...

Syirkah dalam Memelihara Binatang

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Syirkah dalam Memelihara Binatang
Syirkah dalam Memelihara Binatang
Ada satu macam mu'amalah yang berlaku di negeri kita ini (Arab), khususnya di desadesa, yaitu apa yang disebut syirkah dalam memelihara hewan dan binatang ternak. Salah
satu pihak membayar semua harga atau sebagiannya, sedang di pihak lain memelihara.
Sesudah itu antara kedua belah pihak membagi hasil dan keuntungannya.
Supaya jelas, maka kami akan menjelaskan beberapa macam bentuk syirkah ini, yaitu
sebagai berikut:
BENTUK PERTAMA: Syirkah semata-mata untuk tujuan dagang. Misalnya syirkah
dalam memelihara anak lembu supaya gemuk, atau memelihara sapi dan kerbau untuk
menghasilkan susu.
Yang harus dipenuhinya dalam hal ini, ialah pihak pertama harus membayar harga lembu,
sedang pihak kedua memeliharanya. Sedang pembiayaannya, seperti: makannya dan
minumnya, dari kedua belah pihak, bukan dari satu pihak saja. Dan kalau dijual,
nafkahnya itu dipisahkan dari harga penjualan, sedang sisanya dari keuntungan dibagi
menurut perjanjian.
Tidak adil kalau satu pihak dibebani nafkah, padahal dia tidak diberi imbalan, sedang
keuntungannya dibagi dua. Ini kiranya cukup jelas.
BENTUK KEDUA: Syirkah antara pihak pertama yang membayar harga binatang
dengan pihak lain yang memberi nafkah dan memelihara, dengan imbalan dia dapat
memanfaatkan air susunya atau dipergunakan membajak, menarik air dan menanam.
Cara ini tidak apa-apa dan dapat dipandang baik apabila hewannya itu besar dan jelas
dapat dimanfaatkan, baik air susunya ataupun tenaganya.
Betul nafkah yang dikeluarkan oleh pihak kedua dan kemudian dapat memanfaatkannya,
itu tidak dapat diketahui keadilannya dan tidak ada persesuaiannya dibanding dengan
pihak kedua, bahkan di dalamnya terdapat unsur kesamaran. Akan tetapi kami
menganggap baik hal tersebut, dan kesamaran-kesamaran sedikit tidak kami anggap,
sebab ada dalil yang hampir ada persamaannya dengan itu dalam syariat Islam, yaitu
tentang masalah gadai, apabila barang yang digadaikan itu berupa hewan yang mungkin
dikendarai atau diambil air susunya.
Dalam hadis yang sahih itu Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Punggung binatang itu boleh dinaiki karena nafkahnya apabila binatang tersebut
tergadaikan; dan air susu unta dapat diminum karena nafkahnya apabila binatang tersebut
digadaikan. Sedang kewajiban yang menaiki dan meminum air susunya ialah memberi
nafkah." (Riwayat Bukhari dari jalan Abu Hurairah)
Dalam hadis ini Rasulullah s.a.w. menetapkan: karena nafkah, maka imbalannya ialah
menaiki, apabila punggung binatang tersebut memungkinkan untuk dinaiki. Atau
imbalannya itu air susunya, apabila binatang tersebut mempunyai air susu yang dapat
diperah.
Apabila dalam masalah gadai ini dibolehkan, demi kepentingan kerjasama dan
memperkuat hubungan antara seorang dengan yang lain, padahal nilai nafkah kadangkadang lebih banyak dan kadang-kadang lebih sedikit kalau dibandingkan dengan nilai
menaiki atau memerah air susunya, maka tidak salah, kalau kami membolehkan yang
seperti itu dalam hal syirkah binatang seperti yang kami sebutkan di atas, demi memenuhi
kebutuhan orang banyak juga.
Apa yang kami istimbatkan dari hadis ini seperti tersebut, adalah semata-mata pendapat
kami. Semoga benar juga!
Adapun syirkah dalam hal anak lembu yang belum dapat diambil manfaatnya, baik
tenaga maupun air susunya, atas dasar harga dari satu pihak sedang nafkahnya dari pihak
lain, maka menurut kaidah Islam tidak dibenarkan. Sebab pihak yang mengeluarkan
nafkah akan menderita kerugian sendirian, tanpa ada imbalan baik tenaga ataupun air
susunya. Sedang di pihak lain dapat mengambil keuntungan atas biaya pihak ke satu.
Ini, samasekali tidak mencerminkan keadilan yang selalu ditekankan oleh Islam dalam
seluruh macam mu'amalah.
