...

Laporan Hasil Pengamatan Pembiakkan Vegetatif Ramin

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Laporan Hasil Pengamatan Pembiakkan Vegetatif Ramin
PERSYARATAN TUMBUH RAMIN
L
L
REVIEW HASIL PENELITIAN DAN
PERCOBAANLAPANGAN
L
L
L
L
Tim Penyusun
Tajudin Edy Komar
Evalin Sumbayak
Dian Tita Rosita
Abdurrani Muin
Istomo
Bastoni
National Expert
Or. Hilman Affandi
r
r
r
I
PERSYARATAN TUMBUH RAMIN
r
I
I
r-
REVIEW HASIL PENELITIAN DAN
PERCOBAANLAPANGAN
I
Tim Penyusun
Tajudin Edy Komar
Evalin Suinbayak
Dian Tita Rosita
Abdurrani Muin
Istomo
Bastoni
National Expert
Dr. Hilman Affandi
~
I
I
-~
I
~)
I
---'
I
------'
r
r
r
r
r
.
I
r
r
.,...
PERSYARATAN TUMBUH RAMIN
REVIEW HASIL PENELITIAN DAN
PERCOBAAN LAPANGAN
Tim Penyusun
Tajudin Edy Komar
Evalin Sumbayak
"t
" r I"ta R
__ osu~
0 lan
Abdurrani Muin
Istomo
Bastoni
National Expert
Or" Hilman Affandi
DEPARTEMEN KEHUTANAN
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KEHUTANAN
BEKERJASAMA DENGAN
INTERNATIONAL TROPICAL TIMBER ORGANIZATION
BOGOR
2008
Technical Report Kegiatan 1.2.2.ITTO PROJECT PO 426/06 Rev. 1 (F)
THE PREVENTION OF FURTHER LOSS AND THE PROMOTION OF REHABILITATION AND
PLANTATION OF GONYSTYLUS SPP (RAMIN) IN SUMATRA AND KAlIMANTAN
Copyright @ 2008
Publikasi ini dibiayai oleh dana hibah dari International Tropical Timber Organization
(ITTO) kepada pemerintah Indonesia melalui Proyek ITTO PO 426/06 Rev.1 (F)
Diterbitkan oleh:
ITTO PROJECT PO 426/06 Rev. 1(F)
Center for Forest and Nature Conservation Research and Development
Forestry Research and Development Agency, Ministry of Forestry, Indonesia
JI. Gunung Batu NO.5 Bogor-Indonesia
Phone: 62-251-633234
Fax: 62-251-638111
E-mail: [email protected] .id
Gambar depan: Tajudin Edy Komar
Desainltataletak : Tajudin Edy Komar
I
----.J
I
I
I
I. PENDAHULUAN
I
I
I
I
I
I
Gonystylus bancanus (Ramin) adalah salah satu jenis pohon hutan yang tumbuh
secara alami di hutan rawa gambut dan dijumpai hanya di Sumatra dan Kalimantan.
Jenis ini sudah dikenal secara komersial dan medrupakan salah satu jenis kayu yang
memiliki nilai ekonomi yang cukup tinggi dan dimanfaatkan dan diperclagangkan baik
domestik maupun intemasional.
Penyebaran secara alami marga Gonystylus meliputi Indonesia, Malaysia dan
beberapa daerah di Pasifik Selatan seperti Nicobar dan Fiji (?) di beberapa kondisi habitat
mulai di habitat pegunungan, dataran rendah dan hutan rawa, khususnya rawa gambut.
Di Indonesia diperkirakan terdapat sepuluh jenis Gonystylus (Airy Shaw, H.K. 1972).
Dari kesepuluh jenis tersebut, jenis GonystyJus bancanus (Miq.) Kurz yang paling banyak
dikenal dalam perdagangan karena potensinya yang relatif besar dan feature kayunya
yang banyak digemari oleh konsumen. Hal ini disebabkan kayu ramin memiliki nilai
komersial tinggi dan sejak beberapa tahun terakhir ini yang mengakibatkan ram in banyak
diburu dan ditebang untuk diperdagangkan terutama pasar Intemasional. Perburuan dan
penebangan ramin terjadi secara berlebihan (excessive), baik secara legal maupun
illegal. Kondisi ini, ditambah dengan konversi hutan ke penggunaan lain dan kebakaran
di hutan rawa gambut yang terjadi secara berulang sehingga telah mengancam
kelestarian ramin. Ancaman tersebut semakin meningkat karena berbagai upaya
rehabilitasi habitat dan percobaan penanaman ramin belum menunjukkan hasil yang
menggembirakan. Sehubungan dengan ancaman ini, pemerintah telah mengeluarkan
serangkaian kebijakan, yaitu antara lain kebijakan moratorium penebangan ramin di
seluruh Indonesia dan kebijakan pengendalian perdagangan melalui mekanisme konvensi
perdagangan Intemasional (CITES).
Mumiati et al (2005) telah melakukan kajian terhadap berbagai percobaan
penanaman ramin di berbagai daerah di Sumatra dan Kalimantan yang dilaksanakan oleh
berbagai lembaga riset, universitas dan perusahaan swasta dan BUMN. Kajian terse but
juga meliputi percobaan perbanyakan bahan tanaman baik melalui biji maupun dengan
perbanyakan vegetatif terutama stek. Sebagian besar percobaan diatas menunjukkan
hasil yang belum konklusif. Dengan demikian belum menghasilkan suatu paket teknologi
rehabilitasi yang dapat diterapkan secara luas di lapangan. Untuk mendapatkan paket
teknologi tersebut, berbagai percobaan masih perlu dilakukan yang meliputi berbagai
aspek pertumbuhan.
Untuk memulai pelaksanaan percobaan (penelitian dan
pengembangan) tersebut diperlukan suatu review yang konprehensif mengenai
karakteristik habitat, karaketristik pertumbuhan dan persyaratan tumbuh ramin yang telah
diidentifikasi sebelumnya, baik pada tingkat persemaian maupun pertumbuhan lanjutan di
lapangan.
Review ini dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi lebih detail mengenai
faktor-faktor lingkungan yang dibutuhkan untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang ideal
terutama dari aspek-aspek kebutuhan cahaya, media pertumbuhan, berbagai unsur hara
(nutrisi) dan mikroorganisme yang berasosiasi dengan pertumbuhan ramin dan asosiasi
ekologis dengan jenis-jenis lain.
Review ini bertujuan untuk :
1. Mengevaluasi (review) hasil-hasil penelitian dan pengembangan ramin serta
mengidentifikasi berbagai persyaratan tumbuh ramin (G bancanus), khususnya
cahaya, media pertumbuhan, kebutuhan unsur hara, mlkro-organisme dan asosiasi
ekologis dengan jenis lain.
1
2. Mencermati secara detail persyaratan tumbuh tersebut dan menyusun rekomendasi
penelitian dan pengembangan lanjutan.
I
~
Review disusun dari berbagai pustaka (referensi) yang ada baik yang sudah
diterbitkan maupun yang belum diterbitkan secara ilmiah atau dalam bentuk laporan
teknis. Review ini terbatas pada pencermatan berbagai referensi yang ada khususnya
hasil-hasil penelitian dan pengembangan di lapangan. Penelitian persyaratan tumbuh
berdasarkan kondisi habitat alaminya tidak secara khusus dibahas.
1
~
I
~
i
~
i
~
I
-.J
~
i
~
2
~
I
---.J
--.J
r
I
,..-.
I
r
I
11. KARAKTERISTIK HUTAN RAWA GAMBUT, OLEH TAJUDIN EDY KOMAR
rI
Rawa merupakan suatu areal yang digenangi oleh air sepanjang tahun atau dalam
beberapa kurun waktu tertentu dengan permukaan air yang naik turun mengikuti kondisi
musim.
Genangan air pada rawa umumnya relatif dangkal dan terbentuk dari
perlambatan aliran permukaan dari daratan ke sungai atau laut. Rawa dapat dibedakan
dari danau karena pada rawa tumbuh berbagai jenis vegetasi yang beradaptasi dengan
kondisi air, serasah dan material pendukung dari rawa tersebut, yang selanjutnya dapat
dibedakan menjadi (1) hutan tawa dimana tumbuh semak-semak dan pohon-pohonan
dan (2) tawa non-hutan yang hanya ditumbuhi berbagai jenis semak belukar (Najiyati et
al 2005). Berdasarkan material dasar di bawah permukaan air, hutan rawa dapat
dibedakan menjadi Hutan Rawa dan Hutan Rawa Gambut (HRG). Pada Hutan Rawa
Gambut (HRG). material dasar di bawah permukaan air terdapat berbagai bahan organik
yang terakumulasi selama beberapa kurun waktu. Gambut adalah suatu jenis media
tumbuh yang terbentuk dari berbagai bahan organik yang berasal dari reruntuhan
tumbuhan seperti daunt ranting. batang, akar dan lain-lain yang sedang dan/atau sudah
mengalami proses dekomposisi (Adinugroho, 2005). Proses pembentukan gambut
hampir selalu terjadi pada hutan dalam kondisi tergenang dengan produksi bahan organik
dalam jumlah besar. Gambut tersebut membentuk media tumbuh yang semakin
terangkat sehingga menghasilkan lapisan tebal yang dapat mencapai ketebalan hingga
febih dari 20 m. Dafam keadaan normal bahan organik dapat dengan cepat mengafami
penguraian oleh jamur, bakteri dan organisme lainnya. Namun karena areal atau lahan
gambut hampir selalu tergenang, menyebabkan terjadinya kondisi yang sangat
"anaerobic". Dengan tingkat akumulasi bahan organik yang cepat, menyebabkan tingkat
keasaman yang tinggi (pH rendah) serta kurangnya unsur hara bagi organisme pengurai.
