...

Antisipasi yang Diperlukan Terhadap Kebakaran Listrik pada

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Transcript

Antisipasi yang Diperlukan Terhadap Kebakaran Listrik pada
Antisipasi yang Diperlukan Terhadap Kebakaran Listrik
pada Bangunan Gedung
Amir Subagyo
Jurusan Teknik Elektro Politeknik Negeri Semarang
E-mail : [email protected]
Abstrak
Kebakaran listrik pada gedung atau bangunan dapat menyebabkan terjadinya kebakaran pada
bangunan dimana instalasi listrik tersebut dipasang, selain itu juga dapat menyebabkan korban jiwa atau
luka-luka ,cacat fisik serta dampak phykologis yang kemungkinan besar terjadi akibat peristiwa tersebut.
Kebakaran terjadi karena tiga unsur yakni panas,bahan bakar dan oksigen. Dalam kebakaran listrik
terjadinya panas disebabkan karena arus listrik yang mengalir pada media tahanan penghantar dan
diubah menjadi energi panas sehingga pada besaran arus listrik tertentu menimbulkan kebakaran listrik.
Peristiwa kebakaran listrik dapat dieliminir jika pemasangan instalasi listrik sesuai aturan dan
penggunaannya sesuai dengan kaidah yang berlaku.
Kata kunci : Kebakaran listrik, instalasi listrik,arus listrik.
Abstract
Electricity can cause fire in buildings or houses where the electricity is installed. The fire can result in
victins, injuries, physical effects as well as psychological impact. The fire may be caused by three sources :
thermal, fuel and oxygen. In electrical fire, heat is caused by electric current flowing through a certain
conductor is changed into thermal energy so that at certain magnitude an electric fire happens. The fire can
be eliminated when the electric installation follows the applicable rules and guidance.
Keywords : Electric fire, electrical installation, electric current
I. PENDAHULUAN
Penggunaan energi listrik oleh konsumen
energy listrik tiap tahun selalu mengalami
peningkatan yang cukup pesat. Dari tahun 1980
sampai
sekarang tahun 2012 di Indonesia
pertumbuhannya bergerak sekitar angka 10 sd 15
persen [8], hal tersebut seiring dengan tingkat
kebutuhan masyarakat akan penggunaan energi
listrik dan jumlah penduduk yang selalu terus
meningkat. Bahkan pada sekitar tahun 1990
pernah mengalami krisis energi listrik.
Penggunaan energi listrik memang dapat
merubah seluruh kehidupan
manusia dan
membuat kehidupan bertambah nyaman, namun
kenyataan juga energi
listrik bisa menjadi
momok
yang
menakutkan
bagi
manusia.Timbulnya kebakaran pada bangunan
gedung tempat tinggal, industri, pusat
perbelanjaan dan bangunan lain di Indonesia
sering sekali terjadi, bahkan hampir tiap hari kita
bisa melihat dan mendengar baik lewat TV atau
koran, sehingga mengakibatkan terjadinya
kerugian harta benda dan jiwa serta korban lain
yang luka tak terhitung jumlahnya.
Di DKI Jakarta pada tahun 2011 menurut data
dari dinas kebakaran DKI sekitar 700 kali
terjadi kebakaran, kebakaran atau gangguan kecil
8
yang mungkin terjadi dan tidak tercatat
jumlahnya [9].Untuk mengatasi semua peristiwa
tersebut perlu langkah-langkah yang diperlukan
guna mengantisipasi agar tidak terulang atau
bisa mengeliminir kejadian yang tidak kita
inginkan bersama.
II.TINJAUAN PUSTAKA
Kecerobohan,kurang hati-hati dan kurang
waspada serta ketaatan yang kurang terhadap
aturan pemakai /konsumen energ listrik
merupakan faktor utama yang menyebabkan
terjadinya kebakaran listrik. Penggunaan dan
pengelolaan energi listrik yang tidak semestinya
akan menimbulkan dampak yang tak terduga
sebelumnya, bahkan dampak yang tidak pernah
kita pikirkan.
Timbulnya
kebakaran
listrik
akibat
penggunaan energi listrik disebabkan oleh tiga
hal, yakni penggunaan energi listrik yang tidak
sesuai, pengaman kurang baik,pemasangan
instalasi listrik yang tidak sesuai aturan dan
penggunaan bahan dan perlengkapan instalasi
listrik yang tidak standart.
