...

Copyright © 2015, p-ISSN 1979-7281 e-ISSN 2443

by user

on
Category: Documents
2

views

Report

Comments

Transcript

Copyright © 2015, p-ISSN 1979-7281 e-ISSN 2443
Tersedia online di EDUSAINS
Website: http://journal.uinjkt.ac.id/index.php/edusains
EDUSAINS, 7 (2), 2015, 114-120
Research Artikel
PENINGKATAN PENGUASAAN KONSEP SISWA MELALUI PEMBELAJARAN
ARGUMENT DRIVEN INQUIRY PADA PEMBELAJARAN IPA TERPADU DI SMP
KELAS VII
Yuli Andriani, Riandi
Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung,
[email protected]
Abstract
Mastery of the concept of science which is still low in the schools is the joint work of practitioners of
science education. Learning science should be based on the nature of science itself that is the process of
investigating the nature around systematically, but it has not been done by the school because most of the
learning is still in the form of direct transfer from teachers to students. Learning ADI (Argument Driven
Inquiry) is seen to facilitate students to understand the concept of science as well. Research on the
implementation of the ADI (Argument Driven Inquiry) to improve the mastery of concepts is done in
junior high school students of class VII in one of the Junior High School in Garut district, with 66
students who were divided into two classes namely experimental class that implemented ADI (Argument
Driven Inquiry) and the control class that used guided inquiry learning. The results showed Application
Inquiry Driven Argument learning model can significantly improve students' mastery of concepts than
learning with guided inquiry. The cognitive aspect which aspect is the most improved is C2 (understand)
both in the classroom that uses the learning Argument Driven Inquiry as well as in the classroom using
learning Inquiry guided, and mastery of concepts most improved is in matter convection either in class
that used the learning Argument Driven Inquiry as well as in the classroom which used guided Inquiry
learning.
Keywords: Argument Driven Inquiry learning; mastery of concept
Abstrak
Penguasaan konsep IPA yang masih rendah di sekolah-sekolah merupakan pekerjaan bersama dari
praktisi pendidikan IPA. Pembelajaran IPA seharusnya dilakukan berdasarkan hakikat IPA itu sendiri
yakni proses penyelidikan terhadap alam sekitar secara sistematis, namun hal ini belum banyak dilakukan
oleh sekolah karena pembelajaran sebagian besar masih berupa transfer langsung dari guru pada siswa.
Pembelajaran ADI (Argument Driven Inquiry) dipandang dapat memfasilitasi siswa untuk memahami
konsep IPA secara baik. Penelitian mengenai implementasi ADI (Argument Driven Inquiry) dalam
meningkatkan penguasaan konsep dilakukan pada siswa SMP kelas VII di salah satu SMP Negeri di
kabupaten Garut terhadap 66 siswa yang dibagi ke dalam dua kelas yakni kelas eksperimen yang
menerapkan ADI (Argument Driven Inquiry) dan kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran inquiry
terbimbing. Hasil penelitian menunjukan Penerapan model pembelajaran Argument Driven Inquiry secara
signifikan dapat meningkatkan penguasaan konsep siswa dibandingkan pembelajaran dengan inquiry
terbimbing. Aspek kognitif yang paling meningkat adalah aspek C2 (memahami) baik di kelas yang
menggunakan pembelajaran Argument Driven Inquiry maupun di kelas yang menggunakan pembelajaran
Inquiry terbimbing dan penguasaan konsep yang paling meningkat adalah pada materi konveksi baik di
kelas yang menggunakan pembelajaran Argument Driven Inquiry maupun di kelas yang menggunakan
pembelajaran Inquiry terbimbing.
Kata Kunci: pembelajaran Argument Driven Inquiry; penguasaan konsep
Permalink/DOI: http://dx.doi.org/10.15408/es.v7i2.1578
PENDAHULUAN
Penguasaan konsep IPA yang masih rendah
di sekolah-sekolah merupakan pekerjaan bersama
dari praktisi pendidikan IPA. Dari hasil observasi
dan wawancara dengan guru maupun siswa
pelajaran IPA masih menjadi hal yang ditakuti oleh
Copyright © 2015, p-ISSN 1979-7281 e-ISSN 2443-1281
Yuli A, Riandi
siswa karena termasuk pelajaran yang sulit.