Hal
ini
menyebabkan
proses
biodegradasi
berjalan
sangat
lambat
(www.tanahgambut.co.id).
Lahan gambut secara umum kurang memiliki nilai ekonomis tetapi memiliki
beberapa fungsi ekosystem yang cukup penting, antara lain fungsi hidrologis, habitat
berbagai keanekaragaman hayati dan penyimpan karbon yang cukup tinggi.
Hutan Rawa Gambut berperan dalam mengatur aliran dan menyimpan air.
Kemampuannya menyimpan air yang tinggi menjadikan lahan rawa gambut berperan
penting dalam mencegah terjadinya banjir. Gambut merupakan ekosistem khas yang
juga menyimpan keanekaragaman hayati. Jenis-jenis flora yang tumbuh antara lain:
Durian burung (Durio carinatus), Ramin (Gonystlylus sp.), Terenteng (Camnospenna sp.)
Gelam (Melaleuca sp.), Gembor (A/seodaphne umbeliflora), Jelutung (Dyera costulata),
Kapur naga (Cal/ophil/um soulatn), Kempas (Koompassia ma/acensis), Nyatoh (Pa/aqium
schlo/aris), Balangeran (Shorea belangeran), Rotan, Pandan dan palem-paleman serta
berbagai jenis satwa. Jenis fauna yang ditemukan antara lain: Orang utan, Rusa, Babi,
Buaya, Kera ekor panjang, Kera ekor pendek, Siamang, Biawak, berbagai jenis ikan
(Papuntin, Lele, Tapah, Lais, Baung, Seluang, Lawang, Toman), Beruang madu, dan
Macan pohon. Gambut juga merupakan salah satu penyusun bahan bakar yang terdapat
di bawah permukaan. Gambut mempunyai kemampuan menyerap air sangat besar,
karena itu meskipun tanah dibagian atasnya kering, dibagian bawahnya tetap lembab dan
bahkan relatif masih basah karena mengandung air. Saat musim kemarau, permukaan
tanah gambut cepat sekali kering dan mudah terbakar, dan api di permukaan ini mudah
merambat kelapisan bagian bawah yang relatif lembab. Oleh karenanya ketika terbakar,
kobaran api tersebut akan bercampur dengan uap air di dalam material gambut dan
menghasilkan asap yang banyak (Adinugroho, 2005).
3
rI
i
~
A. Fisiografi
Lahan gambut di Indonesia pada umumnya membentuk kubah gambut (peat
dome). Pada bagian pinggiran kubah, didominasi oleh tumbuhan kayu yang memperoleh
sumber hara dari air tanah dan sungai sehingga tumbuh beragam jenis dengan diameter
relatif besar. Hutan seperti itu, disebut hutan rawa campuran (mixed swamp forests).
Pada bagian tengah kubah, vegetasi hutan memperoleh sumber hara hanya yang berasal
dari air hujan. Vegetasi hutan seeara perlahan mengalami perubahan, jenis-jenis spesies
kayu hutan semakln berkurang dan rata-rata berdiameter keeil. Vegetasi hutan seperti ini
disebut hutan padang. Perubahan dari wilayah pinggiran gambut yang retatif kaya hara
menjadi wilayah gambut ombrogen yang miskin, diperkirakan te~adi pada kedalaman
gambut antara 200-300 cm (Suhardjo dan Widjaja-Adhi, 1976).
I
~
I
~
I
~
Di kawasan Proyek Pengembangan Lahan Gambut (PLG) Satu Juta Hektar di
Kalimantan Tengah, kubah gambut berbentuk bujur telur, terletak diantara Sungai Kapuas
dan Sungai Dadahup/Sungai Sarito. Kubah gambut pertama terletak diantara Sungai
Kapuas dan Sungai Mantangai, berukuran sekitar 22 km x 17 km, dengan ketebalan
gambut terdalam antara 8-9 m. Kubah gambut kedua terletak diantara Sungai Mantangai
dan Sungai Sarito, berukuran lebih besar yaitu sekitar 45 km x 23 km, dengan ketebalan
gambut terdalam meneapai 13 m (Subagjo et aI, 2000).
B. Sifat Fisik Gambut
Tingkat Kematangan Gambut
Gambut memiliki berbagai tingkat kematangan sesuai dengan kondisi alaminya.
Tingkat kematangan menentukan sifat fisik yang juga menentukan tingkat kesuburan.
Gambut yang telah matang cenderung lebih halus dan lebih subur. Sebaliknya bahan
organik yang belum matang banyak mengandung serat kasar dan kurang subur,
disebabkan belum terurai secara organik. Tingkat kematanganldekomposisi bahan
organik pada gambut dibedakan menjadi tiga (Najiyati et al..... ), yaitu:
1. Fibrik, yaitu bahan gambut yang pada umumnya berwama eoklat kekuningan, coklat
tua atau coklat kemerah-merahan, mempunyai tingkat dekomposisi rendah, memiliki
bulk density kurang dari 0,1 g/em 3 , kandungan serat lebih ata sama dengan 3/4
volumenya, dan kadar air pada saat jenuh berkisar antara 850% hingga 3000% dari
berat kering oven. Cirinya adalah bila gambut dalam keadaan basah diperas dengan
telapak tangan, maka kandungan serat yang tertinggal di dalam telapak tangan
setelah pemerasan adalah tiga perempat bagian atau lebih.
2. Hemik adalah bahan gambut ini wamanya coklat keabu-abuan tua sampai coklat
kemerah-merahan tua, mempunyai tingkat dekomposisi sedang, bulk density antara
0,13-0,29 g/em3 , kandungan seratnya normal antara < 3/4- ~ 1/4 dan voiumenya,
kadar air maksimum pada saat jenuh air berkisar antara 250 - 450%. Bila diperas
dengan telapak tangan dalam keadaan basah, gambut akan mudah melewati selasela jari dan kandungan serat yang tertinggal di dalam telapak tangan setelah
pemerasan adalah antara kurang dari tiga perempat sampai seperempat bagian atau
lebih.
4
I
~
---
,
[
,--
!
I"
I
i
r-
I
r-
3. Saprik adalah bahan gambut ini
berwarna kelabu sangat tua sampai hitam,
mempunyai tingkat kematangan yang paling tinggi, bulk density ~ 0,2 g/cm3 , dan
rata-rata kandungan serat < 1/4 volumenya, kadar air maksimum pada saat jenuh
normalnya < 450%, Bila diperas, gambut sangat mudah melewati sela jari-jari dan
serat yang tertinggal dalam telapak tangan kurang dari seperempat bagian.
Kering tak Ballk (Hidrophobla Irreversible)
Gambut mempunyai sifat kering tak balik artinya, gambut yang sudah mengalami
kekeringan yang ekstrim, akan sulit menyerap air kembali. Gambut ini memiliki bobot isi
yang sangat ringan sehingga mudah hanyut terbawa air hujan, struktumya lepas-Iepas
seperti lembaran serasah, mudah terbakar, dan sulit ditanami kembali.
Daya Tumpu
Gambut memiliki daya tumpu yang rendah karena mempunyai ruang pori yang
besar sehingga kerapatan tanahnya rendah dan bobotnya ringan, sehingga pohon yang
tumbuh diatasnya menjadi mudah rebah.
Daya Hantar Hldrolik
Gambut memiliki daya hantar hidrolik (penyaluran air) secara horizontal dan
vertikal. Daya hantar hidrolik horizontal dapat memacu pencucian unsur-unsur hara ke
saluran drainase dengan cepat. Sebaliknya, gambut mempunyai daya hidrolik vertikal
yang sangat lambat. Akibatnya lapisan atas gambut sering mengalami kekeringan,
meskipun lapisan bawahnya basah. Untuk tanaman semusim, kedalaman muka air tanah
yang ideal adalah kurang dari 100 cm, sedangkan untuk tanaman tahunan muka air tanah
dengan kedalaman 150 cm.
Penurunan Permukaan Tanah
r-
I
Dralnase pada lahan gambut dapat mengaklbatkan penurunan permukaan tanah,
kondisi ini disebabkan oleh proses pematangan gambut dan berkurangnya kandungan air.