Dari data statistik di Amerika Serikat
kebakaran listrik 70
% disebabkan
oleh
Antisipasi yang Diperlukan terhadap Kebakaran Listrik pada Bangunan............
kesalahan instalasi listrik. Dan dari 70%
kebakaran tersebut hampir 35 % disebabkan
kesalahan
pengkabelan , selebihnya karena
kesalahan sambungan , beban yang tidak sesuai,
stop kontak, pengaman yang tidak tepat dan
meter listrik[2].
Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh
Dinas Kebakaran DKI sejak tahun 1992 s/d 1997
telah tejadi kebakaran sebanyak 4.244 kasus di
mana yang 2135 kasus disebabkan karena
konsleting listrik. Berarti 50% lebih dari total
kasus kebakaran disebabkan oleh listrik [10]. Hal
ini karena perlengkapan listrik yang digunakan
tidak sesuai dengan prosedur yang benar dan
standar yang ditetapkan oleh LMK (Lembaga
Masalah Kelistrikan) PLN, rendahnya kualitas
perlengkapan listrik dan kabel yang digunakan,
serta intalasi listrik yang
peraturan.
Amir Subagyo
Gambar 2 Terjadinya kebakaran akibat hubung
singkat yang sulit dipadamkan karena adanya oksigen
dan bahan bakar
dipasang tidak sesuai
2.1 Bahaya Kebakaran
Adalah bahaya yang diakibatkan oleh
potensial dan derajat terkena pancaran api sejak
dari awal hingga penjalaran api, asap, dan gas
yang ditimbulkan. Kebakaran itu terjadi karena
ada pemicu (penyebab kebakaran), pemicunya
itu antara lain bisa disebabkan oleh puntung
rokok, karena unsur kesengajaan atau
korsleting pada listrik. Titik api pada bahan
organik terjadi jika ada tiga faktor yang
berperan didalamnya yaitu bahan bakar,
oksigen dan panas yang hadir dalam jumlah
tertentu.
Gambar 1 Terjadinya Titik Api
Gambar 3 Contoh panas yang dihasilkan oleh gesekan
tali dengan kayu dapat menimbulkan titik api.
Api adalah aksi kimia yang dihantarkan oleh
perubahan panas, sinar dan nyala serta emisi
(pengeluaran) suara. Oksigen merupakan bahan
yang amat diperlukan dalam suatu reaksi
pembakaran yaitu reaksi oksidasi.
Timbulnya bentuk api :
a. Sumber panas
Pemanasan pada benda yang mudah terbakar
merupakan sumber panas. Ketika api sudah
menyala maka sumber panasnya adalah api itu
sendiri.
b. Oksigen
Oksigen menyebabkan reaksi oksidasi dan
ketika kekurangan oksigen maka pembakaran
akan melambat dan pada akhirnya akan berhenti.
c. Bahan yang mudah terbakar
Ada dua jenis bahan yaitu:
1) berbentuk cair dengan temperatur lebih
dingin dan lebih berbahaya karena
dapat terbakar pada suhu kamar
9
ISSN : 2252-4908 Vol. 1 No. 2 Agustus 2012 : 8-15
2) berbentuk padat dengan temperatur
lebih tinggi, tidak mudah terbakar pada
suhu kamar kecuali ada pemicu.
2.2 Perpindahan api
Api biasanya terjadi di tempat yang
beroksigen baik itu ruang terbuka ataupun
tertutup. Jika titik api telah timbul maka
penyebaran api keseluruh bangunan gedung dapat
terjadi melalui tiga mekanisme yaitu konduksi,
konveksi, dan radiasi.
Konduksi terjadi jika panas dipindahkan
langsung melalui suatu bentuk struktur dari
sumber api yang terdekat, konveksi terjadi jika
gas / udara panas meningkat didalam gedung
dimana api dengan mudah menjalar dari tanah
kelantai diatasnya melalui lubang tangga / lubang
saluran lainnya., radiasi merupakan penjalaran
api menurut garis lurus dari bahan yang terbakar
ke bahan terdekat yang mudah terbakar.