Begitupun dari hasil ulangan harian yang telah
dilakukan banyak siswa dengan nilai di bawah
kriteria ketuntasan minimal. Merujuk pada
Depdiknas 2006 mengenai pelajaran IPA
seharusnya menjadi wahana bagi siswa untuk
mencari tahu dan mempelajari alam sekitarnya
secara langsung. Tetapi pada kenyataannya,
pelajaran IPA masih disampaikan sama halnya
dengan pelajaran lain yang tidak menekankan pada
cara mencari tahu tentang alam secara sistematis,
melainkan dengan proses transformasi pengetahuan
langsung dari guru kepada siswa. Hal ini membuat
siswa memahami secara parsial apa yang telah
dijelaskan. Dari hasil wawancara dengan siswa,
mereka lebih memahami IPA jika dilakukan
kegiatan praktikum dibandingkan dengan kegiatan
yang lainnya karena dengan kegiatan praktikum
mereka dapat menemukan konsep sendiri.
Hal ini juga sejalan dengan Piaget. Menurut
Piaget (Suparno, 1997) pengetahuan tidak dapat
begitu saja dipindahkan, melainkan harus
dikontruksikan atau paling sedikit harus
diinterpretasikan sendiri oleh siswa melalui
pengalamanya. Sehingga sangatlah penting untuk
melibatkan siswa dalam proses perolehan suatu
konsep.
Model pembelajaran ADI (Argument Driven
Inquiry) dipandang dapat memfasilitasi siswa untuk
memahami konsep IPA secara baik. Model
pembelajaran ADI merupakan sebuah model
pembelajaran yang menekankan pada kegiatan
pembelajaran yang menekankan pada kontruksi dan
validasi pengetahuan melalui kegiatan penyelidikan
(inquiry). Model ini dirancang untuk membuat
sebuah kelas yang dapat membantu siswa untuk
mengerti tentang bagaimana cara membuat sebuah
penjelasan ilmiah, bagaimana mengeneralisasikan
fakta ilmiah, menggunakan data untuk menjawab
pertanyaan ilmiah dan pada akhirnya dapat
merefleksikan hasil kerja yang telah dilakukannya
(Sampson et al., 2010). Model pembelajaran ADI
dirancang untuk mengubah sifat dari instruksi
laboratorium tradisional yang hanya menekankan
pada pengumpulan data. Pada model ini, siswa
memiliki kesempatan untuk belajar bagaimana
untuk
mengembangkan
metode
untuk
menghasilkan data, melakukan investigasi,
menggunakan data untuk menjawab pertanyaan
penelitian, menulis, dan melakukan kegiatan
diskusi yang lebih reflektif setelah kegiatan
penyelidikan dilakukan. Melalui kombinasi dari
semua kegiatan ini, diharapkan siswa belajar
konten-konten penting sebagai bagian dari proses
pembelajaran yang telah dilakukan. Dengan terlibat
dalam proses argumentasi, siswa juga dapat
menguasai konsep lebih baik karena pengetahuan
tentang konten topik yang dibahas dibutuhkan
siswa untuk membangun argumen (Tavares, et
al.,2010, dalam Bekiroglu & Eskin, 2012), sehingga
siswa diharuskan untuk memahami konten dengan
lebih baik.
Berdasarkan uraian latar belakang tersebut
dan pentingnya penguasaan konsep, maka penulis
merasa perlu untuk melakukan penelitian mengenai
“Penggunaan Model Pembelajaran Argument
Driven Inquiry dalam Mengembangkan Penguasaan
Konsep Siswa Pada Pembelajaran IPA Terpadu di
SMP kelas VII”.
Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk
mengetahui penguasaan konsep siswa pada konsep
kalor dan perpindahan kalor setelah diterapkannya
pembelajaran
dengan
model
pembelajaran
Argument Driven Inquiry (ADI) dibandingkan
penguasaan konsep siswa yang menggunakan
pembelajaran guided inquiry.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah
metode quasi eksperimen. Metode penelitian ini
dipilih karena subjek tidak dipilih secara random
(Fraenkel, et al., 2012). Meskipun pada penelitian
ini sampel dipilih secara random untuk
kelompoknya saja bukan secara individu.
