kemitraan antara PG dan
petani harus ditingkatkan lagi. Kemitraan di sini mempunyai arti sebuah
kerjasama antara dua pihak atau lebih
yang mendasarkan pada posisi saling
percaya, saling menghargai, saling
menguntungkan, saling membantu,
sederajat dan yang lebih utama memiliki satu tujuan.
Dalam pandangannya, kemitraan
antara PG dan petani saat ini dalam
posisi yang tidak sebagus dulu. ”Kemitraan yang ada saat ini belum menyentuh pada hakikat kemitraan yang
sesungguhnya. Kemitraan sekarang ini
ada pada titik yang sangat mengkawatirkan sehingga swasembada gula yang
diimpikan belum bisa tercapai. Terlebih tahun lalu harga gula benar-benar anjlok dan membuat kerugian yang
tidak sedikit,” tuturnya. Kemitraan
antara pabrik gula dan petani dirasa-
kannya semakin lama semakin hilang
“ruhnya” karena muncul rasa saling tidak percaya antara PG dan petani.
Untuk meminimalisir hal tersebut,
pihaknya yang didukung sepenuhnya oleh PG Kremboong mendirikan
Koperasi Petani Tebu Rakyat (KPTR)
Cokronegoro pada tahun lalu. “Selain
kemitraan dengan PG, hal utama yang
juga menjadi persoalan adalah kemitraan antar petani. Terlebih sistem
yang digunakan dalam mekanisasi
ini adalah regrouping dimana petani
harus menyatukan lahannya tiap 10 ha
agar penerapan mekanisasi ini berhasil dan lebih efisien,” jelasnya.
Dengan adanya koperasi ini diharap
mampu menumbuhkan rasa percaya
antara satu pihak dengan lainnya yang
sempat terkikis. Ini juga merupakan
pioneer KPTR yang dikhususkan untuk mekanisasi. Jumlah anggotanya
sendiri berjumlah 25 orang berasal
dari petani di wilayah Kremboong,
Porong, dan juga Pramboon. Pasca
terbentuknya KPTR Cokronegoro, Asmunasik berharap kegaduhan di lingkungan petani terkait transparansi
dan mekanisasi dapat terselesaikan
dengan baik sehingga petani tebu dapat sejahtera kembali.
Asmunasik menuturkan, ia sudah
mendapatkan sosialisasi mengenai
mekanisasi sejak 2014. “Memang di
awal penerapan mekanisasi, lahan
yang saya garap belum siap karena
banyak aspek yang perlu diperhatikan,
termasuk aspek-aspek kecil seperti
jarak tanam antara satu benih tebu
dengan benih yang lainnya. Ketika itu
saya sudah menerapkan mekanisasi
meskipun belum menyeluruh. Namun
dari tahun lalu, lahan milik saya telah
siap untuk mengikuti mekanisasi,” tuturnya.
Lebih lanjut ia menambahkan, saat
ini ada beberapa masalah yang menjadi
penghambat perkembangan mekanisasi di Indonesia yaitu sistem standarisasi, sertifikasi, pengujian alsintan yang
masih lemah, kurangnya pemanfaatan
dan ketersediaan alat dan mesin. Alat
dan mesin belum bisa dimiliki oleh semua petani di Indonesia karena harganya yang relatif mahal. Banyak petani
yang tidak mampu untuk membeli alat
dan mesin pertanian tersebut, sehingga mereka kembali lagi menggunakan
alat-alat pertanian tradisional.
“Untungnya sejauh ini transfer
teknologi untuk alsintan sudah diakomodir oleh pihak PG dan provider.
Dari pemerintah sendiri telah memberikan bantuan berupa dua unit traktor kepada kami para petani tebu. Dan
hasil produksi tebu dari hasil tanam
tahun kemarin dengan penerapan
mekanisasi mendapatkan hasil yang
menggembirakan yakni dari 80 ton /
ha kini menjadi 100 ton/ha,” tuturnya.
Tak hanya itu, selain biaya mekanisasi
yang perlu di perhatikan adalah bagaimana menekan biaya lain semacam
pupuk, bibit, air dan saprodi yang lain
dan tentu saja bagaimana menekan biaya tebang dan angkut, karena kontribusi biaya tebang terhadap HPP bisa
lebih 1/3 dari biaya total.
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Dengan Teknologi CORS,
BPN Jamin Petok Lahan Aman
 Laporan: SiSkA PreStiwAti
keMenterian Agraria dan Tata
Ruang/Badan Pertanahan Nasional telah memiliki teknologi untuk mengukur bidang tanah secara ekonomis dan
efisien dengan pemanfaatan sistem
GPS CORS (Global Positioning System
Continuously Operating Reference
Stations). Salah satu manfaat sistem
GPS CORS adalah bisa mewujudkan
perkebunan dengan sistem hamparan
atau re-grouping karena batas-batas
kebun bisa diketahui dan bisa dikembalikan seperti sediakala
Kepala Seksi Konsolidasi Tanah
Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nasional (BPN) Provinsi Jawa Timur, Abdul Aziz Heru Setiyawan mengungkapkan pihaknya sudah tiga kali diminta
PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X
untuk memberikan pemaparan tentang teknologi dari BPN terkait pendataan batas-batas kepemilihan lahan
oleh petani. Hal ini tidak lain karena
PTPN X ingin mendorong para petani
untuk melakukan mekanisasi dengan
sistem re-grouping.
Sistem re-grouping ini adalah
perkebunan dengan sistem hamparan
yang memiliki luasan minimal sebesar adalah 10 hektar. “Kami memiliki
teknologi GPS CORS yang bisa mewujudkan sistem re-grouping tersebut,”
kata Heru ketika ditemui di ruang kerjanya di Jl. Gayung Kebonsari No. 60.
Heru menjelaskan sistem GPS
CORS berwujud sebagai titik kerangka
referensi yang dipasangi GPS receiver
dan beroperasi secara kontinyu selama
24 jam. (CORS (Continuously Operat-
ing Reference Station) sendiri adalah
suatu teknologi berbasis Global Navigation Satellite System (GNSS) yang
berwujud sebagai suatu jaring kerangka geodetik yang pada setiap titiknya
dilengkapi dengan receiver. Receiver
tersebut mampu menangkap sinyal
dari satelit-satelit GNSS yang beroperasi secara penuh dan kontinyu dengan mengumpulkan, merekam, dan
mengirim data. Hal tersebut memungkinkan para pengguna (users) dapat
memanfaatkan data dalam penentuan
posisi, baik secara post processing
maupun secara real time.
GNSS dapat disebut sebagai sistem
navigasi dan penentuan posisi menggunakan satelit yang didesain untuk
memberikan informasi waktu dan posisi secara kontinyu di seluruh dunia.
Ini merupakan metode pengukuran
ekstra-terestris, yaitu penentuan posisi yang dilakukan dengan melakukan
pengamatan dan pengukuran terhadap
satelit atau benda angkasa lainnya.
“Dengan teknologi CORS tersebut,
kami bisa mendata batas-batas kebun
atau patok setiap kebun milik petani
secara presisi sangat tinggi. Sehingga kami bisa melakukan rekonstruksi
kembali atau mengembalikan patokpatok itu sama persis seperti di awal
karena pergeserannya kurang dari 2
cm,” terangnya.
Heru menambahkan yang paling
penting adalah terlindunginya hakhak atas tanah. Apalagi bagi masyarakat Indonesia berbicara tentang tanah
seakan ada aspek magis religius. Seseorang akan mati-matian mempertahankan dan menjaga tanah hingga
“dengan teknologi cors tersebut, kami bisa
mendata batas-batas kebun atau patok setiap
kebun milik petani secara presisi sangat
tinggi. sehingga kami bisa melakukan
rekonstruksi kembali atau mengembalikan
patok-patok itu sama persis seperti di awal
karena pergeserannya kurang dari 2 cm,”
titik darah penghabisan. Dengan pemikiran yang seperti itu, tentunya
sistem perkebunan re-grouping yang
digagas oleh PTPN X memerlukan
usaha dan kerja keras agar petani bersedia. “Petani sangat takut kalau luasan kebunnya berkurang, padahal hal
itu tidak perlu ditakutkan karena sudah ada teknologi CORS,” tegasnya.
Selain ketakutan akan kehilangan
batas kepemilikan lahan, sambung
Heru, PTPN X harus bisa memberikan
nilai tambah bagi petani. Sebab bila
petani tidak diuntungkan, tentunya
petani akan memilih budidaya komuditas lain yang dinilai lebih menguntungkan. “Yang paling penting harus
ada exchange value bagi petani,” imbuhnya. Exchange value bisa dalam
beberapa bentuk, misalnya sertifikasi.
Sebab masih banyak tanah di Indonesia yang belum tersertifikat.
Dari data yang ada di BPN Kanwil
Jatim untuk luas sawah 1,272,752.35
hektar, yang sudah bersertifikat kurang
dari 40 persen. Bila kegiatan sertifikasi dilakukan secara kolektif maka biayanya akan semakin murah. 
 Abdul Aziz heru
kepala seksi konsolidasi tanah kantor wilayah Badan
pertanahan nasional (Bpn) provinsi jawa timUr
63
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Mekanisasi
adalah Investasi
Jalan keluar meningkatkan produktivitas adalah
mekanisasi. Di tengah kesulitan mendapatkan lahan
dan minimnya sumber daya manusia berkualitas,
mekanisasi sebaiknya dilakukan secara maksimal.
 Laporan : SekAr Arum
naMun sayangnya, belum banyak
PTPN di Indonesia yang menerapkan
mekanisasi. PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X sudah melangkah lebih dulu untuk menjawab perubahan
tantangan zaman dengan menerapkan
konsep mekanisasi pada lahan tebu
mereka.
Setidaknya itulah yang diuraikan
oleh praktisi mekanisasi, Bambang
Setiarso. Pria yang juga menjabat sebagai Direktur PT Margatama Bangun
Karsa ini menguraikan pentingnya
penerapan mekanisasi di lahan tebu
dalam upaya meningkatkan produktivitas lahan dan tenaga kerja.
64
Definisi mekanisasi, kata Bambang, adalah kegiatan menggunakan
alat bantuan mekanik menggantikan
pekerjaan yang biasa dilakukan tenaga manusia maupun hewan dalam
mengelola lahan. “Mekanisasi ini akan
menjamin penerapan Good Agricultural Practices (GAP) dan membantu
optimalisasi produktivitas,”ujar pria
yang juga didaulat sebagai provider di
PTPN X tersebut.
Kegiatan mekanisasi yang berbasiskan kepada mesin dan teknologi saat
ini masih terfokus kepada kegiatan
on farm (kebun). Di tahapan aktivitas
kebun, mekanisasi dijalankan pada kegiatan pembukaan lahan, pemupukan,
pemanenan, dan pengangkutan atau
 Boom Sprayer, sebagai mesin penyemprot herbisida
tebang angkut.
Mekanisasi ini sebenarnya sangatlah
menolong para petani tebu, khususnya
dalam hal peningkatan efektivitas dan
produktivitas, kendati demikian pola
ini dinilai butuh biaya tinggi. Akibatnya, mekanisasi seringkali dihindari
dan tidak berjalan optimal.
Namun,lanjutnya, efektivitas kegiatan mekanisasi dapat mencapai 30
persen lebih tinggi ketimbang menggunakan tenaga kerja manusia. Kendati
dari aspek biaya terbilang tinggi tetapi
ini sebetulnya merupakan investasi.
“Sementara itu, dari aspek biaya
operasional terhitung cukup efisien.
Kalau pakai traktor tinggal kita hitung
solar yang keluar berapa. Dan mampu
mengerjakan kegiatan dalam skala luas
berapa ketimbang manual,” ujarnya.
Artinya, ditengah kesulitan mencari
tenaga kerja yang ideal dan kompeten
sebenarnya mekanisasi dapat menjadi
jawaban. Mengingat pemakaian alat
bermesin ini mampu bergerak cepat
dan dapat digunakan kapan saja se-
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
suai kebutuhan. Sekarang tinggal kemauan dan niat dari perusahaan saja
apakah mau menerapkan mekanisasi
secara penuh, setengah mekanisasi
atau masih bertumpu kepada tenaga
manusia.
Untuk lebih mempermudah pene­
rap­an ini yang harus dilakukan penge­
lo­laan kebun satu manajemen, khusus
PG di Jawa yang pasokan tebu mayoritas dari petani, langkahnya melakukan
regrouping lahan minimal 10 hektar
agar penerapan mekanisasi efisien.
Langkah lain dengan tata kelo­
la budidaya mulai penyiapan benih,
penyiap­an lahan, tanam, pemupukan,
pemeliharaan tanaman sampai dengan
tebang muat angkut dipastikan dilakukan dengan menerapkan best practices farming dalam satu manajemen PG.
Manfaat yang diharapkan dari dua hal
di atas adalah peningkatan produktivitas dan penurunan biaya yang akhirnya akan berdampak pada penurunan
HPP (Harga Pokok Produksi).
“Selain itu untuk menerapkan sis­tem
mekanisasi dengan tepat, ada ti­ga hal
yang harus dijadikan patokan antara
lain yakni manajemen operasional alat
mekanisasi, manajemen perawatan alat
mekanisasi dan manajemen ekonomi
alat mekanisasi,” tambahnya.
Manajemen operasional sendiri
meli­puti mengelola kegiatan di sekitar operasi alat, diantaranya jumlah
dan jenis perlakuan pengolahan tanah, jenis dan ukuran alat dan mesin
yang cocok digunakan, metode operasi
lapang yang mendukung peningkatan
efisiensi lapang dan efisiensi waktu.
Kedua, menurut Bambang adalah
manajemen perawatan mengelola
kegiatan sekitar perawatan alat dan
mesin serta penggudangan, diantara­
nya penyediaan alat mesin (alsin) siap
pakai dengan mesin perbengkalan dan
perlengkapannya, penyediaan suku
cadang serta BBM dan perlengkapan
lainnya.
Sementara yang terakhir adalah manajemen ekonomi alat dan mesin diantaranya menghitung dan menganalisis
besarnya biaya operasi alat, menentukan kapan alat tidak ekonomis lagi
digunakan dan berapa nilainya dan
masih banyak yang lainnya.
“Dan yang terpenting dan tidak
boleh dilupa adalah mutu tanah lahan
tebu itu sendiri. Oleh karena itu perlu
dilakukan pengkajian lebih dulu terhadap kondisi tanah dan lahan yang akan
diolah dan dikembangkan, baru kemudian menentukan jumlah dan perlakuan pengolahan tanah. Pengolahan
tanah yang optimal akan menghasilkan
mutu olah tanah yang memadai untuk
pertumbuhan tebu, tidak hanya untuk
pertumbuhan tanaman pertamanya,
tapi hingga pertumbuhan ratoonnya,”
pungkas ia.
 Bambang Setiarso
Mekanisasi ini
sebenarnya
sangatlah menolong
para petani tebu,
khususnya dalam
hal peningkatan
efektivitas dan
produktivitas,
kendati demikian pola
ini dinilai butuh biaya
tinggi. Akibatnya,
mekanisasi seringkali
dihindari dan tidak
berjalan optimal.
65
sukrosa
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Mampu Saingi
Harga Gula Impor
 Laporan: SAP JAyAnti
66
MekaniSaSi di bidang pertanian
tidak bisa ditunda lagi aplikasinya.
Langkah ini juga menjadi jawaban agar
mampu menghasilkan produk dengan
harga kompetitif sehingga bisa bersaing dengan impor.
Mekanisasi di lahan untuk tanaman
tebu sudah mulai didengungkan sejak
satu dekade lalu. Perubahan yang terjadi di dunia pertanian menuntut agar
mekanisasi segera dilakukan. Petani
sudah semakin tua. Tidak ada regenerasi sehingga mendapatkan penggarap
di lahan menjadi semakin sulit.
Dengan kondisi tersebut, mekanisasi sudah bukan lagi pilihan. ”Di Jawa,
mekanisasi sudah menjadi keharusan,”
ujar Akademisi dari Fakultas Teknik
Pertanian Universitas Brawijaya, Ary
Mustofa Ahmad.
Pengolahan pertanian menggunakan mekanisasi dikatakan Ary bisa
membuat harga produksi menjadi
lebih murah. Bahkan dalam perhitungannya, dengan pengolahan lahan
tanaman tebu secara mekanisasi bisa
menekan harga produksi gula menjadi
hanya Rp 5.500. Jauh lebih rendah
dibandingkan HPP gula saat ini yang
lebih dari Rp 8.000.
Harga jual gula Rp 5.500 tersebut
dikatakan Ary bisa terwujud jika mekanisasi di lahan diterapkan sejalan
dengan revitalisasi pabrik yang optimal. ”Ditambah lagi tidak ada perubahan harga BBM. Dengan harga
tersebut, kita bisa bersaing menghadapi gula impor yang bisa masuk ke
Indonesia dengan harga di bawah Rp
7.000,” ujar dosen Jurusan Keteknikan Pertanian (Mekanisasi Pertanian)
Universitas Brawijaya, Malang ini.
Selain menekan biaya produksi,
mekanisasi juga akan mendongkrak
kualitas gula. Menurutnya, penggunaan alat-alat di lahan bisa mendorong pengerjaan di lahan mulai dari
penanaman, pemupukan hingga pa-
”di jawa, mekanisasi
sudah menjadi
keharusan,”
Ary mustofa Ahmad
akademisi dari fakUltas teknik pertanian
Universitas Brawijaya
nen lebih tepat waktu. Terlebih di
sisi tebang, muat dan angkut (TMA).
Diharapkan, rendemen bisa meningkat karena tidak ada lagi tebu harus
menginap.
Selama ini kadang gula sering merosot karena harus menginap di lahan
akibat minimnya tenaga kerja tebang,
muat dan angkut serta antrean sebelum giling di pabrik gula. Tebu dari
petani sering tidak bisa langsung digiling karena dari pemilik lahan yang kecil-kecil tersebut kemudian dikumpulkan di juragan tebu besar dulu sebelum
akhirnya dikirim ke PG. Itu pun tidak
jarang di PG masih harus menunggu
antrean lagi. Semakin lama jarak waktu setelah tebu dipanen dengan digi-
ling berpengaruh juga terhadap kandungan kadar gula dalam tebu.
