...

pengaruh senam 10 menit terhadap skala nyeri pada penderita gout

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

pengaruh senam 10 menit terhadap skala nyeri pada penderita gout
PENGARUH SENAM 10 MENIT TERHADAP SKALA NYERI
PADA PENDERITA GOUT DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS JENGGOT
KOTA PEKALONGAN
Heni Nafifah, Indah Kurniawati, Aida Rusmariana, Tri Sakti Wirotomo
Prodi S1 Keperawatan STIKES Pekajangan Pekalongan
ABSTRAK
Asam urat (gout) merupakan kelainan metabolisme yang dalam perkembangannya
bermanifestasi terhadap peningkatan konsentrasi asam urat dalam serum yang dapat
menyebabkan nyeri. Salah satu perawatan nyeri pada penderita gout adalah senam.
Senam 10 menit adalah senam yang dilakukan dalam durasi waktu 10 menit, dengan
beban senam ringan sampai sedang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh senam 10 menit terhadap skala nyeri pada penderita gout di Wilayah Kerja
Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan. Jenis yang digunakan pada penelitian ini adalah
Quasi Eksperimen Design dengan pendekatanOne Group Pretest-Postest.
Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel
sebanyak 15 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan ada pengaruh senam 10
menit terhadap penurunan skala nyeri pada penderita gout di Wilayah Kerja
Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan. Dibuktikan dengan penurunan nilai rata – rata
sebesar 2,27. Berdasarkan uji statistik Wilcoxon Signed-rank testdidapatkan p value
0,00 < α (0,05) dan hasil nilai Z didapatkan -3,578 < α/2(0,025), maka Ho ditolak.
Senam 10 menit digunakan bagi perawat sebagai tindakan non farmakologis, serta
dijadikan perawatan mandiri bagi responden untuk mengurangi nyeri.
Kata kunci
: Skala nyeri, Senam 10 menit, Asam urat (Gout)
PENDAHULUAN
Penyakit gangguan asam urat sudah dikenal sejak masa Hippocrates
sebagai "penyakit para raja dan raja dari penyakit“. Setiap orang dapat
mengalami tanda dan gejala gout karena proses metabolisme normal dalam
tubuh menghasilkan asam urat, sehingga asam urat di dalam tubuh tentu saja
kadarnya tidak boleh berlebihan.
Prevalensi arthritis gout di Bandungan, Jawa Tengah, pada kelompok
usia 15-45 tahun sebesar 0,8%; meliputi pria 1,7% dan wanita 0,05%.
Proporsi kejadian arthritis gout di Minahasa (2003) sebesar 29,2% dan pada
etnik tertentu di Ujung Pandang sekitar 50%. Penderita rata-rata telah
menderita gout 6,5 tahun atau lebih setelah keadaan menjadi lebih parah.
Tanda dan gejala paling utama pada penyakit gout adalah nyeri.
Apabila tidak diobati dengan cara yang benar artritis gout dapat menimbulkan
serangan yang berulang dan dapat disertai pembentukan tofus. Mencegah
serangan berulang dapat dilakukan dengan pengobatan dan perawatan sendiri :
1.
Diet
2.
Kompres
3.
Olahraga
Salah satu perawatan penderita gout adalah olahraga yang teratur
berupa latihan pelemasan dan senam. Senam 10 menit merupakan senam yang
dilakukan dalam durasi waktu 10 menit, beban senam ini termasuk kelompok
ringan sampai sedang.
Berdasarkan survey yang peneliti lakukan dari beberapa Puskesmas
yang ada di Kota Pekalongan. Penderita asam urat tertinggi terdapat di
Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan sebanyak 282 orang
kunjungan tahun 2012 dan data kunjungan tiga bulan pertama tahun 2013
sebanyak 17 orang.
Hasil anamnesa terhadap beberapa penderita gout di Wilayah Kerja
Puskesmas Jenggot. Peneliti menanyakan kepada penderita gout tentang
perawatan saat nyeri, sebagian besar mereka menjawab menggunakan obat
atau kompres. dan peneliti menanyakan apakah penderita gout melakukan
latihan fisik dalam perawatan nyeri. Mereka menjawab tidak pernah karena
mereka beranggapan dengan latihan fisik atau olahraga akan semakin
memperparah nyerinya dan mereka beranggapan olahraga membutuhkan
tenaga yang banyak dan waktu yang lama.
