...

EFEKTIVITAS ALKOHOL DAN CAMPURANNYA

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

EFEKTIVITAS ALKOHOL DAN CAMPURANNYA
Berita Biologi Volume 5, Nomor 1, April 2000
EFEKTIVITAS ALKOHOL DAN CAMPURANNYA DENGAN FORMALIN SEBAGAI
BAHAN PENGAWET SPESIMEN BINATANG UNTUK UDANG
[The Effectiveness of Alcohol And Its Mixture with Formaldehyde as Animal Specimen
Preservatives Agents for Shrimp]
Nandang Suharna dan Rita Dwi Rahayu
Balitbang Mikrobiologi, Puslitbang Biologi-LIPI
ABSTRACT
This study was aimed at studying the effectiveness of alcohol, formaldehyde and their mixture in inhibiting fungal growth. This study
contained two step. The first step was fungal isolation from specimen. One isolate was then selected to be inoculated into alcohol
at various concentration (15%, 30%, 50% and 70%) with or without formaldehyde mixture. The second was fungal inoculation into
alcohol at various concentration (15%, 30%, 50%, dan 70%) with or without formaldehyde. The effectiveness of these subtances
as specimen preservatives for shrimp were studied after six months incubation time.
From the fisrt step, only genus group Monascus was isolated from seven specimens (Mabuia multifasciata, Myotis
muricola, Chironax melanocephalus, Naya naya sputratrix, Miniopterus schreibersi blepotis, unidentified shrimp, unidentified
Coelenterata). From the second step, the best growth of isolate Monascus sp. MM which isolated from the fisrt step was achieved
in 70% alcohol. This fungus was not able to grow in both formaldehyde and its mixture with alcohol (1:1, 1:2, 1:3 and 1:4). The
results also showed that Monascus growth was observed in alcohol with not sterilized shrimps without inoculation with Monascus
sp. MM. It is recommended to apply mixture alcohol 70% with formaldehyde 1% at ratio 4:1 as animal specimen preservative to
inhibit fungal growth.
Kata kunci/keywords: Efektifitas/Effectivity, Alkohol/Alcohol, Formalin/Formaldehyde, Bahan pengawet/ Preservative agent,
Spesimen binatang/Animal specimen, Monascus spp.
PENDAHULUAN
Penyimpanan spesimen binatang dengan
cara pengawetan basah dalam larutan alkohol
ditemukan adanya pengrusakan spesimen tersebut
akibat adanya pertumbuhan jamur. Pertumbuhan ini
terlihat merusak alkohol yang mengakibatkan
spesimen yang dipelihara mengalami kerusakan yang
serius.
Beberapa spesimen yang telah mengalami
kerusakan serius akibat pertumbuhan jamur, terpaksa
dibuang karena tidak memenuhi syarat lagi sebagai
spesimen yang baik untuk dipertahankan. Walaupun
jumlah kasus ini tergolong sangat sedikit
dibandingkan dengan jumlah spesimen yang ada,
namun demikian, bila kasus ini menimpa spesimen
yang penting untuk dilestarikan sangat disayangkan,
dan hal ini sebaiknya tidak boleh terjadi.
Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan
untuk mengetahui jamur yang tumbuh pada beberapa
spesimen binatang yang diawetkan dalam alkohol
dan efektivitas penggunaan alkohol, formahn dan
campurannya terhadap pertumbuhan jamur tersebut.
BAHAN DAN CARA KERJA
Bahan
Isolasi jamur dari spesimen binatang
Spesimen. Tujuh spesimen binatang yaitu codot
kepala
hitam
(Chironax
melanocephalus),
Coelenterata (tidak teridentifikasi), kadal (Mabuia
multifasciata),
tomosu
biasa
(Miniopterus
schreibersi blepotis), lasiwen biasa (Myotis
muricola), ular sinduk {Naya naya sputratrix), dan
udang (tidak teridentifikasi) diperolehdariBalilbang
Zoologi, Puslitbang BioIog-LIPI, Bogor.
Media. Media isolasi adalah agar sukrosa ekstrak
taoge yang pembuatannya mengikuti Ko (1974).
Jamur uji berupa isolat yang digunakan dari hasil
isolasi jamur di atas. Udang segar diperoleh dari
sebuah pasar di Bogor.