Dengan efek positif yang bisa dihasilkan, Ary menuturkan ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam
aplikasi mekanisasi pertanian. Keempat hal yang ia maksudkan yaitu teknis
agronomi, finansial, lingkungan dan
sosial. ”Semua ini harus teriintegrasi,”
tegasnya.
Secara teknis, ia memaparkan traktor berdaya 100 HP lebih efektif untuk lahan dengan luasan minimal 10
hektare (Ha). Namun ia menyadari
kondisi ideal ini agak sulit direalisasikan, terutama di Jawa di mana banyak
terjadi pergeseran pemilikan lahan.
Hamparan yang dulunya begitu luas
sekarang terbagi menjadi petak-petak
lebih kecil karena diwariskan. ”Sawah
yang dulunya hamparan luas kemudian dibagi kecil-kecil karena diwariskan
ke anak-anaknya,” jelasnya. Belum
lagi jika tanah tersebut kemudian disewakan atau dipindah tangankan dan
tidak semua mau lahannya digarap
secara mekanis. Petak lahan tersebut
biasanya juga terdapat galengan yang
justru menjadi hambatan untuk mekanisasi.
Untuk lahan yang kecil, solusinya
bisa menggunakan hand tracktor. Misalnya lahan 1 ha bisa menggunakan
hand tracktor 16 PK. Namun ia lebih
menganjurkan agar petani berkelompok membentuk Koperasi sehingga
modal bisa ditanggung secara kooperatif sehingga lebih efisien.
Selain modal, kendala lain yang dihadapi adalah shock di masyarakat.
Mekanisasi bisa membawa banyak perubahan budaya di masyarakat petani.
Di sinilah pentingnya peran tokoh
masyarakat. ”Pabrik gula harus secara persuasif melakukan pendekatan
ke tokoh masyarakat, kyai, siapa pun
yang menjadi panutan di masyarakat
bahwa mekanisasi ini bermanfaat,”
ujarnya.
Petani, dikatakan Ary bisa lebih terbuka menerima perubahan jika ada
jaminan peningkatan kesejahteraan.
”Usaha pertanian lebih terencana, secara finansial terjamin dan tidak banyak kerepotan seperti saat ditangani
sendiri,” pungkasnya. Di sisi lain, pihak
pabrik gula, perusahaan gula hingga
pemerintah juga musti siap mendukung perubahan ini secara penuh.
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
okra
[ opini karyawan ]
INVESTASI SDM
SDM SEBAGAI ASET YANG PALING BERHARGA
I
Oleh:
Faundri Gaung Rizki
Karyawan PG watoetoelis
ndonesia merupakan salah
satu negara dengan perkembangan industri yang pesat. Hal ini
juga didukung dengan persaingan
yang ketat, ditambah dengan dibukanya
perdagangan bebas di ASEAN. Salah
satu industri yang merasakan dampaknya adalah industri gula. Bukan hanya
persaingan dalam hal kapasitas produksi, tetapi juga sumber daya manusia
yang ada dalam industri tersebut. Seperti yang diketahui bahwa industri gula
di Indonesia memiliki jumlah sumber
daya manusia yang besar. Sumber daya
adalah segala sesuatu yang merupakan
aset perusahaan untuk mencapai tujuan.
Dilihat dari jumlah yang besar, aset industri gula terpenting yang harus diperhatikan adalah Sumber Daya Manusia
(SDM). Maka dari itu, perusahaan perlu
merencanakan perlakuan terhadap sumber daya manusia yang dimiliki untuk
meningkatkan kinerjanya yang disebut
dengan Investasi Sumber Daya Manusia
(SDM).
Investasi sumber daya manusia dapat
dilakukan dengan menerapkan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).
Manajemen Sumber Daya Manusia
adalah ilmu dan seni mengatur hubungan dan peranan tenaga kerja agar
efektif dan efisien membantu terwujud-
67
foto:ist
okra
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
68
nya tujuan perusahaan, karyawan dan
masyarakat (Hasibuan, Melayu S.P.
2003). Investasi SDM dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti pengadaan pelatihan-pelatihan, program
pendidikan, pembinaan sikap mental,
peningkatan kedisiplinan, peningkatan
kesehatan dan peningkatan program K3.
Pemikiran betapa pentingnya investasi
SDM didasarkan pada beberapa pertimbangan. Pertama, pasar yang sangat bersaing (banyaknya industri serupa, harga
jual produk yang saling mendekati, dan
kompetensi SDM yang dimiliki). Kedua,
SDM merupakan unsur investasi efektif suatu perusahaan, dilihat dari peran
aktifnya dalam perusahaan. Oleh karena
itu, karyawan sebagai aset sumber daya
manusia perlu untuk selalu ditingkatkan pengetahuan, sikap dan keterampilannya. Dari beberapa pertimbangan
tersebut investasi SDM baru bisa dilaksanakan dengan efektif jika diposisikan
sebagai bagian dari strategi perusahaan.
Disinilah peran manajemen puncak agar
terciptanya investasi SDM agar sesuai
target yang diinginkan.
Peran manajemen puncak sangat
diperlukan dalam investasi SDM karena
manajemenlah faktor eksternal terkuat
yang dapat menambah motivasi karyawan selain dari dirinya sendiri, dan dengan itu karyawan dapat selalu menjaga
komitmen, kedisiplinan, dan integritas
untuk perusahaan. Dengan peran manajemen tersebut, karyawan akan lebih
percaya diri bahwa investasi dalam dirinya akan meningkatkan kompetensi diri.
Sehingga kedepannya dengan investasi
SDM ini, antara manajemen dan karyawan dapat berjalan selaras dan satu tujuan untuk mencapai keuntungan dari
segi kualitas maupun kuantitas. Tidak
hanya itu, efek terpenting lainnya yang
tercipta adalah perusahaan secara tidak
langsung telah menambah mutu dan
kinerja, untuk kemudian siap terhadap
persaingan pasar.
Hal tersebut melatar belakangi pengambilan judul ini, karena dilihat dari
keadaan lapangan di industri, dalam hal
ini Pabrik Gula (PG) kurang berinvestasi
terhadap sumber daya manusia (SDM)
yang merupakan sumber daya terbesar.
Hal tersebut membentuk pemikiran
dasar orang bahwa sumber daya manusia
(SDM) merupakan ‘Sumber Datangnya
Masalah’, bukannya aset penting. Terbentuknya pemikiran tersebut dikare-
nakan karena PG memiliki sumber daya
manusia yang besar (SDM) sehingga saat
melihat suatu masalah dalam PG, mulai
dari alat, bahan, sistem, administrasi,
semua itu juga dipakai, diperbaiki, dikelola oleh SDM yang ada sehingga SDM
menjadi pokok masalah. Padahal SDM
tersebut adalah aset terpenting yang
dapat didayagunakan jika diperhatikan
dan dikelola dengan baik. Bukan dalam
hal kemakmuran atau kesejahteraan,
akan tetapi dalam hal investasi Sumber
Daya Manusia (SDM) seperti; peningkatan kedisiplinan, skill, kompetensi, dan
keselamatan, yang saat ini masih sering
terabaikan.
Kurangnya perhatian dalam bentuk
kedisiplinan, contohnya, terlihat dari
longgarnya sistem absen dalam PG.
Jika seorang karyawan datang terlambat atau bahkan tidak masuk, saat ini
sudah menjadi hal yang biasa dan tidak
pernah ada evaluasi. Padahal kehadiran
seorang karyawan sangat penting agar
pekerjaannya terhadap pengawasan dan
pengontrolan inventaris alat-alat dan
bahan baku dapat terus berlangsung.
Dengan ketidakdisiplinan absen ini secara tidak langsung perusahaan, dalam
hal ini PG telah mengalami kerugian seperti; (1) Menurunnya keefektiifan kerja
alat karena kurangnya pengawasan dan
pengotrolan dari karyawan, (2) Kerugian finansial karena para karyawan
yang tidak disiplin hadir tersebut tetap
mendapatkan upah kerja (gaji) padahal
pekerjaannya tidak mereka lakukan, (3)
Timbulnya budaya membolos pada karyawan karena tidak adanya penindakan
efek jera sehingga akan menular kepada
karyawan lainnya.
Selain kehadiran, bentuk indisipliner
lainnya yaitu pemakaian seragam. Saat
ini belum ada pengawasan dan penindakan yang tegas mengenai pemakaian
seragam sesuai dengan hari yang telah
ditentukan. Terkadang masih terdapat
karyawan yang mengenakan pakaian
bebas atau pakaian seragam diluar harinya. Dengan indisipliner pemakaian seragam ini, pengawasan terhadap orangorang yang masuk dalam area pabrik
jadi rendah karena tidak dapat membedakan manakah karyawan pabrik dan
manakah orang luar. Dikarenakan rendahnya pengawasan tersebut, sehingga
dapat memberikan peluang bagi orang
luar untuk masuk tanpa izin dan dapat melakukan hal-hal yang melanggar
aturan seperti contoh bentuk-bentuk perusakan, karena dengan mudahnya mereka masuk ke area pabrik tanpa dapat
dibedakan pakaiannya. Selain itu, tanpa
penggunaan seragam, pabrik terlihat tidak rapi dan tertib sehingga pemikiran
dasar orang-orang tentang pabrik gula
yang tidak teratur masih tertanam.
Untuk kurangnya perhatian dalam
peningkatan skill dan kompetensi terlihat dari kurangnya pelatihan dan pendidikan untuk karyawan yang diadakan.
Selama ini investasi besar-besaran dan
secara berkala hanya terlihat dari investasi alat. Padahal aset terbesar dalam
pabrik gula adalah sumber daya manusianya. Pelatihan dan pendidikan secara berkala ini menimbulkan manfaat
yang sangat besar bagi PG diantaranya;
(1) Memperluas pengetahuan dan pemikiran karyawan tentang industri gula
diluar sana, sehingga akan muncul ideide peningkatan kinerja untuk dalam
pabrik, dan (2) Upgrade skill dan kompetensi karyawan, sehingga kemampuan
diri meningkat dan secara tidak langsung pabrik memiliki sumber daya yang
potensial dan dapat mengejar ketertinggalan dengan pabrik yang lain.
Untuk kurangnya perhatian dalam
bentuk keselamatan kerja dapat dilihat
dari masih kurangnya budaya safety
atau K3 di lingkungan pabrik gula.Perusahaan yang baik adalah perusahaan
yang menjunjung tinggi keamanan, safe­
ty is first dan zero accident, istilahnya.
Jika dilihat sekilas dari gambaran pabrik
gula dari kondisi lapangan, masih banyak karyawan yang tidak menggunakan
safety helmet, safety shoes, dan alat pelindung diri lainnya, bahkan terkadang
hanya memakai sandal. Padahal aspek
keamanan adalah aspek terpenting dari
investasi SDM, karena dengan menerapkan budaya K3 di lingkungan pabrik
dapat menurunkan angka kecelakaan
kerja, yang mana akan mengeluarkan
biaya yang lebih besar daripada biaya
penyediaan alat pelindung diri (APD).
Apalagi jika kecelakaan kerja yang terjadi didengar oleh masyarakat, hal ini
dapat merusak nama baik perusahaan
dan membuat penilaian buruk terhadap
pabrik gula,sehingga akan menimbulkan
kerugian yang lebih besar lagi.
Dengan kurangnya beberapa perhatian terhadap aspek SDM di PG, dapat
dilakukan peningkatan pengawasan
atau­pun perubahan sistem, seperti:
okra
1. Aspek kedisiplinAn
a. absen
Perbaikan sistem absen manual
menjadi sistem Finger Print yang
terevaluasi. Sebenarnya di PG sudah menggunakan finger print
tetapi yang terjadi saat ini, yang
pertama adalah belum adanya
evaluasi dan tindakan yang tegas,
yang kedua belum terupdatenya
bagi karyawan baru atau karyawan PKWT, yang ketiga masih
banyak karyawan yang tidak bisa
terdeteksi oleh alat tersebut. Jadi
masih ada bagian yang memilih
kembali lagi ke sistem absen manual. Sistem Finger Print yang
terevaluasi dapat mulai diterapkan
di pabrik gula ini, sehingga rekaman kehadiran setiap karyawan
dapat terekapitulasi waktu kehadirannya dan terlampir secara otomatis, serta meminimalisir bentuk kecurangan seperti ‘titip tulis
nama/ tanda tangan’. Selain itu,
juga harus ada pemeriksaan secara
berkala sehingga terdapat evaluasi
kehadiran tiap pegawai, dan juga
pemberian efek jera seperti pemberian teguran, surat peringatan,
atau mungkin PHK jika memang
absen kehadiran sudah melewati
batas yang ditentukan.
b. seragam
Untuk peningkatan kedisiplinan
seragam dapat diterapkan aturan
tegas serta pengawasan, jika perlu
diberikan teguran atau surat peringatan jika terdapat karyawan
yang tidak memakai seragam sesuai hari yang ditentukan.
2. Aspek skill dAn kompetensi
Penerapan sistem perencanaan terhadap pelaksanaan training di tiap
awal tahun untuk karyawan pimpinan sampai dengan pelaksana serta dilakukan secara berkala
3. Aspek keselAmAtAn
Penerapan sistem yang tegas terhadap budaya K3 di lingkungan pabrik,
dengan membuat kontrak mengenai
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
K3. Dengan adanya kontrak perjanjian tersebut, jika terdapat karyawan
yang melakukan pelanggaran yang
berkaitan dengan K3 nantinya akan
diberi sanksi melalui surat peringatan atau mungkin denda bagi Pihak
ke-3. Manfaat, dampak, dan akibat
dari penerapan sistem ini pun sebelumnya harus disosialisasikan kepada
karyawan maupun pihak ketiga yang
bekerja di lingkungan pabrik.
Penerapan sistem-sistem tersebut
sebenarnya sangat bisa terlaksana asalkan ada niat perubahan dan kebijakan
dari top management. Penerapan sistem
tersebut secara lingkup kecil sudah diuji
coba pada tanggal 10 Februari, penulis
mencoba untuk langsung bergerak. Pada
apel pagi yang diadakan di bagian pengolahan, penulis coba untuk sosialisasikan
terlebih dahulu mengenai manfaat, efek
dan dampak perubahan sistem. Kemudian langsung diterapkan sistemnya untuk saat itu juga dengan memohon ijin
dahulu kepada atasan. Penerapan sistem
yang dilakukan:
1. Melakukan absen pada saat apel berlangsung, jika terdapat karyawan yang
telat atau tidak masuk akan lagsung
di catat. Dan jika sudah lebih dari 3
kali akan diberikan surat peringatan
1,2,3 sampai pemberhentian.
2. Mewajibkan pengenaan seragam sesuai hari yang telah ditetapkan, jika
ada yang tidak memakai seragam
sesuai hari yang bersangkutan, diberikan peringatan kemudian diberikan
waktu untuk menukar seragam di rumahnya, kemudian kembali dengan
seragam sesuai hari.
3. Mewajibkan penggunaan safety hel­
met dan safety shoes. Pada hari pertama ini setiap karyawan diberi waktu
dan dipersilahkan untuk mengambil
dan menggunakan helm yang sudah dibagikan. Kemudian jika masih
ada yang tidak memakai sepatu agar
dipersilahkan pulang terlebih dahulu.
Untuk hari berikutnya jika ada yang
tidak memakai helm dan sepatu pada
saat apel maupun bekerja akan diberi
peringatan dan langsung dipulangkan, tidak boleh bekerja dahulu.
Dari hasil ujicoba terhadap perubahan sistem tersebut, ternyata semua karyawan mengikuti aturannya dan kembali
dengan seragam sesuai hari, safety hel­
met dan safety shoes. Untuk penggunaan helm, awalnya banyak karyawan
yang mengeluhkan bahwa safety helmet
mereka hilang, akan tetapi pada kenyataannya setelah diberi waktu 5 menit
untuk mengambil helm di stasiun masing-masing dan mengenakannya, mereka dengan tepat waktu kembali lengkap
dengan safety helmet. Dari sini dapat
disimpulkan bahwa mereka sebenarnya
mau dan bisa untuk melakukan perubahan, akan tetapi kurangnya aturan tegas
dan pengawasan telah menciptakan budaya malas dan mengabaikan aspek K3.
Dari sini dapat disimpulkan bahwa
perubahan sistem dapat dilakukan sebagai langkah Investasi Sumber Daya
Manusia (SDM). Intinya berarti hanya
perlu langsung bertindak (action) bukan
hanya diam, komentar dan menunggu
kebijakan. Atau hanya usul, rapat, membahas masalah-masalah tanpa adanya
langsung pergerakan. Mengutip kata
salah satu atasan saya , “Semoga langkah
kecil ini bisa menjadi awal yang besar
untuk keberhasilan pabrik ini.“
Jika penulis berpikir dan merenung
lagi tentang sistem yang ada di pabrik ini.
Faktor utama kesalahan dari kejadiankejadian di atas adalah pada faktor SDM.
“sdM yang mana?”. Saya tulis huruf
tebal dan tanda petik. Menekankan bahwa kalimat tersebut sangat penting dan
mengandung makna yang dalam. Kita
akan klasifikasikan SDM menjadi tiga
bagian yaitu SDM bawah, tengah, dan
atas. Saya pernah mendengar dari salah
seorang konsultan motivator bahwa jika
kesalahan sistem ini jika masih dibawah
20% maka SDM yang bawah yang salah.
Jika sampai dibawah 40% maka SDM tengah yang salah tapi jika sudah melebihi
40% maka sudah jelas bahwa SDM yang
atas yang harus diperbaiki. Kita bisa menilai sendiri yang harus diperbaiki, dan
jawabannya ada pada diri kita sendiri.
Kita mulai dari diri kita sendiri untuk
intropeksi apakah sudah bekerja dengan
baik untuk perusahaan.
”The only we can beat the competition
is with people”
Robert J. Eaton
CEO Chrysler Corporation
69
okra
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Jurus Jitu
Gali Potensi Karyawan
“Employees who believe that management is concerned about them as a whole
person - not just an employee - are more productive, more satisfied, more fulfilled.
Satisfied employees mean satisfied customers, which leads to profitability.”