Berdasarkan latar belakang diatas peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang "Pengaruh Senam 10 menit terhadap Skala Nyeri pada
Penderita Gout di Wilyah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan".
METODE
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah Quasi Eksperimen
dengan rancangan pendekatan One Group Pretest-Postest dan menggunakan
uji Wilcoxon signed Rank test. Populasi dalam penelitian ini adalah semua
penderita gout di Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan
sebanyak 299 orang. Teknik
pengambilan Sampel pada penelitian ini
menggunakan purposive sampling. Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 26
juni 2013 sampai tanggal 7 Juli 2013 dengan intervensi senam 10 menit pada
penderita gout yang telah memenuhi syarat inklusi di Wilayah Kerja
Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan.
Instrumen penelitian menggunakan Lembar pengukuran skala nyeri
numerik dalam penelitian ini yaitu responden dilakukan pengukuran awal
yaitu mengukur skala nyeri responden sebelum melakukan senam 10 menit
(pretest) setelah itu dikenai perlakuan yaitu senam 10 menit kemudian
dilakukan pengukuran akhir yaitu skala nyeri responden sesudah melakukan
senam 10 menit (postest). Hasilnya dilakukan analisis, apakah ada perbedaan
atau perubahan-perubahan untuk mengtahui pengaruh senam 10 menit
terhadap skala nyeri pada penderita gout di Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot
Kota Pekalongan.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
1.
Analisa Univariat
Analisa univariat merupakan analisis yang digunakan untuk
mengetahui frekuensi dan proporsi masing – masing variabel. Analisa
dalam penelitian ini adalah skala nyeri penderita gout sebelum dan
sesudah dilakukan senam 10 menit di Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot
Kota Pekalongan.
a. Skala nyeri pada penderita gout sebelum senam 10 menit di Wilayah
Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan.
Tabel 5.1
Distribusi frekuensi skala nyeri pada penderita gout
sebelum dilakukan senam 10 menit Puskesmas Jenggot
Kota Pekalongan.
T
Skala nyeri
Frekuensi
%
2
3
20
3
6
40
4
6
40
Jumlah
15
100
Tabel 5.1 menunjukkan skala nyeri pada penderita gout sebelum
dilakukan senam 10 menit. Skala nyeri tertinggi menunjukkan angka 4
sebanyak 6 responden (40%), dan skala nyeri terendah menunjukkan
angka 2 sebanyak 3 responden (20%). Nilai skala nyeri yang sering
muncul menunjukkan angka 3 dan 4 sebanyak 12 responden (80%).
b. Skala nyeri pada penderita gout sesudah dilakukan senam 10 menit di
Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan
Tabel 5.2
Distribusi frekuensi skala nyeri pada penderita gout
sesudah dilakukan senam 10 menitdi Wilayah Kerja
Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan
Skala nyeri
Frekuensi
%
0
4
26.7
1
8
53.3
2
3
20
Jumlah
15
100
Tabel 5.2 menunjukkan skala nyeri pada penderita gout sesudah
dilakukan senam 10 menit. Skala nyeri tertinggi menunjukkan angka
2 sebanyak 3 responden (20%), dan skala nyeri terendah menunjukkan
angka 0 sebanyak 4 responden (26,7%). Skala
nyeri yang sering
muncul menunjukkan angka 1 sebanyak 8 responden (53,3%).
2.
Analisa Bivariat
Analisis bivariat dalam penelitian ini bertujuan untuk mengetahui
pengaruh senam 10 menit terhadap skala nyeri pada penderita gout di
Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan. Sebelum data
diproses dilakukan normalitas terhadap data yang sudah diperoleh.
Normalitas data menggunakan uji Shapiro Wilk. Karena data tidak normal
jadi uji statistik yang digunakan uji Wilcoxon signed Rank test.
a.
Distribusi frekuensi rata-rata skala nyeri sebelum dan sesudah senam
10 menit di Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan
Tabel 5.3
Distribusi frekuensi rata-rata skala nyeri sebelum dan sesudah
senam 10 menit
Nyeri
Mean
N
Std.
Std.