61
Berita Biologi Volume 5, Nomor 1, April 2000
CARAKERJA
Isolasi jamur dari spesimen binatang
Isolasi jamur dilakukan dengan cara
mencuplik secara langsung dari miselium yang
sedang tumbuh, kemudian diinokulasikan pada
media agar lempehg dan diinkubasikan pada suhu
ruang selama beberapa hari. Koloni jamur yang
tumbuh kemudian diisolasi dan dipelihara pada
media agar miring. Untuk keperluan identifikasi
jamur dibuat sediaan slide dengan menggunakan
laktofenol sebagai media sediaan dan biru anilin
sebagai pewarna.
Efektivitas penggunaan alkohol, formalin dan
campurannya terhadap pertumbuhan jamur.
Inokulum. Inokulum dibuat dengan cara sebagai
berikut: jamur uji ditumbuhkan pada media agar
miring taoge ekstrak sukrosa 6% (Ko, 1974) dan
diinkubasikan selama dua minggu pada suhu
kamar. Lembar koloni dipisahkan dari media agar
dan dipindahkan ke dalam tabung 100 ml yang
telah berisikan air suling steril 30 ml. Setelah
dibuat homogen dengan menggunakan mikser dan
diberi tambahan air suling steril sehingga tercapai
volume 100 ml, densitas suspensi ditentukan
dengan menggunakan haemasitometer. Dari hasil
penghitungan diperoleh densitas satu ml suspensi
adalah 10,7 x 106 propagula ml.
Uji efektivitas alkohol, formalin dan campuran
keduanya
Pada penelitian ini digunakan enam faktor,
yaitu udang tidak steril dan tanpa inokulasi, udang
steril dan tanpa inokulasi, udang steril dan dengan
inokulasi, alkohol dengan beberapa tingkatan
konsentrasi (15%, 30%, 50% dan 70%), formalin
dengan beberapa tingkatan konsentrasi (1%, 2%, 3%,
dan 4%) dan campuran alkohol 70% dengan formalin
1% (1:1, 1:2, 1:3, dan 1:4). Tiap-tiap perlakuan
dengan empat ekor udang dan larutan 200 ml ditempatkan dalam botol jeli yang ditutup dengan kapas.
Inokulasi
jamur
dikerjakan
dengan
cara
menambahkan satu ml suspensi. Semua perlakuan
62
dengan lima ulangan diinkubasikan pada suhu ruang
selama enam bulan.
Penaksiran pada pertumbuhan jamur
diklasifikasikan secara visual sebagai: 0 = tidak ada
pertumbuhan yang terlihat, tidak ada perubahan
warna media, 1 = miskin, pertumbuhan terlihat dan
terbatas, media berubah warna, 2 = sedang,
pertumbuhan banyak terlihat, pertumbuhan tidak
menutupi udang dan permukaan media, media
berubah warna, 3 = melimpah, penumbuhan banyak
sekali terlihat, pertumbuhan menutupi udang dan
permukaan media, media berubah warna.
Isolasi kembali yang dikerjakan untuk
mengetahui keberadaan jamur dilakukan dengan cara
menginokulasikan beberapa tetes dari larutan (media)
perlakuan dengan menggunakan pipet steril pada
media agar cawan Petri. Cawan ini kemudian
diinkubasikan pada suhu kamar selama beberapa
hari. Jamur yang tumbuh diisolasi dan diidentiOkasi
sampai tingkat genus.
Untuk menunjang hasil penelitian ini,
kekerasan udang diukur dengan menggunakan alat
penetrasi. Namun, hasil pengukuran mi kemudian
ditentukan sebagai normal atau rapuh.
Pengamatan secara visual juga dilakukan
untuk mengetahui perubahan warna larutan (media)
dan udang, kekeruhan larutan (media), pertumbuhan
jamur pada larutan dan udang pada seluruh
perlakuan.
HASIL
Isolasi jamur dari spesimen binatang
Semua spesimen yang diawetkan dengan
alkohol 70% atau 95% berada dalam keadaan
diseliputi jamur. Penampakan masa yang seperti
kapas begitu menonjol dan mudah dipisahkan dari
spesimen. Dari hasil pengamatan mikroskopis in vivo
dapat ditunjukkan bahwa massa tersebut mempunyai
banyak sekali klistotesium yang berisi askospora
dalam jumlah yang banyak. Jamur ini kemudian
diidentrfikasi sebagai Monascus berdasarkan ciri
karakteristiknya menurut Hawksworth and Pitt
(1983). Genus ini merupakan kelompok genus
satu-satunya yang teramati dan terisolasi (Tabel 1).