Mekanisme dasar dari perambatan api :
a. Di sepanjang permukaan yang mudah terbakar
menerus, penyebaran bisa vertikal dan
horizontal. Penyebaran dipengaruhi oleh
hubungan anatara lebar dari bagian yang
terbakar dan tinggi dari material.
b. Di sepanjang lapisan bahan bakar yang
menerus, terjadi pada bangunan dengan
penyebaran dimulai dari lantai sampai ke
langit-langit ketika ruangan menjadi panas
kerena api. Selain itu ketebalan material
berpengaruh, semakin tebal material maka
penyebaran akan berlangsung lebih lama.
c. Di sepanjang lapisan bahan bakar tidak
menerus, penyebaran berlangsung tidak
melalui lantai, akan tetapi harus melompati
berbagai
macam
benda
yang
ada
dihadapannya seperti furniture.
Kemudahan penjalaran api didalam, dan dari
suatu bangunan tertentu tergantung dari
banyaknya bahan yang mudah terbakar,
kemampuan struktur bangunan untuk dapat
bertahan terhadap api dan lokasi bentuk
terhadap sumber api.
Estimasi kenaikan temperature
Kenaikan temperatur ruangan pada saat
terjadi kebakaran dipengaruhi oleh :
a. Kapan obyek itu terbakar
b. Apa pemicu kebakaran tersebut (sumber
api)
c. Jumlah energi kalor yang diterima oleh
luas ruang
10
d. Bahan bakar yang ada dalam ruangan
tersebut
Tahapan kebakaran tersebut antara lain :
a.Ignition ( titik api)
b.Growth (perambatan api)
c.Flashover(api mulai membakar bagian
plafon/atap)
d. Fully developed fire (seluruh ruang terbakar)
e.Decay (terbakar seluruh ruang beserta isinya)
Lamanya waktu terjadi kebakaran sangat
tergantung pada kapasitas bahan bakar di ruang
tersebut.
Yang dimaksud dengan bahan bakar adalah
segala sesuatu yang berada dalam ruangan dan
sifatnya mudah terbakar (material, furniture,
peralatan elektronik, dsb). Masing-masing
bahan memiliki koefisien yang berbeda-beda,
koefisien material ditentukan oleh sifat
material dan menentukan waktu terbakarnya
ruangan. Bukaan pada ruangan sangat
menentukan kecepatan perambatan api, hal itu
karena semakin besar bukaan maka oksigen
yang ada dalam ruang semakin besar. Dengan
kondisi
tersebut
memacu
kecepatan
perambatan api pada ruangan. Besar kecilnya
ruang menentukan perambatan api, hal itu
karena semakin besar ruang maka kandungan
O2 dalam ruang semakin banyak dan
mempercepat laju api.
III.PEMBAHASAN
3.1 Pemasangan Instalasi Listrik
Pemasangan instalasi listrik bangunan gedung
di Indonesia umumnya menggunakan standart
tegangan 220 Volt satu fase dan 380 Volt antar
fase. Sesuai dengan PUIL ( Persyaratan Umum
Instalasi Listrik 2.3.1.1) dalam merancang
instalasi listrik, harus memperhatikan :
a. Keselamatan manusia dan ternak dan
keamanan harta benda
b. Berfungsinya instalasi listrik dengan baik
sesuai dengan maksud penggunaannya.
Instalasi yang baru dipasang atau mengalami
perubahan harus diperiksa dan diuji dulu sesuai
dengan ketentuan mengenai :
Antisipasi yang Diperlukan terhadap Kebakaran Listrik pada Bangunan ............
Amir Subagyo
a. Resistans isolasi
Resistans isolasi dalam pemasangan instalasi
diharapkan sebesar mungkin dengan harapan
kebocoran arus listrik sekecil mungkin atau
tidak terjadi kebocoran sama sekali. Resistans
isolasi suatu instalasi listrik tegangan rendah
merupakan salah satu unsur yang menentukan
kualitas instalasi tersebut, mengingat fungsi
utama isolasi sebagai sarana proteksi dasar
untuk tegangan sd 500 Volt ≥ 0,5 MΩ.