–– Mulcahy t,t ––
S
Oleh:
Anggresti Firlianita
KeluarGa Karyawan PG KremboonG
ebuah perusahaan yang sehat adalah perusahaan yang
juga mengutamakan kesejahteraan karyawannya. Kesejahteraan ini tidak hanya dipandang dari
segi ekonomi semata, melainkan juga
dilihat dari pengembangan potensipotensi atau kemampuan-kemampuan
yang dimiliki oleh karyawan-karyawan
yang bekerja dalam sebuah perusahaan. Untuk itulah dalam sebuah
perusahaan dibutuhkan manajemen
yang tertata dan teratur agar pengimplikasian sebuah sistem dalam suatu
perusahaan tidak hanya mampu memperlancar produksi barang yang
menjadi komoditas perusahaan tersebut, namun
juga mampu memberikan konsentrasi
yang cukup untuk mengembangkan
potensi-potensi yang dimiliki karyawan yang ada di dalamnya.
Dalam quotenya di atas, Anne M.
Mulcahy, seorang CEO wanita pertama di Xerox Corporation tahun 2001,
mencoba menjelaskan bahwa karyawan merupakan salah satu elemen
fundamental yang harus diperhatikan
oleh perusahaan, karena melalui karyawanlah, sebuah perusahaan dapat
mencapai kesuksesannya (Neumann
2015). Mulcachy beranggapan bahwa
mindset seorang karyawan terhadap
sebuah manajemen yang ada dalam
suatu perusahaan sangat berpengaruh pada pemberian
70
foto:ist
okra
loyalitas karyawan kepada perusahaan.
Ketika seorang karyawan menganggap
bahwa manajemen yang ada dalam
suatu perusahaan cenderung membuat karyawan merasa seperti pekerja
yang harus memberikan seluruh tenaganya seperti mesin di pabrik-pabrik,
maka karyawan tersebut tidak akan
mampu mengembangkan potensi yang
dimilikinya. Namun, akan berbeda jika
karyawan merasa bahwa manajemen
yang ada di dalam suatu perusahaan
mampu membuat seorang karyawan
merasa dihargai sebagai seorang manusia sebagaimana mestinya, maka
karyawan tersebut cenderung akan
mampu mengembangkan potensinya,
sehingga di lain sisi akan berdampak
pada peningkatan produktifitas suatu
perusahaan yang pada akhirnya perusahaan tersebut dapat memenuhi
keinginan para konsumennya dengan
maksimal.
Karyawan yang berpotensi tinggi
serta sistem produksi yang baik, tentunya syarat ideal bagi sebuah perusahaan yang ingin memenangkan
persaingan dalam dunia bisnis di perekonomian domestik maupun global.
Keinginan inilah yang saat ini banyak
mendorong beberapa perusahaan untuk mulai memandang pentingnya
upaya peningkatan potensi karyawannya sehingga nantinya diharapkan
mampu mengakselerasi kinerja perusahaan.
Begitu pula dengan PT. Perkebunan Nusantara (PTPN) X yang bergerak di sektor perkebunan dengan
komoditas utama gula dan tembakau.
Sebagai sebuah Badan Usaha Milik
Negara (BUMN), PTPN X terus berupaya untuk memajukan kinerja perusahaan dengan memberdayakan
dan meningkatkan potensi karyawankaryawannya. Salah satu upaya yang
telah di terapkan oleh PTPN X dalam
meningkatkan potensi karyawan adalah melalui workshop atau berbagai
pelatihan, misalnya pelatihan humas
yang dilakukan pada 26 Januari 2015
dan masih banyak pelatihan-pelatihan
yang lainnya.
Namun, pelatihan ataupun work­
shop tidaklah cukup untuk menggali potensi yang dimiliki oleh karyawan dalam suatu perusahaan. Minda
Zetline dalam artikelnya yang berjudul
“How to Unlock Your Employees’
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Hidden Potential” mengungkapkan
bahwa jika sebuah perusahaan tidak
mampu menggali potensi, bakat, atau
keterampilan lain yang dimiliki oleh
seorang karyawan maka sama saja perusahaan tersebut membuang sumber
daya yang ada, untuk itu peningkatan
potensi karyawan tidak hanya melalui
pelatihan-pelatihan semata (Zetline
2013).
Tentunya hal ini sangat disayangkan karena pada dasarnya semakin
banyak sumber daya yang tergali maka
akselerasi kinerja sebuah perusahaan
akan dengan mudah terwujud. Pemikiran senada juga disampaikan oleh
Dani Monroe, seorang pendiri dan
presiden dari Center Focus Internasional Inc. (CFI) (Anon t,t). Monroe
mengungkapkan bahwa para pembuat
keputusan dalam sebuah perusahaan
harus memiliki beberapa pertanyaan
besar untuk mengevaluasi sistem manajemen yang ada dalam perusahaan
tersebut,
Every employee has
some sort of talent. The
question that needs to
be asked is: Does your
orgaization recognize
and ignite everyone’s
talent? Or do you spend
all your time praising
your top performers
and “managing” your
bottom performers?
What about the majority
of employees who show
up every day and put in
a hard day’s work while
being just under the
radar? These employees
are actually he key to the
success of your company.
But are you doing
everything you can to
bring out their best?
– Monroe 2013 –
Berkaca dari pemikiran yang disampaikan oleh Dani Monroe inilah, dalam artikelnya, Zetline menyebutkan
beberapa cara yang dapat digunakan
perusahaan untuk menggali potensipotensi karyawannya yang selama
ini masih belum terlihat atau belum
menonjol dalam track record kinerja-
nya. Cara-cara ini harus dimasukkan
kedalam manajemen perusahaan agar
pelaksanaannya dapat menyeluruh
dan pengimplementasiannya dapat
terlaksana hingga pada tingkatan karyawan yang paling rendah.
Langkah pertama yang dapat digunakan oleh sebuah perusahaan adalah do an assessment. Pada langkah
ini, perusahaan dituntut melakukan
penilaian terhadap karyawan secara
spesifik. Perusahaan tidak boleh hanya
menunggu karyawan untuk menunjukkan potensi yang dimiliki, hal ini
dikarenakan setiap karyawan memiliki karakteristik yang berbeda dalam
menunjukkan potensi yang dimilikinya (Zetline 2013).
Ada beberapa karyawan yang aktif
menunjukkan kemampuan-kemampuan yang dimilikinya dengan aktif
mengambil pekerjaan-pekerjaan yang
mereka anggap mampu dibidang
tersebut. Namun di lain sisi terdapat
karyawan yang cenderung hanya suka
melakukan pekerjaan-pekerjaan yang
diberikan oleh kelompok kerjanya tanpa harus meminta pekerjaan tersebut
terlebih dahulu, walaupun sebenarnya
karyawan tersebut memiliki kemampuan lebih untuk mengerjakan tugas
yang lainnya (Zetline 2013). Sikap karyawan yang seperti ini bisa saja dipengaruhi oleh rasa percaya diri yang rendah.
Oleh karena itu, untuk menggali potensi karyawan lebih dalam lagi, maka
seorang pemimpin dalam perusahaan
harus lebih aktif menilai karakteristik
karyawannya, lalu memberikan tugastugas yang lebih bervariatif kepada
karyawan-karyawan yang cenderung
kurang memiliki kepercayaan diri untuk mengambil pekerjaan diluar apa
yang diberikan kepadanya.
Selanjutnya, langkah kedua yang dapat dilakukan oleh perusahaan adalah
mix it up. Menurut Zetline, mix it up
ini adalah salah satu peranan penting
yang harus diambil oleh CEO (Chief
Executive Officer). Sebagai seorang
pemimpin dalam sebuah perusahaan,
CEO dapat melibatkan atau mengundang berbagai lapisan karyawan untuk
membantu proyek penting, sehingga
tidak hanya melibatkan para eksekutif
puncak (Zetline 2013).
Melalui pencampuran berbagai
lapisan karyawan bahkan hingga
71
okra
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
lapisan karyawan tingkat bawah ini
sangat memungkinkan muculnya ideide baru. Pada dasarnya, dengan menempatkan karyawan dari berbagai
tingkatan ke dalam satu tim untuk
menyelesaikan suatu masalah, selain
membantu para pengambil kebijakan
untuk mengambil beberapa gagasan,
para karyawan juga akan cenderung
lebih termotivasi dalam proses (Zetline
2013).
Stretch their boundaries dapat menjadi langkah lanjutan untuk menggali
potensi karyawan dalam suatu perusahaan. Pada langkah ini, para pemimpin
perusahaan dapat memberikan tugastugas kepada karyawannya agar lebih
bisa berfikir inovatif dan kreatif. Tapi
akan lebih baik, jika tugas-tugas yang
diberikan adalah tugas-tugas baru yang
bukan merupakan porsi dari karyawan
tersebut, sehingga karyawan yang semula cenderung mengkotak-kotakkan
diri akan lebih terbuka dan tidak hanya membatasi diri dalam bidang yang
tengah digelutinya dalam perusahaan
tersebut (Zetline 2013).
Dengan cara inilah, maka pola pikir
karyawan akan terlatih untuk tanggap pada hal-hal baru dan dapat berfikir cepat dalam penyelesaian suatu
masalah di dalam sebuah perusahaan.
Hal ini sesuai dengan pernyataan yang
disampaikan oleh Dani Monroe,
72
“If we create businesses
where people are
stretched a little bit,
and are constantly
learning, we’ll get a
lot of innovation and
creativity. That’s because
their brains will have the
opportunity to form a
little bit different wiring.
If we have to do the same
thing year after year, our
creativity begins to slow
because we move into
automatic.”
– Monroe dalam Zetlin 2013 –
Langkah keempat adalah find out
what they like. Zetlin mengungkapkan
bahwa, selain beberapa langkah di atas,
para pemimpin perusahaan atau seorang manajer dapat memberikan perhatian lebih kepada karyawan dengan
mengetahui pekerjaan seperti apa yang
disukai oleh karyawannya. Hal ini mengingat jika seorang karyawan memiliki
passion dalam bekerja, pekerjaan yang
dilakukan akan dapat terselesaikan dengan maksimal (Zetline 2013). Sedangkan langkah yang terakhir adalah find
out what they need. Perusahaan perlu
mengakomodasi apa-apa saja yang
dibutuhkan oleh karyawannya bahkan
dari hal terkecil, walaupun sesekali melanggar aturan yang ada di perusahaan
anda. Misalnya ketika ada seorang karyawan yang terkadang meninggalkan
pekerjaannya untuk menjemput anaknya, padahal belum saatnya jam pulang
kantor. Seorang pemimpin perusahaan
harus tanggap dengan hal ini. Sesekali
pemimpin perusahaan dapat mengakomodasi kepentingan karyawan ini
dengan memberikannya waktu luang
untuk menjemput anaknya (Zetline
2013). Jika seorang pemimpin perusahaan mampu melakukan hal yang
seperti ini, karyawan akan cenderung
merasa diperhatikan kebutuhannya
sehingga mendorong karyawan untuk
melakukan segala sesuatu yang baik
untuk perusahaan termasuk menunjukkan potensinya demi kemajuan perusahaan.
Kesuksesan menggali potensi karyawan melalui beberapa cara di atas
telah dialami oleh banyak perusahaan
di dunia, salah satunya adalah Toyota.
Perusahaan yang bergerak di bidang
otomotif ini telah sukses mengembangkan karyawannya dengan beberapa
budaya kerja dalam kesehariannya.
Karyawan pada dasarnya dituntut harus beroperasi dalam budaya di mana
mereka terus menerus bergulat dengan
tantangan dan masalah yang harus di-
okra
selesaikan melalui penciptaan ide-ide
segar (Takeuchi et al. 2008). Dengan
budaya ini para karyawan dibiasakan
untuk selalu siap pada segala kondisi
dalam perusahaan dan diharapkan
mampu memberikan solusi-solusi untuk penyelesaian masalah yang dihadapi oleh perusahaan dari level manapun
mereka. Inovasi keras maupun lunak
yang mampu berjalan beriringan menjadikan Toyota mampu meraih kinerja
terbaik mereka dan mampu mengakselerasi kinerja perusahaan dengan baik
(Takeuchi et al. 2008)
Pada dasarnya, selain memperha­ti­
kan beberapa cara di atas, untuk meng­
gali potensi karyawan yang sudah bergabung dalam perusahaan tentu­nya
akan dapat dengan mudah dilakukan
jika diawali dengan pemilihan karyawan yang memiliki passion dan memiliki tujuan yang sama dengan peru­sa­
haan. Hal ini dikarenakan passion yang
ada di setiap individu akan menim­
bulkan rasa bahagia dalam pengerja­
an berbagai pekerjaan yang tengah
digelutinya. Ketika seorang karyawan
memiliki passion terhadap pekerjaanpekerjaan yang ada di perusahaan,
maka karyawan tersebut akan dengan
mudah menunjukkan segala potensi
yang mereka miliki. Hubungan terkait
pentinganya pemilihan karyawan yang
memiliki passion terhadap perusahaan
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
dan peningkatan potensi karyawan dapat kita lihat pada Zappos Company,
perusahaan yang memiliki komoditas
utama sepatu di Amerika Serikat, yang
menerapkan konsep delivering happi­
ness pada manajemen perusahaannya. CEO Zappos, Tony Hsieh, telah
membuktikan bahwa proses rekruitmen karyawan merupakan penentu
uta­ma apakah potensi yang ada dalam
di­ri karyawan tersebut nantinya dapat
dikembangkan pada taraf yang lebih
tinggi.
Dalam proses rekruitmen karyawan,
Hsieh tidak segan-segan menawarkan
sejumlah uang kepada calon karyawan
untuk mundur dari rekruitmen yang
tengah diadakan oleh Zappos. Hal ini
dilakukan untuk mengukur seberapa
besar ketertarikan calon karyawan terhadap perusahaan tersebut. Jika calon
karyawan lebih memilih uang dan mundur dari rekruitmen tersebut, maka
terbukti calon karyawan tersebut tidak
memiliki passion yang tinggi terhadap
pekerjaan yang ada di Zappos (Rosenbaum 2010). Setelah terpilih karyawankaryawan yang memiliki passion yang
tinggi terhadap perusahaan, maka
Hsieh mulai membuat karyawan-karyawan ini tidak mengkotak-kotakkan dirinya. Hsieh berkeyakinan bahwa aspek
penting dari sebuah perusahaan tidak
hanya kebahagiaan konsumen, melain-
kan juga kebahagiaan karyawannya.
Un­tuk itu Hsieh menerapkan kerja ideal di mana sosok karyawan yang ada di
kantor adalah sosok yang sama seperti
karyawan tersebut ketika berada di rumahnya sendiri, dari sinilah seorang
kar­yawan dapat menunjukkan semua
potensi yang dimilikinya (Rosenbaum
2010).
Berkaca dari pemaparan di atas,
penulis berkesimpulan bahwa PTPN
X mampu menerapkan cara-cara atau
langkah-langkah yang telah penulis
bahas sebelumnya. Hal ini dikarenakan PTPN X telah mampu melakukan
langkah yang paling sederhana yakni
dengan melakukan rekruitmen karyawan yang akan dipekerjakan per 1 Januari 2015 dengan proses seleksi yang
ketat. Sehingga hal ini memungkinkan
PTPN X untuk mendapatkan karyawan yang memiliki visi dan misi yang
sejalan dengan perusahaan. Selanjutnya PTPN X dapat memilih beberapa
langkah lanjutan seperti do an asses­
sent, mix it up, dan lain sebagainya
untuk menggali potensi karyawan yang
bergabung dalam perusahaan. Penulis
berkeyakinan bahwa jika langkah-langkah tersebut diterapkan hingga ke unit
atau anak perusahaan PTPN X, maka
mengakselerasikan kinerja perusahaan
bukanlah sesuatu yang mustahil untuk
diwujudkan.
Referensi

Anon, t,t. About Dani Monroe, dalam http://www.
centerfocus.com/about-dani-monroe/ (diakses 24
Februari 2015)

Monroe, Dani, 2013. Untapped Talent: Unleashing the Power of The Hidden Workforce, dalam
http://www.danimonroe.com/untapped-talent.html
(diakses pada 24 Februari 2015)

Mulcahy, Anne M., t,t. Anne M. Mulcahy Quotes, dalam http://www.brainyquote.com/quotes/quotes/a/
annemmulc424887.html (diakses pada 23 Februari
2015)

Neumann, Caryn E., 2015. Anne M. Mulcahy 1952,
dalam http://www.referenceforbusiness.com/
biography/M-R/Mulcahy-Anne-M-1952.html (diakses
pada 23 Februari 2015)

Rosenbaum, Steven, 2010. The Happiness Culture:
Zappos Isn’t A Company-It’s A Mission, dalam http://
www.fastcompany.com/1657030/happiness-culturezappos-isnt-company-its-mission (diakses pada 26
Februari 2015)

Siska, 2015. Seorang Humas Harus Belajar Berbicara
dengan Suara Diafragma, dalam http://ptpn10.
co.id/blog/seorang-humas-harus-belajar-berbicaradengan-suara-diafragma (diakses pada 23 Februari
2015)

Takeuchi, Hirotaka, et al., 2008. The Contradictions Drive Toyota’s Success, dalam https://hbr.
org/2008/06/the-contradictions-that-drive-toyotassuccess (diakses pada 25 Februari 2015)
foto:ist
73
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
waring
[ woman inspiring ]
IIKB
Beri Apresiasi Siswa Berprestasi
 Laporan: SAP JAyAnti
Putra putri karyawan yang berprestasi mendapat apresiasi dari
Ikatan Istri Keluarga Besar (IIKB)
PT Perkebunan Nusantara X kantor
direksi. Tahun ini bantuan diberikan
kepada 37 siswa mulai jenjang pendidikan Sekolah Dasar (SD) hingga Perguruan Tinggi (PT).
Ketua IIKB PTPN X Trusiana Nastiti Subiyono mengatakan tujuan pemberian bantuan ini untuk membantu
putra putrid karyawan di kantor direksi yang berprestasi untuk mendapatkan biaya. Kegiatan ini sudah menjadi
agenda wajib IIKB setiap tahunnya.
”Dana ini murni dari IIKB. Tidak ada tujuan yang lain selain ingin
menumbuhkan semangat belajar kepada putra-putri karyawan. Agar mereka
lebih terpacu untuk berprestasi,” kata
Nastiti dalam Halal Bihalal 1 Syawal
1436 Hijriah dan Penyerahan Bantuan
GOTA tahun 2015 yang mengambil
tema ‘Dengan Iman dan Taqwa kita
pererat tali silaturahmi untuk meningkatkan prestasi putra-putri karyawan/
karyawati kantor direksi’.