Kecepatan penurunan tersebut tergantung pada kedalaman gambut. Semakin tebal
gambut, penurunan tersebut semakin cepat dan berlangsungnya semakin lama. Akibat
sitat gambut seperti ini mengakibatkan terjadinya genangan, pohon mudah rebah, dan
kontruksi bangunan cepat roboh.
Afudah Terbakar
Lahan gambut cenderung mudah terbakar karena kandungan bahan organik yang
tinggi, memiliki sitat kering tak balik, porositas tinggi dan daya hantar hirolik vertikal yang
rendah. Kebakaran di tanah gambut sangat sulit dipadamkan karena dapat menembus di
bawah permukaan tanah. Bara api di lahan gambut hanya dapat dipadamkan oleh air
hujan yang lebat. Kebakaran hutan rawa gambut mempunyai dampak negatit ekologi
berupa musnahnya sebagian besar sumber keanekaragaman hayati; terbunuhnya
ratusan satwa liar seperti Orangutan dan Beruang; polusi udara yang menyebabkan
gangguan kesehatan, aktivitas ekonomi dan transportasi. Polusi udara yang ditimbulkan,
secara langsung meningkatkan jumlah penderita infeksi saluran pemapasan (Najiyati, et
a/,2005).
5
c. Sifat Kimia
Tlngkat Kesuburan Gambut
Driessen dan Soepraptohardjo (1974) membagi gambut ke dalam tiga tingkatan
kesuburan yaitu Eutropik (subur), Mesotropik (sedang) dan Oligotropik (tidak subur).
Tingkat kesuburan tanah gambut ditentukan oleh kandungan N, K20, P20 5, CaO dan
kadar abu. Semakin tinggi nilai-nilai tersebut, semakin tinggi kesuburannya. Gambut
topogen yang dangkal dan dipengaruhi air tanah dan sungai umumnya tergolong gambut
mesotropik sampal eutropik sehingga mempunyai potensi kesuburan alami yang lebih
baik daripada gambut ombrogen (kesuburan hanya terpengaruh oleh air hujan) yang
sebagian besar oligotropik.
Tanah gambut umumnya memiliki kesuburan yang rendah, ditandai dengan pH
rendah (masam), unsur hara makro (K, Ca, Mg, dan P) dan mikro (Cu, Zn, dan Bo) yang
rendah, mengandung asam-asam organik yang beracun, serta memilki Kapasitas Tukar
Kation (KTK) yang tinggi tetapi Kejenuhan Basa (KB) rendah. KTK yang tinggi dan KB
yang rendah menyebabkan pH rendah dan sejumlah pupuk yang diberikan ke dalam
tanah sulit diambil oleh tanaman. KTK tanah gambut akan meningkat sejalan dengan
meningkatnya bahan organik. Pada umumnya lahan gambut tropis memilki pH antara 3 4,5. gambut dangkal memiliki pH lebih tinggi (pH 4,0 - 5,1) daripada gambut dalam (pH
3,1 - 3,9).
Penambahan bahan yang mengandung Ca, Mg, K, dan Na akan
meningkatkan KB, pH, dan mengusir senyawa asam organik
Dekomposisi bahan organik dalam kondisi anaerob menghasilkan senyawasenyawa organik dan senyawa pembentuk humus. Asam-asam organik tersebut
berwama hitam, bersifat masam dan beracun bagi tanaman. Kisaran pH tanah gambut
antara 3 hingga 5. Rendahnya pH menyebabkan sejumlah unsur seperti N, Ca, Mg, K,
Bo dan Mo tidak tersedia bagi tanaman. Keasaman yang tinggi juga menyebabkan tidak
aktifnya mikroorganisme, terutama bakteri tanah.
i
---.J
Faktor yang mempengaruh kesuburan
Tingkat kesuburan tanah gambut dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
ketebalan gambut, asal material gambut, asal air, tingkat kematangan gambut, dan
kondisi tanah di bawah gambut.
•
•
•
•
Gambut yang berasal dari tumbuhan lunak lebih subur daripada gambut yang berasal
dari tumbuhan berkayu.
Gambut yang lebih matang lebih subur daripada gambut yang belum matang.
Gambut yang mendapat luapan air sungai atau air payau lebih subur daripada gambut
yang hanya memperolah air hujan.
Gambut yang terbentuk di atas lapisan liatllumpur lebih subur daripada gambut dalam
(Najiyati, 2005).
Hutan rawa gambut didominasi oleh pohon Ramin (Gonystylus sp), Merapat
(Combretocarpus rotundatus), Nyatoh (Palaqium scholaris), Gelam (Mela/euca
leucadendron), Licuala spinosa, Alstonia spp., dan Eugenia spp. Tumbuhan lain yang
sering berasosiasi dengan ramin antara lain Shorea a/bida, Kempas (Koompassia
ma/acensis), Dacty/oc/adus stenostachys, Dyera lowii, Cratoxylum arborescens,
Ca/ophyllum spp., Aglaia rubiginosa (Soerianegara & Lemmens, 1994). Jenis-jenis ini
memiliki daya tahan yang cukup tinggi terhadap pH rendah, kekeringan dan beberapa
6
!
---J
I
r
I
I
I
jenis tertentu, seperti tumi (Combretocarpus Spp) tahan terhadap kebakaran dalam
bentuk pembentukan tunas (sprouting).
r--'
I
D. Ramin dan Jenis-jenis Pohon Hutan Rawa Gambut
I
I
I
I
I
I
Di Indonesia diperkirakan terdapat sekitar 10 (sepuluh) jenis pohon Ramin, antara
lain: G.affinis AShaw, G.brunescens AShaw, G.confuses A.Shaw, G.forbesii Gilg,
G.kelthll AShaw, G.macrophyllus A.Shaw, G.maingayi HkJ, G. velutinus AShaw,
G.xylocarpus AShaw dan G.bancanus (Miq.)Kurz. Ramin merupakan nama yang umum
ditujukan untuk jenis: G.xylocarpus AShaw, G. velutinus AShaw dan Gonystylus
bancanus (Miq.) Kurz. Untuk jenis G.affinis A.Shaw dan G.forbesii Gilg sering disebut
sebagai kayu minyak. Di antara kesepuluh jenis tersebut, jenis Gonystylus bancanus
(Miq.) Kurz yang paling-banyak diminati untuk diperdagangkan (Airy Shaw, H.K, 1972).
Ramin dari jenis G bancanus hanya dapat dijumpai di hutan rawa gambut di
Sumatera dan Kalimantan. Kawasan konservasi merupakan habitat tersisa dari jenis
Ramin yang masih memiliki tegakan relatif rapat dan memiliki diameter pohon relatif
besar. Di Pulau Sumatera, khususnya propinsi Riau dan Jambi, kawasan yang
teridentifikasi memiliki tegakan pohon Ramin antara lain: Hutan Lindung Giam-Siak Keeil,
Suaka Margasatwa Danau Bawah dan Danau Pulau Besar, Suaka Margasatwa Tasik
Belat, Suaka Margasatwa Tasik Sekap, Suaka Margasatwa Bukit Batu dan Taman
Nasional Berbak di Propinsi Jambi. Selain di kawasan konservasi, di beberapa hutan
produksi yang dikelola oleh perusahaan kehutanan diindikasikan masih ada tegakan
Ramin dalam jumlah yang tergolong keeil. Hak Penguasaan Hutan (HPH) PT. Diamond
Raya Timber, PT. Rokan Permai, PT. Triomas FD (ketiganya anak perusahaan Grup
Uniseraya), PT. Inhutani IV di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) dan Ijin Pemanfaatan Kayu
(IPK) PT. Uniseraya merupakan beberapa perusahan kehutanan yang memiliki tegakan
jenis Ramin.
Di Kalimantan, ramin dapat ditemukan di Taman Nasional Tanjung Puting, DAS
Sebangau dan DAS Mentaya (Kalimantan Tengah), sementara di Propinsi Kalimantan
Barat, tegakan jenis Ramin dapat dijumpai di Kabupaten Sambas, eagar Alam Mandor,
Taman Buru Gunung Nyiut, Suaka Margasatwa Pleihari Martapura, Taman Nasional
Danau Sentarum dan Taman Nasional Gunung Palung serta beberapa daerah di
sekitamya. Berdasarkan data inventarisasi Departemen Kehutanan, perusahaan yang
masih mempunyai tegakan ramin adalah HPH PT. Bintang Arut di Kalimantan Tengah
(Airy Shaw,1972, Bismark et a/2005).
r--'
I
ri
I
I
7
Ill.