Resistans isolasi harus diukur :
• antara penghantar aktif secara bergiliran
sepasang-sepasang;
• antara setiap penghantar aktif dan bumi.
b. Pengujian sistem proteksi
Tujuannya adalah untuk mendapatkan
pengamanan jika terjadi arus bocor ke tanah,
besarnya tegangan sentuh yang terjadi tidak
melampaui 50 Volt, sehingga tidak
membahayakan manusia.
c. Pemeriksaan dan pengujian instalasi listrik
Instalasi listrik harus diperiksa dan diuji
secara periodik sesuai ketentuan/standaryang
berlaku, pengujian instalasi listrik dilakukan 2
sampai 3 tahun tergantung kondisi dimana
instalasi tersebut dipasang tujuannya adalah
untuk melihat karakteristik instalasi tersebut,
jika sudah tidak baik berarti perlu direvisi.
Gambar 4 Pemeriksaan instalasi secara berkala
penting untuk dilakukan untuk menjamin keamanan
instalasi listrik.
2.2 Macam kebutuhan akan energi listrik
Jumlah dan jenis sirkuit yang diperlukan
untuk penerangan, pemanasan, daya,kendali,
sinyal, elekomunikasi dan lain-lain ditentukan
oleh:
a. lokasi titik kebutuhan akan listrik;
b. beban yang diharapkan pada semua sirkit;
c. variasi harian dan tahunan dari kebutuhan
akan listrik;
d. kondisi khusus;
e. persyaratan
untuk
kendali,
sinyal,
telekomunikasi dan lain-lain.
2.3 Suplai darurat
Dalam hal dibutuhkan suplai darurat perlu
memperhatikan :
a. sumber suplai (karakteristik, macam)
b. sirkit yang disuplai oleh sumber darurat.
Gambar 5 Saluran masuk instalasi listrik dari PLN dengan sumber daya cadangan UPS merupakan
ketersediaan cadangan energi listrik, dan 4 sirkit saluran ke luar dengan pengaman utama 40A dan
pengaman bagian 16 A merupakan keandalan instalasi listrik.
11
ISSN : 2252-4908 Vol. 1 No. 2 Agustus 2012 : 8-15
2.4 Kondisi lingkungan
Sesuai PUIL pasal 2.3.5.1 dalam menetapkan
kondisi lingkungan penggunaan perlengkapan
instalasi, perlu diperhitungkan beberapa faktor
dan parameter lingkungan terkait, dan dipilih
tingkat keparahan akibat parameter lingkungan
tersebut. Faktor dan parameter lingkungan
tersebut, antara lain :
a. kondisi iklim : dingin/panas, kelembaban,
tekanan, gerakan media sekeliling penguapan,
radiasi dan air selain dari hujan.
b. kondisi biologis : flora dan fauna seperti
jamur dan rayap.
c. bahan kimia aktif : garam, sulfur dioksida,
hidrogen sulfit, nitrogen oksida, ozon,amonia,
klor, hidrogen klorida, hidrogen flor dan
hidrokarbon organik.
d. bahan mekanis aktif : pasir, debu, debu
melayang, sedimen debu, lumpur dan jelaga.
e. cairan pengotor : berbagai minyak, cairan
pendingin, gemuk, bahan bakar dan air
baterai.
f. kondisi mekanis : getaran, jatuh bebas,
benturan, gerakan berputar, deviasi sudut,
g. percepatan, beban statis dan roboh.
h. gangguan listrik dan elektromagnet : medan
magnet, medan listrik, harmonik, tegangan
sinyal, variasi tegangan dan frekuensi, dan
tegangan induksi dan transien.
2.5 Jenis pengawatan dan cara pemasangan
Pengawatan dan cara pemasangan instalasi
listrik akan disesuaikan dimana instalasi listrik di
pasang, pemasangan juga menyesuaikan terhadap
beban yang akan disuplai. Pemilihan jenis
pengawatan dan cara pemasangan bergantung
pada:
a. sifat lokasi;
b. sifat dinding atau bagian lain dari bangunan c)
dapat terjangkaunya pengawatan oleh manusia
atau ternak;
c. tegangan;
d. stres elektromekanis yang mungkin terjadi
karena hubung-pendek;
e. stres lain yang mungkin dialami oleh
pengawatan itu selama pemasangan instalasi
listrik atau waktu pengoperasian.