Behta Biologi Volume 5, Nomor 1, April 2000
Satu isolat bernomor koleksi MM yang
diisolasi dari spesimen Mctbuia multifasciatus
digunakan dalam penelitian ini. Deskripsi dari isolat
ini sebagai berikut: pada media Agar Ekstrak Malt
2%, suhu 25°C selama 7 hari, koloni mencapai
diameter 30-34 mm, berbentuk bulat {circular),
miselium udara hampir tidak ada, pada awalnya
bening pada bagian atas dan bawah, berubah merah
terang; pigmen solubel diproduksi, tidak ada
enkrastasi {encrustation); hifa berdiameter mencapai
4 m, memiliki septum, bercabang tak teratur,
berdinding halus. Klistotesium berdiameter 46-80 x
40-80 mm, dinding bening, bentuk bvindar;
aleurikonidium bemkuran 6-14 x 6-14 m, berbentuk
seperti bola lampu {obpyriform), bundar, dan agak
bundar, berantai, dinding bening; askospora
berukuran 5-6 x 3-5 m, dinding bening dan tipis,
berbentuk elipsoidal, aseptat, halus.
Efektivitas penggunaan alkohol, formalin dan
campurannya terhadap pertumbuhan jamur
Pada Tabel 2 terlihat bahwa pada semua
tingkatan konsentrasi alkohol 15%, 30%, 50% dan
70%, Monascus sp. mampu tumbuh. Pertumbuhan
terbaik dicapai pada konsentrasi alkohol 70%.
Pertumbuhan jamur juga dijumpai pada perlakuan
alkohol dengan udang yang tidak steril dan tanpa
inokulasi.
Sedangkan
pada
formalin
dan
campurannya dengan alkohol, pertumbuhan jamur
tidak dijumpai.
Tabel 3 memperlihatkan bahwa perlakukan
dengan formalin dan campurannya dengan alkohol
mengakibatkan udang menjadi rapuh, mudah hancur.
Berbeda dengan formalin, perlakuan alkohol dapat
menjaga kekerasan udang (tidak rapuh).
Pada Tabel 4 terlihat bahwa pada perlakuan
alkohol larutannya berubah menjadi keruh dan
berubah warna begitu pula dengan udangnya.
Sedangkan perlakuan campuran alkohol 70% dan
formalin 1% pada semua tingkatan perbandingan,
perubahan warna hanya terjadi pada udangnya,
namun larutamiya tidak keruh. Perlakuan formalin
pada semua tingkatan konsentrasi tidak mengubah
warna udang dan larutan tidak keruh.
PEMBAHASAN
Isolasi jamur dari spesimen binatang
Yang menarik dari hasil yang diperoleh
antara lain adalah hanya Monascus saja yang
ditemukan pada spesimen. Pengamatan secara in
vivo menunjukkan bahwa jamur tersebut tumbuh dan
mengakibatkan kerusakan alkohol. Ini ditandai
dengan bau busuk pada larutan tersebut. Akibat dari
rusaknya alkohol ini tentu saja menjadikan tungsi
dari larutan tersebut sebagai bahan pengawet menjadi
hilang, yang pada akhirnya dapat menyebabkan
rusaknya spesimen. Kemungkinan asal jamur
Monascus dapat diketahui pada langkah kerja kedua.
Monascus sejauh ini belum ada yang ditemukan pada
spesimen binatang yang diawetkan di dalam larutan
alkohol 70%.
Isolat Monascus sp. MM yang digunakan
dalam penelitian ini bila mengikuti kunci identifikasi
sampai jenis dari Cannon et al. (1995) maka akan
sampai ke jenis M. sanguineus. Namun bila melihat
pertumbuhan pada media AEM 2%, suhu 25°C,
selama 7 hari, M. sanguineus memiliki diameter
koloni lebih kecil (8-10 m), warna kebalikan coklat
tua, askomata (khstotesium) berdiameter lebih kecil
(32-70 m) dengan warna dinding coklat pucat, warna
dinding aleurikonidium bening sampai coklat sangat
pucat. Hawksworth and Pitt (1983) dalam kunci
identifikasi jenis Monascus mengikut sertakan warna
dinding klistotesium dan aleurikonidium, selain
pertumbuhan koloni pada AEM 2%, suhu 25°C,
selama 7 hari. Berdasarkan kunci ini, penentuan jenis
dari isolat MM tidak tercapai. Oleh karena itu isolat
Monascus sp. MM mungkin merupakan jenis baru
sehingga diperlukan studi taksonomi lebih lanjut.