Deviation
Error
Mean
Sebelum
3,20
15
0,775
0,200
0,93
15
0,704
0,182
senam 10
menit
Sesudah senam
10 menit
Tabel 5.3 menunujukkan berdasarkan analisa statistik
didapatkan nilai rata – rata (mean) skala nyeri sebelum dilakukan
senam 10 menit didapatkan hasil 3,20 dan rata – rata (mean) skala
nyeri sesudah dilakukan senam 10 menit didapatkan hasil 0,93
dengan demikian terjadi penurunan rata – rata sebelum dan sesudah
dilakukan senam 10 menit sebesar 2,27.
b.
Pengaruh senam 10 menit terhadap skala nyeri pada penderita gout di
Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan.
Tabel 5.4
Pengaruh senam 10 menit terhadap skala nyeri pada penderita
gout
Df
P value
Z
SD
skala nyeri pre
intervensi
skala nyeri post
intervensi
14 .000
-3.578-a
0.775
Tabel 5.3 di atas menunjukkan berdasarkan analisa statistik
menggunakan Wilcoxon signed Rank test didapatkan p value 0,000 <
α (0,05) dan nilai Z didapatkan hasil -3,578 < α/2 (0,025). Hal ini
menunjukkan bahwa Ho di tolak yang berarti ada pengaruh senam 10
menit terhadap skala nyeri pada penderita gout di Wilayah Kerja
Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan.
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
1. Distribusi frekuensi skala nyeri pada penderita gout sebelum senam 10
menit di Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan didapatkan
hasil skala nyeri 2 sebanyak 3 responden (20%), skala nyeri 3 sebanyak 6
responden (40%), dan skala nyeri 4 sebanyak 6 responden (40%).
2. Distribusi frekuensi skala nyeri pada penderita gout sesudah senam 10
menit di Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota Pekalongan didapatkan
hasil skala nyeri 0 sebanyak 4 responden (26,7%), skala nyeri 1 sebanyak
8 responden (53,3%), dan skala nyeri 2 sebanyak 3 responden (20%).
Skala nyeri terbanyak terdapat pada tingkat skala nyeri 1 sebanyak 8
responden (53,3%).
3. Hasil uji Wilcoxon Signed-rank testdidapatkan hasil p value = 0,000 < α =
0,05 dan nilai Z hitung = -3,578 < α/2 (0,025) maka Ha diterima yang
berarti bahwa ada Pengaruh Senam 10 menit Terhadap Penurunan Skala
Nyeri Penderita Gout di Wilayah Kerja Puskesmas Jenggot Kota
Pekalongan.
B. Saran
1.
Bagi profesi keperawatan
Penelitian ini dapat digunakan bagi perawat sebagai tindakan non
farmakologis khususnya pada kelompok – kelompok atau club senam di
komunitas, yaitu dengan melakukan senam 10 menit bagi penderita gout
yang fungsinya dapat memperbaiki kekuatan, kelenturan sendi dan
mencegah pengendapan asam urat pada ujung-ujung tubuh yang dingin
karena kurang mendapat pasokan darah sehingga melebarkan pembuluh
darah sehingga sirkulasi darah menjadi lancar dan dapat mengurangi
nyeri.
2.
Bagi pelayanan kesehatan
Penelitian ini dapat digunakan oleh pelayanan kesehatan sebagai terapi
non farmakologis menurunkan nyeri dengan melakukan senam 10 menit
enam kali dalam seminggu.
3.
Bagi responden
Penelitian ini dapat digunakan bagi responden dalam perawatan mandiri
untuk mengurangi nyeri dengan senam 10 menit enam kali dalam
seminggu secara teratur dan bermanfaat bagi masyarakat .
4.
Bagi peneliti lain
Peneliti berharap peneliti lain dapat mengembangkan penelitian mengenai
gout (asam urat) dengan menggunakan senam yang lain untuk latihan
fisik khususnya bagi penderita gout.
REFERENCE
Afriwardi 2010, Ilmu Kedokteran Olahraga, EGC, Jakarta.
Anjarwati, W. 2010, Tulang dan Tubuh Kita, Getar Hati, Yogyakarta.
Arikunto 2010, Prosedur Penelitian, Rineka Cipto, Jakarta.
