...

Document

by user

on
Category: Documents
0

views

Report

Comments

Description

Transcript

Document
I.
PENDAHULUAN
Saat ini kosmetik merupakan suatu kebutuhan yang sangat diperlukan, terutama
pada wanita, tidak sedikit dana yang dialokasikan untuk pembelian produk kosmetik
maupun perawatan kulit. Alasan utama seseorang memiliki keinginan yang besar
untuk menggunakan kosmetik yang diinginkannya adalah untuk memperoleh
penampilan kulit yang sehat, cantik, dan memiliki daya tarik bagi orang lain.
Hasil pengawasan BPOM dari tahun 2005-2008 ditemukan kosmetik tidak
terdaftar yang cenderung meningkat yaitu: 45 jenis (2005), 65 jenis (2006), 88 jenis
(2007), dan 178 jenis (2008). Temuan kosmetik tidak terdaftar ini berdasarkan hasil
uji laboratorium, umumnya mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, pewarna
sintetis, hidrokinon, dan asam retinoat. Berdasarkan hasil investigasi dan pengujian
laboratorium, Badan POM telah menyita 51 merek kosmetik yang mengandung
bahan berbahaya seperti rhodamin B dan merkuri. Penggunaan bahan yang dilarang
tersebut dapat membahayakan pengguna kosmetik, misalkan dapat menimbulkan
kanker kulit atau terjadi penumpukan merkuri dalam tubuh yang dapat
membahayakan kesehatan (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2008).
Pengawasan
post-market
dilakukan
melalui
sampling
dan
pengujian
laboratorium terhadap kosmetik. Sampai dengan triwulan II tahun 2013, pengujian
terhadap 7.776 sampel kosmetika, dengan hasil 97 (1,25 %) tidak memenuhi syarat
(TMS) mutu dan keamanan. Tindak lanjut yang dilakukan berupa penarikan
kosmetika mengandung bahan berbahaya atau dilarang, pembatalan persetujuan
peredaran dan penghentian proses produksi. Apabila dibandingkan dengan triwulan
II tahun 2012, terjadi kenaikan kosmetika yang TMS sebesar 155,10 % dari 4.667
sampel yang diuji (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2013). Di akhir tahun 2014
BPOM RI kembali memberitahukan sebanyak 68 kosmetika yang mengandung
bahan berbahaya. Sebagian besar produk kosmetika berbahaya didominasi oleh
kandungan bahan pewarna dilarang (merah K3 dan rhodamin), cemaran logam berat
timbal, dan merkuri yang akan membahayakan kesehatan bila digunakan (Haidar,
2014).
Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up) diperlukan untuk merias dan menutup
cacat pada kulit sehingga menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta
menimbulkan efek psikologis yang baik, misalnya percaya diri (self confident).
Perona pipi merupakan salah satu kosmetik riasan yang diminati saat ini. Dalam
perona pipi, peran zat warna dan pewangi sangat besar (Tranggono dan Latifah,
2007).
Zat warna adalah zat atau campuran zat yang dapat digunakan pada sediaan
kosmetik untuk mewarnai sediaan. Zat warna ini dapat pula digunakan sebagai
bahan aktif dengan tujuan untuk melapisi luar tubuh manusia dengan atau tanpa
bantuan zat lain. Misalnya produk kosmetik seperti Lipstick, Eyeshadow, dan Blush
on (Badan Pengawas Obat dan Makanan, 2008).
Maraknya penggunaan pewarna sintetis yang dilarang pada kosmetik membuat
konsumen merasa khawatir terhadap aspek keamanan, oleh sebab itu perlu adanya
alternatif penggunaan pewarna pada kosmetik. Untuk menggantikan pewarna
sintetis yang sudah tidak diizinkan lagi, sebaiknya digunakan pewarna alami.
Indonesia kaya akan tumbuhan yang memiliki potensi untuk digunakan sebagai
pewarna alami. Salah satu tumbuhan yang bisa di manfaatkan adalah buah naga
super merah (Hylocereus costarisensis).
2
Kulit buah naga super merah berpotensi sebagai pewarna pada pemerah pipi
karena mengandung antosianin dan mempunyai pigmen warna merah yang dapat
memberikan warna yang menarik pada kosmetik. Disamping itu, buah naga juga
mudah didapatkan di pasaran. Kulit buah naga tersebut hingga saat ini belum
termanfaatkan.
Antosianin merupakan sekelompok zat warna berwarna kemerahan yang larut
dalam air dan tersebar sangat luas di dunia tumbuh-tumbuhan (Kumalaningsih,