Efektivitas penggunaan alkohol, formalin dan
campurannya terhadap pertumbuhan jamur
Adanya pertumbuhan Monascus pada
konsentrasi alkohol 15%, 30%, 50%, dan 70%
membuktikan bahwa jamur ini memang dapat
63
Berita Biologi Volume 5, Nomor 1, April 2000
tumbuh pada alkohol, bahkan pertumbuhan terbaik
dicapai pada perlakuan konsentrasi alkohol 70%.
Pertumbuhan Monascus spp. yang juga teramati pada
perlakuan alkohol dengan udang yang tidak disterilisasi membuktikan bahwa keberadaan jamur ini bisa
berasal dari udang itu sendiri atau melalui udara atau
mungkin saja dari alkoholnya yang sudah tercemar
jamur ini. Oleh karena itu dari hasil yang diperoleh
ini menunjukkan bahwa spesimen-spesimen binatang
yang diawetkan dalam alkohol bila terkontaminasi
jamur Monascus, maka kejadian serupa seperti
terjadinya
pertumbuhan
jamur
ini
pada
spesimen-spesimen binatang yang diawetkan dalam
alkohol yang digunakan sebagai bahan penelitian ini
dapat terulang kembali. Tentunya kejadian ini tidak
diinginkan mengingat kerusakan
alkohol yang
diakibatkan oleh adanya pertumbuhan jamur ini
lambat
laun
dapat
merusak
keutuhan
spesimen-spesimen tersebut.
Kemampuan Monascus hidup dalam larutan
alkohol berkonsentrasi tinggi memang menarik untuk
disehdiki. Menurut Domsch et al. (1980) M. ruber
dapat menggunakan etanol sebagai sumber karbon
dan sumber energi. Fenomena yang ekstrim dari
kemampuan Monascus hidup pada alkohol 70% tidak
diteliti pada penelitian ini. Menurut Jones (1989)
dalam ulasannya menyatakan bahwa efek biologis
dari etanol adalah kompleks. Ada tiga mekanisme
yang melibatkan pengaturan pada toleransi terhadap
etanol, yaitu efek non spesiflk yang mengurangi
aktivitas air, efek spesifik terhadap membran sel, dan
efek spesifik dari asetaldehida yang bisa melibatkan
deaktivasi respirasi sel. Sedangkan ketidak adaan
pertumbuhan Monascus spp. pada semua perlakuan
formalin maupun campurannya dengan alkohol 70%
nampaknya akibat dari efek fungisidal dari formalin.
Menurut Morgan-Jones (1981) formalin telah
diketahui sebagai bahan yang memiliki sifat
bakteriosidal, sporosidal, dan fungisidal. Cara kerja
dari efek tersebut adalah dengan pengikatannya
dengan grup amino.
Walaupun bersifat toksik
terhadap hewan maupun manusia, namun bahan
kimia ini murah dalam penggunaannya.
64
Menurut Cannon et al. (1995) jenis-jenis
Monascus yang dikenal ada enam jenis yaitu terdiri
dari M. floridanus, M. pallens, M. pilosus, M.
purpureus, M. ruber dan M. sanguineus. Sampai
sekarang ini menurut Cannon et al.. (1995) jenis
Monascus lebih dikenal dengan habitatnya yang
osmofilik dan seringkali diisolasi dari bahan pangan
atau substrat-substrat lain dengan aktivitas air yang
rendah. Beberapa jenis, terutama M. pilosus dan M.
purpureus digunakan dalam produksi makanan
fermentasi di Asia Timur. Namun demikian
ditemukannya isolat-isolat yang mampu tumbuh
dalam alkohol merupakan informasi yang baru
mengenai kdberadaanMonascus.
KESIMPULAN DAN SARAN
Monascus adalah satu-satunya kelompok
genus jamur yang ditemui pada spesimen binatang
yang diawetkan dalam alkohol yang mengalami
serangan jamur. Keberadaan Monascus dapat berasal
dari spesimennya sendiri, walaupun tidak tertutup
kemungkinan berasal dari udara.