Sedangkan untuk desain penelitian yang digunakan
adalah the randomized pretest-posttest control
group design. Pada desain penelitian ini
kemampuan kedua kelompok diukur dengan pretest
sebelum perlakuan dan posttest setelah perlakuan.
Pengukuran dilakukan pada waktu bersamaan pada
kedua kelompok tersebut. Diagram desain
penelitian ini sebagaimana ditampilkan dalam tabel
1.
EDUSAINS. Volume 7 Nomor 02 Tahun 2015, 115-120
Copyright © 2015 | EDUSAINS | p-ISSN 1979-7281 | e-ISSN 2443-1281
Peningkatan Penguasaan Konsep Siswa Melalui Pembelajaran Argument Driven Inquiry….
Tabel 1. Diagram Desain Penelitian
Kelompok
R
O1
X
perlakuan
O2
R
O1
C
Kelompok
O2
kontrol
(Fraenkel, et al., 2012)
melaksanakan pembelajaran terutama pembelajaran
Argument Driven Inquiry yang baru pertama kali
guru ketahui, pelatihan dilakukan secara intensif
selama tiga minggu.
O1
O2
O1
O2
Keterangan:
O1 : Tes kemampuan argumentasi
O2 : Tes penguasaan konsep
X
: Pembelajaran dengan model pembelajaran
Argument Driven Inquiry (ADI)
C : Pembelajaran dengan model pembelajaran
guided inquiry tanpa intruksi argumentasi
secara eksplisit
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh
siswa di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Garut
pada semester genap tahun ajaran 2014/2015.
Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah dua
kelas dari seluruh populasi yang ada. Instrumen
yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes
penguasaan konsep berupa soal pilihan ganda
sebanyak 25 soal yang telah divalidasi dan di uji
cobakan. Selain instrumen tes penguasaan konsep,
digunakan juga format wawancara untuk
menguatkan hasil penelitian yang diperoleh dan
lembar observasi untuk melihat keterlakasanaan
pembelajaran. Analisis data menggunakan N-gain
dan uji hipotesis.
Pelakasanaan penelitian dilakukan oleh guru
IPA di sekolah tempat penelitian dengan terlebih
dahulu melakukan pelatihan pada kelas yang tidak
dijadikan sampel dalam penelitian ini, hal ini
dimaksudkan
agar
guru
terbiasa
dalam
Materi yang dijadikan topik pembelajaran
pada pertemuan ini yaitu mengenai definisi
perubahan wujud, jenis-jenis perubahan wujud, dan
penguapan sebagai proses pendinginan tubuh. Pada
pertemuan kedua materi yang dijadikan topik
pembelajaran pada pertemuan ini yaitu mengenai
konduksi dan penerapan konduksi pada adaptasi
makhluk hidup. Pada pertemuan ketiga materi yang
dijadikan topik pembelajaran pada pertemuan ini
yaitu mengenai perpindahan kalor secara konveksi
dan penerapannya dalam adaptasi makhluk hidup.
Dan pada pertemuan keempat materi yang
dijadikan topik pembelajaran yaitu mengenai
perpindahan kalor secara radiasi dan penerapannya
dalam adaptasi makhluk hidup.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Penguasaan Konsep
Penguasaan konsep siswa dinilai melalui tes
penguasaan konsep berbentuk pilihan ganda
sebanyak 25 soal. Tes ini dilakukan sebanyak dua
kali yaitu sebelum perlakuan (pre-test) dan sesudah
perlakuan (post-test). Skor rata-rata pre test, post
test, dan gain disajikan dalam Tabel 2.
Berdasarkan data skor pretes dan postes
siswa yang terdapat pada tabel diperoleh diagram
rata-rata skor pretes, postes dan gain untuk tes
penguasaan konsep siswa digambarkan pada
Gambar 1.
Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Pretest, Posttest dan N-Gain
Tabel 2. Rekapitulasi Nilai Pretest, Posttest dan N-Gain
Kelas
Eksperimen
Kontrol
Tes
Pretest
Posttest
Pretest
Posttest
Xideal
1,00
1,00
1,00
1,00
Xmin
Xmaks
0,20
0,60
0,40
1,00
Kriteria Peningkatan
̅
0,36
0,72
0,20
0,56
0,36
0,88
Kriteria Peningkatan
0,32
0,60
|EDUSAINS. Volume 7 Nomor 02 Tahun 2015, 116-120
Copyright © 2015 | EDUSAINS | p-ISSN 1979-7281 | e-ISSN 2443-1281
G
0,36
<g>
0,565
Sedang
0,26
0,402
Sedang
Yuli A, Riandi
Grafik Perbandingan Penguasaan Konsep Kelas Eksperimen dan Kelas
Kontrol
0,72
Rata-rata skor
0,8
0,6
0,6
0,4
0,565
0,402
0,36 0,32
Eksperimen
Kontrol
0,2
0
Pre-test
Post-test
<gain>
Gambar 1. Diagram Rata-Rata Skor Tes Penguasaan Konsep Siswa
Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa
nilai N-gain kelas eksperimen maupun kelas
kontrol sama-sama berkategori sedang, akan tetapi
nilai N-gain maupun nilai post-test kelas
eksperimen lebih besar jika dibandingkan kelas
kontrol yang menggunakan pembelajaran inkuiri
terbimbing tanpa instruksi argumentasi secara
eksplisit. Hal ini dikarenakan pada pembelajaran
Argument Driven Inquiry, siswa dilatihkan untuk
membuat argumen, berdasarkan wawancara dengan
beberapa siswa dinyatakan bahwa hal tersebut
sangatlah berpengaruh, siswa menyatakan bahwa
melalui kegiatan tersebut mereka justru lebih
mengerti karena pada saat sesi pembuatan argumen
tentatif maupun sesi argumentasi, mereka
diharuskan lebih memahami konten yang akan
mereka jadikan dukungan bagi argumen yang
mereka buat ataupun mereka pertahankan saat
menjalani sesi argumentasi.
Pada saat proses pembelajaran berlangsung
dari hasil observasi yang dilakukan, siswa pada
kelas eksperimen lebih aktif dalam proses diskusi
kelas bersama guru jika dibandingkan dengan kelas
kontrol, hal ini dikarenakan beberapa siswa kelas
kontrol terlihat belum sepenuhnya memahami apa
yang tengah dipelajari karena cenderung hanya
beberapa siswa yang terlihat aktif saat tanya jawab
dengan kelompok yang sedang presentasi di depan.
Sedangkan pada kelas eksperimen siswa sangat
aktif saat sesi argumentasi dengan metode Round
Robin termasuk anak-anak pada kelompok rendah,
sehingga mereka dapat mengkonfirmasi hal-hal
yang tidak mereka mengerti pada saat percobaan
maupun mengorganisasikan data. Dari hasil
wawancara dengan beberapa siswa dari kelas
eksperimen menyatakan bahwa dengan sesi
argumentasi seperti itu, mereka menjadi tidak malu
dalam bertanya maupun memberikan pendapat,
karena biasanya mereka takut untuk bertanya
maupun menjawab jika ada yang presentasi di
depan kelas karena pertanyaan maupun jawaban
tersebut harus disampaikan di depan kelas sehingga
ketakutan untuk salah menjadi besar, hal inilah
yang terlihat pada saat pembelajaran di kelas
kontrol, dimana siswa terlihat ragu-ragu untuk
bertanya untuk mengkonfirmasi hal-hal yang tidak
dimengerti.
Menurut
Sampson
(2014),
melalui
pembelajaran ADI siswa memiliki kesempatan
untuk belajar bagaimana untuk mengembangkan
metode untuk menghasilkan data, melakukan
investigasi, menggunakan data untuk menjawab
pertanyaan penelitian, menulis, dan melakukan
kegiatan diskusi yang lebih reflektif setelah
kegiatan penyelidikan dilakukan. Sehingga melalui
kombinasi ini siswa dapat mempelajari kontenkonten penting dari pembelajaran yang dilakukan.