2.6 Pemasangan dan verifikasi awal instalasi
listrik
Hampir tiap orang bisa memasang instalasi
listrik terutama instalasi listrik rumah tinggal
sederhana karena untuk pemasangan seperti ini
tidak memerlukan skill yang tinggi, namun
untuk pemasangan yang baik dan benar tentu
12
memerlukan orang-orang yang ahli di bidangnya.
Pemasangan yang baik dan benar akan
memberikan hasil yang optimal dan tingkat
keamanan dan keandalan yang tinggi oleh sebab
itu dibutuhkan personel yang berkualitas dan
bersertifikasi sesuai dengan bidangnya, dan
menggunakan bahan yang tepat.
Instalasi harus dirawat dan dilindungi
terhadap kerusakan mekanis atau pengaruh dari
luar yang mungkin dapat menyebabkan
timbulnya kerusakan. Perlengkapan listrik juga
harus dirawat dengan baik untuk mencegah
kemungkinan menurunnya mutu perlengkapan
listrik akibat proses tertentu dalam
masa
penyimpanan,persiapan, pelaksanaan pekerjaan
dan masa penggunaan.
Pemasangan stop kontak bertumpuk
Sambungan kabel yang tidak baik
Gambar 6 Cara pemasangan dan sambungan
penghantar yang tidak diijinkan
Gambar 7 : Pemasangan pada PHB suatu instalasi
yang kurang baik dan tidak rapih, menyulitkan
pengecekan instalasi listrik. Hal ini karena dikerjakan
oleh tenaga yang yang tidak kompeten.
Antisipasi yang Diperlukan terhadap Kebakaran Listrik pada Bangunan............
2.7 Penggunaan Bahan Standart
Penggunaan bahan standart dalam instalasi
listrik diperlukan dengan tujuan agar kualitas
instalasi dapat terjamin keamanannya. Dalam
memilih perlengkapan instalasi listrik, termasuk
juga menentukan jenis,
ukuran, tegangan dan kemampuannya, harus
diperhatikan hal berikut :
a. kesesuaian dengan maksud pemasangan dan
penggunaannya;
b. kekuatan dan keawetannya, termasuk bagian
yang dimaksudkan untuk melindungi
c. perlengkapan lain;
d. keadaan dan resistans isolasinya;
e. pengaruh suhu, baik pada keadaan normal
maupun tidak normal;
f. pengaruh api;
g. pengaruh kelembaban.
Perlengkapan instalasi listrik yang baik sesuai
dengan persyaratan sangat dianjurkan
dan
diharuskan karena akan menjamin keamanan dan
keandalan instalasi listrik. Lembaga standart
nasional dan internasional diantaranya : SII,
SPLN, VDE, IEC, CE dan masih banyak lagi
karena hampir tiap Negara di dunia
mengeluarkan standart untuk kepentingan negara
masing-masing.
2.8 Luas penampang penghantar
Luas
penampang
penghantar
harus
disesuaikan dengan kebutuhan beban konsumen
namun untuk instalasi tetap disyaratkan minimal
1,5 mm. Jika bahan penghantar tidak dijelaskan
dalam PUIL 2000, yang dimaksudkan adalah
penghantar
tembaga.
Luas
penampang
penghantar harus ditentukan sesuai dengan:
a. suhu maksimum yang diizinkan, suhu
maksimum yang diijinkan tiap jenis
penghantar berbeda tergantung sisunan
isolasinya, untuk penghantar berisolasi PVC
suhu maksimum yang diijinkan 60 C dan
untuk keperluan suplai beban tertentu ada
yang tahan terhadap susu diatas 100 C.
b. susut tegangan yang diizinkan, susut tegangan
yang diijinkan untuk instalasi penerangan ± 2
%
c. stres elektromagnetis yang mungkin terjadi
karena hubung pendek;
d. stres mekanis lainnya yang mungkin dialami
penghantar;
e. impedans maksimum berkenaan dengan
berfungsinya proteksi hubung pendek.