Dituturkan Nastiti kriteria nilai
untuk GOTA tahun ini ditingkatkan.
Namun meski demikian ternyata tetap
banyak yang dapat memenuhi kriteria.
”Tahun ini nilainya naik menjadi minimal 8. Ada yang 7,9 tapi tetap diikut-
74
 Ketua IIKB PTPN X, Nastiti Subiyono memberikan santunan kepada anak kayawan yang berprestasi.
kan karena bedanya tipis. Diharapkan
bisa menambah semangat belajarnya
sehingga tahun depan bisa lebih baik
lagi nilainya,” ujarnya.
Dengan dinaikkannya kriteria nilai,
nilai santunan yang diberikan juga
bertambah. Secara rinci disebutkan,
jumlah penerima bantuan untuk siswa
SD sebanyak 12 orang, SMP 13 orang,
SMA 9 orang dan Perguruan Tinggi 3
orang.
Direktur perencanaan dan pengembangan PTPN X, Mochammad Sulton
mengatakan kegiatan positif seperti
pemberian bantuan pendidikan ini sangat positif dan perlu didukung agar
berkelanjutan. Di bidang pendidikan,
Sulton menitipkan pesar agar Taman
Kanak-kanak (TK) yang umumnya ada
di unit bisa dijaga.
”TK-TK perlu dibina agar lebih baik
karena pendidikan ini langsung bersentuhan dengan masyarakat. Tidak
jarang keberadaan TK ini menjadi
pengikat antara PG dengan masyarakat di sekitarnya,” tutur SUlton.
Sementara itu wali murid penerima
yang diwakili Asisten Muda Divisi Pemasaran, Hari Purnomo menyatakan
terima kasih atas kepedulian IIKB terhadap pendidikan putra putrid karyawan/karyawati di lingkungan kantor.
 Ibu-Ibu Direksi didampingi Direktur Renbang PTPN X berfoto bersama anak-anak karyawan yang berprestasi.
foto-foto: dery ardiansyah
waring
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto-foto: dery ardiansyah
 Yuni Djoko Santoso memberikan
bingkisan kepada tukang becak yang
mangkal di Jalan Indrapura Surabaya.
 Ibu-Ibu IIKB memberikan bantuan kepada tukang sapu yang bisa
membersihkan jalan disekitar Jalan Jembatan Merah Surabaya.
 Ketua IIKB PTPN X, Nastiti Subiyono memberikan bingkisan kepada
karyawan petugas kebersihan.
IIKB Bagikan
Bingkisan Lebaran
 Laporan : Dery ArDiAnSyAh
sudah menjadi agenda tahunan,
Divisi Sosial Ikatan Istri Keluarga Besar (IIKB) PT. Perkebunan Nusantara
X kembali membagikan bingkisan
Lebaran untuk warga di sekitar kantor
direksi PTPN X. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk ungkapan syukur
atas pencapaian PTPN X atas prestasi
yang sudah diraih saat ini.
Ketua IIKB PTPN X Nastiti Subiyono mengatakan, agenda tahunan
tersebut merupakan kegiatan wajib.
“Kegiatan ini kami lakukan setiap ta-
hun. Menjelang lebaran, kami dari
IIKB PTPN X selalu membagi-bagikan
bingkisan kepada warga sekitaran kantor direksi serta beberapa karyawan,”
kata Nastiti.
Paket yang dibagikan terdiri dari
sembako seperti gula, beras dan minyak goreng serta bingkisan keperluan
Lebaran yang keseluruhannya berasal
dari uang kas yang dikumpulkan oleh
seluruh anggota IIKB PTPN X Kantor
Direksi. Selain bingkisan lebaran, juga
dibagi-bagikan baju bekas layak pakai
kepada warga didekat kantor direksi.
Ketua Divisi Sosial IIKB Kantor
PTPN X menambahkan, baju layak
pakai yang dibagikan tersebut merupakan baju yang dikumpulkan oleh
karyawan serta karyawati yang sudah
tidak terpakai, tetapi masih layak untuk dipakai. Paket tersebut diserahkan
langsung berkeliling mengitari kantor
direksi seperti di jalan rajawali, jembatan merah, serta jalan indrapura.
“Kami menyerahkan sendiri amanah yang diberikan oleh karyawan dan
karyawati PTPN X kepada yang benarbenar membutuhkan. Kami mengelilingi kantor direksi dan memberikan
langsung kepada para tukang becak,
bersih-bersih jalan, tukang tambal ban,
serta beberapa warga miskin yang berada di sekitar kantor direksi,” ujar Yuni
Djoko Santoso saat ditemui dilokasi
kegiatan. ket sembako dan bingkisan
Lebaran juga dibagikan ke karyawan
di kantor direksi seperti satpam, sopir,
serta petugas kebersihan.
75
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
filter
[ profil terpilih ]
MuHAMMAD HANuGRoHo, DIREKTuR KEuANGAN PTPN X
Dari Perpustakaan, Televisi,
Hingga Perkebunan
Kisah usaha yang dimulai dari nol, lalu
menuai sukses, mungkin bukan hal baru.
Tapi bagaimana seseorang dapat memaknai
proses yang terjadi dalam kehidupannya
sebagai sebuah pelajaran hidup yang
berharga, itulah ilmu hidup yang menarik
disimak.
 Laporan : SeKAr ArUM
S
76
etidaknya , itulah yang juga dirasakan Direktur Keuangan PTPN X , Muhammad Hanugroho.
Bagi pria berkacamata ini, perjalanan karirnya
tergolong unik. Betapa tidak profesi yang ia tekuni
sama sekali berbeda dengan jurusan yang ia ambil
kala duduk di bangku kuliah. Sebagai seorang anak yang terlahir dari keluarga pendidik, Nugroho (sapaan akrabnya-red)
dituntut memilih jurusan yang tak jauh berbeda dari profesi
kedua orang tuanya yakni guru. Itulah sebabnya ia memilih jurusan ilmu perpustakaan sebagai pilihan ia melanjutkan study
di Universitas Indonesia.
“Jujur saya memang tidak menyukai jurusan tersebut, namun
apa boleh buat karena dorongan keluarga terlebih ibu saya yang
meminta , akhirnya saya memilih jurusan itu. Aneh memang, tapi
mau gimana lagi saya harus komit dong dengan pilihan yang sudah saya ambil, meskipun dari awal sebenarnya saya ingin sekali
masuk ke jurusan musik di Institut Kesenian Jakarta(IKJ) ,” kenang pria asal Lampung tersebut.
Di tengah masa belajarnya, Nugroho muda rupanya merasa
bosan dengan rutinitas yang dijalani. Alhasil dia mencoba peruntungan untuk mengais rezeki dengan memulai bekerja di
salah satu televisi swasta di Indonesia dan mengambil kuliah
lagi dengan jurusan yang berbeda yakni administrasi negara di
salah satu universitas swasta di Jakarta. Di sinilah wawasannya menjadi terbuka mengenai bagaimana sebuah industri televisi itu berjalan.
Layaknya pepatah lama ‘sekali dayung dua tiga pulau ter­
lampaui’ begitu pula yang dialami Nugroho. Sembari menjalankan kewajibannya untuk menyelesaikan kuliah , ia juga
memperoleh uang dari pekerjaan sambilannya tersebut. Merasa
bahwa ini adalah jalan Tuhan yang telah dipilihkan untuknya,
Nugroho akhirnya mencoba tantangan baru dengan bekerja di
dunia baru yang juga sangat melenceng dari background pendidikannya.
“Di tahun 1995 itulah titik balik saya masuk dunia financial,
dan bergabung di salah satu perusahaan sekuritas di Indone-
sia. Dan ternyata benar, tak butuh waktu lama bagi saya untuk beradaptasi, saya mendapatkan passion di dunia ini. Bertemu dengan banyak orang, belajar tentang berbagai hal baru
membuat saya makin jatuh hati terhadap dunia ini. Sayapun
mendapatkan filosofi menarik yakni jika ingin belajar tentang
kehidupan maka belajarlah finance,” kelakar pria yang gemar
berolahraga sepeda gunung tersebut.
Lantas bagaimanakah perasaannya ketika ditawari menjadi
Finance Director di PTPN X? Dituturkannya kembali bahwa saat
tawaran itu datang kepadanya, ia memang sedikit shock. Rasanya hampir tak percaya pasalnya ini dunia yang juga jauh berbeda dari apa yang ia tekuni. Tepatnya di industri perkebunan.
“ Ini industri real, sangat berbeda memang tapi sebenarnya
masih dalam ruang lingkup finansial. Tapi saya tidak mau berpangku tangan begitu saja, ini justru tantangannya. Bagaimana saya dapat bekerja secara profesional dan memberikan kinerja terbaik bagi PTPN X ke depan,” tandasnya.
Menurut bapak dari dua orang anak ini, ada tiga hal yang
menjadi acuannya untuk menjalani karir antara lain visi, integritas, dan konsistensi. Dijelaskannya, setiap orang harus
memiliki visi, karena dengan hal tersebut, seseorang akan
mengetahui tujuan yang akan dicapainya.
Sedangkan, integritas adalah berbicara tentang komitmen dan
kepercayaan. Ia mengakui tidak pernah keluar dari komitmennya
sebagai seorang pekerja, apapun yang telah menjadi keputusan
dan pilihannya akan dilakukan sepenuh hati.
Kemudian konsistensi. Menurutnya, dalam bertindak, seseorang harus mampu memaksimalkan kapasitasnya. Banyak
orang mencoba mendapatkan sesuatu dengan segala cara.
Permasalahannya, belum sampai ke tujuan yang akan dicapai,
orang itu sudah menyerah. “Banyak orang tidak sabaran dan
maunya pasti cepat. Padahal sukses itu butuh proses. Kesuksesan dicapai dari sukses-sukses kecil. Makanya kita perlu persisten dan konsisten.” tegas pria kelahiran 27 April 1972 ini.
musik AdAlAh JiwA sAyA
Bermain musik merupakan aktivitas yang menyenangkan
dan memberikan kepuasan tersendiri. Hal itu dirasakan oleh
Nugroho, yang gemar memetik senar-senar gitar sejak masa
remaja hingga sekarang.
Diakuinya bahwa, minat untuk mengaktualisasikan diri di
dunia seni musik juga dilakukannya dengan membentuk grup
band bersama teman-temannya di bangku SMA hingga kuliah
bahkan hingga sekarang. ”Musik adalah jiwa saya. Rasanya ketika sudah memegang gitar dan memainkannya, ada kepuasan
yang tak terhingga. Kalau untuk perlombaan grup band, saya
memang sering ikut sih. Terlebih dalam band selain memegang
gitar saya juga menjadi vokalis. Ya , 11 -12 lah kalau dibandingin
sama Ariel Noah suaranya,” katanya terkekeh.
filter
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
77
foto:deRy aRdiansyah
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
stetoskop
[ kesehatan ]
Spondylosis Cervical
Semakin Tak
Mengenal Usia
 Laporan: SiSKA PreStiwAti
T
78
idak dapat dimungkiri, padatnya aktivitas manusia ditambah
dengan gaya hidup yang kurang
tepat banyak menyebabkan
gangguan kesehatan, termasuk
di daerah leher. Hal ini diperburuk dengan
sikap orang yang mengganggap sepele gangguan menahun di leher yang bisa berakibat
fatal hingga kelumpuhan mendadak.
Gangguan di leher yang banyak terjadi
adalah kecetit leher. dr. M. Sofyanto, Sp.BS
mengungkapkan, leher bisa kecetit atau
dalam bahasa medis dikenal dengan istilah
spondylosis cervical. Ia menjelaskan, leher
terbagi menjadi dua komponen yaitu komponen sumsum syaraf dan kumpulan tulang
dan sendi atau bantalan. Karena terus dipergunakan, lama kelamaan bantalan antara
ruas tulang belakang bisa aus.
Pertanyaannya, mengapa bantalan bisa
aus? Bantalan atau dalam bahasa medis
dikenal dengan istilah diskus, mengandung
air yang dapat berkurang atau mengering
dan menipis, sehingga tidak berfungsi lagi.
“Ini sudah proses alam, biasanya mulai
terjadi keausan usia 40 tahun ke atas,” jelas
dokter kelahiran Malang, Jawa Timur ini.
Dengan berkurangnya kandungan air,
sambung dr. Sofyanto, daya elastisitas
bantalannya menurun sehingga gampang rusak. Tulang atas dan tulang bawah bantalan
saling bergesekan dan menyebabkan terjadi
luka atau radang. Akibatnya timbul tulang
baru atau pengapuran yang bisa menekan
syaraf. Padahal, seharusnya tulang tambahan ini tidak ada.
Ruas tulang belakang leher yang paling sering mengalami pengapuran adalah
antara ruas ke-5 dan ruas ke-6 serta antara
ruas ke-6 dan ruas ke-7. Ruas-ruas tersebut
merupakan ruas tulang leher yang pergerakannya paling luas.
Awalnya gangguan yang dirasakan pasien
mungkin cuma rasa nyeri dan bisa menjalar
hingga ke punggung, tangan sampai kaki.
Tetapi jika dibiarkan terus menerus dan
tidak segera ditangani akan bisa mengakibatkan kelumpuhan mendadak dan lemah
satu sisi badan.
“Selain proses alam, banyak pasien yang
mengalami spondylosis cervical karena gaya
hidup yang kurang bagus,” ungkap pria kelahiran tanggal 29 November 1965 ini. Gaya
hidup yang dimaksud adalah kurang bergerak atau kurang olahraga, banyak aktivitas
duduk dengan posisi menunduk di mana
saat ini banyak orang seperti terlalu lama di
depan gadget atau komputer.
“Kondisi yang sudah terlalu lama menunduk ini dibawa pulang. Sampai rumah,
bukannya leher dibuat istirahat tetapi leher dipaksa
lagi dengan posisi
yang menunduk
untuk melihat televisi
di tempat
tidur. Seharusnya
leher istirahat
dengan
posisi
satu
bantal
stetoskop
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Ciri-ciri spondylosis cervical
 Nyeri leher, seperti menusuk dan terbakar bahkan menjalar ke kepala, sekitar telinga, dan mata, terutama di malam hari.
 Nyeri kepala satu atau dua sisi terkadang disertai migran dan vertigo.
 Nyeri di puncak bahu hingga mencengkeram keras kadang sampai ke dada
 Nyeri lengan menjalar sampai tangan, kesemutan dan kelemahan jari.
 Nyeri mirip sengatan listrik di tangan dan kaki, kaku di dada dan perut. Bila makin berat akan sulit menahan air seni
(ngompol) serta gangguan seksual.
79
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
80
Penanganan kecetit leher pada fase
dan leher rileks ke atas. Ini leher
awal bisa dilakukan dengan tindakan
dipaksa lagi untuk nonton televisi
konservatif, yaitu membatasi pergeradengan bantal yang masih ditambahi
kan tulang leher menggunakan collar
dengan guling,” papar dokter yang
neck (penyangga leher) ataupun fimenyelesaikan Pascasarjana Bedah
sioterapi. Dengan diagnosa yang tepat
Saraf di Institut Kedokteran Singadan penanganan yang baik, kecetit
pore General Hospital, tahun 1998
leher ini tidak memerlukan tindakan
ini. Menurutnya, seharusnya di atas
operasi.
tempat tidur tidak boleh ada aktivitas
Bila keluhan bertambah, seperti
apapun karena waktunya tubuh untuk
adanya kesemutan, nyeri yang makin
beristirahat. Apalagi tulang dan sendi
hebat, ngompol bahkan gangguan sekleher adalah bagian tubuh yang paling
sual, maka bisa dilakukan tindakan
banyak aktivitasnya.
operasi dengan mengganti bantalan.
Saat ditanya waktu paling lama
Tentunya sebelum dilakukan operasi
tulang dan sendi leher boleh berada
sudah dilakukan pemeriksaan Mag­
dalam satu posisi, dokter yang telah
netic Resonance Imaging (MRI). Jika
menyelesaikan pendidikan di Sekolah
memang ada masalah di diskusnya
Kedokteran Paris-Sud University,
maka tindakan operasi bisa dilakukan.
Bicetre, Perancis ini menjelaskan
Berdasarkan data Brain & Spine
bahwa tulang dan sendi leher boleh
Center Surabaya
dalam satu posisi seperti ketika menunduk
Penanganan kecetit selama tahun 2013,
dari 492 pasien kecetit
paling lama dua jam.
leher pada fase
leher yang ditangani,
Setelah dua jam sebaawal bisa dilakukan hanya 102 kasus yang
iknya dialihkan dengan
menjalani operasi.
gerakan lain selama
dengan tindakan
Dengan kecanggihan
dua hingga tiga menit.
konservatif,
teknologi yang berSofyanto mengunghasil dikembangkan
kapkan dengan pola hiyaitu membatasi
tim bedah syaraf,
dup yang kurang sehat
pergerakan tulang oleh
kini operasi dilakukan
ditambah kurangnya
leher menggunakan dengan microsurgery
berolahraga, meyaitu teknik pemnyebabkan otot-otot
collar neck
bedahan yang memelemah dan semua
(penyangga leher)
mungkinkan operasi
beban ditanggung oleh
ataupun fisioterapi. dilakukan dengan lebih
tulang dan sendi. Akiaman, hasil maksimal
bat gaya hidup kurang
serta down time singkat.
olahraga ini, dulunya seseorang baru
“Dengan microsurgery, operasi
akan mengalami spondylosis cervical
yang kami lakukan cukup 30 menit,
pada usia 60 tahun ke atas, sekarang
dengan sayatan 3 cm tanpa pendarasudah mulai terjadi pada usia 30
han, tidak mengenai syaraf dan sumtahunan. Tujuan olah raga adalah
sum serta tidak mengenai pembuluh
menguatkan otot, maka beban dibagi
darah, tidak menganggu pernafasan,
rata ke seluruh tubuh. Semua jenis
dan tidak ada luka jahitan. Yang tidak
olah raga baik untuk leher.
kalah penting, proses operasi bisa live
Penanganan kecetit leher bisa berdan keluarga bisa melihat dari layar
beda antara satu pasien dengan yang
monitor, bahkan pihak keluarga bisa
lain. Bagi orang-orang yang bergaya
berkomunikasi dengan kami,” ulasnya
hidup sehat dan rajin berolah raga,
panjang lebar. Teknik minimal inva­
untuk mengatasi masalah kecetit leher
sive ini, memungkinkan pasien bisa
ini tidak harus dengan operasi namun
beraktivitas normal segera setelah
cukup dengan fisioterapi saja. ”Tidak
operasi. Pasien juga diperbolehkan
semua kasus kecetit leher harus ditamenggerakkan leher tanpa bantuan
ngani dengan operasi,” papar dokcollar neck atau penyangga leher.
ter yang telah mempelajari tentang
Bahkan, bila tidak ada keluhan berarti
Minimally Invasive, Stereo Taxis and
pasien diizinkan pulang sehari setelah
Gamma Knife di Singapore General
operasi.