Peningkatan Penguasaan Konsep Siswa pada
Setiap Aspek Kognitif
Penguasaan konsep yang dimaksudkan dalam
penelitian ini adalah kemampuan kognitif
sebagaimana tercakup dalam taksonomi Anderson
dan Krathwol (2010) yang dibatasi pada ranah
kognitif C1 (mengingat), C2 (memahami), C3
(mengaplikasikan) dan C4 (menganalisis). Berikut
ini adalah tabel rekapitulasi dan gambaran untuk
skor pretest, posttest dan N-gain pada setiap aspek
dalam dua kelas penelitian.
EDUSAINS. Volume 7 Nomor 02 Tahun 2015, 117-120
Copyright © 2015 | EDUSAINS | p-ISSN 1979-7281 | e-ISSN 2443-1281
Peningkatan Penguasaan Konsep Siswa Melalui Pembelajaran Argument Driven Inquiry….
Tabel 3. Rekapitulasi Nilai Pretest, Posttest dan N-Gain Pada Setiap Aspek Kognitif
Aspek Kognitif
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Pretest
Posttest
<g>
Pretest
Posttest
<g>
C1 (Mengingat)
0,46
0,73
0.44
0,41
0,69
0,42
C2 (Memahami)
0,21
0,67
0,58
0,22
0,57
0,44
C3 (Mengaplikasikan)
0,41
0,73
0,54
0,37
0,51
0,16
C4 (Menganalisis)
0,43
0,76
0,51
0,40
0,66
0,36
Rata-rata N-gain Penguasaan Konsep Setiap Aspek
0,7
0,58
0,6
0,5
0,44 0,42
0,54
0,51
0,44
0,36
0,4
Eksperimen
0,3
Kontrol
0,16
0,2
0,1
0
C1
C2
C3
C4
Gambar 2. Diagram Rata-Rata Skor Tes Penguasaan Konsep Siswa pada Setiap Aspek Kognitif
Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa Ngain setiap aspek kognitif dari kelas eksperimen
lebih besar jika dibandingkan kelas kontrol.
Dimana peningkatan yang paling besar baik di
kelas eksperimen maupun di kelas kontrol adalah
aspek memahami (C2). Siswa dikatakan memahami
jika mereka dapat mengkontruksi makna dari
pesan-pesan pembelajaran baik yang bersifat lisan,
tulisan ataupun grafis yang disampaikan melalui
pembelajaran (Anderson; Krathwol, 2010). Lebih
lanjut Anderson dan Krathwol (2010) menyatakan
dalam proses memahami pengetahuan konseptual
merupakan dasar dari proses ini, pengetahuan
konseptual mencakup pengetahuan tentang
kategori, klasifikasi, dan hubungan antara dua atau
lebih kategori atau klasifikasi, pengetahuan
konseptual merupakan salah satu aspek dari apa
yang disebut disciplinary knowledge yakni cara
ilmuwan memikirkan suatu fenomena dalam
disiplin ilmunya misalnya mengenai penjelasan
ilmiah mengenai suatu fenomena. Dalam proses
pembelajaran yang terjadi pada dua kelas
penelitian, materi kalor dan adapatasi makhluk
hidup lebih menekankan pada pengetahuan
konseptual karena anak lebih banyak diminta untuk
mencari hubungan antara dua atau lebih kategori
yang mereka cari melalui kegiatan praktikum
ataupun demonstrasi guru, sehingga sangat
dimungkinkan jika aspek memahami menjadi aspek
kognitif yang paling meningkat karena berdasarkan
pendapat dari Anderson dan Krathwol bahwa
pengetahuan ini merupakan dasar dari proses
memahami.
Aspek mengaplikasikan merupakan aspek
yang memiliki perbedaan antara kelas eksperimen
dan kelas kontrol, hal ini dikarenakan siswa pada
kelas eksperimen terbiasa dalam mengaplikasikan
dimana mereka terbiasa dalam membuat hubungan
(warrant) dalam pembuatan argumen dari masalah
yang disajikan sedangkan kelas kontrol hanya
membuat kesimpulan dari masalah yang disajikan.
