...

Menjawab Salam Ketika Tengah Membaca Al

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Menjawab Salam Ketika Tengah Membaca Al
Menjawab Salam Ketika Tengah
Membaca Al-Qur'an
MENJAWAB SALAM KETIKA TENGAH MEMBACA AL-QUR’AN
Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan ‫حفظه الله‬
Pertanyaan: Ketika saya sedang membaca Al-Qur’an kemudian
datang seseorang memberi salam kepadaku. Apakah aku menjawab
salamnya ataukah aku menyempurnakan bacaan ayat Al-Qur’an?
Jawaban:
Sempurnakan dulu ayat yang sedang kamu baca, kemudian jawab
salamnya. Tidak disyariatkan memberi salam kepada seorang yang
sedang membaca Al Qur’an, dikarenakan bisa menyibukkan dia dan
memutus bacaannya. Akan tetapi, berilah salam ketika dia telah
selesai membaca Al-Qur’an.
Sumber: http://www.alfawzan.af.org.sa/node/14670
Alihbahasa : Syabab Forum Salafy
***
***
‫رد اﻟﺴﻼم أﺛﻨﺎء ﻗﺮاءة اﻟﻘﺮآن‬
‫ﻟﺸﻴﺦ ﺻﺎﻟﺢ اﻟﻔﻮزان ﺣﻔﻈﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ‬
:‫اﻟﺴﺆال‬
‫إذا ﻛﻨﺖ اﻗﺮأ اﻟﻘﺮآن ﺛﻢ ﺟﺎء ﺷﺨﺺ وﺳﻠﻢ ﻋﻠﻲ ﻫﻞ أرد ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼم أم‬
‫أﻛﻤﻞ اﻵﻳﺔ؟‬
‫ واﻟﺬي ﻳﻘﺮأ اﻟﻘﺮآن ﻻ ﻳﺸﺮع‬،‫ أﻛﻤﻞ اﻵﻳﺔ ﺛﻢ رد ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺴﻼم‬:‫اﻟﺠﻮاب‬
‫اﻟﺴﻼم ﻋﻠﻴﻪ ﻷن ﻫﺬا ﻳﺸﻐﻠﻪ وﻳﻘﻄﻊ ﻋﻠﻴﻪ اﻟﻘﺮاءة ﻓﺈذا ﻓﺮغ ﻣﻦ اﻟﻘﺮاءة‬
.‫ﺳﻠﻢ ﻋﻠﻴﻪ‬
Amalan yang Afdhal Dikerjakan
oleh Seorang yang Bersegera
Datang Melaksanakan Sholat
Jum'at
AMALAN YANG AFDHAL DI KERJAKAN OLEH SEORANG YANG BERSEGERA
DATANG MELAKSANAKAN SHOLAT JUM’AT
Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan ‫حفظه الله‬
Pertanyaan: Jika seorang muslim pergi untuk melaksanakan
sholat jum’at dengan bersegera, apa yang afdhol untuk dia
kerjakan, membaca al-Qur’an atau melaksanakan sholat sunnah
beberapa roka’at?
Jawaban:
Yang pertama dia kerjakan adalah sholat tahiyyat masjid,
kemudian boleh baginya jika dia ingin menambah setelah itu
beberapa roka’at sholat sunnah dan ini baik, dan jika dia
menggabungkan antara sholat dan membaca al-Qur’an maka ini
lebih baik.
Sumber: http://alfawzan.af.org.sa/node/15544
Alih bahasa:
***
Syabab Forum Salafy
***
:‫اﻟﺴﺆال‬
‫ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ إﻟﻰ اﻟﺮﻛﻌﺎت إذا ﺟﺎء اﻟﻤﺴﻠﻢ ﻟﺼﻼة اﻟﺠﻤﻌﺔ ﻣﺒﻜﺮا أﻳﻬﻤﺎ‬
‫أﻓﻀﻞ ﻗﺮاءة اﻟﻘﺮآن أو اﻟﺘﻨﻔﻞ ﺑﺮﻛﻌﺎت؟‬
‫اﻟﺠﻮاب‬
‫ وإذا أراد أن ﻳﺰﻳﺪ ﺑﻌﺪ اﻟﺘﺤﻴﺔ ﻣﺎ ﺷﺎء‬,‫ أوﻻ ﻳﺼﻠﻲ ﺗﺤﻴﺔ اﻟﻤﺴﺠﺪ‬:
, ‫ ﻓﻬﺬا ﺷﻲء ﻃﻴﺐ‬,‫اﻟﻠﻪ ﻣﻦ اﻟﻨﻮاﻓﻞ‬
. ‫وإذا ﺟﻤﻊ ﺑﻴﻦ أن ﻳﺼﻠﻲ ﺗﺎرة وﻳﻘﺮأ اﻟﻘﺮآن ﺗﺎرة ﻓﻬﺬا أﺣﺴﻦ‬
Diantara Bid'ah-bid'ah Bulan
Rajab
Di pintu bulan Rajab…
kebid’ahan… Bacalah….
Agar
Anda
tidak
terjatuh
dalam
DI ANTARA BID’AH-BID’AH BULAN RAJAB
Samahatul Imam al-‘Allamah al-Faqih,
rahimahullah ta’ala mengatakan,
Ibnu
Utsaimin
Hadits-hadits yang menyebutkan tentang keutamaan shalat
pada bulan Rajab atau keutamaan puasa pada bulan Rajab,
semuanya lemah sekali.
Bahkan, sebagian ulama mengatakan bahwa hadits-hadits
tersebut dipalsukan dan didustakan atas nama Nabi
shallallahu alaihi wa sallam. Karena itu, tidak boleh
ada seorang pun yang bersandar pada hadits-hadits ini.
Tidak boleh ada seorang pun yang bersandar pada haditshadits tersebut sehingga mengkhususkan berpuasa atau
melaksanakan shalat (tertentu) pada bulan Rajab. Sebab,
hal itu adalah bid’ah. Padahal Nabi shallallahu alaihi
wa sallam telah bersabda, “Setiap bid’ah adalah
kesesatan, dan setiap kesesatan itu di neraka.”
Ada hadits yang menyebutkan bahwa dahulu apabila
memasuki bulan Rajab, Nabi shallallahu alaihi wa sallam
berdoa, “Ya Allah, berilah barakah untuk kami pada bulan
Rajab dan Sya’ban, dan sampaikanlah kami pada bulan
Ramadhan.”
Akan tetapi, hadits ini—wahai saudara-saudara, dengarkan
apa yang aku ucapkan—adalah hadits lemah dan mungkar,
tidak sahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Oleh karena itu, tidak sepantasnya seseorang berdoa
dengan doa ini. Sebab, doa ini tidak sahih dari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sungguh, aku katakan kepada kalian—dalam rangka
menjelaskan kebenaran—bahwa tidak ada shalat khusus pada
bulan Rajab, tidak ada pula ada puasa khusus, baik pada
hari pertama maupun pada hari-hari yang tersisa.
Seseorang tidak boleh mengkhususkan waktu atau tempat
tertentu untuk melakukan ibadah yang tidak dikhususkan
oleh Allah dan Rasul-Nya padanya. Sebab, kita beribadah
dengan syariat Allah, bukan dengan
kecenderungan, dan perasaan kita.
hawa
nafsu,
Kewajiban kita ialah mengatakan bahwa kita mendengar dan
taat. Kita mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Allah
dan meninggalkan apa yang dilarang oleh-Nya. Kita tidak
boleh mensyariatkan untuk diri kita sendiri berbagai
ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya.
Wahai kaum muslimin, sungguh amalan-amalan yang ada
dalam Kitabullah dan hadits-hadits yang sahih dari
Rasulullah sudah mencukupi dari berbagai hal yang
disebutkan dalam hadits-hadits yang lemah, palsu, atau
didustakan atas nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam.
Apabila seseorang mengibadahi Allah dengan ibadah yang pasti
bahwa itu adalah syariat Allah, sungguh ia telah beribadah
kepada Allah di atas bashirah (ilmu). Dia mengharapkan pahala
dari Allah dan takut akan siksa-Nya.
Ya Allah, kami meminta kepada-Mu agar memberi kami rezeki
berupa ilmu yang bermanfaat, amal yang saleh, rezeki yang baik
nan luas, dan anak keturunan yang baik. Wahai Rabb semesta
‫‪alam, ya Allah, ajarilah kami (ilmu) yang bermanfaat bagi‬‬
‫‪kami, berilah manfaat kepada kami dengan ilmu yang Engkau‬‬
‫‪ajarkan kepada kami, dan tambahkanlah ilmu kepada kami… wahai‬‬
‫‪Rabb semesta alam.‬‬
‫‪Alihbahasa : Syabab Forum Salafy‬‬
‫—————————————‬
‫ﻋﻠﻰ أﺑﻮاب ﺷﻬﺮ راﺟﺐ‬
‫ﻓﺤﺘﻰ ﻻﺗﻘﻊ ﻓﻲ اﻟﺒﺪﻋﻪ‬
‫اﻗﺮأ‬
‫}ﻣﻦ ﺑﺪع ﺷﻬﺮ رﺟﺐ{‬
‫ﻗﺎل ﺳﻤﺎﺣﺔ اﻹﻣﺎم اﻟﻌﻼﻣﺔ اﻟﻔﻘﻴﻪ‬
‫اﺑﻦ ﻋﺜﻴﻤﻴﻦ رﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ‪-:‬‬
‫ﻛﻞ اﻷﺣﺎدﻳﺚ اﻟﻮاردة ﻓﻲ ﻓﻀﻞ اﻟﺼﻼة ﻓﻲ رﺟﺐ أو ﻓﻲ ﻓﻀﻞ اﻟﺼﻴﺎم ﻓﻲ رﺟﺐ‬
‫ﻛﻠﻬﺎ أﺣﺎدﻳﺚ ﺿﻌﻴﻔﺔ ﺟﺪاً‬
‫ﺑﻞ ﻗﺪ ﻗﺎل ﺑﻌﺾ اﻟﻌﻠﻤﺎء إﻧﻬﺎ ﻣﻮﺿﻮﻋﺔٌ وﻣﻜﺬوﺑﺔٌ ﻋﻠﻰ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ‬
‫ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻓﻼ ﻳﺤﻞ ﻷﺣﺪ‬
‫أن ﻳﻌﺘﻤﺪ ﻋﻠﻰ ﻫﺬه اﻷﺣﺎدﻳﺚ‪..‬‬
‫ﻻ ﻳﺤﻞ ﻷﺣﺪ أن ﻳﻌﺘﻤﺪ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻓﻴﺨﺺ رﺟﺐ ﺑﺼﻴﺎمٍ أو ﺻﻼة؟ ﻷن ذﻟﻚ ﺑﺪﻋﺔ‬
‫وﻗﺪ ﻗﺎل اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ‪:‬‬
‫)ﻛﻞ ﺑﺪﻋﺔٍ ﺿﻼﻟﺔ وﻛﻞ ﺿﻼﻟﺔٍ ﻓﻲ اﻟﻨﺎر(‬
‫ﺣﺪﻳﺚ أن اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻛﺎن ﻳﻘﻮل إذا دﺧﻞ ﺷﻬﺮ رﺟﺐ‪:‬‬
‫“اﻟﻠﻬﻢ ﺑﺎرك ﻟﻨﺎ ﻓﻲ رﺟﺐ وﺷﻌﺒﺎن وﺑﻠﻐﻨﺎرﻣﻀﺎن”‬
‫وﻟﻜﻦ ﻫﺬا أﻳﻬﺎ اﻷﺧﻮة وأﺳﻤﻌﻮا ﻣﺎ أﻗﻮل‬
‫ﻫﺬا ﺣﺪﻳﺚٌ ﺿﻌﻴﻒٌ ﻣﻨﻜﺮ ٌ ﻻ ﻳﺼﺢ ﻋﻦ اﻟﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ وﻟﻬﺬا‬
‫ﻻ ﻳﻨﺒﻐﻲ ﻟﻺﻧﺴﺎن أن ﻳﺪﻋﻮ ﺑﻬﺬا اﻟﺪﻋﺎء ﻷﻧﻪ ﻟﻢ ﻳﺼﺢ ﻋﻦ رﺳﻮل اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ‬
‫اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ‪.‬‬
‫إﻧﻨﻲ أﻗﻮل ﻟﻜﻢ ﻣﺒﻴﻨﺎً اﻟﺤﻖ إن ﺷﻬﺮ رﺟﺐ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺻﻼةٌ ﺗﺨﺼﻪ ﻻ ﻓﻲ أول‬
‫ﻟﻴﻠﺔ ﺟﻤﻌﺔ ﻣﻨﻪ وﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺻﻴﺎمٌ ﻳﺨﺼﻪ ﻓﻲ أول ﻳﻮمٍ ﻣﻨﻪ وﻻ ﻓﻲ ﺑﻘﻴﺔ‬
‫اﻷﻳﺎم‪.‬‬
‫ﻻ ﻳﺠﻮز ﻷﺣﺪٍ أن ﻳﺨﺼ ّﺺ زﻣﺎﻧﺎً أو ﻣﻜﺎﻧﺎً ﺑﻌﺒﺎدة ﻟﻢ ﻳﺨﺼ ّﺼﻬﺎ اﻟﻠﻪ‬
‫ورﺳﻮﻟﻪ ﺑﻬﺎ ﻷن ﻧﺤﻦ ﻣﺘﻌﺒﺪون ﺑﺸﺮﻳﻌﺔ اﻟﻠﻪ ﻻ ﺑﺄﻫﻮاﺋﻨﺎ وﻻ ﺑﻤﻴﻮﻟﻨﺎ‬
‫وﻋﻮاﻃﻔﻨﺎ‪..‬‬
‫إن اﻟﻮاﺟﺐ ﻋﻠﻴﻨﺎ أن ﻧﻘﻮل ﺳﻤﻌﻨﺎ وأﻃﻌﻨﺎ ﻧﻔﻌﻞ ﻣﺎ أﻣﺮ اﻟﻠﻪ ﺑﻪ وﻧﺘﺮك‬
‫ﻣﺎ ﻧﻬﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ وﻻ ﻧﺸﺮ ّع ﻷﻧﻔﺴﻨﺎ ﻋﺒﺎدات ﻟﻢ ﻳﺸﺮﻋﻬﺎ اﻟﻠﻪ ورﺳﻮﻟﻪ‪.‬‬
‫أﻳﻬﺎ اﻟﻤﺴﻠﻤﻮن إن ﻓﻲ ﻣﺎ ﺟﺎء ﻓﻲ ﻛﺘﺎب اﻟﻠﻪ وﻓﻲ ﻣﺎ ﺻﺢ ﻋﻦ رﺳﻮل اﻟﻠﻪ‬
‫ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ ﻣﻦ اﻷﻋﻤﺎل اﻟﺼﺎﻟﺤﺔ ﻛﻔﺎﻳﺔً ﻋﻤﺎ ﺟﺎء ﻓﻲ أﺣﺎدﻳﺚ‬
‫ﺿﻌﻴﻔﺔ أو ﻣﻮﺿﻮﻋﺔٍ ﻣﻜﺬوﺑﺔٍ ﻋﻠﻰ رﺳﻮل اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ وإن‬
‫اﻹﻧﺴﺎن إذا ﺗﻌﺒّﺪ ﻟﻠﻪ ﺑﻤﺎ ﺛﺒﺖ أﻧﻪ ﻣﻦ ﺷﺮع اﻟﻠﻪ ﻓﻘﺪ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻰ‬
‫ﺑﺼﻴﺮة ﻳﺮﺟﻮ ﺛﻮاب اﻟﻠﻪ وﻳﺨﺸﻰ ﻋﻘﺎﺑﻪ اﻟﻠﻬﻢ إﻧﺎ ﻧﺴﺄﻟﻚ أن ﺗﺮزﻗﻨﺎ‬
‫ﻋﻠﻤﺎً ﻧﺎﻓﻌﺎً وﻋﻤﻼ ً ﺻﺎﻟﺤﺎً ورزﻗﺎً ﻃﻴﺒﺎً واﺳﻌﺎً وذرﻳﺔً ﻃﻴﺒﺔً ﻳﺎ‬
‫رب اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ اﻟﻠﻬﻢ ﻋﻠّﻤﻨﺎ ﻣﺎ ﻳﻨﻔﻌﻨﺎ وأﻧﻔﻌﻨﺎ ﺑﻤﺎ ﻋﻠﻤﺘﻨﺎ وزدﻧﺎ‬
‫ﻋﻠﻤﺎ ﻳﺎرب اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ‪..‬‬
‫اﻟﻤﺼﺪر‪:‬‬
‫ﻣﻘﺮوء‪:‬‬
‫‪http://www.ibnothaimeen.com/all/khotab/article_468.shtml‬‬
‫‪Hukum‬‬
‫‪Memenuhi‬‬
‫‪Undangan‬‬
‫‪Orang-orang‬‬
‫‪Rafidhoh‬‬
‫‪dan‬‬
‫‪Memakan Sembelihan Mereka‬‬
‫‪HUKUM MEMENUHI UNDANGAN ORANG-ORANG RAFIDHOH DAN MEMAKAN‬‬
‫‪SEMBELIHAN MEREKA‬‬
‫ﺣﻔﻈﻪ اﻟﻠﻪ ‪Asy Syaikh Shalih Fauzan bin Abdillah al Fauzan‬‬
Soal: Apa hukum menerima undangan pernikahan orang-orang
Rafidhah? Apakah halal sembelihan mereka?