FENOLOGI, KARAKTERISTIK DAN VIABILlTAS BENIH, OLEH DIAN TITA
ROSITA DAN EVALlN SS. SUMBAYAK
A. Fenologi
Musim berbunga dan berbuah ramin beragam dari daerah ke daerah, tergantung
pada kondisi lingkungannya. Di Kalimantan Barat pohon ramin dilaporkan berbunga pada
bulan Agustus-September dan berbuah masak antara bulan Oktober sampai dengan
pertengahan Januari. Bahkan ada pula yang berbuah bulan Juni dan Mei. Alrasyid &
Soerianegara (1978) melaporkan bahwa pohon ramin berbuah bulan April-MeL
Menurut data dan informasi ramin tidak berbunga dan berbuah setiap tahun
melainkan dengan interval 3-4 tahun dengan puncak berbunga dan berbuah pada tahun
tertentu. Interval ini diperkirakan berbeda dari satu tegakan ke tegakan lain termasuk
perbedaan antar pohon dan habitat. Pada tegakan hutan rawa gambut yang masih utuh
di Kalimantan, ramin dapat berbunga dan berbuah hampir setiap tahun seperti pernah
dilaporkan sebelumnya (AI-Rasyid dan Soerianegara et a, 1978). Informasi terakhir
(Istomo 2005, Bastoni 2005) menyebutkan bahwa di hutan bekas tebangan atau yang
telah mengalami degradasi, ram in berbunga dan berbuah dengan interval seperti di atas.
Di beberapa lokasi, ram in tetap berbuah setiap tahun, namun puncak berbunga berbuah
(peak season) terjadi dengan interval seperti disebut di atas. Sampai saat ini belum
ditemukan adanya pengamatan pengaruh perubahan kondisi tegakan dan habitat
terhadap musim berbunga dan berbuah pada ramin. Namun pada beberapa jenis lain,
seperti Dipterocarpaceae, pernah dilaporkan adanya perubahan prilaku (behaviour)
pembungaan akibat perubahan kerapatan dan kondisi tegakan, khususnya setelah
dilakukan penebangan penjarangan dan tebang pilih. Perubahan kerapatan populasi dan
habitat dapat pula mempengaruhi perubahan pola prilaku predator, dimana rendahnya
sumber makanan alematif dapat menyebabkan ancaman yang serius terhadap buah dan
biji ramin di hutan rawa gambut. Predator utama buah dan biji ramin adalah tupai dan
beberapa jenis burung.
Catatan:
Penebangan pohon untuk tujuan penjarangan dan atau tebang pilih
menyebabkan perubahan ruang (space) yang pada akhirnya memungkinkan lebih banyak
sinar matahari masuk ke lantai hutan, mengurangi persaingan terhadap cahaya dan unsur
hara serta mendorong pertumbuhan jenis-jenis yang sebelumnya tertekan (supressed
plants). Pada saat bersamaan terjadi perubahan prilaku pada insect pollinator dan agent
yang lain yang kesemuanya dapat mempengaruhi berbunga dan berbuah serta produksi
benih. Pola makan dan ketersediaan makanan dapat mempengaruhi prilaku predator
yang mungkin dapat mengancam perkembangan bunga, buah dan benih ramin.
I
-J
8
Tabel1. Perkiraan musim berbunga dan berbuah berdasarkan lokasi
;---j
Lokasi
Provinsi Riau (hutan produksi PT ORT)
~-
r
Perkiraan musim
berbungalberbuah
April-Mei?
Provinsi Jambi (hutan produksi PT April-Mei
Putraduta
April-Mei
Provinsi Jambi ITN Berbak)
April-Mei
Provinsi Sumsel (Merang Kepahyang)
Juli-September
Provinsi Kalbar
Provinsi Kalteng (Lahe, TN Sebangau)
Juli-September
Referensi/Sumber
informasi
Nu'jijat (2005 dan
2008)
Bastoni et a/ (2008)
pangamatan langsung
Bastoni et a/ (2008)
Bastoni et a/ (2008)
Banjarbaru
BPK
,(Kalsell
BPK
Banjarbaru
(Kalsel)
B. Karakteristik Benih
Benih ramin memiliki ukuran relatit keeil dengan kulit biji yang relatit lunak.
Oengan karakteristik seperti ini maka penanganan benih, mulai dari pemungutan buah
dari pohon, pengolahan benih, penyimpanan dan penyemaian benih di persemaian
memerlukan perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan benih-benih yang relatit
keras. Penanganan yang dimulai dari ekstraksi biji dari buah, pembersihan, seleksi dan
pengepakan sampai dengan penyimpanan dilakukan secara khusus untuk menghindari
kerusakan pada benih.
;----.
,-,
Pengumpulan benih dilakukan dengan memungut benih dari buah yang telah jatuh
atau memungut benih yang telah keluar dari buah yang telah jatuh di lantai hutan.
Apabila benih masih di dalam buah, maka ekstraksi benih harus dilakukan dengan eara
manual kemudian diletakkan di dalam wadah atau tempat yang terjaga sehingga viabilitas
benih tetap terjaga dengan baik.
Benih ram in termasuk kedalam benih yang relatit keeil dan lunak. Oalam hal
penyimpanan, ramin masuk ke dalam benih rekalsitran, yaitu tidak dapat dikeringkan dan
disimpan dalam waktu yang cukup lama. Menurut data dan informasi yang dikumpulkan,
benih ramin hanya dapat disimpan dalam beberapa minggu (Istomo, MUjijat, Bastoni).
Namun berdasarkan hasil review yang dibuat oleh Kartiko et a/ (1998), benih ramin yang
dimasukkan kedalam kantong plastik tertutup berisi serbuk gergaji lembab yang disimpan
pada ruang AC (suhu 18 - 20° C) merupakan teknik penyimpanan yang sesuai untuk
benih ramin. Oengan cara ini daya kecambah dapat bertahan diatas 80% selama tiga
bulan. Akan tetapi, untuk kegiatan di lapangan, kantong plastik diganti dengan wadah
kedap yang memiliki bentuk ruang tetap dan berukuran eukup besar, seperti ember plastik
bertutup atau kotak plastik bertutup. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah terjadinya
pembengkokan atau melintimya batang kecambah atau bibit pada saat perkembangan
kecambah atau bibit.
9
~
I
C. Persyaratan Tumbuh tingkat Perkecambahan dan Bibit
Bibit ramin dapat diperoleh dari biji dan bibit hasil permudaan alam. Beberapa
informasi terakhir menunjukkan bahwa bibit ramin dapat diperoleh melalui stek dengan
teknik tertentu. Cara pembuatan bibit dari biji dapat dilakukan dengan dua cara yaitu
melalui bedeng tabur kemudian disapih atau dipindahkan ke dalam polibag dan cara lain
adalah biji langsung ditanam dalam kantong-kantong plastik. Hasil uji coba yang
dilakukan menunjukkan bahwa pembuatan bibit dapat dilakukan dengan biji, cabutan
anakan alam, stek batang dan bahkan secara potensial dapat diperbanyak dengan teknik
kultur jaringan (Bastoni, 2005).
D. Persyaratan Lingkungan untuk Viabilitas Benih
Buah ramin berbentuk bulat memanjang-oval, berukuran 4 x 3,5 cm, memilki tiga
rongga. Setiap rongga bersisi satu biji. Buah yang masak sangat disukai oleh satwa hutan
terutama burung rangkong dan tupai. Oleh karena itu pemencarannya ke tempat yang
lebih jauh diduga atas bantuan burung. Buah tua ditandai oleh warna buah hijau
kemerah-merahan sampai kekuning-kuningan. Setelah buah dikumpulkan, bijinya segera
dikeluarkan, karena arillusnya sering mengandung ulat yang dapat menurunkan daya
kecambahnya. Penyeleksian biji didasarkan pada ukuran dan warna biji. Biji yang
berukuran besar, padat dan berwarna hitam umumnya menghasilkan daya kecambah
tinggi. Satu kg biji jumlahnya 200-300. Biji yang sudah terkumpul kemudian dianginangin, setelah kering dimasukkan ke dalam blek dicampur serbuk gergaji atau serbuk
arang dan ditutup rapat. Dengan cara demikian daya kecambahnya dapat dipertahankan
50-80% dalam waktu 15-30 hari.
Beberapa hat penting dalam pengadaan benih yaitu: (1) biji diambil dari pohon
yang pertumbuhannya baik, lurus, sehat, segar dan jelas asal usulnya, (2) biji bermutu
baik dan tidak mengandung ham a penyakit, (3) biji dapat diperoleh dari kebun sendiri atau
dibeli dari perusahaan yang ditunjuk oleh Departemen Kehutanan.
E. Penaburan Biji
Menurut hasil pengamatan lapangan, benih dapat disemai terdahulu di media
tabur lalu dipinahkan kedalam polybag (kantong plantik) atau langsung ditanam di dalam
polybag.
Penaburan benih ke dalam media tabur yang pernah dilakukan oleh
Partomihardjo (2007, bukan untuk penelitian) menunjukkan bahwa benih yang ditabur
terlebih dahulu kemudian dipindahkan kedalam polybag memiliki survival rate yang
rendah. Rendahnya usrvival rate ini diduga disebabkan oleh tingginya tingkat sensitifltas
perakaran ramin terhadap gangguan. Sebaliknya, benih yang ditabur langsung kedalam
polibag memiliki survival rate yang relatif tinggi.