2006). Antosianin memiliki efek antioksidan yang dapat menghambat radikal bebas
yang akan merusak sistem fisiologi manusia, sehingga dapat menimbulkan beberapa
penyakit. Telah dilakukan penelitian tentang perbandingan aktivitas antioksidan
yang terdapat pada ekstrak kulit buah naga merah, kulit buah naga putih, bubur buah
naga merah, dan bubur buah naga putih, didapatkan hasil berdasarkan data IC50 kulit
buah naga merah memiki antioksidan tertinggi (R.Nurliana, dkk, 2010).
Beberapa penelitian tentang ektraksi kulit buah naga telah dilakukan. Saati
(2010), mengidentifikasi jenis antosianin yang terdapat pada kulit buah naga merah
adalah jenis ramnosil sianidin 3-glukosida 5 – glukosida. Selain itu juga telah
dibuktikan ekstrak dengan hasil terbaik dengan masa simpan buah naga 4 hari dan
pelarut aquadest dan asam sitrat. Simanjuntak, dkk (2014) telah melakukan ektraksi
kulit buah naga merah dengan pelarut aquadest, etanol 90 %, etil asetat, masingmasingnya dicampur dengan asam sitrat 10 % dengan berbagai perbandingan yang
berbeda, dan didapatkan hasil kadar pigmen antosianin dari kulit buah naga merah
dengan campuran pelarut aquades dengan asam sitrat 10 % (1:6), menghasilkan
kadar rendemen pigmen antosianin tertinggi 62,68 % pada nilai pH 2 dan lama
ekstraksi 3 hari.
3
Wahyuni (2001) telah melakukan penelitian pemanfaatan kulit buah naga
super merah (Hylocereus costarisensis) sebagai sumber antioksidan dan pewarna
alami pada pembuatan jelly, dari penelitian tersebut dapat diketahui zat warna yang
terdapat pada kulit buah naga dapat digunakan sebagai pewarna alami pada
makanan. Oktiarni (2012) melakukan penelitian tentang pemanfaatan ekstrak kulit
buah naga merah (Hylocereus polyrhizus sp.) sebagai pewarna dan pengawet mie
basah, dan diperoleh kesimpulan bahwa ekstrak kulit buah naga dapat dijadikan
sebagai pewarna dan pengawet pada mie basah, yang dibuktikan dengan mie basah
yang ditambahkan ekstrak kulit buah naga tahan lebih lama daripada mie basah
tanpa ekstrak kulit buah naga. Penelitian tentang pemanfaatan ekstrak kulit buah
naga sebagai bahan tambahan pembuatan es krim telah dilakukan oleh Waladi
(2015), ekstrak kulit buah naga dapat dijadikan bahan tambahan pembuatan es krim
karena penambahan kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus) memberikan
pengaruh nyata terhadap overrun, waktu leleh es krim, kadar serat dan organoleptik
atribut tekstur, warna dan penerimaan keseluruhan secara hedonik serta atribut
tekstur, warna dan aroma secara deskriptif.
Beberapa penelitian telah dilakukan mengenai kosmetik yang dibuat dengan
pemanfaatan antosianin, Fahraint (2013) telah memformulasi sediaan perona pipi
dengan pewarna yang digunakan adalah ekstrak belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi
L.), akan tetapi warna yang dihasilkan kurang stabil dalam penyimpanan dalam
waktu lama. Formulasi bedak kompak juga telah pernah dilakukan dengan pewarna
yang digunakan dari ekstrak biji kesumba keling (Bixa orellana L.) (Anggraini,
2014). Formulasi bedak kompak juga telah pernah dilakukan dengan pewarna yang
digunakan dari ekstrak wortel (Daucus carota) (Justitia, 2014). Wahyuningsih
4
(2013) melakukan penelitian tentang
pembuatan dan uji stabilitas warna sediaan
larutan pewarna rambut alami ekstrak kulit buah naga super merah (Hylocereus
costaricensis), menyatakan bahwa warna kurang menempel dengan baik pada
rambut dan sebaiknya ditambahkan zat pembangkit warna seperti pirogalol dan
tembaga (II) sulfat.
Dilihat dari permasalahan kosmetik saat ini, kosmetik berbahaya yang
beredar kebanyakan mengandung pewarna sintetis yang dilarang atau melebihi
kadar yang dibolehkan didalam kosmetik. Salah satu pewarna sintetis yang sering
ditemukan adalah rodhamin B, yang biasanya digunakan dalam industri tekstil. Oleh
karena itu peneliti mencoba menggunakan pewarna dari antosianin yang terdapat
dalam kulit buah naga super merah (Hylocereus costarisensis), yang diharapkan
tidak mengiritasi dan dapat stabil selama penyimpanan.
5
Fly UP