Jawab:
Daging hewan sembelihan mereka tidak (halal, pent). Adapun
masalah undangan mereka:
Jika (dengan mendatangi tersebut) diharapkan mereka bertaubat
maka tindakan ini termasuk cara melembutkan mereka untuk
bertaubat.
Atau mereka adalah tetangga. Tetangga memiliki hak (yang harus
kita tunaikan) sebelumnya. Jika mereka adalah tetangga maka
dakwahi mereka.
Alihbahasa: Syabab Forum Salafy
***
‫ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﻗﺒﻮل دﻋﻮة اﻟﺮواﻓﺾ وأﻛﻞ ذﺑﺤﺘﻬﻢ؟‬
‫اﻟﺴﺆال‬:
‫ﻣﺎ ﺣﻜﻢ ﻗﺒﻮل دﻋﻮة اﻟﺮواﻓﺾ ﻟﻸﻋﺮاس؟ وﻫﻞ ﺗﺤﻞ ذﺑﺤﺘﻬﻢ؟‬
‫ أﻣﺎ دﻋﻮﺗﻬﻢ إذا ﻛﺎن ﻳﺮﺟﻰ إﻧﻬﻢ ﻳﺘﻮﺑﻮن ﻫﺬا ﻣﻦ‬،‫ذﺑﺤﺘﻬﻢ ﻻ‬
:‫اﻟﺠﻮاب‬
‫ إذا ﻛﺎﻧﻮا‬،‫ اﻟﺠﺎر ﻟﻪ ﺣﻖ ﺑﻌﺪ‬،‫ أو إﻧﻬﻢ ﺟﻴﺮان‬،‫ﺗﺄﻟﻴﻔﻬﻢ ﻟﻠﺘﻮﺑﺔ‬
‫ﺟﻴﺮان ﻳﺪﻋﻮﻫﻢ‬
http://alfawzan.af.org.sa/node/14788
Kewajiban
Pemerintah
Taat
Kepada
KEWAJIBAN TAAT KEPADA PEMERINTAH
Ditulis oleh: Al-Ustadz Muhammad Umar as-Sewed hafizhahullah
Kewajiban taat kepada pemerintah merupakan salah satu prinsip
Islam yang agung. Namun di tengah karut-marutnya kehidupan
politik di negeri-negeri muslim, prinsip ini menjadi bias dan
sering dituding sebagai bagian dari gerakan pro status quo.
Padahal, agama yang sempurna ini telah mengatur bagaimana
seharusnya sikap seorang muslim terhadap pemerintahnya, baik
yang adil maupun yang zalim.
KKN, represivitas penguasa, kedekatan pemerintah dengan Barat
(baca: kaum kafir), seringkali menjadi isu yang diangkat
sekaligus dijadikan pembenaran untuk melawan pemerintah. Dari
yang ‘sekadar’ demonstrasi, hingga yang berujud pemberontakan
fisik.
Meski terkadang isu-isu itu benar, namun sesungguhnya syariat
yang mulia ini telah mengatur bagaimana seharusnya seorang
muslim bersikap kepada pemerintahnya, sehingga diharapkan
tidak timbul kerusakan yang jauh lebih besar.
Yang menyedihkan, Islam atau jihad justru yang paling laris
dijadikan tameng untuk melegalkan gerakan-gerakan perlawanan
ini. Di antara mereka bahkan ada yang menjadikan tegaknya
khilafah Islamiyah sebagai harga mati dari tujuan dakwahnya.
Mereka pun berangan-angan, seandainya kejayaan Islam di masa
khalifah Abu Bakr dan Umar bin al-Khaththab ‫ رﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ‬dapat
tegak kembali di masa kini.
Jika diibaratkan, apa yang dilakukan kelompok-kelompok Islam
ini seperti “menunggu hujan yang turun, air di bejana
ditumpahkan”. Mereka sangat berharap akan tegaknya khilafah
Umar bin al-Khaththab ‫رﺿــﻲ اﻟﻠــﻪ ﻋﻨــﻪ‬, namun kewajiban yang
Allah ‫ ﺳـــﺒﺤﺎﻧﻪ و ﺗﻌـــﺎﻟﻰ‬perintahkan kepada mereka terhadap
penguasa yang ada di hadapan mereka, justru dilupakan. Padahal
dengan itu, Allah ‫ ﺳـــﺒﺤﺎﻧﻪ و ﺗﻌـــﺎﻟﻰ‬akan mengabulkan harapan
mereka dan harapan seluruh kaum muslimin.
Wajibnya Taat kepada Penguasa Muslim
Allah ‫ـﻞ‬
‫ـﺰ و ﺟـ‬
‫ ﻋـ‬telah memerintahkan kepada kaum muslimin untuk
taat kepada penguasanya betapa pun jelek dan zalimnya mereka.
Tentunya dengan syarat, selama para penguasa tersebut tidak
menampakkan kekafiran yang nyata. Allah ‫ــــﻞ‬
‫ــــﺰ و ﺟـ‬
‫ ﻋـ‬juga
memerintahkan agar kita bersabar menghadapi kezaliman mereka
dan tetap berjalan di atas As-Sunnah.
Karena barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah dan
memberontak kepada penguasanya maka matinya mati jahiliah.
Yakni mati dalam keadaan bermaksiat kepada Allah ‫ﺳـــــﺒﺤﺎﻧﻪ و‬
‫ ﺗﻌــﺎﻟﻰ‬seperti keadaan orang-orang jahiliah. [1] (Lihat ucapan
al-Imam an-Nawawi ‫رﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ‬‎ dalam Syarah Shahih Muslim)
Dari Ibnu Abbas c, dia berkata, Rasulullah ‫ﺻﻠﯽ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ وﺳﻠﻢ‬
bersabda:
َ
َ
ْ ‫ﻣَﻦ ْ ر َأ ى ﻣِﻦ ْ أ ﻣِﻴﺮ ِهِ ﺷ َﻴ ْﺌًﺎ ﻳَﻜ ْﺮ َﻫُﻪُ ﻓ َﻠْﻴَﺼ ْﺒِﺮ‬
ٌ‫ﻓ َﺈِ ﻧَّﻪُ ﻣَﻦ ْ ﻓ َﺎر َقَ اﻟْﺠ َﻤَﺎﻋ َﺔَ ﺷ ِﺒْﺮ ًا ﻓ َﻤَﺎتَ ﻓ َﻤِﻴﺘَﺔ‬
ٌ‫ﺟ َﺎﻫ ِﻠِﻴَّﺔ‬
“Barang siapa melihat sesuatu yang tidak dia sukai dari
penguasanya, maka bersabarlah! Karena barang siapa yang
memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja, maka ia akan mati
dalam keadaan mati jahiliah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan
Muslim)
Diriwayatkan dari Junadah bin Abu Umayyah ‫رﺣﻤـــﻪ اﻟﻠـــﻪ‬‎, dia
berkata, “Kami masuk ke rumah Ubadah bin ash-Shamit ‫ـﻪ‬
‫ـﻲ اﻟﻠـ‬
‫رﺿـ‬
‫ ﻋﻨـــــــﻪ‬ketika beliau dalam keadaan sakit dan kami berkata
kepadanya, ‘Sampaikanlah hadits kepada kami—aslahakallah
(semoga Allah ‫ ﺳــﺒﺤﺎﻧﻪ و ﺗﻌــﺎﻟﻰ‬memperbaiki keadaanmu)—dengan
hadits yang kau dengar dari Rasulullah ‫ ﺻﻠﯽ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ وﺳﻠﻢ‬yang
dengannya Allah ‫ ﺳــﺒﺤﺎﻧﻪ و ﺗﻌــﺎﻟﻰ‬akan memberikan manfaat bagi
kami!’ Maka ia pun berkata,
‫ ﻓ َﻜ َـﺎَنَ ﻓ ِﻴ ْﻤَـﺎ‬،َ‫ﻓ َﺒَﺎﻳَﻌَﻨَـﺎ‬
ِ‫دَﻋ َﺎﻧَـﺎ ر َﺳُـﻮْلُ اﻟﻠـﻪ‬
َ
َ
،ِ‫أ ﺧ َﺬ َ ﻋ َﻠَﻴ ْﻨَﺎ أ نْ ﺑ َﺎﻳَﻌْﻨَﺎ ﻋ َﻠَﻰ اﻟﺴ َّﻤْﻊ ِ وَاﻟﻄﺎَّﻋ َﺔ‬
،‫ـﺮ ِﻧَﺎ‬
‫ـﺮ ِﻧَﺎ وَﻳُﺴ ْـ‬
‫ وَﻋ ُﺴ ْـ‬،‫ـﺎ‬
‫ـﺎ وَﻣَﻜ ْﺮ َﻫ ِﻨَـ‬
‫ـﻲ ْ ﻣَﻨْﺸ َﻄ ِﻨَـ‬
‫ﻓ ِـ‬
َ
َ
َ
،ُ‫ وَأ نْ ﻻ َ ﻧُﻨَﺎزِع َ اﻷْ َﻣْﺮ َ أ ﻫْﻠَﻪ‬،‫وَأ ﺛَﺮ َةٍ ﻋ َﻠَﻴ ْﻨَﺎ‬
َ
َ ‫ إِﻻ َّ أ نْ ﺗَﺮ َوْا ﻛ ُﻔْﺮ َا ﺑ َﻮَاﺣ ًﺎ ﻋ ِﻨْﺪ َﻛ ُﻢْ ﻣِﻦ‬: َ‫ﻗ َﺎل‬
ٌ‫اﻟﻠﻪِ ﻓ ِﻴ ْﻪِ ﺑ ُﺮ ْﻫَﺎن‬
“Rasulullah ‫ ﺻــــﻠﯽ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ وﺳــــﻠﻢ‬memanggil kami kemudian
membai’at kami. Dan di antara bai’atnya adalah agar kami
bersumpah setia untuk mendengar dan taat ketika kami semangat
ataupun tidak suka, ketika dalam kemudahan ataupun dalam
kesusahan, ataupun ketika kami diperlakukan secara tidak adil.
Dan hendaklah kami tidak merebut urusan kepemimpinan dari
orang yang berhak—beliau berkata—kecuali jika kalian melihat
kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti di sisi Allah
‫ﺳـــﺒﺤﺎﻧﻪ و ﺗﻌـــﺎﻟﻰ‬.” (HR. al-Bukhari dalam Shahih-nya juz 13
hlm.192, cet. Maktabatur Riyadh al-Haditsah, Riyadh. HR.
Muslim dalam Shahih-nya, 3/1470, cet. Daru Ihya’ut Turats alArabi, Beirut, cet. 1)
Wajib Taat Walaupun Jahat dan Zalim
Kewajiban taat kepada pemerintah ini, sebagaimana dijelaskan
Rasulullah ‫ﺻــــﻠﯽ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ وﺳــــﻠﻢ‬, adalah terhadap setiap
penguasa, meskipun jahat, zalim, atau melakukan banyak
kejelekan dan kemaksiatan. Kita tetap bersabar mengharapkan
pahala dari Allah ‫ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ و ﺗﻌﺎﻟﻰ‬dengan memberikan hak mereka,
yaitu ketaatan walaupun mereka tidak memberikan hak kita.
Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud ‫رﺿــﻲ اﻟﻠــﻪ ﻋﻨــﻪ‬, dia
berkata, Rasulullah ‫ ﺻﻠﯽ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ وﺳﻠﻢ‬bersabda:
ُ
َ
‫إِﻧَّﻬ َﺎ ﺳَﺘَﻜ ُﻮنُ ﺑ َﻌْﺪِي أ ﺛَﺮ َةٌ وَأ ﻣُﻮر ٌ ﺗُﻨْﻜ ِﺮ ُوﻧَﻬ َﺎ‬
ْ
‫ ﻳَﺎ ر َﺳُﻮلَ اﻟﻠﻪِ ﻛ َﻴ ْﻒَ ﺗَﺄ ﻣُﺮ ُﻧَﺎ؟‬:‫ﻗ َﺎﻟُﻮا‬
“Akan muncul setelahku atsarah (orang-orang yang mengutamakan
diri mereka sendiri dan tidak memberikan hak kepada orang yang
berhak, red.) dan perkara-perkara yang kalian ingkari.” Mereka
(para sahabat, red.) bertanya, “Apa yang engkau perintahkan
kepada kami, wahai Rasulullah?” Beliau ‫ﺻـــﻠﯽ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ وﺳـــﻠﻢ‬
berkata,
َ
َ‫ﺗُﺆَدُّوْنَ اﻟْﺤ َﻖَّ اﻟَّﺬِيْ ﻋ َﻠَﻴ ْﻜ ُﻢْ وَﺗَﺴ ْﺄ ﻟُﻮْنَ اﻟﻠﻪ‬
ْ‫اﻟَّﺬِيْ ﻟَﻜ ُﻢ‬
“Tunaikanlah kewajiban kalian kepada mereka dan mintalah hak
kalian kepada Allah.” (Sahih, HR. al-Bukhari dan Muslim dalam
Shahih keduanya)
Diriwayatkan pula dari ‘Adi bin Hatim ‫رﺿــﻲ اﻟﻠــﻪ ﻋﻨــﻪ‬, dia
berkata, “Kami mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak
bertanya tentang ketaatan kepada orang-orang yang takwa,
tetapi orang yang berbuat begini dan begitu… (disebutkan
kejelekan-kejelekan).’ Maka Rasulullah ‫ﺻـــﻠﯽ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ وﺳـــﻠﻢ‬
bersabda:
َ
‫وَاﺗَّﻘُﻮا اﻟﻠﻪََ وَاﺳْﻤَﻌُﻮْا وَأ ﻃ ِﻴ ْﻌُﻮْا‬
‘Bertakwalah kepada Allah! Dengar dan taatlah!’.” (Hasan
lighairihi, diriwayatkan oleh Ibnu Abu ‘Ashim dalam as-Sunnah
dan lain-lain. Lihat al-Wardul Maqthuf, hlm. 32)
Ibnu Taimiyah ‫رﺣﻤــﻪ اﻟﻠــﻪ‬‎ berkata, “Bahwasanya termasuk ilmu
dan keadilan yang diperintahkan adalah sabar terhadap
kezaliman para penguasa dan kejahatan mereka, sebagaimana ini
merupakan prinsip dari prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah
dan sebagaimana diperintahkan oleh Rasulullah ‫ﺻـــﻠﯽ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ‬
‫ــﻠﻢ‬
‫ وﺳـ‬dalam hadits yang masyhur.” (Majmu’ Fatawa juz 28, hlm.
179, cet. Maktabah Ibnu Taimiyah Mesir)
Sedangkan menurut al-Imam an-Nawawi ‫رﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ‬‎, “Kesimpulannya
adalah sabar terhadap kezaliman penguasa dan bahwasanya tidak
gugur ketaatan dengan kezaliman mereka.” (Syarah Shahih
Muslim, 12/222, cet. Darul Fikr Beirut)
Ibnu Hajar ‫رﺣﻤﻪ اﻟﻠﻪ‬‎ berkata, “Wajib berpegang dengan jamaah
muslimin dan penguasa-penguasa mereka walaupun mereka
bermaksiat.” (Fathul Bari Bi Syarhi Shahihil Bukhari)
Tetap Taat Walaupun Cacat
Meskipun penguasa tersebut cacat secara fisik, Rasulullah ‫ﺻــﻠﯽ‬
‫ اﻟﻠہ ﻋﻠﯿہ وﺳــﻠﻢ‬tetap memerintahkan kita untuk tetap mendengar
dan taat. Walaupun hukum asal dalam memilih pemimpin adalah
laki-laki, dari Quraisy, berilmu, tidak cacat, dan seterusnya.
Namun jika seseorang yang tidak memenuhi kriteria tersebut
telah berkuasa—baik dengan pemilihan, kekuatan (kudeta), dan
peperangan—maka ia adalah penguasa yang wajib ditaati dan
dilarang memberontak kepadanya. Kecuali, jika mereka
memerintahkan kepada kemaksiatan dan kesesatan, maka tidak
perlu menaatinya (pada perkara tersebut, red.) dengan tidak
melepaskan diri dari jamaah.