Penggunaan alkohol sebagai bahan
pengawet spesimen binatang ternyata tidak efektif
terhadap pertumbuhan jamur Monascus karena
jamur uji yaitu isolat Monascus sp. MM dapat
tumbuh dengan baik dalam alkohol walaupun pada
konsentrasi yang tinggi (70%). Oleh karena itu
disarankan bahwa dalam pengawetan spesimen
binatang sebaiknya digunakan campuran alkohol
70% dengan formalin 1% pada rasio 4:1. Campuran
ini efektif mencegah pertumbuhan jamur Monascus.
Cara lain adalah penggantian alkoholnya secara
periodik. Namun cara yang terakhir ini nampaknya
tidak efisien dan ekonomis.
UCAPAN TERBMA KASIH
Ucapan terima kasih disampaikan kepada
Dra. Helen Kurniati dan Endang, Bahtbang Zoologi,
Puslitbang Biologi-LIPI, Bogor, yang telah berbaik
hati mengirimkan sampel spesimen yang digunakan
dalam penelitian ini.
Berita Biologi Volume 5, Nomor 1, April 2000
Tabel 1. Tujuh Spesimen Binatang Yang Diawetkan dalam Alkohol Yang Ditumbuhi Jamur.
No.
Spesimen Binatang
Janiur yang Diisolasi
Kondisi Spesimen
1.
Kadal (Mabuia multifasciatd)
Monascus sp. 1
Diselimuti massa jamur
2.
Lasiwen biasa (Myotis muncola)
Monascus sp. 2
Diselimuti massa jamur
3.
Codot kepala hitam (Chironax melanocephalus)
Monascus sp. 3
Diselimuti massa jamur
4.
Ular sinduk (Naya naya sputratrix)
Monascus sp. 4
Diselimuti massa jamur
5.
Tomosu biasa (Mimopterus schreibersi blepotis)
Monascus sp. 5
Diselimuti massa jamur
6.
Tidak Teridentifikasi (Udang)
Monascus sp. 6
Diselimuti massa jamur
7.
Tidak Teridentifikasi (Coelenterata)
Monascus sp. 7
Diselimuti massa jamur
Tabel 2. Keberadaan Pertumbuhan Monascus Setelah Periode Inkubasi Enam Bulan.
Perlakuan
15
Alkohol
Formalin
Konsentrasi (%)
Konsentrasi (%)
30
50
1
70
Alkohol 70% : Formalin 1%
2
3
4
0
0
0
1:1
2:1
3:1
0
0
4:1
Kontrol A
(Udang Tidak Disterilisasi, Tanpa
Inokulasi)
1
1
1
0
0
1
Kontrol B
(Udang Disterilisasi, Tanpa
Inokulasi)
c
(Udang Disterilisasi, Diinokulasi)
0
1
0
0
0
0
0
1
0
0
0
0
0
0
Keterangan: 0 = tidak ada pertumbuhan yang terlihat, tidak ada perubahan warna media, 1 = miskin, pertumbuhan
terlihat dan terbatas, media berubah warna, 2 = sedang, pertumbuhan banyak terlihat, pertumbuhan tidak menutupi
udang dan permukaan media, media berubah warna, 3 = melimpah, pertumbuhan banyak sekali terlihat,
pertumbuhan menutupi udang dan permukaan media, media berubah warna.
Tabel 3. Kekerasan Udang Setelah Periode Inkubasi Enam Bulan.
Kontrol A
(Udang Tidak Disterilisasi, Tanpa
Inokulasi)
Kontrol B
Formalin
Alkohol
Kelompok
Perlakuan
Konsentrasi (%)
Alkohol 70% :
Formalin 1%
Konsentrasi (%)
15
30
50
70
1
2
3
4
1:1
2:1
3:1
N
N
N
N
R
R
R
R
R
R
R
R
N
N
N
N
R
R
R
R
R
R
R
R
N
N
N
N
R
R
R
R
R
R
R
R
4:1
(Udang Disterilisasi, Tanpa Inokulasi)
c
(Udang Disterilisasi, Diinokulasi)
Keterangan : N = Normal, R= Rapuh
65
Berita Biologi Volume 5, Nomor 1, April 2000
Tabel 4. Perubahan Wama Pada Udang dan Larutan dan Kekenihannya Setelah Periode Inkubasi Enam Bulan.