Hospital pada tahun 1996.
stetoskop
Foto: Indra
Menjalani hari dengan menderita penyakit hemifacial spasm atau wajah melorot
sangatlah tidak mudah. Tidak hanya berdampak pada berkurangnya rasa percaya
diri, penyakit ini juga bisa ‘merampas’
denyut kehidupan seseorang. Majunya
teknologi kedokteran khususnya bedah
syaraf, membuat Lilih Dwi Priyanto, M.MT,
DR menemukan ‘kehidupannya’ kembali.
Untuk membantu sesama penderita, Lilih
mendirikan Brain & Spine Community yang
saat ini memiliki anggota sebanyak 800
orang dan sudah melayani 24 ribu orang.
Ketika ditemui tim majalah PTPN X Magz
Surabaya
Mulai Jadi
Jujugan
Pasien Asing
Bila dulu banyak warga Indonesia yang
memilih berobat ke luar negeri, sekarang
tidak perlu. Pasalnya, Indonesia sudah
memiliki para tim dokter didukung dengan
kemajuan teknologi kedokteran mampu
memberikan pelayanan terbaiknya, khususnya di bidang micro surgery bedah syaraf.
Bahkan, tidak sedikit pasien dari Singapura,
Malaysia, China, Hongkong, New Zealand,
Australia, Qatar dan Amerika Serikat yang
stetoskop
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
LILIH DwI PRIYANTo, M.MT, DR - PENDIRI BRAIN & SPINE CoMMuNITY
Mantan Pasien Kini
Menebar Harapan
di National Hospital Annex Building lantai 3,
Boulevard Famili Selatan Kav. 1 Graha Family
Surabaya, wajah Lilih begitu segar dan sehat,
tidak akan ada yang menyangka bahwa wajah tersebut pada tahun 2003 lalu sempat
mengalami masalah. Dimana, bagian wajah
sebelah kanan kedutan dan tertarik ke atas,
sehingga letak mata dan bibir tidak sama
dengan wajah sebelah kiri. “Saat itu, banyak
yang mengira saya terkena stroke padahal
hasil laboratorium normal, ” ujar Lilih sambil
mengenang peristiwa 12 tahun silam.
Karena kondisi fisik tersebut, kata Lilih,
orang-orang disekelilingnya seperti menaruh iba. Dengan kondisi wajah yang melorot,
ia harus menerima saat dirinya tidak banyak
diberi beban pekerjaan oleh instansinya bekerja. “Karena kasihan, saya tidak diberi beban pekerjaan. Akhirnya hal itu berpengaruh
terhadap pendapatan. Kasihan anak-anak
saya yang merasakan dampaknya,” kenang
ayah dari tiga orang putra dan satu orang putri ini. Upaya mencari kesembuhan dengan
berkonsultasi kepada para dokter ahli baik
dari dalam maupun luar negeri juga dilaku-
melakukan operasi ini di Surabaya.
Selama ini, masyarakat akan takut bila
mendengar kata operasi apalagi yang dioperasi adalah bagian kepala. Dalam bayangan
masyarakat, tindakan operasi merupakan
sebuah tindakan yang berdarah-darah,
membelah tengkorak dan lebih besar resiko
kegagalan daripada keberhasilan. Namun
semua anggapan itu tidaklah benar. Dengan
micorsurgery dan minimal invasive, pasien
akan lebih cepat pulih, tanpa ada darah, tanpa
pembelahan dan ketakutan lainnya.
“Sekarang ini operasi bedah syaraf dilakukan dengan menggunakan teknik micro surgery dan minimal invasive, operasi dilakukan
hanya membedah sekitar 3 cm atau dengan
sistem lubang kunci (key hole),” kata dr M.
Sofyanto,Sp.BS salah satu tim bedah syaraf di
National Hospital, Surabaya.
Dokter yang mempelajari microsurgery
di Perancis ini menambahkan bersama tim
kan. Namun, semua usahanya belum mendapatkan hasil.
Selama empat tahun, ungkap Lilih, dirinya harus hidup dengan bentuk wajah yang
kurang normal dan selalu menjadi pusat
perhatian orang yang melihat. Hingga kemudian, tanpa pernah disangka ketika menunaikan ibadah haji, dirinya bertemu dengan dr.
Sofyanto. Saat bertemu, Lilih pun mengeluhkan tentang penyakit yang dideritanya.
“Awalnya, saya sempat meragukan kemampuan dr. Sofyanto. Masak dokter semuda dr. Sofyanto bisa padahal sebelumnya
saya sudah menemui para profesor dokter
saja tidak bisa mengobati,” ungkapnya.
Setelah bertemu dengan tim bedah syaraf
dan mendapatkan penjelasan lebih detail,
akhirnya Lilih pun memutuskan untuk menjalani operasi. Berbeda dengan saat ini, operasi yang dijalaninya membutuhkan waktu
20 jam. Dengan kemajuan tenologi saat ini
pasien cukup menjalani operasi selama lima
jam saja.
“Alhamdulillah saya sembuh, dan dari situlah saya ingin membantu sesama penderita,”
bedah syaraf, mereka terus mengembangkan
teknologi bedah syaraf sehingga sampai pada
kondisi saat ini. Bahkan, ada operasi yang
bisa disaksikan langsung oleh pihak keluarga
pasien dan bahkan bisa berkomunikasi
dengan tim dokter yang tengah mengoperasi.
Baik di Singapura, di Malaysia maupun
di China, sambung Sofyanto, operasi bedah
syaraf masih menerapkan sistem yang lama.
Dimana, mereka masih mengunakan plat
dengan bekas jahitan yang masih terlihat
serta waktu pemulihan dan waktu operasi
yang lebih lama.
Sementara itu, Ketua Brain & Spine Community, Lilih Dwi Priyanto, M.MT, DR mengatakan banyak pasien yang sudah berkeliling
ke rumah sakit kenamaan di berbagai negara namun belum berhasil. Setelah mereka
melakukan tindakan operasi di Surabaya,
mereka sembuh dan menceritakan kisah
kesembuhan mereka ke sanak saudaranya.
katanya. Tahun 2008, Brain & Spine Community didirikan awalnya untuk memberikan
informasi kepada pasien hemifacial bahwa
penyakit tersebut bisa disembuhkan. Namun,
dalam perjalanannya banyak sekali penyakit
yang berhubungan dengan syaraf. Sehingga
sekarang ini BSC, bukan hanya membantu informasi tentang hemifacial saja tetapi juga ke
Servical (leher), Lumbal (pinggang), Spine (tulang belakang), Trigeminal Neuralgia (wajah
nyeri), tumor dan lain-lain.
“Moto BSC adalah teman di kala sakit, sahabat di kala sembuh. Melalui BSC ini, kami
banyak menemukan mantan pasien yang
hampir putus asa bahkan ada beberapa yang
siap bunuh diri,” ujarnya.
Lilih menambahkan seiring dengan berjalannya waktu, anggota BSC sudah menyebar di seluruh nusantara hingga ke Hong
Kong. Tidak sedikit pula mantan pasien yang
akhirnya bergabung dan menjadi volunteer di
daerah mereka.
Selain memberikan pendampingan, BSC
juga memberikan informasi melalui majalah
internal yang diberikan dan dikirim ke rumah
pasien secara gratis. Dimana, di dalam majalah
tersebut berisi testimoni dari mantan pasien
sebelum mereka sembuh. BSC, dikatakan
Lilih membantu pasien dari semua kalangan.
Melalui BSC, mereka berusaha membantu
para pasien dari kalangan kurang mampu
agar bisa mendapatkan kesembuhan.
“Bahkan ada pasien dari China dan Hongkong
yang melakukan operasi di sini (Surabaya,red)
dan sekarang menjadi volunteer BSC disana
dan banyak membawa pasien untuk melakukan operasi di Indonesia,” pungkasnya.
 dr m. sofyanto,sp.Bs
81
foto: indra
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
besno
SAMBAL BAwANG KREMES MBoK MAH
Nikmati Pedasnya
Dapatkan Sehatnya
82
besno
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
 Laporan : SiSKA PreStiwAti
B
UKAN hanya bumi, air, dan
udara yang menguasai hajat
hidup orang banyak. Sambal pun kini menguasai hajat
hidup banyak lidah. Sambal menjadi
bagian hidup orang Indonesia. Tanpa
sambal, menyantap makanan rasanya
kurang lengkap. Menangkap peluang
tersebut, Ervina Noersasih Pratiwi pun
mulai memproduksi dan menjual sambal bawang yang diberi merk “Sambal
Kremes Mbok Mah”.
Aroma khas cabe yang diolah menjadi sambel menyeruak ke lubang hidung,
saat tim dari PTPN X Magz berkunjung
ke salah satu rumah di perumahan Bluru
Permai Sidoarjo. Ketika itu, Ervina Noersasih Pratiwi dan ibunya tengah sibuk
menempelkan stiker bertuliskan Mbok
Mah bergambar bawang putih, cabe
merah dengan nyala api diatasnya.
“Ya inilah usaha kami, Sambal
Bawang Mboh Mah,” kata Vina, sapaan Ervina sambil membawa satu
botol sambal. Vina mengungkapkan
sambal bawang putih adalah kesukaan
sang kakek yang bernama Moh Dasy
Hadi Widjoyo yang tidak lain adalah
anggota Brimob sekaligus pejuang 45.
Bahkan saking cintanya dengan sambal
bawang, saat berperang, Vina menuturkan kakeknya selalu membawa bawang
putih dan cabe di dalam sakunya.
”Kakek tidak bisa makan kalau tidak
ada sambal bawang,” sambung ibu dua
orang putra dan satu orang putri ini. Kebiasaan sang kakek yang makan harus
ada sambal bawang pun dilakukannya
hingga tutup usia. Memang benar kata
pepatah bahwa buah jatuh tidak akan
jauh dari pohonnya. Kebiasaan sang
kakek pun diteruskan oleh sang ibu, Dwi
Mahtiningsih hingga kini. Merk Mbok
Mah sendiri berasal dari panggilan Dwi
Mahtiningsih di kalangan keluarganya.
“Kebiasaan mama yang tidak bisa
makan tanpa sambal ini akhirnya menjadi cikal bakal adanya sambal bawang
Mbok Mah. Tahun 2011 saat berangkat
haji, mama membuat sambal bawang
satu botol besar,” kenang Vina.
Saat di tanah suci, ungkapnya, banyak teman sesama jamaah haji yang
menyukai sambal bawangnya. Sepulang
dari tanah suci, sang mama masih membuatkan sambal bawang yang diberikan
ke saudara-saudara. Vina menambah-
foto: sisKa Prestiwati
 eRvinA Noersasih Pratiwi (kiri) bersama sang ibu sedang menempelkan stiker pada botol sambel
yang sudah siap untuk didistribusikan ke pelanggan setia.
kan banyaknya pujian dan dorongan
dari kerabat yang menyukai sambal
bawang buatan sang mama membuatnya ingin memproduksi dan menjualnya secara bebas. Januari 2014, dirinya
mulai memproduksi sambal bawang
resep sang kakek dengan merek Sambal
Bawang Mbok Mah.
“Alhamdulillah, sambal bawang resep keluarga saya diterima dan banyak
peminatnya,” imbuhnya.
Untuk lebih memanjakan lidah
penggemar sambal bawang, tutur Vina,
dirinya pun terus berinovasi dengan
memberikan pilihan rasa. Hingga
Agustus 2015, Sambal Bawang Mbok
Mah ada dua jenis yaitu sambal kering
dan sambal basah yang masih-masing
jenis ada enam varian rasa, yaitu Original, Kremes Ebi, Kremes Teri, Kremes
Klotok, Kremes Cumi dan Kremes Pete.
Vina juga mengungkapkan memang
banyak sekali macam sambal di Indonesia. Namun kelebihan Sambal Bawang
Mbok Mah ini dibuat dari bahan-bahan
pilihan yang segar, tidak menggunakan
pengawet dan bebas dari MSG (Mono
Sodium Glutamat).
“Selain kami jual, sambal ini juga
kami makan sendiri. Jadi kami tidak
memakai bahan pengawet ataupun
MSG, karena kami ingin selalu mengkomsumsi makanan yang sehat dan
aman bagi tubuh,” tambahnya.
Meskipun tanpa pengawet, ujar
Vina, dengan teknik pengolahan yang
tepat, Sambal Bawang Mbok Mah ini
bisa tahan hingga empat bulan untuk
jenis kering dan tiga bulan untuk jenis
yang basah.
Saat disinggung tentang pemasaran dan omzet, Vina mengatakan saat
ini, omzetnya perbulan baru 400 botol
dan dia berharap bisa terus meningkat.
Dengan omzet tersebut, dirinya memproduksi sambal setiap dua hari sekali.
“Untuk pemasaran, saya menggunakan sistem online dengan harga Rp
25.000 per botol,” jawabnya,
Dengan memanfaatkan penjualan
sistem daring (online) ini, ungkap Vina,
banyak pembelinya yang berasal dari
Pulau Kalimantan, Pulau Sulawesi dan
beberapa kota di Pulau Jawa bahkan
ada yang membawanya hingga keluar
negeri.
Vina juga mengungkapkan dirinya
selalu mendengarkan suara pelanggan.
Dirinya bersyukur selama ini banyak
pelanggan yang puas dan sangat menyukai sambal buatannya yang dimakan
tidak hanya dengan nasi tetapi juga dicampur dengan mie, bakso dan bahkan
ada yang dicocol dengan tahu goreng
ataupun krupuk.
“Karena saya sekarang pindah ke
Sidoarjo dan Sidoarjo sangat terkenal
dengan Lontong Kupangnya. Saat ini,
saya tengah bereksperimen untuk membuat varian baru yaitu Kremes Kupang.
Semoga berhasil dan banyak peminatnya,” pungkas dia.
83
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
dekblad
[ parade keindahan alam dunia ]
Monumen Cinta di India
Taj Mahal. Monumen tanda cinta ini seperti tidak bisa dipisahkan ketika nama India
disebut. namun India tidak hanya punya Taj Mahal. Di wilayah agra- lokasi Taj Mahal
berada, masih ada beberapa tempat wisata lainnya yang juga menarik dikunjungi.
84
foto: ist
dekblad
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
„„Laporan Perjalanan: Totok Sarwo edi
A
Apa yang diingat secara
spontan ketika mendengar
India disebut? Mungkin
filmnya, aktor dan aktrisnya yang menawan atau lagu-lagunya
yang syahdu. Apalagi sekitar satu tahun terakhir di Indonesia seperti sedang demam India dengan banyaknya
judul sinema India yang berseliweran
di layar kaca.
Ikon lain India tentunya Taj Mahal.
Yang terakhir sudah sering disebut sebagai salah satu World Heritage Unesco. Keindahan dan kemegahan Taj Mahal sudah banyak didengungkan. Tapi
mungkin tidak banyak yang mengetahui kisah dibalik pembangunan monumen yang menjadi salah satu destinasi
wisata utama India ini.
Rombongan Peningkatan Kompetensi Karyawan Operator PG yang
terdiri dari 13 orang peserta dan 4
orang official berkesempatan berkunjung ke Taj Mahal di Agra sebagai
penutup acara. Kepala Divisi Teknik
PTPN X, Totok Sarwo Edi berkenan
menuliskan pengalamannya mengunjungi Taj Mahal.
Dari Ibu Kota India, New Delhi, Agra
bisa dicapai melalui jalan darat yaitu
Kereta Api atau pun mobil. KA Satabdi
Express tujuan Agra berangkat dari
New Delhi pukul 06.00. Rangkaian KA
dengan 21 gerbong konvensional dan
ditarik loko listrik ini berangkat tepat
pada waktunya dan membelah kepadatan permukiman dengan kecepatan menakjubkan, 140 km/jam!. Hanya sekitar 2 jam perjalanan, Satabdi Express
masuk stasiun Agra tepat pukul 08.00.
Sedang bus yang lewat tol biasanya menempuh perjalanan hingga 6 jam.
TAJ MAHAL
Meski bukan pertama kalinya datang ke Taj Mahal, kedatangan kali ini
menjadi istimewa karena berlangsung
pada sore hari sehingga bisa melihat
Taj Mahal dalam siraman sinar matahari sore yang keemasan. Suasana
yang sangat cocok untuk fotografi dan
menikmati bangunan besejarah.
Taj Mahal merupakan salah satu
bangunan karya manusia yang sangat
indah, bangunan tersebut dibangun
sebagai tanda cinta seorang raja Mughal ke lima yaitu Shah Jahan (sebe-
 Sejenak berpose di depan Taj Mahal
lum menjadi raja bernama pangeran
Khuram) kepada istri ke tiganya, Arjumand Banu Begum yang kemudian
berganti nama menjadi Mumtaj Mahal
setelah menjadi istri raja. Begitu dalam cintanya sang raja kepada istrinya
tersebut, membuat bangunan Taj Mahal menjadi salah satu ikon kisah cinta
yang sangat termashur di dunia.
Pada tahun 1628, Shah Jahan naik
menjadi raja dan Mumtaz ul Zamani
diberi julukan Mumtaz Mahal yang
memiliki arti “Jewel of the Palace”
(Permata di Istana). Meskipun sebelumnya sang raja sudah memiliki dua
istri, tetapi Mumtaz Mahal adalah yang
paling dicintainya, ia menemani kemanapun sang raja pergi, baik di dalam
istana maupun di tenda-tenda dalam
perjalanan bersama sang raja.