Diriwayatkan dari Abu Dzar ‫ رﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻪ‬bahwa dia berkata:
َ
َ
َ
َ
ْ‫ وَإِن‬،َ‫إِنَّ ﺧ َﻠِﻴ ْﻠِﻲ ْ أ وْﺻ َﺎﻧِﻲ أ نْ أ ﺳْﻤَﻊَ وَ أ ﻃ ِﻴ ْﻊ‬
َ
ِ‫ﻛ َﺎنَ ﻋ َﺒْﺪ ًا ﻣُﺠ َﺪ َّع َ اﻷْ ﻃ ْﺮ َاف‬
“Telah mewasiatkan kepadaku kekasihku agar aku mendengar dan
taat walaupun yang berkuasa adalah bekas budak yang terpotong
hidungnya (cacat). [2]” (Sahih, HR. Muslim dalam Shahih-nya,
3/467, cet. Daru Ihya’ut Turats al-Arabi, Beirut. HR. alBukhari dalam al-Adabul Mufrad, hlm. 54)
Juga diriwayatkan dari Suwaid bin Ghafalah ‫رﺣﻤــﻪ اﻟﻠــﻪ‬‎, dia
berkata, “Berkata kepadaku ‘Umar ‫رﺿــﻲ اﻟﻠــﻪ ﻋﻨــﻪ‬, ‘Wahai Abu
Umayyah, aku tidak tahu apakah aku akan bertemu engkau lagi
setelah tahun ini… Jika dijadikan amir (pemimpin) atas kalian
seorang hamba dari Habasyah, terpotong hidungnya maka
dengarlah dan taatlah! Jika dia memukulmu, sabarlah! Jika
mengharamkan untukmu hakmu, sabarlah! Jika ingin sesuatu yang
mengurangi agamamu, maka katakanlah aku mendengar dan taat
pada darahku bukan pada agamaku, dan tetaplah kamu jangan
memisahkan diri dari jamaah!”
Wallahu a’lam.
Sumber: Majalah Asy Syariah
***
Catatan Kaki:
1.
Maksudnya seperti keadaan matinya orang-orang jahiliah
yaitu di atas kesesatan dan tidak memiliki pemimpin yang
ditaati karena mereka dahulu tidak mengetahui hal itu. (Fathul
Bari, 7/13, dinukil dari Mu’amalatul Hukkam hlm. 166, red.)
2. Kalimat mujadda’ bermakna terpotong anggota badannya atau
cacat, seperti terpotong telinga, hidung, tangan, atau
kakinya. Namun sering kalimat mujadda’ dipakai dengan maksud
terpotong hidungnya. Sedangkan mujadda’ul athraf, Ibnu
Atsir ‫ـﻪ‬
‫ـﻪ اﻟﻠـ‬
‫رﺣﻤـ‬‎ dalam an-Nihayah berkata, “Maknanya adalah
terpotong-potong anggota badannya, ditasydidkan huruf ‘dal’nya untuk menunjukkan banyak.” (pen.)
April
Islam
MOP
dalam
Pandangan
APRIL MOP DALAM PANDANGAN ISLAM
April Mop diperingati setiap tanggal 1 April setiap tahun.
Pada hari itu, orang dianggap boleh berbohong atau memberi
lelucon kepada orang lain tanpa dianggap bersalah. Hari ini
ditandai dengan tipu-menipu dan lelucon lainnya terhadap
keluarga, musuh, teman, bahkan tetangga dengan tujuan
mempermalukan orang-orang yang mudah ditipu.
Tidak menutup kemungkinan momen seperti ini juga diikuti oleh
kaum muslimin. Bagaimana Islam memandang momen tersebut?
Berikut nasehat Asy-Syaikh Muhammad bin Hadi Al-Madkhali
hafizhahullah dalam artikel beliau yang berjudul:
‫ اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻛﺬﺑﺔ إﺑﺮﻳﻞ‬.
‫اﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ رب اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ واﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ وﻋﻠﻰ آﻟﻪ‬
‫ أﻣﺎ ﺑﻌﺪ‬،‫وﺻﺤﺒﻪ أﺟﻤﻌﻴﻦ‬.
Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala telah memerintahkan
untuk jujur di dalam Kitab-Nya dan memerintahkan untuk bersama
dengan orang-orang yang jujur. Allah jalla wa’ala berfirman,
َ
{‫ﻳَﺎ أ ﻳُّﻬ َﺎ اﻟَّﺬِﻳﻦ َ آَﻣَﻨُﻮا اﺗَّﻘُﻮا اﻟﻠَّﻪَ وَﻛ ُﻮﻧُﻮا‬
119 :‫ )اﻟﺘﻮﺑﺔ‬.َ ‫)ﻣَﻊَ اﻟﺼ َّﺎد ِﻗ ِﻴﻦ‬
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah:
119)
Dan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang dari
perbuatan dusta dan menggolongkan dusta termasuk dosa besar.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
‫ـﻰ‬
‫ـﺪِي إِﻟَـ‬
‫ـﺬِبَ ﻳَﻬ ْـ‬
‫ـﺈِ نَّ اﻟْﻜ َـ‬
‫ـﺬِبَ ﻓ َـ‬
‫ـﺎﻛ ُﻢْ وَاﻟْﻜ َـ‬
‫إِﻳَّـ‬
‫اﻟْﻔُﺠ ُـﻮرِ وَﻣَـﺎ ﻳَـﺰ َالُ اﻟﺮ َّﺟ ُـﻞ ُ ﻳَﻜ ْـﺬِبُ وَﻳَﺘَﺤ َـﺮ َّى‬
‫اﻟْﻜ َﺬِبَ ﺣ َﺘَّﻰ ﻳُﻜ ْﺘَﺐ َ ﻋ ِﻨْﺪ َ اﻟﻠَّﻪِ ﻛ َﺬ َّاﺑ ًﺎ‬
“Hati-hatilah kalian dari dusta, karena sesungguhnya kedustaan
itu akan mengantarkan pelakunya kepada kejahatan. Seseorang
yang senantiasa berdusta dan terus-menerus dalam kedustaannya,
maka akhirnya ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.”
Jika demikian, maka yang wajib atas seorang muslim adalah
bertakwa kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya, serta
menaati Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wasallam. Seorang muslim
wajib berhati-hati dan waspada dengan penuh kewaspadaan dari
dusta. Karena kedustaan itu diharamkan dalam bentuk dan warna
apapun. Semakin besar dan semakin bertambah kadar keharamannya
ketika kedustaan itu dilakukan dalam rangka membuat orang lain
tertawa.
Inilah yang kami ketahui tentang permasalahan yang ditanyakan
(tentang momen April Mop, pent) dan ini adalah perkara yang
sudah dikenal di kalangan umat Islam di beberapa kurun waktu
terakhir ini. Yang sangat disayangkan, ternyata sumber dari
momen tersebut adalah berasal dari orang-orang Yahudi,
Nashara, dari negara-negara barat dan timur semuanya, mereka
berdusta dan menipu dengan suatu kedustaan dan tipuan agar
orang-orang tertawa, atau agar orang-orang menyebut dia dan
terkenal serta tercatat di dunia popularitas.
Adapun kita segenap kaum muslimin, maka Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam telah bersabda,
ٌ ‫وَﻳْﻞ ٌ ﻟِﻠﺮﺟﻞ ﻳَﻜ ْﺬِبُ اﻟﻜﺬﺑﺔ ﻟِﻴَﻀ ْﺤ َﻚ َ ﺑِﻬﺎ اﻟْﻨﺎس وَﻳْﻞ‬
ُ‫ ﺛُﻢَّ وَﻳْﻞ ٌ ﻟَﻪ‬,ُ‫ﻟَﻪ‬
“Celakalah seseorang yang berdusta dengan suatu kedustaan agar
manusia tertawa karenanya, celakalah dia, celakalah dia.”
Wajib atas kita semua untuk berhati-hati darinya. Permasalahan
yang ditanyakan, yaitu tentang kedustaan pada bulan April
(April Mop), maka ini adalah haram dari dua sisi:
Pertama: Hal itu merupakan kedustaan. Allah subhanahu wata’ala
telah mengharamkan dusta. Dan kita semua telah mendengar sabda
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,
‫ـﻰ‬
‫ـﺪِي إِﻟَـ‬
‫ـﺬِبَ ﻳَﻬ ْـ‬
‫ـﺈِ نَّ اﻟْﻜ َـ‬
‫ـﺬِبَ ﻓ َـ‬
‫ـﺎﻛ ُﻢْ وَاﻟْﻜ َـ‬
‫إِﻳَّـ‬
‫اﻟْﻔُﺠ ُﻮرِ وَإِنَّ اﻟْﻔُﺠ ُﻮر َ ﻳَﻬ ْﺪِي إِﻟَﻰ اﻟﻨَّﺎرِ وَﻣَﺎ‬
‫ﻳَـﺰ َالُ اﻟﺮ َّﺟ ُـﻞ ُ ﻳَﻜ ْـﺬِبُ وَﻳَﺘَﺤ َـﺮ َّى اﻟْﻜ َـﺬِبَ ﺣ َﺘَّـﻰ‬
‫ﻳُﻜ ْﺘَﺐ َ ﻋ ِﻨْﺪ َ اﻟﻠَّﻪِ ﻛ َﺬ َّاﺑ ًﺎ‬
“Hati-hatilah kalian dari dusta, karena sesungguhnya kedustaan
itu akan mengantarkan pelakunya kepada kejahatan, dan
kejahatan akan mengantarkan pelakunya kepada neraka. Seseorang
yang senantiasa berdusta dan terus-menerus dalam kedustaannya,
maka akhirnya ia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta.” (HR.
Al-Bukhari dan Muslim)
Ini sisi pertama.
Kedua: Semakin besar keharamannya, -di samping kedustaan itu
sendiri hukumnya adalah haram-, bahwa perbuatan seperti itu
merupakan bentuk tasyabbuh terhadap orang-orang kafir. Orangorang kafir tersebut berdusta, menipu, dan melakukan perbuatan
sedemikian rupa, bahkan terkadang menyampaikan kedustaan
berupa berita besar dan bencana yang hebat yang disiarkan dan
disebarkan terutama melalui media-media massa pada zaman
modern ini. Sehingga tersebarlah berita tersebut sampai
belahan bumi timur dan barat. Akibatnya terjadi ketakutan yang
melanda banyak orang. Namun kemudian berita tersebut diketahui
ternyata tidak ada asalnya.
Demikianlah jika seorang muslim berdusta, yang kemudian
menyebabkan saudaranya sesama muslim ketakutan, dan semakin
besar ketakutan itu yang menyebabkan semakian bertambah pula
kepanikannya, bahkan terkadang jatuh sakit ketika disampaikan
kepadanya misalnya: Si Fulan meninggal dunia, ayahnya, atau
saudaranya, atau putra dan putrinya. Misalnya juga dengan
mengatakan, “Rumahmu kecurian.” “Rumahmu kebakaran.” Atau yang
semisal dengannya berupa perkara-perkara dan berita yang
besar. Hal seperti itu terkadang menyebabkan seseorang kacau
pikirannya, hilang pikiran dan akalnya, dan terkadang jatuh
sakit. Yang seperti ini menjadi tanggungan siapa? Apa yang
terjadi seperti ini tentu menjadi tanggungan si pendusta.
Dalam hal ini kedustaan seperti itu akan lebih besar tingkat
keharamannya, karena terdapat padanya kejelekan yang besar dan
mengandung unsur penyerupaan dengan orang-orang kafir.
Maka yang wajib atas kaum muslimin adalah berhati-hati dan
mewaspadainya dengan sungguh-sungguh, serta tidak meniru
musuh-musuh Allah dari kalangan orang-orang kafir, karena
Allah subhanahu wata’ala memerintahkan kaum muslimin untuk
bersama dengan orang-orang yang jujur.
َ
{‫ﻳَﺎ أ ﻳُّﻬ َﺎ اﻟَّﺬِﻳﻦ َ آَﻣَﻨُﻮا اﺗَّﻘُﻮا اﻟﻠَّﻪَ وَﻛ ُﻮﻧُﻮا‬
119 :‫)اﻟﺘﻮﺑﺔ‬.َ ‫)ﻣَﻊَ اﻟﺼ َّﺎد ِﻗ ِﻴﻦ‬
“Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, dan
hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (At-Taubah:
119)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ِ‫اﻟْﻤُﺴ ْﻠِﻢُ ﻣَﻦ ْ ﺳَﻠِﻢَ اﻟْﻤُﺴ ْﻠِﻤُﻮنَ ﻣِﻦ ْ ﻟِﺴ َﺎﻧِﻪِ وَﻳَﺪِه‬
“Seorang muslim itu adalah jika kaum muslimin selamat dari
gangguan lisan dan tangannya.”
Jika ada seorang yang berdusta dengan sebuah kedustaan
sehingga menyebabkan orang lain ketakutan, maka berarti kaum
muslimin tidak selamat dari gangguan lisannya.
Aku memohon kepada Allah agar memberikan rezeki kepada kita
semua berupa pemahaman dan ilmu terhadap agama ini, serta
sikap ittiba’ (senantisa mengikuti) Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam dan berhati-hati dari perbuatan menyerupai
orang-orang kafir, baik dari kalangan orang-orang barat maupun
timur, serta berhati-hati dari mengikuti prinsip dan cara
beragama orang-orang Yahudi dan Nashara. Hal ini telah
dikabarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Bukanlah
sesuatu yang asing, jika ada umat Islam yang terjatuh ke dalam
perbuatan meniru dan mengikuti orang-orang Yahudi dan Nashrani
dengan bentuk peniruan yang benar-benar persis, berjalan di
belakang mereka sejengkal demi sejengkal, sehasta demi
sehasta, sampaipun kalau mereka memasuki lubang dhabb, maka
kita umat Islam juga akan ikut-ikutan memasukinya.