Amir Subagyo
2.9 Pengaman Instalasi Listrik
Pengaman instalasi listrik pada bangunan
macam dan jumlahnya cukup banyak, namun
yang umum dipasang ada tiga yakni :
a. Pengaman arus hubung singkat. Pengaman
arus hubung singkat umumnya menggunakan
patron lebur/ sekring. Fungsinya hanya
mengamankan rangkaian beban terjadi
hubung singkat antar fasa, fasa ke netral, fasa
ke tanah. Pengaman arus hubung singkat
patron leburnya akan lebur jika ada arus yang
besarnya jauh melampaui arus nominal
pengaman tersebut , sehingga patron
lebur/sekring tersebut putus dan tidak bisa
digunakan lagi. Sekarang banyak digunakan
sekring otomatis yang dapat digunakan lagi
jika rangkaian terjadi hubung singkat, karena
didalam sekring tersebut tidak digunakan
pengaman
lebur
tetapi
menggunakan
elektromagnetik. Pengaman tersebut akan
bekerja jika arus gangguan atau arus hubung
singkat melampaui setelan nominal alat
pengaman tersebut dan dapat disetel lagi jika
gangguan sudah teratasi.
Gambar 8 Sekring otomatis
b. MCB ( Miniatur Circuit Breaker ). Pengaman
ini berfungsi mengamankan arus hubung
singkat dan pembatas daya, kerjanya
berdasarkan dua kendali. Kendali panas
terbuat dari elemen dwilogam yang akan
bekerja jika daya beban melebihi batas dan
kendali elektromagnetik untuk arus hubung
singkat akan bekerja jika arus yang mengalir
jauh melampaui arus nominal yang
ditentukan; biasanya setelan pengaman ini 6
sd 12 kali arus nominal, tergantung dari tipe
MCB tersebut apakah tipe lambat atau cepat.
13
Antisipasi yang Diperlukan terhadap Kebakaran Listrik pada Bangunan............
Gambar 9 : MCB satu fase,dua fase ,tiga fase
c. Grounding atau Pembumian.
Pembumian berfungsi untuk membumikan
badan peralatan/beban sehingga jika terjadi
kebocoran arus maka badan peralatan
tersebut tidak akan bertegangan yang
membahayakan manusia. Besarnya tegangan
sentuh yang diijinkan tidak boleh melampaui
50 Volt, oleh karena itu tahanan pembumian
nilainya harus kecil.
2.10 Antisipasi Terhadap Bahaya Kebakaran
Listrik
Untuk mengantisipasi kejadian-kejadian yang
mungkin dapat terjadi terhadap kemungkinan
bahaya arus listrik dapat dilakukan beberapa hal
sebagai berikut :
a. Kaitannya dengan pemakai listrik
• Usahakan menggunakan listrik sesuai
dengan peruntukannya, jangan gunakan
listrik untuk pengaman pagar rumah.
• Jangan membebani alat listrik melampaui
kemampuannya.
• Jangan memasang, mengubah, menambah,
melakukan
perawatan,
pemeliharaan
instalasi listrik jika tidak ahli/menguasai
bidang tersebut.
• Jika ada gangguan atau perlu pertolongan
panggilah orang yang ahli dibidang
kelistrikan.
• Jangan membandrek/mengganti kawat
lebur sekring dengan kawat baja/tembaga,
karena tidak tahu karakteristiknya.
• Selalu mengingatkan pada orang lain
bahwa listrik dapat berbahaya bagi kita
kalau kita tidak hati-hati.
Amir Subagyo
b. Kaitannya dengan instalasi listrik
• Jangan menumpuk stop kontak pada satu
sumber listrik.
• Gunakan material listrik, seperti kabel,
saklar, stop kontak, steker (kontak tusuk)
yang telah terjamin kualitasnya dan
berlabel
SNI
(Standar
Nasional
Indonesia), LMK (Lembaga Masalah
kelistrikan) atau SPLN (Standar PLN).
• Gunakan pemutus arus listrik (sekring)
yang sesuai dengan daya yang
tersambung.
• Jauhkan sumber-sumber listrik seperti
stop kontak, saklar dan kabel listrik dari
anak-anak.
• Kabel-kabel listrik yang terpasang
didalam rumah jangan dibiarkan ada
yang terkelupas atau dibiarkan terbuka.
Perbaiki dan lindungi kabel-kabel
tersebut, kalau perlu diganti saja.
• Saat memasang instalasi listrik serahkan
pada orang yang ahli dan dapat
dipercaya.