Dalam hal penaburan benih, benih ditabur di bak penaburan berupa bak plastik
atau kayu yang berukuran sedang. Sedangkan media tabur dapat berupa tanah humus
atau gambut yang telah disaring dengan kawat kasa ukuran 0.2 mm. Menurut prosedur
pembuatan bibit yang sudah ada, maka pertumbuhan akan menjadi lebih baik bila diberi
tambahan pupuk TSP sebanyak 0.2 gr setiap bibit.
Di dalam penyiapan bibit, sebelum disemai benih yang akan disemai diberi
perlakuan terlebih dahulu yaitu diseleksi sebelum disemai dengan cara direndam dalam
air dingin selama 12-16 jam. Biji yang tenggelam umumnya adalah benih yang baik
sehinga dapat dipilih untuk digunakan. Biji ditabur dengan bagian lembaga menghadap
10
kebawah dalam bentuk larikan dan jarak satu sama lain ± 5 em, ditutup kembali dengan
media setebal biji. Cara lain adalah dengan menabur benih secara langsung ke dalam
kantong plastik (polibagl dengan cara yang sama sepertl dlatas. .Polibag dlben lubanglubang keeil seeukupnya pada bagian bawah dan pinggimya, kemudian diisi media yang
sama seperti yang digunakan pada bedeng tabur. Proses perkecambahan dilakukan
dibawah naungan dan penyiraman dilakukan setiap pagi dan atau sore hari.
F. Penyapihan.
Salah satu masa kritis di dalam penyiapan bibit ramin adalah pemindahan bibit
yang baru tumbuh ke dalam polibag. Penyebab utama kematian bibit yang baru tumbuh
ini adalah kondisi perakaran yang sangat rentan fragille terhadap kekenngan dan
kerusakan. Pengamatan menunjukkan bahwa anakan yang baru disapih umumnya masih
rentan terhadap perubahan lingkungan yang ekstnm. Pada kondisi normal, biji mulai
berkecambah setelah 3-5han setelah penaburan dan berlangsung sampai 30 han. Bibit
umur 15-30 han dapat langsung disapih ke dalam kantong plastik atau wadah bibit yang
telah disiapkan. Media terbuat dan campuran gambut dan pupuk atau tanah humus yang
dicampur dengan pasir halus dengan perbandingan 2: 1 ditambah pupuk NPK sebanyak 2
gr setiap bibit. Bibit yang sudah berdaun 5 dapat dipakai untuk penanaman (umur 10-12
bulan). Bibit dan permudaan alam dapat dilakukan dengan dua cara yaitu (1) anakan
alam yang tingginya dibawah 20 em (berdaun 2-4 helai) diambil dengan cara cabutan.
Untuk mengurangi penguapan daun dipotong setengah bagian dan akar tunjang yang
terlalu panjang dipotong, karena akar yang terlipat dapat menyebabkan kematian bibit.
Bibit tersebut ditanam dalam kantong plastik yang telah diisi media yang sama seperti
media yang digunakan dalam penyapihan bibit dan bedeng tabur. Bibit dipelihara
dipersemaian selama 4-5 bulan. (2) anakan alam yang tingginya diatas 35 em (berdaun 47 helai) dibuat stump dengan ukuran bagian akar 20 cm dan bagian batang 10-20 cm.
Stump ditanam dalam kantong-kantong yang sudah diisi media sedalam leher akamya.
Kegiatan benkutnya sama seperti yang dilakukan pada penyapihan bibit dan bedeng
tabur. Menurut panduan, beberapa hal yang perlu diperhatikan pada waktu penyapihan
adalah (1) pencabutan bibit dilakukan dengan hati-hati dan menggunakan alat cungkit dari
kayu atau bambu, (2) dijaga supaya akar tidak rusak/putus, (3) penyapihan dilakukan
pada pagi atau sore han (Anonim, 1990).
Berdasarkan data yang diperoleh oleh Istomo (2005) adalah sebagai benkut:
1. Pertumbuhan anakan ramin dan biji lebih baik dibandingkan dengan cabutan dan
stump. Pertumbuhan tinggi anakan ramin di bekas penimbunan kayu lebih baik
dibandingkan bekas penyaradan.
2. Pertumbuhan diameter dan tinggi anakan ramin pada gambut dalam lebih baik
dibandingkan dengan gambut dangkal.
3. Persen tumbuh anakan ramin di areal bekas tebangan (LOA) lebih baik dibandingkan
persen tumbuh anakan ramin di tempat terbuka.
4. Penanaman pada jalur lebih ekonomis dan lebih tinggi persen tumbuhnya
dibandingkan penanaman dalam blok.
5. Pertumbuhan tinggi anakan ram in lebih baik pada naungan sedang (35-65%) tetapi
pertumbuhan diameter pada tempat terbuka (>65%).
G. Penanaman
Menurut kebiasaan penanaman (transplanting) ramin di lapangan, tranplanting
dilakukan di tempat yang relatif terbuka, hal ini berdasarkan anggapan bahwa
pertumbuhan ramin memerlukan eahaya terbuka, meski pada· fase seedling ramin
11
~
I
membutuhkan naungan yang cukup (Warsopranoto, 1975). Untuk memenuhi anggapan
ini maka penanaman ramin dilakukan dengan memanfaatkan pelindung belukar atau
hutan sekunder. Percobaan penanaman yang dllakukan oleh Bastonl menunjukkan hal
yang relatif berbeda, dimana percobaan yang dilakukan di hutan sekunder di Hutan
Produksi Terbatas di Sumatra Selatan tampa diberi naungan menunjukkan pertumbuhan
yangsangat baik (Lihat Gambar, secara detail, pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan
ramin akan dibahas pada bagian berikutnya). Seperti diketahui ramin tumbuh dengan
baik pada iklim basah atau tipe iklim A menurut klasifikasi SCHMIT FERGUSON (1951).
Untuk menjamin pertumbuhan yang baik, pelaksanaan penanaman (transplanting)
umumnya dilakukan pada permulaan musim hujan. Penanaman dilakukan dengan posisi
batang ditanam tegak lurus dengan kemudian pada sekitar batang ditimbun tanah
sehingga menyerupai gundukan (Anomim, 1990). Gundukan tanah gambut dan bahanbahan lain berguna, disamping untuk menahan batang dan bibit secara keseluruhan,
gundukan juga berfungsi sebagai sumber hara bagi pertumbuhan ramin. Hal ini juga
berhubungan dengan beberapa fakta yang menunjukkan adanya hubungan antara
populasi ramin dengan tingkat ketebalan gambut. Menurut pengamatan fstomo (1998),
semakin teballapisan gambut semakin banyak populasi ramin ditemukan di tempat itu.
~I
i
~
,
~
Pengamatan lain yang dilakukan Bastoni (2005) terhadap respon tanaman
pengayaan di areal bekas tebangan menunjukkan bahwa penanaman pengayaan
(enrichment planting) pada areal bekas tebangan dengan sistem jalur (line planting)
adalah yang terbaik dan apabila penanaman dilakukan di tempat terbuka maka
penanaman dengan sistem jalur membutuhkan naungan tumbuhan bawah atau semak
belukar.
G. Perneliharaan
Ramin membutuhkan pemeliharaan yang intensif sampai umur 2 tahun, karena
berdasarkan percobaan setelah 2 tahun ditanam dengan tanpa pemeliharaan yang
intensif, baik bibit dari persemaian maupun dari cabutan atau stump menunjukkan daya
hldup 30%. Rlap tinggi yang paling balk berasal dari biblt persemaian, yaitu rata-rata 18
cm sedangkan dari cabutan dan stump sekitar 7 cm (Soerianegara. 1972).
1
-'
--1"
12
IV. PERSYARATAN TUMBUH ANAKAN, OLEH TAJUDIN EDY KOMAR
A.
Pada Tingkat SemailPersemaian
Media tumbuh
Definisi: Media merupakan bagian paling penting bagi pertumbuhan suatu jenis mulai
dari tingkat anakan sampai dengan pohon dewasa. Media memiliki fungsi utama sebagai
holding berbagai unsur yang dlbutuhkan dalam pertumbuhan sepertl air, mineral, okslgen
dan lain-lain termasuk struktur media yang memungkinkan berdiri tegaknya suatu anakan
atau pohon dewasa.