Aku memohon kepada Allah agar memberikan rezeki kepada kita
semua untuk berittiba’ terhadap Rasul-Nya dan berhati-hati
dari perbuatan yang mendatangkan murka Rabb kita tabaraka
‫‪wata’ala. Yaitu dengan menjauhi perkara-perkara seperti ini‬‬
‫‪(momen April Mop) dan sikap tasyabbuh terhadap musuh-musuh‬‬
‫‪Allah dari kalangan orang-orang kafir. Aku juga memohon kepada‬‬
‫‪Allah agar memberikan rezeki kepada kita semua untuk‬‬
‫‪senantiasa berpegang dengan prinsip Islam yang benar dan‬‬
‫‪meniti jalan Allah yang lurus. Sesungguhnya Dia Maha Pemurah‬‬
‫‪lagi Maha Mulia.‬‬
‫وﺻﻠﻰ‬
‫اﻟﻠﻪ‬
‫وﺳﻠﻢ‬
‫‪oleh Asy-Syaikh‬‬
‫وﺑﺎرك‬
‫ﻋﻠﻰ‬
‫ﻋﺒﺪه‬
‫ورﺳﻮﻟﻪ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ وﻋﻠﻰ آﻟﻪ‬
‫‪.‬وأﺻﺤﺎﺑﻪ وأﺗﺒﺎﻋﻪ ﺑﺈﺣﺴﺎن‬
‫اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻛﺬﺑﺔ إﺑﺮﻳﻞ ‪Terjemahan dari‬‬
‫‪Muhammad bin Hadi Al-Madkhali hafizhahullah‬‬
‫‪Sumber:‬‬
‫‪http://mahad-assalafy.com/2015/03/31/april-mop-dalam-pandangan‬‬
‫‪-islam/‬‬
‫***‬
‫‪Teks Arabic‬‬
‫اﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻰ ﺗﺤﺮﻳﻢ ﻛﺬﺑﺔ إﺑﺮﻳﻞ‬
‫اﻟﺴﺆال‪ :‬ﺷﻴﺨﻨﺎ ﻫﺬا ﺳﺆال ﻣﻦ ﺑﺮﻳﺪ ﻣﻮﻗﻊ ﻣﻴﺮاث اﻷﻧﺒﻴﺎء ﻳﺴﺄل ﻋﻤﺎ‬
‫اﺷﺘﻬﺮ ﻫﺬه اﻷﻳﺎم ﺑــ )ﻛﺬﺑﺔ إﺑﺮﻳﻞ( ﺣﻔﻈﻜﻢ اﻟﻠﻪ ﻟﻌﻞ ﻟﻜﻢ ﻛﻠﻤﺔ ﻓﻲ‬
‫ﻫﺬا ﻳﺎ ﺷﻴﺦ ؟‬
‫ﻣﺤﻤﺪ ﺑﻦ ﻫﺎدي اﻟﻤﺪﺧﻠﻲ اﻟﺠﻮاب‪:‬‬
‫ﺑﺴﻢ اﻟﻠﻪ اﻟﺮﺣﻤﻦ اﻟﺮﺣﻴﻢ‬
‫اﻟﺤﻤﺪ ﻟﻠﻪ رب اﻟﻌﺎﻟﻤﻴﻦ واﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم ﻋﻠﻰ ﻧﺒﻴﻨﺎ ﻣﺤﻤﺪ وﻋﻠﻰ آﻟﻪ‬
‫وﺻﺤﺒﻪ أﺟﻤﻌﻴﻦ أﻣﺎ ﺑﻌﺪ‪:‬‬
‫ﻓﺈن اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ وﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺪ أﻣﺮ ﺑﺎﻟﺼﺪق ﻓﻲ ﻛﺘﺎﺑﻪ وأﻣﺮ ﺑﻠﺰوم‬
‫َ‬
‫أﻫﻠﻪ‪ ،‬ﻓﻘﺎل –ﺟﻞ وﻋﻼ‪) :-‬ﻳَﺎ أ ﻳُّﻬ َﺎ اﻟَّﺬِﻳﻦ َ آﻣَﻨُﻮا اﺗَّﻘُﻮا‬
‫اﻟﻠَّﻪَ وَﻛ ُﻮﻧُﻮا ﻣَﻊَ اﻟﺼ َّﺎد ِﻗ ِﻴﻦ َ( ﴿اﻟﺘﻮﺑﺔ‪.﴾١١٩ :‬‬
‫ـﻦ‬
‫ـﻪ ﻣـ‬
‫ـﺬب وﺟﻌﻠـ‬
‫ـﻦ اﻟﻜـ‬
‫ـﻰ ﻋـ‬
‫ـﻠﻢ‪ -‬ﻧﻬـ‬
‫ـﻪ وﺳـ‬
‫ـﻪ ﻋﻠﻴـ‬
‫ـﻠﻰ اﻟﻠـ‬
‫ـﺒﻲ –ﺻـ‬
‫واﻟﻨـ‬
‫اﻟﻜﺒﺎﺋﺮ‪ ،‬ﻓﻘﺎل –ﻋﻠﻴﻪ اﻟﺼﻼة واﻟﺴﻼم‪ ” -‬إِﻳَّﺎﻛ ُﻢْ وَاﻟْﻜ َﺬِبَ ‪،‬‬
‫‪ ،‬وَﻣَﺎ ﻳَﺰ َالُ‬
‫ْ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫ﻓ َﺈِ نَّ اﻟ ﻜ َﺬِبَ ﻳَﻬ ْﺪِي إِﻟ ﻰ اﻟ ﻔُﺠ ُﻮرِ‬
‫اﻟﺮ َّﺟ ُﻞ ُ ﻳَﻜ ْﺬِبُ وَﻳَﺘَﺤ َﺮ َّى اﻟْﻜ َﺬِبَ ﺣ َﺘَّﻰ ﻳُﻜ ْﺘَﺐ َ‬
‫ﻋ ِﻨْﺪ َ اﻟﻠَّﻪِ ﻛ َﺬ َّاﺑ ًﺎ”‪ ،‬وإذا ﻛﺎن اﻷﻣﺮ ﻛﺬﻟﻚ ﻓﺎﻟﻮاﺟﺐ ﻋﻠﻰ‬
‫اﻟﻤﺴﻠﻢ أن ﻳﺘﻘﻲ َ اﻟﻠﻪ ﻓﻲ ﻧﻔﺴﻪ وﻳﻠﺰم أﻣﺮ رﺑﻪ‪ ،‬وﻳﻄﻴﻊ رﺳﻮﻟﻪ –ﺻﻠﻰ‬
‫اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‪ -‬وﻳﺤﺬر ﻛﻞ اﻟﺤﺬر ﻣﻦ اﻟﻜﺬب‪ ،‬ﻓﺈن اﻟﻜﺬب ﻣﺤﺮم ﺑﺠﻤﻴﻊ‬
‫أﺷﻜﺎﻟﻪ وأﻟﻮاﻧﻪ‪ ،‬وﻳﺸﺘﺪ وﻳﺰداد ﺣﺮﻣﺔ إذا ﻛﺎن ﻹﺿﺤﺎك اﻟﻨﺎس‪ ،‬وﻫﺬا‬
‫اﻟﺬي ﻧﻌﻠﻤﻪ ﻋﻦ ﻫﺬا اﻷﻣﺮ اﻟﺬي ﺳﺌﻞ ﻋﻨﻪ واﺷﺘﻬﺮ ﺑﻴﻦ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ وﻓﻲ‬
‫اﻵوﻧﺔ اﻷﺧﻴﺮة وﻟﻸﺳﻒ إﻧﻤﺎ ﻣﺼﺪره اﻟﻴﻬﻮد واﻟﻨﺼﺎرى وﺑﻼد اﻟﻐﺮب‬
‫واﻟﺸﺮق ﻣﻦ ﻫﺆﻻء ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻓﺈﻧﻬﻢ ﻳﻜﺬﺑﻮن ﻫﺬه اﻟﻜﺬﺑﺔ ﻟﻴﻀﺤﻜﻮا ﺑﻬﺎ أو‬
‫ﻟﻴﺬﻛﺮوا ﺑﻬﺎ وﻳﺸﺘﻬﺮوا ﺑﻬﺎ وﻳﺪوﻧﻮا ﻓﻲ ﻋﺎﻟﻢ اﻟﺸﻬﺮة‪.‬‬
‫أﻣﺎ ﻧﺤﻦ ﻣﻌﺸﺮ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ ﻓﺈن اﻟﻨﺒﻲ –ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‪ -‬ﻗﺎل‪“ :‬وﻳﻞ‬
‫ﻟﻠﺮﺟﻞ ﻳﻜﺬب اﻟﻜﺬﺑﺔ ﻟﻴﻀﺤﻚ ﺑﻬﺎ اﻟﻨﺎس وﻳﻞ ﻟﻪ ﺛﻢ وﻳﻞ ﻟﻪ”‪ .‬ﻓﺎﻟﻮاﺟﺐ‬
‫ﻋﻠﻴﻨﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎ أن ﻧﺤﺬر ﻫﺬا وﻫﺬا اﻟﺒﺎب اﻟﺬي ﺳﺌﻞ ﻋﻨﻪ وﻫﻮ ﺑﺎب ﻛﺬﺑﺔ‬
‫إﺑﺮﻳﻞ ﻣﺤﺮﻣﺔ ﻣﻦ ﻧﺎﺣﻴﺘﻴﻦ‪:‬‬
‫اﻟﻨﺎﺣﻴﺔ اﻷوﻟﻰ‪ :‬أﻧﻬﺎ ﻛﺬب واﻟﻠﻪ –ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ وﺗﻌﺎﻟﻰ‪ -‬ﻗﺪ ﺣﺮم اﻟﻜﺬب وﻗﺪ‬
‫ﺳﻤﻌﻨﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎ ﻗﻮل اﻟﻨﺒﻲ –ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‪) -‬إِﻳَّﺎﻛ ُﻢْ‬
‫وَاﻟْﻜ َﺬِبَ ‪ ،‬ﻓ َﺈِ نَّ اﻟْﻜ َﺬِبَ ﻳَﻬ ْﺪِي إِﻟَﻰ اﻟْﻔُﺠ ُﻮرِ ‪،‬‬
‫‪ ،‬وَﻣَﺎ ﻳَﺰ َالُ‬
‫َ‬
‫ْ‬
‫وَإِنَّ اﻟ ﻔُﺠ ُﻮر َ ﻳَﻬ ْﺪِي إِﻟ ﻰ اﻟﻨَّﺎرِ‬
‫اﻟﺮ َّﺟ ُﻞ ُ ﻳَﻜ ْﺬِبُ وَﻳَﺘَﺤ َﺮ َّى اﻟْﻜ َﺬِبَ ﺣ َﺘَّﻰ ﻳُﻜ ْﺘَﺐ َ‬
‫ﻋ ِﻨْﺪ َ اﻟﻠَّﻪِ ﻛ َﺬ َّاﺑ ًﺎ( رواه اﻟﺒﺨﺎري )‪ (6134‬وﻣﺴﻠﻢ ‪ ،2607‬ﻓﻬﺬه‬
‫ﻧﺎﺣﻴﺔ‪..‬‬
‫واﻟﻨﺎﺣﻴﺔ اﻟﺜﺎﻧﻴﺔ‪ :‬اﻟﺘﻲ ﺗﺸﺘﺪ ﺑﻬﺎ وﺑﺴﺒﺒﻬﺎ ﺣﺮﻣﺔ ﻫﺬا اﻟﻜﺬب إﺿﺎﻓﺔ‬
‫إﻟﻰ ﺣﺮﻣﺘﻪ اﻷﺻﻠﻴﺔ وﻫﻲ ﻛﻮن ﻫﺬا اﻷﻣﺮ ﺗﺸﺒﻬﺎ ﺑﺎﻟﻜﻔﺎر ‪ ،‬ﻓﺈن ﻫﺆﻻء‬
‫اﻟﻜﻔﺎر ﻳﻜﺬﺑﻮن وﻳﻔﻌﻠﻮن وﻳﻔﻌﻠﻮن ورﺑﻤﺎ أﺗﻮا ﺑﺎﻟﻜﺬﺑﺔ اﻟﻜﺒﻴﺮة‬
‫واﻟﻄﺎﻣﺔ اﻟﻌﻈﻴﻤﺔ اﻟﺘﻲ ﺗﺬاع وﺗﺸﺎع ﺧﺼﻮﺻﺎ ﻓﻲ وﺳﺎﺋﻞ اﻹﻋﻼم اﻟﻴﻮم‬
‫ﻓﺘﺸﺮق وﺗﻐﺮب وﻳﺤﺼﻞ ﻓﻴﻬﺎ اﻟﻔﺰع اﻟﻜﺜﻴﺮ ﺛﻢ ﺑﻌﺪ ذﻟﻚ ﻳﺘﺒﻴﻦ أﻧﻬﺎ ﻻ‬
‫أﺻﻞ ﻟﻬﺎ‪.‬‬
‫ﻓﻬﻜﺬا إذا ﻛﺬب اﻟﻤﺴﻠﻢ ﻛﺬﺑﺔ ﻳﺮوع ﻓﻴﻬﺎ أﺧﺎه اﻟﻤﺴﻠﻢ وﻳﺴﺘﺜﻴﺮ ﺧﻮﻓﻪ‬
‫وﻳﺸﺘﺪ ﺑﺴﺒﺐ ذﻟﻚ ذﻋﺮه ورﺑﻤﺎ ﻳﺼﻴﺒﻪ ﺑﻤﺮض ﺣﻴﻨﻤﺎ ﻳﻘﻮل ﻟﻪ ﻣﺜﻼ ﻣﺎت ﻓﻼن‬
‫ﻣﻤﻦ ﻳﻌﺰ ﻛﺄب أو أخ أو اﺑﻦ أو ﺑﻨﺖ أو ﻳﻘﻮل ﻣﺜﻼ ﺳُﺮق ﺑﻴﺘﻚ أو اﺣﺘﺮق‬
‫ﺑﻴﺘﻚ أو ﻧﺤﻮ ذﻟﻚ ﻣﻦ اﻷﻣﻮر اﻟﻌﻈﻴﻤﺔ رﺑﻤﺎ ﻳﺨﺘﻠﻂ ﺑﺴﺒﺒﻬﺎ اﻹﻧﺴﺎن ﻳﺰول‬
‫ﻟﺒﻪ وﻋﻘﻠﻪ‪ ،‬ورﺑﻤﺎ ﻣﺮض ﻓﻔﻲ ذﻣﺔ ﻣﻦ؟‪ ،‬ﻫﺬا اﻟﺬي ﻳﺤﺼﻞ إﻧﻤﺎ ﻫﻮ ﻓﻲ ذﻣﺔ‬
‫ﻫﺬا اﻟﻜﺬاب‪ .‬ﻓﻬﺬه اﻟﻜﺬﺑﺔ ﻣﻦ ﻫﺬا اﻟﺒﺎب أﻳﻀﺎ أﺷﺪ ﺣﺮﻣﺔ وذﻟﻚ ﻟﻤﺎ‬
‫ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ اﻟﺸﺮ اﻟﻌﻈﻴﻢ وﻟﻤﺎ ﻓﻴﻬﺎ ﻣﻦ ﻣﺸﺎﺑﻬﺔ اﻟﻜﻔﺎر ﻓﻲ ﻫﺬا اﻟﺠﺎﻧﺐ‪.‬‬
‫ﻓﺎﻟﻮاﺟﺐ ﻋﻠﻰ اﻟﻤﺴﻠﻤﻴﻦ أن ﻳﺤﺬروا ذﻟﻚ أﺷﺪ اﻟﺤﺬر وأن ﻻ ﻳﻘﺘﺪوا‬
‫ﺑﺄﻋﺪاء اﻟﻠﻪ اﻟﻜﻔﺮة‪ .‬ﻓﺈن اﻟﻠﻪ ﺳﺒﺤﺎﻧﻪ وﺗﻌﺎﻟﻰ ﻗﺪ أﻣﺮﻫﻢ ﺑﺄن ﻳﻜﻮﻧﻮا‬
‫َ‬
‫ﻣﻊ اﻟﺼﺎدﻗﻴﻦ )ﻳَﺎ أ ﻳُّﻬ َﺎ اﻟَّﺬِﻳﻦ َ آﻣَﻨُﻮا اﺗَّﻘُﻮا اﻟﻠَّﻪَ‬
‫وَﻛ ُﻮﻧُﻮا ﻣَﻊَ اﻟﺼ َّﺎد ِﻗ ِﻴﻦ َ( ﴿اﻟﺘﻮﺑﺔ‪ ،﴾١١٩ :‬وﻳﻘﻮل –ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ‬
‫ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‪“-‬اﻟﻤُﺴﻠِﻢُ ﻣَﻦ ْ ﺳَﻠِﻢَ اﻟﻤُﺴﻠِﻤُﻮنَ ﻣِﻦ ﻟﺴ َﺎﻧِﻪِ‬
‫وَﻳَﺪِه”‬
‫وإذا ﻛﺎن اﻹﻧﺴﺎن ﻳﻜﺬب اﻟﻜﺬﺑﺔ ﻓﻴﺮوع ﺑﻬﺎ اﻟﻨﺎس ﻫﺬا ﻣﺎ ﺳﻠﻢ‬
‫اﻟﻤﺴﻠﻤﻮن ﻣﻦ ﻟﺴﺎﻧﻪ‪.‬‬
‫أﺳﺄل اﻟﻠﻪ أن ﻳﺮزﻗﻨﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎ اﻟﻔﻘﻪ ﻓﻲ اﻟﺪﻳﻦ واﻟﺒﺼﻴﺮة ﻓﻴﻪ واﻻﺗﺒﺎع‬
‫ﻟﺮﺳﻮل اﻟﻠﻪ –ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‪ -‬واﻟﺤﺬر ﻛﻞ اﻟﺤﺬر ﻣﻦ ﻣﺸﺎﺑﻬﺔ‬
‫اﻟﻜﻔﺮة ﻣﻦ ﻏﺮﺑﻴﻴﻦ وﺷﺮﻗﻴﻴﻦ واﺗﺒﺎع ﺳﻨﻦ اﻟﻴﻬﻮد واﻟﻨﺼﺎرى وﻫﺬا ﻗﺪ‬
‫أﺧﺒﺮ ﻋﻨﻪ اﻟﻨﺒﻲ –ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ وﺳﻠﻢ‪ -‬ﻓﻠﻴﺲ ﺑﻤﺴﺘﻐﺮب أن ﻳﻘﻊ ﻓﻲ أﻣﺔ‬
‫اﻹﺳﻼم أﻧﻬﻢ ﻳﻘﺘﺪون ﺑﺎﻟﻴﻬﻮد واﻟﻨﺼﺎرى ﺣﺬو اﻟﻘﺬة ﺑﺎﻟﻘﺬة وﻳﻤﺸﻮن‬
‫وراﺋﻬﻢ ﺷﺒﺮا ﺑﺸﺒﺮ وذراع ﺑﺬراع ﺣﺘﻰ ﻟﻮ دﺧﻠﻮا ﺟﺤﺮ ﺿﺐ ﻟﺪﺧﻠﻨﺎه‪.‬‬
‫ﻓﺄﺳﺄل اﻟﻠﻪ أن ﻳﺮزﻗﻨﺎ ﺟﻤﻴﻌﺎ اﺗﺒﺎع رﺳﻮﻟﻪ واﻟﺤﺬر ﻣﻤﺎ ﻳﺴﺨﻂ رﺑﻨﺎ‬
‫ﺗﺒﺎرك وﺗﻌﺎﻟﻰ وذﻟﻚ ﺑﺎﻟﺒﻌﺪ ﻋﻦ ﻣﺜﻞ ﻫﺬه اﻷﺷﻴﺎء واﻟﺘﺸﺒﻪ ﺑﺄﻋﺪاء اﻟﻠﻪ‬
‫اﻟﻜﻘﺮة وﻟﺰوم ﻃﺮﻳﻖ اﻹﺳﻼم اﻟﺼﺤﻴﺢ وﻧﻬﺞ ﺻﺮاط اﻟﻠﻪ اﻟﻤﺴﺘﻘﻴﻢ إﻧﻪ‬
‫ﺟﻮاد ﻛﺮﻳﻢ ‪.‬‬
‫وﺻﻠﻰ‬
‫اﻟﻠﻪ‬
‫وﺳﻠﻢ‬
‫وﺑﺎرك‬
‫ﻋﻠﻰ‬
‫ﻋﺒﺪه‬
‫ورﺳﻮﻟﻪ‬
‫ﻧﺒﻴﻨﺎ‬
‫ﻣﺤﻤﺪ‬
‫وﻋﻠﻰ‬
‫آﻟﻪ‬
‫وأﺻﺤﺎﺑﻪ وأﺗﺒﺎﻋﻪ ﺑﺈﺣﺴﺎن‪.‬‬
‫ﺟﺰاﻛﻢ اﻟﻠﻪ ﺧﻴﺮا ﻳﺎ ﺷﻴﺦ” اﻫـ‬
‫‪http://www.miraathpublications.net/april-fools-day‬‬
‫‪Allah‬‬
‫‪kepada‬‬
‫‪Sumber:‬‬
‫‪Berlindung‬‬
Subhanahu wata’ala dari Empat
Hal
BERLINDUNG KEPADA ALLAH SUBHANAHU WATA’ALA DARI EMPAT HAL
Al-Ustadz Abdul Mu’thi Sutarman, Lc.