Arisandy, D. & Dewi, C. 2008, Olahraga Senam, Ganeca Exact, Jakarta.
Dahlan, S. 2010, Statistik untuk Kedokteran & Kesehatan, Salemba Medika, Jakarta.
Davies, K. 2007, Buku Pintar Nyeri Tulang dan Otot, Erlangga, Jakarta.
Dharma, KK. 2011, Metodologi Penelitian Keperawatan, Trans Info Media, Jakarta.
Djarwanto 2009, Statistik Nonparametrik, BPFE, Yogyakarta.
Emery M. 2013, Latihan dalam Pencegahan Gout, dilihat 11 Februari 2013,
<http://www.ehow.com/way_5523029_exercise-prevention-gout.html
#ixzz2NKkWK4R1http://www.ehow.com/way_5523029_exerciseprevention-gout.html>
Hamijoyo
2011,
Arthritis
Gout,
dilihat
<http://reumatologi.or.id/reuarttail?id=5>
11
Februari
2013,
Harmanto, N. 2005, Menggempur Asam Urat & Rematik dengan Mahkota Dewa, PT.
Agro Media Pustaka, Tanggerang.
Harrison 2009, Harrison's Principies of Interral Medicine, Karuma Publishing
GNUP, Tanggerang Selatan.
Imron & Munif 2010, Metodologi Penelitian Bidang Kesehatan, Sagung Seto,
Jakarta.
Kodim, Nasrin 2010, Faktor Resiko Kejadian Arhtritis Gout Pada Pasien Rawat Jalan
Di Rs Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar, dilihat 05 Februari 2013,
http;/www.jurnalmedika.com/component/content/article/205editorial/327faktor-resiko-kejadian-arthritis-gout-pada-pasien-rawat-jalan-di-rumah-sakitdr-wahidin-sudirohusodo.
Kozier & Erb's 2009, Buku Ajar Praktik Keperawatan Klinis, EGC, Jakarta.
Kurnia, D. 2009, Cara Praktis Melibas Asam Urat, Cemerlang Publishing,
Yogyakarta.
Kusmana D. 2006, Olahraga untuk Orang Sehat dan Penderita Penyakit Jantung
TRIAS SOK & Senam 10 menit. FKUI, Jakarta.
Lestari, DP. 2009, Hidup Sehat Bebas Penyakit, Mancer Publisher, Yogyakarta.
Machfoedz, Ircham 2008, Statistika Nonparametik, Fitramaya, Yogyakarta.
Notoadmojo, S. 2010, Metodologi Penelitian Kesehatan, Rineka Cipto, Jakarta.
Nugraha, A. R. 2008, Exercise for Your Health, PT. Karya Kita, Bandung.
Nursalam 2008, Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan,
Salemba Medika, Jakarta.
Perry, GA & Potter, AP. 2006, Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep,
Proses, dan Praktik (Fundamental Of Nursing : Concept, Process, and
Practice), eds. Ester M, Yuliati D & Parulian, Vol 2, Edisi 4, EGC, Jakarta.
Prasetyo, S. N. 2010, Konsep dan Proses Keperawatan Nyeri, Graha Ilmu,
Yogyakarta.
Sabri & Hastono 2006, Statistik Kesehatan, Rajawali Pers, Jakarta.
Soeroso, J. & Algristjan, H. 2011, Asam Urat, Penerbit Plus, Jakarta.
Sudoyo, Aru W. 2009, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Internal Publishing, Jakarta.
Sudoyo, dkk 2009, Ilmu Penyakit Dalam, Internal Publishing, Jakarta
Sugiyono 2009, Statistik untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung.
Suiraoka, IP. 2012, Penyakit Degeneratif, Nuha Medika, Yogyakarta.
Suratun,
dkk.
2008,
Sesi
Asuhan
Keperawtan
Klien
Gangguan
Sistem
Muskuloskeletal, EGC, Jakarta.
Vitahealth 2005, Asam Urat, PT Gramedia, Pustaka Utama, Jakarta.
Widiantri, AT. & Proverawati, A. 2010, Senam Kesehatan, Nuha Medika,
Yogyakarta.
Yatim, F. 2006, Penyakit Tulang dan Persendian, Pustaka Popular, Jakarta.
Fly UP