II
,-
c--
,
Hasil Penelitian: Menurut beberapa hasil penelitian, media pertumbuhan untuk ramin
pada tingkat anakan dapat digunakan dari berbagai material, meski penggunaan material
tersebut menghasilkan pertumbuhan yang relatif beragam terhadap anakan ramin. Media
yang digunakan berupa tanah gambut mumi (Muin, 2003) atau gambut + tanah mineral +
sekam padi dengan perbandingan 3:1:1 (v/v) (Fithri, 1997). Gambut mumi, gambut +
pasir, gambut + dolomit, gambut + pasir + dolomit (Daryono, 1994). Campuran media
serbuk gergaji + tanah mineral (1:1) vlv atau serbuk gergaji + tanah mineral perbandingan
(3:1) v/v (Soerianegara et ai, 1996). Campuran media serbuk gergaji + tanah mineral
(1: 1) v/v atau serbuk gergaji + tanah mineral perbandingan (3: 1) v/v tidak berpengaruh
nyata terhadap pertumbuhan bibit ram in selama 4,5 bulan dipersemaian (Soerianegara et
ai, 1996). Campuran gambut + tanah mineral dengan perbandingan (3:1) v/v cukup baik
untuk menambah hara media pembibitan. Pada media tanah gambut mumi pertumbuhan
tinggi lebih lambat daripada menggunakan media gambut yang dicampur dengan tanah
mineral atau pasir, karena tanah mineral dapat menyediakan hara bagi tanaman. Gambut
mengandung unsur hara yang tidak tersedia bagi tanaman, karena sebagian unsur hara
tersebut masih tersimpan dalam bentuk bahan organik penyusun gambut tersebut,
sehingga penambahan tanah mineral (aluvial) akan meningkatkan input hara bagi
tanaman (Anonim, 2002).
Analisis: Percobaan ini menggunakan anakan yang berasal dari biji yang telah
dikumpulkan dari berbagai sumber. Namun tidak dapat ditelusuri secara pasti asal benih,
keadaan populasi asal dan penanganan. Demikian pula dengan anlisa kandungan hara
dari masing-masing media. Sehingga hasil yang satu dengan yang lain tidak dapat
dibandingkan. Penelitian mengenai penggunaan berbagai media terse but masih sangat
terbatas dengan replikasi yang juga masih sang at terbatas sehingga secara keseluruhan
hasil tersebut belum konklusif.
Catatan: Penambahan bahan lain berupa tanah mineral dan pasir memberi pengaruh
positif terhadap pertumbuhan anakan ramin. Namun belum dapat dipastikan secara
statistik.
Intensitas Cahaya
Definisi: Cahaya yang dipancarkan oleh matahari sangat dibutuhkan oleh tumbuhan
untuk berbagai kebutuhan pertumbuhan, terutama untuk melakukan proses fotosintesa
yang menghasilkan karbohidrat dan energi lain bagi sutu pertumbuhan. Jenis cahaya
yang dibutuhkan adalah intensitas dan kualitas cahaya. Intensitas terdlri dari jumlah
cahaya yang diterima dan lamanya cahaya yang terpancar, sementara kualitas cahaya
13
adalah panjang gelombang dari cahaya tersebut yang dibutuhkan untuk pertumbuhan.
Hasll Penelitian: Bibit ramin di persemaian diberi perlakuan dengan intensitas cahaya
(100%, 45%, 35% dan 25%), menunjukkan bahwa intensitas cahaya berpengaruh
terhadap tinggi bibit ramin. Ramin yang tumbuh dengan intensitas cahaya 35% sampai
45% menunjukkan pola pertumbuhan yang lebih cepat daripada yang tumbuh di tempat
terbuka atau menerima intensitas cahaya kurang dari 25%. Kondisi ini menggambarkan
bahwa ramin akan tumbuh baik di persemaian, jika mendapat intensitas cahaya berkisar
antara 35% sampai 45%. Intensitas cahaya juga berpengaruh terhadap diameter bibit
ramin, dim ana bibit yang disemaikan di bawah intensitas naungan 35 sampai 45%
memilki perkembangan yang lebih baik. Ukuran daun juga dipengaruhi oleh intensitas
cahaya, bibit ramin yang menerima intensitas cahaya rendah cenderung membentuk
daun yang lebih lebar dibandingkan dengan yang menerima intensitas cahaya yang lebih
tinggi. Semakin rendah intensitas yang diterima oleh ramin, semakin tebal daun yang
terbentuk. Dengan tebalnya daun yang terbentuk, maka energi sinar yang dapat diterima
lebih banyak dan disimpan dalam waktu yang lama (Anonim, 2002).
Berdasarkan penelitian Hendromono (1999), kondisi lingkungan yang sesuai bagi
stek ramin adalah ruangan berpengabutan dengan suhu udara, kelembaban reatif dan
intensitas cahaya di dalam rak pada siang hari masing-masing antara 25-29,5° C, 96100% dan 258-6026 lux. Pada kondisi ruang seperti itu 90% stek ram in yang tidak diberi
hormon mampu berakar. Untuk memperbaiki sistem perakaran stek ram in di rumah kaca
tanpa pengabutan cukup diberi hormon IBA 500 ppm, sedangkan untuk meningkatkan
jumlah akar stek ramin dalam ruangan berpengabutan, dapat diberi hormon IBA 1000
ppm. Pemberian hormon diatas dosis 500 ppm dapat menurunkan prosentase bertunas,
jumlah daun pada tunas dan panjang tunas.
!
~
]
-~
Respon spesies tanaman asli habitat di bawah naungan terhadap intensitas
cahaya:
(1) spesies tersebut mempunyai laju fotosintesis yang jauh lebih rendah pada cahaya
matahari yang terang dibandingkan dengan tumbuhan yang tumbuh di tempat
terbuka.
(2) respon fotosintesisnya mencapai jenis pada tingkat radiasi yang jauh lebih rendah
dibandingkan dengan spesies lainnya.
(3) pada tingkat cahaya yang sang at rendah, mereka bisa berfotosintesis pada laju yang
lebih tinggi dibandingkan dengan spesies lainnya.
(4) titik kompensasi cahayanya sang at rendah. Adaptasi terhadap perbedaan tingkat
intensitas cahaya (irradiance) dapat dilihat dari morfologi dan fisiologi daun. Daun
naungan umumnya lebih tipis dan memiliki luas permukaan daun yang lebih lebar
daripada daun cahaya dengan klorofil yang lebih banyak dan stomata yang lebih
sedikit perunit area. Daun yang tumbuh pada intensitas cahaya yang rendah
menghasilkan daun-daun naungan yang dirancang untuk mengoptimalkan fotosintesis
(Muin, 2004).
Intensitas cahaya berpengaruh terhadap tingkat kolonisasi Cendawan Mikoriza
Arbuskula (CMA). Penelitian Muin (2003) mengindikasikan adanya tingkat kolonisasi
CMA tertinggi pada anakan ramin di persemaian terjadi pada intensitas cahaya 7320 lux
sampai dengan 9990 lux. Tingkat kolonisasi terendah di persemaian pada intensitas
cahaya kurang dari 5570 lux atau lebih dari 16300 lux.
I
,---"
I
--!
I
-'
14
I
~
Analisis: Secara khusus belum ada? Penelitian langsung perbedaan intensitas cahaya
terhadap pertumbuhan anakan ramin (?) tetapi pengaruhnya terhadap perkembangan
kolonisasi mikoriza, sebagai mikroba tanah yang cukup berperan dalam pertumbuhan
sebagian besar tumbuhan.
Afikorlza
Deflnlsi:
Mikoriza berasal dari kata Yunani yang berarti jamur akar, yaitu merupakan suatu
kerjasama yang saling menguntungkan antara jamur tertentu dengan akar tanaman
tingkat tinggi. Ditinjau dari struktur anatominya, secara umum dapat dibedakan tiga tipe
mikoriza: ektomikoriza, endomikoriza dan ektendomikoriza.
Ektomikoriza dicirikan oleh adanya selubung akar (mantel), jaringan hartig dan
benang-benang hipa. Benang-benang hipa tersebut keluar dari mantel membentuk
zhizomorph, sebagian masuk diantara sel-sel epidermis dan korteks membentuk jaringan
hartig. Ektomikoriza banyak ditemukan pada berbagai jenis pohon hutan, seperti dari
genus Pinus, Shorea, Eucalyptus dan lain-lain. Kebanyakan jamur pembentuk
ektomikoriza dari kelas Basidiomycetes, beberapa dari kelas Gasteromycetes dan
Ascomycetes.
Endomikoriza dicirikan oleh masuknya benang-benang hipa ke dalam sel-sel
korteks dan tidak ditemukan mantel. Beberapa genus pohon hutan yang akarnya dapat
berasosiasi dengan jamur pembentuk endomikoriza antara lain, Araucar/a, Agathis,
Khaya, Acacia, Leucaena dan Podocarpus. Jamur pembentuk endomikoriza umumnya
dari kelompok Phycomycetes.
Ektendomikoriza merupakan kombinasi antara ekto dengan endomikoriza,
dicirikan oleh adanya mantel (kadang-kadang tidak ada), jaringan hartig dan hipa.