Mengenal kebaikan lalu mengamalkannya dan mengetahui kejelekan
kemudian waspada darinya adalah jalan yang terang menuju
keridhaan Allah Subhanahu wata’ala. Akan tetapi, sebagai
makhluk yang lemah tentu kita sangat membutuhkan bantuan dari
Allah Subhanahu wata’ala, Dzat Yang Mahaperkasa lagi
Mahabijaksana. Tanpa bimbingan dari Allah Subhanahu wata’ala
niscaya kita tidak tahu hal-hal yang bermanfaat untuk kemudian
diambilnya serta tidak akan tahu kejelekan lalu menghindar
darinya. Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam
berlindung kepada Allah Subhanahu wata’ala dari empat hal yang
berdampak sangat jelek baik dalam kehidupan di dunia ini,
lebih-lebih di akhirat nanti. Empat kejelekan itu seperti
tersebut dalam doa beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,
َ
ْ ‫اَﻟﻠَّﻬ ُﻢَّ إِﻧِّﻲ أ ﻋ ُﻮْذ ُﺑِﻚ َ ﻣِﻦ ْ ﻋ ِﻠْﻢٍ ﻳَﻨْﻔَﻊُ وَﻣِﻦ‬
ٍ‫ﻗ َﻠْـﺐ ٍ ﻳَﺨ ْﺸ َـﻊُ وَﻣِـﻦ ْ ﻧَﻔْـﺲ ٍ ﺗَﺸ ْﺒَـﻊُ وَﻣِـﻦ ْ دَﻋ ْـﻮَة‬
‫ﻳُﺴ ْﺘَﺠ َﺎبُ ﻟَﻬ َﺎ‬
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu
yang tidak bermanfaat, hati yang tidak khusyuk, jiwa yang
tidak merasa kenyang (puas), dan dari doa yang tidak
dikabulkan.” (HR . Muslim no. 2722 dari Zaid bin Arqam
radhiyallahu ‘anhu)
Dalam hadits ini ada empat kejelekan yang harus kita waspadai.
1. Ilmu yang Tidak Bermanfaat
Ketahuilah, yang diinginkan dari ilmu adalah untuk diyakini
dan diamalkan. Apabila ilmu sebatas kliping pengetahuan yang
menumpuk di benak seseorang dan tidak keluar sebagai amal
nyata dalam kehidupan sehari-hari, ini jenis ilmu yang membawa
petaka bagi pemiliknya. Kelak pada hari kiamat kaki seorang
hamba tidak akan bergeser dari sisi Rabbnya sampai ditanyai
tentang beberapa perkara, di antaranya tentang ilmunya, apa
yang telah ia amalkan. Mengamalkan ilmu juga menjadi perkara
terbaik untuk menjaga ilmu tersebut agar mengakar pada kalbu.
Ada beberapa hal yang termasuk ilmu yang tidak bermanfaat, di
antaranya:
a. Ilmu yang dicari untuk mendebati para ulama dan untuk
menyombongkan diri di hadapan orang-orang bodoh. Orang yang
seperti ini tergolong orang yang bodoh karena dia tidak tahu
tujuan menimba ilmu ialah untuk menghilangkan kebodohan dari
dirinya dan beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala di atas
petunjuk.
b. Menimba ilmu untuk mendapatkan kegemerlapan duniawi dan
mencari popularitas. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam
bersabda,
ِ‫ﻣَﻦ ْ ﺗَﻌَﻠَّﻢَ ﻋ ِﻠْﻤًﺎ ﻣِﻤَّﺎ ﻳُﺒْﺘَﻐَﻰ ﺑِﻪِ وَﺟ ْﻪُ اﻟﻠﻪ‬
َ ‫ﻋ َﺰ َّ وَﺟ َﻞ َّ ﻳَﺘَﻌَﻠَّﻤَﻪُ إِ ﻟِﻴُﺼ ِﻴ ْﺐ َ ﺑِﻪِ ﻋ َﺮ َﺿ ًﺎ ﻣِﻦ‬
ِ‫اﻟﺪ ُّﻧْﻴَﺎ ﻟَﻢْ ﻳَﺠ ِﺪ ْ ﻋ َﺮ ْفَ اﻟْﺠ َﻨَّﺔِ ﻳَﻮْمَ اﻟْﻘِﻴَﺎﻣَﺔ‬
“Barang siapa mempelajari ilmu yang (seharusnya) dicari
dengannya wajah Allah Subhanahu wata’ala, (namun) ia tidaklah
mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan harta benda dunia, ia
tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR . Abu
Dawud dan dinyatakan sahih sanadnya oleh an-Nawawi)
c. Ilmu yang tidak ditebarkan kepada orang lain, apalagi
sampai menyembunyikan ilmu dari orang yang sangat membutuhkan.
Apabila ia menebarkannya lalu diamalkan oleh orang lain,
niscaya akan menjadi amal jariyah baginya. Pahalanya terus
mengalir kepadanya sekalipun ia telah mati.
d. Ilmu yang menjurus kepada kemaksiatan dan kekufuran seperti
ilmu sihir. Ilmu seperti ini haram untuk dipelajari dan
dipraktikkan.
2. Hati yang Tidak Khusyuk
Ini adalah jenis hati yang tidak tenteram dengan mengingat
Allah Subhanahu wata’ala. Padahal hati hanyalah dicipta untuk
tunduk kepada yang menciptakannya (Allah Subhanahu wata’ala)
sehingga dada menjadi lapang karenanya dan siap diberi cahaya
petunjuk. Jika kondisi hati tidak seperti itu, berarti ia
adalah hati yang kaku dan gersang. Kita berlindung kepada
Allah Subhanahu wata’ala darinya. Allah Subhanahu wata’ala
berfirman,
ۚ ِ‫ﻓ َﻮَﻳْـﻞ ٌ ﻟِّﻠْﻘَﺎﺳ ِـﻴَﺔِ ﻗ ُﻠُـﻮﺑ ُﻬ ُﻢ ﻣِّـﻦ ذ ِﻛ ْـﺮ ِ اﻟﻠَّـﻪ‬
َ
َ ُ
ٍ ‫أ وﻟ ٰﺌِﻚ َ ﻓ ِﻲ ﺿ َﻼ ل ٍ ﻣُّﺒِﻴﻦ‬
“Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu
hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang
nyata.” (az-Zumar: 22)
Kekhusyukan hati sumbernya adalah pengetahuan yang mendalam
tentang Allah Subhanahu wata’ala dan kebesaran-Nya. Oleh
karena itu, ada yang khusyuk hatinya karena mengetahui bahwa
Allah Subhanahu wata’ala dekat dengan hamba-Nya dan mengetahui
gerak-geriknya sehingga ia malu jika Allah Subhanahu wata’ala
melihatnya dalamipenentangan terhadap aturan-Nya. Ada juga
yang khusyuk karena memandang dahsyatnya hukuman
Allah Subhanahu wata’ala kepada orang yang bermaksiat kepadaNya. Ada pula yang khusyuk karena melihat kepada sempurnanya
kekuasaan Allah Subhanahu wata’ala dan besarnya anugerah dariNya yang tidak bisa dihitung. Allah Subhanahu wata’ala telah
memuji orang-orang yang khusyuk dan mempersiapkan surga bagi
mereka. Ketika meyebutkan para lelaki dan perempuan yang
khusyuk, Allah Subhanahu wata’ala menyatakan,
َ
َ
‫أ ﻋ َﺪ َّ اﻟﻠَّﻪُ ﻟَﻬ ُﻢ ﻣَّﻐْﻔِﺮ َةً وَأ ﺟ ْﺮ ًا ﻋ َﻈ ِﻴﻤًﺎ‬
“Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang
besar.” (al-Ahzab: 35)
Seorang yang khusyuk saat melaksanakan ibadah, niscaya akan
merasakan lezatnya berbisik-bisik dan memohon kepada Sang
Khalik. Hatinya menjadi damai dan selalu tenteram mengingatNya. Khusyuk dalam shalat menjadi ruh shalat tersebut, dan
shalat seorang hamba dinilai dengannya. Ada beberapa hal yang
bisa membantu hamba untuk mewujudkan kekhusyukan dalam shalat,
di antaranya:
a. Mendatangi shalat dengan tenang dan tidak terburu-buru
meskipun iqamat telah dikumandangkan dan shalat sebentar lagi
akan ditegakkan.
b. Mendahulukan menyantap hidangan apabila hidangan makanan
telah disuguhkan. Hal ini bukan berarti mendahulukan hak diri
sendiri di atas hak Allah Subhanahu wata’ala. Sebab,
kekhusyukan adalah hak Allah Subhanahu wata’ala yang akan
terwujud dengan segera menyantap hidangan makanan yang telah
disuguhkan.
Nabi
Shallallahu
‘alaihi
wasallam
bersabda,“Apabila makan malam telah dihidangkan, mulailah
makan malam sebelum shalat maghrib.” (HR . al-Bukhari dan
Muslim)
c. Berusaha memahami apa yang dibaca dalam shalatnya. Dahulu
apabila
melewati
ayat
yang
menyebutkan
azab,
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berlindung kepada
AllahSubhanahu wata’ala darinya; apabila melewati ayat yang
menyebutkan rahmat Allah Subhanahu wata’ala, beliau memohon
rahmat; dan apabila melewati ayat yang mengandung bentuk
penyucian kepada Allah Subhanahu wata’ala, beliau pun
bertasbih.” (HR . Ahmad, Muslim dan Sunan yang empat dari
Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu)
d. Tidak menahan buang air besar dan buang air kecil.
e. Menyingkirkan segala yang bisa mengganggu kekhusyukan dalam
shalat.
f. Pandangan diarahkan ke tempat sujud dan tidak menoleh,
apalagi mengangkat pandangan ke atas. Sebab, dahulu
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menundukkan kepala dan
mengarahkan pandangannya ke tanah ketika shalat.
Demikian di antara kiat-kiat untuk khusyuk di dalam shalat.
Apabila seorang menjalankan shalat dengan khusyuk, niscaya
shalat yang dilakukannya akan bisa mencegah dari perbuatan
keji dan mungkar. Sesuai dengan tenteramnya hati hamba dengan
Allah Subhanahu wata’ala, setingkat itulah manusia sejuk
memandangnya. Khusyuk dalam shalat menjadi sebab diampuninya
dosa, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam,
ُ ‫ﻣَﺎ ﻣِﻦ ِ اﻣْﺮ ِئ ٍ ﺗَﺤ ْﻀ ُﺮ ُه ُ ﺻ َﻼَ ةٌ ﻣَﻜ ْﺘُﻮْﺑ َﺔٌ ﻓ َﻴُﺤ ْﺴ ِﻦ‬
ً‫وُﺿ ُﻮْءَﻫَﺎ وَﺧ ُﺸ ُﻮْﻋ َﻬ َﺎ وَر ُﻛ ُﻮْﻋ َﻬ َﺎ إِ ﻛ َﺎﻧَﺖْ ﻛ َﻔَّﺎر َة‬
ٌ‫ﻟِﻤَﺎ ﻗ َﺒْﻠَﻬ َﺎ ﻣِﻦ َ اﻟﺬ ُّﻧُﻮْبِ ﻣَﺎ ﻟَﻢْ ﻳُﺆْتَ ﻛ َﺒِﻴ ْﺮ َة‬
“Tiada seseorang yang telah sampai kepadanya (waktu) shalat
wajib lalu dia membaguskan wudhunya, khusyuk, dan rukuknya,
kecuali shalat itu akan menghapus dosa yang dilakukan sebelum
shalat itu, selama dosa besar tidak dilakukan.” (HR . Muslim)
3. Jiwa yang Tidak Pernah Puas
Tenteram dan puasnya jiwa adalah kebahagiaan hidup yang tak
ternilai. Namun, sayangnya tidak semua orang mendapatkan
kepuasan jiwa dan kehidupan yang bahagia. Harta yang melimpah
ruah\ dan jabatan yang terpandang terkadang tidak mampu
mengantarkan
seorang
kepada
kebahagiaan
hidup.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjelaskan
hakikat kaya dan tenteramnya jiwa dalam sabdanya,
‫وَﻟَﻜ ِﻦ َّ اﻟْﻐِﻨَﻰ‬
ِ‫اﻟْﻌَﺮ َض‬
ِ‫ﻋ َﻦ ْ ﻛ َﺜ ْﺮ َة‬
‫ﻟَﻴ ْﺲ َ اﻟْﻐِﻨَﻰ‬
ِ ‫ﻏ ِﻨَﻰ اﻟﻨَّﻔْﺲ‬
“Kekayaan bukanlah karena banyaknya harta, melainkan kayanya
jiwa.” (Muttafaqun ‘alaih)
Andaikata seorang ingin menuruti nafsu serakahnya terhadap
dunia, niscaya habis umurnya untuk sesuatu yang siasia.
Kematian akan datang kepadanya padahal keinginan nafsunya
belum tercapai seluruhnya. Ketidakpuasan terhadap pemberian
Allah Subhanahu wata’ala akan melahirkan beberapa problem
hidup yang berdampak serius bagi kelangsungan hidup di dunia
ini. Seorang yang rakus terhadap harta akan berusaha
mengumpulkan harta tanpa peduli dari jalan apa ia
mendapatkannya. Dia akan berani menabrak norma-norma agama dan
melepaskan adab-adab kesopanan di tengah-tengah masyarakat.
Dia juga akan bakhil terhadap harta yang telah didapat
sehingga tidak mau berderma dan menyantuni orang yang papa dan
menderita. Orang yang seperti ini dibenci oleh Allah Subhanahu
wata’ala dan tidak disukai oleh manusia. Di antara bentuk
ketidakpuasan jiwa adalah tidak ada kepuasan dalam hal makan,
minum, dan berpakaian. Untuk mengejar kepuasan semu tersebut,
terkadang seorang melampaui batas menggunakannya. Ia berusaha
memenuhi kepuasan jiwanya meski harus melanggar aturan agama
dan menyelisihi akal sehat. Sikap menerima pemberian
Allah Subhanahu wata’ala dan merasa cukup dengan anugerahnya
adalah ladang kesuksesan. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi
wasallam,
ُ‫وَﻗ َﻨَّﻌَﻪ‬
‫ﻛ َﻔَﺎﻓ ًﺎ‬
َ‫وَر ُزِق‬
َ
َ‫أ ﺳْﻠَﻢ‬
َ
ْ ‫ﻓ َﺪ ْ أ ﻓ ْﻠَﺢَ ﻣَﻦ‬
ُ ‫اﻟﻠﻪُ ﺑِﻤَﺎ آﺗَﺎه‬
“Telah sukses orang yang masuk Islam dan diberi rezeki yang
cukup serta merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu
wata’ala.” (HR . Muslim dari Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu
‘anhuma)
Agar seorang bisa merasa puas dengan pemberian Allah Subhanahu
wata’ala, ada beberapa faktor yang melandasinya.
a. Melihat dari sisi takdir. Tatkala seorang telah berusaha
menggapai cita-cita dengan sepenuh semangat, dibarengi
tawakal, kemudian mendapatkan hasil tidak seperti yang dicitacitakan, hendaklah ia yakin bahwa itu adalah suratan takdir
sehingga dia ridha dengan keputusan Allah Subhanahu wata’ala.