Warna 1 Udang
Wama 1 Larutan
Perldkuun
Kekeruhan
Nama
Kode
Nama
Kode
KONTROLA(UDANGTIDAK DISTERILISASI, TANPA INOKULASI)
Alkohol (Alk)
Formalin (Form)
Alk (70%): Form (1 %)
15%
30%
50%
70%
1%
2%
3%
4%
1:1
2: 1
3: 1
4: 1
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Kuning Terang
Putih Susu
Putih Susu
Putih Susu
Putih Susu
Bening
Bening
Bening
Bening
2-2a
2-2a
2-2a
4-4a
l-2a
l-2a
l-2a
l-2a
-
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Warna asli
Wamaasli
Warna asli
Wamaasli
Oranye Pucat
Oranye Pucat
Oranye Pucat
Oranye Pucat
2-2a
2-2a
2-2a
2-2a
5-3a
5-3a
5-3a
5-3a
Keruh
Agak Keruh
Agak Keruh
Agak Keruh
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
6-8d
4-3a
4-4a
5-7c
2-2a
2-2a
2-2a
2-2a
5-3a
5-3a
5-3a
5-3a
Sangat Keruh
Agak Keruh
Agak Keruh
Sangat Keruh
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
5-5b
3-3a
2-2a
2-2a
5-3a
5-3a
5-3a
5-3a
Sangat Keruh
Keruh
Agak Keruh
Keruh
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
Bening
KONTROLB (UDANG DISTERILISASI, TANPA INOKULASI)
Alkohol (Alk)
Formalin (Form)
Alk (70%): Form (1%)
15%
30%
50%
70%
1%
2%
3%
4%
1:1
2: 1
3:1
4: 1
Coklat Terang
Krim Kuning Pucat
Kuning Terang
Kuning Kecoklatan
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Putih Kekuningan
Bening
Bening
Kuning pucat
Kuning pucat
6-8d
4-3a
4-4a
5-7c
2-2a
2-2a
2-2a
2-2a
3-3a
3-3a
Coklat terang
Kuning pucat cream
Kuning terang
Kuning kecoklatan
Putih kekuningan
Putih kekuningan
Putih kekuningan
Putih kekuningan
Oranye pucat
Oranye pucat
Oranye pucat
Oranye pucat
C (UDANG DISTERILISASI, DIINOKULASI)
Alkohol (Alk)
Formalin (Form)
Alk (70%): Form (1 %)
" Mengacu Komerup (1972)
66
15%
30%
50%
70%
1%
2%
3%
4%
1:1
2: 1
3:1
4: 1
Oranye keabu-abuan
Kuning pucat
Putih kekuningan
Putih kekuningan
Putih susu
Putih susu
Putih susu
Putih susu
Bening
Bening
Bening
Bening
5-5b
3-3a
3-2a
3-2a
l-2a
l-2a
l-2a
l-2a
-
Oranye keabu-abuan
Kuning pucat
Putih kekuningan
Putih kekuningan
Wamaasli
Warna ash'
Wamaasli
Wamaasli
Oranye pucat
Oranye pucat
Oranye pucat
Oranye pucat
Berita Biologi Volume 5, Nomor 1, April 2000
PUSTAKA
Cannon PF, SK Abdullah dan BA Abbas. 1995.
Two new species of Monascus from Iraq,
with a key to known species of the
genusjWyco/. Res. 99, 659 - 662.
Domsch KH, W Gams and TH Anderson. 1980.
Compendium of Soil Fungi, 425-426.
Academic, London.
Hawksworth DL dan JI Pitt 1983. A New
Taxonomy for Monascus Species Based on
Cultural and Microscopical Characters.
Aust.J.Bot. 31, 51-61.
Jones, RP. 1989. Biological Principles For the
Effects of Ethanol. Enzyme Microb.
Technol. 11, 130-153.
Ko SJ. (1974). Self Protection of Fermented Foof
Against Aflatoxin. Proceedings of The IV
International Congress of Food and
Technology V m , 244-253.
Morgan-Jones, SC. 1981. Cleansing and
Disinfection of Farm Buildings. In:
Disinfectans, Their Use and Evaluation of
Effectiveness, 199-212. CH Collins, MC
Allwood SF Bloomfield and A Fox (Eds).
Academic. London..
Samson RA, ES Hoekstra and CAN Oorschot.
1981. Introduction to Food-Borne Fungi,
38-39. Centralbureau Voor Schimmelcultures, Baarn.
67
Fly UP