Benang-benang hipa ada yang masuk ke dalam sel-sel korteks, ada yang diluar sel. Tipe
ini ditemukan pada beberapa jenis konifer.
r,
Keuntungan utama yang dapat diperoleh dengan adanya mikoriza pada akar
tanaman adalah dapat meningkatkan penyerapan unsur hara tertentu, terutama
phosphor. Hasil penelitian pada bibit Pinus strobus dan Pinus kesiya yang diinokulasi
dengan jamur pembentuk ektomikoriza menunjukkan terjadi peningkatan penyerapan
phosphor maisng-masing sebesar 234% dan 110% dibandingkan dengan yang tidak
diinokulasi. Demikian pUla penyerapan nitrogen dan kaliumnya lebih tinggi pada bibit
berektomikoriza. Keuntungan lain dari adanya mikoriza dapat meningkatkan ketahanan
tanaman terhadap kondisi kering dan serangan patogen tertentu. Beberapa jamur
pembentuk mikoriza dapat menghasilkan zat hormon seperti auxin, cytokinin, dan
giberelin yang penting bagi tanaman.
Hasil Pene/itian
Hasil pengamatan di persemaian Rantepao, Tana Toraja, Sulawesi Selatan
menunjukkan bahwa persen jadi bibit P merkussi umur 11 bulan yang bermikoriza
(95,84%) lebih tinggi daripada bibit tidak bermikoriza (70,39%). Pertumbuhan tinggi dan
diameter bibit bermikoriza juga lebih cepat daripada yang tak bermikoriza. Oleh karena itu
15
ri
~'
inokulasi (penularan) jamur pembentuk mikoriza perlu dilakukan, terutama pada
persemaian yang belum pemah ditumbuhi jenis tanaman tersebut.
8eberapa cara inokulasi dapat dilakukan: (1) dengan menggunakan tanah
bermikoriza, (2) bibit bermikoriza, (3) akar berimkoriza (4) biakan mumi, (5) spora jamur
pembentuk mikoriza, (6) kapsul atau tablet berspora.
Inokulasi dengan menggunakan tanah bermikoriza mempunyai keuntungan
mudah dilakukan, tetapi beberapa kerugian antara lain, diperlukan biaya tmsportasi tinggi
dan kurang praktls jlka loksl persemaian sangat jauh dari sumber inokulasi, ada resiko
ikut terbawanya penyakit atau patogen menimbulkan penurunan kesuburan pada lahan di
bawah tegakan Pinus yang diambil tanahnya. 8eberapa hal yang perlu diperhatikan jika
menggunakan tanah bermikoriza sebagai sumber inokulasi (1) selama penyimpanan dan
pengangkutan, tanah harus lembab dan tidak kena sinar matahari langsung, (2) tanah
harus digunakan secepat mungkin tidak boleh lebih dari delapan hari, (3) tanah yang
mengandung penyakit, parasit atau patogen tidak boleh digunakan sebagai sumber
inokulum.
Inokulasi menggunakan bibit bermikoriza, terutama baik untuk bibit dalam
bedengan, untuk bibit dalam kantong, pembentukan mikoriza akan tertunda sampai akar
keluar dari kantong dan berhubungan dengan akar bermikoriza dari pohon induk.
Kerugian cara ini, ada resiko kematian bibit selama pengangkutan jarak jauh dan bibit
tersebut baru berfungsi sebagai sumber inokulum setahun kemudian, setelah akamya
berkembang.
I
Inokulasi dengan menggunakan akar bermikoriza, nampaknya tidak dapat
digunakan dalam skala besar karena diperlukan banyak tenaga dan waktu untuk
mengumpulkan sejumlah besar akar bermikoriza.
----.J
i
~
I
Inokulasi dengan biakan mumi ada beberapa keuntungan, seperti jenis jamur
dapat dipilih yang paling efisien, resiko terbawa penyakit dapat dihindarkan, lebih mudah
dalam pengangkutan dan inokulum dapat dibiakkan di laboratorium, tetapi memerlukan
biaya investasi tinggi untuk perlengkapan laboratorium dan sulit membiakkan jamur
secara mumi, sehingga cara ini masih terbatas pada percobaan ilmiah.
--.-J
Inokulasi dengan menggunakan spora mempunyai beberapa keuntungan,
pengangkutannya mudah, spora dapat disimpan lama pada suhu rendah, satu gram
spora dapat mengandung lebih dari satu milliar spora. Kerugiannya antara lain
terbentuknya mikoriza lebih lama dibandingkan dengan menggunkan bahan vegetatif
sebagai sumber inokulum, sehingga ada kemungkinan jamur lain dapat mendahului
masuk dan mengurangi efektifitas spora tersebut.
Inokulasi dengan menggunakana kapsul atau tablet berspora, mempunyai
keuntungan, mudah dalam pengangkutan, mudah diinokulasikan, mengurangi resiko
terbawanya penyakit. Kerugiannya memerlukan biaya tambahan untuk membeli kapsul
atau alat pembuat tablet dan pembentukan mikoriza lebih lama.
Jika dibandingkan antara keuntungan dan kerugian dari beberapa cara inokulasi
tersebut, cara inokulsi dengan menggunakan spora, tablet atau kapsul berspora
mempunyai prospek baik untuk dikembangkan di Indonesia (Hendromono 1986).
Tu~aman (2005) melaporkan bahwa inokulasi cendawan ektomikoriza
I
(Pisolithus
-.J
arhizus dan Sclerodenna) dapat meningkatkan berat basah dan berat kering tunas
Shorea pinaga. Inokulasi keduanya juga dapat meningkatkan tinggi tunas dan diameter
~
16
I
batang. Pemberian Pisolithus arhizus mampu meningkatkan jumlah daun. Peningkatan
pertumbuhan S pinaga dapat mencapai 86% setelah 7 bulan diinokulsi dengan cendawan
P arhizus dan Scleroderma.
Inokulasi CMA oleh (Gigaspora clarum dan Gigaspora decipiens) mampu
meningkatkan penyerapan unsur hara N dan P pada anakan Dyera polyphylla dan
Aquilaria filaria, terjadi korelasi positif antara kandungan N dan berat kering tunas pada D.
polyphylla dan A. filaria. Pada anakan D. Polyphy/la, inkulasi dengan kedua CMA (G
clarum dan G decipiens) mampu meningkatkan tinggi tunas diameter batang, berat kering
akar dan berat kerlng tunas. Sedangkan pada A. filaria hanya perlakuan G clarum yang
mampu meningkatkan tinggi tunas dan diameter batang (Turjaman, 2006).
!
I
Turjaman (2006) mengemukakan hasil penelitiannya yang berjudul Peningkatan
Pertumbuhan dan Pengambilan Nutrien bagi Anakan Benih Shorea seminis yang
diinokulasi dengan dua kulat Ektomikoriza. Hasil yang diperoleh adalah anakan benih S.
seminis yang diinokulasi dengan P. arhizus dan S. columnare mampu meningkatkan berat
kering, berat basah dan tinggi tunas Shorea seminis. Inokulasi miselium kedua kulat
ektomikoriza mampu meningkatkan penyerapan unsur N dan P pada Shorea seminis,
sedangkan inokulasi miselium P. arhizus hanya mampu meningkatkan penyerapan P.
terjadi korelasi positif antara penyerapan N dan berat kering tunas Shorea seminis.
Tingkat ketergantungan mikoriza terdiri dari tiga tingkat, yaitu:
1. Tanaman bennlkoriza secara obllgat. Merupakan spesies tanaman tidak bisa hidup
I
!
lama dan tumbuh secara normal tanpa berasosiasi dengan cendawan mikoriza dari
dalam tanah (termasuk pada tanah yang subur). Spesies ini secara konsisten
membutuhkan koloisasi mikoriza melalui sebagian besar akar-akar mudanya.
2. Tanaman bennlkoriza secara fakultatif. Merupakan spesies tanaman yang
memanfaatkan keuntungan dari mikoriza hanya pada tanah-tanah habitat alamnya
yang tidak subur atau tingkat kolonisasinya rendah (kurang dari 25%).
3. Tanaman non mikoriza. Merupakan spesies tanaman yang secara konsisten tidak
membutuhkan kolonisasi mikoriza, setidak-tidaknya pada waktu masih muda atau
dalam keadaan sehat (Muin, 2004).
Berdasarkan penelitian Muln (2004) menyatakan bahwa rata-rata pertambahan
tumbuh dan jumlah daun tanaman yang diinokulasi mikoriza lebih cepat dibandingkan
dengan tidak bermikoriza. Genus CMA yang diinokulasikan adalah (Acaulospora sp,
Gigaspora sp1, Glomus sp1 dan Glomus sp2). Dari keempat genus tersebut Glomus sp
dan Acaulospora sp merupakan genus yang paling efektif untuk diinokulasikan pada
anakan ramin yang akan ditanam pada areal bekas tebangan.
Pemberian unsur mikoriza pada ramin di persemaian dapat meningkatkan
pertambahan tinggi anakan (Saragih, 1998).
Muin (2003) melaporkan bahwa inokulasi CMA pada anakan ramin di persemaian
dapat meningkatkan pertumbuhan tinggi anakan ramin sebesar 110,15%, diameter 125%,
berat basah 83,53%, berat kering 109,95% dlbandingkan dengan kontrol.