Dia hendaknya berbaik sangka kepada Allah Subhanahu wata’ala
bahwa itulah yang terbaik baginya. Sebab, bisa jadi jika
Allah Subhanahu wata’ala melimpahkan rezeki kepadanya sesuai
dengan cita-citanya, dia akan lupa kepada Allah Subhanahu
wata’ala, sombong, dan menggunakan nikmat itu untuk
bermaksiat.
b. Melihat besarnya tanggung jawab. Besarnya nikmat menuntut
banyaknya rasa syukur. Jika diberi rezeki melimpah, belum
tentu dia bisa mengungkapkan rasa syukur kepada Allah
Subhanahu wata’ala sehingga nikmat itu justru menjadi beban
baginya.
c. Melihat orang-orang yang di bawahnya dalam hal harta dan
yang semisalnya.
Dengan demikian, dia akan mensyukuri pemberian Allah. Sebab,
ternyata masih banyak orang-orang yang lebih mengenaskan
kondisinya dibandingkan dengan dirinya. Nabi Shallallahu
‘alaihi wasallam bersabda, “Lihatlah orang yang lebih rendah
dari kalian dan jangan melihat yang lebih tinggi dari kalian.
Sebab, hal itu lebih pantas untuk kalian agar tidak meremehkan
nikmat Allah Subhanahu wata’ala yang diberikan kepada kalian.”
(Muttafaqun ‘alaih)
Maksud “melihat yang lebih rendah” adalah dari sisi harta dan
kondisi keduniaan.
4. Doa yang Tidak Didengar dan Tidak Dikabulkan oleh Allah
Subhanahu wata’ala
Ini tentu suatu kerugian besar. Sebab, hamba tidaklah mampu
mendatangkan maslahat bagi dirinya tanpa bantuan Allah
Subhanahu wata’ala. Bagaimana tidak merugi, padahal
Allah Subhanahu wata’ala telah menjanjikan akan mengabulkan
permohonan hamba-Nya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
َ
ۚ ْ‫ادْﻋ ُﻮﻧِﻲ أ ﺳْﺘَﺠ ِﺐ ْ ﻟَﻜ ُﻢ‬
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu.”
(Ghafir: 60)
Tidak dikabulkannya doa tidak berarti Allah Subhanahu wata’ala
ingkar janji, tetapi hamba itu sendiri yang belum memenuhi
persyaratan diterimanya doa. Ibrahim bin Adham rahimahullah
pernah ditanya tentang ayat di atas, bahwa seseorang telah
berdoa kepada Allah Subhanahu wata’ala tetapi belum
dikabulkan. Beliau menjawab, “Engkau kenal Allah Subhanahu
wata’ala, tetapi tidak mau menaati-Nya. Engkau membaca alQur’an, tetapi tidak mengamalkannya. Engkau mengetahui setan,
tetapi justru mencocokinya. Engkau mengaku cinta kepada Rasul,
namun meninggalkan sunnahnya. Kau mengaku cinta kepada surga,
tetapi tidak beramal untuknya. Kau mengaku takut neraka,
tetapi tidak berhenti dari dosa. Kau mengatakan bahwa kematian
itu benar adanya, tetapi tidak bersiap-siap menghadapinya.
Engkau sibuk dengan kesalahan orang dan tidak melihat
kesalahan sendiri. Engkau memakan rezeki Allah Subhanahu
wata’ala, tetapi tidak bersyukur. Engkau pun mengubur orang
yang mati, tetapi tidak mau mengambil pelajaran.” (al-Khusyu’
fi ash-Shalah hlm. 39 karya Ibnu Rajab rahimahullah)
Tiada yang lebih bermanfaat bagi kita dari bermuhasabah
(introspeksi diri). Barangkali kita belum tulus ketika memohon
kepada Allah Subhanahu wata’ala. Bisa jadi, kita memohon
dengan hati yang lalai dan bermain-main, jauh dari keseriusan,
atau tergesa-gesa ingin dikabulkan. Karena tidak kunjung
dikabulkan, kemudian kita meninggalkan doa. Hal-hal di atas
adalah faktor utama tertundanya jawaban atas permohonan kita.
Jangan lupa pula, makanan, minuman, dan pakaian yang haram
juga menjadi faktor utama ditolaknya doa. Oleh karena itu,
koreksilah diri kita dan ajaklah untuk memenuhi persyaratan
doa. Semoga jawaban dari Allah Subhanahu wata’ala atas doa
kita menjadi kenyataan. Jangan pernah kecewa ketika berdoa dan
tidak kunjung dikabulkan. Sebab, doa itu sendiri adalah ibadah
yang tentu ada nilainya di sisi Allah Subhanahu wata’ala. Bisa
jadi, karena Allah Subhanahu wata’ala suka dengan rintihan
hamba kepada-Nya. Seandainya segera dikabulkan doanya, bisa
jadi dia tidak lagi merintih di hadapan Rabbnya. Akhirulkalam,
semoga Allah Subhanahu wata’ala senantiasa membimbing kita
kepada hal yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat kita, dan
selalu menjauhkan kita dari segala kejelekan.
Sumber: Majalah Asy Syariah
Hak–Hak
Nabi
Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wasallam
yang Wajib Kita Tunaikan
HAK-HAK
NABI
MUHAMMAD
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASALLAM
YANG WAJIB KITA TUNAIKAN
Al-Ustadz Ruwaifi bin Sulaimi hafizhahullah
Hidup di dunia tentu bukan untuk sesuatu yang sia-sia. Dalam
konsep Islam, hidup di dunia tiada lain untuk beribadah kepada
Allah Subhanahu wata’ala semata. Itulah hakikat misi
penciptaan manusia dan jin di muka bumi ini. Allah Subhanahu
wata’ala berfirman,
ِ‫وَﻣَﺎ ﺧ َﻠَﻘْﺖُ اﻟْﺠ ِﻦ َّ وَاﻹْ ِﻧﺲ َ إِﻻَّ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪ ُون‬
“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk
beribadah kepada-Ku.” (adzDzariyat: 56)
Misi penciptaan yang merupakan amanat berat itu telah
disanggupi oleh manusia, padahal makhluk-makhluk besar semisal
langit, bumi, dan gunung-gunung tak menyanggupinya,
sebagaimana yang Allah Subhanahu wata’ala sebutkan dalam surat
al-Ahzab: 72. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat
bodoh.
Amanat berat itu akhirnya berada di pundak setiap insan.
Allah Subhanahu wata’ala Rabb alam semesta, menjadikannya
sebagai ujian. Dengannya akan diketahui siapa di antara mereka
yang terbaik amalannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
َ
ْ‫اﻟَّﺬِي ﺧ َﻠَﻖَ اﻟْﻤَﻮْتَ وَاﻟْﺤ َﻴَﺎةَ ﻟِﻴَﺒْﻠُﻮَﻛ ُﻢْ أ ﻳُّﻜ ُﻢ‬
َ
ُ ‫أ ﺣ ْﺴ َﻦ ُ ﻋ َﻤَﻼً ۚ وَﻫُﻮَ اﻟْﻌَﺰ ِﻳﺰ ُ اﻟْﻐَﻔُﻮر‬
“(Dialah Allah) yang telah menciptakan kematian dan kehidupan
demi menguji siapakah di antara kalian yang terbaik amalannya,
dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)
Ujian itu amat berat, sedangkan tabiat dasar manusia amat
zalim dan amat bodoh. Dengan kasih sayang-Nya yang sangat
luas, Allah Subhanahu wata’ala mengutus orang-orang pilihan
(para nabi) sebagai pemberi peringatan bagi yang lalai dari
amanat berat itu; sekaligus pemberi kabar gembira bagi yang
menjalankannya dengan baik. Allah Subhanahu wata’ala sertakan
pula kitab suci sebagai pedoman hidup
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
bagi
mereka.
ُ
ُ‫ﻛ َــﺎنَ اﻟﻨَّــﺎسُ أ ﻣَّــﺔً وَاﺣ ِــﺪَةً ﻓ َﺒَﻌَــﺚَ اﻟﻠَّــﻪ‬
َ
ُ‫اﻟﻨَّﺒِﻴِّﻴﻦ َ ﻣُﺒَﺸ ِّﺮ ِﻳﻦ َ وَﻣُﻨﺬِرِﻳﻦ َ وَأ ﻧﺰ َلَ ﻣَﻌَﻬ ُﻢ‬
‫اﻟْﻜ ِﺘَـﺎبَ ﺑِـﺎﻟْﺤ َﻖّ ِ ﻟِﻴَﺤ ْﻜ ُـﻢَ ﺑ َﻴ ْـﻦ َ اﻟﻨَّـﺎسِ ﻓ ِﻴﻤَـﺎ‬
ِ‫اﺧ ْﺘَﻠَﻔُﻮا ﻓ ِﻴﻪ‬
“Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul
perselisihan), Allah mengutus para nabi sebagai pemberi kabar
gembira dan pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama
mereka kitab yang benar untuk memberi putusan di antara
manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.”
(alBaqarah: 213)
Semua nabi utusan Allah Subhanahu wata’ala itu benar-benar
telah menunaikan tugas yang mereka emban. Tidaklah ada satu
kebaikan yang mereka ketahui kecuali telah mereka tunjukkan
kepada umat kepada. Tidak ada pula satu kejelekan yang mereka
ketahui kecuali telah mereka peringatkan umat darinya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
‫إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِيٌّ قَبْلِي إِلَّا كَانَ حَقًّا‬
ُ‫عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُه‬
ْ‫ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُم‬،ْ‫لَهُم‬
“Sesungguhnya, tidak ada seorang nabi pun kecuali melainkan
bersungguh-sungguh menunjuki umatnya kepada kebaikan yang
diketahuinya, dan memperingatkan mereka dari kejelekan yang
diketahuinya.” (HR. Muslim no. 1844, dari sahabat Abdullah bin
Amr bin al-Ash radhiyallahu ‘anhuma)
Nabi Terbaik yang Diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di Muka
Bumi
Di antara para nabi yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala
adalah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi
terbaik yang diutus oleh Allah Subhanahu wata’ala di muka bumi
ini, sebagai rahmat bagi alam semesta. Allah Subhanahu
wata’ala berfirman,
َ
َ ‫وَﻣَﺎ أ ر ْﺳَﻠْﻨَﺎك َ إِﻻَّ ر َﺣ ْﻤَﺔً ﻟِّﻠْﻌَﺎﻟَﻤِﻴﻦ‬
“Dan tidaklah Kami mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi
alam semesta.” (al-Anbiya’: 107)
Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam mempunyai keutamaan yang
banyak. Berbagai keutamaan yang tak dimiliki oleh para nabi
sebelumnya pun beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sandang.
Sabda beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,
ُ‫ نُصِرْت‬:‫أُعْطِيتُ خَمْسًا لَمْ يُعْطَهُنَّ أَحَدٌ قَبْلِي‬
ُ‫الأَرْض‬
‫لِي‬
ْ‫وَجُعِلَت‬
،ٍ‫شَهْر‬
َ‫مَسِيرَة‬
ِ‫بِالرُّعْب‬
‫أُمَّتِي‬
ْ‫مِن‬
ٍ‫رَجُل‬
‫فَأَيُّمَا‬
،‫وَطَهُورًا‬
‫مَسْجِدًا‬
‫لِي‬
ْ‫وَأُحِلَّت‬
،ِّ‫فَلْيُصَل‬
ُ‫الصَّلاَة‬
ُ‫أَدْرَكَتْه‬
ُ‫وَأُعْطِيت‬
،‫قَبْلِي‬
ٍ‫تَحِلَّحِألََد‬
ْ‫وَلَم‬
ُ‫المَغَانِم‬
ِ‫ وَكَانَ النَّبِيُّ يُبْعَثُ إِلَى قَوْمِه‬،َ‫الشَّفَاعَة‬
ً‫خَاصَّةً وَبُعِثْتُ إِلَى النَّاسِعَامَّة‬
“Aku diberi lima karunia yang belum pernah diberikan kepada
seorang (nabi) pun sebelumku: (1) aku diberi kemenangan dengan
ditimpakan rasa gentar pada hati musuhku sebulan sebelum
bertemu denganku; (2) dijadikan untukku bumi sebagai tempat
shalat dan sarana bersuci sehingga siapa sajadari umatku yang
mendapati waktu shalat hendaknya mengerjakannya di mana saja;
(3) dihalalkan bagiku harta pampasan perang yang tidak
dihalalkan bagi siapa pun sebelumku; (4) aku diizinkan memberi
syafaat (untuk segenap manusia di hari kiamat); (5) dan
sungguh tiap-tiap nabi diutus khusus kepada kaumnya, sedangkan
aku diutus untuk seluruh manusia.” (HR. al-Bukhari no. 335,dan
Muslim no. 521, dari sahabat Jabir bin Abdillah radhiyallahu
‘anhu)
Beliau Shallallahu `alaihi wa sallam diutus oleh
Allah Subhanahu wata’ala di akhir zaman, memberi kabar gembira
dan memberi peringatan, dengan membawa petunjuk dan agama yang
benar. Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam menyeru manusia ke
jalan Allah Subhanahu wata’ala. Beliau menjadi pelita yang
menerangi dengan seizin-Nya. Allah Subhanahu wata’ala menutup
risalah kenabian dengan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,
menyelamatkan manusia dari kesesatan dan mengentaskan mereka
dari kebodohan. Dengan risalah (Islam) yang beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam bawa, Allah Subhanahu wata’alamembuka matamata yang buta, telinga-telinga yang tuli, dan jiwa-jiwa yang
terkunci. Bumi yang dipenuhi kegelapan pun menjadi bersinar
dengan risalah (Islam) yang beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam bawa itu. Jiwa-jiwa yang bercerai-berai menjadi
bersatu dengannya, keyakinan yang bengkok menjadi lurus, dan
jalan-jalan menjadi terang bercahaya. Allah Subhanahu wata’ala
telah melapangkan dada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,
menurunkan beban yang memberati beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam, meninggikan sebutan (nama) beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam, dan menjadikan kerendahan bagi siapa saja
yang menyelisihi perintah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Allah Subhanahu wata’ala mengutus beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam ketika dunia lengang dari rasul, kitab-kitab suci
(yang murni) telah lenyap, syariat yang lurus telah
diselewengkan. Setiap kaum bersandar kepada pendapat mereka
yang paling zalim, bahkan menghukumi antaraAllah Subhanahu
wata’ala dan para hamba-Nya dengan teori-teori yang rusak dan
hawa nafsu.Melalui beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam,
Allah Subhanahu wata’ala menunjuki seluruh makhluk,
menjelaskan jalan kebenaran, mengeluarkan manusia dari
kegelapan menuju cahaya yang terang benderang, menerangi
kebodohan, dan meluruskan penyimpangan yang ada di tengahtengah mereka. Allah Subhanahu wata’ala menjadikan
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pembagi surga dan
neraka (maksudnya, yang menaati beliau masuk ke dalam surga
dan yang menyelisihi beliau masuk ke dalam neraka, -pen.).
Allah Subhanahu wata’ala juga menjadikan beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam sebagai pembeda antara orang yang baik dan
orang yang jahat. Allah Subhanahu wata’ala menetapkan bahwa
petunjuk dan keberuntungan akan diraih dengan mengikuti
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan kesesatan dan
kebinasaan dituai dengan menentang dan menyelisihi beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam.
(Majmu’ Fatawa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah 19/102—103) Allah
Subhanahu wata’ala berfirman,
َ
ُ ‫ﻳَﺎ أ ﻫْﻞ َ اﻟْﻜ ِﺘَﺎبِ ﻗ َﺪ ْ ﺟ َﺎءَﻛ ُﻢْ ر َﺳُﻮﻟُﻨَﺎ ﻳُﺒَﻴِّﻦ‬
ِ‫ﻟَﻜ ُﻢْ ﻛ َﺜِﻴﺮ ًا ﻣِّﻤَّﺎ ﻛ ُﻨﺘُﻢْ ﺗُﺨ ْﻔُﻮنَ ﻣِﻦ َ اﻟْﻜ ِﺘَﺎب‬
ٌ ‫وَﻳَﻌْﻔُﻮ ﻋ َﻦ ﻛ َﺜِﻴﺮ ٍ ۚ ﻗ َﺪ ْ ﺟ َﺎءَﻛ ُﻢ ﻣِّﻦ َ اﻟﻠَّﻪِ ﻧُﻮر‬
َ‫وَﻛ ِﺘَﺎبٌ ﻣُّﺒِﻴﻦ ٌ )( ﻳَﻬ ْﺪِي ﺑِﻪِ اﻟﻠَّﻪُ ﻣَﻦ ِ اﺗَّﺒَﻊ‬
ِ‫رِﺿ ْﻮَاﻧَﻪُ ﺳُﺒُﻞ َ اﻟﺴ َّﻼَ مِ وَﻳُﺨ ْﺮ ِﺟ ُﻬ ُﻢ ﻣِّﻦ َ اﻟﻈ ُّﻠُﻤَﺎت‬
‫ـﻰٰ ﺻ ِـ‬
‫ـﺪِﻳﻬ ِﻢْ إِﻟَـ‬
‫ـﻪِ وَﻳَﻬ ْـ‬
‫ـﻮرِ ﺑِﺈِ ذ ْﻧِـ‬
‫ـﻰ اﻟﻨُّـ‬
‫إِﻟَـ‬
ٍ ‫ـﺮ َاط‬
ٍ‫ﻣُّﺴ ْﺘَﻘِﻴﻢ‬
“Hai Ahli Kitab, telah datang kepada kalian Rasul kami,
menjelaskan kepada kalian banyak dari al-Kitab yang kalian
sembunyikan dan banyak pula yang dibiarkannya. Sungguh, telah
datang kepada kalian cahaya dari Allah (Nabi Muhammad) dan
kitab yang menerangkan (al-Qur’an). Dengan kitabitulah Allah
menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya kepada
jalan keselamatan. Dan(dengan kitab itu pula) Allah
mengeluarkan orang-orang itu dari kegelapan menuju cahaya
yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka
ke jalan yang lurus.” (al-Maidah: 15-16)
Demikianlah Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, amanat
ilahi telah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam tunaikan
dengan
sebaik-baiknya.