Pembuatan hubungan ini sangat memungkinkan
siswa untuk mempelajari hubungan antara jawaban
dari masalah dan teori yang ada, sehingga mereka
memiliki kelebihan dalam aspek mengaplikasikan.
|EDUSAINS. Volume 7 Nomor 02 Tahun 2015, 118-120
Copyright © 2015 | EDUSAINS | p-ISSN 1979-7281 | e-ISSN 2443-1281
Yuli A, Riandi
Tabel 4. Rekapitulasi Nilai Pretest, Posttest dan N-Gain Pada Setiap Materi
Materi
Kelas Eksperimen
Kelas Kontrol
Pretest
Posttest
<g>
Pretest
Posttest
<g>
Perubahan Wujud
0,34
0,74
0,59
0,33
0,53
0,22
Konduksi
0,28
0,66
0,52
0,26
0,47
0,27
Konveksi
0,37
0,80
0,61
0,38
0,74
0,52
Radiasi
0,47
0,70
0,39
0,39
0,66
0,37
Peningkatan Penguasaan Konsep Siswa pada
Setiap Materi
Pada setiap pertemuan materi yang diberikan
berbeda-beda. Berikut ini adalah rekapitulasi dan
gambaran dari nilai pretest, posttest dan N-gain
untuk penguasaan konsep pada setiap pertemuan
pada kelas kontrol dan kelas eksperimen:
Berdasarkan hasil tersebut terlihat bahwa materi
yang mengalami peningkatan paling tinggi adalah
materi konveksi baik di kelas eksperimen maupun
di kelas kontrol, hal ini dikarenakan praktikum
yang dilakukan pada materi konveksi adalah proses
perpindahan kalor secara konveksi yang
dipraktikumkan secara eksplisit. Sedangkan pada
kedua materi perpindahan kalor lainnya maupun
materi perubahan wujud, dimana proses
perpindahan kalornya maupun perubahan wujudnya
hanya didemonstrasikan, praktikum yang dilakukan
berkaitan dengan hal lain yang berkaitan dengan
perpindahan kalor tersebut, misalnya pada
praktikum radiasi yang menyelidiki pengaruh
warna pada radiasi, begitupun dengan materi
konduksi dan perubahan wujud. Hal ini membuat
siswa tidak terlalu mengerti dengan apa yang
menjadi akar atau inti dari ketiga materi tersebut,
sedangkan pada materi konveksi, proses
perpindahan kalornya teraati karena seiring dengan
pergerakan asap dan air, sehingga mereka lebih
memahami proses konveksi.
Uji Hipotesis
Perbedaan dari dua rata-rata antara kelas
eksperimen dan kelas kontrol dapat diketahui
dengan melakukan uji signifikansi perbedaan ratarata N-gain antara kelas eksperimen dan kelas
kontrol. Uji signifikansi ini dilakukan dengan
terlebih
dahulu
menguji
normalitas
dan
homogenitas dari rata-rata N-gain. Dari hasil
pengujian diperoleh bahwa hasil dari uji normalitas
terhadap data rata-rata N-gain kelas eksperimen
dengan jumlah sampel 33 dan taraf kepercayaan
95% diperoleh signifikansi 0,200 (sig.> 0,05). Dan
hasil uji normalitas terhadap data rata-rata N-gain
kelas eksperimen dengan jumlah sampel yang sama
dengan kelas eksperimen yaitu 33 dan taraf
kepercayaan 95% diperoleh signifikansi 0,064
(sig.> 0,05). Berdasarkan hasil tersebut dimana
kedua nilai signifikansi lebih dari 0,05 maka dapat
disimpulkan bahwa kedua data terdistribusi normal.
Sedangkan untuk uji homogenitas kedua
kelompok data diperoleh hasil signifikansi sebesar
0,773 (sig. >0,05). Nilai signifikansi yang diperoleh
juga lebih dari 0,05 sehingga dapat disimpulkan
bahwa
kedua
kelompok
data
homogen.
Berdasarkan hasil uji normalitas dan homogenitas
yang menghasilkan data terdistribusi normal dan
homogen maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis
dengan uji parametrik menggunakan uji-t yang
menghasilkan nilai signifikansi 0,005 (sig.<0,05).