• Pasanglah instalasi sesuai dengan
kategori ruangnya apakah kategori
normal, kasar, bahaya ledakan gas,
bahaya ledakan serat, ruang lembab,
basah, radiasi dan lain-lain.
• Pastikan semua sambungan kabel, stop
kontak dalam kondisi baik tidak
menimbulkan bunga api listrik.
• Jangan gunakan kabel, perlengkapan
listrik melampaui kapasitasnya.
c. Kaitannya dengan lingkungan.
• Jangan menyimpan gas yang mudah
meledak dekat dengan kontak listrik yang
dapat mengeluarkan percikan bunga api
listrik.
• Lindungi instalasi listrik dari pengaruh
luar yang dapat merusak, seperti flora
dan fauna.
• Lindungi instalasi listrik dari pengaruh
kimiawi luar yang merusak, seperti
cairan kimia, debu yang korosif, udara
panas dan lain-lain.
• Gunakan perlengkapan listrik sesuai
dengan tempat pemasangan apakah
pasangan luar atau dalam, apakah untuk
overhead line atau underground line.
• Lindungi instalasi listrik dari jangkauan
manusia, ternak, dahan pohon yang
mengganggu atau benda lain yang dapat
mengganggu.
15
Antisipasi yang Diperlukan terhadap Kebakaran Listrik pada Bangunan............
IV. KESIMPULAN
Dari uraian diatas dapat ditarik kesimpulan
sebagai berikut :
1. Terjadinya
kebakaran
pada
gedung
disebabkan tiga unsur, adanya titik api atau
panas, bahan bakar dan oksigen.
2. Untuk menghindari terjadinya kebakaran
listrik, instalasi listrik harus dipasang dengan
benar sesuai aturan dan dilakukan oleh orang
yang ahli dibidangnya.
3. Kualitas perlengkapan dan bahan instalasi
yang standart akan menentukan kualitas dan
umur instalasi. Untuk itu disarankan
menggunakan perlengkapan dan bahan
instalasi yang sesuai dengan aturan dan
standart.
4. Upaya pengecekan secara berkala penting
selalu dilakukan untuk menghindari terjadinya
arus bocor, arus hubung singkat karena
menurunnya kualitas bahan
termasuk
sambungan sambungannya.
5. Sebelum memasang instalasi listrik perlu
mempertimbangkan kategori ruang/tempat
dimana instalasi listrik akan dipasang, guna
menentukan jenis perlengkapan atau bahan
yang suai dengan tempat tersebut.
6. Untuk menjaga keamanan dan keandalan, jika
terjadi kerusakan pada pengaman disarankan
jangan mengganti pengaman dengan nilai
yang jauh melampaui nilai beban yang
terpasang, apalagi mengganti ( membandrek)
dengan bahan lain yang tidak sesuai.
7. Energi listrik sangat bermanfaat bagi manusia
oleh karena itu gunakan sesuai fungsinya, dan
jangan
membebani
peralatan
listrik
melampaui kemampuannya.
8. Arus listrik dapat menyebabkan terjadinya
kebakaran pada gedung oleh karena itu perlu
diperhatikan kaitanya dengan instalasi listrik
itu sendiri, pemakai listrik dan lingkungan
dimana instalasi tersebut dipasang.
Amir Subagyo
Listrik Dasar, Kanisius, 2000.
[7] PUIL 2000, Persyaratan Umum Instalasi Listrik
2000,LIPI ,Jakarta.2000.
[8] Zuhal, Teknik Tenaga Listrik, Bandung 2001.
[9]http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2011/12 /
30/kebakaran-dan-listrik/
[10]http://dunialistrik.blogspot.com/2008/09/listrikpenyebab-kebakaran.html
DAFTAR PUSTAKA
[1] Bathia, BL, Hand Book of Electrical
Enginering, New Delhi,1980.
[2] Brabauskas.Dr, International Fire & Materials
Conference. San Fransisco USA.2001.
[3] Electrical and Service & Electrical Wiring Hand
Book, South Planes Cooperative Service.
[4] Fire and Arson Investigations, Electricity and
Fire – NFPA 921, National Fire Protection
Association.1998.
[5] Harten, P. Van & E. Setiawan, Instalasi Listrik
Arus Kuat 1, Bina Cipta,1991.
[6] Handoko, Priyo. Pemasangan Instalasi
15
Fly UP