Saat Mumtaz Mahal melahirkan
anak mereka yang ke-14 tahun 1631,
ia meninggal karena komplikasi. Shah
Jahan pun berjanji bahwa dia tidak
akan pernah menikah lagi dan akan
membangun makam termegah di atas
kuburannya.
Beberapa waktu setelah kematian
Mumtaz Mahal, Shah Jahan memerintahkan Ustad Ahmad membuat bangunan ini di sisi selatan sungai Yamuna.
Ustaz Ahmad mengumpulkan 20.000
orang pekerja yang terdiri dari tukang
batu, tukang emas dan pengukir yang
termasyhur dari seluruh dunia. Dalam
pembangunannya, dikerahkan juga
1.000 ekor gajah untuk mengusung
bahan-bahan pembuat Taj Mahal. Di
foto: dok. pribadi
dalamnya juga disiapkan 210 kamar
untuk keluarga, kerabat, peziarah dan
juga pimpinan pekerja. Kamar-kamar
tersebut masih bisa digunakan sampai sekarang bahkan disewakan untuk
umum, tempat tidur dan karpet Persianya masih lembut dan empuk. Hayo
siapa berani tidur di sana?
Dengan bumbung, kubah dan menara yang terbuat dari marmer putih,
serta seni mozaik yang indah, Taj
Mahal merupakan salah satu dari
bangunan yang fenomenal di dunia.
Sebanyak 43 jenis batu permata, termasuknya yaitu berlian, jed, kristal,
topaz dan nilam telah digunakan untuk memperindah Taj Mahal.
Kesempurnaan dari Taj Mahal
terletak pada struktur bangunannya
yang sangat simetris dengan makam
Mumtaz Mahal berada tepat di tengah
bangunan Taj Mahal. Bahkan dunia
mengakui jika Taj Mahal adalah bangunan paling simetris di dunia. Struktur
bangunannya memiliki empat sisi yang
identik sempurna. Hal ini dapat terjadi
sebab sang arsitek menerapkan prinsip
replikasi dan simetri dalam geometri
dan arsitekturnya. Jika diperhatikan
maka separuh bangunan akan menjadi
cermin dari separuh yang lain. Empat
menara juga dibangun menjorok keluar agar jika ambruk tidak mengenai
struktur utama bangunan.
Satu-satunya yang tidak simetris
adalah makam Shah Jahan yang terletak disebelah makam Mumtaz Mahal karena makam ini tidak ada dalam
85
dekblad
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
foto: ist
rencana awal pembangunan. Awalnya Shah Jahan berniat memdirikan
Taj Mahal versi hitam di seberang
sungai Yamuna untuk menunjukkan
kesedihannya pada dunia sepeninggal Mumtaz Mahal dan juga sebagai
tempat peristirahatan terakhir untuk
dirinya. Tetapi rencana ini digagalkan
oleh putra ketiga dengan Mumtaz Mahal, yaitu Urangzeb. Pembuatan Taj
Mahal sendiri memakan waktu selama
22 tahun dan Urangzeb menjadi raja
keenam sekaligus menjadi raja yang
terakhir dinasti Mughal.
KOTA AGRA DAN DINASTI MUGHAL
Tidak hanya Taj Mahal yang ada di
Kota Agra. Masih ada beberapa destinasi lain di luar Taj Mahal yang menarik dikunjungi. Diantaranya yaitu
Radha Soami sebagai sumber air di
Agra dengan bangunan yang terbuat
dari marmer putih yang megah dengan
ornamen dan ukiran yang sangat halus, mirip istana. Yang ke dua adalah
Sikandara, makam dari penguasa Mughal ke tiga, yaitu Jalaluddin Muhammad Akbar (1590-1653 SM).
Dari Sikandara inilah akhirnya
saya mengetahui silsilah kekaisaran
Mughal melalui prasasti di pintu ger-
bang masuk makam Raja Akbar. Raja
pertama dinasti Mughal adalah Babur,
kemudian dilanjutkan anaknya yaitu
Humayun, setelah Humayun wafat
dilanjutkan oleh anaknya, Akbar yang
saat ini populer lewat sinetron Jodha
Akbar. Raja selanjutnya adalah Jahangir (di Indonesia terkenal dengan
nama Pangeran Salim). Raja selanjutnya adalah Shah Jahan, putra dari Jahangir. Di bawah pemerintahan Shah
Jahan yang juga cucu Akbar inilah Taj
Mahal dibangun.
SIAP ANTRE DAN JANGAN BAWA
TRIPOD
Pengamanan masuk ke Taj Mahal
sangatlah ketat. Ini membuat antrean
masuk menjadi panjang, terutama
pada hari Sabtu, Minggu, atau hari
libur lainnya. Pengunjung harus antre
dua kali. Pertama saat membeli tiket,
kedua saat hendak masuk gerbang.
Antrean tiket bagi turis asing biasanya tidak panjang. Tetapi antrean kedua di gerbang masuk Taj Mahal bisa
satu jam, tergantung berapa banyak
wisatawan yang hendak masuk.
Petugas memisahkan antrean bagi
laki-laki dan perempuan, jadi jangan
sampai Anda mengantre di tempat
yang salah. Antrean perempuan biasanya jauh lebih lama dari laki-laki,
karena para penjaga harus memeriksa
tas tangan satu demi satu.
Memasuki Taj Mahal, wisatawan
dilarang membawa tas. Pengunjung
bisa memanfaatkan loker yang sudah
disiapkan. Tempat penyimpanan ini
terletak sebelum loket pembelian tiket.
Bawalah barang yang diperlukan saja,
seperti kamera, air mineral, telepon
seluler, dompet dan paspor. Buku panduan juga harus ditinggalkan. Jangan
coba-coba membawa tas ransel karena
petugas akan dengan tegas menyuruh
anda kembali ke tempat loker yang cukup jauh dari gerbang kemudian mengantre kembali.
Pengunjung juga dilarang membawa makanan dalam bentuk apa pun ke
dalam kompleks Taj Mahal. Di gerbang
pemeriksaan, petugas akan memeriksa
tubuh Anda dan tas tangan yang Anda
bawa. Makanan yang ditemukan akan
langsung dilempar ke dalam tempat
sampah.
Entah apa alasannya, tripod tidak
boleh digunakan sama sekali di Taj
Mahal. Anda boleh membawa tripod
asalkan memiliki surat izin yang didapatkan di Delhi. 
86
foto: ist
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
nira
[ kuliner nusantara ]
Opor, Alternatif Lezat
Menyantap Iga Sapi
Opor biasanya identik dengan ayam dan di beberapa
daerah seakan menjadi hidangan wajib saat Idul Fitri.
Ternyata dengan kreativitas, opor juga bisa dipadukan
dengan iga. Soal kelezatan, penggemar iga pasti sudah
tidak perlu meragukannya.
 Laporan: SAP JAyAnti
M
eMasak olahan iga
untuk dijadikan opor
ternyata tidak sesederhana ketika menggunakan ayam. Jika opor ayam bisa langsung menggunakan ayam mentah
yang direbus dalam bumbu opor, tidak
demikian halnya dengan iga.
”Pertama-tama iga direbus, kemudian di-blanching dengan
rempah-rempah lokal yang
tujuannya untuk menghilangkan aroma tidak sedap
dari daging sekaligus membuang lemak jahat,” tutur
Sous Chef Garden Palace
Hotel Surabaya, Zainudin.
Secara sederhana, blanching
adalah teknik merebus de-ngan cara yang agak berbeda
dari biasanya. Bahan makanan
yang hendak direbus dicelupkan dalam air mendidih yang
diberi sedikit garam, dalam
waktu singkat. Setelah itu, ba-
han makanan tadi disiram dengan air
dingin untuk menghentikan proses pemanasan bahan makanan yang terlalu
lama. Tujuan blanching adalah membuang kotoran pada bahan makanan,
membersihkan atau membuang kulit
bagian luar, memasak bahan makanan setengah matang atau melindungi
lapisan luar bahan makanan sebelum
diolah. Bahan maka-
nan yang biasa direbus dengan teknik
blanching adalah sayuran, tomat, daging atau tulang.
Setelah di-blanching, iga kemudian
dimasukkan lagi ke bumbu opor. Yang
membedakan dengan opor ayam pada
umumnya, bumbu untuk opor iga ini
ditambahkan pala dan asem jawa agar
rasa daging sapi tetap terjaga namun
tetap segar dan tidak eneg. Opor ayam
ini disandingkan dengan nasi gurih dan
sambal goreng manisah atau rebung
agar tetap ada kandungan sayurnya.
Iga yang digunakan di Green House
Kitchen Bistro Garden Palace Hotel
adalah yang berukuran besar, sekitar 250 gram sehingga bisa dinikmati
beramai-ramai. Setidaknya, satu porsi
bisa dinikmati berdua.
Chef Zainudin menambahkan, agar
rasa opor lebih nikmat, pemilihan iga
juga menjadi perhatian. ”Tentunya
harus dipilih iga yang fresh. Cara melihatnya gampang yaitu dari warna
dan tekstur iga tersebut. Iga atau
daging yang segar, jika dipencet bisa
langsung kembali ke bentuk semula
dan teksturnya pas, tidak keras tapi
Zai
juga tidak lembek,” kata Chef Zainudin. Jika memiliki kesempatan
membeli langsung ke RPH (Rumah
Pemotongan Hewan), sebaiknya
dipilih iga dari sapi yang berusia
maksimal 2 tahun, semakin muda
akan semakin bagus. 
ce hotel
: do
foto- foto
K. Garden
Pala
87
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
bagasse
[ bugar dan sehat ]
Peminat Tenis Berfluktuasi,
PG Pesantren Baru Beregenerasi
Olahraga tidak hanya bermanfaat menjaga kesehatan.
Lebih dari itu juga bisa berfungsi meningkatkan performa
karyawan sehingga bisa mendukung kinerja perusahaan.
 Laporan: SeKAr ArUM
S
eperti halnya yang dilakukan
di lingkungan PG Pesantren Baru. Pabrik gula yang
berada di kawasan Kediri
ini, telah lama mengembangkan tenis
sebagai salah satu olahraga favorit.
Ada banyak kelebihan dari olahraga
tenis. Bisa dikatakan bahwa permainan tenis menuntut otak untuk
berpikir dalam suatu dimensi ruang
dan juga waktu. Kenapa begitu?
Karena permainan tenis dibatasi oleh
suatu garis-garis dan bidang dimana
kita bisa dan tidak bisa menempatkan
bola, sedangkan waktu tempuh bola
dari satu sisi lapangan menuju sisi
lapangan lain turut andil dalam suatu
kerangka pola permainan.
Diakui oleh Koordinator Olahraga
PG Pesantren Baru, Bayu Firmansyah,
perkembangan olahraga tenis yang
88
 Team Tennis PG Pesantren Baru
ada di lingkungannya telah dilakukan
sejak zaman dahulu. Itu dibuktikan
dari beberapa dokumentasi yang terkumpul mengenai olahraga tenis.
“Dari foto yang yang ada memang
diketahui bahwa sejak zaman Belanda
dahulu, tenis merupakan salah satu
olahraga yang paling digemari di
lingkungan pabrik. Sarana dan prasarananyapun terlihat sudah begitu memadai. Mungkin dari situlah sejarah
awal mula olahraga tenis berkembang
sangat baik di lingkungan Pabrik
gula,” jelasnya.
Untuk perkembangan tenis di PG
Pesantren Baru sendiri, sarana dan
prasarana seperti lapangan sangat
memadai dan memenuhi standar
pertandingan hingga terkadang dipakai juga oleh pihak luar yang ingin
berlatih. Jumlah peminat tenis terus
mengalami peningkatan meskipun
beberapa kali sempat terjadi fluktuasi.
Berbagai prestasi juga pernah
diraih oleh tim tenis PG Pesantren
Baru. Yang terbaru yakni menjadi pemenang piala Walikota Kediri tahun
2015. Dan tak tanggung-tanggung
untuk mengikuti kejuaran tersebut,
berbagai persiapan dilakukan mulai dari seleksi tim, pelatih, hingga
strategi apa yang akan dilakukan. “Ini
tentu hal yang sangat membanggakan.
Kami bisa berprestasi dan mempersembahkan trofi kemenangan untuk PG Pesantren Baru. Puluhan trofi
sudah kami koleksi sejak beberapa
tahun silam. Semoga dapat konsisten
sehingga mampu terus memberikan
kebanggaan,” tandasnya.
Saat ini, pihaknya tengah gencar
melakukan regenerasi tenis kepada
putra-putri karyawan. Animonyapun
cukup baik, beberapa anak menunjukkan bakatnya di dunia tenis dengan
merebut beberapa gelar juara bergengsi di wilayah Kediri. “Kami memang tengah melakukan regenerasi
tentunya kepada lingkungan terdekat
pabrik yakni keluarga karyawan.
Ini dilakukan untuk mengantisipasi
merosotnya jumlah peminat tenis di
bagasse
PG Pesantren Baru, karena memang
kebanyakan dari peminat olahraga
tenis disini adalah para pensiunan
dan ibu-ibu IIKB. Sedangkan untuk
karyawan sendiri jumlahnya memang
tidak terlalu banyak karena kesibukan
masing-masing,” tuturnya.
Bayu sendiri telah menekuni olahraga tenis sejak tahun 2008. Ajakan
seorang teman membuatnya tertarik
menekuni olahraga tersebut. Dari
situlah ia mulai mengenal olahraga
tenis secara lebih serius dan di luar
ekspektasinya, olahraga ini ternyata
cukup menarik dan menantang.
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
Ke depan iapun
berharap
bahwa akan
makin banyak
para karyawan
yang melirik tenis
sebagai olahraga yang
digemari, karena sangat
disayangkan jika sarana dan
prasarana yang sudah diberikan oleh
perusahaan dengan baik ini tidak dimanfaatkan sedemikian rupa sehingga menghasilkan sesuatu yang positif.
“ Ajakan berupa persuasif ataupun
langsung
telah kami lakukan, semoga dalam
waktu dekat sudah terlihat hasilnya.
Kamipun siap memfasilitasi apapun
itu baik dari pelatih dan lain sebagainya,” pungkasnya.
seJaRah singkat tenis
permainan orang Arab, dikembangkan
Bangsawan inggris, terkenal dari Amerika
tenis merupakan olahraga yang dilakukan oleh dua orang atau dua pasang,
menggunakan raket sebagai pemukul bola yang terbuat dari karet. Menurut
sejarah, tenis sudah dimainkan sejak zaman Yunani, Mesir dan Romawi Kuno
meskipun belum ada bukti otentik tentang hal tersebut tetapi ada beberapa
bahasa arab berasal dari masa Mesir Kuno dinyatakan sebagai bukti. Teori tesebut menyatakan bahwa kata Tenis berasal dari nama Kota di daerah Mesir
yaitu Tinnis dan Raket dikembangkan dari Bahasa Arab yaitu Rahat yang artinya tangan.
Akan tetapi, sebagian besar sejarawan
meyakini bahwa asal mula permainan
Tenis adalah dari Perancis pada abad ke-12.
Awalnya, memukul bola dalam permainan
tersebut dengan menggunakan telapak
tangan. Louis X adalah salah satu penyuka
permainan Jeu de Paume (Permainan Telapak Tangan), yang nantinya akan berkembang menjadi Tennis. Louis X tercatat
sebagai orang pertama yang membuat lapangan tenis dalam ruangan dengan gaya
modern. Dan pada juni 1316 di Vicennes
dia meninggal dunia setelah bermain dan
meminum anggur dingin. Nama Louis X
tercatat sebagai pemain tenis pertama dalam sejarah.
Raket mulai digunakan pada abad
ke-16 dan permainannya mulai disebut
"tenis", yang berasal dari istilah dalam
bahasa Perancis lama tenez, yang dapat
diartikan "tahan!", "terima!", atau "ambil!",
suatu interjeksi dari pemain yang melakukan service ditujukan pada lawannya. Permainan tersebut populer di Inggris dan Perancis, meskipun hanya dimainkan di
dalam ruangan dan bolanya sewaktu-waktu dapat keluar melewati tembok.
Pada abad 19 barulah tenis dimunculkan kembali oleh para bangsawan
Inggris dengan membangun fasilitas-fasilitas country club atau lapangan tenis
di rumah mereka yang luas dan besar. Karena pada waktu itu tenis populer
dimainkan di halaman rumput, maka terkenal dengan sebutan ‘Lawn Tennis’
atau tenis lapangan rumput yang diperkenalkan oleh seorang Inggris bernama
Arthur Balfour. Pada masa ini juga mulai muncul bola dari karet vulkanisir yang
pada waktu itu dianggap dapat mengurangi rusaknya rumput di lapangan
tanpa mengurangi elastisitas dari bola itu sendiri.
Sejak ditemukannya lawn tennis, orang mulai bereksperimen dengan memainkannya di permukaan lain seperti clay court (tanah liat) dan hard court (semen). Menggeliatnya permainan tenis ternyata mampu menggeser permainan
criquet sebagai olahraga musim panas. Puncaknya terjadi pada tahun 1869
ketika salah satu klub criquet ternama di Inggris, All England Criquet Club, tidak berhasil menarik banyak peminat dan
mencoba untuk memasukan tenis sebagai
olahraga lainnya. Hasilnya, klub ini sangat
sukses menarik peminat terutama pada
permainan tenis hingga pada tahun 1877
mereka mengganti namanya menjadi ‘All
Engand Criquet and Lawn Tennis Club’.
Sejarah ini berlanjut ketika lokasi klub
yang bertempat di Wimbledon tersebut
mengalami masalah dengan kenaikan
sewa tanah yang memaksa klub ini untuk
mendapatkan dana lebih dari biasanya.
Oleh karena itu mereka menyelenggarakan turnamen tenis pertama di Wimbledon
dengan membentuk sebuah panitia untuk
mengadakan pertandingan dan membuat
peraturan yang baku dalam permainan ini.
Turnamen tersebut diikuti oleh 20 peserta dengan jumlah penonton sekitar 200
orang dan turnamen kecil ini menjadi cikal
bakal turnamen Wimbledon yang merupakan salah satu turnamen grand slam tenis
bergengsi di dunia.
Di Perancis, klub tenis pertama yang
didirikan adalah Leamington di Paris oleh J.B. Perera, Harry Gem, Dr. Frederick
Haynes, dan Dr. Arthur Tompkins pada tahun 1872. Pada masa itu, tenis disebut
sebagai pelota atau lawn rackets.