Segenap
nasihat
telah
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sampaikan kepada umat.
Perjuangan menegakkan kalimat Allah l telah beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam lakukan dengan sebenar-benar perjuangan.
Berbagai halangan dan rintangan, beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam hadapi dengan penuh kesabaran. Betapa besarnya jasa
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam kepada manusia. Sebesar
itu pula sesungguhnya hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam yang wajib mereka tunaikan. Semakin kuat dalam
menunaikan hak-hak beliau, berarti semakin kuat pula dalam
merealisasikan syahadat, “Asyhadu anna Muhammadar rasulullah.”
Mengenal Hak-Hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam
Kata pepatah Arab, faqidusy syai’ la yu’thihi. Artinya,
seseorang yang tak punya sesuatu, tak mungkin dapat memberikan
sesuatu itu. Demikian pula dalam hal ini, seseorang yang tidak
mengenal hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam,
tak mungkin dapat menunaikan hak-hak beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam dengan sebaik-baiknya. Oleh karena itu,
sangat penting bagi kita selaku umat Muhammad Shallallahu
`alaihi wa sallam untuk mengenal hak-hak beliau Shallallahu
`alaihi wa sallam agar dapat menunaikannya dengan baik dan
tepat. Bila dicermati lebih jauh, sesungguhnya ada di antara
manusia yang menunaikan hak-hak beliau Shallallahu `alaihi wa
sallam namun masih belum baik dan tepat. Mereka adalah,
1. Orang yang bermudah-mudahan dalam menunaikan hak beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam.
2. Orang yang berlebihan-lebihan dalam menunaikan hak beliau
Shallallahu ‘alaihi wasallam, hingga memposisikan beliau
Shallallahu `alaihi wa sallam sejajar dengan Allah Subhanahu
wata’ala. Diberikan kepada beliau sanjungan rububiyah
(kekuasaan
ilahi)
yang
sesungguhnya
hanya
milik
Allah Subhanahu wata’ala semata.1
Adapun menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
yang dinilai baik dan tepat adalah manakala tidak keluar dari
koridor
“abdullah
wa
rasuluhu”,
yakni
posisi
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah sebagai hamba
Allah Subhanahu wata’ala dan utusan-Nya. Sebagai
hambaAllah Subhanahu wata’ala beliau tidak boleh disejajarkan
dengan Allah Subhanahu wata’ala. Demikian pula, sebagai
utusan-Nya, beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam harus
dimuliakan, ditaati, dan tidak boleh diselisihi. Di antara
hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus
ditunaikan adalah sebagai berikut.
1. Menaati segala yang diperintahkan oleh beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam
Menaati segala yang diperintahkan oleh beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam menjadi hak beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam yang terbesar. Ia adalah amalan mulia yang
diperintahkan oleh Allah Subhanahu wata’ala pada banyak ayat.
Bahkan, ketaatan kepada beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
merupakan realisasi ketaatan kepada Allah Subhanahu wata’ala.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
َ
َ‫ﻣَّﻦ ﻳُﻄ ِﻊ ِ اﻟﺮ َّﺳُﻮلَ ﻓ َﻘَﺪ ْ أ ﻃ َﺎع َ اﻟﻠَّﻪ‬
“Barang siapa menaati Rasul, sungguh dia telah menaati Allah.”
(an- Nisa’: 80)
Menaati beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam akan mengantarkan
kepada kesuksesan yang besar. Allah Subhanahu wata’ala
berfirman,
‫وَﻣَﻦ ﻳُﻄ ِﻊ ِ اﻟﻠَّﻪَ وَر َﺳُﻮﻟَﻪُ ﻓ َﻘَﺪ ْ ﻓ َﺎزَ ﻓ َﻮْزًا ﻋ َﻈ ِﻴﻤًﺎ‬
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, sungguh ia telah
meraih sukses yang besar.” (al-Ahzab: 71)
Hidayah dan rahmat Allah Subhanahu wata’ala pun akan diraih
dengannya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
‫وَإِن ﺗُﻄ ِﻴﻌُﻮه ُ ﺗَﻬ ْﺘَﺪ ُوا‬
“Jika kalian menaati beliau, niscaya kalian akan mendapatkan
petunjuk.” (an-Nur: 54)
َ
َ‫وَأ ﻃ ِﻴﻌُﻮا اﻟﺮ َّﺳُﻮلَ ﻟَﻌَﻠَّﻜ ُﻢْ ﺗُﺮ ْﺣ َﻤُﻮن‬
“Taatlah kepada Rasul, niscaya kalian dirahmati.” (an-Nur: 56)
Dengannya pula kenikmatan surga
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
akan
didapatkan.
‫وَﻣَﻦ ﻳُﻄ ِﻊ ِ اﻟﻠَّﻪَ وَر َﺳُﻮﻟَﻪُ ﻳُﺪ ْﺧ ِﻠْﻪُ ﺟ َﻨَّﺎتٍ ﺗَﺠ ْﺮ ِي‬
َ ‫ﻣِـﻦ ﺗَﺤ ْﺘِﻬ َـﺎ اﻷْ َﻧْﻬ َـﺎر ُ ﺧ َﺎﻟِـﺪِﻳﻦ َ ﻓ ِﻴﻬ َـﺎ ۚ وَذ َٰﻟِـﻚ‬
ُ‫اﻟْﻔَﻮْزُ اﻟْﻌَﻈ ِﻴﻢ‬
“Barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah akan
memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal abadi di dalamnya. Itulah
kesuksesan yang besar.” (an-Nisa’: 13)
2. Membenarkan segala yang dikabarkan oleh beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam
Setiap muslim wajib membenarkan segala yang dikabarkan oleh
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam, baik terkait dengan masa
lampau, yang sedang terjadi, maupun yang akan datang. Kabar
yang datang dari beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pasti
benar, walaupun berlawanan dengan logika atau hawa nafsu.3
Sebab, tidaklah beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam bertutur
kata kecuali berdasarkan wahyu Allah Subhanahu wata’ala.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
ٰ‫وَﻣَﺎ ﻳَﻨﻄ ِﻖُ ﻋ َﻦ ِ اﻟْﻬ َﻮَىٰ )( إِنْ ﻫُﻮَ إِﻻَّ وَﺣ ْﻲ ٌ ﻳُﻮﺣ َﻰ‬
“Tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsu. Tidak lain
itu adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 3—4)
Sebenarnya pula, logika yang sehat tidak akan bertentangan
dengan berita dari RasulullahShallallahu ‘alaihi wasallam.
3. Menjauhkan diri dari segala yang
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
dilarang
oleh
Segala yang dilarang oleh beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam
pasti jelek dan mendatangkan murka Allah Subhanahu wata’ala.
Tak mengherankan apabila Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
ُ‫ﻋ َﻨْﻪ‬
ْ‫ﻧَﻬ َﺎﻛ ُﻢ‬
‫وَﻣَﺎ‬
ُ ‫ﻓ َﺨ ُﺬ ُوه‬
ُ‫اﻟﺮ َّﺳُﻮل‬
ُ‫وَﻣَﺎ آﺗَﺎﻛ ُﻢ‬
ۚ ‫ﻓ َﺎﻧﺘَﻬ ُﻮا‬
“Segala yang dibawa oleh Rasul kepada kalian maka ambillah,
dan segala yang kalian dilarang darinya maka tinggalkanlah!”
(al-Hasyr: 7)
Maka dari itu, menjauhkan dari dari segala yang dilarang oleh
beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam adalah jalan keselamatan
di dunia dan di akhirat.
4. Tidak beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala kecuali
dengan syariat yang dibawa oleh beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam
Beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak boleh
dilakukan semaunya. Sebab, ibadah ialah munajat dan pendekatan
diri (taqarrub) kepada Rabb alam semesta Subhanahu wata’ala.
Beribadah kepada Allah Subhanahu wata’ala harus dilakukan
dengan ikhlas karena-Nya. Demikian pula, ia harus dilakukan
sesuai dengan bimbingan dan syariat yang dibawa oleh Nabi
Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Barang siapa beribadah
kepada Allah Subhanahu wata’ala tidak sesuai dengan bimbingan
dan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi
wasallam, amalannya ditolak oleh Allah Subhanahu wata’ala.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ّ‫ مَنْ عَمِلَ عَمَ لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَ د‬.
“Barang siapa melakukan sebuah amalan (dalam agama ini) yang
tidak ada perintahnya dari kami, ia tertolak.” (HR. Muslim no.
1718, dari Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha)4
Empat hak di atas disebutkan oleh Syaikhul Islam Muhammad bin
Abdul Wahhab rahimahullah dalam kitab beliau, Tsalatsatul
Ushul, ketika menjelaskan konsekuensi syahadat Muhammadar
rasulullah.
5. Mengikuti jejak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam dan
menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai teladan
dalam segenap sendi kehidupan.
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
‫ﻗ ُــﻞ ْ إِن ﻛ ُﻨﺘُــﻢْ ﺗُﺤ ِﺒُّــﻮنَ اﻟﻠَّــﻪَ ﻓ َــﺎﺗَّﺒِﻌُﻮﻧِﻲ‬
ُ‫ﻳُﺤ ْﺒِﺒْﻜ ُﻢُ اﻟﻠَّﻪُ وَﻳَﻐْﻔِﺮ ْ ﻟَﻜ ُﻢْ ذ ُﻧُﻮﺑ َﻜ ُﻢْ ۗ وَاﻟﻠَّﻪ‬
ٌ‫ﻏ َﻔُﻮر ٌ ر َّﺣ ِﻴﻢ‬
“Katakanlah (Muhammad), ‘Jika kalian mencintai Allah maka
ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan
mengampuni dosa-dosa kalian.’ Dan Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)
ٌ‫ﻟَّﻘَﺪ ْ ﻛ َﺎنَ ﻟَﻜ ُﻢْ ﻓ ِﻲ ر َﺳُﻮل ِ اﻟﻠَّﻪِ أُﺳْﻮَةٌ ﺣ َﺴ َﻨَﺔ‬
“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan
yang baik bagi kalian.” (al-Ahzab: 21)
6. Menjadikan beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai
pemutus dalam segala hal yangdiperselisihkan
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
‫ﻓ َﻼَ وَر َﺑ ِّـﻚ َ ﻻَ ﻳُﺆْﻣِﻨُـﻮنَ ﺣ َﺘَّـﻰٰ ﻳُﺤ َﻜ ّ ِﻤُـﻮك َ ﻓ ِﻴﻤَـﺎ‬
َ
‫ﺷ َﺠ َﺮ َ ﺑ َﻴ ْﻨَﻬ ُﻢْ ﺛُﻢَّ ﻻَ ﻳَﺠ ِﺪ ُوا ﻓ ِﻲ أ ﻧﻔُﺴ ِﻬ ِﻢْ ﺣ َﺮ َﺟ ًﺎ‬
‫ﻣِّﻤَّﺎ ﻗ َﻀ َﻴ ْﺖَ وَﻳُﺴ َﻠِّﻤُﻮا ﺗَﺴ ْﻠِﻴﻤًﺎ‬
“Maka demi Rabb-mu, mereka tidak beriman hingga menjadikan
engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka
perselisihkan, kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati
mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka
menerima dengan sepenuhnya.” (an-Nisa’: 65)
7. Mencintai beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam melebihi
kecintaan kepada siapa pun
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
ْ‫لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِن‬
َ‫وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِين‬
“Tidaklah salah seorang di antara kalian beriman hingga aku
menjadi yang lebih dia cintai daripada anaknya, orang tuanya,
dan manusia semuanya.” (HR. Muslim no. 70, dari sahabat Anas
bin Malikradhiyallahu ‘anhu)
8. Membela dan tidak menyakiti beliau Shallallahu ‘alaihi
wasallam
Allah Subhanahu wata’ala berfirman,
َ
ٌ‫وَاﻟَّﺬِﻳﻦ َ ﻳُﺆْذ ُونَ ر َﺳُﻮلَ اﻟﻠَّﻪِ ﻟَﻬ ُﻢْ ﻋ َﺬ َابٌ أ ﻟِﻴﻢ‬
“Dan orang-orang yang menyakiti Rasulullah, bagi mereka azab
yang pedih.” (at-Taubah: 61)
Akhir kata, demikianlah di antara hak-hak Nabi Muhammad
Shallallahu `alaihi wa sallam yang wajib kita tunaikan.
Menunaikan hak-hak beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam berarti
merealisasikan syahadat “Asyhadu anna Muhammadar rasulullah”.
Lebih dari itu, dengan menunaikan hakhak beliau Shallallahu
‘alaihi wasallam akan diraih kebahagiaan di dunia dan di
akhirat. Semoga taufik, hidayah, dan inayah Allah Subhanahu
wata’ala senantiasa mengiringi kita, sehingga dimudahkan dalam
menunaikan hak-hak Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Amin.
Sumber: Majalah Asy Syariah
Pembagian Jenis Orang yang
Tertimpa Musibah
PEMBAGIAN JENIS ORANG YANG TERTIMPA MUSIBAH
Berkata Syaikh Muhammad bin Shalih Al ’Utsaimin –semoga Allah
merahmatinya- :
Keadaan manusia yang tertimpa musibah terbagi dalam beberapa
tingkatan:
Pertama: Orang yang Bersyukur
Kedua:
Orang yang Ridha
Ketiga :
Orang yang Bersabar
Keempat : Orang yang Berputus Asa
Adapun orang yang berputus asa, maka hanya akan melakukan
suatu perbuatan yang dilarang. Yakni, marah terhadap ketetapan
Allah Rabb semesta alam, yang di tangan-Nya kekuasaan di
langit dan dibumi. Milik-Nya lah segala kekuasaan, dan Ia
berbuat sekehendak-Nya.
Dan adapun orang yang bersabar, sungguh dia telah melakukan
kewajibannya (yaitu bersabar). Dan yang dimaksud bersabar
adalah seseorang menanggung musibah dengan sabar. Yakni dia
memandang bahwasannya musibah itu pahit, berat, sulit, dan
benci musibah itu menimpanya. Akan tetapi dia menanggungnya
dan menahan dirinya dari perbuatan yang haram, dan yang
demikian ini adalah kewajiban.
Dan adapun Ridha. Yakni, orang yang tidak tersibukkan atas
musibah yang menimpanya. Dia memandang bahwa musibah ini
datangnya dari sisi Allah dan dia ridha, dengan keridhaan yang
sempurna. Dan tidaklah menjadikan di dalam hatinya rasa kecewa
dan menyesal atasnya.
Karena dia ridha, yakni dengan keridhoan yang sempurna.
Keadaannya yang demikian ini lebih tinggi dari keadaan orang
yang bersabar. Keridhaan yang seperti itu adalah lebih utama
(mustahab), akan tetapi bukanlah merupakan suatu kewajiban.
Dan adapun orang yang bersyukur, dia bersyukur kepada Allah
atas musibah ini.
Akan tetapi bagaimana caranya dia dapat bersyukur kepada Allah
? Sedangkan hal tersebut adalah suatu musibah?
Jawabannya: Dari dua sisi
pertama: Dengan melihat seseorang yang tertimpa musibah yang
lebih besar. Kemudian dia bersyukur kepada Allah karena dia
tidak tertimpa musibah yang semisalnya.
Dan dalam permasalahan ini, terdapat hadits: “Janganlah kalian
melihat orang yang di atas kalian (kenikmatan duniawinya), dan
lihatlah orang yang berada di bawah kalian. Karena yang
demikian itu, akan menjadikan kalian tidak meremehkan nikmat
Allah atas kalian”.
Kedua: Dia tahu bahwasannya dengan adanya musibah ini akan
diampuni dosa-dosanya. Akan di angkat derajatnya jika dia
bersabar. Dan segala sesuatu yang ada di akhirat itu lebih
baik dibandingkan dengan apapun yang ada di dunia. Maka diapun
bersyukur kepada Allah.