!,
17
!I
I
I
~
Nutrition
Definlsl
Hasil Penelitian
Fosfat alam chrismast dengan dosis 0,5 glpolybag dapat meningkatkan peranan
CMA dalam memacu pertumbuhan anakan ramin di persemaian, dan menyebabkan
serapan P meningkat, serta indeks mutu anakan ramin meningkat dari 0,15 menjadi 0,23
(Muin, 2003)
i
~j
Xaverius F (1998) menyatakan bahwa pemberian pupuk NPK 1-3 9 tidak
berpengaruh nyata terhadap pertambahan tinggi permudaan, diduga disebabkan fiksasi
(diikat) oleh unsur lain dan hilangnya unsur hara tanaman tersebut karena pencucian.
Pemberian pupuk NPK temyata memberikan pengaruh yang kurang baik terhadap
pertambahan tinggi dan diameter anakan ramin, tetapi justru perlakuan tanpa pupuk
memberikan pertumbuhan yang lebih baik. Pemberiaan mikoriza dalam bentuk tablet
temyata mampu meningkatkan pertambahan tinggi semai (Saragih, 1998).
Sedangkan menurut Fithri (1997) pertambahan tinggi tanaman ramin sangat baik
pada pemakaian NPK dengan dosis 4 glbibit, menggunakan campuran media tanah
gambut, sekam padi dan tanah mineral.
Rootone F berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan ramin, karena rootone F
mengandung auksin NAA dan IBA yang berperan dalam proses pembelahan sel,
pembesaran sel dan diferensiasi sel yang terjadi balk pada tunas maupun pada akar
anakan ramin. Oosis Rootone F yang terbaik untuk persentase hidup dengan dosis 50
mg, sedangkan dosis yang terbaik bagi pertambahan tinggi dan pertambahan jumlah akar
adalah 150 mg (Oeman, 1998).
i
-.--i
I
--.J
Menurut Xaverius (1998), pemberian kapur sebanyak 4 gr tidak dapat
meningkatkan pH tanah sampai pada pH yang sesuai agar unsur hara dapat diserap
tanaman dan tidak terjadi fiksasi terhadap usur hara di dalam media.
B. Persyaratan Tumbuh Hasil Pengamatan Lapangan
Media Tumbuh
Definisi
i
I
Menurut Bismark et al (2005), hutan rawa yang mempunyai ketebalan gambut
lebih dari 500 cm, ramin tumbuh sangat baik dengan kerapatan 30 pohonlha. Pohon
ramin tidak ditemukan pada tanah-tanah podsolik yang tidak bergambut.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian di Kalimanatan Tengah oleh Istomo (Blsmark et a/ 2005),
menunjukkan bahwa pohon ramin baru dijumpai pada hutan rawa yang bergambut
setebal 120 cm. Semakin tebal lapisan gambutnya, maka semakin banyak pohon ramin
dijumpai. Bahkan pada lahan gambut dengan ketebalan lebih dari 350 cm, kerapatannya
mencapai 55 pohonlha dengan volume batang 105,48 m3lha.
18
~
r--
I
Sebagian besar jenis ramin secara alami tumbuh di tempat-tempat yang tidak
tergenang air, namun untuk Gonystylus bancanus justru lebih menyukai hutan rawa yang
bergambut tebal (Sidiyasa, 2005).
Intensitas Cahaya
Definlsi
Percobaan penanaman di lapangan diberi perlakuan pembebasan vertikal,
pembebasan horizontal, dan kontrol sesuai kondisi alami.
:I
rI
Berdasarkan hasil penelitian Supriyanto & Hamzah (1983), menyatakan bahwa
anakan ramin yang terkena sinar matahari secara langsung akan mengalami mati pucuk.
Kematian berlangsung sampai batas dimana terdapat naungan. Apabila sistem perakaran
masih baik, akan timbul cabang-cabang baru dari dalam tanah dan berfungsi sebagai
batang pokok.
Hasil Penelitian
Hasil penelitian Muin (2003) menyatakan bahwa, tingkat kolonisasi CMA
(Cendawan Mikoriza Arbuskula) tertinggi pada anakan ramin yang tumbuh secara alami
(di lapangan) dengan intensitas cahaya 7150 lux sampai dengan 9500 lux. Tingkat
kolonisasi CMA menjadi sangat rendah pada intensitas cahaya kurang dari 1670 lux dan
lebih dari 14000 lux.
Anakan yang ditanam pada jalur tanaman, daunnya lebih segar dan berwama
hijau, sedangkan anakan yang ditanam di tempat terbuka daunnya agak kekuningkuningan (Sukaryanto et a/1993).
Yuningsih (2003) melaporkan bahwa anakan ramin hasil stek yang ditanam di
areal virgin forest memiliki kualitas yang lebih baik, yakni lebih segar dan sedikit
mengalami perubahan fisik (tinggi, diameter, tunas daun), sebaliknya anakan ramin yang
ditanam di areal yang selalu tergenang air menunjukkan penurunan kualitas tanaman
(banyak
terjadi
perubahan
fisik).
Sistem Penanaman
Definisl
r-!
Hasil Penelitian
Anakan ramin yang ditanam pada jenis tanah aluvial, jalur tanam selebar 0,5 m
dan jarak tanam 5 x 2 m memberikan pertumbuhan yangpaling baik yaitu 12,285 cmlth
untuk pertumbuhan tinggi, sedangkan untuk pertumbuhan diameter tidak begitu cepat.
Jalur tanam dapat diarahkan ke Utara Selatan atau Timur Barat (Supriyanto & Hamzah,
1983).
Teknik penanaman pada percobaan di lapangan diberi perlakuan bumbung
bambu, guludan dan kontrol. Luas lahan yang digunakan untuk perlakuan teknik
penanaman adalah 4 ha. Lahan tersebut dibagi menjadi 4 petak penanaman, dimana
masing-masing petak berukuran 100 m x 100 m dan setiap petak ditanam pohon yang
berbeda (Ramin, Jelutung, Nyatoh dan Merapat).
Bibit ditanam dalam bentuk jalur-jalur (line planting) dengan arah Utara-Selatan.
Jarak antar jalur 4 m, lebar jalur 1,5 m dan jarak antar pohon dalam jalur adalah 3 m.
19
Lahan penanaman seluas 15 ha dibagi menjadi tiga bel as petak, masing-masing petak
berukuran 100 m x 100 m. Petak tersebut terdiri dari 25 jalur dan bibit yang ditanam
sebanyak 1000 bibitlha.
Perlakuan Penyiangan
Oeflnlsl
Hasil Penelitian
Percobaan pemeliharaan tanaman yang dilakukan (Bastoni 2005) dengan cara
pemberian pupuk sebanyak 2 kali per tahun pada awal musim hujan dan akhir musim
kemarau sampai tanaman berumur 3 tahun. Pupuk yang digunakan NPK tablet dengan
dosis 20 gr (2-3 tablet) per tanaman setiap periode pemupukan (Bastoni, 2005).
Dilakukan penyiangan pada gulma, semak belukar, liana, dan tumbuhan bawah dari jenis
paku tanah (Nephro/epis exa/tata dan Stenoch/aena pa/ustris). Di hutan rawa gambut
pertumbuhan gulma dan tumbuhan pengganggu lainnya sang at cepat karena air tersedia
sepanjang tahun. Serta dilakukan perbaikan guludan yang telah rusak.
I
I
~
Anakan ramin yang tumbuh di bawah tegakan sisa· dan tidak terkena belitan liana
atau gulma, pertumbuhan tinggi anakan tebih cepat lebih kurang 2,25 m setelah berumur
3 tahun. Jalur tanaman dibersihkan setiap 3 butan atau sesering mungkin (Supriyanto &
Hamzah, 1983).
Bastoni (1998) melaporkan bahwa teknik pemeliharaan dengan perlakuan
pembebasan tumbuhan bawah dapat meningkatkan pertambahan diameter dan tinggi
tanaman ramin yang tumbuh secara alami.
Keteba/an Gambut
Definisi
Beberapa pengamatan lapangan yang pemah dilakukan menunjukkan respon
yang berbeda terhadap pertumbuhan anakan sebagai akibat dari adanya perbedaan
ketebalan gambut. Istomo (200511) menyimpulkan bahwa percobaan penanaman yang
dilakukan pada tanah yang relatif tebal pada umumnya menunjukkan pertumbuhan yang
lebih baik dibandingkan penanaman yang dilakukan di lokasi dimana ketebalan gambut
lebih dangkal. Namun hasil ini perlu pengujian lebih lanjut karena ketebalan gambut
bukan merupakan satu-satunya faktor penentu di dalam prose pertumbuhan anakan.
Faktor penentu lain adalah ketersediaan unsur hara (nutrients), keberadaan jazad
pengurai dan lain sebagainya.
I
~
I
~
20
IITO PD 426/06.Rev. 1 (F)
Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan dan Konservasi Alam
Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan
JJ. Gunung Batu No. 5 Bogor - Indonesia
Phone
: 62-251-8633234
F a x : 62-251-8638111
Email
: [email protected]
Fly UP