Di tahun 1874, permainan tenis pertama kali dimainkan di Amerika Serikat
oleh Dr. James Dwight dan F.R. Sears. Amerika Serikat mendirikan klub tennis
yang pertama di Staten Island, New York. Bermula dari situlah, permainan tenis
di Amerika Serikat berkembang dengan pesat sekali. Dari sana lahir banyak pemain tenis tangguh yang menguasai percaturan tenis dunia.
89
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
trash
KERAPAN SAPI
Membawa
Madura ke Italia
Perusahaan mobil mewah yang berbasis di Italia yakni Automobili - Lamborghini S.p.A.atau populer
disebut Lamborghini, memastikan meluncurkan Lamborghini Madura pada 2016, setelah varian
mobil konsep itu disempurnakan sebagai mobil hybrid pertama di lingkungannya.
P
abrikan mobil sport yang
didirikan oleh Ferruccio Lamborghini di Sant'Agata Bolognese, Italia pada 1963, sejauh
ini telah memiliki beberapa varian supercar dengan aneka seri, diantaranya
Huracán dan Aventador.
Sedangkan mobil konsep yang tengah dirancang oleh Lamborghini,
adalah Reventon Roadster, Embolado,
Furia,Ratun, Cachazo, Timador, Insecta,
Lamborghini X, dan Lamborghini Madura.
Desain Lamborghini Madura, yang
digarap oleh Slavche Tanevsky, secara
terang-terangan diakui terinspirasi dari
sebuah festival budaya di Madura, Indonesia, yakni bullracing alias Kerapan
Sapi. Lamborghini Madura adalah proposal untuk proyek mobil hybrid pertama
yang peluncurannya dijadwalkan 2016.
Selain mewah, produk supercar Lamborghini selama ini dikenal tangguh,
yang kekuatannya digambarkan menyamai kekuatan banteng. Logo Lambo-
rghini pun dilambangkan dengan gambar banteng ketaton, atau sapi laki pada
posisi siap bertarung.
Pulau Madura, memang sulit dipisahkan dari festival budaya kerapan sapi.
Sehingga tidak berlebihan ketika Slavche
Tanevsky, konseptor Lamborghini Madura, mengambil nama Madura pada
desain mobil concept hybrid tersebut.
Ini bukti bahwa kerapan sapi bukan hanya populer di dalam negeri, tapi sudah
tersohor ke seluruh dunia – sehingga
Lamborghini pun berani memakai nama
Madura pada salah satu variannya.
Ketangguhan dan kecepatan adubalap Kerapan Sapi itulah yang menginspirasi Tanevsky. Pada lomba ini, sepasang sapi diikatkan pada kayu sebagai
kereta - yang sekaligus sebagai tempat
berdirinya joki. Kecepatan tempuh balap
hanya hitungan detik atau menit, karena
panjang trek pacuan cuman berjarak 100
– 120 meter. Joki umumnya masih belasan tahun dan bobot tubuhnya ringan.
Kerapan sapi biasanya digelar di sta-
dion, baik di kota kabupaten maupun di
kota kecamatan. Digelar hampir setiap
tahun. Biasanya dimulai sejak Agustus
hingga September. Puncak tertinggi
lomba memperebutkan Piala Presiden.
Ada juga Piala Gubernur dan Piala Kapolda Jatim.
Wisata budaya kerapan sapi sudah
puluhan tahun menjadi salah satu destinasi yang dikunjungi ribuan pengunjung. Bukan hanya masyarakat Madura,
tapi wisatawan dari berbagai negara
pun hadir menyaksikan keunikan lomba
balap sapi tradisional tersebut. Sehingga wajar jika popularitas kerapan sapi
mendunia.
Sebagai bagian dari seni budaya
lokal, pada kerapan sapi - juga ada aspek hiburan, sportivitas dan olahraga.
Selain itu juga ada aspek kebanggaan sosial (gengsi). Aspek ekonomi juga kental,
karena pelaksanaan kerapan sapi yang
selalu dipadati pengunjung itu, rangkaiannya bisa meningkatkan PDRB seMadura.
90
foto:ist
trash
Bahkan sudah ada beberapa iklan
produk di televisi yang materinya mengambil setting lomba kerapan sapi.Ini
bukti bahwa destinasi wisata budaya
tersebut, meski berada di Madura, tapi
gaungnya sudah terkenal ke mana-mana.
Terkait dengan itu, banyak pihak yang
menginginkan wisata budaya kerapan
sapi lebih ditingkatkan pesonanya. Misalnya, kalender tahunan kegiatan lomba
perlu dipersiapkan secara konprehensif,
dan informasinya disiarkan secara luas
melalui cyber news. Agar wisatawan,
dari manapun asalnya, bisa menyesuaikan waktu liburnya, dan punya panduan
pasti mengenai jadwal lomba, tempat,
sekaligus nama-nama tim kerapan idola
yang akan bertanding.
Jika perlu, jadwal lomba juga disiarkan melalui iklan televisi nasional dan
internasional, sehingga gaung pelansanaan lomba kerapan sapi kian kuat
ke penjuru dunia. Lebih dari itu, perlu
dibuat semacam website yang secara
khusus menampilkan pernak-pernik
kerapan sapi, yang dilengkapi video sejumlah lomba kerapan sapi.
“Kerapan sapi adalah budaya lokal
yang sudah mendunia dan sangat diminati wisatawan. Maka itu perlu terus
ditingkatkan performa penyelenggaraannya, agar lebih banyak lagi menggaet wisatawan,” kata Akhmad Munir,
salah satu tokoh masyarakat Sumenep,
Madura, yang kini menjabat Ketua PWI
Jawa Timur.
Hadirnya wisatawan asing saat pelaksanaan kerapan sapi, kata Munir, juga
bisa didorong untuk mengunjungi sejumlah destinasi wisata budaya lainnya
yang ada di Madura.
Bahkan Munir mengusulkan agar
jumlah kompetisi kerapan sapi ditambah, khususnya yang berlevel nasional
– dengan menggandeng khusus perusahaan-perusahaan besar nasional sebagai penyandang dana utama. Selama ini
pelaksanaan kerapan sapi masih banyak
disokong pemda.
“Bikin saja, misalnya, Piala Lamborghini, dengan meminta perusahaan
asal Itali itu sebagai sponsor utama. Jika
pabrikan supercar itu mau menggunakan nama Madura pada salah satu variannya, kenapa tidak kita gunakan nama
Lamborghini sebagai nama salah satu
kejuaraan kerapan sapi,” kata Munir.
Sejauh ini, kompetisi kerapan sapi
berjalan secara berstruktur – seperti
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
pada kompetisi sepakbola. Mulai dari
ajang tingkat kecamatan yang biasa
disebut “kerap kenik”, hingga tingkat
kabupaten yang lazim disebut “kerap
rajeh”. Selanjutnya ada kelas “kerap karesidenan” yang pesertanya terdiri dari
para tim unggulan dari empat kabupaten se-Madura.
Di luar kejuaraan itu, ada juga kelas
hiburan dengan jadwal tidak menentu,
yakni “kerap onjengan” (peserta atas
dasar undangan) dan “kerap jer – ajeran” (ajang latihan).
Aspek seni juga menonjol pada ajang
kerapan sapi. Ada musik tradisional
pacu tidak lebih dari 120 meter.
Secara historis, asal – usul budaya
kerapan sapi banyak versi. Salah satunya
menyebutkan budaya ini berasal dari
Pulau Sapudi (kini wilayah kabupaten
Sumenep) – yang menempatkan Adi Poday, putera Panembahan Wlingi sekitar
abad 14, sebagai tokoh sentralnya.
Awalnya, pesta kecil kirab sapi dilakukan setiap selesainya musim tanam, atau
pasca penggarapan lahan yang menggunakan bajak tenaga sapi. Pada masa ini,
lomba bersifat sederhana dan kereta yang
digunakan adalah kereta bajak yang bisa
dipakai sehari-hari. Pada abad 15, mulai
foto:ist
(disebut tabbuen) yang mengiringi kontestan (sapi) saat dikirab (diarak) keliling arena balap menjelang dimulainya
lomba. Pada sesi ini tak kalah menarik,
karena unsur seni khas Madura justru
nampak kental. Misalnya pada tubuh
sepasang sapi dibalut hiasan aneka warna-warni. Termasuk gantungan genta di
leher sapi yang biasa disebut “klonong”
dengan bunyian khasnya.
Joki kerapan sapi, yang biasa disebut “tokang tongkok”, umumnya masih
remaja belasan tahun, ikut diarak pada
parade kirap menjelang lomba. Begitu
juga tim official yang terdiri dari tenaga
penahan kekang (tokang tambeng)-,
para penggertak sapi agar sapi terkejut
dan lari kencang (tokang getthak)-, dan
penuntun sapi (tokang tonjeh). Mirip
pawai karnaval.
Aneka hiasan pada sapi lantas dibuka
kembali saat lomba akan dimulai, agar
gerak sapi bebas kembali. Lomba pun
dimulai, didahului penentuan klasemen
peserta. Pola lomba, biasanya dilakukan
dengan sistem penyisihan. Waktu lomba
hanya membutuhkan hitungan detik
atau menit, karena panjang landasan
dikembangkan sebagai ajang adu balap
setelah sapi dikirab, dan keretanya hanya
papan kayu tanpa bajak – seperti dalam
bentuk kerapan sapi saat ini.
Adu cepat kerapan sapi bukan sekadar lomba, tapi juga ada gengsi di sana.
Melekat simbol sosial. Pemilik sapi
umumnya dari strata ekonomi papan
atas. Karena selain mahalnya harga sapi
balap, perawatan yang disiapkan untuk kerapan sapi membutuhkan waktu
berbulan-bulan, bahkan tahun, yang biayanya tidak sedikit.
Kini gambaran sosial masyarakat Madura tentang kerapan sapi sudah mulai
bergeser. Pemilik sapi balap sudah sangat umum. Meski gengsi tetap ada, tapi
tidak sekental beberapa tahun yang lalu,
yang mereprsentasikan strata sosialekonomi pemilik sapi.
Masyarakat Madura kini sudah
banyak yang sukses secara ekonomi,
begitu juga yang ada di rantau. Memiliki mobil mewah, bukan hal yang luar
biasa. Bahkan, sangat mungkin, saat
Lamborghini Madura diluncurkan pada
2016, sudah ada warga Madura yang
membelinya.Lutfil Hakim
91
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
prof-it
[ teknologi ]
Home
Smart
Home !
Perkembangan teknologi
informasi saat ini telah
dirasakan dan dimanfaatkan di
setiap lini kehidupan manusia.
Kecanggihan teknologi dapat
memermudah pekerjaan,
baik itu di dunia perkantoran,
dunia pendidikan, dunia
usaha, bahkan di kalangan ibu
rumah tangga.
foto:ist
 Laporan: M SyaIfuL rIzaL
ngkaPan Home Sweet
Home bergeser ke Home
Smart home di kalangan peneliti dan penggila teknologi. Semuanya tidak terlepas
dari hasrat manusia untuk menemukan seluruh rahasia ilmu pengetahuan
untuk kehidupan yang lebih baik. Tujuan dan harapan yang sama dengan
semua konsep teknologi yang pernah
diciptakan oleh manusia sebelumnya.
Pengembangan sistem otomasi
rumah atau yang sering kita dengar
dengan istilah “Smart Home Automa­
tion” menjadi contoh perpaduan antara
pemanfaatan sistem otomasi dan kecepatan akses internet. Konsep smart
home ini sudah menjadi hal yang umum
di berbagai negara. Dengan berbagai
fasilitas yang ada, sistem otomasi rumah nantinya diharapkan bisa memudahkan pemiliknya dan memberikan
kenyamanan bagi setiap orang yang
tinggal di dalamnya. Rasa nyaman inilah yang menjadi dasar disasarnya konsumen oleh produk-produk teknologi
U
92
berbasis sistem otomasi.
Allied Market Research memerkirakan bahwa pasar untuk bangunan
rumah atau gedung dengan konsep
“smart” telah mengalami lonjakan nilai
mencapai 7 miliar dollar AS. Angka
tersebut diperkirakan akan terus
tumbuh menjadi 35,5 miliar
dollar AS pada tahun 2020
dan dapat merepresentasikan CAGR (Compound
Annual Growth Rate)
hingga mencapai 29,5
persen. Pada periode
yang sama, wilayah AsiaPasifik diperkirakan akan
mengalami
pertumbuhan
tertinggi, yakni 37,7 persen.
Smart home merupakan suatu ide
di mana pemilik rumah dapat mengatur dan memantau semua bagian di rumahnya dengan menggunakan sistem
yang terintegrasi ke smartphone atau
gadget lainnya. Tentunya, dengan
bantuan CCTV atau sensor khusus
untuk memantau kondisi rumah atau
peralatan yang dikontrol oleh sistem
tersebut. Kemudahan yang diberikan
akan mendukung pengawasan dan
kontrol terhadap aktivitas di rumah.
Konsep smart home tidak hanya menawarkan fitur pemantau keamanan
rumah, tetapi juga mulai dari pengelolaan rumah, baik dari sisi penghematan energi dan kontrol atas benda-benda eletronik yang ada
di rumah kita. Apalagi, kini
tak bisa dipungkiri bahwa
keamanan menjadi hal
yang paling penting bagi
mayoritas
masyarakat
Indonesia.
Seperti diungkap oleh
State of Smart home, 90
persen responden tertarik
dengan gagasan smart home karena fitur keamanan yang bersifat personal di rumah. Smart home juga memanjakan penggunanya ketika semua
menjadi lebih praktis dan mudah.
Bayangkan
jika
kita
pulang
dari tempat kerja dan ingin merasakan kesejukan hawa serta suasana
yang menenangkan melalui alunan
musik. Kita dapat menghidupkan AC
dan menghidupkan Music Player,
prof-IT
meredupkan lampu, dan mengunci
pagar rumah tanpa harus beranjak
dari sofa atau tempat tidur dan hanya
dengan menekan tombol pada gadget
kita. Atau pada saat kita tidak ingin kehilangan kontrol terhadap anak-anak
ketika harus bepergian jauh dan meninggalkan mereka sendiri di rumah.
Kita akan dimudahkan dalam memantau kondisi rumah melalui CCTV dan
pengaturan penggunaan alat elektronik yang sudah dihubungkan dengan
sistem otomasi dan listrik.
Kita juga tetap bisa menjaga tanaman di rumah tetap terawat dengan
pengaturan penyiraman otomatis yang
diintegrasikan dalam gadget, bahkan
bisa diatur untuk memberi makan hewan peliharaan secara otomatis.
Kemudian, dengan smart home
ini kita bisa mewujudkan keberadaan
“Jarvis” – pribadi seperti dalam film
Iron Man. Kita bisa makan atau ngopi
santai sambil update peristiwa hari
ini, berinteraksi dengan kolega, atau
browsing internet di meja makan yang
sekaligus menjadi LCD dan terkoneksi
akses internet.
Besarnya minat dari masyarakat
membuat sejumlah perusahaan mulai
mengembangkan produk mereka untuk memenuhi permintaan pasar akan
Smart home. Contohnya Google, yang
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
pada tahun ini merogoh kocek sebesar 3,2 miliar dollar AS untukmembeli
Nest Labs. Begitu juga dengan Apple
yang dikabarkan tengah mengembangkan platform pengelola berbagai
peralatan di rumah, seperti: lampu,
kunci, dan lain sebagainya. Yang terbaru dan sudah siap dipasarkan adalah sistem smart phone dari pabrikan
raksasa Android Samsung yang sudah
menjual paket device tambahan untuk
smart home dengan sangat terjangkau yaitu 200 Euro di luar gadget dan
menggratiskan aplikasi MyHome.
Di Indonesia, Di Indonesia sendiri,
konsep smart home masih terhitung
baru karena masih banyak miskonsepsi yang beredar tentang definisi
konsep ini. Untuk pelayanan Smart
home sendiri memakan biaya antara
Rp 20 – 30 juta dengan mempertimbangkan keamanan dan kenyamanan.
Saat ini, smart home sudah digunakan
oleh gedung level komersil. Namun
dengan semakin majunya riset di bidang smart home, maka teknologi ini
akan segera dirasakan oleh para end
user atau rumah pribadi.
Cara Kerja Smart Home
Semua alat elektronik di dalam rumah terhubung dengan sensor khusus
dan terhubung ke sebuah smart box
menggunakan jaringan wireless. Smart
box tersebut menjadi otak dari smart
home dan bisa mengontrol seluruh sensor yang terhubung. Smart box akan
mengirim sinyal pada pengguna gad­
get dimana gadget tesebut telah diintegrasikan dengan sistem otomasi ini.
Pengguna dapat mengontrol beberapa alat elektronik sekaligus dalam
satu genggaman. Pada prakteknya penelitian dan inovasi dari konsep sederhana ini memakan waktu yang tidak
sedikit untuk menghasilkan respon
smart home yang sempurna.
Namun, terlepas dari segala inovasi
tersebut, rumah tetaplah rumah, dia
akan tetap menjadi tempat yang paling menyenangkan dan menenangkan
bagi penghuninya.
Teknologi mungkin dapat mengatur
suhu ruangan melalui sensor AC, ventilasi atau penghangat ruangan, namun itu
tidak akan menggantikan kehangatan keluarga di dalamnya. Sistem smart home
mungkin bisa menghidupkan TV, music,
atau akses internet tapi itu tidak bisa
menggantikan kenyamanan dan keteduhan rumah dari segala permasalahan di
luar. Rumah tetap akan menjadi tempat
tujuan paling nyaman dengan atau tanpa
teknologi. Rumah adalah tempat yang
paling ideal bagi siapa pun dan teknologi
membuatnya semakin sempurna.
93
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
kristalisasi
K
94
IAT, dalam kamus
besar bahasa Indonesia, memiliki arti “seni
atau cara melakukan”.
Lebih ke arah taktik dan
strategi. Sebuah upaya menciptakan
kondisi menjadi lebih baik. Dalam
dunia bisnis, Kiat bisa bermakna
kreativitas, terobosan, atau tahapan
manajerial cerdik ke arah penguatan
fondamen perusahaan ke depan.