Dan juga, perlu dipahami bahwa, manusia yang paling berat
ujiannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang sholeh,
kemudian orang terbaik setelahnya dan terbaik lagi seterusnya.
Maka hendaknya seseorang berharap menjadi bagian dari orangorang yang sholeh karenanya. Dan bersyukur kepada Allah
subhanahu wata’ala atas nikmat ini.
-Syarah Al-mumti’/ al-UtsaiminAlih Bahasa : Syabab Forum Salafy Indonesia
Kebenaran Hanya Datang Dari
Allah
KEBENARAN
ALLAH
HANYA
DATANG
DARI
Ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Karimah Askari bin Jamal Al-Bugisi
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang
sebenarnya. Maka tidak ada sesudah kebenaran itu melainkan
kesesatan. Maka bagaimanakah kamu dipalingkan (dari
kebenaran)?” (Yunus: 32)
Penjelasan Mufradat Ayat
“Maka (Dzat yang demikian) itulah Allah, Rabb kamu yang
sebenarnya”
Ayat ini menyebutkan tiga dari nama Allah Subhanahuwata’ala,
yaitu (nama) Allah yang mengandung sifat uluhiyyah bagi-Nya,
Ar-Rabb yang mengandung sifat Rububiyyah baginya, dan Al-Haq
yang mengandung sifat kebenaran tentang wujud-Nya, kebenaran
tentang firman-Nya, syariat-Nya, dan seluruh janji-Nya. Allah
telah memberi nama dirinya dengan “Al-Haq” dalam berbagai
tempat dalam Al Qur`an, seperti firman-Nya:
“Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dialah yang haq
dan sesungguhnya Dialah yang menghidupkan segala yang mati dan
sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Haj:
6)
“Maka Maha Tinggi Allah, Raja Yang haq; tidak ada sesembahan
(yang berhak disembah) selain Dia, Rabb (Yang mempunyai) ‘Arsy
yang mulia.” (Al-Mukminun: 116)
Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dari hadits Abdullah bin
Abbas radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wa
sallam bersabda:
“Engkau adalah Al-Haq dan perkataan-Mu haq.”
Al-’Allamah
Asy-Syaikh
Muhammad
bin
Shalih
Al-’Utsaimin
Rahimahullah memasukkan Al-Haq di antara nama-nama Allah.
(lihat Al-Qawa’idul Mutsla: 21)
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah berkata: “Al-Haq
pada dzat dan sifat-Nya. Sehingga Dia adalah wajibul wujud
(keberadaan-Nya adalah wajib), sempurna sifat-Nya, wujud-Nya
adalah kelaziman dzat-Nya, dan tidak terwujud segala sesuatu
kecuali dengan-Nya. Dialah yang senantiasa memiliki sifat
keagungan, keindahan, kesempurnaan, dan senantiasa berbuat
kebaikan. Firman-Nya adalah haq, perbuatannya haq, pertemuan
dengan-Nya adalah haq, para Rasul-Nya adalah haq, kitab-kitabNya adalah haq, agamanya haq, beribadah hanya kepadanya adalah
haq, dan segala sesuatu yang dinisbahkan kepadanya adalah
haq.” (lihat Shifatullah, tulisan As-Saqqaf hal. 120)
Kata Adh-Dhalal atau Adh-Dhalalah maknanya adalah lawan dari
Al-Huda (petunjuk). (Al-Qamus hal. 1024)
Al-Imam Al-Qurthubi Rahimahullah berkata: “Adh-Dhalal
(kesesatan) hakekatnya adalah menjauh dari kebenaran. Ibnu
‘Arafah berkata: Adh-Dhalalah (kesesatan) di kalangan Arab
maknanya adalah menempuh selain jalan yang lurus.” (Tafsir AlQurthubi secara ringkas, 8/337)
Terkadang Adh-Dhalal juga diungkapkan atas seseorang yang
tidak mengenal Allah Subhanahuwata’ala yang disertai
kelalaian, walaupun keadaan orang tersebut tidak diliputi
kejahilan atau keraguan. Atas penafsiran ini, sebagian para
ulama memahami firman Allah Subhanahuwata’ala:
“Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang lalai, lalu Dia
memberikan petunjuk.” (Adh-Dhuha: 7)
Yaitu “lalai” menurut salah satu penafsiran (yaitu dengan
makna tidak mengenal Allah Subhanahuwata’ala, red). Dan ini
dikuatkan dengan firman-Nya:
“Dahulu engkau tidak mengetahui apa itu kitab dan apa itu
iman.” (Asy-Syura: 52)
Termasuk pula dalam pengertian ini apa yang diriwayatkan oleh
Abdullah bin Abdil Hakam dan Asyhab dari Al-Imam Malik
Rahimahullah tentang ayat ini, di mana beliau mengatakan:
“Bermain catur dan dadu termasuk dari Adh-Dhalal (kelalaian).”
(Tafsir Al-Qurthubi, 8/337)
Penjelasan Makna Ayat
Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di Rahimahullah berkata: “Maka
itulah Rabbmu, yaitu yang diibadahi, yang disembah, yang
dipuji, yang mendidik seluruh makhluk dengan berbagai
kenikmatan-Nya. Dialah Al-Haq, maka tidak ada lagi setelah AlHaq melainkan kesesatan. Karena Dia-lah yang bersendiri dalam
mencipta, mengurusi segala sesuatu. Tidak seorang hamba pun
yang merasakan satu kenikmatan melainkan berasal dari-Nya, dan
tidak ada yang mendatangkan kebaikan melainkan Dia, tidak ada
yang menolak kejelekan kecuali Dia.
Dia memiliki Asma`ul Husna dan sifat-sifat yang maha sempurna
yang agung, penuh kemuliaan dan kesempurnaan. Lalu mengapa
kalian berpaling dari beribadah kepada yang demikian sifatsifat-Nya (yakni berpaling dari Allah)? Lalu menyembah sesuatu
yang wujudnya akan sirna, tidak mampu mendatangkan manfaat dan
mudharat serta tidak pula mampu mendatangkan kematian,
kehidupan, dan kebangkitan? Dia tidak memiliki kekuasaan
sedikitpun dan tidak ada sekutu bagi Allah dalam hal apapun.
Tidak ada yang berhak memberi syafaat di sisi Allah
Subhanahuwata’ala melainkan dengan izin-Nya. Maka celakalah
bagi yang menyekutukan-Nya dan binasalah bagi yang kafir
terhadap-Nya. Telah hilang akal mereka setelah hilangnya agama
mereka, bahkan mereka telah kehilangan dunia dan akhirat. Oleh
karena hal itu Allah Subhanahuwata’ala berfirman tentang
mereka:
‘Demikianlah telah tetap hukuman Rabbmu terhadap orang-orang
yang fasiq, karena sesungguhnya mereka tidak beriman.’ (Yunus:
33).” (Taisir Al-Karim Ar-Rahman hal. 363)
Kebenaran Hanyalah Satu dan Tidak Berbilang
Ayat Allah Subhanahuwata’ala yang mulia ini menjelaskan kepada
kita bahwa jalan kebenaran hanyalah satu dan tidak ada lagi
selain dari jalan tersebut melainkan kesesatan dan
penyimpangan dari Al-Haq. Al-Imam Al-Qurthubi Rahimahullah
berkata: “Ayat ini memberikan hukum bahwa tidak terdapat
kedudukan yang ketiga antara Al-Haq dan bathil dalam masalah
ini yaitu dalam mentauhidkan Allah Subhanahuwata’ala. Demikian
pula dalam perkara-perkara yang serupa dengannya, yaitu
masalah ushul (prinsip-prinsip agama, red.) yang mana
kebenaran hanya ada di satu pihak.” (Tafsir Al-Qurthubi,
8/336)
Jika demikian keadaannya, maka hendaklah seorang muslim selalu
berusaha untuk mencari jalan keselamatan tersebut yang
jumlahnya hanya satu. Hal ini ditegaskan oleh Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam dalam beberapa haditsnya. Di
antaranya adalah yang diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud
Radhiyallahuanhu, ia berkata:
Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam membuat sebuah garis di
hadapan kami satu garis lalu berkata: “Ini adalah jalan
Allah.” Lalu beliau menggaris beberapa garis di sebelah kanan
dan sebelah kiri garis tadi lalu berkata: “Ini adalah jalanjalan. Di atas setiap jalan itu terdapat setan yang menyeru
kepadanya.” Lalu beliau membaca firman Allah: “Dan
sesungguhnya ini adalah jalanku yang lurus, maka ikutilah. Dan
janganlah mengikuti jalan-jalan (sesat) hingga akan terpisah
kalian dari jalan-Nya.
[1]
”
(HR. Al-Imam Ahmad, 1/435 dan 465,
An-Nasa`i dalam Al-Kubra, 6/11174, Ad-Darimi no. 202, AthThayalisi no. 244, Sa’id bin Manshur, 5/935, Ibnu Hibban,
1/180/6, dan Al-Hakim, 2/348, seluruhnya dari Abdullah bin
Mas’ud Radhiyallahuanhu. Al-Hakim berkata: “Hadits ini
sanadnya shahih.” Hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh AlAlbani rahimahullah dalam tahqiq Syarah Al-’Aqidah AthThahawiyyah hal. 525)
Dalam hadits ini,
ketika menyebutkan jalan Allah, Rasulullah
Shalallahu’alaihi wa sallam menyebutkan dengan lafadz mufrad
(tunggal). Namun ketika menyebutkan kesesatan, beliau
menyebutkannya dalam bentuk jamak, yang menunjukkan banyaknya
jalan-jalan kesesatan dan banyaknya jumlah para pengikut setan
yang menghalangi manusia untuk berjalan di atas jalan Allah
Subhanahuwata’ala. Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka
bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan
mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (AlAn’am: 116)
Demikian pula yang diriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-
’Ash Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wa
sallam bersabda:
“…Umatku akan berpecah menjadi 73 golongan, semuanya dalam
neraka kecuali satu golongan.” Beliau ditanya: “Siapakah yang
satu itu?” Beliau menjawab: “Apa-apa yang aku dan para
shahabatku berada di atasnya.” (HR. At-Tirmidzi, 5/2641, AlHakim, 1/218. Dihasankan oleh Asy-Syaikh Al-Albani
Rahimahullah dalam Shahih At-Tirmidzi)
Hadits tentang perpecahan ini telah diriwayatkan dari beberapa
shahabat Nabi Shalallahu’alaihi wa sallam dalam kitab-kitab
sunnah, di antaranya Anas bin Malik, Mu’awiyah bin Abi Sufyan,
‘Amr bin ‘Auf Al-Muzani radhiyallahuanhuma. Adapun riwayat
yang menyebutkan bahwa 72 yang masuk jannah (surga) dan
satunya masuk an-naar (neraka) adalah hadits yang palsu.
(lihat Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wal Maudhu’ah, AlAlbani Rahimahullah, 3/1035)
Namun anehnya riwayat ini justru dishahihkan oleh ahlul ahwa`
(orang yang mengikuti hawa nafsu, red.) yang tidak mengerti
tentang ilmu hadits dari dasarnya. Di antaranya adalah seorang
tokoh Syi’ah Rafidhah, Jalaluddin Rahmat, sebagaimana yang
ditulisnya dalam kitab sesatnya Islam Aktual.
Banyak Jalan Menuju Keselamatan
Mungkin di antara kita ada yang mempertanyakan tentang firman
Allah Subhanahuwata’ala:
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang
mengikuti keridhaan-Nya kepada jalan keselamatan. Dan (dengan
kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap
gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya,
dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 16)
Ayat ini menyebutkan subulus salaam yang berarti jalan-jalan
keselamatan. Ayat yang mulia ini sama sekali tidak
bertentangan dengan ayat dan hadits yang telah kita sebutkan
yang menunjukkan bahwa jalan kebenaran hanya satu. Sebab ayat
ini menjelaskan kepada kita bahwa di dalam Ash-Shirathul
Mustaqim tersebut banyak jalan kecil yang semuanya menuju ke
arah satu jalan utama yang besar yaitu jannah Allah
Subhanahuwata’ala. Al-Imam Al-Qurthubi berkata dalam
menafsirkan ayat ini: “Subulus salaam yaitu jalan-jalan
keselamatan yang menuju kepada Darus Salaam yang bersih dari
setiap celaan, aman dari segala yang dikhawatirkan, yaitu
jannah.” (Tafsir Al-Qurthubi, 6/118)
Di antara yang menunjukkan hal ini adalah hadits yang
diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahuanhu, bahwa
Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Iman itu 70 cabang lebih, yang tertinggi adalah ucapan La
ilaaha illallah dan yang terendah adalah menyingkirkan
gangguan dari jalanan. Dan malu adalah salah satu cabang dari
keimanan.” (HR. Muslim, Abu Dawud, An-Nasa`i, Ibnu Majah)
Demikian
pula
hadits
yang
diriwayatkan
Abu
Hurairah
Radhiyallahuanhu bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi wa sallam
bersabda:
“Setiap persendian dari manusia wajib atasnya sedekah setiap
hari tatkala terbitnya matahari. Engkau berbuat adil dalam
menghukumi antara dua orang adalah sedekah, dan engkau
menolong orang untuk menaiki kendaraannya atau engkau membantu
mengangkat barangnya di atas kendaraannya adalah sedekah,
kalimat yang baik adalah sedekah, dan setiap langkah yang
engkau berjalan dengannya menuju shalat adalah sedekah, dan
engkau menyingkirkan duri dari jalanan adalah sedekah.”
(Muttafaqun ‘alaihi)
Dan masih banyak hadits-hadits yang menjelaskan
banyaknya jalan menuju kebaikan tersebut. Oleh karena
Imam An-Nawawi Rahimahullah membuat satu bab di dalam
Riyadhush Shalihin dengan judul Bab: Penjelasan
Banyaknya Jalan Kebaikan.
tentang
itu, Alkitabnya
tentang
Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahullah berkata dalam
menjelaskan banyaknya jalan-jalan kebaikan: “Dan yang
menunjukkan kepada apa yang kami katakan bahwa di kalangan
manusia ada yang engkau dapati senang mengerjakan shalat
sehingga dia memperbanyak ibadah shalatnya. Dan di antara
mereka ada pula yang senang membaca Al Qur`an sehingga engkau
dapati dia banyak membaca Al Qur`an. Dan di antara mereka ada
yang senang berdzikir, bertasbih, bertahmid, dan semisalnya,
lalu engkau dapati dia banyak berdzikir; dan di antara mereka
ada yang dermawan yang senang menginfakkan hartanya sehingga
engkau dapati dia selalu bersedekah berinfak kepada
keluarganya dan memberikan keleluasaan kepada mereka tanpa
melampaui batas. Dan di antara mereka ada yang senang dengan
ilmu dan menuntut ilmu, yang mana di masa kita merupakan
amalan jasmani yang paling mulia. Sebab, manusia di masa kita
sekarang ini sangat membutuhkan ilmu syar’i karena banyaknya
kejahilan dan merebaknya orang-orang yang sok alim yang
mengklaim bahwa mereka adalah ulama padahal mereka tidak
memiliki ilmu melainkan sangat sedikit.
Maka kita sangat membutuhkan ilmu yakni ilmu yang mapan,
kokoh, yang dibangun di atas Al-Kitab dan As Sunnah, agar
mampu membantah berbagai kekeliruan yang tersebar di berbagai
kampung dan negara, di mana setiap orang yang baru menghafal
satu atau dua hadits dari Rasulullah r lalu berani berfatwa
dan bermudah-mudah dengannya, seakan-akan dia adalah Syaikhul
Islam Ibnu Taimiyyah, Al-Imam Ahmad, Al-Imam Asy-Syafi’i, atau
para imam yang lainnya rahimahumullah. Ini sangat berbahaya,
jika Allah Subhanahuwata’ala tidak merahmati umat ini dengan
adanya para ulama yang mapan, memiliki ilmu dan hujjah yang
kuat.” (Syarah Riyadhish Shalihin, 1/444)
Namun perlu menjadi perhatian di sini bahwa jalan-jalan
kebaikan tersebut tidak keluar dari jalur Ash-Shirathul
Mustaqim yang dijalani Rasulullah Shallahu’alaihi wa sallam
dan para shahabatnya. Dan bukan yang dimaksud di sini adalah
mengamalkan agama dengan cara-cara bid’ah yang sesat. Sebab,
kebenaran hanyalah apa yang dari Allah Subhanahuwata’ala. Maka
batil-lah sebuah pernyataan yang diserukan oleh Hasan Al-Banna
beserta para muqallid (orang-orang yang taqlid kepada)-nya:
“Kita saling tolong menolong terhadap apa yang kita sepakati
dan saling memberikan udzur terhadap apa yang kita berbeda.”
Wallahul hadi ilaa sabiil ar-rasyad.
Sumber: Majalah Asy Syariah
Catatan Kaki:
1. Surat Al-An’am ayat 153, red.
Fly UP