Tetapi kalau dimungkinkan kedua belah pihak dapat membagi masalah nafkahnya
sehingga tibalah saatnya binatang tersebut dapat dimanfaatkan, maka hal ini boleh saja,
menurut pendapat kami.
4.3 Tentang Hiburan
ISLAM adalah agama realis, tidak tenggelam dalam dunia khayal dan lamunan. Tetapi
Islam berjalan bersama manusia di atas dunia realita dan alam kenyataan.
Islam tidak memperlakukan manusia sebagai Malaikat yang bersayap dua, tiga dan
empat. Tetapi Islam memperlakukan manusia sebagai manusia yang suka makan dan
berjalan di pasar-pasar.
Justru itu Islam tidak mengharuskan manusia supaya dalam seluruh percakapannya itu
berupa zikir, diamnya itu berarti berfikir, seluruh pendengarannya hanya kepada al-Quran
dan seluruh senggangnya harus di masjid.
Islam mengakui fitrah dan instink manusia sebagai makhluk yang dicipta Allah, di mana
Allah membuat mereka sebagai makhluk yang suka bergembira, bersenang-senang,
ketawa dan bermain-main, sebagaimana mereka dicipta suka makan dan minum.
4.3.1 Sekedarnya Saja
Meningkatnya rohani sebagian para sahabat, telah mencapai puncak di mana mereka
beranggapan, bahwa kesungguhan yang membulat dan ketekunan beribadah, haruslah
menjadi adat kebiasaannya sehingga mereka harus memalingkan dari kenikmatan hidup
dan keindahan dunia, tidak bergembira dan tidak bermain-main. Bahkan seluruh
pandangannya dan fikirannya hanya tertuju kepada akhirat melulu dengan seluruh isinya,
serta jauh dari dunia dengan keindahannya.
Marilah kita dengarkan kisah seorang sahabat yang mulia, namanya Handhalah al-Asidi,
dia termasuk salah seorang penulis Nabi. Ia menceriterakan tentang dirinya kepada kita
sebagai berikut. Satu ketika aku bertemu Abubakar, kemudian terjadilah suatu dialog:
Abubakar: Apa kabar, ya Handhalah?
Aku: Handhalah berbuat nifaq!
Abubakar: Subhanallah, apa katamu?
Aku: Bagaimana tidak! Aku selalu bersama Rasulullah s.a.w., ia menuturkan kepadaku
tentang Neraka dan Sorga yang seolah-olah Sorga dan Neraka itu saya lihat dengan matakepalaku. Tetapi setelah saya keluar dari tempat Rasulullah s.a.w., kemudian saya
bermain-main dengan isteri dan anak-anak saya dan bergelimang dalam pekerjaan, maka
saya sering lupa tutur Nabi itu!
Abubakar: Demi Allah, saya juga berbuat demikian!
Aku: Kemudian saya bersama Abubakar pergi ke tempat Rasulullah s.a.w.
Kepadanya, saya katakan: Handhalah nifaq, ya Rasulullah!
Rasulullah: Apa!?
Aku: Ya Rasulullah! Begini ceritanya: saya selalu bersamamu. Engkau ceritakan kepada
saya tentang Neraka dan Sorga, sehingga seolah-olah saya dapat melihat dengan matakepala. Tetapi apabila saya sudah keluar dari sisimu, saya bertemu dengan isteri dan
anak-anak serta sibuk dalam pekerjaan, saya banyak lupa!
Kemudian Rasulullah s.a.w, bersabda:
"Demi Zat yang diriku dalam kekuasaannya! Sesungguhnya andaikata kamu disiplin
terhadap apa yang pernah kamu dengar ketika bersama aku dan juga tekun dalam zikir,
niscaya Malaikat akan bersamamu di tempat tidurmu dan di jalan-jalanmu. Tetapi hai
Handhalah, saa'atan, saa'atan! (berguraulah sekedarnya saja!). Diulanginya ucapan itu
sampai tiga kali." (Riwayat Muslim)
4.3.2 Rasulullah s.a.w. adalah Manusia
Kehidupan Rasulullah s.a.w. merupakan contoh yang baik bagi manusia. Dalam
khulwatnya ia melakukan sembahyang dengan khusyu', menangis dan lama berdiri
sehingga kedua kakinya bengkak. Dalam masalah kebenaran ia tidak mempedulikan
seseorang, demi mencari keridhaan Allah. Tetapi dalam kehidupannya dan
perhubungannya dengan orang lain, dia adalah manusia biasa yang sangat cinta kepada
kebaikan, wajahnya berseri-seri dan tersenyum, bergembira dan bermain-main, dan tidak
mau berkata kecuali yang hak.