Kiat mengandung unsur
kepemimpinan dan keberanian
mengambil keputusan secara cepat
& tepat. Tapi berbasis perhitungan
yang cermat. Bukan spekulatif. Ada
visi – misi di situ. Banyak korporasi
multinasional menjadi besar karena
memahami momentum, dan mengambil tindakan besar pada momentum tertentu.
McDonalds Corporation, misalnya,
tidak akan sebesar sekarang andai
Ray Kroc, tidak putar haluan diversifikasi usaha restauran cepat saji
burger & sandwich, dari sebelumnya
bisnis milkshake. Asalnya, Ray Kroc
mengusulkan kepada pendiri McDonalds, yakni Richard dan Maurice
McDonald, agar menerapkan sistem
waralaba (frenchise).
Kroc akhirnya berhasil membeli
saham McDonald’s Corporation,
setelah sebelumnya menjadi franchisee (pemegang franchise) pertama
McDonald’s selama tujuh tahun di
Des Plaines, Illinois, USA. Kroc
kemudian membuka sejumlah outlet
McDonald’s di banyak kota di USA,
dan memperluas jaringan ke banyak
negara. Jadi, Richard dan Maurice
McDonald (pendiri) yang memiliki
visi atau Kiat menjadikan McDonalds
sebagai restauran cepat saji, tapi Ray
Kroc lah yang punya misi atau Kiat
waralaba menjadikan outlet McDonalds ada di mana-mana (kini di 119
negara dengan 33.510 outlet).
Kiat adalah memanfaatkan momentum secara cepat dan tepat. Perusahaan yang sudah besar seperti PT
Oleh: lutfil hakim
KIAT
Indofood Sukses Makmur, pun kerap
melakukan tindakan besar dengan
konsekwensi nilai investasi yang besar
pula. Tujuannya adalah penguatan
fondasi korporasi ke depan.
Indofood pada 2014 berhasil mencatat laba bersih Rp3,88 triliun atau
naik 55,2%. Itu terjadi setelah sebelumnya melakukan keputusan besar,
yakni mengakuisisi sejumlah perusahaan. Ada juga joint venture membangun pabrik baru. Indofood berkongsi
dengan Tsukishima Food Industry Co
Ltd membentuk perusahaan margarin. Juga menuntaskan transaksi atas
semua saham PT Pepsi-Cola Indobeverages.
Pada tahun yang sama, Indofood
juga mendirikan industri makanan
berbahan baku ikan. Kemudian mengakuisisi usaha Grup Tirta Bahagia
yang bergerak di sektor AMDK, dan
berpatungan dengan JS Comsa Corporation membangun industri makanan
berbasis tepung adonan. Kiat itu
diambil, karena Indofood membaca
peluang , ada kesempatan, dan punya
harapan besar di masa mendatang.
Kiat adalah cara mengubah kondisi usaha yang mapan statis menjadi dinamis optimistik. Grup Wings
Surya, misalnya, sudah cukup mapan
walau produknya hanya “sabun colek”
merek Wings. Grup ini sudah menguasai pasar deterjen, saat itu. Namun
generasi penerus kelompok usaha
ini melakukan kreativitas atau Kiat
melahirkan aneka produk toiletries,
seiring kian kompleknya kebutuhan
konsumen.
Wings Group kemudian bukan
hanya kaffah di sektor deterjen, tapi
juga agresif menelorkan aneka produk
toiletries dengan aneka merek seperti
Giv, Ciptadent, Mama Lemon, So
Klin, Daia, dan lainnya. Juga ada merek Smile-Up, Hers Protec, Kodomo,
bahkan So Klin sudah ada derivasi
variannya yakni So Klin Matic dan So
Klin Tenaga Surya. Pendeknya Wings
siap melayani konsumen dan siap
meladeni pesaingnya. Produknya kini
sudah beredar di 90 negara.
Grup Wings juga merambah bisnis
properti, perbankan, perkebunan,
oleo chemical, dan keramik. Di
industri oleo chemical, Wings Surya
berkongsi dengan Grup Salim dan
Grup Lautan Luas lewat PT Ecogreen.
Bisnis Wings Surya semakin lengkap
dengan kehadiran perusahaan packaging, PT Unipack, yang merupakan
hasil kongsi dengan PT Djarum.
Kiat yang dilakukan oleh Wings
Group lazim dilakukan korporasi
besar lain dalam membangun tahapan
bisnisnya, seperti Lippo Group yang
tadinya berbasis usaha perbankan,
kini justru besar di bidang properti,
rumah sakit, dan media massa. Begitu
juga PT Djarum dari industri sigaret
ke properti dan perbankan. PT Astra
International dari sektor otomotif ke
plantation dan finance.
Bahkan tidak sedikit perusahaan
menjadi besar namanya justru saat
ekspansi ke sektor usaha di luar core
business-nya. PT Bhakti Investama
yang terlahir sebagai perusahaan
underwriter dan fund manager, kini
justru moncer berkibar-kibar di sektor media massa (Grup
MNC) dan finance.
Praktek hostile
takeover, konsolidasi
perusahaan, revitalisasi,
akuisisi, restrukturisasi,
diversifikasi, initial public
offering, dan joint venture
(kongsi) adalah bagian dari
aksi atau Kiat memperkokoh
korporasi. Tindakan manajemen seperti itu juga lazim
terjadi di usaha-usaha milik negara
(BUMN).
PT Pembangunan Perumahan (PP)
yang tadinya berbasis usaha jasa konstruksi, misalnya, kini justru banyak
memainkan perannya sebagai developer. Begitu juga PT Rajawali Nusantara Indonesia dengan core business
industri gula, tapi juga kuat di sektor
kristalisasi
farmasi melalui anak usaha – yang
bahkan sudah go public – yakni PT
Phapros Tbk.
Begitu juga PT Perkebunan Nusantara X (Persero) dengan core business industri gula dan tembakau, tapi
menguatkan kepak sayapnya di sektor
pelayanan kesehatan, industri plastik
– seperti karung plastik, inner bag,
dan waring plastik. Ada juga sektor
agroIndustri dengan komoditi utama
kedelai Edamame, serta industri
bioethanol.
Aneka usaha PTPN X itu dikelola
melalui anak perusahaan, antara lain
PT Dasaplast Nusantara, PT Nusantara Medika Utama, PT Energi Agro
Nusantara, dan PT Mitra Tani Dua
Tujuh. Keempat anak usaha itu terus
dikuatkan fondamen-nya, dan terus
dikembangkan produk barangnya,
maupun jasa pelayanan kesehatan
yang menjadi concern-nya.
Konsolidasi, revitalisasi, dan
investasi adalah Kiat PT Perkebunan
Nusantara X dalam menguatkan
fondamen korporasi ke depan. Kultur
perusahaan yang tadinya mapan statis
didorong ke arah manajemen moderen, dinamis, optimistik. Sedangkan efisiensi adalah keniscayaan
yang dipegang teguh oleh manajemen
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
BUMN di bawah CEO Ir Subiyono
MMA tersebut.
BUMN ini (PTPN X) sudah mengeluarkan investasi Rp1.499 trilliun untuk memperkuat seluruh kaki
bisnisnya. Beruntung keputusan
investasi segera di ekskusi saat itu,
ketika nilai tukar rupiah terhadap US
Dollar masih di kisaran Rp12.000.
Andai keputusan investasi itu dilakukan saat ini, tentu biayanya akan jauh
lebih besar, seiring terus melemahnya (depresiasi) mata uang rupiah
terhadap US Dollar. Itulah Kiat. Cepat
mengambil keputusan, dan tepat.
Ke dalam core business, alokasi
investasi itu juga diarahkan untuk
memperkuat sejumlah pabrik gula
(PG). Misalnya PG Kremboong , setelah revitalisasi, mengalami kenaikan
kapasitas dari 1.500 TCD menjadi
2.600 TCD. Begitu juga PG Tjoekir
dari 3.600 TCD jadi 4.200 TCD. PG
Djombang Baru dari 2.400 TCD menjadi 3.000 TCD, juga PG Modjopanggoong dan PG
Meritjan.
Seluruh
PG itu
di-
lakukan elektrifikasi.
Dari Kiat – Kiat tersebut, kini effect
positif terhadap kinerja PTPN X secara keseluruhan mulai terlihat nyata,
yakni terciptanya efisiesi dan efektivitas produksi. Tingkat efisiensi (overall
recovery) mencapai 75 persen. Kini
sedang diupayakan 85 persen, agar
bisa seperti pabrik gula di luar negeri.
PTPN X juga bekerja keras menekan
biaya pokok produksi (HPP) menjadi
Rp 6.017 per kilogram. Pada musim
giling 2015, seluruh PG milik PTPN
X sudah memenuhi SNI. Juga sudah
bisa memproduksi gula kristal putih.
Terkait semua itu, investasi masih
akan berlangsung di BUMN tersebut. Terutama dalam upaya menekan tingkat kehilangan gula (sugar
losses), memperpendek masa giling
tanpa mengurangi produksi gula, dan
efisiensi SDM. PTPN X juga sedang
menyiapkan konstruksi co-generation
yakni pembangkit listrik berbasis
limbah padat tebu atau ampas tebu
berkapasitas 50 megawatt dengan
nilai investasi Rp296 Milliar.
Secara terbatas, program pembangkitan listrik ini sebenarnya sudah
dijalankan di PG Ngadiredjo. Dengan
tambahan investasi diharapkan bisa
lebih optimal. Nantinya, proyek co
generation akan berada di tiga pabrik
yaitu PG Ngadiredjo berkapasitas 20
MW, PG Tjoekir kapasitas 10 MW,
dan PG Gempolkrep kapasitas 20
MW. Dengan kapasitas ini, berarti
bisa menghasilkan 360 GWH dalam
waktu 300 hari. Jika harga listrik
biomassa – seperti telah ditetapkan
pemerintah bisa dipenuhi, yaitu seharga Rp 1.150 per kWh, maka potensi
pendapatan dari co-generation ini
bisa mencapai Rp414 milliar.
Kiat memanfaatkan potensi yang
ada selalu mewarnai manajemen
PTPN X. Potensi kelebihan ampas
tebu di pabrik-pabrik milik BUMN
ini mencapai 280.000 ton per tahun,
sangat potensial untuk pembangkit
listrik. Di Brazil, co-generation menggunakan ampas tebu sudah umum dengan rata-rata kapasitas 3.000 MW.
Di India juga sudah lazim dengan
kapasitas di atas 2.000 MW. PTPN
X akan terus ber-Kiat, seperti perusahaan – perusahaan multinasional
yang secara terus-menerus melakukan
perbaikan dan terobosan.
95
PTPN X Magz
volume: 017 | Edisi Liputan: Juli - September 2015
lori
[ lorong aspirasi ]
Redaksi PTPN X-mag menerima opini serta saran dan kritik membangun dari seluruh
karyawan. Tulis opini Anda pada kertas A4 spasi 1,5 maksimal 6 halaman dan sertakan pas
foto. Kirim melalui email ke [email protected] dan [email protected]
opini yAnG
nG dimuAt
dimu AkAn mendApAtkAn ApResiAsi
Junaedi – oPerator traKtor hGu PG Pesantren baru
TEPAT MuTu DAN TEPAT wAKTu
dalaM penerapan mekanisasi yang kami kerjakan, kesulitan yang dihadapi lebih pada teknis alat yang ada, karena
hal tersebut dapat berpengaruh pada perlambatan pekerjaan. Dari 24 traktor yang ada, itu harus dibagi menjadi dua
wilayah di HGU Djengkol dan HGU Sumber Lumbu.
Salah satu trik untuk berhasil dalam menanam tebu adalah mengetahui masa tanam dan ketepatan memilih varietas, begitu juga dalam budidaya tanaman tebu. Jika salah,
maka hasil yang didapat tidak akan optimal,Itu sebabnya
budidaya tanaman tebu harus tepat mutu dan tepat waktu.
haidar - oPerator whole stalK PG nGadiredjo
MASIH MEMBANDINGKAN MANuAL
Ainur Rofiq – oPerator Grabe loader PG watoetoelis
Pertanian tidak hanya manual seperti mencangkul saja. Sudah waktunya sekarang dikerjakan menggunakan mesin. Bahkan menurut saya di Indonesia
ini terlambat untuk menggunakan mesin di lahan
pertanian. Sudah waktunya petani sekarang menghilangkan pandangan bertani harus manual agar
pertanian di Indonesia tidak semakin ketinggalan.
Karena masih cukup baru, kesulitan yang saya
alami di lapangan adalah petani yang masih suka
membandingkan antara menggunakan mesin dan
yang masih manual, karena umumnya mereka masih
belum terbiasa dengan penggunaan mesin. Tapi
kalau soal lahan, di Kediri ini tanahnya agak berpasir
sehingga lebih mudah, tidak berat untuk traktor.
MEKANISASI HASILKAN EfISIENSI
96
berbagai manfaat mekanisasi memang benar-benar
saya rasakan, terlebih setelah penerapannya di kebun tebu
kawasan PG Watoetoelis sejak dua tahun lalu. Hal yang paling terasa adalah efisiensi. Peningkatan efisiensi tersebut
meliputi produktivitas dan mutu.
Selain itu juga ada sisi lain yang juga mengalami peningkatan efisiensinya seperti efisiensi lahan, tenaga kerja,
energi, sumber daya (benih, pupuk, air), kualitas komoditas, kesejahteraan petani, kelestarian lingkungan dan produksi yang berkelanjutan. Dalam satu hari saja penerapan
mekanisasi setelah adanya grab louder dapat mengangkut
26 rit atau truck. Dengan jam kerja pukul 06.00 hingga pukul 17.00.Ini tentu sangat membantu dalam proses tebang
angkut.
 Haidar (kanan) bersama rekan sesama operator.
Kantor Pusat: pt perkebunan nusantara X
Jl Jembatan Merah no 3-11, surabaya 60175 Jawa timur, Indonesia
telepon: (031) 3523143 (hunting) Fax: (031) 3523167
http://www.ptpn10.com | email: [email protected]
Unit GUla
1. pg Watoetoelis
Ds. temu, Kec. Prambon, sidoarjo 61262
telepon: 031-8971007, 8972383 | Fax: 031-8970079
2. pg toelangan
Ds. tulangan, Kec. tulangan, sidoarjo 61273
telepon: 031-8851002 | Fax: 031-8851001
3. pg kremboong
Ds. Krembung, Kec. Krembung, sidoarjo 61275
telepon: 031-8851609, 8851315 | Fax: 031-8151661
4. pg gempolkrep
Ds. Gempolkerep, Kec. Gedeg, Mojokerto 61302
telepon: 0321-362111, 362114 | Fax: 0321-362414
5. pg Djombang Baru
Jl. Panglima sudirman no.1 Jombang 61417
telepon: 0321-861311 | Fax: 0321-866373
email: [email protected]
6. pg tjoekir
Ds. Cukir, Kec. Diwek, Jombang 61471
telepon: 0321-861441 | Fax: 0321-868600
7. pg Lestari
Ds. ngrombot, Kec. Patianrowo, nganjuk 64391
telepon: 0358-552468, 551439 | Fax: 0358-552468
8. pg Meritjan
Jl. Merbabu, Ds. Mrican, Kec. Mojoroto, Kediri 64102
telepon: 0354-771619, 773649 | Fax: 0354-773651
Kantor PerwaKIlan: perumahan taman gandaria Valley
Jl taman Gandaria Blok F/12a, telepon/Fax: 021-7396565
Kebayoran lama - Jakarta selatan
9. pg pesantren Baru
Jl. Mauni no. 334, Kec. Pesantren, Kediri 64131
Kotak Pos 6 | telepon: 0354-684610 | Fax: 0354-686538
homepage: http://www.pesantrenbaru.co.cc
email: [email protected]
10.pg ngadiredjo
Ds. Jambean, Kec. Kras, Kediri 64102. tromolpos 5
telepon: 0354-479700 | Fax: 0354-477178
11.pg Modjopanggoong
Ds. sidorejo, Kec. Kauman, tulungagung 66261
telepon: 0355-321633, 324638 | Fax: 0355-327126
Unit tembakaU
1. kebun kertosari
Jl. a Yani no. 688 Pakusari, Jember 68181
telepon: 0331-334177 | Fax: 0331-332854
email: [email protected]
2. kebun ajong gayasan
Jl. MH thamrin no.143 ajung, Jember 68175
telepon: 0331-321501, 331058 | Fax: 0331-335145
email: [email protected]
3. kebun kebonarum/gayamprit/Wedhibirit
Jl. Pemuda selatan no. 225, Klaten 57411
telepon: 0272-321806, 320583, 321252
Fax: 0272-322203
Unit Usaha Lain:
Unit industri Bobbin
Jl. Bondowoso Km.10 Jelbuk, Jember 68102
telepon: 0331-540205 | Fax: 0331-540407
anak perUSaHaan:
Pt DasaPlast nUsantara
Jl raya Pecangaan no 03 Jepara | Jawa tengah
telepon: 0291-755210 | Fax: 0291-755205
Pt nUsantara meDika Utama
kantor Direksi
Jl. Hayam wuruk no. 88, Mojokerto 61321
telepon: 0321-328557, 390988 | Fax: 0321-395117
1. rumah Sakit gatoel
Jl. raden wijaya no. 56, Mojokerto 61321
telepon: 0321-321681, 322329 | Fax: 0321-321684
uGD: 0321-399772
2. rumah Sakit toeloengredjo
Jl. a Yani no.25 Pare - Kediri 64212
telepon: 0354-391047, 391145 | Fax: 0354-3392883
3. rumah Sakit perkebunan (rSp)
Jl. Bedadung no.2 - Jember 68118
telepon: 0331-487104, 487226 | Fax: 0331-485912
homepage: www.jember-klinik.co.id
email: [email protected]
Pt enerGi aGro nUsantara
Desa Gempolkerep, Kec. Gedeg, Kab. Mojokerto
Pt mitratani DUa tUjUh
Jl Brawijaya 83 Mangli, Jember 68136
telepon: 0331-422222, 488881
Fax: 0331-489456, 489457
Direksi & Karyawan PT Perkebunan Nusantara X
mengucapkan:
Selamat Hari Raya
1436 H
”DaLaM Mencapai raSa cinta kepaDa aLLaH, kita HarUS Siap MengorBankan
SegaLa yang kita cintai, entaH itU Uang, Harta, ataUpUn keLUarga,”
 Subiyono
DIreKtur utaMa PtPn X
Fly UP