Berdasarkan hasil tersebut maka dapat
disimpulkan bahwa pembelajaran ADI secara
signifikan dapat lebih meningkatkan penguasaan
konsep siswa pada materi kalor dan perpindahan
kalor
dibandingkan
pembelajaran
inquiry
terbimbing tanpa instruksi argumentasi secara
eksplisit (H0 ditolak dan Ha diterima).
PENUTUP
Penerapan model pembelajaran ADI secara
signifikan dapat meningkatkan penguasaan konsep
siswa dibandingkan pembelajaran dengan inkuiri
terbimbing. Aspek kognitif yang paling meningkat
adalah aspek memahami baik di kelas yang
menggunakan pembelajaran ADI maupun di kelas
yang
menggunakan
pembelajaran
Inkuiri
terbimbing. Penguasaan konsep yang paling
EDUSAINS. Volume 7 Nomor 02 Tahun 2015, 119-120
Copyright © 2015 | EDUSAINS | p-ISSN 1979-7281 | e-ISSN 2443-1281
Peningkatan Penguasaan Konsep Siswa Melalui Pembelajaran Argument Driven Inquiry….
meningkat adalah pada materi konveksi baik di
kelas yang menggunakan pembelajaran ADI
maupun di kelas yang menggunakan pembelajaran
Inkuiri terbimbing.
DAFTAR PUSTAKA
Ali, Mohammad. 2011. Memahami Riset Perilaku
dan Sosial. Bandung: Pustaka Cendekia
Utama.
Anderson, L. W., dan Krathwaohl, D. R. (Eds).
2010.
Kerangka
Landasan
Untuk
Pembelajaran, Pengajaran dan Asesmen.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Arikunto, S. 2009. Dasar-dasar Evaluasi
Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Arnyana, I.B.P. 2006. Pengaruh Penerapan Model
Belajar Berdasarkan Masalah dan Model
Pengajaran Langsung Dipandu Strategi
Kooperatif terhadap Hasil Belajar Biologi
Siswa SMA, Jurnal Pendidikan dan
Pengajaran
IKIP
Negeri
Singaraja.
Singaraja, 4.
Bekiroglu, F. O. & Eskin, H. 2012. Examination of
the Relationship Between Engagement In
Scientific Argumentation And Conceptual
Knowledge. International Journal of Science
and Mathematics Education, 10: 1415-1443.
Creswell, John W. 2010. Research Design.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Departemen Pendidikan Nasional. 2006. Kurikulum
2006 Standar Kompetensi Mata Pelajaran
IPA Sekolah Menengah Pertama. Jakarta:
BSNP.
Fraenkel, J. R., Wallen, E. N., & Hyun, H. 2007.
How to Design and Evaluate Research in
Education. Newyork: Mc. Graw Hill.
Hake, R.R. 1999. Analyzing Change Gain Scores.
Departement of Physics, Indiana University,
Bloomingtoon.
Tersedia:
http://www.physics.indiana.edu/~sdi/Analyzi
ngChange-Gain.pdf. [6 Juni 2010]
Pangabean, Luhut. 2001.
Bandung: JICA.
Statistika
Dasar.
Sagala, Syaiful. 2010. Konsep dan
Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Makna
Sampson, et al. 2014. Argument Driven Inquiry in
Biology. United States of America: NSTA
Press.
Sampson, et al. 2013. Writing to Learn by
Learning to Write During the School Science
Laboratory: Helping Middle and High
School Students Develop Argumentative
Writing Skills as They Learn Core Ideas.
Science Education.
Sampson, V., Grooms, J., Walker, J.P. 2011.
Argument-Driven Inquiry as a Way to Help
Students Learn How to Participate in
Scientific Argumentation and Craft Written
Arguments: An Exploratory Study. Science
Education 95:217–257.
Suparno, P, Dr. 1997. Filsafat Konstruktivisme
dalam Pendidikan. Yogyakarta: Kanisius
Eskin, Handan, Ogan, Feral & Berkigolu. 2013.
Argumentation as a Strategy for Conceptual
Learning of Dynamics. Research Science In
Education 43:1939–1956.
|EDUSAINS. Volume 7 Nomor 02 Tahun 2015, 120-120
Copyright © 2015 | EDUSAINS | p-ISSN 1979-7281 | e-ISSN 2443-1281
Fly UP