Ia sangat cinta kepada kegembiraan dan apa saja yang dapat membawa kepada
kegembiraan itu. Ia tidak suka susah dan apa saja yang membawa kesusahan, seperti
berhutang dan hal-hal yang menyebabkan orang bisa payah; dan selalu minta
perlindungan kepada Allah dari perbuatan yang tidak baik.
Dalam doanya itu ia mengatakan:
"Ya Tuhanku! Sesungyuhnya aku minta perlindungan kepadaMu dari duka dan susah."
(Riwayat Abu Daud)
Dalam salah satu riwayat diceriterakan tentang berguraunya dengan seorang perempuan
tua, yaitu: ada seorang tua masuk rumah Nabi minta agar Nabi mendoakannya supaya ia
masuk sorga. Maka jawab Nabi: "Sorga tidak dapat menerima orang tua!!!"
Mendengar jawaban itu si perempuan tua tersebut menangis tersedu-sedu karena
beranggapan, bahwa ia tidak akan masuk sorga.
Setelah Rasulullah s.a.w. melihat keadaan si perempuan tersebut, kemudian ia
menerangkan maksud dari omongannya itu, yaitu: "Bahwa seorang tua tidak akan masuk
sorga dengan keadaan tua bangka, bahkan akan dirubah bentuknya oleh Allah dalam
bentuk lain, sehingga dia akan masuk sorga dalam keadaan masih muda belia. Kemudian
ia membacakan ayat:
"Sesungguhnya Kami ciptakan mereka itu dalam ciptaan yang lain, maka kami jadikan
mereka itu perawan-perawan, yang menyenangkan dan sebaya."25 (al-Waqi'ah: 35-37)
4.3.3 Hati Itu Bisa Bosan
Begitu juga para sahabatnya yang baik-baik itu, mereka biasa bergurau, ketawa, bermainmain dan berkata yang ganjil-ganjil, karena mereka mengetahui akan kebutuhan jiwanya
dan ingin memenuhi panggilan fitrah serta hendak memberikan hak hati untuk
beristirahat dan bergembira, agar dapat melangsungkan perjalanannya dalam menyusuri
aktivitasnya. Sebab aktivitas hidupnya itu masih panjang.
Ali bin Abu Talib pernah berkata: "Sesungguhnya hati itu bisa bosan seperti badan. Oleh
karena itu carilah segi-segi kebijaksanaan demi kepentingan hati."
Dan katanya pula: "Istirahatkanlah hatimu sekedarnya, sebab hati itu apabila tidak suka,
bisa buta."
Abu Darda' pun berkata juga: "Sungguh hatiku akan kuisi dengan sesuatu yang kosong,
supaya lebih dapat membantu untuk menegakkan yang hak."
Oleh karena itu, tidak salah kalau seorang muslim bergurau dan bermain-main yang
kiranya dapat melapangkan hati. Tidak juga salah kalau seorang muslim menghibur
dirinya dan rekan-rekannya dengan suatu hiburan yang mubah, dengan syarat kiranya
hiburannya itu tidak menjadi kebiasaan dan perangai dalam seluruh waktunya, yaitu
setiap pagi dan petang selalu dipenuhi dengan hiburan, sehingga dapat melupakan
kewajiban dan melemahkan aktivitasnya. Maka tepatlah pepatah yang mengatakan:
"Campurlah pembicaraan itu dengan sedikit bermain-main, seperti makanan yang
dicampur dengan sedikit garam."
Dalam bermain-main itu, seorang muslim tidak diperkenankan menjadikan harga diri dan
identitas seseorang sebagai sasaran permainannya. Seperti firman Allah:
"Hai orang-orang yang beriman! Jangan ada satu kaum merendahkan kaum lain sebab
barangkali mereka (yang direndahkan itu) lebih baik dari mereka (yang merendahkan)."
(al-Hujurat: 11)
Tidak juga diperkenankan dalam berguraunya itu untuk ditertawakan orang lain, dengan
menjadikan kedustaan sebagai wasilah. Sebab Rasulullah telah memperingatkan dengan
sabdanya sebagai berikut:
"Celakalah orang yang beromong suatu omongan supaya ditertawakan orang lain,
kemudian dia berdusta. Celakalah dia! Celakalah dia!" (Riwayat Tarmizi)
Fly UP